5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Diklofenak
2.1.1 Kalium diklofenak
Menurut Anonim (2009), uraian tentang kalium diklofenak adalah sebagai berikut:
Rumus bangun :
Rumus molekul : C14H10Cl2KNO2
Berat molekul : 334.24
Nama kimia : Benzeneacetic acid, 2-[(2,6-dichlorophenyl)amino] monopotassium salt
Nama lain : Potassium [o-(2,6-dichloroanilino)phenyl]acetate Nama dagang : Cataflam (Novartis)
Persen komposisi : C 50.31%, H 3.02%, Cl 21.21%, K 11.70%, N 4.19%, O 9.57%
6 2.1.2 Asam diklofenak
Menurut Moffat, et al., (2011), uraian tentang asam diklofenak adalah sebagai berikut:
Rumus bangun :
Rumus molekul : C14H11Cl2NO2
Berat molekul : 296.15
Nama kimia : 2-[(2,6-dichlorophenyl)amino]benzeneacetic acid Nama lain : [o-(2,6-dichloroanilino)phenyl]acetic acid
Nama dagang : Voltarol (Novartis)
Karakteristik : Kristal dari eter-petroleum eter Titik lebur : 156 - 1580C
7 2.1.3 Diskoneksi asam diklofenak
8 2.1.4 Mekanisme reaksi asam diklofenak
(Sumber: Ismail, 2012)
2.1.5 Efek farmakologi
9 2.1.6 Efek samping
Diklofenak menimbulkan efek samping pada sekitar 20% pasien, akibatnya sekitar 2% pasien menghentikan terapi. Efek saluran cerna merupakan yang paling umum, perdarahan dan pembentukan ulser atau perforasi dinding usus. Respon lain yang tidak diinginkan terhadap diklofenak antara lain efek SSP, ruam kulit, reaksi alergi, retensi cairan, edema dan yang jarang, gangguan fungsi ginjal. Obat ini tidak dianjurkan untuk anak-anak, ibu menyusui, atau wanita hamil (Roberts dan Morrow, 2001).
2.2Esterifikasi
Kondensasi alkohol dan asam karboksilat yang dikatalis asam membentuk sebuah ester dan air yang disebut sebagai esterifikasi Fischer.
10
Gambar 2.1 Mekanisme reaksi esterifikasi suasana asam (Riswiyanto, 2009) Reaksi esterifikasi dikatalis oleh asam. Reaksi ini berlangsung lambat tanpa adanya asam kuat, tetapi mencapai kesetimbangan dalam waktu yang singkat ketika suatu asam dan alkohol direfluks bersama dengan asam sulfat atau asam klorida dalam konsentrasi yang kecil (Solomons, 1988).
2.3Rekristalisasi
Pengkristalan kembali (rekristalisasi) melibatkan pemurnian suatu zat padat dengan jalan melarutkan zat padat tersebut, mengurangi volume larutannya dengan pemanasan, dan kemudian mendinginkan larutan. Dengan memanaskan larutan, pelarut akan menguap hingga larutan mencapai titik lewat jenuh. Saat larutan mendingin, kelarutan akan berkurang secara cepat dan senyawa mulai mengendap (Bresnick, 2004).
11
senyawa yang diinginkan. Jika hal ini tidak terpenuhi, kotoran akan ikut mengkristal bersama senyawa yang diinginkan (Bresnick, 2004).
2.4Spektrofotometri Inframerah
Hampir beberapa senyawa mempunyai ikatan kovalen, baik senyawa organik maupun anorganik akan mengabsorbsi berbagai frekuensi radiasi elektromagnetik pada wilayah spektrum inframerah. Wilayah inframerah dari spektrum elektromagnetik berada pada panjang gelombang yang lebih panjang daripada sinar tampak yang berada pada rentang panjang gelombang 400-800 nm (1 nm = 10-9 m), tetapi berada pada panjang gelombang gelombang yang lebih pendek daripada sinar gelombang mikro yang mempunyai panjang gelombang lebih panjang dari 1 nm. Radiasi inframerah terdapat pada panjang gelombang (λ)
antara 2.5μ dan 15μ (1μ = 1 mikron = 1μm =10-6
m) (Pavia, et al., 1979).
Molekul dengan struktur yang berbeda tidak akan ada yang mempunyai pola absorbsi dan spektrum inframerah yang sama karena setiap ikatan yang berbeda mempunyai frekuensi getaran yang berbeda, dan juga karena setiap jenis ikatan kimia yang sama pada dua senyawa yang berbeda berada pada lingkungan yang sedikit berbeda (Pavia, et al., 1979).
12
Tabel 2.1 Frekuensi regangan IR (Sumber: Pavia, et al., 1979)
Gugus fungsi Frekuensi (cm-1) Intensitas
C-H Alkana 3000 - 2850 Kuat
Aromatis 1600 dan 1475 Medium - Lemah
C C Alkuna 2250 - 2100 Medium - Lemah
C=O Aldehid 1740 - 1720 Kuat
Keton 1725 - 1705 Kuat
Asam karboksilat 1725 - 1700 Kuat
Ester 1750 - 1730 Kuat
Amida 1670 - 1640 Kuat
Anhidrida 1810 dan 1760 Kuat
Asam klorida 1800 Kuat
C-O Alkohol, Eter, Ester, Asam
karboksilat, Anhidrida 1300 - 1000 Kuat O-H Alkohol, Fenol
Bebas 3650 - 3600 Medium
Terikat 3500 - 3200 Medium
Asam karboksilat 3400 - 2400 Medium N-H Primer, Sekunder dan
Amida 3500 - 3100 Medium
13 2.4.1 Prinsip
Radiasi inframerah dari frekuensi yang kurang dari 100 cm-1 diabsorbsi dan dikonversi oleh molekul organik menjadi energi rotasi molekul. Absorbsi terukur, maka spektrum rotasi molekul terdiri dari bercirikan garis. Radiasi inframerah pada rentang 10000-100 cm-1 diabsorbsi dan dikonversi oleh molekul organik menjadi energi vibrasi molekul. Absorbsi ini terukur, tapi spektra vibrasi lebih tampak sebagai pita daripada garis karena perubahan energi vibrasi tunggal diikuti oleh perubahan sejumlah energi rotasi (Silverstein, et al., 2005).
2.4.2 Spektrofotometer FT-IR
Spektrofotometer FT-IR didasarkan pada ide adanya interferensi radiasi antara 2 berkas sinar untuk menghasilkan suatu interferogram. Interferogram merupakan sinyal yang dihasilkan sebagai fungsi perubahan celah optik antara 2 berkas sinar. Radiasi yang berasal dari sumber sinar dilewatkan melalui interferometer ke sampel sebelum mencapai detektor. Selama penguatan (amplifikasi) sinyal, yang mana kontribusi-kontribusi frekuensi tinggi telah dihilangkan dengan filter, maka data diubah ke bentuk digital dengan analog-to-digital converter dan dipindahkan ke komputer untuk menjalani transformasi Fourier (Gandjar dan Rohman, 2012).
Gambar 2.2 Komponen utama dalam FT-IR (Sumber: Gandjar dan Rohman, 2012)
Sumber
sinar Interferometer Sampel
Detektor (Amplifier)Penguat
Pengubah analog ke digital
14 2.5 Kromatografi Gas (Gas Chromatography)
Kromatografi gas (KG) merupakan metode yang dinamis untuk pemisahan dan deteksi senyawa–senyawa orgnik yang mudah menguap dan senyawa-senyawa gas anorganik dalam suatu campuran. Kegunaan umum KG adalah untuk melakukan pemisahan dinamis dan identifikasi semua jenis senyawa-senyawa organik yang mudah menguap dan juga untuk melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa dalam suatu campuran (Gandjar dan Rohman, 2012).
Karena pemisahan campuran senyawa dalam kolom terjadi ketika senyawa dalam keadaan gas, maka sampel-sampel padat ataupun cairan harus pertama kali diuapkan. Hal inilah yang membatasi penggunaan KG yang mana KG digunakan untuk analisis senyawa yang stabil terhadap panas dan mudah diuapkan. Untuk sampel gas, sampel dapat langsung diambil dengan penyuntik (syringe) yang ketat terhadap gas (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.5.1 Prinsip kromatografi gas
15 2.5.2 Sistem peralatan kromatografi gas
Suatu kromatograf gas tersusun dari berbagai komponen dalam suatu bingkai khusus. Komponen-komponen ini mencakup injektor, kolom, dan detektor, yang dihubungkan dengan suatu oven yang dikontrol secara termostatik yang membuat kolom mampu mencapai suhu tinggi. Fase gerak yang membawa analit menuju kolom merupakan suatu gas dan dirujuk sebagai gas pembawa. Aliran gas pembawa, yang dikontrol secara teliti, akan mampu memberikan waktu retensi yang reprodusibel. Selain itu, kromatograf juga dilengkapi dengan komputer yang dilengkapi dengan perangkat pengolah data (Gandjar dan Rohman, 2012).
Gambar 2.3 Diagram skematik kromatograf gas (McNair dan Miller, 2009) 2.5.2.1Fase gerak
16 2.5.2.2Tempat pemasukan sampel (injektor)
Injektor merupakan suatu jalan masuk sampel ke kromatograf, mempunyai fungsi yang berbeda. Disamping peranannya sebagai jalan masuk sampel, injektor harus mampu menguapkan sampel, mencampurkannya dengan gas pembawa, dan membawa sampel ke ujung depan kolom (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.5.2.3Kolom dan fase diam
Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena didalamnya terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen utama pada kromatografi gas. Ada 2 jenis kolom yang berbeda dalam hal kinerjanya, yaitu kolom kemas atau packing column dan kolom kapiler atau capillary column. Pada kolom kemas, fase diam terdeposit atau terikat dengan reaksi kimia pada pendukung porus. Pada kolom kapiler, suatu lapisan tipis fase diam terdeposit pada permukaan kolom atau terikat pada permukaan bagian dalam kolom (Gandjar dan Rohman, 2012).
Fase diam yang digunakan pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semi polar. Fase diam non polar yang paling banyak digunakan adalah metil polisiloksan (HP-1; DB-1; SE-30; CPSIL-5) dan fenil 5%-metilpolisiloksan 95% (HP-5; DB-5; SE-52; CPSIL-8). Fase diam semi polar adalah seperti fenil 50%-metilpolisiloksan 50% (HP-17; DB-17; CPSIL-19), sementara itu fase diam yang polar adalah seperti polietilen glikol (HP-20M; DB-WAX; CP-WAX; Carbowax-20M) (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.5.2.4Detektor
17
Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik. Sinyal elektronik detektor sangat berguna untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah antara fase diam dan fase gerak (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.5.2.5Komputer
Kromatografi gas modern menggunakan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunaknya (software) untuk digitalisasi signal detektor yang mempunyai beberapa fungsi antara lain: memfasilitasi setting parameter-parameter instrumen seperti aliran fase gas, suhu oven dan pemrograman suhu, serta penyuntikan sampel secara otomatis; menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain dengan menggunakan grafik berwarna; merekam data kalibrasi, retensi serta perhitungan-perhitungan dengan statistik; menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa tertentu (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.6Spektrometri Massa (Mass Spectrometry)
18
Teknik ini digunakan sangat luas karena mampu menawarkan batas deteksi yang lebih kecil (lebih sensitif). Spektrometer massa jika digunakan sebagai detektor, maka akan mampu memberikan informasi data struktur kimia senyawa yang tidak diketahui. Dengan menggunakan spektrometer massa untuk memonitor ion tunggal atau beberapa ion yang karakteristik dalam analit, maka batas deteksi ion-in ini akan ditingkatkan (Gandjar dan Rohman, 2012).
2.6.1 Prinsip
Menurut Pavia, et al., (1979), spektrometer massa memainkan tiga peranan penting yaitu:
1. Molekul mengalami bombardir oleh aliran elektron berenergi tinggi, mengubah beberapa molekul menjadi ion.
2. Ion dipisahkan berdasarkan perbandingan muatan massa pada sebuah bidang listrik dan magnetik.
3. Pada akhirnya ion dengan perbandingan muatan massa tertentu dideteksi oleh suatu alat yang mampu menghitung jumlah ion yang diserang. Keluaran detektor direkam oleh sebuah recorder. Jejak dari recorder adalah sebuah spektrum massa, suatu grafik dari jumlah partikel yang dideteksi sebagai fungsi perbandingan muatan massa.