Dosa Dosa Yang Sering Diabaikan

23  12 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Daftar isi

Daftar isi ...1

Kata pengantar ...2

Bab I pendahuluan ...3

A. Latar belakang ...3

B. Rumusan masalah ...3

C. Tujuan ...3

Bab II Pembahasan ...4

A. Pengertian Dosa ...4

B. Jenis Jenis Dosa... 5

Bab III Penutup ...20

A. Kesimpulan ...20

B. Saran ...21

C. Daftar Pustaka...21

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji bagi Allah yang telah menolong menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta yakni nabi muhammad SAW.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ”Dosa Yang Sering Di Abaikan” , yang di sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Kebiasaan Manusia yang Membuat Dosa Tanpa Disadari” yang sangat berguna bagi seorang mahasiswa sebagai pelopor masa depan bangsa. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Casmini ,S.AG , M.Si selaku dosen “pelajaran Agama Islam”

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Yogyakarta , 05 Okt 2017

Penyusun

Mulya Saputra

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG

Malakah ini di buat supaya pembaca mengetahui sikap , perbuatan , dan pemikiran yang di larang oleh Allah akan tetapi hal hal tersebut masih saja sering kita lakukan karna sudah menjadi bupaya atau sudah lumrah di lakukan sehingga kita memikirkan esensi yang kita dapatkan dari pebuatan yang kita lakukan tersebut .

I.II RUMUSAN MASALAH

1. Apa Itu Dosa ?

2. Apa saja Jenis Jenis yang Termasuk Dosa Yang Sering Dilakukan ? 3. Sebutkan Hadist yang Terdapat Dalam Kitab?

I.III TUJUAN

1. Mengetahui arti dari dosa

2. Dapat berperilaku yang baik sesuai ajaran islam 3. Mengetahui ayat al-quran tentang dosa

(4)

BAB II

PEMABAHASAN

ll-1 Pengetian Dosa

Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah.

Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa (al-itsm) adalah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau larangan agama. Manusia disebut oleh Allah sebagai makhluk yang selalu ingkar (kaffar) dan berbuat dosa (atsiim). Buktinya, saat ini, orang yang menikmati perbuatan dosanya semakin banyak.

Manusia juga banyak berbuat zhalim dan suka melampaui batas. "Janganlah para saksi menyembunyikan persaksian. Dan, siapa pun menyembunyikan persaksian itu, sesungguhnya, ia adalah orang yang berdosa hatinya" (QS al-Baqarah, 2: 283) "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih" (QS asy-Syura, 42: 42).

“Sesunguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab, 33: 72).

Lalu, apakah pengertian dosa menurut Rasulullah SAW? Beliau mengartikan dosa dengan kalimat : al-itsmu maa haaka fi shadrika wa karihta an yaththali'a

(5)

II:II Jenis Jenis Dosa Yang Sering Dilakukan Tapi Dianggap Biasa

1. Syirik kepada Allah

Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya. Syirik merupakan dosa besar yang paling besar, kemungkaran yang paling mungkar bahkan Allah I mengancam tidak akan mengampuni dosa syirik (apabila seseorang tersebut mati dalam keadaan berbuat syirik) dan akan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dikehendaki, Allah I berfirman:

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni segala dosa selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikendaki (Q.S. An-Nisa : 48) danPerbuatan syirik merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah

bersabda “maukah akumerupakan dosa yang paling besar, Rasullullah kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar (beliau mengulangnya 3x), mereka (sahabat) berkata: “Ya, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda

“menyekutukan Allah (Syirik)” (Mutafaq Alaih)

Namun sebagian kaum muslimin, membiasakan dan membudayakan serta

menganggapnya sebagai ibadah, perbuatan tersebut seperti : meminta kepada ahli kubur (penghuni kuburan yang dianggap wali), bernadzar untuk selain Allah I, mengharapkan berkah dari pohon, batu dan sejenisnya, meminta perlindungan kepada selain Allah I, Istigatsah atau berdoa kepada selain Allah I, menggunakan zimat-zimat dengan anggapan bahwa zimat tersebut dapat menolak bahaya, meminta kepada dukun dan lain-lain yang semua ini telah diharamkan dalam Islam. Maka dari itu kami mewasiatkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati terhadap perbuatan tersebut tetapi apabila kita telah terjerumus dalam perbuatan syirik maka, harus segera untuk bertaubat kepada Allah I dan memohon ampun kepada-Nya

2. Riya’ dalam ibadah

Riya adalah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia agar mereka memuji pelakunya, seperti memperindah sholat, menceritakan tentang amal-amal yang pernah dilakukannya dengan maksud agar orang yang mendengarnya memujinya.

(6)

dapat menghapus semua amal kebaikan yang disertai riya’ tersebut. Allah I berfirman:

“Dan apabila mereka hendak sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali hanya sedikit sekali (Q.S. An-Nisa : 142).

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan dari Abu Sa’id secara marfu’, bahwa Rasulullah r bersabda “Maukah aku beritahukan kalian tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan bagi kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal. Para Sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah, Beliau bersabda, “syirik tersembunyi (Riya), yaitu ketika sesorang berdiri melakukan sholat, dia perindah sholatnya itu karena ada orang lain yang melihatnya” (H.R. Ahmad).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam shahihnya dari Mahmud bin Labid. Ia berkata bahwa Rasulullah r keluar lalu bersabda “wahai orang-orang! Jauhilah olehmu syirik tersembunyi” Para sahabat berkata “Wahai Rasulullah! Apa syirik tersembunyi itu? Beliau bersabda “Syirik tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melalukan sholat, dia perindah sholatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya, itulah syirik tersebunyi.

3. Thiyarah

Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib baik atau buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja. Allah I berfirman:

”Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata “ini adalah karena (usaha) kami” dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang besertanya (Q.S. dianggap perbuatanAl-A’raaf :131). Perbuatan tersebut oleh Nabi syirik yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan ini merupakan dosa bersabda “ Thiyarah adalah syirik (H.R. Ahmad,besar, Rasulullah 1/389, lihat Shahihul Jami’ no. 3955).

(7)

4. Bersumpah dengan nama selain Allah

Sumpah adalah salah satu bentuk penganggungan, karenanya . Dalam sebuah haditstidak layak diberikan melainkan hanya kepada Allah marfu’ dari ibnu Umar diriwayatkan: “Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama nenek moyangmu. Barangsiapa bersumpah hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau diam” (H.R. Bukhari).

Oleh karena itu tidak dibenarkan seseorang untuk bersumpah dengan nama selain nama Allah, misalnya bersumpah dengan kemuliaan Nabi, para wali, nenek moyang, demi ka’bah, dan lain-lain, semua hal tersebut adalah haram, tetapi Allah telah memberikan solusi melalui rasul-Nya, apabila seseorang terjerumus

melakukan sumpah tersebut, maka membayar kafarat yaitu dengan membaca Laa Ilaaha Illallah, sebagaiman tersebut dalam hadits shahih: “Barangsiapa

bersumpah, kemudian dalam sumpahnya ia berkata demi Lata dan ‘Uzza, maka hendaknya ia mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” (H.R. Bukhari).

5. Duduk bersama Orang-Orang Munafik atau Fasik untuk beramah tamah Banyak diantara kaum muslimin sadar atau tidak sadar sengaja bergaul dengan sebagian orang fasik dan ahli maksiat, bahkan mungkin juga bergaul dengan orang yang menghina atau melencehkan syariat Islam (orang kafir dan munafiq). Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam ini adalah perbuatan yang diharamkan, sebagaiman Allah I berfirman:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (Q.S. Al-An’am : 68)

6. Tidak tuma’ninah dalam sholat

(8)

Beliau menjawab “tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” (H.R. Ahmad, 5/310 dan lihat Shahihul Jami’ hadits no. 997). Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, yang pelakunya harus dinasehati dan diperingatkan akan ancaman Allah dalam melakukan hal tersebut.

7. Mendahului Imam secara sengaja dalam sholat.

Dalam sholat berjamaah sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mendahului imam baik dalam hal ruku’, sujud bahkan mendahului imam dalam salam, perbuatan ini dianggap remeh oleh sebagian besar umat Islam, oleh karena itu Rasulullah r mengingatkan dengan ancaman yang keras sebagaimana sabdanya: “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, akan dirubah oleh Allah kepalanya menjadi kepala keledai” (H.R. Muslim).

Para sahabat sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi r. Salah seorang sahabat bernama Al-Barra’ bin Azib berkata: “Sungguh mereka (para sahabat) sholat dibelakang Nabi r, maka jika beliau turun sujud, saya tidak pernah melihat salah seorangpun yang membungkukkan punggungnya, sehingga meletakkan keningnya diatas tanah, lalu orang yang adaRasulullah

dibelakangnya bersimpuh sujud (bersamaan) (H.R. Muslim), dan ketika mulai uzur (lanjut usia) dan gerakannya tampak pelan,Rasulullah tetap mengingatkan orang-orang yang sholat dibelakangnya denganbeliau sabdanya “Wahai

sekalian manusia, sungguh aku telah lanjut usia, maka janganlah kalian

mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud (H.R. Al-Baihaqi 2/93 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/290)

8. Masuk masjid sehabis makan bawang merah, bawang putih atau sesuatu yang berbau tak sedap

Barangsiapa yang memakan bawang merah atau bawang putih yang mentah atau sesuatu yang mendatangkan bau yang dapat mengganggu konsentrasi orang sholat maka hendaklah jangan datang ke masjid dan diam dirumahnya itulah yang lebih baik baginya kecuali bersabda “barangsiapa makanapabila telah hilang baunya. Rasulullah bawang putih atau bawang merah hendaklah ia menjauhi kami. Dalam riwayat lain disebutkan, hendaknya ia menjauhi masjid kami dan diam di

(9)

keluar ke padang luas. Karena itu, barangsiapa memakannya hendaknnya mematikan bau keduanya dengan memasaknya (H.R. Muslim, 1/396). Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang langsung ke dalam masjid usai bekerja, lalu ketiak dan kaos kakinya menebarkan bau tak sedap, dan lebih buruk dari itu adalah orang-orang yang membiasakan merokok yang hukumnya telah diharamkan oleh kebanyakan ulama kemudian mereka masuk ke masjid dan menebarkan bau yang mengganggu hamba Allah I yang lainnya, bahkan sebagian dari mereka tanpa merasa malu dan berdosa merokok di dalam masjid

9. Jabat tangan dengan wanita yang bukan mahram

Pada zaman sekarang jabat tangan antara laki-laki dan perempuan hampir sudah merupakan tradisi, bahkan diangap sebagai sesuatu yang lumrah. Kalau mereka melihat dengan jernih persoalan tersebut menurut syara’ tentu mereka tidak akan melakukannya, Rasulullah r bersabda “Sungguh ditusukkan kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal” (H.R. Ath-Tabrani lihat Shahihul jami’ hadits no. 4921). Tak diragukan lagi bahwa perbuatan semacam itu termasuk zina tangan, “Kedua mata berzina, keduasebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina” (H.R. Ahmad, 1/412, Shahihul Jami’ hadits no. 4126). Dan adakah orang yang hatinya lebih bersih dari Rasulullah r karena beliau r sendiri tidak pernah menyentuh tangan wanita

sebagaimana salah satu hadits dari ‘Aisyah ra dia berkata “Dan demi Allah, sungguh tangan Rasulullah r tidak (pernah) menyentuh tangan perempuan sama sekali (selain mahramnya-red), tetapi Beliau membai’at mereka dengan

perkataan” (H.R. Muslim, 3/1489). 10. Sumber Kerusakan

Dalam Al-Qur’an Allah swt. menjelaskan bahwa kerusakan di laut dan di darat adalah karena ulah manusia. Benar, ulah manusia yang tidak bertanggung jawab akan menyebabkan kerusakan-kerusakan. Allah swt. sebenarnya telah mengatur alam ini dengan sangat rapi. Dalam surah Al-Mulk, Allah menantang manusia agar mencari bukti jika memang Allah pernah main-main dalam penciptaan langit. Lalu Allah memastikan bahwa cacat dan kekuarangan tidak mungkin ditemukan. Dari sini jelas bahwa tidak mungkin terjadi kerusakan di muka bumi kecuali penyebabnya adalah ulah manusia.

(10)

ayyuhall dzaiina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman) dan lain sebaginya. Ini semua menunjukkan bahwa manusia merupakan tema sentral Al-Qur’an. Bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an untuk membina manusia supaya berbuat baik. Supaya jauhi kedzaliman dan penyimpangan. Dalam rangka ini ajakan Allah kepada manusia bisa diringkas dalam beberpa hal berikut:

Pertama, ajakan kepada ibadah kepada Allah. Dalam surah Al-Baqarah:20, Allah memangil agar manusia beribadah hanya kepada Allah. Ibadah artinya tunduk dan patuh secara total kepada Allah. Bukan hanya tunduk secara ritual melainkan juga tunduk secara sosial. Sayangnya makna ibadah ini selalu dipersempit kepada wilayah ritual saja. Sehingga kita menyaksikan banyak orang Islam rajin beribadah, tetapi secara sosial bertindak dzalim dan mengambil hak orang lain. Berapa banyak orang yang telah melaksanakan ibadah haji sementara di saat yang sama mereka rajin korupsi. Berapa banyak orang yang setiap hari melaksanakan shalat, namun berzina menjadi kebiasaan. Ini adalah bukti nyata bahwa panggilan ibadah yang Allah ulang-ulang dalam Al-Qur’an, ternyata tidak dipahami secara komprehnsif. Akibatnya kerusakan demi kerusakan baik pada wilayah moral maupun pada dataran sosial tidak bisa dihindari.

Kedua, ajakan supaya jangan ikut syetan. Dalam surah Yasin Allah berfirman: “Bukankah Aku telah berjanji kepadamu wahai anak Adam agar jangan tunduk kepada Syetan, sesungguhnya ia adalah musuhmu yang nyata.” Allah Sang Pencipta Maha Tahu bahwa tidak ada syetan yang baik. Bahwa setiap ajakan syetan pasti mengarah kepada kerusakan. Namun ajakan ini seringkali diabaikan. Sungguh tak bisa dipungkiri bahwa hari demi hari manusia pengikut syetan semakin banyak. Bahwa bila disensus jumlah pengikut syetan lebih banyak dari jumlah pengikut Allah. Bila demikian kenyataannya maka kerusakan tidak akan bisa dibendung. Dari sini jelas, bahwa kerusakan yang terjadi di tengah manusia adalah karena manusia sendiri tidak mau jujur patuh kepada Allah, melainkan hanya basa-basi mengaku beriman kepada-Nya, sementara di saat yang sama syetan tetap dijadikan pemimpinnya.

Ketiga, ajakan agar kendalikan nafsu. Dalam surah An-Nazi’at Allah swt. menjelaskan bahwa jalan ke surga adalah jujur takut kepada Allah dan

bersungguh-sungguh kendalikan nafsu. Dan kita semua tahu bahwa kerusakan di muka bumi adalah karena banyak manusia tunduk di bawah kendali nafsunya. Akibatnya kita menyaksikan kebinatangan meraja lela. Dengan menyebarnya kebinatangan ini, kemanusiaan tersingkirkan. Bila bencana kebinatangan ini menimpa para pemimpin suatu bangsa, maka tidak mustahil yang menjadi korban adalah rakyat. Karena itu, ibadah mengendalikan nafsu dalam Islam sangat penting. Bahkan di antara rukun Islam adalah ibadah puasa yang intinya

(11)

11.isbal

Di antara hal yang sering dianggap remeh oleh manusia, sedangkan dalam

pandangan Allah Subhanahu wata’ala merupakan masalah besar adalah soal isbal, yaitu menurunkan atau memanjangkan pakaian hingga di bawah mata kaki.

Sebagian ada yang pakaiannya hingga menyentuh tanah, sebagian ada yang sampai menyapu debu yang ada di belakangnya.

Abu Dzar radhiallahu’anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Tiga (golongan manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak pula dilihat dan disucikan serta bagi mereka siksa yang pedih. Yaitu; musbil (orang yang memanjangkan pakaiannya hingga di bawah mata kaki), dalam sebuah riwayat dikatakan: “Musbil kainnya. Lalu (kedua) mannan. Dalam riwayat lain dikatakan: Yaitu orang-orang yang tidak memberi sesuatu kecuali ia mengungkit-ungkitnya. Dan (ketiga) orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”. (Hadits riwayat Muslim; 1/ 102.)

Orang yang berdalih:”Saya melakukan isbal tidak dengan disertai niat takabbur (sombong)”. Padahal sebenarnya ia hanya ingin membela diri yang tidak pada tempatnya. Ancaman untuk musbil adalah mutlak dan umum, baik dengan maksud takabbur atau tidak. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah

Shallallahu’alaihi wassalam :

“Kain (yang memanjang) di bawah mata kaki, tempatnya adalah di neraka”. (Hadits riwayat Ahmad; 6/ 254, Shahihul Jami’;5571)

Jika seseorang melakukan isbal dengan niat takabbur, maka siksanya akan lebih keras dan berat, yaitu termasuk dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi wassalam : “Barang siapa menarik bajunya dengan takabbur, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. (Hadits riwayat Bukhari; 3/ 465)

Sebab dengan begitu ia telah melakukan dua hal yang diharamkan sekaligus, yakni isbal dan takabbur.

(12)

Adapun wanita, mereka diperbolehkan menurunkan pakainnya sebatas satu jengkal atau sehasta untuk menutupi kedua telapak kakinya, sebab ditakutkan akan tersingkap oleh angin atau lainnya. Tetapi tidak dibolehkan melebihi yang wajarseperti umumnya busana pengantin yang panjangnya di tanah hingga beberapa meter, bahkan mungkin kainnya harus ada yang membawakan dari belakangnya.

12. Meminta-minta Di Saat Kecukupan

Sahl bin Handzhaliyah radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam :

“Barang siapa meminta-minta sedang ia dalam keadaan berkecukupan, sungguh orang itu telah memperbanyak (untuk dirinya) bara api Jahannam”. Mereka bertanya: “Apakah (batasan) cukup sehingga (seseorang) tidak boleh meminta-minta? Beliau menjawab: “Yaitu sebatas (cukup untuk) makan pada siang dan malam hari”. (Hadits riwayat Abu Daud; 2/ 281, Shahihul Jami’;6280)

Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam:

“Barang siapa meminta-minta sedang ia dalam kecukupan, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah penuh bekas cakaran dan garukan”. (Hadits riwayat Ahmad; 1/ 388, Shahihul Jami’; 6255. Dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu disebutkan: “Barang siapa meminta-minta harta manusia agar dapat mengumpulkan harta banyak-banyak, sungguh ia telah meminta bara api, maka silahkan ia mengurangi atau memperbanyak”. Bin Baz)

Diantara pengemis ada yang berderet di depan pintu masjid, mereka

menghentikan dzikir para hamba Allah Subhanahu wata’ala yang menuju atau pulang dari masjid dengan ratapan yang dibuat sesedih mungkin. Sebagian lain memakai modus agak berbeda, membawa dokumen dan berbagai surat palsu disertai blangko isian sumbangan. Ketika ia menghadapi mangsanya, ia mengada-adakan cerita sehingga berhasil mengelabui dan memperoleh uang.

Bagi keluarga tertentu, mengemis bahkan telah menjadi suatu profesi. Mereka membagi-bagi tugas di antara keluarganya pada beberapa masjid yang ditunjuk. Pada saatnya, mereka berkumpul untuk menghitung penghasilan. Dan

demikianlah, setiap masjid mereka jelajah. Padahal tak jarang mereka itu dalam kondisi cukup mampu dan sungguh Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui kondisi mereka, dan bila mereka mati barulah terlihat warisannya.

(13)

13. Menolongok Rumah Orang Lain Tanpa Izin

Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya”. (Q.S; An Nur: 27).

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menegaskan, alasan diharuskannya meminta izin adalah karena dikhawatirkan orang yang masuk akan melihat aurat yang ada di rumah. Beliau Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan” . (Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari ; 11/ 24)

Pada saat ini, dengan berdesakannya bangunan dan saling berdempetnya gedung-gedung serta saling berhadap-hadapannya antara pintu dengan pintu dan jendela dengan jendela, menjadikan kemungkinan saling mengetahui isi rumah tetangga orang lain kian besar.

Ironisnya, banyak yang tak mau menundukkan pandangannya, malah yang terjadi terkadang dengan sengaja, mereka yang tinggal di gedung yang lebih tinggi, dengan leluasa memandangi lewat jendela mereka ke rumah-rumah tetangganya yang lebih rendah.

Ini adalah salah satu pengkhianatan dan pemerkosaan terhadap hak- hak tetangga, sekaligus sarana menuju yang diharamkan, karena perbuatan tersebut, banyak kemudian menjadi bencana dan fitnah.

Dan disebabkan oleh bahayanya akibat tindakan ini, sehingga syari’at Islam membolehkan mencolok mata orang yang suka melongok dan melihat isi rumah orang lain.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Barang siapa melongok rumah suatu kaum dengan tanpa izin mereka, maka halal bagi mereka mencolok mata orang tersebut”. (Hadits riwayat Muslim; 3/ 1699.) Dalam riwayat lain dikatakan:

“ … Kemudian mereka mencolok matanya, maka tidak ada diyat (ganti rugi) untuknya, juga tidak ada qishash baginya”. (Hadits riwayat Ahmad; 2/ 385, Shahihul Jami’; 6022)

14.

(14)

Inilah kebiasaan yang menjadi fenomena umum di kalangan wanita. Keluar rumah dengan menggunakan parfum yang wanginya menjelajahi segala ruang. Sesuatu yang menjadikan laki-laki lebih tergoda karena umpan wewangian yang

menghampirinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam amat keras

mamperingatkan masalah tersebut. Beliau Shallallahu’alaihi wassalam bersabda: “Perempuan manapun yang menggunakan parfum, kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium bau wanginya, maka dia adalah seorang pezina”. (Hadits riwayat Ahmad; 4/ 418, Shahihul Jami’; 105)

Sebagian wanita melalaikan dan meremehkan masalah ini, sehingga dengan sembarangan mereka memakai parfum. Tak peduli di sampingnya ada sopir, pedagang, satpam, atau orang lain yang tak mustahil akan tergoda.

Dalam masalah ini, syari’at Islam amat keras. Perempuan yang telah terlanjur memakai parfum, jika hendak keluar rumah ia diwajibkan mandi terlebih dahulu seperti mandi janabat, meskipun tujuan keluarnya ke masjid.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:

“Perempuan manapun yang memakai parfum, kemudian keluar ke masjid,

(dengan tujuan) agar wanginya tercium orang lain, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi sebagaimana mandi jinabat”. (Hadits riwayat Ahmad; 2/ 444, Shahihul Jami’; 2073)

Setelah berbagai peringatan kita sampaikan, akhirnya kita hanya bisa mengadu kepada Allah Subhanahu wata’ala tentang para wanita yang memakai parfum dalam pesta dan berbagai pertemuan yang diselenggarakan.

Bahkan parfum yang wanginya menyengat hidung itu tak saja digunakan dalam waktu-waktu khusus, tetapi mereka gunakan di pasar-pasar, di kendaraan-kendaraan, dan di pertemuan-pertemuan umum, hingga di masjid-masjid pada malam-malam bulan suci Ramadhan.

Syari’at Islam memberikan batasan, bahwa parfum wanita muslimah adalah yang tampak warnanya dan tidak keras semerbak wanginya.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala, semoga Dia tidak murka kepada kita, dan semoga Dia tidak menghukum orang-orang shaleh baik laki-laki maupun perempuan, dengan sebab dosa orang-orang yang jahil (bodoh), dan semoga Dia menunjuki kita semua ke jalan yang lurus.

(15)

Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari bencana ini, yakni melakukan gerakan yang tak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:

”Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu)dengan khusyu’”. (Q.S; Al Baqarah: 238).

Juga tidak memahami firman Allah Subhanahu wata’ala:

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam Shalatnya”. (Q.S; Al Muiminuun: 1-2).

Suatu saat Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud.

Beliau Shallallahu’alaihi wassalam menjawab:

”Janganlah engkau mengusap sedangkan engkau dalam keadaan shalat, jika (terpaksa) harus melakukannya maka (cukup ) sekali meratakan kerikil”.[1]

Para ulama menyebutkan, bahwasanya banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apalagi jika yang dilakukan tidak ada gunanya dalam shalat.

Berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sambil melihat jam tangan,

membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, kanan, atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah Subhanahu wata’ala mencabut penglihatannya, atau syaitan melalaikannya dari ibadah shalat. 16. Penolakan istri Terhadap Ajakan Suami

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda :

“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk melakukan senggama) ia menolak, sehingga suami marah atasnya maka Malaikat malaknat perempuan itu hingga datang pagi”

(HR Al Bukhari).

Manakala terjadi perselisian dengan suami, banyak perempuan yang menghukum suaminya (menurut dugaannya) dengan menolak melakukan hubungan suami istri. Padahal perbuatan semacam itu bisa mendatangkan masalah yang lebih besar. Misalnya terperosoknya suami pada perbuatan yang haram. Bahkan masalahnya bisa menjadi berbalik sehingga bisa lebih menyusahkan istri; misalnya suami berusaha menikahi perempuan lain.

(16)

“Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur hendaknya ia memenuhi panggilannya, meskipun itu berada di atas sekedup (sesuatu yang diletakkan di atas punggung onta. Digunakan oleh penunggangnya sebagai tempat duduk, berlindung diri dan berteduh).”

(lihat zawaidul Bazzar, 2/181, dalam shahihul jami’, hadits no : 547).

Meski begitu, hendaknya sang suami memperhatikan kondisi istrinya. Misalnya apakah sang istri dalam keadaan sakit, hamil, atau dirundung kesedihan, sehingga tak terjadi perpecahan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

17. Permintaan Agar Ditalak Suami Tanpa Sebab Yang Diperbolehkan Syara’.

Ketika terjadi percekcokan dengan suami, banyak di antara para istri yang langsung mengambil jalan pintas, yaitu minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

Padahal, terkadang keputusan itu di ambil hanya pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, “kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya !!”

Semua mengetahui, talak melahirkan banyak kerugian besar antara lain terputusnya tali keluarga, lepasnya kendali anak dan terkadang disudahi dengan menyesal pada saat penyesalan tak lagi berguna dan sebagainya.

Dengan akibat-akibat seperti disebutkan di atas, menjadi nyatalah hikmat syariat mengharamkan perbuatan tersebut, dalam sebuah hadits marfu, riwayat Tsauban ra disebutkan :

“siapa saja wanita yang minta diceraikan suaminya tanpa alasan yang dibolehkan maka haram baginya bau surga”

(HR Ahmad: 5/277, dalam shahihul jami’ :2703)

Hadits marfu’ lain riwayat Uqbah bin Amir ra menyebutkan :

“Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik”

(HR Thabrani)

Adapun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara’, seperti suaminya suka meninggalkan shalat, suka minum-minuman keras dan narkotika, atau memaksa istrinya berbuat haram, suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri, tidak mau lagi mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan) maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya.

18.

(17)

Seorang perempuan diharamkan untuk menyambut rambutnya dengan rambut yang najis atau dengan rambut manusia. Ketentuan ini bersifat umum untuk perempuan yang sudah bersuami ataukah belum baik seizin suami ataukah tanpa izinnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang meminta agar rambutnya disambung, perempuan yang mentato dan perempuan yang meminta agar ditato”(HR Bukhari no 5589).

Adanya laknat untuk suatu amal itu menunjukkan bahwa amal tersebut

hukumnya adalah haram. Alasan diharamkannya hal ini adalah adanya unsur penipuan disebabkan merubah ciptaan Allah. Hal ini juga dikarenakan haramnya memanfaatkan rambut manusia karena terhormatnya manusia. Pada asalnya

Dari Asma’ binti Abi Bakr, ada seorang perempuan yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Telah kunikahkan anak gadisku setelah itu dia sakit sehingga semua rambut kepalanya rontok dan suaminya memintaku segera mempertemukannya dengan anak gadisku, apakah aku boleh menyambung rambut kepalanya. Rasulullah lantas melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang meminta agar rambutnya disambung” (HR Bukhari no 5591 dan Muslim no 2122).

(18)

Ringkasnya sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Fiqh Sunnah lin Nisa’ hal 413,

“Sesungguhnya seorang perempuan tidaklah diperbolehkan untuk menyambung rambutnya dengan rambut yang lain semisal memakai wig baik dengantujuan menyenangkan suami atau orang lain. Hukumnya adalah haram”.

19. Lelaki Menyerupai Perempuan atau Sebaliknya

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

ءءااسننءلا نامء تءااهبنءشاتاممللاوا ،ءءااسننءلابء لءااجرنءلا نامء نايلهءبنءشاتاممللا مالناساوا هءيللاعا لم ا ىلناصا لء ا لمولسمرا ناعالا لءااجرنءلابء

(19)

Al-Pertama: hal itu memang sifat asal/ pembawaannya bukan ia bersengaja lagi memberat-beratkan dirinya untuk bertabiat dengan tabiat wanita, bersengaja memakai pakaian wanita, berbicara seperti wanita serta melakukan gerak-gerik wanita. Namun hal itu merupakan pembawaannya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menciptakannya seperti itu. Mukhannats yang seperti ini tidaklah dicela dan dicerca bahkan tidak ada dosa serta hukuman baginya karena ia diberi udzur disebabkan hal itu bukan kesengajaannya. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awalnya tidak mengingkari masuknya mukhannats menemui para wanita dan tidak pula mengingkari sifatnya yang memang asal penciptaan/ pembawaannya demikian. Yang beliau ingkari setelah itu hanyalah karena mukhannats ini ternyata mengetahui sifat-sifat wanita (gambaran lekuk-lekuk tubuh wanita) dan beliau tidak mengingkari sifat pembawaannya serta keberadaannya sebagai mukhannats.

Kedua: mukhannats yang sifat kewanita-wanitaannya bukan asal penciptaannya bahkan ia menjadikan dirinya seperti wanita, mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita seperti berbicara seperti mereka dan berpakaian dengan pakaian mereka. Mukhannats seperti inilah yang tercela di mana disebutkan laknat terhadap mereka di dalam hadits-hadits yang shahih.

Adapun mukhannats jenis pertama tidaklah terlaknat karena seandainya ia terlaknat niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya pada kali yang pertama, wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 14/164)

(20)

BAB III

PENUTUP

III.I Kesimpulan

Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa (al-itsm) adalah perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau larangan agama. Manusia disebut oleh Allah sebagai makhluk yang selalu ingkar (kaffar) dan berbuat dosa (atsiim). Buktinya, saat ini, orang yang menikmati perbuatan dosanya semakin banyak.

 Dari banyaknya perilaku yang di bahas di atas baik itu pernah kita lakukan atau orang lain lakukan maka dari itu kita selalu pelopor maha depan bangsa yang beritelektualitas dan bersikap islamiah sudah sepatutnya kita meninggalkan hal hal yang di sebutkan di atas dan juga kita mengingat kan orang lain tentang dosa dosa tersebut .

(21)

رةفلصكةيه نأة ممكهبلهرة ىىسةعة احةوصهنلة ةةةبةموتة هصللةلٱ ىلةإص الووبهوته الونهمةاءة نةيذصللةٱ اہةيلهأةوىـية

الة مةموية رهـىهةمنأةملٱ اهةتصمحتة نمص ىرصمجتة ة رتـىنلةجة ممڪ

ه لةخصمديهوة ممكهتصاـةـيلصسة ممكهنعة

ههعةمة الونهمةاءة نةيذصللةٱوة ىلةبصنلةلٱ ههللةلٱ ىزصمخيه

ممہصيدصميأة نةميبة ىىعةمسية ممههرهونه ۥۥۥ

ةرءمىشة للصڪ

ه ىىلةعة كةنلةإص ۥۥانةلة مرفصمغٱوة انةرةونه انةلة مممصمتأة انةبلةرة نةولهوقهية ممہصنصـىمةميأةبصوة

)

ةرريدصقة

٨

)

"hai orang0orang yang beriman, bertaubatlah dengan ALlah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketikka Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlag bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".(Q.S.At-Tahrim ayat 8)

Allah adalah Zat yang Maha menerima taubat, sebagaimana disebutkan di dalam QS. an-Nisaa ayat 48. Tidak ada satu dosapun yang tidak diampuni aleh Allah kecuali syirik atau mempersekutukan -Nya:

III-II Saran Saran

a) Memahami betul tentang dosa tang tidak di sukai oleh Allah b) Setiap dosa yang di lampirkan di atas semestinya kita harus

meninggalkannya.

c) Penggunaan hadist di dalam makalah ini mungkin ada yang salah bisa di koreksi salah.

d) Jika terdapat penggunaan bahasa yang salah mohon di maklumi karna selayaknya manusia tidak luput dari dosa

III-III Daftar Pustaka

(22)

 https://muhamadilyas.wordpress.com/category/islam/dosa-dosa-yang-dianggap-biasa/page/3/

 http://www.catatanmoeslimah.com/2015/10/dosa-dosa-yang-dianggap-biasa.html

 https://www.rezzaid.com/contoh-kata-pengantar-yang-baik-dan-benar/

Note:

(23)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...