• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MAKALAH PERBANDINGAN HUKUM TATA NE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS MAKALAH PERBANDINGAN HUKUM TATA NE"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MAKALAH

PERBANDINGAN HUKUM TATA NEGARA Tentang

KOREA

Oleh Ferry Kurniawan

1112011139

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

Pendahuluan

A. Latar belakang

Negara Korea mempunyai sejarah yang panjang dalam perkembangan kehidupan bernegara mereka, mulai dari masa kerajaan sampai pada masa dinasti Choson, dimana pada saat itulah masa Korea memasuki era modern. Hingga perjuangan kemerdekaan dari penjajahan Jepang sampai masa pendudukan Uni Soviet dan Amerika di Korea. Hal itu membawa pengaruh besar kepada perkembangan ketatanegaraan Korea bahkan sampai saat ini. Hingga Korea terbagi menjadi dua wilayah di utara dan selatan.1

Korea, secara adat termasuk dalam lingkaran kebudayaan Cina, pada abad ke 19 berada dibawah peraturan Dinasti Chosen (1392-1910) dan masih dibawah jajahan Cina. Setelah Cina di kalahkan oleh Jepang dalam perang pada tahun 1890, Korea berada dibawah kendali Jepang dan akhirnya dijajah oleh Jepang pada 1910. Hukum Kolonial Jepang yang sangat otoriter berlanjut sampai pada akhir Perang Dunia II, ketika pada saat itu Korea terbagi kedalam dua wilayah dibawah pengaruh Uni Soviet dan Amerika secara berturut-turut. Pada tahun 1948, Republik Demokratik Rakyat Korea didirikan di Korea Utara dan Republik Korea di Korea Selatan. Lalu perkembangan konsitusi di kedua Korea akan di bahas secara terpisah.

B. Rumusan masalah

Melihat dari latar belakang yang dijelaskan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dari makalah ini adalah:

1. Bagaimana sejarah perkembangan konstitusi di Korea Selatan dan Korea Utara? 2. Bagaimana konstruksi negara dan pembagian kekuasaan dari Korea Selatan dan

Korea Utara?

3. Bagaimana mengenai kekuasaan kehakiman yang di jalankan di Korea Selatan dan Korea Utara?

Beberapa hal diatas adalah hal-hal yang menjadi batasan dalam bagian pembahasan selanjutnya.

1 Young Ick Lew and The Korea Society, The Brief History of Korea, New york, 2000, hal:

(3)

Pembahasan

A. Sejarah Perkembangan Konstitusi di Korea

1. Korea Selatan2

Meskipun sistem hukum Korea Selatan sebagian besar dari warisan Jepang dan mengikuti tradisi hukum perdata Kontinental, konstitusi Amerika juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Konstitusi Korea Selatan. Konstitusi pertama Republik Korea ditetapkan pada Juni 1948. Sumber pengaruh Konstitusi itu tidak hanya dari Konstitusi Amerika tapi juga dari Konstitusi Republik Weimar sebelum perang Jerman, dan konstitusi Republik Cina. Konstitusi itu di sediakan untuk suatu model konstitusi barat yang menganut demokrasi liberal.

Setelah undang-undang resmi di umumkan Majelis Nasional, dalam pemilihan umum yang pertama, di Korea Selatan, pada Mei 1948, terpilihlah Dr.Syngman Rhee sebagai presiden pertama. Selama perang Korea pada tahun 1950, Rhee mengajukan amandemen undang-undang untuk merubah cara pemilihan presiden yang sebelumnya yang dipilih oleh Majelis Nasional, menjadi pemilihan langsung oleh masyarakat. Perubahan itu mula-mula tidak di dukung oleh Majelis Nasional. Pada Mei 1952, Rhee menyatakan perang pada Pusan, ibukota sementara pada masa perang, dan memperluas kekuasaannya dibawah keadaan perang untuk memberikan tekanan kepada Majelis Nasional, dan hasilnya, perubahan undang-undang yang ia ajukan sebelumnya di terima pada Juli 1952. Segera setelah itu, pada tahun 1954, Rhee mengajukan amandemen undang-undang kedua, dengan meminta pengecualian tentang masa jabatan presiden yang selama dua periode, dengan membiarkan presiden republik yang pertama menjabat, bekerja untuk masa periode yang tidak terbatas. Pada 1955, Rhee kembali terpilih pada periode ketiga. Begitupun pada tahun 1960, Rhee kembali terpilih sebagai presiden pada periode ke empat.

2 Albert H. Y. Chen, “Pathways of Western liberal constitutional development in Asia: A comparative study of

(4)

Kali ini hasil pemilihan tidak di terima oleh sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa pemilihan tersebut dilakukan dengan kecurangan. Demonstrasi mahasiswa memaksa polisi melakukan serangan ke kerumunan di Seoul pada 19 April 1960.

Pada hari yang sama, presiden menyatakan perang dan memanggil pasukan. Tapi demonstrasi dan kekacauan berlanjut, dan Rhee terpaksa mengundurkan diri pada tanggal 26 April. Peristiwa itu dikenal sebagai “Righteous Student Uprising of 19 April” (Pemberontakan Mahasiswa Budiman 19 April).

Setelah pengunduran Rhee, pemerintahan sementara di bentuk, dan Majelis Nasional yang ada mengajukan amandemen undang-undang pada Juni 1960, yang mengganti sistem parlemen menjadi sistem presidensial. Majelis Nasional yang kedua pasca pemerintahan Rhee terpilih pada Juli 1960. Konstitusi demokrasi liberal pada masa yang kedua ini tidak bertahan lama. Pemerintahan yang baru ternyata tidak efektif. Kondisi ekonomi yang buruk mengakibatan terjadinya demonstrasi hampir setiap harinya. Komunisme dan unsur-unsur radikal terlihat mulai menimbulkan pengaruhnya.

Sebuah usaha untuk merebut kekuasaan di lakukan oleh Jenderal Park Chung-hee pada Mei 1961. Keadaan perang dinyatakan di seluruh negeri. Dewan Tertinggi Pembangunan Nasional menetapkan untuk mengambil alih kekuasaan pemerintah dari Majelis Nasional yang telah hancur. Pada bulan Juni, Dewan menetapkan Undang-undang Darurat Pembangunan Nasional yang mengesampingkan Konstitusi. Pada bulan Desember, amandemen konstitusi kembali mengajukan sistem presidensial, yang di terima referendum nasional. Pemilihan presiden diadakan pada Oktober 1963, di bawah konstitusi 1962, dan Park terpilih sebagai Presiden Republik. Pada 1967, Park kembali terpilih sebagai presiden pada periode kedua, dan pada 1969, ia mengajukan amandemen undang-undang, yang diterima oleh Majelis Nasional (disamping partai oposisi) dan dari suara pemilih terbanyak, yang dimana memberikan kewenangan kepada presiden yang menjabat untuk memerintah selama tiga periode. Pada 1971, Park kembali terpilih untuk ketiga kalinya, yang sedikit mengalahkan lawan kandidatnya, Kim Dae-jung.

(5)

perekonomian dan pengambil alihan tanah. Presiden Park mengambil suatu langkah drastis ke arah otoriterisme pada 1972.

Pada 17 Oktober pernyataan perang di dinyatakan untuk sekuruh negeri. Perkumpulan dan demonstrasi di hentikan, aktifitas pers di hentikan, Majelis Nasional pun hancur (oleh kekuatan undang-undang tambahan), dan aktifitas partai politik di hentikan. Park mengklaim bahwa tindakannya semata-mata adalah suatu kebutuhan untuk membuka sistem baru yang akan memfasilitasi dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara untuk persatuan.

Pada tanggal 21 November 1972, dengan negara yang masih dalam keadaan perang, sebuah konstitusi baru diakui dalam sebuah pemungutan suara secara umum. Ini di kenal dengan Konstitusi Yushin (pembaharuan), dan itu mempunyai arti dalam memperkenalkan corak demokrasi Korea. Pada bulan Desember, Park terpilih sebagai Presiden untuk keempat kalinya dalam National Conference of Unification (Konferensi Penggabungan Nasional) yang di tetapkan di bawah Konstitusi 1972 ( konstitusi yang disahkan oleh aturan otoriter). Korea Selatan telah memasuki “masa gelap” dalam konstitusi.

Konstitusi 1972 memperluas kekuasaan darurat presiden, dan dengan cepat menetapkan undang-undang darurat hak konstitusional. Pada republik yang keempat pada 1972, kekuasaan di gunakan secara ekstensif untuk memperlihatkan tindakan pergerakan untuk amandemen konstitusi atau untuk liberalisasi dan demokratisasi. Sistem Yushin kembali dijalankan oleh musyawarah nasional pada 1975, dan Park terpilih kembali sebagai presiden melalui NCU pada tahun 1976.

(6)

Pada Agustus 1980, NCU memilih Chun sebagai presiden. Sebuah konstitusi yang baru tidak seperti konstitusi Yushin, secara relatif dalam orientasi demokrasi liberal, dan telah diterima dengan suara terbanyak pada Oktober 1980. Pada Februari 1981, Chun terpilih sebagai presiden dalam republik kelima oleh golongan terpilih untuk memilih presiden sesuai dengan konstitusi baru. Pergerakan demokrasi di Korea Selatan berlanjut selama pemerintahan Chun untuk menuntut pemilihan langsung presiden oleh rakyat. Pergerakan tersebut meningkat sampai terjadinya demonstrasi dalam skala yang besar pada tahun 1987. Pada tanggal 29 juni pada tahun tersebut, Roh Tae-woo, suksesor Chun, memilih untuk konsiliasi dibanding memberikan tekanan, dan melalui persetujuan bersama antara pemerintah dan oposisi, sebuah undang-undang baru di hasilkan dan di terima oleh Majelis Nsaional pada tanggal 1 Oktober, dan pada kesepakatan bersama pada tanggal 25 Oktober 1987. Undang-undang ini menetapkan pemilihan langsung presiden dan menetapkan peradilan konstitusi. Undang-undang ini berlaku sampai sekarang.

(7)

Salah satu sejarawan modern Korea menulis :

“demokrasi bukanlah pemberian atau suatu rezim politik yang lahir secara bersamaan, tapi sesuatu yang harus di perjuangkan dalam setiap cara, dalam setiap masyarakat. Dalam pengertian ini, perjuangan Korea sudah sangat kronis, yang mungkin tidak ada negara yang berjasa dalam demokrasi sampai saat ini di banding Korea Selatan.

2. Korea Utara3

Dalam perbedaan yang tajam pada masa kegemparan, dimana Korea Selatan telah usai, sebagai perjuangan antara kekuatan diktator dan demokrasi, rezim komunis totaliter di korea utara rupanya menikmati keberhasilannya di bidang politik dan stabilisasi konstitusi. Sejak Republik Demokratik Rakyat Korea di didirikan pada tahun 1948, Korea Utara berada dibawah kekuasaan Kim Il-sung (yang menjabat sampai kematiannya pada 1994), dan di lanjutkan oleh putranya Kim Jong-il. Ini menunjukkan bahwa legitimasi keberlanjutan posisi di dasarkan pada keturunan, dibandingkan dengan karakter ideologi personal. Selanjutnya pokok utama dari Konstitusi pertama 1948 Korea Utara dan konstitusi 1972 serta amandemennya akan dipaparkan dengan singkat.

Undang-undang 1948 sebagian besar di pengaruhi dari Konstitusi Uni Soviet Stalin tahun 1936. Dikatakan bahwa Stalin sendiri yang mengedit naskah aslinya. Konstitusi tersebut mengikuti sistem politik Soviet dengan kekuasaan tertingginya yang tetap dalam Majelis Rakyat Tertinggi. Dalam prakteknya, kekuasaan telah di monopoli oleh partai komunis ( di korea di kenal dengan Partai Buruh Korea) dan pemimpin tertingginya. Itu telah di tunjukkan bahwa pemilihan telah di kuasai satu partai yang menjadi kandidat.

Kekuasaan eksekutif berada pada kabinet dan perdana menteri. Ada ketentuan mengenai hak dan kewajiban rakyat. Sepanjang keprihatinan dalam bidang ekonomi, undang-undang 1948 di gunakan pada tahun 1954,1955 dan 1962. Pada tahun 1972, undang-undang baru telah di buat. Dimana undang-undang 1948 di kenal dengan nama “Undang-undang rakyat demokratis”, lebih mencerminkan prinsip “Rakyat Demokratis” di banding dengan sosialis.

3 Albert H. Y. Chen, “Pathways of Western liberal constitutional development in Asia: A comparative study of

(8)

Sedangkan undang-undang 1972 di kenal dengan “undang-undang Sosialis Republik Demokratik Rakyat Korea”.

Undang-undang 1972 di amandemen pada tahun 1992, dan secara lebih ekstensif pada tahun 1998 seteleh Kim Il-sung meninggal pada tahun 1994, dan yang terakhir ini pada tahun 2009. Mungkin ini sebagai jawaban atas kehancuran komunisme di uni soviet dan eropa timur, undang-undang yang di amandemen tahun 1992 tidak lagi dihubungkan dengan ide Juche dengan Marxism-Leninism; para pendiri yang terlebih dahulu sekarang berdiri atas ideologi arahan Republik Demokratik Rakyat Korea. Amandemen 1992 juga memodifikasi ketentuan ekonomi pada undang-undang 1972 untuk membuka ruang bagi investasi luar negeri.

Undang-undang yang di amandemen pada tahun 1998 menyatakan bahwa “Kim Il-sung yang secara sah mewujudkan ideologi Juche sebagai konstruksi ideologi negara dan pencapaiannya.” Kantor kepresidenan ditiadakan dan institusi pemerintahan tinggi di kembalikan pada posisi yang sebelumnya saat undang-undang 1972 di tetapkan. Pembukaan undang-undang menunjukkan bahwa Kim Il-sung sebagai “presiden republik abadi “ dan menyatakan bahwa masyarakat Korea akan mempertahankan dan memajukan ide mereka dan melengkapi revolusi Juche di bawah kepemimpinan Partai Buruh Korea. Undang-undang yang di amandemen menunjukkan bahwa Republik Demokratik Rakya Korea akan membawa pengaruh pada segala aktifitas di bawah kepemimpinan Partai Buruh Korea. Pada bagian ekonomi, amandemen undang-undang memperluas hak milik tanah secara khusus dan mengijinkan masyarakat untuk menyewa dengan luas tertentu dalam aktifitas perekonomian.

(9)

B. Konstruksi Negara Korea

1. Konstruksi Negara Korea Selatan

Korea Selatan memiliki bentuk negara Republik. Susunan negara dari Korea Selatan adalah negara kesatuan, yang dimana hanya ada satu pemerintahan yang mempunyai kekuasaan dan wewenang tertinggi dalam melaksanakan pemerintahan. Sistem pemerintahan Korea Selatan menggunakan sistem presidensial dengan demokrasi liberal, dimana keputusan dalam setiap urusan di musyawarahkan oleh Majelis Nasional dan diambil dengan suara terbanyak.

Kekuasaan legislatif di pegang oleh Majelis Nasional, sebuah lembaga legislatif dengan sistem unikameral. Majelis terdiri dari 300 anggota dalam masa 4 tahun jabatan. Dengan 300 anggota, 246 anggota anggota dipilih melalui pemilihan daerah, sementara 54 anggota lagi memperoleh kursinya melalui sistem perwakilan yang dalam setiap kursi di isi oleh partai yang memperoleh 3 persen atau lebih dari penghitungan suara yang sah, ataupun dalam pemilihan di daerah dengan 5 persen atau lebih dari perngitungan suara. 4

Majelis Nasional

Untuk memenuhi syarat dalam pemilihan, seorang kandidat harus berusia 25 tahun. Satu kandidat dari setiap daerah pemilihan dipilih melalui suara terbanyak. Seorang anggota Majelis tidak bertanggung jawab atas kegiatan di luar Majelis. Selama periode berjalan, tidak ada anggota Majelis yang bisa ditangkap atau ditahan tanpa pengecualian dari Majelis Nasional pada kasus kriminal. Dalam hal penangkapan atau penahanan seorang anggota majelis, sebelum dibukanya persidangan, anggota tersebut harus di bebaskan selama persidangan dengan permohonan dari Majelis.

Dua jenis sidang legislatif terdiri dari : sidang biasa dan sidang khusus. Sidang biasa diadakan setahun sekali dari September sampai Desember, dan sidang khusus bisa diadakan dengan saran dari presiden atau usul dari seperempat atau lebih dari anggota Majelis. Periode sidang biasa terbatas sampai 100 hari dan 30 hari untuk sidang khusus. Jika Presiden meminta untuk diadakan sidang khusus, ia harus menetapkan waktu persidangan dengan jelas, dan alasan kenapa sidang itu diadakan.

(10)

Majelis Nasional ditetapkan dengan beberapa fungsi dibawah undang-undang, yang paling terutama yaitu dalam pembuatan undang-undang. Fungsi lain dari Majelis termasuk untuk menyetujui anggaran belanja, hal-hal mengenai kebijakan luar negeri, pernyataan perang, penempatan pasukaan di luar negeri atau di dalam negeri, dan pemeriksaan atau penyelidikan mengenai permasalahan negara.

Presiden Republik Korea dipilih oleh suara terbanyak dari pemilihan umum dan sebagai pemimpin tertinggi lembaga eksekutif.5 Presiden menjabat selama lima tahun, dengan tidak ada penambahan masa jabatan. Penetapan sekali masa jabatan ini adalah sebuah usaha perlindungan untuk mencegah adanya tindakan suatu individu dalam memegang kekuasaan pemerintahan dengan perpanjangan masa kekuasaan. Dalam hal ketidakmampuan Presiden atau kematian presiden, perdana mentri atau anggota kabinet akan menggantikan presiden sementara sambil menunggu keputusan hukum.

Dibawah sistem politik yang berlaku, presiden menjalankan lima tugas utama. Tugas utama itu adalah sebagai berikut:

Pertama, presiden sebagai kepala negara, sebagai lambang dan perwakilan negeri, dalam sistem pemerintahan dan hubungan luar negeri. Presiden menerima diplomat luar negeri, hibah, tanda kehormatan dan penghargaan lain. Presiden mempunyai tugas untuk menjaga kedaulatan, batas teritorial dan menjaga konstitusi, serta tambahan tugas dalam perdamaian penggabungan Korea.

Kedua, Presiden adalah pimpinan administrasi dan merancang undang-undang bersama legislatif saat ada permasalahan dan membuat keputusan untuk menjalankan undang-undang. Presiden memiliki kekuatan penuh secara langsung kepada kabinet, dan berbagai macam laporan organisasi serta para agen eksekutif. Presiden yang mengesahkan untuk menentukan pejabat publik, termasuk perdana menteri dan kepala agen eksekuif.

Ketiga, presiden adalah panglima tertinggi dari angkatan bersenjata. Presiden memiliki wewenang yang luas dalam keputusan kebijakan militer, termasuk kekuassaan untuk menyatakan perang.

(11)

Keempat, presiden adalah diplomat negara tertinggi dan pembuat kebijakan luaar negeri. Presiden juga memberi kuasa atau mengutus utusan diplomatik dan menandatangani perjanjian dengan luar negeri.

Yang terakhir, presiden adalah kepala pembuat kebijakan dan kunci dari pembuatan hukum. Presiden tidak bisa membubarkan Majelis Nasional, namun majelis bisa meminta pertanggung jawaban presiden pada Konstitusi dengan proses panggilan untuk pertangung jawaban.

2. Konstruksi Negara Korea Utara

Bentuk negara dari Korea Utara adalah republik sosialis, dengan kekuasaan eksekutif di pegang oleh presiden dan perdana menteri. Sementara kekuasaan legislatif oleh Majelis Tertinggi. Korea utara adalah negara sosialis merdeka yang mewakili segala kepentingan masyarakat Korea. Republik ini menganut ideologi Juche yang berorientasi sosialis.6

Sistem sosialis Republik ini adalah sistem sosialis yang terpusat yang dimana masa buruh adalah sebagai pemegang kekuasaannya. Sesuai dengan sistem sosialis alami, pemerintah republik menjaga dan melindungi kepentingan pekerja, petani dan para intelektual serta semua pekerja yang menjadi warga negara dan masyarakat, bebas dari eksploitasi dan penindasan.

Itu menjadi asas yang terutama bagi pemerintah republik untuk mencapai kedaulatan penuh dari sosialisme di Korea utara, dengan memperkuat kekuatan rakyat. Dan dengan penuh semangat menjalankan revolusi ideologis, teknologi dan kebudayaan serta penggabungan kembali negara atas dasar kemerdekaan dan persatuan kembali, dengan damai dan kesatuan nasional.

Dibawah kekuasaan partai buruh, korea menetapkan pemimpin utama mereka Kim Il-jung sebagai presiden republik abadi

Pembagian kekuasaan legislatif terdiri dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat yaitu majelis rakyat tertinggi. Pemerintah daerah yaitu majelis rakyat pada

(12)

setiap tatarannya. Majelis rakyat tertinggi adalah kekuasaan tertinggi dari republik. Lembaga ini memegang posisi tertinggi dan otoritas dalam republik, dalam menjalankan kekuasaan legislatif. Lembaga ini juga mempunyai hak untuk mengatur kepentingan lembaga negara.

Majelis rakyat adalah lembaga kekuasaaan daerah dan tebagi dalam majelis rakyat provinsi (atau kota dibawah yurisdiksi langsung), majelis rakyat kota (atau distrik) dan majelis rakyat wilayah kabupaten.

Pada lembaga administratif, terdiri dari lembaga administratif pusat dan lembaga administratif daerah. Lembaga administrasi pusat adalah kabinet dan lembaga administratif daerah adalah komite masyarakat daerah pada tatarannya. Sebagai lembaga pelaksana administratif, kabinet mengeluarkan undang-undang, dekrit, keputusan, dan perintah, dan memberikan petunjuk nasional.

Sedangkan lembaga administrasi daerah terdiri dari Komite rakyat provinsi (atau kota yang dibawah yursdiksi langsung), Komite rakyat kota (atau distrik) dan Komite rakyat kabupaten. Semua itu adalah bagina dari badan eksekutif administratif.

C. Kekuasaan Kehakiman di Korea

1. Kekuasaan Kehakiman di Korea Selatan7

Peradilan Korea Selatan terdiri dari mahkamah agung, pengadilan tinggi, pengadilan wilayah, dan pengadilan administrarif. Pengadilan menjalankan yurisdiksi mengenai keperdataan, pidana, administratif, pemilu dan hal-hal yurisdiksi lainnya, dan juga pengawasan tanah sampai tahap registrasi tanah, kependudukan, finansial dan pengadilan negeri.

Mahkamah agung adalah kekuasaan kehakiman tertinggi. Mahkamah agung mengurusi peradilan pada tingkat banding dari pengadilan di bawahnya. Ketua mahkamah agung diangkat oleh Presiden atas persetujuan dari Majelis Nasional. Hakim yang lain diangkat oleh Presiden atas rekomendasi dari Ketua Mahkamah Agung. Masa jabatan Ketua Mahkamah Agung menjabat selama 6 tahun, dan itu tidak dapat di perbaharui. Ketua Mahkamah Agung harus pensiun dari jabatannya pada umur 70 tahun. Untuk hakim yang lainnya memiliki masa

(13)

jabatan selama 6 tahun. Meskipun mereak bisa di angkat kembali berdasarkan ketentuan hukum, mereka harus pensiun dari jabatannya pada umur 65 tahun.

Pengadilan tinggi menangani hal hal mengenai kasus keperdataan, pidana dan kasus administratif pada tingkat banding dari pengadilan tingkat wilayah dan pengadilan administratif.

Pengadilan wilayah bertempat di Seoul dan 13 kota lainnya: Incheon, Uijeongbu, Suwon, Chuncheon, Daejeon, Cheongju, Daegu, Busan, Changwon, Ulsan, Gwangju, Jeonju dan Jeju. Pengadilan Administratif menangani permasalahan mengenai administrasi saja. Pengadilan wilayah diluar Seoul juga memiliki fungsi pengadilan administratif dalam wilayah mereka.

2. Kekuasan kehakiman di Korea Utara

Di Korea Utara, lembaga yudikatif terdiri dari lembaga kejaksaan dan peradilan. Lembaga kejaksaan di Korea Utara adalah lembaga pengawas negara dalam hal ketaatan dan eksekusi dalam hukum sosialis. Sistem ini memiliki lembaga yang terletak pada provinsi(atau kota dibawah kekuasaan yurisdiksi) kota(atau distrik) kantor kejaksaan di kabupaten dan kantor kejaksaan khusus.

(14)

Penutup

Korea terbagi atas Korea Utara dan Korea Selatan pada tahun 1948. Masing-masign negara memiliki ideologi tersendiri dan dasar tersendiri dalam konstitusi. Karena pengaruh dai Cina dan Uni soviet, Korea Utara menganut ideologi Sosialis sedangkan Korea Selatan dengan pengaruhnya dari Jepang dan Amerika menganut sistem demokrasi liberal. Perbedaan yang jelas terlihat dari dua Negara yang dahulunya bersatu ini. Perbedaan ini juga membawa pengaruh kepada sistem pemerintahan yang mereka anut, pembagian kekuasaan, penegakan Ham, dan kekuasaan kehakiman yang dijalankan.

Korea Selatan memiliki bentuk negara Republik. Susunan negara dari Korea Selatan adalah negara kesatuan, yang dimana hanya ada satu pemerintahan yang mempunyai kekuasaan dan wewenang tertinggi dalam melaksanakan pemerintahan. Sistem pemerintahan Korea Selatan menggunakan sistem presidensial dengan demokrasi liberal, dimana keputusan dalam setiap urusan di musyawarahkan oleh Majelis Nasional dan diambil dengan suara terbanyak. Kekuasaan legislatif di pegang oleh Majelis Nasional, sebuah lembaga legislatif dengan sistem unikameral.

Bentuk negara dari Korea Utara adalah republik sosialis, dengan kekuasaan eksekutif di pegang oleh presiden dan perdana menteri. Sementara kekuasaan legislatif oleh Majelis Tertinggi. Korea utara adalah negara sosialis merdeka yang mewakili segala kepentingan masyarakat Korea. Republik ini menganut ideologi Juche yang berorientasi sosialis. Sistem sosialis Republik ini adalah sistem sosialis yang terpusat yang dimana masa buruh adalah sebagai pemegang kekuasaannya.

(15)

Daftar Pustaka

Albert H. Y. Chen, “Pathways of Western liberal constitutional development in Asia: A

comparative study of five major nations”, Oxford University Press and New York University

School of Law, The Author,2010

Young Ick Lew and The Korea Society, The Brief History of Korea, New york, 2000

Official website:

http://www.korea-dpr.com

(16)

Referensi

Dokumen terkait