INTERELASI PETANI DAN WIRAUSAHAWAN MELALUI KONSEP
SOCIAL-AGROPRENEURSHIP : UPAYA INTENSIFIKASI TANAH WAKAF
UNTUK SWASEMBADA PANGAN INDONESIA
Penulis : Mohammad Zeqi Yasin
Ekonomi Pembangunan – Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga
Pertumbuhan ekonomi islam di Indonesia memang terjadi cukup pesat. Hal ini terlihat pada implementasi ekonomi islam melalui sektor keuangan syariah terutama perbankan syariahnya yang pada tahun 2010 memiliki pertumbuhan lebih dari 30 persendan trend pembentukannya mengalami peningkatan (Grafik 1). Implementasi sektor keuangan tersebut sektor penting yang ada di Indonesia mengingat outputnya merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara agraris, selain karena tingginya demand terhadap produk pertanian, tetapi juga luas lahannya yang besar.
Adanya paradigma negara agraris pada Indonesia terlihat dari luas lahan pertanian di Indonesia yang mencapai 7,5 juta hektar pada tahun 20121. Selain itu,
adanya kontribusi sektor pertanian di dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2013 mencapai 14 persen2 juga merupakan aspek pendudukung sektor
pertanian sebagai salah satu leading sector setelah sektor Industri. Pertanian menjadi sektor vital yang ada di Indonesia memang bukan tanpa alasan. Sebab, pertanian menjadi tumpuan pemenuhan hajat hidup orang banyak. Selain itu, sektor pertanian juga menjadi salah satu indikator suatu negara dapat dikatakan sejahtera atau tidak3.
Namun, timbul permasalahan ketika pada kenyataanya dari sekian banyak potensi yang dimiliki Indonesia di sektor pertanian belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Adanya harapan sektor pertanian mampu meningkatkan
kemaslahatan umat pun masih
dipertanyakan. Pesimistis kemampuan sektor pertanian tersebut terlihat pada data yang menunjukkan bahwa (Grafik 2) sekitar 60 ribu hektar luas lahan pertanian terkonversi menjadi fungsi lain seperti perumahan dan pertokoan4. Selain itu, kebutuhan sektor pertanian yang tidak hanya
terbatas pada beras saja apabila dibandingkan dengan negara-negara lain berdasarkan Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) tentu akan kalah5, misalnya Thailand dan Filiphina. Kenyataan bahwa tenaga kerja Indonesia di sektor pertanian masih didominasi unskilled labour juga merupakan additional problem yang ada di sektor pertanian6.
Adanya evidence yang secara krusial terjadi pada sektor pertanian di Indonesia terutama keterbatasan lahan yang menuntut pemerintah untuk bertindak taktis terutama dalam rangka ketahanan pangan. Adanya upaya tersebut mengingat faktor produksi
Grafik 2 : Luas Lahan Pertanian Tahun 2009-2012
1 Badan Pusat Statistik, 2013
2 Pusat Data Pertanian, 2013
3 Kementerian Riset dan Teknologi dalam Buku Putih Pangan Indonesia 2005-2025
4 Badan Pusat Statistik, 2013
5 Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Indonesia pada Tahun 2011 adalah 103,01 persen (BPS, 2011)
lahan menjadi sangat vital mengingat adanya karakteristik faktor produksi lahan yang kuantitasnya tetap, tetapi tingkat perubahan fungsionalnya tinggi. Selain faktor produksi lahan, rendahnya kualitas dan inovasi ouput yang dihasilkan petani juga perlu diperhatikan mengingat kualitas output yang tinggi akan menjadi guarantee bagi masyarakat untuk mengalokasikan lahannya di sektor pertanian. Sehingga dengan adanya kualitas dan inovasi output yang tinggi akan meningkatkan capital inflow berupa alokasi lahan dari masyarakat karena dirasa sektor pertanian cukup profitable.
Berdasarkan sekian harapan tersebut, diperlukan suatu fasilitas yang mampu menampung alokasi lahan masyarakat untuk sektor pertanian hingga menghasilkan multiplier effect yang tinggi dan kemaslahatan umat untuk mencapai ketahanan pangan dengan tetap berapa pada koridor-koridor Islam (tanpa spekulasi dan unsur-unsur yang tidak diperbolehkan dalam Islam). Fasilitas tersebut adalah salah satu instrumen yang telah diterapkan oleh pemerintah dalam upaya peningkatan kemaslahatan umat yakni wakaf. Wakaf yang merupakan salah satu instrumen ZISWAF telah tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Sehingga dengan adanya piranti hokum di dalam wakaf, pada pengalokasi lahan akan semakin percaya untuk mewakafkan tanahnya.
agropreneurship. Social-entrepeneurship yang merupakan usaha revitaliasi sosial melalui kewirausahaan7. Sedangkan konsep agropreneurship merupakan upaya wirausaha di bidang pertanian8. Sehingga dari pengertian tersebut dapat diintegrasikan suatu konsep Social-agropreneurship yakni konsep
wirausaha pertanian dalam upaya peningkatan kualitas output pertanian dalam upaya ketahanan pangan untuk mencapai kemaslahatan seluruh umat. Berbeda dengan konsep Socio-entrepreneurship yang masih murni pada perspektif sosial saja, konsep Social-entrepreneurship juga mempertimbangkan perspektif ekonomi (gambar 1). Konsep ini sangat sesuai dengan keadaan pertanian di Indonesia saat ini yang outputnya masih low quality dan low innovation. Sehingga dengan adanya konsep ini yang dipadukan dengan ketersediaan lahan dari wakaf untuk kegiatan produktif diharapkan akan semakin mengintensifkan masyarakat untuk melalukan wakaf lahannya di sektor pertanian.
Gambar 1 : Perbedaan Social-entrepreneurship dan
Socio-entrepreneurship
8 Santosa, 2007
Framework dari konsep Social-agropreneurship berbasis wakaf adalah di bawah ini.
Berdasarkan framework diatas, diawali dari adanya karakteristik petani yang didominasi oleh unskilled labour dan memiliki tingkat inovasi yang rendah terhadap produk pertanian yang dihasilkannya, sehingga output yang dihasilkannya tidak memiliki value added dan capital multiplier yang tinggi . Di pihak lain, ada wirausahawan yang memiliki karakteristik kreatif dan inovatif dalam melakukan kegiatan produksi sehingga dalam menghasilkan produknya value added dan capital multipliernya lebih tinggi. Sedangkan dari sisi faktor produksi lahannya, terdapat tanah yang berasal dari tanah wakaf yang sudah ada. Namun dapat timbul pertanyaan dari orang yang mewakafkan (wakif) apakah tanah wakaf tersebut dapat termanfaatkan secara penuh dan dapat dirasakan oleh banyak orang, sedangkan kenyataan bahwa apabila tanah diwakafkan untuk pertanian, keadaan pertanian masih low innovation
Gambar 2 : Framework Konsep Social-agropreneurship Berbasis Wakaf
sehingga tidak memiliki value added yang tinggi bagi masyarakat. Untuk itulah, diperlukan peran wirausahawan untuk memiliki link and match dengan para petani untuk mampu memberikan teknik-teknik dalam berwirausaha di bidang pertanian, bukan semata-mata untuk mencari keuntungan tetapi kembali ke konsep Social-agropreneurship yang memang selain mempertimbangkan aspek ekonomi (sebagai seorang wirausahawan biasa), tetapi juga melakukan pembenahan pada berbagai aspek di dalam pertanian Indonesia seperti melakukan pelatihan kewirausahaan agar petani mampu memproduksi hasil pertanian lebih inovatif dan melakukan teknik-teknik pemasaran yang tepat agar hasil pertaniannya dapat terjual dengan tinggi. Selain itu, wirausahawan yang ada juga dapat berwirausaha di sektor pertanian sebagai contoh bagi petani untuk terjun di dunia agropreneurship.
Sehingga dengan adanya peran wirausahawan tersebut, diharapkan para wakif semakin percaya dengan alokasi lahannya untuk lahan pertanian akan menghasilkan kemaslahatan selain bagi petani, tetapi juga bagi konsumen hasil pertanian (karena konsumen mendapatkan banyak sekali variasi produk hasil pertanian yang lebih berkualitas). Sehingga pada tujuan jangka panjangnya, dengan adanya peningkatan alokasi lahan wakaf pada sektor pertanian berarti akan ada peningkatan hasil pertanian plus peningkatan kualitas pertaninan yang berarti pada jangka panjang akan menjadikan pertanian Indonesia mampu untuk swasembada pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2012. Data Pertanian Indonesia Tahun 2011. Jakarta : BPS
Kementerian Pertanian. 2014. Pusat Data Pertanian tahun 2013. Jakarta : Kementerian
…………..Pertanian
Naiem, Mohammad. 2015. KLHK Dukung UGM Rintis Sistem Pertanian Terpadu di ………Kawasan Hutan. www.mongabay.co.id. Diakses pada tanggal 20 Mei 2015
Ruauw, Eyverson. 2013. Nilai Tukar Petani sebagai Indikator Kesejahteraan Petani. …………..ASE-Vol 6 No 2 Mei 2010 : hal. 1-8
Wiguna, Atu Bagus dan Mauzilati, Asfi. 2014. Social Entrepreneurship and Socio-………….entrepreneurship : A Study with Economic and Social Perspective. Procedia
………...– Social and Behavioral Science 115 (2014) hal. 12-18. Malang-Indonesia :
………...ScienceDirect
___________. 2006. Buku Putih Pangan Indonesia 2005-2025. Jakarta : Kemenristek