PANITIA TENAGA AHLI DEPERNAS PROJEK ANGKUTAN MOTOR ( RISALAH – SEMENTARA )
RAPAT KE-2
Hari Djum’at, tanggal 13-5-1960 ( Djam panggilan : 20.00 )
Pengoreksi harap dilakukan dalam tempo 2 x 24 djam setelah Risalah Sementara ini diterima. Apabila
da-lam tempo 2 x 24 djam itu tidak dikembalikan, di-anggap tidak ada perubahan
A T J A R A : Projek Angkutan Motor. K E T U A : Ir. R. Umar Bratakusumah. SEKRETARIS : Drs. Tariksa Kartawidjaja. ANGGOTA JANG HADIR : 9 orang
1. A.C. Manoppo, 2. Siswosoemarto, 3. Abdoelwahab Djojoha-dikoesoemo, 4. Sunarjo, 5. Wan Inkiriwang, 6. Oey Tjeng San, 7. A. Gondosoebroto, 8. Raib, 9. M. Junus Pohan
KETUA : Saudara-saudara, marilah rapat ini kita buka kemba-li.
Seperti tadi pagi sama-sama kita tetapkan, malam ini kita akan mulai dengan membahas pertanjaan-pertanjaan jang tadi pagi telah disampaikan kepada Saudara-saudara sekalian. Sementara itu kami telah menerima dari kebanjakan daripada Saudara-saudara, djawaban-djawaban tertulis atas pertanjaan jang diadjukan tadi pagi dan dari Saudara Siswosoemarto telah diterima djawaban atas pertanjaan-pertanjaan jang diadjukan dalam daftar pertanjaan jang terdahulu dan tambahan uraian tentang kalkulasi tarif jang disam-paikan pada malam ini.
Kita mulai dengan pertanjaan I nomor 1, jaitu mengenai pe-netapan trajek. Dalam hal ini jang penting saja kira perlu dibe-rikan keterangan mengenai penetapan intensitet daripada sesuatu trajek. Barangkali hali ini baiklah saja serahkan kepada Saudara Abdoelwahab.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, kami akan mendjawab pertanjaan ini, sebagaimana saja mengerti pertanjaan ini, jaitu apakah dasar pertimbangan jang dipakai dalam menetap-kan trajek tiap djalan umum sebagai trajek otobis umum, jaitu dengan maksud agar tiap otobis jang bepergian mengetahui kemana ia dapat pergi, djam berapa ia dapat berangkat, berapa biaja angkutan dan lain-lain.
Oleh karena itu hanja beberapa bagian djalan sadja jang ditetap-kan sebagai trajek, oleh karena banjaknja djalan dan seba-gainja perlu diambil tindakan-tindakan jagn bersifat koordinasi antara pengangkutan-pengangkutan kereta api dan mobnil gerobak dan antara sesama mobil gerobak.
Banjaknya pengangkutan dalam sesuatu projek.
Dasar penetapan banjaknya pengangkutan-pengangkutan dan pemakaian alat-alat pengangkutan tersebut setjara efficient. Mungkin apakah dengan ini sudah terdjawab pertanjaan maksud ini ?
KETUA : Boleh saja mengadjukan tambahan pertanjaan mengenai ini supaja lebih djelas.
Pertama, kalau tidak salah tangkap, djadi mengenai pengang-kutan barang, truck itu tidak diadakan pengaturan-pengaturan jang lebih mengikat daripada pengangkutan-pengangkutan penumpang, akan tetapi dalam hal ini untuk truck itu djuga ditetapkan suatu putus-an bahwa boleh berdjalputus-an melalui djalputus-an raja ini. Apakah sungguh-pun demikian tidak ada pembatasan mengenai waktu dan sebagainja?
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Jang kami artikan dengan tra-jek itu adalah bagian djalan jang untuk dilalui oleh kendaraan umum diperlukan idjin dan untuk mobil gerobak jang ditetapkan se-bagai trajek adalah bagian-bagian djalan dimana pengangkutan-pe-ngangkutan, pertama : mempengaruhi pengangkutan dengan kereta api dan kedua, dimana vermogen demikian besarnja sehingga perlu dia-dakan pengaturan-pengaturan jang mengkoordinir truck-truk jang satu dan jang lain agar ada ketertiban di trajek itu.
KETUA: Apakah para pengangkut barang bebas untuk mendjalan-kan trucknja kedjurusan manapun djuga?
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Idjin diberikan untuk trajek-trajek tertentu.
Djadi kalau umpamanja ada trajek A, B dan C, itu merupakan 3 trajek. Kalau seorang pengusaha itu hanja mendapat idjin pada trajek A dan B sadja, itu tidak boleh djalan di C, tetapi disam-ping itu ada djalan-djalan jang tidak ditundjuk sebagai trajek-trajek, itu semua pengusaha boleh berdjalan dengan leluasa.
KETUA: Kalau ada trajek A, B dan C mendapat idjin untuk tra-jek A dan B, maka pada tratra-jek C tidak boleh.
Djalan jang bebas itu djalan jang mana ?
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Trajek bebas jaitu diluarnja A, B dan C. Djadi umpamanja hampir semuanja di Sumatera an-tara Bukit Tinggi dan Padang itu tidak ada penundjukan trajek. Djadi disitu semua perusahaan boleh djalan.
Kalau di Djawa pada umumnja truck jang paralel dengan Kere-ta Api itu ditundjuk, djadi orang harus mentjari idjin. Ada bebe-rapa trajek jang tidak paralel tetapi mempunjai pengaruh pada pe-ngangkutan-pengangkutan Kereta Api djuga pengangkutannja agak be-sar hingga diperlukan aturan jaitu umpamanja Bandung-Tjirebon, ka-rena itu mempengaruhi pengangkutan dengan kereta api Bandung-Tji-kampek-Tjirebon, dan djuga disitu banjak sekali pengangkutan.
KETUA: Djalan-djalan jang ditundjuk sebagai trajek kalau dibandingkan dengan djalan-djalan jang tidak ditundjuk sebagai trajek, mana jang lebih banjak ?
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Lebih banjak jang tidak di-tundjuk, oleh karena prinsipnja pengangkutan dengan barang itu harus sebebas mungkin, oleh karena pengangkutan barang sangat mem-pengaruhi djalannja perekonomian lain dengan pengangkutan penum-pang, karena tidak begitu langsung mempengaruhi perekonomian dan penumpang itu djalan kemana djuga keperluannja sama jaitu keselamatan dan service-service tertentu jang diperlukan.
KETUA: Soal ke 2. banjaknya angkutan jang diidzinkan berda-sarkan kebutuhan pengangkutan dalam trajek itu. Tjara-tjara mene-tepkan kebutuhan itu sekarang ini atas dasar bahan-bahan apa ?
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Sampai sekarang jang diper-gunakan sebagai dasar ialah permintaan idzin, oleh karena pengu-saha jang mengangkut itu mengetahui benar kebutuhan akan pengang-kutan.
KETUA: Tidak adakah suatu usaha penjelidikan tetap atas butuhan-kebutuhan daripada pemindahan barang dari satu tempat ke-tempat lain, djadi penelitian untuk bisa menetapkan berapa volu-me dan intensiteit daripada pengangkutan hendaknja diadakan anta-ra tempat-tempat itu ?
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Kini sedang diusahakan untuk mengambil sikap jang positif itu. Djadi dari fihak kami berusa-ha mengetahui dulu apa jang dibutuhkan disitu. Lantas dengan penge-tahuan itu kami mengadakan planning untuk tiap-tiap trajek itu berapa kendaraan dibutuhkan. Tetapi jang sudah-sudah ini setjara praktis sebenarnja dapat lebih mudah dilihat daripada permintaan idzin sadja. Tetapi sekarang hampir semua barang-barang jang ber-sifat pulp, dapat diketahui, pada umumnuya sedikit banjak dikuasai oleh pemerintah, sekarang dapat diambil sikap untuk menetapkan sikap dulu kebutuhannja dan berdasarkan penetapan itu diperlukan idzin. Kalau penumpang djuga diusahakan demikian. Tetapi sebe-narnua ada bahajanja kalau kami mengadakan satu estimate jang ter-lalu besar, sehingga terter-lalu banjak idzin dikerluarkan.
Dan dengan demikian bus jang djalan itu, kalau sudah mendapat idjin harus djalan menurut sesuai tijdscheme, akan terlalu kosong. Dja-di tock kita seDja-dikit banjak masih harus melihat djuga akan kebutuh-an pengusaha untuk berdjalkebutuh-an disitu, sebab mereka mempunjai baro-meter jang lebih tadjam daripada penglihatan pihak kami jang me-ngatur sadja dan tidak mempunjai kepentingan.
KETUA: Saja mengutjapkan terima kasih kepada Saudara Abdoel-wahab dan barangkali ada diantara Saudara-saudara jang ingin menam-bah ?
DRS. ZAKARIA RAIB: Saudara Ketua, pemindahan volume barang terlalu bersifat pasif dari pihak Pemerinah, karena menunggu per-mintaan idjin. Pendapat kami sebaiknja, jaitu Pemerintah harus bersifat aktif, dengan suatu penjelidikan jaitu inschakelen instan-si atau swasta jang berkepentingan dalam soal ini. Karena perkem-bangan dan tjepatnja kemadjuan-kemadjuan dalam rangka mempertinggi produksi, mengembangkan industri, pertanian dan sebagainja maka dalam waktu tertentu mempengaruhi volume daripada pemindahan ba-rang dari satu daerah ke daerah jang lain. Djadi kalau perkiraan ini didjalankan dalam scope ini dengan mengikut-sertakan atau mem-persoalkan persoalan transport-wezen ini antara instansi jang ber-kepentingan dalam perkembangan industri dan pertanian, saja kira akan mendapat gambaran jang lebih mendekati.
Kedua, kalau saja tidak salah terima ada satu pemikiran atau pandangan seolah-olah ada suatu konkurensi di dalam transport ang-kutan barang antara D.K.A. dengan truck. Sedangkan itu bisa dapat diambil sebagai pokok pikiran sadja didalam keadaan normal. Se-karang kapasitet D.K.A. sendiri tidak mempunjai kemampuan didalam melakukan pemindahan barang-barang tersebut. Apakah ini tidak bi-sa diadakan perubahan setjara radikal, sebab kita lihat djalan-djalan jang menjebabkan suatu kongestie daripada sesuatu produksi dalam negeri disuatu tempat karena kesulitan transport ini. Kalau kita mengikuti putusan jang dilaksanakan D.K.A. melakukan klafisikasi dalam prioritet barang-barang jang akan dipindahkan dari satu dae-rah kedaedae-rah jang lain, sedangkan belum tentu klasifikasi itu me-rupakan spoed program Pemerintah jang utama dalam sandang-pangan. Sebagai tjontoh kalau saja tidak salah, transport benang dimasuk-kan prioritet jang terakhir, sedangdimasuk-kan program Pemerintah mengu-tamakan produksi tekstil. Djadi kalau pemikiran ini tidak mengang-gap adanja suatu konkurensi untuk waktu tertentu, saja kira perlu dan saja sangat setudju diadakan tindakan jang memperluas lapangan pengangkutan ini dibidang kendaraan bermotor, sehingga dalam wak-tu jang singkat dapat ditjapai suawak-tu efisiensi jang dikehendaki,
karena untuk menjelesaikan pengangkutan volume barang seperti jang dikehendaki, memakan djangka waktu jang sangat pandjang. Dja-di kita harus mentjari djalan menjelesaikannja Dja-di dalam djangka waktu jang pendek, jaitu dengan mengerahkan segala jang ada dengan effiesiensi jang rendah. Djadi kalau umpamanja pendirian konkuren-si itu tidak ada dikalangan Pemerintah, saja kira bisa dalam wak-tu singkat diatasi, sebab kalau kita hanja menunggu permintaan pengusaha saja berpendapat kurang tepat.
Karena disini djuga menurut pengalaman kita didalam soal swasta, sering terjadi djika satu pengusaha madju pesat, semuanja menu-dju kemenu-djurusan itu. Djadi seharusnja bimbingan datang dari Peme-merintih djika telah melihat scope jang lebih luas. Sebab kalau ki-ta tunggu, kiki-ta lihat suatu kemadjuan daerah, semuanja menudju ke daerah itu. Produksi setjara integrasi hilang dan disini merupa-kan suatu perebutan, dan ini terus bisa menjebabmerupa-kan gedjala jang tidak dikehendaki.
Dengan pertimbangan-pertimbangan jang objektif dan zakelijk kalau sudah ada scope maka itu harus disebarkan dimasjarakat de-ngan bimbide-ngan dari Pemerintah.
Itu sumbangan saja dalam persoalan ini.
KETUA: Apakah Saudara mempunjai saran dengan tjara bagaima-na dengan tjepat dan dalam keadaan aparatur kita sekarang ini, ki-ta dapat mengeki-tahui volume barang jang hendak dipindahkan dari se-suatu daerah kedaerah lain.
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saran jang dapat saja beri-kan ialah adanja suatu pekerdjaan jang koordinatif antara Instan-si Pemerintah jang bersangkutan, jang berkepentingan dalam soal ini, umpamanya saja mulai dari sektor perindustrian dalam Perin-dustrian, sektor produksi pertanian dari Pertanian dengan diikut-sertakan gabungan-gabungan pengangkutan jang mempunyai pengalam-an mengenai ini dpengalam-an mendapat bimbingpengalam-an dari pihak pengpengalam-angkutpengalam-an darat.
Djadi didalam tiap-tiap rentjana umpamanja, pemerintah memberikan gambaran dalam djangka tahun sekian pembangunan industri dari dae-rah sudah memberikan gambaran berapa kebutuhan akan raw material jang harus dipindahkan, melihat pada pelabuhannja atau daerah jang menghasilkan raw material dan verspreiding daripada produksinja. Apalagi didalam keadaan ekonomi terpimpin ini, Pemerintah sudah melakukan suatu usaha untuk memberikan gambaran kedjurusan mana distribusinja itu akan disalurkan djadi dengan demikian dari pihak Angkutan Darat dapat memberikan gambaran lebih djelas dan jang penting adalah koordinasi antara instansi Pemerintah dengan go-longan swasta, jang berkepentingan dalam soal ini.
KETUA: Saja mengutjapkan terima kasih atas saran ini. Mak-sud kita berkumpul disini tidak untuk mengadakan pembahasan jang mendalam tentang persoalan ini. Djadi dari pihak Dewan Perantjang Nasioanl hanja ingin mengumpulkan keterangan-keterangan daripada para Ahli jang diundang dengan tanpa mengadakan diskusi dengan Dewan Perantjang Nasional daripada Ahli-ahli jang berkumpul ini. Djadi segala keterangan harap diberikan setjara pendek.
ABDULWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO:Saudara Ketua, memang bu-kan maksudnja untuk mengadabu-kan diskusi tetapi jang saja utarabu-kan tadi adalah keadaan jang sampai sekarang masih ada, dan jang merupakan terusan daripada keadaan-keadaan jang dulu-dulu dimana belum ada idee ekonomi terpimpin, tetapi ada jang dikemukakan oleh Saudara Zakaria itu belum saja kemukakan disini, oleh karena masih akan disusun jaitu djika nanti Dewan Pengangkutan Darat sudah mulai bekerdja dan jang ditudju adalah satu koordinasi dari semua dja-watan dan instansi swasta jang bersangkutan akan dikoordinasi dan dengan demikian maka dapat positif ditetapkan kebutuhan tadi. Kalau dulu kami djuga mentjoba ini, saja rasa tidak bisa geslaag oleh karena pada umumnja dulu djuga djawatan-djawatan jang lain, itu tidak mempunjai gegevens. Sekarang ini mulai ada usaha dari-pada Pemerintah dalam semua bidang. Penguasaan berarti penguasaan dari material kennis.
SISWOSOEHARTO: Saudara Pimpinan, dalam pembitjaraan ini saja akan menjesuaikan diri dengan maksudnja pertemuan ini. Sebagai-mana Saudara Pimpinan tadi siang menerangkan dalam laporan dari Seksi sudah dikemukakan, diantaranja ialah soal Angkutan Darat diatas djalan raja, jang masih memerlukan tambahan-tambahan pemi-kiran. Djadi dalam hal ini apa jang diterangkan oleh Saudara Ab-doelwahab itu bagi saja sudah tjukup djelas, tetapi jang saja ang-gap perlu, kalau pandangan saja ini benar, saja akan mengadjukan tambahan pikiran bagi Saudara Pimpinan sendiri untuk dimadjukan dalam sidang seksi jang tadi siang diterangkan. Dalam hubungan so-al trajek ini, maka pembitjaraan saja akan saja batasi. Kso-alau soal trajek itu ada 2 rupa: jaitu trajek penumpang dan trajek ba-rang. Saja minta pembitjaraan saja sekarang buat trajek barang sadja, tetapi minta djuga nanti diberi kesempatan untuk memadju-kan pemikiran tentang soal trajek penumpang. Jang perlu saja kemu-kakan bagi Saudara Pimpinan begini: Berbitjara tentang soal trajek angkutan, hendaknua kita bersama djangan hanja memikirkan soal pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lain sadja. Tetapi ada soal lain, jaitu: siapa jang harus memindahkan itu, ini hen-daknja mendjadi perhatian djuga. Didalam pembagian tugas siapa jang harus memindahkan itu.
Mengingat dengan ekonomi terpimpin, maka hendaknja Saudara Pimpin-an dalam sidPimpin-ang Seksi jPimpin-ang akPimpin-an datPimpin-ang masalah ini dikemukakPimpin-an, ja’ni apakah oleh Swasta seluruhnja atau sebagaian oleh Negara atau oleh Negara seluruhnja.
Kedua: Andaikata dilakukan oleh Swasta keseluruhannja, saja adju-kan pikiran, djanganlah berdasar seperti jang sekarang berdjalan, ja’ni hanja diadili dengan lisensi atau peridzinan sadja.
Sebab dengan sistim keadilan mempergunakan peridzinan liberalis-me masih ada didalamnja. Oleh karenanja adalah baik sekali disam-ping diadili dengan peridzinan, hendaknjapun diadili dengan satu istilah: angkutan hanja untuk orang jang menjelenggarakan angkut-an, djadi bagi mereka jang tidak menjelenggarakan angkutan lebih baik djangan dikasih idzin angkutan, sebag dengan demikian pembagian redjeki lantas dobel, jaitu bagi mereka jang hanja ongkang-ongkang sadja mendjadi direktur dari sala hsatu N.V. tetapi djuga menjadi pemilik suatu perusahaan angkutan, jang perusahaan itu dikerdjakan oleh orang lain. Ini adalah suatu penghisapan, jang oleh Kepala Negara kita tidak disetudjui.
Djadi saran saja hendaknja untuk hari jang akan datang melalui De-pernas kalau bisa diadakan suatu ketegasan bahwa angkutan hanja untuk mereka jang mendjalankan pengangkutan. Bagi mereka jang ti-dak mendjalankan pengangkutan djanganlah diberi idjin tersebut.
Saudara Ketua, maksud pendapat saja ini supaja adil dan mak-mur itu lekas-lekas tertjapai. Adil dan makmak-mur tidak tjukup dengan produksi membumbung tinggi, tetapi kalau distribusinja tidak di-laksanakan, makaatas dasar itu menudju kepada pembagian adil dan makmur, pemindahan produksi dari satu tempat jang kelebihan ketem-pat lain jang kekurangan, djuga disamping itu pembagian lapangan kerdja dalam hal ini lapangan usaha harus sudah dimulai.
Ditanjakan kepada siapa tidak ada jang bisa mendjawab. Tetapi kalau ada Vrachten Bureau, maka di Djakarta sebelum truck itu berangkat, didaftarkan dulu di Vrachten Bureau kemana berasi tu akan pergi dan alamatnja dimana, sehingga kalau di Bandung tida kada beras ma-ka instansi jang pertama jang dapat memberima-kan keterangan adalah Vrachten Bureau ini.
Saudara Ketua, Vrachten Bureau ini hendaknja merupakan suatu instelling Pemerintah, sebab kalau bukan instelling Pemerintah, bisa melakukan penjelewengan-penjelewengan sehingga fungsinja jang menudju kepada pendjagaan harga barang dan pendjagaan adanja barang akan disalah-gunakan.
KETUA: Baik diteruskan dengan pengangkutan penumpang, sebab kesempatan lain tidak ada.
SISWOSOEMARTO: Saudara Ketua, mengenai soal pengangkutan penumpang hendaknja untuk hari jang akan datang ketjuali pembagian seperti tadi sudah saja kemukakan, pemberian idjin angkutan penum-pang hanja untuk mereka jang mendjalankan angkutan penumpenum-pang, djadi djangan diserahkan kepada mereka jang tidak menjelenggaragakannja.
Kedua, pengangkutan penumpang dengan bus, oplet dan taksi, hendaknja ada klasifikasi. Kami sarankan untuk angkutan antar kota Kabupaten ke Kabupaten, Kabupaten ke Keresidenan atau Keresidenan ke Keresidenan didjalankan dengan bus, begitu pula pengangkutan ke dalam kota diatas djalan raja (main road). Untuk kota Kabupaten ke Ketjamatan atau kedistrik atau desa jang merupakan pusat pere-konomian rakjat diserahkan kepada oplet atau taksi. Dalam kota untuk feeder lines (djalan simpangan) jang bukan djalan raja dise-rahkan kepada oplet dan taksi. Dengan demikian ada pembagian tu-gas antara taksi, oplet dan bus, pun pula dapat mentjegah adanja congestie angkutan seperti jang sekarang tergambar di Djakarta Raja, karena pemisahan antara kendaraan besar dengan kendaraan op-let dan taksi jang hanja memuat beberapa penumpang tidak ada.
KETUA: Saja kira sekarang kita bisa meningkat kepertanjaan kedua, jaitu jang paling berat barangkali untuk didjawab, jaitu taksiran – sjukur kalau exact – daripada djumlah alat angkutan bermotor didjalan – raja.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Kami ada angka-angka jang exact tahun 1959 mengenai banjaknja bus dan dibagi da-lam propinsi tetapi itu masih sebagaian, karena jang baru be-lum termasuk pada statistik jang kami punjai.
Hanja mengenai daja angkut, kami sendiri dapat memberi-kan setjara rata-rata sadja, jaitu untuk autobus di Djawa ra-ta-rata daja angkutnja 35 orang.
Autobus diluar Djawa rata-rata 20 sampai 28 orang.
Mobil gerobak (truck) di Djawa rata-rata 3 ½ ton dan di-luar Djawa ada 2 ½ ton.
Daftar ini akan kami sampaikan kemudian kalau sudah kom-plit.
KETUA: Apakah ada bahan-bahan lain ?
DRS. ZAKARIA RAIB: Kami ada tjuma mengumpulkan bahan-2 ta-hun 1958 didalam golongan mobil penumpang, mobil gerobak, auto-bus dan golongan sepeda bermotor dimana kami bisa memberi pem-bagian menurut sedan, jeep, oplet, station wagon dan segala ma-tjam kendaraan dan menurut propinsi. Dan kami mengharap bantuan dari Saudara Abdulwahab untuk memperhitungkan daja angkutnja karena kami hanja mempunjai daja angkut total. Djadi saja gam-barkan disini (tahun 1958) djumlah mobil penumpang ada 72.500, mobil gerobak ada 42.500, autobus ada 8.400, dan kendaraan motor lainnja jaitu sepeda motor, sepeda kumbang, betjak bermo-tor, secoter, dan lain-lainnja ada lebih kurang 230.000.
Bahan-bahan ini kami dapat dari Kantor Polisi. Mengenai daja angkut, berdasarkan taksiran :
Truck umum 58.000 ton,
Truck bukan umum 34.000 ton,
Bus umum kira-kira 12.000 ton daja-angkut dan bus bukan umum 1.000 ton daja-angkut, dan kalau dihitung menurut penum-pang bus umum daja-angkut 183.000 orang, bus bukan umum 15.000 orang. Ini keadaan pada tanggal 1 Djanuari 1960 jang dapat ka-mi kumpulkan.
KETUA: Bisa diserahkan ?
DRS. ZAKARIA RAIB: Bisa, akan saja tik dulu karena ada sedikit tambahan lagi.
KETUA: Pertanjaan no. 3 masih menjangkut pertanjaan no. 2 Dengan diketahui djumlahnja angkutan kendaraan bermotor, baik truck maupun bus dalam pertanjaan no. 3, dimintakan keterangan jang rieel berdjalan kira-kira berapa persen daripada jang disebut djumlahnja itu ?
kira, oleh karena kalau dengan tepat kami tidak dapat mengeta-kira jang sudah berumur hampir 10 tahun ada 50 %. Djadi harus su-dah melakukan pergantian. Dalam perhitungan itu Perindustrian djuga merentjanakan pendatangan kendaraan dalam tahun 1960 ini, untuk
DRS. ZAKARIA RAIB: Seperti saja katakan tadi, kami menerima kesimpulan dari jang dikemukakan Saudara Abdoelwahab jaitu kira-kiradi Djawa 80 prosen jang berdjalan, mengingat djalan-djalan disini ada lebih baik sedangkan diluar Djawa dikatakan 70 prosen.
Ada kemungkinan kebenaran diantara taksisan ini, ditambah dengan perhitungan kami 50 prosen daripada kendaraan ini dianggap sudah lebih dari 10 tahun umurnja, jang berarti tidak bisa djalan, akan tetapi ada dari mereka jang bisa mendjalankannja, sebab dengan keachlian dan kesergapan para pengusaha untuk menukar-nukar atau menggantinja, sehingga perkiraan procentage rata-rata 75 proses memang dapat kami terima.
efek-KETUA : Bisa saja tarik kesimpulan, dari keterangan Sau-dara bahwa oleh karena keadaan djalan demikian, maka musim djuga mempengaruhi procentage daripada pengangkutan jang ber-djalan.
OEY TJENG SAN : Betul Saudara Ketua, djuga kalau ada jang minta lagi autobus itu batas sudah ditetapkan di Djakarta be-rapa proses dibestel. Kalau lebih dari 60 % ditambah lagi trajek. Kalau mundur jang minta idjin buat djalan itu tidak dikasih, tetapi kalau bestelling lebih lantas dari atas dika-sih.
KETUA : Pertanjaan nomor 4, sekarang ini mengenai jang berdjalan. Tadi dari djumlah itu kita sudah menghitung sekian prosen rata-2 jang tidak djalan diantara 70 % sampai 80 % jang berdjalan. Sekarang pertanjaan saja, diantara jang berdjalan ini daja angkutnja berapa ?
Bagaimana Saudara Abdoelwahab ?
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Kalau diperkirakan rata-rata satu truck dapat berdjalan satu hari 200 kilometer dan dalam satu tahun berdjalan kira-kira 240 hari, djadi dengan daja angkut tiap truck tadi jang telah dikemukakan, kita da-pat memperhitungkan itu dengan perhitungan lagi prosentase jang tidak berdjalan.
Mengenai bus pda umumnja djalannja lebih banjak daripa-da truck jaitu 240 kilometer satu hari daripa-dan 300 hari satu tahun.
Oleh karena pada time table dan sebagainja daripada suatu ketentuan untuk berdjalan, sedangkan kalau truck hanja berdja-lan tergantung adanja muatan. Ini kapasitet jang ideal sebe-tulnja, kemungkinan djuga ada kurangnja mengenai hari meskipun sudah diambil 70 % sampai 80 % mungkin masih ada kurang lagi me-ngenai hari berdjalan.
KETUA: Dari Saudara-saudara jang bergerak didalam pengang-kutan barangkali keterangan-keterangan tambahan.
SISWOSOEMARTO: Menurut angka-angka jang ada pada kami, djawaban pertanjaan nomor 4 itu tjuma saja ambil dari ukuran-ukuran satu bus sadja untuk luar kota 70 % kali djumlah tempat duduk penumpang kali 250 kilometer kali 250 hari. Djadi hampir sesuai dengan keterangan Pak Abdoelwahab tadi.
Penumpangnja tjuma 70 % dari djumlah tempat duduk untuk lu-ar kota untuk dalam kota rata-rata penumpangnja djuga 70 % dlu-ari djumlah tempat duduk, kilometernja rata-2 ada 160 kilometer, ha-rinja ada 250 hari.
Supaja bisa menjadi 300 hari harus ada reserve.
KETUA : Pertanjaan ini semuanja nanti sampai kepada dja-waban itu, djadi supaja menurut urutan.
Pertanjaan no. 5 apakah menurut Saudara banjaknja ang-kutan kendaraan bermotor baik untuk orang (bus) maupun untuk barang (truck) telah memenuhi kebutuhan atau masih kurang ? Djika masih kurang, didaerah-daerah mana paling terasa keku-rangan itu ?
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, walau-pun terdapat kemunduran umum dalam perekonomian, djumlah alat angkutan berupa baik autobus maupun mobiel gerobag masih di-rasakan belum menutupi kebutuhan. Dan kekurangan akan alat-alat pengangkutan ini lebih-2 terasa didaeah-daerah :
a. dimana tidak ada kereta api,
b. dimana terdapat pembangunan-pembangunan istimewa, seperti disekitar project Djatiluhur, Asia Games dan lain-lain, seperti di Djawa Timur : Trowongan.
c. Didaerah-daerah operasi, dimana banjak alat-2 pengang-kutan dilikwidir, ini jang sering kali didengar kelu-han dari Sumatra-Utara dan,
d. Setjara berakala disekitar pusat-pusat hasil-bumi pada musim panen. Ini terdjadi umpamanja djikalau ada maaltijd gula, disitu selalu terasa ada kekurangan pengangkutan dan baru-baru ini djuga sangat dirasa kekurangan wak-tu Hwa Kiau setjara mendadak ditarik dari desa-desa, di Djawa Timur ada timbunan hasil-hasil jang tidak da-pat diangkut, oleh karena kekurangan angkutan, oleh karena tidak ada timing untuk mengangkut setjara re-gelmatig. Dan demikian seterusnja kalau ada kebutu-han jang istimewa, disebabkan oleh panen selalu te-rasa masih kekurangan pengangkutan.
DRS. ZAKARIA RAIB : Kami sependapat dengan Saudara Abdoel-wahab, bagaimanapun djuga keadaan daja-angkut memang kurang, berdasarkan seperti tadi : 50 % sudah tua, kenaikan djumlah kendaraan, dus daja-angkut, baik untuk penumpang, maupun un-tuk barang tidak sebanding dengan kenaikan penduduk, tidak sebanding dengan usaha Pemerintah menaikkan productie. Ini sangat terasa didaerah-daerah terutama didaerah-daerah jang transportwezen janja bergantung sama sekali dari kendaraan bermotor.
Djuga terasa didaerah-daerah jang merupakan daerah export dimana pengangkutan hasil export terutama hasil hutan, menga-lami kesukaran.
Didaerah-daerah penghasil karet jang merupakan export itu djuga menjebabkan kemunduran djuga karena kesulitan transport jang membawa akibat kemunduran daripada kwalited export.
Dengan sendirinja kemunduran daripada penghasil devizen.
Suatu tjontoh dapat saja kemukakan didaerah karet rakjat di-mana Pemerintah mengadjurkan pendirian pengasapan.
Ini sering tidak bisa karena kesulitan transport jang aki-batnja menghasilkan kwaliteit blanketsheet jang mengadakan perbedaan harga per ton antara kwaliteit 3 atau 4 blankets-heet dengan 55 dollar U.S. Dan kalau kita lihat produksi adalah kira-kira 400.000 x 55 dollar meliputi lebih 2,2 djuta dollar U.S. Ini karena kesulitan transport sadja, dju-ga daerah-daerah penghasil tani itu djudju-ga mendju-galami.
KETUA : Djadi dalam hal ini buka sadja persoalan materi-eel daripada transport, tetapi djuga djalannja.
DRS. ZAKARIA RAIB : Dengan djalannja djuga, tetapi ka-lau dilihat kepada daerah luar Djawa bagaimanapun djuga, mereka itu mentjoba djuga mengangkut truck didalam daerah djalan-dja-lan jang tidak baik dibandingkan dengan kendaraan penumpang.
KETUA : Saja kira sudah djelas mengenai pertanjaan no. 5 Sebenarnja pertanjaan no. 6 adalah kelandjutan daripada pertanja-an no. 5, yaitu sepertanja-andainja kekurpertanja-angpertanja-an, tentu ada akibat-akibat daripada kekurangan itu.
Sudah diterangkan tadi. Kita liwat sadja.
Pertanjaan ke-7.
Faktor-faktor yang merupakan penghambat untuk pengguna-an alat-alat pengpengguna-angkutpengguna-an bermotor setjara efisien. Disini di-sebut hanja beberapa misal sadja mungkin misalnja djuga tidak benar.
Dan dari Saudara-saudara dimintakan keterangannja, faktor-faktor jang mendjadi penghambat itu menurut pendapat Saudara-saudara sendiri, djadi tidak perlu terikat pada apa jang di-sebut dalam pertanjaan ini.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Hal-hal jang mengha-langi lantjarnja djalan pengangkutan dan pemakaian alat angkutan setjara efektif, berhubung dengan keadaan djalan-djalan, djalan-djalan pada umumnua rusak. Pertama.
Kedua, klasifikasi djalan-djalan jang menghubungkan tem-pat-tempat jang penting sering tidak sama. Umpamanja sadja ka-dang-kadang sebagian djalan-djalan lainnja klas 2, sebagian jang lain klas 3 merupakan penghambat djuga.
Ketiga, pada umumnja djalan-djalan di Indonesia itu agak terlalu sempit.
Keempat, adanja halangan-halangan dari langzaam verkeer, jakni kendaraan-kendaraan jang digerakkan oleh tenaga
manu-c. Kemudian ada penghambat-penghambat jang merupakan pe-raturan-peraturan, berhubung dengan masih dipegang-teguhnja pendirian untuk melindungi Kereta Api terhadap persaingan untuk bermatjam-matjam kepentingan, ketjuali jang memang njata kepentingannja seperti pengangkutan seisoen dari beras, gula, padi dan lain-lain keperluan perekonomian umum sering- sering djuga dilakukan penggunaan jang kurang dimengerti urgensinja, seperti untuk keperluan perajaan-perajaan dan lain sebagainja, dimana diperlukan penegrahan massa, ini suatu opsomming jang mungkin dapat ditambah lebih banjak lagi oleh Saudara-saudara jang melaksanakan transport termasuk Saudara Siswosoemarto.
SISWOSOEMARTO : Tidak banjak tambahan Saudra Ketua, saja setudju dengan apa jang dikemukakan oleh Saudara Abdoelwahab.
Karena tidak stabilnja harga keperluan kendaraan bermotor, maka untuk mentjapai keseimbangan antara beban disatu pihak dan hasil dilain pihak agak sulit, sehingga banjak tindakan-tindakan juga me-maksa untuk menghentikan usahanja didalam penjelenggaraan pengang-kutan.
Itu sadja tambahan saja.
KETUA : Bagaimana Saudara Ingkiriwang ?
INGKIRIWANG: Saudara Ketua, saja menambahkan djuga tambah-an mengenai onderdil. Harga onderdil sekartambah-ang meningkat sampai 1000% dari dulu. Apakah harga batas dari onderdil itu tidak bisa ditetap-kan seperti dulu seperti Gaja Motor berbuat dengan harga-harga jang ada, sebab menurut pengalaman saja, onderdil dulu harganja tidak le-bih dari 40% sampai 60% diseluruh tempat. Bukan hanja di Djakarta tetapi kalau ada djuga di Irian Barat sekalipun djuga sama harganja.
KETUA : Berapa proses jang dulu ?
INGKIRIWANG : Kalau Gaja motor mengambil 40% untuk dealer, maka Gaya Motor lalu menetapkan untuk harga distributor. Satu distri-butor mengambil tidak lebih dari 20 sampai 15% korting dari harga itu. Achirnja umpamanja onderdil seharga Rp. 1,- maka itu dapat di-belu dimana-mana dengan harga sama.
KETUA : Mengenai onderdil ini nanti ada pertanjaan sendiri. Pertanjaan sekarang ini apa jang mendjadikan halangan atau hambat-an untuk kelhambat-antjarhambat-an berdjalhambat-annja buas.
OEY TJENG SAN : Untuk kelantjaran djalannja bus mesti harus ada reserve-bus dan reserve-onderdil dari autobus.
Saja mempunjai 7 bus dan 5 reserve, djadi djumlah semua 12. Saja baru sadja membikin seharga 400 ribu rupiah, kalau ada salah satu bus mogok ditengah djalan, segera itu untuk penggantinja.
KETUA : Maksudnja lantjar ialah bus itu dikirakan tiap hari bisa berdjalan sedjauh 250 kilometer atau lebih. Karena ada halang-an-halangan, maka lantas djarak itu djadi berkurang.
OEY THENG SAN : Halangan sebenarnja sudah sedjak lama jaitu 7 / 8 tahun, tetapi kita masih bisa belu onderdilnja jang meskipun harganja mahal sekali. Itu harus dibeli, seperti pernah saja lakukan untuk ongkos memperbaiki sadja sampai 200 ribu-rupiah.
Djadi karena terlalu mahal, bagaimana kita bisa mendapat se-karang? Kalau barangkali semua onderdil dilever oleh Jajasan, lantas dibagi kepada orang jang mempunjai auto,
ditjatut lagi, itu bisa beres.
KETUA : Baik, terima kasih. Lalu pertanjaan no. 8 adalah ten-tang levensduur daripada kendaraan. Barangkali lebih baik dari pa-ra ahli jang mengusahakan pengangkutan dulu.
SISWOSOEMARTO : Saudara Ketua, menurut pendapat kami, maka auto baru bisa tahan, bisa kasih keuntungan, kira-kira 6 tahun, liwat dari 6 tahun sudah harus mulai direvisi besar sekali, sudah tidak ekonomis lagi, keuntungan sudah sedikit sekali, kira-kira 20 – 15 %.
KETUA : Saudara Oey, kalau busnja baru, bisa dipakai sampai bus itu tidak lagi menguntungkan kalau berdjalan ?
OEY TJENG SAN : Djadi kalau sekarang berharga 400.000 rupijah, daripada membeli jang tua, achirnja ja enak membeli jang baru.
KETUA : Djadi berapa lamanua, bus jang baru itu bisa berdja-lan sampai Saudara bisa mengatakan : “Itu bus sudah tua”.
OEY TJENG SAN : 5 tahun. kalau sekarang 3 tahun, sebab djalan-djalan rusak.
KETUA : Bus dari masa kemana itu ?
OEY TJENG SAN : Dari Bandung – Tjirebon pulang pergi.
SISWOSOEMARTO : Saja tidak mengikatkan diri pada tahun, teta-pi pada djumlah kilometers. Kalau djumlah kilometers itu satu hari 320 – itu paling tinggi tjuma bisa berdjalan dawal waktu 3 tahun. itu djalan Djakarta – Bandung.
Gemiddeld antara djalan jang baik, setengah baik dan jang ruska, saja menjokong Saudara Oey, jaitu rata-rata 5 tahun, masih mempunjai daja ekonomis.
Lebih daripada itu jang ada tjuma nilai pakai tehnis. Nilai pakai ekonomis sudah tidak ada lagi. Bus D.A.M.R.I. sekarang masih bisa berdjalan, padahal dari tahun 1945. sekarang sudah 15 tahun, masih bisa dikir sampai berdjalan. Nilai pakai tehnis ada, tetapi sudah tidak ekonomis.
Lantas pertanjaan b. Saudara Pimpinan, berapa diperlukan ti-ap tahun untuk penggantian jagn tua, pengalaman dalam kalangan jang saja alami, selama levenduur itu diperlukan replasement 50% daripada harga beli. Tahun pertama 5%, tahun kedua 7 ½%, tahun ketiga 10%, tahun keempat 12 ½%, tahun kelima 15%.
KETUA : Tjoba diulangi sekali lagi persen-persennja.
SISWOSOEMARTO : Tahun kesatu 5%, tahun kedua 7 ½%, tahun keti-ga 10%, tahun keempat 12 ½%, tahun kelima 15%. Kalau sudah dikenakan perubahan-perubahan sampai 50% dan masih memerlukan perbaikan, le-bih baik ini kita djual, kita membeli baru.
KETUA : Ada tambahan ? Silahkan.
SOENARJO : Saudara Ketua, kita sendiri bukan dair lapangan pengangkutan, tetapi mungkin dapat menambah sedikit perentjanaan ten-tang ekonomische levensduur, yaitu dalam literature levensduur telah kita batja ekonomische levensduur di Eropa adalah dua tahun. Djadi lebih-lebih di Indonesia jang mobil itu dipergunakan pada road jang lebih buruk dari Eropa, saja kira kita tidak dapat menentukan eko-nomische levensduur lebih dari dua tahun. Sebagai jang telah kita alami mengenai penawaran credit dari luar negeri, Pemerintah menjarankan supaja paling sedikitnja lima tahun. Pabrik sendiri tidak bersedia, karena berpendapat bahwa sedangkan ekonomische le-vensduur untuk dua tahun, mengapa diluar negeri harus melebihi dari ekonomische levensduur. Itu salah satu korespondensi jang te-lah kita adakan dengan fabriekans dan saja kira jang berkompetent untuk menentukan levensduur ekonomis. Seperti Saudara Siswosoe-marto tadi mengemukakan djuga, bahwa ada jang dari tahun 1929 djuga masih ada djalan di Kuningan.
Kalau turun, gasnja dimatikan dulu dan stuur strangnja tidak ada, pakai kawat sadja, disekrup begitu, memang tehnis lavensduur itu rekbaar sekali dinegeri kita ini. Dus ekonomische levensduur dua tahun menurut pendapat fariekant jang mendekati saran Saudara Sis-wosoemarto tadi.
Sekian.
KETUA : Djadi memang benar, sebenarnja levensduur itu djangan menghitung tahun, akan tetapi lebih mendekati kalau dihitung kilo-meter-nja sadja.
A.C. MANOPPO : Saja baru kembali dari Sumatera untuk inspeksi, kita punja dealer seluruh Sumatera, maka ada satu kerusakan pengang-kutan antara Padang dan Medan.
Maka dia mempunjai 60 auto bus, itu trajek jang paling sukar punja mobil. Saban tahun dia ganti 10 mobil.
Dus, trajeknja itu djalan sadja, dengan 60 kendaraan satu tahun ganti 10 mobil.
KETUA : Ini tiap-tiap Tahun ? A.C. MANOPPO : Saban tahun.
KETUA : Djadi enam tahun sebenarnja.
A.C. MANOPPO : Dengan reserve 15, sebab ini trajek 1300 kilo-meter. Dus elkjaar vernieuwt hij de wagens dengan kondisi jang ba-ik dan perawatan jang baba-ik.
KETUA : Daripada 60 jang djalan djadi seperenam. Revisi seperenam tiap tahun.
A.C. MANOPPO: Dengan perawatan jang istimewa dan djuga tidak sebab ini trajek jang paling panjang. Karena sudah saja alami Suma-tera sekarang itu memang levensduur disana, tidak bisa dihitung de-ngan tahun tetapi dede-ngan angka-angka kilometer. Disana levensduur jang paling tinggi tiga tahun. itu kita lihat djuga dari perminta-an-permintaan dari buitengewesten. Kalau kita lihat permintaan da-ri Kalimantan, kita minta dada-ri Sulawesi dengan dada-ri Sumatera, semua itu permintaan hernieuwing van de autos. Djuga pembagian Gaja Motor jang kita dapat dari djatah Pemerintah, umpamanja 2000 kereta, 60% buat buitengewesten, 40% untuk Djawa. Ketjuali jang diblokker Pemerintah.
KETUA : Tetapi kalai replacement tiap tahun seperenam itu ti-dak 3 tahun, djadi economisch levensduur-nja lebih lama.
A.C. MANOPPO: Tetapi ini semua nieuwe wagens dengan 15 re-serve. Kalau tidak salah dimulai tahun 1058 dan tiap tahun mereka me-mesan 10 buah dari kami.
Ada satu perusahaan jang mempunjai 400 kendaraan, semua bus-sen, dan levensduur-nja ditiap tempat tidak sama seperti diterang-kan jaitu 5 tahun.
KETUA: Tadi mengenai bus, bagaimana mengenai truck.
W.A.N. INGKIRIWANG: Truck lebih tahan lama, sebab tidak selalu sebentar-sebentar berhenti, djadi levensduurr-nja lebih lama daripa-da bus.
OEY TJENG SAN: Ada jang 5 tahun, 3 tahun atau 2 tahun, ter-gantung pada djalan jang baik dan pemeliharaan jang baik. Kalau kendaan djalan baik tahan sampai 5 tahun lebih, tetapi kalau dja-lan rusak sedangkan onderdil sukar didapat bisa kurang dari itu.
KETUA: Jang dikemukakan Saudara Soenarjo tadi bahwa di Eropa economisch levensduur-nja ditetapkan 2 tahun dan bisa diduga bahwa djalan-djalan disana djauh lebih baik daripada di Indonesia. Bagai-mana menurut pendapat achli ekonomi. Saja di Eropah pernah bertemu dengan seorang jang memakai oto merek crysler dan ia kemukakan bah-wa oto itu hanja sampai 80.000 km sadja, ssesudah itu tidak ekonomis la-gi.
DRS. ZAKARIA RAIB : Saja kira di Eropah afstanden lebih banjak dipergunakan dan kedua, sjarat-sjarat lebih keras daripada di In-donesia, karena faktor-faktor jang ditetapkan lebih tinggi dan djuga djangan dilupakan negara jang dekat dengan pabrik sebab disana soal marketing djuga mempengaruhi dalam levensduur itu. Dan stabiliteit daripada valutanja disana.
A.C. MANOPPO: Saudara Ketua, djuga ekonomische afschrijving memang terang mempengaruhi.
Menurut keterangan Saudara Zakaria Raib, diluar negeri pemakai-annja lebih banjak dan djalpemakai-annja lebih kentjang, dus dipertimbang-afschrijving op kilometers en niet op de tijd, kalau umpamanja kita afleggen disini misalnja di Sulawesi, ada afstanden 200 kilo-meters, kita afleggen dengan 48 djam, sebab dari Bandung ke Djakar-ta sadja 3 djam.
Memang economische afschrijving van General Motor van een truck is twee jaren.
SISWOSOEMARTO: Saudara Pimpinan, kalau berbitjara soal nilai pemakaian ekonomis, itu hendaknja harus kita koreksi dari pihak sia-pa, nilai pemakaian ekonomi itu ada dua pihak, dari pihak pengusaha ataukah dari pihak rakjat. Kalau Saudara Soenarjo mengatakan dua tahun nilai pemakaian ekonomi itu dilihat dari pihak pengusaha, me-mang makin tjepat baik dari pihak pengusaha tetapi kalau seharga 350 ribu sekarang Saudara Pimpinan, kita afschrijven dalam waktu 2 tahun, tarief jang 23 sen jang ditetapkan oleh Pak Abdoelwahab kemarin itu tidak bisa djalan. Ini soalnja.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, saja kita jang tetap afschrijvingnja itu dilihat daripada afgelegde daripada kilometer, tidak dalam tahun, tetapi kami mempunjai gegevens dari bangsa asing.
Berdasarkan karena sesudah berumur lima-tahun sudah mempergunakan spareparts untuk perawatan seharga 100% daripada harga kendaraan.
Ini ada satu hal jagn lain lagi.
Kalau boleh meningkat pertanjaan jang selandjutnja jaitu b.
Kalau mengingat afschrijving jang lima-tahun, untuk replace-ment mestinja dipergunakan 20%, akan tetapi angka-angka ini belum per-nah ditjapai oleh kita. Dan anehnja pada waktu tahun-tahun 1955, 1956, 1957 dimana harga mobiel nampak agak stabiel, sehingga dapat diambil konklusi, bahwa ada keseimbangan antara vraag dan aanbod kendaraan jang menundjukkan menurut suatu aanname ada verzadiging, djadi ada tjukup pemassukkan kendaraan menurut kebutuhan, itu hanja ada import dari mobiel sebesar 6-7% dari djumlah itu. Djadi saja mengatakan, bahwa mobiel berumur hanja 5 tahun, dimana saja djusteru mengetahui, bahwa Saudara Ingkiriwang ini dikalangan kami tersohor sebagau suatu pengusaha jang sangat pandai merawat, sehingga terke-nal sebagai pemakai mobil tua, disamping Saudara Ingkiriwang djuga ada satu bedrijf jang terkenal, jaitu “Mahesa”, itu demikian djuga. Dan kalau melihat tidak hanja replacement, tetapi seluruh import hanja merupakan 7%, djadi replacement dan penambahan, itu agak saja sangsikan, apakah betul, ada jang 2 tahun, ada jang 5 tahun dan sebagainja. Sebab kalau hanja sampai 7%, itu kalau hanja replace-ment sadja, itu merupakan 16 tahun, dan kenjataannja Bus D.A.M.R.I. tahun 1945 masih berdjalan. Dan D.A.M.R.I. itu menurut penghilatan saja bukan satu-satunja perusahaan jang berdjalan dengan bus-bus jang setua itu. Ini setjara theorities sadja, bukan pengalaman. Hanja jang 5 tahun tadi saja dapat tahu dari perusahaan bus jang besar di Indonesia.
KETUA: Pertanjaan no. 9 mengenai kendaraan dari Angkatan Pe-rang. Ada jang mengetahui persoalannja ?
WAN INGKIRIWANG: Saja pemakai kendaraan dari Angkatan Pe-rang. Menurut pendapat saja diantara kendaraan jang saya perbaiki dan perbarui tjukup memuaskan dan bisa sampai 4-6 tahun.
KETUA: Kalau Saudara Ingkiriwang bisa memiliki kendaraan bekas Angkatan Perang itu, untuk memperbaiki itu kira-kira dikeluarkan ongkos berapa persen? dari kendaraan jang baru.
WAN INGKIRIWANG: Kalau kendaraan jang baru harganja 325.000 melulu chasis. Saja bisa membikin dari kendaraan dari bekas tentara dengan harga totaal sampai djadi 135.000.
KETUA: Itu tadi Saudara hitung sekian itu melulu chasis. Tetapi kalau komplot berapa ?
WAN INGKIRIWANG: Komplit saja fikir 4 ½ ton, tetapi ini saja bitjara mengenai 1 ½ % tahun jang sudah. Kendaraan-2 jang diperbaiki itu masih bisa dipakai 4 tahun sampai dengan 5 tahun, dan masih ekono-mis. Kalau tidak ekonomis ja untuk apa, sebab sudah afshrijf tidak di-gunakan lagi. Menurut pendapat saja auto jang direvisi, seperti apa jang telah saja perbuat hampir boleh bilang baru djuga, sebab semua onderdelen jang perlu harus diganti, diganti. Seperti veren diganti semua dengan veren baru.
KETUA: Tetapi dengan harga 40% lebih murah daripada harga jang baru.
WAN INGKIRIWANG: Dan onderdelen jang tidak baik, dibuang, diganti sama jang baik. Malah kalau seperti saja dapat Chevrolet, saja tidak ambil hanja dari Chevrolet, saja mengambil G.M.C. jang lebih berat. Begitu djuga dia punja stuurinrichting, saja tidak ambil jang Chevrolet punja, saja ambil G.M.C. punja jang lebih berat.
KETUA: Menurut penghilatan Saudara Ingkiriwang, kendaraan jang diover dari Angkatan Perang itu, itu kalau biasa dipergunakan oleh orang-orang sipil dalam keadaan jang demikian itu telah afgekeurd atau belum.
WAN INGKIRIWANG: Ini semua sudah afgekeurd oleh Angkatan Perang. KETUA : Akan tetapi kondisi bagaimana itu telah afgekeurd oleh Angkatan Perang.
WAN INGKIRIWANG: Itu lihat-lihat keadaan. Ada banjak auto jang baru betul, ketubruk lantas afgekeurd.
KETUA : Djadi itu jang 4 sampai 5 tahun itu jang ketubruk itu barangkali.
WAN INGKIRIWANG: Itu banjak sekali terdjadi umpamanja kardan, tidak bisa mereka dapat dan mereka tidak ketahui bahwa kardan itu sama. Itu djuga afgekeurd.
WAN INGKIRIWANG: Saja ada satu Packard didjalan Sukabumi-Bandung. Sudah 3 ½ tahun hampir tidak ada reparasi apa-apa.
KETUA : Itu harga jang ditetapkan oleh Angkatan Perang kira-kira berapa % daripada harga baru ?
WAN INGKIRIWANG: Kalau itu harga jang kita orang beli, itu afval karena terlalu murah. Ada saja beli 750,- ada saja beli 8000 dari satu demobiliseede tentara.
KETUA : Terima kasih, saja kira tjukup tentang kendaraan bekas Angkatan Perang. Sekarang ada pertanjaan tambahan mengenai kalkulasi daripada tarif angkutan. Saja telah menerima satu kalkulasi dari Saudara Siswosoemarto. Bisa Saudara Siswo menerangkan angka-angka jang menjadi kesimpulannja sadja.
SISWOSOEMARTO : Menurut permintaan Saudraa Ketua, saja membuat rekapitulasi sebagai berikut :
Biaja kepegawaian Rp. 1,05
Biaja umum 0,085
Biaja perniagaan 0,49
Penyusutan harga kendaraan 1,36
Biaja kendaraan 2,14
Biaja pendjualan kastjis 0,325
Total kostprijs Rp. 5,45
Laba 10 persen (kurang lebih) 0,55
Djadi tarif perkilometer bus Rp.
6,-Daja muat per bis rata-rata 33 penumpang, dimana 30 tempat duduk untuk penumpang dan 3 tempat duduk untuk supir, kenek dan kon-dektur. Dari 30 tempat duduk penumpang rata-rata jang dapat muatan hanja 20 tempat duduk sebetulnja hanja 3 ketip. Djadi kalau sekarang Pemerintah menentukan 23 sen, dan kalau kita ikuti penetapan ini, para pengusaha berusaha supaja tempat duduk semua penuh, djadi 23 kali 30 menjadi 6 rupiah 90 sen, sedangkan kostprijsnja 5 rupiah 45 sen, djadi masih ada untung.
Ini saja kira diluar atjara, hanja sebagai sumbangan untuk dimaklumi sadja. Jang pentingt Saudara Pimpinan, bukan ini. Ini angka bisa berobah tetapi jang penting dasarnja, pedoman perhitungan jang perlu mungkin mendjadi diskusi daripada Saudara-saudara daripada Pengusaha. Sebab ini angka-angka dari mana, apakah disulap sadja, tetapi ini ada dasarnja jang telah saja kemukakan jaitu sudah saja gambarkan jakni masing-masing bus mempunjai kekuatan berdjalan 300 kilometer satu hari. Dalam satu bulan hanja berdjalan 25 hari, dalam satu tahun berdjalan 280 hari jakni 10 bulan @ 25 hari sama dengan 250 hari. Jang dua bulan @ 15 hari sama dengan 30 hari. Karena jang dua bulan itu sisanja untuk persiapan keur jang harus dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, sehingga dalam satu tahun masing-masing bus hanja berkesempatan berdjalan 10 bulan kali 25 hari kali 300 kilometer sama dengan 75 ribu kilometer. Dan dua bulan kali 15 hari kali 300 kilometer sama dengan 9 ribu. Djadi todal 84 ribu atau rata-rata 1 bulan 7 ribu kilometer. Djumlah bus jang harus disediakan karena satu tahun itu 360 hari, sedangkan bus jang didjalankan tjuma 280, djadi djumlah bus harus 360 dibagi 280 kali 100% sama dengan dibulatkan mendjadi 120%. Djadi kalau orang mendapat idjin trajek 5 bus – dja-lan harus mempunjai 6 bus – djadja-lan.
Harga dihitung chasis berikut ban Rp. 350.000,-Carrosserie Rp. 100.000,-; ban Rp. 3.000,-Daja pakai ekonomi dihitung sebagai berikut :
Chasis lima-tahun jakni lima kali 84 ribu kilometer sama dengan 420.000 kilometer. Carrosserie dihitung 40 bulan, jaitu 40 kali 7.000 kilometer sama dengan 28.000 kilometer. Ban diperhitungkan 90 hari daja pakainja jaitu 90 kali 300 kilometer sama dengan 27.000 ki-lometer. Ini dasar-dasar jang kita pergunakan untuk membagi penge-luaran-pengeluaran setiap harinja jang kita bagi mendjadi pos-pos total pada 24 pos.
Dan kesimpulan jang tadi saja terangkan; didalam pos-pos itu kami djuga mempergunakan semua pengeluaran, baik bunganja, peng-usutannja maupun assuransinja tidak kami lupakan. Hanja dengan pe-ngertian bangunan gedung-gedung disini, menjewa, tidak memiliki sendiri, sebab kalau harus membuat bangunan sendiri, terlalu berat. Disamping itu Saudara Pimpinan, formasi disini, gadji, per bus 6 orang @ Rp. 1.000 satu orang, satu bulan sama dengan Rp. 6.000. Perkilometer bus djadi 1/7.000 kali 6.000 kali 120%, karena tadi wadjib djalannja itu 5 dengan tjadangan 1; djadi ini terpaksa.
Formasi 1 bus 6 orang ini sebetulnja berlaku untuk perusahaan angkutan jang horizontal, sebab kalau jang vertikal saja kurang jakin bahwa 6 bus itu bisa, oleh karena itu sering Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI) itu diedjek, bahwa DAMRI itu terlalu log.
Orang-orang membedakan antara horizontale organisasi dengan verticale organisasi. Ketjuali itu kita terikat oleh birokrasi kene-garaan, sehingga formasi kita terlalu log. Formasi DAMRI 11 orang satu bus, gadjihnja sama dengan jang 6 orang jang saja tulis disini, karena gadjih pegawai kami adalah pegawai negeri jaitu ketjil-ketjil.
Sekian keterangan saja.
KETUA : Saja persilakan Saudara Oey.
OEY TJENG SAN : Kalau menurut saja lain sekali. Ongkosnja kalau diperhitungkan tiap satu kilometernja masuk 22 sen, padahal taripnja 23 sen, djadi untung 1 sen. Sedang untungnja dikurangi gadji-nja tidak terlalu besar, dan kapitalgadji-nja tidak dirente.
Djadi ongkosnja lain sekali.
KETUA : Kapital tidak dirente, gadjinja lebih ketjil. Berapa upah daripada pelajan-pelajan itu ?
OEY TJENG SAN: Upah adalah sebagaimana menurut tarif Negara, tetapi bagi pegawai saja adalah lebih ketjil, karena anak saja sen-diri. Djadi tidak diperhitungkan sebagaimana aturannja. Buat saja 1.000 rupiah tjukup, djadi tidak bisa dibandingkan dengan jang lain.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, ini tarip adalah hasil perhitungan bersama dari semua Djawatan Harga dan wakil-wakil dari organisasi-organisasi Pengusaha. Saja rasa bagi para Anggota Depernas jang berkepentingan janja dapat mempersamakan sadja dengan D.A.M.R.I. saja tidak bisa dan tidak ada gunanja mendis-kusikan tentang itu, antara lain di daerah Djambi, itu ada pernjataan bahwa tarip ini terlalu tinggi, oleh karena penjederhanaan daripada orga-nisasi pengusaha pengangkutan. Djadi saja tidak menentukan mana jang betul, hanja menjatakan beberapa feiten sadja.
KETUA : Pertanjaan sedikit tentang soal tarip jang ditetapkan oleh Pemerintah; ini tarip maksimum djadi kalau perusahaan jang memiliki lebih rendah daripada itu, boleh.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Tarip itu memang tarip maximum, tetapi dengan pengertian bahwa pengusaha tidak boleh sewe-nang-wenang, djadi tarip harus sama untuk 1 trajek.
M. JUNUS POHAN: Saudara Ketua, oleh sebab itu Pimpinan menerima berbagai-bagai perhitungan, dan pokok jang mungkin berbeda-beda, saja dalam hal ini ingin mengemukakan satu facet lagi sebagai perhitungan harga pokok, jaitu bahwa organisasi perusahaan, modern ataupun se-derhana, mempengaruhi penetapan tarip bus jang sama. Oleh sebab itu saja ingin mengemukakan pertimbangan, jaitu satu facet dari perusahaan bahwa pada satu ketika perusahaan, seperti autobus, djika diperbesarkan, mungkin ongkos exploitatie relatip mendjadi ketjil. Djadi ini berarti djika perusahaan itu diperluas, maka relatif ongkos-ongkos exploitatie bertambah ketjil sampai pada satu limit jang tertentu. Djadi dalam hal ini tentu sadja tidak dapat kita memperluas perusahaan itu ongelimit-teerd untuk mentjapai ongkos-ongkos jang enteng. Dalam hal ini kami kemukakan, bahwa rentjana jang kami berikan kepada Djawatan itu adalah berdasarkan 5 buah perusahaan. Djadi saja tidak heran, umpamanja nanti satu perusahaan jang besar jang memadjukan, mungkin ongkos itu mendjadi tambah besar. Dan djuga sebaliknja djika ada pengusaha jang ketjil, mungkin djuga itu tarif mendjadi agak tinggi. Djadi facet inilah jang ingin saja sumbangkan pada Depernas jaitu facet dari structuur organi-sasi, apakah ini satu organisasi jang sebagaimana dikehendaki Pemerintah jaitu komplot, apakah seperti jang dimaksudkan kepada itu tadi, satu organisasi seperti di Djambi. Terima kasih, Saudara Ketua.
KETUA : Pertanjaan selandjutnja jang tidak tersimpul disini, jaitu mengenai assemblasi sepeda. Masih ada bahan-bahan ?
DRS. ZAKARIA RAIB : Jang ada tjuma merupakan keterangan jang singkat sadja, jang nanti bisa kami adjukan setjara tertulis sampai dengan nama perusahaan, sampai dengan alamat-alamat dan mateinding -nja, jaitu jang terhitung artinja jang berdasarkan peraturan jang ber-laku pada Djawatan, ada 16 perusahaan assembling speda dengan kemam-puan produksi kapasitetit untuk setahun 300.000 buah jang sampai saat sekarang devisen jang disediakan untuk mereka bekerdja 100%, karena Djawatan menganggap fungsi sepeda ini djuga mempunjai economisch leven itu. Di dalam rangka untuk mengusahakan penghematan devizen as-sembling sepeda ini memasukan apa jang belum bisa dibuat di Indonesia. Dan jang sudah dibuat di Indonesia tidak boleh dimasukkan, seperti pem-buatan sadel, pempem-buatan bagasi belakang, kettingkasten, jang dari ka-ret, bel. Itu jang sudah bisa dibuat di Indonesia.
pipa-pipa-Umumnja ini didatangkan dari Djepang dan kesulitan jang dihadapi ialah banjaknja perusahaan-perusahaan jang menjediakan sepeda tidak ada peridjinan, karena untuk mendirikan satu assembling, itu sangat sederhana. Bengkelpun bisa membuat assembling sepeda, tetapi terhadap soal ini Djawatan tidak mengambil suatu tindak-an jtindak-ang keras, karena mengingat kepada economische functie-nja dan buruh, selama mereka berdjalan dengan tidak mengganggu de-vizen negara.
Dan hal-hal jang lainnja jang sedikit mengatjau, didalam assembling sepeda ini ialah penggunaan merk-merk sebetulnja ti-dak boleh mereka pergunakan jang bersifat pemalsuan daripada merk-merk jang ada. Mengenai menggunakan etiket palsu itupun sudah ada usaha dari polisi ekonomi. Spreding dari tiap-tiap daerah, mengingat pada fungsinja itu, sebagian besar berada di Djawa.
KETUA : Djadi jang 16 perusahaan-perusahaan assembling itu jang dengan resmi ditetapkan, luar daripada usaha-usaha ber-bagai bengkel jang djuga melakukan pekerdjaan-pekerdjaan assem-bling-assembling.
DRS. ZAKARIA RAIB : Tetapi ini tempoh-tempoh mengganggu karena tidak dengan idjin. Jang mendapat idjin sudah mendapat suatu djumlah devizen jang tertentu. Jang tidak dapat itu se-ring mempergunakan setjara tehnis sadja, tidak dapat dipertang-gung-djawabkan dipergunakan pipa-piha waterleiding.
Oleh sebab itu terhadap itu djuga sering diadakan pengawasan.
Dalam soal ini saja rasa massief daripada metal itu berlainan, sehingga banjak terdjadi ketjelakaan dalam mempergunakan pipa waterleiding ini.
KETUA : Terima kasih, kita landjutkan kepada pertanjaan ge-lombang kedua. Kalau tadi saja tindjau keadaan sekarang, maka sekarang kita menindjau hal-hal untuk memperbaiki keadaan se-karang itu. Pertanjaan pertama, jaitu jang ada hubungannja de-ngan pertanjaan tadi, mengenai daja angkutan dair tiap bus dan truck, riilnja sekarang ini dan procentage daripada djumlah bus dan truck jang berdjalan. Ditanjakan ialah kalau segala sesuatu dalam keadaan baik, djadi dalam keadaan optimum, berapa sebe-narnja daja angkut jagn bisa ditjapai baik mengenai procentage daripada alat-alat angkutan jang berdjalan maupun mengenai daja angkut daripada tiap alat angkutan itu sendiri.
SISWOSOEMARTO : Sesungguhnja kalau segala rintangan sudah tidak ada, maka efisiensi jang setinggi-tingginja bisa ditjapai.
Untuk luar kota, bus 100 prosen kali djumlah tempat duduk kali 300 km kali 300 hari. Untuk dalam kota 100 prosen kali djumlah tempat duduk kali 200 km kali 300 hari. 320 km untuk luar kota itu jang dimaksud bahwa keluar kota supir kita paling banter hanja 8 djam didjalan sehari @ 40 km djadi 320 km. Kalau itu bisa ditjukupi itu sudah suatu efisiensi jang paling tinggi, dan angka 300 seperti ta-di dalam kalkulasi sudah kami utarakan, 1 bus praktis bekerdja tjuma 25 km kali 12 djadi 300 km.
Adapun dalam 1 tahun ada sisa 60 hari, jang 60 hari ini diisi dengan bus tjadangan, oleh karena kami adakan bus 120 prosen, jaitu 300 hari dengan bus jang djalan dan 60 hari dengan bus tjadangan.
KETUA : Djadi 20 prosen tjadangan itu adalah mutlak, djuga da-lam keadaan jang sebaik-baiknja.
OEY TJENG SAN :Sebelum perang saja mempunjai 60 bus, sekarang tjuma 7 jang djalan, dari 7 ini 2 tjadangan.
KETUA : Pertanjaan jang kedua, ialah bagaimana saran-saran untuk mentjapai keadaan jang optimum.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, djawabannja pendek sadja, jaitu dihilangkannja semua perintang jang disebut tadi.
KETUA : Ada lagi ?
SISWOSOEMARTO : Saudara Pimpinan, saja terpaksa menjambung Pak Abdoelwahab dan untuk menjambung pak Inkiriwang jang tadi jakni soal spareparts, diantaranja untuk pemakaian jang efficient jang setinggi-tingginja, diantaranja distribusi spareparts band dan chasis baru hendaknja disalurkan dengan jang tidak seperti sekarang ini.
KETUA : Itu adalah pertanjaan nomor 4 jang chusus mengenai spareparts. Baiklah itu dimasukkan kedalam djawaban nomor 4 sadja.
SISWOSOEMARTO: Karena salah satu penghambat adalah soal parts, djadi untuk menghilangkan penghambat itu jaitu masalah spare-parts saja masukkan disini, sekalipun itu belum atjaranja, Sau-dara Pimpinan. Inilah maksudnja. Tetapi kalau ini sebaiknja nanti, ja nanti sadja.
Jang lain Saudara Pimpinan, jang mungkin bisa dimasukkan disini, dalam atjara ini ialah peridjinan trajek supaja agak diper-mudah. Umpamanja kita ambil tjontoh Saudara dari Perusahaan Bis BETUL tadi mempunjai bus banjak, itu tadi jang lalu didjadikan tjadangan, karena idjinnja tidak mungkin. Tetapi sekarang bagi pengu-saha jang tidak dilarang oleh Hukum Negara tetapi memppunjai bus tetapi peridjinan trajeknja tidak dipermudah. Itu djuga salah satu penghambat.
Penghambat jang lain Saudara Pimpinan, jaitu soal klas dja-lan. Perentjanaan klas djalan jang berlaku sampai sekarang hanja disandarkan atas sjarat-sjarat teknik seluruh djalan semata-mata, sedangkan sjarat-sjarat teknik sekarang ini kurang, bahkan kalau boleh saja katakan tidak direkening houden, sehingga seperti tadi Pak Wahab katakan, satu trajek Bandung Djakarta via Purwakarta kalau sampai Pulau Gadung, semua penumpang harus berhenti. Karena Pulau Gadung masuk Djatinegara klasnja lain daripada Pulau Gadung ke Purwakarta. Itu tidak mungkin karena mereka sudah membajar dari Bandung-Djakarta, lantas sampai ke Pulau Gadung harus turun. Inilah penentuan klas jang mendjadi soal, djadi bukan apa-apanja. Oleh karena itu baiknja supaja dikawinkan sjarat-sjarat teknik pengang-kutan dan sjarat-sjarat teknik pembuatan djalan.
KETUA: Apa pengaruh daripada klas djalan kepada pengangkutan. Djadi tadi di Pulau Gadung turunnja penumpang itu bagaimana ?
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Karena untuk djalan jang klasnja tinggi, jang boleh diangkut oleh suatu bus atau truck lebih banjak daripada untuk djalan jang klasnja lebih rendah.
Djadi umpamanja kalau untuk djalan kelas II itu satu bus dapat memuat 35 orang, kalau untuk djalan kelas III bus jang sama itu hanja boleh mengangkut 27 orang, jang ditentukan untuk djalan itu sudah ditentukan dalam klasifikasi djalan.
KETUA : Dari Djakarta-Bandung : Perhitungan itu sampai Bogor, penumpang dikurangi, karena lebih tinggi klas djalan, diperboleh-kan lebih banjak penumpang, dan lebih rendah kelas djalan, penumpang harus berkurang.
D.A.M.R.I. apakah mempunjai dispensasi ?
Dan djuga satu factor jang sering dilupakan jang menghambat lantjarnja transport, jaitu kurangnja dispensasi dan factor lain dalam hal ini djuga tugas daripada polisi lalu lintas : disiplin kurang keras dipegang. Dan apakah mungkin dalam kendaraan ini disisipkan unsur keinsafan, diadakan pendidikan mental, sebab karena kurangnja disiplin, kendaraan bermotor itu djuga mengganggu djalan. Apalagi pada hari-hari jang banjak digunakan dan kalau di-lihat dari pengalaman di Luar Negeri, karena djalannja ekonomi berdjalan baik, untuk perdjalanan duga ada djam-djam tertentu jang hanja boleh dipergunakan oleh matjam kendaraan jang tertentu, djadi umpamanja pada hari libur truck tidak boleh berdjalan; apakah ini tidak bisa ditoepassen, tidak bisa diberikan disiplin, djadi truck dan bus dianggap kendaraan jang lebih besar memuat daripada jang lain.
Apalagi psychologisch, karena kurangnja disiplin, sering djiwa ma-nusia diabaikan.
DRS. ZAKARIA RAIB : Menurut disiplin membawa barang, Walau-pun peraturan itu mengganggu djalannja perekonomian, tetapi ku-rang pada tempatnja, kendaraan bermotor itu dibiarkan sadja.
Djakarta kalau waktu pagi, lepas daripada apakah bus atau truck, tetapi ini soal verkeersdicipline sadja, kalau sudah ada sa-tu mobil jang mogok didjalan antara Kebajoran, saja kira dalam satu djam tidak akan sampai dari Kebajoran sampai di Harmoni, ja-itu karena orang mempunjai mobil tidak memikirkan, kalau mogok, lebih baiknja disingkirkan supaja djangan mengganggu djalan.
Djadi kekurangan disiplin.
KETUA : Kepada Saudara Wahab satu pertanjaan lagi mengenai djalan-djalan raja. Tadi dikemukakan bahwa salah satu penghambat ia-lah pertama, ada kendaraan-kendaraan jang ditarik dengan tenaga manusia atau bianatang jang djuga memakai djalan raja jang diper-gunakan untuk snelverkeer dan terlalu sempitnja djalan-djalan sekarang. Ini mengenai jang pertama,
Untuk memperbaiki ini kira-kira saran jang difikirkan bagai-mana. Djalan tersendiri dari sepeda, gerobak dan sebagainja.
Dan jang nomor dua, djalan terlalu sempit, kadang-kadang djalan itu hanja dua ban. Sekarang ini mengingat pertumbuhan daripada ang-kutan didjalan raja, kira-kira bagaimana lebar jang dikehendaki oleh pemakai daripada djalan-djalan itu.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, mengenai langzaamverkeer jang djuga menggunakan djalan raja, maka sebaiknja kalau diadakan djalan tersendiri untuk langzaamverkeer itu. Tetapi disamping itu sesudahnja diadakan djalan itu, verkeersdicipline seperti disarankan oleh Saudara Zakaria itu harus difikirkan keppa-da masyarakat. Dalam hal ini sukeppa-dah akeppa-da angan-angan, tetapi belum merupakan rentjana jang kongkrit dari fihak polisi lalu-lintas dan kami jang bersama-sama akan memikirkan satu operasi mengenai verkeers-dicipline ini. Mungkin dengan menghidupkan kembali suatu organisasi jang antar lain djuga diikuti oleh palang merah, jaitu barisan lalu-lin-tas jang dibeberapa tempat djuga masih hidup. Saja rasa djuga disini ma-sih ada, di Bandung. Kalau ini diteruskan dan didapat bantuan dju-ga dari fihak P.P. dan K. barangkali dapat diharapkan perbaikan.
Mengenai berapa lebarnja djalan jang dikehendaki saja minta maaf tidak dapat mengatakan begitu sadja disini-hanja saja dapat kemukakan bahwa sebenarnja keadaan disini itu adalah terbalik ja-itu pengangkutan dipaksa tunduk pada keadaan kendaraan dan kendaraan dipaksa tunduk pada keadaan djalan, sehingga sering-sering dulu ka-mi mendapat kesukaran-kesukaran mengenai lebarnja, truck dan bus dengan susah pajah kemudian dapat ditetapkan sampai 2 ½ meter. Ini sampai lama sekali dipertahankan sampai 2,25 meter. Setebulnja sudah tidak sesuai lagi, bahkan 2 ½ meter djuga sudah tidak sesuai dengan keadaan truck dan bus jang sekarang ini dan kami didalam hal ukuran mobil ini sangat tergantung kepada norm jang ditetapkan oleh pa-brik, oleh karena kami memesan jang istimewa small, itu meng-hendaki harga jang lain. Sajang sekali saja tidak dapat menjatakan dengan tegas berapa memang jang dikehendaki.
KETUA : Sekarang ini ditetapkan bahwa lebar djalan itu 2,5 meter, dan kalau menurut pemikiran daripada pemakai angkutan, sebaik-nja berapa lebar djalan itu.
ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Lebarnja djalan adalah dari lebarnja kendaraan dengan memperhitungkan kelonggaran untuk paaseren dan terutama untuk inhalen.
M. JUNUS POHAN : Sebenarnja dalam teknik pembikinan djalan kita sudah ketinggalan terhadap kemadjuan-kemadjuan teknik kenda-raan bermotor, sudah tidak begitu international standard,