• Tidak ada hasil yang ditemukan

RKPD Provinsi Sulawesi Selatan 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RKPD Provinsi Sulawesi Selatan 2016"

Copied!
365
0
0

Teks penuh

(1)

GUBERNUR SULAWESI SELATAN

PERATURAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN

NOMOR : 35 TAHUN 2015

TENTANG

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH

PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2016

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR SULAWESI SELATAN,

Menimbang :

a. bahwa untuk melaksanakan dan menindaklanjuti

ketentuan Pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25

Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional (SPPN), maka dipandang perlu menetapkan

Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan tentang Rencana

Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2016;

b. bahwa

berdasarkan

pertimbangan

sebagaimana

dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan

Gubernur Sulawesi Selatan tentang Rencana Kerja

Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun

2016.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4286);

2.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

3.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang

Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia

Tahun

2004

Nomor

126,

Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

4.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

(2)

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011

Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 5234);

5.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia

Tahun

2014

Nomor

224,

Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587),

sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang

Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23

Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

5679);

6.

Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang

Organisasi

Perangkat

Daerah

(Lembaran

Negara

Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);

7.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010

tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8

Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan,

Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

Pembangunan

Daerah

(Berita

Negara

Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 517);

8.

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10

Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Panjang Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2008-2028, (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi

Selatan Tahun 2008 Nomor 10, Tambahan Lembaran

Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 243);

9.

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10

Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun

2013-2018 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2013 Nomor 10 );

(3)

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Nomor 2,

Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

Nomor 251);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG RENCANA KERJA

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

TAHUN 2016.

Pasal 1

Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan:

1.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi

Selatan yang selanjutnya disingkat RKPD adalah

dokumen perencanaan daerah periode Tahunan.

2.

Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah, selanjutnya

disingkat SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah

yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

3.

Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya disingkat

SKPD adalah Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi

Sulawesi Selatan selaku Pengguna Anggaran/Biaya.

Pasal 2

(1)

RKPD Tahun 2016 merupakan penjabaran dari

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan untuk Tahun 2013-2018,

dengan memperhatikan Rencana Kerja Pemerintah

(RKP) Tahun 2015, dan disesuaikan dengan kondisi

dan kebutuhan nyata daerah dalam upaya perbaikan di

segala bidang pembangunan.

(2)

RKPD Tahun 2016 dijadikan sebagai :

a.

pedoman bagi

Setiap SKPD dalam menyusun

rencana kerja (RENJA);

b.

acuan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota di Sulawesi

Selatan dalam mendukung capaian target dan

sasaran Pembangunan Daerah; dan

(4)

Pasal 3

(1)

RKPD Tahun 2016, yaitu Dokumen Perencanaan

Daerah untuk periode 1 (satu) Tahun yang dimulai

pada tanggal 1 Januari 2016 dan berakhir pada

tanggal 31 Desember 2016,

(2)

RKPD Tahun 2016 sebagaimana dimaksud pada ayat

(1), terdiri atas 6 (enam) Bab tercantum dalam

lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan

dari Peraturan Gubernur ini.

(3)

Dalam rangka pelaksanaan RKPD Tahun 2016

sebagaimana dimaksud pada ayat 2, ditetapkan

Program dan Kegiatan prioritas.

(4)

Program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada

ayat (3), disertai dengan pagu anggaran setiap kegiatan

yang sifatnya indikatif terdapat pada Bab V.

Pasal 4

Dalam rangka penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan

Belanja Daerah Tahun 2016 :

a.

Pemerintah

Daerah

Provinsi

Sulawesi

Selatan

menggunakan RKPD Tahun 2016 sebagai bahan acuan

pembahasan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan

Belanja Daerah dan Prioritas Plafon Anggaran

Sementara

Anggaran

Pendapatan

Belanja

Daerah

bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; dan

b.

SKPD menggunakan RKPD Tahun 2016 dalam

melakukan pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran

SKPD bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Pasal 5

(1)

SKPD membuat laporan kinerja triwulan dan tahunan

atas pelaksanaan rencana kerja dan anggaran yang

berisi uraian tentang keluaran kegiatan dan indikator

kinerja masing-masing program dan kegiatan.

(5)

(3)

Laporan

kinerja

menjadi

masukan

dan

bahan

pertimbangan bagi analisis dan evaluasi usulan

anggaran tahun berikutnya yang diajukan oleh SKPD

masing-masing.

Pasal 6

Kepala

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

menelaah kesesuaian antara rencana kerja dan anggaran

SKPD Tahun 2016 hasil pembahasan bersama Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah.

Pasal 7

Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal

diundangkan.

Agar

setiap

orang

mengetahuinya,

memerintahkan

pengundangan

Peraturan

Gubernur

ini

dengan

penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Sulawesi

Selatan.

Ditetapkan di Makassar

pada tanggal 24 Juni 2015

Diundangkan di Makassar

pada tanggal 24 Juni 2015

SEKRETARIS DAERAH PROVINSI

SULAWESI SELATAN,

(6)

BAB I. PENDAHULUAN ...

1

1.1. Latar Belakang ...

1

1.2. Dasar Hukum Penyusunan ...

2

1.3. Hubungan Antar Dokumen ...

3

1.4. Sistimatika Dokumen RKPD ...

4

1.5. Maksud dan Tujuan ...

6

BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN

KINERJA PENCAPAIAN PENYELENGGARAN PEMERINTAH ...

7

2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah ...

7

2.2. Evaluasi Kinerja Tahun Lalu ...

44

2.3. Permasalahan Pembangunan Derah ...

47

BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH ...

59

3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah ...

59

3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah ...

65

BAB IV. PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2016 ...

71

4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan ...

71

4.2. Prioritas Pembangunan Daerah ...

79

BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH ...

94

(7)

LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN

NOMOR

: 35 TAHUN 2015

TANGGAL

: 24 JUNI 2015

TENTANG

: RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SULAWESI

SELATAN TAHUN 2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah disusun berdasarkan Undang Undang

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan

Peraturan

Pemerintah

No.8

tentang

tahapan,

tatacara,

penyusunan,

pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang di

dalamnya mengatur tahapan tatacara, penyusunan, pengendalian dan evaluasi

pelaksanaan rencana pembangunan daerah, Rencana Kerja Pemerintah Daerah

Tahun

2016Pemerintah

Provinsi

Sulawesi

Selatansenantiasa

mempertimbangkan kondisi dan permasalan daerah, serta arah kebijakan

pembangunan tahun 2016.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2016, diarahkan untuk pencapaian sasaran program pembangunan yang

tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018. Dalam proses penyusunan

dokumen rencana tahunan ini dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu

pendekatan sinergitas perencanaan dari bawah dan perencanaan dari atas,

pendekatan partisipatif, politis dan teknokratis. Berlandaskan empat

pendekatan ini, Dokumen rencana tahunan ini merupakan penjabaran dari

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi

Selatan Tahun 2013-2018 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 10

Tahun 2013. Dalam menyusun RKPD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016 ini

selaras

dengan

Rencana

Kerja

Pemerintah,

dengan

senantiasa

mempertimbangkan kondisi dan permasalahan daerah, serta arah kebijakan

pembangunan tahun 2016 sebagaimana yang tertuang dalam RPJMD dan

Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

(RPJMN) Tahun 2015-2020.

Keberhasilan pelaksanaan salah satu arah kebijakan juga turut

menentukan keberhasilan agenda kebijakan lainnya. Dokumen RKPD sebagai

dokumen yang sifatnya lebih operasional memuat tema, prioritas RKPD dan

(8)

Vberupa matriks rencanaprogram dan kegiatan prioritas setiap Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD) disertai dengan pagu anggaran yang sifatnya indikatif.

Dokumen rencana pembangunan Tahunan ini, sekaligus menjadi

pedoman dalam proses penyusunan Rencana Kerja SKPD dan menjadi pedoman

sinergitas bagi setiap pelaku pembangunan. Memperhatikan perkembangan

lingkungan strategis Provinsi Sulawesi Selatan, maka titik berat pembangunan

Tahun 2016diarahkan pada upaya percepatan peningkatan posisi Sulawesi

Selatan sebagai pilar utama pembangunan nasional sesuai dengan potensi dan

peluang pada setiap Daerah Kabupaten/Kota. Posisi Sulawesi Selatan dalam

koridor 4 nasional berfokus pada peningkatan produksi komoditi unggulan

sektor pertanian, pengembangan industri utamanya industri pengolahan

hasil-hasil pertanian, pengembangan usaha mikro kecil dan menengah dalam

membuka peluang kesempatan kerja, serta peningkatan kualitas infrastruktur

wilayah

berlandaskan

pembangunan

berkelanjutan

yang

berwawasan

lingkungan. Dengan optimalisasi pelaksanaan prioritas pembangunan tersebut,

maka diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya

golongan ekonomi menengah kebawah dengan prinsip pemerataan yang

berkeadilan.

Dokumen ini sekaligus menjadi acuan dalam mensinergikan program dan

kegiatan antar Prioritas Pemeritah Daerah dengan program dan kegiatan

Pemerintah Kabupaten/Kota. Berdasarkan dengan cakupan proses tersebut,

maka RKPD Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai fungsi pokok;

1.

menjadi acuan bagi seluruh komponen masyarakat, karena memuat seluruh

kebijakan publik,

2.

menjadi pedoman dalam menyusun Renja-SKPD dengan melihat arah

kebijakan pembangunan daerah dalam satu Tahun kedepan,

3.

menciptakan kepastian Arah kebijakan dan Program Kegitan Prioritas, yang

merupakan komitmen Pemerintah daerah dengan pemangku kepentingan,

dan

4.

menjadi acuan dalam menyusun Kebijakan umum anggaran dan Prioritas

plafon anggaran sementara.

1.2 Dasar Hukum Penyusunan

Peraturan perundang

undangan yang melatar belakangi penyusunan

RKPD Provinsi Sulawesi selatan Tahun 2016 adalah sebagai berikut :

1.

Undang

Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

(9)

2.

Undang

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah

diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang

Undang Nomor 12 Tahun

2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang

Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor4844);

3.

Undang

Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

antara

Pemerintah

Pusat

dan

Pemerintahan

Daerah

(Lembaran

NegaraRepublik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

4.

Peraturan

Pemerintah

Nomor

6

Tahun

2008

tentang

Pedoman

EvaluasiPenyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4815);

5.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang

PedomanPengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan

PeraturanMenteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentangPerubahan

atasPeraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

6.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara

penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

7.

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaga Daerah Provinsi

Sulawesi Selatan Tahun 2006 Nomor 13 Tambahan Lembaran Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 230); sebagaimana diubah dengan

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2009 Nomor 6,

Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulwesi Selatan Nomor 248);

8.

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 02 Tahun 2010 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) Provinsi Sulawesi Selatan

1.3 Hubungan Antar Dokumen

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2016 merupakan dokumen perencanaan teknis operasional untuk kurun

waktu satu tahun yang merupakan lanjutan dokumen Rencana Tahunan

sebelumnya yang memuat rencana program dan kegiatan tahunan dan memuat

(10)

diharapkan memperlihatkan adanya keterkaitan antar satu dengan lainnya

dengan melihat target dan indikator sasaran masing-masing sehingga proses

pembangunan terwujud dalam suatu system yang terencana, terpadu dan

berkelanjutan.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara

Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Serta Kedudukan Keuangan Sebagai Wakil

Pemerintah diwilayah Provinsi. Besarnya distribusi keuangan didasarkan atas

distribusi kewenangan, tugas dan tanggung jawab masing-masing, memuat

hubungan antaradokuman Pemerintahpusat dengan Pemerintah daerah

tercermin dalam pembagian kewenangan, tugas dan tanggung jawab yang jelas

antar tingkat Pemerintahan antara lain termuatdi dalamnya. Demikian juga

Pola hubungan keuangan antara pusat dan daerah didasarkan atas 4 (empat)

prinsip, yaitu sebagai berikut.

1.

urusan yang merupakan tugas pusat di daerah dalam rangka dekonsentrasi

dibiayai dari dan atas beban APBN.

2.

urusan yang merupakan tugas Pemda sendiri dalam rangka desentralisasi

dibiayai dari dan atas beban APBD.

3.

urusan yang merupakan tugas Pusat atau Daerah tingkat atasnya, yang

dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan, dibiayai oleh Pusat atas

beban APBN atau oleh Pemda tingkat atasnya atas beban APBD sebagai

pihak yang menugaskan.

4.

sepanjang sumber-sumber keuangan daerah belum mencukupi, maka

Pemerintah Pusat memberikan sejumlah bantuan.

1.4 Sistematika Dokumen RKPD

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun 2016, disusun dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Menjelaskan tentang latar belakang Rencana Kerja Pemerintah Daerah

(RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016

1.2. Landasan Hukum

Menjelaskan dasar hukum yang digunakan dalam Rencana Kerja

Pemerintah

Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016.

1.3. Hubungan Antar Dokumen

Menjelaskan Sulawesi selatan Tahun 2016 dengan dokumen

dokumen

perencanaan lainnya.

(11)

Sistematika Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sulawesi

Selatan Tahun 2016.

1.5. Maksud dan Tujuan

Menjelaskan tentang maksud dan tujuan Rencana Kerja Pemerintah Daerah

(RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016.

BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN PENCAPAIAN

KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah

Menjelaskan

tentang

kondisi

terkini

berdasarkan

capaian

target

pembangunan

tahun 2013.

2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD sampai tahun berjalan

dan Realisasi RPJMD Menjelaskan realisasi, hasil capaian program dan

kegiatan yang direncanakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah

(RKPD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2016serta pencapaian indikator

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi

Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018.

2.3 Permasalahan Pembangunan;

Menjelaskan dan melakukan Identifikasi permasalahan berdasarkan hasil

evaluasi pelaksanaan pembangunan tahun 2013

BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN

KEUANGAN DAERAH

3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

Menjelaskan arah kebijakan pembangunan ekonomi nasional dan provinsi,

proyeksi dan tantangan pembangunan ekonomi tahun 2016

3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

Menjelaskan arah kebijakan pendapatan, belanja dan pembiayaan tahun

2016 serta pendanaan pembangunan lainnya.

BAB IV. PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2016

4.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan

Menjelaskan tujuan dan sasaran pembangunan tahun 2016

4.2 Prioritas Pembangunan Daerah;

Mengemukakan tentang prioritas pembangunan untuk tahun 2016, isu

strategis, serta prioritas program pembangunan daerah berdasarkan isu

strategis.

BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

Rincian program dan kegiatan prioritas RKPD Tahun 2016, instansi

pelaksana/SKPD indikator capaian masing

masing program dan kegiatan serta

(12)

BAB VI. PENUTUP

Menguraikan tentang hal

hal pokok yang termuat dalam keseluruhan

dokumen RKPD, sebagai pedoman bagi semua pihak dalam memfungsikan

sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Pada bagian ini juga

memuat antara lain:

a.

Keterpaduan dan sinkronisasi penyusunan program dan kegiatan di SKPD

dan Kabupaten/Kota

dengan

memperhatikan

Kewenagan

serta

peran/tanggung jawab/tugas SKPD;

b. Peranan stakeholder pembangunan dalam perencanaan, pelaksanaan,

pemantauan, dan evaluasi kebijakan, program, dan kegiatan RKPD;

c. Penegasan RKPD sebagai acuan penyusunan rencana kerja SKPD dan APBD;

d. Penegasan tentang kewajiban pemerintah daerah untuk mengevaluasi

pelaksanaan program RKPD.

1.5 Maksud dan Tujuan

Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) disusun dengan

maksud dan tujuan agar seluruh SKPD Provinsi menjadikan dokumen ini

sebagai acuan dalam menyusun Rencana Kerja Tahunan SKPD sebagaimana

Pasal 21 ayat(3) Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional serta Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun

2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi

Selatan. Diharapkan seluruh SKPD Provinsi Sulawesi Selataan dalam

menyusun

Renja-SKPD

senantiasa

mengacu

kepada

RKPD

dengan

memperhatikan dan mensinergikan beberapa hal sbb.:

1.

Arah dan Kebijakan Pemerintah Daerah dalam RPJMD dan RESTRA-SKPD;

2.

Tema dan Prioritas RKPD Provinsi;

3.

Indikator Kinerja yang ingin dicapai khusunya target dan indikator sasaran

program dan kegiatan yang ingin dicapai;

4.

Program dan Kegiatan telah disusun berdasarkan Skala Prioritas; dan

5.

Sasaran utama yang ingin dicapai dari setiap kegiatan dalam Renja-SKPD.

Seluruh komponen diatas merupakan satu kesatuan yang tidak

terpisahkan dan saling mendukung antara satu dengan lainnya, sehingga

diharapkan meningkatnya hasil pembangunan daerah signifikan terhadap

meningkatnya kesejahteraan masyaratakat didaerah Kabupaten dan Kota dalam

(13)

BAB II

EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN

KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

2.1. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1.1 Aspek Geografis dan Demografi

a) Karakteristik lokasi dan Wilayah

Provinsi Sulawesi selatan mempunyai luas wilayah seluas 45.764,53

KM persegi memiliki daerah administratif 21 kabupaten, 3 kota, 304 kecamatan

dan 2.953 desa/kelurahan.

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di

antara 0 12’

- 8 lintang selatan dan

116’48

-

122’ 36’

Bujur Timur, dengan batas wilayahnya meliputi : Provinsi

Sulawesi selatan berbatasan dengan provinsi Sulawesi barat di sebelah utara

dan teluk bone serta provinsi Sulawesi tenggara di sebelah timur serta sebelah

barat dan timur masing-masing dengan selat Makassar dan laut flores

Kondisi Topografi

Wilayah Sulawesi selatan membentang mulai dari daratan rendah hingga

dataran tinggi. Kondisi kemiringan tanah 0-3 persen merupakan tanah yang

relative datar, 3 sampai 8 persen merupakan tanah relative bergelombang, 8

sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agak curam, lebih dari

45 persen tanahnya curam dan bergunung. Wilayah daratan terluas berada

pada 400 hingga 1000 meter DPL

Geologi

Daerah Sulawesi Selatan termasuk ke dalam propinsi Busur Volkanik

Tersier Sulawesi Barat, yang memanjang dari Lengan Selatan sampai ke Lengan

Utara.Secara umum, busur ini tersusun oleh batuan-batuan plutonik-volkanik

berumur Paleogen- Kuarter serta batuan-batuan metamorf dan sedimen

berumur Tersier.Geologi Sulawesi Selatan bagian timur dan barat sangat

berbeda, di mana keduanya dipisahkan oleh Depresi Walanae yang berarah

UUB-SST.Secara struktural, Sulawesi Selatan terpisah dari anggota Busur Barat

Sulawesi lainnya oleh suatu depresi berarah UB-ST yang melintas di sepanjang

Danau Tempe (van Leeuwen, 1981). Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi

Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis

(14)

Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier, Sebaran formasi volkan tersier ini

relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju, daerah

Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf, Pegunungan

Perombengan sampai Palopo, dari Makale sampai utara Enrekang, di sekitar

Sungai Mamasa, Sinjai sampai Tanjung Pattiro, di deretan pegunungan sebelah

barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. Batuan volkan kwarter,

Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara), sekitar Gunung

Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa).

Hidrologi

Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar

67 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni 25

aliran sungai.Sungai terpanjang tercatat ada satu sungai yakni Sungai Saddang

yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang dan, Pinrang.Panjang sungai

tersebut masing-masing 150 km. Di Sulawesi Selatan terdapat empat danau

yakni Danau Tempe dan Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo, serta danau

Matana dan Towuti yang berlokasi di Kabupaten Luwu Timur.

Klimatologi

Propinsi Sulawesi Selatan pada umumnya sama dengan daerah lain yang

ada di Indonesia, mempunyai dua musim yaitu musim kemarau yang terjadi

pada bulan Juni sampai September dan musim penghujan yang terjadi pada

bulan Desember sampai dengan Maret. Berdasarkan pengamatan ditigal Stasiun

Klimatologi (Maros, Hasanuddin dan Maritim Paotere) selama tahun 2010

rata-rata suhu udara 27,4 C di Kota Makassar dan sekitarnya tidak menunjukkan

perbedaan yang nyata. Suhu udara maksimum di stasiun klimatologi

Hasanuddin 32,1 C dan suhu minimum 24,0 C. Berdasarkan klasifikasi tipe

iklim menurut oldeman, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim, yaitu

Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata

3500-4000 mm/Tahun. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah

Kabupaten Enrekang, Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur.Tipe Iklim B, iklim

basah dimana curah hujan rata-rata 3000-3500 mm/tahun.Wilayah tipe terbagi

2 tipe yaitu (B1) meliputi kab.Tana toraja, Luwu utara, Luwu timur.Tipe B2

meliputi Gowa, Bulukumba dan Bantaeng, tipe C termasuk iklim agak basah

dimana curah hujan rata-rata 2500-3000 mm/tahun.Tipe iklim C terbagi 3 yaitu

iklim tipe C1 meliputi kabupaten Wajo, Luwu dan Tana toraja.Iklim C2 meliputi

Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, Barru, Pangkep, Enrekang, Maros dan

Jeneponto. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar, Bulukumba

Jeneponto, Pangkep, Barru, Maros, Sinjai, Gowa, Enrekang, Tana toraja,

Pare-pare, Selayar. Tipe iklim D dengan curah hujan rata-rata 2000-2500 MM/tahun.

(15)

kabupaten Wajo,Bone, Soppeng, Luwu, Tana toraja dan Enrekang. Wilayah yang

termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari kabupaten Wajo, Bone, Soppeng, Sinjai,

Luwu, Enrekang dan Maros. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi

Kabupaten Bulukumba, Gowa, Pangkep, Jeneponto, Takalar, Sinjai dan kota

Makassar. Tipe iklim E dengan curah hujan rata-rata antara 1500-2000

mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering.Tipe iklim E1

terdapat di Kabupaten Maros, Bone dan Enrekang, Bantaeng dan Selayar.

b) Potensi Pengembangan Wilayah

Rencana struktur ruang provinsi Sulawesi Selatan dibangun dengan

beberapa pusat kegiatan seperti pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah

pusat, kegiatan lokal maupun sub pusat kegiatan lokal, serta kawasan

perkotaan berupa kota, ibukota kabupaten, ibukota kecamatan dan kawasan

pusat pertumbuhan industri dan perdagangan yang padat dengan kegiatan

perkotaan dan fasilitas permukiman.

Pusat Kegiatan Nasional (PKN) provinsi Sulawesi Selatan adalah Kawasan

Metropolitan Mamminasata yang terdiri dari Kota Makassar, Kota Maros, Kota

Sungguminasa, dan Kota Takalar. Mamminasata berfungsi sebagai pusat jasa

pelayanan perbankan yang cakupan pelayanannya berskala nasional, pusat

pengolahan dan atau pengumpul barang secara nasional khususnya KTI,

menjadi simpul transportasi udara maupun laut skup pelayanan nasional, pusat

jasa publik lainnya seperti pendidikan tinggi dan kesehatan yang skup

pelayanannya nasional khususnya KTI, berdaya dorong pertumbuhan wilayah

sekitarnya, dan menjadi pintu gerbang internasional terutama jalur udara dan

laut. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) adalah Kota Palopo, Watampone di

Kabupaten Bone, Parepare, Barru, Pangkajene, Jeneponto, dan Bulukumba,

serta arahan pengembangan Kabupaten Selayar untuk menjadi PKW sebagai

pusat distribusi kebutuhan bahan pokok KTI. PKW minimal berfungsi sebagai;

pusat jasa pelayanan keuangan/perbankan yang melayani beberapa kabupaten,

pusat pengolahan/pengumpul barang yang melayani beberapa kabupaten,

simpul transportasi yang melayani beberapa kabupaten, simpul transportasi

yang melayani beberapa kabupaten, serta pusat pelayanan publik lainnya untuk

beberapa kabupaten. Ibukota kabupaten yang tidak termasuk sebagai PKW atau

dalam PKN Mamminasata akan menjadi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang

berfungsi sebagai pusat pengolahan atau pengumpulan barang yang melayani

kabupaten dan beberapa kecamatan kabupaten tetangga, sebagai simpul

transportasi yang melayani kabupaten dan beberapa kecamatan tetangga,

sebagai jasa pemerintahan kabupaten, serta sebagai pusat pelayanan publik

lainnya untuk kabupaten dan beberapa kecamatan tetangga. PKL di

(16)

Enrekang, Pangkajene, Sengkang, Soppeng, Sinjai, Bantaeng, Watansawitto,

Belopa, Benteng, dan Pamatata.

Berdasarkan PP 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, terdapat Kawasan

Andalan yang berfungsi sebagai; tempat aglomerasi pusat-pusat permukiman

perkotaan, pusat kegiatan produksi dan atau pusat pengumpulan/pengolahan

komoditas wilayahnya dan wilayah sekitarnya, dan kawasan yang memiliki

sector-sektor unggulan berdasarkan potensi sumber daya alam kawasan.

Adapun kawasan andalan di wilayah provinsi Sulawesi Selatan adalah :

a.

Mamminasata dan sekitarnya (Makassar, Maros, Gowa, Takalar, Pangkep)

dengan sektor unggulan pariwisata, pertanian, perikanan, industry umum,

dan agroindustri serta perdagangan;

b.

Palopo dan sekitarnya dengan sektor unggulan pariwisata, perkebunan,

pertanian, dan perikanan.

c.

Bulukumba-Watampone dan sekitarnya dengan sektor unggulan pertanian,

perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan.

d.

Parepare dan sekitarnya dengan sektor unggulan pertanian, perkebunan,

perikanan, agroindustri dan perdagangan.

e.

Kawasan laut Kapoposang dan sekitarnya dengan sektor unggulan perikanan

dan pariwisata.

f.

Kawasan laut Teluk Bone dan sekitarnya dengan sektor unggulan perikanan,

pariwisata dan pertambangan.

g.

Kawasan laut Singkarang-Takabonerate dan sekitarnya dengan sektor

unggulan perikanan dan pariwisata.

h.

Kawasan laut Selat Makassar dengan sektor unggulan perikanan dan

pariwisata.

Selain itu, terdapat kawasan yang diarahakan sebagai wilayah yang dapat

dibudidayakan dan difungsikan untuk kepentingan pembangunan dalam bentuk

kegiatan usaha berbagai sektor dan atau sub sektor pembangunan.

Pada sektor pengembangan pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan

peternakan hewan besar, provinsi Sulawesi Selatan diarahkan pada

pengembangan beberapa komuditas unggulan berupa Padi Sawah, Padi

Ladang/Tadah Hujan, Jagung, Kako, kelapa Sawit, Kopi Robusta, Jambu Mete,

Jarak, dan Sapi yang tersebar ke seluruh kabupaten kota yaitu; Kapupaten

Bantaeng luar area 16.044,24 ha, Kabupaten Barru (18.195,73 ha), Kabupaten

Bone (203.883,63 ha), Kabupaten Bulukumba (69.772,85 ha), Kabupaten

Enrekang (16.525,21 ha), Kabupaten Gowa (41.249,14 ha), Jeneponto

(39.238,05 ha), Luwu (66.279,81 ha), Luwu Timur (55.563,72 ha), Luwu Utara

(124.095,96 ha), Kota Makassar (5.465,20 ha), Kabupaten Maros (48.593,69 ha),

Kota Palopo (6.032,93 ha), Kabupaten Pangkep (30.352,96 ha), Kota Parepare

(4.268,30 ha), Kabupaten Pinrang (76.445,75 ha), Kabupaten Selayar (34.311,28

(17)

Kabupaten Soppeng (50.520,92 ha), Kabupaten Takalar 39.663,68 ha,

Kabupaten Tana Toraja (3.421,02 ha), Kabupaten Toraja Utara (1.857,66 ha),

dan Kabupaten Wajo dengan luas area 183.907,44 ha. Untuk pengembangan

perikanan, provinsi Sulawesi Selatan mengarahkan pengembangan pada

komoditi unggulan Udang Windu. Lokasi diarahkan terdapat pada 5 Kabupaten

yaitu; Kabupaten Barru seluas 2.860,74 ha atau sebesar 6,77%, Kabupaten

Pangkep (8.307.12 ha) atau 19,67%, Kabupaten Bone (8.401,13 ha) atau

19,89%, Kabupaten Wajo (9.100,43 ha) atau 21,55%, dan Kabupaten Pinrang

seluas 13.559,01 atau 32,11%.

Untuk kawasan pertambangan, terdapat 8 blok wilayah pertambangan

minyak yang potensil yaitu; Blok Segeri Barat, Blok Bone, Blok Sidrap, Blok

Enrekang, Blok Bone Utara, Blok Kambuno, Blok Karaengta dan Blok Selayar.

Diarahkan eksplorasi tambang minyak ini menyebabkan daya ungkit

perekonomian wilayah Sulawesi Selatan dan sekaligus meningkatkan ekonomi

rakyat melauli kebijakan

Coorporate Social Responsibility (CSR)

, serta harus

dipikirkan pembangunan sumber pendapatan baru dari hasil keuntungan

penambangan ini, serta revitalisasi fungsi lingkungan pasca tambang. Bahan

tambang galian potensiil lainnya seperti; Besi, Emas, Emas Plaser, Kromit,

Mangan, Timbal, Nikel, Pasir Besi, Tembaga, Seng, Batubara, Batubara Muda,

Basal, Dolomit, Andesit, Batuapung, Kaolin, Marmer, Jasper, Gipsum, Pasir

Kuansa, Pasir dan Sirtu, Tras dan Zeolit yang juga tersebar di seluruh wilayah

Provinsi Sulawesi Selatan dapat dimanfaatkan apabila mampu meningkatkan

perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan

ekonomi sekitarnya, meningkatkan fungsi lindung, meningkatkan upaya

pelestarian kemampuan sumber daya alam, meningkatkan pendapatan

masyarakat, meningkatkan pendapatan daerah dan nasional, menciptakan

kesempatan kerja, meningkatkan ekspor, serta meningkatkan kesejahteraan

rakyat.

Berdasarkan potensi sumber daya alam baik berupa komoditas pertanian

maupun pertambangan dan posisi geografis wilayah Provinsi Sulawesi Selatan,

serta mempertimbangkan pemerataan kesejahteraan antar wilayah dan antar

lapisan masyarakat, maka selain kawasan industri besar juga diarahkan

tumbuh dan berkembangnya kawasan-kawasan industri kecil di sentra-sentra

produksi yang berorientasi ke pengembangan industri rakyat sebagai komunitas

lokal.

Kawasan

industri

pengolahan

yang

bersifat

umum

diarahkan

pembangunannya terpadu dan berada di pusat kegiatan nasional serta

pusat-pusat kegiatan wilayah yang mempunyai aksesibilitas pelabuhan laut tinggi

seperti;

Mamminasata,

Bulukumba,

Watampone,

Pangkep,

Barru,

Parepar.Kawasan industri initerutama diarahkan untuk mengolah

barang-barang setengah jadi terutama hasil agroindustri rakyat.Selain itu juga dibuka

(18)

bakunya di sentra pertambangan seperti pabrik semen, marmer di Maros dan

pangkep, serta pabrik pengolahan nikel di Sorowako.Kawasan perdagangan juga

diarahkan tumbuh berkembang terpadu dengan pengembangan kawasan

industri lokal di sentra-sentra produksi di seluruh wilayah provinsi Sulawesi

Selatan.Kawasan perdagangan ukuran sedang diarahkan berkembang di

ibukota-ibukota kabupaten, sedangkan kawasan perdagangan skala besar

diarahkan

pada

Pusat

Kegiatan

Nasional

dan

Pusat

Kegiatan

Wilayah.Pembangunan kawasan perdagangan diarahkan perencanaannya

terpadu dengan fasilitas pendukungnya seperti; perkantoran swasta, perbankan,

pertokoan, hotel dan restoran, terminal bis pembantu, pergudangan dan

lainnya.

Pada sektor pariwisata, berbagai aspek seperti daya tarik keindahan alam

darat maupun laut, budaya, sejarah, olahraga, konvensi, dan belanja bisa

dijadikan tujuan.Secara umum obyek wisata budaya dan alam Tanah Toraja

merupakan

ikon

pariwisata

Sulawesi

Selatan

yang

sudah

dikenal

mendunia.Taman laut Takabonerate juga sangat potensil untuk menjadi ikon

wisata bahari dengan mengembangkan faktor aksesibilitas, akomodasi, dan

perlindungan terumbu karang dan anak-anak ikan. Selain itu, banyak ragam

obyek wisata dengan daya tarik regional, nasional maupun lokal yang lokasinya

tersebar di kabupaten-kabupaten dan kota di wilayah Sulawesi Selatan yang

dapat dikembangkan secara aktif sehingga tumbuh berkembangnya lapangan

kerja pemandu wisata, jasa transportasi, perhotelan, restoran, informasi

pariwisata, komunikasi, cindera mata, kesenian, serta perdagangan jasa

maupun produk lainnya yang bermuara pada peningkatan ragam sumber dan

volume pendapatan masyarakat lokal. Pengembangan pariwisata ini diharapkan

tidak menurunkan kualitas lingkungan dan terganggunya habitat berbagai flora

dan fauna.

Selain itu, pemanfaatan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil

merupakan salah satu faktur urgen yang harus dipertimbangkan, daya dukung

fisik, sosial, ekonomi, dan budaya perlu diperhatikan dengan; menyediakan

ruang untuk kehidupan manusia yang sehat dan nyaman beserta segenap

kegiatan pembangunannya, menyediakan sumber daya alam untuk kepentingan

manusia baik melalui penggunaan langsung maupun melauli proses produksi

atau pengolahan, menyerap atau menetralisir limbah, serta melakukan

fungsi-fungsi penunjang kehidupan termasuk siklus biogeokimia, silus hidrologi dan

lainnya. Mengacu pada azas keadilan, maka akses transportasi laut dan

terutama akses informasi dan komunikasi perlu dipertimbangkan sampai ke

seluruh pulau-pulau kecil.Perairan pantai selatan dan pantai timur Sulawesi

Selatan yang potensiil sebagai budidaya rumput laut dapat dikembangkan

dengan agrobisnis maupun agroindustri khusus rumput laut yang mengikut

(19)

rakyat dan perekonomian wilayah, maka wisata bahari tepat dikembangkan

dengan potensi Kawasan Wisata Bahari Kapoposang dan sekitarnya, termasuk

pulau-pulau di wilayah Kota Makassar dan Kabupaten Takalar, kawasan WIsata

Bahari pulau-pulau kecil di Kabupaten Sinjai, serta Kawasan Wisata Bahari

Takabonerate. Perairan pantai bila diperlukan juga dapat direklamasi untuk

penambahan luas daratan untuk pembangunan dan atau perluasan pelabuhan,

bandara, kawasan perkotaan seperti permukiman, perdagangan, industri, dan

pergudangan.

c) Wilayah Rawan Bencana

Berdasarkan sejarah bencana alam dan peta garis sesar gempa dari BMG

Makassar, beberapa bagian wilayah Sulawesi Selatan rawan terhadap bencana

alam seperti Tsunami di pantai Kabupaten Pinrang, longsor di kaki Gunung

Bawakaraeng, banjir di Kabupaten Sinjai, sebagian Kota Makassar, Maros,

Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Kawasan Danau Tempe, Enrekang, serta

daerah rawan gempa di sepanjang garis sesar gempa yang membujur dari

Kabupaten Selayar, Bulukumba, Soppeng, Sidrap, Enrekang, dan Kabupaten

Tana Toraja.

Beberapa kawasan yang diidentifikasi berpotensi rawan bencana alam di

Provinsi Sulawesi Selatan menurut prioritas penanganannya meliputi :

1.

Kawasan rawan gempa bumi terutama di sebagian besar wilayah Sulawesi

Selatan meliputi kawasan pusat gempa Taccipi dan sekitar Watampone

Kabupaten Bone, sekitar pantai di Kabupaten Pinrang dan sekitar wilayah

Kabupaten Tana Toraja, Luwu, Luwu Utara, serta Enrekang.

2.

Kawasan rawan banjir terutama di wilayah Allu, Topa, Tamalatea, Binamu,

Arungkeke dan Batang di Kabupaten Jeneponto, wilayah Maros Baru,

Marusu, dan Bantimurung di kabupaten Maros, wilayah Labbakkang dan

Bungoro di kabupaten Pangkep, wilayah Bissapu dan Kota Bantaeng di

kabupaten Bantaeng, wilayah Gangking, Ujung Bulu, Ujung Loe di

Kabupaten Bulukumba, wilayah Sinjai Timur dan Sinjai Utara di Kabupaten

Sinjai, wilayah Kajuara, Cina dan Sibulue di Kabupaten Bone,wilayah

Duampanua di Kabupaten Pinrang, Baebunta dan Malangke Barat di

Kabupaten Luwu, serta wilayah Wotu dan Angkona di Kabupaten Luwu

Timur.

3.

Kawasan rawan gerakan tanah atau longsor terutama di wilayah Kelara, dan

Rumbia di Kabupaten Jeneponto, wilayah Sinoa, Bulu Ere, Tompo Bulu dan

Eremerasa di Kabupaten Bantaeng, wilayah Rindang, Rialau Ale dan

Bulukumpa di Kabupaten Bulukumba, wilayah Sinjai Barat, Sinjai Borong,

Sinjai Selatan, Tellu Limpoe, Sinjai Tengah dan Bulupoddo di Kabupaten

Sinjai, wilayah Buntucani, Kajuara di Kabupaten Bone, wilayah Mangkutana

(20)

Kawasan potensi tsunami, terdapat di sekitar pantai wilayah Kabupaten

(21)

d) Demografi

Jumlah penduduk Sulawesi Selatan dari tahun ke tahun mengalami

peningkatan dimana pada tahun 2009 jumlah penduduk daerah ini tercatat

mencapai 7,91 juta jiwa dan pada tahun 2013 yang ditunjukkan tabel diatas,

penduduk telah mengalami peningkatan menjadi 8,34 juta jiwa. Peningkatan

tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk Sulawesi selatan dalam

kurun waktu terakhir telah bertambah kurang lebih 433 ribu jiwa lebih.

Tabel 2.1

Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2013

Kabupaten/Kota

Tahun

2009

2010

2011

2012

2013

01.Selayar

121.749

122.055

123,283

124.563

127.220

02.Bulukumba

394.746

394.560

398,531

400.990

404.896

03.Bantaeng

174.176

176.699

178,477

179.505

181.006

04.Jeneponto

334.175

342.700

346,149

348.138

351.111

05.Takalar

257.974

269.603

272,316

275.034

280.590

06.Gowa

617.317

652.941

659,512

670.465

696.096

07.Sinjai

228.304

228.879

231,182

232.612

234.886

08.Maros

306.687

319.002

322,212

325.401

331.796

09.Pangkep

298.701

305.737

308,814

311.604

317.110

10.Barru

162.985

165.983

167,653

168.034

169.302

11.Bone

711.748

717.682

724,905

168.034

734.119

12.Soppeng

230.744

223.826

226,079

226.202

225.512

13.Wajo

381.066

385.109

388,985

389.552

390.603

14.Sidrap

252.483

271.911

274,648

277.451

283.307

15.Pinrang

351.042

351.118

354,652

357.095

361.293

16.Enrekang

190.576

190.248

192,163

193.683

196.394

17.Luwu

328.180

332.482

335,828

338.609

343.793

18.Tator

240.249

221.081

223,306

224.523

226.212

19.LuwuUtara

321.979

287.472

290,365

292.765

297.313

20.LuwuTimur

237.354

243.069

245,515

250.608

263.012

21.TorajaUtara

229.090

216.762

218,943

220.304

222.393

22.Makassar

1.271.870 1.338.663 1,352,136 1.369.606 1.408.072

23.Pare-Pare

118.842

129.262

130,563

132.048

135.192

24.Palopo

146.482

147.932

149,421

152.703

160.819

Provinsi

7.908.519 8.034.776 8,115,638 8.190.222 8.342.047

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Selatan

Proporsi penduduk Sulawesi Selatan yang berusia 15 tahun keatas yang

di tunjukkan pada tabel diatas, menunjukkan bahwa pergeseran tenaga kerja

menurut lapangan usaha ini menandai pergeseran atau transformasi struktur

perekonomian Sulawesi Selatan.Berdasarkan kondisi tersebut diatas nampak

bahwa telah terjadi sedikit pergeseran dari sektor pertanian ke sektor jasa

jasa

walaupun hingga saat ini sektor pertanian masih mendominasi penyerapan

(22)

Tabel 2.2

PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS YANG BEKERJA

MENURUT LAPANGAN USAHA DI SULAWESI SELATAN TAHUN 2009 -2013

No Lapangan Usaha

2009

2010

2011

2012

2013

1

Pertanian

1.588.626

1.572.479

1.469.245

1.475.783

1.423.086

2

IndustriPengolahan 214.668

197.342

223.246

225.880

196.160

3

Perdagangan,

Hotel,

dan

Restoran

636.714

803.655

654.516

614.082

603.950

4

Jasa

jasa

362.460

499.938

575.863

574.976

599.013

5

Lainnya

419.788

398.951

452.628

461.187

464.070

TOTAL

3.222.256

3.272.365

3.375.498

3.351.908

3.291.280

Sumber : BPS Prov Sulsel

2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

1.Kondisi umum Kesejahteraan masyarakat

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator pembangunan

sulawesi selatan merupakan tolak ukur pembangunan suatu wilayah

pada kurun tahun 2012-2013 mengalami peningkatan,

berdasarkan angka estimasi dari Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi

selatan

pada tahun 2013

capaian IPM

Provinsi Sulawesi

selatan 73,28 dan tahun 2012 sebesar 72,70. Angka IPM Sulawesi selatan

masih dibawah IPM Nasional (73,81) namun setiap tahun, selalu mengalami

peningkatan seperti halnya IPM Nasional

Komponen pendidikan ;

Angka indeks pendidikan Sulawesi Selatan selalu berada di bawah

nasional. Pada tahun 2012 indeks pendidikan Sulawesi selatan hanya berkisar

76,82 dan nasional 80,13 sedangkan tahun 2013 indeks pendidikan Sulawesi

selatan sebesar 77,59 dan Nasional sebesar 80,85. Peningkatan indeks

komponen pendidikan diakibatkan oleh peningkatan dua komponen yaitu;

indeks Rata-rata lama bersekolah & angka melek huruf. Angka indeks rata-rata

lama bersekolah penduduk usia 15 tahun ke atas untuk provinsi Sulawesi

selatan pada tahun 2013 sebesar 8,01 tahun artinya bahwa rata-rata

pendidikan sekolah menengah pertama apabila dibandingkan dengan tingkat

nasional 8,14 tahun, namun satu hal menggembirakan bahwa angka rata-rata

lama bersekolah penduduk Sulawesi selatan terus mengalami peningkatan,

walwpun tidak terlalu tinggi. Sedangkan komponen indeks angka melek huruf

menggambarkan besarnya penduduk berumur 15 tahun keatas yang dapat

membaca dan menulis dengan huruf latin/arab/lokal.Di Sulawesi selatan pada

tahun 2012 mereka yang melek huruf sebesar 93,25 dan meningkat menjadi

(23)

94,14. Apabila angka tersebut dibandingkan dengan tingkat nasional maka

terlihat angka melek huruf Sulawesi selatan relatif lebih rendah (sumber;analisis

IPM Sulawesi selatan).

Indeks kesehatan sulawesi selatan pada tahun 2012 mencapai 75,75 dan

tahun 2013 mencapai 76,00. Komponen kesehatan mengalami peningkatan

sebagai dampak dari meningkatnya angka harapan hidup (AHH) pada tahun

2013 mencapai 70,60 dan tahun 2012 yaitu 70.45

2.1. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi (Bid. ekonomi)

2.2. Kesejahteraan Sosial

Tabel 2.3

Angka Melek Huruf Provinsi Sulawesi Selatan 2009 - 2013

Sumber :BPS Prov Sulsel

Tidak jauh berbeda dengan rata-rata lama sekolah nasional, selisih

Angka Melek Huruf penduduk Sulawesi Selatan jika dibanding rata-rata

nasional masih menunjukkan kesenjangan, dimana pada tahun 2010 angka

melek huruf pendudukSulawesi Selatan mencapai 87,75 persen sementara

rata-rata nasional sebesar 92,91 persen. Dalam kurun waktu empat tahun yakni

pada tahun 2012 indikatorpendidikan tersebut telah mencapai 88,73 persen di

Sulawesi Selatan sementara secara nasional telah mencapai 93,25 persen.

Kemudian pada tahun 2013 angka melek huruf di daerah ini akan mengalami

peningkatan menjadi 89,69 persen sementara nasional akan mencapai 94.14

persen (tabel).

Penduduk Sulawesi Selatan yang berusia 15 tahun ke atas yang melek

huruf dalam lima tahun terakhir ini terus mengalami peningkatan. Pada tahun

2010 penduduk Sulsel yang melek huruf sebesar 87,75 persen, dan pada tahun

2011 angka melek huruf Sulawesi Selatan meningkat sebesar 88,07 persen atau

No Bidang/Urusan

Tahun

2009

2010

2011

2012

2013*

1

Jumlah

Penduduk Usia

Di

atas

15

Tahun

yang

bisa

membaca

menulis

4.942.743

4.885.570

4.946.636

5.008.398

5.142.608

2

Jumlah

Penduduk Usia

15

Tahun

ke

atas

5.660.624

5,567.601

5.616.709

1.334.461

5.733.758

Nasional

92,6

92,91

92,99

93.25

94.14

Prov. Sulawesi

(24)

hanya naik sebesar 0,36 poin dibanding tahun 2010 yang hanya sebesar 87,75

persen, Kemudian pada tahun 2011 meningkat menjadi 88,07 persen atau

hanya naik sebesar 0,33 poin, dibandingkan tahun 2010, dan pada tahun 2012

meningkat menjadi 88,73 persen atau naik sebesar 0,75 poin dari tahun

sebelumnya yakni tahun 2011, dan pada tahun 2013 angka melek huruf

penduduk Sulawesi Selatan naik sebesar 89,69 persen atau meningkat 1,61

poin dari tahun 2012. Besar harapan bahwa beberapa tahun yang akan datang

data mewujudkan Sulawesi Selatan yang bebas buta aksara.

Angka melek huruf menurut kabupaten/kota, sebagaimana tabel di bawah ini

daerah yang mempunyai persentase paling tinggi angka melek hurufnya pada

tahun 2013 di miliki oleh daerah perkotaan yaitu Kota Makassar, Palopo, dan

Pare

pare dengan angka melek huruf masing

masing sebesar 97.83;97.45

serta 97.36. Sedangkan kabupaten/kota yang memiliki angka melek huruf

terendah yaitu Kabupaten Takalar (84.69), Gowa (83.11) dan Bantaeng (81.40)

Tabel. 2.4

Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2013

No Kabupaten/Kota 2009

2010

2011

2012

2013

1

Kep.Selayar

89,2

89.23

90.86

91.88

91.76

2

Bulukumba

85,4

85.35

85.45

85.26

88.23

3

Bantaeng

77,5

78.98

79.03

80.10

81.40

4

Jeneponto

77,2

77.27

77.31

77.42

78.92

5

Takalar

80,8

81.80

81.85

83.10

84.69

6

Gowa

80,3

81.92

82.32

82.50

83.11

7

Sinjai

86,5

86.45

86.59

87.71

88.44

8

Maros

82,9

82.97

83.1

83.98

85.52

9

Pangkep

86,9

87.55

87.59

88.82

90.21

10 Barru

88,5

89.23

89.25

89.31

89.55

11 Bone

84,9

84.86

86.41

87.88

89.04

12 Soppeng

85,1

86.67

86.71

86.99

88.74

13 Wajo

82,7

83.53

84.97

84.99

85.62

14 Sidrap

89,6

89.63

89.77

89.90

90.25

15 Pinrang

89,7

89.9

91.48

91.63

91.99

16 Enrekang

90,4

90.44

90.49

91.26

91.35

17 Luwu

91,5

91.48

91.63

91.70

91.82

18 Tana Toraja

85,5

86.28

87.76

88.94

90.14

19 LuwuUtara

92,1

92.36

92.86

92.99

93.11

20 LuwuTimur

93.2

93.24

93.28

93.43

93.87

21 TorajaUtara

83

83.8

83.83

85.85

87.38

22 Makassar

96.7

96.79

96.82

96.88

97.83

23 Pare-Pare

97.1

97.16

97.17

97.33

97.36

(25)

SulawesiSelatan 87

87.75

88.07

88.37

89.69

Nasional

92.6

92.91

92.99

93.25

94.14

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Selatan

Angka Partisipasi sekolah

Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan persentase penduduk yang

bersekolah menurut kelompok umur tertentu. APS merupakan ukuran daya

serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS yang tinggi

menunjukkan tingginya partisipasi sekolah dari usia tertentu.

Tabel di bawah ini memperlihatkan perkembangan APS menurut

kelompok umur pada tahun 2012 dan 2013.Secara umum, partisipasi sekolah

mengalami peningkatan dari tahun ketahun pada setiap kelompok umur. APS

penduduk usia 7

12 tahun pada tahun 2012 sebesar 97,59 persen, meningkat

menjadi 98,11 pada tahun 2013. Peningkatan APS juga terjadi pada kelompok

umur 13

15 tahun, dari 87,69 persen pada tahun 2012 menjadi 89,53 persen

pada tahun2013. APS kelompok umur 16

18 tahun pada tahun 2012 sebesar

61,60 persen dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 62,11 persen.

Tabel 2.5

Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan

Menurut Kelompok Umur, 2012 dan 2013

Kelompok Umur

2012

2013

(1)

(2)

(3)

7 -12

97,59

98,11

13

15

87,69

89,53

16

18

61,60

62,11

Sumber ;BPS Provinsi Sulsawesi Selatan.

Angka Harapan Hidup

Angka harapan hidup adalah rata-rata lama hidup penduduk di suatu

daerah.Angka harapan hidup merupakan salah satu indikator keberhasilan

suatu daerah dalam pembangunan kesejahteraan rakyat di suatu daerah

terutama di sektor kesehatan.Angka harapan hidup juga dijadikan salah satu

komponen Indeks Pembangunan Manusia selain pendidikan dan ekonomi.

Angka harapan hidup adalah rata-rata lama hidup penduduk di suatu

daerah.Angka harapan hidup merupakan salah satu indikator keberhasilan

suatu daerah dalam pembangunan kesejahteraan rakyat di suatu daerah

terutama di sektor kesehatan.Angka harapan hidup juga dijadikan salah satu

komponen Indeks Pembangunan Manusia selain pendidikan dan ekonomi.

Menurut sensus penduduk yang dilakukan BPS, Angka Usia Harapan

Hidup di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan. Perkembangan

angka usia harapan hidup Sulawesi Selatan berdasarkan sensus penduduk yang

(26)

Tabel 2.6

Angka Usia Harapan Hidup

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2013

No Bidang Urusan

Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1

Angka

usia

harapan

hidup

69,80 70,00 70,20 70,45 70,60

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Selatan

Penurunan Angka Kematian Bayi. Berdasarkan pelaporan rutin yang

dilakukan Dinas Kesehatan, hingga tahun 2011 angka kematian bayi (IMR) di

Sulawesi Selatan rata-rata mencapai 6 kasus setiap 1.000 kelahiran, hal ini

terlihat pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 turun menjadi 5 kasus

setiap 1.000 kelahiran. Dan diperkirakan angka kematian bayi di daerah ini

akanmengalami penurunan mencapai 5 kasus setiap 1.000 kelahiran.

Tabel. 2.7

Angka Kematian bayi (per 1000 kelahiran)

Di Sulawesi Selatan 2009

2013

No.

Tahun

Jumlah Kasus

1

2009

6

2

2010

6

3

2011

6

4

2012

5

5

2013

5

Sumber : Dinas Kesehatan

Demikian pula dengan Angka Kematian Ibu, berdasarkan data yang

dipublikasikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, tingkat

kematian ibu melahirkan di Sulawesi Selatan dalam kurun waktu 2009-2013

menunjukkan penurunan. Pada tahun 2009 angka kematian ibu di daerah ini

mencapai 80 kasus setiap 100.000 kelahiran dan hingga tahun 2012 kasus yang

terjadi mengalami penurunan menjadi 73 kasus, dan diharapkan pada tahun

2013 kasus yang (tabel- )

Tabel. 2.8

Angka Kematian Ibu (per 100.000 kelahiran hidup)

Di Sulawesi Selatan 2009 – 2013

NO

Tahun

Jumlah Kasus

1

2009

80

2

2010

79

3

2011

76

4

2012

73

5

2013

71

Sumber : Dinas Kesehatan

Adapun prevalensi gizi kurang pada anak balita, menunjukkan prevalensi

gizi kurang di Sulawesi Selatanmasih sedikit berfluktuasi. Hal ini dapat dilihat

pada tabel yakni dari 13,5 persen prevalensi gizi kurang pada tahun 2009

menjadi 15 persen pada tahun 2012, dan diperkirakan pada tahun 2013

Gambar

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota
Tabel 2.3
Tabel. 2.4
Tabel di bawah ini memperlihatkan perkembangan APS menurut
+7

Referensi

Dokumen terkait

bahwa untuk melaksanakan Pasal 26 ayat (2) Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional maka dalam rangka memberikan pedoman

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 26 ayat (2) Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perlu menetapkan

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 26 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Pasal 264

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, ketentuan Pasal 264 ayat (1)

bahwa untuk melaksanakan Pasal 5 ayat (2) Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Pasal 263 ayat (4) dan Pasal 264 ayat (2)

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Pasal 23 ayat (1)

bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 26 ayat 2 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,Pasal 263 ayat 4 dan Pasal 264 ayat 2

bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 26 ayat 2 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional serta Pasal 263 ayat 4 dan Pasal 264 ayat 2