OPTIMALISASI PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI
SEKOLAH MENENGAH BERBASIS KETERAMPILAN PROSES:
SEBUAH PERSPEKTIF GURU IPA-BIOLOGI
Yanur Setyaningrum1; Husamah2
1 SMP Muhammadiyah 1 Malang, e-mail: [email protected] 2 Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang,
e-mail: [email protected]
Abstract:Inappropriate characters affected by moral degradation cannot be seperated from educa-tion. Many people argue that those characters are originated from the world educaeduca-tion. School as a formal institution in educational system can be a place where the inappropriate characters come from. It happens because schools give more attention to on intellectual purpose other than others. This brings a moral message that the teachers have not only to educate the students by transfering their knowledge, but also pay attention to their characters development. Character education can be introduced to the students through any subjects. One of them is Biology. The teaching and learning Biology is believed to be able to support character education. This article aims at intro-ducing character education through implementing process skill based - Biology teaching and learn-ing. The students in Biology classes will be benefited by this implementation because the students will involve in teaching and learning process intelectually, manually, and socially. Besides, they will develop scientific attitudes such as honest, patience, openess, carefulness, independence, care, and discipline. Those attitudes affected by process skill based - Biology teaching and learn-ing can be the basis to develop student strong characters.
Key words: character education, process approach, biology
Dunia pendidikan dewasa ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat, terutama untuk mempersiapkan peserta didik agar mam-pu menghadapi berbagai dinamika perubahan yang berkembang dengan sangat cepat khususnya pergeseran aspek nilai dan moral dalam kehidupan masyarakat. Dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan siswa merupakan contoh bagian yang tidak ter-pisahkan dalam dunia pendidikan. Selain perilaku kekerasan, isu-isu moralitas di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika, pornoaksi, tawuran pelajar, free sex, aborsi, perkosaan, perampasan, pencurian, pembunu-han, dan tindakan-tindakan amoral lainnya sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
Beberapa data dapat digunakan untuk menggambarkan bahwa betapa dekadensi moral
film porno (Indarini, 2010). Hasil survei BKKBN-LDFE Universitas Indonesia memper-lihatkan di Indonesia terjadi 2,4 juta kasus aborsi per tahun dan sekitar 21%-nya dilakukan oleh remaja. Angka penyakit menular seksual (PMS) pada remaja mencapai 4,18%, 50% dari jumlah penderita HIV/AIDS di Jabar berusia sekisar 15-29 tahun dan pengguna narkoba mencapai 2.736 orang (Muhtar, 2010).
Kedua, jumlah pemakai narkoba di In-donesia mencapai 3,6 juta orang atau 2% dari jumlah penduduk (Kompas, 2010). Ironisnya, 78% dari jumlah pengguna narkoba adalah remaja atau pelajar (Malik, 2007). Ketiga, kasus korupsi dari pusat sampai daerah. Kasus korupsi di Indonesia-baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif- tidak jelas kapan akan selesai. Beberapa kasus yang menarik perhatian publik adalah BLBI (Rp. 138,4 triliun), HPH dan Dana Reboisasi (Rp. 15,025 triliun), Bank Century (Rp. 6,7 triliaun) dan Kasus Mafia Pajak Gayus Tambunan. Selain itu, total laporan korupsi seluruh Indonesia mencapai 40 ribu kasus. Pemerintah pun telah berhasil mener-tibkan 39.477 rekening keuangan negara dengan potensi penyelamatan sebesar Rp. 35,92 triliun, US$ 237,94 juta, dan € 2,86 juta (Berita Indonesia, 2010; Masduki, 2010).
Kasus korupsi semakin menggurita akibat maraknya mafia kasus, mafia pajak, money laundering dan upaya kriminalisasi terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi. Pemeringkatan yang dilakukan Transparency Internasional
atau PERC, secara konsisten menempatkan Indonesia ke dalam kelompok negara terkorup, di mana dalam skala PERC 0 sampai 10 posisi Indonesia hanya 2,8 (PKS Bojonggede, 2009). Berbagai permasalahan bangsa sebagai-mana disebutkan di atas harus segera diakhiri. Sejatinya semua pihak perlu introspeksi diri, segera mencari solusi jitu dan terlibat secara intensif. Salah satu solusi yang sangat tepat adalah dengan optimalisasi penerapan pen-didikan karakter di sekolah menengah. Pola pendidikan saat ini hanya menghasilkan siswa yang kehilangan kepekaan sosial (sence of so-cial crisis) atau kehilangan kasadaran budi nurani manusia (social consciousness of men). Siswa hanya memiliki kemampuan teknis (skill)
dan menjadi manusia “siap pakai” layaknya ro-bot (Ghopur, 2010). Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana (Dimyati, 2010).
Banyak orang berpandangan bahwa kondisi demikian diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Dunia pendidikan, sesungguhnya memberikan kontri-busi paling besar terhadap situasi ini. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih meninikberatkan pada pengembangan intelektual semata. Aspek-aspek lain yang ada dalam diri siswa, yaitu aspek afektif dan kebajikan moral kurang mendapatkan perhatian (Koesoema, 2007; Koesoema, 2009).
Kondisi ini menegaskan bahwa para guru yang mengajar mata pelajaran apa pun harus memiliki perhatian dan menekankan pentingnya pendidikan karakter pada para siswa. Salah satunya melalui pembelajaran biologi yang dinilai sangat mendukung penguatan karakter siswa. Menurut Juniarso (2010) pembelajaran biologi sebagai subsistem pendidikan nasional memberi kontribusi penting dalam pemben-tukan karakter siswa. Sedangkan karakter sebagai hasil dari pendidikan membawa arti penting dalam kehidupan yang sesungguhnya di masyarakat. Karena itu penting sekali memahami nilai karakter yang dilaksanakan dalam pembelajaran biologi.
hanya mampu menangkap pesan lahiriah dari apa yang ia pelajari, namun lebih dari itu siswa juga mampu memproyeksikan pesan esoterik dari setiap teori yang ia pelajari.
Sehubungan dengan itu, menurut Suda-risman (2010) fenomena merosotnya nilai-nilai perilaku peserta didik secara khusus dalam hubungannya dengan pembelajaran biologi disebabkan karena pemahaman guru yang kurang benar terhadap biologi itu sendiri. Biologi sejauh ini belum diajarkan sesuai hakikat pembelajarannya yang mengacu pada proses dan produk melainkan hanya sebagai produk (content). Oleh karena itu, artikel ilmiah ini akan memfokuskan pembahasan pada optimalisasi penerapan pendidikan karakter di sekolah menengah berbasis keterampilan proses.
PEMBAHASAN
Karakter dan Pendidikan Karakter
Karakter merupakan titian ilmu penge-tahuan dan keterampilan. Pengepenge-tahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Karakter akan membentuk motivasi, pada saat yang sama dibentuk dengan metode dan proses yang bermartabat. Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan ber-dasarkan nilai-nilai etika, meliputi aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral (Sirajuddin, 2010).
Koesoema (2007) mengatakan bahwa karakter yang baik diketahui melalui “respon” yang benar ketika kita mengalami tekanan, tantangan dan kesulitan. Karakter berkualitas adalah sebuah respon yang sudah teruji berkali-kali dan telah berbuahkan kemenangan. Seseorang yang berkali-kali melewati kesulitan dengan kemenangan akan memiliki kualitas yang baik. Tidak ada kualitas yang tidak diuji. Karakter terbentuk dengan dipengaruhi oleh paling sedikit 5 faktor, yaitu: temperamen dasar, keyakinan, wawasan, motivasi hidup dan perjalanan. Karakter yang dapat membawa keberhasilan yaitu empati, tahan dan beriman.
Lahirnya pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang dipe-lopori oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Pendidikan karakter akan memberikan bantuan sosial agar individu dapat tumbuh dalam menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain di dunia (Koesoema, 2007). Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Lickona (2007) tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Williams & Schnaps (1999) mendefinisi-kan pendidimendefinisi-kan karakter sebagai “Any
delib-erate approach by which school personnel,
often in conjunction with parentsand commu-nity members, help childrenand youth become caring, principledand responsible”. Maknanya kurang lebih pendidikan karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut Williams (2000) menjelaskan bahwa makna dari istilah pendidikan karakter tersebut awalnya digunakan oleh National
Commission on Character Education (di
tersebut secara langsung. Secara khusus, tujuan pendidikan moral adalah membantu siswa agar secara moral lebih bertanggung jawab, menjadi warga negara yang lebih berdisiplin (McBrien & Brandt, 1997).
Pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan di tengah gempa multidimensional yang mengancam dan bahkan sedikit demi sedikit menghancurkan sendi-sendi bangsa. Namun, pendidikan karakter hanya akan menjadi sekadar wacana jika tidak dipahami secara lebih utuh, menyeluruh, menyatu dan melibatkan semua sumberdaya yang terkait (in-tegral-holistik). Bahkan, pendidikan karakter yang dipahami secara parsial dan tidak tepat sasaran justru malah bersifat kontraproduktif bagi pembentukan karakter siswa. Menurut Abdullah (2010) sifat pendidikan karakter adalah multidimensi dan multidisiplin, sehing-ga diperlukan pendekatan yang komprehensif, utuh, interkonektif antar berbagai disiplin ilmu, dan tidak sektoral-parsial. Pendidikan karakter mengasumsikan keterkaitan erat antara dimensi moral, sosial, ekonomi, politik, hukum, agama, budaya, dan estetika. Ironisnya, me-nurut Koesoema (2010a) pendidikan karakter yang selama ini banyak bicarakan dipahami secara sempit.
Pendidikan karakter integratif-holistik menurut hemat penulis haruslah didasarkan minimal kepada pilar, basis desain, dan kunci sukses. Pertama, pilar pendidikan karakter. Menurut Foerster dalam Koesoema (2007) ada empat pilar yang menjadi ciri dasar pendidikan karakter. (1) keteraturan interior: setiap tin-dakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. (2) koherensi: memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang mem-bangun rasa percaya satu sama lain. (3) oto-nomi: seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. (4) keteguhan dan kesetiaan: keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna
mengingini apa yang dipandang baik; kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas, antara independensi eksterior dan interior. Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.
hanya akan bersifat parsial, inkonsisten, dan tidak efektif. Tanpa tiga basis itu, program pendidikan karakter hanya menjadi wacana semata.
Ketiga, kunci sukses pendidikan karakter. Kunci sukses ini terdiri dari dua hal yaitu: (1) dari knowing menuju doing. Kilpatrick (1992) menyebutkan salah satu penyebab ketidak-mampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral do-ing). Berangkat dari pemikiran ini maka kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing, loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter. Moral knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), penge-tahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil menentukan sikap ( de-cision making), dan pengenalan diri (self knowl-edge). Selanjutnya moral loving atau Moral
Feeling merupakan penguatan aspek emosi
siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri, empati, cinta kebenaran, pengendalian diri, dan kerendahan hati. Setelah dua aspek tadi terwujud, maka moralacting sebagai outcome
akan dengan mudah muncul dari para siswa. (2) Identifikasi Karakter. Pendidikan karakter tanpa identifikasi karakter hanya akan menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir, petualangan tanpa peta. Organisasi manapun di dunia ini yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan karakter harus mampu mengiden-tifikasi karakter-karakter dasar yang akan menjadi pilar perilaku individu.
Megawangi & Williams (2007) merumus-kan delapan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Delapan karakter tersebut adalah; (1) cinta kepada Tuhan dan semesta beserta isinya, (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri, (3) jujur, (4) hormat dan santun, (5) kasih sayang, peduli, dan kerja sama, (6)
percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan (8) toleransi, cinta damai dan persatuan.
Karakter dalam Biologi
Salah satu tujuan biologi adalah mem-berikan penguatan atau memmem-berikan bekal tentang sikap ilmiah kepada siswa. Pembela-jaran biologi mengandung empat unsur yaitu sikap, proses, produk dan aplikasi, sehingga siswa diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan namun juga menguasai proses ilmiah dan dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. Aplikasi itu dilakukan melalui sikap ilmiah yang jujur, menyadari tentang adanya keteraturan di jagad raya yang memiliki hukum alam tak terbantahkan serta menyadari keterbatasan manusia dan kehebatan Sang Pencipta (Unijianto, 2009).
Menurut Muslich (2008) sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan dan akademisi termasuk guru dan siswa ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan. Sikap-sikap ilmiah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Sikap ingin tahu. Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? 2) Sikap kritis. Sikap kritis ini terlihat pada
kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajian-nya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya. 3) Sikap terbuka. Sikap terbuka ini terlihat
pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan ketera-ngan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan kete-rangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai. 4) Sikap objektif. Sikap objektif ini terlihat
5) Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat or-ang lain.
6) Sikap berani mempertahankan kebenaran. Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
7) Sikap menjangkau ke depan. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuk-tikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.
Sikap ilmiah tidak hanya terkait dengan pola pikir ilmiah, tetapi juga emosi (afektif) dan sikap perilaku (psikomotor). Sikap ilmiah yang dimaksud antara lain (Saukah, 2000; Wiyono, 2009):
1) Hasrat ingin tahu dan belajar terus menerus.
Perkembangan ilmu pengetahuan selalu didorong oleh hasrat ingin tahu (curiosity) yang merupakan sifat dasar manusia dan sebuah tindakan (action) berupa belajar terus menerus. Kedua faktor ini menjadi pembeda antara akademisi dengan komunitas lain dalam kehidupan masyarakat.
2) Daya analisis yang tajam.
Setiap permasalahan membutuhkan ana-lisis tajam untuk menentukan ketepatan dan kebenaran sebuah tindakan dari hasil peme-cahan masalah. Analisis yang tajam juga diperlukan jika menghadapi variasi dan banyaknya masalah agar solusi yang diberikan tepat, kreatif dan inovatif.
3) Jujur dan terbuka
Kejujuran dan keterbukaan menjadi kunci pembuka berkembangnya ilmu pengetahuan serta ciri pribadi yang sehat dan matang. Hilangnya kejujuran dan keterbukaan akan menyebabkan mundurnya ilmu pengetahuna, berkembangnya perilaku negatif dan terhentinya
pemikiran-pemikiran baru yang kreatif dan inovatif.
4) Kritis terhadap pendapat berbeda
Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dan alamiah karena adanya kema-jemukan pola pikir dan kepribadian manusia. Perbedaan akan meningkatkan daya kritis jika disikapi dengan sikap positif dan bertanggung jawab. Kritis terhadap perbedaan akan mening-katkan semangat untuk mencari solusi yang terbaik dan tujuan yang lebih baik.
5) Tanggung jawab yang tinggi
Setiap guru mempunyai tanggungjawab sesuai peran dan fungsinya. Pelaksanaan tanggung jawab ini akan menentukan keber-hasilan. Tanggung jawab yang dimiliki tidak hanya terkait dengan internal tetapi juga ekternal (lingkungan global).
6) Bebas dari prasangka
Prasangka akan mempengaruhi pelak-sanaan tugas dan t anggung jawab yang diemban. Prasangka memiliki dampak terhadap kondisi fisik dan psikologis seseorang. Selain itu, prasangka dapat melemahkan upaya untuk mencapai tujuan, menyebabkan konflik dengan diri sendiri dan orang lain (intrapersonal dan interpersonal).
7) Menghargai nilai, norma, kaidah dan tradisi keilmuan
Salah satu tradisi keilmuan yang tetap dikembangkan adalah adanya kebebasan mimbar akademik, kebebasan berpikir, dan berpendapat serta nilai keterbukaan dalam mengembangkan keilmuan. Penghargaan terhadap nilai, norma, kaidah dan tradisi keilmuan merupakan ciri kepribadian sehat dan matang dalam menjalankan fungsi-fungsinya.
dan tercermin dalam kepribadian yang tengahan antara individu dan sosial, berorientasi materi dan ruhani serta mampu hidup dan kerjasama dalam kemajemukan; (3) cerdas, yaitu memiliki sikap hidup dan kepribadian yang rasional, cinta ilmu, terbuka, dan berpikiran maju; dan (4) mandiri, yaitu memiliki sikap hidup dan kepribadian merdeka, disiplin tinggi, hemat, menghargai waktu, ulet, wirausaha, kerja keras, dan memiliki cinta kebangsaan yang tinggi tanpa kehilangan orientasi nilai-nilai kemanusiaan universal dan hubungan antarperadaban bangsa-bangsa (PP Muhammadiyah, 2009: 43-44).
Menurut Dedy (2010) biologi merupakan dorongan pada unsur pola dan cara berpikir melalui tatanan valid, true, reliable, verify, hy-pothesis, theory, law, principle, axioma, pos-tulate dan proof. Bahasa dan nalar bekerja timbal balik saling mendorong mengembangkan biologi sebagai basis pemikiran untuk mem-bimbing manusia menemukan hal-hal yang asli (original).
Soelardjo dalam Dedy (2010) mengung-kapkan bahwa biologi selalu dikaitkan dengan fakta nyata yang terjadi dari suatu proses alam maupun yang secara khusus dirancang. Teori dari biologi melekat pada rancangan proses, sedangkan fakta merupakan dasar dari proses biologi. Biologi harus diuraikan sesuai dengan hukum-hukum atau pedoman yang berakar sehingga fakta tersebut harus mengandung kebenaran, rasional dan logis pada saat menentukan kebenaran. Unsur-unsur fakta yang penting dapat dilacak lagi setiap saat sehingga manusia dapat menemukan fakta-fakta baru untuk koreksi.
Biologi pada hakekatnya sebagai suatu disiplin yang sangat berarti dalam pengem-bangan kemampuan berpikir logis, sistematis dan kreatif sehingga biologi seringkali mampu mengantarkan individu pada kesadaran bahwa kebenaran yang mutlak adalah kebenaran Tuhan sedangkan kebenaran ilmiah pada hakekatnya bersifat tentatif. Semakin aktif dan semakin jauh para ilmuwan melakukan studi maka semakin terbuka untuk menemukan Tuhan. Oleh karena itu beruntunglah para ilmuwan di bidang biologi karena biologi memiliki potensi dan peluang besar untuk hidup yang dilandasi agama
sehingga secara moral kehidupannya tetap terjaga.
Wasono dalam Dedy (2010) menge-mukakan tentang keterkaitan antara biologi dan pengembangan karakter bangsa. Seseorang yang belajar mendalami biologi dan melakukan penelitian akan terdidik untuk mendapatkan karakter dasar seorang peneliti berupa teliti, jujur, punya integritas, visioner, terbuka dan obyektif terhadap kebenaran, kooperatif terhadap orang lain dan berjiwa pembelajar. Kenyat aan yang terjadi adalah adanya kecenderungan masuknya budaya diluar masyarakat biologi seperti ketidakjujuran, plagiarisme atau kurangnya integritas meneliti demi kepentingan sesaat. Oleh karena itu perlu adanya program pembangunan karakter yang terdiri dari tujuh budi utama meliputi kejujuran, tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli.
Berdasarkan berbagai uraian di atas jelas sekali bahwa pembelajaran biologi memiliki nilai-nilai yang sangat dekat dengan pem-bentukan karakter siswa. Apabila pembelajaran biologi dengan nilai-nilai seperti disebutkan di atas dapat dilaksanakan maka mutu pendidikan biologi akan makin baik dan secara utuh dapat membentuk lulusan yang baik pula. Namun demikian, menurut Juniarso (2010) pendidikan karakter dalam pelajaran biologi, selama ini sama dengan pelajaran lainnya, jarang atau bahkan tidak memuat pendidikan karakter dalam pembelajarannya. Pelajaran biologi dianggap sebagai pelajaran tentang penggunaan otak semata. So mant ri (2008) malah menegaskan pelajaran biologi di sekolah masih berfokus pada hafalan akibatnya minat belajar dan pengembangan biologi masih terbatas.
Pendekatan Proses dan Hubungannya dengan Karakter Siswa
yang menggunakan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan ilmiah seperti yang dikerjakan para ilmuwan, tetapi pendekatan keterampilan proses tidak bermaksud menjadikan setiap siswa menjadi ilmuwan. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan maksud karena IPA merupakan alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa. Kepribadian yang berkem-bang merupakan prasyarat untuk melangkah ke profesi apapun yang diminati siswa.
Proses dapat didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang di-gunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah. Proses merupakan konsep besar yang dapat diuraikan menjadi komponen-komponen yang harus dikuasai seseorang bila akan melakukan penelitian. Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitas. Dengan demikian Pendekatan
Keterampilan Proses adalah perlakuan yang
diterapkan dalam pembelajaran yang menekan-kan pada pembentumenekan-kan keterampilan mem-peroleh pengetahuan kemudian mengkomuni-kasikan perolehannya. Keterampilan mem-peroleh pengetahuan dapat dengan mengguna-kan kemampuan olah pikir (psikis) atau kemampuan olah perbuatan (fisik).
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemam-puan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesis, merencanakan, me-nafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendeka-tan keterampilan proses digunakan dan dikem-bangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiat an belajar (Dirdjosoemarto et al., 2004).
Menurut Rustaman et al. (2000) keterampilan ilmiah dalam biologi berorientasi
pada pendekatan keterampilan proses dimana di dalamnya terkandung berbagai keterampilan yang mencakup setidaknya delapan (8) kegiatan diantaranya: mengamai (observation), me-ngelompokkan (classification), menafsirkan (interpretation), meramalkan (prediction), mengajukan pertanyaan (question), berhipotesis (hipothesis), melakukan percobaan ( experi-ment) dan mengkomunikasikan hasil percobaan (communication).
Penggunaan pembelajaran biologi ber-basis keterampilan proses memiliki beberapa keuntungan diantaranya: (1) pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses memung-kinkan peserta didik dapat terlibat aktif secara intelektual, manual, dan sosial. Pengalaman beraktivitas secara intelektual, manual dan sosial dapat mengantarkan peserta didik untuk beajar biologi secara bermakna yang pada akhirnya dapat mengoptimalkan hasil belajar peserta didik. (2) pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses memungkinkan dapat dikembangkan sikap ilmiah pada peserta didik. Sikap ilmiah mencakup berbagai sikap seperti: kejujuran, kesabaran, keterbukaan, ketelitian, kemandirian, sikap menghargai orang lain, disiplin dan lain-lain. Sikap ilmiah yang ber-kembangkan setelah melakukan keterampilan proses tersebut merupakan sikap dasar dalam membangun karakter yang kuat pada peserta didik.
Peran Guru Biologi dalam Pendidikan Karakter
Berbagai penelitian empirik menunjukkan bahwa faktor guru memainkan peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter mu-rid. Diperoleh data bahwa ada kecenderungan makin tinggi level lembaga pendidikan formal makin rendah peran dan kontribusi guru/guru dalam kesuksesan murid, misalnya PAUD/TK sampai >90%, SD/MI sekitar 80-90%, SMP/ MTS sekitar 70-80%, SMA/MA/SMK sekitar 60-70%, Mahasiswa S1 sekitar 40-50%, S2 sekitar 20-30%, dan S3 sekitar 10%, atau mungkin bisa kurang (Anwar, 2010).
Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mendefinisikan guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarah-kan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dengan ditegaskannya guru sebagai pekerjaan profesional, secara o tomo tis menuntut adanya prinsip profesionalitas yang selayaknya dijunjung tinggi dan dipraktikkan oleh para guru. Seorang guru hendaknya memiliki kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi yang jelas.
Faktor kompetensi sebagai seorang guru sangatlah penting, terlebih objek yang menjadi sasaran pekerjaanya adalah peserta didik (siswa) yang diibaratkan kertas putih, gurulah yang akan menentukan apa yang hendak dituangkan dalam kertas tersebut, berkualitas tidaknya tergantung kepada sejauh mana guru bisa menempatkan dirinya sebagai guru yang memiliki kapasitas dan kompetensi profesional dalam mengarahkan individu-individu menjadi sosok yang memiliki karakter dan mentalitas yang dapat diandalkan dalam proses pemba-ngunan bangsa (Sauri, 2010).
Menurut Sauri (2010) dalam tataran normatif betapa mulia dan strategisnya ke-dudukan guru. Namun, dalam realitas di lapangan tidak sedikit guru yang tidak mencerminkan peran strategisnya sebagai guru, bahkan ia jauh dari garis jati diri kepen-didikannya, penyimpangan-penyimpangan moral, tampilan kepribadian yang tidak sewajarnya, landasan penguasaan norma-norma agama yang lemah dan sejumlah patologi sosial lainya. Banyak faktor tentunya yang mem-pengaruhi hal tersebut terjadi, yang jelas jika dibiarkan hal ini dapat memberikan ekses buruk bagi dunia pendidikan, khususnya terhadap kualitas lulusan dan output pendidikan serta karakter masyarakat sebagai objek pendidikan yang dimotori para guru. Proses pendidikan akan jauh dari tujuannya, sehingga menjadi sangat penting untuk melakukan sebuah upaya strategis dalam mempersiapkan sosok guru yang mampu menjadi panutan dan melak-sanakan profesinya secara profesional sehingga ia bisa diandalkan.
Berangkat dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa guru sebagai entitas strategis sangat diperlukan paranannya dalam upaya membentuk karakter bangsa yang memiliki jati diri dan bermartabat di tengah-tengah bangsa lainnya. Peran guru sangat penting dalam membentuk karakter siswa (Suyatno, 2010). Guru merupakan personalia penting dalam pendidikan karakter di sekolah karena sebagian besar interaksi yang terjadi di sekolah, adalah interaksi siswa dengan guru baik melalui proses pembelajaran akademik kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstra-kurikuler (Triatmanto, 2010). Kondisi ini menegaskan bahwa para guru yang mengajar mata pelajaran apa pun harus memiliki perhat ian dan menekankan pent ingnya pendidikan moral dan karakter pada para siswa. Terkait dengan pendidikan karakter, peran guru pada intinya adalah sebagai masyarakat yang belajar dan bermoral. Lickona
et al. (2007) menguraikan beberapa pemikiran tentang peran guru, di antaranya:
1. Guru perlu terlibat dalam proses pem-belajaran, diskusi, dan mengambil inisiatif sebagai upaya membangun pendidikan karakter.
2. Guru bertanggung jawab untuk menjadi model yang memiliki nilai-nilai moral dan memanfaatkan kesempatan untuk mem-pengaruhi siswa-siswanya. Artinya guru di lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi uswah hasanah yang hidup bagi setiap peserta didik. Mereka juga harus terbuka dan siap untuk berdiskusi dengan peserta didik tentang berbagai nilai-nilai yang baik tersebut.
3. Guru perlu memberikan pemahaman bahwa karakter siswa tumbuh melalui kerjasama dan berpartisipasi dalam mengambil ke-putusan.
4. Guru perlu melakukan refleksi atas masalah moral berupa pertanyaan-pertanyaan rutin untuk memastikan bahwa siswa-siswanya mengalami perkembangan karakter. 5. Guru perlu menjelaskan atau
Hal-hal lain yang dapat guru lakukan dalam implementasi pendidikan karakter (Djalil & Megawangi, 2006) adalah: (1) guru perlu menerapkan metode pembelajaran yang me-libatkan partisipatif aktif siswa, (2) guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, (3) guru perlu memberikan pendidikan karakter secara eksplisit, sistematis, dan berkesinam-bungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good,
dan (4) guru perlu memperhatikan keunikan siswa masing-masing dalam menggunakan metode pembelajaran, yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan sembilan aspek kecerdasan manusia. Guru perlu melatih dan membentuk karakter anak melalui pengu-langan-pengulangan sehingga terjadi inter-nalisasi karakter, misalnya mengajak siswanya melakukan shalat secara konsisten.
Suyatno (2010) mencoba mengkate-gorikan peran guru di setiap jenis lembaga pendidikan dalam membentuk karakter siswa. Dalam pendidikan formal dan non formal, guru (1) harus terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu melakukan interaksi dengan siswa dalam mendiskusikan materi pembelajaran, (2) harus menjadi teladan bagi siswanya dalam ber-perilaku dan bercakap, (3) harus mampu mendorong siswa aktif dalam pembelajaran melalui penggunaan metode pembelajaran yang variatif, (4) harus mampu mendorong dan membuat perubahan, (5) harus mampu mem-bantu dan mengembangkan emo si dan kepekaan sosial siswa agar siswa menjadi lebih bertakwa, menghargai ciptaan lain, mengem-bangkan keindahan dan belajar soft skills yang berguna bagi kehidupan siswa selanjutnya, dan (6) harus menunjukkan rasa kecintaan pada siswa sehingga guru tidak mudah putus asa dalam membimbing siswa yang sulit memahami. Sehubungan dengan itu, dalam penerapan pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses, guru menjadi faktor kunci dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Herlen dalam Sudarisman (2010) sedikitnya terdapat lima aspek yang perlu diperhatikan guru biologi dalam mengembangkan pembelajaran berbasis keterampilan proses yaitu:
1. Rancangan pembelajaran yang disusun harus dapat memberikan kesempatan peserta didik untuk keterampilan proses melalui pengalaman langsung mengeks-plorasi materi dan fenomena alam. Melalui pengalaman langsung tersebut, mereka dapat menggunakan alat-alat inderanya untuk melakukan pengamatan, mengum-pulkan informasi atau bukti-bukti untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pengajuan pertanyaan dan perumusan hipotesis berdasarkan gagasan mereka.
2. Setting pembelajaran dalam bent uk
kelompok-kelompok kecil yang memung-kinkan peserta didik dapat melakukan diskusi. Tugas-tugas pembelajaran di-rancang sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat berbagi gagasan ( brainstorm-ing) menyimak pendapat teman lain, menjelaskan dan mempertahankan gagasan, sehingga diperlukan berpikir reflektif. 3. Mengakomodasikan kegiatan berproses
berdasarkan gagasan peserta didik melalui penggunaan atau penerapan berbagai strategi pembelajaran, sehingga peserta didik dapat menghubungkan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelum-nya dengan pengetahuan baru yang mereka peroleh setelah berinteraksi dengan lingkungan belajarnya.
4. Memberikan kesempatan atau mendorong peserta didik untuk mengulas at au mereview secara kritis tentang kegiatan yang telah mereka lakukan.
5. Memberikan teknik atau strategi sebagai bekal untuk meningkatkan keterampilan ilmiah peserta didik, sebab untuk dapat mengetahui teknik penggunaan alat secara tepat diperlukan pengetahuan tentang prosedur penggunaannya seperti teknik mengukur, mengkomunikasikan data dan menggunakan alat.
PENUTUP
Kesimpulan
dan perilaku dari kehidupan moral. Karakter terbentuk dengan dipengaruhi oleh paling sedikit 5 faktor, yaitu: tem-peramen dasar, keyakinan, wawasan, motivasi hidup dan perjalanan. Karakter yang dapat membawa keberhasilan yaitu empati, tahan dan beriman.
2. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan ( feel-ing), dan tindakan (action). Pendidikan karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu siswa agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab.
3. Biologi memiliki keterkaitan dengan pengembangan karakter peserta didik. Seseorang yang belajar mendalami biologi dan melakukan penelitian akan terdidik untuk mendapatkan karakter dasar seorang peneliti berupa teliti, jujur, punya integritas, visioner, terbuka dan obyektif terhadap kebenaran, kooperatif terhadap orang lain dan berjiwa pembelajar. Apabila pem-belajaran biologi dengan nilai-nilai seperti disebut di atas dapat dilaksanakan maka mutu pendidikan biologi akan makin baik dan secara utuh dapat membentuk lulusan yang baik pula.
4. Penggunaan pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses memiliki beberapa keuntungan terutama terkait dengan pendidikan karakter diantaranya: (1) pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses memungkinkan peserta didik dapat terlibat aktif secara intelektual, manual, dan sosial. (2) pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses memungkinkan dapat dikembangkan sikap ilmiah pada peserta didik seperti: kejujuran, kesabaran, keter-bukaan, ketelitian, kemandirian, sikap menghargai orang lain, disiplin dan lain-lain. Sikap ilmiah yang berkembangkan setelah melakukan keterampilan proses tersebut merupakan sikap dasar dalam
membangun karakter yang kuat pada peserta didik.
Saran
1. Menerapkan pendidikan karakter di sekolah bukan hal yang mudah, karena harus merubah paradigma, butuh waktu dan tenaga. Namun yang paling penting adalah semua pihak terutama guru harus kreatif. Guru Biologi harus selalu berusaha untuk menggunakan pendekatan yang komprehensif dan proaktif. Perlu disadari bahwa penanaman nilai merupakan sebuah proses, berkelanjutan dan memiliki visi-misi jauh ke depan yaitu penciptaan generasi yang ideal, seperti amanah dan cita-cita pendidikan karakter itu sendiri.
2. Guru disarankan menggunakan pendekatan proses dalam pembelajaran biologi karena sangat strategis sebagai wahana pemba-ngunan karakter peserta didik secara utuh.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. 2010. Pendidikan Karakter: Mengasah Kepekaan Hati Nurani.
Disampaikan pada acara Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter Direk-torat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, Ho-tel Santika, Yogyakarta, 15 April 2010.
Anwar, Q. 2010. Nilai Agama Sebagai Acuan Membangun Karakter Bangsa. Makalah dipresentasikan dalam Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter, Jakarta, 12 April 2010.
Berita Indonesia. 2010. Kaltim Peringkat 10 Kasus Korupsi Tertinggi di Indonesia.
Harian Berita Indonesia Edisi Minggu, 31 Januari 2010.
Devi, P. K; Sofireni, R; Rosendi, Y. 2010.
Pendekatan Keterampilan Proses pada Pembelajaran IPA. Jakarta: Teknodik. Dimyati. 2010. Peran Guru Sebagai Model
dalam Pembelajaran Karakt er dan Kebajikan Moral Melalui Pendidikan Jasmani. Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX.
Dirdjosoemarto, S., Yudianto, S. A., Achmad, Y., Subekti, R. 2004. Strategi Belajar
Mengajar Biologi. Bandung : FPMIPA
UPI dan JICA IMSTEP.
Djalil, S.A. dan Megawangi, R. 2006. Pening-katan Mutu Pendidikan di Aceh melalui Implementasi Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter. Makalah Orasi Ilmiah pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangka Dies Natalis ke 45 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, 2 September 2006.
Dwikoranto. 2010. Membangun Karakter Melalui Pembelajaran Berbasis Nilai di Fullday School. Proseding Seminar Nasional Pendidikan IPA Tahun 2010 dengan tema Membangun Prof e-sionalisme Guru IPA melalui Penyeleng-garaan Pendidikan Profesi Guru (PPG). FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Ghopur, A. 2010. Pendidikan Karakter yang Terlupakan. (Online). (http://www.detik. com, diakses 16 Mei 2010).
Juniarso, T. 2010. Pendidikan Karakter di Sekolah (Character Education In School) Sebuah Usulan Gagasan: Pengembangan Model Kontrak Belajar dengan Pelibatan Masyarakat Untuk Penguatan Karakter Siswa Dalam Pembelajaran Sains. Surabaya: Univer-sitas PGRI Adi Buana.
Kilpatrick, W. 1992. Moral Illiteracy. Chap-ter 6 in Why Johnny Can’t Tell Right from
Wrong and What We Can Do About It.
Edited by J.H. Clarke. New York: A Touchstone Book.
Koesoema, A. D. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Glo-bal. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
_______. 2009. Guru Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta: Penerbit PT Gra-sindo.
_______. 2010a. Pendidikan Karakter
Inte-gral. Harian Kompas Edisi Kamis, 11
Februari 2010.
_______. 2010b. Pendidikan Karakter.
(Online). (www.kompas.com, diakses 16 Mei 2010).
Kompas. 2010. Pengguna Narkoba Mencapai 3,6 Juta Orang. Edisi Senin, 26 April 2010.
Lickona, T. 2007. Character Matters: How to Help Our Children Develop Good Judge-ment, Integrity, and Other Essential Vir-tues. USA: Simon & Schuster Adult Pub-lishing.
Malik, A. 2007. 45% Remaja Lakukan Free Sex. Harian Seputar Indonesia Edisi 21 Mei 2007.
Masduki. 2010. Jawa Timur Juara Satu dalam Jumlah Korupsi. Harian Republika Edisi Selasa, 27 April 2010.
McBrien, J. L., & Brandt, R. S. 1997. The lan-guage of Learning: A Guide to Educa-tion Terms. Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Devel-opment.
Muhtar. 2010. Revolusi Seks dan AIDS. Harian Pikiran Rakyat Edisi 31 Mei 2010. Muslich, M. 2008. Karya Tulis Ilmiah: Ciri dan
Sikap Ilmiah. (Online). (http://
menulisbukuilmiah.blo gspot .co m/, Diakses November 2009).
Megawangi, R & Williams, R., T. 2007.
Kecerdasan Plus Karakter. Jakarta: In-donesia Heritage Foundation.
PKS Bojonggede. 2009. Kondisi Nasional dan Akar Permasalahan Bangsa (bagian I).
(Online). (pks-bojonggede.blogspot.com, diakses 16 Mei 2010).
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2009.
Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa. Yogyakarta: PP Muhammadiyah. Rustaman, N.; Dirdjosoemarto, S.; Yudianto,
S. A.; Achmad, Y.; Subekt i, R.; Rochintaniawati, D. & Nurjhani, M.
Biologi. Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI.
Saukah , A., (Ed). 2000. Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Sauri, S. 2010. Membangun Karakter Bangsa Melalui Pembinaan Profesionalisme Guru Berbasis Pendidikan Nilai. Makalah Sarasehan Nasional “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” oleh Kopertis Wilayah 3 DKI Jakarta, 12 Januari 2010.
Sirajuddin, N. 2010. Mereorientasi Pendidikan Karakter Indonesia. Harian Fajar Metro Edisi Rabu, 05 Mei 2010.
Somantri, R. G. 2008. Pelajaran Sains Masih Bersifat Hafalan. Harian Kompas. Selasa 4 Nopember 2008 Halaman 12 Kolom 1.
Sudarisman, S. 2010. Membangun Karakter Peserta Didik melalui Pembelajaran Biologi Berbasis Keterampilan Proses.
Proceeding Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi FKIP UNS, Sura-karta, 31 Juli 2010.
Suyatno. 2010. Peran Pendidikan Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa. Makalah Sarasehan Nasional “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” oleh Kopertis Wilayah 3 DKI Jakarta, 12 Januari 2010.
Triatmanto. 2010. Tantangan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Cakra-wala Pendidikan, Vol. 1 No. 3 2010.
Unijianto, B. 2009. Pembelajaran Sains untuk
Membentuk Karakter Siswa. Cyber News
Edisi 29 Nopember 2009.
Williams, M. 2000. Models of Character Edu-cation: Perspectives and Developmental Issues. Journal of Humanistic Counsel-ing, Education and Development, 39, pp. 32-40.
Williams, M., & Schnaps, E. (Eds.) 1999. Char-acter Education: The foundation for
teacher Education. Washington, DC:
Character EducationPartnership. Wiyono, B. B. 2009. Penelitian Tindakan Kelas