KEMENTRIAN KESEHATAN RI
DIREKTORAT BINA UPAYA KESEHATAN
Jl. Sunter Permai Raya, Jakarta Utara 14340
Telp: (021) 650 6559, Fax: (021) 640 1411
www.rs_suliantisaroso.com, www.infeksi.com
PROF. DR. SULIANTI SAROSO
i KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan Hidayah Nya, penyusunan dokumen “Rencana Strategis (RENSTRA) Tahun 2011 – 2015 Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso”, dapat diselesaikan oleh Tim RENSTRA Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, maka sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan, Kementrian Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2010-2014. Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementrian Kesehatan, turut menyusun dokumen Rencana Strategisnya untuk kurun waktu tahun 2011 – 2015.
RENSTRA Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, merupakan dokumen perencanaan yang bersifat indikatif dan memuat berbagai program yang menjadi pedoman dalam melaksanakan berbagai kegiatan seluruh direktorat dan seluruh unit kerja yang ada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, selama lima tahun ke depan.
ii
Akhir kata, terimakasih yang sebesarnya kepada pihak yang berperan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyusunan dokumen “RENSTRA Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso” ini. Semoga dokumen ini bermanfaat.
Jakarta, 05 Januari 2011
Direktur Utama
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
iii Hal
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GRAFIK ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG ... 1
1.1.1 Sejarah Singkat rumah Sakit ... 6
1.1.2 Struktur Organisasi ... 8
1.2 TUJUAN ... 9
1.3 RUANG LINGKUP ... 9
BAB II KEADAAN RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI PROF. DR. SULIANTI SAROSO SAAT INI 2.1 TUJUAN POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT ... 11
2.2 KEGIATAN PELAYANAN ... 12
2.2.1 Jenis Kegiatan Pelayanan ... 12
2.2.1.1 Pelayanan Medik ... 12
2.2.1.2 Pelayanan Penunjang Medik ... 13
2.2.1.3 Pelayanan Penunjang Non Medik ... 13
2.2.1.4 Pelayanan Medis spesialis ... 13
2.2.2 Hasil Kegiatan pelayanan ... 14
A. Instalasi Rawat Inap ... 14
B. Instalasi Rawat Jalan ... 25
C. Instalasi Gawat Darurat ... 27
D. Intensive Care Unit ... 27
E. Instalasi Bedah Sentral ... 28
F. Labororatorium ... 31
G. Radiologi ... 32
H. Instalasi Rehabilitasi Medik ... 33
I. POKJA HIV/AIDS ... 35
iv
2.3.1 Struktur Organisasi ... 38
2.3.2 Sumber Daya Manusia ... 39
2.4 KEUANGAN ... 40
2.4.1 Laporan Posisi Keuangan (Neraca) Tahun 2008 – 2010 ... 40
2.4.2 Laporan Aktivitas Tahun 2008 – 2010 ... 42
2.4.3 Laporan Arus Kas Tahun 2008 – 2010 ... 44
2.4.4 Target dan Realisasi Pendapatan (BLU) Rumah sakit Tahun 2008 – 2010 ... 45
2.4.5 Anggaran Berdasarkan Sumber Dana (APBN dan BLU) ... 45
2.4.6 Alokasi Anggaran (PAGU) dan Realisasi Tahun 2008 – 2010 ... 46
2.5 SARANA DAN PRASARANA ... 47
2.5.1 Gedung ... 47
2.5.2 Fasilitas Tempat Tidur ... 48
2.5.3 Ruang Perawatan Pasien ... 49
2.5.4 Transportasi dan Alat Komunikasi ... 50
2.5.5 Prasarana (SABMN) ... 50
2.5.6 Peralatan Medik dan Non Medik (SABMN) ... 50
BAB III ANALISIS LINGKUNGAN 3.1 ANALISIS SWOT ... 51
3.1.1 Analisis Internal ... 54
3.1.2 Analisis External ... 57
3.2 KEBIJAKAN KESEHATAN ... 59
3.2.1 Faktor Internal ... 60
3.2.2 Faktor External ... 61
A. Morbiditas ... 64
B. Sebaran Pola penyakit ... 65
C. Mortalitas ... 66
D. Makro Ekonomi ... 67
v PENYAKIT INFEKSI PROF. DR. SULIANTI SAROSO 5
TAHUN MENDATANG
4.1 VISI DAN MISI KEMENTRIAN KESEHATAN ... 74
4.2 VISI DAN MISI RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI PROF. DR. SULIANTI SAROSO ... 74
4.3 TUJUAN RUMAH SAKIT ... 75
4.4 NILAI-NILAI ... 76
4.5 MOTTO ... 76
4.6 KEBIJAKAN UMUM ... 76
4.7 ASUMSI MIKRO DAN MAKRO ... 78
4.7.1 Asumsi Mikro ... 78
4.7.2 Asumsi Makro ... 78
4.8 INDIKATOR KINERJA RUMAH SAKIT ... 79
vi
Kunjungan Pasien Poliklinik/Rawat jalan Tahun 2008 – 2010 ... 25
Sepuluh (10) Penyakit Terbanyak Rawat Jalan Tahun 2008 – 2010 ... 26
Kunjungan Pasien ICU Tahun 2008 – 2010 ... 27
Jumlah Tindakan Operasi di IBS Tahun 2008 – 2010 ... 28
Jumlah Tenaga Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2008 – 2010 ... 39
Neraca per 31 Desember 2008 – per 31 Desember 2010 ... 40
Laporan Aktivitas (Pendapatan & Biaya) TB 2008 s/d 2010 ... 42
Laporan Arus Kas TB 2008 s/d 2010 ... 44
Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2008 – 2010 ... 47
Fasilitas Tempat tidur Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2008 – 2010 ... 48
Fasilitas Ruang Perawatan Pasien Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun ... 49
Matriks Analisa Lingkungan Internal (ALI) ... 54
Matriks Analisa Lingkungan External (ALE) ... 57
Jumlah Sarana Kesehatan ... 62
Prevalensi 10 Penyakit Utama ... 65
Pola Penyakit Penderita Rawat Jalan Puskesmas ... 66
Daya Tarik Pasar ... 71
Daya Saing ... 71
Rekapitulasi Pemetaan Pelayanan ... 72
vii DAFTAR GRAFIK
Hal
Grafik 2.1 Hari Perawatan Menurut Ruang Rawat Tahun 2008 –
2010 ... 15
Grafik 2.2 BOR Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008 – 2010 .. 15
Grafik 2.3 BTO Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008 – 2010 .. 16
Grafik 2.4 LOS Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008 – 2010 .. 16
Grafik 2.5 TOI Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008 – 2010 .... 17
Grafik 2.6 NDR Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008 – 2010 .. 17
Grafik 2.7 GDR Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008 – 2010 .. 18
Grafik 2.8 Hari Perawatan Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 19
Grafik 2.9 BOR Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 19
Grafik 2.10 LOS Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 20
Grafik 2.11 TOI Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 20
Grafik 2.12 BTO Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 21
Grafik 2.13 NDR Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 21
Grafik 2.14 GDR Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008 – 2010 ... 22
Grafik 2.15 Grafik Barber Johnson Tahun 2008 – 2010 ... 23
Grafik 2.16 Kunjungan pasien IGD Tahun 2008 – 2010 ... 27
Grafik 2.17 Frekuensi Tindakan Operasi Tahun 2008 – 2010 ... 28
Grafik 2.18 Operasi Menurut Sifat Tindakan Tahun 2008 – 2010 ... 29
Grafik 2.19 Operasi Menurut Kategori Tindakan Tahun 2008 – 2010 .. 29
Grafik 2.20 Operasi Menurut Jenis Anaesthesi Tahun 2008 – 2010 .... 30
Grafik 2.21 Rekapitulasi Jumlah Pasien Instalasi Laboratorium Tahun 2008 – 2010 ... 31
Grafik 2.22 Rekapitulasi Jumlah Pemeriksaan Instalasi Laboratorium Tahun 2008 – 2010 ... 31
Grafik 2.23 Rekapitulasi Jumlah Pasien Instalasi Radiologi Tahun 2008 – 2010 ... 32
Grafik 2.24 Rekapitulasi Jumlah Pemeriksaan Instalasi Radiologi Tahun 2008 – 2010 ... 32
viii
2010 ... 33 Grafik 2.27 Asal Kunjungan Pasien Fisioterapi Tahun 2008 – 2010 .. 34 Grafik 2.28 Penggunaan alat Pasien Fisioterapi Tahun 2008 – 2010 34 Grafik 2.29 Jumlah Klien/Pasien Konseling VCT Tahun 2008 – 2010 35 Grafik 2.30 Proporsi Infeksi HIV & Kasus AIDS Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2008 – 2010 ... 35 Grafik 2.31 Trend Infeksi HIV & Kasus AIDS Berdasarkan Kelompok Usia Tahun 2008 – 2010 ... 36 Grafik 2.32 Jumlah Infeksi Oportunistik Pada Infeksi HIV/AIDS Tahun 2008 – 2010 ... 36 Grafik 2.33 Kejadian Infeksi Nosokomial Tahun 2008 – 2010 ... 37 Grafik 2.34 Target dan Realisasi Pendapatan (BLU) Rumah Sakit Tahun
2008 – 2010 ... 45 Grafik 2.35 Anggaran RSPI-SS Berdasarkan Sumber dana (APBN &
BLU) Tahun 2008 – 2010 ... 45 Grafik 2.36 Realisasi Penggunaan Anggaran Tahun 2008 – 2010 ... 46
ix Hal
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso ... 38
Gambar 3.1 Gambaran Posisi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso ... 70 Gambar 3.2 Pemetaan pelayanan ... 72
1 1.1 LATAR BELAKANG
Arah kebijakan pembangunan kesehatan Bangsa Indonesia yang dijabarkan oleh Kementerian Kesehatan RI yang tertuang dalam dokumen rencana strategis tahun 2010-2014 adalah berfokus untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Dengan konsep dasar pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan pada peri kemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan, antara lain, ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia), dan keluarga miskin.
Sejalan dengan rancangan arah pembangunan kesehatan yang direncanakan oleh Kementerian Kesehatan RI maka Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, segera menyusun langkah partisipasinya selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) dengan menyusun sebuah dokumen rencana strategisnya untuk kurun waktu tahun 2011–2015. Dokumen Rencana Strategis (RENSTRA) Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2011-2015 merupakan suatu dokumen arah perencanaan program rumah sakit dalam masa waktu lima tahun ke depan dengan mengacu pada penjabaran Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit dan Pengendalian Lingkungan.
Dalam proses penyusunan Rencana Strategis Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2011-2015
BAB I
2
perencanaan strategis yaitu sebagai berikut :
1) Pro Aktif bukan reaktif, di mana dimaksudkan adanya
perubahan dalam Epidemiologi Penyakit dan Lingkungan yang semakin kompleks, maka perlu melakukan perencanaan atas perubahan tersebut secara pro aktif dan bukan reaktif.
2) Berorientasi Output bukan Input, di mana dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan dalam pengelolaan, maka perencanaan strategis diperlukan agar dapat menuntun serta mendiagnosa organisasi rumah sakit kepada pencapaian hasil yang diinginkan secara obyektif.
3) Visioner, di mana dimaksudkan perencanaan strategis
yang dibuat harus berorientasi pada masa depan, sehingga memungkinkan institusi rumah sakit untuk memberikan komitmen yang tinggi pada aktivitas dan kegiatan di masa mendatang.
4) Adaptif dan Akomodatif, di mana dimaksudkan
perencanaan strategis yang dibuat harus mampu melakukan penyesuaian terhadap berbagai perkembangan yang muncul, sehingga dapat memanfaatkan setiap peluang yang ada.
3
Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) yang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Rencana Strategis Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.
Sejalan dengan perkembangan dalam era globalisasi lingkungan strategis yang sangat dinamis, serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap munculnya perubahan-perubahan dengan cepat dan sering tidak terduga maka konsep dan arah pengembangan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso perlu ditinjau dan dievaluasi kembali. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan dan atau meningkatkan kinerja organisasi rumah sakit dalam menghadapi tantangan dan masalah yang semakin kompleks serta memanfaatkan semua peluang yang ada. Sehubungan dengan itu, perlu dikembangkan model perencanaan strategis yang intinya mengacu pada visi, misi dan berbasis pada analisis lingkungan strategis.
4
kompleks, kompleks dengan ragam masalah, ilmu pengetahuan dan tehnologi, sumberdaya manusia maupun sumber pembiayaan. Karena Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso merupakan salah satu rumah sakit dengan kekhususan penyakit infeksi dengan beban tugas pokok dan fungsinya juga sebagai pusat kajian penyakit infeksi maka tidak semata saja berfungsi sebagai rumah sakit pada umumnya yang mengemban fungsi utama penyembuhan dan pemulihan, namun juga melakukan fungsi melakukan berbagai kajian dalam bentuk penelitian penyakit infeksi.
Sebagai rumah sakit khusus milik pemerintah, tentunya tugas pokok dan fungsi ini sangatlah berat, di samping melakukan peran tugas ganda dan tidak ada kategori rumah sakit yang sama di Indonesia, sehingga dalam proses perjalannya tidak sepenuhnya dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Karena pengelolaan sebuah rumah sakit umum saja membutuhkan dana yang cukup besar, apalagi dibebani tugas melakukan kajian penyakit infeksi. Berbagai persoalan akan mengemuka antara lain, koordinasi antara pembinaan pelayanan kesehatan rumah sakit dan koordinasi penelitian penyakit infeksi dalam lingkup penelitian dengan program yang ada, sarana dan prasarana yang menjadi dasar pelaksanaan program, sumber daya manusia yang minimal dan keterbatasan sumber pembiayaan.
5
Pemerintah yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU. Oleh karena itu berbagai upaya penyempurnaan dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat perlu terus dilakukan. Salah satu langkah strategis yang ditempuh dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan tersebut adalah dengan meningkatkan kinerja organisasi secara profesional dan mandiri.
Dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 tentang PPK-BLU, ditindak lanjuti dengan PMK No. 07/PMK/02/2006, tertanggal 16 Februari 2006 tentang persyaratan administratif dalam rangka pengusulan dan penetapan satuan kerja Instansi Pemerintah untuk menerapkan PPK-BLU, maka Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso termasuk salah satu Instansi Pemerintah yang ditetapkaan yang harus tunduk pada peraturan tersebut.
6
Sejarah Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso ini dimulai dengan didirikannya Stasiun Karantina di daerah Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1985 (Pindahan dari Pulau
Onrust Kuiper), yang fungsi utamanya pada saat itu adalah
menampung penderita penyakit cacar dari Jakarta dan sekitarnya, di mana antara tahun 1964 - 1970 telah merawat penderita cacar sekitar 2.358 orang.
Sejak Indonesia dinyatakan bebas cacar pada tahun 1972, maka kegiatan Stasiun Karantina berkurang dan fungsinya berubah menjadi Rumah Sakit Karantina berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No: 148/MenKes/SK/ IV/78 tertanggal 28 April 1978 dan berada dibawah Direktorat Jendral P4M, Departemen Kesehatan RI.
Dalam perjalanannya, rumah sakit ini mengalami tuntutan pengembangan secara tugas, fungsi, fisik, sarana/prasana, kemampuan, teknologi dan sumberdaya, dan kelembagaan. Pengembangan fisik tidak dimungkinkan untuk dilakukan di lingkungan pelabuhan sehingga diputuskan untuk memindahkan lokasi rumah sakit serta merubah nama dan struktur organisasi/kelembagaan serta misinya agar dapat lebih menampung tuntutan perkembangan tersebut.
7
Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso dibuka secara resmi untuk umum.
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 55/MENKES/SK/I/1994 tanggal 20 Januari 1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, rumah sakit ini adalah unit organik Departemen Kesehatan RI yang bertanggung jawab langsung kepada DitJen PPM dan PLP. Sesuai historis dan faktor-faktor teknis lainya keberadaan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. DR. Sulianti Saroso adalah satu-satunya rumah sakit yang ada di lingkungan DitJen PPM dan PLP yang misi dan tujuan jangka panjangnya adalah sebagai pusat rujukan nasional dalam penatalaksanaan penyakit menular dan penyakit infeksi lainnya.
Pada tanggal 21 April 1994, bertepatan dengan peringatan hari R.A. Kartini, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso diresmikan penggunaannya oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Sujudi yang dihadiri oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Mr. Kimia Fujita dan Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Sudirja. Pengembangan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso mendorong semangat untuk selalu berbenah diri dalam meningkatkan mutu pelayanan. Seiring dengan hal tersebut dan kebutuhan akan pengembangan tatalaksana penyakit infeksi, rumah sakit mengalami perubahan organisasi, yang diwujudkan dengan ditetapkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 66/Menkes/SK/I/2005 tertanggal 13 Januari 2005 yang menjadikan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso sebagai kategori RS Vertikal Tipe B Pendidikan.
8
dan PerMenKes RI nomor 247/MenKes/PER/III/2008 tertanggal 11 Maret 2008.
Pada penghujung tahun 2009, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1138/Menkes/SK/XI/2009 tanggal 25 November 2009 ditetapkannya Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso sebagai Pusat Kajian dan Rujukan Nasional Penyakit Infeksi. Seiring dengan tugas pokok dan fungsi yang baru maka Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso harus segera berbenah diri serta sesuai dengan tupoksi yang baru sebagai pusat kajian dan rujukan nasional penyakit infeksi.
1.1.2 Struktur Organisasi
Berdasarkan PerMenKes No. 247/Menkes/Per/III/2008 tentang organisasi dan tatakerja Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, struktur organisasinya sebagai berikut:
1) Dewan Pengawas. 2) Direktur Utama.
3) Direktur Medik dan Keperawatan.
4) Direktur Pengkajian Penyakit Infeksi dan Penyakit Menular
5) Direktur Keuangan dan Administrasi Umum. 6) Bidang Medik.
7) Bidang Keperawatan. 8) Bidang Pengkajian Klinik.
9) Bidang Pengkajian Epidemiologi.
10) Bidang Pengkajian Imunologi dan faktor resiko. 11) Bagian Perencanaan dan Anggaran.
12) Bagian Keuangan. 13) Bagian Umum. 14) Komite Medik.
9 1.2 TUJUAN
Tujuan dari Rencana Strategis (RENSTRA) Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2011‐2015 adalah:
1) Tersedianya rumusan program strategis dalam skala prioritas yang lebih fokus, tergambarkan dalam implementasi program dan merupakan indikasi program APBN.
2) Tersedianya indikator penilaian untuk monitoring dan evaluasi kinerja Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.
3) Mengarahkan semua unsur kekuatan dan faktor kunci keberhasilan dalam menyelenggarakan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan serta menumbuhkan atmosfir kajian penyakit infeksi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.
1.3 RUANG LINGKUP
10
11 2.1 TUJUAN POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso adalah salah satu rumah sakit vertikal kelas B, yang sekaligus berfungsi juga sebagai rumah sakit pendidikan dengan kapasitas yang tersedia 137 Tempat Tidur, mengemban tugas pokok melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya pelayanan yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif serta merupakan rujukan nasional dalam penatalaksanaan penyakit infeksi dan penyakit menular di Indonesia. Komitmen Kementerian Kesehatan RI tentang hal ini tertuang dalam PerMenKes No. 247 Menkes/PER/III/2008, tanggal 11 Maret 2008, yang di dalamnya mengatur tentang kedudukan dari rumah sakit antara lain sebagai berikut :
1) Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Kementrian Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
2) Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta dipimpin oleh seorang Kepala yang disebut Direktur Utama.
Adapun tugas yang di emban oleh Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso mempunyai tugas sebagai berikut :
1) Menyelenggarakan pelayanan medis dan keperawatan secara paripurna, sebagai kegiatan penunjang dalam upaya pengkajian penyakit infeksi dan penyakit menular;
BAB II
KEADAAN RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI PROF. DR. SULIANTI SAROSO
12
2) Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan di bidang penyakit infeksi dan penyakit menular beserta faktor risikonya secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan untuk penyusunan bahan kebijakan serta standar penanganan/ pengendalian penyakit infeksi dan penyakit menular.
Dalam melaksanakan tugas rumah sakit menyelenggarakan fungsi yang sebagai berikut :
1) Pelaksanaan penatalaksanaan penyakit infeksi dan penyakit menular;
2) Pelaksanaan pelayanan rujukan nasional di bidang penyakit infeksi dan penyakit menular;
3) Pengkajian penyakit infeksi dan penyakit menular, baik di bidang klinik, epidemiologi dan faktor risikonya;
4) Pengkajian pelaksanaan sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan wabah/Kejadian Luar Biasa (KLB);
5) Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan profesi kedokteran dan kedokteran berkelanjutan serta profesi tenaga kesehatan lainnya di bidang penyakitk infeksi dan penyakit menular; 6) Pengelolaan informasi dan pemasaran di bidang penyakit
infeksi dan penyakit menular;
7) Pelaksanaan urusan hukum dan kemitraan; 8) Pelaksanaan administrasi umum dan keuangan.
2.2 KEGIATAN PELAYANAN 2.2.1 Jenis Kegiatan Pelayanan
Ditinjau dari segi pelayanan, saat ini Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta dibagi dalam kelompok yaitu :
2.2.1.1 Pelayanan Medik
13
Pelayanan Bedah Sentral Pelayanan Rawat Intensif Pelayanan Rehabilitasi Medik
2.2.1.2 Pelayanan Penunjang Medik
Pelayanan Radiologi Pelayanan Laboratorium Pelayanan Farmasi Pelayanan Sterilisasi Pelayanan Gizi Klinik Pelayanan Psikologi
2.2.1.3 Pelayanan Penunjang Non Medik
Pelayanan Gizi Dapur Rumah Sakit Pelayanan Pemulasaran Jenasah Pelayanan Binatu/Laundry
Pelayanan Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit Pelayanan Pendidikan dan Pelatihan
Pelayanan Rekam Medik
Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan Pelayanan Pengolahan Data Electronic
2.2.1.4 Pelayanan Medis Spesialis
Pelayanan medis spesialis di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta meliputi :
1) Pelayanan Spesialis Bedah terdiri dari : Bedah Syaraf
Bedah Orthopedi Bedah Umum
2) Pelayanan Spesialis Penyakit Dalam
3) Pelayanan Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan 4) Pelayanan Spesialis Kesehatan Anak
14
7) Pelayanan Spesialis Neurologi 8) Pelayanan Spesialis Kulit Kelamin 9) Pelayanan Spesialis Anaesthesi 10) Pelayanan Spesialis Gigi
11) Pelayanan Rehabilitasi Medik 12) Pelayanan Spesialis Gizi Klinik
2.2.2 Hasil Kegiatan Pelayanan
A. Instalasi Rawat Inap (BOR, LOS, TOI, dsb).
Tabel 2.1 RAWAT INAP Tahun 2008 – 2010
KETERANGAN 2008 2009 2010
Jml Pas Masuk 4500 5292 5021
Jml Pas Keluar 4503 5289 5008
Hari Perawatan (HP) 23864 25468 25252
LOS(Hari) 6.2 5.5 5.7
BOR (%) 48 51 50
TOI (Hari) 5.8 4.6 4.9
BTO(Kali) 33 38 37
NDR (‰) 41.5 37.4 42.1
GDR (‰) 86.4 60.3 64.9
Jml Kunj Rawat Jalan (psn) 36790 46502 53475
15 Data Kinerja Instalasi Rawat Inap Menurut Ruangan
Grafik 2.1
Hari Perawatan Menurut Ruang Rawat Tahun 2008 – 2010
Sumber: Data Inst. Rawat Inap
Grafik 2.2
BOR Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008-2010
16 Grafik 2.3
BTO Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008-2010
Sumber: Data Inst. Rawat Inap
Grafik 2.4
LOS Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008-2010
17 Grafik 2.5
TOI Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008-2010
Sumber: Data Inst. Rawat Inap
Grafik 2.6
NDR Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008-2010
18 Grafik 2.7
GDR Rawat Inap Menurut Ruangan Tahun 2008-2010
19 Data Kinerja Instalasi Rawat Inap Menurut Kelas
Grafik 2.8
Hari Perawatan Per Kelas Tahun 2008-2010
Sumber: Data Inst. Rawat Inap
Grafik 2.9
BOR Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008-2010
20 Grafik 2.10
LOS Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008-2010
Sumber: Data Inst. Rawat Inap
Grafik 2.11
TOI Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008-2010
21 Grafik 2.12
BTO Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008-2010
Sumber: Data Inst. Rawat Inap
Grafik 2.13
NDR Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008-2010
22 Grafik 2.14
GDR Rawat Inap Per Kelas Tahun 2008-2010
23 Grafik 2.15
Grafik Barber Johnson Tahun 2008-2010
24 Tabel 2.2
Sepuluh (10) Penyakit Terbanyak Rawat Inap 2008 – 2010
NO TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010
NAMA PENYAKIT JML NAMA PENYAKIT JML NAMA PENYAKIT JML
1 GED / DAD berat / GEA 1.023 GED / DAD berat /
GEA 1.202 DHF/DSS 952
2 DHF/DSS 635 DHF/DSS 807 GED / DAD berat /
GEA 789
3 TB paru 581 Thyphoid Fever 762 TB paru 547
4 Thyphoid Fever 518 TB paru 462 Thyphoid Fever 485
5 H I V - AIDS 515 H I V 391 H I V 371
6 Bronchopneumonia 152 Bronchopneumonia 162 ISPA 125
7 Toxoplasma cerebral 118 ISPA 148 Bronchopneumonia 93
8 Pneumonia 88 Morbilli 115 Toxoplasma
cerebral 71
9 Hepatitis A 45 Toxoplasma
cerebral 112 Pneumonia 61
10 Hepatitis C 38 Paratyphoid Fever 95 Viral Infection 52
25 B. Instalasi Rawat Jalan
Tabel 2.3
Kunjungan Pasien Poliklinik/Rawat Jalan Tahun 2008 - 2010
Sumber Data : Data IRJ Tahun 2010.
NO POLI
TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010
LAMA BARU TOTAL LAMA BARU TOTAL LAMA BARU TOTAL
1 B.ORTHOPEDI 687 287 974 1378 927 2305 3256 3343 6599
2 P.DALAM 3715 975 4690 3832 1500 5332 5751 6265 12016
3 PARU 3387 456 3843 3013 634 3647 4072 4041 8113
4 SYARAF 702 170 872 574 242 816 925 1254 2179
5 GIGI 331 259 590 631 702 1333 912 1443 2355
6 BEDAH 627 271 898 843 295 1138 1050 1279 2329
7 THT 658 338 996 720 414 1154 837 1385 2222
8 MATA 319 163 482 201 772 973 955 1276 2231
9 B.SYARAF 2 6 8 1 7 8 3 10 13
10 KONSELING 4746 422 5168 6328 817 7145 7055 6693 13748
11 ANAK 3540 864 4404 3287 1196 4483 4151 4860 9011
12 KEBIDANAN 406 375 781 464 400 864 380 776 1156
13 KARYAWAN 815 127 942 618 234 852 993 995 1988
14 IMUNISASI 25 32 57 324 847 1171 477 1258 1735
15 MCU 2 118 120 0 726 726 691 1354 2045
16 KULIT 441 315 756 440 479 919 294 708 1002
26 Tabel 2.4
Sepuluh (10) Penyakit Terbanyak Rawat Jalan 2008 – 2010
Paratyphoid lain 575
6 Penyakit Kulit dan
7 Gastritis dan Duodenitis
yang terkait 450 Gastritis 386
Penyakit telinga dan
prosesus mastoid 487
8
Otitis media dan gangguan mastoid dan telinga tengah
397
Pen yakit Kulit dan jaringan sub kutan
359 Hipertensi esensial 391
10 Faringitis akut 340 Faringitis akut 321 Pneumonia 338
Sumber: Data Instalasi Rekam Medis
27 C. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Grafik 2.16 Kunjungan Pasien IGD
Tahun 2008 – 2010
Sumber : Data Inst. Gawat Darurat
D. Intensive Care Unit (ICU)
Tabel 2.5
Kunjungan Pasien ICU (Intensive Care Unit) Tahun 2008 – 2010
Uraian
Tahun
2008 2009 2010
Jumlah hari rawat 773 855 845
BOR ( % ) 19,7% 38,54% 20%
LOS ( Hari ) 5,85 4,56 6.4
28 E. Instalasi Bedah Sentral (IBS)
Grafik 2.17
Frekuensi Tindakan Operasi Tahun 2008 – 2010
Sumber: Data IBS
Tabel 2.6
Jumlah Tindakan Operasi di IBS Tahun 2008 – 2010
TINDAKAN 2008 2009 2010
Bedah Umum 90 99 116
Bedah Saraf 1 0 0
THT 0 3 16
Ob Gyn 27 18 8
Orthopaedi 127 241 293
Mata 0 0 30
Bedah Mulut 0 0 3
29 Grafik 2.18
Operasi Menurut Sifat Tindakan Tahun 2008 – 2010
Sumber : Data IBS
Grafik 2.19
Operasi menurut Kategori Tindakan Tahun 2008 – 2010
30 Grafik 2.20
Operasi Menurut Jenis Anaesthesi Tahun 2008 – 2010
31
F. Laboratorium
Grafik 2.21
Rekapitulasi Jumlah Pasien Instalasi Laboratorium Tahun 2008 – 2010
Sumber : Data Inst. Laboratorium
Grafik 2.22
Rekapitulasi Jumlah Pemeriksaan Instalasi Laboratorium Tahun 2008 – 2010
32 G. Radiologi
Grafik 2.23
Rekapitulasi Pasien Instalasi Radiologi Tahun 2008 – 2011
Sumber: Data Inst. Radiologi
Grafik 2.24
Rekapitulasi Pemeriksaan Instalasi Radiologi Tahun 2008 – 2011
33 Grafik 2.25
Rekapitulasi Kegiatan Instalasi Radiologi Berdasarkan Jenis Pemeriksaan Tahun 2008 – 2011
Sumber: Data Inst. Radiologi
H. INSTALASI REHABILITASI MEDIK Grafik 2.26
Jumlah Kunjungan Rehabilitasi Medik Tahun 2008 – 2010
34 Grafik 2.27
Asal Kunjungan Pasien Fisioterapi Tahun 2008 – 2010
Sumber: Data Inst. Rehab Medik
Grafik 2.28
Penggunaan Alat Pasien Fisioterapi Tahun 2008 – 2010
35
I. POKJA HIV/AIDS
Grafik 2.29
Jumlah Klien/Pasien Konseling VCT Tahun 2008 – 2010
Sumber: Data MONEV POKJA HIV/AIDS
Grafik 2.30
Proporsi Infeksi HIV & Kasus AIDS Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2008 – 2010
36 Grafik 2.31
Trend Infeksi HIV & Kasus AIDS Berdasarkan Kelompok Usia Tahun 2008 – 2010
Sumber: Data POKJA HIV/AIDS
Grafik 2.32
Jumlah Infeksi Oportunistik pada Infeksi HIV/AIDS Tahun 2008 – 2010
37 J. Pengendalian Infeksi
Grafik 2.33
Kejadian Infeksi Nososkomial Tahun 2008 – 2010
38
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 247/Menkes/PER/III/2008 Tanggal : 11 Maret 2008
SUB BAGIAN
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI PROF. DR. SULIANTI SAROSO
KOMITE
2.3 ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA 2.3.1 Struktur Organisasi
39 2.3.2 SUMBER DAYA MANUSIA
Jumlah tenaga yang dimiliki oleh Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. DR. Sulianti Saroso cukup banyak dengan berbagai kompetensi. Adapun uraian tenaga yang dimiliki adalah sebagai berikut:
Tabel 2.7 Jumlah tenaga
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. DR. Sulianti Saroso
NO Kualifikasi 2008 2009 2010
1 Tenaga Medis : 64 78 88
Dokter Umum 25 43 30
Dokter gigi 4 4 8
Dokter Spesialis 35 31 50
2 Paramedis : 241 284 354
Paramedis Perawatan 181 200 232
Paramedis Non Perawatan 60 84 122
3 Non Medis /Administrasi 166 147 316
40 2.4 KEUANGAN
2.4.1 Laporan Posisi Keuangan (Neraca) tahun 2008 - 2010
Tabel 2.8
Neraca per 31 Desember 2008 - per 31 Desember 2010 Audited (dalam Rupiah)
NO
URAIAN
REALISASI TB 2008 - 2010
2008 2009 2010
I AKTIVA LANCAR
1 Kas dan Setara Kas 2.960.453.957 4.570.845.445 5.855.171.678
2 Piutang Pelayanan 2.269.427.627 2.009.502.523 1.824.657.662
3 Piutang Ragu-ragu 50.356.649 228.486.435 151.246.715
4 Persediaan 1.641.464.314 2.283.399.302 3.795.787.899
Jumlah Aktiva Lancar (a) 6.921.702.547 9.092.233.705 11.626.863.954
II AKTIVA TETAP
Tanah - 7.126.280.000 -
Bangunan Gedung 129.637.696.101 58.710.182.686 58.936.907.686
Peralatan dan Mesin 54.331.393.162 51.338.061.808 65.314.430.254
Jaringan 47.795.000 341.322.960
Aset Tetap Lainnya 253.043.945 257.581.445
Aset Tetap Tak Berwujud 390.862.944 390.862.944 390.862.944
Jumlah Aktiva Tetap 184.359.952.207 117.866.226.383 125.241.105.289
41 Nilai Buku Aktiva Tetap (b) 131.272.301.936 117.866.226.383 117.081.606.711
Jumlah Aktiva (a)+(b) 138.194.004.483 126.958.460.088 128.708.470.665
III KEWAJIBAN
Hutang Usaha - - 276.971.364
Jumlah Kewajiban - - 276.971.364
IV AKTIVA BERSIH
Ekuitas Awal 103.146.923.600 87.501.246.973 79.092.855.973
Surplus (Defisit) Tahun Lalu 45.794.769.580 35.047.080.883 39.457.213.115
Surplus (Defisit) Tahun Berjalan (10.747.688.697) 4.410.132.232 9.881.430.213
Jumlah Aktiva Bersih 138.194.004.483 126.958.460.088 128.431.499.301
42 2.4.2 Laporan Aktivitas Tahun 2008-2010
Tabel 2.9
LAPORAN AKTIVITAS (PENDAPATAN & BIAYA) TB 2008 S/D 2010
No. Uraian Realisasi TB 2008-2010
2008 2009 2010
I PENDAPATAN
Pendapatan dan Sumbangan Tidak
Terikat
Pendapatan Operasional Rawat Jalan 1.503.221.217 2.404.638.916 3.376.139.970 Pendapatan Operasional Rawat Inap 6.154.761.243 8.425.932.808 7.320.627.720 Pendapatan Operasional Lainnya 131.269.555 3.723.660.418 6.580.063.449
Sub Jumlah 7.789.252.015 14.554.232.142 17.276.831.139
Pendapatan Non Operasional 671.751.432 1.407.679.699 321.223.537 Sumbangan tidak terikat 27.712.542.132 36.257.563.593 60.018.459.574
Jumlah Pendapatan dan Sumbangan
Tidak Terikat 36.173.545.579 52.219.475.434 77.616.514.250
II BIAYA OPERASIONAL
1 Biaya Pelayanan
1.1. Bahan/Obat/Alkes
5.085.819.270 9.688.569.755 10.766.228.956 1.2. Bahan Lainnya 16.236.675 389.967.446 1.581.480.348 1.3. Beban Pelatihan Tenaga Medik 45.000.000 52.300.000 524.919.000 1.4. Jasa Medik 295.378.390 1.909.865.046 2.054.106.033 1.5. Biaya Operasional Lainnya 733.295.577 697.069.230 3.329.011.119
Jumlah Biaya Pelayanan 6.175.729.912 12.737.771.477 18.255.745.456
43
2 Biaya Umum dan Administrasi
2.1. Biaya Gaji Pegawai 12.195.664.055 16.219.637.800 18.283.352.151 2.2. Biaya Honor 3.514.109.739 2.279.439.565 2.778.694.050 2.3. Biaya Insentif 4.429.349.727 3.921.488.311 5.749.824.961 2.4. Biaya Alat Tulis Kantor 529.466.916 2.231.256.999 877.855.280 2.5. Biaya Penyusutan 13.985.533.251 - 8.598.220.938 2.6. Biaya Pemeliharaan 1.989.881.796 3.407.841.280 5.233.929.497 2.7. Biaya Langganan Daya dan Jasa 1.453.530.321 1.502.941.849 1.844.802.814
2.8. Biaya Pelatihan dan Pendidikan 68.670.000 358.358.500 1.529.013.331 2.9. Biaya Rapat/Perjalanan Dinas 996.494.135 2.742.224.600 2.353.617.588 2.10. Biaya Rumah Tangga 391.973.072 724.956.305 840.500.517 2.11. Biaya Lain-lain 1.190.831.352 1.683.426.516 1.659.527.454 Jumlah Biaya Umum dan Administrasi 40.745.504.364 35.071.571.725 49.429.338.581
49.429.338.581
Jumlah Biaya Operasional 46.921.234.276 47.809.343.202 67.735.084.037
III
KEUNTUNGAN (KERUGIAN) LUAR BIASA
TIDAK TERIKAT
Jumlah Keuntungan/Kerugian Luar Biasa
Tidak Terikat (10.747.688.697) 4.410.132.232 9.881.430.213
IV KENAIKAN AKTIVA BERSIH (10.747.688.697) 4.410.132.232 9.881.430.213
V AKTIVA BERSIH AWAL TAHUN 148.941.693.180 138.194.004.483 126.958.460.088
Perubahan Aktiva Bersih Tidak Terikat
Temporer (15.645.676.627) (8.408.391.000)
AKTIVA BERSIH AKHIR TAHUN 138.194.004.483 126.958.460.088 128.431.499.301
44 2.4.3 Laporan Arus Kas Tahun 2008-2010
Tabel 2.10
LAPORAN ARUS KAS TB 2008 S/D 2010 AUDITED (dalam Rupiah)
No. Uraian Realisasi TB 2008 s/d 2010
2008 2009 2010
1 Aliran Kas dari Aktivitas Operasi
Kas dari Pendapatan 8.230.083.462 15.961.911.841 15.300.926.762
Kas dibayar kepada pemasok, karyawan dan beban (32.275.514.718) (48.471.453.996) (57.765.562.837)
Kas Bersih yang Diterima (digunakan) untuk aktivitas Operasi (24.045.431.256) (32.509.542.155) (42.464.636.075)
2 Aliran Kas dari Aktivitas Investasi
Penambahan/pengurangan aset tetap (4.033.652.444) (2.137.629.950) (16.269.497.266)
Kas Bersih yang Diterima (digunakan) untuk aktivitas Investasi (4.033.652.444) (2.137.629.950) (16.269.497.266)
3 Aliran Kas dari Aktivitas Pendanaan
Penerimaan APBN 27.712.542.132 36.257.563.593 60.018.459.574
Kas Bersih yang Diterima (digunakan) untuk aktivitas Pendanaan 27.712.542.132 36.257.563.593 60.018.459.574
4 Kenaikan (Penurunan) Bersih dalam kas dan setara kas (366.541.568) 1.610.391.488 1.284.326.233
Kas dan setara kas pada awal tahun 3.326.995.525 2.960.453.957 4.570.845.445
Kas dan setara kas pada akhir tahun 2.960.453.957 4.570.845.445 5.855.171.678
45 2.4.4 Target dan Reaslisasi Pendapatan (BLU) Rumah Sakit
Tahun 2008 – 2010
Grafik 2.34
Target & Realisasi Pendapatan (BLU) Rumah Sakit Tahun 2008 – 2010
Sumber: Data Keuangan RSPI-SS Th 2008 – 2010
2.4.5 Anggaran berdasarkan sumber dana (APBN dan BLU) Grafik 2.35
46 2.4.6 Alokasi Anggaran (PAGU) dan Realisasi Tahun 2008 - 2010
Grafik 2.36
47 2.5 SARANA DAN PRASARANA
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta, saat ini memiliki luas tanah sebesar 3,5 ha dan bangunan yang terdiri dari beberapa gedung dengan total luas mencapai 16,037 m2, dengan uraian sebagai berikut:
2.5.1 Gedung
Tabel 2.11 Sarana dan Prasarana
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
NO NAMA GEDUNG LUAS (m²) KETERANGAN
1 Laboratorium 720,00 2 Lantai
2 Pos Satpam 29,25 1 Lantai
3 Ruang Isolasi 1.630,20 3 Lantai
4 Garasi Ambulance 48.75 1 Lantai
5 Bangunan Induk Bagian A
Depan 4.527,00 2 Lantai
6 Bangunan Induk Bagian B
Jalan Selasar 732,00 3 lantai
7 Bangunan Induk Bagian C
Belakang 3.672,00 5 Lantai
8 Bangunan Induk Bagian D
Ruang Rawat Inap Kamar 1.596,00 3 Lantai
9 Bangunan Induk Bagian E
Bangunan Penunjang 1 224,00 1 Lantai
10 Bangunan Induk Bagian F
Bangunan Penunjang 2 216,00 2 Lantai
11 Bangunan Induk Bagian G
Selasar Depan 237,00 1 Lantai
12 Bangunan Induk Bagian H
Selasar Dalam 189,00 1 Lantai
13 Bangunan Induk Bagian I
Musholah 144,00 1 Lantai
14 Bangunan Induk Bagian J
Rumah Gardu 78,75 1 Lantai
15 Bangunan Induk Bagian K
Rumah Trafo 25,00 1 Lantai
16 Bangunan Induk Bagian L
Laboratorium Existing 1526,00 3 Lantai
17 Bangunan Induk Bagian M
Saluran Air Kotor 55,00 1 Lantai
18 Bangunan Induk Bagian N
Koperasi 12,00 1 Lantai
19 Bangunan Induk Bagian O Pagar dan Perkerasan 20 Bangunan Induk Bagian I
Gedung Asrama 267.00 2 Lantai
48 2.5.2 Fasilitas Tempat Tidur
Tabel 2.12 Fasilitas Tempat Tidur
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. DR. Sulianti Saroso
RUANG 2008 2009 2010
Kelas III 46 46 46
Kelas II 28 28 28
Kelas I 29 29 29
Isolasi 11 11 11
ICU 10 10 10
HCU 8 8 8
Perinatologi 5 5 5
49 2.5.3 Ruang Perawatan Pasien
Sehubungan dengan telah difungsikannya ruang perawatan rawat inap yang baru, kami sampaikan pembagian ruang perawatan pasien sebagai berikut:
Tabel 2.13
Fasilitas Ruang Perawatan Pasien
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
NO NAMA RUANG
PERAWATAN
JENIS PENYAKIT
YANG DI RAWAT KLASIFIKASI
50 2.5.4 Transportasi dan Alat Komunikasi (Terlampir)
2.5.5 Prasarana (Terlampir/SABMN)
51
Kesadaraan masyarakat akan arti pentingnya kesehatan membuat masyarakat semakin kritis dalam memilih dan memanfaatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Seiring dengan hal tersebut di atas maka mendorong seluruh institusi pelayanan kesehatan yang ada tak terkecuali rumah sakit harus senantiasa berbenah diri dalam menyikapinya, persaingan yang semakin ketat di bidang perumahsakitan menuntut pihak rumah sakit segera melakukan penyesuaian terhadap dinamika perubahan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu.
Demikian pula terhadap perubahan dan pergeseran pola penyebaran penyakit, khususnya penyakit infeksi yang masuk dalam katagori New Emerging Diseases, Re Emerging Diseases
dan Negleted Diseases yang dapat terjadi kapan saja dan di mana
saja tak terbatas oleh batasan negara maupun waktu, sehingga menuntut sebuah kesiapan tersendiri dalam penanganannya dengan melibatkan banyak unsur yang terlibat dan terkait.
Kondisi demikianlah yang melatarbelakangi perlunya sebuah persiapan dalam bentuk kajian yang mendalam dalam penatalaksanaan penyakit infeksi, diharapkan upaya ini dapat menyokong ke arah perbaikan kebijakan kesehatan yang di tetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI khususnya dalam penatalaksanaan penyakit infeksi di Indonesia. Seiring dengan hal tersebut di atas maka Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso tidak hanya memberikan layanan kesehatan semata, akan tetapi juga dituntut untuk dapat melakukan beberapa kajian terhadap penyakit infeksi.
Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sebuah analisa terhadap lingkungan kerjanya, sehingga dapat melihat kemampuan
BAB III
52
dan kapasitas sumber daya internal yang ada. Penilaian ini dalam lingkup perspektif kategori untuk kekuatan, kelemahan, dan hasilnya dapat untuk melakukan penilaian keadaan lingkungan eksternal. Hasil penilaian eksternal selanjutnya digunakan untuk dapat melihat peluang, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung keunggulan kompetitif yang dimiliki, serta mewaspadai beberapa ancaman yang diprediksi akan muncul dan harus dapat di antisipasi oleh pihak rumah sakit, guna meraih keberhasilan yang diharapkan.
3.1 ANALISIS SWOT
Analisis SWOT adalah suatu proses merinci keadaan lingkungan secara internal dan eksternal, analisa ini berguna untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sebuah keberhasilan organisasi kedalam kategori Strength, Weakness,
Opportunities dan Threats sebagai dasar untuk menentukan tujuan,
sasaran dan strategi, sehingga organisasi memiliki keunggulan meraih masa depan yang lebih baik.
Dalam analisis SWOT posisi kekuatan organisasi serta faktor kunci keberhasilan dan atau faktor strategisnya dalam mencapai visi dan misi. Informasi hasil analisis SWOT ini akan sangat bermanfaat sebagai umpan balik dalam penajaman rumusan misi dan perumusan tujuan yang rasional dalam menyusun strategi dan rencana kegiatan. Lingkungan internal merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh pada sebuah kinerja organisasi yang umumnya dapat dikendalikan secara langsung, sedangkan lingkungan eksternal merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kinerja organisasi akan tetapi di luar kendali organisasi.
53
tersebut diuraikan secara paralel dalam wujud lingkungan internal dan eksternal sehingga dapat diperoleh gambaran utuh mengenai pengaruh lingkungan strategis wilayah dan lingkungan strategis organisasi terhadap kinerja Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, dalam mewujudkan visi yang telah ditetapkan.
Sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya, maka untuk mendapatkan suatu potret mengenai keadaan organisasi saat ini dilakukan dengan cara analisa SWOT. Pemetaan dilakukan terhadap sumber daya manusia, pembiayaan, pelayanan, manajemen, serta sarana dan prasarana. Dalam penyusunan Rencana Strategis Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso melalui serangkaian diskusi yang melibatkan seluruh anggota tim serta stakeholder, selanjutnya dilakukan penetapan terhadap nilai bobot dan skala (rating) yang penilaiannya berdasar pada judgement.
Pada pokoknya analisis ini mencakup peninjauan dan evaluasi atas masalah-masalah yang dianggap sebagai kekuatan
(Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities) dan
54 3.1.1 Analisis Internal
Analisis internal dilakukan dengan cara mengidentifikasi keempat faktor antara lain: sumber daya manusia, pembiayaan, pelayanan, manajemen, serta sarana dan prasarana sehingga dapat ditemukan kekuatan dan kelemahan internal organisasi.
Tabel 3.1
Matriks Analisa Lingkungan Internal ( ALI )
No Faktor Kekuatan Bobot Rating Skor Kelemahan Bobot Rating Skor
55
No Faktor Kekuatan Bobot Rating Skor Kelemahan Bobot Rating Skor
56
No Faktor Kekuatan Bobot Rating Skor Kelemahan Bobot Rating Skor
57 3.1.2 Analisis Eksternal
Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi dua aspek yaitu peluang dan ancaman terhadap rumah sakit. Daftar peluang yang teridentifikasi merupakan kondisi untuk meningkatkan usaha yang ada saat ini, maupun kemungkinan usaha baru. Sedangkan ancaman memuat keadaan yang dirasakan saat ini maupun yang bersifat potensial.
Tabel 3.2
Matriks Analisa Lingkungan External (ALE)
59 3.2 KEBIJAKAN KESEHATAN
Sesuai dengan kebijakan pembangunan bidang kesehatan Kementerian Kesehatan RI 2010 – 2014, di mana fokus diarahkan pada ketersedianya pemanfaatan akses kesehatan dasar yang murah dan terjangkau, terutama pada kelompok menengah ke bawah guna mendukung tercapainya Millenium Development Goals (MDG’s) pada tahun 2015. Pembangunan Kesehatan merupakan bagian dari pembangunan bidang sosial budaya untuk mencapai peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dengan menitik beratkan pada pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif dan kuratif.
Arah kebijakan dan strategi tersebut didasarkan pada arah kebijakan dan strategi nasional sesuai yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014. Dalam pelaksanaan upaya kesehatan yang dianggap prioritas dan mempunyai daya ungkit yang besar dalam pencapaian hasil pembangunan kesehatan, dilakukan upaya yang meliputi: Pengembangan jaminan kesehatan masyarakat (JamKesMas), Peningkatan pelayanan kesehatan di DTPK, ketersediaan dan keterjangkauan obat di seluruh fasilitas kesehatan, saintifikasi jamu, pelaksanaan reformasi birokrasi, pemenuhan bantuan operasional kesehatan (BOK), penanganan daerah bermasalah kesehatan (PDBK), pengembangan pelayanan untuk rumah sakit Indonesia kelas dunia.
Untuk mencapai Millenium Development Goals (MDG’s) pada tahun 2015 maka ada delapan sasaran yang diupayakan yaitu :
a. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim. b. Pemerataan pendidikan dasar.
c. Mendukung adanya persamaan gender dan pemberdayaan perempuan.
60
e. Meningkatkan kesehatan ibu.
f. Pemberantasan penyakit HIV/AIDS, Malaria serta penyakit yang lain.
g. Menjamin daya dukung lingkungan hidup.
h. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
3.2.1 Faktor Internal
Pelayanan kesehatan khususnya pada Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta, kondisi saat ini masih sama dengan ragam jenis pelayanan yang terdapat di rumah sakit umum lainnya. Walaupun telah ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan penyakit infeksi di Indonesia namun spesialisasi kekhususan untuk penyakit infeksi belum begitu menonjol. Upaya peningkatan kemampuan SDM telah banyak dilakukan terutama peningkatan jenjang pendidikan, sementara masih terbatas untuk jenjang pendidikan diploma III kesehatan dan berbgai pelatihan bagi tenaga medis dan non medis, namun dalam pelaksanaan belum terprogram secara sistematis untuk menunjang pokok program dan tupoksi rumah sakit. Upaya-upaya ini telah berjalan dengan baik karena juga ditunjang oleh kesiapan dana operasional, baik dari pendapatan operasional rumah sakit maupun dari APBN. Rumah sakit sebagai pelaksana pendidikan dan pelatihan juga telah berjalan, walaupun belum maksimal dalam pola pengelolaan managemennya. Hal ini harus segera dibenahi karena sebagai unit yang potensial untuk melaksanakan pengelolaan yang dapat menguntungkan pihak rumah sakit untuk mendapatkan pendapatan operasional selain melalui pelayanan.
61
bersama, pemeliharaan sarana dan prasarana yang berkesinambungan serta perbaikan sistem informasi manajemen rumah sakit (kontrak kerja sama) untuk menunjang pola manajemen keuangan.
3.2.2 Faktor Eksternal
Sebagai rumah sakit pusat kajian dan rujukan penyakit infeksi di Indonesia, maka kondisi rumah sakit sangat dipengaruhi oleh proses demografi penyakit, stabilitas ekonomi di antaranya kondisi nilai tukar rupiah, globalisasi perdagangan, meningkatnya biaya kesehatan masyarakat serta tingkat penghasilan masyarakat. Perkembangan sosial budaya di tengah masyarakat akan berpengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap rumah sakit, terlebih kota meteropolitan seperti Jakarta di mana terdapat sangat banyak ragam suku yang heterogen sehingga beragam pula budaya yang bisa kita temukan. Dengan perkembangan teknologi kesehatan yang sangat pesat membuat pihak rumah sakit harus beradaptasi dengan cepat dan mampu mengantisipasi perkembangan tersebut sehingga pelayanan yang diberikan tetap menjadi unggulan. Demikian pula dengan perkembangan pola sebaran penyakit, khususnya penyakit infeksi. Kondisi demografi sebagai daerah tropis dan mobilisasi penduduk yang relatif tinggi di daerah Ibukota Jakarta sebagai salah satu faktor yang mendorong untuk dilakukan berbagai ragam penelitian yang terkait dengan infeksi.
Walaupun tingkat sebaran keberadaan rumah sakit di Jakarta sangat banyak, baik milik pemerintah maupun swasta namun tingkat kepuasan akan pelayanan kesehatan masih belum memenuhi harapan masyarakat. Masyarakat merasa kurang puas dengan mutu pelayanan rumah sakit seperti lambatnya pelayanan, kesulitan administrasi, dan lamanya waktu tunggu.
62
disebabkan karena adanya keyakinan pihak investor terhadap pertumbuhan wilayah dan besarnya kebutuhan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh rumah sakit pemerintah. Pada tahun 2008 jumlah rumah sakit di Indonesia 1.320 rumah sakit (Depkes, 2009) dengan tingkat pertumbuhan 86 rumah sakit pada tahun 2003. Dari jumlah tersebut 657 rumah sakit milik swasta dengan rata-rata pertumbuhan rumah sakit 1,14% dan sisanya yang dibangun oleh pemerintah (Depkes, PemProv/PemKab/PemKot, TNI/POLRI dan BUMN)
Untuk mengetahui perkembangan rumah sakit di Indonesia maka pada tabel 3.3 berikut ini diuraikan keadaan sarana kesehatan tersebut.
Tabel 3.3
Jumlah Sarana Kesehatan dirinci menurut status kepemilikan
Tahun 2009.
Di samping itu, maraknya pembangunan rumah sakit oleh pihak swasta ini didukung pula oleh semakin aktifnya pemerintah mendorong investasi swasta di bisnis rumah sakit. Hal ini sebenarnya juga terkait dengan makin terbatasnya dana pemerintah untuk pembangunan rumah sakit baru. Pemerintah sendiri telah sejak lama mendukung swasta dan bahkan investor No. Kepemilikan 2003 2004 2005 2006 2007 2008
1 DEPKES 31 31 31 31 31 31
2
Pemerintah
Provinsi/kab/Kota 396 404 421 433 446 446
3 TNI/POLRI 112 112 112 112 112 112
4 BUMN/DEP Lain 78 78 78 78 78 78
5 SWASTA 617 621 626 638 652 653
63
asing untuk berperan dalam pengembangan rumah sakit di Indonesia. Namun, baru melalui Keputusan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi (DNI) No. 96 dan No. 118 tahun 2000 pemerintah mengatur bahwa pemodal asing di bisnis rumah sakit Indonesia dapat memiliki kepenguasaan hingga 49 % persen modal disetor. Hal ini semakin mendorong maraknya pembangunan rumah sakit swasta nasional berjenis joint venture dengan pemodal asing.
Lebih jauh lagi, potensi kebutuhan rumah sakit di Indonesia dapat ditunjukkan dari masih rendahnya rasio tempat tidur rumah sakit dibandingkan dengan jumlah penduduk. Apabila jumlah tempat tidur rumah sakit di Indonesia mencapai 143 ribu sementara populasi Indonesia mencapai 226 juta (Depkes, 2008), maka perbandingannya adalah sekitar 1 : 1.580 Angka ini masih jauh dari rasio ideal yang 1 : 500 (SWAsembada, 2007). Untuk mencapai rasio ideal tersebut dibutuhkan sedikitnya 451 ribu tempat tidur, dan apabila sebuah rumah sakit memiliki kapasitas rata-rata 200 tempat tidur, maka akan dibutuhkan sedikitnya 2.250 rumah sakit. Bandingkan dengan kondisi Indonesia saat ini yang
“hanya” memiliki 1.320 rumah sakit. Sebagai perbandingan, rasio
tempat tidur rumah sakit per-penduduk di Jepang sudah mencapai 1 : 74 pada tahun 2004, sementara di Malaysia juga sudah mencapai kisaran 1 : 500 (SWAsembada, 2006). Kondisi ini menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan dan pemanfaatan rumah sakit di Indonesia.
64
memiliki rumah sakit cukup banyak adalah Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
Untuk jumlah pasien, pada tahun 2005 jumlah pasien rumah sakit swasta tercatat mencapai 2,4 juta pasien. Angka ini diproyeksikan akan mencapai 3,5 juta pasien pada tahun 2010, dengan laju pertumbuhan mencapai 7 % per tahun.
A. Morbiditas
Angka kesakitan sebagai salah satu tolok ukur derajat kesehatan masyarakat memberikan gambaran secara kasar pola dan jenis penyakit di masyarakat yang sangat terkait dengan aspek sosial, budaya dan kondisi lingkungan. Data morbiditas digali melalui berbagai sumber informasi seperti Profil Kesehatan, Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan SUSENAS.
Berdasarkan hasil SUSENAS 2002, diperoleh gambaran bahwa persentase penduduk di Indonesia yang menderita keluhan sakit dalam sebulan terakhir meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 26,25%. Bila mengacu pada hasil SKRT terhadap studi Morbiditas dan Disabilitas tahun 2001, diperoleh angka kesakitan yang lebih tinggi, yaitu sebesar 52%. Apabila dibandingkan terhadap hasil SKRT Tahun 1995, terjadi suatu fenomena transisi epidemiologi penyakit di Indonesia yang ditunjukkan dengan adanya kecenderungan pergeseran penyakit utama penyebab kematian dari penyakit infeksi ke penyakit kronik degeneratif. Transisi epidemiologi ini berkaitan erat dengan perubahan struktur demografi di samping faktor sosio ekonomi yang menjadi sebab akibat.
65
Mengacu pada hasil SKRT pada tahun 2001, maka nampak prevalensi penyakit penyebab utama kesakitan di Indonesia masih didominasi oleh penyakit infeksi yang disebabkan karena faktor rendahnya kualitas lingkungan dan minimnya pengetahuan dan hygiene kesehatan perorangan. Lebih jelas, gambaran prevalensi penyakit hasil SKRT Tahun 2001, diuraikan pada tabel berikut ini:
Tabel 3.4
Prevalensi 10 Penyakit Utama
Hasil SKRT Tahun 2001, per 100.000 Penduduk Indonesia
No. Nama Penyakit Prevalensi
1. Gigi dan Mulut 559
2. Gg refraksi dan Penglihatan 307
3. ISPA 236
4. Gg Pembentukan darah & Imunitas 203
5. Hipertensi 162
6. Gg Sistem Pencernaan 146
7. Penyakit Mata 126
8. Penyakit Kulit 118
9. Neuralgia 117
10. Penyakit Urogenital 58
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia 2003, dari hasil Studi Morbiditas & Disabilitas SKRT 2001
B. Sebaran Pola Penyakit
66
menempati urutan teratas, diikuti oleh penyakit paru dan gangguan saluran pencernaan.
Pola dan jenis penyakit dengan gambaran yang sama, terdapat pada pelayanan kesehatan yang lebih rendah seperti puskesmas. Di kota Jakarta pada tahun 2001-2003 jenis penyakit penduduk masih didominasi oleh infeksi saluran pernafasan yaitu rata-rata mencapai 50% dari seluruh kasus, seperti tergambar dalam laporan profil kesehatan kota Makassar pada tabel sebagai berikut.
Tabel 3.5
Pola Penyakit Penderita Rawat jalan Puskesmas (Kasus Baru) semua Golongan Umur di Jakarta Tahun 2001-2003
C. Mortalitas
Beberapa indikator mortalitas seperti angka harapan hidup (AHH), angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita (AKABA), angka kematian kasar (AKK) dan pola penyebab kematian, akan memberikan gambaran status kesehatan yang
No Nama Penyakit 2002 Nama Penyakit 2003 Nama Penyakit 2004
1 ISPA 34,76% ISPA 31,65% ISPA 29,47%
2 Peny. Lain
Saluran Nafas
23,48% Peny. Lain Saluran
Nafas
7,25% Penyakit Kulit Infeksi 6,91% Penyakit Kulit Infeksi
5,37% Hipertensi 5,46% Penyakit Kulit Alergi
5,11%
7 Peny. Sistem otot 4,80% Gingivitis dan
penya. Periodental
5,08% Hipertensi 5,09%
8 Hipertensi 4,71% Penyakit Kulit Alergi 4,92% Gingivitis dan penya. Periodental
10 Tonsilitas 2,38% Peny. Mata Lainnya 2,29% Gangguan Gigi
dan Jaringan
67
bersifat komunitas, kualitas pelayanan kesehatan dan kondisi sosial masyarakat yang mempengaruhi status gizi termasuk kemampuan mengakses pelayanan kesehatan.
D. Makro Ekonomi
Kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2011-2015 akan dipengaruhi perkembangannya oleh lingkungan internal dan eksternal. Pengaruh lingkungan eksternal akan sangat berpengaruh terutama jika perkembangan ekonomi kita kurang mantap, apalagi sistem perekonomian dunia akan memasuki sistem perdagangan global. Semakin meningkatnya integrasi perekonomian dunia yang pada satu pihak akan menciptakan peluang yang lebih besar bagi perekonomian nasional, tetapi di lain pihak juga menuntut daya saing perekonomian nasional yang lebih tinggi.
Perekonomian Asia yang diperkirakan tetap menjadi kawasan dinamis dengan motor penggerak perekonomian China dan negara-negara industri di Asia lainnya dan kawasan yang menarik bagi penanaman modal baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.
Meskipun potensi timbulnya krisis keuangan dunia maupun regional menurun, namun potensi ketidakpastian eksternal tetap ada yang antara lain berasal dari kemungkinan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara industri paling maju (terutama Amerika Serikat dan Jepang), antara lain dengan tingginya harga minyak bumi, perubahan kebijakan moneter secara drastis di negara-negara industri maju, menurunnya arus penanaman modal, dan terpusatnya arus modal pada beberapa negara Asia.
68
daerah, kebijakan lintas sektor serta kebijakan-kebijakan sektoral yang menghambat terciptanya iklim usaha yang sehat yang pada gilirannya akan menciptakan kepastian hukum bagi peningkatan kegiatan ekonomi.
Sejalan dengan meningkatnya kepastian politik, kemampuan untuk menegakkan keamanan dan ketertiban serta penegakan hukum. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap berbagai pelaksanaan program pembangunan akan meningkatkan partisipasi masyarakat.
Terjadinya bencana alam di beberapan daerah di tanah air akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi serta besaran sisi neraca pembayaran dan pembiayaan oleh APBN, dengan memperhatikan kondisi eksternal dan internal di atas yang akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, maka prospek ekonomi tahun 2011-2015 diperkirakan akan membaik melalui pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, dengan berbagai kebijakan ketenagakerjaan yang diarahkan untuk memperluas penciptaan dan pemerataan lapangan kerja. Peningkatan penciptaan kesempatan kerja yang cukup besar diharapkan terjadi di sektor industri pengolahan serta sektor yang meliputi bangunan, jasa perdagangan, hotel, dan restoran.