• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan Perencanaan Tata Ruang di Pu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kelembagaan Perencanaan Tata Ruang di Pu"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

MATERI 2:

Kelembagaan Perencanaan Tata Ruang di Pusat

dan Daerah

Disampaikan oleh

Oswar Mungkasa (Direktur Tata Ruang dan Pertanahan)

pada

Diklat Fungsional Penjenjangan Perencana (FPP) Madya Spasial

Kerjasama Pusbindiklatren Bappenas dengan Program Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD) UGM

(2)

Kementerian PPN/Bappenas

OUTLINE PEMBAHASAN

Penyelenggaraan Penataan Ruang

Perencanaan Tata Ruang

Koordinasi Penataan Ruang di Pusat dan

Daerah

Status Penyelesaian RTR

(3)

Kementerian PPN/Bappenas

Penyelenggaraan Penataan

Ruang

(4)

TUR, BIN, dan WAS terhadap :

- LAK PR wilayah Nasional, provinsi, & kabupaten/kota,

- LAK PR kws. strategis nasional, provinsi, & kabupaten/kota

LAK PR wilayah Nasional

LAK PR kws strategis Nasional

Kerja sama PR antarnegara & fasilitasi kerja sama antarprovinsi

NEGARA

WEWENANG PEMERINTAH

WEWENANG PEMERINTAH PROVINSI

WEWENANG PEMERINTAH KAB./KOTA

Dalam melaksanakan tugasnya, negara

memberikan kewenangan penyelenggaraan

penataan ruang kepada Pemerintah dan

pemerintah daerah Negara menyelengga-rakan penataan ruang untuk sebesar-besarnya kemakmuran raktyat

TUR, BIN, dan WAS terhadap :

- LAK PR wilayah provinsi & kabupaten/kota,

- LAK PR kws. Provinsi & kabupaten/kota

LAK PR wilayah provinsi

LAK PR kws. strategis provinsi

Kerja sama PR antarprovinsi & fasilitasi kerja sama antarprovinsi

TUR, BIN, dan WAS terhadap :

- LAK PR Wilayah kabupaten/kota,

- LAK PR kws. strategis kabupaten/kota

LAK PR wilayah kabupaten /kota

LAK PR kws. strategis kabupaten/kota Kerja sama PR antarkabupaten/kota Ket:

TUR = pengaturan

BIN = pembinaan

LAK = pelaksanaan

WAS = pengawasan PR = penataan ruang Seorang Menteri

Ps. 9 ayat (1)

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Tugas dan Wewenang Penyelenggaraan Penataan

Ruang..(1)

(5)

Pengaturan

upaya pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah, pemerintah daerah, dan

masyarakat dalam

penataan ruang Perencanaan Tata Ruang

penyusunan rencana tata ruang

Pemanfaatan Ruang

pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya

Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Peraturan

zonasi

PerizinanInsentif –

disinsentif

Pengenaan

Sanksi

penetapan ketentuan peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang termasuk pedoman bidang penataan ruang.

Pemerintah kepada

pemerintah daerah dan masyarakat

Pemerintah provinsi

kepada pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat

Pemerintah

kabupaten/kota kepada masyarakat

Pemantauan EvaluasiPelaporan suatu proses

untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan RTR

upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan RTR melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya

upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang

Pembinaan

upaya untuk

meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat

Pelaksanaan

upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang,

pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang

Pengawasan

upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Penyelenggaraan Penataan Ruang

Ps. 1 angka 9 Ps. 1 angka 10

Ps. 1 angka 11

Ps. 1 angka 12

Ps. 12

Ps. 13

Ps.55 ayat (2) Ps. 1 angka 13 Ps. 1 angka 14 Ps. 1 angka 15

Ps. 14 ayat (1) Ps. 32 ayat (1) Ps. 35

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Tugas dan Wewenang Penataan Penyelenggaraan

Ruang..(2)

(6)

PENGATURAN

Penetapan ketentuan peraturan per-UU-an

bidang penataan ruang (termasuk pedoman

bidang penataan ruang

PEMBINAAN

koordinasi penyelenggaraan penataan ruang;

sosialisasi peraturan per-UU-an dan

sosialisasi pedoman bidang penataan ruang;

pemberian bimbingan, supervisi, dan

konsultasi pelaksanaan penataan ruang;

pendidikan dan pelatihan;

penelitian dan pengembangan;

pengembangan sistem informasi dan

komunikasi penataan ruang;

penyebarluasan informasi penataan ruang

kepada masyarakat; dan

pengembangan kesadaran dan tanggung

jawab masyarakat. Ps. 13 ayat (2)

Ps.12

melalui

melalui

dilakukan

kepada Ps. 13 ayat (1)

Pemerintah

Pemerintah Provinsi

Pemerintah Provinsi

Masyarakat

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Pengaturan dan Pembinaan Penataan Ruang

(7)

PELAKSANAAN

PERENCANAAN

TATA RUANG

Pemanfaatan

Ruang

Pengendalian

Pemanfaatan Ruang

suatu proses untuk menentukan struktur ruang & pola ruang yang

meliputi penyusunan & penetapan RTR

upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan RTR melalui

penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya

Adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang

upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan:

Ps.12

Ps. 1 angka 11

Ps. 1 angka 15 Ps. 1 angka 13

Ps. 1 angka 14

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Pelaksanaan Penataan Ruang

(8)

PENGAWASAN PENATAAN RUANG

Kinerja Pengaturan Penataan Ruang

dilakukan terhadap

Pemantauan

Evaluasi Pelaporan

terdiri atas

dilaksanakan oleh

Pemerintah dan

pemerintah daerah Masyarakat

melibatkan

menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada Pemerintah dan pemerintah daerah

dilakukan dengan dilakukan dengan

mengamati &

memeriksa kesesuaian antara penyelenggaraan penataan ruang dgn ketentuan peraturan per-UU-an

terbukti terjadi penyimpangan administratif

Menteri, Gubernur, &

Bupati/Walikota mengambil langkah penyelesaian sesuai dengan kewenangannya

Gubernur mengambil langkah penyelesaian yang tidak dilaksanakan Bupati/Walikota

dalam hal Bupati/Walikota tidak melaksanakan langkah penyelesaian

Menteri mengambil langkah penyelesaian yang tidak dilaksanakan Gubernur

dalam hal Gubernur tidak

melaksanakan langkah penyelesaian

Kinerja pembinaan Penataan Ruang

Kinerja Pelaksanaan Penataan Ruang

kinerja fungsi dan manfaat penyelenggaraan penataan ruang

kinerja pemenuhan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang Ps. 55 ayat (1)

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Pengawasan Penataan Ruang

(9)

Kementerian PPN/Bappenas

Perencanaan Tata Ruang

(10)

PR berdasarkan Administrasi

(mempertegas aspek kewenangan penyelenggaraan)

PR Wilayah Nasional

PR Wilayah Provinsi

PR Wilayah Kabupaten

PR Wilayah Kota

PR berdasarkan Nilai Strategis Kawasan

(kawasan yang secara spesifik berpengaruh besar terhadap pencapaian tujuan PR)

Kawasan Strategis Nasional

Kawasan Strategis Provinsi

Kawasan Strategis Kabupaten

Kawasan Strategis Kota

Kewenangan

Pem. Pusat

Pem. Provinsi

Pem. Kabupaten

Pem. Kota

KEWENANGAN PENATAAN RUANG

Ps. 5 ayat (3) Ps. 5 ayat (5)

Dengan demikian, kewenangan penyusunan Rencana

Tata Ruang disesuaikan dengan kewenangan penataan

ruang berdasarkan administrasi dan nilai strategis

kawasan

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

(11)

PERENCANAAN TATA RUANG

RENCANA UMUM TATA

RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG

RTR KWS METROPOLITAN

RTR PULAU / KEPULAUAN

RTR KWS STRA. NASIONAL

RTR KWS STRA KABUPATEN

RTR KWS PERKOTAAN DLM WIL KABUPATEN

RTRW KOTA RTR BAGIAN WIL KOTA

RTR KWS STRA KOTA RDTR WIL KABUPATEN

RTR KWS STRA. PROVINSI

RDTR WIL KOTA RTRW NASIONAL

RTRW PROVINSI

RTRW KABUPATEN

Menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang

sebagai perangkat operasional rencana umum tata ruang

Sebagai dasar penyusunan peraturan zonasi

a. rencana umum tata ruang belum dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan

pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang; dan/atau

b. rencana umum tata ruang mencakup wilayah

perencanaan yang luas dan skala peta dalam rencana umum tata ruang tersebut memerlukan perincian sebelum dioperasionalkan

disusun apabila:

Sumber: UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

(12)

MEKANISME PENETAPAN PERDA RTRW PROVINSI (BERDASARKAN

UNDANG-UNDANG NO.23 TAHUN 2014) MEKANISME PENETAPAN

PERDA RTRW PROVINSI (BERDASARKAN

UNDANG-UNDANG NO.23 TAHUN 2014)

Pasal 245 ayat 2 Koordinasi dengan Menteri Yang

Membidangi Urusan Tata Ruang

Dilakukan

MENDAGRI

Gubernur Menetapkan Raperda menjadi

Perda

Perda RTRWP

Hasil : Dilaporkan

(13)

RAPERDA YANG TELAH DISETUJUI DPRD DIAJUKAN OLEH BUPATI/WALIKOTA

KONSULTASI

MENDAGRI

Atas Dasar Surat Rekomendasi Dikoordinasi oleh BKPRN

Dihasilkan

Diselenggaraka n

Dilakukan

Persetujuan Substansi

Teknis

Surat Permintaan Evaluasi dari

Bupati/ Walikota

PENYUSUNAN - Permendagri;

- Permen PU;

- Permen Kelautan dan Perikanan;

- Dll. Substansi Teknis

GUBERNUR C.q. BKPRD Provinsi

Surat

Bupati/Walikota Menetapkan Raperda menjadi

Perda

INSTANSI PUSAT YANG MEMBIDANGI

URUSAN TATA RUANG

KONSULTASI KEPADA MENTERI, DAN SELANJUTNYA MENTERI BERKOORDINASI DENGAN MENTERI YANG MEMBIDANGI URUSAN TATA RUANG

EVALUASI

Raperda RTRWK/K

Konsultas i

Evaluasi

Perda RTRWK/K

Oleh Gubernur

Pasal 245 ayat (4)

MEKANISME PENETAPAN PERDA RTRW KABUPATEN/KOTA (BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.23 TAHUN 2014) MEKANISME PENETAPAN PERDA RTRW KABUPATEN/KOTA

(BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.23 TAHUN 2014)

Dilakukan

Hasil

Hasil Evaluasi diikuti dengan

Pemberian Nomor Register

(14)

Kementerian PPN/Bappenas

Penyelesaian proses kehutanan

Penyiapan Raperda RRTR oleh

Daerah

Permintaan Persetujuan Substansi ke Menteri

ATR

Pembahasan RRTR di

BKPRN

Persetujuan Substansi RRTR oleh Menteri ATR

Penetapan Raperda bersama

DPRD

Perda RRTR Provinsi/ Kabupaten/

Kota

Evaluasi Kemendagri

Diperlukan

rekomendasi Gubernur

untuk RRTR Kab/Kota

Mekanisme Penetapan Perda RRTR

Provinsi/Kabupaten/Kota..(1)

A. OLEH MENTERI ATR

(15)

Kementerian PPN/Bappenas

Mekanisme Penetapan Perda RRTR

Provinsi/Kabupaten/Kota..(2)

B. OLEH GUBERNUR

(16)

Kementerian PPN/Bappenas

Persetujuan Substansi

Berdasarkan Permen PU No. 11 Tahun 2009 tentang Persetujuan

Substansi dalam Penetapan Raperda RTRW, diketahui bahwa

Evaluasi Materi Muatan Teknis Raperda RTRW Provnsi dan

Kabupaten/Kota dilakukan melalui forum koordinasi kelompok kerja

teknis BKPRN oleh Tim Evaluasi Persetujuan Subtansi BKPRN.

Adapun pembentukan Tim Evaluasi Teknis Pesetujuan Substansi

Raperda RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota beserta Rencana

Rincinya ditetapkan melalui Kepmen PU No. 425 Tahun 2009, yang

beranggotakan diantaranya Eselon II dari:

• Kemenko Perekonomian • Kemenko Polhukam

• Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN

• Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

• Kementerian PPN/Bappenas • Kementerian Dalam Negeri • Sekretariat Kabinet

• Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

• Kementerian Kelauatan dan Perikanan • Kementerian Perhubungan

• Kementerian Pertanian

• Kementerian Hukum dan HAM • Kementerian EDSM

• Kementerian Perindustrian • Kementerian Luar Negeri • Badan Informasi Geospatial

• Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

(17)

Kementerian PPN/Bappenas

o Berdasarkan ketentuan Pasal 18 UU No. 26 tahun 2007 tentang

Penataan Ruang, penetapan Raperda tentang RTRW Provinsi, Kabupaten, dan Kota beserta Rencana Rincinya dilakukan setelah

mendapatkan persetujuan substansi dari menteri yang

menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam bidang penataan ruang.

o Berdasarkan Pasal 58 ayat (2), Pasal 62 ayat (2), Pasal 68 ayat 2),

dan Pasal 76 ayat (2) PP No.15 tahun 2010 tentang

Penyelenggaraan Penataan Ruang, pemberian persetujuan

substansi rencana rinci tata ruang dapat

didekonsentrasikan kepada Gubernur.

o Mekanisme pelimpahan kewenangan pemberian persetujuan

substansi dalam penetapan rancangan peraturan daerah tentang rencana rinci tata ruang kabupaten/kota dari Menteri PU kepada Gubernur telah diatur dalam Permen PU No.: 01/PRT/M/2013.

Pelimpahan Kewenangan Persub

RRTR Kabupaten/Kota..(1)

(18)

Kementerian PPN/Bappenas

Sesuai dengan Permen PU No. 1/PRT/M/2013 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten/Kota, kriteria yang harus dipenuhi oleh provinsi untuk mendapatkan dekon persetujuan substansi RDTR meliputi:

1.telah menetapkan peraturan daerah tentang RTRW provinsi;

2.paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari jumlah kabupaten/kota yang berada di wilayah provinsinya telah memiliki peraturan daerah tentang RTRW kabupaten/kota;

3.memiliki paling sedikit unit eselon III teknis yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam bidang penataan ruang;

4.memiliki badan koordinasi penataan ruang daerah provinsi yang telah operasional dan efektif sebagai wadah koordinasi lintas sektoral di bidang penataan ruang; dan

5.memiliki sumber daya manusia yang cukup, kompeten, dan responsif di bidang penataan ruang, terutama pada dinas teknis yang membidangi urusan pemerintahan bidang penataan ruang yang menjadi sekretariat pelaksana teknis pelayanan pemberian substansi RRTR kabupaten/kota

Kriteria Pelimpahan Kewenangan Persub RRTR

Kab/Kota

18

(19)

ditetapkan Desember minggu pertama atau setelah ditetapkannya Perpres Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat

paling lambat Juli tahun berjalan

paling lambat Juni minggu ke-2 atau setelah ditetapkannya Pagu

Sementara – untuk tahun anggaran berikutnya

19

Gubernur tidak memberi jawaban =

TIDAK BERSEDIA

DAPAT DITARIK KEMBALI melalui

Ketetapan Menteri

Gubernur dapat

mengajukan

permohonan secara tertulis kepada Menteri melalui Dirjen

Pelimpahan Kewenangan Persub

RRTR Kabupaten/Kota..(3)

(20)

Kementerian PPN/Bappenas

No Provinsi SK Pelimpahan Dekon

1 Jawa Barat Kepmen PU No. 233/KPTS/M/2013 2 Jawa Tengah Kepmen PU No. 234/KPTS/M/2013 3 Jawa Timur Kepmen PU No. 235/KPTS/M/2013 4 Sulawesi Selatan Kepmen PU No. 236/KPTS/M/2013 5 Jambi Kepmen PU No. 224/KPTS/M/2014 6 Sumatera Barat Kepmen PU No. 225/KPTS/M/2014 7 Sulawesi Tengah Kepmen PU No. 264/KPTS/M/2014 8 DIY Kepmen PU No. 285/KPTS/M/2014 9 Gorontalo Kepmen PU No. 325/KPTS/M/2014 10 Lampung Kepmen PU No. 326/KPTS/M/2014

20

Daftar Provinsi yang Telah Menerima Pelimpahan

Kewenangan Pemberian Persetujuan Substansi RRTR

Kabupaten/Kota

(21)

Kementerian PPN/Bappenas

Koordinasi Penataan Ruang

di Pusat dan Daerah

(22)

Kementerian PPN/Bappenas

Koordinasi Penataan Ruang

Untuk mencapai tujuan penataan ruang (aman, nyaman,

produktif, berkelanjutan) diperlukan lembaga yang

mempunyai peran yang sangat strategis dalam

koordinasi penataan ruang (perencanaan, pemanfaatan,

maupun pengendalian):

(23)

Kementerian PPN/Bappenas

Kelembagaan Koordinasi

Penataan Ruang

BKPRN BKPRD

• Menyiapkan kebijakan penataan ruang nasional

• Pelaksanaan RTRWN secara terpadu

• Penanganan dan

penyelesaian masalah tata ruang

• Pemaduserasian tata ruang

• Fasilitasi kerjasama penataan ruang antar provinsi

• Sinkronisasi rencana umum dan rencana rinci tata ruang

• Peningkatan kapasitas kelembagaan penataan ruang

 Wadah koordinasi penataan ruang di daerah

 Menjamin terselenggaranya penataan ruang di daerah

 Menserasikan dan mensinergikan

penyelenggaraan penataan ruang nasional dengan daerah

BKPRD Provinsi BKPRD Kab/Kota

 Perencanaan pada tingkat provinsi

 Operasionalisasi

pemanfaatan lintas kabupaten dan

pengelolaan

kawasan strategis

(nasional)

 Pengendalian dalam bentuk pengawasan dan penertiban

pemanfaatan ruang

 Perencanaan tata ruang kab/kota

 Pemanfaatan ruang kab/kota (keterpaduan pelaksanaan

pembangunan)

 Mekanisme perizinan

(investasi)

 Pengawasan

(pemantauan & evaluasi)

 Penertiban (melalui

sanksi)

Sumber: Keppres 4/2009 tentang BKPRN; Permendagri 50/2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang di Daerah

(24)

Kementerian PPN/Bappenas

Mekanisme Koordinasi

Penataan Ruang

S I S T E M I N F O R M A S I S I S T E M I N F O R M A S I

RTRW Nasional/ RTR

Pulau/Kep/KSN

RTRW Provinsi RTR Kaw

Strategis Provinsi

RTRW Kabupaten RTRW Kota RTRW Kaw. Strategis Kab/Kota

• Kebijakan Perwujudan Struktur dan Pola Ruang sbg perangkat operasional RTRWN di Pulau/Kepulauan • Kebijakan Pengemb.

Kawasan:

- Kaw Strategis Nas

- Kebijakan Spasial Sektor al: Sistranas, Pesisir & Pulau2 Kecil

• Arahan

peraturan zonasi

• Perizinan

• Insentif & Disinsentif

• Sanksi

• Strategi Perwujudan Struktur Lintas

Kab/Kota

• Arah Pengembangan Wilayah/ Kawasan lintas Kab/Kota

• Pelaksanaan indikasi program pembangunan sektor lintas Kab/Kota

• Pembangunan Infrastruktur • Pembangunan Kawasan • Rencana Program Sektor

Rencana Rinci Tata Ruang

• Arahan peraturan zonasi

• Perizinan

• Insentif & Disinsentif

• Sanksi

• Pengaturan zonasi

• Perizinan

• Insentif & Disinsentif

• Sanksi

PEMERINTAH

PEMERINTAH

GUBERNURGUBERNUR

BUPATI/

BUPATI/

WALIKOTA

WALIKOTA

PERENCANAAN

PERENCANAAN PEMANFATANPEMANFATAN PENGENDALIANPENGENDALIAN

LEMBAGA

LEMBAGA

OPERASIONAL

OPERASIONAL

STRUKTURAL

STRUKTURAL

LEMBAGA

LEMBAGA

(25)

Kementerian PPN/Bappenas

Hubungan Kerja BKPRN-BKPRD

Aspek BKPRN BKPRD Hubungan Kerja

Dasar

Karena bersifat ad-hoc maka kekuatan hukum rekomendasi BKPRN dalam penanganan konflik belum cukup kuat sebagai dasar pelaksanaan di lapangan.

Tugas dan

Fungsi Nasional

Provinsi dan Kab/Kota

• Kurangnya sinergi antar K/L dan Anggota BKPRN, karena belum adanya acuan kerja yang jelas; • Kurangnya koordinasi antara BKPRN-BKPRD

provinsi dan BKPRD provinsi- BKPRD kab./kota; • Perlunya penegasan fungsi dan hubungan antara

BKPRN dan BKPRD sehingga perlu disusun SOP

Struktur Organisasi

Kementria n/Badan/ Wasekab

SKPD Provinsi/ Kab/Kota

Masih sering bersifat sektoral bukan

bergerak/berjalan atas nama satu kelembagaan BKPRN/BKPRD

Internal

BKPRN Internal BKPRD

Belum adanya mekanisme baku yang mengatur hubungan kerja antara BKPRN dengan BKPRD, sehingga perencanaan, pemanfaatan dan

pengendalian pemanfaatan ruang masih belum optimal.

Forum Koordinasi

Rakernas BKPRN

Rakerda BKPRD

Masih kurangnya realisasi dan implementasi (tindak lanjut) dari hasil keputusan

Rakernas/Rakerda.

(26)

Kementerian PPN/Bappenas

Status Penyelesaian RTR

(per 25 September 2015)

(27)

RTRW PROVINSI

27 Provinsi

7 Provinsi

Total: 34 Provinsi

Per 25 September 2015 RTRW

Provinsi yang Sudah ditetapkan:

27 RTRW Provinsi

NO. PROVINSI PERDA 1 Bengkulu No. 2 Tahun 2012 2 Lampung No. 1 Tahun 2010 3 DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 4 Jawa Barat No. 22 Tahun 2010 5 Jawa Tengah No. 6 Tahun 2010 6 D.I Yogyakarta No. 2 Tahun 2010 7 Jawa Timur No. 5 Tahun 2012 8 Banten No. 2 Tahun 2011 9 Bali No. 16 Tahun 2009 10 Nusa Tenggara Barat No. 3 Tahun 2010 11 Nusa Tenggara Timur No. 1 Tahun 2011 12 Sulawesi Selatan No. 9 Tahun 2009 13 Gorontalo No. 4 Tahun 2011 14 Sumatera Barat No.13 Tahun 2012

NO. PROVINSI PERDA

15 Jambi No.10 Tahun 2013

16 Maluku No. 16 Tahun 2013

17 Maluku Utara No. 2 Tahun 2013

18 Papua Barat No.2 Tahun 2013

19 Sulawesi Tengah No. 8 Tahun 2013

20 Aceh No. 19 Tahun 2013

21 Papua No. 23 Tahun 2013

22 Sulawesi Barat No.1 Tahun 2014

23 Kep. Bangka

Belitung No. 2 Tahun 2014

24 Sulawesi Utara No. 1 Tahun 2014

25 Sulawesi Tenggara No. 2 Tahun 2014

26 Kalimantan Barat No. 10 Tahun 2014

27 Kalimantan Tengah No. 5 Tahun 2015

TOTAL PROVINSI: 27 PROVINSI

(28)

68 Kabupaten

347 Kabupaten

• Total: 415 Kabupaten

Per 25 September 2015,

RTRW Kab. yang Sudah ditetapkan: 347 RTRW Kab

(29)

6 Kota

87 Kota

RTRW KOTA

Total : 93 Kota

Per 25 September

2015, RTRW Kota yang Sudah ditetapkan: 87 RTRW Kota

(30)

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Situs BKPRN: www.bkprn.org Situs TRP: www.trp.or.id

Portal TRP:

www.tataruangpertanahan.com Pustaka virtual TRP:

www.scribd.com/Tata Ruang dan Pertanahan

Milis TRP:

http://groups.google.com/d/forum/tata-ruang-dan pertanahan

Portal Geospasial: portal.ina-sdi.or.id

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Financial Reporting Standard (IFRS) terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk trichokompos jerami padi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung terutama

dan interactions plot pada gambar 7 menunjukkan bahwa efisiensi maksimal yang dapat dicapai oleh pompa hydram adalah pada saat beban katup limbah 400 gram dan volume tabung 1300

karakteristik yang dapat diramalkan, f.)terdapat perbedaan individu dalam perkembangan, g) setiap tahap perkembangan memiliki bahaya yang potensial. Faktor-faktor yang

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pada Program Studi S1 Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.

Tujuan yang igin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah perbandingan tentang hubungan Hibah dengan Waris menurut Kompilasi Hukum Islam

informasi yang menyesatkan dan kami tidak menghilangkan informasi atau fakta yang material terhadap laporan keuangan; dan. The Company’s financial statements do not

Parameter X2 (penambahan perekat tapioka) sebaliknya memiliki pengaruh negatif terhadap nilai kalor pembakaran biobriket dengan tingkat desirability yang juga tinggi yaitu 94,00