PU
IS
I JA
W
A
MO
1. Pengkajian Puisi
Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan
evolusi selera dan perubahan konsep
estetikanya (Riffaterre, 1978).
Sebelum pengkajian puisi ke aspek-aspek
yang lain perlu dahulu puisi dikaji sebagai
struktur yang bermakna dan bernilai estetis.
Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang
Perbedaan pokok antara prosa dan puisi
1.
Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa
yang pokok ialah kesatuan sintaksis;
kesatuan korespondensi puisi resminya
bukan kesatuan sintaksis-kesatuan akustis
2.Di dalam puisi korespondensi dari corak
tertentu, yang terdiri dari kesatuan tertentu,
meliputi seluruh puisi dari semula sampai
akhir. Kesatuan ini disebut baris sajak.
2. Puisi Itu Karya Seni
Karya sastra disebut puitis apabila
membangkitkan persaan, menarik perhatian,
menimbulkan tanggapan yang jelas, dan
menimbulkan keharuan.
Kepuitisan dapat dicapai dengan bentuk visual:
tipografi, susunan bait; dengan bunyi:
persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi,
lambang rasa, dan orkestrasi; dengan
II. Analisis Puisi Berdasarkan
Strata Norma
Puisi merupakan karya sastra yang
memiliki struktur yang sangat kompleks
yang terdiri dari beberapa strata (lapis)
norma. Masing-masing norma
menimbulkan lapis norma di bawahnya
Rene Wellek menjelaskan analisis Roman
Ingarden, seorang filsuf Polandia dalam
bukunya Das Literarische Kunstwerk ia
menganalisis norma-norma sebagai
berikut:
Lanjutan
Bila orang membaca puisi, maka yang
terdengar adalah serangkaian bunyi
yang dibatasi jeda pendek, agak
panjang, dan panjang
Lapis arti (units of meaning) berupa
rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan
kalimat. Semua merupakan satuan arti.
Lapis suara (sound stratum): berupa
Lanjutan
Lapis bunyi semua satuan bunyi yang
berdasarkan konvensi bahasa tertentu, di sini
bahasa Indonesia.
Lapis Arti (units of meaning)
Satuan terkecil berupa fonem.
Kata bergabung menjadi kelompok kata,
kalimat, alenia, bait, bab, dan seluruh cerita
yang merupakan satuan arti.
Dunia pengarang aadalah ceritanya, yang
merupakan dunia yang diciptakan oleh si
pengarang. Hal ini merupakan gabungan dan
jalinan antara objek-objek yang dikemukakan,
latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur).
Lapis Keempat adalah lapis dunia yang tak
usah dinyatakan tetapi sudah implisit tampak
dari sudut pandang tertentu, menyatakan
suasana
Analisis strata norma Roman Ingarden itu dapat dikatakan hanya analisis puisi secara formal saja, menganalisis fenomena-fenomena saja.
Analisis strata norma dimaksudkan untuk mengetahui semua unsur (fenomena) karya sastra yang ada.)
Analisis strata norma harus ditingkatkan ke analisis semiotik, karya sastra sebagai sistem tanda yang bermakna.
Dengan analisis strata norma dan semiotik, karya sastra (puisi) akan dapat didapatkan makna
III. BUNYI
Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur
puisi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi bertugas memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan secara jelas, menimbulkan suasana khusus dsb.
Pentingnya peranan bunyi dalam kesusastraan ,
sehingga dalam bunyi pernah menjadi unsur kepuitisan yang utama dalam sastra romantik.
Menurut teori simbolisme (Slametmuljana, 1956: 57)
tiap kata menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. Hal itu
dapat diusahakan dengan gaya bahasa. Kenyataan sebenarnya tidak dapat ditangkap dengan panca
Menurut teori simbolisme tugas
puisi adalah mendekati kenyataan
ini, dengan cara tak usah
memikirkan arti katanya, tidak perlu
memikirkan arti katanya, melainkan
mengutamakan suara, lagu, irama,
dan rasa timbul karenanya dan
tanggapan-tanggapan yang mungkin
dibangkitkannya. Dengan begitu
kesusastraan telah kemasukan
Dalam sajak penyair simbolis
kebanyakan karena mementingkan
suara, irama, maka kata-katanya sudah
melepaskan tugasnya sebagai tanda
yang mewakili pengertian
(Slametmuljana, 1956:60) karena dalam
puisi pengertian tidak lagi diutamakan
Di Indonesia simbolisme tidak dianut
secara nyata, hanya unsur-unsur
memntingkan bunyi dan
lambang-lambang atau simbolik-simbolik
Dalam puisi bunyi dipergunakan sebagai
orkestrasi, ialah untuk menimbulkan bunyi musik.
Dari bunyi musik murni ini dapatlah mengalir
perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau
pengalaman-pengalaman jiwa pendengarnya.
Kombinasi bunyi yang merdu itu biasanya
disebut efoni (euphony), bunyi indah.
Kombinasi bunyi vokal (asonansi): a, e, I, o, u,
bnyi bersuara (voiced): b, d, g, j, bunyi liquida: r, l dan bunyi sengau: m, n, ng, ny menimbulkan
Dalam puisi bunyi kata itu di samping tugasnya yang pertama sebagai simbol arti dan juga untuk orkestrasi, digunakan juga sebagai:
1. Peniru bunyi atau anomatope
2. Lambang suara (klanksymboliek), dan
3. Kiasan suara (klankmetaphoor) (Slametmuljana, 1956:61)
Dalam sajak yang paling banyak digunakan adalah lambang.
Unsur kepuitisan bunyi lai adalah sajak Sajak pola estetika bahasa yang
berdasarkan ulangan suara yang diusahakan dan dialami dengan kesadaran, sajak tidak
hanya untuk hiasan, tetapi untuk mempertinggi mutu bila mempunyai daya evokasi, yaitu daya kuat untuk menimbulkan pengertian
Asonansi dan aliterasi berungsi untuk
memperdalam rasa, selain untuk orkestrasi
dan memperlancar ucapan.
Sajak memberikan dan memperkuat
IV IRAMA
Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang
teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan
suau gerak yang hidup, seperti gercik air yang
mengalir turun tak putus-putus. Gerak yang
teratur yang disebut irana
Irama dalam bahasa asing rhythm (Ing),
rythme (Pr) berasal dari kata Yunani reo, yang
berarti riak air. Gerakan tersebut adalah
gerakan yang teratur, terus menerus tidak
putus-pputus. Barang kali gerak yang teratur
disebut re, menjadi ritmos rhythmus (L),
Irama adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur.
Irama dapat dibagi menjadi dua metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap,artinya
Puisi yang merdu bunyinya dikatakan melodius: berlagu seolah-olah seoerti nyanyian yang
mempunyai melodi
Melodi adalah paduan susunan deret suara yang teratur berirama (Kusbini, 1953: 2)
Perbedaan melodi dengan puisi adalah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada
sajak itu tak seberapa banyaknya dan intervalnya (jarak nada) juga terbatas.
Dalam berdeklamasi irama dan ketepatan ekspresi didapatkan dengan mempergunakan tekanan
dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo pada kata
Tekanan dinamik: tekanan pada kata terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak
Tekanan nada ialah tekanan tinggi (rendah)
Tekanan tempo: lambat cepatnya pengucapan suku kata atau kata (atau kalimat).
Dalam berdeklamasi perlu diperhatikan dksi, yaitu cara mengucapkan sajak atau teknik
V. KATA
Di antara arti denotatif dan konotatif,
perbendaharaan kata (kosa kata,
pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan,
citraan, sarana retorika, faktor
ketatabahasaan, dan hal-hal yang
berhubungan dengan struktur kata-kata
atau kalimat puis, yang semua itu
dipergunakan oleh penyair untuk
1.
Kosa kata
Alat untuk menyampaikan perasaan dan
pikiran sastrawan adalah bahasa.
Bahasa atau kata yang kuna, yang sudah
mati, yang tidak dimengerti oleh masyarakat
bila digunakan oleh sastrawan dapat
menyebabkan sajaknya menjadi mati, tak
berjiwa.
penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari
dapat memberi efek gaya yang realistis,
2. Pemilihan Kata
Brfiel mengemukakan bahwa bila kata –kata
dipilh dan disusun dengan cara yang
sedemikian rupa sehingga artinya
menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya
disebut diksi puitis (1952: 41)
3. Denotasi dan Konotasi
Termasuk pembicaraan diksi ialah tentang
denotasi dan konotasi.
Denotasi artinya yang menunjuk dan konotasi
artinya tambahannya.
Denotasi sebuah kata adalah definisi
kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk
benda atau hal yang diberi nam adengan kata
itu, disebutkan atau diceritakan (Altenbernd)
4. Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan (figurative language)
mengiaskan atau mempersamakan sesuatu
hal dengan ha lain supaya gambaran menjadi
jelas, lebih menarik, dan hidup.
Macam-macam bahasa kiasan mempunyai
sesuatu hal (sifat) yang umum, yang bahasa
kiasan tersebut mempertalikan sesuatu
Jenis Kiasan
a.
Perbandingan (simile)
b.Metafora
c.
Perumpamaan epos (epic smile)
d.Personifikasi
e.
Metonimi
Jenis Kiasan
a.
Perbandingan (simile) atau perumpamaan
atau smile, ialah bahasa kiasan yang
menyamakan satu hal dengan hal lain
dengan mempergunakan kata-kata
pembanding seperti; bagai, sebagai, bak,
seperti dan lain-lain
b.
Metafora ini bahasa kiasan spereti
perbandingan, hanya tidak
c. Perumpamaan epos (epic smile) ialah
perbandingan yang dilanjutkan, atau
diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara
melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih
lanjut dalam kalimat-kalimat aau frase yang
berturut-turut
d. Allegori adalah cerita kiasan ataupun
lukisan kiasan
e. Personifikasi, kiasan ini mempersamakan
benda denga manusia, benda-benda mati
f. Metonimia
Disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini
berupa penggunaan sebuah atribut sebuah
objek atau penggunaan sesuatu yang dekat
berhubungan dengannya untuk menggantikan
objek tersebut (Altenbernd, 1970:21)
g. Sinekdoki (synecdoche)
Adalah bahasa kiasan yang menyebutkan
suatu bagian yang penting suatu benda (hal)
untuk benda atau hal itu sendiri
.1. Pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan
5. Citraan (Gambaran-gambaran Angan)
gambar-gambar dalam pikiran dan
bahasa yang menggambarkannya (Altern,
berd, 1970: 12), sedang setiap gambar pikiran
disebut citra atau imaji (image). Gambaran
pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran
yang sangat menyerupai (gambaran) yang
dihsilkan oleh mata, saraf penglihatan, dan
daerah-daerah otak yang berhubungan (yang
bersangkutan).
Citraan biasanya lebih mengingatkan kembali
daripada membuat baru kesan pikiran,
Jenis-jenis Imaji
Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indera penglihatan,
pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman.
Citraan yang timbul oleh pengihatan disebut citra penglihatan (visual amagery), yang ditimbulkan oleh pendengaran (auditory iamgery) dsb.
Citra penglihatan adalah jenis yang paling sering dipergunakan oleh penyair dibandingkan dengan citraan yang lain
Ada juga citraan gerak (movement imagery) atau kinaesthetic imagery). Imagery ini
menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai
bergerak, ataupun gambaran gambaran gerak pada umumnya
Altenbernd (1970: 14) mengemukakan bahwa
citraan adalah satu alat kepuitisan yang terutama yang dengan itu kesustraan mencapi sifat-sifat
6. Gaya Bahasa dan Sarana Retorika
susunan perkatakaan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati
pnulis, yang enimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca, begitu kata slametmuljana (Tt: 20).
Gaya bahasa menghidupkan kalimat dan memberi gerak pad akallimat.
Gaya bahasa merupakan cap seorang
pengarang. Gaya itu merupakan idiosyncracy
Sarana retorika
sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran. Dengan itu penayair berusaha menarik perhatian, pikiran hingga pembaca berkontemplasi atas apa yang dikemukakan penyair.
Sarana retorika dapat menimbulkan ketegangan puitis karena pembaca harus memikirkan efek apa yang itimbulkan dan dimaksudkan oleh
penyairnya.
Sarana retorika yang biaanya dominan adalah tautologi, plenasme, keseimbangan,
Tautologi adalah sarana retorika yang
menyatakan hal atau keadaan dua kali: maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar.
Pleonasme (keterangan berulang) adalah sarana
retorika yang sepintas lalu seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama. Dengan demikian sifat yang
dimaksudkan lebih terang.
Enumerasi adalah sarana retorika yang berupa
Paralelisme adalah mengulang isi kaliamat yang
maksud dan tujuannya serupa.
Retorik retisense sarana ini mempergunakan
titik-titik banyak untuk mengganti perasaan yang tak terungkap. Penyair romantik banyak
mempergunakan sarana retorika ini, lebih-lebih sajak romantik remaja banyak menggunakannya.
Hiperbola adalah sarana yang melebih-lebihkan
satu hal atau keadaan.
Paradoks adalah sarana retorika yang
menyatakan sesuatu yang berlawanan, tetapi
7. Faktor Ketatabahasaan
Penggunaan bahasa seseorang (parole) merupakan penerapan sistem bahasa (language) yang ada
(Culler, 1997: 8), danpenggunaan bahasa
penyairsekaligus penerapan konvensi puisi yang ada.
7.1 Faktor Ketatabahasaan Chairil Anwar
Pemendekan Kata
untuk kelancaran ucapan, untuk mendapatkan irama yang menyebabkan liris. Misalnya: “kan” dari “akan”
Penghilangan Imbuhan
Untuk memperlancar ucapan, membuat berirama.
- Penyimpangan Struktur Sintaksis
Untuk mendapatkan irama yang liris, kepadatan, dan ekpresivitas para penyair sering membuat
penyimpangan-penyimpangan dari struktur sintaksis yang normatif. Misalnya “Rumah besar atau rumah ini, rumah itu.
7.2 Faktor Ketatabahasaan Sutardji
Penghapusan Tanda Baca
Penghapusan tanda baca yang dilakukan dengan sengaja yang efeknya memberikan kegandaan tafsir ataupun efek stream of conscousnes arus pikiran yang mengalir tak terkendalikan dari bawah sadar. Misal
dalam kalimat yang panjang tanpa ada koma, baru
Penggabungan Dua Kata ata Lebih
Adalah penggabungan dua kata atau lebih
menjadi satu gabungan hingga seolah-olah
sudah menjadi satu kata, menjadi satu
pengertian tak terpisahkan. Misalkan
lekukbungkalanlobangmu, lukakitaku
Penghilangan Imbuhan
Pemutusan Kata
Kata diputus-putus menjadi suku kata atau dibalik suku katanya, dengan cara yang demikian itu,
menjadi menarik perhatian dan artinya berubah atauun hilang artinya.
Pembentukan Jenis Kata
Sutardji membentuk kata-kata benda atau kata
I. ANALISIS STRUKTURAL SEMIOTIK
Dengan dianalisis secara menyeluruh dan
kaitannya yang erat, maka makna sajak dapat ditangkap dan dipahami secara seutuhnya.
Norma-norama puisi atau unsur-unsur sajak berjalinan secara erat atau koherensi secara padu.untuk memahami makna secara utuh perlu sajak dianalisis secara struktural.
1. Analisis Struktural
Kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan
hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terkait, saling
berkaitan dan saling bergantung.
Dalam pengertian struktur (Piaget dalam Djoko Pradopo, 2009: 119) terlihat adanya rangkaian kesatuan yang meliputi tiga dasar, yaitu ide
kesatuan, ide transformasi, dan ide pengaturan dri sendiri (self-regulation).
Kedua struktur berisi gagasan tranformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis
Struktur itu mampu melakukan prosedur-prosedur transformasional, dalam arti bahan-bahan baru
diproses dengan prosedur.
Analisis struktural sajak adalah analisis sajak ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam
struktur sajak dan penguraian bahwa setiap unsir itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya
2. Analisis Semiotik
Menganalisis sajak bertujuan memahami makna sajak.
Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak.
Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna
Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa.
Bahasa sebagai medium karya sastra sudah
Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat.
Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi
(perjanjian) masyarakat.
Sistem ketandaan itu disebut semiotik
Ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol.
ikon adalah tanda hubungan antara penanda
dan pertandanya bersifat persamaan bentuk
alamiah, misalnya potret orang menandai orang yang dipoteret (berarti orang yang dipotret),
gambar kuda itu menandai kuda yang nyata.
Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya
hubungan alamiah antara tanda dan pertanda yang bersifat kausal atau hubungan
Simbol itu tnada yang tidak mnunjukkan
hubungan alamiah antara penanda dan
petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semaunya, hubungannya
berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat
dalam semiotik arti bahasa sebagai sistem
tanda tingkat pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat
(sastra).
Jadi arti sastra merupakan arti dari arti
(meaning of meaning). Untuk membedakan dari arti bahasa arti sastra itu disebt makna
Sastra bersifat semiotik adalah usaha menganalisis karya sastra, di sini sajak
khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan sistem tanda-tanda dan menentukan
konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna.
Satuan-satuan berfungsi sastra adalah alur, setting, penokohan, satuan-satuan bunyi,
3. Latar Belakang Sejarah dan Sosial Budaya Sastra
Menurut teori strukturalisme murni, karya sastra haruslah dianalisis struktur instrinsiknya saja.
Analisis struktural murni tidak menghubungkan unsur-unsur struktur dengan sesuatu yang berda di luar strukturnya karena makna setiap unsur
karya sastra itu hanya ditentukan oleh jalinannya dengan unsur lainnya dalam struktur itu sendiri. Sebuah karya sastra tidak lahir dalam
Jadi analisis struktural murni mempunyai keberatan-keberatan, yaitu diantaranya
mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejahrahannya dan latar belakang sosial budayanya.
Untuk mendapatkan makna sajak secara
sepenuhnya, maka analisis sajak tidak dapat dilepaskan dari kerangka sejarah sastranya. Jadi untuk mendapatkan makna teks yang
sepenuhnya, latar belakang sosial-budaya dalam karya sastra (sajak) yang dianalisis haruslah
II. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK AMIR HAMZAH
Strukturalisme paling tuntas dilaksanakan bila yang dianalisis adalah sajak yang merupakan keseluruhan, yang unsur-unsur atau
bagian-bagiannya saling erat berjalinan (Hawkes, 1978: 18)
Sajak merupakan kesatuan yang utuh/bulat
1. Padamu Jua
Tuhan dalam sajak ini diantropomorfkan
diwujudkan sebagai manusi, dikiaskan sebagai dara, sebagai kekasih, adalah salah satu cara untuk membuat pathos, yaitu menimbulkan
simpati dan empati kepada pembaca hingga is bersatu mesra dengan obyeknya (Budi Darma, 1982: 112)
Penggunaan citraan gerak pada Segala
Penggunaan citra rabaan dan penglihatan
yang merangsang indera dipergunakan dalam: Aku manusia/Rindu rasa/ Rindu rupa (bait 4). Untuk merangsang pendengaran
dipergunakan citra pendengaran
2. Barangkali
Ide percintaan tersebt secara semiotik sesuai dengan pilihan-pilihan kata-katanya yang
menimbulkan suasana romantis.
Secara semiotik yang mempelajari
sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan bahasa sebagai tanda
mempunyai arti (Preminger, 1974:980), pilihan kata-kkatanya dalam sajak ini menandai
3. Hanya Satu
Dalam sajak hanya satu digambarkan betapa hebat kekuasaan Tuhan. Ia menurunkan hujan lebat dan membangkitkan badai untuk
menenggelamkan bumi serta merusak, menghancurkan taman dunia yang indah.
4. Tetapi Aku
Dalam sajak “Tetapi Aku” dikemukakan oleh si aku bahwa tiba-tiba ia sekejap ditemui Tuhan, tetapi si aku tiada merasa, tiada sadar akan hal itu, meskipun mutiara-jiwa si aku telah lama
5. Sebab Dikau
Dalam sajak si aku senang atau kasih akan hidup karena gadisnya, menyebabkan semua harapan menjadi mekar, terbuka, sebagai
kuntum bunga yang mekar, membuka kelopaknya
Citra-citra yang menunjukkan bahwa hidup ini hanya sebagai permainan wayang: Hidup
seperti mimpi, laku lakon di layar terkelar, aku pemimpi lagi penari: di datar layar, wayang
warna menayang rasa, dst.
6. Turun Kembali
Dalam sajak dikemukakan ide bahwa manusia itu tidak bersatu dengan Tuhan.
Manusia itu hamba, sedangkan Tuhan itu penghulu, maharaja.
Manusia hidup di bawah lindungan Tuhan, dan dapat senang berkat karunia Tuhan
7. Insyaf
Dalam sajak dikemukakan bahwa si aku seperti buntu karena semua permintaan dan
pertanyaan tidak di jawab oleh Tuhan.tetapi kemudian si aku merasa salah arah hingga hancur segala harapn. Si aku kemudian insaf akan kedurhakaannya terhadap Tuhan.
8. Astana Rela
Pokok pikiran sajak ini adah tiadalah mengapa si aku dengan kekasihnya tidak berjumpa di
III. ANALISIS STRUKTURAL DAN SEMIOTIK SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR
Proses analisis dan parafase sajak-sajak Chairil Anwar adalah seperti analisis dan parafase Amir Hamzah sebagai berikut:
1. Aku
Secara struktural dengan melihat hubungan antar unsur-unsur dan keseluruhannya, juga berdasarkan kiasan-kiasan yang terdapat di
2. Selamat Tinggal
Sajak ini merupakan intropeksi kepada dirinya sendiri
Dalam sajak ini merupakan penggalian masalah pribadi dan kesadaran kepada kejelekan dan
kekurangan diri manusia sebagi pribadi. Di samping itu, si aku mengemukakan bahwa
3. Doa
Dalam Sajak ini tampak Chairil Anwar
menyatakan suatu pengertian itu dengan cara yang tak langsung, dengan kiasan, dan
gambaran-gambaran yang artinya membias,
yaitu arti katanya terurai, seperti halnya cahaaya masuk prisma terurai menjaid warna pelangi.
4. Kepada Peminta-minta
Mengenai arti kata peminta-minta, kata ni dapt berarti peminta-minta dalam arti harfiah, arti
kamusnya, yaitu orang yang memeinta sedekah atau pengemis. Melihat pengemis itu si aku
merasa berdosa karena ia turut menyia-nyiakan nasib si peminta-minta itu, tak mau
5. Sajak Putih
Sajak ini merupakan kiasan suara hati si
penyair, suara hati si aku.putih mengiaskan ketulusan, kejujuran, atau keikhlasan.
6. Sebuah Kamar
Puisi itu menyatakan pengertian secara tidak
langsung (Riffaterre, 1978:10 yaitu menyatakan sesuatu hal yang berarti yang lain,
Dalam sajak ini penyair mengemukakan sebuah ironi kehidupan di Indonesia, yaitu pertama
orang luar itu selalu ingin mengetahui rahasia orang lain, mencampuri urusan orang lain.
Ironi kehidupan tersebut dinyatakan dengan bahasa yang ironik-hiperbolik, yaitu sindiran yang dilebih-lebihkan. Ironi itu dinyatakan
7. Catetan Th 1946
Dalam sajak ini penyair mengemukakan abstrak dipergunakan bahsa-bahasa kiasan dan citraan untuk megkonkretkan tanggapan dan menarik karena memberikan gambaran yang jelas dan pars pro toto yaitu tangan untuk menyatakan aku.
8. Cerita buat Dien Tamaela
Yang paling menonjol dalam sajak ini adalah ulangan-ulangan, baik ulangan kata, kalimat, maupun bait. Ulangan itu diantaranya berupa paralellisme, yaitu penjajaran kalimat-kalimat yang artinya sama/hampir sama dengan
9. Tuti Artic
Dalam sajak ini mengemukakan pokok pikiran bahwa orang itu tidak dapat mengetahui apa yang terjadi antara kebahagiaan sekarang dan nanti. Ketidaktahuan digambarkan sebagai
jurang yang ternganga.
IV KETIDAKLANGSUNGAN EKSPRESI PUISI
Analisis struktural yang digabungkan dengan
semiotik disebut strukturalisme dinamik (Teeuw, 1983:62).
Sastra merupakan sistem tanda sebelum
dipergunakan dalam bahasa yang sudah merupakan sistem tanda sebelum dipergunakan dalam sastra.
Dipandang dari sudut sastra bahasa sistem
tanda tingkat kedua. Bahasa adalah tanda/simbol yang mempunyai arti dan kohesi sendiri
Kohesi tambahan dalam sastra yaitu bahasa kiasan,
Ketidaklangsungan pernyataan puisi menurut
Riffaterre (1978:2) disebabkan oleh tiga hal:
1. Penggantian Arti
Pada umumnya kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi (Riffaterre: 1978:2). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain, tidak menurut arti
sesungguhnya.
2. Penyimpangan arti
3. Penciptaan Arti
Terjadi penciptaan arti (Riffaterre: 1978:2) bila
ruang teks (spasi teks) berlaku sebagi prinsip
pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda
keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang
sesungguhnya secara linguistik tidak ada
artinya, misalnya simitri, rima, enjebement
(peloncatan baris) atau ekuivalensi-ekuivalensi
makna (semantik) di antara
V HUBUNGAN INTERTEKTUAL
Untuk mendapatkan makna sepenuhnya sebuah
sajak, selain sajak harus diinsafi ciri khasnya sebagai tanda (sign), tidak boleh pula dilupakan hubungan
kesejarahannya.
Karya sastra menghendaki adanya kebaruan, namun tentu tidak baru sama sekali sebab bila sama sekali menyimpang dari konvensi, maka ciptaan itu akan tidak dikenal atau tidak dapat dimengerti oleh
masyarakatnya.
konvensi sastra yang disimpangi dapat berupa
Aturan pantun yang ketat yang telah menjadi konvensi itu yang utama adalah:
Tiap baris terdiri 4 baris
Baris pertama dan kedua merupakan sampiran,
baris ketiga dan keempat isi
Sajak akhirnya berpola abab,
Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua
Aturan syair yang utama adalah:
Tiap baris terdiri 4 baris
keempat baris itu mengandung isi
Syair untuk menguraikan cerita hingga biasanya
tidak cukup hanya satu bait
Pola sajak a a a a
Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua
kata
Akan tetapi para penyair pujangga baru menentang aturan dan kohesi tersebut
Dalam kesusastraan Indonesia hubungan intertektual antara suatu karya sastra dengan karya lain, baik
1. Hubungan Intertektual Sajak Kusangka dengan penerimaan
Tiap baris terdiri 4 baris
keempat baris itu mengandung isi
Syair untuk menguraikan cerita hingga biasanya
tidak cukup hanya satu bait
Pola sajak a a a a
Tiap baris terdiri atas dua periodus terdiri atas dua