MENGGAGAS PARTAI ISLAM BARU
Bagian Pertama
Haedar Nashir
Pemilihan Umum 2004 baik untuk legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden memberikan pelajaran politik yang sangat berharga bagi umat Islam di negeri ini. Bahwa potensi umat Islam secara demografis tidak berbanding lurus dengan kekuatan Islam secara politik. Jika perolehan suara partai-partai berbasis umat Islam yang lolos electoral threshold pada pemilu 5 April 2004 yaitu PPP, PKB, PKS, dan PAN dijumlahkan maka akumulasi suara masih di bawah 40%. Perolehan suara tersebut selain tidak mencerminkan proporsi umat Islam yang mayoritas (87,22% pada tahun 2000) dari penduduk Indonesia, juga tidak membuahkan kekuatan mayoritas mutklak untuk menjadi pemenang dalam Pemilihan Umum, yang berarti tidak mencukupi untuk meraih kekuasaan di pemerintahan. Baik pemilihan legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden juga tidak memperoleh dukungan luas dari rakyat.
Perolehan suara Islam politik pada Pemilihan Presiden 5 Juli 2004 kendati tak mudah untuk mengelompokkannya secara kasar memang menunjukkan fakta yang tidak menggembirakan. Jika Amien Rais dan Hamzah Haz direpresentasikan sebagai personifikasi figur kelompok Islam politik, maka suaranya sekitar 19 juta atau 17%. Kita sulit untuk memproyeksikan secara persis suara pemilih Islam politik yang masuk ke tiga pasangan Capres dan Cawapres lain, yang tentu tersebar secara liar karena pada ketiga pasangan tersebut terdapat Calon Wakil-Wakil Presiden yang berasal dari komunitas muslim yaitu pada diri Jusuf Kalla, Hasyim Muzadi, dan Shalahuddin Wahid. Boleh jadi suara Islam politik tidak terlalu jauh dengan perolehan suara pada Pemilu legislatif. Terbukti pula dan bahkan tragis bahwa para tokoh Islam tersebut semuanya kalah dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden baik pada babak pertama maupun kedua.
Aspirasi dan potensi politik umat Islam yang tidak setara atau identik dengan potensi demografis tersebut di satu pihak menunjukkan isyarat tegas tentang sulitnya kekuatan muslim Indonesia untuk meraih kekuasaan politik mutlak dalam pemerintahan jika kategori Islam politik dipakai sebagai rujukan vis a vis dengan kekuatan kaum nasionalis, meskipun kini muncul pola konvergensi nasionalis-religius dan religius-nasionalis yang cukup menarik terutama dalam pasangan Capres dan Cawapres yang berlaga pada 5 Juli 2004. Di pihak lain, jika dijadikan modal politik yang kohesif atau solid maka sesungguhnya suara Islam politik tersebut dapat juga dikatakan cukup memadai sebagai kekuatan politik yang realistik apabila berhasil dipersatukan dalam satu wadah aliansi lebih-lebih menjadi wadah partai politik, sebutlah satu Partai Islam hasil dari konsensus seluruh kekuatan Islam politik.
Partai Islam?
Jika umat Islam terutama yang masuk dalam kategori komunitas santri yang di masa lalu (Pemilu tahun 1955) direpresentasikan dalam kekuatan Masyumi dan NU atau pada Pemilu 1999 dan 2004 diwakilkan pada partai-partai politik berbasis umat Islam atau Islam politik, maka umat Islam sebenarnya memiliki suara politik yang relative memadai, yang dapat mencapai sekitar 43%(Pemilu 1955) atau 37% (Pemilu 1999) atau 38 % (Pemilu 2004). Tarohlah dapat meraih 35% maka sudah cukup untuk kekuatan Islam politik memperoleh modal politik yang memadai sekaligus dapat dimainkan untuk meraih kekuasaan dalam pemerintahan, setidak-tidaknya kalaupun kalah akan menjadi kekuatan kedua yang sangat signifikan.
Proyeksi modal politik umat Islam tersebut dapat dijadikan patokan untuk lahirnya satu partai Islam yang representative dengan asumsi utama bahwa kekuatan-kekuatan arus besar muslim santri masih tetap dan terus memiliki cita-cita politik Islam dalam percaturan politik di Indonesia. Cita-cita politik Islam tersebut secara nyata dalam bentuk menguasai parlemen dan memegang pucuk pemerintahan untuk memberikan warna nilai dan ideologis dalam kehidupan bangsa dan negara dengan tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana banyak diidealisasikan selama ini.
Karena itu dengan modal politik yang cukup memadai dan cita-cita politik yang sebenarnya sah dan mulia maka kekuatan Islam politik yang direpresentasikan oleh partai-partai politik berbasis umat Islam sebagaimana disebutkan tadi dapat meleburkan diri dalam satu Partai Islam yang relatif besar dan cukup signifikan. Daripada banyak kendaraan tetapi kecil-kecil dan kurang bagus sejenis Bajaj di Jakarta, maka lebih baik memiliki satu kendaraan yang relatif besar dan bagus seperti Bis Transjakarta atau kendaraan sejenis itu..
Kehadiran satu partai politik Islam tersebut jelas tidak mudah karena akan ada kendala dan resistensi secara kelembagaan (partai dan ormas) dan personal (figure dan actor-aktor) di lingkungan umat Islam sendiri, yang terfragmentasi sedemikian rupa dan telanjur centang perenang dalam waktu yang begitu lama di panggung politik nasional. Langkah Prof. Dr. Deliar Noer pasca Pemilu 1999 untuk menyatukan sekitar 15 partai berasas formal Islam terbukti tidak berhasil, maka dapat dibayangkan untuk menyatukan seluruh partai-partai Islam yang demikian heterogen dengan seribusatu kepentingan yang membingkainya.
Namun satu pertanyaan sangat krusial dapat diajukan, jika tidak bisa menyatukan diri dalam satu entitas politik Islam baik kelembagaan maupun aliansi maka masih relevankan sebenarnya kekuatan-kekuatan umat dan tokoh Islam selalu mengklaim dan melakukan idealisasi diri tentang politik umat Islam atau Islam politik di negeri ini? Lebih-lebih dengan idealisasi dan klaim ukhuwah Islamiyah dan berbagai forum atau institusi yang selalu mengatasnamakan diri sebagai umat Islam Indonesia.
Sumber:
Suara Muhammadiyah Edisi 20 2004