PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA LISAN PEMBINA UPACARA DALAM AMANAT PEMBINA UPACARA DI SEKOLAH DASAR NEGERI
KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG
Gatot Suparto
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Unisma [email protected]
Abstrak:Setiap tuturan, ujaran, kalimat, dan bahasa yang digunakan penutur termasuk tuturan pembina upacarapasti mengungkapkan makna tertentu secara legkap berdasarkan konteksnya dan memiliki fungsi tertentu bagi penutur dan audiens. Terkait dengan hal tersebut kajian tentang fungsi penggunaan bahasa tersebut dalam fokus peneltian tentang jenis-jenis tindak bahasa pembina upacara dalam amanat pembina upacara bendera di SDN Kecamatan Wagir menjadi bagian yang menarik untuk dikaji. Pendekatan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa data verbal yang berupa transkripsi data hasil rekaman pidato pembina upacara dalam bentuk teks wacana. Analisis data penelitian inidilakukan dengan model alir sebagaimana dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan, fungsi bahasa yang diwujudkan penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Wagir Kabupaten Malang yang berupa jenis tindak Bahasa dapat dikelompokkan dalam empat jenis tindak ilokusi menurut pandangan Austin (1962), yaitu (1) tindak verdiktif (verdictives), (2) tindak eksersitif (exercitives), (3) tindak behavitif (behavitives), dan (4) tindak ekspositif (expositives). Tindak bahasa yang digunakan pembina upacara dalam amanat pembina upacara Sekolah Dasar di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang adalah (1) tindak verdiktif (verdictives) meliputi tindak: tindak memperjelas maksud, tindak memberikan informasi, tindak mengungkapkan rasa puas, dan tindak mengungkapkan kritik; (2) tindak eksersitif (exercitives) meliputi tindak: tindak meminta informasi, tindak memberi saran, tindak meminta perhatian, tindak mengingatkan, tindak pengharapan, tindak menyuruh, dan tindak mengancam; (3) tindak behavitif (behavitives) meliputi tindak: tindak memberi contoh; (4) tindak ekspositif (expositives) meliputi tindak: tindak pinjam leksikon.
PENDAHULUAN
Kehidupan manusia tidak terlepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa memiliki fungsi yang sangat penting.di dalam tataran kehidupan bermasyarakat. Fungsi-fungsi bahasa tersebut antara lain: (1) untuk menyatakan ekspresi diri, (2) sebagai alat komunikasi, (3) sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan (4) alat untuk mengadakan kontrol sosial. Dapat dikatakan kehidupan manusia tidak terlepas dari kegiatan komunikasi baik sebagai adaptasi sosial maupun untuk memenuhi kebutuhan.
Bahasa merupakan sarana untuk berkomunikasi dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama manusia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi, baik secara lisan maupun tulisan.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. Agar pembicaraan itu mencapai tujuan, pembicara harus memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Dengan kata lain, pembicara harus memahami betul bagaimana cara berbicara yang runtut dan efektif, sehingga orang lain (pendengar) dapat menerima informasi yang disampaikan
pembicara secara efektif. Menurut Budiman (2015: 18) ada enam hal yang perlu dipersiapkan dalam berbicara di depan umum agar efektif, yaitu sebagai berikut (1) menetapkan sasaran pembi-caraan, gunanya untuk menentukan arah pembicaraan dan memilih bahan yang sesuai, (2) mengetahui apa dan siapa pendengarnya, gunanya untuk memper-siapkan dan menyakinkan diri bahwa bahan yang akan disampaikan sesuai dengan pendengar yang tepat, (3) mengetahui dan memperhatikan tempat pembicaraan akan dilaksanakan, (4) berapa lama waktu yang diperlukan dalam pembicaraan, (5) agar sasaran pembicaraan dapat tercapai, maka persiapan bahan perlu dilakukan, (6) keberhasilan dalam pembicaraan tidak hanya ditentukan dari penggunaan kata-kata saja, tetapi justru penggunaan nonkata,misalnya nada, suara, ekspresi muka, bahasa tubuh, dan gerakan tubuh.
Pidato sebagai salah satu bentuk keterampilan berbicara, sebenarnya me-rupakan representasi kompetensi komunikatif. Karenanya, sang orator perlu menguasai berbagai hal yang telah dijelaskan di atas. Demikian pula dalam pidato seorang pembina upacara di sekolah.
menyertainya. Holliday dan Hasan (dalam Mujianto, 1998) menyatakan bahwa teks adalah bahasa yang memiliki fungsi. Selain itu, meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan terdiri dari kata-kata dan kalimat-kalimat, sesungguhnya terdiri dari makna-makna.
Dalam kaitannya dengan konsep makna dalam bahasa, Kress (dalam Mujianto, 1998) menempatkan definisi makna sebagai fungsi dalam konteks dan menerima ciri-ciri multifungsi bahasa yang meliputi fungsi interpersonal, ideasional, dan tekstual dikaitkan dengan berbagai perwujudan fungsi bahasa.
Bahasa dalam wacana pidato di samping merupakan perwujudan fungsi ideasional dan interpersonal juga merupakan wujud nyata fungsi tekstual. Fungsi tekstual berperan memberikan kemungkinan bagi pembicara/penulis untuk menghasilkan teks atau wacana yang runtut berdasarkan tautan suatu situasi. Dalam kaitannya dengan fungsi tekstualini Mujianto (1998) menyatakan bahwa fungsi tekstual dalam pidato mencakup organisasi tematis serta struktur informasi dari suatuproporsi.
Selain itu, Wahab (dalam Mujianto, 1988) menyatakan bahwa fungsi utama bahasa terdiri atas fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Fungsi transaksional ialah fungsi bahasa untuk menyatakan isi kalimat, sedangkan fungsi interaksional ialah fungsi yang melibatkan hubungan sosial dan sikap personal. Dalam fungsi interaksional ini, bahasa harus dapat mewujudkan interaksi dua komunikator atau lebih
yang diselingi bermacam-macam faktor seperti keraguan, bergumam, dan sebagainya. Walaupun demikian, inte-raksi antardua komunikator atau lebih itu dapat berjalan dengan tercapainya tujuan masing-masing karena adanya konteks.
Sejalan dengan hal di atas, Dik (1981) menyatakan bahwa (dalam pandangan interaksional) bahasa diartikan sebagai alat interaksi sosial antarindividu atau antarkelompok individu dalam masyarakat. Penggunaan bahasa sebagai alat interaksi sosial dipandang sebagai bentuk kerja sama anatar individu atau antar kelompok yang terstruktur dengan mendasarkan diri pada kaidah, norma, serta konvensi sosial. Penelaahan bahasa dengan pendekatan interaksional dapat diarakan untuk mendeskripsikan kaidah interaksional yang mendasai kegiatan kerja sama antar individu atau antarkelompok melalui pengkajian pragmatik.
dapat berupa gerak mata, gerak fisik, dan ekspresi wajah. Konteks dapat berupa konteks fisik dan konteks nonfisik. Konteks fisik meliputi tempat, waktu, dan situasi; sedangkan konteks nonfisik berupa budaya, norma, serta konvensi-konvensi sosial.
Ujaran-ujaran verbal dalam interaksi bukan saja berupa kalimat, tetapi dapat berbentuk tindakan sosial. Apabila kalimat digunakan dalam konteks tertentu, ia tidak saja memiliki maknanya sendiri, tetapi juga suatu makna atau fungsi yang disebut ilokusi berdasarkan niat, kepercayaan, penilaian penutur, atau hubungan penutur pendengar. Hal ini menunjukkan penerapan pragmatig dalam analisis wacana.
Berbagai pendapat inilah yang melatarbelakangi pemikiran perlunya kajian penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara, dalam hal ini upacara di Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.
Terkait dengan upacara di Sekolah Dasar, upacara bendera bagi sekolah berdasarkan Permendiknas No. 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan,
khususnya butir ketiga “Pembinaan
kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela Negara, antara lain yang terdapat pada poin 1 melaksanakan upacara bendera pada hari senin, dan/atau hari Sabtu, serta hari-hari besar
nasional”. Refleksi pola pikir profesi
keilmuan para pembicara/penulisnya dan kompetensi kebahasaannya akan
menghasilkan struktur dan kualitas wacana yang memiliki karakteristik tersendiri.
Walaupun analisis bahasa berdasarkan ancangan fungsional dianggap paling tepat untuk menjelaskan fenomena bahasa karena bahasa yang sesungguhnya adalah bahasa yang digunakan dalam peristiwa komunikasi dengan berbagai fungsinya, tidak berarti bahwa analisis formal terhadap bahasa dianggap tidak penting.Oleh karena itu penelitian penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara ini juga dilakukan dengan ancangan formal dalam rangka melihat wujud kalimat-kalimat bahasa Indonesia lisan yang digunakan Pembina upacara tersebut.
METODE
Pendekatan ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Menurut pendapat Bogdan &Taylor (dalam Moeloeng, 2000), pendekatan ini merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Kehadiran peneliti dalam penelitian ini menandai bahwa peneliti merupakan instrument utama dalam melaksanakan penelitian. Dengan kesadaran sebagai instrument utama, peneliti berusaha mendapatkan data dan menganalisis data secara induktif untuk mewujudkan tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan karakteristik wacana pidatopenggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.
Sumber data penelitian ini adalah sejumlah rekaman amanat pembina upacara pada Sekolah Dasar di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Adapun sekolah dasar yang dimaksudkan adalah enam Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Wagir yang diambil pada kurun waktu bulan Januari sampai dengan Maret 2017.
Keenam Sekolah Dasar tersebut antara lain SDN Pandanglandung 02, SDN Parangargo 01, SDN Sumbersuko 04, SDN Gondowangi 02, SDN Jedong 02, dan SDN Sitirejo 04 Kecamatan Wagir.
Data penelitian berupa data verbal yang berupa transkripsi data hasil rekaman pidato pembina upacara dalam bentuk teks wacana. Selain itu, catatan observasi terkait dengan konteks pelaksanaan upacara juga dijadikan sebagai data pembantu.
Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu penggunaan bahasa Indonesia lisan Pembina upacara, maka metode
pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan introspeksi. Data utama dalam penelitian ini dikumpulkan dalam observasi olep peneliti dengan menggunakan alat bantu berupa tape recorder dan catatan lapangan. Dengan demikian pengumpulan data utama penelitian ini dilakukan dengan (1) mengobservasi penggunaan bahasa Indonesia lisan Pembina upacara dalam amanat Pembina upacara, (2) merekam data pidato amanat upacara, dan (3) mentranskripsikan rekaman. Dilanjutkan, (4) penyusunan instrument pemandu yang meliputi panduan kodifikasi dan panduan analisis.
Analisis data penelitian inidilakukan dengan model alir sebagaimana dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang telah disesuaikan berdasarkan arahan pembimbing penelitian. Dalam analisis data kualitataif ini terdapat tiga alur kegiatan yang terjadi sesara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Model tersebut dapat dilihat dalam bagan berikut ini.
Analisis data dimulai sejak data dikumpulkan. Oleh karena itu, bersamaan dengan pengumpulan peneliti melakukan reduksi data. Kegiatan yang dilakukan dalam reduksi data meliputi identifikasi data, klasifikais data, dan kodifikasi data.
penanda kalimat seperti yang dikemukakan dalam difinisi operasional. Hal ini dilakukan karena pada penelitian yang diperoleh berupa kalimat-kalimat dalam untaian yang disebut wacana pidato. Kalimat inilah yang merypakan bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran secara utuh dalam kajian kebahasaan (Moeliono, 1988). Dalam wujud lisan, kalimat Pembina upacara diiringi dengan penggunaan unsure suprasegmental bahasa (alunan titinada, jeda, intonasi, dan kesenyapan bunyi).
Selanjutnya data yang sudah diperoleh dari kegiatan identifikasi dilakukan diklasifikasi. Klasifikasi pertama dilakukan dengan memilah kalimat berdasarkan jenis tindak yang terkandung dalam ujaran. Kajian tentang tindak bahasa ini terfokus pada kajian ilokusi Austin (1962). Berdasarkan kajian tersebut, data penelitian ini diklasifikasikan menjadi (1) verdiktif (verdictives), (2) eksersitif (exercitives), (3) komisif (commissives), (4) behavitif (behavitives), dan (5) ekspositif (expositives).
Selanjutnya dilakukan kodifikasi data dengan tujuan untuk menganalisis fungsi kalimat bahasa Indonesia lisan Pembina upacara dalam amanat Pembina upacara sekolah dasar dan prinsip penggunaannya untuk disimpulkan sementara. Kegiatan ini dilakukan berulang-ulang dalam bentuk verifikasi data, baik menggunakan data baru, diskusi dengan pakar bahasa, maupun diskusi dengan teman sejawat sampai diperoleh simpulan akhir.
Pada dasarnya korpus data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korpus data yang kemunculannya berulang. Apabila ada data yang muncul hanya satu kali, dalam analisis data dilakukan, (1) penjaringan data introspeksi dari subjek penelitian dan (2) diskusi dengan pakar bahasa Indonesia tentang keterandalan korpus data tersebut. Dari data introspeksi dan hasil diskusi dengan pakar bahasa Indonesia dapat disimpulkan keberadaan korpus data tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Fungsipenggunaan Bahasa Indone-sia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Kajian tentang fungsi tersebut difokuskan pada temuan tentang jenis tindak berbahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara Sekolah Dasar di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.
Tindak Verdiktif
Verdiktif (verdictives), tindak tutur yang ditandai oleh adanya keputusan yang bertalian dengan benar-salah. Tindak ini mengikat penuturnya pada kebenaran tentang apa yang dikatakan.
(2) tindak memberikan informasi, (3) tindak mengungkapkan rasa puas, dan (4) tindak mengungkapkan kritik.
TindakVerdiktifMemperjelas Maksud
Tindak memperjelas maksud merupakan salah satu perwujudan tindak verdiktif karena dalam tindak ini penutur mempresentasikan informasi penjelasan atau informasi tambahan kepada penutur. Ujaran yang memerankan tindak memperjelas maksud ini digunakan apabila penutur merasa bahwa informasi baru yang disampaikan belum dapat dipahami oleh audiens.
Penggunaan bahasa yang menandai tindak memperjelas maksud dapat diketahui dengan mengaitkan ujaran di luar ujaran (ujaran sebelumnya) yang bersangkutan ditandai dengan penggu-naan kataberartidanitu.
TindakVerdiktifMemberikan Informasi
Tindak memberikan informasi merupakan salam satu perwujudan tindak verdiktif karena dalam tindak ini penutur merepresentasikan informasi kepada audiens. Penutur melakukan tindak ini karena penutur beranggapan bahwa audiens belum mengetahui informasi itu. Informasi yang disampaikan penutur dapat berupa fakta, opini, atau objek nyata.
Penggunaan bahasa yang menandai tindak memberikan informasi berada di luar ujaran yang bersangkutan ditandai dengan penggunaan kata sebentar lagi,
juga, nanti, tujuannya, sekaligus,
dankemudian.
TindakVerdiktifMengungkapkan Rasa Puas
Tindak mengungkapkan rasa puas merupakan wujud tindak verdiktif karena penutur bermaksud agas ujarannya dijadikan sebagai sebuah penilaian mutlak atas apa yang dilakukan oleh audiens sebagaimana yang disebutkan dalam ujarannya. Dalam tindak mengungkapkan rasa puas, penutur menganggap bahwa keputusan positif yang diberikan merupakan hasil evaluasi terhadap apa yang disebutkan dan akan berdampak pada audiens.
Penanda ujaran yang dinyatakan dalam ujaran yang menyatakan tindak mengungkapkan rasa puas menggunakan katabagusdanterima kasih.
Tindak Verdiktif Mengungkapkan Kritik
Tindak mengungkapkan kritik merupakan wujud tindak verdiktif karena penutur bermaksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dlam ujarannya. Dalam mengungkapkan kritik, penutur menunjukkan kelemahan tentang hal yang disebutkan dalam
ujaran itu.
Tindak Eksertif (Exercitives)
nasihat, peringatan dan sebagainya. Hal akhir yang diharapkan pada tindak ini adalah audiens berkenan melakukan tindakan yang disebutkan dalam ujaran penutur.
Dalam penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembi-na upacara di Sekolah Dasar Negeri Keca-matan Wagir Kabupaten Malang ditemukan tindak eksertif (1) tindak meminta informasi, (2) tindak memberi saran, (3) tindak meminta perhatian, (4) tindak mengingatkan, (5) tindak pengharapan, (6) tindak menyuruh, dan (7) tindak mengancam.
Tindak Eksessitif Meminta Informasi
Salah satu wujud tindak eksersitif ialah tindak meminta informasi. Dalam tindak ini penutur bermaksud agar audiens melakukan tindakan , yaitu memberikan informasi yang diperlukan penutur karena penutur tersebut memang belum mengetahui informasi yang dimaksud. Dalam amanat Pembina upacara, Pembina memerankan penggunaan tindak meminta informasi. sebagaimana tertuang berikut.
Tindak Eksersitif Memberi Saran
Tindak memberi saran merupakan perwujudan tindak eksersitif karena dalam tindak ini penutur bermaksud agar audiens melakukan tindakan yang disebutkan dalam ujaran tersebut. Tindak memberi saran didahului dengan tindak memberi informasi kepada audiens tentang apa yang telah dilakukannya. Dengan ujaran ini diharapkan audiens melakukan dua tindakan sekaligus, yaitu
tindak mengevaluasi informasi dan tindak melakukan tindakan atau melakukan sesuatu yang dimaksudkan dalam ujaran itu. Kedua tindak ini terjadi secara simultan. Di samping itu, dalam tindak memberi saran, tindakan yang berupa preilaku atau perbuatan tidak bersifat wajib. Dalam amanat Pembina upacara, Pembina memerankan penggunaan tindak memberikan saran dengan penanda ujaran yang menyatakan tindak memberi saran menggunakan bahasa bahasa berikut: agar …..dengan,
jangan.., koreksi saja, harus ditingkatkan lagi, dan perlu disempurnakan.
Tindak Eksersitif Meminta Perhatian
Tindak meminta perhatian merupakan perwujudan tindak eksersitif karena dalam tindak ini penutur bermaksud agar audiens melakukan tindakan yang berupa tindak memberikan perhatian sehingga informasi yang disampaikan penutur dapat diterima audiens dengan baik.
Pengguanaanbahasa yang menandai tindak meminta perhatian berdasarkan ujaran di atas ditandai dengan penerapan ya itu angan, ya jangan, ingat,danYa sudah perhatikan.
Tindak Eksersitif Mengingatkan
mungkin pula disikapi negatif oleh audiens. Dengan ujaran ini, penutur mengingatkan bahwa hal yang disebutkan dalam ujaran itu harus dilakukan atau disikapi oleh audiens.
Tindak mengingatkan ini hampir sama dengan tindak memberi saran perbedannya, tindak memberi saran tidak mengikat audiens untuk melakukannya, sedangkan tindak mengingatkan ini harus dilakukan dan disikapi oleh audiens
Tindak Eksersitif Pengharapan
Tindak pengharapan merupakan perwujudan tindak eksersitif karena dalam tindak ini penutur mengharapkan audiens melakukan sesuatu secara eksplisit akan apa yang diujarkan penutur.
Tindak Eksersitif Menyuruh
Tindak menyuruh merupakan perwujudan tindak eksersitif karena dalam tindak ini penutur mengharapkan audiens melakukan tindakan yang disebutkan dalam ujaran itu. Dalam tindak menyuruh, tindakan yang diharapkan penutur berupa perilaku atau
perbuatan. Dalam kondisi “wajar”
audiens melakukan sesuatu yang dimaksudkan dalam ujaran itu.
Tindak Eksersitif Mengancam
Tindak mengancam merupakan perwujudan tindak eksersitif karena dalam tindak ini penutur mengharapkan audiens melakukan tindakan yang bersifat mengikat. Artinya dalam tindak ini, penutur bermaksud akan
“memberikan sesuatu yang bersifat
negatif” terhadap audiens apabila penutur tidak melakukan sesuatu yang dikehendaki penutur. Dengan tindak itu, ada keterikatan antara penutur dan audiens atas dilakukannya tindakan tersebut.
Tindak Behavitif
Tindak Behavitif (behavitives) merupakan tindak tutur yang mencerminkan kepedulian sosial atau rasa simpati. Tindak ini menunjukkan bahwa penutur merasa menjadi satu kesatuan rasa dengan audiens. Tindak ini ditujukan agar pada diri penutur dan audiens terjalin suatu ketenangan akan isi tuturan yang disampiakan penutur.
Berdasarkan analisis data dapat dikemukakan bahwa tindak behavitif penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Wagir Kabupaten Malang ditemukan tindak ujaran tindak memberikan contoh.
Tindak Behavitif Memberi Contoh
Tindak memberi contoh
merupakan perwujudan tindak behavitif karena dalam tindak ini penutur ingin agar penutur melakukan sesuatu seperti yang diharapkan, melakukan hal positif dan mengetahui banyak hal sehingga audiens menjadi lebih baik dalam pandangan penutur dan masyarakat lainnya. Artinya dalam tindak ini,
penutur bermaksud ”akan merasa senang dan menjadikan audiens lebih baik”
Tindak Ekspositif
Ekspositif (expositives), tindak tutur yang digunakan dalam menyederhanakan pengertian atau
definisi, misalnya “bail out” itu ibarat seseorang yang utang-nya kepada seseorang dibayari oleh orang lain yang
tidak dikenalrnya.”.
Berdasarkan analisis data dapat dikemukakan bahwa tindak ekspositif (expositives) yang diperankan dalam penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Wagir Kabupaten Malang adalah tindak sinonimi.
Tindak Ekspositif Pinjam Leksikon
Tindak pinjam leksikonmerupakan tindak bahasa yang diperankan dalam komunikasi dengan pemakaian kata-kata dari kode lain agar terjalin penyampaian pesan secara baik antara penutur dan udiens.Tindak pinjam leksikon ini bisa dikategorikan sebagai tindak Ekspositif (expositives) karena dalam tindak ini penutur ingin menyeder-hanakan suau istilah atau kata atau kosakata baru kepada audiens agar mudah dipahami.
Keterbatasan tindak yang diperankan dalam amanat Pembina upacara seperti yang dikemukakan dalam bagan di atas dapat dijelaskan dari kajian pragmatik. Dalam upaya menjelaskan prinsip-prinsip pragmatic, Leech (1983) menyatakan bahwa pragmatik dapat dipandang dari dua sisi, yaitu pragmatikumum dan sosio pragmatic. Prakmatik umum diartikan sebagai kajian terkait dengan kondisi-kondisi umum penggunaan bahasa secara
komunikatif, tidak mencakup kondisi-kondisi-kondisi khusus (lokal). Sementara itu, sosio-pragmatik didasarkan pada kebudayaan-kebudayaan masyarakat dan masyarakat bahasa yang berbeda dalam situasi-situasi sosial yang berbeda, dalam konteks kelas-kelas sosial berbeda, dan sebagainya. Dengan demikian, tindak komisif tidak ditemukan dalam penelitian ini. Hal ini merupakan hal yang wajar karena penutur tidak mungkin melaksanakan perjanjian yang mengakibatkan penutur melakukan kegiatan sendiri.
SIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut.
1. Fungsi bahasa yang diwujudkan penggunaan Bahasa Indonesia lisan pembina upacara dalam amanat pembina upacara di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Wagir Kabupaten Malang yang berupa jenis tindak bahasadapat dikelompokkan dalam empat jenis tindak ilokusi menurut pandangan Austin (1962), yaitu (1) tindak verdiktif (verdictives), (2) tindak eksersitif (exercitives), (3) tindak behavitif (behavitives), dan (4) tindak ekspositif (expositives). Untuk tindak komisif tidak ditemukan dalam penelitian ini.
memberikan informasi, tindak mengungkapkan rasa puas, dan tindak mengungkapkan kritik. (2) tindakeksersitif (exercitives) meliputi tindak: tindak meminta informasi, tindak memberi saran, tindak meminta perhatian, tindak mengingatkan, tindak pengharapan, tindak menyuruh, dan tindak mengancam. (3) tindakbehavitif (behavitives) meliputi tindak: tindak memberi contoh(4) tindakekspositif (expositives) meliputi tindak: tindak pinjam leksikon.
Selanjutnya hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai tambahan kajian pragmatik mengingat penelitian ini berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam situasi sosial tertentu. Kepada ilmuan bahasa yang mengaji fungsi-fungsi bahasa atau pengikut aliran fungsional, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pelengkap klasifikasi fungsi bahasa yang sudah ada. Semoga para ilmuan juga dapat melakukan penelitian terhadap fungsi bahasa pada ragam-ragam bahasa yang berbeda.
DAFTAR RUJUKAN
Allan, D.E., dan Guy, R.F. 1978.
Conversation Analysis: The Sociolo-gy of Talk.Paris: Mouton.
Budiman, Arya. 2015.Kebut Semalam Jago Pidato, MC, Penyiar, Presenter Radio &Televisi. Yogyakarta: Araska Publisher
Dik, S.C. 1981.Functional Grammar.Dordrech: Foris Publication.
Moeliono, A. dkk. 1988.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.
Mujianto, 1998. Retorika Wacana Orasi Ilmiah Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang.
Quirk, R. Sidney, G.. Leech, G. dan Svartvik, J. 1972A Grammar of Contemporary English.London: Longman.
Ramlan, M. 1987.Sintaksis.Yogyakarta: CV Karyono.
Samsuri. 1985.Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Jakarta: Sastra Hudaya. Searle, JR, Kiefier, F, dan Bierwish, M.
(eds). 1980.Speech Act Theory and Pragmatics.London: Reidel
Publising Company.
Stubbs, M. 1983.Discourse Analysis.
Chicago: The University of Chicago Press.
Sumarna, Saleem Hardja. 2016.Super Lengkap Naskah Pidato & MC. Klaten: Cable Book.
Wahab, A. 1988.Linguistik: Dari Pra-Socrates ke Pragmatik.Malang: IKIP Malang.
Wibowo, Imam Suwardi. 1996.Analisis Wacana Iklan Baris Surat Kabar. Malang: IKIP Malang.