• Tidak ada hasil yang ditemukan

18c sumber belajar 1puisi jawa modern

N/A
N/A
N/A

Academic year: 2017

Membagikan "18c sumber belajar 1puisi jawa modern"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

PU

IS

I JA

W

A

MO

(2)

1. Pengkajian Puisi

Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan

evolusi selera dan perubahan konsep

estetikanya (Riffaterre, 1978).

Sebelum pengkajian puisi ke aspek-aspek

yang lain perlu dahulu puisi dikaji sebagai

struktur yang bermakna dan bernilai estetis.

Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang

(3)

Perbedaan pokok antara prosa dan puisi

1.

Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa

yang pokok ialah kesatuan sintaksis;

kesatuan korespondensi puisi resminya

bukan kesatuan sintaksis-kesatuan akustis

2.

Di dalam puisi korespondensi dari corak

tertentu, yang terdiri dari kesatuan tertentu,

meliputi seluruh puisi dari semula sampai

akhir. Kesatuan ini disebut baris sajak.

(4)

2. Puisi Itu Karya Seni

Karya sastra disebut puitis apabila

membangkitkan persaan, menarik perhatian,

menimbulkan tanggapan yang jelas, dan

menimbulkan keharuan.

Kepuitisan dapat dicapai dengan bentuk visual:

tipografi, susunan bait; dengan bunyi:

persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi,

lambang rasa, dan orkestrasi; dengan

(5)

II. Analisis Puisi Berdasarkan

Strata Norma

Puisi merupakan karya sastra yang

memiliki struktur yang sangat kompleks

yang terdiri dari beberapa strata (lapis)

norma. Masing-masing norma

menimbulkan lapis norma di bawahnya

Rene Wellek menjelaskan analisis Roman

Ingarden, seorang filsuf Polandia dalam

bukunya Das Literarische Kunstwerk ia

menganalisis norma-norma sebagai

berikut:

(6)

Lanjutan

Bila orang membaca puisi, maka yang

terdengar adalah serangkaian bunyi

yang dibatasi jeda pendek, agak

panjang, dan panjang

Lapis arti (units of meaning) berupa

rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan

kalimat. Semua merupakan satuan arti.

Lapis suara (sound stratum): berupa

(7)

Lanjutan

Lapis bunyi semua satuan bunyi yang

berdasarkan konvensi bahasa tertentu, di sini

bahasa Indonesia.

Lapis Arti (units of meaning)

Satuan terkecil berupa fonem.

Kata bergabung menjadi kelompok kata,

kalimat, alenia, bait, bab, dan seluruh cerita

yang merupakan satuan arti.

(8)

Dunia pengarang aadalah ceritanya, yang

merupakan dunia yang diciptakan oleh si

pengarang. Hal ini merupakan gabungan dan

jalinan antara objek-objek yang dikemukakan,

latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur).

Lapis Keempat adalah lapis dunia yang tak

usah dinyatakan tetapi sudah implisit tampak

dari sudut pandang tertentu, menyatakan

suasana

(9)

Analisis strata norma Roman Ingarden itu dapat dikatakan hanya analisis puisi secara formal saja, menganalisis fenomena-fenomena saja.

Analisis strata norma dimaksudkan untuk mengetahui semua unsur (fenomena) karya sastra yang ada.)

Analisis strata norma harus ditingkatkan ke analisis semiotik, karya sastra sebagai sistem tanda yang bermakna.

Dengan analisis strata norma dan semiotik, karya sastra (puisi) akan dapat didapatkan makna

(10)

III. BUNYI

Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur

puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi bertugas memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan secara jelas, menimbulkan suasana khusus dsb.

Pentingnya peranan bunyi dalam kesusastraan ,

sehingga dalam bunyi pernah menjadi unsur kepuitisan yang utama dalam sastra romantik.

Menurut teori simbolisme (Slametmuljana, 1956: 57)

tiap kata menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. Hal itu

dapat diusahakan dengan gaya bahasa. Kenyataan sebenarnya tidak dapat ditangkap dengan panca

(11)

Menurut teori simbolisme tugas

puisi adalah mendekati kenyataan

ini, dengan cara tak usah

memikirkan arti katanya, tidak perlu

memikirkan arti katanya, melainkan

mengutamakan suara, lagu, irama,

dan rasa timbul karenanya dan

tanggapan-tanggapan yang mungkin

dibangkitkannya. Dengan begitu

kesusastraan telah kemasukan

(12)

Dalam sajak penyair simbolis

kebanyakan karena mementingkan

suara, irama, maka kata-katanya sudah

melepaskan tugasnya sebagai tanda

yang mewakili pengertian

(Slametmuljana, 1956:60) karena dalam

puisi pengertian tidak lagi diutamakan

Di Indonesia simbolisme tidak dianut

secara nyata, hanya unsur-unsur

memntingkan bunyi dan

lambang-lambang atau simbolik-simbolik

(13)

Dalam puisi bunyi dipergunakan sebagai

orkestrasi, ialah untuk menimbulkan bunyi musik.

Dari bunyi musik murni ini dapatlah mengalir

perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau

pengalaman-pengalaman jiwa pendengarnya.

Kombinasi bunyi yang merdu itu biasanya

disebut efoni (euphony), bunyi indah.

Kombinasi bunyi vokal (asonansi): a, e, I, o, u,

bnyi bersuara (voiced): b, d, g, j, bunyi liquida: r, l dan bunyi sengau: m, n, ng, ny menimbulkan

(14)

Dalam puisi bunyi kata itu di samping tugasnya yang pertama sebagai simbol arti dan juga untuk orkestrasi, digunakan juga sebagai:

1. Peniru bunyi atau anomatope

2. Lambang suara (klanksymboliek), dan

3. Kiasan suara (klankmetaphoor) (Slametmuljana, 1956:61)

Dalam sajak yang paling banyak digunakan adalah lambang.

(15)

Unsur kepuitisan bunyi lai adalah sajak Sajak pola estetika bahasa yang

berdasarkan ulangan suara yang diusahakan dan dialami dengan kesadaran, sajak tidak

hanya untuk hiasan, tetapi untuk mempertinggi mutu bila mempunyai daya evokasi, yaitu daya kuat untuk menimbulkan pengertian

(16)

Asonansi dan aliterasi berungsi untuk

memperdalam rasa, selain untuk orkestrasi

dan memperlancar ucapan.

Sajak memberikan dan memperkuat

(17)

IV IRAMA

Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang

teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan

suau gerak yang hidup, seperti gercik air yang

mengalir turun tak putus-putus. Gerak yang

teratur yang disebut irana

Irama dalam bahasa asing rhythm (Ing),

rythme (Pr) berasal dari kata Yunani reo, yang

berarti riak air. Gerakan tersebut adalah

gerakan yang teratur, terus menerus tidak

putus-pputus. Barang kali gerak yang teratur

disebut re, menjadi ritmos rhythmus (L),

(18)

Irama adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur.

Irama dapat dibagi menjadi dua metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap,artinya

(19)

Puisi yang merdu bunyinya dikatakan melodius: berlagu seolah-olah seoerti nyanyian yang

mempunyai melodi

Melodi adalah paduan susunan deret suara yang teratur berirama (Kusbini, 1953: 2)

Perbedaan melodi dengan puisi adalah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada

sajak itu tak seberapa banyaknya dan intervalnya (jarak nada) juga terbatas.

(20)

Dalam berdeklamasi irama dan ketepatan ekspresi didapatkan dengan mempergunakan tekanan

dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo pada kata

Tekanan dinamik: tekanan pada kata terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak

Tekanan nada ialah tekanan tinggi (rendah)

Tekanan tempo: lambat cepatnya pengucapan suku kata atau kata (atau kalimat).

Dalam berdeklamasi perlu diperhatikan dksi, yaitu cara mengucapkan sajak atau teknik

(21)

V. KATA

Di antara arti denotatif dan konotatif,

perbendaharaan kata (kosa kata,

pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan,

citraan, sarana retorika, faktor

ketatabahasaan, dan hal-hal yang

berhubungan dengan struktur kata-kata

atau kalimat puis, yang semua itu

dipergunakan oleh penyair untuk

(22)

1.

Kosa kata

Alat untuk menyampaikan perasaan dan

pikiran sastrawan adalah bahasa.

Bahasa atau kata yang kuna, yang sudah

mati, yang tidak dimengerti oleh masyarakat

bila digunakan oleh sastrawan dapat

menyebabkan sajaknya menjadi mati, tak

berjiwa.

penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari

dapat memberi efek gaya yang realistis,

(23)

2. Pemilihan Kata

Brfiel mengemukakan bahwa bila kata –kata

dipilh dan disusun dengan cara yang

sedemikian rupa sehingga artinya

menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya

disebut diksi puitis (1952: 41)

(24)

3. Denotasi dan Konotasi

Termasuk pembicaraan diksi ialah tentang

denotasi dan konotasi.

Denotasi artinya yang menunjuk dan konotasi

artinya tambahannya.

Denotasi sebuah kata adalah definisi

kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk

benda atau hal yang diberi nam adengan kata

itu, disebutkan atau diceritakan (Altenbernd)

(25)

4. Bahasa Kiasan

Bahasa kiasan (figurative language)

mengiaskan atau mempersamakan sesuatu

hal dengan ha lain supaya gambaran menjadi

jelas, lebih menarik, dan hidup.

Macam-macam bahasa kiasan mempunyai

sesuatu hal (sifat) yang umum, yang bahasa

kiasan tersebut mempertalikan sesuatu

(26)

Jenis Kiasan

a.

Perbandingan (simile)

b.

Metafora

c.

Perumpamaan epos (epic smile)

d.

Personifikasi

e.

Metonimi

(27)

Jenis Kiasan

a.

Perbandingan (simile) atau perumpamaan

atau smile, ialah bahasa kiasan yang

menyamakan satu hal dengan hal lain

dengan mempergunakan kata-kata

pembanding seperti; bagai, sebagai, bak,

seperti dan lain-lain

b.

Metafora ini bahasa kiasan spereti

perbandingan, hanya tidak

(28)

c. Perumpamaan epos (epic smile) ialah

perbandingan yang dilanjutkan, atau

diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara

melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih

lanjut dalam kalimat-kalimat aau frase yang

berturut-turut

d. Allegori adalah cerita kiasan ataupun

lukisan kiasan

e. Personifikasi, kiasan ini mempersamakan

benda denga manusia, benda-benda mati

(29)

f. Metonimia

Disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini

berupa penggunaan sebuah atribut sebuah

objek atau penggunaan sesuatu yang dekat

berhubungan dengannya untuk menggantikan

objek tersebut (Altenbernd, 1970:21)

g. Sinekdoki (synecdoche)

Adalah bahasa kiasan yang menyebutkan

suatu bagian yang penting suatu benda (hal)

untuk benda atau hal itu sendiri

.

1. Pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan

(30)

5. Citraan (Gambaran-gambaran Angan)

gambar-gambar dalam pikiran dan

bahasa yang menggambarkannya (Altern,

berd, 1970: 12), sedang setiap gambar pikiran

disebut citra atau imaji (image). Gambaran

pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran

yang sangat menyerupai (gambaran) yang

dihsilkan oleh mata, saraf penglihatan, dan

daerah-daerah otak yang berhubungan (yang

bersangkutan).

Citraan biasanya lebih mengingatkan kembali

daripada membuat baru kesan pikiran,

(31)

Jenis-jenis Imaji

Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indera penglihatan,

pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman.

Citraan yang timbul oleh pengihatan disebut citra penglihatan (visual amagery), yang ditimbulkan oleh pendengaran (auditory iamgery) dsb.

Citra penglihatan adalah jenis yang paling sering dipergunakan oleh penyair dibandingkan dengan citraan yang lain

(32)

Ada juga citraan gerak (movement imagery) atau kinaesthetic imagery). Imagery ini

menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai

bergerak, ataupun gambaran gambaran gerak pada umumnya

Altenbernd (1970: 14) mengemukakan bahwa

citraan adalah satu alat kepuitisan yang terutama yang dengan itu kesustraan mencapi sifat-sifat

(33)

6. Gaya Bahasa dan Sarana Retorika

susunan perkatakaan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati

pnulis, yang enimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca, begitu kata slametmuljana (Tt: 20).

Gaya bahasa menghidupkan kalimat dan memberi gerak pad akallimat.

Gaya bahasa merupakan cap seorang

pengarang. Gaya itu merupakan idiosyncracy

(34)

Sarana retorika

sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan itu penayair berusaha menarik perhatian, pikiran hingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair.

Sarana retorika dapat menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang itimbulkan dan dimaksudkan oleh

penyairnya.

Sarana retorika yang biaanya dominan adalah tautologi, plenasme, keseimbangan,

(35)

Tautologi adalah sarana retorika yang

menyatakan hal atau keadaan dua kali: maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar.

Pleonasme (keterangan berulang) adalah sarana

retorika yang sepintas lalu seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan demikian sifat yang

dimaksudkan lebih terang.

Enumerasi adalah sarana retorika yang berupa

(36)

Paralelisme adalah mengulang isi kaliamat yang

maksud dan tujuannya serupa.

Retorik retisense sarana ini mempergunakan

titik-titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkap. Penyair romantik banyak

mempergunakan sarana retorika ini, lebih-lebih sajak romantik remaja banyak menggunakannya.

Hiperbola adalah sarana yang melebih-lebihkan

satu hal atau keadaan.

Paradoks adalah sarana retorika yang

menyatakan sesuatu yang berlawanan, tetapi

(37)

7. Faktor Ketatabahasaan

Penggunaan bahasa seseorang (parole) merupakan penerapan sistem bahasa (language) yang ada

(Culler, 1997: 8), danpenggunaan bahasa

penyairsekaligus penerapan konvensi puisi yang ada.

7.1 Faktor Ketatabahasaan Chairil Anwar

Pemendekan Kata

untuk kelancaran ucapan, untuk mendapatkan irama yang menyebabkan liris. Misalnya: “kan” dari “akan”

Penghilangan Imbuhan

Untuk memperlancar ucapan, membuat berirama.

(38)

- Penyimpangan Struktur Sintaksis

Untuk mendapatkan irama yang liris, kepadatan, dan ekpresivitas para penyair sering membuat

penyimpangan-penyimpangan dari struktur sintaksis yang normatif. Misalnya “Rumah besar atau rumah ini, rumah itu.

7.2 Faktor Ketatabahasaan Sutardji

Penghapusan Tanda Baca

Penghapusan tanda baca yang dilakukan dengan sengaja yang efeknya memberikan kegandaan tafsir ataupun efek stream of conscousnes arus pikiran yang mengalir tak terkendalikan dari bawah sadar. Misal

dalam kalimat yang panjang tanpa ada koma, baru

(39)

Penggabungan Dua Kata ata Lebih

Adalah penggabungan dua kata atau lebih

menjadi satu gabungan hingga seolah-olah

sudah menjadi satu kata, menjadi satu

pengertian tak terpisahkan. Misalkan

lekukbungkalanlobangmu, lukakitaku

Penghilangan Imbuhan

(40)

Pemutusan Kata

Kata diputus-putus menjadi suku kata atau dibalik suku katanya, dengan cara yang demikian itu,

menjadi menarik perhatian dan artinya berubah atauun hilang artinya.

Pembentukan Jenis Kata

Sutardji membentuk kata-kata benda atau kata

(41)

I. ANALISIS STRUKTURAL SEMIOTIK

Dengan dianalisis secara menyeluruh dan

kaitannya yang erat, maka makna sajak dapat ditangkap dan dipahami secara seutuhnya.

Norma-norama puisi atau unsur-unsur sajak berjalinan secara erat atau koherensi secara padu.untuk memahami makna secara utuh perlu sajak dianalisis secara struktural.

(42)

1. Analisis Struktural

Kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan

hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terkait, saling

berkaitan dan saling bergantung.

Dalam pengertian struktur (Piaget dalam Djoko Pradopo, 2009: 119) terlihat adanya rangkaian kesatuan yang meliputi tiga dasar, yaitu ide

kesatuan, ide transformasi, dan ide pengaturan dri sendiri (self-regulation).

(43)

Kedua struktur berisi gagasan tranformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis

Struktur itu mampu melakukan prosedur-prosedur transformasional, dalam arti bahan-bahan baru

diproses dengan prosedur.

Analisis struktural sajak adalah analisis sajak ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam

struktur sajak dan penguraian bahwa setiap unsir itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya

(44)

2. Analisis Semiotik

Menganalisis sajak bertujuan memahami makna sajak.

Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak.

Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna

Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa.

Bahasa sebagai medium karya sastra sudah

(45)

Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat.

Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi

(perjanjian) masyarakat.

Sistem ketandaan itu disebut semiotik

(46)

Ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol.

ikon adalah tanda hubungan antara penanda

dan pertandanya bersifat persamaan bentuk

alamiah, misalnya potret orang menandai orang yang dipoteret (berarti orang yang dipotret),

gambar kuda itu menandai kuda yang nyata.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya

hubungan alamiah antara tanda dan pertanda yang bersifat kausal atau hubungan

(47)

Simbol itu tnada yang tidak mnunjukkan

hubungan alamiah antara penanda dan

petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semaunya, hubungannya

berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat

dalam semiotik arti bahasa sebagai sistem

tanda tingkat pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat

(sastra).

Jadi arti sastra merupakan arti dari arti

(meaning of meaning). Untuk membedakan dari arti bahasa arti sastra itu disebt makna

(48)

Sastra bersifat semiotik adalah usaha menganalisis karya sastra, di sini sajak

khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan sistem tanda-tanda dan menentukan

konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna.

Satuan-satuan berfungsi sastra adalah alur, setting, penokohan, satuan-satuan bunyi,

(49)

3. Latar Belakang Sejarah dan Sosial Budaya Sastra

Menurut teori strukturalisme murni, karya sastra haruslah dianalisis struktur instrinsiknya saja.

Analisis struktural murni tidak menghubungkan unsur-unsur struktur dengan sesuatu yang berda di luar strukturnya karena makna setiap unsur

karya sastra itu hanya ditentukan oleh jalinannya dengan unsur lainnya dalam struktur itu sendiri. Sebuah karya sastra tidak lahir dalam

(50)

Jadi analisis struktural murni mempunyai keberatan-keberatan, yaitu diantaranya

mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejahrahannya dan latar belakang sosial budayanya.

Untuk mendapatkan makna sajak secara

sepenuhnya, maka analisis sajak tidak dapat dilepaskan dari kerangka sejarah sastranya. Jadi untuk mendapatkan makna teks yang

sepenuhnya, latar belakang sosial-budaya dalam karya sastra (sajak) yang dianalisis haruslah

(51)

II. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK AMIR HAMZAH

Strukturalisme paling tuntas dilaksanakan bila yang dianalisis adalah sajak yang merupakan keseluruhan, yang unsur-unsur atau

bagian-bagiannya saling erat berjalinan (Hawkes, 1978: 18)

Sajak merupakan kesatuan yang utuh/bulat

1. Padamu Jua

(52)

Tuhan dalam sajak ini diantropomorfkan

diwujudkan sebagai manusi, dikiaskan sebagai dara, sebagai kekasih, adalah salah satu cara untuk membuat pathos, yaitu menimbulkan

simpati dan empati kepada pembaca hingga is bersatu mesra dengan obyeknya (Budi Darma, 1982: 112)

Penggunaan citraan gerak pada Segala

(53)

Penggunaan citra rabaan dan penglihatan

yang merangsang indera dipergunakan dalam: Aku manusia/Rindu rasa/ Rindu rupa (bait 4). Untuk merangsang pendengaran

dipergunakan citra pendengaran

(54)

2. Barangkali

Ide percintaan tersebt secara semiotik sesuai dengan pilihan-pilihan kata-katanya yang

menimbulkan suasana romantis.

Secara semiotik yang mempelajari

sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan bahasa sebagai tanda

mempunyai arti (Preminger, 1974:980), pilihan kata-kkatanya dalam sajak ini menandai

(55)

3. Hanya Satu

Dalam sajak hanya satu digambarkan betapa hebat kekuasaan Tuhan. Ia menurunkan hujan lebat dan membangkitkan badai untuk

menenggelamkan bumi serta merusak, menghancurkan taman dunia yang indah.

4. Tetapi Aku

Dalam sajak “Tetapi Aku” dikemukakan oleh si aku bahwa tiba-tiba ia sekejap ditemui Tuhan, tetapi si aku tiada merasa, tiada sadar akan hal itu, meskipun mutiara-jiwa si aku telah lama

(56)

5. Sebab Dikau

Dalam sajak si aku senang atau kasih akan hidup karena gadisnya, menyebabkan semua harapan menjadi mekar, terbuka, sebagai

kuntum bunga yang mekar, membuka kelopaknya

Citra-citra yang menunjukkan bahwa hidup ini hanya sebagai permainan wayang: Hidup

seperti mimpi, laku lakon di layar terkelar, aku pemimpi lagi penari: di datar layar, wayang

warna menayang rasa, dst.

(57)

6. Turun Kembali

Dalam sajak dikemukakan ide bahwa manusia itu tidak bersatu dengan Tuhan.

Manusia itu hamba, sedangkan Tuhan itu penghulu, maharaja.

Manusia hidup di bawah lindungan Tuhan, dan dapat senang berkat karunia Tuhan

(58)

7. Insyaf

Dalam sajak dikemukakan bahwa si aku seperti buntu karena semua permintaan dan

pertanyaan tidak di jawab oleh Tuhan.tetapi kemudian si aku merasa salah arah hingga hancur segala harapn. Si aku kemudian insaf akan kedurhakaannya terhadap Tuhan.

8. Astana Rela

Pokok pikiran sajak ini adah tiadalah mengapa si aku dengan kekasihnya tidak berjumpa di

(59)

III. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR

Proses analisis dan parafase sajak-sajak Chairil Anwar adalah seperti analisis dan parafase Amir Hamzah sebagai berikut:

1. Aku

Secara struktural dengan melihat hubungan antar unsur-unsur dan keseluruhannya, juga berdasarkan kiasan-kiasan yang terdapat di

(60)

2. Selamat Tinggal

Sajak ini merupakan intropeksi kepada dirinya sendiri

Dalam sajak ini merupakan penggalian masalah pribadi dan kesadaran kepada kejelekan dan

kekurangan diri manusia sebagi pribadi. Di samping itu, si aku mengemukakan bahwa

(61)

3. Doa

Dalam Sajak ini tampak Chairil Anwar

menyatakan suatu pengertian itu dengan cara yang tak langsung, dengan kiasan, dan

gambaran-gambaran yang artinya membias,

yaitu arti katanya terurai, seperti halnya cahaaya masuk prisma terurai menjaid warna pelangi.

(62)

4. Kepada Peminta-minta

Mengenai arti kata peminta-minta, kata ni dapt berarti peminta-minta dalam arti harfiah, arti

kamusnya, yaitu orang yang memeinta sedekah atau pengemis. Melihat pengemis itu si aku

merasa berdosa karena ia turut menyia-nyiakan nasib si peminta-minta itu, tak mau

(63)

5. Sajak Putih

Sajak ini merupakan kiasan suara hati si

penyair, suara hati si aku.putih mengiaskan ketulusan, kejujuran, atau keikhlasan.

6. Sebuah Kamar

Puisi itu menyatakan pengertian secara tidak

langsung (Riffaterre, 1978:10 yaitu menyatakan sesuatu hal yang berarti yang lain,

(64)

Dalam sajak ini penyair mengemukakan sebuah ironi kehidupan di Indonesia, yaitu pertama

orang luar itu selalu ingin mengetahui rahasia orang lain, mencampuri urusan orang lain.

Ironi kehidupan tersebut dinyatakan dengan bahasa yang ironik-hiperbolik, yaitu sindiran yang dilebih-lebihkan. Ironi itu dinyatakan

(65)

7. Catetan Th 1946

Dalam sajak ini penyair mengemukakan abstrak dipergunakan bahsa-bahasa kiasan dan citraan untuk megkonkretkan tanggapan dan menarik karena memberikan gambaran yang jelas dan pars pro toto yaitu tangan untuk menyatakan aku.

8. Cerita buat Dien Tamaela

Yang paling menonjol dalam sajak ini adalah ulangan-ulangan, baik ulangan kata, kalimat, maupun bait. Ulangan itu diantaranya berupa paralellisme, yaitu penjajaran kalimat-kalimat yang artinya sama/hampir sama dengan

(66)

9. Tuti Artic

Dalam sajak ini mengemukakan pokok pikiran bahwa orang itu tidak dapat mengetahui apa yang terjadi antara kebahagiaan sekarang dan nanti. Ketidaktahuan digambarkan sebagai

jurang yang ternganga.

(67)

IV KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI

Analisis struktural yang digabungkan dengan

semiotik disebut strukturalisme dinamik (Teeuw, 1983:62).

Sastra merupakan sistem tanda sebelum

dipergunakan dalam bahasa yang sudah merupakan sistem tanda sebelum dipergunakan dalam sastra.

Dipandang dari sudut sastra bahasa sistem

tanda tingkat kedua. Bahasa adalah tanda/simbol yang mempunyai arti dan kohesi sendiri

Kohesi tambahan dalam sastra yaitu bahasa kiasan,

(68)

Ketidaklangsungan pernyataan puisi menurut

Riffaterre (1978:2) disebabkan oleh tiga hal:

1. Penggantian Arti

Pada umumnya kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi (Riffaterre: 1978:2). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain, tidak menurut arti

sesungguhnya.

2. Penyimpangan arti

(69)

3. Penciptaan Arti

Terjadi penciptaan arti (Riffaterre: 1978:2) bila

ruang teks (spasi teks) berlaku sebagi prinsip

pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda

keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang

sesungguhnya secara linguistik tidak ada

artinya, misalnya simitri, rima, enjebement

(peloncatan baris) atau ekuivalensi-ekuivalensi

makna (semantik) di antara

(70)

V HUBUNGAN INTERTEKTUAL

Untuk mendapatkan makna sepenuhnya sebuah

sajak, selain sajak harus diinsafi ciri khasnya sebagai tanda (sign), tidak boleh pula dilupakan hubungan

kesejarahannya.

Karya sastra menghendaki adanya kebaruan, namun tentu tidak baru sama sekali sebab bila sama sekali menyimpang dari konvensi, maka ciptaan itu akan tidak dikenal atau tidak dapat dimengerti oleh

masyarakatnya.

konvensi sastra yang disimpangi dapat berupa

(71)

Aturan pantun yang ketat yang telah menjadi konvensi itu yang utama adalah:

Tiap baris terdiri 4 baris

Baris pertama dan kedua merupakan sampiran,

baris ketiga dan keempat isi

Sajak akhirnya berpola abab,

Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua

(72)

Aturan syair yang utama adalah:

Tiap baris terdiri 4 baris

keempat baris itu mengandung isi

Syair untuk menguraikan cerita hingga biasanya

tidak cukup hanya satu bait

Pola sajak a a a a

Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua

kata

Akan tetapi para penyair pujangga baru menentang aturan dan kohesi tersebut

Dalam kesusastraan Indonesia hubungan intertektual antara suatu karya sastra dengan karya lain, baik

(73)

1. Hubungan Intertektual Sajak Kusangka dengan penerimaan

Tiap baris terdiri 4 baris

keempat baris itu mengandung isi

Syair untuk menguraikan cerita hingga biasanya

tidak cukup hanya satu bait

Pola sajak a a a a

Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua

Referensi

Dokumen terkait

Dengan kata lain, dalam arti sempit ini staffing dianggap identik dengan penempatan orang pada suatu jabatan yang lowong. • dalam arti luas: pengelolaan personil

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara

dicapai dari suatu usaha yang telah dikerjakan, 3 menurut Zainal Arifin dalam bukunya, bahwa kata Prestatie bahasa belanda yang berarti “

kata lain, tidak ada unsur langsung frasa yang memiliki posisi yang lebih dominan.. daripada unsur langsung lainnya di dalam frasa

Ini berarti hipotesis H0 ditolak, dalam hal ini true effect size tidak sama dengan 0, dengan kata lain pembelajaran model examples non examples ini

1) Menurut Syamsu, motivasi belajar berasal dari kata motif yang berarti keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertindak melakukan suatu kegiatan

Walaupun tidak mengandung kata yang dalam bahasa Jepang berarti “Pagi”, tapi kata inilah yang diucapkan ketika kita pertama kali bertemu seseorang suatu hari.. Untuk teman akrab

Menurut KBBI yang diakses secara online , kata transmisi memiliki arti pengirim (penerusan) pesan dari seseorang kepada orang lain, sedangkan men- transmisikan berarti mengirimkan