PENGARUH KECERDASAN SPIRITUAL GURU TERHADAP MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK DI SMA KRISTEN ELIM MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukanuntuk Memenuhi Sebagian Syarat-Syarat Dalam Menyelesaikan Stratum Satu (S1) Program Studi Pendidikan Agama Kristen Protestan
Pada Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar
Oleh
TRIFANNY ROSALIA SITOLONG NPM: 11022111
SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA JAFFRAY MAKASSAR
Abstrak
Trifanny Rosalia Sitolong. “Pengaruh Kecerdasan Spiritual Guru Terhadap Minat Belajar Peserta Didik Di SMA Kristen Elim Makassar.” (Dibimbing oleh Ev. Elisabet Ronda, MA)
Tujuan penulisan skripsi ini adalah yaitu untuk mengetahui pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik di SMA Kristen Elim Makassar. Adapun hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, minat belajar merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan presetasi belajar peserta didik. Karena itu guru memunyai peranan dalam membangun atau pun meningkatkan minat belajar peserta didik. Minat belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor dan salah satunya adalah kecerdasan spiritual guru. Kedua, adanya pengaruh yang signifikan antara kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik. Guru yang cerdas secara spiritual akan membangun atau pun membangkitkan minat belajar pada peserta didik, karena guru akan membawa peserta didik untuk memaknai setiap proses pembelajaran yang ia ikuti. Ketiga, oleh karena kecerdasan spiritual guru juga merupakan salah satu factor yang memengaruhi minat belajar peserta didik, maka guru-guru perlu memerhatikan kecerdasan spiritualnya, dengan berupaya untuk meningkatkan spiritualitasnya.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk yang berkembang dan mengalami pertumbuhan, oleh karena itu manusia membutuhkan pendidikan yang baik untuk menjadi pribadi yang utuh.Pendidikan merupakan hal yang mendasar dalam kehidupan manusia. Pendapat Lawrence yang dikutip oleh Daniel Nuhamara mendefinisikan pendidikan sebagai “suatu usaha yang sadar, sistematis, dan
berkesinambungan dengan tujuan untuk mewariskan, memotivasi baik pengetahuan, perbuatan, nilai dan norma keterampilan dan kreativitas atau kepekaan – kepekaan, maupun hasil apapun dari usaha tersebut.”1Dapat dilihat bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah perubahan secara holistik suatu individu.
Tujuan pendidikan nasional dari bangsa Indonesia sendiri tertuang dalam UUD 1945, yang merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan
masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab.2Upaya untuk mencapai tujuan pendidikan ini tentunya tidak terlepas dari peranan guru sebagai pendidik.
Khususnya guru-guru di sekolah Kristen yang memegang peranan penting dalam mewujudkan pendidikan yang berorientasi pada Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:18-20).Tentunya ini merupakan tanggung jawab yang berat, karena itu guru harus bergantung penuh pada kuasa Roh Kudus.Menurut Sidjabat dalam bukunya Menjadi Guru Profesional mengemukakan bahwa “seorang guru sebagai pendidik pokok-pokok iman Kristen sangat perlu bergantung pada kuasa, urapan, dan kehadiran Roh Kudus. Sebab hanya Dia yang mampu membuka mata hati orang dalam memahami kebenaran (Ef. 3:1,17,18).”3Dengan kata lain guru harus memiliki kecerdasan spiritual yang dapat memengaruhi kehidupan peserta didik.
Menurut Zulfan dan Sri dalam bukunya Psikologi Keperawatan
mengemukakan bahwa:
Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam memahami dirinya sendiri dan lingkungan di mana ia berada. Dengan demikian, ia akan berpikir holistik dan bertindak secara baik dan utuh, berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya bahkan secara kreatif dapat menciptakan nilai-nilai baru. Ia bisa menilai bermanfaat atau tidaknya suatu tindakan yang dilakukannya, dapat membedakan baik dan buruk dan selalu berusaha menjadi yang terbaik serta bisa mentransendensikan dirinya. Kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, karena kecerdasan spiritual merupakan puncak kecerdasan.Kecerdasan spiritual bertumpu pada bagian
2 Sudarwan Danim, Pengembangan Profesi Guru (Jakarta: Kencana, 2011), 90-100.
dalam diri yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar atau disebut dengan God Spot (Titik Ketuhanan).4
Sebagaimana yang dikemukakan di atas, ini berarti bahwa untuk mencapai kecerdasan spiritual, diperlukan bimbingan dari Tuhan.Jadi dapat dikatakan bahwa seorang guru Kristen mutlak membangun relasi dengan Allah.Menurut Sidjabat dalam bukunya Mengajar Secara Profesionalmengemukakan:
sikap penting yang harus dikembangkan oleh guru Kristen ialah pengenalan jati dirinya sebagai orang Kristen. Orang Kristen adalah orang yang memberikan dirinya secara penuh kepada Yesus Kristus” (bdk. Kis. 11:26). Menurut ajaran Alkitab, seorang Kristen berarti percaya dan menyambut sepenuhnya kedudukan dan peran Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat, dan sebagai Raja atas totalitas kehidupannya. Pengenalan yang bertambah baik tentang pribadi Yesus akan memungkinkan guru untuk makin berubah dalam aspek kepribadian, yang ukurannya ialah menyerupai Kristus yang lemah lembut dan rendah hati serta penuh belas kasihan. Rasul Yohanes menuliskan ‘Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup’(1 Yoh. 2:6).5
Terkait dengan hal di atas juga akan memberikan kontribusi yang besar dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang berorientasi pada penggenapan Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20) di dalam proses mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya kecerdasan spiritual bagi para guru. Akan tetapi, di era modernisasi ini banyak guru-guru Kristen yang kurang dalam hal kecerdasan spiritual, seperti guru kurang dalam menerapkan nilai-nilai Kristiani yang dianutnya, mengajar tanpa visi yang jelas, dan mengabaikan kehidupan
4 Zulfan Saam dan Sri Wahyuni, Psikologi Keperawatan (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2012), 166.
kerohaniannya. Alan E. Nelson menyatakan bahwa,“orang-orang yang tidak
menunjukkan sifat-sifat Yesus meskipun telah menghadiri kebaktian di gereja selama beberapa dekade menunjukkan rendahnya kecerdasan spiritual mereka.”6
Rendahnya kecerdasan spiritual guru ini akan berdampak kepada minat belajar peserta didik. Melihat bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang dapat memfungsikan EQ dan IQ secara optimal, guru yang memiliki EQ yang tinggi akan memotivasi siswa dalam belajar, motivasi ini akan menimbulkan minat belajar terhadap siswa. Jadi meningkatnya kecerdasan spiritual guru akan mengoptimalkan kecerdasan emosionalnya yang diikuti oleh meningkatnya minat belajar peserta didik. Begitupun sebaliknya, rendahnya kecerdasan spiritual guru membuat kecerdasan emosional tidak optimal yang akan memengaruhi minat belajar peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa adanya suatu hubungan yang signifikan antara kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik.
Minat merupakan salah satu faktor yang penting di dalam belajar, karena akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Siswa yang memiliki minat, akan tertarik untuk belajar tanpa adanya suatu paksaan. Dengan adanya minat, siswa akan belajar sebaik-baiknya dengan rasa senang, penuh perhatian dan antusiasme. Minat belajar akan membantu siswa untuk memahami pelajaran dengan lebih mudah. Dengan demikian, minat merupakan unsur yang penting dalam proses pembelajaran.
Di sisi lain para siswa-siswi SMA saat ini kurang berminat dalam belajar, kemungkinan masalahnya ada pada guru. Banyak faktor yang dapat memengaruhi minat belajar siswa, diantaranya kemampuan keterampilan mengajar guru yang rendah, rendahnya kompetensi personal, ataupun kompetensi profesional serta kecerdasan spiritual padaguru.Dalam karya ilmiah ini penulis khusus membahas mengenai kecerdasan spiritualguru yang dapat memengaruhi minat belajar peserta didik.
SMA Kristen Elim Makassar adalah salah satu sekolah Kristen yang para pendidik dan peserta didiknya mayoritasberagama Kristen.Salah satu permasalahan yang ada di sekolah ini adalah adanya sebagian siswayang kurang antusias dalam mengukuti pembelajaran yang diterapkan. Kurangnya minat belajar dari para siswa yang ada di SMA Kristen Elim, tentu akan berdampak bagi para peserta didik salah satu diantaranya adalah menurunnya prestasi belajar peserta didik. Karena itu sangat perlu untuk membangun minat belajar peserta didik.
Pokok Masalah
Dari latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok masalah, yaitu sejauh mana pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik di SMA Kristen Elim Makassar.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik di SMA Kristen Elim Makassar.
Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah ini, yaitu:
Pertama, dapat menjadi acuan dalam mengembangkan spiritualitas guru Kristen dalam meningkatkan minat peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga pelaksanaan pendidikan di sekolah berjalan lebih efektif dan efisien.
Kedua, menjadi bekal penulis di dalampelayanan yang Tuhan percayakan suatu kelak nanti.
Metode Penelitian
Dalam penulisan karya ilmiah ini,penulis mengadakan penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
Pertama, kajian pustaka dalam hal ini penulis mengumpulkan data dengan membaca buku-buku, jurnal, dan internet yang berhubungan dengan masalah pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik.
Kedua, dengan menggunakan kuesioner (angket) tertutup kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik.
Ketiga, wawancara kepada guru untuk menguatkan data angket yang diperoleh dan kepada kepala sekolah untuk mengenal lokasi penelitian, yaitu SMA Kristen Elim Makassar.
Batasan Penulisan
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis membatasi pembahasan pada pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik di SMA yaitu yang berusia 15-17 tahun di SMA Kristen Elim Makassar.
Sistematika Penulisan
Bab pertama, merupakan bab pendahuluan yang terdiri atas: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metodologi penelitian, batasan penulisan, dan sistimatika penulisan.
Bab kedua, membahas tentang tinjauan pustaka yang berupa uraian singkat mengenai pengertian kecerdasan spiritual, manfaat kecerdasan spiritual, indikator kecerdasan spiritual guru, pengertian minat belajar, pentingnya minat belajar, karakteristik peserta didik yang memiliki minat belajar usia SMA, faktor-faktor yang memengaruhi timbulnya minat belajar peserta didik usia SMA, gaya belajar anak SMA usia 15-17 tahun, hubungan antara kecerdasan spiritual guru dengan minat belajar peserta didik.
Bab ketiga, membahas mengenai metodologi penelitian, meliputi: gambaran umum lokasi survey, jenis penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab keempat,merupakan analisis hasil penelitian dan pembahasan data mengenai pengaruh kecerdasan spiritual guru terhadap minat belajar peserta didik di SMA Kisten Elim Makassar.