• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekilas Sistem Pengendalian Manajemen da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sekilas Sistem Pengendalian Manajemen da"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

AZIZAH HASNA’ ARIFIN 17/421982/PEK/23559

Sekilas Tentang Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

PENDAHULUAN

Pengendalian (Controlling) merupakan salah satu bagian dari manajemen. Pengendalian dilakukan dengan tujuan agar apa yang sudah direncanakan bisa dilaksanakan dengan baik sehingga target dan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dapat dicapai dengan kata lain perusahaan atau organisasi dapat mencapai goal congruence nya. Pengendalian (Controlling) merupakan tugas yang dilakukan oleh seorang manajer.

Pengendalian diartikan sebagai proses untuk menjaga agar pelaksanaan sesuai dengan rencana untuk mencapai tujuan. Apabila dikaitan dengan organisasi, tentunya sebuah organisasi yang baik memiliki visi, misi, ataupun tujuan tertentu yang ingin dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan sebuah strategi untuk menjalankannya. Pelaksanaan strategi didelegasikan kepada anggota dari organisasi tersebut. Anggota organisasi diberikan tugas untuk melaksanakan strategi organisasi yang telah ditetapkan dengan sebaik mungkin.

Pengendalian dan pengawasan merupakan hal yang berbeda, karena pengawasan merupakan bagian dari pengendalian yang dilakukan di lapangan. Menurut Koontz dan Cyril O’Donnel, dalam melakukan pengawasan, seorang manajer seharusnya menetapkan asas-asas yaitu: (1) Asas tercapainya tujuan (2) Asas efisiensi pengawasan (3) Asas tanggungjawab pengawasan (4) Asas pengawasan terhadap masa depan (5) Asas pengawasan langsung (6) Asas refleks perencanaan (7) Asas penyesuaian dengan organisasi (8) Asas pengawasan individual (9) Asas standar (10) Efektif dan efisien asas pengawasan terhadap strategis (11) Asas pengecualian (12) Asas pengawasan fleksibel (13) Asas peninjauan kembali, dan (14) Asas tindakan.

(2)

secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadahi atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa SPIP atau Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah SPI yang diselenggarakan secara menyeluruh pada lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pengendalian Internal yang dilakukan di pemerintah pusat atau pemerintah daerah, misalnya saja principle dengan agent, yang mengatur tentang bagaimana principle melakukan pengawasan terhadap agent dengan cara melakukan audit eksternal. Yaitu mengaudit kinerja dari manajemen pada organisasi tersebut.

(3)

PEMBAHASAN

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

Menurut American Institute of Certified Publik Accountants (AICPA), pengendalian Intern meliputi straktur organisasi, semua metode dan ketentuan-ketentuan yang terkoordinasi yang dianut dalam perushaaan untuk melindungi harta dan kekayaan, yang terkoordinasi yang dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta kekayaan, memeriksa ketelitian, dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya untuk meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya regulasi perusahaan yang telah ditetapkan.

Sedangkan menurut Boynton, Johnson, Kell (2003, 373) pengendalian intern merupakan sebuah proses yang dilaksanakan oleh dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya dalam suatu organisasi yang dirancang untuk menyediakan keyakinan yang memadai dan berkenaan dengan pencapaian tujuan dalam kategori berikut

 Keandalan dalam pelaporan keuangan

 Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku

 Efektifitas dan efisiensi operasi

Pendapat tersebut hampir sama dengan pendapat yang dikemukan dalam COSO (Committee of Sponsoring Organizations) yang mengatakan bahwa pengendalian intern adalah sebuah proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen dan karyawan yang dirancang untuk memberikan jaminan yang meyakinkan bahwa tujuan organisasi dapat dicapai melalui: efisiensi dan efektifitas operasi, penyajian laporan keuangan yang dapat dipercaya, ketaatan terhadap undang-undang dan peraturan yang berlaku.

(4)

yang ada di pemerintah ini disebut dengan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah atau SPIP.

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah atau SPIP merupakan salah satu sistem pengendalian pemerintah yang dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Ekstern Pemerintah (BPKP) dan Inspektorat melalui Aparat Pengawas Intern Pemerintah. Selain itu juga terdapat Sistem Pengendalian Ekstern Pemerintah dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kepolisian, Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Lembaga peradilan lainnya.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, SPIP yang tercantum dalam BAB 1, Pasal 1, ayat 1 dan 2, adalah:

(1) Sistem Pengendalian Intern adalah proses yang interal pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadahi atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

(2) Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, yang selanjutnya disingkat SPIP, adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) melekat pada semua kegiatan pemerintahan baik di pusat maupun pemerintah di daerah. SPIP juga dipengaruhi oleh sumber daya manusia, serta memberikan keyakinan yang memadahi, sehingga dalam pengembangan dan penerapannya harus dilakukan secara komprehensif dan harus memperhatikan aspek biaya dan maanfaatnya (cost and benefit), rasa keadilan dan kepatutan, perkembangan teknologi informasi, dan komunikasi serta mempertimbangkan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi instansi pemerintah pusat maupun daerah.

(5)

Menteri Keuangan selaku bendahara umum negara menyelenggarakan sistem pengendalian intern dibidang perbendaharan. Begitu juga degan Menteri/pimpinan lembaga yang lainnya juga menyelenggaran pengendalian intern pada bidang pemerintahan/lembaga masing-masing. Gubernur/Bupati/Walikota selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintah daerah yang dipimpinnya.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, SPIP yang tercantum dalam BAB 2, Pasal 3, penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terdiri dari lima unsur:

1. Lingkungan Pengendalian; 2. Penilaian Risiko;

3. Kegiatan Pengendalian;

4. Informasi dan Komunikasi; dan 5. Pemantauan Pengendalian Intern.

Pelaksanaan unsur SPIP ini dilaksakan menyatu dan menjadi bagian integral dari kegiatan instansi pemerintah. Unsur SPIP di Indonesia mengacu pada unsur Sistem Pengendalian Intern yang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintahan di berbagai negara, yaitu:

1. Lingkungan Pengendalian;

Lingkungan pengendalian adalah kondisi dalam instansi pemerintah yang mempengaruhi efektifitas pengendalian intern. Unsur ini menekankan pada pimpinan instansi pemerintah dan seluruh pegawai untuk menciptakaj dan memelihara keseluruhan lingkungan organisasi, sehingga dapat menimbulkan perlakukan positif dan mendukung pengendalian intern dan menejemen yang sehat.

(6)

pengawasan intern pemerintah yang efektif (h) hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait.

2. Penilaian Risiko;

Penilaian risiko adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran instansi pemerintah. Penilaian risiko memberikan penekanan bahwa pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang dihadapi organisasi baik didalam maupun diluar organisasi.

Pemimpin dalam organisasi organisasi pemerintah pusat maupun daerah wajib melakukan risiko dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis risiko serta mengidentifikasi risiko dengan tujuan untuk tujuan instansi pemerintah dan tujuan pada tingkatan kegaitan secara komprehensif. Analisis risiko dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan dampak dari risiko yang telah diidentifikasi terhadap pencapaian tujuan instansi pemerintah dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

3. Kegiatan Pengendalian;

Kegiatan pengendalian adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko serta penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko telah dilaksanakan dengan efektif. Kegiatan pengendalian ini menekankan bawah pemimpin dalam instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah wajib menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas, serta fungsi instansi pemerintah yang bersangkutan. Kegiatan pengendalian berkaitan dengan penilaian risiko dan disesuaikan dengan sifat khusus instansi pemerintah pusat ataupun daerah. Kebijakan dan prosedur dalam kegiatan pengendalian harus ditetapkan secara tertulis dan dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan sehingga untuk menjamin kegiatan pengendalian masih sesuai dan berfungsi seperti yang diharapkan maka harus dievaluasi secara terus menerus. 4. Informasi dan Komunikasi; dan

(7)

maupun daerah. Sedangkan komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi dengan menggunakan simbol, lambang, atau tertentu baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Komunikasi ini diharapkan akan mendapatkan umpan balik atau feedback dari orang yang berkepentingan.

5. Pemantauan Pengendalian Intern.

Pemantauan pengendalian intern merupakan kegiatan memastikan apakah sistem pengendalian intern pada suatu instansi pemerintah pusat atau daerah telah berjalan sesuai yang diharapkan dan apakah ada perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan. Pemantauan pengendalian intern ini mencakup penilaian desain dan operasi pengendalian serta pelaksanaan tindakan perbaikan yang diperlukan. Pemimpin dalam organisasi harus memantau pengendalian internal dalam organisasinya, apabila tidak bisa jadi akan memberikan pengaruh buruk untuk jangka pendak maupun jangka Panjang. Oleh karena itu, agar pemantauan menjadi lebih efektif, seluruh lini dalam organisasi itu harus mengerti visi, misi, tujuan organisasi, tingkat toleransi risiko, dan tanggungjawab masing-masing sesuai dengan bidangnya.

Dalam menerapkan unsur SPIP, pemimpin dari setiap instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah bertanggungjawab untuk mengembangkan kebijakan, prosedur, dan praktik detail untuk menyesuaikan dengan kebijakan instansi pemerintah dan untuk memastikan bahwa unsur SPIP tersebut telah menyatu dan menjadi bagian integral dari kegiatan instansi pemerintah.

Dalam penyelenggaraan SPIP diperlukan pengawasan intern dan pembinaan penyelenggaran SPOP untuk memperkuat dan menunjang efektifitas penyelenggaraan SPIP. Pengawasan inten berfungsi untuk melakukan penilaian independent atas pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah yang mencakup kelembagaan, lingkungan tugas, kompetensi sumber daya manusia, kode etik, standar audit, pelaporan. Sedangkan pembinaan penyelenggaraan SPIP meliputi penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan, sosialisasi, pendidikan dan pelatihan, pembimbingan dan konsultasi SPIP, serta peningkatan kopentensi auditor Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) pada setiap instansi pemerintahan.

(8)

Menurut Anthony dan Govindarajan, Sistem Pengendalian Manajemen atau yang biasa disingkat SPM adalah proses untuk memotivasi dan memberikan inspirasi kapada orang-orang dalam suatu organisasi untuk melaksanakan aktivitas didalam organisasi tersebut yang akan mendorong kepada pencapaian tujuan organisasi.

Sedangkan menurut R.A Supriyono tahun 2000, sistem pengendalian manajemen adalah sistem yang digunakan oleh menajemen untuk mempengaruhi anggota organisasinya agar malaksanakan strategi dan kebijakan organisasi secara efisien dan efektif dalam rangka mencapai tujuan organisasi, sistem pengendalian manajemen terdiri atas struktur dan proses.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Abdul Halim yang mengemukakan bahwa sistem pengendalian manajemen adalah proses dimana manajer mempengaruhi anggotanya untuk melaksanakan strategi organisasi.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya, sistem pengendalian manajemen merupakan suatu sistem yang digunakan oleh manajer untuk mengarahkan anggota organisasi, agar melaksanakan tugasnya sesuai kebijakan dan prosedur yang berlaku dalam rangka mancapai tujuan secara efektif dan efisien.

Dalam sistem pengendalian pada sektor publik, hampir sama dengan sistem pengendalian manajemen yang telah di jelaskan sebelumnya hanja saja dalam penerapannya dilakukan dalam sektor publik. Sistem pengendalian manajemen dalam sektor publik bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi dan memberikan jaminan dilaksanakannya strategi organisasi secara efektif dan efisien. Pengendalian manajemen dalam sektor publik meliputi (1) perencanaan (2) koordinasi antar berbagai bagian dalam organisasi (3) komunikasi informasi (4) pengambilan keputusan (5) memotivasi orang-orang dalam organisasi agar berperilaku sesuai denga tujuan organisasi (6) pengendalian (7) penilaian kinerja.

(9)

sektor publik berfokus pada unit-unit organisasi sebagai pusat pertanggungjawaban. Pusat pertanggungjawaban tersebut merupakan basis perencanaan, pengendalian, dan penilaian kinerja.

Sistem pengendalian manajemen pada sektor publik dirancang untuk mempengaruhi orang-orang dalam organisasi tersebut agar berperilaku sesuai dengan tujuan organisasi. Pengendalian yang dilakukan dapat berupa aturan, prosedur birokrasi, pengendalian manajemen yang secara formal. Dalam suatu organisasi setiap orang mempunyai tujuan personal (individual goal). Untuk menyikapi hal tersebut perlu adanya jembatan organisasi untuk mencapai tujuannya, yaitu tercapainya keselarasan antara individual goal dengan organization goal. Dalam hal ini sistem pengendalian manajemen hendaknya dapat menjadi jembatan dalam mewujudkan goal congruence.

Dalam proses pengendalian manajemen pada sektor publik dapat dilakukan dengan menggunakan saluran komunikasi formal maupun informal. Menurut Mardiasmo (2002:50) Komunikasi informal dapat melalui komunikasi langsung, pertemuan informal, diskusi, atau melalui metode management by walking around. Sedangkan komunikasi formal terdiri dari aktivitas formal dalam organisasi yang meliputi:

1. Perumusan Strategi (Strategy Formulation)

Perumusan strategi adalah proses penentuan visi, misi, tujuan, sasaran, target (outcome), arah dan kebijakan, serta strategi oragnisasi. Perumusan strategi merupakan tugas dan tanggungjawab manajemen puncak (top management). Dalam organisasi pemerintah, perumusan strategi dilakukan oleh dewan legislatif yang hasilnya berupa Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang akan menjadi acuan bagi eksekutif dalam bertindak.

2. Perencanaan Strategik (Strategic Planning)

(10)

3. Penganggaran

Penentuan penganggaran dalam proses pengendalian manajemen sektor publik merupakan tahapan yang dominan. Proses penganggaran ini mempunyai karakteristik yang berbeda dengan penganggaran pada sektor swasta. Perbedaaanya adalah pada pengaruh politik dalam proses penganggaran.

4. Operasional (Pelaksanaan Anggaran)

Operasional atau pelaksanaan anggaran adalah kelanjutan dari penganggaran. Yaitu proses pengimplementasian anggaran yang telah ditentukan.

5. Evaluasi kinerja.

(11)

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah proses yang interal pada tindakan dan kegiatan yang dialkukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan yang memadahi atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang diselenggarakan pada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Sedangkan Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) Sektor Publik merupakan suatu sistem yang digunakan oleh manajer untuk mengarahkan anggota organisasi, agar melaksanakan tugasnya sesuai kebijakan dan prosedur yang berlaku dalam rangka mancapai tujuan secara efektif dan efisien, sistem ini dapat diterapkan pada pemerintah pusat maupun daerah.

Dari penjelasan yang diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) dengan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), keduanya merupakan sistem yang penting dan serupa walau tidak seutuhnya sama, namun keduanya berada dalam lingkup yang berbeda. Perbedaan keduanya yaitu pada SPIP misalnya saja dalam agency theory, yaitu antara principal dengan agent. Yaitu bagaimana principal malakukan pengawasan terhadap agent, bisa saja dengan adanya audit eksternal dengan tujuan untuk mengaudit kinerja dari manajemen dalam lingkup pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. SPIP pada pemerintahan dilakukan dnegan mengontrol kinerja karyawan pada unit-unit tugasnya. SPIP melakuakn evaluasi terhadap kinerjanya dari pihak eksternal yang dilakukan oleh BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan). Tujuannya adalah untuk mengevaluasi apakah unit tugas mengerjakan tugas sesuai dengan tujuan organisasi atau tidak.

(12)

awal dari langkah perbaikan. Oleh Karena itu, implementasi SPIP sangat bergantung kepada komitmen, teladan pimpinan dan niat baik dari seluruh elemen dan pejabat dan pegawai instansi pemerintah.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Anthony Govindarajan. 2005. Management Control Sistem. Yogyakarta. Salemba Empat.

Halim dan Kusufi. 2017. Teori, Konsep, dan Aplikasi Akuntansi Sektor Publiki. Yogyakarta. Salemba Empat.

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. Penerbit ANDI

Mahmudi. 2011. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. UII Press

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

https://andichairilfurqan.wordpress.com/2012/05/25/sistem-pengendalian-intern-pemerintah-spip/ Diakses pada Sabtu 17 Maret 2018 Pukul 13.25

http://hjtfriuty.blogspot.co.id/2017/05/pengertian-pengendalian-menurut-para.html Diakses pada Sabtu 17 Maret 2018 Pukul 11.02

https://media.neliti.com/media/publikations/27572-ID-perbandingan-pengendalian-intern-dan-pengendalian-manajemen-dalam-hubungannya-de.pdf Diakses pada Sabtu 17 Maret 2018 Pukul 12.10

http://pemerintah.net/sistem-pengendalian-intern-pemerintah/ Diakses pada Sabtu 17 Maret 2018 Pukul 13.22

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh kegiatan meronce terhadap kemampuan mengenal pola pada anak kelompok A di

Sigit Haryono (2015), “The Effects of Service Quality on Customer Customer Satisfaction, Customer Delight, Trust, Repurchase Intention, and Word of Mouth ”,

Ketiga, perusahaan yang bergerak di bidang keuangan seperti lembaga keuangan baik bank maupun nonbank (asuransi, reksadana, money changer dan yang lainnya). Sedangkan barang

Pada umumnya perjalanan penyakit GNAPS ditandai dengan fase akut yang berlangsung 1-2 minggu, kemudian disusul dengan menghilangnya gejala

KESATU : Apabila tidak tersedia tenaga kesehatan yang memenuhi persyaratan untuk menjalankan kewenangan dalam pelayanan klinis, maka Kepala puskesmas memberikan kewenangan

Project team: Ronald Rael, Virginia San Fratello, Kent Wilson, Alex Schofield, Sofia Anastassiou, Yina Dong, Stephan Adams, Alex Niemeyer, Ari Oppenhiemer, Reem Makkawi, Steven

Kedua penelitian tersebut hanya membahas mengenai bentuk perlindungan hukum terhadap pemilik rumah yang akses jalannya tertutup oleh bangunan rumah tetangga dan

Pengertian akademik berasal dari kata Yunani yakni academos sebuah taman umum di Athena. Academos sendiri adalah pahlawan legendaris Troya, kemudian oleh Socrates