BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakter Morfologi P. moluccanumPittosporum moluccanum memiliki sinonim P. microcalya R. & V. dan P. monticolum Miq. (Bakker and van Steenis, 1957). Tanaman ini pada umumnya berbentuk pohon dengan ketinggian mencapai 5 - 20 meter (Backer, 1957). Batang yang masih muda terlihat adanya bulu pubis dan tampak berwarna merah karat. Percabangan terlihat rapat dibagian ujung tumbuhan.
Gambar 3.1 Tumbuhan P. moluccanum di TNGM Bentuk daun bervariasi, tetapi pada umumnya berbentuk menjorong, atau lanset terbalik dengan ukuran 6 – 17 cm x 4 – 5 cm. tepi daun agak bergelombang, dengan bagian ujungnya meruncing. Bagian permukaan atas mengkilat, pertulangan daun
menjala dan panjang tangkai 1 – 2,5 cm. kedudukan daun tersusun spiral atau mengelompok di ujung ranting.
Gambar 3.2 MorfologiP. moluccanum
Sedangkan buah P. moluccanum berbentuk oval dengan ukuran 3 x 1,5 cm, warna hijau ketika masih muda dan menjadi orange setelah tua. Memiliki bau khas menyengat dan mengeluarkan banyak cairan getah bening dan lengket.
Gambar 3.3 Buah P. moluccanum
Bunga P. moluccanum memiliki warna putih dan berbau harum. Jumlah mahkota dan kelopak bunga 5, saling berlekatan dibagian pangkal dan terpecah dibagian ujung bunga. Jumlah putik dan benang sari masing-masing 5.
Gambar 3.4 Bagian-bagian bunga P. moluccanum Hasil pengamatan dari tumbuhan P. moluccanum tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan pencirian yang dilakukan oleh Steenis dalam buku The Mountain Flora of Java, yang diterjemahkan oleh Hamzah (2010). Dalam buku tersebut dituliskan bahwa pohon memiliki tinggi 4 – 15 meter, jarang berbentuk perdu. Bentuk dan ukuran bervariasi, dengan panjang 5 – 15 cm dan lebar 2,5 – 5,5 cm. Daun sering terlihat mengelompok diujung ranting. Bunga memiliki bau harum, kelamin jantan
atau betina. Buah berbentuk menjorong, berwarna merah – jingga. Jika buah sudah tua, maka buah akan membuka dengan dua katub yang berisi biji berwarna hitam dan terikat kuat oleh damar yang lengket dengan bau terpentin yang kuat.
Berdasarkan ciri-ciri morfologi yang diperoleh dari kegiatan mengamati sampel tumbuhannya dan disesuaikan dengan pustaka, maka dapat pula ditentukan klasifikasi dari tumbuhan P. moluccanum, yaitu:
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Rosales
Suku : Pittosporaceae Marga : Pittosporum
Jenis : Moluccanum (Lam.) Miq.
B. Fitokimia Daun dan Buah P.moluccanum
Skrining fitokimia merupakan suatu metode untuk mengetahui adanya kandungan kimia dalam bahan dengan menggunakan pelarut tertentu. Pelarut yang biasa digunakan dalam skrining fitokimia adalah metanol dengan dasar bahwa metanol memiliki sifat dapat melarutkan hampir semua senyawa organik yang ada pada sampel, mudah menguap sehingga mudah dibebaskan dari ekstrak (Malik et al.2007)
Berdasarkan uji fitokimia yang dilakukan di B2P2TOOT, Tawangmangu, diperoleh ada lima jenis golongan yang terkandung didalam daun dan buah Pittosporum moluccanum. Golongan tersebut adalah Flavonoid, Tanin, Saponin, Steroid, dan Alkaloid (Tabel 3.1, 3.2. dan lampiran 1)
Tabel 3.1. Hasil Skrining Fitokimia daun P. moluccanum No Golongan
Kimia Jenis test Hasil
1 Flavonoid Serbuk Mg Positif
2 Tanin - FeCl3
- Garam gelatin - Stiasny
Positif
3 Kuinon NaOH Negatif
4 Saponin Test sabun Positif
5 Steroid Liberman Burchard Positif 6 Alkaloid - Dragendorf (kertas
saring) - Mayer - Dragendorf
Positif
Tabel 3.2. Hasil Skrining Fitokimia buah P. moluccanum No Golongan
Kimia Jenis test Hasil
1 Flavonoid Serbuk Mg Positif
2 Tanin - FeCl3
- Garam gelatin - Stiasny
Positif
3 Kuinon NaOH Negatif
4 Saponin Test sabun Positif
5 Steroid Liberman Burchard Positif 6 Alkaloid - Dragendorf (kertas
saring) - Mayer - Dragendorf
Tumbuhan jenis sayuran dan buah mengandung beberapa bahan yang merupakan golongan Flavonoid dan juga Asam Phenolic (Harleen, 20111). Riyas et al, 2019, yang menggunakan sampel dari genusPittosporum di India, memperoleh hasil bahwa didalam tanaman mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, antara lain flavonoid, tanin, steroid, fenol, lignin, dan saponin yang banyak digunakan sebagai antioksidan, anti kanker, dan juga anti bakteri. Suaibatul dan Haryadi juga melakukan penelitian tentang kandungan bahan kimia pada tanaman kapuk (Ceiba petandra), dengan menggunakan metode skrining fitokimia, diperoleh hasil bahwa didalam daun Ceiba petandra, terdapat golongan flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin C. Deteksi Senyawa Aromatik dan Quercetin dengan
NIR
Selain analisis fitokimia, dilakukan analisis menggunakan NIR dengan maksud menajamkan senyawa spesifik dalam sampel. Analisis menggunakan NIR yang dilakukan bersifat kualitatif karena secara umum kandungan senyawa metabolit dalam tumbuhan sangat kecil sehingga tidak terdeteksi untuk dianalisis secara kuantitatif. Pengujian secara kualitatif lebih menitikberatkan pada jenis kandungan bahan kimia dalam suatu bahan yang terkandung dalam bahan uji (Manual n.d). Spektrum NIR terhadap daun dan buahP.
moluccanum mirip (Gambar 3.1. dan 3.2.). Hal tersebut menujukkan bahwa terdapat kemiripan senyawa-senyawa yang ada di dalam daun dan buah P. moluccanum. 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000 Daun Buah
Gambar 3.5 Spektrum NIR terhadap daun dan buah P. moluccanum.
Kemiripan senyawa dalam sampel tertuang dari hasil interpretasi spektrum berdasarkan peak, energy, dan content(Tabel 3.2.).
Tabel 3.3. Interpretasi spectrum daun dan buah P. moluccanum
4000 5000 6000 7000 8000
buah
Pada tabel 2 tampak bahwa senyawa penyusun daun dan buah P. moluccanum sangat mirip. Pada peak 12 (pada daun) dan peak 12 dan 13 (pada buah) tampak bahwa sampel mengandung senyawa minyak atsiri. Hal ini mendukung data lapangan bahwa kedua bahan berbau harum terutama buah. Minyak atsiri merupakan suatu bahan yang terkandung dalam tumbuhan yang berfungsi sebagai bahan baku minyak wangi maupun kosmetik. Ciri khas tumbuhan memiliki kandungan minyak atsiri adalah dengan munculnya bau khas tertentu dan biasanya baunya menyengat. Minyak atsiri yang terdapat didalam tubuh tumbuhan bisa dikeluarkan dengan cara disuling (Berlin, 2014). Penelitian tentang minyak atsiri juga dilakukan oleh Jayanudin (2018) pada daun cengkeh. Pengambilan ekstrak minyak atsiri dilakukan dengan proses penyulingan uap kemudian dilanjutkan dengan uji GCMS untuk mengetahui komposisi minyak atsiri tersebut (Jayanudin, 2018).
Data hasil NIR menunjukkan adanya senyawa aromatik pada daun dan lebih banyak pada buahnya. Secara fisik, bau yang muncul dari daun dan terutama pada buahnya yang lebih menyengat bisa diprediksi adanya senyawa aromatik. Senyawa lain yang ditentukan menggunakan NIR adalah senyawa quercetin. Quercetin merupakan senyawa yang banyak terkandung dalam tumbuhan termasuk pada tumbuhan
P. moluccanum. Quercetin merupakan derivat dari Flavonoid, ditemukan hampir disemua tanaman, baik pada buah-buahan maupun sayuran. Quercetin juga memiliki antioksidan yang kuat karena kemampuannya dalam menanggulangi radikal bebas (Baghel et al. 2016). Quercetin juga ditemukan pada berbagai sayuran, buah-buahan seperti Bluebery, Apel, dan juga anggur hitam. Quercetin yang terdapat pada sayuran dan buah ini juga berperan aktif sebagai antioksidan dan anti kanker (Lakhanpal, 2016). Berdasarkan pustaka yang dirujuk, maka Quercetin yang terdapat dalam daun dan buah Pittosporum moluccanum juga mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai antioksidan. Spektrum NIR daun dan buah (Gambar 3.1) dihimpitkan dengan spektra senyawa standar quercetin (Gambar 3.2). Tampak bahwa kedua sampel mengandung quercetin.
Gambar 3.6 Spektrum NIR daun dan buah P. moluccanumdihimpitkan dengan spectrum senyawa quercetin standar.
4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000
daun daunbetty buah daunbetty que pwdr
D. Distribusi P. moluccanum dengan NDVI dan EVI Data dalam penelitian ini merupakan data raster berupa citra satelit Landsat 8 OLI 3 periode dalam satu tahun, data vektor peta Taman Nasional Gunung-Merbabu meliputi Kecamatan Ampel, Cepogo, Musuk, Selo Kabupaten Boyolali dan Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten. Serta titik wilayah yang terdapat tanaman Sengiran di beberapa titik sampel.
Ekstraksi data dimana data citra satelit diekstraksi menggunakan analisis NDVI dan EVI menggunakan software QGIS 2.1.8 (Quantum Geographic Information System) hasil ekstraksi yang diperoleh selanjutnya akan dipotong sesuai dengan peta vektor Taman Nasional Merapi-Merbabu sehingga menghasilkan nilai dari NDVI dan EVI untuk masing-masing kecamatan. Pengolahan dengan algoritma NDVI dan EVI untuk mendapatkan nilai kerapatan vegetasi di wilayah Taman Nasional Gunung-Merbabu.
Pengambilan titik koordinat dilakukan pada bulan Juli 2018 di jalur pendakian Selo dan Tuk Babon. Wilayah studi pengambilan titik koordinat dapat dilihat dari gambar 3.3.
Gambar 3.7 Wilayah studi pengambilan titik koordinat Tanaman P. moluccanum
Nilai NDVI dibagi dalam 3 interval data yaitu Minimum, Average dan Maximum. Interval Minimum merepresentasikan wilayah dengan kemiripan tataguna lahan yang mencakup karakteristik tingkat kehijauan rendah, didominasi wilayah tandus, bebatuan dan berpasir pada NDVI rendah. Interval Average merepresentasikan wilayah dengan kemiripan tataguna lahan yang mencakup karakteristik tingkat kehijauan rendah didominasi jenis vegetasi rerumputan dan semak belukar. Interval Maximum merepresentasikan wilayah dengan kemiripan tataguna lahan yang mencakup
karakteristik hutan dengan tutupan lahan dan vegetasi yang tebal.
Tabel 3.4 Nilai Minimum, Maksimal dan Average dari NDVI tahun 2018
Kecamatan 14-Feb-18 24-Jul-18 09-Agust-18 Ampel Min 0,017 0,300 0,055 Max 0,026 0,400 0,276 Ave 0,021 0,352 0,176 Cepogo Min 0,014 0,324 0,099 Max 0,023 0,388 0,314 Ave 0,018 0,353 0,190 Kemalang Min 0,012 0,260 0,179 Max 0,018 0,397 0,325 Ave 0,016 0,337 0,257 Musuk Min 0,015 0,211 0,130 Max 0,023 0,371 0,524 Ave 0,017 0,335 -5,032 Selo Min 0,016 0,293 0,061 Max 0,023 0,414 0,464 Ave 0,018 0,363 -4,171
Tabel 3.5 Nilai Minimum, Maksimal dan Average dari EVI tahun 2018
Kecamatan 14-Feb-18 24-Jul-18 09-Agust-18 Ampel Min -0,099 -47,024 -19,307 Max -0,066 21,210 0,400 Ave -0,079 -22,252 -2,226 Cepogo Min -0,079 -105,956 -12,354 Max -0,047 -16,333 21,410 Ave -0,064 -29,673 0,587 Kemalang Min -0,071 -48,675 -30,871 Max -0,041 25,552 0,003 Ave -0,058 -15,384 -5,023 Musuk Min -0,086 -51,485 -12,876
Max -0,052 16,061 0,524
Ave -0,063 -20,553 -5,032
Selo Min -0,081 -88,352 -22,636
Max -0,058 68,992 0,464
Ave -0,065 -2,727 -4,171
Hasil NDVI di wilayah Selo sepanjang bulan Februari sampai bulan Agustus dengan bantuan penginderaan jarah jauh citra satelit menunjukkan nilai indeks vegetasi maximum 0,464. Indeks vegetasi ini terlihat lebih tinggi dibandingkan wilayah Ampel, Cepogo, Kemalang, dan Musuk. Tingginya indeks vegetasi NDVI menunjukkan bahwa daerah Selo memiliki tingkat kehijauan yang tinggi karena daerah tersebut didominasi wilayah hutan, tutupan lahan, dan vegetasi yang tebal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya, jika indeks vegetasi NDVI menunjukkan nilai >0,5 daerah tersebut merupakan wilayah hutan hujan tropis, tutupan lahan, dan vegetasi tebal (Prasetyo el al. 2017). Perbandingan hasil penelitian dengan pustaka yang dirujuk menunjukkan bukti bahwa wilayah Selo Boyolali tepatnya pada jalur pendakian Selo, memiliki banyak tumbuhan yang berkanopi tebal, salah satunya adalah P. moluccanumatau sering disebut sebagai Sengiran.
Nilai EVI (Enhanced Vegetation Indeks) dari tumbuhan P. moluccanum menunjukkan nilai 0,464 yang juga lebih tinggi dari daerah lainnya. Dalam teori
dikatakan jika nilai EVI berada pada rentang 0,1 – 0,5, vegetasi yang hidup pada derah tersebut dikatakan vegetasi sehat (Ravi, et.al 2016).
Pemantauan NDVI dan EVI menggunakan citra satelit Landsat 8.0 OLI ini akan menghasilkan nilai yang berbeda dari waktu ke waktu. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh beberapa hal, misalnya cuaca dan musim. Pada musim penghujan, nilai NDVI dan EVI akan tinggi karena kebutuhan hara dan air didalam tanah tercukupi bahkan melimpah. Sedangkan pada musim kemarau, nilai NDVI dan EVI akan mengalami penurunan.
Pemantauan dengan menggunakan citra satelit ini sangat membantu dalam menentukan titik lokasi sekaligus sebaran tumbuhan P. moluccanum yang digunakan dalam penelitian. Wilayah Taman Nasional Gunung Merbabu sangatlah luas, tidak memungkinkan pada saat studi lapangan, peneliti mengelilingi wilayah tersebut untuk melihat sebaran tumbuhan tersebut. wilayah studi terlihat pada gambar 3.
Peta hasil pemantauan yang ditunjukkan pada gambar 3.4 – 3.8 menunjukkan lokasi dan sebaran tumbuhan P. moluccanum sekaligus memperlihatkan tingkat kehijauan (NDVI) dan kesehatan tumbuhan tersebut (EVI)
Indeks vegetasi (NDVI) tumbuhan P. moluccanum pada bulan Februari, Juli, dan Agustus 2018 terlihat pada gambar 3.4.
Gambar 3.8 Indeks NDVI periode February 2018, July 2018, August 2018
Hasil EVI
Gambar 3.9 Indeks EVI periode February 2018, July 2018, August 2018
Setelah hasil vegetasi didapat, dilakukan klasifikasi tutupan lahan menggunakan metode supervised
claasification, citra nilai indeks dengan studi area terletak pada wilayah Taman Nasional Gunung-Merbabu. Hasil klasifikasi dari citra yang telah diekstraksi dengan algoritma NDVI dan EVI tersebut memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari sebaran tutupan lahan dan luas area setiap tutupan lahan yang dihasilkan. Adapun untuk hasil klasifikasi tutupan lahan seperti tampak pada Gambar 3.6
Gambar 3.11 Hasil OverlayEVI bulan Februari, Juli, Agustus 2018 (dari atas ke bawah)
Gambar 3.12 Hasil Overlay NDVI bulan Februari, Juli, Agustus 2018 (dari atas ke bawah)
Peta hasil analisis citra satelit yang diperoleh,
kemudian divalidasi dengan melakukan
assessmen/penaksiran ketelitian hasil interpretasi citra secara visual dengan melakukan cek lapangan dan menerapkan matriks konfusi (confusion matrix). Hasil validasi terlihat pada gambar 3.9.
Gambar 3.13 Titik Validasi P. moluccanum Hasil pengecekan lapangan dimasukkan kedalam matriks berikut ini!
Tabel 3.6 Matriks Validasi Lapangan No Kelas di
Citra LapanganKelas di Validasi Foto 1 Jalan
2 Lahan
terbuka Lahanterbuka Benar
3 Daerah hutan rapat vegetasi Daerah hutan rapat vegetasi Benar
Titik koordinat hasil dari validasi dilapangan, kembali di overlay dengan peta zonasi citra satelit dengan tujuan untuk lebih memperjelas data awal dan data validasi. Data yang diperoleh digambarkan dalam NDVI dan EVI pada bulan Februari, dengan pertimbangan hasil citra satelit terbaik ada pada bulan Februari 2018. Tumbuhan P. moluccanum terlihat tersebar disepanjang jalur pendakian Selo dan Tuk Babon dengan nilai indeks NDVI memperlihatkan tingkat kehijauan yang tinggi. Bulan Februari curah hujan masih cukup tinggi, sehingga nilai indeks NDVI cukup tinggi, yaitu di angka 0,464. Peta NDVI hasil validasi lapangan diperlihatkan pada gambar 3.10
Gambar 3.14 Validasi NDVI Februari 2018
Gambar 3.16 Validasi NDVI bulan Agustus 2018 Selain NDVI, hasil validasi lapangan juga di overlay dengan EVI dan menghasilkan validasi indeks EVI yang dapat dilihat pada gambar 3.13.
Gambar 3.18 Validasi EVI bulan Juli 2018