PROSES PEMASANGAN
AUTOMATIC TEMPERATURE RECORDER
(RBR-TR-1060) DI PANTAI KONDANG MERAK, MALANG SELATAN JAWA TIMUR
ARTIKEL PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
JURUSAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN
Oleh:
APRILIAN KUSUMAWIJAYA
NIM. 0710820040
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
ARTIKEL PRAKTEK KERJA LAPANG
PROSES PEMASANGAN
AUTOMATIC
TEMPERATURE RECORDER
(RBR-TR-1060) DI PANTAI KONDANG MERAK,
MALANG SELATAN JAWA TIMUR
Oleh:
APRILIAN KUSUMAWIJAYA
NIM. 0710820040
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
(Ir. Aida Sartimbul, M.Sc., Ph.D)
NIP. 19680901 199403 2 001
Tanggal :
Mengetahui,
Ketua Jurusan
PROSE S PE MASANGAN AUTOMATIC TEMPE RATURE RE CORDE R (RBR-TR-1060) DI PANTAI KONDANG ME RAK, MALANG SE LATAN JAWA TIMUR
Aprilian Kusumawijaya1), Aida Sartimbul2)
ABSTRAK
Praktek Kerja Lapang tentang Proses Pemasangan A utomatic Temperature Recorder (RBR-TR-1060) di Pantai Kondang Merak, Malang Selatan Jawa Timur dilakukan pada bulan Mei 2010. Tujuan Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk mengetahui proses pemasangan, perawatan, sistem kerja alat perekam suhu, serta pengambilan dan pengolahan data suhu. Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah Proses Pemasangan alat A utomatic Temperature Recorder (RBR-TR-1060) dan cara kerjanya. Dari hasil pemasangan, alat dipasang di bawah beton transplatasi selama 1 bulan. Monitoring dilakukan 1 (satu) minggu sekali dengan cara mengecek keadaan alat (RBR-TR-1060). Pada saat monitoring juga dilakukan perawatan alat dengan cara mengangkat dari air laut dan membersihkan dari kotoran yang menempel seperti alga, tritip dll, kemudian disiram dengan air tawar. Pengambilan data dilakukan dengan cara didownload melalui PC atau laptop yang sudah di instal software (RBR-TR-1060) Hasil pengamatan selama 1 bulan diperoleh suhu minimum 19,52ºC dan maksimum 31,44ºC.
Kata kunci : RBR-TR-1060, Suhu Permukaan Laut
AUTOMATIC TEMPE RATURE RE CORDE R (RBR-TR-1060) INSTALLATION PROCE SS AT KONDANG ME RAK BE ACH, SOUTH MALANG E AST JAVA
Aprilian Kusumawijaya1), Aida Sartimbul2)
ABSTRAK
Field work about Automatic Temperature Recorder (RBR-TR-1060) Installation Process was conducted at Kondang Merak Beach, South Malang E ast Java in May 2010. The purpose of Field work was to know installation process, maintenance and working system of temperature recording device, as well as retrieval and temperature data processing. Material of this Field work is the Automatic Temperature Recorder (RBR-TR-1060) Installation Process and how it works. The result of installation tools installed under concrete transplantation for 1 month. Then will be monitored every week by cheking the state of tool (RBR-TR-1060). At the time of monitoring was also performed maintenance of way equipment lifting from the sea water and cleaning of the dirt that clings to such as algae, barnete and etc, then flushing with fresh water. Retrieval data is done by downloaded data via PC or laptop that already installed RBR software. The minimum temperature of 19,52ºC and maximum of 31,44ºC were obtained in this study.
Keywords : RBR-TR-1060, Sea Surface Temperature
1 Mahasiswa Jurusan PSPK Universitas Brawijaya Malang
1. PE NDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul dan
dinotasikan dengan T. Satuan internasional untuk
suhu adalah ºK (Kelvin) atau ºC (Celcius). Suhu juga
berpengaruh terhadap kerapatan air laut, air laut yang
hangat kerapatannya lebih rendah dari air yang dingin
pada salinitas yang sama. Distribusi suhu di
permukaan laut cenderung membentuk zonasi, secara
horisontal sesuai garis lintang dan secara vertikal
sesuai kedalaman (Ikanlaut-unsoed, 2009).
Sebaran suhu secara vertikal di perairan
Indonesia pada dasarnya dapat dibedakan menjadi
tiga lapisan yakni, lapisan hangat di bagian teratas,
lapisan termoklin di tengah dan lapisan dingin berada
di bawah. Untuk mengukur suhu air dengan cermat
pada berbagai kedalaman, dapat dilakukan dengan
beberapa alat yaitu termometer bolak-balik (reversing
thermometer), bathythermograph, dan CTD (
Salinity-Temperature-Depth Recorder) (Nontji, 1987).
Beberapa penelitian tentang suhu pernah
dilakukan di selatan Indonesia khususnya Malang
Selatan namun demikian penelitian tersebut sangat
terbatas pada data satelit. Kekurangan dari data satelit
meliputi akurasinya kurang baik dan jarak terlalu
tinggi, apabila pada cuaca yang kurang baik data tidak
bisa terbaca karena tertutup awan. Namun dengan
data insitu hanya tersedia terbatas dan tidak terus
menerus. Sehingga diperlukan suatu alat perekam data
lebih akurat dan bersifat terus menerus.
Dengan adanya perubahan suhu atau iklim yang
memicu variasi atau fluktuasi suhu, diperlukan suatu
alat pengukur suhu secara otomatis dan terus
menerus .Salah satu alat perekam suhu tersebut
adalah RBR-TR-1060. Produksi Monk Street Ottawa,
Canada. Alat Perekam Suhu (RBR-TR-1060) adalah
alat yang mempunyai ukuran diameter 240 mm x 25
mm sehingga dapat dengan mudah bila dipasang. Alat
ini juga dapat merekam data dengan cepat,
mempunyai penyimpanan memori sekitar 8 MB yang
dapat menyimpan sekitar 2.400.000 data.
RBR-TR-1060 dapat mengukur suhu dengan kisaran antara -5
sampai 35°C dengan resolusi < 0,00005 ° C dan
akurasi ± 0,002 ° C (RBR, 2010).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang
(PKL) adalah sebagai prasyarat menyelesaikan
pendidikan untuk jenjang sarjana serta sebagai bentuk
pengaplikasian ilmu akademis yang diperoleh selama
perkuliahan.
Tujuan Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk
mengetahui proses pemasangan, perawatan, sistem
kerja alat perekam suhu (A utomatic Temperature
Recorder, (RBR-TR-1060), serta pengambilan dan
pengolahan data di Pantai Kondang Merak.
1.3 Kegunaan
Kegunaan pelaksanaan Praktek Kerja Lapang
(PKL) ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi mahasiswa, untuk menambah ilmu
pengetahuan, wawasan dan informasi tentang
sistem pemasangan dan cara kerja alat perekam
suhu (A utomatic Temperature Recorder,
RBR-TR-1060), serta juga dapat digunakan sebagai bahan
informasi dalam penelitian selanjutnya.
2. Bagi Pemerintah, diharapkan bisa dijadikan salah satu acuan untuk penelitian lebih lanjut agar
dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim
terhadap lingkungan pesisir.
4. Tempat dan Waktu
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Pantai
Kondang Merak, Kecamatan Bantur Kabupaten
Malang, Jawa Timur pada bulan Mei 2010.
2. ME TODOLOGI 2.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam proses
pemasangan alat RBR tipe TR-1060 adalah sebagai
berikut :
1. Penopang alumimium, bahan yang akan dikaitkan
2. Kawat aluminium, sebagai alat untuk mengaitkan
8.Global Positioning System (GPS) untuk menentukan
posisi.
9.Mask er dan snork el, untuk melihat kondisi bawah
air, dan untuk membantu dalam proses
pemasangan, tersaji pada Gambar 2.
Gambar 1. Alat RBR-TR-1060 (Dok, Sartimbul 2010)
2.2 Metode Pengumpulan data 1) Data Primer
Data ini diperoleh secara langsung dengan
melakukan pengamatan dan pencatatan dari hasil
observasi, wawancara dan partisipasi aktif (Hasan,
2002).
a. Observasi
Pengamatan langsung dalam proses
pemasangan dan sistem kerja alat perekam
suhu Automatic Temperature Recorder
(RBR-TR-1060) di Pantai Kondang Merak, Malang
Selatan.
b. Wawancara
Wawancara meliputi kegunaan, cara kerja,
pengolahan data, perawatan, kegiatan yang
dilaksanakan, hasil yang sudah dicapai serta
permasalahan - permasalahan yang dihadapi.
c. Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif yang dilakukan pada PKL
ini adalah dengan mengikuti secara langsung
kegiatan proses pemasangan alat perekam
suhu A utomatic Temperature Recorder
(RBR-TR-1060) di Pantai Kondang Merak untuk
mendapatkan data yang diinginkan.
2). Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam PKL ini
adalah studi literatur, melalui beberapa buku kajian
yang mendukung dalam kegiatan PKL ini. Sumber
data sekunder diantaranya meliputi: Kantor
Kecamatan Bantur, Hasil penelitian sebelumnya,
literatur, dan Internet. Data sekunder yang diperoleh
meliputi : Keadaan umum Pantai Kondang Merak,
sumberdaya manusia, potensi Perikanan, dan
pustaka-pustaka terkait.
Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten
Malang. Masih banyak orang bahkan masyarakat
Malang yang tidak mengetahui keberadaan Pantai
yang terletak di bagian selatan Kabupaten Malang,
kurang lebih 63,5 km dan dengan jarak tempuh
sekitar 2,5 jam dari Kota Malang. Terletak diantara 8°
23’ 50,56” Lintang Selatan dan 112° 31’ 06,89” Bujur
Timur.
Topografi kawasan Pantai Kondang Merak
terdiri dari dataran luasnya di-perkirakan 1.125 Ha
dan perbukitan/pegunungan luasnya diperkirakan
1.526 Ha. Pantai Kondang Merak mempunyai pantai
yang relatif terlindung, selain itu terdapat adanya
muara sungai (estuari) yang memiliki organisme yang
dan mangrove. Pantai Kondang Merak dapat
menghasilkan kontribusi bagi pendapatan daerah
melalui hasil tangkapan ikan walaupun tidak sebanyak
pantai lain di sekitar kawasan Malang.
3.2 Kondisi Oceanografi di Pantai Kondang Merak
Menurut Prasetyo (2009) faktor-faktor
Oceanografi yang mempengaruhi perairan Pantai
Kondang Merak meliputi suhu, arus, salinitas, pH dan
kecerahan,. Suhu di Pantai Kondang Merak pada
bulan Januari 2009 didapatkan rata-rata suhu sekitar
29
˚C. P
ada saat melakukan Praktek Kerja Lapangproses pemasangan alat RBR-TR-1060 tercatat suhu
sekitar 27
˚C
. Pengambilan suhu menggunakantermometer digital dengan memasukkan ujung sensor
ke dalam air sampai menunjukkan angka suhu (stabil),
sedangkan ujung lainnya dipegang. Posisi saat
pengambilan suhu harus membelakangi matahari.
Perlakuan ini bertujuan untuk menghindari pengaruh
panas langsung dari cahaya matahari . Langkah ini
diulang sampai 3 kali untuk akurasi data suhu.
Data arus dan gelombang diambil pada tanggal
17 Januari 2009 pukul 7:13 WIB. Hasil kecepatan arus
didapatkan rata-rata sebesar 0,050 m/detik arah timur
laut. Langkah ini diulang sampai 3 kali untuk akurasi
data arus dan gelombang. Pada saat pengambilan
salinitas didapatkan nilai rata-rata sebesar 27 ppt.
Sedangkan pada saat PKL pengambilan salinitas
didapatkan nilai sebesar 34 ppt dan diperoleh data
nilai pH adalah 9.
Kegiatan perikanan di Pantai Kondang Merak
cukup beragam yang meliputi usaha penangkapan
ikan, nelayan, pencari kerang, dan pencari lobster.
Dari 5.770 penduduk Kecamatan Bantur 47
diantaranya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Alat tangkap yang sering digunakan di pantai
Kondang Merak adalah Jaring Klitik. Hampir semua
kepala keluarga daerah pesisir yang Nelayan di Pantai
Kondang Merak termasuk nelayan musiman karena
mereka biasanya melaut berdasarkan musim angin
dan tanggalan jawa.
Pantai Kondang Merak tidak terdapat pelabuhan
pantai sehingga hasil tangkapan tidak bisa dijual
secara langsung tetapi dikumpulkan di pengepul, dan
pemasarannya juga dilakukan oleh pengepul, sisa hasil
tangkapan yang tidak termasuk komoditas penting di
konsumsi sendiri sebagai lauk pauk.
4. HASIL PRAKTE K KE RJA LAPANG 4.1 Pengukur Suhu Otomatis Automatic
Temperature Recorder (RBR-TR-1060) Alat Perekam Suhu Otomatis (RBR-TR-1060)
adalah produk dari RBR produksi Monk Street Ottawa,
Canada. RBR-TR-1060 adalah alat yang mempunyai
ukuran diameter 240 mm x 25 mm sehingga dapat
dengan mudah dipasang. Alat ini juga dapat merekam
data dengan cepat, mempunyai penyimpanan memori
sekitar 8 MB yang dapat menyimpan sekitar 2.400.000
data. RBR-TR-1060 dapat mengukur suhu dengan
kisaran antara -5 sampai 35°C dengan resolusi <
0,00005 ° C dan akurasi ± 0,002 ° C. Bagian-bagian
RBR-TR-1060 tersaji pada Gambar 2.
Gambar 2. Bagian-bagian RBR-TR-1060 (RBR, 2010)
Mekanisme kerja dalam proses pemasangan
A utomatic Temperature Recorder (RBR-TR-1060)
berdasarkan ruang kerjanya tersaji pada Gambar 3.
Gambar 3. Skema Proses Pemasangan A utomatic
4.2 Proses Pemasangan Alat Automatic Temperature Recorder (RBR- TR-1060) 1. Proses Pemasangan
Proses pemasangan alat dimulai pada tanggal 13
Mei 2010 dan proses pemasangan alat dilakukan
survey lokasi terlebih dahulu, kemudian alat perekam
di set ulang selama 1 bulan sekali yang memiliki
selang waktu 24 jam agar alat dapat merekam secara
terus menerus menurut waktu yang ditentukan
sehingga memperoleh data yang akurat dan data yang
terekam mempunyai interval 10 menit. Sesudah
pengaturan RBR-TR-1060 selesai, bagian O-ring diberi
silikon terlebih dahulu agar air tidak masuk ke dalam
komponen alat dan merusak alat.
Alat RBR-TR-1060 dikaitkan di lempengan
aluminium yang telah diberi baut, mur, kawat
penahan dan penampang aluminium yang telah
disiapkan terlebih dahulu agar pada waktu
pemasangan tidak goyang.
Cara pemasangan RBR-TR-1060 diletakkan pada
penampang aluminium yang sudah diberi baut dan
mur agar pada saat pemasangan pada beton
transplantasi tidak berpindah tempat. Dan
penampang aluminium diberi cable ties agar
RBR-TR-1060 yang sudah dikaitkan pada penampang
aluminium tidak goyang. Kemudian penampang
aluminium diberi kawat agar penampang dapat
dengan mudah dikaitkan pada beton transplantasi dan
proses pemasangan diletakkan pada posisi mendatar
dengan posisi alat menghadap ke bawah atau terbalik
agar aman. Kemudian kawat aluminium diberi baut
dan mur untuk dikaitkan kawat pada beton
transplantasi (Gambar 4).
Gambar 4. Proses Pemasangan telah selesai (Dok. Sartimbul, 2010)
2. Proses Pengambilan Data
Pengambilan data RBR-TR-1060 dengan cara
memotong kawat aluminium menggunakan tang dan
alat tersebut diambil dari bawah beton translantasi.
Kemudian alat diangkat dari laut dan dibersihkan
terlebih dahulu dengan air tawar agar kawat penahan
dan penopang alumunium tidak berkarat (Gambar 5).
Gambar 5. RBR-TR-1060 yang sudah di ambil pada beton transplantasi (Dok. Sartimbul, 2010)
Penutup RBR-TR-1060 dibuka dengan cara
memutar searah dengan jarum jam dan untuk
diperhatikan agar tidak menekan atau tidak membuka
pada bagian sensor. Bagian O-ring dibersihkan dengan
menggunakan kertas tisue atau kain lembut.
Kemudian data diambil dengan cara didownload
melakui PC atau laptop yang sudah di instal software
RBR-TR-1060. Kemudian alat RBR-TR-1060 di setting
ulang lagi seperti pada saat proses pemasangan.
4.3 Perawatan Alat
Secara garis besar perawatan RBR-TR-1060
sangatlah mudah. Hal ini disebabkan karena bentuk
dan konstruksi dari RBR-TR-1060 itu sendiri
sangatlah sederhana. Perawatan dilakukan dengan
mengangkat RBR-TR-1060 dari air laut kemudian
dibersihkan dengan air tawar agar kawat penahan dan
penopang alumunium tidak berkarat.
Langkah Perawatan alat RBR-TR-1060 antara
lain, langkah pertama RBR-TR-1060 dibersihkan
dengan aquades, lalu cover atau penutup dibuka
dengan cara memutar searah jarum jam dan untuk
diperhatikan agar tidak menekan atau tidak membuka
pada bagian sensor. Setelah itu O-ring dibersihkan
dengan menggunakan kertas tisue atau kain lembut
dan diperiksa posisi O-ringnya, kemudian data
diambil dengan cara didownload melalui PC atau
diperiksa kembali O-ringnya dan diolesi silikon agar
air tidak masuk (kedap) agar tidak merusak
komponen alat didalamnya.
4.4 Studi Kasus Hasil Rekaman Suhu pada Bulan Mei 2010
Sebagai contoh hasil rekam suhu dengan alat
RBR-TR-1060 di wilayah pantai Kondang Merak
periode Mei-Juni 2010. Hasil data rekam tersebut
memiliki variasi suhu yang beragam dapat di lihat
pada data rekam per bulan (Gambar. 6) dan Grafik
Fluktuasi Suhu pada bulan Mei-Juni 2010 (Gambar.
7).
Kendala selama PKL, meliputi kondisi
lingkungan sekitar kurang aman yang menyebabkan
hilangnya alat rekam suhu dan kurangnya kesadaran
masyarakat akan kelestarian lingkungan sekitar.
Gambar 6. Grafik rata-rata Suhu Habitat Karang Selama 1 bulan di Pantai Kondang Merak, Malang Selatan
5. KE SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
1. Alat pengukur suhu otomatis (RBR-TR-1060)
dipasang dengan cara ditambatkan di bawah
beton transplantasi karang.
2. Perawatan alat sangatlah mudah dilakukan dengan
cara mengangkat RBR-TR-1060 dari laut dan
dibersihkan dengan air tawar.
3. Pada saat pemasangan tercatat suhu berkisar 27
ºC, salinitas didapatkan nilai sebesar 34 ppt dan
derajat keasaman (pH) di Pantai Kondang Merak
berkisar antara 8,5 - 9.
4. Dari hasil pengamatan suhu selama 1 bulan di
perairan Pantai Kondang Merak Kabupaten
Malang, didapatkan hasil kisaran suhu tertinggi
31,44ºC dan suhu terendah 19,52ºC.
5.2 Saran
1. Perlu sosialisasi ke masyarakat dan patroli rutin
untuk menghentikan aktifitas pengrusakan serta
pengamanan terhadap alat-alat penelitian yang
terdapat di Pantai Kondang Merak.
2. Berdasarkan latar belakang Pantai Kondang
Merak yang dikenal mempunyai keanekaragaman
biota perlu ditetapkan kebijakan lokal yang akan
menjaga keutuhan kawasan Pantai Kondang
Merak sebagai daerah konservasi.
3. Perlu diadakan pengkajian ulang yang berkaitan
dengan suhu yang berada di kawasan Pantai
Selatan.
DAF TAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Bungin, B. 2001. Metodologi Penelitian Sosial. Airlangga Press. Surabaya.
Barus. 2002. Pengantar limnologi. Fakultas MIPA. Universitas Sumatra Utara. Medan.
Ikanlaut-unsoed, 2009. Dasar-dasar
http://www.ikanlaut-Narbuko, C dan A. Achmadi. 2002. Metodologi Penelitian Bumi Angkasa. Jakarta.
Nazir, M. 1983. Metode Penelitian. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta Timur.
Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Bali.
Prasetyo, L. 2009. Studi Tentang Keanekaragaman Karang Jenis Hermatipik (Hermatypic Coral) Di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur. Skripsi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Malang.
RBR, 2010. Submersible Temperature Recorder
(TR-1060). http://www.rbr.cn/TR-1060.html.
27 Monk Street, Ottawa, ON Canada K1S 3Y7. Diakses pada Tanggal 21 Mei 2010 pada Pukul 13.00 WIB.
Samuel, P.D. 2010. Struktur Komunitas Karang Keras (Scleractinia) Pada Mikro Atol Di
Perairan Kondang Merak,Kabupaten
Malang. Skripsi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Malang.
Subarijanti, H.U. 2000. E kologi Perairan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.
Tim Asisten Oceanografi. 2007. Buku Panduan Praktikum Lapang Oceanografi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Malang.