• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PROFIL S.M. KARTOSOEWIRJO

Pada bab ini, akan dipaparkan profil tentang Kartosoewirjo. Kita tentu perlu tahu

bagaimana latar belakang Kartosoewirjo mulai dari keluarga, lingkungan,

pendidikan dan kondisi sosial yang menyelimuti Kartosoewirjo sehingga kita bisa

melihat apa – apa yang mendasari gerakan sosial yang dilakukan oleh

Kartosoewirjo. Selain itu latar belakang kehidupan Kartosoewirjo juga tentunya

mempengaruhi dalam pembentukan karakter pribadinya.

A. Masa Kecil Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, lahir di Cepu pada tanggal 7 Januari 1905.27

Cepu merupakan sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi

daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah.

Untuk bisa lebih memahami karakter Kartosoewirjo, akan lebih mudah bila kita

memahami bagaimana kondisi sosial politik yang terjadi di Indonesia pada waktu

itu yang tentu saja kondisi itu akan mempengaruhi perkembangan karakter

Kartosoewirjo itu sendiri. Dalam hal ini, saya akan menggunakan pendekatan

sejarah alternatif (alternative history) untuk melihat kondisi di Indonesia pada

waktu itu.

Pada 1901, pemerintahan Belanda yang pada waktu itu menguasai Indonesia,

menerapkan kebijakan politik etis di Indonesia.28 Dan Kartosoewirjo lahir pada

saat kebijakan politik etis tersebut sedang dijalankan. Kebijakan politik etis ini

      

27 

Damien Dematra, Kartosoewirjo Pahlawan atau Teroris, Jakarta : Gramedia Pustaka Umum, 2011 hal. 10  

28 

(2)

mengizinkan anak – anak pribumi yang orangtuanya bekerja untuk pemerintahan

Belanda berhak untuk mendapatkan pendidikan modern di sekolah – sekolah

Belanda pada waktu itu.

Kedudukan orang tua Kartosoewirjo waktu itu yang merupakan mantri candu di

pemerintahan Belanda menyebabkan Kartosoewirjo berhak memasuki sekolah –

sekolah Belanda.

Hal ini tentu saja memberikan perbedaan tersendiri antara Kartosoewirjo dengan

anak – anak pribumui seusianya pada waktu itu. Dimana banyak anak pribumi

yang sejak kecil harus ikut membantu orang tuanya bekerja dan tidak memiliki

kesempatan untuk mendapat pendidikan di sekolah modern, Kartosoewirjo dapat

dikatakan beruntung dapat mengenyam pendidikan di sekolah – sekolah modern

pada waktu itu. Dia juga tidak perlu banyak membantu pekerjaan orang tuanya,

karena posisi ayahnya sebagai seorang mantri candu untuk pemerintahan Belanda

waktu itu tidak memerlukan tenaga yang besar seperti bila bekerja sebagai petani.

Hal ini memberi pengaruh kepada Kartosoewirjo ketika dia mulai menyadari

bahwa anak – anak pribumi lain yang seusianya menjaga jarak dengan

Kartosoewirjo hanya karena Karto merupakan anak dari seorang pribumi yang

bekerja kepada Belanda. Kartosoewirjo mulai merasakan ada keanehan dengan

latar belakang kondisi sosialnya, kenapa ia bisa sekolah sedangkan anak – anak

lain seusianya tidak bisa mendapatkan kesempatan yang sama, hal tersebut mulai

menjadi sebuah keresahan tersendiri pada Kartosoewirjo sampai dia besar nanti.

B. Masa Pendidikan S.M. Kartosoewirjo

Pada tahun 1901, Belanda menetapkan sistem politik etis (politik balas budi).

Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka

untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang

(3)

ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat

itu.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo sejak kecil sudah mengenyam pendidikan di

sekolah – sekolah Belanda. Dia pun termasuk anak yang pintar di sekolahnya.

Namun begitu, lingkungan dia tinggal sangat kental dengan nuansa Islam.

Sehingga walaupun mendapat pendidikan di sekolah Belanda, nilai – nilai ajaran

Islam juga masih melekat kental dalam diri Kartosoewirjo.

Pada usia 6 tahun, 1911, Kartosoewirjo mulai masuk sekolah di Inlandsche

School der Tweede Klasse.29 Sekolah kelas dua yang khusus untuk anak – anak

kaum pribumi. Dia termasuk murid yang pintar di kelas nya dan dapat mengikuti

pelajaran – pelajaran dengan baik di sekolah. Dia memiliki banyak teman namun

tidak teman dekat. Ia pun tumbuh menjadi anak yang ulet dan cerdas.

Pada tahun 1917, ayah Kartosoewirjo kemudian melanjutkan sekolah

Kartosewirjo ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Di sini, Kartosoewirjo

segera mendapat teman – teman baru yang juga anak – anak pribumi dan bekerja

untuk pemerintahan Belanda, keturunan ningrat dan juga anak anak peranakan

keturunan Belanda. Sama seperti di sekolah sebelumnya, Kartosoewirjo juga

merupakan seorang murid yang pintar di kelas, dan menonjol di tiap – tiap

pelajaran.

Pada tahun 1920, ayah Kartosoewirjo mendapat kenaikan pangkat dan dipindah

tugaskan ke Bojonegoro.30 Sehingga keluarganya pun dibawa ikut pindah ke

Bojonegoro. Hal ini juga memberikan efek langsung kepada sekolah

Kartosoewirjo yang juga harus pindah sekolah ke Bojonegoro.

Di sana, Kartosoewirjo disekolahkan di Europeesche Lagere School. Ini

merupakan salah satu sekolah elite yang menggunakan sistem pendidikan Eropa

      

29 

Damien Dematra, op.cit. hal. 11  30 

(4)

dan dirancang untuk anak – anak kulit putih dan juga anak – anak peranakan

Indo-Eropa di sana.

Di Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal Ustadz Notodihardjo, seorang tokoh

Islam modern yang mengikuti alur pemikiran Muhammadiah. Ia menanamkan

pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran Kartosoewirjo. Pemikiran

Notodiharjo ini sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo dalam meresponi

ajaran-ajaran Islam. Bersama ustadz Notodihardjo inilah Kartosoewirjo mulai

belajar tentang Islam secara mendalam.

Pada usia 18 tahun, yaitu tahun 1923, Kartosoewirjo berhasil menyelesaikan

pendidikannya dari Europeesche Lagere School. Dalam pertimbangan ayah

Kartosoewirjo, karena diuntungkan oleh kebijakan politik etis yang sedang

diterapkan Belanda, maka tentu anaknya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang

yang lebih tinggi dan anaknya juga harus mendapat pekerjaan yang layak dan

diakui di masyarakat, yaitu antara insinyur atau dokter. Oleh karena itu ayah

Kartosoewirjo memutuskan untuk melanjutkan pendidikan Kartosoewirjo ke

Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya.31 Di NIAS inilah

sebenarnya Kartosoewirjo mulai aktif dalam perjuangan melawan Belanda.

Dia tinggal di salah satu rumah kos di sekitar wilayah kampusnya. Ketika baru

tiba di kos, dia pun kemudian berjalan keluar untuk melihat pemandangan

kampus. Sesampainya di kampus, Kartosoewirjo melihat sebuah perkumpulan

pemuda yang menamai diri mereka Jong Java. Ia pun bergabung dengan Jong

Java dan mulai aktif terlibat dalam kegiatan – kegiatan di Jong Java.

Sedangkan kuliahnya di NIAS harus menjalani masa kuliah umum selama 3

tahun,barulah di tahun ke-empat mulai memasuki kuliah inti. Selama 3 tahun ini

Kartosoewirjo pun aktif mengikuti kegiatan perjuangan pemuda di Surabaya,

      

(5)

bersama Jong Java, dia pun aktif melakukan aksi – aksi melawan pemerintahan

Belanda.

Dia juga banyak membaca buku – buku dari berbagai bidang ilmu lain selain

buku – buku kedokteran, dan dia juga dipinjamkan buku – buku tentang

komunisme oleh pamannya, Marko Kartodikromo, seorang sastrawan dan

wartawan yang cukup terkenal pada masa itu.

Tentu saja pergerakan Kartosoewirjo diamati oleh pemerintahan Belanda yang

tak ingin menyekolahkan seseorang hanya untuk kemudian berani melawan dan

mengancam pemerintahan Belanda. Hingga suatu hari kamar kos Kartosoewirjo

pun digeledah secara paksa oleh prajurit Belanda dan mereka menemukan buku –

buku komunis yang dipinjamkan oleh pamannya tadi di kamar Kartosoewirjo.

Komunis pada waktu itu merupakan ancaman bagi pihak Belanda, tentu saja

mereka tidak suka bila warga pribumi mempelajari tentang komunisme, oleh

karena itu, pada tahun ketiga tepat dimana Kartosoewirjo harus mulai

melanjutkan ke perkuliahan inti, saat itu pula ia dikeluarkan dari NIAS oleh

pemerintah Belanda dengan alasan terlibat dalam gerakan komunis. Dan sampai

saat itu pula riwayat pendidikan formal Kartosoewirjo berakhir. Tapi bukan

berarti semangat dan perjuangan Kartosoewirjo pun berakhir juga.

Ketika bersekolah di NIAS, Kartosoewirjo mulai aktif dalam pergerakan

perjuangan Indonesia. Begitu sampai di Surabaya Kartosoewirjo bergabung

dalam gerakan Jong Java.

Pada masa itu, 1920-an, Surabaya merupakan salah satu kota basis perjuangan

kemerdekaan Indonesia. Dan juga pada masa itu, perjuangan yang dilakukan oleh

para pemuda sudah tidak lagi dengan mengandalkan perang fisik menggunakan

(6)

Sjarikat Islam merupakan salah satu organisasi pelopor perjuangan kemerdekaan

Indonesia pada waktu itu. Tjokroaminoto merupakan pimpinan dari organisasi

ini. Kartosoewirjo sejak masih kecil dan bersekolah di Bojonegoro sudah

mengenal sosok Tjokro dan mengikuti ceramahnya sekali. Dari situ ia langsung

menggilai tokoh yang satu ini, banyak membaca tulisannya dan juga mengikuti

perkembangan pergerakan Tjokroaminoto.

Tentu saja ini menjadi sangat mempengaruhi pemikiran – pemikiran dari

Kartosoewirjo. Kartosoewirjo menaruh respek yang besar kepada Tjokroaminoto,

melalui Tjokroaminoto pula Kartosoewirjo kemudian bertemu dan berdialog

dengan Soekarno. Seperti kita tahu bahwa banyak tokoh – tokoh perjuangan

kemerdekaan Indonesia yang sempat berguru dan belajar kepada Tjokroaminoto.

Para pejuang kemerdekaan Indonesia mulai menyadari bahwa perjuangan untuk

meraih kemerdekaan akan masih sangat sulit dilakukan karena bangsa Indonesia

sendiri sampai saat itu masih sedikit sekali yang sadar akan politik.

Para pemuda memahami ini dan kemudian dalam gerakan perjuangan

kemerdekaan yang dilakukan, mereka merumuskan empat pemikiran pokok yang

harus diperjuangkan dalam kemerdekaan, yaitu : Pertama, kesatuan nasional.

Dalam masalah persatuan nasional ini, perlunya bangsa Indonesia untuk

mengenyampingkan terlebih dahulu perbedaan – perbedaan yang sempit

semacam perbedaan etnis serta kedaerahan. Dikarenakan perlu ada kesatuan aksi

melawan Belanda dalam rangka menciptakan Negara kebangsaan Indonesia yang

merdeka dan bersatu.

Kedua, solidaritas. Masalah solidaritas ini didasari oleh suatu kebulatan tekad

bersama senasib dan sepenanggungan dalam kerangka persatuan yang amat

kukuh dan kokoh luar dalam antara pribumi tanpa melihat perbedaan yang ada

(7)

Ketiga, non-kooperasi. Artinya adalah gerakan perjuangan kemerdekaan

Indonesia sama sekali tidak mau berkompromi dengan segala hal yang berbau

kolonial. Para pejuang kemerdekaan waktu itu menyadari bahwa kemerdekaan

bukanlah hadiah sukarela dari Belanda dan harus direbut dan diperjuangkan oleh

seluruh rakyat bangsa Indonesia dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan

sendiri.

Keempat, swadaya. Dengan swadaya gerakan kaum nasionalis dan mengandalkan

kekuatan sendiri dan mengembangkan suatu struktur alternatif dalam kehidupan

nasional, politik, sosial, ekonomi dan hokum yang kuat dan berakar dalam

masyarakat pribumi dan sejajar dengan administrasi kolonial. Inilah prinsip yang

mendasari semangat perjuangan kemerdekaan waktu itu, dimana tentu saja

Kartosoewirjo terlibat dalam ini.

Dalam masa ketika Kartosoewirjo mulai sekolah di NIAS, dia banyak

menghabiskan waktu diluar sekolah dengan organisasi pemuda yang dia ikuti,

bahkan kuliah yang seharusnya menjadi tujuan utama dia di Surabaya menjadi

tidak prioritas lagi bagi Kartosoewirjo.

Di organisasinya, ia mulia aktif terlibat dalam diskusi – diskusi politik. Ia pun

bergabung dengan organisasi Sjarikat Islam dibawah pimpinan Hadji Oemar Said

Tjokroaminoto yang merupakan tokoh yang sangat dikagumi oleh

Kartosoewirjo.32 Pemikiran – pemikiran Tjokroaminoto inilah yang kemudian

banyak mempengaruhi sikap, tindakan dan orientasi dari Kartosoewirjo.

Lalu ketika pamannya Marko Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan

meminjamkan buku – buku komunis kepada Kartosoewirjo, buku itulah yang

menyebabkan Kartosoewirjo akhirnya dikeluarkan dari sekolahnya di Surabaya,

namun dikeluarkan dari sekolah tidak membuat Kartosoewirjo gentar dan ragu

      

32 

(8)

untuk melanjutkan perjuangannya, dia tetap ingin melawan Belanda dan

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Kartosoewirjo pun tetap aktif di gerakan Jong Java, bahkan dia sempat menjadi

ketua cabang Jong Java di Surabaya. Lalu kemudian pada tahun 1925, ketika

anggota – anggota Jong Java yang lebih mengutamakan cita – cita keislaman

mendirikan Jong Islamieten Bond, Kartosoewirjo pun lalu pindah ke organisasi

ini karena memang sikap Kartosoewirjo yang menjadikan agamanya sebagai

landasan utama dalam hidupnya dan perjuangannya, bukan pada paham

nasionalisme, dan tak lama setelah masuk ke Jong Islamieten Bond,

Kartosoewirjo terpilih menjadi ketua cabang Jong Islamieten Bond di Surabaya.33

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah seorang orator ulung. Melalui Jong

Java dan juga Jong Islamieten Bond kemudian Kartosoewirjo terlibat dalam salah

satu peristiwa sejarah gerakan pemuda yang menjadi titik balik perjuangan

pemuda, Sumpah Pemuda.

Kartosoewirjo pun terus aktif di organisasi perjuangan kemerdekaan. Dia juga

bergabung dengan Sjarikat Islam, organisasi masa yang kemudian menjadikan

dirinya partai politik berbasis Islam, sehingga kemudian dikenal dengan Partai

Sjarikat Islam (PSI).

Di dalam PSI ini Kartosoewirjo kemudian kenal dengan Oemar Said

Tjokroaminoto dan juga Agoes Salim. Mereka adalah tokoh pemimpin di PSI,

terlebih Tjokroaminoto, adalah merupakan sosok yang sejak lama dikagumi oleh

Kartosoewirjo. Tentu saja sejak bergabung dengan Partai Sjarikat Islam,

Kartosoewirjo banyak bertukar fikiran dengan pemimpin PSI mengenai

pandangan politik dan juga kesamaan cita – cita untuk mendirikan suatu Negara

Islam.

      

33 

(9)

Hal yang sangat berpengaruh dalam jalan perjuangan Kartosoewirjo adalah ketika

dia dikeluarkan dari sekolah NIAS di Surabaya, lalu disusul dengan

meninggalnya ayah Kartosoewirjo di Bojonegoro sehingga Kartosoewirjo pun

harus pulang ke Bojonegoro dan untuk membantu perekonomian ibunya, diapun

mengajar di sekolah rakyat di Bojonegoro.

Tak lama setelah itu, Kartosoewirjo diminta langsung oleh Tjokroaminoto untuk

menjadi sekretaris Tjokroaminoto, dan Kartosoewirjo pun langsung menerima

permintaan itu tanpa ragu. Keakraban secara pribadi terjalin setelah

Kartosoewirjo tinggal dirumah Tjokroaminoto dan secara berkelanjutan

mendapat transformasi pengalaman politik dari Tjokroaminoto.

C. Kartosoewirjo, Sjarikat Islam dan Politik Hijrah

Pada awal tahun 1927 ketika dikeluarkan dari NIAS, Kartosoewirjo pulang ke

Bojonegoro ke rumah orang tuanya. Kepulangan Kartosoewirjo ini setelah

sebelumnya mendengar kabar bahwa orang tuanya meninggal dunia.

Untuk membantu perekonomian ibunya yang ditinggal suami, Kartosoewirjo pun

membantu dengan menjadi guru particular di Bojonegoro. Sampai di bulan

September di tahun yang sama, Kartosoewirjo kembali ke Surabaya dan

menerima tawaran Tjokroaminoto untuk menjadi sekretaris pribadinya.

Kemudian Kartosoewirjo menemani Tjokroaminoto pindah ke Cimahi di dekat

Bandung. Tentu saja Kartosoewirjo lalu aktif bergabung dengan organisasi

Sjarikat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto. Dan kepribadian

Kartosoewirjo yang tegas dan cerdas membuatnya cepat dikenal dikalangan

Sjarikat Islam yang saat itu telah menjadi partai politik dan mengganti namanya

(10)

Peningkatan karir Kartosoewirjo dikalangan Partai Sjarikat Islam berkembang

dengan pesat. Pada bulan desember di tahun yang sama, 1927 di kongres PSIHT

yang dilaksanakan di Pekalongan, Kartosoewirjo terpilih menjadi sekretaris

umum PSIHT. Dalam kongres itu juga, diputuskan bahwa pimpinan partai harus

dipindahkan ke Batavia.

Selain bertugas sebagai sekretaris umum PSIHT, Kartosoewirjo juga bekerja

sebagai wartawan di harian Fadjar Asia. Semula ia bertugas sebagai korektor,

kemudian diangkat menjadi reporter.

Seiring dengan tugasnya sebagai sekretaris PSIHT, maka Kartosoewirjo banyak

melakukan perjalanan ke propinsi – propinsi. Pada tahun 1928 Kartosoewirjo

pergi ke Malangbong, disana dia bertemu dengan pemimpin PSIHT setempat,

Ajengan Ardiwisastera dan juga anaknya Siti Dewi Kalsum yang kemudian

dinikahi oleh Kartosoewirjo pada bulan April 1929, dan Kartosoewirjo pun lalu

menetap di Malangbong.

S. M. Kartosoewirjo juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar

Asia. Ia membuat tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan

Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda. Dalam

artikelnya nampak pandangan politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan agar

kaum buruh bangkit untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa

memelas. Ia juga sering mengkritik pihak nasionalis lewat artikelnya.

Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Serikat

Islam Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam.

Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah

Islamiyah). Di PSII ia menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum,

anak seorang tokoh PSII di Malangbong. Ia kemudian keluar dari PSII dan

mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia

(11)

Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang

didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik

hijrah yang tidak mengenal kompromi. Menurutnya, PSII harus menolak segala

bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad.

Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan

tafsirannya sendiri terhadap Al-Qur’an. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya,

walaupun berbagai rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu

sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan

pemerintah Kolonial.

Prestasi Kartosoewirjo di harian Fadjar Asia juga terus berkembang, di usianya

yang masih 22 tahun, Kartosoewirjo telah menjadi redaktur harian Fadjar Asia,

dan dia pun aktif menerbitkan artikel – artikel yang secara tegas mengkritisi hal –

hal yang terjadi yang dianggapnya sebagai bentuk perlawanan terhadap para

penjajah.34

Pada usianya yang masih muda, Kartosoewirjo pun lalu menjadi tokoh yang

disegani oleh masyarakat, dia masih muda, pernah bersekolah di NIAS, menjadi

sekretaris pribadi untuk Tjokroaminoto, lalu menjadi sekretaris PSIHT dan juga

redaktur di salah satu harian yang terkemuka pada waktu itu.

Mengenai Sjarikat Islam, yang sempat berganti nama menjadi Partai Sjarikat

Islam Hindia Timoer, lalu pada 1929 berganti nama lagi menjadi Partai Sjarikat

Islam Indonesia dan lebih sering disebut PSII. Karir Kartosoewirjo di PSII terus

menanjak, bahkan di kongres 1929, dalam kongres partai, Kartsoewirjo terpilih

menjadi wakil ketua di partai tersebut.35

Dalam organisasi Sjarikat Islam, sampai berubah menjadi Partai Sjarikat Islam

Indonesia, tradisi non-kooperasi terhadap kelompok penjajah menjadi satu nilai

      

34 

Ibid, hal. 36

35 

(12)

yang kuat tertanam di Sjarikat Islam ini. Pada saat kongres pertama partai ini

dilaksanakan yaitu tahun 1923 dan 1924, Sjarikat Islam banyak mengembangkan

konsep – konsep berdikari atau swadeshi yang banyak terilhami dari perjuangan

Mahatma Gandhi di India. Sehingga memang dari awal berdiri partai ini

senantiasa mencoba untuk selalu tidak terikat dan tidak bergantung pada kaum

kolonial.

Secara praktis maka tentu partai Sjarikat Islam Indonesia ini akan menolak

bentuk – bentuk kerjasama dengan kelompok penjajah dan tentu juga menolak

semua pengaruh kolonial terhadap partai ini. Namun seiring berjalan waktu dan

siasat licik Belanda dalam memecah belah lawannya, lambat laun memberikan

pengaruh kepada Partai Sjarikat Islam.

Terdapat pertentangan di dalam tubuh PSII, yaitu antara Dewan Eksekutif di

bawah pimpinan Abikoesno Tjokrosoejoso yang tetap memperjuangkan politik

non-kooperasi dimana dia tidak mau bekerja sama dengan kelompok kolonial.

Dan pihak Dewan Partai dibawah pimpinan Agoes Salim yang cenderung pada

sikap untuk bekerja sama dengan kekuasaan kolonial.

Dalam pandangan Agoes Salim, seandainya politik non-kooperasi tetap

diteruskan, akan ada kerugian forum politik yang akan mempercepat keruntuhan

partai dan dia mendesak agar diadakan suatu referendum tentang masalah ini.

Pertentangan ini cukup membawa pengaruh terhadap internal Partai Sjarikat

Islam Indonesia, pihak Agoes Salim pun mengangkat isu bahwa haluan politik

non-kooperatif yang dijalankan oleh Abikoesno merupakan kebijakan yang hanya

mementingkan kepentingan partai dan tidak memperdulikan kepentingan rakyat.

Hingga pada akhir tahun 1935, sebelum kongres partai dilaksanakan, Abikoesno

melepaskan jabatannya dan langkah ini kemudian diikuti oleh Kartosoewirjo

(13)

Namun pada kongres partai ke-22 di tahun 1936, Abikoesno malah terpilih

menjadi ketua partai, dan dengan peraturan baru bahwa kongres hanya

menetapkan ketua saja, maka Abikoesno pun mutlak menjadi formateur dalam

partai itu dan Abikoesno langsung memilih Kartosoewirjo sebagai wakilnya.

Dan pada Januari 1937, Agoes Salim, Moehammad Roem, Sabirin, Sangadji,

Muclish dan 23 anggota fraksi Agoes Salim dikeluarkan dari keanggotaan PSII

karena pertentangan politik non-kooperasi. Dan ini semakin memicu perpecahan

di kubu partai, karena Salim lalu membentuk partai Islam yang baru yang diberi

nama Pergerakan Penjadar.

Setelah itu, Abikoesno lalu membuat pernyataan bahwa kongres PSII tahun 1936

telah menyetujui bentuk politik non-kooperasi dan melakukan politik hidjrah

yang menentang secara tegas untuk menerima kerja sama dengan kolonialisme

dan menuntut penghapusan kolonialisme itu sendiri. Dan untuk penjelasan

mengenai langkah politik hidjrah ini kemudian dijelaskan oleh Kartosoewirjo

melalui dua jilid brosur partai yang ditulisnya.

Melanjuti kebijakan politik hidjrah yang menolak untuk melakukan kerja sama

dengan kolonialisme, maka pada tahun 1937 di kongres partai ke-23, dibawah

pimpinan Kartosoewirjo dibentuk suatu komisi yang harus menyusun program

aksi hidjrah PSII. Kartosoewirjo lalu berhasil merumuskan program aksi tersebut

dan program tersebut disepakati pada tahun 1938 di kongres partai selanjutnya.36

Dalam program tersebut, Kartosoewirjo juga menyebutkan bahwa PSII harus

memiliki lembaga pendidikan sendiri, dan dia mengusulkan didirikannya sekolah

Soeffah PSSI, lembaga pendidikan ini kemudian secara resmi dibuka pada tahun

1939 di Malangbong di bawah pimpinan Kartosoewirjo sendiri.37

      

36Ibid, hal. 45

(14)

Tampak jelasa bahwa selama berada di Sjarikat Islam, Kartosoewirjo tetap teguh

pendirian dalam upaya menciptakan kondisi kemerdekaan yang dibangun atas

nilai – nilai Islam, dan Kartosoewirjo secara tegas melalui partai Sjarikat Islam

Indonesia menolak dengan tegas segala bentuk kerjasama dengan pihak Belanda

dan segala bentuk – bentuk kolonialisme.

Dan Kartosoewirjo sebagai bentuk perjuangannya daripada bekerja sama dengan

pemerintah Belanda, dia lebih baik mendirikan lembaga pendidikan sendiri dan

mendidik kaum muda untuk masa depan yang lebih baik tanpa menerima bantuan

dari kaum penjajah.

Akan tetapi sangat disayangkan, karena program yang disusun tersebut tidak

dapat dilaksanakan seperti seharusnya, karena situasi yang terjadi di internal

partai mengalami perubahan haluan politik. Pada tahun 1939, sebagai pimpinan

partai, Abikoesno mengajak Kartosoewirjo untuk memutar haluan partai dengan

bergabung ke GAPI (Gabungan Politik Islam) dalam mengatasi tekanan politik

pemerintah kolonial yang makin mendesak.

Namun Kartosoewirjo dengan tegas menolak ajakan ini dan tetap konsisten

dalam konsep politik hidjrah yang dijalankannya yaitu dengan menolak semua

bentuk kompromi dan kerja sama dengan kolonialisme. Sehingga perdebatan

yang sengit antara Abikoesno dan Kartosoewirjo pun tak terhindarkan.

Dalam pemikiran Kartoseowirjo, tuntutan GAPI adalah dibentuknya suatu

parlemen Indonesia, dan itu merupakan bentuk kompromi dan kooperasi juga

yang bertentangan dengan prinsip politik hidjrah yang menentang kompromi

dengan kolonialisme, hanya saja dengan corak yang berbeda.

Hal ini mengakibatkan Kartosoewirjo dan teman – teman yang mendukungnya

akhirnya dikeluarkan dari Partai Sjarikat Islam Indonesia.38 Namun tentu saja

kepribadian dan karakter Kartosoewirjo yang tegas membuatnya tidak mundur

      

38 

(15)

dan menyerah dari perjuangannya dan tetap melaksanakan politik hidjrah dan

juga pendidikan kader.

Begitu Kartosoewirjo dikeluarkan dari PSII, ia dan beberapa temannya lalu

mendirikan partai independen yang diberi nama KPK PSII (Komisi Pembela

Kebenaran Partai Sjarikat Islam Indonesia). Dalam pemikiran Kartosoewirjo,

organisasi yang tengah dirintisnya inilah merupakan bentuk sebenarnya dari

Sjarikat Islam sebenarnya.

Melalui KPK PSII Kartosoewirjo lalu kemudian melanjutkan perjuangan politik

hidjrahnya. Secara sederhana hidjrah artinya adalah pindah. Kartosoewirjo

melihat dalam sistem sosial politik yang sedang terjadi dimana Indonesia sedang

dijajah Belanda, apapun kerjasama yang dilakukan oleh Belanda hanyalah bentuk

untuk mematikan perjuangan kemerdekaan bangsa dan memecah belah kesatuan

kekuatan bangsa Indonesia, namun tekanan untuk ikut dalam sistem itu juga

cukup besar dirasakan oleh para kaum pejaung bangsa hingga akhirnya ikut

melakukan kompromi dan bekerja sama dengan Belanda merupakan langkah

yang harus diambil.

Namun dalam pandangan Kartoseowirjo, yang kita tahu bersama bahwa pola

pikirnya sangat Islam-minded, tentu saja berkompromi menjadi hal yang tidak

perlu dilakukan karena tidak akan mungkin menguntungkan bangsa Indonesia.

Namun Kartosoewirjo sadar betul bahwa melawan secara fisik adalah tindakan

konyol yang tidak akan berhasil. Maka cara yang paling ideal adalah hidjrah,

pindah. Pindah dalam segi pemikiran bahwa tidak perlu melakukan kompromi

dan kerja sama dengan koloni adalah harga mutlak karena hanya akan

menimbulkan ketergantungan pada kaum penjajah, dan pendidikan yang selama

ini didapat dari sekolah Belanda kepada anak – anak tertentu saja, haruslah bisa

(16)

Jadi hidjrah disini adalah selain pindah secara fisik, namun juga secara makna

bahwa pola pikir bangsa harus juga pindah dari pola pikir yang kolot, takut dan

tertekan, harus pindah ke pola pikir yang kritis dan juga siap membawa

perubahan dengan potensi sendiri.

Begitulah politik hidjrah yang dicanangkan oleh Kartoseowirjo, bahwa bangsa

Indonesia tidak perlu pindah ke wilayah lain, namun hanya sekedar pindah dari

watak, tabiat dan pola pikir masing – masing individu, dan untuk itu mutlak

diperlukan lembaga pendidikan. Namun begitu Kartosoewirjo dikeluarkan dari

PSII, maka semua konsep yang dia buat tentang politk hidjrah ditinggalkan

begitu saja, bahkan sekolah Soeffah yang di Malangbong juga ditutup.

Namun melalui KPK PSII yang didirikan oleh Kartosoewirjo, pada tahun 1940

akhirnya didirikan kembali lembaga pendidikan, di Malangbong juga, dengan

nama lembaga pendidikan kader Suffah.

Lembaga pendidikan ini didirikan dengan konsep sebuah pesantren tradisional,

dimana para siswanya juga tinggal disitu. Kartosoewirjo mengajarkan Bahasa

Belanda, Astrologi dan Ilmu Tauhid kepada para siswa, selain ilmu pengetahuan

umum, ilmu agama Islam, di pesantren ini juga diajarkan tentang politik agar

para siswanya sadar tentang kondisi yang terjadi dan mengetahui bahwa mereka

sedang tidak merdeka dan tidak bebas.

Pada akhirnya nanti, lembaga pendidikan Suffah inilah yang akan menjadi basis

kekuatan perjuangan Kartosoewirjo nantinya dalam menegakkan Darul Islam.

D. Periode Awal Kemerdekaan Indonesia dan Kembalinya Belanda

Pada bulan Maret 1942, ketika itu bala tentara Jepang yang dipimpin oleh

Kolonel Shoji sudah masuk ke wilayah Jawa Barat lewar Eretan dekat Subang,

mereka terus memobilisasi pasukan untuk terus bergerak menuju pusat

(17)

pemerintahan kolonial yang telah diungsikan sejak bulan Februari 1941.

Bersamaan dengan kejadian itu, Kartosoewirjo masih berada di Malangbong, di

jantung Jawa Barat sehingga tidak langsung merasakan pengaruh perang tersebut.

Dengan adanya serangan dadakan dari Jepang ini, maka pada tanggal 8 Maret

1942 Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kerajaan Belanda, Jenderal Ter

Poorten, bersama Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Belanda, Tjarda Van

Starkenborgh Stachouwer, menyerahkan Indonesia tanpa syarat kepada Jepang.

Pada tanggal 9 Maret 1942, di mana militer Jepang telah berhasil menaklukkan

Belanda, mulailah mereka melanjutkan politik yang pernah dijalankan oleh

Belanda. Niponisasi mulai diterapkan di hampir seluruh wilayah pendudukan

Jepang di Indonesia.

Pembaharuan di segala bidang pun kemudian dilakukan Jepang pada awal masa

penjajahannya di Indonesia. Jepang sadar betul bahwa Indonesia, bangsanya telah

mengenal semangat nasionalisme untuk bebas dari penjajahan yang dialami

sekian lama, yang mana jika Jepang coba mencegahnya maka tentu Jepang akan

mendapat perlawanan dari bangsa Indonesia.

Maka Jepang coba menyakinkan masyarakat Indonesia bahwa kehadiran mereka

adalah sebagai saudara tua dalam pengertian politik, yang nantinya akan

memberikan kemerdekaan pada Indonesia.

Dalam kondisi ini, Kartosoewirjo hanya menjadi tokoh regional saja, sikap

hidjrahnya sangat konsekuen. Dalam masa pendudukan Jepang, dia tetap

menjalankan lembaga suffah di Malangbong, hanya saja kali ini Kartosoewirjo

juga banyak memberikan pendidikan militer kepada murid – muridnya, karena

memang diizinkan oleh Jepang, dan saat itu Jepang juga sedang membuka

pendidikan militernya di Indonesia.

Sampai pada tahun 1943, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik. Dia

(18)

Indonesia dibawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus juga menjadi sekretaris

dalam Majelis Baitulmal pada organisasi tersebut.

Selanjutnya Kartosoewirjo berupaya untuk meneruskan gagasan awalnya yaitu

suatu masyarakat Islam yang benar – benar sempurna secara ideologi. Namun

organisasi ini hanya berjalan selama enam bulan saja, karena pada Oktober 1943

dibubarkan yang selanjutnya bergabung dengan Masyumi yang didirikan pada

tanggal 11 November 1943 dan Kartosoewirjo pun bergabung dengan organisasi

baru ini

Bersamaan dengan itu, ketika situasi Perang Asia Pasifik mulai memburuk bagi

Jepang, untuk lebih memanfaatkan para politikus Indonesia mendukung

perjuangan Jepang, mereka bersedia memberikan konsesi yang lebih besar bagi

rakyat Indonesia dari yang pernah diberikan Belanda sebelumnya. Bangsa

Indonesia pun diperbolehkan membentuk organisasi bersenjata sendiri.

Pertama, pada bulan Oktober 1943, terbentuknya PETA (Pembela Tanah Air) dan

kemudian, pada akhir 1944 dibentuklah Hizbullah (Tentara Allah), cabang

bersenjata Masyumi Islam. Kedua, pada 7 September 1944 Perdana Menteri

Jepang Koiso menjanjikan Indonesia merdeka di kemudian hari kelak. Dan pada

1 Maret 1945 janji ini diulang kembali oleh panglima tertinggi Jepang yang

sekaligus mengumumkan pembentukan “Panitia Penyidik Persiapan

Kemerdekaan”.

Sehubungan dengan diizinkannya Indonesia membentuk organisasi bersenjatanya

sendiri, Kartosoewirjo pun lalu kemudian mengaktifkan kembali pusat

pendidikan suffah yang ia dirikan di Malang untuk melatih para pemuda dengan

latihan kemiliteran dengan dipersenjatai tongkat bambu.

Dalam masa pendudukan Jepang ini, Kartosoewirjo pun memfungsikan kembali

(19)

memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka

pendidikan militernya.

Kemudian siswa yang menerima latihan kemiliteran di Institut Suffah itu

akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah

perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam

Indonesia di Jawa Barat.

Janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan bangsa Indonesia diwujudkan

dengan mendirikan Dokuritsu Jumbi Chosakai, yaitu Badan Penyelidik Usaha

Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang didirikan pada 28 Mei 1945.

Dalam Komite BPUPKI inilah terjadi perdebatan ideologis yang serius antara

wakil – wakil golongan nasionalis Islam dan kelompok nasionalis sekuler.

Perbedaan disekitar dasar ideologi Negara Indonesia yang akan merdeka menjadi

perdebatan politik yang hangat saat itu. Sebagian mengusulkan Indonesia yang

berdasarkan syariah Islam dan sebagian lagi mengajukan gagasan Negara

Integralis dengan dasar ideologi Pancasila.

Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia,

Kartosoewirjo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah

mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana:

kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut

kemerdekaannya dari tangan penjajah.

Sesungguhnya dia telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus

1945. Tetapi proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan

oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal

kepada Republik dan menerima dasar “sekuler”-nya.

Namun sejak kemerdekaan RI diproklamasikan (17 Agustus 1945), kaum

(20)

menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan modern yang sekuler. Semenjak itu

kalangan nasionalis Islam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 70-an

kalangan Islam berada di luar negara.

Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan Islam dan kaum

nasionalis sekuler. Karena kaum nasionalis sekuler mulai secara efektif

memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dapat

disebut sebagai pertentangan antara Islam dan negara.

Perbedaan dan perdebatan ini berlangsung terus. Namun ketika Soekarno di

BPUPKI lalu menjelaskan tentang konsep nasionalismenya maka berakhirlah

perdebatan itu. Keinginan dari Soekarno untuk tidak menimbulkan perpecahan,

kompromi pun diambil dan tercapailah kesepakatan bersama sebagaimana

terumuskan dalam Piagam Jakarta, didalamnya disepakati bahwa Pancasila

merupakan dasar Negara. Di samping itu, dicantumkan pula rumusan “Ketuhanan

dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk – pemeluknya.”

E. Kartosoewirjo Memproklamasikan DI/TII

Pada masa pasca kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo sebenarnya termasuk

orang yang terlibat aktif dalam pemerintahan. Tetapi sikap kerasnya membuatnya

sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak

pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa

Tengah.

Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang

sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo

juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu

(21)

Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya

untuk membentuk Darul Islam di Indonesia. Kartosoewirjo kemudian

memproklamirkan DI/TII pada 7 Agustus 1949 di Malang, Jawa Barat.

Darul Islam yang artinya adalah Rumah Islam adalah gerakan politik yang

diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam

kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah,

Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja

diproklamasikan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara

Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar

negara.

Dalam proklamasinya disebutkan bahwa hukum yang berlaku dalam Darul Islam

adalah hukum Islam. Lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan

bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al Quran

dan Hadits".

Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara

untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari'at Islam, dan penolakan

yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an.

F. Akhir Perjuangan Kartosoewirjo

Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama

Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi

Selatan dan Aceh.

Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk

menangkap Kartosoewirjo. Dan pasukan Tentara Islam Indonesia yang secara

gerilya melawan pemerintah berlangsung cukup lama. Hingga perjuangan

(22)

perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962.

Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada September

1962.

Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini

menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap

sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.

Kartosoewirjo menggalang kekuatan pasukan laskar Hizbullah dan Sabilillah

yang kemudian menjelma menjadi Tentara Islam Indonesia (TII). Kartosoewirjo

yang pernah menjadi wartawan di harian Fadjar Asia dengan posisi wakil

pemimpin redaksi ini akhirnya pada 7 Agustus 1949 di Desa Cisampah,

Tasikmalaya memproklamirkan berdirinya DI/TII. Hingga kemudian

bertahun-tahun Kartosoewirjo dan kelompoknya menjadi buruan TNI. Pada Juni 1962 dia

dibekuk di Garut.

Kartosoewirjo didakwa melanggar pasal-pasal berlapis yaitu pasal 107 ayat 2,

108 ayat 2, dan 104 junto pasal 55 KUHP, juncto pasal 2 PENPRES No.5 tahun

1959 yang dimuat dalam lembaran negara No 80 tahun 1959.39

Fadli menulis setidaknya ada tiga kejahatan politik yang disangkakan pemerintah

pada Kartosoewirjo. Pertama, memimpin dan mengatur penyerangan dengan

maksud hendak merobohkan pemerintahan yang sah. Kedua, memimpin dan

mengatur pemberontakan melawan kekuasan yang telah berdiri dengan sah yaitu

Republik Indonesia. Dan ketiga, melakukan makar pembunuhan terhadap

presiden yang dilakukan secara berturut-turut dan terakhir dalam peristiwa 'Idul

Adha.

Pada 16 Agustus 1962, pengadilan militer menjatuhkan vonis mati bagi

Kartosoewirjo. Dalam proses pengadilan itu, dia juga membantah tuduhan kedua

      

39 

(23)

dan ketiga. Kartosoewirjo mengatakan bahwa tuduhan upaya membunuh presiden

Soekarno hanya isapan jempol belaka.

Kartosoewirjo pun sempat meminta grasi kepada Soekarno. Namun, saat itu

Soekarno langsung menolak. Soekarno menyatakan menandatangani hukuman

mati bukan suatu kesenangan.

Dalam bukunya Hari Terakhir Kartosoewirjo,40 Fadli Zon menuliskan bahwa

sebelum dihukum mati ada empat permintaan Kartosoewirjo kepada pemerintah

Indonesia, yang mana dari empat tersebut, hanya satu permintaan yagn

dikabulkan.

Pertama, Kartosoewirjo meminta dipertemukan dengan keluarganya, untuk

terakhir kalinya sebelum dieksekusi. Permintaan itu dikabulkan karena dianggap

sesuai dengan standar hukum yang berlaku.

Namun, pemerintah tidak mengabulkan tiga permintaan Kartosoewirjo lainnya.

Permintaan kedua Kartosoewirjo yang tidak diterima pemerintah Indonesia

adalah keinginannya untuk bertemu dengan perwira terdekatnya di TII.

Permintaan itu ditolak karena dinilai ada sangkut pautnya dengan masalah politik.

Permintaan ketiga yang juga ditolak adalah agar eksekusinya disaksikan oleh

wakil dari keluarganya. Permintaan ini ditolak karena tidak sesuai dengan

ketetapan hukum yang berlaku di Indonesia.

Dan permintaan terakhir Kartosoewirjo, permintaan keempat yang juga tidak

dikabulkan adalah keinginan agar jenazahnya dikembalikan ke pihak keluarga.

Permintaan ini ditolak karena dalam prosedur pelaksanaan hukuman mati,

tersangka yang dieksekusi dianggap hilang, termasuk juga kuburnya. Sehingga

memang sampai saat ini tidak jelas dimana jenazah Kartosoewirjo dimakamkan.

      

40 

Referensi

Dokumen terkait

Penerimaan diri ibu dari anak autis adalah sikap positif yang.. dimiliki oleh seorang ibu dalam menerima keadaan diri

Abstrak-- Penelitian ini mengkaji konflik pertambangan di kawasan Torong Besi, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai konsekuensi dari protes masyarakat

PEI.,AKSANAAN PERATURAN DAERAH TINGKAT I BENGKULU NOMOR 2 TAHUN 1994 TENTANG PENERIMAAN SUMBANGAN DARI PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I

Bahan studi atau bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori sumber data, yaitu data primer yang diperoleh dengan menyebarkan

Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan data tahun 2015 pelayanan pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Besar memiliki kecendrungan masuk ke daerah efisiensi dengan

(1) Seksi Kerjasama dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Ketertiban Umum

Setelah dilakukan analisa terhadap laporan keuangan PT Bank Negara Indonesia ( Persero ) Tbk, dilihat dari rasio permodalan dinilai sehat karena CAR nya berada diatas 8%, dari

Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu studi lapangan yang dilakukan dengan cara wawancara dan observasi dan studi kepustakaan dimana data di ambil langsung dari literatur