• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Ekonomi Kelautan Dengan Model

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebijakan Ekonomi Kelautan Dengan Model"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KEBI JAKAN EKONOMI KELAUTAN

DENGAN MODEL EKONOMI BI RU

KEMENTERI AN KELAUTAN DAN PERI KANAN SEKRETARI AT JENDERAL

SATUAN KERJA DEWAN KELAUTAN I NDONESI A TAHUN 2012

(3)

Tim Penyusun

Pengarah : Sharif C. Sut ardj o

Penanggungj awab : Dr. Ir. Gel l wyn Yusuf , M. Sc

Ket ua : Prof . Dr. Ir. H. Tridoyo Kusumast ant o, MS

Wakil Ket ua : Dr. Ir. Dedy H. Sut isna, MS

Sekret aris : Dr. Ir. Sugeng Hari Wisudo, M. Si

Anggot a : Prof . Firmanzah, Ph. D

Dr. Sunot o, M. E. S

Dr. Ir. Suseno, MM

Syarif Syahrial , SE, ME

Dr. Ir. Sri Yant i Wibisana, MPM

Ir. R. Anang Noegroho S. M, SCM, MEM

Ir. R. Nil ant o Perbowo, M. Sc

Dr. Ir. Syahrowi R. Nusir, MM

Dr. Agus Heri Purnomo

Dr. Ir. Arif Sat ria

Dr. Ir. Gabriel Ant honius Wagey, MSc

Dr. Rizal E. Hal im

Nurkhol is, M. Si

Drs. Tomo HS, M. Si

M. Armansyah, ST

(4)

KATA PENGANTAR

Semenj ak dirat if ikasinya Uni t ed Nat i on Convent i on on t he Law of The Sea mel al ui Undang-undang No. 17 Tahun 1985 t ent ang Pengesahan Konvensi Perserikat an

Bangsa-Bangsa t ent ang HUKUM LAUT 1982, Indonesia bel um memil iki kebij akan yang secara

spesif ik mengat ur l aut . Padahal , dua pert iga wil ayahnya berupa perairan l aut dan

karenanya menj adi Negara Kepul auan. Sumberdaya al am l aut yang t erkandung didal am

nya demikian besar, mencakup sumberdaya al am yang dapat diperbarui (r enewabl e r esour ces) maupun t idak (non r enewabl e r esour ces). Selain it u j uga mengandung sumber energi al t ernat if dan j asa kel aut an. Dengan demikian kebij akan kel aut an nasional yang

mampu mengint egrasikan pembangunan ekonomi semua sekt or secara berkel anj ut an

mut l ak diperl ukan agar dapat mengat ur pemanf aat an pot ensi kel aut an yang demikian

besar unt uk mensej aht erakan rakyat .

Undang-undang No. 17 Tahun 2007 mencant umkan 8 (del apan) misi pembangunan

nasional unt uk mencapai Visi “ Indonesia yang Mandiri, Maj u, Adil dan Makmur” . Sal ah

sat u misi t ersebut adal ah “ Mewuj udkan Indonesia menj adi negara kepul auan yang

mandiri, maj u, kuat , dan berbasiskan kepent ingan nasional ” . St rat egi pembangunan

nasional yang digunakan unt uk mencapai visi dan misi sebagaimana diamanat kan dal am

Undang-undang No. 17 Tahun 2007 adal ah pembangunan yang berkel anj ut an dengan

semangat yang pro-poor, pro-growt h, pro-j ob dan pro-environment . Kebij akan pembangunan kel aut an Nasional dibangun dari 5 pil ar ut ama yang t erdiri dari Budaya Bahari (Ocean Cul t ure), Tat a Kelola di Laut (Ocean Governance), Pert ahanan, Keamanan Dan Keselamat an di Laut (Mar i t i me Secur i t y), Ekonomi Kel aut an (Ocean Economy) dan Lingkungan Laut (Mar i ne Envi r onment ). Kedua pi l ar ekonomi dan l i ngkungan i ni l ah yang menj adi komponen int i dal am konsep Ekonomi Biru, karena pada dasarnya Ekonomi Biru adal ah

paradigma pembangunan ekonomi yang berazaskan pada prinsip-prinsip ekosist em.

Dalam f orum Konf erensi Rio+20 di Brasil akhir Juni 2012, Presiden RI dalam pidat onya

t idak hanya mengaj ak dunia unt uk bersama-sama mel aksanakan ekonomi hij au dal am

pembangunan nasionalnya, t et api j uga mengkampanyekan ekonomi biru (Bl ue Economy), di mana l aut menj adi bagian int egral unt uk t uj uan pembangunan yang berkel anj ut an

(Sust ai nabl e Devel opment Goal s). Ol eh karena it u, model ekonomi biru perl u dij adikan bagian dari gr and desi gn pembangunan kel aut an nasional .

Konsep Ekonomi Biru (Bl ue Economy) merupakan konsep yang menggabungkan pengembangan ekonomi dan pel est arian l ingkungan. Konsep Ekonomi Biru mencont oh

cara kerj a al am (ekosist em), bekerj a sesuai dengan apa yang disediakan al am dengan

(5)

abundance), l imbah dari yang sat u menj adi makanan/ sumber energi bagi yang l ain, sehingga sist em kehidupan dal am ekosist em menj adi seimbang, energi didist ribusikan

secara ef isien dan merat a t anpa ekst raksi energi ekst ernal , bekerj a menuj u t ingkat

ef isiensi l ebih t inggi unt uk mengal irkan nut rien dan energi t anpa meninggal kan l imbah

unt uk mendayagunakan kemampuan seluruh kont ribut or dan memenuhi kebut uhan dasar

bagi sem uanya. Mer uj uk pada konsep t er sebut di at as, m aka Indonesi a dapat

mengembangkan t eori t ersebut ke dal am pembangunan bidang kel aut an dengan model

ekonomi biru sebagai penopang Pembangunan Nasional .

Kebij akan Kel aut an, dengan Model Ekonomi Biru, mel al ui sekt or ekonomi kel aut an,

memiliki 8 (delapan) st rat egi pengembangan yait u pada sekt or perhubungan laut , indust ri

kel aut an, perikanan, pariwisat a bahari, energi dan sumberdaya mineral , bangunan kel aut an, j asa kel aut an, l int as sekt or bidang kel aut an. Di dal am masing-masing st rat egi

pengembangan t ersebut , t erdapat upaya-upaya yang merupakan ruang bagi

masing-masing sekt or yang bersangkut an unt uk secara kreat if mengembangkan bisnis di sekt ornya yang menggunakan model ekonomi biru. Keberhasil an pembangunan ekonomi kel aut an

dengan model Ekonomi Bi r u membut uhkan komi t men par a pemangku kepent i ngan

khususnya t erkait dengan berbagai kebij akan baik lokal maupun nasional, SDM, t eknologi, akses keuangan, indust rial isasi (hul u dan hil ir), pendidikan, dan kesadaran kol ekt if

masyarakat akan pot ensi kel aut an dan yang t ak kal ah pent ingnya adal ah pol it ical wil l

dari pemerint ah dan l egisl at if .

Saya menyadar i bahw a kebi j akan kel aut an dengan model ekonomi bi r u i ni

merupakan konsep awal bagi Pengembangan Ekonomi Kel aut an. Ol eh karenanya masih

banyak membut uhkan masukan dan perbaikan. Harapan saya semoga konsep Kebij akan

ini dapat dij adikan bahan rumusan bagi Bangsa Indonesia dal am menyusun Rencana

Pembangunan Jangka Menengah 2014-2019 dan dij adikan pedoman bagi st akehol der s dal am pengel ol aan pot ensi kel aut an unt uk kesej aht eraan masyarakat .

Akhirnya, kepada semua pihak yang t elah berkont ribusi dalam penyusunan kebij akan

ini, kami ucapkan t erima kasih dengan apresiasi t inggi. Semoga bermanf aat .

Jakart a, Desember 2012 Ment eri Kel aut an dan Perikanan

sel aku

Ket ua Harian Dewan Kel aut an Indonesia

(6)

EXECUTIVE SUMMARY

KEBIJAKAN KELAUTAN DENGAN MODEL EKONOMI BIRU

Semenj ak dirat if ikasinya Uni t ed Nat i on Convent i on on t he Law of The Sea mel al ui

Undang-undang No. 17 Tahun 1985 t ent ang Pengesahan Konvensi Perserikat an

Bangsa-Bangsa t ent ang HUKUM LAUT 1982, Indonesia bel um memil iki kebij akan yang secara

spesif ik mengat ur laut . Sebagai sebuah negara kepulauan t erbesar di dunia maka wilayah

pesisir, laut dan laut an adalah t umpuan harapan yang harus dikembangkan secara lest ari

dan mampu mensej aht erakan segenap komponen bangsa di t anah airnya sendiri. Dengan

demikian kebij akan kel aut an nasional yang mampu mengint egrasikan pembangunan

ekonomi semua sekt or secara berkel anj ut an mut l ak diperl ukan agar dapat mengat ur

pemanf aat an pot ensi kel aut an yang demikian besar unt uk mensej aht erakan rakyat .

Undang-undang No. 17 Tahun 2007 mencant umkan 8 (del apan) misi pembangunan

nasional unt uk mencapai Visi “ Indonesia yang Mandiri, Maj u, Adil dan Makmur” . Sal ah

sat u misi t ersebut adal ah “ Mewuj udkan Indonesia menj adi negara kepul auan yang

mandiri, maj u, kuat , dan berbasiskan kepent ingan nasional ” . St rat egi pembangunan

nasional yang digunakan unt uk mencapai visi dan misi sebagaimana diamanat kan dal am

Undang-undang No. 17 Tahun 2007 adal ah pembangunan yang berkel anj ut an dengan

semangat yang pro-poor, pro-growt h, pro-j ob dan pro-environment . Kebij akan pembangunan

kel aut an Nasional dibangun dari 5 pil ar ut ama yang t erdiri dari Budaya Bahari (Ocean

Cul t ure), Tat a Kelola di Laut (Ocean Governance), Pert ahanan, Keamanan Dan Keselamat an

di Laut (Mar i t i me Secur i t y), Ekonomi Kel aut an (Ocean Economy) dan Lingkungan Laut

(Marine Environment ). Kedua pilar ekonomi dan lingkungan inilah yang menj adi komponen

int i dal am konsep Ekonomi Biru, karena pada dasarnya Ekonomi Biru adal ah paradigma

pembangunan ekonomi yang berazaskan pada prinsip-prinsip ekosist em.

Kelaut an sebagai bidang yang t erdiri dari mult isekt or memerlukan sebuah kebij akan

yang sinergis pada sekt or ekonomi kel aut an mengingat ket erkait an yang erat ant ar

akt i vi t as ekonomi , bai k di dal am maupun di l uar sekt or, sangat ber per an dal am

keberhasilan pembangunan ekonomi kelaut an. Dalam rangka menyusun ket erpaduan dan

keharmonisan pembangunan ekonomi kelaut an sehingga berkelanj ut an, maka penyusunan

kebij akan Pembangunan Ekonomi Kel aut an Berbasis Ekonomi Biru dal am pembangunan

(7)

Dalam f orum Konf erensi Rio+20 di Brasil akhir Juni 2012, Presiden RI dalam pidat onya

t idak hanya mengaj ak dunia unt uk bersama-sama mel aksanakan ekonomi hij au dal am

pembangunan nasionalnya, t et api j uga mengkampanyekan ekonomi biru (Bl ue Economy),

di mana l aut menj adi bagian int egral unt uk t uj uan pembangunan yang berkel anj ut an

(Sust ai nabl e Devel opment Goal s). Ol eh karena it u, model ekonomi biru perl u dij adikan

bagian dari gr and desi gn pembangunan kel aut an nasional .

Konsep Ekonomi Biru (Bl ue Economy) merupakan konsep yang menggabungkan

pengembangan ekonomi dan pel est arian l ingkungan. Konsep Ekonomi Biru mencont oh

cara kerj a al am (ekosist em), bekerj a sesuai dengan apa yang disediakan al am dengan

ef isien dan t idak mengurangi t api j ust ru memperkaya al am (shi f t i ng f r om scar ci t y t o abundance), l imbah dari yang sat u menj adi makanan/ sumber energi bagi yang l ain,

sehingga sist em kehidupan dal am ekosist em menj adi seimbang, energi didist ribusikan

secara ef isien dan merat a t anpa ekst raksi energi ekst ernal , bekerj a menuj u t ingkat

ef isiensi l ebih t inggi unt uk mengal irkan nut rien dan energi t anpa meninggal kan l imbah

unt uk mendayagunakan kemampuan seluruh kont ribut or dan memenuhi kebut uhan dasar

bagi sem uanya. Mer uj uk pada konsep t er sebut di at as, m aka Indonesi a dapat

mengembangkan t eori t ersebut ke dal am pembangunan bidang kel aut an dengan model

ekonomi biru sebagai penopang Pembangunan Nasional .

Kebij akan Kel aut an dengan Model Ekonomi Biru mel al ui bidang ekonomi kel aut an,

memil iki 8 (del apan) sekt or pengembangan yait u sekt or perhubungan l aut , indust ri

kel aut an, perikanan, pariwisat a bahari, energi dan sumberdaya mineral , bangunan

kel aut an, j asa kel aut an sert a l int as sekt or bidang kel aut an. Dari 8 (del apan) sekt or

t ersebut , maka muncul l ah 8 (del apan) st rat egi pengembangan ekonomi. Sebagai t indak

lanj ut nya maka dalam masing-masing st rat egi pengembangan ekonomi t ersebut t erdapat

upaya-upaya yang merupakan ruang bagi masing-masing sekt or yang bersangkut an unt uk

secara kreat if mengembangkan bisnis di sekt ornya yang menggunakan model ekonomi

biru.

Kebij akan Pengembangan Ekonomi Kelaut an dapat diringkas sebagai Pengembangan

(8)

Perikanan, Sekt or Pariwisat a Bahari, Sekt or Energi dan Sumberdaya Mineral Kel aut an,

Sekt or Bangunan Kel aut an, Sekt or Jasa Kel aut an dan Pengembangan Ekonomi Lint as

Sekt or Bidang Kel aut an. St rat egi-st rat egi t ersebut dapat diimpl ement asikan ol eh set iap

sekt or mel al ui berbagai upaya unt uk mel akukan kegiat an bisnis dengan menggunakan

model ekonomi biru yang dikembangkan dengan inovasi dan kreat ivit as dari

masing-masing sekt or t ersebut .

Keber hasi l an pem bangunan ekonom i kel aut an dengan m odel Ekonom i Bi r u

membut uhkan suat u perencanaan yang komprehensif dan berpihak t erhadap kepent ingan

masyarakat sert a lingkungan. Pembangunan t ersebut harus didasarkan pada ket erpaduan

geograf is, ket erpaduan ekol ogis, ket erpaduan ant ar st akehol der s, ket erpaduan ant ar

sekt or, dan ket erpaduan ant ar il mu penget ahuan.

Kebij akan Pengembangan Ekonomi Kelaut an dengan Model Ekonomi Biru selanj ut nya

dapat dil aksanakan secara berkel anj ut an sert a memberikan kont ribusi yang signif ikan

pada pembangunan bangsa dan negara sert a kesej aht eraan rakyat secara adil di segenap

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . i

EXECUTIVE SUMMARY KEBIJAKAN KELAUTAN DENGAN MODEL EKONOMI BIRU . . . iii

DAFTAR ISI . . . . vi

DAFTAR TABEL . . . . vii

DAFTAR GAMBAR . . . . viii

Bab 1 PENDAHULUAN . . . . 1

1. 1 Lat ar Bel akang . . . 1

1. 2 Pent ingnya Laut dal am Perspekt if Pembangunan Nasional . . . 2

Bab 2 KEBIJAKAN KELAUTAN . . . . 7

Bab 3 EKONOMI KELAUTAN . . . . 17

3. 1 Ekonomi Kel aut an Sebagai Arus Ut ama Pembangunan Nasional . . . 17

3. 2 Perl unya Int egrasi Ant ar Sekt or Dal am Pembangunan Ekonomi Kel aut an . . . 28

Bab 4 EKONOMI KELAUTAN DENGAN MODEL EKONOMI BIRU . . . . 31

4. 1 Ekonomi Biru . . . 31

4. 2 Pembangunan Ekonomi Kel aut an dengan Model Ekonomi Biru . . . 37

Bab 5 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKONOMI KELAUTAN DENGAN MODEL EKONOMI BIRU . . . . 40

5. 1 Kebij akan Makro Pembangunan Kel aut an Nasional . . . 40

5. 2 Kebij akan Pengembangan Ekonomi Kel aut an dengan Model Ekonomi Biru . . . 41

5. 3 St rat egi dan Upaya Pengembangan Ekonomi Kelaut an dengan Model Ekonomi Biru . . . 45

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Daf t ar Beberapa Undang-Undang yang t erkait dengan

Bidang Kel aut an . . . 9

Tabel 3. 1 Perbandingan Kont ribusi Bidang Kel aut an Beberapa Negara . . . 19

Tabel 3. 2 Dist ribusi Persent ase Produk Domest ik Brut o Bidang Kel aut an

periode t ahun 2001 - 2005 . . . 20

Tabel 3. 3 Nil ai Koef isien ICOR Bidang Kel aut an, berdasar Tabel I-O . . . 21

Tabel 3. 4 Perkiraan Kebut uhan Tenaga Kerj a Berkait an Produksi Ikan

Tangkap dari Perairan Indonesia (5% Meningkat Membut uhkan

800 Kapal ) . . . 24

Tabel 3. 5 Juml ah Tenaga Kerj a yang Terl ibat pada Budidaya Udang

Unt uk Menghasil kan 100. 000 Ton Udang . . . 24

Tabel 3. 6 Juml ah Tenaga Kerj a yang Terl ibat Pada Budidaya Ikan Kerapu

Unt uk Menghasil kan 300 Ton Ikan Kerapu . . . 25

Tabel 3. 7 Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Menurut UU

No. 33 Tahun 2004 . . . 26

Tabel 5. 1 Kebij akan, St rat egi dan Upaya yang diperl ukan unt uk

Pengembangan Ekonomi Kel aut an Nasional Dengan Model

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Pil ar St rat egi Pembangunan Nasional . . . 13

Gambar 3. 1 Sist em Pembangunan Kel aut an Nasional . . . 17

Gambar 3. 2. Perbandingan Kont ribusi Bidang Kelaut an Beberapa Negara Eropa . . . 18

Gambar 3. 3 Model Pembangunan Ekonomi Kel aut an Nasional dengan

Pengembangan Int egrasi Ant ar Sekt or . . . 30

Gambar 4. 1 Ket erkait an Wor l d Ocean Conf er ence (WOC) 2009 dengan

Pil ar Kebij akan Ekonomi Kel aut an dan Lingkungan Laut

sert a Ekonomi Biru . . . 32

Gambar 4. 2 Daerah Impl ement asi Segit iga Terumbu Karang (Cor al Tr i angl e

Ini t i at i ve f or Cor al Reef , Fi sher i es and Food Secur i t y) . . . . 33

Gambar 5. 1 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Perhubungan Laut

Dengan Model Ekonomi Biru (Kement erian Perhubungan) . . . 46

Gambar 5. 2 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Indust ri Marit im

Dengan Model Ekonomi Biru (Kement erian Perhubungan) . . . 48

Gambar 5. 3 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Perikanan Dengan Model

Ekonomi Biru unt uk Produk Rumput Laut

(Kement erian Kel aut an dan Perikanan) . . . 50

Gambar 5. 4 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Perikanan dengan Model

Ekonomi Biru berupa Si l vof i sher y

(Kement erian Kel aut an dan Perikanan) . . . 50

Gambar 5. 5 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Wisat a Bahari Dengan Model

Ekonomi Biru (Kement erian Pariwisat a dan Ekonomi Kreat if ) . . . 52

Gambar 5. 6 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Energi dan

Sumberdaya Mineral Kel aut an Dengan Model Ekonomi Biru

(Kement erian Energi dan Sumberdaya Mineral ) . . . 54

Gambar 5. 7 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Bangunan Kel aut an

dengan Model Ekonomi Biru pada unt uk Eco Fi shi ng Por t

(12)

Gambar 5. 8 Cont oh Impl ement asi Bisnis Sekt or Jasa Kel aut an Dengan Model

Ekonomi Biru unt uk kerj asama penel it ian unt uk indust ri garam

(Kement erian Kel aut an dan Perikanan) . . . 57

Gambar 5. 9 Cont oh Impl ement asi Bisnis Lint as Sekt or

Bidang Kel aut an dengan Model Ekonomi Biru dal am Bent uk

Model Bisnis Terint egrasi di Lombok Timur . . . 59

Gambar 5. 10 Cont oh Impl ement asi Bisnis Lint as Sekt or Bidang Kel aut an

Dengan Model Ekonomi Biru dal am Bent uk Model

(13)

Bab 1

PENDAHULUAN

1. 1 Lat ar Belakang

Posisi Indonesia yang t erl et ak di ant ara benua Asia dan Aust ral ia sert a diapit ol eh

Samudera Pasif ik dan Samudera Hindia menj adikan wil ayah perairan l aut Indonesia

sebagai perairan berprodukt ivit as t inggi dengan daya dukung al am (nat ur al car r yi ng

capacit y) yang kuat . Selain it u, let ak Indonesia di wilayah t ropis dengan t ingkat perubahan

suhu l ingkungan yang rel at if rendah memungkinkan perkembangan berbagai hayat i l aut

sehingga Indonesia dipandang dunia sebagai daerah “megabi odi ver si t y” . Posisi geograf is

yang st rat egis ini menj adikan Indonesia sebagai wil ayah yang berpot ensi besar baik

dal am hal ekonomi maupun geo-pol it ik. Sekit ar 40% l al u l int as perdagangan barang dan

j asa yang diangkut kapal mel int asi perairan Indonesia. Dengan 75% wil ayah Indonesia

berupa laut dan wilayah pesisir (coast al zone) dengan kandungan sumberdaya alam yang

kaya dan beragam, maka sekt or kelaut an merupakan sekt or st rat egis bagi pembangunan

ekonomi Indonesia ke depan. Sekit ar 70% produksi minyak dan gas nasional berasal dari

wil ayah pesisir dan l aut an (of f shor e). Sumberdaya hidrokarbon, khususnya minyak dan

gas yang t er sedi a di 60 t i t i k cekungan masi h sangat besar sedangkan yang sudah

dieksploit asi relat if masih sedikit . Minyak, t ersedia 86, 9 miliar barel, dan baru dicadangkan

unt uk diekspl oit asi 9, 1 mil iar barel , sedangkan yang sudah diproduksi baru mencapai

0,387 miliar barel. Gas, t ersedia 384,7 Trillion St andard Cubic Feet (TSCF), dan dicadangkan

185, 8 TSCF, sedangkan yang sudah diproduksi hanya 2, 95 TSCF (Firmanzah, 2012).

Posi si geogr af i s Indonesi a yang memungki nkan Indonesi a unt uk mendapat kan

manf aat ekonomi pol it ik yang l ebih besar t ersebut hanya dapat diraih bil a Indonesia

memil iki geo-pol it ik, geo-ekonomi dan geo-st rat egis yang j el as dan t erarah. Agar peran

ekonomi kel aut an dapat t erus dikembangkan unt uk meningkat kan kemakmuran bangsa

dan sel anj ut nya memanf aat kan posisi geograf is yang st rat egis maka diperl ukan sebuah

per geser an par adi gma pembangunan yang l ebi h memahami j at i di r i bangsa Indonesi a

sebagai bangsa bahar i dan negar a kepul auan t er besar di duni a ser t a memadukan

kekuat an ekonomi ber basi s dar at dan l aut sebagai si ner gi kekuat an ekonomi nasi onal .

Perubahan pemikiran t ersebut harus segera dil akukan mengingat perubahan l ingkungan

st rat egis ant ar bangsa yang sangat cepat sehingga posisi bangsa Indonesia di percat uran

regional maupun gl obal harus didasarkan kepada endowment yang memil iki daya saing

(14)

Dal am rangka menuj u kemaj uan perekonomian Indonesia, maka diperl ukan suat u

f ormul asi kebij akan pembangunan kel aut an nasional (Nat i onal Ocean Devel opment

Pol i cy) yang int egral dan komprehensif yang nant inya menj adi payung polit ik bagi semua

inst it usi negara, swast a dan masyarakat yang mendukung t erwuj udnya Indonesia menj adi

negara kepul auan yang mandiri, maj u, kuat , dan berbasiskan kepent ingan nasional .

Guna menj adikan kel aut an sebagai l eadi ng sect or dal am pembangunan ekonomi, maka

pendekat an kebij akan yang dilakukan harus mempert imbangkan ket erkait an ant ar sekt or

ekonomi dal am l ingkup bidang kel aut an maupun ekonomi berbasis darat an. Karena

karakt erist ik darat an yang berbeda dengan l aut , maka perl u dicari konsep yang dapat

mengint egrasikan visi pembangunan yang sesuai dengan kondisi Indonesia sebagai Negara

Kepul auan dengan l uas l aut yang dominan.

Pembangunan kel aut an nasional j uga diarahkan unt uk mendukung pengembangan

ekonomi rakyat secara komprehensif sert a harus sinergi dengan grand st rat egi pembangunan

nasional yang dit et apkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panj ang 2005-2025, yakni:

pr o-poor (pengent asan kemiskinan), pr o-gr owt h (pert umbuhan), pr o-j ob (penyerapan

t enaga kerj a) dan pr o-envi r onment (melest arikan lingkungan). Selain it u, sinergi ant ara

eksekut if , l egisl at if dan yudikat if dal am memberikan gui del i ne dal am pembangunan

kel aut an menj adi sangat menent ukan. Dukungan l egisl at if t erhadap eksekut if dal am

menyusun rencana anggaran pembangunan yang t erkait dengan bidang kel aut an sangat

pent i ng unt uk m eni ngkat kan kapasi t as pem bangunan kel aut an nasi onal secar a

berkel anj ut an demi kemakmuran rakyat .

1. 2 Pent ingnya Laut dalam Perspekt if Pembangunan Nasional

Dal am f orum Konf erensi Tingkat Tinggi (KTT) Rio+20 di Brasil akhir Juni 2012 yang

membahas pembangunan berkel anj ut an dengan mengedepankan keseimbangan ant ara

upaya meningkat kan pert umbuhan gl obal dan pembangunan berwawasan l ingkungan

at au dikenal dengan pendekat an ekonomi hij au (Gr een Economy), Presiden RI, Bapak

Dr. H. Bambang Susil o Yudhoyono, dal am pidat onya menyat akan “For Indonesia, Blue

Economy is Our Next Front ier” , yang int inya t idak hanya mengaj ak dunia unt uk

bersama-sama mel aksanakan ekonomi hij au dal am pembangunan nasional nya, t et api j uga

meng-kampanyekan ekonomi biru (Bl ue Economy), di mana laut menj adi bagian int egral unt uk

t uj uan pembangunan yang berkel anj ut an t ersebut (Sust ai nabl e Devel opment Goal s).

Dengan demikian, secara ekspl isit Presiden RI, Bapak Dr. H. Bambang Susil o Yudhoyono,

t el ah mengarahkan konsep ekonomi biru sebagai gr and desi gn pembangunan kel aut an

(15)

Dengan t erbat asnya sumberdaya darat an maka pengembangan akt ivit as ekonomi

berbasiskan pesisir dan l aut (kel aut an) menj adi sangat pent ing bagi masa depan bangsa

Indonesia. Pembangunan ekonomi dal am bidang kel aut an bel um menj adi mai nst r eam

pembangunan ekonomi Indonesia, wal aupun demikian bidang kel aut an yang t erdiri dari

t uj uh sekt or ekonomi, yakni (i) perhubungan l aut , (ii) indust ri marit im, (iii) perikanan,

(iv) wisat a bahari, (v) energi dan sumberdaya mineral , (vi) bangunan kel aut an sert a

(vii) j asa kel aut an, memil iki kont ribusi sebesar 22, 42% t erhadap produk domest ik brut o

(PDB) nasional pada t ahun 2005. Nilai kont ribusi ekonomi yang cukup signif ikan t ersebut

diikut i dengan daya serap yang t inggi t erhadap l apangan kerj a seharusnya mampu

mensej aht erakan rakyat dan segenap komponen bangsa di t anah air. Namun karena

komit men pembangunan kel aut an nasional yang masih t erbat as mengakibat kan pot ensi

yang dimil iki ol eh bidang kel aut an (f ungsi dan sumberdaya) masih bel um dikembangkan

secara opt imal .

Indonesia sebagai negara marit im dan kepulauan t erbesar di dunia memiliki pot ensi

pembangunan ekonomi kel aut an dan perikanan yang sangat besar dan beragam. Pot ensi

kel aut an Indonesia didal amnya dapat dipil ah menj adi 4 kel ompok sumberdaya kel aut an

yait u: Per t ama adal ah sumberdaya al am t erbarukan (r enewabl e r esour ces) ant ara l ain

adal ah: perikanan, hut an bakau (mangr ove), rumput l aut (seaweed), padang l amun

(seagr ass) dan t erumbu karang (cor al r eef s). Kedua sumberdaya al am t ak t erbarukan

(non r enewabl e r esour ces) yakni: minyak, gas bumi, t imah, bauksit , bij i besi, pasir

kwarsa, bahan t ambang, dan mineral l ainnya. Ket iga energi kel aut an berupa: energi

gel ombang, OTEC (Ocean Ther mal Ener gy Conver t i on), pasang surut dan arus l aut .

Keempat berupa l aut sebagai envi r onment al ser vi ce dimana l aut merupakan media

t ransport asi, komunikasi, rekreasi, pariwisat a, pendidikan, penel it ian, pert ahanan dan

keamanan, pengat ur ikl im (cl i mat e r egul at or ) dan sist em penunj ang kehidupan l ainnya

(l if e-suppor t ing syst em). Pot ensi ekonomi sekt or kelaut an Indonesia diperkirakan mampu

mencapai US$ 1, 2 t riliun per t ahun dengan penyerapan t enaga kerj a berpot ensi mencapai

40 j ut a orang. Dengan modal pot ensi kel aut an t ersebut , Indonesia memandang l aut

dapat menj adi t umpuan pembangunan nasional yang berkel anj ut an dan berkeadil an

(Firmanzah, 2012).

Dat a organisasi PBB unt uk program Lingkungan (UNEP, 2009) menyebut kan bahwa

t erdapat 64 wil ayah perairan yang merupakan Lar ge Mar i ne Ecosyst em (LME) di sel uruh

dunia yang disusun berdasarkan t ingkat kesuburan, produkt ivit as dan pengaruh perubahan

(16)

LME yang mempunyai pot ensi kel aut an dan perikanan cukup besar, yakni LME 34 – Tel uk

Bengala; LME 36 – Laut China Selat an; LME 37 – Sulu Celebes; LME 38 – Laut -laut Indonesia;

LME 39 – Araf ura – Gul f Carpent aria; LME 45 – Laut Aust ral ia Ut ara. Pot ensi sumberdaya

kel aut an dan perikanan ini diharapkan dapat dimanf aat kan secara opt imal sehingga

sekt or kelaut an dan perikanan mampu menj adi penggerak pembangunan ekonomi nasional.

Laut sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa harusnya dapat dij adikan sebagai salah

sat u pi l ar ut ama unt uk membant u mengaksel er asi t er w uj udnya kemakmur an dan

kej ayaan bangsa Indonesia. Tambahan pul a, l aut bagi NKRI j uga memil iki makna dan

f ungsi yang sangat st rat egis, yait u l aut sebagai: (1) wil ayah kedaul at an bangsa, (2)

lingkungan dan sumberdaya, (3) media kont ak sosial, ekonomi, dan budaya, (4) geost rat egi,

geopol it ik, geokul t ural , dan geoekonomi negara, dan (5) sumber dan media penyebar

bencana al am.

Harus diakui bahwa hingga saat ini pembangunan ekonomi kelaut an Indonesia belum

memberikan kont ribusi yang signif ikan at au opt imal bagi kemaj uan dan kesej aht eraan

bangsanya. Hal ini dapat t erl ihat j el as bil a membandingkan rat io l uas l aut dan panj ang

pant ai t erhadap besarnya kont ribusi bidang kel aut an unt uk t ot al Produk Domest ik Brut o

(PDB) nasional nya. Sebagai gambaran, ekonomi kel aut an Jepang mampu menyumbang

hingga 48, 4% bagi PDB nasional nya (set ara 17. 552 mil iar dol ar AS), sement ara Korea

Sel at an sanggup menyumbang hingga 37% bagi PDB nasional nya, dan Viet nam bidang

kel aut annya memberikan kont ribusi hingga 57, 6% bagi PDB nasional nya. Padahal ket iga

negara diat as, l uas l aut an dan panj ang pant ainya rel at if j auh l ebih kecil dari Indonesia.

Dengan demikian, dapat dinyat akan bahwa sumberdaya kel aut an yang dimil iki

bangsa ini bel um menj adi penggerak ekonomi nasional . Disamping it u, pada kenyat aan

di l apangan, pembangunan kel aut an Indonesia masih banyak dil akukan secara sekt oral ,

parsial dan f r agment ed, yang mengakibat kan sering t erj adi t umpang t indih dan konf l ik

kepent ingan dal am pel aksanaan pembangunan dan pengel ol aannya.

Kel aut an Indonesia kedepan diharapkan dapat menj adi arus ut ama mai nst r eam

(arus ut ama) pembangunan nasional dengan memanf aat kan ekosist em perairan l aut

besert a segenap sumberdaya yang t erkandung di dal amnya secara berkel anj ut an (on a

sust ai nabl e basi s) unt uk kesat uan, kemaj uan dan kesej aht eraan bangsa. Keinginan

t ersebut dij abarkan dalam lima t uj uan yang harus dicapai, yait u: (1) Membangun j aringan

sar ana dan pr asar ana sebagai per ekat semua pul au dan kepul auan Indonesi a, (2)

Meningkat kan dan menguat kan sumber daya manusia di bidang kel aut an yang didukung

(17)

Kesat uan Republ i k Indonesi a, aset -aset , dan hal -hal yang t er kai t dal am ker angka

per t ahanan negar a, ( 4) Mem bangun ekonom i kel aut an secar a t er padu dengan

mengopt imal kan pemanf aat an sumber kekayaan l aut secara berkel anj ut an, dan (5)

Mengurangi dampak bencana pesisir dan pencemaran l aut .

Guna mencapai prof il kel aut an nasional sepert i harapan diat as, dengan mel ihat

pencapaian kinerj a pembangunan saat ini, maka dapat disimpulkan bahwa masih banyak

pekerj aan rumah yang harus dibenahi agar kel aut an nasional dapat berperan l ebih

besar dan signif ikan l agi, guna mempercepat t erwuj udnya bangsa Indonesia yang maj u,

mandi r i , adi l dan makmur. At as dasar pot ensi sumber daya kel aut an yang di mi l i ki ,

sesungguhnya peran dan kont ribusi kel aut an Indonesia t erhadap pert umbuhan ekonomi

nasional dapat dinyat akan masih belum memadai. Hal ini t erj adi, diant aranya disebabkan

kar ena masi h kur angnya dukungan pol i t i k yang kuat , bai k dar i l embaga eksekut i f

(Pemerint ah) dan l egisl at if (Dewan Perwakil an Rakyat ). Sel ain it u, dal am mel aksanakan

pembangunan kelaut an nasional masih t erj adi mismanagement (salah urus), dilaksanakan

secara parsial dan bel um dil akukan secara komprehensif , t erint egrasi, dan sinergis.

Ol eh kar ena i t u, per l u mel ur uskan kembal i pandangan dan car a-car a dal am

membangun kel aut an nasional mel al ui kebij akan dan st rat egi yang t epat , sist emat ik

dan ef ekt if , agar mampu menghant arkan bangsa Indonesia sepert i yang di cit a-cit akan

dal am pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Secar a umum pembangunan

kel aut an nasional yang diharapkan adal ah unt uk mewuj udkan:

a. Pembangunan kel aut an nasional yang berpegang t eguh pada prinsip kepent ingan

nasional, keadilan dan manf aat sebesar-besarnya unt uk bangsa dan rakyat Indonesia.

b. Pemanf aat an sumber daya kel aut an yang seimbang, opt imal , dan berkel anj ut an

sesuai pot ensi yang t ersedia, baik secara spasial maupun t emporal , sert a sesuai

dengan kaidah-kaidah berl aku, baik t ingkat regional maupun int ernasional .

c. Tingkat pendapat an yang l ayak dan kual it as hidup yang baik bagi sumberdaya

manusia kel aut an.

d. Sumberdaya manusia kelaut an yang opt imal, baik secara kuant it as maupun kualit as,

dan bert araf int ernasional .

e. Penyerapan t enaga kerj a nasional yang maksimal Perundangan dan perat uran yang

kuat dibidang kel aut an.

f . Indust ri kel aut an nasional yang ef isien dan berdaya saing.

g. Pembangunan kel aut an yang sesuai dengan t at a ruang dan berbasis kel est arian

(18)

h. Juml ah pr asar ana dan sar ana kel aut an nasi onal mampu mendukung akt i vi t as

ekonomi secara opt imal dan memadai.

i. Kont ribusi yang maksimal dan signif ikan t erhadap produk domest ik brut o (PDB)

Nasional .

j . Koordinasi kerj asama pembangunan kel aut an nasional yang ef ekt if , sinergis dan

har moni s di ant ar a 7 (t uj uh) sekt or nya (per hubungan l aut , i ndust r i mar i t i m,

perikanan, wisat a bahari, energi dan sumberdaya mineral , bangunan kel aut an,

dan j asa kel aut an) dan j uga dengan sekt or l ainnya.

Dengan konsep pembangunan ekonomi kel aut an yang t epat dan pert umbuhan

ekonomi Indonesia di at as 6 persen dal am beberapa t ahun t erakhir, maka proyeksi

McKinsey (2012) yang menyat akan Indonesia berpel uang menj adi negara t erbesar ke-7

di dunia pada t ahun 2030 set el ah Cina, Amerika Serikat , India, Jepang, Brazil dan Rusia

sert a mengambil al ih posisi Jerman dan Inggris, dapat segera t erwuj ud. Opt imisme

t ersebut t ent u perl u didukung visi ekonomi yang j el as dan impl ement asi pembangunan

dengan t ahapan yang benar, t erukur dan berkel anj ut an. Sel ain hal t ersebut harus ada

“gr and st r at egy” yang di adopsi ol eh sel ur uh kom ponen bangsa ser t a m anf aat

pembangunan berupa kesej aht eraan dinikmat i segenap l apisan masyarakat secara adil

(19)

Bab 2

KEBIJAKAN KELAUTAN

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 merupakan nil ai dasar bangsa Indonesia dal am

menj al ankan kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara. Pasal 25 UUD 1945

mel andasi pemikiran dal am pembangunan bidang kel aut an, karena disana dinyat akan

secara eksplisit bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan. Demikian pula dengan pasal

33 yang secara impl isit mengamanat kan bahwa sumber daya al am (t ermasuk sumber

daya l aut ) harus dapat dimanf aat kan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat . Ol eh

karena it u, pembangunan bidang kel aut an harus menj amin bahwa rakyat l ah yang akan

menikmat i hasil nya baik secara l angsung maupun t idak l angsung. Perumusan kebij akan

kel aut an Indonesi a dal am pembangunan bi dang kel aut an har us menggambar kan

keberpihakan kepada masyarakat l uas.

Pada awal kemerdekaan, Indonesia masih menggunakan beberapa perat uran hukum

yang dit inggal kan Pemerint ahan Hindia Bel anda, t ermasuk l andasan hukum bidang

kel aut an, yakni “Ter r i t or i al e Zee en Mar i t i me Kr i ngen Or donnant i e 1939” (TZMKO). Namun, penggunaan ordonansi ini menyebabkan wil ayah Indonesia menj adi t idak ut uh,

karena perairan diant ara kel ima pul au besar Indonesia t erdapat perairan bebas (hi gh seas). Keadaan ini dinil ai dapat mengancam keut uhan NKRI. At as dorongan semangat t inggi dan kebul at an t ekad yang l uar biasa di masa kepemimpinan Presiden Soekarno,

dengan berani dan secara sepihak mengel uarkan suat u dekl arasi keut uhan wil ayah

Indonesia pada t anggal 13 Desember 1957, yang dikenal dengan Deklarasi Dj oeanda.

Pada dasarnya konsep dekl arasi ini memandang bahwa kepul auan Indonesia merupakan

wilayah pulau-pulau, wilayah perairan, dan dasar laut di dalamnya sebagai suat u kesat uan

hist oris, geograf is, ekonomis, dan pol it is. Dengan adanya konsep ini, maka wil ayah

perairan nusant ara yang t adinya merupakan wil ayah l aut l epas kini menj adi bagian

int egral dari wil ayah Indonesia yang berada di bawah kedaul at an NKRI.

Dekl arasi Dj oeanda merupakan sal ah sat u dari t iga pil ar ut ama bangunan kesat uan

dan persat uan negara dan bangsa Indonesia, yait u: Kesat uan Kej iwaan yang dinyat akan

dal am Sumpah Pemuda 28 Okt ober 1928; Kesat uan Kenegar aan dal am NKRI yang

diproklamirkan oleh Soekarno-Hat t a t anggal 17 Agust us 1945; dan Kesat uan Kewilayahan

(20)

Sel anj ut nya, Dekl arasi ini diperkuat secara yuridis mel al ui Undang-Undang No. 4.

Prp. Tahun 1960 t ent ang Perairan Indonesia. Dal am UU ini, pokok-pokok dasar dan

pert imbangan-pert imbangan mengenai pengat uran wil ayah perairan Indonesia pada

haki kat nya t et ap sama dengan Dekl ar asi Dj oeanda, w al aupun segi ekonomi dan

pengamanan sumberdaya al am l ebih dit onj ol kan. Kemudian, dal am perkembangan

sej arah sel anj ut nya, t el ah memungkinkan Indonesia menyempurnakan l uas wil ayahnya

melalui Undang-undang No. 5 t ahun 1983 t ent ang Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) t ermasuk

didal amnya int egrasi Timor Timur, yang disempurnakan l agi dengan Undang-undang

No. 6 t ahun 1996 t ent ang Perairan Indonesia, dan Undang-undang No 61 t ahun 1998

t ent ang penut upan Kant ung Nat una dan kel uarnya Timor Timur.

Pada t ahun 1982, 119 negara di dunia, t ermasuk Indonesia, t el ah menandat angani

Konvensi PBB t ent ang Hukum Laut 1982 at au Uni t ed Nat i on Convent i on on t he Law of t he Sea (UNCLOS 1982). Konvensi t ersebut di dal amnya memuat 9 buah pasal mengenai perihal ket ent uan t ent ang prinsip “ Negara Kepul auan” . Sal ah sat u pasal dal am prinsip Negar a Kepul auan t er sebut menyat akan bahwa l aut bukan sebagai al at pemi sah,

mel ainkan sebagai al at yang menyat ukan pul au-pul au yang sat u dengan l ainnya, yang

kemudian diimpl ement asikan ol eh Indonesia dengan ist il ah Wawasan Nusant ara.

Pengakuan dunia int ernasional ini, pada masa pemerint ahan Presiden Soehart o,

dit indakl anj ut i dengan dit erbit kannya Undang-undang Nomor 17 t ahun 1985 t ent ang

Pengesahan Konvensi Perserikat an Bangsa-Bangsa t ent ang HUKUM LAUT 1982. Rat if ikasi ini merupakan t indaklanj ut dari gagasan negara kepulauan yang pada 25 t ahun

l al u dicet uskannya Dekl arasi Dj oeanda pada t anggal 13 Desember 1957. Sej ak it u,

Indonesia mempunyai kewaj iban dan t anggung j awab unt uk mel aksanakan Konvensi

Hukum Laut PBB t ahun 1982, dan UU No. 17 t ahun 1985 ini, sel anj ut nya harus dij adikan

pedoman dal am penyusunan rencana pembangunan nasional , ut amanya pembangunan

di bidang kel aut an. Pekerj aan rumah dal am menyusun undang-undang t ent ang Kel aut an

yang mengat ur secar a kompr ehensi f dan i nt egr at i f t er l upakan unt uk di sel esai kan.

Konsekuensinya, maka lahirlah beberapa undang-undang bidang kelaut an secara sekt oral

di masing-masing kement erian dan lembaga, diant aranya sepert i t ert era pada Tabel 2. 1.

Pada REPELITA ke 5 (1993 – 1998) konsep pembangunan kel aut an, akhirnya masuk

ke dal am Garis-garis Besar Hal uan Negara (GBHN). Namun, karena makin seriusnya

kasus-kasus di wilayah perbat asan laut Indonesia dan sekaligus guna mengimplement asikan

konsep pembangunan kel aut an yang t er t uang di GBHN, maka Pr esi den Soehar t o

(21)

Bahari Dengan Melalui Pembangunan Kelaut an Indonesia” . Sel anj ut nya, dit eruskan dengan pembent ukan Dewan Kelaut an Nasional (DKN) mel al ui Keppres No. 77 Tahun

1996, yang memil iki t ugas dan f ungsi:

a) Memberikan pert imbangan, pendapat maupun saran kepada Presiden mengenai

perat uran, pengel ol aan, pemanf aat an, pel est arian, perl indungan dan keamanan

kawasan l aut , sert a penent uan bat as wil ayah Indonesia.

b) Mel akukan koordinasi dengan depart emen dan badan yang t erkait , dal am rangka

ket erpaduan perumusan dan penet apan kebij akan mengenai masal ah l aut .

Tabel 2. 1.

Daft ar Beberapa Undang-Undang yang t erkait dengan Bidang Kelaut an

1. UU No. 1 Tahun 1973 t ent ang Landas Kont inen Indonesia

2. UU No. 5 Tahun 1983 t ent ang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

3. UU No. 5 Tahun 1984 t ent ang Perindust rian

4. UU No. 5 Tahun 1990 t ent ang Konservasi Sumber Daya Alam Hayat i dan

Ekosist emnya

5. UU No. 6 Tahun 1996 t ent ang Perairan

6. UU No. 2 Tahun 2002 t ent ang Kepolisian Negara Republik Indonesia

7. UU No. 3 Tahun 2002 t ent ang Pert ahanan Negara

8. UU No. 18 Tahun 2002 t ent ang Sist em Nasional Penelit ian, Pengembangan,

dan Penerapan Ilmu dan Teknologi

9. UU No. 20 Tahun 2003 t ent ang Sist em Pendidikan Nasional

10. UU No. 25 Tahun 2004 t ent ang Sist em Pembangunan Nasional

11. UU No. 32 Tahun 2004 t ent ang Pemerint ahan Daerah

12. UU No. 34 Tahun 2004 t ent ang Tent ara Nasional Indonesia

16. UU No. 16 Tahun 2006 t ent ang Sist em Penyuluhan Pert anian, Perikanan dan

Kehut anan

17. UU No. 26 Tahun 2007 t ent ang Penat aan Ruang

18. UU No. 27 Tahun 2007 t ent ang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau

(22)

Paradigma nasional sel anj ut nya adal ah Deklarasi Bunaken yang dicet uskan t anggal

26 Sept ember 1998 pada masa pemerint ahan Presiden Prof . Dr. B. J. Habibie. Dekl arasi

ini pada dasarnya secara t egas menyat akan dua hal pokok yait u kesadaran bangsa

Indonesia akan geograf ik wil ayahnya dan kemauan yang besar dari bangsa Indonesia

unt uk membangun kel aut an. Kesadaran geograf ik adal ah kesadaran bangsa Indonesia

unt uk memahami dan menyadari akan kondisi obyekt if wadah kepul auan Indonesia yang

2/ 3 (dua per t iga) bagian wilayahnya adalah merupakan laut . Kesadaran bangsa Indonesia

akan geograf ik wil ayahnya menj adi sangat pent ing bagi keberhasil an bangsa dal am

melaksanakan pembangunan kelaut an yang mempunyai art i st rat egis dalam mengembalikan

kondisi ekonomi nasional yang sedang menyel esaikan berbagai krisis ini.

Int i dari Dekl arasi Bunaken adal ah l aut merupakan pel uang, t ant angan dan harapan

unt uk masa depan persat uan, kesat uan dan pembangunan bangsa Indonesia. Dekl arasi

Bunaken merupakan pernyat aan pol it is st rat egis pemerint ah at au sebagai komit men

bangsa yang memberikan pel uang sel uas-l uasnya dal am penyel enggaraan pembangunan

bidang kel aut an. Mel al ui Dekl arasi Bunaken, pemerint ah j uga akan mengorient asikan

Pembangunan Nasional ke l aut dengan memberikan perhat ian dan dukungan opt imal

t erhadap pembangunan kel aut an.

19. UU No. 17 Tahun 2008 t ent ang Pelayaran

20. UU No. 43 Tahun 2008 t ent ang Wilayah Negara

21. UU No. 4 Tahun 2009 t ent ang Pert ambangan Mineral dan Bat u Bara

22. UU No. 10 Tahun 2009 t ent ang Kepariwisat aan

23. UU No. 21 Tahun 2009 tentang Pengesahan Agreement f or t he Implement at ion

of t he Provisions of t he Unit ed Nat ions Convent ion on t he Law of t he Sea of

10 December 1982 Rela t i ng t o t he Conser va t i on a nd Ma na gement of

St r a ddli ng Fi sh St ocks a nd Hi ghly Mi gr a t or y Fi sh St ocks (Per set uj uan

Pelaksanaan Ket ent uan-Ket ent uan Konvensi Perserikat an Bangsa-Bangsa t ent ang

Hukum Laut t anggal 10 Desember 1982 yang berkait an dengan Konservasi dan

Pengel ol aan Sediaan Ikan yang Beruaya Terbat as dan Sediaan Ikan yang Beruaya

Jauh)

24. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

25. UU No. 45 Tahun 2009 t ent ang Perubahan Ket iga UU No. 9 Tahun 1985 (UU No.

(23)

Dekl ar asi Bunaken dapat j uga di kat akan sebagai kunci pembuka babak bar u

pembangunan nasional yang berorient asi ke l aut karena mengandung komit men bahwa:

Per t ama, Visi pembangunan dan persat uan nasional Indonesia harus j uga berorient asi

ke laut dan kedua, semua j aj aran pemerint ah dan masyarakat hendaknya j uga memberikan

perhat ian unt uk pengembangan, pemanfaat an dan pemeliharaan pot ensi kelaut an Indonesia.

Pada masa pemerint ahan Presiden Abdurrahman Wahid, t umbuh kesadaran bahwa

pot ensi dan kekayaan yang ada di l aut merupakan sumber ekonomi ut ama negara. Laut

adal ah kehidupan masa depan bangsa. At as pemikiran ini, maka Presiden Abdurrahman

Wahi d membent uk kement er i an bar u yakni Depar t emen Ekspl or asi Laut dengan

Keput usan Presiden No. 355/ M Tahun 1999 t anggal 26 Okt ober 1999. Dalam perj alanannya,

namanya berubah-ubah dan akhirnya saat ini menj adi Kement erian Kelaut an dan Perikanan

berdasarkan Perat uran Presiden No. 47 t ahun 2009. Pada masa pemerint ahan Presiden

Abdurrahman Wahid j uga dibent uk Dewan Maritim Indonesia (DMI) yang bert ugas unt uk

mengkoordinasikan dan mensinergikan program pembangunan kel aut an di Indonesia.

Sel anj ut nya pada t ahun 2001, t epat nya t anggal 27 Desember 2001, bert empat di

Pelabuhan Rakyat Sunda Kelapa Jakart a, Presiden RI Megawat i Sukarnoput ri t elah

mencanang-kan “ Seruan Sunda Kelapa” . Seruan t ersebut mengaj ak sel uruh bangsa Indonesia unt uk

bersama-sama membangun kekuat an marit im/ kel aut an, dengan berl andaskan pada

kesadaran penuh bahwa bangsa Indonesia hidup di negara kepul auan t erbesar di dunia,

dengan al am l aut yang kaya akan berbagai sumberdaya al am. Pada Seruan Sunda Kel apa

menyat akan mel iput i 5 pil ar program pembangunan kel aut an, yait u:

1. Membangun kembal i wawasan bahari,

2. Menegakkan kedaul at an secara nyat a di l aut ,

3. Mengembangkan indust ri dan j asa marit im secara opt imal dan l est ari bagi

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ,

4. Mengel ol a kawasan pesisir, l aut dan pul au kecil , dan

5. Mengembangkan hukum nasional di bidang marit im.

Dengan l ahirnya Seruan Sunda Kel apa diharapkan menimbul kan kesadaran dan

mengarahkan kembal i bangsa Indonesia ke wawasan bahari. Dengan demikian, Seruan

Sunda Kel apa merupakan paradigma nasional unt uk membangkit kan ekonomi kel aut an

nasional unt uk memberi kont ribusi nyat a bagi pert umbuhan perekonomian nasional ,

membangkit kan kembal i kekuat an armada niaga nasional , mempercepat penggapaian

(24)

Dan kebij akan nasional sel anj ut nya yang t erkait dengan bidang kel aut an, yakni

pada masa pemerint ahan Presiden Dr. H. Susil o Bambang Yudhoyono, adal ah menggant i

nomenklat ur Dewan Marit im Indonesia (DMI) menj adi Dewan Kelaut an Indonesia (DEKIN)

mel al ui Keput usan Presiden (Keppres) No. 21 Tahun 2007, dit et apkan Undang-undang

No. 17 Tahun 2007 t ent ang Rencana Pembangunan Jangka Panj ang (RPJP) Nasional Tahun

2005–2025 yang memuat pembangunan bidang kelaut an, dan menyelenggarakan Konf erensi

Kel aut an Dunia at au Wor l d Ocean Conf er ence (WOC) di Manado pada bul an Mei 2009.

Dal am Undang-undang No. 17 Tahun 2007 disebut kan bahwa berdasarkan kondisi

bangsa Indonesia, t ant angan yang akan dihadapi dal am 20 t ahunan mendat ang dengan

memper hi t ungkan modal dasar yang di mi l i ki ol eh bangsa Indonesi a, dan amanat

pembangunan yang t ercant um dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945, visi pembangunan nasional t ahun 2005–2025 adal ah:

INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR

Kemudian, unt uk mewuj udkan visi pembangunan nasional t ersebut dit empuh melalui

8 (del apan) misi pembangunan nasional sebagai berikut :

1) Mewuj udkan masyarakat berakhl ak mul ia, bermoral , beret ika, berbudaya, dan

beradab berdasarkan f al saf ah Pancasil a.

2) Mewuj udkan bangsa yang berdaya-saing.

3) Mewuj udkan masyarakat demokrat is berl andaskan hukum.

4) Mewuj udkan Indonesia aman, damai, dan bersat u.

5) Mewuj udkan pemerat aan pembangunan dan berkeadil an.

6) Mewuj udkan Indonesia asri dan l est ari.

7 ) Mewuj udkan Indonesia menj adi negara kepulauan yang mandiri, maj u, kuat ,

dan berbasiskan kepent ingan nasional.

8) Mewuj udkan Indonesia berperan pent ing dal am pergaul an dunia int ernasional .

Dari 8 misi yang diemban t ersebut , t erdapat sat u misi yang t erkait l angsung dengan

pembangunan kel aut an nasi onal , yakni : “ Mewuj udkan Indonesia menj adi negara

kepulauan yang mandiri, maj u, kuat , dan berbasiskan kepent ingan nasional” . Pencapaian sasaran pokok misi ini dit andai ol eh hal -hal berikut :

1) Terbangunnya j aringan sarana dan prasarana sebagai perekat semua pul au dan

kepul auan Indonesia.

2) Meningkat dan menguat nya sumber daya manusia di bidang kelaut an yang didukung

(25)

3) Menet apkan wil ayah Negara Kesat uan Republ ik Indonesia, aset -aset , dan hal -hal

yang t erkait dal am kerangka pert ahanan negara.

4) Membangun ekonomi kelaut an secara t erpadu dengan mengopt imalkan pemanf aat an

sumber kekayaan l aut secara berkel anj ut an.

5) Mengurangi dampak bencana pesisir dan pencemaran l aut .

Kemudian, pil ar st rat egi pembangunan nasional yang digunakan unt uk mencapai

visi dan misi sebagaimana diamanat kan dalam Undang-undang No. 17 Tahun 2007 adalah

pembangunan yang berkel anj ut an dengan semangat yang pr poor, pr gr owt h, pr o-j ob dan pr o-envi r onment (Gambar 2. 1).

Gambar 2. 1 Pilar St rat egi Pembangunan Nasional

Dengan demi ki an, pembangunan nasional bidang kel aut an pada masa yang akan

dat ang j uga diarahkan pada pol a pembangunan berkel anj ut an berdasarkan pengel ol aan

sumber daya kel aut an ber basi s ekosi st em, yang mel i put i aspek-aspek sumber daya

manusia dan kelembagaan, polit ik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial budaya, pert ahanan

keamanan, dan t eknologi. RPJP Nasional 2005 - 2025 j uga memberikan arah pembangunan

kel aut an nasi onal sel ama kur un w akt u 20 t ahun mendat ang, yakni sebagai ber i kut :

1 ) Membangkit kan wawasan dan budaya bahari, ant ara l ain, mel al ui (a) pendidikan

dan penyadaran masyarakat t ent ang kelaut an yang dapat diwuj udkan melalui semua

(26)

wawasan bahari sert a merevit al isasi hukum adat dan kearif an l okal di bidang

kel aut an; dan (c) mel indungi dan mensosial isasikan peninggal an budaya bawah air

mel al ui usaha preservasi, rest orasi, dan konservasi.

2 ) Meningkatkan dan menguatkan peranan sumber daya manusia di bidang kelautan

yang diwuj udkan, ant ara lain, dengan (a) mendorong j asa pendidikan dan pelat ihan

yang berkualit as di bidang kelaut an unt uk bidang-bidang keunggulan yang diimbangi

dengan ket ersediaan l apangan kerj a dan (b) mengembangkan st andar kompet ensi

sumber daya manusia di bidang kelaut an. Selain it u, perlu j uga dilakukan peningkat an

dan penguat an peranan il mu penget ahuan dan t eknol ogi, riset , dan pengembangan

sist em inf ormasi kel aut an.

3 ) Menet apkan wilayah Negara Kesat uan Republik Indonesia, aset -aset , dan

hal-hal t erkait di dalamnya, t ermasuk kewaj iban-kewaj iban yang t el ah digariskan

ol eh hukum l aut Uni t ed Nat i on Convent i on on t he Law Of Sea (UNCLOS) 1982.

Indonesi a t el ah mer at i f i kasi UNCLOS pada t ahun 1986 sehi ngga mempunyai

kewaj iban, ant ara l ain, (a) menyel esaikan hak dan kewaj iban dal am mengel ol a

sumber daya kel aut an berdasarkan ket ent uan UNCLOS 1982; (b) menyel esaikan

penat aan bat as marit im (perairan pedal aman, l aut t erit orial , zona t ambahan, zona

ekonomi ekskl usif , dan l andas kont inen); (c) menyel esaikan bat as l andas kont inen

di l uar 200 mil l aut ; (d) menyampaikan l aporan dat a nama geograf is sumber daya

kel aut an kepada Perserikat an Bangsa-Bangsa. Di sisi l ain, Indonesia j uga perl u

pengembangan dan penerapan t at a kel ol a dan kel embagaan nasional di bidang

kel aut an, yang mel iput i (a) pembangunan sist em hukum dan t at a pemerint ahan

yang mendukung ke arah t erwuj udnya Indonesia sebagai Negara Kepul auan sert a

(b) pengembangan sist em koordinasi, perencanaan, monit oring, dan eval uasi.

4 ) Melakukan upaya pengamanan wilayah kedaulat an yurisdiksi dan aset Negara

Kesat uan Republik Indonesia, yang mel iput i (a) peningkat an kinerj a pert ahanan

dan keamanan secara t erpadu di wil ayah perbat asan; (b) pengembangan sist em

moni t or i ng, cont r ol , and sur vei l l ance (MCS) sebagai inst rumen pengamanan sumber

daya, lingkungan, dan wilayah kelaut an; (c) pengopt imalan pelaksanaan pengamanan

wilayah perbat asan dan pulau-pulau kecil t erdepan; dan (d) peningkat an koordinasi

keamanan dan penanganan pel anggaran di l aut .

5 ) Mengembangkan indust ri kelaut an secara sinergi, opt imal, dan berkelanj ut an

yang mel iput i (a) perhubungan l aut ; (b) indust ri marit im; (c) perikanan; (d) wisat a

(27)

6 ) Mengurangi dampak bencana pesisir dan pencemaran laut dil akukan mel al ui (a)

pengembangan sist em mit igasi bencana; (b) pengembangan ear l y war ni ng syst em;

(c) pengembangan perencanaan nasional t anggap darurat t umpahan minyak di laut ;

(d) pengembangan sist em pengendal ian hama l aut , int roduksi spesies asing, dan

organisme l aut yang menempel pada dinding kapal ; sert a (e) pengendal ian dampak

sisa-sisa bangunan dan akt ivit as di l aut .

7 ) Meningkatkan kesej ahteraan keluarga miskin di kawasan pesisir dilakukan dengan

mengembangkan kegiat an ekonomi produkt if skal a kecil yang mampu memberikan

l apangan kerj a l ebih l uas kepada kel uarga miskin

Sel anj ut nya, kegiat an Wor l d Ocean Conf er ence (WOC) di Manado pada t anggal 11– 15 Mei 2009 dengan t ema “ Dampak Perubahan Ikl im Terhadap Laut dan Dampak Laut

t erhadap Perubahan Ikl im” merupakan inisiat if Indonesia dal am f orum int ernasional

yang dit uj ukan bagi para pemimpin dunia dan pengambil keput usan unt uk mengembangkan

kolaborasi int ernasional dan membuat komit men bersama dalam menghadapi isu kelaut an

duni a dan sekal i gus masal ah per ubahan i kl i m gl obal . Penyel enggar aan WOC 2009

didukung ol eh 123 negara yang t ergabung dal am The Ei ght eent h Meet i ng of St at es Part ies t o t he Unit ed Nat ions Convent ion on t he Law of t he Sea dan dalam pelaksanaannya dihadiri ol eh 423 del egasi yang berasal dari 87 negara dan organisasi-organisasi ant ar

negara.

Agenda ut ama dalam WOC 2009 adalah (1) Pert emuan ant ar pemerint ah at au Seni or Of f i ci al s Meet i ng yang dimaksudkan unt uk mengerucut kan perumusan Manado Ocean Decl ar at i on yang bert uj uan unt uk meningkat kan kesadaran negara part isipan WOC 2009 t erhadap peran pent ing l aut dal am perubahan ikl im, dan (2) Kesepakat an Cor al Tr i angl e Ini t i at i ve at au CTI dal am bent uk CTI Regi onal Pl an of Act i on ol eh 6 negara, yakni Indonesia, Mal aysia, Papua Nugini, Fil ipina, Kepul auan Sol omon dan Timor Lest e, unt uk

meningkat kan perlindungan t erhadap sumber daya laut dan pant ai yang berada di wilayah

cor al t r i angl e dal am wil ayah l aut 6 negara t ersebut .

Dekl arasi Kel aut an Manado (Manado Ocean Decl ar at i on) yang menj adi menj adi sal ah sat u out put ut ama dari WOC 2009 ini merupakan t onggak sej arah dan dokumen

pent ing unt uk menyel amat kan pl anet bumi dan kel angsungan hidup generasi penerus

di masa akan dat ang, sehingga dokumen t ersebut akan diperj uangkan ol eh wakil t et ap

pemerint ah Indonesia di PBB unt uk dimasukan dal am agenda resmi dan dibahas dal am

(28)

negara, j uga merupakan hal pent ing dal am menyel amat kan keanekaragaman sumber

daya hayat i laut dunia, ut amanya ikan dan t erumbu karang. Dengan demikian, WOC 2009

dapat dinyat akan sebagai komit men Bangsa Indonesia dal am upaya mengembangkan,

mengel ol a, dan mel est ar i kan sumber daya l aut nasi onal dan i nt er nasi onal secar a

berkel anj ut an.

Terakhir, l andasan kebij akan t erkini yang t erkait dengan kebij akan kel aut an adal ah

Pidat o Presiden RI, Bapak Dr. H. Bambang Susil o Yudhoyono dal am f orum KTT Rio+20 di

Brasil akhir Juni 2012, yang int inya t idak hanya mengaj ak dunia unt uk bersama-sama

mel aksanakan Gr een Economy, t et api j uga mengkampanyekan Bl ue Economy, di mana l aut menj adi bagian int egral unt uk t uj uan pembangunan berkel anj ut an (Sust ai nabl e Devel opment Goal s). Dal am f orum ini, secara t egas Presiden RI menyat akan bahwa Bl ue Economy merupakan gr and desi gn pembangunan nasional masa depan, khususnya Indonesia sebagai sal ah sat u negara kepul auan t erbesar di dunia. Sumberdaya kel aut an

dan pembangunan berbasis kel aut an perl u diopt imal kan dengan baik dan disinergikan

(29)

Bab 3

EKONOMI KELAUTAN

3. 1 Ekonomi Kelaut an Sebagai Arus Ut ama Pembangunan Nasional

Pel aksanaan pembangunan nasi onal sampai t ahun 2025, t er masuk di dal amnya

pembangunan bidang kel aut an, harus berl andaskan pada Undang-undang No. 17 Tahun

2007 t ent ang Rencana Pembangunan Jangka Panj ang Nasional Tahun 2005–2025. Dal am

UU t ersebut j uga dit et apkan Visi pembangunan nasional yang ingin dicapai Indonesia

pada 2025, yakni: Indonesia yang mandiri, maj u, adil dan makmur. Kemudian, guna

mewuj udkan visi pembangunan nasional t ersebut , dit empuh mel al ui 8 (del apan) misi,

dan sat u diant ar anya mer upakan misi yang t er kait l angsung dengan pembangunan

kel aut an nasional , yakni: “ Mewuj udkan Indonesia menj adi Negara Kepulauan yang

Mandiri, Maj u, Kuat, dan Berbasiskan Kepentingan Nasional” . Dengan memperhat ikan cakupan misi t ersebut , Pembangunan Kel aut an Nasional sel anj ut nya diarahkan pada 5

pil ar kebij akan ut ama, yait u: budaya bahari (ocean cul t ur e), t at a kel ol a di l aut (ocean gover nance), ekonomi kel aut an (ocean economi c), keamanan dan kesel amat an di l aut (mar i t i me secur i t y), dan l ingkungan l aut (mar i ne envi r onment ). Secara diagramat ik ket erkait an sist em pembangunan kel aut an nasional ini disaj ikan pada Gambar 3. 1

(30)

Wal aupun Indonesia memil iki pot ensi kekayaan l aut dan pesisir yang besar, namun

sayangnya hingga saat ini bel um menj adi basis ekonomi bagi pembangunan nasional .

Hal ini dapat diindikasikan dari masih bel um opt imal nya kont ribusi yang diberikan ol eh

bidang kelaut an t erhadap Produk Domest ik Brut o (PDB) nasional. Sebagai perbandingan,

ekonomi kelaut an Jepang mampu menyumbang hingga 48, 4 persen bagi PDB nasionalnya

(set ar a 17. 552 mi l i ar dol ar AS), sedangkan Thai l and, bi dang kel aut annya sanggup

menyumbang devisa 212 mil iar dol ar AS per t ahun, dengan panj ang pant ai yang hanya

2. 800 km. Indonesia yang luas wilayah laut nya hampir 70% dari t ot al seluruh wilayahnya,

hingga kini kont ribusi bidang kel aut an t erhadap PDB nasional nya masih dibawah 30%.

Berdasarkan Gambar 3. 2, j ika dil ihat kont ribusi bidang kel aut an di negara-negara

Eropa, kont ribusi bidang kel aut an mereka sudah cukup besar. Kont ribusi PDB Norwegia

bahkan dit opang hampir 60 persen dari bidang ekonomi yang berbasis sumberdaya

kel aut an. Proporsi ini bisa dikat akan besar, j ika dil ihat l uas pant ai dan kekayaan l aut

mereka memang rel at if j auh l ebih kecil j ika dibandingkan Indonesia.

Gambar 3. 2. Perbandingan Kont ribusi Bidang Kelaut an Beberapa Negara Eropa

Dua negara ASEAN yait u Thail and dan Viet nam j uga memil iki proporsi ekonomi

kel aut an yang besar j auh diat as negara kit a. Negara Viet nam bahkan memil iki nil ai

(31)

Perbandingan kont ribusi bidang kel aut an beberapa Negara dapat dil ihat pada Tabel

Sement ara kont ribusi bidang kel aut an di Indonesia t erhadap PDB nasional pada

t ahun 2001 adalah sebesar 20, 15%, unt uk t ahun 2002 sebesar 20, 71%, t ahun 2003 sebesar

20, 77%, t ahun 2004 sebesar 20, 83% dan pada t ahun 2005 meningkat menj adi 22, 42%.

Wal aupun t erl ihat kecenderungan kont ribusi yang t erus meningkat dari t ahun ke t ahun,

namun bil a mel ihat perkembangan bidang kel aut an di negara-negara l ain, ut amanya

negar a-negar a t et angga, Indonesi a masi h r el at i f j auh t er t i nggal . Pada Tabel 3. 2,

menunj ukkan peni ngkat an per sent ase kont r i busi bi dang kel aut an t er sebut beser t a

(32)

Tabel 3. 2

Dist ribusi Persent ase Produk Domest ik Brut o Bidang Kelaut an periode t ahun 2001 - 2005

1. Perhubungan Laut 0, 74 1, 39 1, 67 1, 49 1, 48

2. Indust ri Marit im

- Pengil angan Minyak Bumi 2, 09 2 2, 01 2, 05 2. 10

- LNG 1, 2 1, 11 1, 13 1, 12 1, 14

- Indust ri marit im l ainnya 0, 51 0, 7 0, 71 0, 51 0, 53

3. Perikanan 2, 43 2, 56 2, 59 2, 66 2, 79

4. Wisat a Bahari 1, 47 1, 56 1, 52 1, 51 1, 52

5. Energi dan Sumberdaya Mineral 9, 29 9, 32 9, 36 9, 38 9, 13

6. Bangunan Kel aut an 0, 96 0, 96 0, 5 0, 77 1, 01

7. Jasa Kel aut an 1, 46 1, 2 1, 28 1, 34 1, 32

Jumlah PDB Sekt or Kelaut an 20, 15 20, 71 20, 77 20, 83 22. 42

Jumlah PDB Nasional (%) 100 100 100 100 100 No. Bidang Kelaut an Persent ase ( %) Produk Domest ik Brut o

2001 2002 2003 2004 2005

Sumber : dat a BPS di ol ah.

Dari t uj uh bidang at au l apangan usaha yang t erdapat dal am bidang kel aut an, pada

t ahun 2005 sekt or energi dan sumber daya mineral mempunyai PDB yang pal ing besar

di bandingkan dengan sekt or l ainnya dengan kont ribusi sebesar 9, 13% dari t ot al PDB

nasional. Peningkat an yang besar j uga t erj adi pada sekt or indust ri marit im dan perikanan,

yai t u sebesar 3, 77% dan 2, 79%. Penur unan yang pal i ng besar t er j adi pada sekt or

pert ambangan. Hal ini disebabkan berkurangnya kegiat an eksploit asi bahkan t idak adanya

usaha ekspl orasi sel ama beberapa t ahun t erakhir.

Ef isiensi invest asi ekonomi kelaut an nasional dapat dit inj au dari Incr ement al Capit al

Out put Rat i o (ICOR) yang merupakan indikat or unt uk mengukur sej auh mana ef isiensi

dari suat u invest asi. Makin rendah angka ICOR, maka invest asi yang dil akukan semakin

ef isien. ICOR dihit ung sebagai rasio invest asi t erhadap PDB yang dibagi ol eh t ingkat

(33)

ICOR merupakan sal ah sat u met oda unt uk menghubungkan pert umbuhan f akt or

produksi dengan pert umbuhan ekonomi. ICOR j uga menghubungkan besarnya pembent ukan

modal t et ap domest ik brut o dengan pert ambahan PDB, yang dapat digunakan unt uk

menunj ukkan ef isiensi suat u perekonomian dal am menggunakan barang modal . ICOR

dapat j uga menunj ukkan pola kecenderungan penggunaan met oda produksi (padat karya

at au padat modal ) dal am suat u perekonomian. Dal am perencanaan makro, ICOR dapat

digunakan unt uk menaksir besarnya kebut uhan modal yang diperlukan unt uk menghasilkan

t ingkat pert umbuhan ekonomi t ert ent u.

Berdasarkan perhit ungan t abel Input -Out put 2005, unt uk kat egori 175 bidang maka

Nil ai Koef isien ICOR dari kegiat an yang masuk dal am bidang kel aut an dapat dil ihat

dal am Tabel 3. 3, besert a perbandingan perhit ungan Nil ai ICOR berdasar Tabel I-O Tahun

1995 dan 2000.

Tabel 3. 3

Nilai Koefisien ICOR Bidang Kelaut an, berdasar Tabel I-O

1. Perhubungan l aut 3, 81 3, 67 3, 65

2. Indust ri Marit im 3, 56 3, 39 3, 39

3. Perikanan 3, 42 3, 31 3, 30

4. Energi dan Sumberdaya Mineral 3, 64 3, 71 3, 82

5. Wisat a Bahari 3, 10 2, 92 3, 01

pada sekt or wisat a bahari dengan nil ai indeks ICOR sebesar 3, 01. Hal ini menunj ukkan

bahwa sekt or wisat a bahari merupakan bidang yang paling ef isien dan mempunyai resiko

pal ing kecil unt uk penanaman invest asi j ika dibandingkan dengan bidang l ain. Dil ihat

dari kont ribusi t erhadap PDB Nasional maka sekt or wisat a bahari memberikan kont ribusi

yang cenderung mengal ami peningkat an cukup signif ikan. Hingga pada t ahun 2005

(34)

Namun demi ki an, t i dak ber ar t i sekt or per t ambangan mi nyak dan gas yang

mempunyai nil ai Indeks ICOR l ebih besar (3, 82) mempunyai t ingkat risiko yang l ebih

besar dal am hal penanaman invest asi. Hal ini mengingat bidang ini mempunyai t ahapan

eksplorasi yang membut uhkan dana yang sangat besar. Sehingga kegiat an yang berkait an

dengan pengembangan bidang pert ambangan minyak dan gas akan mempunyai implikasi

t erhadap kegiat an l ain yang rel at if mempunyai signif ikansi l ebih t inggi. Bil a dil ihat dari

j uml ah produksi minyak dan gas (migas) hingga akhir t ahun 2004 yang diperkirakan

t idak l ebih dari 900. 000 ribu barrel per hari dan prediksi sert a kaj ian para ahl i yang

berkait an dengan pot ensi migas di wil ayah perairan dan pesisir Indonesia yang cukup

besar, di mana cadangannya diperkirakan mencapai 86, 96 TSCF unt uk gas dan 8. 820, 4

Mi l l i on Met r i c St ock Tank Bar r el s (MMSTB) unt uk minyak bumi dal am kurun wakt u 19

t ahun, dengan asumsi sel ama kurun wakt u t ersebut t idak ada pengembangan t eknol ogi.

Bila mengingat selama ini pot ensi cadangan migas 60-70% t ersebar di wilayah pesisir

dan laut an maka pot ensi invest asi dan pengembangan unt uk sekt or pert ambangan migas

sebagai bagian bidang kel aut an sangat menj anj ikan. Apal agi pengembangan sekt or ini

erat kait annya dengan kebij akan pengembangan energi yang membut uhkan diversif ikasi

energi dan t ransf ormasi dari energi t idak t erbarukan menj adi energi t erbarukan.

Indust ri marit im rel at if mengal ami penurunan ICOR yang cukup signif ikan. Bil a

berdasarkan Tabel I-O Tahun 1995 mempunyai nil ai sebesar 3, 56, maka berdasarkan

Tabel I-O Tahun 2000 dan 2005 menj adi 3, 39. Penurunan ini sangat beralasan, mengingat

pot ensi pengembangan indust ri marit im sangat menj anj ikan. Termasuk dal am sekt or

ini adal ah pengil angan minyak bumi, LNG, sert a indust ri perikanan. Pengembangan

indust ri marit im sangat dipengaruhi oleh komit men para pemangku kepent ingan. Hingga

saat ini ada beberapa indust ri marit im yang bel um berkembang opt imum dan sebagian

menurun, sehingga memerl ukan inovasi dan kebij akan dari pemerint ah.

Sekt or bangunan kel aut an mempunyai nil ai indeks ICOR yang pal ing besar bil a

dibandingkan dengan bidang–bidang l ainnya, yait u 4, 03. Apabil a dibandingkan dengan

kaj ian Bank Dunia (2003) di mana rat aan ICOR Indonesia sebesar 3, 6 maka angka yang

diperoleh dari bidang bangunan kelaut an j auh lebih besar. Hal ini mempunyai art i bahwa

dal am mempriorit askan kebij akan invest asi bidang bangunan kel aut an t idak menj adi

menj adi priorit as ut ama. Namun demikan pengembangan bangunan kel aut an t et ap

menj adi isu pent ing, mengingat sekt or ini erat kait annya dengan inf rast rukt ur kelaut an,

(35)

Sement ara it u unt uk sekt or perikanan yang mempunyai nil ai Indeks ICOR 3, 3 bil a

dibandingkan dengan perhit ungan berdasarkan Tabel Input -Out put Tahun 1995 sebesar

3, 42. Sehingga pengembangan invest asi di bidang perikanan, baik f i nf i sh, shel f i sh,

maupun j enis t umbuhan sepert i rumput l aut , rel at if berpot ensi unt uk didorong. Indeks

ICOR t ersebut j uga mempunyai art i bahwa sekt or ini mempunyai pel uang mendapat kan

priorit as unt uk dikembangkan mengingat bidang ini dal am membangkit kan bidang ini

banyak berkait an dengan masyarakat pesisir dan berpenghasil an menengah ke bawah.

Berdasarkan kaj ian Pusat Kaj ian Sumberdaya Pesisir dan Laut an Inst it ut Pert anian Bogor

(PKSPL-IPB) t ahun 2004, pengembangan perikanan bil a mel ihat nil ai ICOR di at as,

sebenarnya l ebih diarahkan kepada perikanan budidaya, mengingat pot ensi l ahan dan

komodit as di sekt or ini masih besar.

Sekt or perhubungan l aut j uga mempunyai penurunan indeks ICOR dari 3, 87 pada

t ahun 1995 dan 3, 67 t ahun 2000 menj adi 3, 65 pada t ahun 2005. Art inya invest asi di

sekt or ini cukup ef isien. Namun demikian pengembangan sekt or perhubungan l aut ini

erat kait annya dengan pengembangan sekt or bangunan kelaut an. Sehingga memerlukan

sinergi di ant ara keduanya.

Sekt or j asa kel aut an, merupakan pot ensi yang t ersembunyi dal am pengembangan

bidang kel aut an. Indek ICOR sekt or ini menunj ukkan penurunan dari 3, 53 menj adi 3, 34.

Sal ah sat u komponen sekt or ini adal ah pendidikan kel aut an. Kaj ian PKSPL t ahun 2004

menunj ukkan unt uk meningkat kan produksi ikan t angkap sebesar 5 % akan dibut uhkan

800 kapal , di mana t enaga kerj a yang dibut uhkan unt uk sebuah kapal t ipe l ongl i ne

sebanyak 10 orang, sebuah kapal t r awl sebesar 20 orang unt uk wakt u 6 bul an berl ayar

dan unt uk kapal pur se sei ne dibut uhkan 30 orang. Bel um l agi dit ambah kebut uhan

pel aut -pel aut di l uar negeri, di mana ada kecenderungan yang t erus meningkat , karena

anak-anak mudanya enggan bekerj a di l aut . Cont ohnya di Bel anda membut uhkan pel aut

set iap t ahun sebanyak 800 orang.

Adapun t enaga t erampil yang dibut uhkan di bidang kel aut an adal ah orang yang

memenuhi syarat t ert ent u dan prof esional dibidangnya. Apabil a hal ini dikombinasikan

dengan dat a hasil ikan t angkapan perkiraan kebut uhan t enaga kerj a adal ah sebagai

(36)

Budidaya perikanan l aut yang sekarang sedang dikembangkan sal ah sat unya adal ah

ikan kerapu. Adapun j enis ikan kerapu yang dikembangkan adalah kerapu bebek, kerapu

l umpur dan kerapu sunu. Unt uk memenuhi kebut uhan ikan kerapu sebagai sal ah sat u

sumber devisa dan prot ein masyarakat , maka dibut uhkan beberapa t enaga kerj a yang

mempunyai kual if ikasi kompet ensi t ert ent u pul a. Adapun perkiraan t enaga kerj a yang

dibut uhkan t ersaj i pada Tabel 3. 6.

4. 069. 420 t on/ t ahun 203. 471 t on/ t ahun 24. 000 orang

Perkiraan Kebut uhan Tenaga Kerj a Berkait an Produksi Ikan Tangkap dari Perairan

Indonesia (5% Meningkat Membut uhkan 800 Kapal)

Kebut uhan t enaga kerj a pel aut penangkap ikan t ersebut di at as sinergis dengan

kebut uhan t enaga kerj a di bidang t eknik perkapal an khususnya sert a bidang t erkait

l ainnya. Dal am usaha budidaya perikanan l aut sepert i udang dengan met ode budidaya

udang secara int ensif akan diperl ukan t enaga pel aksana yang mempunyai kual if ikasi

kompet ensi t ert ent u pul a.

Tabel 3. 5

Jumlah Tenaga Kerj a yang Terlibat pada Budidaya Udang

Gambar

Gambar 2.1  Pilar Strategi Pembangunan Nasional
Gambar 3.1  Sistem Pembangunan Kelautan Nasional
Gambar 3.2.  Perbandingan Kontribusi Bidang Kelautan Beberapa Negara Eropa
Tabel 3.1
+7

Referensi

Dokumen terkait