Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 1 Tindak Ilokusi Siswa Kelas VIII pada Kegiatan Diskusi dan Implikasinya
Terhadap Pembelajaran Oleh
Heslina Iing Sunarti Siti Samhati
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung e-mail: [email protected]
Abstract
The purpose of this study was to describe the illocutionary acts of class VIII Junior High School in Al-Kautsar Bandarlampung discussion activity in the 2017/2018 school year and its implications for learning in Junior High Scool. The method used in this study qualitative descriptive. Data collection uses the SLBC technique (see competent free involvement), note-taking technique, and obervation technique, while data analysis uses heuristic analysis techniques. The result of this study show the student’s speech acts Indonesia language discussion activities in the form of assertive, direct, commissive, and expressive speech acts. Meanwhile, the form of declarative speech acts was not found during the study. The speech act is told directly or indirectly. Direct speech act found 47 data with right target and reason/argumentation mode, while indirect speech action wa found 7 data with quip mode and ask.
Keywords: speech acts, speech continuity, and spreesch mode.
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tindak ilokusi siswa kelas VIII pada kegiatan diskusi SMP Al-Kautsar Bandarlampung tahun ajaran 2017/2018 dan implikasinya terhadap pembelajaran di SMP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik SLBC (simak libat bebas cakap), teknik catat, dan teknik observasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis heuristik. Hasil penelitian ini menunjukkan tindak tutur siswa dalam kegiatan diskusi bahasa Indonesia berupa tindak tutur asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Sementara itu, bentuk tindak tutur deklaratif tidak ditemukan saat penelitian. Tindak tutur tersebut dituturkan secara langsung maupun tidak langsung. Tindak tutur langsung ditemukan 47 data dengan modus tepat sasaran dan alasan/argumentasi, sedangkan tindak tutur tidak langsung ditemukan 7 data dengan modus menyindir dan bertanya.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 2 I. PENDAHULUAN
Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang utama dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagai alat komunikasi yang utama, bahasa harus mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, konsep, atau perasaan penuturnya. Bahasa merupakan
lambang yang sempurna dari perjalanan manusia dalam konteks perilaku yang sebenarnya dan tidak dapat dipisahkan dari tindakan (Rusminto, 2010:27). Hal ini berarti segala sesuatu yang ada dalam pikiran manusia disampaikan melalui bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan.
Bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain. Dalam setiap proses komunikasi, terjadi peristiwa tutur dan tindak tutur dalam satu situasi tutur. Peristiwa tutur merupakan interaksi linguistik yang terjadi dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang
melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan mitra tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur yang
terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Jika dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwanya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi (Chaer dan Agustina, 1995:61-65).
Di samping pendapat Chaer dan Agustina, pengertian tindak tutur
dikemukakan juga oleh Searle dalam Rusminto (2015:66) bahwa tindak tutur adalah teori yang mencoba mengkaji makna bahasa yang didasari pada hubungan tuturan dengan tindakan yahg dilakukan oleh penuturnya. Tindak tutur merupakan tindak yang dilakukan oleh penutur terhadap mitra tutur dengan tujuan dan maksud. Dalam pragmatik, tindak tutur dibagi menjadi tiga, yakni lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
Lokusi adalah tindak tutur yang berisi pernyataan atau informasi tentang sesuatu dan pemakainnya tidak
tergantung pada konteks. Ilokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dan melakukan sesuatu berdasarkan konteks. Perlokusi adalah efek atau dampak yang ditimbukan oleh tuturan terhadap mitra tutur. Tindak tutur sangat erat kaitannya dengan komunikasi karena tindak tutur terjadi pada proses komunikasi.
Proses komunikasi dapat terjadi juga pada saat pembelajaran, yaitu pada saat siswa melakukan percakapan atau tuturan. Hal ini dapat diketahui dari interaksi guru dan siswa yang
membawa dampak positif dan negatif suasana komunikasi di kelas. Tuturan siswa meliputi tindak tutur yang bermacam-macam. Dalam hal ini, peneliti memfokuskan kajian pada tindak tutur ilokusi. Tindak tutur ilokusi menurut Searle (dalam Rusminto, 2015:69) terdiri atas lima kategori, yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.
Asertif (assertives), yakni ilokusi di mana penutur terikat pada kebenaran preposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat,
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 3 dan melaporkan. Direktif, yakni ilokusi
yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur, seperti memesan,
memerintah, meminta,
merekomendasikan, memberi nasihat. Komisif (commissives), yakni ilokusi di mana penutur terikat pada suatu
tindakan di masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan, dan berkaul. Ekspresif (expressives), yakni ilokusi yang berfungsi untuk mengungkapkan sikap psikoligis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, berbela sungkawa.
Deklaratif (declaration), yakni ilokusi yang digunakan untuk memastikan kesesuaianantara isi proposisi dengan kenyataan, misalnya membaptis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengangkat.
Dalam proses pembelajaran, terjadi komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Proses komunikasi yang terjadi antara siswa dengan siswa melibatkan tuturan-tuturan yang sangat bervariasi, antara lain tindak utur asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Tuturan yang bervariasi tersebut juga ditemukan dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya tindak tutur dalam kegiatan pembelajaran berdiskusi tentang pengertian dan macam-macam isi teks ulasan dan mendiskusikan maksud dan cara mengungkapkan kelebihan dan kekurangan teks ulasan di kelas VIII SMP Al- Kautsar Bandar Lampung pada semester genap terdapat pada Kompetensi Dasar 3.11
Mengidentifikasi informasi pada teks ulasan tentang kualitas karya (film, cerpen, puisi, novel, karya seni daerah) yang dibaca dan diperdengarkan.
Berdasarkan pra-penelitian wawancara dengan guru kelas VIII SMP Al-Kautsar Bandar Lampung, diketahui pada saat berdiskusi masih terdapat bahasa anak dalam bertutur kata baik dengan guru maupun dengan teman masih
menggunakan bahasa yang kurang sopan, terkadang bahasa mereka yang seharusnya tidak harus dilafalkan itu dilafalkan, sehingga mengakibatkan ketersinggungan dalam hal yang kecil itu kadang menjadi masalah dan berakhir keributan.
Siswa 1 : Tadi kamu ngejelasin tentang teks persuasif, contohnya gimana? Siswa 2 : Tadi kan sudah saya kasih contohnya, makanya didengerin dong. Tuturan tersebut terjadi pada saat diskusi sedang berlangsung, lalu dibuka sesi tanya jawab. Contoh di atas
merupakan tuturan dengan jenis tindak tutur direktif memerintah. Contoh tersebut membuktikan bahwa anak tersebut menggunakan bahasa yang kurang sopan dan membuktikan adanya jenis tindak tutur yang bervariasi dalam pembelajaran, terlihat pada tuturan “ Tadi kan sudah saya kasih contohnya,
makanya didengerin dong”.Oleh sebab
itu, peneliti tertarik untuk meneliti tindak tutur siswa pada proses diskusi di SMP.
Penelitian ini penting untuk diteliti karena dalam proses diskusi tentunya anak-anak banyak menggunakan tuturan sehingga akan lebih banyak jenis tindak tutur yang muncul. Tuturan yang dituturkan pada saat proses diskusi terdapat berbagai jenis tuturan, yang salah satunya merupakan tuturan yang dituturkan dengan tujuan menginginkan mitra tutur melakukan sesuatu untuk penutur. Salah satu tuturan yang banyak ditemukan oleh peneliti pada saat pra-penelitian, yakni tindak ilokusi pada interaksi pembelajaran atau diskusi.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 4 Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP
Al-Kautsar Bandar Lampung. Alasan peneliti menjadikan sekolah tersebut sebagai tempat penelitian, karena belum pernah ada yang meneliti mengenai tindak tutur di sekolah tersebut sebelumnya. Peneliti juga lebih memfokuskan penelitian pada kelas VIII A SMP Al-Kautsal Bandar Lampung, karena keberadaan siswa yang heterogem dan dari lingkungan keluarga yang berbeda sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat kemampuan siswa dalam berbahasa. Selain itu, siswa kelas VIII A merupakan siswa yang aktif dalam berkomunikasi saat proses pembelajaran di kelas.
Kajian tentang tindak tutur pernah dilakukan oleh Wanti (2014) dan Heriwati (2014). Dalam penelitiannya, Wanti mengkaji tindak tutur direktif dan ekspresif Analisis Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Novel Kembang Saka Persi Karya Soebagijo I. N. , Heriwati mengkaji tindak tutur ekspresif dan direktif dalam Dialog Adegan Pather Sanga dan Pathet Menyun pada Pertunjukan Wayang Kulit Gaya
Surakarta Dalang Nartasabda dan Purbo Asmoro. Berbeda dengan kedua peneliti tersebut, penelitian ini mengkaji semua jenis tindak tutur ilokusi yang meliputi asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.
Berdasarkan latar belakang di atas, topik tindak tutur menarik untuk diteliti. Dengan demikian, judul penelitian ini adalah “Tindak Ilokusi Siswa Kelas VIII pada kegiatan diskusi SMP Al-Kautsar Bandar Lampung Tahun Ajaran 2017/2018 dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP”.
II.METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan tuturan siswa dalam kegiatan diskusi dan menggambarkan serta menginterpretasi objek yang dilakukan saat penelitian berlangsung. Sumber data dalam
penelitian ini adalah tuturan siswa kelas VIII SMP Al-Kautsar Bandar Lampung tahun ajaran 2017/2018. Data dalam penelitian ini meliputi bentuk tindak tutur ilokusi yang terdapat ke dalam lima klasifikasi, yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Data pada penelitian ini menggunakan teknik SLBC yaitu memperhatikan dan mendengarkan tuturan dalam sebuah peristiwa tutur, teknik catat yaitu pencatatan pada kartu data dan
dilanjutkan dengan klasifikasi data yang diperoleh, teknik observasi mengamati penggunaan bahasa pada kegiatan diskusi (Mahsun, 2007:93).
Teknik analisis heuristik merupakan proses berpikir seseorang untuk memaknai sebuah tuturan tidak langsung.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut.
1. Peneliti menyimak dan mencatat langsung semua tuturan antar siswa yang bersifat alamiah.
2. Data yang didapat langsung dianalisis dengan menggunakan catatan deskriptif dan catatan reflektif juga menggunakan analisis heuristik, yakni analisis konteks. 3. Peneliti mengidentifikasi percakapan yang terjadi saat melakukan tuturan pada kegiatan diskusi yang mengandung tindak ilokusi.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 5 4. Berdasarkan hasil identifikasi dan
klarifikasi data, dilakukan kegiatan penarikan simpulan sementara. 5. Peneliti memeriksa kembali data yang sudah diperoleh.
6. Peneliti melakukan penarikan simpulan akhir.
III. PEMBAHASAN
Hasil dan pembahasan penelitian ini mengenai tindak ilokusi siswa kelas VIII SMP Al-kautsar Bandarlampung. Berdasarkan pada analisis data dapat diketahui bahwa jenis tindak tutur siswa di dalam pembelajaran terdiri atas tindak tutur asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Tindak tutur tersebut dituturkan siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Tindak tutur langsung ditemukan 47 data, sedangkan tindak tutur tidak langsung ditemukan 7 data dengan modus bertanya.
A. Jenis Tindak Tutur 1. Tindak Tutur Asertif
- Menyatakan
Kalo Fauzia sakit, Iftah gak tau bu alfa kayaknya.
(Dt-03/ As/ Mny-01/ TL) Bentuk tuturan tersebut termasuk tindak tutur asertif menyatakan karena penutur (siswa) menyatakan bahwa teman-temannya yang tidak hadir karena sakit terkecuali Iftah tanpa keterangan. - Mengusulkan
Saya dari kelompok 5 ingin menyarankan bahwa mungkin setiap ingin presentasi di depan kelas itu harus mengapal isinya terlebih dahulu biar jangan terpaku dengan teksnya. (Dt-15/ As/ Mu-01/ TL) Bentuk tuturan tersebut termasuk tindak tutur asertif
mengusulkan karena salah seorang siswa mengusulkan agar tidak terlalu terpaku pada teks. - Mengemukakan Pendapat
Kesannya slide nya sudah cukup bagus karena sudah dilengkapi gambar-gambarnya dan juga presentasinya mudah diterima. (Dt-45/ As/ Mkp-04/ TL) Penggunaan kata “karena” menjadikan tuturan tersebut secara tepat tersampaikan kepada mitra tutur mengenai pendapat yang telah
disampaikan. - Melaporkan
Kami dari kelompok 2 ingin mempresentasikan hasil diskusi kami yaitu teks ulasan film 5 elang
(Dt-19/ As/ Ml-04/ TL) Tuturan tersebut terdapat kata “ingin”, sehingga mitra tutur dapat memaknai bahwa penutur akan melaporkan hasil diskusi kelompoknya mengenai teks ulasan film 5 elang dengan cara mempresentasikannya di depan kelas.
2. Tindak Tutur Direktif - Memerintah
Disimak ya
(Dt-06/ Dr/ Mpr-2/ TL) Dalam tuturan “disimak ya” menjadikan tuturan tersebut secara tepat disampaikan kepada mitra tutur untuk memerintah. - Meminta
mohon maaf bila masih banyak kekurangan
(Dt-37/ Dr/ Mm-01/ TL) Dalam tuturan tersebut, penggunaan kata “mohon” sebagai penanda tuturan siswa untuk meminta.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 6 - Menjanjikan
Insha allah kami kedepannya menjadi lebih baik
(Dt-17/ Kom/ Mj-01/ TL) Penggunaan kata “Insha allah” dapat bermakna bahwa penutur menjanjikan.
- Menawarkan
Selanjutnya ada kritikan dan saran ?
(Dt-14/ Kom/ Mt-01/ TL) penggunaan kata “ada” dapat bermakna bahwa penutur menawarkan.
4. Tindak Tutur Ekspresif
- Mengucapkan Terima Kasih Terima kasih atas saran, kritik, dan pertanyaannya.
(Dt-18/ Eks/ Mtk-04/ TL) Kata “terima kasih” dapat dimaknai sebagai penanda bahwa penutur mengucapkan terima kasih atas pertanyaan yang diajukan mitra tuturnya saat presentasi berlangsung - Memberi Maaf
Iya
(Dt-35/ Eks/ Mbm-01/ TL) Kata “iya” sebagai penanda bahwa penutur memberi maaf dan agar lebih teliti.
5. Tindak Tutur Deklaratif Tindak tutur deklaratif adalah ilokusi yang digunakan untuk memastika kesesuaian antara isi proposisi dengan kenyataan, misalnya membaptis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, dan mengangkat. Namun pada penelitian ini tidak ditemukan data yang termasuk dalam tindak tutur deklaratif.
B. Kelangsungan dan
Ketidaklangsungan Tuturan 1. Asertif
- Menyatakan
Kalo Fauzia sakit, Iftah gak tau bu alfa kayaknya.
(Dt-03/ As/ Mny-01/ TL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung karena penutur mengutarakan tuturannya sesuai dengan tindakan yang diinginkan oleh penutur.
Nak nak eeh nak (memberi tahu kelompok yang presentasi) (Dt-04/ As/ Mny-01/ TTL)
Tuturan tersebut termasuk ke dalam tindak tutur tidak
langsung dengan modus tuturan menyindir.
- Mengusulkan
Pencet pake mouse. Slideshow loh (saat tidak bisa memutar video)
(Dt-21/ As/ Mus-02/ TL) Tuturan tersebut tindak tutur langsung, sebab penutur langsung mengutarakan tuturannya.
- Mengemukakan Pendapat yang pertama desain slide nya kurang menarik, terlalu banyak tulisan, dan ada beberapa kesalahan pengetikan. (Dt-24/ As/ Mkp-01/ TL) Tuturan yang disampaikan penutur termasuk tuturan secara langsung karena siswa secara langsung mengemukakan pendapatnya.
- Melaporkan
Kami dari kelompok satu akan mempresentasikan hasil diskusi kami
(Dt-05/ As/ Ml-02/ TL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung, sebab siswa tersebut melaporkan atau mempresentasikan hasil diskusi dengan suara yang kencang
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 7 sehingga dapat didengar dengan
jelas oleh guru atau mitra tutur. Kenapa bisa popularitasnya itu dari coboy junior sedangkan coboy junior belum debut? (Dt-29/ As/ Ml-01/ TTL) Penutur menuturkan sebuah pertanyaan tetapi seakan penutur sedang memberitahu atau
melaporkan. Tuturan tersebut termasuk ke dalam tindak tutur tidak langsung dengan modus bertanya.
2. Direktif - Memerintah
Beri salam
(Dt-01/ Dr/ Mpr-01/ TL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung karena penutur menyatakan jika ada guru yang masuk ke dalam kelas ucapkan salam.
- Meminta
mohon maaf bila masih banyak kekurangan
(Dt-37/ Dr/ Mm-01/ TL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung karena penutur langsung meminta maaf kepada mitra tuturnya.
jadi bagaimana sih pendapat kalian tentang film 5 elang ini di kehidupan sehari-hari? (Dt-30/ Dr/ Mm-01/ TTL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur tidak langsung dengan modus bertanya karena penutur mengajukan pertanyaan yang di dalamnya penutur meminta pendapat kelompok. 3. Komisif
- Menjanjikan
Kami akan mencoba untuk lebih baik lagi menampilkan hasil diskusi kami
(Dt-27/ Kom/ Mj-02/TL) Tuturan tersebut termasuk tidak tutur langsun karena penutur
langsung menjanjikan untuk lebih baik lagi.
- Menawarkan
Selanjutnya ada kritikan dan saran ?
(Dt-14/ Kom/ Mt-01/ TL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung karena penutur langsung menawarkan untuk memberikan kritik dan saran.
4. Ekspresif
- Mengucapkan Terima Kasih Terima kasih atas perhatiannya. (Dt-09/ Eks/ Mtk-01/ TL)
Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung karena penutur langsung mengucap terima kasih.
- Memberi Maaf Iya
(Dt-35/ Eks/ Mbm-01/ TL) Tuturan tersebut termasuk tindak tutur langsung karena penutur langsung memberikan maaf bahwa mitra tutur menyadari kesalahan penyampaiannya.
c. Implikasi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP
Diskusi dalam KBBI (2007: 334), yakni pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Diskusi
biasanya membahas suatu topik yang menjadi perhatian umum di mana masing-masing anggota kelompok mempunyai kesempatan yang sama untuk bertanya dan memberikan pendapat. Diskusi dalam pembelajaran adalah hubungan antara orang yang satu dengan yang lain dengan menggunakan bahasa sabagai alat komunikasinya. Setelah meneliti tindak ilokusi siswa kelas VIII A SMP Al-Kautsar Bandar Lampung pada kegiatan diskusi, dapat dipaparkan implikasinya pada
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIPUniversitas Lampung Halaman 8 Pada pembelajaran bahasa Indonesia di
sekolah menengah pertama (SMP) kelas VIII materi yang digunakan dalam pembelajaran, yakni bagaimana cara berdiskusi, cara menyampaikan pendapat, sanggahan, persetujuan, dan penolakan dalam diskusi. Pada proses pembelajaran guru dapat memanfaatkan tindak ilokusi sebagai sumber
pembelajaran. Hal ini disebabkan pada saat berdiskusi siswa tidak dapat menghindar untuk menggunakan jenis tindak ilokusi, walaupun jenis tindak ilokusi tersebut tidak selalu lengkap digunakan.
IV. SIMPULAN DAN SARAN A.Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan yang sudah dideskripsikan, jenis tindak ilokusi yang digunakan siswa kelas VIII pada kegiatan diskusi yaitu, asertif yang meliputi menyatakan, mengusulkan, mengemukakan
pendapat, melaporkan, direktif meliputi memerintah dan meminta, komisif meliputi menjanjikan dan menawarkan, ekspresif meliputi mengucapkan terima kasih dan memberi maaf.
Tindak ilokusi yang digunakan siswa dituturkan secara langsung maupun tidak langsung. Modus yang digunakan dalam jenis tindak tutur langsung yaitu tindak tutur langsung pada sasaran dan tindak tutur langsung dengan
alasan/argumentasi. Sedangkan modus yang digunakan dalam jenis tindak tutur tidak langsung yaitu modus menyindir dan modus bertanya.
B.Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, penulis menyampaikan saran sebagai berikut.
a. Bagi pembaca, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan
untuk menambah wawasan pada kajian pragmatik dalam konteks tindak tutur.
b. Bagi guru mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP), hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan mengenai tindak ilokusi sebagai sumber ajar, khususnya pada pembelajaran teks ulasan.
V.DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul dan Agustin,
Leonie.1995.Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Herawati, Sri Hesti. 2014. Tindak Tutur Ekspresif dan Direktif dalam Dialog Adegan Pather Sanga dan Pather Manyun pada
Pertunjukan Wayang Kulit Gaya Surakarta dalang Nartasabda dan Purbo Asmoro (skripsi). Surakarta: Universitas Negeri surakarta.
Mahsun, M.S. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Rusminto, Nurlaksana Eko. 2015.
Analisis Wacana: Sebuah kajian Teoritis danPraktis. Bandar Lampung: Universitas Lampung. Rusminto, Nurlaksana Eko. 2010.
Memahami Bahasa Anak-Anak. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Wanti, Ris. 2014. Analisis Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Novel Kembang Saka Persi Karya Soebagijo I.N. (skripsi). Purwojo: Universitas