DINAMIKA BUDAYA DAN GENDER Tugas Akhir Semester
Peran Perempuan Dalam Beternak Sapi di Desa Pelem Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali
Proposal Penelitian
Oleh: M. Ali Sofyan 14/373152/PSA/07790
JURUSAN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GAJAH MADA
Peran Perempuan Dalam Beternak Sapi Di Desa Pelem Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Proposal Penelitian
Oleh: M. Ali Sofyan
1. Latar Belakang
Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang merupakan sentral produsen sapi. Kabupaten Boyolali terkenal sebagai kota susu dikarenakan banyaknya jumlah peternakan sapi yang menghasilkan beratus-ratus liter susu sapi murni setiap harinya. Masyarakat Boyolali memiliki mata pencaharian yang heterogen, namun mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani dan sekaligus beternak sapi. Masyarakat sehari-hari menghabiskan waktu mereka untuk mengolah tanah dan merawat hewan ternak mereka. Meskipun mayoritas masyarakat Boyolali bermatapencaharian sebagai petani dan peternak sapi, masih ada banyak masyarakat bermata pencaharian yang lainnya, misalnya PNS, pedagang, polisi, ABRI, sampai buruh-buruh di industri. Masyarakat bertani dan beternak sapi karena didukung pula oleh keadaan tanah di Boyolali yang subur, itulah sebabnya banyak terbentang luas area persawahan dan padang rumput.
Desa Pelem merupakan salah satu desa di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali. Desa Pelem memiliki area persawahan yang luas dan subur, masyarakatnya mayoritas
bermatapencaharian sebagai petani dan peternak sapi. Masyarakat ada yang beternak sapi dalam jumlah besar dan ada pula yang beternak sapi dalam jumlah kecil. Peternak sapi dalam jumlah besar biasanya memperkerjakan orang lain untuk mengurus segala keperluan dalam pemeliharaan sapi. Peternak sapi yang memiliki sapi dalam jumlah kecil, memelihara sapinya di rumah, dan yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan sapi tersebut adalah semua anggota keluarga, baik laki-laki maupun perempuan.
Konsep gender adalah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh faktor-faktor sosial maupun budaya, sehingga lahir beberapa anggapan tentang peran sosial dan budaya laki-laki dan perempuan. Bentukan sosial atas laki- laki dan perempuan itu antara lain: kalau perempuan dikenal sebagai makhluk yang lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sifat-sifat diatas dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu. (2008:5).
Konsep gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan karena dikonstruksikan secara sosial dan kultural. Konstruksi tersebut berlangsung terus menerus dan
dilanggengkan dalam berbagai pranata sosial maka seolah-olah sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan tersebut “merupakan suatu yang harus dimiliki oleh keduanya”. Perempuan diidentikkan dengan sifat lemah lembut, cantik, emosional, keibuan, sabar, penurut dan tidak neko-neko, sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, bertanggung jawab dan perkasa. Sifat tersebut merupakan suatu sifat yang dapat dipertukarkan, artinya ada laki-laki yang lemah lembut dan ada pula perempuan yang perkasa. Sifat ini dikonstruksikan berbeda antara satu daerah dengan daerah lain (Astuti, 2011).
Gender dapat dikatakan sebagai jenis kelamin sosial, yang berbeda dengan jenis kelamin biologis. Gender dikatakan sebagai jenis kelamin sosial karena merupakan tuntutan masyarakat yang menjadi budaya dan norma sosial masyarakat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan, seperti yang diungkapkan oleh Fakih (2010:9) menjelaskan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sosialisasi, penguatan, kontruksi sosial, kultur, dan keagamaan, bahkan melalui kekuasaan negara. Oleh karena melalui proses yang begitu panjang itulah, maka lama-kelamaan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan menjadi seolah-olah ketentuan Tuhan atau kodrat yang tidak dapat diubah lagi. Perbedaan gender inilah yang kemudian juga membedakan antara peran laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan terjadi karena adanya anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, sehingga pekerjaan yang dilakukan olehnya hanyalah untuk “membantu” pekerjaan laki-laki.
menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang lain. Peran dapat berarti sebagai perangkat harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. (Soekanto, 2006)
Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan terlihat juga dalam masyarakat Desa Pelem. Laki-laki dewasa atau suami atau bapak bertanggung jawab dalam pembagian peran di dalam keluarga. Laki-laki memiliki peran yang penting dalam beternak sapi, misalnya merumput, memandikan, dan juga termasuk dalam mengambil keputusan dalam penjualan dan
pembelian sapi. Perempuan mengerjakan tugas rumah tangga, memasak, mencuci baju dan piring, menyapu, namun selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, perempuan juga
mengambil peran dalam beternak sapi, misalnya mencari rumput dan memberikan rumput namun tidak menutup kemungkinan pula perempuan yang mengambil keputusan dalam menjual dan membeli sapi. Beternak sapi yang dilakukan oleh masyarakat tersebut sudah berlangsung sejak lama.
Peternakan merupakan suatu kegiatan mengembangbiakkan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut. Dalam hal ini masyarakat pada umumnya beternak sapi, kambing, kerbau, dan ayam. Peternakan sapi di pedesaan mayoritas masih merupakan usaha tradisional. Petani beternak sapi sebagai usaha sampingan dan simpanan kekayaan yang sewaktu-waktu dibutuhkan dapat dijual dengan cepat. Petani beternak sapi untuk mengisi waktu luang dan sekaligus memanfaatkan tenaga anggota keluarga yang mempunyai waktu kosong. Tenaga kerja yang digunakan dalam beternak sapi merupakan tenaga kerja keluarga termasuk ibu/istri maupun anak perempuan.
Beternak sapi yang dilakukan oleh masyarakat juga melibatkan perempuan, sehingga dengan demikian, perempuan juga memiliki peran yang tidak kalah penting dengan peran laki-laki. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “Peran Perempuan Dalam Beternak Sapi Di Desa Pelem Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali”.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana profil keluarga peternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali?
2. Bagaimana peran perempuan dalam beternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali?
3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitiannya adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui bagaimana profil keluarga peternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo,
Kabupaten Boyolali.
2. Mengetahui bagaimana peran perempuan dalam beternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali.
3. Mengetahui bagaimana faktor penghambat dan faktor pendorong perempuan dalam
beternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. 4. Tinjauan Pustaka
Konsep Peran Perempuan
Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Artinya seseorang telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka orang tersebut telah melaksanakan suatu peran. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lainnya saling tergantung, artinya tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran. Setiap orang mempunyai bermacam-macam peran yang berasal dari pola pergaulan hidupnya. Hal tersebut berarti pula bahwa peran tersebut menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan masyarakat kepadanya. Peran sangat penting karena dapat mengatur perilaku seseorang, disamping itu peran menyebabkan seseorang dapat meramalkan perbuatan orang lain pada batas-batas tertentu, sehingga seseorang dapat menyesuaikan perilakunya sendiri dengan perilaku orang-orang sekelompoknya (Narwoko, 2004:138).
Peran yang terdapat di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat merupakan peran gender. Ada dua istilah yang merujuk peran gender yakni peran produktif-reproduktif dan peran publik-domestik. Pembagian peran biasanya didasarkan pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Peran produktif merupakan peran-peran yang jika dijalankan akan mendapatkan uang atau upah. Misalnya sebagi guru di sekolah, bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan, pedagang di pasar, usaha menjahit di rumah, membuka warung makan dan warung
5. Landasan Teori
Penelitian ini akan menggunakan analisis gender. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang laki-laki dan perempuan untuk mengidentifikasikan dan mengungkapkan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Handayani dan Sugiarti mengungkapkan bahwa analisis gender adalah sebagai berikut: Analisis gender tidak hanya melihat peran, aktivitas, tetapi juga hubungan, sehingga pertanyaan yang diajukan tidak hanya “siapa mengerjakan apa”, tetapi juga meliputi: siapa yang membuat keputusan, siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang menggunakan sumber daya pembangunan seperti tanah, kredit, siapa yang menguasai sumber daya pembangunan, faktor-faktor apa yang mempengaruhi hubungan tersebut, apakah hukum, ekonomi, atau sosial (2008:159).
Fokus utama analisis gender meliputi tiga bagian utama, yaitu: (1) pembagian kerja atau peran, (2) akses dan kontrol terhadap sumber daya serta manfaat program pembangunan, dan (3) partisipasi dalam kelembagaan dan pengambilan keputusan di dalam keluarga. Pada tingkat keluarga/rumah tangga, analisis gender dilihat dari (a) pembagian kerja antara perempuan dan
laki-laki dalam kegiatan produktif, reproduktif dan pengelolaan kelembagaan masyarakat serta curahan waktu dalam kegiatan tersebut, (b) akses dan kontrol perempuan dan laki-laki terhadap sumber daya keluarga (lahan, anak, harta, pendidikan). Pada tingkat masyarakat, analisis gender menyoroti akses dan kontrol laki-laki dan perempuan terhadap sumber daya yang mencakup informasi, kredit, teknologi, pendidikan/penyuluhan/pelatihan, sumber daya alam, peluang bekerja dan berusaha, sementara di tingkat negara/pemerintah dapat dipelajari melalui kebijaksanaan pembangunannya.
Analisis gender yang telah dikembangkan oleh para ahli ada beberapa macam, diantaranya adalah Teknik Analisis Harvard, Moser, Longwe, Munro, CVA, Matriks Analisis Gender, Analisis Logframe, Konsep Seaga dan teknik Participatory Rural Appraisal Berdimensi Gender serta kerangka analisis GAP (Gender Analysis Pathways) dan POP (Policy Outlook and plan of action).
Penelitian ini akan menggunakan salah satu teknik analisis gender yaitu teknik analisis Harvard. Teknik analisis Harvard disebut sebagai Gender Framework Analysis (GFA), yaitu suatu analisis yang digunakan untuk melihat suatu profil gender dari suatu kelompok sosial dan peran gender dalam proyek pembangunan, yang mengutarakan pentingnya tiga komponen yaitu profil aktivitas, profil kontrol dan profil akses.
Kerangka analisis gender Harvard lebih memusatkan perhatian dalam membuat
yang kelihatan. Sebagai konsep dan alat, ini dibutuhkan data detail bagi perencanaan gender. Implikasi perencanaan program terhadap gender perempuan adalah diperlukan analisis yang menutupi lubang pada level beban kerja, pengambilan keputusan antara perempuan dan laki-laki. Tiga data set utama yang diperlukan. 1) Siapa melakukan apa, kapan, dimana, dan berapa banyak alokasi waktu yang diperlukan? Hal ini dikenal sebagai “Profil Aktivitas”. 2) Siapa yang memiliki akses dan kontrol (seperti pembuatan kebijakan) atas sumber daya tertentu? Hal ini dikenal dengan “Profil Akses dan Kontrol”. Siapa yang memiliki akses dan kontrol atas “benefit” seperti produksi pangan dan uang. 3) Faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam pembagian kerja berbasis gender, serta akses dan kontrol yang ada pada “profil aktivitas” dan “profil akses dan kontrol”.
Menurut Handayani dan Sugiarti, kegunaan dari analisis Harvard adalah sebagai landasan untuk melihat suatu profil gender dari suatu kelompok sosial. Kerangka ini tersusun atas tiga elemen pokok yaitu:
a. profil aktivitas berdasarkan pada pembagian kerja gender (siapa mengerjakan apa, di dalam rumah tangga dan masyarakat), yang membuat daftar tugas perempuan dan laki- laki (laki-laki melakukan apa?, perempuan melakukan apa?), sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengelompokan menurut umur, etnis, kelas sosial tertentu, dimana dan kapan tugas-tugas tersebut dilakukan. Aktivitas dikelompokkan menjadi tiga yaitu produktif, reproduktif/rumah tangga, dan sosial politik keagamaan. b. profil akses (siapa yang mempunyai akses terhadap sumber daya produktif termasuk
sumber daya alam seperti tanah, hutan, peralatan, pekerja, kapital, atau kredit, pendidikan atau pelatihan), yang memuat daftar pertanyaan perempuan mempunyai/bisa memperoleh sumber daya apa? Lelaki memperoleh apa? Perempuan menikmati apa? Lelaki menikmati apa?
c. profil kontrol (perempuan mengambil keputusan atau mengontrol penggunaan sumber daya apa? Lelaki penentu sumber daya apa? Sumber daya disini adalah sumber daya yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas tersebut. Manfaat apa
6. Kerangka Berpikir
8. METODE PENELITIAN a. Dasar Penelitian
Dalam mengkaji mengenai peran perempuan dalam beternak sapi, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005:4) mengemukakan bahwa metode kualitatif ini digunakan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan oleh peneliti dengan berdasar pada pengamatan suatu situasi secara alamiah dan sebagaimana mestinya tanpa adanya manipulasi. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif menggunakan data deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berupa teks, kata-kata, simbol, gambar walaupun demikian dimungkinkan terkumpul data-data yang
Perempuan Laki-laki
Konsep gender
Pembagian peran dalam keluarga peternak sapi
Masyarakat
Profil perempuan peternak sapi
Peran perempuan dalam beternak
sapi
bersifat kuantitatif. Jadi pengumpulan data deskriptif bukan menggunakan angka-angka sebagai alat metode utamanya.
Penelitian kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan yaitu (Danim, 2002:60) (1) Penelitian kualitatif mempunyai setting alami sebagai sumber data langsung dan peneliti adalah instrumen utamanya. Peneliti berkedudukan sebagai pengumpul data lebih dominan daripada instrumen lainya. (2) Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dimana data yang terkumpul berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka. Kalaupun ada angka sifatnya sebagai
penunjang. Data dalam penelitian kualitatif dapat berupa transkrip, interview, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi dan lain-lain. (3) Peneliti kualitatif lebih menekankan proses kerja yang
seluruh fenomenanya diterjemahkan dalam kegiatan sehari-hari. (4) Penelitian kualitatif memberi tekanan pada makna, yaitu fokus penelahaan terpaut langsung dengan masalah kehidupan manusia.
b. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Lokasi tersebut dipilih karena di Desa tersebut masyarakatnya mayoritas adalah sebagai peternak sapi, baik dalam jumlah besar, maupun dalam jumlah kecil.
c. Fokus Penelitian
Moleong (2005:92) penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong, tetapi dilakukan berdasarkan persepsi seseorang terhadap adanya masalah. Masalah dalam penelitian kualitatif bertumpu pada fokus. Penetapan fokus dapat membatasi studi dan berfungsi untuk memenuhi kriteria masuk-keluar (inclusion-exlusive criteria) suatu informasi yang diperoleh di lapangan. Fokus dalam penelitian kualitatif berasal dari masalah itu sendiri, dan fokus dapat menjadi bahan penelitian. Adapun yang akan menjadi fokus penelitian ini adalah profil keluarga peternak sapi, peran perempuan dalam beternak, serta faktor penghambat dan faktor pendorong perempuan dalam beternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali.
d. Sumber dan Jenis Data
Sumber data penelitian terdiri atas sumber data utama dan sumber data tambahan.
1)Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti. Data ini dapat berupa hasil teks hasil wawancara dan diperoleh melalui wawancara dengan informan yang sedang dijadikan sampel dalam penelitiannya (Suwarno, 2006:209).
Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Terkait dengan hal ini, subjek penelitiannya adalah perempuan peternak sapi. Perempuan- perempuan yang beternak sapi di Desa Pelem, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali yang menjadi pusat
perhatian bagi peneliti. Informan adalah individu-individu tertentu yang diwawancarai untuk keperluan informasi. Informan adalah orang yang dapat memberikan informasi atau keterangan
atau data yang diperlukan oleh peneliti. Informan dipilih dari beberapa orang yang betul-betul dapat dipercaya dan mengetahui objek yang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah laki-laki atau suami dari perempuan yang beternak sapi dan perangkat desa.
2)Data Sekunder
Data sekunder adalah data tambahan yang berupa informasi untuk melengkapi data primer. Data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen atau arsip dari Desa Pelem yang berupa data statistik kewilayahan dan data kependudukan seperti jumlah penduduk serta dokumen visual yaitu berupa foto-foto yang peneliti hasilkan sendiri dengan kamera. Foto yang dihasilkan oleh peneliti antara lain adalah kegiatan sehari-hari perempuan dalam beternak sapi. e. Teknik Pengumpulan Data
1) Wawancara
Teknik wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua orang yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2005:186). Menurut Faisal (2005:52) wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan. Alat pengumpulan data wawancara disebut dengan pedoman wawancara. Suatu pedoman wawancara harus benar-benar dimengerti oleh pengumpul data. Penelitian ini akan menggunakan wawancara terbuka untuk mendapatkan data yang valid
dalam penelitian. Wawancara terbuka yang biasanya para obyeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula maksud dari wawancara itu (Moleong, 2005: 189).
2) Observasi
dalam kurun waktu yang cukup lama. Observasi menurut Arikunto (2006:156) disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera.
Adapun yang akan diobservasi oleh peneliti sehubungan dengan metode observasi adalah sebagai berikut :
a. Gambaran umum lokasi penelitian yaitu Desa Pelem b. Gambaran mengenai pekerjaan sebagai peternak sapi
c. Kegiatan perempuan saat bekerja sebagai peternak sapi 3) Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2006:236). Data yang akan dikumpulkan antara lain adalah lain data yang berhubungan dengan monografi desa dan data pribadi keluarga yakni tentang jumlah anggota keluarga, usia, jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan serta data yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari perempuan dalam beternak sapi. Dokumentasi ini dimaksudkan untuk melengkapi data dari hasil wawancara dan observasi yang berguna dalam penyusunan skripsi. Selain data monografi desa, penulis juga mendapatkan sejumlah foto untuk mendukung mengenai peran perempuan di dalam beternak sapi.
f. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis dari hasil wawancara, catatan di lapangan, dan dokumentasi serta studi pustaka dengan cara mengorganisir data kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2010 :334). Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data menurut Miles dan Huberman. Tahap analisis data menurut Miles dan Huberman (1992:16-19) adalah sebagai berikut:
1) Pengumpulan Data
Langkah awal yang akan dilakukan oleh penulis dalam melakukan penelitian ini adalah mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.
2) Reduksi Data
tidak perlu dan mengorganisasikan data-data yang direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencari sewaktu-waktu.
Dalam penelitian ini, reduksi data yang akan dilakukan setelah mendapat data dari informasi, observasi, wawancara, maupun dokumen yang mana data-data tersebut masih bersifat keseluruhan. Untuk langkah selanjutnya adalah memilih-milih data yang dianggap penting dan dianggap tidak penting, tidak digunakan atau dibuang kemudian dilakukan
penyatuan dan penyederhanaan dari semua data. 3) Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan atau pengambilan keputusan. Penyajian data merupakan analisis merancang deretan kolom-kolom sebuah matrik untuk data kualitatif dan menentukan jenis dan bentuk data yang dimasukkan dalam kotak-kotak matrik (Miles,1992 : 16-17). 4) Pengambilan Simpulan atau Verifikasi
Suatu kegiatan yang berupa pengambilan intisari dan penyajian data yang merupakan hasil dari analisis yang dilakukan dalam penelitian atau kesimpulan awal yang sifatnya belum benar-benar matang.
Penulis mencoba mengambil kesimpulan, berdasarkan data yang diperoleh. Verifikasi atau pengambilan kesimpulan dapat dilakukan dengan keputusan didasarkan pada reduksi atau pengeditan data, dan penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang menjadi pertanyaan penelitian.
Keempat alur kegiatan tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini:
(Miles dan Huberman, 1992:20)
Bagan Alur Analisis Pengumpulan data
Penyajian data
Reduksi data
Penarikan kesimpulan atau
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, I (Ed). 2003. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Astuti, T. M. P. 2011. Konstruksi Gender Dalam Realitas Sosial Edisi Revisi. Semarang: UNNES PRESS.
Faisal, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Fakih, M. 2010. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Handayani, T dan Sugiarti. 2008. Konsep dan Teknik Penelitian Gender edisi revisi. Malang: UMM Press.
Koentjaraningrat. 2006. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Rosdakarya.
Mahardhika, K.2011. Buruh Perempuan Dan Peran Suami Dalam Keluarga. semarang : skripsi UNNES.
Miles, M. B dan Huberman, A. M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI PRESS.
Moleong, L. J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Rosdakarya.
Narwoko, D. J dan Bagong S. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada media
Soekanto, S. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2010. Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: CV. ALFABETA.