Stabilitas Asia Timur: Retorika atau Nyata
Wahyu Tri Setiawan/1111113000037
Jurusan Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
Dalam beberapa dekade terakhir, Asia Timur menjadi kawasan yang strategis. Kawasan tersebut yang terdiri atas negara – negara kuat seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Tidak dapat dipandang sebelah mata juga kekuatan Korea Utara yang cukup memberikan pengaruh terhadap stabilitas keamanan di kawasan Asia Timur. Konflik berkepanjangan antara negara – negara di kawasan Asia Timur juga mempengaruhi stabilitas keamanan di kawasan. Sengketa pulau Senkaku/Dokdo antara Jepang dengan Korea Selatan, luka lama Cina dengan Jepang yang selalu muncul ketika PM Jepang melakukan ziarah ke kuil Yashukuni, Korea Utara yang terus menggunakan nuklirnya sebagai alat untuk mengancam negara lainnya, Cina dan Taiwan yang hingga kini kondisi hubungan politik kedua negara tersebut yang belum menunjukkan kemajuan, persaingan pasar antar negara di kawasan tersebut juga ikut memberikan kontribusi terhadap stabilitas kawasan, dan juga kondisi domestik masing – masing negara di kawasan Asia Timur yang mempengaruhi tingkah laku negara di dalam kawasan tersebut. maka dapat dilihat bahwa kawasan ini mempunyai permasalahan yang kompleks, dimana antar negara di kawasan tersebut merasa bahwa negaranya adalah kekuatan terbesar dan terkuat di Asia Timur baik dalam sektor ekonomi dan militer dan mempunyai harga diri yang tinggi dengan negaranya sehingga membuat negara tersebut melihat bahwa kekuatan negara lain berada dibawah kekuatan negaranya. Namun dibalik hal tersebut, negara – negara di kawasan tersebut menginginkan terjadinya stabilitas keamanan seperti Korea Selatan yang meminta dukungan kepada Jepang, Cina, dan Amerika Serikat agar pengembangan nuklir di Korea Utara dapat dihentikan.1 Maka dalam esai ini penulis akan memaparkan apa saja potensi dan tantangan dalam terjadinya perdamaian di kawasan Asia Timur dan bagaimana studi Hubungan Internasional melihat kondisi tersebut yang dianalisis melalui konsep – konsep yang ada di dalam studi Hubungan Internasional.
Pendekatan Hubungan Internasional dalam Melihat Kondisi Stabilitas di
Asia Timur
Dalam melihat kondisi yang terjadi di kawasan Asia Tmur, dalam pendekatan Hubungan Internasional terdapat dua konsep seperti confidence Building Measures dan
National Interest. Dari kedua konsep tersebut kita akan dapat melihat bagaimana usaha negara – negara di kawasan Asia Timur dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan dan hambatan yang membuat stabilitas dan perdamaian sulit untuk dicapai.
Dalam pendekatan Hubungan Internasional terdapat konsep confidence Building Measures. Konsep ini diartikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mencegah atau mengatasi ketidakpastian di antara negara – negara.2 konsep ini di bentuk untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik antar negara dan membangun rasa saling percaya antar negara yang sedang berkonflik.3 Dalam membangun confidence antar negara yang sedang berkonflik dapat dilakukan melalui cara yang formal maupun informal, unilateral, bilateral, multilateral, militer atau politik, dan bisa State-to-state atau non-governmental.4
Confidence Building Measures ini adalah sebuah prosedur yang ditujukan untuk mereduksi tensi konflik militer diantara sekelompok negara baik sebelum, selama, maupun sesudah konflik yang sebenarnya.5 Dalam prakteknya, mereka berfungsi untuk membuat tingkah laku dari negara – negara yang sedang berkonflik menjadi bisa di prediksi dan bisa di kalkulasi, jadi negara tersebut bisa mempunyai beberapa ekspektasi dengan melihat tingkah laku dari negara lain.6
Dalam menjalankan CBM tersebut, terdapat empat elemen yang digunakan untuk CBM yaitu: komunikasi, batasan, transparansi, dan verifikasi.7 Pertama adalah Komunikasi, Komunikasi yang dilakukan intensif dan membuat jalur khusus untuk berkomunikasi antara negara yang berkonflik dapat mereduksi tensi antar kedua negara, kedua adalah Batasan/constraint, batasan yang dimaksud adalah batasan yang digunakan untuk menjaga jarak antara militer negara yang berkonflik terutama pada daerah perbatasan, ketiga adalah Trasnparansi, Transparansi antar negara yang berkonflik di dalam kapabilitas dan aktivitas
2 http://csis.org/programs/international-security-program/asia-division/cross-strait-security-initiative-/confidence-b diakses pada tanggal 11 Juni 2014, pukul 11.24.
3 Ibid.
4 Ibid.
5 Higgins, Holly., Applying Confidence Building Measures in A Regional Context, Institute of Science and International Security. Hlm. 109.
6 Ibid.
militer menjadi penting dalam melakukan CBM, dan yang keempat adalah Verifikasi, Verifikasi didesain untuk menegaskan atau memverifikasi permohonan negara dengan sebuah nota persetujuan atau traktat yang khusus.8 Keempat elemen tersebut menjadi cara – cara untuk membangun rasa saling percaya antar negara yang sedang berkonflik. Dengan terbangunnya rasa saling percaya antar kedua negara yang berkonflik diharapkan dapat mereduksi tensi dan menyelesaikan konflik yang terjadi diantara kedua pihak yang berkonflik.
Namun, penggunaan CBM sebagai problem resolver mempunyai kelemahan. Tanpa adanya kemauan dari negara – negara yang terlibat konflik atau sengketa, maka rasa sang percaya tersebut tidak akan muncul karena tidak adanya kemauan untuk menyelesaikan masalah tersebut memalui pembangunan rasa saling percaya. Maka penyelesaian konflik ini juga harus didasari atas kemauan negara – negara yang berkonflik untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Konsep kedua dalam melihat pembangunan stabilitas ekonomi, politik dan keamanan di kawasan Asia Timur adalah National Interest.ini adalah konsep yang sudah umum ada di dalam studi Hubungan Internasional. Konsep ini umumnya berasal dari realist School of Thought yang melihat bahwa National Interest merupakan asumsi dasar dari Hubungan Internasional dan motivasi dari negara – negara.9 dalam macapai National Interest, negara menggunakan elemen kebijakan – kebijakan untuk mencapainya.10
National Interest dalam regional yang sering kali berseberangan menjadi pemicu terjadinya clash of National Interest. Maka dalam pandangan realis, institusi regional menjadi tidak efektif ketika kita membicarakan National Interest. Realis yang melihat struktur sistem internasional yang anarki membuat institusi regional menjadi tidak penting untuk diperhitungkan. Maka dalam pandangan realis, National Interest dalam satu regional tidak dapat di integrasikan satu dengan yang lainnya.
Dalam kaitannya dengan Asia Timur, kedua konsep tersebut dapat digunakan untuk melihat fenomena yang terjadi dan untuk melihat sejauh mana perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Timur dapat terwujud. Kedua konsep tersebut dalam melihat yang terjadi di kawasan Asia Timur bisa saja mempunyai hasil yang berbeda.
8 Ibid. hlm. 110.
9 Griffiths, Martin, Terry O Callagan, International Relations: The Key Concept, Roudledge, London-New York, 2002. Hlm. 204.
Asia Timur yang terdiri atas negara – negara yang mempunyai masalah satu dengan yang lainnya menimbulkan rasa sentimen satu dengan yang lainnya. Dalam mewujudkan terjadinya stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut dibutuhkan rasa saling percaya satu dengan yang lainnya. Maka diperlukan adanya confidence Building Measures di dalam regional tersebut. ketika negara – negara di kawasan tersebut telah memiliki rasa saling percaya satu dengan yang lainnya akan mendorong stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Timur. proses CBM ini sudah mulai dijalankan oleh Korea Selatan dan Korea Utara dalam konflik semenanjung Korea yang hingga kini belum usai. Dengan dimulainya pembangunan rasa saling percaya yang dimulai oleh Korea Selatan dan Korea Utara seharusnya dapat diikuti oleh negara – negara lain di kawasan Asia Timur untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kawasan tersebut. Seperti Cina dan Taiwan yang juga melakukan CBM dan mengadopsi CBM di dalam White Paper dari Cina. Pembicaraan mengenai CBM pertama kali di bicarakan oleh kedua pihak melalui Semi-Official Straits Exchange Foundation yang mewakili Taiwan dan Assosiation for Relations Across the Taiwan Strait yang mewakili Cina yang terselenggara pada tahun 1998.11 Dengan upaya – upaya yang tengah dilakukan oleh negara - negara yang telah berkonflik sejak lama seperti Korea Selatan, Korea Utara, Cina dan Taiwan dapat menjadi cerminan untuk menyelesaikan konflik – konflik lainnya di kawasan Asia Timur. Konsep CBM ini menjadi problem resolver yang dianggap tepat untuk menyelesaikan konflik – konflik yang terjadi di kawasan Asia Timur. Hal Tersebut dikarenakan kekuatan masing – masing negara di kawasan Asia Timur tidak Jauh berbeda di bidang pertahanan maupun ekonomi. Dengan kekuatan yang hampir seimbang di antara negara – negara di kawasan tersebut akan sulit untuk menempuh jalur atau cara lain tanpa adanya rasa saling percaya satu dengan lainnya.
Ketika rasa saling percaya sudah terbangun di antara negara – negara di kawasan tersebut ala jauh lebih mudah untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kawasan. Penyelesaian konflik tanpa berburuk sangka dengan pihak lain akan memperlancar proses penyelesaian konflik hingga konflik atau sengketa di kawasan tidak bertambah panjang dan meluas.
National Interest suatu negara dianggap penting karena National Interest adalah elemen yang menentukan negara untuk bertindak dan bertingkah laku di dalam sistem internasional. Di dalam kawasan Asia Timur, negara – negara tentu mempunyai National
Interest yang berbeda – beda. Maka akan sangat sulit untuk mempersatukan negara – negara tersebut dengan interest mereka yang berbeda – beda. Terbentuknya konflik juga bisa didasari atas interest dari negara – negara yang berkonflik untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Maka terkadang asal terjadinya konflik berasal dari National Interest dari negara tersebut.
Dengan kondisi kawasan yang masing – masing negara mempunyai kekuatan ekonomi dan militer yang kuat, maka negara – negara akan bertindak semu mereka sendiri untuk mencapai National Interest yang ingin mereka capai melalui kekuatan yang menurut mereka potensial untuk digunakan untuk mencapai keinginan mereka. Proses perdamaian di kawasan juga menjadi terhambat karena adanya benturan dengan National Interest dari negara – negara. sebagai contoh, Cina tetap menginginkan Laut Cina Selatan sebagai teritorial negaranya yang tentu berlainan dengan konsep hukum laut. Selain itu dengan klaim tersebut tentu akan bersinggungan dengan perbatasan negara – negara lain di wilayah Laut Cina Selatan. Sengketa pulau Dokdo/Senkaku yang kedua negara Jepang dan Korea Selatan masing – masing mengklaim pulau tersebut. masalah proliferasi nuklir di Korea Utara yang terus berlanjut meski ditentang oleh banyak pihak terutama di kawasan.
Dengan kenyataan yang ada, walaupun negara – negara menginginkan perdamaian terjadi di kawasan Asia Timur akan tetap menemui jalan buntu ketika proses perdamaian tersebut berbenturan dengan National Interest dari negara – negara tersebut. Namun, ini bisa diselesaikan ketika negara – negara mau untuk mengorbankan National Interest-nya untuk mencapai perdamaian satu dengan yang lainnya.
Ketika negara siap untuk mengorbankan National Interest-nya guna mencapai perdamaian tentu akan jauh lebih mudah dalam proses perdamaian. Ego negara yang masih tinggi terhadap National Interest-nya terkadang mempersulit penyelesaian sengketa atau konflik antar negara.
Lebih jauh lagi, seharusnya stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan di kawasan menjadi National Interest utama dari masing – masing negara di kawasan Asia Timur. Karena dengan adanya keinginan untuk membangun stabilitas kawasan tentu akan memberikan insentif yang lebih banyak dibanding dengan setiap negara masing – masing mengutamakan
National Interest-nya sendiri yang tentu memberikan insentif, namun tidak sesignifikan kesamaan interest untuk menciptakan kawasan yang stabil secara ekonomi, politik, dan keamanan.
Faktor – Faktor dalam membangun perdamaian di Asia Timur
Dalam mewujudkan stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Timur, ada beberapa faktor yang mendukung atau berpotensi untuk mendorong negara – negara di Asia Timur menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasannya sendiri. potensi – potensi yang dimiliki oleh Asia Timur untuk bersama satu dengan lainnya seperti faktor ekonomi, keamanan, dan faktor eksternal yang berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dan membantu menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
1. Ekonomi
Ekonomi negara – negara di Asia Timur yang sudah Well Established membuat ekonomi di kawasan tersebut dapat dikatakan mempunyai kondisi ekonomi yang cukup mapan. Asia Timur dikatakan sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi dunia sejak terjadinya krisis keuangan global.12 Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,1% pada tahun 2014 menjadikan Asia Timur sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.13
Disamping itu, pertumbuhan ekonomi yang melaju pesat di kawasan tersebut akibat dari seimbangnya distribusi pendapatan negara di kawasan tersebut.14 Selain itu adanya raksasa ekonomi yang sudah ada sejak pasca Perang Dunia ke-2 seperti Jepang dan Cina juga memicu negara – negara tetangga dari kedua negara tersebut untuk membangun ekonominya agar dapat bersaing dengan kedua raksasa ekonomi tersebut.15 Tindakan ini dilakukan oleh Taiwan dan Korea Selatan pasca Perang Saudara yang mengakibatkan hancurnya baik
12 http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2014/04/07/east-asian-economies-expected-to-grow-at-a-stable-pace-in-2014 diakses pada tanggal 9 Juni 2014 pukul 10.39.
13 Ibid.
14 Mascarenhas, R. C., Comparative Political Economy of East and South Asia, A Critique of Development Policy and Management, MacMillan Publishing Company, 1999. Hlm. 68.
ekonomi maupun pembangunan di negara tersebut.16 Dengan adanya pemicu dari kekuatan ekonomi yang sudah ada sejak lama membuat kawasan ini kian kompetitif. Namun di tengah persaingan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang kian pesat di kawasan tersebut, negara – negara di kawasan tersebut justru membuat mereka sadar bahwa perlunya integrasi ekonomi di kawasan tersebut agar tercipta stabilitas ekonomi di kawasan tersebut. stabilitas merupakan faktor penting dalam membangun dan menjalankan kehidupan ekonomi.
Dengan adanya stabilitas diharapkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi akan berjalan lancar tanpa adanya obstacle yang menghambat kehidupan ekonomi tersebut. Negara – negara di kawasan tersebut percaya bahwa dengan rendahnya hambatan ekonomi akan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan yang semakin baik. Dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik dan terintegrasi antar negara di kawasan akan mendorong negara – negara di kawasan Asia Timur akan mengurangi gesekan – gesekan antar negara di kawasan tersebut dan membentuk kawasan yang aman dan stabil.
2. Politik
Kesadaran atas keinginan untuk terwujudnya integrasi ekonomi di kawasan oleh negara – negara untuk stabilitas ekonomi juga harus diimbangi dengan stabilitas politik kawasan tersebut. Jika kita melihat kondisi politik di kawasan Asia Timur, kawasan ini masih terdapat banyak sengketa yang terjadi. Seperti yang terjadi antara RRC dengan Taiwan, Korea Utara dan Selatan, Jepang dengan Korea Selatan terkait pulau Dokdo/Senkaku, Cina dengan banyak negara terkait Laut Cina Selatan, Cina dengan Jepang terkait ziarah PM di kuil Shukuni.
Dengan kondisi politik di kawasan tersebut yang sangat rumit, kawasan tersebut terkesan akan mengalami kesulitan dalam melakukan integrasi politik karena adanya perbedaan ideologi, kepentingan, dan pandangan di kawasan tersebut. Maka, dengan adanya perbedaan – perbedaan tersebut menjadi sangat tipis kemungkinan untuk membangun stabilitas politik di kawasan Asia Timur.
Namun, dibalik kondisi politik yang rumit tersebut, negara – negara di kawasan tersebut tetap menginginkan terjadinya stabilitas politik di kawasan. Seperti Korea Selatan yang pada masa pemerintahan baru Park Gyun Hye mendorong terjadinya stabilitas kawasan melalui strategi yang dibentuk oleh Presiden baru tersebut. Park mengeluarkan strategi pembangunan kepercayaan/Trust Building Strategies untuk meningkatkan hubungan dan stabilitas diantara
Korea Selatan, Cina, dan Jepang.17 Walaupun masih di dalam proses untuk membangun kepercayaan antar negara, Korea Selatan yakin bahwa strategi tersebut akan berhasil untuk menciptakan stabilitas politik di kawasan tersebut.
3. Eksternal
Faktor eksternal kini sangat berpengaruh dalam menentukan stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Timur. Asia timur memang memerlukan pihak luar untuk menciptakan stabilitas karena adanya permasalahan – permasalahan internal di kawasan yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh negara – negara di kawasan Asia Timur tersebut. dengan adanya campur tangan pihak luar regional diharapkan dapat terpengaruh signifikan dalam menyelesaikan konflik – konflik horizontal antar negara di kawasan.
Amerika Serikat telah lama turut serta membantu menyelesaikan konflik yang terjadi di Asia Timur. melakukan mediasi Korea Utara dan Korea Selatan melalui aliansi dengan Korea Selatan dan menempuh jalur diplomasi ke Korea Utara walaupun hingga kini belum membuahkan hasil yang signifikan, Amerika Serikat tetap berusaha untuk membujuk Korea Utara untuk menghentikan proliferasi nuklirnya yang dianggap mengganggu stabilitas keamanan di kawasan tersebut.
Pihak – pihak eksternal tentu menginginkan kawasan tersebut menjadi stabil baik secara politik maupun keamanan. Ini disebabkan karena kawasan ini merupakan kawasan yang sangat potensial untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti investasi, produksi dan lain – lain. Dengan adanya potensi tersebut, pihak eksternal tentu akan membantu kawasan ini untuk mencapai stabilitas regional.
Selain itu adanya masalah bersama yaitu proliferasi nuklir Korea Utara yang cukup mengganggu negara – negara baik di kawasan regional maupun dalam sistem internasional ini juga menjadi pemicu utama pihak eksternal untuk ikut membantu membangun stabilitas keamanan di kawasan tersebut. nuklir Korea Utara tidak diragukan lagi membuat negara – negara baik di kawasan maupun sistem internasional menjadi insecure dan Korea Utara yang memiliki pemimpin yang dianggap tidak rasional dan diktator menimbulkan ketidakpastian akan tindakan dan tingkah laku Korea Utara di regional dan sistem internasional.
Dengan ancaman baik secara regional maupun sistem memicu pihak eksternal untuk turut serta membantu menciptakan stabilitas keamanan di kawasan tersebut. karena dengan
hilangnya ancaman bersama seperti proliferasi nuklir Korea Utara akan membantu meningkatkan ketentraman kawasan Asia Timur. selain itu pihak Eksternal juga mempunyai kepentingan di kawasan tersebut. Ketika Asia Timur menjadi stabil keadaan politiknya, maka Asia Timur akan menjadi ladang baru bagi pihak asing untuk melakukan kegiatan ekonomi dari pihak eksternal seperti negara – negara Eropa dan Amerika Serikat.
Tantangan Dalam menciptakan Asia Timur yang Damai
Dalam menciptakan perdamaian di kawasan Asia Timur tentu akan menghadapi hambatan – hambatan atau tantangan – tantangan. Instabilitas Asia Timur yang hingga kini terus berlanjut mempunyai akar permasalahan yang selama ini belum terselesaikan oleh negara – negara di kawasan tersebut. setidaknya terdapat tiga hambatan dan tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan untuk menciptakan Asia Timur yang damai.
1. Sosial Budaya
Walaupun berada di dalam satu regional, nyatanya Asia Timur mempunyai kehidupan sosial budaya yang berbeda – beda. Perbedaannya pun signifikan antara satu negara dengan negara lainnya. Selain itu sejarah diduga menjadi alasan utama mengapa negara – negara ini masih berseteru hingga kini. Luka lama mengenai penjajahan Jepang di Cina dan Korea memberikan pandangan negatif terhadap Jepang. Penjajahan era perang dunia yang membuat rakyat negara yang dijajah oleh Jepang menderita dan kesulitan. Rakyat kelaparan, akses terhadap kehidupan yang baik kala itu menjadi sulit untuk didapatkan. Dari hal tersebut yang membuat negara – negara Asia Timur yang dijajah oleh Jepang kini seakan – akan memiliki sentimen negatif dengan Jepang atau semacam sikap anti Jepang. Sejarah yang kelam masih tersimpan di negara – negara bekas jajahan Jepang. Sikap anti Jepang masih terdapat di negara – negara seperti Cina dan Korea.
kepada Cina maupun kepada Jepang. Ini bisa saja dapat menimbulkan sentimen – sentimen antar negara yang dapat berakibat retaknya hubungan bilateral antar kedua negara tersebut.
Dengan permasalahan sejarah yang menimbulkan sentimen – sentimen tentunya menjadi hambatan dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Timur. Mungkin saja masalah sosial budaya yang sulit untuk diubah akan menjadi hambatan. Stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Timur akan sulit terjadi tanpa adanya rasa saling menghormati satu dengan yang lainnya. Dengan kondisi tersebut Asia Timur hanya akan mempertahankan
status quo-nya yaitu tetap berada di posisi yang kini terjadi, tanpa adanya perdamaian dan masih terdapat instabilitas di kawasan tersebut.
2. Kesadaran dan Keinginan
Dalam menyelesaikan suatu sengketa, konflik maupun permasalahan yang terjadi tentu diperlukan adanya kesadaran untuk menyelesaikannya. Ketika negara – negara sudah memiliki kesadaran maka proses menyelesaikan konflik akan jauh lebih mudah untuk diselesaikan. Tentu dengan adanya kesadaran beriringan juga adanya keinginan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Kedua variabel tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Di kawasan Asia Timur sudah ada beberapa negara yang menginginkan untuk terciptanya stabilitas seperti Korea Selatan yang kini dipimpin oleh Park Gyun Hye yang mengeluarkan
Trust Building Strategies-nya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kawasan tersebut dengan pembangunan rasa saling percaya. Ini menunjukkan adanya keinginan dan kesadaran untuk menghentikan konflik – konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
Namun, kiranya baru satu negara yang benar – benar nyata untuk menyelesaikan dan berkeinginan untuk menghilangkan tensi yang tinggi di kawasan tersebut dengan strategi – strategi yang dikeluarkannya. Negara – negara lain seakan – akan hanya ikut saja tanpa menunjukkan kesungguhan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
mempertahankan status quo-nya Korea Utara merasa lebih diuntungkan, karena dengan kondisi itu Korea Utara dapat lebih mudah untuk mendapatkan “bantuan” dari negara – negara sekitar dengan nuklirnya sebagai alat untuk meminta “bantuan”.
Dengan kurangnya kesadaran dan keinginan dari negara – negara di kawasan Asia timur akan menjadi tantangan bagi negara – negara yang menginginkan terjadinya stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut. Negara seperti Korea Selatan yang sudah menginginkan terjadinya stabilitas dan perdamaian harus berusaha keras agar negara – negara lain di kawasan Asia Timur ini dapat sadar bahwa stabilitas dan perdamaian kawasan akan memberikan dampak yang baik terhadap kehidupan negara di kawasan tersebut.
3. Trust
Rasa saling percaya merupakan elemen penting yang lain yang dapat membantu selesainya konflik yang terjadi. Dengan adanya rasa saling percaya akan mengikis rasa saling curiga antar satu negara dengan negara lainnya. Rasa saling percaya dapat menumbuhkan hubungan yang sebelumnya buruk menjadi semakin baik. Selain itu rasa saling percaya dapat mereduksi tensi yang terjadi diantara kedua belah pihak yang bertikai.
Proses pembangunan rasa saling percaya di kawasan Asia Timur telah terjadi sejak tahun 1998 oleh Cina dan Taiwan secara informal. Walaupun dilakukan secara informal pembangunan Trust terus berjalan hingga kini. Kemudian proses pembangunan Trust juga dilakukan oleh Korea Selatan melalui Trust Building Strategies yang dikeluarkan oleh Park Gyun Hye. Park mengajak Jepang, Cina, Korea Utara untuk meningkatkan hubungan diantara negara – negara tersebut.
Proses yang masih terus berjalan hingga kini mulai berjalan dengan baik dengan dibukanya kembali kompleks industri kaesong oleh kedua pihak untuk meningkatkan hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara.18 Walaupun Korea Utara tetap meningkatkan kapabilitas nuklirnya dan masih berpotensi mengancam Korea Selatan, Korea Selatan tetap perlahan lahan mendekatkan diri ke Korea Utara untuk melanjutkan strateginya.19
Perbaikan kerja sama antara Korea Selatan dan Cina pun dibangun dengan memulai kerja sama di bidang – bidang yang disebut sebagai “Softer Issues”.20 Kerja sama awal yang dibangun oleh kedua negara tersebut adalah kerja sama lingkungan, keamanan nuklir, dan
18http://www.e-ir.info/2014/02/06/south-koreas-foreign-policy-in-2013-building-trust-in-east-asia/ diakses pada tanggal 12 Juni 2014 pukul 11.35.
19 Ibid.
penanganan bencana.21 Ini dapat diharapkan menjadi awal yang baik untuk menuju kerja sama yang “Higher Issues”.22
Namun hubungan antara Korea Selatan dengan Jepang masih menemui jalan buntu. Jepang masih bersikap dingin dengan Korea Selatan. Namun Korea Selatan tetap berusaha untuk mendekatkan diri dengan Jepang melalui kerja sama di bidang lingkungan, keamanan nuklir dan penanganan bencana melalui hubungan trilateral antara Korea Selatan, Jepang, dan Cina.23 selain itu melalui hubungan trilateral itu juga membangun Free Trade Agreement diantara ketiga pihak tersebut yang sudah mulai dibicarakan oleh ketiganya.24
Namun usaha Korea Selatan masih harus lebih keras mengingat negara – negara lain belum mempunyai rasa saling percaya satu dengan lainnya. Korea Selatan berharap agar strateginya tersebut dapat berjalan dengan lancar dan tidak menemui kendala agar negara – negara lain di kawasan dapat mempunyai rasa saling percaya seperti yang telah Korea Selatan bangun di negaranya.
Kesimpulan
Kondisi yang Asia Timur miliki kini dianggap sangat rumit mengingat masing – masing negara di kawasan Asia Timur memiliki masalah masing – masing dengan negara lainnya di kawasan tersebut. dari perspektif hubungan internasional, hubungan internasional melihat perlunya Confidence Building Measures untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan yang terjadi di kawasan Asia Timur. dengan adanya rasa saling percaya antar negara akan menghilangkan tensi antar negara di kawasan tersebut. perspektif Hubungan Internasional juga melihat bahwa National Interest turut mempengaruhi konflik yang terjadi di kawasan tersebut akibat dari clash of National Interest.
Dalam membangun stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Timur terdapat faktor – faktor yang dapat mempengaruhi. Faktor – faktor yang mempengaruhi pembangunan tersebut ada tiga, pertama adalah ekonomi yang sudah kuat di kawasan tersebut dan mendorong terjadinya integrasi ekonomi di kawasan tersebut. Kedua adalah politik, walaupun masih terdapat hubungan politik antar negara yang kurang harmonis, ada negara yang sudah mulai membangun hubungan politik yang baik yang sudah didorong oleh Korea Selatan melalui
21 Ibid.
22 Ibid.
23 Ibid.
Trust Building Strategies. Ketiga adalah faktor eksternal yang mendorong negara di kawasan untuk berdamai dan menciptakan stabilitas kawasan.
Dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian tentu ada tantangan yang harus dihadapi. Pertama adalah permasalahan sosial budaya dan pandangan negara yang berbeda – beda. Kedua adalah kesadaran dan keinginan yang masih minim untuk mencapai stabilitas dan perdamaian kawasan Asia Timur. Ketiga adalah masalah saling percaya antar negara di kawasan yang masih minim sehingga konflik dan tensi antar negara sulit untuk direduksi.
Maka, dari apa yang telah dipaparkan stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut akan sulit dicapai tanpa adanya rasa saling percaya, ego masing – masing negara tentang