282
Tema 3: Pangan, Gizi dan Kesehatan
PENGGUNAAN “FERMEHERBAFIT
-
ENCAPSULASI” TERHADAP
PERFOMAN AYAM BROILER
Oleh
Ning Iriyanti, Agus Irianto dan Bambang Hartoyo
Animal Nutrition Laboratory, Faculty of Animal Science,
Jenderal Soedirman University, Jl. Dr. Soeparno 60, Purwokerto 53112
–
Indonesia
Corresponding E-mail:[email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian mengevaluasi penggunaan fermeherbafit encapsulasi terhadap performan ayam broiler. Materi penelitian yang digunakan adalah ayam broiler 202 MB Platinum sebanyak 80 ekor yang dipelihara mulai DOC sampai umur 35 hari. Fermeherbafit terdiri atas: Curcuma domestica (kunyit), Curcuma xanthorrhiza R (temulawak), Allium sativum L (bawang putih), Morinda citrifolia (Mengkudu), Moringa oleifera (daun kelor), gula jawa, Probiotik BAL (Bakteri Asam Laktat). Perlakuan yang dicobakan adalah: R0= Kontrol; R1= penggunaan fermeherbafit
non-capsulasi; R2= penggunaan 1,5% fermeherbafit capsulasi; R3= penggunaan 3,0%; fermeherbafit
capsulasi; R3= penggunaan 4,5% fermeherbafit capsulasi. Penelitian menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dan uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Variabel yang diukur: performan ayam broiler meliputi pertumbuhan, konsumsi pakan, konversi pakan, indek produksi dan jumlah kematian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fermeherbafit encapsulasi memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan ayam broiler. Kesimpulan bahwa penggunaan fermeherbafit encapsulasi dapat meningkatkan pertumbuhan ayam broiler sampai level 4,5%.
Kata kunci: fermeherbafit encapsulasi, performan, ayam broiler
PENDAHULUAN
Pemeliharaan ayam tidak lepas dari obat-obatan, antibiotik dan bahan aditif lain yang
berfungsi untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan laju pertumbuhan ayam. Penggunaan
antibiotik memberikan dampak yang negatif diantaranya adanya residu dan resistensi bakteri. Oleh
karena itu diperlukan upaya untuk memberikan pakan ayam yang efisien, dan aman serta
menghasilkan pangan produk ternak yang menyehatkan (Nutraceutical), hal ini dapat dilakukan
melalui manipulasi pakan ayam dengan pemberian feedaditif alami berupa “fermeherbafit” yaitu
suatu ramuan herbal yang difermentasi dengan Bakteri Asam Laktat (BAL). “ Fermeherbafit”
merupakan feed aditif alami untuk ayam untuk pengembangkan penelitian penelitian sebelumnya,
yaitu penelitian Iriyanti dkk. (2007-2012) yang telah menggunakan Fermeherbafitberupa ramuan
herbal untuk ayam dan itik. Ramuan herbal akan lebih bermanfaat apabila dilakukan fermentasi
menggunakan BAL (Bakteri Asam Laktat), yang akan meningkatkan nilai nutrien herbal. Hasil
283
beberapa vitamin serta mengandung probiotik yang berfungsi membantu proses pencernaan dan
metabolisme serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Studi pendahuluan yang sudah dilakukan Iriyantidkk. (2014) bahwa penggunaan herbal
untuk ayam broiler menghasilkan: rataan nilai konsumsi pakan berkisar antara 3213,912 ± 235,531
sampai 3309,378 ± 291,616 gram/ekor. Rataan pertumbuhan absolut berkisar antara 1528,02 ±
181,03 sampai 1791,82 ± 80,02 gram/ekor, rataan pertumbuhan relatif berkisar antara 0,3648 ±
0,0044 sampai dengan 0,3702 ± 0,0022 gram/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan
pakan dengan penambahan herbal 6% menghasilkan pertumbuhan absolut sebesar 1791,82 ± 80,02
gram/ekor, persentase karkas sebesar 73,551 ± 1,77%, kadar leukosit 251.88±7.97 x 102/µl, kadar
eritrosit berkisar 2,33 – 2,52 juta/µl. Rataan kadar hematokrit darah berkisar 29,56% - 31,80%.
Bahanbioaktif seperti senyawa fitokimia yang terkandung dalam herbal sangat sensitif
dari kondisi lingkungan yang kurang baik, perubahan cahaya, pemanasan, oksigen dan pH serta
kondisi lingkungan proventrikulus ayam serta cairan empedu dengan pH asam. Perlindungan bahan
biaktif dapat dilakukan dengan mikroenkapsulasi. Materi yang dapat digunakan sebagai agen
enkapulasi (enkapsulan): karbohidrat, termasuk pati yang diubah dan maltodekstrin, derivat
selulosa, getah dan ciclodextrin, serta protein seperti protein whey, kaseinat dan gelatin (Malacrida
dan Vania, 2009).
Herbal mempunyai bioavailabilitas yang rendah karena adanya kurkumin (kelarutan
rendah, penyerapan rendah, cepat lewat, tingginya tingkat metabolisme di sel usus, eliminasi
cepat). Salah satu sebab rendahnya bioavailabilitas kurkumin adalah tidak larut air pada asam atau
pH netral, dan ini penyebab sulitnya diabsorpsi, sehingga aplikasi kurkumin diperlukan teknologi
dan polimer yang mampu membawa dan mengantarkannya untuk dapat terabsorbsi dengan baik.
Fermeherbavit merupakan ferbal yang mengandung probiotik, sehingga viabilitas selnya harus
terjaga agar mampu mencapai usus dalam keadaan hidup.
Pengaruh pH lambung yang sangat ekstrim yaitu sekitar pH 1-5 serta adanya
pengaruh garam empedu (bile salt). Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk melindungi sel
probiotik yaitu meng gunakan teknik enkapsulasi (Petrovic et al., 2007; Akhiar, 2010; Islam et al.,
2010; Burgain et al., 2011; Gbassi dan Vandamme, 2012). Bahan enkapsulasi adalah karagenan
(Tsen et al., 2004); resistant starch (Shafiei et al.,2012); alginat (Grosso dan Favaro-Trindade,
2004), Kitosan (Tsen et al.,2004; Le-Tien et al.,2004).
Kitosan merupakan jenis polimer alami dan merupakan turunan utama dari kitin, dimana
untuk mendapatkan kitosan yang baik tergantung dari kitin yang diperoleh dan kelarutannya dalam
suatu alkali serta waktu yang digunakan dalam deasetilasi. Kurkumin dan kitosan akan berikatan
secara ionik (kitosan mengenkapsulasi kurkumin). Ikatan ionik antara kitosan dan kurkumin dapat
284
protease yang dihasilkan di lambung, oleh karena itu diperlukan bahan anion misalnya sodium
tripolifosfat (STPP) untuk menstabilkan kompleks inter-molekuler (Sundari et al., 2013).
METODE PENELITIAN
Materi penelitianBahan-bahan fermeherbafit terdiri atas: Bahan enkapsulasi: 100 g Curcuma domestica
(kunyit), 100 g Curcuma xanthorrhiza R (temulawak), 25 g Allium sativum L (bawang putih), 50 g
Morinda citrifolia (Mengkudu), 10 g Moringa oleifera (daun kelor), 25 g gula jawa, Probiotik
BAL (Bakteri Asam Laktat). Bahan enkapsulasi: alginat dan chitosan. Bahan pakan yang
digunakan: jagung, dedak, bungkil kedele, tepung ikan, kapur, premix, minyak, DL-Methionin dan
L-Lysin-HCl. Ransum disusun berdasarkan isoprotein dan isokalori, dengan kandungan protein
ayam periode starter 23% dan EM=3100 kcal/kg; kandungan protein ayam periode finisher sebesar
20% dengan EM = 2900 kcal/kg. Perlakuan dicobakan yaitu: R0= Kontrol; R1= penggunaan
fermeherbafit non-capsulasi; R2= penggunaan 1,5% fermeherbafit capsulasi; R3= penggunaan
3,0%; fermeherbafit capsulasi; R3= penggunaan 4,5% fermeherbafit capsulasi. Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan uji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Jujur
(BNJ). Variabel yang diukur: performan ayam broiler meliputi pertumbuhan, konsumsi pakan,
konversi pakan, indek produksi, dan jumlah kematian.
Pembuatan Kapsul BAL dan Uji Kualitas
Proses pembuatan kapsul dilakukan dengan metode freeze-dried dan spray-dried dengan
menggunakan karragenan dan sodium alginat sebagai bahan kapsulasi serta skim milk dan
maltodextrin sebagai bahan pengisi. Pengujian jumlah koloni BAL didalam kapsul pada masing –
masing perlakuan diukur menggunakan metode Total Plate Count (TPC) menurut Fardiaz (1992).
Sebanyak 0,5 g kapsul BAL dimasukkan ke dalam 4,5 ml NaCl fisiologis 0,85 % dan di-vortex
untuk proses pelarutan kapsul, lalu diencerkan secara serial (4, 5 dan 6 kali) dan kemudian diambil
sebanyak 0,1 mL untuk ditanam pada cawan petri berisi media MRS agar. Kultur diinkubasi pada
suhu ruang selama 2 hari. Koloni yang tumbuh kemudian dihitung sebagai berikut: Populasi BAL
(cfu/g) = Jumlah Koloni x Pengenceran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Perbedaan kandungan protein dan asam-asam
amino disebabkan karena kandungan bahan–bahan pakan penyusun ransum berbeda, terutama
pakan sumber protein, yang berakibat pada perbedaan kandungan asam-asam amino. Asam amino
285
dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan dan produktivitas yang maksimal (National Research
Council, 1994).
Tabel 1. Penggunaan fermeherbafit encapsulasi terhadap performan ayam broiler
Perlakuan Bobot Badan (g) PBB PBBH
Perbedaan rasio penggunaan bahan pakan sumber protein hewani dengan bahan pakan
sumber protein nabati dapat menyebabkan perbedaan rasio metionin dan lisin dengan treonin dan
triptopan. Bahan pakan sumber protein hewani lebih banyak mengandung asam-asam amino
bersulfur seperti metionin dan lysin, sedangkan bahan pakan sumber protein hewani lebih banyak
mengandung asam amino treonin dan triptopan.
Konsumsi pakan (feed intake) adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ayam atau ternak lain untuk
lain untuk fungsi normal tubuh pada periode tertentu. Ayam mempunyai sifat khusus yaitu
mengonsumsi pakan untuk memenuhi kebutuhan energinya sehingga jumlah pekan yang
dikonsumsinya cenderung berhubungan erat dengan energinya (Tilman dkk., 1983).
Konsumsi pakan sangat dipengaruhi oleh bangsa ayam, temperatur lingkungan,periode
produksi dan energi dalam pakan, semakin tinggi energi pakan akan menurunkan konsumsi Wahju
(2004), bobot tubuh ayam, jenis kelamin, aktivitas, suhu lingkungan, kualitas dan kuantitas pakan
yang diberikan National Research Council (1994). Menurut Pond et al. (1995), palatabilitas pakan
merupakan daya tarik pakan atau bahan pakan yang dapat menimbulkan selera makan ternak.
Hubungan pakan dengan palatabilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu rasa, bau, dan warna
bahan pakan.
Tingkat palatabilitas ayam dipengaruhi oleh lemak pakan, karena fungsi lemak antara
lain: meningkatkan palatabilitas, membuat pakan menjadi tidak berdebu serta bahan-bahan
menyusun pakan dapat tercampur dengan merata. Lemak dalam pakan perlakuan sebesar 5,51%
sampai 7,56%, kandungan lemak pakan masih dalam kisaran acuan pembatasan lemak dalam pakan
berdasarkan SNI (2016), bahwa lemak pakan ayam broiler berkisar antara 2,5-7%.
Lemak dan minyak yang dikonsumsi unggas akan dipecah oleh enzim lipase ke dalam
asam lemak. Lemak dibutuhkan untuk produksi telur, lapisan lemak diantara daging dan sebagai
286
dipengaruhi oleh adanya serat kasar ransum, kandungan serat kasar ransum sebesar 2,40% sampai
3,68%. Kadar serat dalam pakan masih dalam kisaran SNI (2016), yaitu sebesar maksimal 7%.
Banyak faktor yang memengaruhi konsumsi ransum broiler diantaranya besar dan bangsa
ayam, luas kandang, tingkat energi dan protein dalam ransum. Church (1979), menyatakan bahwa
faktor yang dapat memengaruhi konsumsi adalah palatabilitas. Palatabilitas dipengaruhi oleh bau,
rasa, tekstur dan warna pakan yang diberikan. Konsumsi ayam dapat pula dipengaruhi oleh
kapasitas tembolok. Meskipun kebutuhan energinya belum terpenuhi, namun ayam akan berhenti
makan apabila temboloknya sudah penuh (Tilman dkk., 1986).
Lacy dan Veast (2000) menyatakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi konversi
pakan adalah genetik, ventilasi, sanitasi, kualitas pakan, jenis pakan, penggunaan zat aditif, kualitas
air, penyakit, pengobatan, dan manajemen pemeliharaan (penerangan, pemberian pakan, dan faktor
sosial). Konversi ransum mencerminkan keberhasilan dalam memilih atau menyusun ransum yang
berkualitas. Nilai konversi ransum minimal dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) kualitas ransum,
2) teknik pemberian pakan, 3) angka mortalitas. Perlu disadari bahwa kunci keberhasilan usaha
dalam budidaya broiler adalah angka konversi ransum (Abidin, 2002). Menurut National Research
Council (1994), faktor yang memengaruhi konversi pakan adalah suhu lingkungan, bentuk fisik
pakan, komposisi pakan, dan zat-zat nutrisi yang terdapat dalam pakan. Bell dan Weaver (2002)
menyatakan bahwa ayam pedaging jantan lebih efisien dalam mengubah pakan menjadi daging
karena mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan betina.
Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa persentase kematian selama periode
pemeliharaan tidak boleh lebih dari 4%. Angka kematian pada minggu pertama selama periode
pemeliharaan tidak boleh lebih dari 1%. Kematian selanjutnya harus relatif lebih rendah sampai
hari terakhir minggu tersebut dan terus dalam keadaan konstan sampai akhir periode pemeliharaan.
Mortalitas pada ayam broiler kurang dari 5% menunjukkan bahwa tingkat pemeliharaan
ayam broiler berada pada kondisi yang baik(Mpofu, 2012), sejalan dengan pendapat Ahsan-ul-Haq
(2003), bahwa mortalitas ayam broiler sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain genetik,
pakan, manajemen brooding yang kurang baik, toksin, serta biosecurity yang kurang baik yang
dapat menyebabkan penyakit Omphalitis, SalmonellosisdanColibacillosis. Menurut Ahmed et al.
(2009),mikotoksin dalam pakan seperti Fusarium sp. merupakan toxin utama penyebab kematian
pada anak ayam.
KESIMPULAN
Penggunaan fermeherbafit encapsulasi dapat meningkatkan pertumbuhan ayam
287
DAFTAR PUSTKA
Ahmed, M. S., A. Sarker &M.M. Rahman. 2009. Prevalence of Infectious Diseases of Broiler Chickens in Gazipur District Bangl. J. Vet. Med. 7(2): 326 – 331.
Ahsan, U.H. 2003. Lecture Note on Sanitation and Disinfection. Department of Poultry Husbandry. University of Agriculture Farsalabad, Pakistan.
Anal, A.K. & W.F. Stevens. 2005. Chitosan-Alginate Multilayer Beads for Controlled Release of Ampicillin. J. Pharma.290:45–54.
Bell, D.D. & W.D. Weaver. 2002. Comercial Chicken Meat and Egg Production. 5th Edition. Springer Science and Business Media, Inc, New York.
Charpentier, C.A., P. Gadille, B. Digat, J.B. Benoit. 1998. Microencapsulation of Rhizobacteria by Spray Drying: Formulation and Survival Studies. J.Microencapsulation 15:639–659.
Church, D.C. 1979. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant. Vol: 1 Second Edition. John Wiley and Sons. New York.
Ensminger, M.E., J.G. Oldfield, & W.W. Eeinmann, 1990. Feed and Nutrition. Ensminger Publishing Co. California.
Gordon, S.H. & D.R.Charls. 2002. Nichel and Organic Chicken Products: Their Technology and Scientific Principles. Nottingham University Press. United Kingdom.
Ivanova, E.V.,X. Chipeva, Doussset,& D. Poncelet. 2002. Encapsulation of Lactic Acid Bacteria in Calcium Alginate Beads for Bacteriocin Production. J. Cult. Collections. 3: 53–58.
Lacy, M. & L.R. Vest. 2000. Improving Feed Convertion in Broiler: A Guide for Growers. Springer Science and Business Media Inc. New York.
Lee, J.S., D.S. Cha & H.J. Park. 2004. Survival of Freeze-dried Lactobacillus bulgaricus KFRI 673 in Chitosan-coated Calcium Alginate Microparticels. J. Agric. Food Chem. 52: 300–305.
Lian, W.C., H.C. Hsio, & C.C. Chou. 2002. Survival of Bifidobacterium longum After Spray Drying. Int. J. Food Microbiol.74:79– 86.
Mosilhey SH. 2003. Influence of Different Capsule Materials on the Physiological Properties of microencapsulatedLactobacillus acidophilus. Institute of Food Technology, Faculty of Agriculture University of Bonn. 153 pages.
Mpofu, S. 2012. Broiler Chicken Management. Irvines Journal. page 22.
National Reserch Council. 1994. Nutrient Requirments of Poultry. 9th Revised Edition. National Academy Press. Washington.
North, M.O. 1984. Commercial Chicken ProductionManual. 3rd Ed. The Avi Publishing Company, Inc. Wesport, Connecticut.
288
Sultana, K., G. Godward, N. Reynolds, R. Arumugaswamy, P. Peiris, & K. Kailasapathy. 2000. Encapsulation of Probiotic Bacteria with Alginate-Starch and Evaluation of Survival in Simulated Gastro Intestinal Condition and in Yoghurt. Int. J. Food Microbiol. 62: 47–55.
Steel, R.G.D. & J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika, Ed ke-2, B Sumantri, penerjemah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Steel, R.G.D. & J.H. Torrie. 1994. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biometrik. M.Syah, Penerjemah. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo & S. Lehdosoekojo. 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Edisi Ke-4. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Zamora L., C. Carretero & D. Parés. 2006. Comparative Survival Rates of Lactic Acid Bacteria Isolated from Blood, Following Spray-drying and Freeze-drying. Technol. Food Sci.