commit to user
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TIPE CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI
PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI I SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012
SKRIPSI
Oleh :
HANNY INDRASARI K 7408095
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Juni 2012
commit to user
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Hanny Indrasari
NIM : K7408095
Jurusan : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Program Studi : Pendidikan Ekonomi
Bidang Keahlian Khusus : Pendidikan Akuntansi
PENERAPAN PEMBELAJARAN AKTIF TIPE CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI I SMK BATIK
2 SURAKAR ini benar-benar merupakan hasil
karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, Juni 2012 Yang membuat pernyataan
commit to user
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TIPE CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI
PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI I SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012
Oleh :
HANNY INDRASARI K 7408095
Skripsi
Ditulis dan Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi
Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Juni 2012
commit to user
HALAMAN REVISISkripsi ini telah direvisi sesuai dengan arahan dari Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, disetujui dan diterima untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Drs. Wahyu Adi, M.Pd ...
Sekretaris : Drs. Sudiyanto, M.Pd ...
Anggota I : Prof. Dr. Siswandari, M.Stat ...
commit to user
MOTTO(Q.S Alam Nasyrah: 5 dan 6)
commit to user
PERSEMBAHANTeriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk :
Para pendidik bangsa yang tak pernah letih mencerdaskan bangsa.
Ibu dan Bapak tercinta atas perjuangan dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
Kak Din dan Mbak Fita atas dukungan dan motivasinya. Ibu Prof. Dr. Siswandari, M.Stats dan Ibu Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd atas kesabarannya dalam membimbing penulis.
Bapak Drs. Yusuf selaku kepala sekolah SMK Batik 2 Surakarta.
Ibu Drs. Umi Fatkhiyah yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.
Teman-teman AKT 2008 atas semangat, bantuan, kesabarannya dan pertemanan kita selama ini.
commit to user
ABSTRAKHanny Indrasari. K7408095. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TIPE CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI I SMK BATIK SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012. Skripsi. Surakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran aktif tipe Card Sort dalam rangka meningkatkan minat dan prestasi belajar Akuntansi pada siswa kelas X Akuntansi I SMK Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian dilaksanakan sebanyak dua siklus di mana masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi tindakan; dan (4) refleksi tindakan. Setiap siklus dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, siklus pertama selama 7 x 45 menit dan siklus kedua 7 x 45 menit. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Akuntansi I SMK 2 Batik Surakarta yang terdiri dari 41 siswa dengan 1 siswa laki-laki dan 40 siswa perempuan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan guru mata pelajaran akuntansi dengan model pembelajaran aktif tipe Card Sort. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, tes dan dokumentasi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran aktif tipe Card Sort dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar Akuntansi pada siswa kelas X Akuntansi I SMK 2 Batik Surakarta tahun ajaran 2011/2012. Hal tersebut terefleksi dari beberapa indikator sebagai berikut: (1) Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran aktif tipe Card Sort mengalami kenaikan sebesar 11,16% dari siklus I sebesar 72,23% menjadi 83,39% pada siklus II. (2) Minat belajar mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 14,03%, yang pada siklus I sebesar 70,41% menjadi 84,44% pada siklus II. (3) Prestasi belajar Akuntansi menunjukkan bahwa terdapat kenaikan sebesar 14,63% dari 70,73% pada siklus I menjadi 85,36% pada siklus II. Dari ketiga indikator diatas membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran aktif tipe Card Sort pada pelajaran Akuntansi telah mencapai hasil yang diharapkan dalam penelitian ini, dimana masing-masing telah mencapai indikator ketercapaian.
Kata kunci: model pembelajaran aktif, Card Sort, minat, prestasi, akuntansi.
commit to user
ABSTRACTHanny Indrasari. K7408095. THE CARD SORT TYPE OF ACTIVE LEARNING MODEL APPLICATION TO IMPROVE THE ACCOUNTING LEARNING INTEREST AND ACHIEVEMENT IN THE X ACCOUNTING I GRADERS OF SMK BATIK 2 SURAKARTA IN THE SCHOOL YEAR OF 2011/2012. Thesis. Surakarta. Teacher Training and Education Faculty. Surakarta Sebelas Maret University, Juny 2012.
This research aims to find out the card sort type of active learning model use in the attempt of improving accounting learning interest and achievement in the X Accounting I Graders of SMK Batik 2 Surakarta in the school year of 2011/2012.
This study was a Classroom Action Research. The research was conducted in two cycles each of which consisted of four stages: (1) planning, (2) acting, (3) observing, and (4) reflecting. Each cycle was carried out in three meetings, the first cycle with 7 x 45 minutes time allocation, and the second one with 7 x 45 minutes allocation. The subject of research was the X Accounting I Graders of SMK Batik Surakarta consisting of 41 students: 1 boy and 40 girls. The research was implemented in collaboration with the teacher of accounting subject using Card Sort type of active learning model. Techniques of collecting data used were observation sheet, interview, test and documentation.
Based on the research conducted, it could be concluded that the Card Sort type of active learning model could improve the accounting learning interest and achievement in the X Accounting I Graders of SMK Batik 2 Surakarta in the school year of 2011/2012. It could be seen from the following indicators: (1) teacher capability of applying the Card Sort type of active learning model increased by 11.16% from 72.23% in cycle I to 83.39% in cycle II. (2) The learning interest increased by 14.03% from 70.41% in cycle I to 84.44% in cycle II. (3) The accounting learning achievement showed an increase by 14.63% from 70.73% in cycle I to 85.36% in cycle II. From the three indicators above, it could be seen that the Card Sort type of active learning model application in Accounting subject had achieved the expected result in this research in which each had reached the achievement indicator.
Keywords: active learning model, Card Sort, interest, achievement, accounting.
commit to user
KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih karunia, berkat dan hikmat dari-Nya, skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik oleh penulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini dapat diatasi berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, atas segala bentuk bantuannya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. Saiful Bachri, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan ijin penulisan skripsi ini.
3. Drs. Wahyu Adi, M.Pd., selaku Ketua Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dengan bijaksana. 4. Prof. Dr. Siswandari, M.Stats selaku pembimbing I yang telah memberikan
dorongan, semangat dan bimbingan dengan baik.
5. Sri Sumaryati, S.Pd, M.Pd selaku pembimbing II yang telah memberikan banyak sekali motivasi, ilmu dan arahan dengan penuh kesabaran.
6. Elvia Ivada, S.E, M.Si selaku pembimbing akademis penulis yang telah memberikan semangat untuk menyusun skripsi.
7. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Akuntansi FKIP UNS, yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan selama peneliti menempuh kuliah.
8. Bapak Drs. Yusuf selaku kepala SMK Batik 2 Surakarta, serta guru, karyawan dan siswi kelas XI IPS 4 yang telah banyak memberikan bantuan bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini.
9. Ibu, Bapak dan Kakak, yang selalu memberikan dorongan baik moril maupun spiritual, kasih sayang serta doa yang tak henti-hentinya mengiringi penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
commit to user
10. Isna Rohima Agustina, Ika Yuliantina dan Kiki Amalia atas kebersamaan, keceriaan, kerjasama dan semangat kalian.
11. Fitri Fatimah, Mahda, Umi, Wina, Fatim, Tari, Septi, Leha, Koko, Puput PTN, Putri dan
kawan-kerjasamanya, mari kita berjuang, selalu optimis dan pantang menyerah! 12.
13. Himannomi Pergerakan 2008(Asa, Bakti, Muti, Rizkiyana, Siti, Aris, Eka,
14. Compaq Presario CQ42 dan ASUS A42F
15. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan, namun penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan perkembangan ilmu pengetahuan pada khususnya.
Surakarta, Juni 2012
commit to user
DAFTAR ISIHALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ... ii
HALAMAN PENGAJUAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v HALAMAN REVISI ... vi MOTTO ... vii PERSEMBAHAN ... viii ABSTRAK ... ix ABSTRACT ... x KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7
A. Kajian Pustaka ... 7
1. Pembelajaran ... 7
2. Model Pembelajaran... 7
3. Pembelajaran Aktif ... 10
4. Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort ... 14
5. Minat Belajar ... 17
6. Prestasi Belajar ... 19
commit to user
B. Penelitan yang Relevan ... 25
C. Kerangka Berpikir ... 29
D. Hipotesis Tindakan ... 31
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32
1. Tempat Penelitian... 32
2. Waktu Penelitian ... 32
B. Subjek Penelitian ... 33
C. Data dan Sumber Data ... 33
D. Pengumpulan Data ... 34
E. Uji Validitas Data ... 35
F. Analisis Data ... 36
G. Indikator Kinerja Penelitian ... 38
H. Prosedur Penelitian ... 38
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44
A. Deskripsi Pratindakan ... 44
B. Deskripsi Hasil Penelitian Tiap Siklus ... 53
1. Siklus I ... 53
2. Siklus II ... 64
C. Perbandingan Hasil Antar Siklus ... 74
D. Pembahasan ... 86
BAB V.SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 91
A. Simpulan ... 91
B. Implikasi ... 91
C. Saran ... 92 DAFTAR PUSTAKA
commit to user
DAFTAR TABELTabel Halaman
1. Perbedaan Pembelajaran Konvensional dengan Pembelajaran Aktif ... 12
2. Penelitian yang Relevan ... 26
3. Rincian Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian ... 33
4. Indikator Ketercapaian ... 38
5. Hasil Prestasi Belajar Siswa Pra Tindakan ... 50
6. Hasil Angket Pra Tindakan Minat Belajar ... 51
7. Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus I ... 60
8. Hasil Angket Minat Belajar Siswa Siklus I ... 61
9. Kemampuan Guru dalam Penerapan Model Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort ... 62
10. Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus II ... 70
11. Hasil Angket Minat belajar Siswa Siklus II ... 71
12. Kemampuan Guru dalam Penerapan Model Pembelajaran Aktif tipe Card Sort Siklus II ... 72
13. Kemampuan Guru dalam Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort Pra Tindakan dan Siklus I ... 74
14. Perbandingan Minat Belajar Akuntansi pada Pra Tindakan dan Siklus I .... 76
15. Perbandingan Prestasi Belajar Pra Tindakan dan Siklus I ... 77
16. Perbandingan Kemampuan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort pada Siklus I dan Siklus II ... 78
17. Perbandingan Minat Belajar Akuntansi Siklus I dan Siklus II ... 80
18. Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II ... 81
19. Peningkatan Kemampuan guru dalam Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II ... 82
20. Hasil Minat Belajar Siswa Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II ... 84
commit to user
DAFTAR GAMBARGambar Halaman
1. Alur Kerangka Berpikir ... 30
2. Siklus Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ... 39
3. Denah SMK Batik 2 Surakarta... 47
4. Hasil Prestasi Belajar Siswa Pra Tindakan ... 50
5. Hasil Angket Minat Belajar Pra Tindakan ... 52
6. Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus I ... 60
7. Hasil Angket Minat Belajar Siswa Siklus I ... 61
8. Hasil Kemampuan Guru dalam Penerapan Model Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort pada Siklus I ... 62
9. Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus II ... 71
10. Hasil Angket Minat Belajar Siswa Siklus II ... 72
11. Kemampuan Guru dalam Penerapan pembelajaran Aktif Tipe Card Sort Siklus I ... 73
12. Kemampuan Guru dalam Penerapan pembelajaran Aktif Tipe Card Sort Siklus I Pra Tindakan dan Siklus I ... 75
13. Histogram Minat Belajar Siswa Pra Tindakan dan Siklus I... 76
14. Grafik Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Pra Tindakan dan Siklus I ... 77
15. Histogram Minat Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II ... 79
16. Perbandingan Minat Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II ... 80
17. Peningkatan Prestasi Belajar Akuntasi Siklus I dan Siklus II ... 81
18. Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II ... 83
19. Hasil Minat Belajar Akuntansi Siswa Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II 84 20. Prestasi Belajar Akuntansi Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II ... 86
commit to user
DAFTAR LAMPIRANLampiran Halaman
Survey Awal
1. Catatan Lapangan (survey awal) ... 97
2. Daftar Siswa Kelas X Akuntansi I ... 99
3. Daftar Nilai Siswa Kelas X Akuntansi I Pra Tindakan ... 101
4. Kisi-Kisi Angket Minat Belajar Akuntansi ... 103
5. Angket Minat Belajar Akuntansi ... 104
6. Lembar Obervasi Guru Mengajar ... 106
7. Daftar Wawancara Guru Sebelum Tindakan ... 109
8. Daftar Wawancara Siswa Sebelum Tindakan ... 110
9. Hasil Wawancara Guru Sebelum Tindakan ... 111
10. Hasil Wawancara Siswa Sebelum Tindakan ... 113
11. Silabus ... 116
12. Foto Dokumentasi Observasi Awal ... 119
Siklus I 13. Perangkat Pembelajaran Siklus I... 120
14. Analisis Angket Minat Belajar Siklus I ... 137
15. Perhitungan Angket Minat Belajar Siklus I ... 139
16. Lembar Hasil Pengamatan Guru ... 142
17. Perhitungan Lembar Hasil Pengamatan Guru ... 143
18. Daftar Nilai Siswa Siklus I... 146
19. Daftar Kelompok ... 148
20. Daftar Presensi Siklus I ... 149
21. Catatan Lapangan Siklus I ... 151
22. Foto Dokumentasi Pelaksanaan Siklus I ... 156
Siklus II 23. Perangkat Pembelajaran Siklus II ... 157
24. Analisis Angket Minat Belajar Siklus II ... 175
commit to user
26. Lembar Hasil Pengamatan Guru ... 180
27. Perhitungan Lembar Hasil Pengamatan Guru ... 182
28. Daftar Nilai Siswa Siklus II ... 184
29. Daftar Kelompok ... 186
30. Daftar Presensi Siklus II ... 187
31. Catatan Lapangan Siklus II ... 189
32. Daftar Wawancara Guru Siklus II ... 194
33. Daftar Wawancara Siswa Siklus II ... 195
34. Hasil Wawancara Guru Siklus II ... 196
35. Hasil Wawancara Siswa Siklus II ... 198
36. Foto Dokumentasi Siklus II ... 202
... Perijinan 37. Surat Permohonan Izin Menyusun Skripsi kepada Dekan FKIP UNS ... 203
38. Surat Ijin Menyusun Skripsi dari Dekan FKIP UNS ... 204
39. Surat Permohonan Izin Penelitian kepada Rektor UNS ... 205
40. Surat Keterangan Ijin Penelitian kepada Kepala SMK Batik 2 Surakarta ... 206
41. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian dari Kepala SMK Batik 2 Surakarta ...207
commit to user
BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini banyak upaya peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan
menyangkut kelangsungan hidup manusia. Manusia muda tidak cukup hanya tumbuh dan berkembang dengan dorongan instingnya saja, tetapi perlu bimbingan
(Hadi, 2005: 1). Melalui pendidikan akan dihasilkan manusia-manusia terdidik sebagai sumber daya manusia berkualitas yang akan berperan dalam pembangunan. Sehingga peran pendidikan sangat penting bagi masa depan suatu bangsa. Ini sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik yang menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Mengingat pentingnya peran pendidikan, maka masalah pendidikan menjadi perhatian serius bangsa Indonesia. Masalah pokok yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah yang berhubungan dengan mutu atau kualitas pendidikan yang masih rendah. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan menyangkut berbagai bidang diantaranya peningkatan sarana dan prasarana, perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, penyempurnaan sistem penilaian dan penilaian dan usaha-usaha lain yang tercakup dalam komponen pendidikan.
Perubahan jaman yang semakin maju dan persaingan yang semakin ketat antar bangsa dan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dibidang ilmu dan profesi. Untuk menghadapi persaingan tersebut maka diperlukan sumber daya
commit to user
yang berkualitas tinggi. Pembangunan sumber daya yang berkualitas tinggi pada dasarnya adalah untuk menciptakan dan mengembangkan ilmu dan teknologi yang modern sebagai sarana untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera. Dengan pendidikan manusia dapat meningkatkan kualiatas sumber daya yang dimiliki sebagai pelaksana pembangunan. Adanya pendidikan yang berkualitas dapat menentukan kualitas bangsa agar tidak tertinggal dengan bangsa lain. Untuk itu, pembaharuan pendidikan sangat dibutuhkan dan menjadi tuntutan dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pembaharuan pendidikan untuk memperbaiki mutu kompetensi yang dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengolah pembelajaran untuk menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar. Keterlibatan guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai fasilitator yaitu memfasilitasi dan mengantarkan siswa ke dalam proses pembelajaran yang bermakna jika dikemas secara aktif dan menyenangkan sehingga dapat membangkitkan semangat belajar siswa. Sebagai subyek dalam pembelajaran, siswa diharuskan aktif agar dapat belajar sesuai dengan bakat dan segala potensi yang dimiliki siswa.
Mengingat pentingnya ilmu Akuntansi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, maka perlu diperhatikan mutu pengajaran mata pelajaran Akuntansi yang di ajarkan di tiap jenjang dan jenis pendidikan. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ilmu Akuntansi, maka siswa harus menempuh proses belajar mengajar yang baik. Belajar akan lebih berhasil bila telah diketahui tujuan yang ingin dicapai. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan Akuntansi yang baik dan untuk mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat agar setiap kegiatan belajar mengajar tidak sia-sia dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Akuntansi khususnya.
Upaya peningkatan prestasi tersebut, terletak pada tanggung jawab guru, siswa dan lingkungannya. Namun dari itu lebih dititikberatkan pada guru, bagaimana pembelajaran yang disampaikan dapat dipahami oleh anak didik secara benar dan tergantung dan tergantung pada sejauh mana guru dapat
commit to user
menggunakan metode dan model pembelajaran dengan baik. Setiap model pembelajaran ditentukan oleh tujuan pembalajaran dan kemampuan guru dalam mengelola proses pengajaran.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Batik 2 Surakarta merupakan lembaga pendidikan ekonomi yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islam Batik Surakarta yang telah mendapatkan akreditasi A. Berdasarkan pengamatan dalam proses pembelajaran belum melibatkan siswa secara aktif. Kegiatan siswa di dalam proses pembelajaran lebih banyak mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, keterlibatan siswa masih kurang dan belum menyeluruh serta hanya didominasi oleh siswa tertentu saja, tampak siswa kurang bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran, mereka lebih banyak berbicara dengan temannya daripada mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini terjadi karena minat belajar siswa yang rendah.
Berdasarkan prestasi belajar Akuntansi dari ulangan harian terbukti bahwa hanya 51,22% (21 siswa ) yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sedangkan 48,78% lainnya (20 siswa) belum mencapai KKM. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran Akuntansi yang selama ini dilakukan belum optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diupayakan suatu bentuk perbaikan pembelajaran sebagai tindak lanjut guna mengatasi permasalahan yang terjadi.
Permasalahan kurangnya minat belajar siswa dalam pembelajaran Akuntansi dapat dirangsang dengan menerapkan model yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran tidak monoton dan membosankan yaitu pembelajaran aktif.
Pembelajaran aktif merupakan bentuk pembelajaran yang melibatkan peran aktif siswa, baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan guru. Pemindahan peran pada siswa untuk aktif belajar dapat mengurangi kebosanan, bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada siswa. Pembelajaran aktif pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan.
commit to user
Banyak cara, metode atau teknik yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran aktif salah satu model pembelajaran aktif adalah pembelajaran aktif tipe Card Sort. Pembelajaran aktif tipe Card Sort merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan oleh Mel Silbermen. Menurut (Silbermen, 2009: 157) model ini dilakukan dengan cara : a) memberikan kartu indeks kepada masing-masing peserta didik; b) meminta peserta didik memilih kartu sesuai dengan kategori atau pertanyaan; c) peserta didik yang telah selesai memilih kartu diberi kesempatan menyajikan sendiri (mempresentasikan) kepada yang lain. Dengan demikian diharapkan penerapan model pembelajaran aktif tipe Card Sort dalam pembelajaran Akuntansi diharapkan dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan
TIPE CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS X AKUNTANSI 1 SMK
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan: apakah dengan penerapan model pembelajaran aktif tipe Card Sort dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar Akuntansi pada siswa kelas X Akuntansi I SMK Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012?.
Definisi operasional dari perumusan masalah tersebut, diantaranya: 1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran aktif tipe
Card Sort.
2. Minat belajar adalah salah satu faktor internal yang termasuk dalam aspek psikologis yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa. Minat belajar siswa dapat diukur menggunakan data angket yang dilaksanakan pada sebelum siklus, siklus I, dan siklus II.
3. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebagai bukti keberhasilan dari kegiatan belajar. Prestasi belajar dapat diukur dengan tes hasil belajar.
commit to user
C. Tujuan PenelitianBerdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran aktif tipe Card Sort dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar Akuntansi pada siswa kelas X Akuntansi I SMK Batik 2 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan di dunia pendidikan, baik yang bersifat teoretis maupun praktis. Manfaat tersebut antara lain:
1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis dari penelitian ini untuk memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan dalam khasanah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan khususnya mengenai model pembelajaran aktif tipe Card Sort. Kemudian untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran aktif tipe Card Sort dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar Akuntansi siswa serta memberikan rangsangan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan topik dan pembahasan yang berkaitan dengan penelitian ini.
2. Manfaat Praktis a. Bagi guru
1). Pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang tepat dengan mata pelajaran Akuntansi dan relevansi dengan kondisi siswa.
2). Memberikan suasana baru dalam pembelajaran Akuntansi sehingga siswa lebih tertarik dalam belajar Akuntansi.
b. Bagi siswa
1). Untuk menciptakan pembelajaran baru yang menarik sehingga siswa dapat antusias dalam belajar pelajaran Akuntansi dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
commit to user
2). Untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang optimal dengan perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran. c. Bagi penulis
1). Menambah ilmu pengetahuan serta merupakan sarana untuk menerapakan ilmu pengetahuan yang telah didapat pada bangku perkuliahan yang nantinya diharapkan dapat digunakan untuk perbaikan pada proses pembelajaran.
2). Sebagai calon guru, penelitian ini mampu digunakan sebagai sarana pembelajaran yang baik sebelum menekuni profesi sebagai seorang tenaga pendidik.
commit to user
BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Kajian Pustaka 1. Pembelajaran
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan 20
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Pembelajaran juga merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah diterapkan sebelumnya.
2. Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
Pengertian model pembelajaran menurut Winataputra dalam Sugiyanto
konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas
commit to user
Sup pembelajaran mengacu
pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
model pembelajaran merupakan landasan praktek pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas.
b. Faktor-Faktor Model Pembelajaran
Dalam melaksanakan pembelajaran ada beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan, dimana Syah (2008: 8-12) membaginya dalam beberapa faktor, yaitu:
1) Memanfaatkan perilaku siswa dalam pengorganisasian belajar. 2) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan
kemampuan memecahkan masalah.
3) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
4) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar.
5) Mengenal siswa secara perorangan.
Sebagai makhluk sosial, sejak kecil secara alami anak bermain berpasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar, antara lain dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, siswa dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, siswa perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
Pada dasarnya belajar yang baik adaiah memecahkan masalah karena dalam belajar sesungguhnya siswa dihadapkan pada masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Berpikir kritis dan kreatif berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adaiah mengembangkannya, antara lain dengan sering
commit to user
memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan terbuka dan memungkinkan siswa berpikir mencari alasan dan membuat analisis yang kritis.
Lingkungan (fisik, sosial, dan budaya) merupakan sumber yang syarat dengan bahan belajar siswa. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar dan objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus di luar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar / diagram.
Mutu hasil belajar akan meningkat apabila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik (feedback) dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih banyak mengungkapkan kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tecermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua siswa dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Siswa yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu
commit to user
kemampuan siswa, apabila ia mendapat kesulitan kita dapat membantunya sehingga belajar siswa tersebut menjadi optimal.
c. Macam-Macam Model Pembelajaran
Dalam melaksanakan pembelajaran, dikembangkan pula beberapa model pembelajaran. Menurut Trianto (2009: 26) macam-macam model pembelajaran yaitu:
1) Pembelajaran berbasis inkuiri
Model pembelajaran inkuiri adalah suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam model inkuiri ini siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru.
2) Pembelajaran kuantum
Model pembelajaran Kuantum merupakan rakitan dari berbagai teori atau pandangan psikologi kognitif dan pemrograman neorologi yang jauh sebelumnya sudah ada.
3) Pembelajaran aktif
Model pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata..
3. Pembelajaran Aktif
a. Pengertian Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif menurut Zaini, Munthe, dan Aryani (2007: xvi)
secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang
mendominasi akt
commit to user
perlengkapan kelas perlu disusun ulang untuk menciptakan formasi
Pembelajaran aktif sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Hartono (2001: 1) mengemukakan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga senua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan k
satu sama lain. Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran dapat merubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik.
aktif juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pad
menjaga perhatian siswa pada proses pembelajaran jika materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Oleh karena itu, guru menciptakan strategi yang tepat, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk beiajar. Pembelajaran aktif pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi aktivitas yang menyenangkan, tidak membosankan bagi anak didik. Penerapan strategi pembelajaran aktif pada anak didik dapat membantu ingatan (memory), sehingga anak didik dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Penggunaan cara-cara pembelajaran aktif akan memindahkan peran pada siswa untuk aktif beiajar dalam situasi yang menyenangkan sehingga dapat mengurangi kebosanan pada diri siswa. Mc Connell dan
commit to user
bisa memberikan umpan balik terhadap pembelajaran sehingga guru bisa mengetahui
konsep-Keterlibatan siswa secara fisik maupun emosional dapat membangkitkan semangat siswa serta menimbulkan minat beiajar siswa sehingga proses pembelajaran dapat mencapai learning outcomes yang diinginkan.
Dari uraian diatas diketahui bahwa pendekatan pembelajaraan aktif berbeda dengan pembelajaran konvensional. Berikut adalah perbedaannya: Tabel 1. Perbedaan Pembelajaran Konvensional dengan
Pembelajaran aktif
Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Aktif 1 Berpusat pada guru Berpusat pada anak didik 2 Penekanan pada menerima
pengetahuan
Penekanan pada menemukan 3 Kurang menyenangkan Sangat menyenangkan 4 Kurang memberdayakan semua
indera dan potensi anak didik
Memberdayakan semua indera dan potensi anak didik
5 Menggunakan metode yang monoton
Menggunakan banyak metode 6 Kurang banyak media yang
digunakan
Menggunakan banyak media 7 Tidak perlu disesuaikaan
dengan pengetahuan yang sudah ada
Disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada (Sumber: Hartono, 2001: 3)
b. Tujuan Pembelajaran Aktif
Menurut Zaini, dkk (2007: xvii-xix) ada beberapa hal mengapa pembelajaran aktif diperlukan, yaitu:
1) Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum.
2) Untuk menghadapi kenyataan bahwa peserta didik mempunyai cara belajar yang berbeda-beda (learning style).
3) Dari sisi guru, bagi guru yang sibuk mengajar, pembelajaran aktif dapat dipakai dengan variasi yang tidak membosankan. 4) Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk
menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman.
commit to user
menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang pernah diterimanya pada hal-hal atau masalah yang baru dihadapinya. 6) Siswa diharapkan mampu mengenal dan mangembangkan
kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki. Di samping itu siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, kritis dan tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya. c. Macam-Macam Pembelajaran Aktif
Banyak sekali model dan strategi untuk mengaktifkan peserta didik. Dalam pembahasan ini, hanya dikemukakan beberapa model pembelajaran aktif menurut (Siberman, 2009: 151-161) yaitu sebagai berikut:
1) Kekuatan Berdua (The power of two)
Pembelajaran kekuatan berdua (The power of two) adalah pembelajaran dalam kelompok kecil dengan menumbuhkan kerja sama secara maksimal melalui kegiatan pembelajaran oleh teman sendiri dengan anggota dua orang di dalamnya.
2) Memilah dan Memilih Kartu (Card sort)
Pembelajaran memilah dan memilih kartu (Card sort) adaiah aktivitas kerjasama yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang benda atau menilai informasi. 3) Menguji Tim (Quiz Team)
Pembelajaran menguji tim (Quiz Team) adaiah pembelajaran yang mampu meningkakan keaktifan siswa dalam proses belajar. Dalam pembelajaran ini siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil dengan masing-masing anggota kelompok mempunyai tanggungjawab yang sama atas keberhasilan kelompoknya dalam memahami materi dan menjawab soal.
4) Pembelajaran Terbimbing (Guided Teaching)
Pembelajaran terbimbing (Guided Teaching) merupakan selingan yang mengasyikkan di sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini
commit to user
memungkinkan guru untuk mengetahui apa yang telah di ketahui dan dipahami oleh siswa sebelum memaparkan apa yang guru ajarkan. Pembelajaran terbimbing sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak.
5) Berbagi Pengetahuan Secara Aktif (Active Knowledge Sharing) Pembelajaran berbagi pengetahuan secara aktif (Active Knowledge Sharing) adalah sebuah pembelajaran untuk menarik para peserta didik dengan segera kepada materi peiajaran. Pembelajaran ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan para peserta didik. 4. Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort
a. Pengertian Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort
Menurut Silberman (2009: 157) Card Sort atau pemilihan kartu merupakan aktivitas kerjasama yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang benda atau menilai informasi. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa Card Sort adalah suatu pembelajaran aktif yang berupa aktivitas kerjasama yang dapat digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta atau menilai informasi. Pernyataan ini sejalan dengan Faiks dan Hyland (2000: 348) bahwa Card Sort dapat membantu dalam mengelola bagian-bagian informasi atau konsep.
Model pembelajaran aktif Card Sort menumbuhkan rasa keterlibatan siswa secara menyeluruh seta mengurangi kebosanan pada diri siswa sehingga akan meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran. Aktivitas fisik dalam model ini dapat mengurangi kebosanan pada diri siswa. Sebagaimana dijelaskan Silberman (2009: 158)
b. Tujuan Pembelajaran Card Sort
Tujuan dari pembelajaran Card Sort adalah untuk mengungkapkan daya ingat atau recall terhadap materi pelajaran yang telah dipelajari
commit to user
siswa. Sehingga siswa benar-benar memahami dan mengingat pelajaran yang telah diberikan. Untuk itu, menurut Hartono (2001: 4 ) hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1) Kartu-kartu tersebut jangan diberi nomor urut.
2) Kartu-kartu tersebut dibuat dalam ukuran yang sama.
3) Jangan memberi tanda kode apapun pada kartu-kartu tersebut. 4) Kartu-kartu tersebut terdiri dari beberapa bahasan dan dibuat
dalam jumlah yang banyak atau sesuai dengan jumlah siswa. 5) Materi yang ditulis dalam kartu-kartu tersebut, telah diajarkan
dan telah dipelajari oleh siswa. c. Langkah-Langkah Pembelajaran Card Sort
Silberman (2009: 158) menjelaskan bahwa mengajarkan bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif. Agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras.
Model pembelajaran aktif tipe Card Sort merupakan pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa, dimana dalam pembelajaran ini setiap siswa diberi kartu indeks yang berisi informasi tentang materi yang akan dibahas, kemudian siswa mengelompok sesuai dengan kartu indeks yang dimilikinya. Setelah itu siswa mendiskusikan dan mempresentasikan hasil diskusi tentang materi dari kategori kelompoknya. Di sini pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan menjelaskan materi yang perlu dibahas atau materi yang belum dimengerti siswa setelah presentasi selesai. Silberman (2009: 158) mengemukakan langkah-langkah aplikasi pembelajaran Card Sort sebagai berikut:
commit to user
1) Berilah masing-masing peserta didik kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori. Contohnya: kekuasaan badan eksekutif, legislatif, dan bagian pengadilan pemerintah, tipe pohon yang berganti daun dengan pohon yang daunnya hijau dan sebagainya.
2) Mintalah peserta didik untuk berusaha mencari temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sama (guru bisa mengumumkan kategori sebelumnya atau biarkan peserta didik mencarinya).
3) Biarkan peserta didik dengan kartu kategorinya yang sama menyajikan sendiri kepada orang lain.
4) Selagi masing-masing kategori dipresentasikan, buatlah bebrapa poin mengajar yang dirasa penting.
Variasi:
a) Mintalah setiap kelompok untuk membuat presentasi mengajar tentang kategori tersebut
b) Pada awal kegiatan, bentuklah tim. Berilah masing-masing tim satu set kartu yang lengkap. Pastikan kartu tersebut dikocok, sehingga kartu kategori yang mereka sortir tidak jelas. Mintalah setiap tim untuk menyortir kartu ke dalam kategori. Setiap tim bisa memperoleh niiai untuk nomor kartu yang disortir dengan benar.
Menurut Zaini, dkk (2007: 53) langkah-langkah aplikasi dalam pembelajaran Card Sort yaitu:
1) Setiap siswa diberi potongan kertas atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori.
2) Mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama (anda dapat mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan siswa menemukannya sendiri).
3) Siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
4) Seiring dengan presentasi dari tiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin penting terkait materi.
Model pembelajaran aktif tipe Card Sort merupakan pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan siswa, dimana dalam pembelajaran ini setiap siswa diberi kartu indeks yang berisi informasi tentang materi yang akan dibahas, kemudian siswa mengelompok sesuai dengan kategori kartu indeks yang dimiliki. Siswa dengan kategori sama mengelompok untuk mendiskusikan dan mempresentasikan hasil diskusi tentang materi dari
commit to user
kategori kelompoknya. Disini, pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan menjelaskan materi yang perlu dibahas atau materi yang belum dimengerti oleh siswa.
5. Minat Belajar
a. Pengertian Minat Belajar
Minat merupakan salah satu faktor internal yang termasuk dalam aspek psikologis yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa. Winkel (1996: 188) berpendapat bahwa minat merupakan kecenderungan subjek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi tersebut. Sedangkan Slameto (2010: 180) mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus menerus disertai perasaan senang.
Belajar dengan minat akan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik daripada belajar tanpa minat. Minat ini timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasakan sesuatau yang akan dipelajarinya dirasakan bermakna bagi dirinya (Rusyan, Kusnandar, dan Arifin, 1989: 24). Seseorang akan belajar lebih baik pada hal-hal yang disukainya, adanya minat akan membuat siswa mempunyai motivasi untuk belajar. Secara umum minat termasuk karekteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi, seseorang yang berminat terhadap sesuatu, maka orang itu akan melakukan langkah-langkah nyata untuk mengetahui dan mempelajari obyek yang diinginkan. Menurut Syah (2008: 136) minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu.
Berdasarkan beberapa definisi yang diberikan oleh para ahli dapat dikemukakan bahwa minat belajar merupakan suatu aktivitas seseorang untuk melakukan kegiatan belajar dengan dorongan perubahan tingkah laku pada diri siswa atau seseorang baik sikap maupun penguasan ilmu pengetahuan.
commit to user
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat BelajarMenurut Suseno (2009: 39-40), faktor-faktor yang mempengaruhi minat adalah sebagai berikut: 1) Faktor intelektual, merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berminat tidaknya seseorang untuk memiliki pengetahuan serta mempelajari sesuatu. 2) Faktor psikologis, adalah faktor yang timbul didalam diri individu berhubungan dengan psikis, faktor ini dapat mempengaruhi keadaan belajar individu dimana seseorang memiliki psikis yang berbeda dengan orang lain. 3) Faktor sosiologis artinya faktor yang timbul dari luar individu terdiri dari lingkungan hidup dan lingkungan tak hidup. 4) Faktor fisiologis artinya faktor yang berhubungan dengan jasmani individu. Apabila jasmani seseorang terganggu atau pada diri seseorang kekurangan zat makanan maka akan menyebabkan terganggunya kegiatan orang tersebut.
Faktor lain yang mempengaruhi menurut Winkel (1996: 32), disebut dengan faktor situasional. Ada lima faktor yang termasuk dalam faktor tersebut yaitu: a) Pribadi siswa, mencakup taraf intelegensi, daya kreativitas, kemampuan bahasa, kecepatan beiajar, kadar motivasi beiajar, sikap terhadap tugas beiajar, minat dalam beiajar, perasaan dalam beiajar, kondisi mental dan fisik. b) Pribadi guru, mencakup sikap kepribadian, penghayatan nilai-nilai kehidupan, daya kreativitas, motivasi kerja, penguasaan materi, gaya memimpin, kemampuan untuk bekerja sana dengan tenaga kependidikan lain, c) Struktur jaringan hubungan sosial sekolah, mencakup sistem sosial, status sosial siswa, interaksi sosial antar siswa dan antar guru dengan siswa, suasana dalam kelas. d) Sekolah sebagai institusi pendidikan, mencakup disiplin sekolah, pembentukan satuan-satuan kelas, pembagian tugas diantara para guru, penyususnan jadwal pelajaran, penyusunan kurikulum pengajaran, pengawasan terhadap pelaksanaannya, dan hubungan dengan orang tua. e) Faktor situasional, mencakup keadaan sosial ekomonis, keadaan politik, keadaan musim dan iklim, ketentuan instansi negara yang berwenang terhadap pengelolaan pendidikan sekolah.
commit to user
c. Pengukuran Minatode yang digunakan untuk
kuosioner, merupakan suatu metode yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang haras dijawab atau dikerjakan oleh siswa dengan teliti. 2) Metode inventori, merupakan suatu metode pengukuran berupa sejumlah pertanyaan yang harus dijawab responden dengan cara menyilang, memberi tanda cek atau tanda Iain pada jawaban yang tersedia.
d. Indikator Minat
Pada umumnya minat seseorang terhadap sesuatu akan diekspresikan melaiui kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan minatnya. Pada penelitian ini komponen-komponen yang digunakan untuk menyusun angket minat adalah ciri khas pribadi, situasi dan kondisi, interaksi dengan lingkungan dan dorongan untuk kemajuan. Adapun indikator minat menurut Suseno (2009: 42) yaitu: (1) Kedisiplinan, (2) Tidak mudah putus asa, (3) Perasaan terhadap situasi, (4) Belajar dalam suasana sepi, (5) Mengulang pelajaran, (6) Ingin berhasil, dan (7) Ketertarikan terhadap mata pelajaran.
6. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Belajar merupakan kebutuhan setiap orang sebab dengan belajar seseorang dapat memahami dan mengerti tentang suatu kemampuan sehingga kecakapan dan kepandaian yang dimiliki dapat ditingkatkan. Sebagai individu yang sedang belajar mempunyai kepentingan agar berhasil dalam belajar. Prestasi dapat dicapai setelah terjadi proses interaksi dengan lingkungan dalam jangka waktu tertentu. Prestasi dapat berupa pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sosial.
Prestasi belajar menurut Arifin
Sedangkan prestasi belajar menurut Sudjana (1991: 22) yaitu -kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
commit to user
pat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku untuk mendapatkan kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Prestasi belajar siswa merupakan interaksi antar faktor-faktor dari dalam diri siswa dan juga faktor-faktor-faktor-faktor yang ada di luar siswa tersebut. Dalam proses pembelajaran, terdapat beberapa faktor yang berkaitan dengan kesulitan belajar yang dapat berpengaruh bagi prestasi belajar siswa. Supomo (2001: 52-57) mengemukakan faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Faktor-faktor yang berasal dari dalam (internal) yaitu: a) Siswa merasa sukar mencerna materi karena
menganggap materi tersebut sulit. b) Siswa kehilangan gairah belajar karena
mendapatkan nilai yang rendah.
c) Siswa meyakini bahwa sulit untuk menerapkan disiplin diri dalam belajar.
d) Siswa mengeluh tidak bisa berkonsentrasi.
e) Siswa tidak cukup tekun untuk mengerjakan sesuatu khususnya belajar.
f) Konsep diri yang rendah. g) Gangguan emosi.
2) Faktor-faktor yang berasal dari luar (eksternal), yaitu: a) Kemampuan atau keadaan sosial ekonomi.
b) Kekurangmampuan guru dalam materi dan strategi pembelajaran.
c) Tugas-tugas non akademik.
d) Kurang adanya dukungan dari orang-orang di sekitamya. e) Lingkungan fisik
c. Strategi Peningkatan Prestasi
Menurut Aini (2009: 9-14) ada beberapa strategi untuk meningkatkan prestasi yaitu:
commit to user
1) Penyusunan rencana pembelajaran.
2) Membangun kerjasama dengan siswa dalam proses belajar mengajar.
3) Pemberian motivasi belajar terhadap siswa. 4) Menciptaan iklim pembelajaran.
5) Meningkatkan disiplin belajar siswa.
6) Pelaksanaan evaluasi proses belajar mengajar.
Strategi menyusun rencana pembelajaran adalah kepala sekolah melalui kebijakan yang dituangkan dalam tugas guru, mewajibkan para guru untuk membuat program mengajar yang berupa: silabus, analisa materi pelajaran, program tahunan, program semester, dan rencana program pembelajaran. Pembuatan program pembelajaran disusun secara bersama-sama bisa melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang ada di lingkungan sekolah yang selanjutnya dimantapkan melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat Kabupaten. Selanjutnya perangkat mengajar diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk dikoreksi dan ditanda tangani oleh kepala sekolah. Pada saat mengajar, para guru selalu membawa perangkat pembelajaran dengan maksud agar proses belajar mengajar berjalan dengan terarah, dan tujuan yang dirumuskan dalam program bisa tercapai.
Kegiatan guru yang profesional merupakan kegiatan atau tugas guru yang rutin yang dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan profesionalismenya. Untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi akademis siswa, guru berupaya untuk melibatkan siswa secara optimal dalam pembelajaran yang dikelolanya. Dalam menjalin kerjasama dengan siswa, strategi yang diterapkan bisa melalui (a) menjalin hubungan baik dengan siswa, (b) berusaha memahami latar belakang siswa, (c) penguasaan materi dan cara penyajiannya menarik, (d) penggunaan model mengajar yang bervariasi dan (e) memberi pembinaan khusus bagi siswa bermasalah. Pengembangan sekolah memiliki arti tersendiri bagi suatu sekolah, sehingga sekolah tidak hanya menjalin kerjasama dengan siswa saja, tetapi sekolah juga menjalin kerjasama
commit to user
dengan orang tuawali, perguruan tinggi, instansi pemerintah dan alumni. Adapun bentuk kerjasamanya bisa dengan pengadaan sarana dan fasilitas sekolah, rekrutmen calon mahasiswa, penyaluran bakat dan minat siswa melalui kegiatan ektrakurikuler dan pengadaan pembina ekstrakurikuler. Kerjasama dalam hal ini, tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di kelas saja, melainkan meJalui kegiatan sekolah secara keseluruhan yang mengarah pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa.
Pemberian motivasi terhadap siswa adalah sebagai berikut: (a) khususnya siswa kelas tiga selalu diberi latihan-latihan soal, (b) pemberian tugas untuk praktek lapangan, (c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d) mengkomunikasikan hasii belajar siswa melalui papan pengumuman maupun melalui pertemuan dengan orang tua, (e) pemberian reinforcement, (f) penggunaan media dalam pembelajaran dan (g) pemberian layanan bimbingan.
Agar pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung dengan lancar dan efektif, maka pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, staf dan guru melakukan upaya berupa: (a) petugas tata tertib selalu mengantisipasi berkeliling di lingkungan sekolah untuk mengontrol tempat-tempat yang rawan, (b) waka kesiswaan mengadakan razia di dalam kelas dengan dibantu petugas tatib dan guru pembimbing, (c) dalam mengajar guru berusaha memahami karakter siswa, (d) guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (e) guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang kesulitan pelajaran atau masalah lainnya, dan (f) guru berusaha menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari pelajaran eksak. Dengan strategi seperti diatas, memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa merasa senang dan betah berada di sekolah selama jam efektif kegiatan belajar mengajar.
Strategi untuk meningkatkan disiplin, sebagai berikut: (a) sekolah memiliki sistem pengendalian ketertiban yang dikelola dengan baik, (b)
commit to user
adanya keteladanan disiplin dalam sikap dan prilaku mulai dari pimpinan sekolah, guru dan karyawan, (c) mewajibkan siswa baru untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka, (d) pada awal masuk sekolah guru bersama siswa membuat kesepakatan tentang aturan kelas, (e) memperkecil kesempatan siswa untuk ijin meninggalkan kelas, (f) setiap upacara hari senin diumumkan frekuensi pelanggaran terendah. Dengan strategi tersebut diatas kultur disiplin siswa bisa terpelihara dengan baik, suasana lingkungan belajar aman dan terkendaii sehingga siswa bisa mencapai prestasi belajar yang optimal.
Evaluasi bisa dapat diiakukan dengan: (1) menilai terhadap hasil belajar siswa, (2) menilai terhadap proses pengajaran. Penilaian terhadap hasil beiajar siswa baik dari ulangan harian, ulangan semester, ujian akhir sekolah dan ujian akhir nasional. Penilaian terhadap proses pengajaran, berdasarkan hasil wawancara, observasi peneliti dan supervisi kepala sekolah, bahwa kompetensi guru dalam pembelajaran di kelas sudah bagus sekali, bahkan guru senior selalu menuiarkan etos kerja yang bagus, baik dalam melaksanakan tugas mengajarnya, tugas mengadministrasi hasil mengajar, maupun tugas tambahan dari sekolah.
d. Fungsi Prestasi Belajar
kegiatan belajar-mengajar yang diiakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai
tujuan-Menurut Arifin (2011: 3) prestasi beiajar semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu:
1) Prestasi beiajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
2) Prestasi beiajar sebagai pemuasan hasrat ingin tahu.
3) Para ahli psikologi biasa menyebut hal mi sebagai tendensi keingintahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum pada manusia, termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.
4) Prestasi beiajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah prestasi beiajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu
commit to user
pengetahuan dan teknologi dan berperan sebagai umpan balik (feed back) dalam meningkatkan mutu pendidikan.
5) Prestasi beiajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
6) Prestasi beiajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.
7. Hakikat Akuntansi a. Pengertian Akuntansi
Perkembangan akuntansi dimulai sejak ditemukannya sistem pembukuan berpasangan (double entry) di Itali pada tahun 1494 yang dikenalkan oleh Lucas Paciolo dalam bukunya yang berjudul Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita pada bagian bab bukunya yang berjudul Tractatus de Computis et Scriptorio.
Menurut American Accounting Assosiation dalam Alam (2001: 1)
pengukuran dan pengkomunikasian informasi ekonomi untuk membantu para pemakai informasi dalam membuat pendapat-pendapat dan
keputusan- A Statement of
Basic Accounting Theory, American Accounting Assosiation). Ditinjau dari segi rangkaian prosedur, akuntansi didefinisikan sebagai suatu teknik atau seni (art) untuk mencatat, menggolongkan, dan menyimpulkan transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian yang mempunyai sifat keuangan dalam nilai mata uang serta menganalisis hasil dari teknik tersebut.
b. Mata Pelajaran Akuntansi
Mata pelajaran Akuntansi adalah mata pelajaran yang dipelajari di sekolah menengah tingkat atas baik itu sekolah umum maupun sekolah kejuruan. Mata pelajaran ini khusus untuk sekolah kejuruan adalah mata pelajaran yang memiliki jam yang mengungguli mata pelajaran yang lain. SMK Batik 2 Surakarta menjadikan Akuntansi sebagai mata diklat yang bertujuan untuk menyiapkan siswa agar mampu memilih karier, mampu berkompetisi dan mampu mengembangkan dirinya dalam era globalisasi, serta membekali peserta didik dengan konsep dan praktik mengenai
commit to user
akuntansi sehingga kelak dapat berguna, baik dalam dunia kerja, universitas maupun masyarakat.
Materi pembelajaran dalam mata diklat Akuntansi SMK Batik 2 Surakarta kelas X semester genap mempelajan mengenai siklus akuntansi perusahaan dagang. Siklus akuntansi perusahaan dagang dalam buku modul akuntansi SMK Batik 2 kelas X oleh Budiarsi, Fatkhiyah dan Pujianto (2009: 3) meliputi tahap pencatatan, tahap pengikhtisaran, tahap pelaporan dan tahap penutupan buku:
a) Tahap pencatatan merupakan kegiatan identifikasi bukti transaksi, pencatatan transaksi dalam jurnal, buku besar pembantu dan posting jurnal ke buku besar umum.
b) Tahap pengikhtisaran merupakan tahap menyusun neraca saldo berdasar saldo akun-akun buku besar pada akhir periode.
c) Tahap pelaporan merupakan tahap menyusun laporan keuangan, yang didahului dengan membuat ayat jurnal penyesuaian untuk menyesuaikan saldo akun yang belum sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan mengerjakan neraca lajur untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan.
d) Tahap penutupan buku merupakan tahap menutup saldo akun-akun nominal dengan cara membuat ayat jurnal penutup, posting ayat jurnal penutup ke buku besar dan penyusunan neraca saldo setelah penutupan.
Beberapa tahap dalam siklus akuntansi perusahaan dagang tersebut perlu penguasaan konsep dan praktik secara mendalam bagi para siswa. Oleh karena itu, diharapkan guru lebih kreatif dalam membelajarkannya kepada peserta didik dan peserta didik lebih aktif menggali pengetahuan mengenai akuntansi (siklus akuntansi pemsahaan dagang) dari berbagai sumber belajar sehingga pembelajaran akuntansi dengan penerapan model pembelajaran aktif Card Sort diharapkan dapat membantu para siswa dalam menguasai konsep dan praktik mengenai siklus akuntansi pemsahaan dagang tersebut.
commit to user
B. Penelitian yang RelevanPenelitian-penelitian terdahulu yang sejenis dapat digunakan sebagai referensi dalam membantu kelancaran proses penelitian. Beberapa penelitian sejenis yang relevan bisa dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 2. Penelitian yang Relevan No Peneliti,
Tahun
Judul Hasil Persamaan Perbedaan
1. Kartika Widiastuti (2010) Peningkatan Keaktifan Bertanya Siswa Melalui Penerapan Strategi Motivasi dalam Model Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort di Kelas RSBI XI IPA I SMA Negeri I Surakarta. Adanya peningkatan setiap indikator keaktifan bertanya dalam pembelajaran biologi dari siklus I ke siklus II telah dapat mencapai target yang ditentukan. Target untuk indikator keaktifan bertanya sebesar 34,89% dan siklus II sebesar 56,21%. Besarnya peningkatan keaktifan bertanya siswa berdasarkan indikator keaktifan bertanya sebesar 21,32%. Menggunakan model pembelajaran aktif tipe Card Sort. Mata pelajaran yang diteliti, tempat penelitian, dan variabel penelitian. 2. Ninik Ambarini (2010) Penerapan Pembelajaran Card Sort disertai Mind Maping untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa dalam Pembelajaran Biologi Siswa Kelas VII-E SMP Negeri 5 Surakarta Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan setiap indikator minat belajar dalam pembelajaran biologi telah mencapai target yang ditentukan yaitu 75%. Hasil rata-rata persentase angket Menggunakan Pembelajaran Card Sort dan menggunakan variabel minat belajar siswa. Mata pelajaran yang diteliti, tempat penilitian, dan penerapan mind mapping.