• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN ISLAM DI KRATON YOGYAKARTA

PADA MASA SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO I

(Perspektif Aliran Pendidikan)

Oleh: Suyanto

A. Latar Belakang

Membicarakan pendidikan pendidikan Islam di Yogyakarta adalah sesuatu

yang sangat strategis karena beberapa hal.

Pertama,

Yogyakarta merupakan salah

satu propinsi di pulau Jawa yang sangat berpengaruh besar dalam perkembangan

pendidikan nasional pada umumnya, dan pendidikan pada khususnya. Jumlah

penduduk terbesar Indonesia tersebar di Pulau Jawa, yang berarti perkembangan

pendidikan di pulau jawa sangat berpengaruh signifikan bagi perkembangan

bangsa Indonesia. Salah satu daerah yang berperan besar dalam perkembangan itu

adalah Yogyakarta.

Kedua,

sebutan Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya tidak

datang tiba-tiba, tetapi melalui sejarah panjang. Dalam sejarahnya, banyak tokoh

perjuangan baik masa lalu maupun saat ini yang berperan di Indonesia, pernah

mengenyam pendidikan di Yogyakarta. Ini juga menunjukkan bahwa pendidikan

Yogyakarta memiliki arti yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Dalam

dinamika yang panjang tersebut, satu hal yang tidak dapat dinafikan adalah peran

pendidikan Islam di dalamnya.

Fakta bahwa Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya dan saat ini

sebagai kota pariwisata, sesungguhnya dapat dilacak sejak awal berdirinya kota

ini oleh Sri Sultan Hemengku Buwono I. Asumsi bahwa pendidikan Islam

memiliki andil yang sangat besar sejak awal berdirinya kerajaan Yogyakarta

sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh A. Daliman, guru besar sejarah

Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menyatakan bahwa sejarah Indonesia pada

zaman madya, yakni abad ke-18 hingga akhir abad 19, banyak diwarnai pengaruh

agama dan peradaban Islam.

1

Kerajaan Yogyakarta yang berdiri sejak tahun 1775,

1 Sejarah nasional Indonesia terbagi dalam tiga periode, yakni: (1) zaman purba (kuno): sejarah

(2)

sejak perjanjian Giyanti ditandatangani yang menandai terbaginya kerajaan

Mataram menjadi dua, yakni Yogyakarta dan Surakarta, berada pada zaman

madya tersebut.

2

Berdasarkan pernyataan A. Daliman di atas, berarti bahwa

perkembangan kerajaan Yogyakarta pada awal berdirinya sangat dipengaruhi oleh

agama Islam. Perkembangan Islam tersebut dengan sendirinya melibatkan

pendidikan Islam sebagai salah satu instrumen perkembangan sosial.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka menarik untuk melihat bagaimana

perkembangan pendidikan Islam pada masa awal berdirinya Yogyakarta, yakni

pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pelacakan pendidikan Islam pada

masa Sri Sultan Hemengku Buwono I sekaligus untuk menguatkan asumsi bahwa

terbentuknya citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan sesungguhnya telah

didesain sejak awal. Hal ini berbeda dengan pernyataan Asti Kurniawati yang

menyatakan bahwa terbentuknya citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan adalah

hasil dari sebuah “kebetulan zaman” dan bukan dari hasil desain yang disengaja.

Oleh karena itu, bagaimana visi Sri Sultan Hamengku Buwono I dalam

mengembangkan pendidikan Islam serta dinamika perkembangan pendidikan

Islam di Yogyakarta menarik untuk ditelusuri.

Tulisan akan diawali dengan pengungkapan biografi singkat Sri Sultan

Hamengku Buwono I yang berkorelasi dengan perkembangan pendidikan Islam di

Kraton Yogyakarta. Biografi ini akan mengungkapkan bagaimana pendidikan

yang dialami Sri Sultan Hamengku Buwono I yang kelak berpengaruh terhadap

visinya dalam membangun pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta. Selanjutnya,

dengan sumber yang masih sangat terbatas akan diuraikan tentang perkembangan

pendidikan Islam pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I.

B. Biografi Pendidikan Sri Sultan Hamengku Buwono I

Nama kecil Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah B. R. M. (Bendoro

Raden Mas) Sudjono, lahir pada Rabo Pon tanggal 4 Agustus 1717, putra dari Sri

peradaban Barat dan teknologi modern sekitar tahun 1900-an sampai dewasa ini. lihat A. Daliman,

Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012), hal. 3.

(3)

Susuhunan Prabu Amangkurat IV. Ibunya bernama Mas Ayu Tejowati yang

berasal dari desa Kepundung, Kartasura.

3

Berbeda dengan saudara-saudaranya sesama keturunan raja, R. M.

Sudjono tidak suka mencari kesenangan lahiriyah. Beliau peduli dengan rakyat

kecil, sering bergaul dan memberi sedekah kepada mereka. Mendasarkan pada

Serat “Cebolek”

4

, W.S. Rendra menggambarkan secara detail bagaimana perilaku

dan kebiasaan R. M. Sudjono. Rendra menulis sebagai berikut:

5

“ketika masih tinggal di Surakarta, ia suka sekali berjalan kaki mengarungi

hutan, menuju ke telaga-telaga, mengembara di sepanjang pantai, mendaki

bukit kapur di pantai selatan, dan yang paling sering adalah: mendaki

Gunung Merapi. Dalam perjalanan itu ia tidak suka memakai pakaian

sesuai derajatnya, melainkan ia hanya memakai pakaian sehari-hari

seorang santri. Maka apabila ia berhenti di tengah-tengah keindahan alam,

selalu, sambil mengisap keindahan, ia melakukan perenungan-perenungan.

Inti perenungan itu adalah

“sangkan paraning dumadi”

(dari mana dan

akan kemana seluruh alam ini).

Secara metaforis Rendra menggambarkan alam dan desa tempat R. M.

Sudjono berkelana sebagai “kamar studi” sedangkan pohon, burung, bulan,

sungai, dan kehidupan rakyat kecil adalah perpustakaannya. Di dalam “kamar

studi” itu seluruh panca indranya terlibat dalam proses pembelajaran.

Menurut Rendra, perjalanan R.M.Sudjono tersebut lebih bersifat religius:

upacara untuk berkomunikasi dengan

“kang murbeng jabat”

(penguasa alam

semesta) melalui pendekatan pada ciptaan-ciptaannya yang tergelar di bumi.

Dengan pakain santri biasa ia lebih bisa menghayati pergaulan yang spontan

dengan rakyat di desa-desa.

6

Melalui pembaurannya dengan masyarakat dan

permenungannya terhadap alam yang dijumpai ia menghayati apa sejatinya hidup.

Hal ini tercermin dari pesan R. M. Sudjono terhadap Ronggo Wirosetiko dan

Demang Djojoroto sebagaimana tersebut dalam Babad Giyanti

“keutamaan

manusia hidup ialah bisa membahagiakan hati sesama makhluk, memuliakan

3 R.M. Sumardjo Nitinegoro, The Founding of Yogyakarta, (Yogyakarta: Putra Jaya, tt), dimuat

ulang dalam Hermanu, Ngayogyakarta, (Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta, 2011), hal. 35.

4 Serat Cebolek adalah karya R. Ng. Yasadipura I, Pujangga hidup sejak Paku Buwono II

hingga Paku Buwono IV. Ia pula yang menulis Babad Giyanti sebagai sumber yang paling lengkap tentang perjalanan hidup Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I. Lebih lanjut lihat S. Soebardi, Serat Cabolek: Kuasa, Agama, dan Pembebasan, (Bandung: Nuansa, 2004), hal. 21 – 40.

5 W. S. Rendra, “Latihan Sultan Hamengku Buwono I di Masa Remaja”, Majalah Pendidikan, Ilmu dan Kebudayaan Pusara, Tahun ke-41, April 1972, diterbitkan oleh Majeli Luhur Taman Siswa, Yogyakarta, 1972, hal. 129 – 132. Dimuat kembali dalam Hermanu, Ngayogyakarta, hal. 79 – 83.

(4)

sesama yang tumbuh, memperbanyak perbuatan baik, berlemah lembut dalam

bahasa, bahasa yang penuh dengan maksud baik, menggemberikan para

pendengarnya”.

7

Dalam rangka menyelami kehidupan rakyat kecil, ia sering menyamar dan

tinggal beberapa hari di rumah rakyatnya. Dikisahkan bahwa suatu hari ketika

sudah menginjak dewasa, R. M. Sudjono ia pergi dari kraton menuju desa

Masiran. Di sana ia menumpang di rumah seorang petani yang tidak sadar bahwa

dirinya adalah seorang putra raja. Ia sangat menurut pada petani itu dan membantu

bekerja dengan sangat rajin. Karena tingkah lakunya yang berbudi itu, petani

tersebut sangat mengasihi dan kemudian ia mengadopsinya sebagai anak karena

petani itu sendiri tidak memiliki anak. Ayahnya mengutus utusan untuk

mencarinya, kemudian untuk menghindari utusan raja tersebut ia pindah dari desa

Masiran menuju desa Pedan Klaten. Di sana ia tinggal di rumah seorang penjual

kuda. Dalam waktu singkat, ia sudah menguasai seluk beluk memelihara kuda.

“Majikannya”, penjual kuda tersebut merasa mendapatkan peningkatan

keuntungan yang besar setelah kedatangan R.M. Sudjono.

8

Demikianlah cara

belajar R.M. Sudjono dengan cara terlibat langsung dan merasakan kehidupan

rakyat kecil.

Kebiasaan lain dari R.M. Sudjono dalam mengembangkan karakter

kepemimpinannya menurut Rendra diistilahkan dengan “latihan menguasai

jasmani untuk kepentingan batin” untuk mencapai tingkatan menyatunya lahir

dengan batin. Caranya adalah seperti seperti orang melatih kuda agar bisa

menyatu dengan penunggangnya, yaitu dengan tali kendali. Tali kendalinya

berupa disiplin kerja keras, disiplin dalam kesederhanaan hidup, berpuasa dan

kesetiaan pada ritual agama. Dalam melatih kerja kerasnya itu, menurut Serat

Cebolek sebagaimana dikutip oleh Rendra, R. M. Sudjono bahwa setiap hari

Jum’at, ia melepas kedua cincin berliannya yang bernama “Pepe dan Telawong”,

lalu dilemparkan ke dasar sungai. Di malam hari, ia terjun ke sungai itu untuk

mencari kedua cincinnya itu sampai ketemu kembali. Seringkali terjadi bahwa

7Ibid

8 R.M. Sumardjo Nitinegoro, The Founding of Yogyakarta, (Yogyakarta: Putra Jaya, tt), dimuat

(5)

kedua cincin itu dilemparkan pada jam sembilan malam dan baru bisa ditemukan

kembali di dasar sungai pada pagi menjelang fajar.

9

Digambarkan bahwa pada masa mudanya, R. M. Sudjono sangat religius,

suka berpuasa senin dan kamis, gemar mengaji dan berguru di berbagai pesantren

di sekitar Kartasura. Hanya tidak disebutkan di pesantren apa ia belajar.

10

Selain

belajar agama, sebagai seorang putra raja, ia juga belajar sastra, budaya dan tradisi

Jawa. Ini yang kelak berpengaruh terhadap visinya dalam membangun

pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta. Kehidupannya yang sangat sederhana di

luar istana menjadikannya tumbuh sebagai pribadi yang sederhana, taat ajaran

agama, dan bertradisi Jawa.

11

Dalam menjalin hubungan dengan bawahan, tampak ia tidak terlalu

struktural formal, tetapi lebih humanis dan mengedepankan rasa, sebagaimana

tercermin dalam nasehatnya terhadap Ronggo Wirosetiko dan Demang Djojoroto

sebagaimana dikutip oleh Rendra di atas. Tampaknya ia begitu mencintai

bawahannya itu, sehingga banyak nasehat yang diberikan. Nasehat yang lain

misalnya:

“dan hendaklah dicamkan jangan sampai lupa, untuk selalu tekun

menilik sukma, sadarilah akhirnya, akhir dari segala yang tumbuh, agar tahu

menjaga keselamatan, yang sempurna, kesempurnaan pengetahuan akan akhir

dari segala yang hidup, rekatkanlah pada penglihatan yang sejati, kesejatian

yang satu-satunya”.

12

C. Berdirinya Kraton Yogyakarta

Ketika R. M. Sudjono telah kembali (dijemput kembali) ke istana,

ayahandanya segera memanggil putra tertuanya, putra mahkota, Gusti Bendoro

Raden Mas Probo Suyoso (Pangeran Adipati Anom). Sang raja mengatakan

“anakku Probo Suyoso, aku serahkan adikmu, Sujono, kepadamu. Cintailah dan

perlakukanlah dengan baik karena ia adalah adikmu. Jangan melukai hatinya.

9Ibid. hal. 83.

10 Kemungkinan besar, pesantren tersebut antara lain Pesantren Jamsaren sebagai pesantren

tertua di Jawa. Pesantren ini didirikan Kyai Jamsari dari Banyumas, yang diundang secara khusus oleh kraton untuk memberikan pendidikan agama bagi keluarga raja.

11 Maharsi, “Babad Kraton: Analisis Simbolisme Struktural, Upaya untuk Memahami Konsep

Berpikir Jawa Islam” Disertasi tidak diterbitkan, (Yogyakarta: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007), hal. 205.

(6)

Ingatlah Probo Suyoso, jika kamu membuatnya tidak bahagia dan melukai

hatinya, itu adalah pertanda jelas bahwa kerajaan ini akan terbagi menjadi

dua”.

13

R. M. Probo Suyoso atau Pangeran Adipati Anom setelah ayahandanya

meninggal, ia kemudian dinobatkan menjadi raja penggantinya dengan gelar

Sunan Pakubuwono III. Selang tiga tahun setelah penobatannya, Sunan Paku

Buwono III kemudian melantik adiknya, R.M. Sudjono menjadi pangeran, dengan

gelar Bendara Pangeran Harya Mangkubumi. Pengangkatan R. M. Sudjono

menjadi pangeran disertai dengan pemberian tanah lungguh seluas 500

karya

14

dan membawahi pejabat kraton dengan pangkat

Ronggo

dan

Demang

. Pada

kesempatan itu, Pangeran Mangkubumi melakukan pengangkatan abdi dalem

yang telah lama mengabdi, den Goto menjadi Ronggo Prawirosentika dan Gus

Jalal menjadi Demang Joyoroto.

Nasehat dari raja tersebut tampaknya kemudian terbukti dengan

terbelahnya kerajaan mataram menjadi dua, yakni Surakarta dan Yogyakarta.

Terbentuknya Kraton Yogyakarta diawali dengan adanya perjanjian damai antara

antara Kompeni, Sunan Paku Buwono III dan Pangeran Mangkubumi di desa

Giyanti pada tanggal 12 Februari 1755, sehingga perjanjian tersebut dinamakan

perjanjian Giyanti.

15

Perjanjian tersebut ditandangani tiga pihak, yakni pihak

Kompeni Belanda diwakili oleh Hartingh, Sunan Paku Buwono III mewakili Patih

Adipati Pringgalaya, dan pihak Sunan Kabanaran (Pangeran Mangkubumi)

diwakili oleh Pangeran Notokusuma.

16

Perjanjian tersebut berisikan 9 pasal yang secara garis besar adalah sebagai

berikut:

17

(1) Susuhunan Kabanaran (Pangeran Mangkubumi) berhak menjadi raja atas

separuh wilayah Mataram dengan gelar Sultan, namun harus bersumpah setia

kepada Kompeni beserta segenap keluarga dan keturunannya;

13 R.M. Sumardjo Nitinegoro, The Founding of Yogyakarta..hal. 37. 14Karya adalah ukuran luas. 1 karya kurang lebih 7.096,5 m2.

15 Sejarah yang melajarbelakangi terjadinya perjanjian damai setelah terjadinya perang saudara

yang berkepanjangan dapat dibaca di Anton Satyo Hendriatmo, Giyanti 1775... 16Ibid.

(7)

(2) Kerjasama di antara Kompeni dan orang-orang Jawa (kawula Sultan) untuk

ditingkatkan dan mencegah adanya sikap saling merugikan di antara kedua

belah pihak;

(3) Penunjukan pepatih dalem dan bupati serta petinggi kerajaan oleh Sultan harus

mendapatkan persetujuan dari wakil Kompeni di Semarang dan berjanji untuk

tidak melakukan usaha-usaha yang dapat merenggangkan hubungan kerajaan

dengan kompeni;

(4) Pemecatan pepatih dalem dan bupati serta petinggi kerajaan oleh Sultan harus

mendapatkan persetujuan dari Kompeni;

(5) Sultan diwajibkan untuk mengampuni seluruh kesalahan para bupati yang

pada masa perang terdahulu berpihak pada kompeni;

(6) Sultan tidak boleh lagi menuntut wilayah mataram, terutama pesisir pulau

Jawa yang telah diserahkan kepada Kumpeni melalui perjanjian Ponorogo

1743, dan sebagai ganti atas wilayah tersebut Kompeni akan membayar uang

sejumlah 20.000 real kepada sultan tiap tahunnya. Juga Sultan harus bersedia

bekerjasama dengan Kompeni secara militer terhadap setiap bentuk

perlawanan yang ditujukan kepada Kompeni dan sebaliknya;

(7) Sultan tidak boleh menuntut haknya atas kerajaan Surakarta beserta segenap

keturunannya

(8) Sultan diwajibkan menjual seluruh hasil buminya hanya kepada Kompeni

dengan harga yang ditetapkan oleh Kompeni

(9) Sultan diminta untuk tetap menghargai dan mematuhi seluruh perjanjian

dengan Kompeni yang sudah ada seperti perjanjian 1705, perjanjian 1733,

perjanjian 1743, perjanjian 1746, dan perjanjian 1749.

(8)

Sri Sultan selalu ingat pesan ini, sehingga setiap malam selalu jalan-jalan

sekitar tempat itu sambil melihat-lihat.

18

Setelah ketemu tempatnya, kraton

dibangun tempat yang kalau ditarik garis lurus akan berada di tengah antara

Gunung Merapi dan Laut selatan. Sungai Winongo yang mengalir di daerah itu

dialirkan ke barat, sedangkan sungai Code dialirkan ke timur. Setahun kemudian,

setelah kraton selesai dibangun, pada tanggal 7 Oktober 1776 istana dipindahkan

dari Ambarketawang ke istana baru, dan kraton itu dinamakan Ngayogyakarta

Hadiningrat. Tanggal 7 Oktober itulah yang kini diperingati sebagai hari jadi Kota

Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau membangun Taman Sari yang dalam

literatur barat disebut dengan

water castle

(istana air).

Sri Sultan Hamengku Buwono I memerintah selama hampir 40 tahun, dari

13 Februari 1755 hingga wafatnya pada Minggu Kliwon, 24 Maret 1792 dalam

usia 75 tahun. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga oleh rakyatnya

dijuluki

Sinuwun Suwargo.

Di bawah kepemimpinannya, seni dan budaya

berkembang. Beliau adalah ahli tari dan musik gamelan. Beliau menciptakan tari

Srimpi dan Bedoyo, juga tarian perang yang bernama Beksan Lawung. Dalam hal

musik, beliau menciptakan Gending Gajah Endro yang hanya boleh dimainkan

saat raja berjalan ke tahtanya untuk melakukan

siniwaka

(pertemuan) dengan para

pengeran, bupati, demang, dan ronggo. Untuk keperluan yang sama, Sri Sultan

Hamengku Buwono VIII berpuluh-puluh tahun kemudian menciptakan gending

Raja Manggolo.

19

Perjanjian Giyanti yang menandai pecahnya mataram terbagi menjadi dua,

Yogyakarta dan Surakarta, bukan menyangkut pembagian wilayah kekuasaan dan

rakyat, tetapi juga pembagian tanda-tanda kebesaran kerajaan seperti

lambang-lambang kekuasaan, dan lebih penting juga pusaka raja. Ini semua merupakan

benda-benda suci dengan kekuatan magis yang tidak dapat dipisahkan dari raja

yang memerintah. Pusaka itu sekaligus sebagai alat legitimasi kekuasaan seorang

18 Konon saat melihat-lihat lokasi tersebut, ia bertemu dengan seorang kakek yang sedang

memancing tanpa umpan yang tubuhnya memancarkan sinar. Sri Sultan kemudian mendekati dan bertanya siapa sebenarnya kakek tersebut dan dijawab bahwa namanya “Kiai Wirojombo Dono Murah”. Kakek tersebut kemudian cerita bahwa sebenarnya dia adalah anak dari almarhum Susuhunan Paku Buwono I dari ibunya Nyai Rondo Cumbing. Setelah tahu bahwa orang tua tersebut adalah kakeknya, kemudian ia minta pendapatnya dimana harus membangun istana, dan ditunjukkan sebelah tenggara hutan banyan, tempat yang banyak mendapat sinar matahari.

(9)

raja. Pusaka-pusaka itu bahkan dipercaya dapat menampakkan kemarahannya

terhadap orang yang memperoleh kekuasaannya dengan cara yang tidak benar.

20

D. Pendidikan Islam di Kraton dan Sultan Sebagai Pemimpin Agama

Konsep Jawa memandang Sultan sebagai seseorang yang dianugerahi

kerajaan dengan kekuasaan politik, militer, dan keagamaan yang absolut. Hal ini

tercermin dari gelar Sultan yang secara lengkap

Sampeyan Dalem ingkang

Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman

Sayidin Panatagama Khalifatullah fil ardh.

21

Dalam gelar tersebut terkandung

makna bahwa sultan selain pemimpin wilayah

(hamengku Buwono)

, panglima

perang

(senapati ing Ngalaga)

, dan hamba Allah

(Ngabdurrahman)

juga sekaligus

sebagai pemimpin agama

(Sayidin Panata Gama)

dan khalifah (

khalifat ullah fil

ardh)

.

22

Namun menurut Selo Sumarjan, konsep ini diambil dari negara-negara

Islam di Timur Tengah yang memiliki bentuk seperti itu, dan ini terjadi di Jawa

pada abad kelimabelas, ketika pertama kali orang Islam masuk ke Indonesia.

23

Dengan gelar tersebut, konsep sultan di Yogyakarta tidak memisahkan antara

kekuasaan politik dan kekuasaan agama. Dengan demikian, sultan adalah

sekaligus pemimpin agama.

Dalam posisinya sebagai pemimpin agama inilah akan terlihat bagaimana

peran sultan dalam perkembangan pendidikan Islam di Yogyakarta. Visi

pendidikan Islam Sri Sultan Hamengku Buwono I terlihat dalam beberapa hal

sebagai berikut:

20 Selo Sumarjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta, (Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press, 1981), hal. 25.

21 Secara bahasa arti gelar tersebut adalah hamengku maknanya adalah menguasai, memimpin, Buwono artinya bumi. Senapati ing Ngalaga maknanya ia juga sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sebagai senapati, penentu perdamaian dan peperangan, panglima tertinggi angkatan perang dan saat terjadi peperangan. Ngabdurrahman berasal dari bahasa Arab ‘abd al-Rahman yang berarti hamba Allah yang Maha Pengasih. Sayidin Panata Gama artinya adalah tuan yang bertugas sebagai pemimpin agama. Khalifatullah fil ardh artinya adalah khalifah (wakil) Allah di muka bumi.

22 Gelar khalifah dalam sejarah Islam disematkan kepada para sahabat pengganti dan pemimpin

tertinggi dalam sistem pemerintahan Islam setelah wafatnya rasulullah. Diawali dari Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq hingga khalifah pada masa Bani Abbasiyah. Dalam sejarahnya, gelar khalifah selain sebagai pemimpin politik juga sekaligus sebagai pemimpin agama.

(10)

1.

Mendirikan

“Sekolah Tamanan”.

Sekolah ini didirikan pada tahun 1757 yang mengandung dua muatan

utama, yaitu

pendidikan yang dimaksudkan untuk membentuk jiwa/karakter

ksatriya

dan

pendidikan yang berdasarkan nilai ketentaraan, pertanian, dan

kebudayaan

.

24

Tujuan yang pertama diwujudkan dengan muatan pelajaran yang

diberikan yaitu: (1) bahasa dan kesustraan Jawa Baru dan Kawi; (2) Sejarah

Kraton Yogyakarta; (3) Menyanyi (nembang) Mocopat, Tengahan, dan

Gedhe; (4) Tata Negara; (5) Undang-Undang Sepuluh; (6) Angger Pradhata

dan Pidana (Hukum Perdata dan Pidana); (7) Mengaji: kitab turutan, Qur’an

dan Tafsir, Hukum Agama, tradisi dari mataram sampai Ngayogyakarta

Hadiningrat yang berhubungan dengan agama, perail (hukum waris Islam),

dan perkawinan dan talak. Tujuan yang kedua muatan mata pelajaran sebagai

berikut: (1) Menari (tarian putri); (2) Menari (tarian laki-laki); (3) memilih dan

menunggang kuda; (4) latihan berperang (setiap hari Sabtu di Alun-Alun Utara

dari jam 16.00 – 18.00); (5) latihan memanah; (6) menatah dan menyungging

wayang; (7) membuat dan melaras gamelan; (8) seni bangunan; (9)

memelihara segala tanam-tanaman pekarangan, ladang, sawah, dan

perkebunan; (10) membuat dan memelihara saluran pengairan dan bendungan

untuk pertanian rakyat.

25

2.

Mendirikan Masjid Keprabon (Masjid Gedhe Kauman).

Perkembangan pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta juga ditandai

dengan dibangunnya masjid agung di komplek kraton, yang sekarang disebut

24 K.R.T. Jatiningrat, Perkembangan Sekolah di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dokumen tidak diterbitkan, disarikan dari buku Peringatan 200 Tahun Kota Yogyakarta (1956).

25Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI terjadi perubahan kurikulum, dari semula pada

(11)

dengan masjid besar Kauman. Saat ini, masjid ini terletak di Kampung

Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Bangunannya secara keseluruhan seluas 2.578 m

2

yang terdiri dari ruang

utama 784 m

2

dan serambi 1.102 m

2

di atas tanah seluas 4000 m

2

.

26

Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh

Sri Sultan Hamengku Buwono I

bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai

Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari

Ahad

Wage

,

29 Mei

1773

M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H. Masjid ini adalah masjid

keprabon, sebagai tempat ibadah sekaligus lembaga pendidikan Islam bagi

masyarakat dalam beteng kraton. Posisi masjid keprabon memiliki makna

tersendiri dalam perspektif ilmu lingkungan, apalagi jika dikaitkan dengan

keberadaan masjid-masjid yang disebut sebagai masjid Pathok Negoro yang

terdapat di empat penjuru kraton Yogyakarta.

27

Bukan hanya Sri Sultan Hamengku Buwono I, raja-raja mataram

Islam, di samping mendirikan istana sebagai tempat kedudukan

pemerintahannya juga membangun masjid. Saat pusat kerajaan masih di

Kotagede, di sana juga dibangun sebuah masjid sebagai pusat keagamaan dan

pendidikan. Saat pemerintahan pindah ke Plered Bantul, di sana juga dibangun

Masjid Agung yang terletak di dusun Kauman, sebelah barat laut Desa

Kedaton. Demikian juga ketika Mataram Islam pindah ke Kartasura juga

didirikan masjid agung. Di berbagai tempat itu, kampung yang berada di

sebelah masjid dinamakan Kauman karena disitu oleh Sultan ditempatkan para

pengurus masjid yang, tempat para kaum (

Qaimuddin: penegak agama).

Kepengurusan masjid pada awalnya dipegang oleh Penghulu Kraton, dibantu

oleh Ketib, Modin, Merbot, dan abdi dalem pametakan, abdi dalem Kaji

Selusinan, serta abdi dalem berjamangah.

28

Keberadaan masjid keprabon tersebut tidak disangsikan lagi fungsinya

sebagai lembaga pendidikan Islam, sebagaimana lazimnya perkembangan

pendidikan Islam pada masa awal juga berangkat dari masjid sebagai lembaga

26 Tim Penyusun yang diketuai oleh Slamet Hamzah, Masjid Bersejarah Provinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta: Kanwil Departemen Agama Pro. DIY, 2007), hal. 1.

(12)

pendidikan. Meskipun karena keterbatasan sumber, penulis belum menemukan

sistem pendidikan Islam yang utuh yang terdapat di masjid tersebut.

3. Mendirikan masjid Pathok Negoro

Keberadaan masjid Pathok Negoro yang terletak di empat penjuru

kraton Yogyakarta memiliki makna tersendiri dalam konteks perkembangan

pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta. Masjid-masjid tersebut didirikan

atas prakarsa dari Sri Sultan Hamengku Buwono I yang berfungsi sebagai

tempat pendidikan agama Islam, selain fungsi utamanya sebagai tempat

ibadah.

Ada lima masjid pathok negoro yang dibangun pada masa Sri Sultan

Hamengku Buwono I, yakni Masjid Mlangi (sebelah barat), Masjid

Plosokuning (sebelah utara), Masjid Babadan (sebelah timur), Masjid

Dongkelan (sebelah selatan), dan Masjid At Taqwa Wonokromo (juga

berada di daerah selatan).

Di antara masjid-masjid Pathok Negoro tersebut, Masjid Mlangi

memiliki sejarah khusus dalam perkembangan pendidikan Islam di Kraton

Yogyakarta. Masjid Mlangi didirikan oleh tokoh sentral guru agama di

daerah itu yang bernama Kyai Nur Iman atau R.M. Sandeyo. R.M. Sandeyo

adalah putra dari R. M. Suryo Putro atau Amangkurat Jawa. R.M. Suryo

Putro adalah anak dari Pangeran Puger.

Dikisahkan bahwa karena tidak suka dengan perang saudara antara

Amangkurat II (R.M. Rahmat) dan Pangeran Puger, R.M.Suryo Putro pergi

ke Pesantren Gedangan di Surabaya belajar pada Kyai Abdullah Muhsin.

R.M. Suryo Putro kemudian menjadi santri dan berganti nama menjadi M.

Ihsan. M. Ihsan kemudian dinikahkan dengan putri Adipati Wironegoro

yang bernama R.A. Retno Susilowati. Setelah menikah kemudian ia

bersama istrinya kembali ke Pesantren Gedangan.

29

Sementara itu, sepeninggal RM. Suryo Putro ternyata keadaan

kerajaan semakin kacau hingga akhirnya terciumlah keberadaan M. Ihsan

oleh keluarga Kraton. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk

menjemput pulang M. Ihsan ke Mataram. Karena itu merupakan perintah

29

(13)

Raja, maka M. Ihsan tidak berani menolak. Sebelum ia pulang ke kraton, ia

menitipkan istrinya yang sedang hamil ke kyai A. Muhsin dan berpesan

"Kelak jika anaknya lahir laki laki harap diberi nama RM. Sandeyo, tetapi

jika perempuan, pemberian nama terserah Kyai". Kyai juga diminta

mengasuhnya dan mendidiknya hingga mumpuni, karena kelak ia kan

dijemput pulang ke kraton Mataram. Ternyata bayi yang lahir itu benar laki

- laki dan kemudian oleh kyai diberi nama RM. Sandeyo, selain itu oleh

Kyai bayi itu juga diberi nama M. Nur Iman.

Seiring waktu berlalu Nur Iman / RM Sandeyo telah tumbuh dewasa

dan telah menjadi pemuda yang mumpuni dalam ilmu agama dan lainnya,

hingga pada suatu saat datang lah utusan tersebut dan meminta RM

Sandeyo untuk pulang ke Mataram. Akhirnya M. nur Iman mau untuk

pulang, akan tetapi Beliau tidak mau pulang bersama dengan utusan

tersebut. setelah pamit pada Kyai Abdullah Muhsin dan mendengarkan

semua pesan nasihat dari Kyai, maka RM. Sandeyo berangkat ke Mataram

dengan ditemani dua sahabat dekatnya yang bernama Sanusi dan

Tanmisani. Sesuai dengan nasihat Kyai, maka sepanjang perjalanannya

mereka tanpa henti berdakwah menyebarkan ilmu agama dan mendirikan

Ponpes, hingga perjalan sampai ke Mataram memakan waktu agak lama.

Ponpes yang didirikan M. Nur Iman antara lain ponpes yang ada di

sepanjang Ponorogo dan Pacitan. Kyai Abdullah Muhsin juga mempunyai

keyakinan kuat bahwa kelak M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar dan

termasyhur.

30

Saat terjadi perang saudara antara adik-adiknya (Pangeran

Sambernyowo, RM. Said, dan Pangeran Mangkubumi), M. Nur Iman

memilih meninggalkan istana dan berdakwah di daerah Kulon Progo. Di

sana kemudian ia menikah dengan putri Demang Hadiwongso yang

bernama Mursalah. Setelah mertuanya wafat ia sekeluarga pindah ke utara,

tepatnya di desa Kerisan. Di desa inilah RM. Sandeyo bertemu dengan

Sultan Hamengku Buwono I ( yang tidak lain adalah adiknya ). Sultan

Hamengku Buwono I kemudian meminta agar M. Nur Iman kembali ke

kraton. Saat jumenengan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I, M. Nur

Iman diberi hadiah tanah perdikan (tanah bebas pajak). Tanah tersebut

(14)

kemudian dijadikan desa untuk mengajarkan agama Islam. Didirikanlah

pondok pesantren untuk

Mulangi

(mengajar agama), sehingga nama desa

tersebut dikenal dengan Mlangi.

31

Dari pesantren Mlangi inilah kelak lahir tokoh-tokoh kuat, termasuk

Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengku Buwono III, banyak dididik

oleh pesantren Mlangi ini, selain ia dididik langsung oleh neneknya di

derah Tegalrejo, yang juga seorang ahli agama.

32

Hingga saat ini,

keberadaan pesantren di daerah Mlangi masih memainkan peranan yang

sangat penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Yogyakarta.

Simpul lain yang tak kalah pentingnya dalam perkembangan

pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta adalah masjid at-Taqwa yang saat

ini terletak di Wonokromo, Plered, Bantul. Masjid ini didirikan oleh Kyai

Muhammad Faqih, seorang guru agama Islam yang tinggal di Ketonggo. Ia

suka membuat

“welit”

(atap rumbia) yang terbuat dari daun ilalang. Karena

hasil kerjanya ini ia kemudian dikenal dengan Kyai Welit.

Kyai Abdullah Faqih memiliki makna tersendiri bagi Sultan

Hamengku Buwono I dan perkembangan pendidikan Islam di Kraton

Yogyakarta. Dikisahkan bahwa suatu hari, Sri Sultan Hamengku Buwono I

hendak menemui Kyai Muhammad Faqih (kelak diketahui bahwa ternyata

ia adalah kakak ipar Sri Sultan). Setelah ketemu, Sultan mengutarakan

maksudnya untuk menuntu ilmu atau

ngangsu kawruh

kepada Kyai Faqih.

Kyai Fakih keberatan, karena prinsipnya beliau hanya memberikan ilmu

kepada murid-muridnya. Setelah itu, Sri Sultan menyamar sebagai utusan

sultan. Penyamarannya tidak diketahui oleh Kyai Muhammad Fakih.

Karena niatnya yang sungguh-sungguh agar diterima sebagai murid, maka

permintaan itupun dikabulkannya. Pada saat itu, ia meminta nasehat kepada

Kyai Fakih bagaimana agar negara menjadi aman. Kyai Fakih kemudian

menasehatkan dua hal.

Pertama,

agar sultan melantik orang-orang yang

dapat mengajar dan menuntun akhlak/budi pekerti, yang disebut “Pathok”.

Pathok-pathok ini karena jabatannya kemudian dianugerahi tanah perdikan

(tanah bebas pajak).

Kedua,

Sultan harus memilih “Kenthol” (Kepala Desa)

31Ibid.

32 Lfeih .fnlkap tfntanl ealaimana pfran pfsantrfn M.anli da.am prieadi

(15)

yang karena jabatannya diberi tanah pelungguh. Saran tersebut disetujui

sultan, dan Kyai Fakih kemudian dijadikan sebagai Pathok, dan pada tahun

1774 dianugrahi tanah perdikan yang terletak di sebelah selatan Ketonggo.

Di tanah itulah kemudian dibangun masjid yang diberinama

“Wana

Karoma”

(supaya benar-benar Mulya).

33

Masjid tersebut kelak berubah

nama menjadi Masjid At Taqwa.

Dikisahkan pula bahwa Sultan Sangat senang dengan Kyai

Mohammad Fakih. Pada saat itu sebenarnya Sultan berniat hendak

menunaikan ibadah haji ke Mekah, namun karena situasi belum aman,

maka Sultan meminta kepada Kyai Muhammad Fakih untuk

menghajikannya. Kyai Fakih bermukim dua tahun di Mekah, sebab di tahun

pertama ia haji untuk dirinya sendiri dan tahun kedua haji untuk Sultan.

Sepulang dari tanah suci, kapal yang ditumpangi Kyai Muhammad Fakih

karam di Selat Malaka, sehingga ia tenggelam dan meninggal di laut.

Karena itu, Kyai Muhammad Fakih juga disebut dengan Kyai Seda Laut.

34

E. Aliran Pendidikan Islam Kraton Yogyakarta

Muhammad Jawwad Ridho membagi aliran pendidikan Islam ke dalam

tiga bagian, yakni

pertama,

religius-konservatif

(al-diniy al-muhafidz),

kedua,

aliran religius rasional

(al-diniy al-aqlaniy),

dan aliran pragmatis instrumental

(al-dzara’i).

35

Dikatakan bahwa aliran religius konservatif dalam bergumul dengan

persoalan pendidikan cenderung bersikap murni keagamaan. Mereka memaknai

ilmu dalam pengertian sempit, yakni hanya mencakup ilmu-ilmu yang dibutuhkan

sekarang (hidup di dunia) yang jelas-jelas akan membawa manfaat di akherat.

Penuntut ilmu diharuskan mengawali belajarnya dengan kitabullah (al-Qur’an).

Ulumul Qur’an merupakan induk semua ilmu, lalu dilanjutkan belajar al-Hadis

dan ulumul hadis, ushul,nahwu, dan sharaf. Pandangan konservatif yang dimaksud

dalam aliran ini adalah mengarah pada konsep hirarki nilai yang menstrukturkan

ragam ilmu secara vertikal sesuai dengan penilaian mereka tentang keutamaan

masing-masing ilmu.

36

33 Tim Penyusun yang diketuai oleh Slamet Hamzah, Masjid Bersejarah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal. 53.

34Ibidi

35 Aedi Rachman Assflaf, Aliran Pemikiran Pendidikan Islam: Hadharah Keilmuan

Tokoh Klasik sampai Modern, (Jakarta: Raja Grafndb Pfrsada, 2013), ha.i 57i

(16)

Aliran kedua adalah religius rasional

(al-diniy al-aqlaniy).

Bagi kalangan

religius rasional, persoalan pendidikan cenderung disikapi secara

rasional-filosofis, karena hal itu merupakan

entry point

bagi mereka yang hendak mengkaji

strategi atau program pendidikan. Kecenderungan rasional filosofis itu secara

eksplisit terungkap dalam rumusan mereka tentang ilmu dan belajar yang jauh

berbeda dengan rumusan kalangan tradisional-tekstualis. Aliran religius rasional

banyak membangun konsep-konsepnya dari pemikiran falsafah Yunani dan

berusaha menyelaraskan pemikiran tersebut dengan pandangan dasar dan orientasi

keagamaan. Kurikulum yang dikembangkan oleh aliran ini lebih menekankan

pada aspek rasional-filosofis, seperti

riyadhiyat

(ilmu-ilmu eksak),

manthiqiyat

(retorika-logika), ilmu-ilmu kealaman (fisika), dan teologi.

37

Aliran ketiga adalah pragmatis-instrumental

(al-dzara’i).

Menurut Jawwad

Ridha, tokoh satu-satunya dalam aliran ini adalah Ibnu Khaldun karena

pemikirannya lebih bersifat pragmatis dan lebih berorientasi pada aplikasi praktis.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa aliran pragmatis yang digulirkan oleh Ibnu

Khaldun merupakan wacana baru dalam pemikiran pendidikan Islam. Bila

kalangan konservatif mempersempit ruang lingkup “sekuler”di hadapan

rasionalitas Islam dan mengaitkannya secara kaku dengan pemikiran atau warisan

salaf, sedang kalangan rasionalis dalam sistem pendidikannya berpikiran idealistik

sehingga memasukkan semua disiplin ilmu yang dianggap substantif bernilai,

maka Ibnu Khaldun mengakomodir ragam keilmuan yang nyata terkait dengan

kebutuhan langsung manusia, baik kebutuhan spiritual-ruhaniah maupun material.

Meski demikian, Ibnu Khaldun sejalan dengan kalangan rasionalis dalam hal

pengakuan rasio

(al-‘aql)

atau daya pikir

(al-fikr).

38

Pembagian aliran pendidikan Islam menjadi tiga di atas menurut

Abdurrachman Assegaf sesungguhnya mengandung kerancuan dan tidak

sepenuhnya rigid sebagaimana disebutkan di atas. Istilah religius-konservatif

misalnya menurut Assegaf dalam sejarah Eropa dipahami bahwa secara prinsip

berusaha menerapkan ajaran-ajaran agama tertentu ke dalam politik, di mana

dengan menyatakan nilai ajaran tersebut, dan kadang-kadang nilai ajaran agama

tadi mempengaruhi hukum dan perundang-undangan. Muara dari pengertian

religius-konservatif pada akhirnya menuju pada fundamentalisme, dan bila

37 Ibid. Ha.i 58

(17)

dinisbatkan pada agama Islam, maka konsekuensi lanjutannya adalah

fundamentalisme Islam. Begitu pula dengan istilah rasional-filosofis yang pada

ujungnya adalah rasionalisme. Rasionalisme Barat menurut Assegaf tidak

menyentuh aspek nilai kewahyuan, dan terpisah dari dimensi keagamaan,

sehingga rasionalisme adalah sekularisme. Dengan mendasarkan seting

munculnya paham konservatisme dan rasionalisme di Barat, Assegaf mengkritisi

teori aliran pendidikan Islam Muhammad Jawwad Ridha beserta tokoh

pendukungnya. Menurut Assegaf, pemikiran pendidikan Islam sesungguhnya

mengambil beragam bentuk dari berbagai pengaruh, baik peradaban

Yunani-Helenis maupun internal peradaban umat Islam sendiri, atau bahkan peradaban

pemikiran Barat. Walaupun begitu, pemikiran pendidikan Islam tetap bersifat

eklektif dan selektif.

39

Mengamati kurikulum pendidikan Islam yang dikembangkan di Kraton

Yogyakarta pada masa Hamengku Buwono I, menarik untuk melihat aliran

pendidikan yang dikembangkan, dengan menggunakan kacamata pembagian

aliran pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Muhammad Jawwad Ridha di

atas. Kurikulum pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Sri Sultan Hamengku

Buwono I diarahkan pada dua tujuan utama, yakni membentuk jiwa ksatria dan

penguasaan ketrampilan ketentaraan, pertanian (kecakapan hidup), dan

kebudayaan. Dari kurikulum yang disusun, karakter ksatria yang dimaksud adalah

orang yang menguasai wawasan kesejarahan (khususnya sejarah Kraton), bahasa

dan sastra Jawa, tata negara, hukum dan perundangan-undangan, serta ilmu-ilmu

agama. Selain itu, pendidikan yang diselenggarakan di Sekolah Tamanan pada

masa Sri Sultan Hamengku Buwono I juga untuk membekali peserta didik dengan

wawasan kebudayaan dan kesenian, seperti tarian, menyungging wayang, melaras

gamelan, dan seni bangunan. Juga membekali peserta didik dengan ketrampilan

praktis berperang seperti memanah, menunggang kuda, dan secara spesifik latihan

berperang. Selain itu, juga membekali peserta didik dengan ketrampilan hidup,

utamanya pertanian. Hal ini dapat dimengerti karena wilayah Kraton Yogyakarta

pada masa Hamengku Buwono I adalah wilayah agraris, berbeda dengan wilayah

pesisir pantai utara yang berbasis perdagangan.

Melihat kurikulum pendidikan Islam yang dikembangkan Sri Sultan

Hamengku Buwono tersebut, secara sekilas tampak sangat pragmatis, tidak

(18)

berkutat pada wilayah pendidikan yang filosofis. Karena itu, dengan berdasarkan

pembagian aliran pendidikan yang dikemukakan oleh Muhammad Jawwad Ridha

tersebut di atas, aliran pendidikan yang dikembangkan dapat dinyatakan sebagai

aliran pendidikan PRAGMATIS INSTRUMENTAL

(Al-Dzara’i).

F. Penutup

Demikianlah beberapa simpul kecil dari perkembangan pendidikan

Islam pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Uraian di atas dapat

dipahami begitu besarnya komitmen Sri Sultan Hamengku Buwono I dalam

pengembangan pendidikan Islam. Ia mengembangkan pendidikan Islam

selaras dengan pendidikan kebudayaan yang terlihat dari

kurikulum-kurikulum yang dirancang di Sekolah Tamanan yang didirikannya.

Perkembangan pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta juga dapat

dilihat pada simpul-simpul penting dalam perkembangannya, antara lain

keberadaan masjid Keprabon (masjid Gedhe Kauman) dan masjid-masjid

yang kini berstatus sebagai Masjid Pathok Negoro. Di tempat-tempat itu

tumbuh dan berkembang pendidikan Islam. Dapat diduga corak pendidikan

Islam yang dikembangkan di Kraton, masjid keprabon, dan masjid pathok

negoro adalah corak yang saat ini dikembangkan oleh Nahdhatul Ulama.

Berdirinya Muhammadiyah pada akhir abad 19 atau awal abad 20

membawa perubahan pada corak pendidikan Islam di Kraton Yogyakarta,

khususnya yang terdapat di simpul Masjid Keprabon (Masjid Gedhe

Kauman) karena disitulah tempat basis perjuangan KH. Ahmad Dahlan,

pendiri Muhammadiyah. Sementara itu, di masjid-masjid Pathok Negoro

tidak banyak terpengaruh oleh adanya gerakan Muhammadiyah.

(19)

Apa yang diuraikan masih sangat dangkal, sumber-sumber yang

diperoleh masih dari sumber sekunder, sehingga masih perlu diperkaya

dengan sumber-sumber primer sebagaimana digunakan oleh Ricklef dan

Pater Carey dalam mengurai sejarah Jawa. Naskah-naskah Serat dan Babad

mau tidak mau menjadi sumber primer untuk bisa mengungkap bagaimana

pendidikan Islam di Yogyakarta. Naskah-naskah tersebut antara lain

Serat

Cabolek,

Serat Suryaraja, Babad Giyanti, Babad Kraton

dan

naskah-naskah lain yang relevan. Tulisan ini masih awal, dan akan dilanjutkan

dengan penelitian lanjutan yang lebih dalam. Semoga.

REFERENSI

A. Daliman. 2012.

Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di

Indonesia,

Yogyakarta: Ombak

Abd. Rachman Assegaf. 2013.

Aliran Pemikiran Pendidikan Islam: Hadharah

Keilmuan Tokoh Klasik sampai Modern

. Jakarta: Raja Grafindo

Persada.

Anton Satyo Hendriatmo. 2006.

Giyanti 1755: Perang Perebutan Mahkota III dan

Terpecahnya Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Tangerang: CS Book

Dradjat Suharjo. 2004.

Mengaji Ilmu Lingkungan Kraton.

Yogyakarta: Safiria Insania

Press.

Hermanu. 2011.

Ngayogyakarta.

Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta.

http://sayyidmuhammadraffie.blogspot.com/2010/05/riwayat-kyai-nur-iman-mlangi-tarikh-nur.html

K.R.T. Jatiningrat, “Perkembangan Sekolah di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat”,

dokumen tidak diterbitkan,

disarikan dari buku Peringatan 200 Tahun

Kota Yogyakarta 1956.

Krina Bayu Adji dan Sri Wintala Ahmad. 2014.

Sejarah Raja-Raja Jawa dari

Mataram Kuno hingga Mataram Islam

. Yogyakarta: Araska.

M. C. Ricklefs. 1974.

Jogjakarta Under Sultan Sultan Mangkubumi 1749 – 1792: A

History of the Division of Java

, London: Oxford University Press.

____________ 2005.

Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004.

Jakarta: Serambi

Maharsi. 2007. “Babad Kraton: Analisis Simbolisme Struktural, Upaya untuk

Memahami Konsep Berpikir Jawa Islam”

Disertasi tidak diterbitkan,

(20)

Masroer Ch. 2004.

The History of Java: Sejarah Perjumpaan Agama-Agama di Jawa

.

Yogyakarta: Arruz.

Pater Carey,

Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855,

Jakarta: Penerbit

Buku Kompas, 2014.

R.M. Sumardjo Nitinegoro. tt.

The Founding of Yogyakarta,

Yogyakarta: Putra Jaya.

S. Soebardi. 2004.

Serat Cabolek: Kuasa, Agama, dan Pembebasan,

Bandung:

Nuansa.

Selo Sumarjan. 1981.

Perubahan Sosial di Yogyakarta.

Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Tim Penyusun yang diketuai oleh Slamet Hamzah. 2007.

Masjid Bersejarah Provinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta,

Yogyakarta: Kanwil Departemen

Agama Pro. DIY.

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik makanan restoran khas Kraton Yogyakarta antara lain : cita rasa dominan manis, terdapat cita rasa gurih yang berkombinasi dengan rasa manis, menu

Hasil penelitian menunjukan : 1) bentuk arsitektural dan ornamen pada Masjid Kraton Saka Tunggal, Tamansari Yogyakarta yaitu: gapura semar tinandhu, usuk sorot, balok dudur,

Makna Ritus Kraton Yogyakarta... Depok menuju Kecamatan Cangkringan, maupun dari Kecamatan Cangkringan menuju rumah juru kunci, benda-benda labuhan tersebut

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengiventarisasi dan mengidentifikasi ragam sapaan nomina yang ada dalam bahasa dan budaya di Wilayah Kecamatan Kraton Yogyakarta, (2)

Perkembangan Islam juga dapat dilihat pada pembangunan fisik bangunan Islam di Australia seperti berdirinya ratusan masjid dan bangunan lain dengan arsitektur yang

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengiventarisasi dan mengidentifikasi ragam sapaan nomina yang ada dalam bahasa dan budaya di Wilayah Kecamatan Kraton Yogyakarta, (2)

Kasus studi Bangsal Sitihinggil dipilih dari bangunan-bangunan peninggalan Kraton Yogyakarta, dengan metode ‘sampel bertujuan’ (purposive sampling) melalui pendekatan:

Madrasah ini merupakan pendidikan Islam modern pertama di Kraton Yogyakarta yang yang oleh Steenbrink disebut ultra konservatif.40 Pendirian Madrasah ini sesungguhnya terinspirasi