• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH DS 1 CASE 1 TUTOR 2 2017.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH DS 1 CASE 1 TUTOR 2 2017.pdf"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

Dr. Erna K. Komaruddin, drg., Sp. Pros. MAKALAH

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah DS-1 kasus 1 Oleh

TUTOR 2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR

2017

Tami Muthia Naifah 160110150080 Stephanie Adiguna S. 160110150091 Nadiya Sudiyasari 160110150102

Regin Avivah 160110150113

Arif Zulhazmi 160110150124

Fitricia Febrividya 160110150146 Jeahani Trisya O. 160110150157 Zahra Milatania 160110150002

Kurniasari Vanessa S. 160110150013 Sartika Florenti S. 160110150024 Dena Fadhilah M. 160110150035 Clara Desideria 160110150047 Firsa Antika P. 160110150058

(2)

i

KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kasus Iatrogenik Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Tuan Abdul ” untuk memenuhi tugas mata kuliah DS-1 pada semester empat ini di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Jatinangor.

Penulis (Kelompok Tutorial 2) banyak mendapat uluran tangan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil dalam benruk motivasi, bimbingan, bahan referensi, dan fasilitas lainnya dalam menyusun dan menyelesikan makalah ini.

Oleh karena itu, penulis hendak mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Koordinator Program Studi DS-1 Sarjana Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, drg. Diani Prisinda, MARS, Sp. KG.

2. Dosen pembina utama, Dr. Erna K. Komaruddin, drg., Sp. Pros.

3. Dosen wali, beberapa dokter gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Unpad

4. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT. membalas dan melimpahkan berkah dan rahmat-Nya atas segala jasa dan bantuan yang telah diberikan dengan tulus dan ikhlas kepada penulis.

(3)

penulis bertanggung jawab penuh atas segala isi yang terkandung di dalam makalah ini.

Semoga makalah ini dapat menjadi suatu karya yang bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan bagi yang membacanya, serta bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedoktern gigi.

Jatinangor, 23 April 2017

(4)

iii DAFTAR ISI

KASUS IATROGENIK GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN TUAN ABDUL

... 1

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB 1 ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Overview Kasus ... 1

1.2 Tabel 7 Jumps ... 1

1.3 Mekanisme ... 1

1.4 Learning Issues ... 1

BAB 2 ... 6

TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Kegoyangan Gigi ... 6

2.2 Trauma Oklusi ... 8

2.2.1 Tekanan Oklusal... 9

2.2.2 Klasifikasi ... 9

2.2.3 Akibat Trauma Oklusi pada Jaringan Periodontal ... 11

(5)

2.2.5 Tanda/Gejala Objektif ... 11

2.2.6 Treatment ... 12

2.3 Penyakit Periodontal ... 12

2.3.1 Peridontitis Apikalis ... 12

2.3.2 Periodontitis Kronis ... 14

2.4 Gigi Tiruan Lepasan ... 19

2.4.1 Macam-Macam Gigi Tiruan Lepasan Secara Umum... 20

2.4.2 Fungsi Gigi Tiruan Lepasan ... 20

2.4.3 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Gigi Tiruan Lepasan ... 22

2.4.4 Indikasi Pembuatan GTL ... 23

2.4.5 Jenis Gigi Tiruan ... 23

2.4.6 Komponen yang Perlu Diperhatikan dalam Pembuatan Gigi Tiruan 30 2.5 Gigi Penyangga ... 42

2.6 Radiografi untuk Kasus ... 44

2.6.1 Fungsi Rdiografi ... 44

2.6.2 Gambaran Radiografi pada Gigi Normal ... 45

2.6.3 Gambaran Radiograf pada Jaringan Periodontal yang Sehat ... 52

2.6.4 Gambaran Radiografi yang Biasa Ada pada Tulang Alveolar ... 52

(6)

2.8 Gigi Tiruan yang Baik ... 62

2.9 Mekanisme Gigi Sandaran Terungkit ... 62

2.10 Perawatan Kegoyangan Gigi ... 65

2.10.1 Trauma Oklusi Primer ... 65

2.10.2 Trauma Oklusi Sekunder... 68

2.11 Obat Analgesik yang Diberikan ... 69

2.11.1 NSAID ... 69

2.11.2 Asam Mefenamat ... 75

2.12 Perbaikan Gigi Tiruan ... 79

2.12.1 Relining and Rebasing ... 80

2.12.2 Relining ... 82

2.12.3 Rebasing ... 84

2.13 Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan ... 86

2.13.1 Jenis Gigi Tiruan yang Sesuai ... 86

2.13.2 Prinsip Desain GTSL ... 86

2.13.3 Resin Sintetik ... 87

2.13.4 Resin Akrilik ... 89

2.13.5 Polimerisasi ... 92

2.13.6 Kopolimerisasi ... 101

(7)

2.13.8 Sifat Fisis Akrilik ... 104

BAB 3 ... 107

KESIMPULAN ... 107

(8)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Penyebab trauma oklusi ... 10

Gambar 2. 2 Trauma Oklusi dari restorasi ... 10

Gambar 2. 3 Trauma oklusi yang berasal dari protesa ... 10

Gambar 2. 4 Gambaran Radiografi Periodontitis Apikalis ... 13

Gambar 2. 5 Inflamasi akut, dengan pus yang keluar dari poket ... 19

Gambar 2. 6 Klasifikasi Kennedy ... 25

Gambar 2. 7 Klasifikasi Soelarko Kelas I Divisi I ... 26

Gambar 2. 8 Klasifikasi Soelarko Kelas I Divisi II ... 26

Gambar 2. 9 Klasifikasi Soelarko Kelas II Divisi I ... 26

Gambar 2. 10 Klasifikasi Soelarko Kelas II Divisi III ... 27

Gambar 2. 11 Klasifikasi Soelarko Kelas II Divisi II ... 27

Gambar 2. 12 Klasifikasi Soelarko Kelas II Divisi III ... 27

Gambar 2. 13 Klasifikasi Soelarko Kelas III Divisi III ... 28

Gambar 2. 14 Klasifikasi Soelarko Kelas III Divisi II ... 28

Gambar 2. 15 Modifikasi Klasifikasi ... 30

Gambar 2. 16 Gambar bagian bagian cengkram ... 34

Gambar 2. 17 Jarak Perifer tepi konektor utama rahang bawah ... 36

Gambar 2. 18 Jarak Perifer tepi konektor utama rahang atas ... 37

Gambar 2. 19 Batang Palatal tunggal ... 37

Gambar 2. 20 Plat palatal bentuk U ... 38

(9)

Gambar 2. 22 plat palatal penuh ... 39

Gambar 2. 23 Batang Lingual ... 40

Gambar 2. 24 Batang lingual ganda ... 40

Gambar 2. 25 Plat lingual ... 41

Gambar 2. 26 Batang labial ... 41

Gambar 2. 27 Konektor Minor ... 42

Gambar 2. 28 Dukungan GTSL ... 43

Gambar 2. 29 Gambaran radiolusen pada mahkota ... 45

Gambar 2. 30 Gambaran radiolusen pada mahkota dari mesial sampai mendekati pulpa ... 45

Gambar 2. 31 gambaran radiografi membran periodontal dalam batas normal .... 46

Gambar 2. 32 membran periodontal yang melebar ... 46

Gambar 2. 33 gambaran radiografi dari akar fraktur ... 47

Gambar 2. 34 gambaran radiografi lamina dura ... 47

Gambar 2. 35 Gambaran bayangan radioopak terlihat jelas di sepanjang tulang alveolar ... 48

Gambar 2. 36 Lamina dura menghilang ... 49

Gambar 2. 37 Gambaran furkasi dalam batas normal ... 49

Gambar 2. 38 Gambaran resorpsi tulang alveolar ... 50

Gambar 2. 39 Gambaran resorpsi tulang alveolar ... 50

Gambar 2. 40 Gambaran periapikal dalam batas normal ... 51

(10)

Gambar 2. 42 awat Sederhana Sebagai Pedoman Pembuatan GT (Sumber:

Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics)... 56

Gambar 2. 43 .Pesawat Sederhana Sebagai Pedoman Pembuatan GT (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics)... 56

Gambar 2. 44 Kelas-Kelas Ungkitan (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics) ... 57

Gambar 2. 45 Desain Gigi Tiruan yang Benar Pada Kasus Free-End (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics)... 58

Gambar 2. 46 Desain Gigi Tiruan yang Salah (Arah Cangkolan Distal-Mesial) Pada Kasus Free-End (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics) ... 58

Gambar 2. 47 Penerapan Teori Ungkitan dengan Rumus (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics) ... 59

Gambar 2. 48 Zona Netral (Sumber: google.co.id) ... 61

Gambar 2. 49 Zona Netral Sebagai Ruang Potensial (Sumber: google.co.id) ... 61

Gambar 2. 50 Spint Kawat ... 67

Gambar 2. 51 Splint Resin ... 67

Gambar 2. 52 Scaling and Root Planing ... 68

Gambar 2. 53 Biosintesis prostaglandin... 70

Gambar 2. 54 Gambar ikatan C15H15NO2 ... 76

Gambar 2. 55 Initiation (Sumber: Phillips’ Science of Dental Materials) ... 95

Gambar 2. 56 Propagation (Sumber: Phillips’ Science of Dental Materials) ... 96

(11)
(12)

1 belakang kiri dan kanan sejak satu bulan yang lalu. Gigi tersebut merupakan gigi penyangga gigi tiruan pasien. Selain itu, pasien juga mengeluh adanya kegoyangan pada gigi tiruan saat mengunyah sehingga pasien merasa tidak nyaman

Tutorial 1 Bagian 2

Tuan Abdul mengatakan bahwa gigi tiruan ini telah dipakainya sejak 4 tahun yang lalu dan baru sekitar satu bulan perasaan goyang dan sakit pada gigi penyangga dirasakan, begitu pula dengan rasa kesulitan dan tidak nyaman saat mengunyah.

 Kondisi umum : sehat

 Pemeriksaan ekstraoral : tidak ada abnormalitas

 Pemerisaan intaoral : kehilangan gigi 35,36,37,45,46 dan 47 dan gigi 44 serta 34 (gigi penyangga) mobility grade 2, gigi tiruan goyang free end mengganti gigi 35,36,37,45,46, dan 47

(13)

Tutorial 2 Skenario

(14)

1 1.2 Tabel 7 Jumps

Terminologi Problems Hypothesis Mechanism More info I don’t

know

 Gigi tersebut merupakan gigi penyangga gigi tiruan pasien  Adanya kegoyangan pada  Gigi tiruan goyang atau tidak

stabil

(15)

1 1.3 Mekanisme

1.4 Learning Issues

1) Apa itu kegoyangan gigi dan penyebabnya ?

2) Apa saja dan Bagaimana komponen gigi tiruan lepasan? 3) Bagaimana syarat gigi tiruan yang baik? (free end) 4) Apa saja klasifikasi kegoyangan gigi

5) Bagaimana klasifikasi kegoyangan gigi?

(16)

6) Bagaimana klasifikasi kehilangan gigi menurut Kennedy dan Soelarko?

7) Bagaimana syarat-syarat gigi sandaran ?

8) Bagaimana gigi tiruan dapat menyebabkan kerusakan jaringan periodontal?

9) Apa saja pemeriksaan subjektif dan objektif untuk kelainan jaringan periodontal?

10)Apa saja macam-macam kelainan jaringan periodontal?

11)Bagaimana interpretasi radiografi kelainan jaringan periodontal? 12)Apa itu iatrogenik?

13)Apa saja faktor keberhasilan gigi tiruan sebagian lepasan? 14)Apa itu trauma oklusi dan bagaimana klasifikasinya?

15)Apa obat yang diberikan untuk mengatasi gigi sandaran yang sakit dan goyang?

(17)

6 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kegoyangan Gigi

(Arif Z. 160110150124 & Sartika F. 160110150024)

Gigi goyang merupakan pergerakan gigi pada dataran vertical atau horizontal. Derajatnya tergantung pada ligament periodontal, area perlekatan akar, elastisitas prosesus alveolar dan fungsi masing-masing gigi. Gigi yang berakar tunggal umumnya lebih mudah goyang dibandingkan dengan gigi yang berakar 2 atau 3. Dalam keadaan normal, gigi juga memiliki derajat mobility. Mobility ini disebut sebagai mobility fisiologis, paling besar terjadi di pagi hari karena adanya peningkatan sewaktu tidur dan secara perlahan berkurang di siang hari setelah gigi menerima tekanan fungsional dari pengunyahan, penelanan, dan ketika berkontak dengan antagonisnya.

Tooth mobility ini terjadi dalam 2 tahapan :

1. Inisial atau tahap intersoket. Yakni pergerakan gigi yang masih dalam batas ligament periodontal. Hal ini berhubungan dengan distorsi viskoelastisitas ligament periodontal dan redistribusi cairan periodontal, isi interbundle dan fiber. Pergerakan inisial ini terjadi dengan tekanan sebesar 100 pon dan pergerakan yang terjadi sebesar 0,05-0,1 mm (50-100 mikron).

(18)

terjadi sebesar 100-200 mikron untuk insisivus, 50-90 mikron untuk kaninus, 8-10 mikron untuk premolar dan 40-80 mikron untuk molar.

Mobilitas dinilai sesuai dengan kemudahan dan luasnya pergerakan gigi, ada beberapa klasifikasi :

1. Normal

2. Grade 1 : Sedikit lebih besar dari normal 3. Grade 2 : Sekitar 1mm

4. Grade 3 : Lebih dari 1mm pada segala arah (fasiolingual/mesiodistal dengan kombinasi perpindahan vertikal)

Secara klinis, tooth mobility dapat dibedakan atas :

1. Reversible Mobility : Terjadi akibat tekanan yang abnormal atau inflamasi dan dapat berkurang atau dihilangkan dengan menyingkirkan factor penyebab.

2. Irreversible Mobility : Ditandai dengan berkurangnya dukungan periodeonsium. Derajatnya dapat dikurangi, tapi tidak dapat dihilangkan.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gigi goyang, yaitu karena kehamilan, status penyakit (lokal/sistemik), trauma, kebiasaan hiperfungsi dan hipofungsi. Namun ada dua faktor yang paling sering dianggap sebagai penyebab dari gigi goyang, yaitu :

1. Inflamasi yang disebabkan akumulasi plak

(19)

pendukung dan resorpsi tulang di sekitar gigi. Penangannya dengan cara, scalling, diberikan obat, dan terapi bedah.

2. Trauma karena oklusi

Cedera yang di hasilkan oleh tekanan oklusal yang berlebihan, atau karena kebiasan abnormal. Yang akan menyebabkan kerusakan terhadap perlekatan pada periodonsium karena melebihi kapasitas adaptif dan reparatifnya. Penanganannya dengan cara, penyelarasan oklusal, alat ortodonti, rekonstruksi oklusal, dan pemasangan splin dental.

2.2 Trauma Oklusi

(Kurniasari V. 160110150013 & Fitricia F. 160110150146)

Merupakan kerusakan jaringan periodonsum yang disebabkan oleh tekanan oklusi berlebih yang diterima oleh jaringan periodonsum.Dibedakan menjadi :

1. Trauma Oklusi Primer

Trauma oklusi yang terjadi pada jaringan periondontum normal. Perubahan bersifat reversible, dapat hilang bila penyebab oklusi trauma diperbaiki. Terjadi kegoyangan gigi, sakit, dan pelebaran ruang ligamen periodontal

2. Trauma Oklusi Sekunder

(20)

2.2.1 Tekanan Oklusal

1. Physiologically normal occlusal forces :

Tekanan kecil yang terjadi saat pengunyahan dan penelanan. Memelihara kondisi jaringan periodontal dan tulang alveolar tetap sehat dan berfungsi normal

2. Impact Forces :

Tekanan oklusal yang besar tetapi sebentar (berdurasi pendek) 3. Continuous Forces :

Tekanan ringan yang berlangsung secara terus menerus/kontinyu. 4. Jiggling Forces

Tekanan yang intermitten pada dua arah berbeda yang menghasilkan pelebaran tulang alveolar dan menyebabkan mobilitas gigi

2.2.2 Klasifikasi

1. Trauma Oklusi Akut

Kerusakan jaringan periodontal akibat menggigit benda keras dengan tidak sengaja

Symptom : sakit, sensitif terhadap perkusi, gigi goyang karena jejas pada

(21)

Gambar 2. 1 Penyebab trauma oklusi

2. Trauma Oklusi Kronik

Kerusakan jaringan periodontal akibat dari adanya daya abnormal yang berulang-ulang yang berasal dari restorasi, protesa, kebiasaan parafungsi, migrasi atau ekstrusi gigi

Gambar 2. 2 Trauma Oklusi dari restorasi

(22)

2.2.3 Akibat Trauma Oklusi pada Jaringan Periodontal 1. Gangguan peredaran darah

2. Thrombosis vaskuler ligament perio 3. Edema & hyalinisasi serat kolagen 4. Infiltrasi sel-sel radang

5. Pyknosis inti sel osteoblast, cementoblast, fibroblast 6. Dilatasi vaskuler

2.2.4 Tanda/Gejala Subjektif

1. Gigitan tidak beres atau tidak efektif 2. Gigi linu bila menggigit

3. Gigi memanjang atau kontak lebih dulu 4. Gigi & gusi gatal

5. Rahang atau otot kunyah sakit

6. Gigi sensitif terhadap rangsangan (pulpa) 7. Sendi rahang sakit, ada bunyi gemertak 8. Kebiasaan kerot-kerot (bruxism) 9. Gigi terasa goyang

10.Gigi berpindah tempat

11.Sukar buka mulut di pagi hari (trismus) 2.2.5 Tanda/Gejala Objektif

1. Gigi goyang (pasif), digerakan instrument 2. Gigi goyang (dinamik) diminta artikulasi 3. Migrasi (bodily movement)

4. Palpasi otot kunyah, hipertrofi

(23)

2.2.6 Treatment

1. Dibuatkan “lempeng gigitan” (night guard) 2. Dilakukakan “selective grinding”

3. Dibuatkan “splint”

4. Rekonstruksi Oklusal (Ortho, OD, Prosto) 2.3 Penyakit Periodontal

(Clara D. 160110150047)

Penyakit periodontal adlah suatu kondisi yang dimana dicirikan dengan adanya respon inflamasi inang pada jaringan periodontal yang bisa menimbulkan perubahan lokal atau general pada jaringan lunak di sekitar gigi, kehilangan tulang pendukung dan yang paling parah adalah kehilangan gigi.

Gejala periodontitis secara umum :

- Gusi bengkak dan berwarna merah atau keunguan

- Jika disentuh, gusi terasa lunak

- Mulut tidak enak dan napas menjadi bau

- Penyusutan gusi sehingga ukuran gigi terlihat lebiih tinggi dari biasanya

- Keluarnya nanah pada bagian yang membatasi gigi dan gusi

- Jarak antara satu gigi dan gigi lainnya terasa renggang

- Gigi tanggal

(24)

Periodontitis Apikalis merupakan infeksi yang terjadi pada saluran akar yang telah mencapai jaringan periapikal. Iritannya dapat berupa mediator inflamasi dari pulpa yang terinflamasi secara irreversibel atau toksin bakteri dari pulpa nekrotik, zat-zat kimia (desinfektan), restorasi yang berlebih, over instrumentasi, dan keluarnya materi obturasi ke jaringan periapikal. Menimbulkan rasa sakit pada saat mengigit, saat diperkusi dan palpasi. Jika merupakan perluasan pulpitis, maka akan memberikan respon terhadap tes vitalitas. Jika merupakan perluasan nekrosis pulpa, maka tidak akan memberikan respon. Gambaran radiografi dari periodontitis apikalis yaitu membran dan lamina dura menunjukkan tanda-tanda inflamasi, puncak tulang alveolar DBN (Dalam Batas Normal) atau terjadi resorbsi.

(25)

2.3.2 Periodontitis Kronis (Zahra M. 160110150002)

Periodontitis kronis merupakan penyakit periodontal yang paling umum. Periodontitis kronis berkembang secara lambat dan menjadi signifikan secara klinis pada dewasa tetapi dapat juga terjadi pada anak-anak. Periodontitis kronis didefinisikan sebagai suatu penyakit infeksius yang menyebabkan inflamasi pada jaringan pendukung gigi, kehilangan perlekatan yang progresif dan kehilangan tulang. Merokok dibuktikan dapat meningkatkan keparahan penyakit periodontal. Kerusakan jaringan periodontal pada pasien periodontitis kronis yang perokok ternyata meningkat. Sebagai hasil, perokok dengan periodontitis kronis mengalami lebih banyak kehilangan perlekatan dan tulang dan memiliki poket yang lebih dalam.

1. Faktor Etiologi

(26)

jumlah bakteri serta tanda-tanda penyakit seperti inflamasi, kedalaman probing yang meningkat dan kehilangan perlekatan.

Penelitian lain oleh van Winkelhoff dkk., telah membuktikan bahwa Actinobacillus actinomycetemcomitans (A. actinomycetemcomitans), Porphyromomnas gingivalis (P. gingivalis), Prevotella intermedia (P.

intermedia), Bacteroides forsythus (B. forsythus), Fusobacterium nucleatum (F.

nucleatum) dan Peptostreptococcus micros (P. micros) lebih prevalen secara signifikan dalam poket pasien periodontitis kronis dibanding dengan kontrol yang sehat.

Peneliti Bragd dkk. dan Slots dkk. telah mengatakan bahwa beberapa spesies bakteri mungkin berperan sebagai marker untuk penyakit karena bakteri tersebut sering dihubungkan dengan tanda klinis penyakit periodontal. Beberapa penelitian retrospektif yang mengaitkan jumlah spesies bakteri dengan perkembangan penyakit periodontal menunjukkan korelasi dengan jumlah P. gingivalis, P. intermedia dan A. actinomycetemcomitans dan mengusulkan bahwa tingkat bakteri ini mungkin mengindikasikan risiko terjadinya kerusakan periodontal di suatu daerah.

Penelitian yang sama dilakukan oleh Papanaou dkk. yang menunjukkan bahwa sebanyak 148 pasien dewasa yang berkebangsaan Cina berumur antara 30-59 dengan periodontitis kronis ditemukan peningkatan dalam spesies tertentu, terutama P. gingivalis , T. denticola, B. forsythus dan C. recta, di daerah terjadinya periodontitis yang progresif.

(27)

Etiologi utama penyakit periodontal adalah bakteri anaerob fakultatif gram negatif yang terdapat di dalam lapisan biofilm subgingiva. Bakteri ini mempunyai kemampuan untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan pejamu dalam memperbaiki jaringan yang rusak pada waktu yang bersamaan, bakteri ini akan memproduksi toksin yang akan menghancurkan epitel dan struktur periodontal.Bila organisme terpapar dengan serangan bakteri, hal tersebut akan memicu respon imun antara patogen bakteri dan pejamu. Bakteri tersebut akan menyebabkan pelepasan sitokin seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-αlpha (TNF-α), sehingga meningkatkan jumlah produksi polimorfonuklear leukosit.15 Leukosit adalah sel pertama yang akan melawan bakteri patogen yang menyerang jaringan periodontal. Pada tahap awal terjadinya periodontitis, terjadi peningkatan PMN yang sekaligus akan meningkatkan pengeluaran radikal bebas dalam proses fagositosis melawan infeksi. Pasien dengan penyakit periodontal mempunyai kadar PMN yang tinggi dan ROS yang berlebihan yang akan menyebabkan destruksi jaringan gingiva, ligamen periodontal dan tulang alveolar melalui berbagai cara termasuk merusak DNA dan merangsang pembentukan sitokin proinflamasi. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa keterlibatan ROS yang berlebihan berkaitan dengan kerusakan jaringan periodontal.

3. Gejala Klinis

Gambaran klinis penyakit periodontitis kronis adalah inflamasi gingiva dan perdarahan, pembentukan poket, mobiliti gigi, migrasi gigi, kehilangan tulang alveolar dan halitosis.

(28)

Walaupun inflamasi gingiva merupakan tanda yang penting dalam penyakit periodontitis, manifestasi dari inflamasi menjadi kurang nyata dengan perkembangan periodontitis. Biasanya gingiva berwarna pink, konturnya selalu normal, tidak akan ada perdarahan saat probing dilakukan dan pasien tidak ada keluhan perdarahan sewaktu menyikat gigi. Kehadiran dan keparahan inflamasi gingiva bergantung pada status oral hygiene pasien; sewaktu oral hygiene buruk, inflamasi gingiva terlihat nyata dan terjadinya perdarahan saat menyikat gigi, atau perdarahan secara spontan.

2) Pembentukan Poket

Pengukuran poket merupakan pemeriksaan yang penting sewaktu diagnosis periodontal tetapi harus diintepretasi bersama dengan inflamasi gingiva dan pembengkakan, dan bukti radiografi kehilangan tulang alveolar. Secara teoritis, jika tidak ada pembengkakan gingiva, suatu poket dengan kedalaman lebih dari 2 mmmengindikasi migrasi apikal dari epitel sulkular. 3) Mobiliti Gigi

Sebagian mobiliti gigi dalam dataran labiolingual boleh terjadi pada gigi sehat yang berakar satu, terutama insisivus bawah yang lebih mobil dibandingkan dengan gigi yang berakar banyak. Peningkatan mobiliti gigi disebabkan oleh:13

(1) Pelebaran ligamen periodontal dengan tidak adanya kehilangan tulang alveoalar atau jaringan pendukung lain

(29)

(3) Kehilangan tulang alveolar atau jaringan pendukung lain tanpa adanya pelebaran ligament periodontal

Mobiliti juga bisa bertambah setelah bedah periodontal dan pada saat hamil. Pada patogenesis periodontal, destruksi jaringan selalunya ditandai inflamasi dan trauma oklusal. Mobiliti yang disebabkan oleh inflamasi dan traumatik oklusi biasanya reversibel, tetapi mobiliti yang disebabkan oleh destruksi jaringan pendukung adalah irreversible.

4) Migrasi Gigi

Pergerakan gigi dari posisi asli dalam lengkung rahang merupakan gambaran dari penyakit periodontal. Posisi gigi yang sehat dipelihara oleh keseimbangan dari lidah, bibir, dan daya oklusal. Sewaktu jaringan pendukung hilang, daya-daya tersebut menentukan pola migrasi gigi. Gigi insisivus biasanya bermigrasi paling sering dalam arah labial, tetapi gigi dapat bergerak dalam semua arah atau mengalami ekstrusi.

5) Kehilangan Tulang Alveolar

Resorpsi tulang alveolar dan destruksi ligamen periodontal merupakan gambaran yang paling penting pada periodontitis kronis. Pemeriksaan radiografi adalah bagian yang penting sewaktu diagnosis periodontal, karena dapat diperoleh ketinggian tulang alveolar, bentuk destruksi tulang, lebar ruang ligamen periodontal dan densitas cancellous trabeculation. Tanda pertama radiografik dari destruksi periodontal adalah kehilangan densitas margin alveolar.

(30)

Metabolisme dari berbagai bakteri oral, terutama bakteri Gram-negatif anaerob dalam saliva, sewaktu bereaksi dengan substrat di dalam mulut, contohnya debris makanan dan plak, dapat menghasilkan campuran yang mengandung sulfur seperti hidrogen sulfida dan methylmercaptan yang mengeluarkan bau yang tidak menyenangkan dalam mulut dan ketika bernafas. Inflamasi akut, dengan pus yang keluar dari poket ketika diberi tekanan juga menyebabkan halitosis

Gambar 2. 5 Inflamasi akut, dengan pus yang keluar dari poket

2.4 Gigi Tiruan Lepasan (Tami M. 160110150080)

(31)

tertinggal dan terpilih sebagai pegangan. Sedangkan menurut The Glossary of Prosthodontic (2005), gigi tiruan lepasan adalah semua protesa yang menggantikan sebagian gigi atau pun keseluruhan gigi dalam satu lengkung gigi. Gigi tiruan lepasan dibuat untuk menggati gigi yang hilang atau ompong sebagian maupun seluruh gigi dalam mulut.

2.4.1 Macam-Macam Gigi Tiruan Lepasan Secara Umum

Gigi tiruan dibagi menjadi 2 macam yaitu gigi tiruan lengkap dan gigi tiruan sebagian. Gigi tiruan lengkap adalah restorasi yang dibuat untuk suatu perawatan bila satu atau kedua lengkung rahang suda tidak ada giginya lagi. Gigi tiruan sebagian adalah suatu perawatan untuk penggantian satu atau lebih, tetapi tidak semua gigi yang hilang dari satu atau dua lengkung gigi.

Gigi tiruan sebagian terbagi pula menjadi 2 yaitu gigi tiruan sebagian lepasan dan gigi tiruan sebagian cekat. Gigi tiruan sebagian lepasan adalah geligi tiruan yang menggantikan satu atau lebih, tetapi tidak semua gigi serta jaringaan sekitanya dan didukung oleh gigi asli yang tertinggal dan atau jaringan di bawahnya, serta dapat dikeluar masukkan ke dalam mulut oleh pemakainya. Gigi tiruan sebagian cekat merupakan geligi tiruan yang menggantikan satu atau lebih, tetapi tidak semua gigi serta jaringaan sekitanya dan didukung oleh gigi dan atau jaringan di bawahnya, yang tak dapat dilepas-lepas dari tempatnya oleh si pemakai.

(32)

Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya karena masalah estetik, baik yang disebabkan hilangnya, berubah bentuk, susunan, warna maupun berjejalnya gigi-geligi. Mereka yang kehilangan gigi depan biasanya memperlihakan wajah dengan bibir masuk ke dalam, sehingga wajah menjadi depresi pada dasar hidung dan dagu menjadi tampak lebih ke depan. Selain itu, timbul garis yang berjalan dari lateral sudut bibir dan lipatan-lipatan yang tidak sesuai dnegan usia penderita. Akibatnya, sulcus labio-nasalis menjadi lebih dalam.

2. Peningkatan fungsi bicara

Alat bicara dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, bagian yang bersifat statis, yaitu gigi, palatum tulang alveolar. Kedua, yang bersifat dinamis, yaitu lidah, bibir, vulva, tali suara dan mandbula. Prosedur terjadinya suara berawal dari laring, lidah, palatum, dan dibatu gigi-geligi sehingga akhirnya terbentuk suara. Rongga mulut dan sinus maksilaris dalam hal ini berfugnsi sebagai ruang resonansi.

Walapun pemakaian geligi tiruan mampu meningkatkan fungsi bicara, tetapi pemakaian geligi tiruan ini dapat mengakibatkan kelainan bicara. Kelainan seperti ini timbul pada penderita pemakai geligi tiruan yang pembuatannya kurang sempurna, atau karena si pemakai belum terbiasa dengan keadaan baru ini.

3. Perbaikan dan peningkatan fungsi pengunyahan

(33)

oleh geligi asli pada sisi lainnya. Dalam hal seperti ini, tekanan kunyah akan dipikul satu sisi atau bagian saja. Setelah pasien memakai protesa, ternyata ia merasa perbaikan. Perbaikan ini terjadi karena sekarang tekanan kunyah dapa disalurkan secara lebih merata ke seluruh bagian jaringan pendukung.

4. Pelestarian jaringan mulut yang masih tertinggal. 5. Pencegahan migrasi gigi

Migrasi gigi akibat gigi hilang dapat menyebabkan renggangnya gigi-gigi lain. Membiarkan ruang gigi begitu saja dapat menyebabkan overerupsi gigi antagonis, memudahkan akumulasi plak interdental yang dapat menjurus kepada perdanagn jaringan periodontal serta dekalsifikasi permukaan proksimal gigi.

6. Peningkatan distribusi beban kunyah

Hilangnya sejumlah besar gigi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal pada gigi yang masih tertinggal. Keadaan ini akan memperburuk kondisi periodontal, gigi menjadi goyang dan miring terutama ke labial untuk gigi depan atas, abrasi berlebih pada permukaan oklusal/insisial atau merusak restorasi yang dipakai apabila beban berlebih pada perlekatan periodontal gigi-gigi ini kuat, disfungsi otot-otot kunyah akibat pola kunya berubah,, overerupsi gigi.

2.4.3 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Gigi Tiruan Lepasan 1. Enak dipakai

2. Dapat berfungsi dengan baik 3. Estetik baik

4. Tidak menimbulkan gangguan, rasa sakit, kelainan, penyakit, atau gangguan apapun.

(34)

6. Cukup kuat/tahan lama 2.4.4 Indikasi Pembuatan GTL

Semua keadaan gigi, termasuk diastema, resorpsi tulang berlebih dan sebagainya, praktis dapat diganti dengan protesa sebagian lepasan.

1. Kehilangan gigi satu atau lebih

2. Gigi yang tertinggal dalam keadaan baik, dan memenuhi syarat digunakan sebagai pegangan

3. Keadaan prosessus alveolaris baik 4. Keadaan pasien baik

Dapat diketahui dengan cara melakukan pemeriksaan status umum, pemeriksaan extra oral.

5. Oral hygiene baik 2.4.5 Jenis Gigi Tiruan (Regin A. 160110150113)

1. Berdasarkan Jaringan Pendukungnya (Victor,1975) 1) Tooth supported

2) Mucosa supported

3) Mucosa and tooth supported 2. Berdasarkan Waktu Pemasangan

1) Immediate protesa

(35)

2) Conventional protesa

Conventional protesa adalah gigi tiruan yang dibuat setelah pencabutan dengan kondisi gusi yang telah mengalami penyembuhan. 3. Berdasarkan Bahan yang Digunakan (Itjiningsih,1980)

1)Frame and metal protesa 2)Akrilik protesa

3)Vulcanite protesa (karet yg dikeraskan sbagai basis, serta elemen gigi tiruan

4. Berdasarkan Kehilangan Gigi Menurut Kennedy (1925)

Klasifikasi ini dibuat oleh Dr. Edward Kennedy, pada tahun 1925. Kennedy mengklasifikasikan lengkung tak bergigi untuk dapat membantu pembuatan desain geligi tiruan sebagian lepasan. Rincian klasifikasi Kennedy: 1) Kelas I : daerah yang tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang

masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral)

2) Kleas II : daera yang tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapui berada hanya pada salah satu sisi rahang saja (unilateral).

3) Kelas III : daerah yang tak bergigi terletak diantara gigi-gigi yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya dan unilateral.

(36)

Gambar 2. 6 Klasifikasi Kennedy

5. Berdasarkan Kehilangan Gigi Menurut Soelarko

Soelarko adalah dokter gigi lulusan FKG Unpad. Klasifikasi ini membagi daerah tidak bergigi menjadi tiga daerah, yaitu:

1) Kelas I : daerah tak bergigi, berujung bebas. 2) Kelas II : daerah tak bergigi, berujung bebas. 3) Kelas III : kombinasi Kelas I dan Kelas II.

Pada klasifikasi ini, masing-masing kelas dibagi menjadi tiga divisi, yaitu:

(37)

2) Divisi II : daerah tak bergigi berada di dua sisi.

3) Divisi III : daerah tak bergigi berada di anterior, melewati garis median.

Gambar 2. 7 Klasifikasi Soelarko Kelas I Divisi I

Gambar 2. 8 Klasifikasi Soelarko Kelas I Divisi II

(38)

Gambar 2. 10 Klasifikasi Soelarko Kelas II Divisi III

Gambar 2. 11 Klasifikasi Soelarko Kelas II Divisi II

(39)

Gambar 2. 13 Klasifikasi Soelarko Kelas III Divisi III

Gambar 2. 14 Klasifikasi Soelarko Kelas III Divisi II

6. Berdasarkan Letak Sadel Appeglate-Kennedy 1) Kelas I

Daerah yang tidak bergigi sama dengan klasifikasi Kennedy. Keadaan ini sering dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi.

2) Kelas II

Daerah yang tidak bergigi sama dengan klasifikasi Kennedy Kelas II. Kelas ini sering tidak diperhatikan pasien.

(40)

Keadaan tidak bergigi paradentak dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu member dukungan kepada protesa secara keseluruhan

4) Kelas IV

Daerah tidak bergigi sama dengan Klasifikasi Kennedy Kelas IV. 5) Kelas V

Daerah tidak bergigi paradental dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan atau tak amampu menahan daya kunyah. Kasus seperti ini banyak dijumpai oada rahang atas, karena gigi kaninus yang dicabut karena malposisi atau terjadinya kecelakaan.

6) Kelas VI

Daerah tidak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangga asli data dipakai sebagai gigi penahan. Kasus seperti ini sering kali merupakan daerah tak bergigi yang terjadi untuk pertama kalinya dalam mulut.

Selain keenam kelas tersebut diatas, Klasifikasi Applegate-Kennedy mengenal juga modifikasi untuk daerah tak bergigi tambahan. Bila tambahan ini terletak di anterior, maka disebut Kelas…modifikasi A.

Pada penambahan yang terletak di posterior, disebut Kelas…. modifikasi P. Untuk penambahan ruangan yang lebih dari satu, di muka huruf petunjuk modifikasi diberi tambahan angka Arab sesuai jumlahnya.

(41)

Gambar 2. 15Modifikasi Klasifikasi

2.4.6 Komponen yang Perlu Diperhatikan dalam Pembuatan Gigi Tiruan (Fania F. 160110150069)

1. Basis/Landasan Gigi Tiruan

Basis geligi tiruan sering disebut juga dengan dasar atau sadel yang merupakan bagian yang menggantukan tulang alveolar yang sudah hilang dan berfungsi mendukung gigi tiruan. Adapun fungsi fungsi lainnya, yaitu : 1) Mendukung gugu (elemen) tiruan

2) Menyalurkan tekanan oklusal ke jaringan pendukung, gigi penyangga atau linggir sisa

3) Memenuhi faktor estetik

4) Memberikan stimulasi kepada jaringan yang berada dibawah dasar geligi tiruan

5) Memberkan retensi dan stabilisasi

Basis dapat digolongkan menjadi :

(42)

2) Basis dukungan jaringan atau kombinasi atau berujung bebas (free end)

Pada basis dukungan gigi, tekanan oklusal secara langsung disalurkan kepada geligi penyangga melalui kedua sandaran oklusal. Selain fungsi tadi, basis bersama-sama elemen tiruan berfungsi pula mencegah migrasi horizontal gigi tetangga serta migrasi vertikal gigi antagonis. Kasus dengan basis dukungan gigi ini jarang membutuhkan tindakan relining di kemudian hari. Sedangkan pada kasus berujung bebas, bagian basis yang berdekatan dengan gigi penyangga akan mendapatkan dukungan dari basis tersebut, sedangkan bagian yang jauh akan didukung dengan jaringan linggir sisa yang berada dibawah geligi tiruan. Dukungan jaringan ini penting, agar tekanan kunyah dapat disalurkan ke permukaan yang lebih luas, sehingga tekanan per satuan luas menjadi lebih kecil.

2. Retainer/Cengkram/Klamer/Cangkolan

(43)

Kemampuan menahan gaya ini diperoleh dengan satu atau berbagai cara, diantaranya :

1) Cengkram 2) Kaitan presisi

3) Gesekan (friksi), antara tepi geligi tiruan dengan gigi

4) Adhesi berupa ikatan antara basis dengan saliva dan saliva dengan mukosa, serta Kohesi yang berupa ikatan antara saliva dengan saliva itu sendiri

5) Tekanan atmosfir

6) Bagian basis yang melewati daerah gerong gigi

7) Bagian basis yang melewati daerah gerong jaringan lunak 8) Pembentukan tepi jaringan pada permukaan poles protesa 9) Gaya gravitasi

10)Retensi tak langsung

Cengkram

Cengkram sendiri dapat digolongkan berdasarkan beberapa pertimbangan berikut ini :

1) Menurut konstruksinya :

a. Cengkram tuang atau cor ( cast clasp ) b. Cengkram kawat ( wrought wirl clasp ) c. Cengkram kombinasi ( combination clasp ) 2) Menurut desainnya :

(44)

b. Cengkram batang

3) Menurut arah datangnya lengan : a. Cengkram oklusal

b. Cengkram gingival

Adapun prinsip yang harus diperhatikan dalam pembuatan cengkram, diantaranya:

1) Pemelukan, dimana cengkram harus memeluk permukaan gigi lebih dari 180ᵒ tetapi kurang dari 360ᵒ

2) Pengimbangan, dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bagian geligi tiruan untuk mengimbangi atau melawan gaya yang ditimbulkan oleh bagian-bagian lain.

3) Retensi, biasanya diberikan dengan lengan retentif, karena ujung lengan ini ditempatkan pada daerah gerong.

4) Stabilisasi, merupakan gaya untuk melawan pergerakan geligi tiruan dalam arah horizontal.

5) Dukungan, cengkram harus sanggup melawan gaya oklusal atau vertikal yang terjadi pada waktu berfungsi atau mastikasi.

6) Pasifitas. Lengan retentif pada daerah gerong harus bersifat pasif, sehingga tidak menekan gigi.

Bagian-bagian cengkram dan fungsinya:

(45)

1) Badan cengkram (body), terletak antara lengan dan sandaran oklusal 2) Lengan cengkram (arm), terdiri dari bahu dan terminal

 Lengan retentif berfungsi untuk :

a. Melawan pergerakan geligi tiruan ke arah vertikal

b. Menetralisasi gaya yang akan memiringkan gigi penyangga c. Stabilisasi protesa

3) Bahu cengkram (shoulder), bagian lengan yang berada di atas garis survei, biasanya tegar

4) Ujung lengan (terminal), bagian ujung lengan cengkram

5) Sangdaran (rest) , bagian yang bersandar pada permukaan oklusal/insisal gigi penahan

6) Konektor minor (minor connector), bagian yang menyatukan cengkram dengan krangka logam geligi tiruan

(46)

Sandaran merupakan bagian geligi tiruan yang bersandar pada permukaan gigi penyangga dan dibuat dengan tujuan memberikan dukungan vertikal pada protesa. Sandaran dapat ditempatkan pada permukaan oklusal premolar dan molar atau permukaan lingual gigi anterior. Supaya dapat berfungsi dengan efektif, sandaran harus ditempatkan pada permukaan gigi yang sengaja di preparasi.

Sandaran untuk gigi posterior dapat berupa sandaran oklusal, sandaran internal, sandaran onlay dan sandaran kail. Untuk gigi anterior, sandaran dapat berupa sandaran singulum, sandaran insisal, sandaran restorasi, dan bahu lingual sirkumferensial.

4. Konektor/Connector

(Nadiya Sudiyasari 160110150102) 1) Konektor Utama (Major Connector)

Konektor utama merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang menghubungkan bagian protesa yang terletak pada salah satu sisi rahang dengan yang ada pada sisi lainnya. Supaya dapat berfungsi dengan baik, bagian ini harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini :

a. Konektor harus tegar (rigid)

(47)

b. Lokasinya diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu pergerakan jaringan

Konektor harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu atau menyebabkan tergesernya mukosa dan gingiva. Pada bagian yang memiliki torus palatinus, sebaiknya konektor diberi rilif agar tidak terganggu pada saat dimasukkan dan di keluarkan.

c. Bagian Perifer konektor utama harus terletak cukup jauh dari tepi gingiva

Tepi batang lingual paling sedikit harus terpisah 3 mm dari tepi gingiva. Pada rahang atas, tepi konektor utama minimal 6 mm dan sebaiknya dibuat sejajar dengan lengkung gigi.

d. Kontur bagian perifer konektor harus dibentuk membulat dan tidak tajam

Hal ini bertujuan agar lidah atau pipi tidak terganggu.

(48)

Gambar 2. 18 Jarak Perifer tepi konektor utama rahang atas

(1) Konektor Utama Rahang Atas a. Batang Palatal Tunggal

Diletakkan pada bagian tengah palatum, konektor ini dapat diadaptasi penderita dengan baik, karena itu jarang ada keluhan. Karena terletak pada jaringan yang komprensibilitasnya rendah, jarang terjadi ayunan antero-posterior pada penggunaan batang palatal tunggal ini.

Indikasi pemakaian :

 Kehilangan 1 atau 2 gigi tiap sisi lengkung rahang  Daerah tak bergigi berujung tertutup

 Kebutuhan dukungan palatum minimal

(49)

b. Plat Palatal Bentuk U

Supaya tegar, konektor ini harus dibuat cukup tebal, pada hal ini akan mengurangi kebebasan gerakan lidah. Sebaliknya bila kurang tebal, jadi fleksibel dan bila tak ada gigi pendukung posterior maka akan terjadi trauma pada linggir sisa.

Indikasi Pemakaian :

 Kehilangan satu atau lebih gigi anterior/posterior atas  Adanya torus palatinus luas

 Perlunya splin gigi anterior

Gambar 2. 20 Plat palatal bentuk U c. Batang Palatal Ganda

Merupakan pilihan yang utama untuk maksilla dengan torus palatinus yang bergerong, banyak lobulinya, dan masif atau membesar ke posterior sehingga tidak dapat dilakukan penutupan palatum penuh.

Indikasi :

(50)

Gambar 2. 21 Batang palatal ganda

d. Plat Palatal Penuh

Plat ini dapat dibuat tipis dan menyeluruh menutupi palatum sehingga mirip permukaan aslinya, bentuk yang sesuai anatomi palatum ini menambah ketegaran, meskipun konektor ini dibuat sangat tipis.

Indikasi :

 Kelas I dan II Kennedy

Gambar 2. 22 plat palatal penuh

(51)

Merupakan bentuk yang paling sederhana. Tepi inferiornya tidak boleh mengganggu frenulum lingualis dan M. Genioglossus pada saat mulut bergerak.

Gambar 2. 23 Batang Lingual

b. Batang Lingual Ganda

Berfungsi sebagai indirect retainer, stabilisasi, serta pemberi dukungan karena menyalurkan tekanan kunyah pada semua gigi yang dilewatinya.

Indikasi :

 Sebagai retensi tak langsung dengan syarat gigi depan bebas perawatan periodontal

Gambar 2. 24 Batang lingual ganda

(52)

Pada pemakaian plat ini, konektor harus dikeluarkan dari mulut minimal 8 jam dalam sehari semalam demi kebersihan. Plat lingual ini merupakan penahan tak langsung dan stabilitator yang baik.

Gambar 2. 25 Plat lingual

d. Batang Labial

Jenis konektor ini jarang dipakai kecuali sudah tidak ada cara atau pilihan lain, misalnya pada gigi yang terlalu miring ke lingual sehingga bentuk konvensional tidak dapat digunakan.

Gambar 2. 26 Batang labial

2) Konektor Minor

(53)

penahan langsung atau sandaran oklusal dihubungkan dengan konektor utama melalui suatu konektor minor.

Gambar 2. 27 Konektor Minor 5. Elemen Gigi Tiruan

Elemen atau gigi tiruan merupakan bagian gigi geligi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang.

2.5 Gigi Penyangga

(Nadiya Sudiyasari 160110150102)

Gigi Abutment atau gigi penyangga adalah gigi asli atau akar yang telah di preparasi untuk penempatan retainer dan komponen yang mendukung gigi tiruan tersebut. Pada penentuan gigi penyangga, juga dipertimbangkan macam-macam dukungan yang digunakan oleh gigi tiruan, yaitu :

1. GTSL dukungan gigi

(54)

2. GTSL dukungan jaringan

Dukungan diperoleh dari jaringan mukosa. Dukungan ini dipilih dengan pertimbangan penyaluran gaya oklusal ke mukosa atau jaringan pendukung. Jaringan mukosa dibawah sadel harus sehat dan cukup tebal, tulang alveolar dibawah sadel harus padat dan sehat, serta tidak ada penyakit sistemik pasien yang berkaitan dengan resorpsi tulang yang progresif.

3. GTSL dukungan kombinasi

Dukungan diperoleh dari gigi asli dan jaringan mukosa. Cara-cara yang dapat ditempuh untuk maksud tersebut antara lain pengurangan gaya oklusal, penyaluran gaya oklusal pada gigi penyangga dan mukosa melalui cetakan fungsional, serta penempatan sandaran menjauhi basis dan perluasan basis distal.

Gambar 2. 28 Dukungan GTSL

Syarat-syarat Pemilihan Gigi Penyangga

• Gigi harus cukup kuat.

(55)

• Kedudukan gigi tersebut hendaknya tegak lurus dengan proc. alveolaris.

• Gigi tersebut masih vital atau tidak mengalami perawatan.

• Bila membutuhkan dua klamer atau lebih maka hendaknya dipilihkan gigi yang letaknya sejajar.

2.6 Radiografi untuk Kasus

(Firsa A.160110150058) & Stephanie A.. 160110150091)

Pemeriksaan secara radiologis memberikan fakta-fakta yang berhubungan dengan proses penjalaran penyakit sebelum penyakit tersebut terjadi. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengetahui morfologi gigi dan konsistensinya, juga untuk mengetahui kapan tulang alveolar menghilang atau menurun.

Kehilangan tulang dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara tulang septal sekarang dengan tinggi asumsi normal, yang ditujukan sebagai perbandingan atau keterangan untuk pasien.

Selain itu, radiografi juga dapat digunakan untuk memperlihatkan kuantitas sisa dari tulang alveolar yang dihubungkan dengan panjang akar dengan tulang alveolar tersebut. Informasi ini penting untuk menentukan tingkat keparahan penyakit, prognosis, dan rencana perawatan dari gigi.

2.6.1 Fungsi Rdiografi

1. Melakukan pemeriksaan besar hilangnya jaringan tulang dan keterlibatan furkasi

2. Menentukan ada atau tidaknya faktor lokal lainnya yang menjadi penyebab 3. Membantu dalam rencana perawatan dengan mengevaluasi perkembangan

(56)

2.6.2 Gambaran Radiografi pada Gigi Normal 1. Mahkota

 Kondisi mahkota atau keadaan kelainan pada mahkota radiolusent atau radioopak

Gambar 2. 29 Gambaran radiolusen pada mahkota

 Arah perjalanannya atau kedalamannya seperti dari oklusal sampai ke dentin, atau dari mesial sampai mendekati pulpa atau sudah kamar pulpa

Gambar 2. 30 Gambaran radiolusen pada mahkota dari mesial sampai mendekati pulpa

2. Membran Periodontal

(57)

Gambar 2. 31 gambaran radiografi membran periodontal dalam batas normal  Melebar: membran yang mengalami peradangan ditujukkan dengan

garis radiolusent sepanjang akar dapat sebagian ataupun keseluruhan

Gambar 2. 32 membran periodontal yang melebar

 Menghilang: ditunjukkan dengan tidak adanya membran yang digantikan oleh lesi yang jauh lebih besar

3. Akar

 Jumlah akar, seperti satu buah, dua buah atau tiga buah

 Bentuk akar seperti bengkok ke arah distal, mesial, konvergen atau divergen

(58)

Gambar 2. 33 gambaran radiografi dari akar fraktur 4. Lamina dura

Lamina dura adalah lapisan terluar pada tulang alveolar Dalam lembar interpretasi diisi dengan:

 Dalam batas normal

bila tidak tampak garis radiolusent di sepanjang tulang alveolar yang mengelilingi gigi

Gambar 2. 34 gambaran radiografi lamina dura  Terputus-putus

Bila terdapat bayangan radioopak di sepanjang tulang baik keseluruhan atau sebagian

(59)

Apabila bayangan radioopak terlihat jelas di sepanjang tulang alveolar

Gambar 2. 35 Gambaran bayangan radioopak terlihat jelas di sepanjang tulang alveolar

 Menghilang

(60)

Gambar 2. 36 Lamina dura menghilang 5. Furkasi

Furkasi secara anatomi adalah daerah klinis/radiografis terlihat sebagai daerah percabangan akar

Dalam lembar interpretasi diisi dengan:

 Dalam batas normal, bila tidak terdapat kelainan

Gambar 2. 37 Gambaran furkasi dalam batas normal

 Bayangan radiolusent, bila terdapat lesi ataupun furkasi yang terbuka (tidak terdukung tulang lagi)

(61)

Puncak tulang alveolar adalah bagian tulan gyang secara anatomi mengelilingi gigi dari mulai CEJ sampai foramen. Pada daerah ini yang sering ditulis resorpsi puncak tulang alveolar. Resorpsi puncak tulang alveolar ini terdiri dari resorpsi horizontal dan vertical ataupun bentuk lainnya seperti arch shape, tetapi hal ini jarang.

Dalam lembar interpretasi diisi dengan:

 Dalam batas normal, apabila tidak terdapat kelainan pada puncak tulang

 Resorpsi, apabila puncak tulang mengalami penurunan, baik secara vertikal, horizontal, maupun bentuk lainnya.

Gambar 2. 38 Gambaran resorpsi tulang alveolar

(62)

7. Periapikal

Periapikal gigi secara anatomi adalah daerah dibawah foramen apikal dari gigi.

Dalam lembar interpretasi diisi dengan:

 Dalam batas normal, apabila tidak tampak adanya lesi ataupun kelainan

Gambar 2. 40 Gambaran periapikal dalam batas normal  Lesi radiolusent periapikal:

a. Abses periapikal, radiolusent difus dengan batas tidak jelas dan tidak tegas

b. Granuloma periapikal, radiolusent dengan batas jelas tetapi tidak tegas

c. Kista periapikal/residual kista, radiolusent dengan batas jelas dan tegas

(63)

Kesan Radiografi

Kesimpulan dari semua point yang ada kelainannya. Diisi dengan keterangan point yang bermasalah mulai dari 1 (mahkota) sampai 7 (periapikal).

Kesan: Terdapat kelainan pada mahkota, akar, membran periodontal, lamina dura. Yang mana tergantung dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Suspek Radiografi

Berisi tentang kemungkinan diagnosa radiografis yang dapat ditentukan berdasarkan keterangan yang telah dijelaskan. Contoh: Pulpitis reversible gigi 36.

2.6.3 Gambaran Radiograf pada Jaringan Periodontal yang Sehat

Jaringan periodontium yang sehat dapat dilihat sebagai gambaran jaringan periodontal yang tidak menunjukkan tanda-tanda jaringan tesebut sakit atau memburuk. Gambarannya dapat dilihat dengan tidak adanya jaringan yang hilang.

Gambaran atau ciri-ciri radiografi yang dapat diandalkan yaitu adanya hubungan antara tulang krista dengan CEJ (cemento enamelo junction). Apabila ada jarak antara tulang krista dan CEJ dalam batas normal (2-3 mm) dan tidak ada gejala klinis lain yang menyertai dalam perlekatan hilangnya jaringan periodontal, maka itu normal.

2.6.4 Gambaran Radiografi yang Biasa Ada pada Tulang Alveolar

Tipis, halus, tulang keras rata pada margin gusi sampai interdental tulang krista di gigi posterior.

(64)

a. Interdental krista tulang alveolar merupakan lanjutan dari lamina dura n gigi. Pertemuan dari interdental tulang krista dan lamina dura membentuk sudut yang tajam

b. Pelebaran yang tipis, rata dari mesial dan distal ligamen periodontal membentuk celah

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Terkadang gambaran tersebut tidak terlihat jelas

2. Ada banyak variasi gambaran radiografi tulang alveolar, namun masih tergolong normal

3. Teknik radiografi yang kurang tepat dapat mengakibatkan kesalahan dalam interpretasi

(65)

Gambar 2. 41 Gambaran radiografi

2.7 Ketidakstabilan dan Kegoyangan Gigi Tiruan (Jeahani Trisya O. 160110150157)

Ketidakstabilan dan kegoyangan pada gigi tiruan dapat disebabkan oleh banyak faktor, terutama yaitu kesalahan pada desain dan desain berubah seiring berjalannya waktu, sehingga membuat gigi tiruan goyang dan tidak nyaman.

(66)

alveolar semakin parah, selain itu resorpsi tulang alveolar ini juga dapat disebabkan dan dapat diperparah dengan adanya penyakit sistemik pada pasien contohnya diabetes mellitus.

Stabilisasi sendiri merupakan kemampuan gigi tiruan untuk bertahan terhadap gaya ke lateral pada saat fungsi. Stabilitas gigi tiruan ini sebenarnya dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, apabila satu atau lebih faktor ini tidak dipenuhi dengan baik pada saat pembuatam gigi tiruan, maka gigi tiruan akan menjadi longgar dan tidak stabil.

Pada kasus ini, yaitu gigi tiruan free-end, terjadi perbedaan kompresibilitas jaringan antara mukosa yag dekat dengan gigi dan daerah yang jauh mencapai retromolarpad. Titik fulcrum gigi tiruan jatuh pada mukosa yang dekat dengan

(67)

Gambar 2. 43 .Pesawat Sederhana Sebagai Pedoman Pembuatan GT (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics)

(68)

Teori Ungkitan (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial Prosthodontics) Teori ungkitan yaitu effort arm harus lebih jauh atau lebih panjang dari fulcrum dibandingkan dengan resistance arm. Distal extension (free-end) jauh dari fulcrum, oleh karena itu rest disimpan dekat fulcrum agar daya oklusalnya tidak terkonsentrasi di ujung distal. (Carr & Brown, 2015)

(69)

Penjelasan gambar : desain yang benar pada kasus free-end (distal extension) menggunakan Mesial Rest Concept. Rest harus disimpan dekat

Gambar 2. 46 Desain Gigi Tiruan yang Salah (Arah Cangkolan Distal-Mesial) Pada Kasus Free-End (Sumber: Mc’Crackens Removable Partial

Prosthodontics)

(70)

fulcrum. Yang benar adalah rest berada di mesial apabila arah cangkolannya distal – mesial dan tetap menggunakan konsep Kelas I Ungkitan. Gambar A = undercut di distal. Gambar B= undercut di mesial. Sehingga dengan arah cangkolan yang sama gambar dan B memiliki bentuk cangkolan yang berbeda.

Penjelasan gambar : A= semakin panjang area tidak bergigi, semakin besar potensi ungkitan pada gigi penyangga, contoh lihat penjelasan rumus dan perumpamaan pada gambar. B= linggir datar menghasilkan dukungan baik tetapi stabilitas buruk. C= linggir tajam menghasilkan dukungan buruk stabilitas buruk – sedang. D= jaringan muda bergerak menghasilkan dukungan buruk serta stabilitas buruk pula.

Gambar 2. 47 Penerapan Teori Ungkitan dengan Rumus (Sumber:

(71)

Gigi tiruan yang longgar dan tidak stabil adalah salah satu masalah yang paling umum yang dihadapi oleh pasien gigi tiruan. Salah satu metode untuk mengatasi masalah ini adalah : “Konsep dan Teknik Neutral Zone”.

Neutral zone merupakan ruang potensial diantara pipi, bibir, dan lidah. Area

(72)

Gambar 2. 48 Zona Netral (Sumber: google.co.id)

(73)

2.8 Gigi Tiruan yang Baik (Jeahani Trisya O. 160110150157)

Yaitu gigi tiruan yang memenuhi kaidah retensi, stabilisasi, dan support yang diperoleh. Kaidah yang tidak dipenuhi dapat menyebabkan :

1. Kegoyangan gigi tiruan saat mengunyah, bicara 2. Mudah lepas saat dipakai

3. Ungkitan pada gigi penyangga

Semua itu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan nyeri pada pasien. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, masalah yang sering muncul pada gigi tiruan free end, yaitu :

1. Gigi tiruan tidak stabil sehingga mudah bergeser dan mengungkit, karena pebedaan kompresibilitas dukungan, baik antara mukosa – mukosa maupun antara mukosa – jaringan periodontal gigi sandaran yang memiliki occlusal rest.

2. Gigi sandaran terungkit, hal ini bergantung pada :

1) Tipe pengungkit, contoh : pada tipe I cangkolan dari distal –

(74)

Gigi tiruan yang tidak stabil dapat menyebabkan resopsi lingir alveolar berjalan lebih cepat, atau ungkitannya dapat menimbulkan kelainan periodontal pada gigi kodrat yang dipakai sebagai sandaran. Menurut Wyatt (1998) pemakaian gigi tiruan berujung bebas selama 5 tahun sudah dapat menyebabkan masalah oklusi sebagai akibat adanya resorpsi lingir. Tidak stabilnya gigi tiruan berujung bebas dapat berupa : gigi tiruan mengungkit pada arah vertikal; bagian ujung mengungkit pada arah horizontal; rotasi bagian sadel pada poros rotasi sagital ; dan pergeseran anteroposterior.

Ungkitan dapat memaksimalkan kemampuan dan melipatgandakan gaya melalui fulkrum ke lengan resistensi dan dapat memindahkan sebuah objek dengan gaya yang lebih kuat. Namun, dalam kasus GTSL , ungkitan dapat menyebabkan gigi menjadi torsi. Ungkitan kelas I dapat bertindak seperti tang yang membuat efek linggis pada gigi sandaran. Ungkitan kelas I memiliki fulkrum yang terletak di antara lengan beban dan lengan resistensi.

Akibat ungkitan kelas I gigi tiruan ujung bebas ke apikal, gigi sandaran seolah-olah diputar dan ditarik arah posterior. Karena hal ini berlangsung kontinu, maka dapat terjadi kerusakan jaringan periodontal.Dengan ungkitan kelas I, fulkrum (yang berupa rest/cangkolan) akan memiliki gaya horizontal yang berlebihan secara lateral pada gigi sandaran, yang dapat menyebabkan gigi terungkit, yang pada akhirnya jika dibiarkan dapat membuat gigi goyang.

Untuk mencegah atau mengurangi efek ungkitan oleh gigi tiruan berujung bebas terhadap gigi sandaran dapat dilakukan :

(75)

Ungkitan kelas II pada kasus gigi tiruan ujung bebas terjadi apabila titik fulkrum berada sebelah anterior dari titik retensi. Pada posisi seperti ini sadel ujung bebas akan tertahan waktu terangkat ke arah oklusal. Makin jauh jarak antara titik fulkrum, maka kemampuan menahannya akan makin baik.

Dengan memindahkan letak titik fulkrum sehingga terletak paling anterior dibandingkan dengan titik retensi dan titik beban. Caranya antara lain : mengubah arah cangkolan mnjadi arah mesial ke distal atau membuat indirect retainer yang letaknya lebih ke anterior dibanding letak titik retensi. Walaupun dengan desain kelas II akan dapat dihindarkan terjadinya ungkitan oleh gigi tiruan terhadap gigi sandaran, desain ini akan menyebabkan gigi tiruan lebih tidak stabil dibandingkan dengan ungkitan kelas I pada saat terjadi tekanan kunyah kea rah apical. Ungkitan akibat tekanan kunyah ke arah apical sekarang sepenuhnya ditanggung oleh linggir.

Untuk gigi tiruan akrilik apabila memungkinkan dibuat retainer indirek berupa sandaran oklusal dari cangkolan kawat, atau landasan diperluas ke anterior sampai menutupi permukaan palatinal/lingual tanpa mengganggu oklusi.

Pada kasus gigi tiruan berujung bebas ada beberapa cara untuk memperoleh disain ungkitan kelas II antara lain :

- Retainer utama tanpa sandaran oklusal dengan retainer indirek yang ditempatkan di anterior.

- Retainer utama dengan sandaran oklusal yang ditempatkan di permukaan oklusal bagian mesial.

(76)

Gaya ungkit yang terjadi sebagian diredam oleh adanya hubungan fleksibel (seperti per pada shock breaker). Penghubung minor yang fleksibel antara lain : stress breaker, precision attachment yang mempunyai per ; tangan retainer dibuat dari bahan kawat klamer.

3. Retensi tambahan di gigi sandaran yang lain ( makin ke anterior makin baik)

Pada ungkitan kelas I apabila dibuat retensi tambahan di gigi sandaran lainnya yang lebih ke anterior, pada saat terjadi ungkitan akibat tekanan kunyah ke arah apikal pada sadel ujung bebas, yang akan terungkit lebih dulu adalah gigi sandaran yang terletak paling anterior. Ungkitan terhadap gigi sandaran yang terletak lebih ke anterior tidak begitu berbahaya, karena :

Efek ungkitan terhadap gigi tersebut akan ditahan oleh gigi kodrat sebelah distalnya.

Beberapa tangan retentif yang menahan ungkitan, akan mengurangi ungkitan sehingga tidak begitu berbahaya bagi gigi sandaran.

Lengan terungkit akan lebih panjang, sehingga ungkitan terhadap gigi sandaran lebih berkurang.

2.10 Perawatan Kegoyangan Gigi (Fitricia F. 160110150146)

2.10.1 Trauma Oklusi Primer

1. Menghilangkan Faktor Etiologi Utama

1) Perbaikan desain gigi tiruannya

(77)

3) Perbaikan alat ortodonti

Biasanya kerusakan bersifat reversible dan akan mereda setelah etiologi atau penyebab trauma oklusi primernya disingkirkan

2. Occlusal Adjusment

Penyesuaian oklusi (occlusal adjustment) adalah usaha menciptakan oklusi sesuai kondisi fisiologis. Occlusal Adjusment perlu dilakukan, prosedur ini sederhana, tidak membutuhkan banyak waktu, dan dapat mengurangi hipermobilitas.

Supaya kontak fungsional tidak terhambat dan distribusi daya oklusal fungsional merata, maka diperlukan:

1) Koreksi ortodontik

2) Pembuatan protesa

3) Ekstrasi gigi yang di luar lengkung gigi

4) Restorasi

5) Coronoplasty

Tujuan dari Occlusal Adjusment yaitu:

1) Membagi kekuatan/daya kunyah seluas mungkin dan merata

2) Menghilangkan kontak prematur pada gerakan oklusi dan artikulasi

3) Memperbaiki/memelihara cara mengunyah yang benar

(78)

Splinting adalah suatu prosedur pemasangan sebuah alat (splint) yang bertujuan untuk imobilisasi atau stabilisasi kegoyangan gigi.

Tujuan dari Spinting yaitu:

1) Membantu penyembuhan pasca perawatan periodontal pada gigi yang goyang.

2) Mengurangi ketidaknyamanan pada pasien akibat terhalangnya pengunyahan karena goyangnya gigi.

Gambar 2. 50 Spint Kawat

(79)

2.10.2 Trauma Oklusi Sekunder

Perawatan inflamasi merupakan tindakan primer yang harus dilakukan pertama kali yaitu perawatan Periodontal

1. Scaling dan Root Planing (disertai perbaikan desain gigi tiruan atau restorasi)

Scaling adalah proses dimana plak dan kalkulus dibuang dari permukaan supragingiva dan subgingiva gigi. Root Planing adalah proses dimana sisa kalkulus yang berada di sementum dikeluarkan dari akar untuk menghasilkan permukaan gigi yang halus, keras dan bersih

Gambar 2. 52 Scaling and Root Planing

(80)

69 2.11 Obat Analgesik yang Diberikan

2.11.1 NSAID

(Zahra M. 160110150002)

NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) atau obat anti inflamasi non steroid (AINS) adalah suatu kelompok obat yang berfungsi sebagai anti inflamasi, analgetik dan antipiretik. NSAID merupakan obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi. Walaupun demikian, obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Obat golongan NSAID dinyatakan sebagai obat anti inflamasi non steroid, karena ada obat golongan steroid yang juga berfungsi sebagai anti inflamasi. Obat golongan steroid bekerja di sistem yang lebih tinggi dibanding NSAID, yaitu menghambat konversi fosfolipid menjadi asam arakhidonat melalui penghambatan terhadap enzim fosfolipase. Hal ini dapat dilihat di gambar 1. Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin like drugs). Contoh obatnya antara lain: aspirin, parasetamol, ibuprofen, ketoprofen, naproksen, asam mefenamat,

piroksikam, diklofenak, indometasin.

(81)

Gambar 2. 53 Biosintesis prostaglandin

(82)

Golongan obat ini menghambat enzim siklo oksigenase (COX) sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat dengan cara berbeda. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis prostaglandin hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksida seperti di hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak peroksida yang dihasilkan oleh leukosit. Ini menjelaskan mengapa efek anti inflamasi parasetamol praktis tidak ada. Inhibisi biosintesis prostaglandin oleh aspirin menyebabkan asetilasi yang irreversibel di sisi aktif siklo okigenase, sedangkan sisi aktif peroksidase tidak terpengaruh. Berlawanan dengan aksi aspirin yang irreversibel, NSAID lainya seperti ibuproven atau indometasin menyebabkan penghambatan terhadap COX baik reversibel maupun irreversibel melalui kompetisi dengan substrat, yaitu asam arakhidonat.

2. Perbandingan COX-1 dan COX-2

(83)

lipopolisakarida, sitokin atau faktor pertumbuhan. meskipun COX-2 dapat ditemukan juga di otak dan ginjal. Induksi COX-2 menghasilkan PGF2 yang menyebabkan terjadinya kontraksi uterus pada akhir kehamilan sebagai awal

terjadinya persalinan.

3. Penghambat COX-1 dan COX-2

Masing-masing NSAID menunjukkan potensi yang berbeda-beda dalam menghambat COX-1 dibandingkan COX-2. Hal inilah yang menjelaskan adanya variasi dalam timbulnya efek samping NSAID pada dosis sebagai anti inflamasi. Obat yang potensinya rendah dalam menghambat COX-1, yang berarti memiliki rasio aktivitas COX-2/ COX-1 lebih rendah, akan mempunyai efek sebagai anti inflamasi dengan efek samping lebih rendah pada lambung dan ginjal. Piroksikam dan indometasin memiliki toksisitas tertinggi terhadap saluran gastrointestinal. Kedua obat ini memiliki potensi hambat COX-1 yang lebih tinggi daripada menghambat COX-2. Dari penelitian epidemiologi yang membandingkan rasio COX-2/ COX-1, terdapat korelasi setara antara efek samping gastrointestinal dengan rasio COX-2/ COX-1. Semakin besar rasio COX-2/ COX-1, maka semakin besar pula efek samping gastrointestinalnya. Aspirin memiliki selektivitas sangat tinggi terhadap COX-1 daripada COX-2, sehingga efek terhadap gastrointestinal relatif lebih tinggi.

(84)

gastrointestinal yang rendah. Insiden serangan jantung yang lebih tinggi menjadi faktor risiko semua inhibitor COX-2 selektif. Tahun 2004, rofecoxib ditarik dari pasaran. Valdecoxib selain menyebabkan infark miokard juga dapat menyebabkan skin rash. Valdecoxib dan parecoxib dihubungkan dengan insiden penyakit

jantung.

Parasetamol termasuk kelompok obat yang dikenal memiliki aktivitas sebagai analgesik antipiretik, termasuk juga prekursornya yaitu fenasetin, aminopiron dan dipiron. Banyak dari obat ini yang tidak ada di pasaran karena toksisitasnya terhadap leukosit, tetapi dipiron masih digunakan di beberapa negara. Parasetamol menghambat lemah baik COX-1 maupun COX-2 dan berdasarkan penelitian diketahui bahwa mekanisme kerjanya melalui penghambatan terhadap COX-3, yaitu derivat dari COX-1, yang kerjanya hanya di

sistem saraf pusat.

4. Efek Farmakodinamik

Semua obat mirip aspirin bersifat antipiretik, analgesik dan anti inflamasi, dengan derajat yang berbeda-beda. Misalya parasetamol bersifat anti piretik dan analgesik tetapi sifat anti inflamasinya sangat rendah. 1) Efek analgesik

Gambar

Gambar 2. 3 Trauma oklusi yang berasal dari protesa
Gambar 2. 4 Gambaran Radiografi Periodontitis Apikalis
Gambar 2. 5 Inflamasi akut, dengan pus yang keluar dari poket
Gambar 2. 6 Klasifikasi Kennedy
+7

Referensi

Dokumen terkait