• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Eksternal

ANALISIS LINGKUNGAN

3.1 ANALISIS SWOT

3.2.2 Faktor Eksternal

Sebagai rumah sakit pusat kajian dan rujukan penyakit infeksi di Indonesia, maka kondisi rumah sakit sangat dipengaruhi oleh proses demografi penyakit, stabilitas ekonomi di antaranya kondisi nilai tukar rupiah, globalisasi perdagangan, meningkatnya biaya kesehatan masyarakat serta tingkat penghasilan masyarakat. Perkembangan sosial budaya di tengah masyarakat akan berpengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap rumah sakit, terlebih kota meteropolitan seperti Jakarta di mana terdapat sangat banyak ragam suku yang heterogen sehingga beragam pula budaya yang bisa kita temukan. Dengan perkembangan teknologi kesehatan yang sangat pesat membuat pihak rumah sakit harus beradaptasi dengan cepat dan mampu mengantisipasi perkembangan tersebut sehingga pelayanan yang diberikan tetap menjadi unggulan. Demikian pula dengan perkembangan pola sebaran penyakit, khususnya penyakit infeksi. Kondisi demografi sebagai daerah tropis dan mobilisasi penduduk yang relatif tinggi di daerah Ibukota Jakarta sebagai salah satu faktor yang mendorong untuk dilakukan berbagai ragam penelitian yang terkait dengan infeksi.

Walaupun tingkat sebaran keberadaan rumah sakit di Jakarta sangat banyak, baik milik pemerintah maupun swasta namun tingkat kepuasan akan pelayanan kesehatan masih belum memenuhi harapan masyarakat. Masyarakat merasa kurang puas dengan mutu pelayanan rumah sakit seperti lambatnya pelayanan, kesulitan administrasi, dan lamanya waktu tunggu.

Keadaan rumah sakit umum dari segi jumlah memiliki kecenderungan yang meningkat khususnya swasta. Hal ini

62

disebabkan karena adanya keyakinan pihak investor terhadap pertumbuhan wilayah dan besarnya kebutuhan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh rumah sakit pemerintah. Pada tahun 2008 jumlah rumah sakit di Indonesia 1.320 rumah sakit (Depkes, 2009) dengan tingkat pertumbuhan 86 rumah sakit pada tahun 2003. Dari jumlah tersebut 657 rumah sakit milik swasta dengan rata-rata pertumbuhan rumah sakit 1,14% dan sisanya yang dibangun oleh pemerintah (Depkes, PemProv/PemKab/PemKot, TNI/POLRI dan BUMN)

Untuk mengetahui perkembangan rumah sakit di Indonesia maka pada tabel 3.3 berikut ini diuraikan keadaan sarana kesehatan tersebut.

Tabel 3.3

Jumlah Sarana Kesehatan dirinci menurut status kepemilikan

Tahun 2009.

Di samping itu, maraknya pembangunan rumah sakit oleh pihak swasta ini didukung pula oleh semakin aktifnya pemerintah mendorong investasi swasta di bisnis rumah sakit. Hal ini sebenarnya juga terkait dengan makin terbatasnya dana pemerintah untuk pembangunan rumah sakit baru. Pemerintah sendiri telah sejak lama mendukung swasta dan bahkan investor No. Kepemilikan 2003 2004 2005 2006 2007 2008 1 DEPKES 31 31 31 31 31 31 2 Pemerintah Provinsi/kab/Kota 396 404 421 433 446 446 3 TNI/POLRI 112 112 112 112 112 112 4 BUMN/DEP Lain 78 78 78 78 78 78 5 SWASTA 617 621 626 638 652 653 TOTAL 1.234 1.246 1.268 1.292 1.319 1.320

63

asing untuk berperan dalam pengembangan rumah sakit di Indonesia. Namun, baru melalui Keputusan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi (DNI) No. 96 dan No. 118 tahun 2000 pemerintah mengatur bahwa pemodal asing di bisnis rumah sakit Indonesia dapat memiliki kepenguasaan hingga 49 % persen modal disetor. Hal ini semakin mendorong maraknya pembangunan rumah sakit swasta nasional berjenis joint venture dengan pemodal asing.

Lebih jauh lagi, potensi kebutuhan rumah sakit di Indonesia dapat ditunjukkan dari masih rendahnya rasio tempat tidur rumah sakit dibandingkan dengan jumlah penduduk. Apabila jumlah tempat tidur rumah sakit di Indonesia mencapai 143 ribu sementara populasi Indonesia mencapai 226 juta (Depkes, 2008), maka perbandingannya adalah sekitar 1 : 1.580 Angka ini masih jauh dari rasio ideal yang 1 : 500 (SWAsembada, 2007). Untuk mencapai rasio ideal tersebut dibutuhkan sedikitnya 451 ribu tempat tidur, dan apabila sebuah rumah sakit memiliki kapasitas rata-rata 200 tempat tidur, maka akan dibutuhkan sedikitnya 2.250 rumah sakit. Bandingkan dengan kondisi Indonesia saat ini yang

“hanya” memiliki 1.320 rumah sakit. Sebagai perbandingan, rasio

tempat tidur rumah sakit per-penduduk di Jepang sudah mencapai 1 : 74 pada tahun 2004, sementara di Malaysia juga sudah mencapai kisaran 1 : 500 (SWAsembada, 2006). Kondisi ini menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan dan pemanfaatan rumah sakit di Indonesia.

Sedangkan bila dilihat dari lokasi geografisnya, pengembangan rumah sakit di Indonesia saat ini hanya terkonsentrasi di pulau Jawa. Sekitar 50 % dari total rumah sakit di Indonesia berlokasi di pulau Jawa dengan konsentrasi tertinggi terdapat di provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta (Depkes, 2008). Dari angka tersebut, sekitar 39 %-nya merupakan milik swasta. Provinsi lain di luar pulau Jawa yang juga

64

memiliki rumah sakit cukup banyak adalah Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.

Untuk jumlah pasien, pada tahun 2005 jumlah pasien rumah sakit swasta tercatat mencapai 2,4 juta pasien. Angka ini diproyeksikan akan mencapai 3,5 juta pasien pada tahun 2010, dengan laju pertumbuhan mencapai 7 % per tahun.

A. Morbiditas

Angka kesakitan sebagai salah satu tolok ukur derajat kesehatan masyarakat memberikan gambaran secara kasar pola dan jenis penyakit di masyarakat yang sangat terkait dengan aspek sosial, budaya dan kondisi lingkungan. Data morbiditas digali melalui berbagai sumber informasi seperti Profil Kesehatan, Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan SUSENAS.

Berdasarkan hasil SUSENAS 2002, diperoleh gambaran bahwa persentase penduduk di Indonesia yang menderita keluhan sakit dalam sebulan terakhir meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 26,25%. Bila mengacu pada hasil SKRT terhadap studi Morbiditas dan Disabilitas tahun 2001, diperoleh angka kesakitan yang lebih tinggi, yaitu sebesar 52%. Apabila dibandingkan terhadap hasil SKRT Tahun 1995, terjadi suatu fenomena transisi epidemiologi penyakit di Indonesia yang ditunjukkan dengan adanya kecenderungan pergeseran penyakit utama penyebab kematian dari penyakit infeksi ke penyakit kronik degeneratif. Transisi epidemiologi ini berkaitan erat dengan perubahan struktur demografi di samping faktor sosio ekonomi yang menjadi sebab akibat.

Sementara apabila dilihat pada Provinsi DKI JAKARTA angka keluhan sakit penduduk pada tahun-tahun terakhir menunjukkan persentase yang terus menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apabila pada tahun-tahun 2002 persentase orang dengan keluhan sakit terdapat 22,08% pada tahun 2003 menurun menjadi 18,6%.

65

Mengacu pada hasil SKRT pada tahun 2001, maka nampak prevalensi penyakit penyebab utama kesakitan di Indonesia masih didominasi oleh penyakit infeksi yang disebabkan karena faktor rendahnya kualitas lingkungan dan minimnya pengetahuan dan hygiene kesehatan perorangan. Lebih jelas, gambaran prevalensi penyakit hasil SKRT Tahun 2001, diuraikan pada tabel berikut ini:

Tabel 3.4

Prevalensi 10 Penyakit Utama

Hasil SKRT Tahun 2001, per 100.000 Penduduk Indonesia

No. Nama Penyakit Prevalensi

1. Gigi dan Mulut 559

2. Gg refraksi dan Penglihatan 307

3. ISPA 236

4. Gg Pembentukan darah & Imunitas 203

5. Hipertensi 162 6. Gg Sistem Pencernaan 146 7. Penyakit Mata 126 8. Penyakit Kulit 118 9. Neuralgia 117 10. Penyakit Urogenital 58

Sumber : Profil Kesehatan Indonesia 2003, dari hasil Studi Morbiditas & Disabilitas SKRT 2001

Dokumen terkait