JENIS-JENIS KONFLIK DAN CARA MENGENAL KONFLIK
Makalah Ini di Buat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Konflik
Disusun Oleh: Kelompok 3
1. Azat Sudrajat (14290017) 2. Rian Ariska (14290097) 3. Siti Zaenab (14290107)
Dosen Pengampu: IBRAHIM, M.Pd.I
Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Raden Fatah
PENDAHULUAN
Istilah konflik akan membawa suatu kesan dalam pikiran seseorang bahwa dalam hal tertentu terdapat suatu pertikaian, pertentangan antara beberapa orang atau kelompok orang-orang , tidak adanya kerja sama , perjuangan satu pihak untuk melawan pihak lainnya, atau suatu proses yang berlawanan.
Fenomena interaksi dan interelasi sosial antar individu maupun antar kelompok, terjadinya konflik sebenarnya merupakan hal yang wajar. Pada awalnya konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala alamiah yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya. Oleh sebab itu, persoalan konflik tidak perlu dihilangkan tetapi perlu dikembangkan karena merupakan sebagai bagian dari kodrat manusia yang menjadikan seseorang lebih dinamis dalam menjalani kehidupan.
PEMBAHASAN A. Pengertian Konflik
Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih.
Robbins menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Menurut Luthans konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan. 1
Konflik adalah pertentangan antara dua atau lebih terhadap suatu hal atau lebih dengan sesama anggota organisasi atau dengan organisasi lain, dan pertentangan dengan diri sendiri.2
B. Jenis-Jenis Konflik
Dalam aktivitas organisasi, dijumpai bermacam-macam konflik yang melibatkan individu-individu maupun kelompok-kelompok. Beberapa kejadian konflik telah diidentifikasi menurut jenis dan macamnya oleh sebagian penulis buku manajemen , perilaku organisasi , psikologi maupun sosiologi.3
Polak, M. (1982) membedakan konflik menjadi 4 jenis yaitu: 1. Konflik antar kelompok,
2. Konflik intern dalam kelompok,
3. Konflik antar individu untuk mempertahankan hak dan kekayaan , dan 4. Konflik individu untuk untuk mencapai cita-cita.
1 Sumaryanto, http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-sumaryanto-mkes/6-manajemen-konflik-sebagai-salah-satu-solusi-dalam-pemecahan-masalah.pdf di akses pada 9 Maret 2017
2 J. Winardi, Manajemen Prilaku Organisai, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2012) , hlm. 504
Pada dasarnya konflik organisasi (intraorganizational conflict) terdiri dari: konflik pada diri seseorang, konflik antar pribadi, konflik antar kelompok, dan konflik antara diri pribadi dengan kelompok.4
Adapun jenis-jenis konflik menurut Veithzal Rivai dan Ella Jauvani Sagalaya yaitu sebagai berikut:
1. Konflik dalam diri seseorang
Seseorang dapat mengalami konflik internal dalam dirinya karena ia harus memilih tujuan yang saling bertentangan. Ia merasa bimbang mana yang harus dipilih atau dilakukan. Konflik dalam diri seseorang juga dapat terjadi karena tuntutan tugas yang melebihi kemampuannya. 2. Konflik antarindividu
Konflik antarindividu terjadi seringkali disebabkan oleh adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan, dan tujuan dimana hasil bersama sangat menentukan.
3. Konflik antaraggota kelompok
Suatu kelompok dapat mengalami konflik substantif atau konflik afektif. 4. Konflik antarkelompok
Konflik antarkelompok terjadi karena masing-masing kelompok ingin mengejar kepentingan atau tujuan kelompoknya masing-masing.
5. Konflik intraperusahaan
Konflik intraperusahaan meliputi empat subjenis, yaitu konflik vertikal, horizontal, lini-staff, dan konflik peran. Konflik vertikal terjadi antara manjer dengan bawahan yang tidak sependapat tentang cara terbaik untuk menyelesaikan suatu tugas. Konflik horizontal terjadi antara karyawan atau departemen yang memiliki hierarki yang sama dalam organisasi. Konflik lini-staff yang sering terjadi karena adanya perbedaan persepsi tentang keterlibatan staff (staf ahli) dalam proses pengambilan keputusan oleh manajer lini.
6. Konflik antar perusahaan
Konflik juga bisa terjadi antarorganisasi karena mereka memiliki saling ketergantungan satu sama lain terhadap pemasok, pelanggan, maupun distributor.5
Konflik bisa terjadi karena perbedaan antara individu, konflik antar kepentingan , dan konflik organisasi. Konflik organisasi adalah pertentangan antara dua orang atau lebih pada anggota-anggota atau kelompok-kelompok dalam organisasi yang timbul karena adanya pernyataan bahwa pembagian sumber daya yang terbatas , atau kegiatan-kegiatan yang bertentangan karena masalah status , tujuan , nilai atau persepsi. Ada beberapa jenis konflik seperti dijelaskan di bawah ini:
1. Konflik dalam Diri Individu
Yaitu sesuatu yang dihadapi penuh dengan ketidakpastian (kurang percaya diri). Contoh: seseorang menerima tugas yang tidak sesuai dengan kemampuannya.
2. Konflik antar Individu dalam Organisasi yang Sama
Yaitu konflik yang diakibatkan oleh perbedaan-berbedaan kepribadian. Contoh: antara manajer dan bawahan.
3. Konflik antar Individu dalam Kelompok
Yaitu konflik yang ditimbulkan karena adanya tekanan dari kelompok kerja mereka terhadap individu. Contoh: seseorang yang dihukum atau di asingkan oleh kelompok kerjanya karena melanggar norma-norma kelompoknya.
4. Konflik antar Kelompok dalam Organisasi yang Sama
Yaitu konflik ini terjadi karena adanya pertentangan kepentingan antarkelompok. Contoh: pertentangan kelompok produksi dengan kelompok pemasaran.
5. Konflik antar Organisasi
Yaitu konflik yang ditimbulkan karena adanya persaingan yang tajam dalam hal perekonomian suatu negara. Contoh: Negara Jepang dengan Negara Amerika Serikat.6
Sementara itu, Cummings mengidentifikasi jenis-jenis konflik di dalam organisasi yaitu: konflik manajer lini dengan manajer menengah (middle manager), konflik manajer menengah dengan manajer menengah , konflik manajer perorangan dengan organisasi, dan konflik batin pada diri manajer. Konflik tidak terbatas pada anggota organisasingkat pelaksana akan tetapi terjadi juga pada tingkatan manajer lini (supervisor) , manajer menengah, dan manajer puncak. (top manager).
Konflik antar manajer berkaitan dengan pelanggaran batas wilayah kerja dan kekuasaan. Masalah lain yang terjadi persoalan antar manajer adalah kurangnya kerjasama dan tidak terpelihara perorangan dengan organisasi disebabkan organisasi membatasi inisiatif , kreativitas, dan gagasan yang muncul dari para manajer karena dianggap tidak sesuai dengan program yang di rencanakan. Timbulnya ide atau gagasan dianggap menghambat kinerja organisasi. Konflik pada diri manajer terjadi ketika putusan-putusan dan kebijakna tidak dilaksanakan oleh anggota organisasi. Sedangkan kekuasaan dan wewenang yang dimiliki manajer tidak ingin digunakan sementara keadaan tidak sesuai dengan harapan manajer.7
C. Cara Mengenal Konflik
Konflik merupakan situasi yang wajar dalam masyarakat bahkan dalam keluarga tanpa disadari juga mengalami konflik. Konflik sering dilatar belakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Dalam berorganisasi, ini sangat mungkin untuk terjadi adanya konflik baik individu ataupun kelompok.
Adapun cara dalam mengenal konflik dapat memperhatikan ciri-ciri terjadinya konflik adalah sebagai berikut:
1. Paling tidak ada dua pihak secara perorangan maupun kelompok terlibat dalam suatu interaksi yang saling berlawanan.
2. Saling adanya pertentangan dalam mencapai tujuan.
3. Adanya tindakan yang saling berhadap-hadapan akibat pertentangan. 4. Akibat ketidak seimbangan. 8
Menurut Wijono ciri-ciri konflik adalah:
1. Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu interaksi yang saling bertentangan.
2. Paling tidak timbulpertentangan antara dua pihak secara perseorangan maupun kelompok dalam mencapai tujuan, memainkan peran dan ambigius atau adanya nilai-nilai atau norma yang saling berlawanan. 3. Munculnya interaksi yang selingkali ditandai dengan gejala-gejala
perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapat memperoleh keuntungan seperti : status, jabatan, tanggung jawab, pemenuhan berbagai macam kebutuhan fisik: sandang, pangan materi dan kesejahteraan atau tunjangan-tunjangan tertentu : mobil , rumah, bonus, atau pemenuhan kebutuhan sosio-psikologis seperti: rasa aman, kepercayaan diri, kasih, penghargaan dan aktualisasi diri.
4. Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut-larut.
5. Munculnya ketidakseimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan, harga diri, prestise dan sebagainya.9
Tahapan-tahapan perkembangan kearahterjadinya konflik:
8 Sumaryanto, Op. Cit.,
1. Konflik masih tersembunyi (laten)
Berbagai macam kondisi emosional yang dirasakan sebagai hal yang biasa dan tidak dipersoalkan sebagai hal yang mengganggu dirinya. 2. Konflik yang mendahului (antecedent condition)
Tahap perubahan dari apa yang dirasakan secara tersembunyi yang belummengganggu dirinya, kelompok atau organisasi secara keseluruhan, seperti timbulnya tujuan dan nilai yang berbeda, perbedaan peran dan sebagainya.
3. Konflik yang dapat diamati (perceived coflicts)
Muncul sebagai akibat antecedent condition yang tidak terselesaikan. 4. Konflik terlihat secara terwujud dalam perilaku (manifest behavior)
Upaya untuk mengantisipasi timbulnya konflik dan sebab serta akibat yang ditimbulkannya, individu, kelompok, atau organisasi, cenderung melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri melalui perilaku.
5. Penyelesaian atau tekanan konflik
Pada tahap ini, ada dua tindakan yang perlu diambil terhadap suatu konflik , yaitu penyelesaian konflik dengan berbagai strategi atau sebaliknya malah ditekan.
6. Akibat penyelesaian konflik
Jika konflik diselesaikan dengan efektif dengan strategi yang tepat maka dapat memberikan kepuasan dan dampak positif bagi semua pihak. Sebaliknya bila tidak, maka bisa berdampak negatif terhadap kedua belah pihak sehingga mempengaruhi produktivitas kerja.10
Menurut Vasta konflik akan terjadi bila seseorang melakukan sesuatu tetapi orang lain menolak, menyangkal, merasa keberatan atau tidak setuju dengan apa yang dilakukan seseorang. Selanjutnya dikatakan bahwa konflik lebih mudah terjadi diantara orang-orang yang hubungannya bukan teman dibandingkan dengan orang-orang yang berteman. Konflik muncul bila terdapat adanya kesalah
pahaman pada sebuah situasi sosial tentang pokok-pokok pikiran tertentu dan terdapat adanya antagonisme-antagonisme emosional.11
Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Faktor Manusia dan perilakunya
a. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya. b. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku. c. Timbul karena ciri-ciri kepribadian individual, antara lain sikap
egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter. d. Semangat dan ambisi.
e. Berbagai macam kepribadian.
Konflik muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antar kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada perseteruan antar pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang memiliki kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk menganggap prestasi pribadi lebih penting, sehingga hat ini tentu mempengaruhi pihak-pihak lain dalam organisasi tersebut.
2. Faktor Organisasi
a. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya
Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/ departemen dalam suatu organisasi.
b. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi
Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih
11 Ahmad Thontowi, Manajemen Konflik,
menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.
c. Interdependensi tugas
Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya. d. Perbedaan nilai dan persepsi
Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior mendapat tugas yang ringan dan sederhana.
e. Kekaburan yurisdiksional.
Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.
f. Masalah “status”.
Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.
g. Hambatan komunikasi.
dihindari dengan komunikasi yang lebih sedikit.12
Suatu konflik bisa terjadi manakala suatu kelompok atau seseorang dalam usahanya mencapai tujuannya secara relatif terhalang oleh pencapaian tujuan kelompok atau orang lain. Dengan demikian , kepentingan seseorang atau kelompok tersebut terasa terhalang oleh kepentingan orang atau kelompok lain.13
Cara mengenal konflik pada umumnya dari individu-individu dalam organisasi tentunya memiliki banyak persoalan yang menjadikan mereka konflik. Konflik tersebut memaksakan mereka karena tugas-tugas yang dibebankan oleh organisasi. Suatu contoh berikut ini menunjukkan sumber potensi dari timbulnya konflik.
Manajer menghendaki produksi ditingkatkan, karyawan meminta diberikannya banyak perhatian kepadanya. Pembelian meminta pelayanan secara cepat, manajer-manajer lainnya meminta adanya jadwal penundaan, konsultan menyarankan perubahan, karyawan menolak perubahan tersebut. Buku pedoman menyarankan kalau bekerja sesuai dengan formulanya, tetapi para staf menyatakan buku tersebut tidak bisa dikerjakan. Demikian seterusnya banyak contoh terjadi dalam organisasi yang menunjukkan adanya sumber-sumber yang potensial untuk timbulnya konflik.
Secara konsepsial, ada empat sumber dari konflik organisai itu, yakni: 1. Suatu situasi yang tidak menunjukkan keseimbangan tujuan-tujuan yang
ingin dicapai.
2. Terdapatnya sarana-sarana yang tidak seimbang, atau timbulnya proses alokasi sumber-sumber yang tidak seimbang.
3. Terdapatnya suatu persoalan status yang tidak selaras, dan 4. Timbulnya persepsi yang berbeda.14
Konflik antar individu dalam suatu organisasi , individu mempunyai perbedaan dalam hal kemampuan , kebutuhan, bakat, minat, kepribadian maupun latar belakang lingkungan. Perbedaan dapat menjadi sumber konflik apabila
12 Sumaryanto, Op. Cit.,
13 Miftah Thoha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 106
masing-masing mempertahankan kepentingan anggota ataupun kepentingan yang lebih sempit. Akan tetapi pertentangan dan perbedaan pendapat dapat menjadi kekuatan organisasi jika diarahkan dan dikelola secara baik.15
KESIMPULAN
Konflik adalah pertentangan antara dua atau lebih terhadap suatu hal atau lebih dengan sesama anggota organisasi atau dengan organisasi lain, dan pertentangan dengan diri sendiri. Pada dasarnya konflik organisasi (intraorganizational conflict) terdiri dari: konflik pada diri seseorang, konflik antar pribadi, konflik antar kelompok, dan konflik antara diri pribadi dengan kelompok.
Ada beberapa jenis konflik diantaranya yaitu: 1. Konflik dalam Diri Individu
2. Konflik antar Individu dalam Organisasi yang Sama 3. Konflik antar Individu dalam Kelompok
4. Konflik antar Kelompok dalam Organisasi yang Sama 5. Konflik antar Organisasi
Adapun cara dalam mengenal konflik dapat memperhatikan ciri-ciri terjadinya konflik adalah sebagai berikut:
1. Paling tidak ada dua pihak secara perorangan maupun kelompok terlibat dalam suatu interaksi yang saling berlawanan.
2. Saling adanya pertentangan dalam mencapai tujuan.
3. Adanya tindakan yang saling berhadap-hadapan akibat pertentangan. 4. Akibat ketidak seimbangan.
Ahmad Thontowi. (t.thn.). Dipetik Maret 9, 2017, dari Manajemen Konflik: https://sumsel.kemenag.go.id/files/sumsel/file/dokumen/manajemenkonfl ik.pdf
Miftah Thoha. (2010). Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Novitasari, Imaniatin;. (t.thn.). Manajemen Konflik. Dipetik Maret 14, 2017, dari http://imaniatin.blogspot.co.id/2013/11/manajemen-konflik-definisi-ciri-sumber.html?m=1
Rivai, Veithzal; Sagala, Ella Jauvani;. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sumaryanto. (t.thn.). Dipetik Maret 9, 2017, dari Manajemen Konflik Sebagai Salah Satu Solusi dalam Pemecahan Masalah : ,
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-sumaryanto- mkes/6-manajemen-konflik-sebagai-salah-satu-solusi-dalam-pemecahan-masalah.pdf
Usman Effendi. (2014). Asas Manajemen. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Wahyudi. (2008). Manajemen Konflik dalam Organisasi. Alfabeta.