• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Terapi Tertawa Kelompok 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Terapi Tertawa Kelompok 1"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

I.

I. Latar BelakangLatar Belakang

Tubuh manusia merespon stres dengan mengaktifkan sistem saraf dan Tubuh manusia merespon stres dengan mengaktifkan sistem saraf dan hormon tertentu. Hipotalamus memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk hormon tertentu. Hipotalamus memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan kortisol serta melepaskan ke memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan kortisol serta melepaskan ke dalam aliran darah. Pembuluh darah terbuka lebih lebar untuk membiarkan lebih dalam aliran darah. Pembuluh darah terbuka lebih lebar untuk membiarkan lebih  banyak

 banyak darah darah mengalir mengalir ke ke otot otot besar. besar. Pupil Pupil melebar melebar untuk untuk memperbaikimemperbaiki  penglihatan.

 penglihatan. Kemudian Kemudian keringat keringat dihasilkan dihasilkan untuk untuk mendinginkan mendinginkan tubuh. tubuh. AwalnyaAwalnya kemampuan ini berfungsi normal namun bila individu meng-alami situasi kemampuan ini berfungsi normal namun bila individu meng-alami situasi  berbahaya terus

 berbahaya terus menerus maka menerus maka tubuh akan tubuh akan mengalami mengalami banyak perubahan banyak perubahan se-pertise-perti meningkatnya tekanan darah dan pening-katan hormon stres, hingga meningkatnya tekanan darah dan pening-katan hormon stres, hingga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan resiko terjadinya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan resiko terjadinya infeksi.

infeksi.

Terapi tertawa merupakan metode terapi dengan menggunakan humor dan Terapi tertawa merupakan metode terapi dengan menggunakan humor dan tawa dalam rangka membantu individu menyelesaikan masalah mereka. Baik tawa dalam rangka membantu individu menyelesaikan masalah mereka. Baik dalam bentuk gangguan fisik maupun gangguan mental. Penggunaan tawa dalam dalam bentuk gangguan fisik maupun gangguan mental. Penggunaan tawa dalam terapi akan menghasilkan perasaan lega pada individu. Ini disebabkan tawa secara terapi akan menghasilkan perasaan lega pada individu. Ini disebabkan tawa secara alami menghasilkan pereda stress dan rasa sakit.

alami menghasilkan pereda stress dan rasa sakit.

Terapi tawa modern terjadi sekitar tahun 1930-an, dimana beberapa rumah Terapi tawa modern terjadi sekitar tahun 1930-an, dimana beberapa rumah sakit mengundang badut untuk menghibur anak-anak penderita polio Tahun 1964. sakit mengundang badut untuk menghibur anak-anak penderita polio Tahun 1964. Lebih dari 70% penyakit mempunyaai hubungan dengan stress, diantaranya Lebih dari 70% penyakit mempunyaai hubungan dengan stress, diantaranya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kecemasan, depresi, batuk dan flu kronis, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kecemasan, depresi, batuk dan flu kronis,

(2)
(3)

gangguan syaraf, insomnia, gangguan pencernaan, alergi, asma, colitis, gangguan gangguan syaraf, insomnia, gangguan pencernaan, alergi, asma, colitis, gangguan haid, migrain bahkan kanker. Dalam terapi tertawa tidak menggunakan humor haid, migrain bahkan kanker. Dalam terapi tertawa tidak menggunakan humor sebagai sebab untuk membuat seseorang tertawa tetapi dalam terapi tertawa hanya sebagai sebab untuk membuat seseorang tertawa tetapi dalam terapi tertawa hanya menggunakan tawa sebagai sebuah sebab yang membantu orang menyingkirkan menggunakan tawa sebagai sebuah sebab yang membantu orang menyingkirkan rasa takut dan malu mereka serta membuat mereka menjadi lebih terbuka dan rasa takut dan malu mereka serta membuat mereka menjadi lebih terbuka dan mulai melihat kelucuan hidup.

mulai melihat kelucuan hidup.

Tahun 2012, penduduk 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara Tahun 2012, penduduk 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan akan yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050. Pada Hari Kesehatan Sedunia terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050. Pada Hari Kesehatan Sedunia tanggal 7 April 2012, WHO mengajak negara-negara untuk menjadikan penuaan tanggal 7 April 2012, WHO mengajak negara-negara untuk menjadikan penuaan sebagai prioritas penting mulai dari sekarang. Rata-rata usia harapan hidup di sebagai prioritas penting mulai dari sekarang. Rata-rata usia harapan hidup di  Negara-negara

 Negara-negara kawasan kawasan Asia Asia Tenggara Tenggara adalah adalah 70 70 tahun, tahun, sedangkan usia sedangkan usia harapanharapan hidup di Indonesia sendiri termasuk cukup tinggi yaitu 71 tahun, berdasarkan hidup di Indonesia sendiri termasuk cukup tinggi yaitu 71 tahun, berdasarkan Profil Data Kesehatan

Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 (WHO, 2012).Indonesia tahun 2011 (WHO, 2012).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi depresi meliputi faktor fisik dan Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi depresi meliputi faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor fisik ini berupa: Faktor genetik, Susunan kimia otak dan faktor psikologis. Faktor fisik ini berupa: Faktor genetik, Susunan kimia otak dan tubuh, Usia, Jenis kelamin, Gaya hidup, Penyakit fisik dan Cahaya matahari. tubuh, Usia, Jenis kelamin, Gaya hidup, Penyakit fisik dan Cahaya matahari. Sementara faktor psikologis yang dapat mempengaruhi di antaranya adalah: Sementara faktor psikologis yang dapat mempengaruhi di antaranya adalah: Kepribadian, Pola pikir, Harga diri, Stres dan Lingkungan keluarga (Lilik Kepribadian, Pola pikir, Harga diri, Stres dan Lingkungan keluarga (Lilik Ma’rifatul, 2011).

Ma’rifatul, 2011).

Stress

Stress dan tekanan kehidupan modern berdampak buruk terhadap pikirandan tekanan kehidupan modern berdampak buruk terhadap pikiran dan tubuh manusia. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti dan tubuh manusia. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti kecemasan, depresi, gangguan syaraf daninsomnia mengalami peningkatan. kecemasan, depresi, gangguan syaraf daninsomnia mengalami peningkatan.

(4)
(5)

gangguan syaraf, insomnia, gangguan pencernaan, alergi, asma, colitis, gangguan gangguan syaraf, insomnia, gangguan pencernaan, alergi, asma, colitis, gangguan haid, migrain bahkan kanker. Dalam terapi tertawa tidak menggunakan humor haid, migrain bahkan kanker. Dalam terapi tertawa tidak menggunakan humor sebagai sebab untuk membuat seseorang tertawa tetapi dalam terapi tertawa hanya sebagai sebab untuk membuat seseorang tertawa tetapi dalam terapi tertawa hanya menggunakan tawa sebagai sebuah sebab yang membantu orang menyingkirkan menggunakan tawa sebagai sebuah sebab yang membantu orang menyingkirkan rasa takut dan malu mereka serta membuat mereka menjadi lebih terbuka dan rasa takut dan malu mereka serta membuat mereka menjadi lebih terbuka dan mulai melihat kelucuan hidup.

mulai melihat kelucuan hidup.

Tahun 2012, penduduk 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara Tahun 2012, penduduk 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan akan yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050. Pada Hari Kesehatan Sedunia terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050. Pada Hari Kesehatan Sedunia tanggal 7 April 2012, WHO mengajak negara-negara untuk menjadikan penuaan tanggal 7 April 2012, WHO mengajak negara-negara untuk menjadikan penuaan sebagai prioritas penting mulai dari sekarang. Rata-rata usia harapan hidup di sebagai prioritas penting mulai dari sekarang. Rata-rata usia harapan hidup di  Negara-negara

 Negara-negara kawasan kawasan Asia Asia Tenggara Tenggara adalah adalah 70 70 tahun, tahun, sedangkan usia sedangkan usia harapanharapan hidup di Indonesia sendiri termasuk cukup tinggi yaitu 71 tahun, berdasarkan hidup di Indonesia sendiri termasuk cukup tinggi yaitu 71 tahun, berdasarkan Profil Data Kesehatan

Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 (WHO, 2012).Indonesia tahun 2011 (WHO, 2012).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi depresi meliputi faktor fisik dan Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi depresi meliputi faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor fisik ini berupa: Faktor genetik, Susunan kimia otak dan faktor psikologis. Faktor fisik ini berupa: Faktor genetik, Susunan kimia otak dan tubuh, Usia, Jenis kelamin, Gaya hidup, Penyakit fisik dan Cahaya matahari. tubuh, Usia, Jenis kelamin, Gaya hidup, Penyakit fisik dan Cahaya matahari. Sementara faktor psikologis yang dapat mempengaruhi di antaranya adalah: Sementara faktor psikologis yang dapat mempengaruhi di antaranya adalah: Kepribadian, Pola pikir, Harga diri, Stres dan Lingkungan keluarga (Lilik Kepribadian, Pola pikir, Harga diri, Stres dan Lingkungan keluarga (Lilik Ma’rifatul, 2011).

Ma’rifatul, 2011).

Stress

Stress dan tekanan kehidupan modern berdampak buruk terhadap pikirandan tekanan kehidupan modern berdampak buruk terhadap pikiran dan tubuh manusia. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti dan tubuh manusia. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti kecemasan, depresi, gangguan syaraf daninsomnia mengalami peningkatan. kecemasan, depresi, gangguan syaraf daninsomnia mengalami peningkatan.

(6)
(7)

sedih, ketidakberdayaan dan pesimis, yang berhubungan dengan suatu sedih, ketidakberdayaan dan pesimis, yang berhubungan dengan suatu  penderitaan,

 penderitaan, dapat dapat berupa berupa serangan serangan yang yang ditujukan ditujukan kepada kepada diri diri sendiri sendiri atauatau  perasaan marah yang dalam (Wahjudi Nug

 perasaan marah yang dalam (Wahjudi Nugroho, 2008).roho, 2008).

Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai kegembiraan di dalam Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa atau senyuman hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa atau senyuman yang menghiasi wajah, perasaan hati yang lepas dan bergembira, dada yang yang menghiasi wajah, perasaan hati yang lepas dan bergembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancar sehingga dapat mencegah penyakit dan lapang, peredaran darah yang lancar sehingga dapat mencegah penyakit dan memelihara kesehatan (Andol, 2009). Terapi tertawa dapat menstimulasi memelihara kesehatan (Andol, 2009). Terapi tertawa dapat menstimulasi  pengeluaran

 pengeluaran zatzat endorphine, serotonineendorphine, serotonine dandan endorphineendorphine dalam tubuh, terutamadalam tubuh, terutama sangat dibutuhkan otak yang membuat tubuh kita akan semakin tenang dan sangat dibutuhkan otak yang membuat tubuh kita akan semakin tenang dan nyaman (Simanungkalit B, 2009). Rasa tenang dan nyaman tersebut diharapkan nyaman (Simanungkalit B, 2009). Rasa tenang dan nyaman tersebut diharapkan  bisa mengurangi depresi pada lansia, terapi ini efektif dan

 bisa mengurangi depresi pada lansia, terapi ini efektif danefesien.efesien.

Menurut Darwin (Hasanat, 1997) sebagai orang yang pertama kali Menurut Darwin (Hasanat, 1997) sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa gerakan otot

menyatakan bahwa gerakan otot zygomatic major zygomatic major (otot yang dapat menarik sudut(otot yang dapat menarik sudut  bibir

 bibir ke ke atas atas sampai sampai tulang tulang pipi) pipi) merupakan merupakan pusat pusat ekspresi ekspresi pengalaman pengalaman emosiemosi  positif, kondisi ini sama halnya saat

 positif, kondisi ini sama halnya saat sedang tertawa terjadi sedang tertawa terjadi gerakan ototgerakan otot zygomatic zygomatic major 

major . Menurut Muhammad (2011) tertawa dapat membangkitkan energi positif. Menurut Muhammad (2011) tertawa dapat membangkitkan energi positif seperti setelah tertawa dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks, pandangan mata seperti setelah tertawa dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks, pandangan mata menjadi jernih, pendengaran menjadi jernih, dan pikiran menjadi lebih optimal. menjadi jernih, pendengaran menjadi jernih, dan pikiran menjadi lebih optimal. Selain itu tertawa dapat menyingkirkan energi-energi negatif menjadi energi Selain itu tertawa dapat menyingkirkan energi-energi negatif menjadi energi  positif, tertawa

 positif, tertawa dapat melarutkan dapat melarutkan kesedihan, kecemasan, kesedihan, kecemasan, kemarahan, serta kemarahan, serta dengandengan tertawa dapat mengeluarkan hormon bahagia. Pada saat tertawa individu akan tertawa dapat mengeluarkan hormon bahagia. Pada saat tertawa individu akan mengasup oksigen yang lebih banyak, sehingga membuat tubuh menjadi lebih mengasup oksigen yang lebih banyak, sehingga membuat tubuh menjadi lebih rileks dan dapat menurunkan hormon adrenalin dan epinephrine. Kondisi tubuh rileks dan dapat menurunkan hormon adrenalin dan epinephrine. Kondisi tubuh

(8)
(9)

yang demikian akan membuat tubuh terhidar dari masalah psikologis seperti burnout yang menyebabkan kelelahan emosional, fisik, maupun mental.

Sekecil apapun gejala stres kerja yang muncul tidak perlu menunggu hingga menjadi besar dan parah, yang pada akhirnya merugikan tenaga kerja dan  perusahaan karena berpengaruh terhadap produktivitas kerja atau performansi  pekerja yang dihasilkan (Stranks, 2005).

Budiningwati & Meuraksa (2010) menjelaskan lebih lanjut bahwa bila manusia mendapatkan stresor, tubuh manusia akan berusaha mengadakan  perlawanan dengan mencari keseimbangan. Stres dapat memicu respon tubuh

terhadap ancaman atau bahaya yang dirasakan, yang fight atau flight respon.

Tubuh manusia merespon stres dengan mengaktifkan sistem saraf dan hormon tertentu.Hipotalamus memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan kortisol serta melepaskan ke dalam aliran darah.Pembuluh darah terbuka lebih lebar untuk membiarkan lebih  banyak darah mengalir ke otot besar.Pupil melebar untuk memperbaiki  penglihatan.Kemudian keringat dihasilkan untuk mendinginkan tubuh. Awalnya kemampuan ini berfungsi normal namun bila individu meng-alami situasi  berbahaya terus menerus maka tubuh akan mengalami banyak perubahan se-perti meningkatnya tekanan darah dan pening-katan hormon stres, hingga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan resiko terjadinya infeksi.

(10)
(11)

II. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalahnya, antara lain :

1. Apa saja manfaat terapi tertawa ? 2. Apa definisi terapi tertawa ?

3. Bagaimana sejarah tentang terapi tertawa ?

4. Apa saja indikasi dan kontraindikasi terapi tertawa ? 5. Apa saja jenis –  jenis terapi tertawa ?

6. Bagaimana teknik terapi tertawa ?

7. Bagaimana Standar Operasional Prosedur terapi tertawa ?

III. Tujuan

1. Untuk mengetahui manfaat terapi tertawa 2. Untuk mengetahui definisi terapi tertawa

3. Untuk mengetahui sejarah tentang terapi tertawa

4. Untuk mengetahui indikasi dan kontraindikasi terapi tertawa 5. Untuk mengetahui jenis –  jenis terapi tertawa

6. Untuk mengetahui teknik terapi tertawa

7. Untuk mengetahui Standar Operasional Prosedur terapi tertawa

IV. Manfaat

Diharapkan makalah ini dapat memberikan pembcanya pengetahuan mengenai terapi tertawa terkait sebagai intervensi yang akan di berikan pada  pasien yang membutuhkan.

(12)
(13)

BAB II

MANFAAT TERAPI TERTAWA

Manfaat Terapi Tertawa

Tawa lebih merupakan terapi pelengkap dan pencegahan. orang yang menderita berbagai penyakit yang berhubungan dengan stress dengan cara t ertentu telah merasakan manfaat sesi tawa. Adapun manfaat dari terapi tertawa adalah sebagai berikut :

1. Antistress

Tawa dalah penangkal stress yang paling baik, mudah dan murah. Tawa adalah salah satu cara terbaik untuk mengendurkan otot, tawa dapat memperlebar pembuluh darah dan mengirim lebih banyak darah hingga ke ujung-ujung dan kesemua otot diseluruh tubuh. Satu putaran tawa yang bagus  juga mengurangi hormon stres, epineprin, dan cortisol. Bisa dikatakan tawa

adalah sebentuk meditasi dinamis atau relaksasi. 2. Memperkuat Sistem Kekebalan

Sistem kekebalan memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan tubuh menjauhkan diri dari infeksi, alergi dan kanker. Menurut Dr. Lee S. Berk dari universitas Loma Linda California AS, tawa membantu meningkatan jumlah sel-sel pembunuh alami (sel NK-semacam sel putih) dan  juga menaikkan antibodi. Para peneliti telah menemukan bahwa setelah mengikuti terapi tertawa peserta mengalami peningkatan antibodi (immunoglobulin A) dalam lendir di hidung dan saluran pernafasan, yang

(14)
(15)

dipercaya mempunyai kemampun melawan virus, bakteri dan mikroorganisme lain.

3. Terapi Tertawa Merupakan Latihan Aerobik Terbaik 

Sebuah manfaat yang didapat oleh hampir setiap orang adalah perasan enak. Penyebab dari perasaan enak ini adalah karena anda menghirup lebih  banyak oksigen saat tertawa. Tawa biasa dibandingkan dengan aerobik.

4. Depresi, Kecemasan Dan Gangguan Psikomatis

Penyakit - penyakit yang berhubungan dengan pikiran, seperti kecemas an, depresi, gangguan syaraf dan yang mengalami insomnia dapat di bantu dengan terapi tertawa. Tawa telah membantu banyak orang yang menggunakan obat anti depresi dan obat penenang dan dengan tawa juga orang-orang yang mengalami kecenderungan bunuh diri mulai mendapat harapan.

5. Tekanan Darah Tinggi Dan Penyakit Jantung

Tawa memang membantu mengontrol tekanan darah dengan mengurangi  pelepasan hormon - hormon yang berhubungan dengan stres dan dengan memberikan relaksasi. Dalam eksperimen telah di buktikan bahwa terjadi  penurunan 10-20mm tekanan setelah seseorang penderita mengikuti 10 menit sesi tawa. Tapi yang pasti tawa akan mengendalikan dan menghentikan  penyakit ini. Demikian juga bila anda beresiko tinggi menjadi penderita  penyakit jantung, tawa bisa menjadi obat pencegah yang paling baik.

6. Mengurangi Bronkhitis Dan Asma

Tawa merupakan latihan terbaik untuk mereka yang menderita asma dan bronkhitis. Tawa meningkatkan kapasitas paru-paru dan tingkat oksigen

(16)
(17)

dalam darah. Para dokter menyarankan fisioterapi dada untuk mengeluarkan lendir (dahak) dari saluran pernafasan dengan meniup ke dalam sebuah alat atau balon merupakan salah satu latihan yang biasa diberikan pada penderita asma. Tawa melakukan hal yang sama dan cara ini lebih mudah dilakukan dan nyaris tanpa ongkos. Terapi tertawa menaikkan tingat antibodi dalam selaput lendir pernafasan, dengan begitu mengurangi frekuensi pernafasan. 7. Merupakan Joging Internal

Ada banyak latihan yang bisa dilakukan untuk melatih otot-otot anda, tetapi terapi tertawa memberikan pujatan yang bagus untuk semua organ internal. Tawa memperlancar pasokan darah dan meningkatkan efisiensinya. Orang membandingkan latihan ini dengan jari –  jari ajaib, yang menjangkau kedalam perut dan meningkatkan efisiensinya. Kegiatan terbaik tawa adalah  pada usus.Hal ini bisa meningkatkan persediaan darah dan membantu kerja

usus.

8. Membuat Tampak Lebih Muda

Tawa merupakan latihan yang sangat bagusuntuk otot  –   otot wajah anda. Tawa mengencangkan otot –   otot ewajah dan memperbaiki ekspresi wajah. Ketika tertawa, wajah anda tampak merah karena peningkatan  posokan darah yang menyegarkan kulit wajah dan membuat kulit wajah tampak cerah. Orang –   orang yang suka tertawa tampak lebih cerah dan menarik.

(18)
(19)

9. Rasa Percaya Diri Melalui Tawa

Ketika anda tertawa dalam kelompok dengan kedua lengan terangkat kelangit, rasa takut atau malu anda akan hilang dan setelah beberapa lama anda akan menjadi orang yang suka bergaul, terbuka, dan ramah. Secara  bertahap, tawa juga akan menambah rasa percaya diri.

(20)
(21)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1.Defenisi Terapi Tertawa

Tertawa adalah kemampuan yang hanya dimiliki manusia yang merupakan ekspresi kebahagian dan bisa dilakukan tanpa syarat dan sama khasiatnnya dengan meditasi sehingga sering disebut yoga tawa.Terapi tertawa atau yoga tawa adalah terapi yang diyakini mampu membangkitkan semangat hidup, sekalipun dalam kondisi strees (Kataria,2004).

2.Sejarah Terapi Tertawa

Tertawa merupakan fenomena yang esensial dalam kehidupan manusia. Pada tahap awal perkembangan perilaku sosial seorang anak, tepatnya pada usia 4 minggu, seorang bayi sudah dapat memberikan seulas senyuman sebagai respon terhadap kondisi fisik yang menyenangkan. Sedangkan tertawa, sebagai sebuah reflex motorik, baru muncul saat anak menginjak usia 4 bulan (Kaplan & Sadock, 1997). Memasuki usia 18 bulan, seorang anak dapat tersenyum sekali dalam tiap 6 menit dan ketika memasuki usia 4 tahun, rasio ini meningkat menjadi sebuah senyuman dalam tiap 80 detik. Rasio perbandingan tawa terhadap senyuman pun meningkat dari 1 : 10 ketika berusia 18 bulan, menjadi 1 : 3 pada usia 4 tahun (Stearns, 1997).

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Dr. Micheal Titze, seorang  psikologi Jerman, “Pada tahun 1950-an orang bisa tertawa 18 menit sehari, tetapi

(22)
(23)

dewasa ini kita tertawa tidak lebih dari 6 menit per hari” (Kataria, 2004). Seiring  pesatnya perkembangan teknik –  teknik pengobatan, pembedahan, dandiagnosis, harapan hidup seseorang telah banyak meningkat. Namun demikian,insiden  penyakit jantung, tekanan darah, alergi, gangguan psikosomatis dankanker terus meningkat; tampak jelas disebabkan oleh stres. Stres sudah menjadiisu yang lazim di zaman sekarang ini. Tetapi ternyata masih banyak yang belummengenal tentang betapa destruktifnya stres bagi kesehatan fisik, seringkali stres

dianggap hanya sebagai masalah psikologis saja, padahal dari stres dapat timbulberbagai penyakit yang berujung fatal.

Sementara semakin meningkatnya insidensi penyakit-penyakit, untukkebanyakan orang di negara  –   negara berkembang, perawatan kesehatan modernmenjadi sangat mahal dan di luar jangkauan mereka. Dalam kondisi yang sepertiinilah muncul sebuah ide yang mengatakan tawa adalah obat yang menakjubkan,yang dapat menghemat pengeluaran biaya medis dengan memperkuat sistemkekebalan, yang memainkan peran kunci dalam pencegahan sejumlah besarpenyakit (Kataria, 2004).Meskipun sejak ribuan tahun yang lalu, efek terapi humor dan tawa sudahmenggema, para ahli medis dianggap lamban dalam mengadopsi ide  –   ideterkemuka dan budaya humor itu, yang seringkali dianggap sebagai topik yangnaif. Konsep terapi humor dan tertawa ini barulah mendapat perhatian duniamedis setelah diterbitkannya artikel “ Anatomy of an  Illness” dalam New England Journal of Medicine oleh Norman Cousins pada tahun 1976 (Martin, 2002;Adams, 1998; Berk, 2001; Bennett, 2003; Kataria, 2004). Sehingga, studi  –   studiyang mendokumentasikan efek tertawa pada fisiologi tubuh masih terbatas,bahkan belum ada studi kontrol adekuat

(24)
(25)

teridentifikasi yang mendokumentasikanefek tertawa pada kesehatan klinis (Bennett & Lengacher, 2006; Martin, 2006).Sementara di Indonesia sendiri, sampai saat ini istilah terapi tertawa masih sangatasing dalam dunia medis.

3. Indikasi Terapi Tertawa

Terapi tertawa diberikan pada klien untuk meringankan penyakit bronkitis, asma, dan migren. Tertawa bisa meningkatkankapasitas paru-paru dan kadar oksigen dalam darah.

4. Kontraindikasi Terapi Tertawa

Terapi tertawa menurut Hulse (1994) tidak diberikan pada klien dengan:

a. Waksir akut, jantung dengan sesak napas, pascaoperasi, hamil, flu, TBC dan glukoma. Karena saat tertawa, muncul tekanan-tekanan dalam abdomen

 b. Klien yang mudah tersinggung.

5. Jenis-jenis terapi tertawa

Terapi tawa atau yoga tawa mempunyai dua jenis kegiatan (Kataria, 2004) :

1. Latihan yoga tawa dimana sekelompok orang melakukan kegiatan sebagai olahraga berdasarkan yoga, disusul dengan sikap bermain – main yang membantu para peserta untuk tertawa secara spontan. Jenis latihan seperti ini biasa dilakukan diluar, seperti di taman umum atau pantai, atau didalam ruangan. Latihan ini dilakukan sambil berdiri dan sepanjang sesi ada banyak gerakan, interaksi, dan kontak mata.

(26)
(27)

2. Jenis kegiatan kedua disebut meditasi tawa, dimana anda tidak harus  berusaha untuk tertawa. Meditasi tawa tidak dapat dilakukan diluar ruangan karena membutuhkan keheningan dan konsentarsi, biasanya meditasi tawa hanya bisa dilakukan di dalam ruangan, sambil duduk di lantai dan berbaring terlentang dengan tutup mata. Sebuah sesi tawa pada umumnya merupakan kombinasi sempurna antara berbagai tekhnik tawa stimulus, dipadukan dengan latihan pernafasan dan peregangan.

6.Tekhnik

 – 

 Tekhnik Terapi Tertawa

1. Teknik Tawa Yoga, misalnya : a. Tawa Bersemangat

Dalam tawa bersemangat, orang tertawa sambil mengangkat tangan keatas dan tertawa penuh semangat. Peserta tidak terus menerus mengangkat tangan keatas selama tawa bersemangat, angkat tangan keatas selama beberapa saat lalu turunkan dan angkat lagi. Diakhir tawa semangat, koordinator mulai tepuk tangan dan mendaraskan Ho-Ha Ha-Ha-Ha-Ha sebanyak 5-6 kali.

 b. Tawa Singa

Tawa ini diambil dari postur yoga yang disebut simba mudra (postur singga). Dalam postur singa, lidah dijulurkan keluar sepenuhnya dan mulut dibuka lebar  – lebar. Dengan mata terbuka lebar, peserta mengacungkan tangan seperti cakar singa dan mengaum seperti singa, lalu tertawa dari perut. Tawa singa merupakan latihan yang sangat baik

(28)
(29)

untuk otot  –   otot wajah, lidah dan kerongkongan. Tawa singa memperbaiki pasokan darah ke kelenjar tiroid.

c. Tawa Bersenandung

Dalam jenis tawa ini, bibir dikatupkan dan peserta berusaha tertawa saat mengeluarkan suara senandung hmmmmmmmm... yang bergema diseluruh kepala. Peserta dapat terus saling pandang, sambil membuat beberapa gerakan yang saling merangsang tawa. Mereka  bisa saling berjabat tangan atau melakukan gerakan apapun yang bersifat

main – main. Beberapa orang juga menyebutkan tawa burung dara. d. Tawa Bertahap

Tawa ini dilakukan pada akhir sesi. Semua peserta diminta untuk mendekat ke koordinator. Tawa bertahap dimulai dengan tersenyum dan melihat sekeliling, saling pandang. Secara perlahan dan bertahap intensitas tawa semakin ditingkatkan dan kemudian para peserta secara  bertahap mulai tertawa penuh semangat. Tawa ini sangat menyenangkan

dan mudah menular.

2. Teknik Tawa Bermain

 – 

 Main, misalnya : a. Tawa Satu Meter

Tawa ini bersifat main- main dan meniru cara kita mengukur  panjang satu meter. Tawa ini dilakukan dengan menggerakkan satu tangan sepanjang bentangan lengan kita yang lain (seperti gerakan merentangkan busur untuk melepaskan anak panas).

(30)
(31)

 b. Tawa Milk Shake

Tawa milk shake adalah variasi tawa baru, dimana para peserta diminta berpura- pura memegang gelas yang berisi susu atau kopi dan sesuai aba – aba koordinator, susu dituang dari gelas yang satu kegelas yang lain sambil mendaraskan.

c. Tawa Bantahan

Tawa ini merupakan jenis tawa yang bersifat bersaing antar dua kelompok yang dipisahkan oleh sebuah jarak. Kedua kelompok saling  pandang dan mulai tertawa dengan menundingkan jari tunjuk mereka

kepada para anggota kelompok lain. d. Tawa Ponsel

Jenis tawa ini juga dikenal dengan tawa HP, tawa ini sangat menyenangkan dan bersifat main  – main. Para peserta berpura  –  pura memegang HP dan mencoba tertawa, sambil membuat berbagai gerakan dan berkeliling untuk bertemu orang – orang yang berbeda dan tertawa seolah – olah mereka sungguh menikmatinya.

e. Tawa Ayunan

Jenis tawa ini menarik karena mengandung banyak sikap main – main. Semua peserta bergerak kebelakang sejauh dua meter untuk memperluas lingkaran.

(32)
(33)

BAB IV

Standar Operasional Prosedur (SOP)

SOP Terapi Tertawa

Satu sesi adalah kombinasi antara latihan pernapasan, peregangan dan  berbagai teknik tawa stimulus. Biasanya satu sesi tawa memakan waktu antara 20 sampai 30 menit. Sedangkan satu putaran tawa memakan waktu antara 30 sampai 40 detik.

1. Langkah Pertama

Pemanasan dengan tepuk tangan serentak semua anggota klub, sambil mengucapkan ho ho ho... Ha ha ha ... tepuk tangan disini sangat bermanfaat  bagi peserta karena syaraf-syaraf ditelapak tangan akan ikut terangsang

sehingga menciptakan rasa aman dan meningkatkan energi dalam tubuh. 2. Langkah Kedua

Pernapasan dilakukan seperti pernapasan biasa yang dilakukan semua cabang-cabang olahraga pada awal latian yaitu: melakukan pernapasan dengan mengambil napas melaui hidung, lalu napas ditahan selama 15 detik dengan pernapasan perut. Kemudian keluarkan perlahan-lahan melaui mulut. Hal ini dilakukan lima kali berturt-turut.

3. Langkah Ketiga

(34)
(35)

mendongakkan kepala ke atas belakang. Lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Melakukan gerakan ini harus dilakukan secara perlahan.tidak dianjurkan untuk melakukan gerakan memutar leher, karena bisa terjadi cidera pada otot leher. Peregangan dilakukan dengan memutar pingang ke arah kanan kemudian ditahan beberapa saat, lalu kembali ke posisi semula. Peregangan uini juga dapat dilakukan dengan otot-otot bagian tubuh lainnya. Semua gerakan ini dilakukan masing-masing lima kali.

4. Langkah Keempat: Tawa Bersemangat

Dalam tawa ini tutor memberikan aba-aba untuk memulai tawa, 1, 2, 3.... semua anggota klub tertawa serempak, diarapkan jangan ada yang tertawa lebih dulu atau belakangan, harus kompak seperti nyayian koor. Dalam tawa ini tangan diangkat ke atas beberapa saat lalu diturunkan dan diangkat kembali, sedangkan kepala agak mengdongak ke belakang. Melakukan tawa ini harus bersemangat. Jika tawa bersemangat mau berakhir maka sang tutor mengeluarkan kata, ho ho ho... ha ha ha... beberapa kali sambil bertepuk tangan.

5. Setiap selesai melakukan satu tahap dianjurkan menarik napas secara pelan dan dalam.

6. Langkah Kelima: Tawa Sapaan

Tutor memberikan aba-aba agar peserta tawa tertawa dengan suara suara sedang sambil medekat dan bertegur sapa satu sama lainnya. Dalam melakukan sesi ini mata peserta memberikan diharapkan saling memandang satu dengan lainnya. Peserta dianjurkan menyapa sambil tertawa pelan, cara

(36)
(37)

menyapa ini sesuai dengan kebiasaan masing-masing. Misalnya orang India dengan cara mengatupkan kedua tangan, orang Barat saling berjabat tangan, orang Timur Tengah berpelukan dan ciuman pipi, serta orang Jepang saling menundukkan badan dan tetap menjaga kontak mata. Setelah itu peserta menarik napas secara pelan dan dalam.

7. Langkah Keenam: Tawa Penghargaan

Peserta membuat lingkaran kecil dengan menghuungkan ujung jari telunjuk dengan ujung ibu jari. Kemudian tangan digerakkan ke depan dan ke  belakang sekaligus memandang anggota lainnya dengan melayangkan tawa yang manis sehingga kita kelihatan memberikan penghargaan kepada yang kita tuju. Kemudian bersama-sama tutor mengucapkan, ho ho ho... ha ha ha ... sekaligus bertepuk tangan. Setelah melakukan tawa ini kembali menarik napas secara pelan dan dalam agar kemabali tenang.

8. Langkah Ketujuh: Tawa Satu Meter

Tangan kiri dijulurkan ke samping tegak lurus dengan badan, sementara tangan kanan melakukan gerakan seperti melepaskan anak panah, lalu tangan di tarik kebelakang seperti menarik anak panah dan dilakukan dalam tiga gerakan pendek, seraya mengucapkan ae... ae...aeee.... lalu tertawa lepas seraya merentangkan kedua tangan dan kepala agak mendongak serta tertawa dari perut. Gerakan seperti ini dilakukan ke arah kiri lalu ke arah kanan, hal serupa diulangi antara 2 hingga 4 kali. Setelah selesai kembali menarik napas secara pelan dan dalam.

(38)
(39)

9. Langkah Kedelapan: Tawa Milk Shake.

Anggota klub seolah-olah memegang dua gelas berisi susu, yang satu di tangan kiri dan satu di tangan kanan. Saat tutor memebrikan instruksi lalu susu dituang dari gelas yang satu ke gelas yang satunya sambil mengucapkan Aeee.... dan kembali dituang ke gelas yang awal sambil mengucapkan aeeee... Setelah selesai melakukan gerakan itu, para anggota klub tertawa sambil melakukan gerakan seperti minum susu. Al serupa dilakukan sebanyak emapt kali, lalu bertepuk tangan seraya mengucapkan, ho ho ho ... ha ha ha ... kembali lakukan tarik nafas pelan dan dalam.

10. Langkah Kesembilan: Tawa Hening tanpa Suara

Harus dilakukan hati-hati, sebab tawa iti tidak bisa dilakukan dengan tenaga  berlebihan, dapat berbahaya jika beban di dalam perut mendapat tekanan

secara berlebihan. Dalam melakukan gerakan ini perasaan lebih banyak  berperan dari pada penggunaan tenaga berlebihan. Pada tawa ini mulut di  buka selebar-lebarnya seolah-olah tertawa lepas tetapi tanpa suara, sekaligus saling meandang satu sama lainnya dan membuat berbagai gerakan dengan telapak tangan serta menggerak-gerakkan kepala dengan mimik-mimik lucu. Dalam melakukan tawa hening ini otot-otot perut bergerak cepat sepeti melakukan gerak tawa lepas. Kemudian kembali menarik napas pelan dan dalam.

11. Langkah Kesepuluh: Tawa Bersenandung dengan Bibir Tertutup

Ini adalah gerakan tawa yang harus hati-hati dilakukan sebab tertawa tanpa suara, sekaligus mengatupkan mulut yang dipaksakan akan berdampak buruk

(40)
(41)

karena menambah tekanan yang tidak baik dalam ronga perut. Dalam  pelaksanaan gerak ini peserta dianjurkan bersenandung hmmmmmm... dengan mulut tetap tertutup, sehingga akan terasa bergema di dalam kepala. Dalam melakukan senandung ini diharapkan semua pesert saling  berpandangan dan saling membuat gerakan-gerakan yang lucu sehingga memacu para peserta lain semakin tertawa. Kemudian kembali menarik napas dalam dan pelan.

12. Langkah Kesebelas: Tawa Ayunan

Merupakan tawa yang banyak digemari para klub tawa karena tawa ini seakan-akan bermain-main dan kompak. Pesert klub harus mendengar aba-aba tutor, dan peserta dalam gerakan ini lebih baik berbentuk lingkaran. Peseta disuruh mundur dua meter sambil tertawa, untuk memperbesar lingkarab dan kemabli maju sekaligus mengeluarkan ucapan, Ae ae aeeeeeeee... dan seluruhnya mengangkat tangan dan serempak tertawa lepas dan pada saat yang sama semua bertemu di tengah-tengah dan melambaikan tangan masing-masing. Tahap berikutnya mereka kembali pada  posisi semula, dan melanjutkan gerakan maju ke tengah dan mengeluarkan ucapan, Aee... Oooo.... Ee-Uu... dan sekaligus tertawa lepas dan serupa dilakukan bisa sampai emapat kali. Setelah selesai kembali menarik napas dalam dan pelan.

13. Langkah Keduabelas: Tawa Singa

Ini merupakan tawa yang sangat bermanfaat buat otot-otot wajah, lidah, dan memperkuat kerongkongan serta memperbaiki saluran dan kalenjer tiroid

(42)
(43)

sekaligus menjadikan peserta klub menghilangkan rasa malu dan takut. Dalam gerakan ini mulut dibuka lebar-lebar dan lidah dijulurkan ke luar semaksimal mungkin, mata dibuka lebar seperti melotot, dan tangan diangkat ke depan di mana jari-jari di baut seperti akan mencakar, seolah-olah seperti singa mau mencakar mangsanya. Pada saat itula peserta tertawa dari perut. Setelah selesai lakukan kemabali gerakan menarik napas secara dalam dan  pelan.

14. Langkah Ketigabelas: Tawa Ponsel

Peserta dibagi dalam dua kelompok yang saling berhadapan dan masing-masing seolah-olah memegang hand phone. Dengan aba-aba tutor mereka disuru saling menyeberang sambil memegang handphone, pada saat itulah  perserta tertawa sambil saling berpandangan dan setelah itu kembali lagi ke  posisi semula. Setelah selesai tarik napas dalam dan pelan.

15. Langkah Keempatbelas: Tawa Bantahan

Anggota kelompok dibagi dalam dua bagian yang bersaing dengan dibatasi  jarak. Biasanya mereka dibagi dengan kelompok pria dan wanita. Dalam

kelompok itu mereka saling berpandangan sekaligus tertawa dan saling menuding dengan jari telunjuk kepada kelompok yang dihadapannya. Gerakan ini sangat menarik para peserta karena mereka akan bisa tertawa lepas. Setelah selesai tarik napas dalam dan pelan agar kembali segar dan tenang.

(44)
(45)

16. Langkah Kelimabelas:Tawa Memaafkan

Perserta klub memegang cuping telinga masing-masing sekaligus menyilangkan lengan dan berlutut diikuti dengan tawa. Tawa memaafkan ini mengajarkan kepada kita jika kita ada perselisihan terhadap orang lain maka diajarkan saling memaafkan. Setelah selesai tarik napas dalam dan pelan. 17. Langkah Keenambelas: Tawa Bertahap

Di sini tutor menginstruksikan agar semua anggota klub mendekatinya. Dalam sesi ini tutor mengajak anggotanya untuk tersenyum kemudian  bertahap menjadi tertawa ringan, berlanjut menjadi tawa sedang dan terakhir

menjadi tertawa lepas penuh semngat. Dalam melakukan tawa ini sesama anggota saling berpandangan dari anggota yang lain ke anggota yang lainnya  juga. Tawa ini dilakukan selama satu menit. Setelah selesai tarik napas dalam  pelan. Setelah selesai akan terasa sekali bahwa badan kita akan segar.

18. Langkah Ketujuhbelas: Tawa dari Hati ke Hati

Tawa ini merupakan sesi terakhir dari tahapan terapi. Semua peserta terapi saling berpegangan tangan sambil berdekatan sekaligus bersama-sama tertawa dengan saling bertatapan dengan perasaan lega. Peserta juga bisa saling bersalaman atau berpelukan sehingga terjalin rasa keakraban yang mendalam.

19. Setelah selesai melakukan senam tawa setiap klub mempunyai cara masing-masing dalam mengakhiri latihan terapi tawa. Ada yang melakukan tertawa secara spontan dan lamanya 5 menit, sehingga tubu lebih rileks dan segar.

(46)
(47)

20. Bahkan bila ada anggota klub yang kurang kompak waktu melakukan terapi tawa dari sesi ke sesi berikutnya, sebaiknya diulang, jika sudah kompak dilanjutkan pada tahap berikutnya sampai selesai. Tetapi jika belum padu harus diulang sampai anggota klub tersebut bisa tertawa kompak, dengan demikian semua anggota klub mendapatkan manfaatnya.

(48)
(49)

BAB V

PENELITIAN TERKAIT

Analisa Jurnal

1. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Tingkat Stres Psikologi Pada Lanjut Usia Di Panti Wherda Kota Manado

Oleh : Christina Samodara , Hendry Palandeng , Vandri D. Kallo Hasil Penelitian:

Hasil penelitian yang didapatkan dari 37 responden berdasarkan tingkat stres responden sebelum terapi tertawa menunjukkan bahwa tingkat stres tertinggi adalah stres sedang sebanyak 17 orang (45,9%), tingkat stres terendah adalah tingkat stres sangat berat yaitu sebanyak 1 orang (2,7%). Tingkat stres lansia berarti pula tinggi rendahnya tekanan yang dirasakan atau dialami oleh lansia sebagai akibat dari stressor berupa perubahan- perubahan baik fisik, mental, maupun sosial dalam kehidupan yang dialami

lansia.

Berdasarkan hasil penelitian yang diderita lansia di Panti Werdha Manado stress yang dialami lansia berhubungan dengan kurangnya hubungan sosial antar lansia yang tinggal dipanti, tidak harmonisnya hubungan dengan keluarga, kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan,  peran, kegiatan, dan status, penurunan fungsi fisik dengan penyakit yang sudah lama diderita. Dari hasil penelitiannya menurut Indriana (2010),  perubahan dalam aktivitas sehari-hari yang menjadi salah satu faktor yang

(50)
(51)

dipanti dengan keadaan mereka sebelumnya. Aktivitas mereka yang semula  bekerja dan sekarang menjadi pengangguran, terlebih ketika mereka mengalami kemunduran fisik yang dirasakan sebagai beban, sehingga mereka menjadi stres.Keluarga menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menyebabkan stres bagi lansia dipanti.Para lansia juga sangat rentan terhadap gangguan stres karena secara alamiah mereka telah mengalami  penurunan kemampuan dalam mempertahankan hidup, menyesuaikan diri dengan lingkungannya, fungsi badan, dan kejiwaan secara alami. Banyak faktor yang mempengaruhi keadaan stres pada lansia ini, diantaranya: kondisi kesehatan fisik, kondisi psikologi, kondisi keluarga, dan lingkungan (Haryadi, 2012).

Hasil penelitian tingkat stres responden sesudah terapi tertawa menunjukkan bahwa tingkat stres sesudah terapi tertawa mengalami  penurunan yaitu normal sebanyak 16 orang (43,2%), stres ringan sebanyak 16 orang (43,2%), stres sedang sebanyak 5 orang (13,5%). Hasil penelitian tersebut di dukung oleh penelitian Haryanto (2005) yang serupa tentang  pengaruh terapi tertawa terhadap stres psikososial pada usia lanjut di Karang Werda Ngudi Mukti Jawa Timur, penelitian ini dilakukan pada 20 orang responden. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa 18 orang (90%) mengalami penurunan dan hanya 2 orang (10%) yang tidak mengalami  penurunan tingkat stres. Penurunan tingkat stres ini dikarenakan adanya

efek dari terapi tertawa.Hasil penelitian ini mengenai adanya perubahan tingkat stres sebelum dan sesudah terapi tertawa.Hal ini dibuktikan dengan adanya penurunan skor stres pada lansia tersebut.Berdasarkan hasil

(52)
(53)

 penelitian terdapat penurunan nilai rata-rata tingkat stres sebelum dan sesudah terapi tertawa. Dimana rata-rata tingkat stres sebelum terapi tertawa adalah 20,76 dan rata-rata tingkat stres sesudah terapi tertawa adalah 15,68. Adanya penurunan tingkat stres ini juga terlihat dari hasil analisa statistik dengan menggunakan uji T-test Paired Samples Test diperoleh Pvalue =

0,000 < α = 0,05 pada taraf signifikan 95% atau tingkat kemaknaan 5%

maka Ha diterima, artinya ada pengaruh terapi tertawa terhadap stres  psikologis lansia di Panti Werdha Manado.

2. Terapi Tertawa Untuk Menurunkan Kecenderungan  Burnout Pada Guru Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh : Risna Hayati, Rahma Widyana, Mutingatu Sholichah Hasil Penelitian :

Berdasarkan hasil penelitian tersebut , bahwa terapi tawa dapat menurunkan kecenderungan burnout  pada guru pendamping anak  berkebutuhan khusus, hal ini dapat dilihat dari penurunan skor kecenderungan burnout yang diukur menggunakan Skala Kecenderungan

 Burnout setelah diberikan terapi tawa yang berada pada kategori rendah.

Hasil analisis data menunjukkanbahwa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terdapat perbedaan yang sangat signifikan setelah diberikan terapi tawa dengan nilai Z = -2,009 dan taraf signifikansi 0,045 (p<0,05).

Berdasarkan hasil data kualitatif dapat digambarkan bahwa secara umum partisipan merasakan ada perubahan setelah mengikuti terapi tawa,

(54)
(55)

diantaranya partisipan merasa lebih nyaman, tenang, rileks, bersemangat, dapat melepaskan emosi-emosi negatif, berpikir lebih positif, merasa  bahagia, dan dapat terjalin suasana akrab antar partisipan. Penelitian tersebut cenderung berhasil dilakukan karena seluruh partisipan mampu melakukan latihan tawa dengan baik dan benar.Partisipan mampu merasakan dan menikmati latihan tawa yang dilakukan dari hari ke hari serta mampu merasakan setiap pengalaman fisik maupun psikis yang terjadi selama dan setelah melakukan latihan tawa.

3. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada lansia di Panti Werdha Mental Kasih Di Desa Turi Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan

Oleh : Saifudin dan Widarti Hasil Penelitian :

Hasil menunjukkan sebelum diberi intervensi terapi tertawa, lansia lebih dari sebagian mengalami depresi sedang yaitu 60%, hampir sebagian mengalami depresi ringan yaitu 40% dan setelahdiberikan intervensi terapi tertawa sebagian mengalami depresi ringan yaitu 50%, sebagian kecilmengalami depresi sedang yaitu 10%. Sedangkan dari uji wilcoxon sign rank test, nilai signifikansi( p sign = 0,003 ) dimana hal ini berarti p sign < 0,05 sehingga H1 diterima artinya terdapatpengaruh terapi tertawa terhadap  penurunan tingkat depresi pada lansia.

Lebih dari sebagian lansia mengalami depresi sedang dan hampir sebagian mengalami depresi ringan sebelum dilakukan terapi

(56)
(57)

tertawa.Sebagian lansia mengalami depresi ringan dan hampir sebagian mengalami depresi ringan setelah dilakukan terapi tertawa.Terdapat  pengaruh terapi tertawa terhadap penurunan tingkat depresi pada lansia di Panti Werdha Mental Kasih di Desa Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan.

4. Pengaruh Pemberian Terapi Tertawa Terhadap Tingkat Kecemasan pada Lanjut Usia di PSTW Wana Seraya Denpasar.

Oleh :Dewa Made Ruspawan dan Ni Made Desi Wulandari

Hasil Penelitian :

Tingkat kecemasan pada lanjut usia di PSTW Wana Seraya Denpasar Tahun 2011 sebelum dilakukan terapi tertawa berada pada tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 24 orang (88,9%). Perubahan tingkat kecemasan pada lanjut usia di PSTW Wana Seraya Denpasar Tahun 2011 setelah dilakukan terapi tertawa didapatkan perubahan tingkat kecemasan menjadi tingkat cemas sebanyak 19 responden (70,4%).Terapi tertawa berpebgaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada lanjut usia di PSTW Wana Seraya Denpasar Tahun 2011, karena berdasarkan uji statistik wilcoxon  diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari 0,005 berarti signifikasi dengan µ pre test  2,11 dan µ post test  1,30.

5. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Intensitas Nyeri Reumatoid Pada Lansia Di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran

(58)
(59)

Hasil Penelitian

1. Analisa Univariat

Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa terjadi  penurunan yang signifikan intensitas nyeri reumatoid artritis pada kelompok intervensi yaitu kelompok yang diberikan terapi tertawa, dimana sesudah diberikan terapi tertawa didapatkan rata-rata intensitas nyeri reumatoid artritis sebesar 3,13 yang sebelumnya didapatkan hasil rata-rata intensitas nyeri reumatoid artritis sebesar 4,53. Sedangkan pada kelompok kontrol yang hanya diperkenankan melihat terapi tidak memiliki perbedaan yang signifikan yaitu pada awal penelitian didapatkan rata-rata intensitas nyeri reumatoid artritis sebesar 4,33, dan pada akhir penelitian sebesar 4,30.

2. Analisa Bivariat

Pada penelitian di atas rata-rata intensitas nyeri reumatoid artritis  pada lansia kelompok intervensi di Unit Rehabilitasi sosial Wening Wardoyo Ungaran Kabupaten Semarang setelah diberikan terapi tertawa sebesar 3,13. Sedangkan rata-rata intensitas nyeri reumatoid artritis pada lansia kelompok kontrol di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungran Kabupaten Semarang setelah perlakuan sebesar 4,30. Ini menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi tertawa, intensitas nyeri reumatoid artritis pada lansia kelompok intervensi mengalami penurunan

(60)
(61)

Hasil uji t-test independent didapatkan bahwa p value sebesar 0,046 (α=0,05), maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan  pemberian terapi tertawa terhadap intensitas nyeri reumatoid artritis pada

lansia di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungran Kabupaten Semarang.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan cara pemberian terapi tertawa pada lansia selama 10 menit dalam sehari yaitu pada sore hari jam 16.00 WIB yang dilakukan selama 2 hari di Unit Rehabilitasi Sosial Wening wardoyo Ungaran. Setelah diberikan terapi tertawa selama 2 hari, kelompok intervensi mengalami penurunan intensitas nyeri reumatoid artritis. Dan ada perbedaan intensitas nyeri reumatoid pada lansia antara sebelum dan setelah diberikan terapi tertawa di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran.

6. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Lansia Dengan hipertensi Sistolik Terisolasi Di Panti Sosial budi Agung Kupang

Oleh Petrus Kanisius Siga Tage Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa tekanan darah sistolik sebelum diberikan terapi tertawa dari 19 responden yang tertinggi adalah 192 mmHg dan tekanan darah sistolik terendah adalah 163 mmHg. Sedangkan tekanan darah sistolik sesudah diberikan terapi tertawa dari 19

(62)
(63)

responden yang tertinggi adalah 184 mmHg dan tekanan darah sistolik terendah adalah 149 mmHg.

Berdasarkan tekanan darah diastolik 19 responden sebelum diberikan terapi diketahui bahwa tekanan yang tertinggi adalah 88 mmHg dan tekanan darah terendah adalah 74 mmHg sedangkan sesudah diberikan terapi tekanan yang tertinggi adalah 83 mmHg dan yang terendah adalah 58 mmHg.

Beradasarkan hasil uji statistik dengan Paired T-test yang tertera dalam tabel menunjukan bahwa tingkat signifikansi p= 0.000 artinya terdapat pengaruh pemberian terapi tertawa terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi sistolik terisolasi.

Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa ada  pengaruh yang signifikan antara pemberian terapi tertawa terhadap  penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi sistolik terisolasi

di Panti Sosial Budi Agung Kupang.

7. Efektifitas Terapi Tertawa Untuk Menurunkan Tingkat Kejenuhan Belajar Pada Siswa Kelas XI Di SMA 11 Yogyakarta

Oleh :Dhanang Suwidagdho

Hasil Penelitian :

1. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA 11 Yogyakarta dapat diketahui tingkat kejenuhan belajar pada siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen 71%

(64)
(65)

siswa mengalami kejenuhan belajar sedang pada kelompok kontrol 63% siswa mengalami kejenuhan.

2. Berdasarkan pengujian hipotesis maka dapat diambil kesimpulan  bahwa terapi tawa terbukti efektif untuk menurunkan tingkat kejenuhan belajar pada kelelahan emosi, kelelahan fisik, kelelahan kognitif dan kehilangan motivasi yang dialami oleh siswa kelas XI. Hal ini terlihat dari perbedaan penurunan tingkat kejenuhan belajar yang dialami oleh siswa pada kelompok eksperimen setelah siswa mendapatkan terapi tawa dengan siswa pada kelompok kontrol. Efek  perlakuan pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai sig 0,000 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan terjadi penurunan kejenuhan belajar secara signifikan pada kelompok ekperimen. Sedang pada kelompok kontrol, nilai sig-nya 0,073≥0,05 atau tidak ada perbedaan hasil antara  pretest dan posttest -nya. Efektivitas terapi tawa untuk menurunkan kejenuhan belajar dibuktikan melalui uji hipotesis, dimana  penelitimenggunakan uji Mann Whitney (Uji U). Hasil ujinya terlihat melalui hasil uji pada data posttest . Dimana nilai sig 0,019 ≤ 0,05 yang menunjukkan Ha diterima dan Ho ditolak atau terapi tawa efektif untuk menurunkan kejenuhan belajar siswa kelas XI di SMA 11 Yogyakarta.

8. Terapi Tertawa Terhadap Pasien Gngguan Jiwa Dengan Depresi

(66)
(67)

Hasil Penelitian :

Penelitian ini jumlah responden 10 orang. Responden adalah pasien gangguan jiwa yang mengalami depresi. Identifikasi tingkat depresi responden setelah diberikan terapi tertawa adalah 7 orang responden mengalami penurunan tingkat depresi ringan, 2 orang responden mengalami penurunan tingkat depresi ke depresi sedang dan 1 orang responden mengalami penurunan nilai depresi tetapi tetap dalam rentang skor depresi berat.

Pemberian terapi tertawa selama tujuh hari terhadap pasien gangguan jiwa dengan depresi berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan tingkat depresi pada pasien gangguan jiwa.

9. Pengaruh Penerapan Terapi Tertawa Terhadap PenuruNAN Tingkat Stres Pada Pegawai Kereta Api

Oleh :Anggun Resdasari Prasetyo, Harlina Nurtjahjanti Hasil Penelitian :

Berdasarkan hasil analisis data peneliti dan evaluasi pelaksanaan terapi tawa, dapat disimpulkan bahwa terapi tawa dapat diberikan untuk menurunkan stres kerja yang dialami oleh pegawai PT. KAI.Penurunan stres kerja tersebut dipengaruhi oleh komitmen dan kesediaan subyek  penelitian dalam menerapkan terapi tawa. Terapi tawa juga akan lebih

efektif memberikan manfaat jika diterapkan sebagai program yang kontinu.

(68)
(69)

10. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Tingkat Kemarahan Klien Skizofrenia Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Di Ruang Rwat Inap Rumah Sakit Jiwa Grhasia Provinsi D.I Yogyakarta

Oleh :Ema Wati Chasanah Hasil Penelitian

Hasil analisa univariat menunjukkan bahwa sebagian besar klien  berada pada tingkat kemarahan serius (61,5%) pada saat  pre-test . Hasil  post-test   memperlihatkan bahwa prosentase paling tinggi berada pada

emosi sehat (84,6%).

Analisa bivariat menggunakan wilcoxon test mendapatkan nilai Z -3,275 dan nilai p 0,001 (Table 3).Hal ini menunjukkan bahwa terdapat  pengaruh terapi tertawa terhadap tingkat kemarahan klien dengan risiko  perilaku kekerasan.

(70)
(71)

BAB VI PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

I. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan dari makalah di atas, dapat kita ketahui bahwa Tertawa adalah kemampuan yang hanya dimiliki manusia yang merupakan ekspresi kebahagian dan bisa dilakukan tanpa syarat dan sama khasiatnnya dengan meditasi sehingga sering disebut yoga tawa.Terapi tertawa atau yoga tawa adalah terapi yang diyakini mampu membangkitkan semangat hidup, sekalipun dalam kondisi strees.

II. Saran

Diharapkan bagi Pembaca untuk lebih memahami lagi terkait  pengetahuan mengenai terapi tertawa, serta bagi mahasiswa ilmu keperawatan dapat lebih memahami berbagai jenis terapi yang bisa di gunakan di dalam ranah keperawatan jiwa.

(72)
(73)

DAFTAR PUSTAKA

Ariana, Atika Dian.(2006).Terapi Humor untuk Menurunkan Tin gka t Str es pad a Mahasiswa Baru. Skripsi: Fakultas Psikologi UNAIR. Tidak dipublikasikan.

Chasanah, Emawati. (2012). Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Tingkat Kemarahan Klien Skizofrenia Dengan Risiko Perilaku Kekerasan DiRuang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Grhasia Provinsi D.I Yogyakarta.  NaskahPublikasi

Fajrin M, (2013). Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Intensitas Nyeri Reumatoid Artritis Pada Lansia Di Unit Rehabilitasi Sosial Wening Wardoyo Ungaran. Jurnal Ilmiah.Ilmu Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran

Hasanat, Nida. I. (1996).Pelatihan Ekspresi Wajah Positif untuk Mengurangi Depresi.Tesis. Yogyakarta: Fakultas Pascasarjana UGM.

Hayati, Risna. (2003). Terapi Tertawa Untuk Menurunkan Kecenderungan  Burnout Pada Guru Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus.  Humanitas, 12(1), 60-72

Kataria, Madan. (2004).  Laugh For No Reason (Terapi Tertawa).  Jakarta: PT Gramedia

Prasetyo, A. R.,& Nurtjahjanti, H. (2011). Pengaruh Penerapan Terapi Tawa Terhadap Penurunan Tingkat Stres Kerja Pada Pegawai Kereta Api. Jurnal  Psikologi Undip, 10(2), 1-15.

Ruspawan, D.M dan Wulandari, N.M.D.( 2012). Pengaruh Pemberian Terapi Tertawa Terhadap Tingkat Kecemasan pada Lanjut Usia di PSTW Wana Seraya Denpasar. Jurnal Skala Husada 9 (1) 1-9.

Saifudin, Moh,dkk. 2014. Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Penurunan Tingkat Depresi Pada Lansia Di Panti Werdha Mental Kasih Didesa Turi Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Jurnal Ilmiah21(3).

Suwidagdho, Dhanang (2016). Efektivitas Terapi Tawa Untuk Menurunkan Tingkat Kejenuhan Belajar Pada Siswa Kelas Xi Di Sma 11Yogyakarta.Jurnal Ilmiah.

(74)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian tersebut di dukung oleh penelitian Haryanto (2005) yang serupa tentang pengaruh terapi tertawa terhadap stres psikososial pada usia lanjut di

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah terapi tertawa terbukti memiliki pengasuh signifikan terhadap penurunan stres pengasuhan pada ibu dengan anak autis..

Sesudah dilakukan terapi tertawa tingkat stres pada lanjut usia di Panti Tresna Wreda Kabupaten Lamongan adalah didapatkan sebagian besar tidak ada stres, lanjut

Sign nya sebesar 0.000 hal ini menunjukan bahwa nilai p&lt;0,05 yang berarti ada beda yang signifikan antara sebelum dan sesudah terapi tertawa terhadap penurunan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh terapi tertawa terhadap kualitas tidur dan kadar glukosa puasa pada penderita DM tipe 2 di Puskesmas Pacarkeling

Hasil setelah diberi terapi tertawa menunjukkan bahwa mayoritas usia lanjut di PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur yang memiliki insomnia menurun secara keseluruhan yaitu

Rata - Rata Tekanan Darah Lansia dengan Hipertensi Sesudah Diberikan Terapi Tetawa di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tekanan Darah Sesudah Terapi Tertawa Mean SD

187 ARTIKEL PENELITIAN TERAPI TERTAWA DAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA DI UNIVERSITAS ADVENT INDONESIA THERAPY AND CHANGE OF BLOOD PRESSURE IN STUDENTS IN THE UNIVERSITY