MAKALAH PSIKOLOGI GIZI
Mengenal Jenis Makanan yang Dapat
Dikonsumsi untuk Anak Autis
Disusun Oleh :
Sri Handayaningsih
0411511033
Tamara Pratnya Paramitha
0411511035
Program Studi Ilmu Gizi
DAFTAR ISI
KESIMPULAN
……….12
SARAN………
……….12
DAFTAR
PUSTAKA………
………..13
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, karunia, serta taufk dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah tentang Mengenal Jenis
Makanan yang Dapat Dikonsumsi untuk Anak Autis. Dan juga
kami berterima kasih pada Ibu
Meylina Djafar,, MCN, MBA
dan
Ibu Tania Savana Sari, S.Psi selaku Dosen mata kuliah
Psikologi Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.
yang tepat untuk dikonsumsi oleh Anak Autis . Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas dan kadang-kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Deteksi dan terapi sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan dirinya dengan yang normal. Kadang-kadang terapi harus dilakukan seumur hidup, walaupun demikian penderita Autisme yang cukup cerdas, setelah mendapat terapi Autisme sedini mungkin, seringkali dapat mengikuti Sekolah Umum, menjadi Sarjana dan dapat bekerja memenuhi standar yang dibutuhkan, tetapi pemahaman dari rekan selama bersekolah dan rekan sekerja seringkali dibutuhkan, misalnya tidak menyahut atau tidak memandang mata si pembicara, ketika diajak berbicara. Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan orang lain. Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari Kelainan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme. Autisme adalah yang terberat di antara PDD.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalaha sebagai berikut:
Apa pengertian dari autisme ? Apa penyebab dari anak autisme ? Apa Ciri-ciri Autisme?
Apa saja gangguan Psikologi pada Anak Autis?
Apa makanan yang baik dikonsumsi untuk Anak Autis?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Mengetahui pengertian dari autisme Mengetahui penyebab dari autisme Mengetahui Ciri-ciri Autisme
Mengetahui gangguan Psikologi pada Anak Autis
Mengetahui makanan yang baik dikonsumsi untuk Anak Autis
1.4 Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi semua pihak dalam rangka mengenal anak yang berkebutuhan khusus atau autisme dan mengetahui makanan yang dapat dikonsumsi dan yang tidak
BAB II
LANDASAN TEORI
Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004). Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk
berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, mutism,
pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya (Dawson & Castelloe dalam Widihastuti, 2007).
Gulo (1982) menyebutkan autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subjektifnya sendiri daripada melihat
kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut sindrom Kanner yang
dicirikan dengan ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi (Budiman, 1998).
Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi.
Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun (Suryana, 2004). Menurut dr. Faisal Yatim DTM&H, MPH (dalam Suryana, 2004), autisme bukanlah gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar, sehingga anak autisme hidup dalam dunianya sendiri. Autisme tidak termasuk ke dalam
gangguan perkembangan yang sifatnya luas dan kompleks, mencakup aspek interaksi sosial, kognisi, bahasa dan motorik
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Autisme
Istilah Autisme baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner. Autisme berasal dari kata auto yang berarti menyendiri, maka kita akan mendapat kesan bahwa individu autisme itu seolah-olah hidup di dunianya sendiri. Jadi, autisme merupakan suatu gangguan
perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, kognisi, dan aktivitas imajinasi. Indonesia mengenal masalah autisme sejak tahun 1977.
Gejala autisme mulai tampak sebelum anak berusia berusia tiga tahun. Bahkan pada autisme infatil gejalanya sudah ada sejak lahir. Seseorang baru dapat dikatakan termasuk kategori Autisme, bila ia memiliki hambatan perkembangan dalam tiga sapek yaitu kualitas kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, minat yang terbatas disertai
gerakan-gerakan tanpa tujuan. Gejala tersebut harus sudah terlihat sebelum usia tiga tahun. Mengingat bahwa tiga aspek tersebut terwujud dalam bentuk yang berbeda, maka dapat disimpulkan bahwa autisme merupakan sekumpulan gejala klinis yang dilatar belakangi oleh berbagai faktor yang sangat bervariasi, berkaitan satu sama lain dan unik karena tidak sama untuk masing-masing kasus.
3.2 Penyebab dari Autisme
1. Ibu yang dingin
ciri-ciri autisme. Teori tersebut tidak memberi gambaran secara pasti, sehingga hal ini mengakibatkan penanganan yang diberikan kurang tepat bahkan tidak jarang berlawanan dan berakibat kurang
menguntungan bagi pekembangan individu autisme.
2. Lingkungan
Faktor lain penyebab autisme pada anak adalah lingkungan. Ibu hamil yang tinggal di lingkungan kurang baik dan penuh tekanan, tentunya berisiko pada janin yang dikandungnya. Selain itu lingkungan yang tidak bersih juga dapat mempengaruhi perkembangan janin dalam
kandungan.
3. Genetik
Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik. Penyakit genetic yang sering dihubungkan dengan autisme adalah Tuberous Sclerosis (17-58%) dan syndrome fragile X (20-30%). Disebut Fragile-X karena secara sito genetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti patahan di ujung akhir lengan panjang kromosom X 4. Sindrom fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosom X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya karena tidak bisa digolongkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier).
4. Usia orangtua
Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010
menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen
memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.
“Memang belum diketahui dengan pasti hubungan usia orangtua dengan autisme. Namun, hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen,” kata Alycia Halladay, Direktur Riset Studi Lingkungan Autismem Speaks.
5. Pestisida
Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi gen di sistem saraf pusat. Menurut Dr Alice Mao, profesor psikiatri, zat kimia dalam pestisida berdampak pada mereka yang punya bakat autisme.
Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidomide. Thalidomide adalah obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia. Obat thalidomide sendiri di Amerika sudah dilarang beredar karena banyaknya laporan bayi yang lahir cacat. Namun, obat ini kini diresepkan untuk mengatasi gangguan kulit dan terapi kanker. Sementara itu, valproic acid adalah obat yang dipakai untuk penderita gangguan mood dan bipolar disorder.
7. Perkembangan otak
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autisme.
3.3 Ciri-ciri Autisme
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalamkehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan oranglain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca
inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan
atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) jug a dapat ditemukan.Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malahsangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normalmungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yangterbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
a. Komunikasi
1. Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
2. Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah bicara tapi kemudian sirna.
3. Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
4. Mengoceh tanpa arti berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain.
5. Bicara tidak dipakai untuk alat komunikasi. STIKOM SURABAYA 13 6. Senang meniru atau membeo (echolalia).
7. Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya.
8. Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.
9. Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.
b. Interaksi Sosial
1. Penyandang autistik lebih suka menyendiri.
2. Tidak ada atau sedikit kontak mata atau menghindari untuk bertatapan.
3. Tidak tertarik untuk bermain bersama teman. 4. Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh.
c. Gangguan Sensoris
1. Sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk. 2. Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
3. Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda. 4. Tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.
d. Pola Bermain
1. Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya. 2. Tidak suka bermain dengan anak sebayanya. 3. Tidak kreatif, tidak imajinatif.
6. Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.
e. Perilaku
1. Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (defcit). 2. Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakan tangan, berputar-putar dan melakukan gerakan yang berulang-ulang.
3. Tidak suka pada perubahan.
4. Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong.
f. Emosi
1. Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.
2. Tempertantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang tidak diberikan keinginannya.
3. Kadang suka menyerang dan merusak.
4. Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri. 5. Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain. Namun gejala tersebut diatas tidak harus ada pada setiap anak
penyandang autisme. Pada anak penyandang autisme berat mungkin hampir semua gejala ada tapi pada kelompok yang ringan mungkin hanya terdapat sebagian saja (Suryana, 2004: 22).
3.4 Gangguan Psikologis Autisme
Menurut Wenar (1994) autisme berkembang pada 30 bulan
pertama dalam hidup, saat dimensi dasar dari keterkaitan antar manusia dibangun, karenanya periode perkembangan yang dibahas akan dibagi menjadi masa infant dan toddler dan masa prasekolah dan kanak-kanak tengah.
1. Masa infant dan toddler
Hubungan dengan care giver merupakan pusat dari masa ini. Pada kasus autisme sejumlah faktor berhubungan untuk membedakan perkembangannya dengan perkembangan anak normal.
No. Faktor
Pembeda Perkembangan Normal Anak Autis
1. Pola tatapan
mata mampu Usia 6 bulan sudah tersenyum terhadap ibunya, tapi tidak disertai dengan simultan dan berganti vokal yang menjadi
Negativisme permintaan. Jika permintaan tersebut sesuai dengan
kapasitas intelektual mereka, mereka dapat
merespon secara pantas saat mereka dalam lingkungan
yang terstruktur dan
dapat diprediksi.
Anak autis memiliki sifat negativistik
secara berlebihan
2. Masa prasekolah dan kanak-kanak
a. Faktor afektif-motivasional
Motivasi untuk menjadi partisipan aktif yang kuat pada anak normal, lemah pada anak autis. Anak autis kurang tertarik dengan teman sebayanya. Anak autis kurang dalam empati, yaitu proses dimana seseorang berespon secara afektif terhadap orang lain seperti mereka mengalami affect
yang sama dengan orang tersebut.
b. Reciprocity
Pada anak autis, ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara penuh dalam interkasi sosial resiprokal yang sesuai umur dapat bertahan seumur hidup mereka.
1) Kesulitan penerimaan
Mereka sulit mengenali wajah atau suara dari foto atau rekaman suara, mungkin karena kesulitan kognitif dalam memproses stimulus sosial yang kompleks. Anak autis
situasi dan affect. Orang merasa senang saat pesta ulang tahun, sedih saat jatuh.
2) Kesulitan ekspresif
Mereka kurang dalam hal malu, afeksi dan bersalah yang biasanya muncul pada anak normal usia 2-3 tahun. Mereka juga mengalami kekurangan dalam ekspresi wajah,
miskinnya gesture tubuh dan kurangnya modulasi dalam aspek ekspresif dari suara yang memberikan kesan kaku.
3.5 Makanan yang Baik dikonsumsi untuk
Autisme
Makanan yang baik untuk dikonsumsi oleh
anak autis adalah
makanan yang tidak
mengandung :
•Gluten
Gluten adalah protein yang terkandung dalam gandum, barley dan tepung terigu. Kelompok advokasi autisme bernama Talk About Curing Autism (TACA) merekomendasikan orangtua dengan anak autis untuk membaca label makanan dengan hati-hati dan menghindari asupan gluten.
Karena gluten banyak mengandung vitamin dan serat, menerapkan pola makan anti gluten akan memerlukan panduan ketat dari ahli gizi dan dokter agar anak autis tetap mendapat nutrisi yang cukup.
Gluten biasanya terdapat pada: pizza, pastry, biskuit, beberapa produk sereal dan produk-produk lainnya yang dibuat dengan menggunakan terigu, roti dan makanan yang berbahan dasar dari tepung terigu, gandum, barley, pasta dan mie, rey dan oats.
•Kasein
sapi, susu kambing, susu domba dan bahkan ASI. Kasein sama seperti gluten, diduga mempengaruhi proses metabolisme pada individu autis.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung kasein bisa menyebabkan gejala sulit berkomunikasi dan sulit melakukan kontak sosial. Menghindari asupan kasein dari makanan harus dilakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi berharga seperti kalsium dan vitamin C.
Casein biasanya terdapat pada produk susu beserta turunannya seperti: beberapa margarin, es krim, susu cokelat, biskuit dan beberapa produk olahan yang menggunakan susu), susu sapi baik bubuk maupun skim, mentega, susu kambing, keju, youghurt, whey (serum susu yang tersusun oleh Laktosa dan protein), dan caseinates.
•Kedelai
Kecap, tempe dan minyak kedelai adalah beberapa makanan yang mengandung kedelai. Beberapa makanan lain juga menggunakan kedelai sebagai bahan bakunya.
Penyandang autis untuk menghindari produk kedelai karena kedelai yang diproduksi di Amerika sering dimodifkasi secara genetik sehingga bisa menyebabkan alergi makanan. Bacalah label makanan dengan cermat dan waspada. Meskipun tidak ada penelitian yang dengan jelas menegaskan bahwa membatasi asupan kedelai dapat membantu meringankan gejala autisme.
Hindari juga makanan yang mengandung bahan tambahan pangan seperti MSG, bahan pengawet, pemanis buatan dan bahan pewarna/penambah cita rasa buatan), mengandung ragi (roti, vinegar, keju, kecap dan produk fermentasi lainnya) serta gula, dan makanan penyebab alergi dan/atau intoleransi (susu sapi, telur).