MANAJEMEN KURIKULUM STANDAR
NASIONAL PENDIDIKAN
Disusun Oleh:
ANDRES SAPUTRA (171011500002)
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAMULANG
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan nasional diIndonesia tentu saja bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni pancasila. Sebagai implikasi dari nilai-nilai filsafat pancasila yang dianut bangsa Indonesia, dicerminkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti terdapat dalam UU.no 20 tahun 2003, yaitu: Pendidikan nasional berdasarkan pancasila danUundang Undang dasar Negara Republik Indonesia.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membetuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, caka, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(pasal 2 dan 3).
Menurut Tyler (1946), Taba (1963) Tanner dan Tanner (1984) menyatakan tuntutan masyrakat adalah salah satu dasar dalam pengembangan kurikulum. Calhoun, Light, dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosial pendidikan, yaitu: (1)
mengajar keterampilan, (2) mentrasmisikan budaya, (3) menodrong adaptasi lingkungan, (4) membentuk kedisiplinan, (5) mendorong bekerja kelompok, (6) meningkatkan perilaku etik, dan (7) memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kehidupan peserta didik, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tnap menggunkan landasan yang kokoh dan kuat.
Robert S. Zais (1976) mengemukakan empat landasan pengembangan kurkulum, yaitu: philosophy and the nature of knowledge,society and culture, the individual, and learning theory. Dengan berpedoman pada empat landasan tersebut, maka dinuat model yang disebut “an ccletic model of the curriculum and its foundation”
2
landasan psikologi, landasan sosiologis, dan landasan ilmu pengetahuan, dan teknologi (IPTEK).
B. Ruang Lingkup Kajian
Dalam makalah ini saya akan mengkaji tentang definisi, ruang lingkup, fungsi,
tujuan, manfaat manajemen kurikulum sesuai dengan standar nasional pendidikan, dan standar nasional pendidikan tentang manajemen kurikulum serta implikasi standar
nasional pendidikan terhadap manajemen kurikulum.
C. Tujuan
Makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca mengetahui:
a. Mengetahui hakikat manajemen kurikulum sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan?
b. Mengetahui Standar Nasional Pendidikan tentang Manajemen Kurikulum?
3 II. PEMBAHASAN
A. Hakikat Manajemen Kurikulum Sesuai Standar Pendidikan Nasional1 1. Pengertian Manajemen.
Asal usul istilah manajemen (management) berasal dari kata manus (bahasa Latin) yang berarti tangan. Sedangkan dalam bahasa Perancis berasal dari kata maneggeo, berarti pengurusan. Di indonesia, manajemen seringkali diterjemahkan dengan kepemimpinan, ketatalaksanaan dan pengurusan. Manajemen adalah segenap perbuatan menggerakkan sekelompok orang dan mengerahkan fasilitas dalam suatu usaha kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu
2. Pengertian kurikulum.
Menurut undang-undang no 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
3. Pengertian manajemen kurikulum.
Manajemen kurikulum adalah sebagai suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Dalam pelaksanaannya, manajemen kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan konteks Mananjemen Berbasis Sekolah (MBS) dan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Oleh karena itu, otonomi yang diberikan pada lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengelola kurikulum secara mandiri dengan memprioritaskan kebutuhan dan ketercapaian sasaran dalam visi dan misi lembaga pendidikan atau sekolah tidak mengabaikan kebijaksanaan yang telah ditetapkan.
1
Modul Profesi Keguruan Pertemuan 12 Tentang Manajemen Pendidikan. 2
Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional 3
4
Hubungan sekolah dengan masyarakat perlu dikelola secara produktif agar
masyarakat merasa memiliki sekolah. Sehingga terbentuk siinerjik antara sekolah dengan masyarakat untuk mewujudkan program-program sekolah. Dengan demikian keterlibakan masyarakat dalam manajemen kurikulum dimaksudkan agar dapat dipahami, membantu dan mengontrol implementasi kurikulum, mendesain kurikulum, menentukan prioritas kurikulum, melaksanakan pembelajaran, menilai kurikulum, mengendalikan serta melaporkan sumber dan hasil kurikulum baik kepada masyrakat maupun pada pemerintah.
4. Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan kurikulum. Pada tingkat sekolah kegiatan kurikulum lebih mengutamakan untuk merealisasikan dan merelevansikan antara kurikulum nasional (standar kompetensi/ kompetensi dasar) dengan kebutuhan daerah dan kondisi sekolah yang bersangkutan, sehingga kurikulum tersebut merupakan kurikulu2m yang integritas dengan peserta didik maupun dengan lingkungan.
5. Fungsi manajemen kurikulum
Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum untuk
memberikan hasil kurikulum yang lebih efektif, efisien dan optimal dalam memperdayakan berbagai sumber maupun kompenen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari manajemen kurikulum diantaranya;
a. Meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun kompenen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
b. Meningkatkan keadilan ( equity) dan kesempatan pada siswas untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peseta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi
5
juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola seacara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
c. Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
d. Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, dengan pengolaan kurikulum yang profesional, efektif dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktifitas siswa dalam belajar.
e. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Di samping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efesien, karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
f. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara profesional akan melibatkan masyarakat khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dan kebutuhan pembangunan daerah setempat.
6. Tujuan Manajemen Kurikulum.
6
a. Kurikulum sebagai suatu ide, adalah kurikulum yang dihasilkan melalui
teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
b. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, adalah sebagai sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai ide yang diwujudkan dalam bentuk dokumen,yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
c. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, dan dilakukan dalam bentuk praktek pembelajaran.
d. Kurikulum sebagai suatu hasil, merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.
7. Manfaat Manajemen Kurikulum.
a. Manfaat bagi guru
Sebelum memulai bekerja sudah ada pedoman sehingga guru dapat “siap materi” sebelum mengajar ada koordinasi kerja antara guru sehingga
masing-masing guru tahu hak dan kewajiban dikelas dan harus berada di
suatu kelas. Guru tahu kapan tidak bertugas sehingga dapat merencanakan kegiatan yang lain.
b. Manfaat bagi siswa
Siswa tahu dengan pasti waktu-waktu memperoleh sesuatu pelajaran sehingga dapat menyiapkan diri. Siswa harus tau akan hak dan kewajiban untuk diajar oleh siapa dan harus bagaimana.
7
Memudahkan pengawasan dan koordinasi yang lain. Dapat diketahui beban
seorang guru secara jelas.
B. Standar Nasional Pendidikan tentang Manajemen Kurikulum.
Standar nasional pendidikan tentang kurikulum diatur dalam UU No.20 Tahun
2003 pasal 36, 37 dan 38 diantaranya berbunyi sebagai berikut:
Pasal 36
1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Kurikulum pada semua jenjang, dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diverifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
3. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. Peningkatan iman dan taqwa.
b. Peningkatan akhlak mulia.
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik.
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan.
e. Tuntunan pembangunan darah dan nasional.
f. Tuntutan dunia kerja.
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
h. Agama.
i. Dinamika perkembangan global, dan
8
4. Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur llebih lanjut dengan peraturan peemerintah.
Pasal 37
1. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
a. Pendidikan agama;
b. Pendidikan kewarganegaraan;
c. Bahasa;
d. Matematika;
e. Ilmu pengetahuan alam;
f. Ilmu pengetahuan sosial;
g. Seni dan budaya;
h. Pendidikan jasmani dan olahraga;
i. Keterampilan/kejuruan; dan
j. Muatan lokal;
2. Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat:
a. Pendidikan agama;
b. Pendidikan kewarganegaraan; dan.
c. Bahasa;
9
Pasal 38
1. Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan propinsi untuk pendidikan menengah.
3. Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.
4. Kerangka dasar d3an struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.
10
C. Implikasi Standar Nasinal Pendidikan terhadap Manajemen Kurikulum
Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah bagaimana menyampaikan pesan-pesan kurikulum kepada peserta didik untuk membentuk kompetensi mereka sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing. Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dapat didefinisikan sebagai
suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interakasi dengan lingkungan.
Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikukum tertuliis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan Miller dan Seller (1985:3) bahwa: “in some cases
implementation has been identified with intruction...”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa implementasi kurikulum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Ditemukannya juga bahwa implementasi kurikulum merupakan proses interaksi antara fasilitator sebagai pengembang kurikulum, dan peserta didik sebagai subjek belajar.
Sementara itu, Saylor (1981:227) mengatakan bahwa “Intruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving teaching in
the sense of student, teacher interaction in an educational setting”.
Memahami uraian diatas, dapat dikemukakan bahwa implementasi kurikulum adalah operasional konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, implementasi kurikulum
merupakan hasil terjemahan guru terhadap kurikulum (SK-SD) yang dijabarrkan ke dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai rencana tertulis.
Implementasi kurikulum setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor berikut.
11
b. Strategi implementasi; yaitu digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, loka karya, penyyediaan buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong pengguna kurikulum dilapangan.
12 III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan kurikulum. Pada tingkat sekolah kegiatan kurikulum lebih mengutamakan untuk merealisasikan dan merelevansikan antara kurikulum nasional (standar kompetensi/ kompetensi dasar) dengan kebutuhan daerah dan kondisi sekolah yang bersangkutan, sehingga kurikulum tersebut merupakan
kurikulum yang integritas dengan peserta didik maupun dengan lingkungan.
Implementasi kurikulum setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor berikut.
a. Karakteristik kurikulum; yang mencangkup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasannya bagi pengguna dilapangan.
b. Strategi implementasi; yaitu digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, loka karya, penyyediaan buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong pengguna kurikulum dilapangan.
13 B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannyya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
14
IV. DAFTAR PUSTAKA
1. Febriziki, Suhartama. 2013.Manajemen Kurikulum Atau Pengajaran.Diambil dari: http://suhartama.blogspot.com/2013/09/manajemen-kurikulum-atau-pengajaran.html?m=1 (29 Juni 2018)
2. Kementerian Pendidikan Replublik Indonesia, Undang-undang Replublik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS & Peraturan Pemerintah RI Tahun 2003 Tentang Standar Nasional Pendidikan serta Wajib Belajar. Bandung: Citra Umbara.
3. Modul profesi keguruan S1 pendiidikan pancasila dan kewarganegaraan.
4. Mulyasa E. 2009 Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru Dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Akasara.
5. Perdana, Andrian. 2014.Tujuan Manajemen Kurikulum.Diambil dari: http://googleweblight.com/i?=http://tugassekolahdankuliah.blogspot.com/2014/1 2/tujuan-tujuan-manajemen-kurikulum.html?m%3D1&hl=ID (27 Juni 2018)
6. Sudarsah, Asep dan Diding Nurdin.2017.Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
7. Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2017.