b u l l e t i n
P u b l i k a s iD I R E K T O R A T K E W I L A Y A H A N I I D E P U T I P E N G E M B A N G A N R E G I O N A L D A N O T O N O M I D A E R A H
B A P P E N A S
ISSN 1693-6957 E D I S I 1 9 • 2 0 0 7
PENGEMBANGAN KAWASAN
TANTANGAN DAN PELUANG
DI ERA DESENTRALISASI
D
esentralisasi Fiskal = Perbaikan Kinerja Pemerintah Daerah?
M
embangun Kemandirian Daerah ala Kabupaten Sragen
PELINDUNG : Deputi Bidang Otonomi Daerah dan Pengembangan Regional, Bappenas, Max H. Pohan;PENANGGUNG JAWAB DAN PEMIMPIN REDAKSI : Plt Direktur Kewilayahan II, Suprayoga Hadi; DEWAN REDAKSI : Hayu Parasati, Rohmad Supriadi, Sutiman, Kuswiyanto, Hermani Wahab, Velix Wanggai, Moris Nuaimi, Andri Narti RM; REDAKTUR : Pringgadi Kridiarto, Rahmi Utamisari, Yelda Rugesty, Dharmawan Adiwiyanto; KONTRIBUTOR REGULER : Amalia Falah Alam, Novera Puspaningtyas, Ika Dahlia Pusparini, Umi Hanik, Bagus Handoko; KESEKRETARIATAN DAN DISTRIBUSI : Dessy Sulasmini, Viera, M. Fadholi, Sonoadi, Surori.
Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Untuk tulisan, panjang tulisan maksimal 5 halaman pada kertas ukuran A-4. Redaksi berhak mengubah maupun mengedit tulisan.
b u l l e t i n
ALAMAT REDAKSI Direktorat Kewilayahan II, Jalan Taman Suropati No. 2, Jakarta Pusat 10310. Telp. (021) 3926249, 3101984. Faks. (021) 3926249. Situs : http://kawasan.bappenas.go.id
Fokus
• Pembagian Urusan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Konstelasi Pencapaian Pembangunan Daerah — 1
• Desentralisasi Fiskal = Perbaikan Kinerja Pemerintah Daerah ? — 5 Opini
• Komitmen Regulasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Menciptakan Iklim Usaha yang Kondusif bagi
Pengembangan Kawasan di Era Desentraliasai — 11
Wawancara
• Dr. Ir. Son Diamar, Bappenas : Panglima dalam Pengembangan Kawasan di Era Otonomi Daerah —
15 Daerah
• Strategi Kabupaten Sragen dalam Membangun Kemandirian Daerah —
18 Agenda
• Pelaksanaan Inpres No. 5/2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat — 25
• Monitoring Requirement Workshop di UNDP — 25
• Evaluasi Pelaksanaan PTD Tahun 2006 dan Konsolidasi Pelaksanaan PTD Tahun 2007 — 26
• Seminar Nasional “Rencana Aksi dan Rekonstruksi Wilayah Provinsi NAD dan Kep. Nias Provinsi Sumatera Utara — 27
Pustaka
• Bank Kaum Miskin oleh Muhammad Yunus — 28
Galeri Kawasan — 30
Pengembangan kawasan pada prinsipnya tidak akan terlepas dari sistem dimana kawasan tersebut dikembangkan. Oleh karenanya, sudah seharusnya pengembangan kawasan didukung oleh semua pemangku kepentingan terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah. Saat ini harmonisasi kerjasama tersebut sangat dipengaruhi oleh berkembangnya prinsip-prinsip desentralisasi di Indonesia
Pembaca yang budiman, sudah hampir satu dasawarsa desentralisasi bergulir, dan hingga kini dapat kita amati berbagai perubahan pada peta pelaksanaan pembangunan nasional, terutama pada upaya revitalisasi pembagian urusan antara pemerintah dan daerah. Secara konseptual, semangat desentralisasi adalah semangat demokratisasi yang berupaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita berharap desentralisasi mampu berjalanan beriringan bahkan mendukung pelaksanaan pengembangan kawasanan demi efektivitas pembangunan.
Edisi kali ini membahas ’jatuh bangunnya’ pengembangan kawasan di era desentralisasi. Rubrik Fokus mengangkat tema desentralisasi, secara konseptual, historikal, dan permasalahan yang menyertai, serta dampaknya terhadap perbaikan kinerja pemerintah daerah. Berawal dari perbedaan pemahaman, pada banyak kasus, pelaksanaan desentralisasi kadang justru memberikan dampak yang kontraproduktif bagi pengembangan kawasan (baca rubrik Opini), bahkan seringkali disikapi secara generik sebagai peluang lahirnya daerah otonom baru.
Selanjutnya, rubrik Pustaka akan membawa kita menjelajah pemikiran konseptual Muhammad Yusuf dan upayanya dalam mengembangkan bank yang pro terhadap rakyat miskin. Konsep ini sederhana, namun gaungnya menjadi bola salju yang besar justru karena kegigihannya dalam mewujudkan. Bagi upaya pengembangan kawasan, berkembangnya bank pro rakyat miskin berarti semakin menggeliatnya perekonomian rakyat yang pada akhirnya akan mendorong bergulirnya perekonomian kawasan.
F O K U S
Pem bagian Urusan ant ara
P e m e r i n t a h P u sa t d a n P e m e r i n t a h
D a e r a h
d a l a m Ko n st el a si Pen ca p a i a n
Pem bangunan Daerah
Ole h :
I r . D e ddy Koe spr a m oe dyo, M Sc.
D ir e k t u r Ot on om i D a e r a h , Ba ppe n a s
Pengembangan Wilayah
Pengembangan wilayah1 di
Indonesia dewasa ini tengah menjadi perhatian pemerintah dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional yang terintegrasi. Luasnya wilayah Indonesia dengan berbagai karakteristik yang berbeda antar wilayah, menuntut adanya suatu manajemen pembangunan yang responsif terhadap karakteristik wilayah tersebut. Salah satu pendekatan dalam pengembangan wilayah yang efektif bagi negara berkembang adalah melalui
pengembangan kawasan2.
Pengembangan kawasan tersebut memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian suatu wilayah, karena pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah menjadi tolok ukur bagi keberhasilan pembangunan daerah terkait. Melalui pengembangan kawasan secara terintegrasi dengan kawasan perekonomian lainnya, maka diharapkan pengembangan wilayah dapat berjalan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembangunan, baik dalam lingkup regional maupun nasional.
Pelaksanaan pengembangan wilayah di Indonesia dalam lingkup nasional tidak dapat terlepas dari peran pemerintah pusat sebagai penyelenggara pemerintahan, demikian pula dengan peran pemerintah daerah, yang menjadi tolok ukur keberhasilan
pembangunan di daerah. Berbicara mengenai pengembangan kawasan di Indonesia yang saat ini sedang berbenah diri atas sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik. Secara tidak langsung, proses pengembangan kawasan tersebut berarti juga mengupas proses desentralisasi yang sedang diselenggarakan secara bertahap di Indonesia. Dengan adanya fokus pembangunan terhadap revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah, sebagaimana tertuang dalam Bab 13 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional3, dan Bab 12
Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2007, maka pelaksanaan pengembangan kawasan dan/atau wilayah di Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang timbul akibat kebijakan desentralisasi tersebut.
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia4.
Pemerintah yang dimaksud dalam definisi tersebut adalah pemerintah pusat, sedangkan daerah otonom yang dimaksud meliputi wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Dengan kata lain, proses desentralisasi menitikberatkan pelaksanaan penyerahan wewenang pemerintahan, yang sebelumnya dimiliki
oleh pemerintah pusat dalam rangka penyelenggaraan pembangunan, kepada pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, yang dalam pelaksanaannya juga dapat berbentuk dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Proses penyerahan kewenangan tersebut, disertai dengan kewajiban Pemerintah Pusat untuk menyerahkan dana dalam rangka pelaksanaan kewenangan yang didesentralisasikan. Tujuan pelaksanaan kebijakan desentralisasi di Indonesia, pada prinsipnya berpijak pada dua keinginan dasar, yaitu untuk peningkatan demokratisasi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, melalui upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaannya, hingga saat ini telah terjadi berbagai perubahan, baik mengenai dasar hukum pelaksanaan desentralisasi, maupun pengaturan teknis pelaksanaan desentralisasi serta hal-hal terkait lainnya.
Sejarah Singkat Desentralisasi di Indonesia
sejak pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1974. Kedua UU kebijakan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di tahun 1999 tersebut merupakan koreksi total atas kebijakan UU sebelumnya, dalam upaya mewujudkan otonomi yang cukup luas kepada daerah, sebagaimana telah dicita-citakan oleh UUD 1945. Setelah pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah selama 4 tahun, selanjutnya ditetapkan UU No. 32 tahun 2004, sebagai revisi UU No. 22 Tahun 1999, yang disertai dengan penetapan UU No. 33 Tahun 2004 sebagai revisi UU No. 25 Tahun 1999. Salah satu hal yang menyebabkan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah tidak dapat berjalan seperti yang diharapkan pada masa berlakunya UU No. 22 Tahun 1999 adalah terjadinya tarik-menarik kepentingan antara pemerintah pusat dan daerah, karena kurang jelasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan.
Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah serta Dana Perimbangan dalam Desentralisasi
Sebagai pelaksanaan amanat UU No. 22 Tahun 1999, telah ditetapkan PP No. 25 Tahun 2000, tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, yang didalamnya mengatur tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam pengaturan tersebut, disebutkan bahwa kewenangan pemerintah provinsi mencakup bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/kota, diluar bidang yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, yaitu diluar bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan lain yang memiliki manfaat dan/atau dampak nasional. Adanya opsi kewenangan lain dalam pengaturan kewenangan
pemerintah pusat ini menjadi kunci ketidakjelasan pengaturan, karena pada pelaksanaannya, istilah kewenangan lain tersebut dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang pemerintahan yang dianggap memiliki manfaat dan/atau dampak lingkup nasional. Dengan kata lain, peran pemerintah pusat dalam pembangunan daerah masih sangat dominan.
Terkait dengan kewenangan pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan, UU No. 22 Tahun 1999 menekankan bahwa wilayah negara Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota yang bersifat Otonomi, dan tidak mempunyai hubungan hierarki (berdiri sendiri)5. Dalam pelaksanaannya,
penetapan daerah yang berdiri sendiri ternyata menuai ketidakselarasan dan ketidakharmonisan pembangunan antar daerah, ataupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah akibat kurang terlaksananya koordinasi. Selain itu, minimnya kewenangan pemerintah provinsi yang terbatas pada bidang pemerintahan lintas kabupaten/kota dan tidak adanya penjelasan lebih lanjut mengenai pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota di setiap bidang pemerintahan, menyebabkan kerancuan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Payung hukum yang dinilai belum matang tersebut justru menimbulkan ketakutan bagi pemerintah daerah untuk berinovasi dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Akibatnya, pembangunan daerah terhambat karena adanya tumpang tindih pelaksanaan pembangunan oleh pemerintah pusat dan daerah, atau bahkan tidak terlaksananya pembangunan bidang pemerintahan tertentu oleh keduanya. Akibat adanya konflik kewenangan tersebut, pelaksanaan desentralisasi dinilai lebih bernuansa politis6, dan justru masih jauh
dari pencapaian tujuan desentralisasi yang utama yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat.
F O K U S
tepat atau tidaknya formula penentuan Dana Perimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, ditetapkannya UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 1999 telah menunjukkan komitmen pemerintah untuk mewujudkan demokratisasi di daerah dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, yang sampai saat ini masih dalam proses penyempurnaan.
Perubahan pengaturan dalam UU No. 32 Tahun 2004 memberikan nuansa baru bagi pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, terutama dalam menjawab pembagian kewenangan pemerintahan, yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan secara rinci oleh UU No. 22 Tahun 1999, dengan terbitnya PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Secara eksplisit dijelaskan dalam PP tersebut bahwa pembagian urusan pemerintahan ditetapkan berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan. Karena disadari bahwa efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat ditingkatkan melalui peningkatan hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah, peluang serta tantangan persaingan global. Berdasarkan pertimbangan tersebut, pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota telah didefinisikan secara rinci untuk 31 bidang urusan pemerintahan7.
Penyempurnaan prinsip pembagian kewenangan atau urusan pemerintahan dalam PP No. 38 Tahun 2007 ini diarahkan untuk mempermudah
penyelenggaraan pemerintahan daerah, dengan adanya landasan hukum yang jelas, khususnya bagi kebebasan masing-masing pemerintah daerah untuk berinovasi pada pelaksanaan pembangunan dalam lingkup kewenangannya. Inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah tidak hanya terbatas pada bidang manajerial pemerintahan, melainkan juga dapat diwujudkan pada teknis pelaksanaan pembangunan dalam lingkup kewenangan yang telah diatur. Mengenai urusan pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/kota, yang dalam PP No. 25 Tahun 2000 disebutkan menjadi kewenangan pemerintah provinsi, dalam PP No. 38 Tahun 2007 disebutkan dikelola secara kerjasama oleh daerah terkait. Pengelolaan secara bersama mengenai urusan pemerintahan lintas wilayah tersebut selain melibatkan daerah-daerah terkait, juga melibatkan peran tingkatan pemerintahan di atasnya dalam hal koordinasi dan fasilitasi. Sebagai contoh dalam bidang penataan ruang disebutkan bahwa Pemerintah Pusat memiliki kewenangan dalam mengkoordinasikan dan memfasilitasi penataan ruang lintas provinsi, sedangkan Pemerintahan Daerah Provinsi memiliki kewenangan dalam mengkoordinasikan dan memfasilitasi penataan ruang lintas kabupaten/kota. Hal ini berarti bahwa koordinasi dan kerjasama masih menjadi tantangan terbesar dalam pelaksanaan kewenangan pemerintahan, sekaligus sebagai salah satu parameter keberhasilan pembangunan daerah. Mengingat pentingnya kerjasama antar daerah dalam usaha pencapaian tujuan pembangunan, maka diperlukan pedoman pelaksanaan kerjasama antar daerah, yang saat ini masih dalam proses penyusunan (Rancangan Peraturan Pemerintah). Selain untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan lintas wilayah, kerjasama dan koordinasi juga diperlukan dalam pelaksanaan
pembangunan di wilayah perbatasan, sebagai perwujudan pembangunan yang terintegrasi dalam lingkup kesatuan wilayah Negara Indonesia.
Penggolongan urusan pemerintahan dalam PP No. 38 Tahun 2007 terdiri dari urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional serta agama; dan urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan8 (konkuren).
Berbeda dengan pengaturan sebelumnya, kewenangan pemerintah pusat tidak lagi ditunggangi dengan istilah kewenangan lain. Walaupun pada pengaturan selanjutnya, Pemerintah Pusat tetap memegang kendali atas beberapa kewenangan terkait kebijakan, penetapan peraturan perundang-undangan dan penetapan Norma, Standar, Prosedur serta Kriteria dalam penyelenggaraan pemerintahan, khususnya di bidang-bidang atau wilayah yang memiliki skala manfaat atau dampak nasional. Tetapi paling tidak, dengan adanya pembagian urusan pemerintahan yang rinci untuk pemerintah pusat, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung upaya pemerintahan daerah sepenuhnya untuk menjalankan semua kewenangan yang telah didesentralisasikan, khususnya bidang-bidang yang bersifat lokal-regional.
untuk mencermati bagaimana perkembangan mekanisme dana perimbangan ini setelah ditetapkannya PP No. 38 Tahun 2007. Pasalnya, dalam PP No. 38 Tahun 2007, UU No. 33 Tahun 2004 tidak secara eksplisit dijadikan salah satu point dalam bagian “Mengingat”, sementara pembagian urusan tentu akan membawa implikasi pada anggaran. Idealnya tentu ada peraturan turunan juga dari UU No. 33 Tahun 2004 dalam bentuk Peraturan Pemerintah mengenai dana perimbangan yang disesuaikan dengan pembagian urusan dalam PP No. 38 Tahun 2007.
Keterkaitan PP No. 38 Tahun 2007 dengan Peraturan Perundangan Sektoral
Tak bisa dipungkiri bahwa keluarnya PP No. 38 Tahun 2007 ini sudah sangat ditunggu-tunggu, baik oleh instansi-instansi di tingkat pusat, maupun oleh Pemerintahan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Dalam kebijakan desentralisasi, hal yang paling esensial dalam pelaksanaannya adalah penjabaran teknis dari kewenangan atau urusan apa saja yang didesentralisasikan. Idealnya, PP ini keluar pada tahun yang sama dengan keluarnya UU No. 32 Tahun 2004, karena tidak adanya PP ini berarti membiarkan pemerintahan daerah (dan pusat) berada dalam kebimbangan mengenai “siapa melakukan apa?”. Adapun kebingungan itu pada akhirnya dapat menimbulkan dua kemungkinan.
Pertama, keraguan akan menyebabkan suatu urusan itu tidak dijalankan oleh siapapun, dan kedua, terbukanya segala penafsiran mengenai pelaksana urusan itu akan menimbulkan konflik diantara pihak-pihak yang terkait.
Dalam mengantisipasi kedua kemungkinan itu dan memperjelas aturan main pelaksanaan suatu urusan, pada jarak waktu antara tahun 2004 dan 2007, menjadi wajar apabila instansi-instansi sektoral di tingkat pusat telah
membuat peraturan-peraturan perundangannya masing-masing. Pertanyaannya sekarang adalah apakah PP No. 38 Tahun 2007 itu dalam penyusunannya memperhatikan peraturan-peraturan perundangan sektoral tersebut. Satu hal yang jelas adalah ada 31 bidang yang urusannya diatur dalam lampiran PP No. 38 Tahun 2007. Akan tetapi, Hanya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, yang dimasukkan dalam point “Mengingat” pada batang tubuh PP No. 38 Tahun 2007 tersebut.
Dalam lampiran bidang pemerintahan umum dan otonomi daerah, terdapat satu bagian yang mengatur mengenai harmonisasi peraturan perundangan. Dalam lampiran itu disebutkan bahwa Pemerintahan Daerah perlu mengharmoniskan peraturan daerah dengan peraturan dari pusat. Akan tetapi, uniknya, tidak ada kewajiban bagi pemerintah pusat untuk melakukan usaha harmonisasi peraturan perundangan di pusat sendiri. Padahal, dalam kenyataannya, justru kesimpang-siuran peraturan di pusat itulah yang sering menjadi kendala dalam pelaksanaan desentralisasi di daerah. Dengan pertimbangan tersebut, dapat dibilang bahwa PP No. 38 Tahun 2007 berpotensi untuk bersinggungan dengan peraturan-peraturan perundangan sektoral yang telah ada sebelumnya.
Catatan Kaki :
1 Wilayah didefinisikan sebagai ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional (UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang).
2 Kawasan didefinisikan sebagai wilayah
yang mempunyai fungsi tertentu, dimana kegiatan ekonominya, sektor dan produk unggulannya, mempunyai potensi mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya (Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal
Bappenas, 2004). Dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Kawasan didefinisikan sebagai wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya, seperti : kawasan lindung, kawasan budi daya, kawasan perdesaan, kawasan agropolitan, kawasan perkotaaan dan sebagainya.
3 RPJMN 2004 – 2009 Bab 13 Bidang
Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah merupakan prioritas pembangunan nasional yang menjadi salah satu strategi dalam mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis.
4 UU No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
5 Pasal 4 ayat 2 UU No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah, “Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota-, masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain.
6 Prof. Dr. Muchsan SH, dalam Kompas 13
Maret 2001, “Otonomi Daerah Lahirkan Konflik Kewenangan.”
7 Bidang Urusan Pemerintahan tersebut meliputi
bidang pendidikan; kesehatan; pekerjaan umum; perumahan; penataan ruang; perencanaan pembangunan; perhubungan; lingkungan hidup; pertanahan; kependudukan dan catatan sipil; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; keluarga berencana dan keluarga sejahtera; sosial; ketenagakerjaan dan ketransmigrasian; koperasi dan usaha kecil dan menengah; penanaman modal; kebudayaan dan pariwisata; kepemudaan dan olah raga; kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian; pemberdayaan masyarakat dan desa; statistik; kearsipan; perpustakaan; komunikasi dan informatika; pertanian dan ketahanan pangan; kehutanan; energi dan sumber daya mineral; kelautan dan perikanan; perdagangan; serta perindustrian.
8 Pasal 2 ayat (1) dan (2) PP 37 tahun 2008
F O K U S
Pendahuluan
Sejak beberapa dekade terakhir beberapa negara telah dan sedang melakukan desentralisasi. Desentralisasi merupakan bagian yang teramat penting didalam proses demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintahan terpusat yang cenderung otokratis berubah menjadi pemerintahan lokal yang dipilih langsung oleh masyarakat. Alasan lainnya atas maraknya proses desentralisasi, selain karena disinyalir untuk alasan politis, adalah untuk memperbaiki mutu pelayanan kepada masyarakat. Didalam konteks ini titik berat desentralisasi adalah pelayanan bukan kekuasaan. Dengan kata lain desentralisasi adalah suatu upaya mendekatkan pemerintahan kepada rakyatnya (bringing the State closer to the people).
Desentralisasi Fiskal
Desentralisasi telah menjadi topik/issue yang populer di Indonesia terutama sejak pemerintah Indonesia memperkenalkan kebijakan otonomi daerah. Keseriusan pemerintah Indonesia diwujudkan dengan dihasilkannya UU No. 22 tahun 1999 mengenai pembagian kewenangan di pemerintah daerah, dan UU No. 25 tahun 1999 mengenai Pembagian Keuangan antara Pusat dan Daerah. Undang – undang tersebut telah dijadikan sebagai aturan umum dalam Implementasi kebijakan otonomi daerah diseluruh Indonesia. Kecuali Aceh dan propinsi Papua yang memperoleh otonomi khusus.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah lalu, baik perubahan politik, ekonomi, dan lingkungan sosial, kebijakan otonomi daerah mendesak untuk segera
diimplementasikan. Tujuan yang paling penting dari kebijakan otonomi daerah ini adalah untuk memberi wewenang yang lebih luas kepada pemerintah daerah terutama dalam mengatur pembangunan daerahnya sendiri. Otonomi memberikan kekuasaan kepada pemerintah daerah sampai tingkat tertentu, walaupun hal itu juga banyak menimbulkan kesalahpahaman dalam pelaksanaannya. Sementara ini dapat kita lihat, masalah-masalah baru seperti korupsi, kebijakan yang distortif, kesenjangan kemampuan ekonomi (PAD misalnya) antar daerah yang kian melebar serta kekuasaan legislatif yang terlalu kuat mendorong dan menjauhkan pencapaian tujuan awal dan utama dari kebijakan otonomi daerah itu sendiri.
Bagaimanapun peraturan-peraturan Pemerintah (termasuk undang-undang) yang telah disahkan diharapkan mampu merespon
masalah-DESEN TRALI SASI FI SKAL =
masalah yang bertambah akibat penerapan otonomi daerah. Beberapa permasalahan yang muncul dalam implementasi kebijakan desentralisasi, antara lain:
• Munculnya semangat yang sangat
besar terhadap kebijakan otonomi, sehingga pemerintah daerah berlomba – lomba membuat peraturan daerah yang bertujuan untuk peningkatan pendapatan asli daerahnya. Dampaknya banyak daerah yang kehilangan dukungan dari masyarakatnya sendiri dalam implementasi peraturan yang dibuat (peraturan yang dibuat cenderung distortif).
• Didalam proses pembuatan
kebi-jakan daerah, seringkali memunculkan kesalahpahaman dalam pelaksanaannya. Hal ini salah satunya disebabkan oleh cacatnya proses pembuatan peraturan tersebut (tidak transparan dan akuntable). Dengan kata lain, saat ini terjadi kekuatan legislatif yang lebih besar dari pada eksekutif (strong legislative system). Masalah-masalah baru bermunculan seperti korupsi, kebijakan yang distortif, disparitas yang kian melebar serta kekuasaan legislatif yang terlalu kuat.
Desentralisasi Fiskal adalah pelimpahan kewenangan kepada daerah untuk menggali dan menggunakan sendiri sumber-sumber penerimaan daerah sesuai dengan potensinya masing-masing. Di era otonomi daerah, Desentralisasi Fiskal sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah mengingat dengan adanya Desentralisasi Fiskal akan dapat meningkatkan efisiensi ekonomi, perbaikan akuntabilitas, dan peningkatan mobilisasi dana.
Berkaitan dengan konteks hubungan keuangan pemerintah pusat dan daerah, penerapan Desentralisasi Fiskal berarti daerah diberikan
wewenang untuk memanfaatkan sumber keuangan sendiri dan didukung dengan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Dengan demikian proporsi antara pemberian wewenang terhadap tugas, tanggungjawab dan pemberian wewenang dalam pengelolaan keuangannya tersebut hendaknya berimbang. Selama ini yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara pemberian tugas dan tanggungjawab dengan kewenangan dalam pengelolaan keuangan. Daerah masih lebih banyak berperan sebagai pelaksana keputusan Pusat saja tanpa memiliki kewenangan untuk menentukan dan menggunakan sendiri sumber-sumber keuangan yang ada di daerahnya.
Desentralisasi fiskal sebagai elemen terpenting dalam pelaksanaan otonomi daerah dimaksudkan agar dapat mengurangi ketergantungan keuangan daerah terhadap pusat. Sementara ini Desentralisasi Fiskal masih dipahami sebagai pelimpahan kewenangan kepada daerah dalam hal tugas-tugas pengeluaran dan pembagian penerimaan negara kepada daerah. Bentuknya adalah dengan memberikan keleluasaan daerah melalui block grant seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Perimbangan lainnya. Padahal Desentralisasi Fiskal idealnya harus mengarah pada lahirnya otoritas fiskal di daerah yang berarti adanya kemampuan pemerintah daerah untuk menentukan pajak yang akan dikenakan, rancangan pajak dan akses langsung ke sumber pendanaan. Kewenangan perpajakan ini merupakan bagian integral dari perspektif keuangan negara, dan harus menjadi prioritas pertimbangan kebijakan Desentralisasi Fiskal.
Dalam Undang-Undang No.34 Tahun 2000 telah ditetapkan jenis-jenis pajak yang dapat dipungut oleh Provinsi dan jenis-jenis pajak yang dipungut oleh Kabupaten/Kota. Pajak Provinsi terdiri dari 4 jenis pajak yaitu: (1) Pajak
Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB dan KAA); (2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB dan BBNKAA); (3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB); (4) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT dan AP).
Sementara itu kewenangan pemerintah Kabupaten / kota meliputi: (1) Pajak Hotel; (2) Pajak Restoran; (3) Pajak Hiburan; (4) Pajak Rekalame; (5) Pajak Penerangan Jalan; (6) Pajak Pengambilan Bahan Galian golongan C; dan (7) Pajak Parkir. Selain jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut, daerah masih diberi peluang untuk menggali sumber-sumber keuangan lainnya dengan tetap memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam Undang-Undang. Adanya pelimpahan kewenangan itulah yang merupakan esensi dari Desentralisasi Fiskal.
Namun dengan adanya kewenangan tersebut, pada pelaksanaannya banyak terjadi penetapan pungutan pajak dan retribusi yang dikemudian hari justru menimbulkan masalah. Hal ini dikarenakan banyak jenis-jenis pungutan yang dulu telah dihapus/ dilarang, dihidupkan kembali dengan dalih untuk mendongkrak perolehan PAD. Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan kriteria pajak dan retribusi yang dapat dipungut oleh daerah, sehingga apabila ada pungutan yang tidak sesuai dengan ketentuan tersebut dapat ditarik atau dibatalkan. Oleh karena itu, daerah merasa tidak mempunyai peluang yang mamadai untuk menggali sumber-sumber pajak baru. Hal ini berarti bahwa realisasi dari adanya pelimpahan kewenangan tersebut masih belum sepenuhnya dapat dijalankan.
F O K U S
pajak dan jenis-jenis pajak dan retribusi—. Akibatnya daerah masih sebatas melaksanakan kebijakan perpajakan yang ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Sementara bila dicermati lebih mendalam, belum terjadi perubahan yang signifikan dalam struktur perpajakan yang ditangani Pusat - Provinsi dan Kabupaten/Kota. Walaupun telah diberlakukan Undang-Undang No. 34 tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah dan ditindak lanjuti dengan PP No. 66 tahun 2001 tentang Retribusi Daerah ternyata daerah tidak banyak diuntungkan. Pasalnya hanya sedikit sekali peluang daerah untuk dapat menambah dan memungut obyek-obyek pajak dan retribusi baru. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk memungut 11 jenis pajak dan 28 jenis retribusi dengan pertimbangan bahwa jenis pajak dan retribusi tersebut secara umum dipungut di hampir semua daerah dan merupakan jenis pungutan yang baik. Selain itu Pemerintah Kabupaten/Kota juga diberi kewenangan untuk memungut jenis pajak dan retribusi lainnya sesuai kriteria tertentu yang ditetapkan dalam undang-undang. Namun pada pelaksanaannya banyak terjadi penetapan pungutan pajak dan retribusi yang dikemudian hari justru menimbulkan masalah. Hal ini dikarenakan banyak jenis-jenis pungutan yang dulu telah dihapus/ dilarang, dihidupkan kembali dengan dalih untuk mendongkrak perolehan PAD. Namun disisi lain, daerah juga mengharapkan adanya kewenangan yang lebih riil dalam menggali dan mengelola sendiri sumber-sumber pendapatan yang potensial di daerahnya. Masih rendahnya implementasi Desentralisasi Fiskal dapat dijelaskan sebagai berikut
Implementasi Desentralisasi Fiskal dalam prakteknya tidak terlepas dari beberapa faktor, antara lain faktor kesiapan dalam konteks kapasitas kelembagaan dan sumber daya
manusia baik pada level pusat maupun daerah dalam menyikapi kebijakan desentralisasi, dan yang kedua adalah
faktor kepastian hukum dan segala ketentuan administratif operasional
yang dijadikan pijakan di lapangan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Smeru (2002), yang menyimpulkan bahwa salah satu kelemahan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah adalah lambatnya pemerintah pusat dalam menerbitkan peraturan pendukungnya.
Faktor kesiapan dalam menjalankan Desentralisasi Fiskal tidak terlepas dari pengalaman dan faktor pendorong diberlakukannya desentralisasi tersebut. Bahwa dorongan desentralisasi yang terjadi di berbagai negara dunia terutama negara-negara berkembang, dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya latar belakang atau pengalaman suatu negara, peranannya dalam globalisasi dunia, kemunduran dalam pembangunan ekonomi, tuntutan terhadap perubahan tingkat pelayanan masyarakat, tanda-tanda adanya disintegrasi, dan banyaknya kegagalan yang dialami oleh pemerintah sentralistis dalam memberikan pelayanan masyarakat yang efektif.
Untuk kasus di Indonesia, penerapan desentralisasi dan otonomi selama ini belum mengarah pada pemberlakukan otonomi yang nyata, melainkan masih lebih bersifat sentralistis. Hal ini jelas berpengaruh terhadap kesiapan dan kapasitas sumber daya aparatur baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menyikapi dan melaksanakan kebijakan otonomi yang baru tersebut. Memang pekerjaan yang tidak mudah untuk menjalankan dan kemudian mencapai manfaat dari Desentralisasi Fiskal, kalau tidak dipenuhi dahulu beberapa prasyaratnya seperti: kapasitas lokal, kelembagaan dan administrasi serta kapasitas aparaturnya. Salah satu
prasyarat agar Desentralisasi Fiskal dapat berjalan dengan baik adalah adanya kesiapan dan kapasitas administrasi yang memadai khususnya di bidang perpajakan. Sebagaimana pengalaman negara Afrika Selatan dimana jauh sebelum penerapan Desentralisasi Fiskal telah dilakukan pembangunan kapasitas lokal dengan menciptakan demokratisasi melalui proses penyediaan barang-barang publik kepada semua ras, mendorong pertumbuhan dan mempertahankan stabilitas fiskal, membentuk konstitusi baru, sehingga mempercepat proses restrukturisasi hubungan politik, ekonomi dan fiskal antara berbagai tingkat pemerintahan. Salah satu contoh negara yang relatif berhasil menerapkan Desentralisasi Fiskal adalah Afrika Selatan.
Faktor pengalaman dari masing-masing negara juga memberikan pengaruh secara spesifik terhadap keberhasilan pelaksanaan Desentralisasi Fiskal, seperti latar belakang sejarah dan kebudayaan, kondisi kelembagaan pemerintah, politik dan ekonomi yang melekat pada masing-masing negara. Bahwa desentralisasi seharusnya diikuti dengan perubahan struktur sosial, ekonomi dan politik secara komprehensif dan berkala. Dalam hal perubahan struktur sosial dan politik — misalnya — pemerintah daerah mestinya dituntut untuk akuntabel terhadap rakyat di daerahnya dan demokrasi politik sudah benar-benar terealisir di tingkat pemerintah lokal. Demikian pula dalam konteks perubahan struktur ekonomi, pemerintah daerah seharusnya lebih ditopang oleh sumber-sumber penerimaan asli daerah bukannya dari dana perimbangan atau transfer dari pemerintah pusat.
justru ketika kondisi negara sedang mengalami kesulitan secara finansial (akibat krisis ekonomi). Secara teoritis, desentralisasi membutuhkan biaya yang cukup besar terutama dalam tahap permulaan guna menyiapkan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan yang ada. Dalam konteks ini kapasitas kelembagaan meliputi lembaga-lembaga pemerintahan dan politik serta sosial agar dapat turut bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses perubahan tersebut. Pada umumnya, birokrasi pemerintah lokal di negara sedang berkembang bahkan di beberapa negara maju pun masih kurang responsif, dan masih memiliki banyak kelemahan secara teknis maupun manajerial serta kurang termotivasi, sehingga diperlukan upaya keras dan biaya tinggi untuk membangun kapasitas birokrasi di tingkat lokal.
Di negara sedang berkembang, kemungkinan-kemungkinan kegagalan desentralisasi sangat dipengaruhi oleh: (1) Iklim politik dan tingkat dukungan terhadap kebijakan, (2) Sifat dan hakikat dari kebijakan itu sendiri, dan (3) Jenis penghubung dan sarana koordinasi yang tersedia antara berbagai tingkatan pemerintahan dan diantara badan-badan. Jika dirunut dari kemunculan kebijakan Desentralisasi Fiskal di Indonesia, ketiga hal yang disebutkan di atas justru masih dalam kondisi ‘bermasalah’ terutama iklim politik yang tidak stabil, kebijakan yang cenderung ‘dipaksakan’ sehingga secara substantif masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan, serta sarana koordinasi antar tingkatan dan lembaga-lembaga pemerintahan juga masih lemah.
Bagaimanapun desentralisasi merupakan pilihan kebijakan yang diyakini dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja pemerintah terutama dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan selanjutnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui
kebijakan desentralisasi ini diharapkan mampu menciptakan pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab (good government), meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan, dan peningkatan efektivitas dan efisiensi pemerintahan. Dengan adanya Desentralisasi Fiskal ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembangunan dan penyediaan pelayanan umum karena semakin dekatnya masyarakat dengan pemerintah sehingga mampu mengakomodasikan kondisi masyarakat dan wilayah yang heterogen. Tujuan utama dari desentralisasi dan otonomi daerah ini adalah mendekatkan pemerintah kepada masyarakat yang dilayaninya sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik dan kontrol masyarakat kepada pemerintah menjadi lebih kuat dan nyata. Desentralisasi dan otonomi daerah dapat dikatakan berhasil apabila pelayanan pemerintah kepada masyarakat menjadi lebih baik dan masyarakat menjadi lebih berperan dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Desentralisasi kewenangan tersebut akan berakhir dengan semakin meningkatnya peranserta masyarakat dan berubahnya peran pemerintah dari
provider menjadi fasilitator.
Kinerja Pemerintah Daerah
Pengukuran kinerja instansi pemerintah bertujuan untuk menilai
sejauh mana mereka mampu menyediakan layanan publik yang berkualitas dengan biaya yang layak serta mendorong kemajuan perekonomian daerah. Peningkatan pelayanan publik yang dimaksud adalah secara kuantitas maupun kualitas yang selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan mendorong kemajuan adalah dengan menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber-sumber daya daerah sehingga memberikan dampak peningkatan aspek finansial daerah (PAD, PDRB, pendapatan per kapita, serta pertumbuhan sektor industri dan lain-lain). Dengan demikian, keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah dapat diukur berdasarkan pencapaian tujuan sebagaimana ditetapkan.
Sementara itu berdasarkan Civil Service Reform Act pada tahun 1978 di Amerika Serikat, pengukuran kinerja yang didefinisikan oleh GAO pada tahun 1980 meliputi penilaian tentang: (1) produktivitas; (2) efektivitas; (3) kualitas; (4) ketepatan waktu.
F O K U S
tidak terlalu bertolak belakang, tetapi justru saling melengkapi, terutama dalam penekanannya pada pentingnya penyediaan pelayanan publik.
Produktivitas dapat diterjemahkan sebagai penyediaan pelayanan publik yang memadai dalam hal pemerataan pelayanan kepada masyarakat di berbagai daerah. Efektivitas dapat diartikan sebagai kesesuaian pelayanan dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat luas. Kualitas diartikan sebagai pemenuhan kriteria layanan dari perspektif masyarakat yang menerima layanan. Kriteria ketepatan waktu juga memperkuat atribut kualitas dari pelayanan publik. Dengan demikian
outcome yang diharapkan adalah tersedianya pelayanan publik yang semakin baik dan dapat menjangkau seluruh atribut pelayanan sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
Dalam manajemen pemerintahan, khususnya pemerintahan daerah, kemampuan mengelola sumber-sumber daya lokal yang terbatas merupakan suatu syarat bagi keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah. Pengelolaan sumber-sumber daya termasuk sumber-sumber daya finansial pada umumnya dalam bentuk upaya-upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatkan efisiensi penggunaan sumber dana, serta meningkatkan efektivitas penggunaan dana. Ketiganya menjadi penting mengingat dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pelaksanaan pembangunan masih sering diwarnai dengan fenomena pemborosan dan pengadaan program-program yang tidak sesuai dengan permasalahan riil di daerah.
Pada umumnya pemerintah Kabupaten/Kota belum mampu secara baik dan akurat menyusun prioritas pembangunan sesuai dengan kondisi dan permasalahan daerahnya masing-masing, melainkan masih mengacu dan menyesuaikan dengan arahan pusat. Apabila kapabilitas dalam perencanaan kurang baik maka yang terjadi adalah kemungkinan underfinancing atau
overfinancing. Underfinancing terjadi karena rendahnya kapabilitas perencanaan program di masing-masing unit kerja. Bagi unit kerja yang mengalami underfinancing maka masalah yang akan dihadapi adalah rendahnya kapabilitas untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan publik. Bagi unit kerja yang menikmati overfinancing
maka masalah yang dihadapi adalah rendahnya efisiensi.
Indikasi yang paling jelas dari belum efektifnya pengelolaan anggaran adalah masih besarnya anggaran rutin dibanding anggaran pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum dapat memprioritaskan anggaran untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sebagaimana yang diharapkan dengan dilaksanakannya otonomi daerah.
Disamping itu, dalam struktur pengeluaran pembangunan pun tidak berbeda dengan pengeluaran rutin dimana sudah dipatok di dalam pos anggaran yang sudah ada. Anggaran yang ditentukan adalah jumlah dana maksimal yang dapat dibelanjakan dimana sangat jarang diikuti dengan evaluasi kinerja yang riil. Satu-satunya ukuran kinerja yang digunakan adalah rerata proporsi dana yang dialokasikan untuk setiap sektor yang ada dalam setiap kelompok pengeluaran pembangunan.
Dalam perspektif proses internal, untuk meningkatkan keseluruhan hasil (output) perbaikan proses internal organisasi dalam rangka memenuhi harapan pihak eksternal adalah dengan mengikutkan proses inovasi sebagai suatu komponen penting dalam perspektif ini. Dalam Organisasi Pemerintah Daerah, khususnya di era otonomi dimana dituntut lebih meningkatkan pelayanan publik, maka tuntutan melakukan terobosan/inovasi-inovasi proses sangat menentukan kinerja. Selain itu proses internal bagi organisasi pemerintah meliputi indikator-indikator berikut : restrukturisasi, inovasi proses, deregulasi organisasional, koordinasi.
Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja di lingkungan pemerintahan daerah telah banyak melakukan restrukturisasi, yaitu dengan menyederhanakan atau menata ulang struktur organisasi dan menempatkan pegawai sesuai dengan bidang keahliannya.
(***)
dalam hal sistem dan prosedur yang membawa manfaat tidak saja bagi kenyamanan para pelaksana tugas tetapi yang paling diharapkan adalah hasilnya membawa dampak pada peningkatan kualitas pelayanan.
Dalam proses internal koordinasi sebagai salah satu indikator dari kinerja menyangkut kemampuan individu maupun kelompok, dalam hal ini Dinas-Dinas dan Badan-Badan di lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kota, melakukan tindakan sinergis, saling menunjang dan terpadu. Dalam penyelenggaraan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota berikut masing-masing komponen di dalamnya dituntut mampu menyusun rencana strategis kedepan yang merefleksikan kapasitas aparatur daerah dalam mengorganisasikan seluruh sumberdaya yang ada serta mengelola kendala-kendala yang dihadapi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu kemampuan dalam mengkoordinasikan rencana dan tindakan merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan.
Pada umumnya semakin ekstensif dan intensif upaya meningkatkan Kinerja Pelayanan tentu akan membebani dari aspek finansial. Memang tidak bisa diartikan bahwa setiap upaya ekstensif dan intensif untuk meningkatkan Kinerja Pelayanan publik akan serta merta atau otomatis menurunkan Kinerja Finansial. Karena dengan makin baiknya Kinerja Pelayanan menyebabkan eskalasi pelayanan mampu mencakup wilayah pelayanan menjadi lebih luas, lebih cepat dan lebih cermat akan mendatangkan sejumlah peningkatan pada aspek finansial walaupun tidak sebanding dengan jumlah yang dikeluarkan untuk membangun sistem guna membenahi Kinerja Pelayanan.
Memang, berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan Kinerja Pelayanan merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani sebagai akibat tuntutan masyarakat yang
semakin keras. Sejumlah dana harus segera dikeluarkan untuk membenahi aspek-aspek yang berhubungan dengan pelayanan sebagai bentuk responsivitas pemerintah Kabupaten/ Kota terhadap tuntutan masyarakat. Investasi awal harus segera ditanam untuk mendongkrak kualitas pelayanan publik agar stigma yang selama ini melekat pada pelayanan publik yang jelek bisa dikurangi. Dengan demikian sangat jelas terlihat bahwa upaya untuk meningkatkan Kinerja Pelayanan dalam jangka pendek justru menuntut pengeluaran yang besar sebagai investasi di kemudian hari. Hal utama yang hendak diraih adalah mencari legitimasi dari masyarakat bahwa pemerintah Kabupaten/Kota saat ini lebih baik daripada masa pemerintahan sebelumya. Mencari legitimasi dari masyarakat melalui peningkatan pelayanan publik dipandang penting dan sangat strategis untuk berbagai kepentingan baik kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang, misalnya dalam kerangka pilkada.
Dalam jangka pendek
hubungan antara kinerja pelayanan dengan kinerja finansial sangat mungkin akan terjadi ‘trade-off’’. Artinya upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja pelayanan publik secara primer diarahkan bukan untuk mendapatkan sejumlah pemasukan untuk menopang pendapatan asli daerah sehingga perolehan dari pembenahan dalam pelayanan publik cenderung mengurangi kinerja finansial karena antara investasi yang dipergunakan untuk meningkatkan kinerja pelayanan masih lebih besar dari pada perolehan dari aspek pelayanan publik namun belum bisa disimpulkan bahwa bila kinerja pelayanan meningkat otomatis kinerja finansial merosot.
Dalam jangka panjang, bila dana yang dikeluarkan untuk meningkatkan kinerja pelayanan publik
tepat sasaran, efisien dan efektif serta ditunjang dengan lingkungan daerah yang kondusif maka kinerja pelayanan yang tinggi akan mendorong peningkatan kinerja finansial. Namun sebaliknya juga sangat mungkin terjadi ‘trade-off’ manakala dana yang dikeluarkan untuk meningkatkan kinerja pelayanan publik tidak tepat sasaran, digunakan secara boros sehingga antara dana yang dikeluarkan dengan hasil peningkatan kinerja pelayanan tidak seimbang. Akibatnya kinerja finansial makin menurun secara tajam. Dengan adanya kinerja pelayanan yang makin meningkat maka akan makin membutuhkan sumber dana yang makin besar lagi, yang tentu akan menurunkan kinerja finansial akibat dari makin banyaknya dana yang tersedot untuk program tersebut. Kondisi tersebut telah jauh melampaui economic of scale
O P I N I
Kom it m en Regulasi
Pem erint ah Pusat dan Daerah
dalam Menciptakan I klim Usaha yang
Kondusif bagi Pengem bangan
Kawasan di Era Desentralisasi
Ole h :
Ye lda Ru ge st y, SP
Pe m e r h a t i Pe n g e m b a n g a n Ka w a sa n
Pengembangan Kawasan
Strategis dan Cepat Tumbuh termasuk
Kawasan Andalan di dalamnya,
sebagaimana tercantum dalam RPJM
2004-2009, merupakan salah satu
pendekatan yang diterapkan
pemerintah pusat dan daerah untuk
mempercepat pemerataan
pembangunan daerah khususnya
melalui optimalisasi pengelolaan
sumberdaya potensial yang dimiliki
masing-masing daerah guna
meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Daerah dengan
karakteristik cepat tumbuh dan
berhasil dikembangkan menjadi
Kawasan Andalan (pusat-pusat
pertumbuhan), akan menjadi cikal
bakal Kawasan Strategis baik di
lingkup nasional, propinsi maupun
kabupaten dan kota. Sejauh ini,
sebagian besar wilayah pusat-pusat
pertumbuhan yang ada, khususnya di
luar Pulau Jawa terlihat sulit
berkembang, apalagi disertai dengan
kurangnya komitmen Kepala Daerah
dan Legislatif di daerah untuk
mengatasi permasalahan yang terkait
dengan pengembangan dunia usaha
(sektor riil). Oleh karena pada
hakekatnya, peran pemerintah dan
sektor riil berbeda sehingga harus
diperjelas sesuai perannya
masing-masing.
Banyak faktor yang
menyebabkan belum
berkembangnya Kawasan Strategis
dan Cepat Tumbuh di sejumlah
daerah, meskipun wilayah tersebut
memiliki produk unggulan dan lokasi
strategis, diantaranya: 1) minimnya
data & informasi dan aksesibilitas
yang dibutuhkan masyarakat/pelaku
dalam berbagai aspek, seperti
kebutuhan informasi pasar, jaringan
pasar, sumber modal usaha dan
pengembangan investasi,
pengembangan SDM dan teknologi,
2) belum jelasnya bentuk aplikasi dari
kebijakan pengembangan pola
kerjasama antardaerah dan
antarnegara, 3) tidak terintegrasinya
berbagai program pembangunan baik
sektoral pusat – daerah maupun
setempat atau menghela
pertumbuhan ekonomi kawasan.
Secara simultan, peran pemerintah
dengan peran pelaku sektor riil (dunia
usaha) perlu diperjelas, sehingga
penggunaan sumberdaya,
khususnya anggaran pemerintah
menjadi lebih efektif dan terarah.
Peran Pemerintah seharusnya berada
pada jalur penyediaan infrastruktur
dasar atau pembangunan prasarana
dan sarana dasar pendukung
ekonomi kawasan, melakukan
pembinaan peningkatan kapasitas
SDM aparat dan pelaku usaha,
pengembangan aksesibilitas
pendukung usaha (jaringan pasar,
informasi pasar, teknologi,
permodalan, pengembangan riset
dan teknologi), sedangkan peran
sektor riil (dunia usaha) adalah berada
pada jalur pelaksanaan kegiatan
usaha mulai dari hulu sampai ke hilir.
Peran yang seharusnya
menjadi tugas utama pemerintah
pusat dan daerah, ternyata masih
banyak tumpang tindih dengan peran
pihak dunia usaha. Kondisi tersebut
menyebabkan banyaknya anggaran
pemerintah yang dikeluarkan tidak
pada tempatnya. Kegiatan di hulu
hingga hilir dari suatu aktifitas bisnis
produk unggulan di suatu daerah,
tidak layak seluruhnya dilakukan oleh
pemerintah. Yang terjadi malah
sebaliknya terkesan pemerintah
daerah “melupakan” tugas utamanya
yaitu memberdayakan masyarakat
pelaku usaha khususnya skala usaha
mikro, kecil dan menengah menjadi
lebih berdaya sehingga memiliki
posisi tawar yang relatif sama dengan
pelaku usaha skala besar lainnya,
disamping juga berperan dalam
menyediakan infrastruktur dasar ,
membuka aksesibilitas bagi
pengembangan dunia usaha,
pengembangan kemitraan dan
pengembangan riset dan teknologi.
Selain itu, peran pemerintah yang
sangat mendasar dan
ditunggu-tunggu oleh sektor riil, yakni
perbaikan iklim usaha yang kondusif
bagi sektor riil (dunia usaha), melalui
regulasi sehingga meningkatkan
minat investor dalam maupun luar
negeri untuk mengembangkan
usahanya di kawasan strategis dan
kawasan andalan cepat tumbuh.
Dari pengamatan terhadap
upaya pengembangan kawasan
andalan di beberapa daerah di
Indonesia, ditemukan bahwa
perkembangan sektor riil (dunia
usaha) dalam wilayah fungsional
tersebut mengalami pertumbuhan
yang relatif lambat, ditandai dengan
masih rendahnya pertumbuhan
investasi khususnya pada
pengembangan potensi
produk-produk unggulan di daerah tersebut.
Investasi yang ada di kawasan cepat
tumbuh tersebut, umumnya masih
dalam skala kecil – menengah
dengan mayoritas skala usaha, yakni
skala kecil dan mikro, sedangkan
investasi usaha dalam skala besar
untuk produk unggulan masih belum
berkembang pesat sehingga tidak
mampu menggerakkan pertumbuhan
dan pemerataan ekonomi secara
signifikan.. Dengan kata lain,
desentralisasi yang semula
diharapkan mampu mendorong
pengembangan kawasan andalan
dan cepat tumbuh menjadi lebih
menarik bagi dunia usaha, sehingga
menjadi
prime mover
dalam
pengembangan ekonomi bagi di
dalam kawasan tersebut maupun bagi
daerah tertinggal di sekitarnya,
ternyata belum sesuai dengan
harapan.
Disadari atau tidak, pengaruh
desentralisasi dinilai membawa
masalah dan tekanan baru yang
kontraproduktif bagi pengembangan
dunia usaha dan investasi di daerah.
Pemda berlomba-lomba untuk
meningkatkan PAD dengan
mengeluarkan berbagai perda
tentang retribusi dan pungutan,
sebaliknya negara-negara dengan
tingkat pertumbuhan investasi yang
tinggi justru melakukan kebijakan yang
lebih kondusif. Meski beberapa
daerah kabupaten dan kota telah
menerapkan strategi dan kebijakan
yang mendukung pengembangan
investasi di daerahnya, namun secara
umum Pemda kabupaten dan kota di
Indonesia belum memahami bahwa
kesempatan yang yang muncul
seiring dengan desentralisasi
sesungguhnya ditujukan untuk
perbaikan perekonomian daerah
(
economic governance
) dan
O P I N I
satu kendala terbesar dalam
menjalankan usaha.
Beberapa kajian terdahulu
mengemukakan potensi persoalan
yang timbul dari desentralisasi dan
otonomi daerah antara lain :
ketidakselarasan kebijakan peraturan
daerah di tingkat lokal;
ketidakselarasan kebijakan otonomi
daerah dengan hukum nasional dan
kewajiban internasional Indonesia atas
hukum dan nilai-nilai Hak Asasi
Manusia; praktik bisnis tertentu atau
pemberian hak istimewa kepada
perusahaan milik pemerintah daerah
(BUMD); kegagalan untuk mensahkan
atau mengimplementasikan Perda
sebagaimana disyaratkan oleh hukum
nasional. Ketiadaan analisa yang
mendalam (komprehensif) mengenai
perda menyebabkan adanya kendala
dalam pemanfaatan peluang bisnis di
Kabupaten dan Kota, dan Pemda
Kabupaten dan Kota terhambat untuk
belajar dari proses pembangunan
yang positif, konstruktif dan inovatif di
tingkat lokal sebagai dampak
langsung dari kebijakan otonomi
daerah.
Masalah utama dalam proses
perumusan Perda seperti
ketidakmampuan mengidentifikasikan
secara efektif tentang tujuan dari suatu
Perda, kurang pertimbangan alternatif
yang bersifat non-peraturan,
partisipasi stakeholder yang lemah
dan kekurangan kesadaran atas
pentingnya internalisasi analisis
biaya-manfaat ke dalam proses perumusan
peraturan, sedangkan masalah hasil
proses pembuatan peraturanm,
seperti: retribusi yang disalahgunakan,
peraturan yang mendistorsi
perdagangan, peraturan yang
menghambat keterlibatan sektor
swasta dalam pengadaan jasa,
peraturan yang memberikan
diskriminasi terhadap orang luar.
Sudah seharusnya kepentingan dunia
usaha untuk mengembangkan
investasi dalam mendukung
pengembangan sektor riil di Kawasan
Strategis dan Cepat Tumbuh,
didukung dengan perbaikan regulasi
yang tepat dan siap diaplikasikan, jika
tidak, Indonesia akan terus
kehilangan dukungan dunia usaha
dan investor lokal maupun luar negeri.
Seyogyanya, peran
Pemerintah Pusat terkait dengan
perbaikan iklim usaha yang kondusif
adalah berperan aktif dalam
pembinaan daerah terkait dengan
penyusunan berbagai Perda di
Kabupaten/Kota, memberikan
keluasan bagi pemda propinsi untuk
melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan Perda di kabupaten dan
kota, konsisten membina sistem
tinjauan dan monitoring peraturan yang
terstandardisasi di seluruh Indonesia,
menggunakan insentif ekonomi untuk
memastikan pemenuhan dan
keikutsertaan pemda dalam usaha
reformasi regulasi secara nasional.
Selain itu diperlukan kebijakan atau
regulasi yang mampu memberikan
kepastian hukum bagi para pelaku
usaha dan
stakeholder
terkait. Peran
proaktif dari pemerintah pusat dalam
mengembangkan regulasi yang
efektif dan berorientasi pasar, serta
perlindungan lingkungan dan sosial
mutlak diperlukan. Regulasi yang
baik dapat meningkatkan kinerja
pasar, efektivitas sektor publik dan
kepuasan masyarakat, melalui
kombinasi antara deregulasi,
re-regulasi, dan regulasi dengan kualitas
yang lebih baik, didukung oleh
kelembagaan “baru” yang efektif.
Berbagai keluhan dunia usaha seperti
banyaknya birokrasi yang diperlukan
sebelum memulai bisnis di
Indonesia, banyaknya peraturan yang
sering bertentangan satu sama lain,
masalah perpajakan yang
mengakibatkan ekonomi biaya tinggi,
dan sebagainya, perlu diselesaikan
dengan beberapa agenda kerja
berikut ini :
(***)
mengurangi hambatan non tarif
perdagangan”.
2. Meningkatkan koordinasi antara
pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Dengan melakukan
amandemen peraturan
perpajakan daerah, menetapkan
batas pajak dan retribusi yang
dipungut oleh pemerintah daerah,
mempersingkat peraturan yang
dikeluarkan baik oleh pemerintah
pusat maupun pemerintah daerah
untuk mencegah tumpang tindih
dan kontraproduktif. Sejauh ini,
pemerintah telah membatalkan
400 peraturan, dan perlu terus
diperbaiki, sehingga tidak ada
tumpang tindih peraturan antara
pemerintah pusat dan pemerintah
daerah setelah peraturan
desentralisasi diamandemen.
Pemerintah menyiapkan
peraturan yang memperjelas
tanggung jawab antara
pemerintah pusat dan pemerintah
daerah pada bidang investasi dan
pelaksanaannya.
3. Melakukan penyederhanaan
prosedur sehingga akan
mengurangi biaya. Prosedur
untuk memulai usaha akan
dikurangi dari sekitar 150 hari
menjadi 30 hari atau lebih kurang
lagi dengan cara merubah
prosedur perijinan menjadi
ringkas.
4. Memberantas korupsi, korupsi
menyebabkan banyaknya
program-program pemerintah
yang tidak efektif bagi
pengembangan dunia usaha.
5. Mewujudkan dan mengawal
kepastian hukum, transparansi,
kepastian kontrak kerjasama dan
perlindungan terhadap hak cipta.
6. Mengkaitkan program
pem-bangunan kawasan strategis dan
cepat tumbuh dengan kegiatan
pembangunan sektor riil.
Peran Pemerintah Daerah
dalam pengembangan iklim usaha
yang kondusif bagi pengembangan
investasi di daerah Kabupaten dan
Kota, dapat dilakukan minimal melalui:
1. Mengkaitkan program
pem-bangunan kawasan strategis dan
cepat tumbuh dengan kegiatan
pembangunan sektor riil.
2. Peningkatan kualitas dan
pro-duktivitas tenaga kerja,
pengembangan IKM/UMKM
serta kerjasama antar daerah.
3. Pembangunan ekonomi wilayah
melalui peningkatan daya saing
ekonomi daerah misalnya
pengembangan ekspor non
migas, investasi, revitalisasi
pertanian dengan perkuatan
agribisnis dan pengembangan
kawasan agropolitan, pariwisata
dan IKM/UKM, membangun
infrastruktur yang berkelanjutan
untuk memperkuat daya saing
wilayah, yang dilakukan secara
lintas sektor, lintas pelaku, dan
lintas daerah administratif.
4. Peningkatan kualitas pelayanan
publik meliputi peningkatan
sistem pelayanan sarana
prasarana dan regulasi,
pengembangan iklim kondusif
untuk peningkatan investasi
diantaranya melalui penerapan
model pelayanan perijinan satu
pintu (
one stop service
).
5. Peningkatan kapasitas pemerintah
daerah meliputi peningkatan
partisipasi dan kelembagaan
masyarakat termasuk pelaku
usaha, peningkatan kapasitas
sumber daya manusia, sarana
prasarana dan kelembagaan
aparatur, dengan melakukan
pengembangan kerja sama antar
wilayah melalui aliansi regional
misalnya Barlingmascakeb,
Sapta Mitra Pantura (Sampan) dan
Subosuko Wonosraten (Jawa
Tengah), BKPRS (Badan
Kerjasama Pengembangan
Regional Sulawesi), Kapet
Sasamba (Sanga-Sanga,
Samarinda dan Balikpapan),
Kawasan Singbebas
(Singkawang-Bengkayang-Sambas) dalam Kapet
Khatulistiwa, Bopunjur (Bogor,
Puncak, Cianjur), dan lain-lain.
6. Peningkatan pengelolaan sumber
daya alam dan lingkungan yang
berkelanjutan meliputi
pengendalian dan rehabilitasi
kerusakan, pencemaran,
pemulihan dan pendayagunaan
ekosistem.
7. Pembangunan stabilitas politik,
kepastian hukum atau jaminan
kelangsungan dunia usaha,
keamanan, ketertiban
masyarakat.
8. Mendukung kinerja dan
ope-rasionalisasi instansi penegak
hukum.
9. Menjaga independensi
penuntas-an kasus korupsi dpenuntas-an fasilitasi
Kabupaten / Kota dalam
mereformasi birokrasi melalui
penataan struktur organisasi yang
efektif dan efisien.
WAWANCARA
D r . I r . Son D ia m a r , M Sc.
Te n a ga Ah li Bida n g D e se n t r a lisa si da n Ot on om i D a e r a h ,
Ba p p e n a s
“Ba ppe na s : Pa nglim a da la m Pe nge m ba nga n
Ka w a sa n di Er a Ot onom i D a e r a h”
Apa pandangan Bapak mengenai kawasan dan pengembangannya?
Saya memandang pengembangan kawasan sebagai usaha-usaha untuk mengkonservasi, pengusahaan untuk tumbuh kembang. Saya melihat ada empat macam kawasan. Pertama, Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK yang dikembangkan untuk mengembangkan ekonomi skala nasional dan internasional. Kedua adalah kawasan Daerah Aliran Sungai. Ketiga kawasan metropolis. Metropolis berasal dari kata metro dan poly. Metro
artinya kota, poly artinya induk. Jadi kawasan perkotaan yang memiliki induk yang membentuk satu kesetuan ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Kawasan berikutnya adalah kawasan konservasi, seperti Gunung Leuser.
Bagaimana pengelolaan masing-masing kawasan tersebut, terutama dalam era desentralisasi seperti ini? Apa saja tantangan yang dihadapi?
KEK memerlukan fasilitas-fasilitas khusus dan kebijakan khusus yang hanya boleh diurus oleh pemerintah. KEK itu kita orbit untuk tujuan nasional dan internasional yang perlu didukung oleh kebijakan pempus,
tidak cukup oleh Otda. Salah satu kendalanya, daerah berpikir bahwa semua itu bisa dikerjakan oleh daerah. Ini pekerjaan dimanapun didunia adalah pekerjaan pusat. Sedangkan dalam pelaksanaan dilapangan, KEK harus memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan ditempat. Artinya, ada suatu organ yang mewakili pemerintah pusat ada disana untuk menyelesaikan perijinan tanpa harus ke Jakarta.
Tantangan lainnya adalah mental
attitude dan kekurangpahaman tentang urusan pemerintahan. Daerah egois dan berpikir bahwa urusan pusat dapat dikerjakan oleh dia. Nah, disitulah perlunya suatu organ, misalnya Dewan Kawasan. Ketuanya gubernur, anggotanya beberapa bupati dan walikota. KADIN juga dimasukkan.
Tantangan lainnya untuk KEK adalah birokratif itu seperti pimpro besar. Secara ekstrem kita bandingkan antara Otorita BATAM, pengelola kawasan khusus, dengan pengelola Bumi Serpong Damai (BSD, kawasan perumahan di Tangerang-red), atau Ancol. BSD diberi ijin oleh pemerintah untuk membangun kota baru seluas 6000 hektar. Dengan ijin itu dia pergi ke bank untuk bangun jalan, kemudian menyediakan listrik dan telepon,
sehingga terbangun kavling, tanpa menggunakan uang negara. Kavlingnya dapat dijual mahal. Lokasinya padahal tidak terlalu strategis, hanya ketiban pulung “muntahan” Jakarta. Sekarang Riau, selain kena “muntahan” Singapura, Riau juga berlokasi paling strategis di dunia. Harusnya Otorita Batam seperti BSD, yaitu tidak memakai uang negara.
Jadi tantangan pada era Otda ini adalah bagaimana kita menempatkan suatu organ baru di lapangan, bukan hanya sebagai pelayan administrasi pemerintah, seperti pemberian ijin, dan sebagainya, juga bukan hanya memberikan infrastruktur, tapi juga bagaimana mengusahakan. Ada value engineering, mengubah kawasan untuk bernilai tambah. Tanah tidak berharga menjadi mahal. Ada teluk bening, kita tutup pakai jaring, tebar bibit kerapu, hasilnya milyar. Value engineering ini belum ada.
Saya punya konsep sederhana mengenai pembagian manfaat. Seharusnya manfaat itu dibagi lima, yaitu seperlima untuk pengelola kawasan, seperlima untuk pekerja, seperlima untuk masyarakat sekitar, seperlima untuk pemda, dan seperlima untuk negara. Negara juga memperoleh
seperlima manfaat disamping pajak-pajak, seperti PPN, PPH, dan sebagainya.
Yang dimaksud pekerja disini siapa Pak?
Pegawai adalah semua pekerja yang bekerja di industri atau perusahaan yang ada di kawasan. Pegawai itu yang menikmati pembagian nilai tambah yang seperlima. Mungkin bukan bentuk
cash tapi dalam bentuk subsidi perumahan, jaminan kesehatan, atau mungkin bonus tahunan. Jadi semua senang. Jadi seharunys Indonesia tidak boleh miskin. Indonesia bisa kaya.
Itu untuk pengelolaan KEK, lalu bagaimana dengan pengelolaan kawasan lainnya? Apakah ada solusi inovatif lainnya yang Bapak usulkan dalam menghadapi tantangan yang ada?
Baik. Kawasan kedua adalah kawasan DAS. DAS itu mulai dari
catchment area, mata air, sungai kecil, dan akhirnya ke hilir. Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana mengelola seluruh kegiatan penggunaan air yang terkait dengan sungai ini secara sinergi. Bahasa sederhanya, bupati yang di hulu menjaga hutan, sedangkan bupati yang di tengah menggunakan air secara bijaksana agar tidak membuang kotoran ke sungai. Tapi pertanyaannya, apakah ada bupati yang hanya menjaga hutan? Ini harus ada pengelolaannya, yaitu pegelola DAS yang dewannya mungkin Bupati/Walikota antardaerah aliran sungai. Yang harus direncanakan adalah tata ruang, penggunaan air, dan pemeliharaan rehabilitasi hutan. Intinya adalah konservasi dan pemanfaatan air yang bijaksana. Sekarang ini tidak ada sinergi antardaerah. Kalau yang di hulu mau potong hutan, ya potong, tidak peduli dengan banjir.
Di perkotaan, sektor yang berkembang adalah sekunder dan tersier, sedangkan di kawasan DAS sektor yang berkembang adalah campur, dari mulai primer sampai tersier. Sehingga seharusnya di setiap sungai dikelola oleh Dewan DAS. Manfaat dari pengembangan di daerah hilir dan manfaat dari adanya konservasi hutan, seharusnya dibagi adil. Begitu pula
dengan PDRB, pajak, dan sebagainya yang dihasilkan itu berbagi. Sebagai contoh, Sungai Rein di Eropa melalui berbagai negara dan itu bisa saling bersinergi.
Kawasan berikutnya adalah metropolis. Contohnya adalah Jabodetabek. Permasalahan di Jabodetabek misalnya Jakarta yang bingung buang sampah, Tangerang dan Bekasi yang merasa orang Jakarta hanya bisa buang sampah, sementara semua perusahaan yang bagus-bagus berada di Jakarta, sehingga yang mendapatkan PPH dan pendapatan lainnya hanya Jakarta. Tapi Bekasi dan Tangerang tidak bisa melupakan begitu saja peran Jakarta. Kalau saja ibukota itu berada di Palangkaraya, mungkin tidak akan terbangun jalan tol lingkar luar Jawa, namun yang dibangun Palangkaraya Banjarmasin.
Intinya kawasan metropolis harus dikelola secara bersama. Pertama rencana strategis dan tata ruang yang strategis. Kedua transportasi umum. Jadi jalan-jalan utama harus dirancang bersama. Ketiga, utilitas (air, litrik, sanitasi) tidak harus dikotak-kotak karena akan lebih murah. Keempat, pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Nah, yang kelima, pembagian peran yang dihitung sebagai saham bersama. Jadi setiap daerah tidak berkeberatan untuk mendapatkan peran atau fungsi apapun. Semua itu juga harus diatur tata kelolanya. Ada Dewan yang terdiri dari Gubernur dan Walikota, ada Pelaksana yang terdiri dari profesional. Itu pengelolaan untuk kawasan meteropolis.
Yang keempat adalah kawasan konservasi, seperti kawasan hutan. Intinya orang tidak mau hanya jaga hutan. Harus ada manfaat. Pertama manfaat lansung. Misalnya dengan konservasi hutan akhirnya bisa menjadi kawasan wisata. Tapi itu kan tidak signifikan. Coba kita bayangkan, kota di hulu akan terlihat lebih menarik karena ada hutan disekitarnya dan tidak banjir, sehingga kota tersebut bisa tumbuh dan berkembang. Harusnya ada mekanisme pengaturan pembagian PAD.
Tadi Bapak menyinggung tentang Dewan Kawasan, sebenarnya bagaimana pembentukan Dewan
tersebut agar tidak tumpang tindih dengan peran pemda?
Tidak akan tumpang tindih, karena deliniasi kewenangannya jelas. Pertama, ada kebijakan atau administrasi yang harusnya urusan pusat yang tidak mungkin diurus oleh daerah. Yang kedua, ada jalan-jalan utama, listrik kota, yang harusnya otonom, tapi melihat urgensinya dapat dianggap sebagai jalan negara, sehingga dananya dari negara. Jadi daerah tidak harus mengeluarkan dana, daerah cukup membangun jalan cabang dan rantingnya.
Selain pembagian kewenangan yang harus jelas, batas-batas kawasan juga harus jelas dalam tata ruang. Contohnya lagi kawasan permukiman BSD, meskipun ini dibatasi tapi semua orang bisa lewat. BSD kan kawasan pengusaha, tapi pemda tidak merasa terganggu karena tidak ada masalah. Malah retribusinya menjadi naik. Jadi harus jelas kewenangannya. Pembagian tata ruang kawasan juga harus dipetakan.
Apakah sebaiknya Dewan Kawasan tersebut ditangani swasta agar
mindset-nya tidak hanya menaikkan PAD, tapi sebaliknya bisa menghasilkan nilai tambah?
Betul. Tapi kita mungkin sulit untuk melompat langsung. Saya mengusulkan Dewan itu terdiri dari gubernur, bupati/walikota. Jadi ada pejabat politik. Kemudian ditambah KADIN. Jadi di dewan itu sudah bisa berbicara tentang bisnis. Kalau di Singapura dan di Hongkong, pemerintahnya malah sedikit. Bahkan di Perancis Selatan, KADIN itu yang mengopersikan pelabuhan dan bandara. Kita mungkin tidak bisa begitu, tapi langkah berikut harus ada mindset
yang berubah.
Lalu, bagaimana caranya mengubah
mindset ?