• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemampatan Citra Fraktal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemampatan Citra Fraktal"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 14

Pemampatan Citra Fraktal

etode pemampatan cira fraktal (fractal image compression) adalah metode lossy compression yang relatif baru. Metode ini mengeksploitasi kemiripan bagian-bagian di dalam citra dan menghitung transformasi yang memetakan bagian-bagian caitra yang memiliki kemiripan tersebut. Pembahasan di dalam Bab 14 ini dimulai dari teori mengenai fraktal, kemudian konsep pemampatan fraktal, lalu aplikasi pemampatan fraktal untuk memampatkan sembarang citra.

14.1 Definisi Fraktal

Sejarah fraktal dapat dirunut dari buku Benoit Mandelbrot yang berjudul The

Fractal Geometry of Nature. Jika geometri Euclidean digunakan untuk

merepresentasikan bentuk-bentuk yang dibuat oleh manusia (bujursangkar, lingkaran, bloa, dsb), maka geometri fraktal merupakan cara yang alami untuk merepresentasikan bentuk-bentuk objek di alam.

Fraktal dapat didefinisikan dari dua buah properti [MUN99]: 1) self similarity, dan 2) matra (dimension).

1. Fraktal adalah obyek yang memiliki kemiripan dirinya-sendiri (self-similarity) namun dalam skala yang berbeda. Ini artinya, bagian-bagian dari obyek akan tampak sama dengan obyek itu sendiri bila dilihat secara keseluruhan. Gambar 14.1 memperlihatkan tiga buah contoh fraktal, yaitu segitiga Sierpinski, daun pakis Barnsley, dan pohon fraktal.

2. Fraktal adalah objek yang memiliki matra bilangan riil atau pecahan (fractional). Kata terakhir inilah yang menurunkan kata fraktal.

(2)

Salinan ke-1

Salinan ke-2 Gambar masukan

Mesin copy

...

Gambar 14.1 Segitiga Sierpinski, daun pakis Barsnsley, dan pohon fractal

14.2 Iterated Function System (IFS)

Michael Barnsley (1988) merepresentasikan fraktal ke dalam model matematika yang dinamakan IFS (Iterated Function System), melalui buku, Fractals

Everywhere. IFS dimetaforakan sebagai sebuah mesin foto copy yang disebut Multiple Reduction Copy Machine (MRCM). MRCM memiliki banyak lensa dan

setiap lensa melakukan pengecilan gambar dalam jumlah yang banyak. Gambar dihasilkan dari mesin copy dioperasikan kembali sebagai masukan untuk membuat salinan berikutnya (Gambar 14.2).

Gambar 14.2 Multiple Reduction Copy Machine (MRCM)

Hal yang menarik dari MRCM adalah, apapun gambar awal yang digunakan, MRCM selalu konvergen ke gambar akhir yang sama. Gambar 14.3 memperlihatkan hasil salinan setelah beberapa kali lelaran dari MRCM yang

(3)

disusun oleh tiga buah lensa, setiap lensa memiliki faktor pengecilan setiap lensa adalah ½. Gambar akhir yang dihasilkan selalu segitiga Sierpinski.

Gambar awal Salinan 1 Salinan 2 Salinan 3 Salinan 20 Gambar 14.3 Apapun gambar awalnya, MRCM selalu menghasilkan segitiga Sierpienski .

Secara matematis, sistem lensa pada MRCM dapat dinyatakan dengan sekumpulan transformasi affine w1, w2, …, wn. Setiap transformasi wi melakukan

pencondongan, pemutaran, pengecilan, dan penggeseran terhadap salinan (copy) citra masukan.

Setiap transformasi affine dinyatakan sebagai matriks dengan enam buah elemen:

      = f d c e b a w (14.1)

Sembarang titik (x,y) pada gambar masukan ditansformasikan oleh w menjadi

      =       =       d c b a y x w y x ' ' t Ax f e y x + =       +       (14.2)

Setiap transformasi affine wi menghasilkan salinan citra yang lebih kecil; yaitu,

untuk sembarang citra awal A yang diberikan, dihasilkan salinan affine, w1(A),

w2(A), …, wn(A). Gabungan dari seluruh salinan tersebut adalah W(A), yang

merupakan keluaran dari mesin,

(4)

W, yang dinamakan operator Hutchinson, adalah gabungan (collage) dari

sejumlah transformasi individual wi, yaitu

U

U U U n i i n w w w w W 1 2 1 ... = = = (14.4)

Setiap transformasi affine wi bersifat kontraktif, yaitu wi memetakan dua buah

titik menjadi lebih dekat. Ini berlaku untuk semua titik di bidang citra. Akibatnya,

MRCM selalu menghasilkan salinan gambar yang ukurannya lebih kecil daripada

ukuran gambar semula.

Sifat kontraktif saja tidak begitu penting. Sifat ini menjadi penting bila MRCM dijalankan dengan skema kalang umpan-balik terhadap gambar awal. Yaitu, diberikan citra awal A0, diperoleh

A1 = W(A0) = ( 0) 1 A w n i i

U

= A2 = W(A1) = W(W(A0)) = W2(A0)

A3 = W(A2) = W(W(A1)) = W(W(W(A0))) = W3(A0)

M

An = Wn(A0)

Jika W seluruhnya kontraktif, maka untuk n →∞ lelarannya konvergen ke sebuah citra yang unik, A. Citra A disebut titik-tetap (fixed-point) atau invariant dari proses lelaran, dan attractor dari W. Titik-tetap adalah citra A sedemikian

sehingga

A = W(A∞) (14.5)

Jadi, jika A∞ dipilih sebagai citra awal, maka tidak ada perubahan pada hasil transformasinya. Sedangkan attractor dari W adalah citra A∞ sedemikian sehingga A = lim Wn(A0 ) untuk sembarang citra awal A0 . (14.6)

n →∞

Persamaan yang terakhir ini menyatakan bahwa tidak peduli apa pun citra awal yang digunakan, limit lelarannya selalu menghasilkan citra akhir yang sama. Dengan kata lain, citra attractor adalah unik.

Tansformasi affine yang menghasilkan citra titik-tetap segitiga Sierpinski adalah

w1 =       0 . 0 5 . 0 0 . 0 0 . 0 0 . 0 5 . 0 w2 =       0 . 0 5 . 0 0 . 0 5 . 0 0 . 0 5 . 0 w3 =       5 . 0 5 . 0 0 . 0 25 . 0 0 . 0 5 . 0

(5)

w1 w2 w3 w4

w

3

w

1

w

2

Skema pembentukan segitiga Sierspinski dengan ketiga transformasi w1, w2, dan

w3 ditunjukkan pada Gambar 14.4.

Gambar 14.4. Cetak biru MRCM untuk membentuk segitiga Sierpinski.

Jika jumlah transformasi affine meningkat menjadi empat dengan setiap wi adalah

sebagai berikut: w1 =       −0.04 0.85 1.6 0 . 0 04 . 0 85 . 0 w2 =       − 6 . 1 22 . 0 23 . 0 0 . 0 26 . 0 20 . 0 w3 =      − 44 . 0 52 . 0 26 . 0 0 . 0 28 . 0 15 . 0 w4 =       0 . 0 16 . 0 0 . 0 0 . 0 0 . 0 0 . 0

maka MRCM konvergen ke citra fraktal yang terkenal, yang dinamakan tanaman pakis Barnsley (Barnsley’s fern) – Gambar 14.5. Di sini, w1 mengendalikan

keseluruhan bentuk, w2 membangkitkan daun kiri, w3 membangkitkan daun

kanan, dan w4 menghasilkan batang.

(6)

14.3 Pengkodean Citra dengan IFS

Menyimpan citra sebagai kumpulan pixel membutuhkan memori yang besar, namun bila yang disimpan adalah transformasi affine-nya, maka memori yang dibutuhkan jauh lebih sedikit. Cara ini melahirkan gagasan pengkodean citra dengan nisbah pemampatan yang tinggi.

Pakis Barnsley misalnya, dibangkitkan dengan empat buah transformasi affine, masing-masingnya terdiri atas enam buah bilangan riil (4 byte), sehingga dibutuhkan 4 × 6 × 4 byte = 96 byte untuk menyimpan keempat transformasi itu. Bandingkan bila citra pakis Barnsley disimpan dengan representasi pixel hitam putih (1 pixel = 1 byte) berukuran 550 × 480 membutuhkan memori sebesar 264.000 byte. Maka, nisbah pemampatan citra pakis adalah 264.000 : 96 = 2750 : 1, suatu nisbah yang sangat tinggi.

Kesulitan utama pemampatan dengan IFS adalah menemukan bagian citra yang mirip dengan keseluruhan citra. Intervensi manusia diperlukan untuk memandu menemukan bagian citra yang mirip dengan citra secara keseluruhan. Selain itu, pemampatan citra dengan IFS yang telah dikemukakan di atas hanya dapat diterapkan untuk citra yang memiliki self-similarity saja. Citra alami, disamping mempunyai warna, hampir tidak pernah self-similar secara keseluruhan. Karena itu, pemampatan sembarang citra (baik citra berwarna maupun citra greyscale) dengan IFS tidak dapat dilakukan.

Terobosan penting dibuat oleh Arnaud D. Jacquin, mahasiwa Barnsley. Melalui tulisan monumentalnya pada tahun 1992, Jacquin meyajikan skema otomatis pengkodean citra yang dikenal dengan nama Partitoned Iterated Function System (PIFS). PIFS dapat digunakan untuk memampatkan sembarang citra, baik citra skala-abu maupun citra berwarna, dan tidak terbatas untuk citra fraktal saja.

14.4 Partitioned Iterated Function System (PIFS)

Citra alami (natural image) umumnya hampir tidak pernah self-similar secara keseluruhan. Karena itu, citra alami pada umumnya tidak mempunyai transformasi affine terhadap dirinya sendiri. Tetapi, untunglah citra alami seringkali memiliki self-similarity lokal, yaitu memiliki bagian citra yang mirip dengan bagian lainnya, misalnya citra berskala-abu (greyscale) Lena pada Gambar 14.6 (bagian yang mirip ditandai di dalam kotak putih. Sebagai contoh, bagian topi Lena mirip dengan bagian topi di dalam bayangan cermin, bagian bahu mirip dengan bagian bahu yang lebih besar, dan sebagainya).

Kemiripan lokal yang banyak terdapat pada citra alami bersifat

(7)

mentransformasikan bagian citra yang lebih besar namun mirip dengan bagian citra yang lebih kecil itu [FIS94]. Setiap transformasi itu disebut IFS lokal. Gabungan dari seluruh hasil transformasi itu adalah citra fraktal yang menyerupai (atau menghampiri) citra semula.

Gambar 14.6 Kemiripan lokal pada citra Lena

Langkah pertama yang dilakukan dalam proses pemampatan adalah membagi citra atas sejumlah blok yang berukuran sama dan tidak saling berir isan, yang disebut blok jelajah (range). Untuk menyederhanakan masalah, blok jelajah diambil berbentuk bujursangkar. Untuk setiap blok jelajah, dicari bagian citra yang berukuran lebih besar dari blok jelajah –yang disebut blok ranah (domain)- dan paling mirip (cocok) dengan blok jelajah tersebut (Gambar 14.7), kemudian turunkan transformasi affine (IFS lokal) wi yang memetakan blok ranah ke blok

jelajah. Hasil dari semua pemasangan ini adalah Partitioned Iterated Function

System (PIFS).

Kemiripan antara dua buah (blok) citra diukur dengan metrik jarak. Metrik jarak yang banyak digunakan dalam praktek adalah metrik rms (root mean square):

∑∑

= = − = n i n j ij ij rms z z n d 1 1 2 ) ' ( 1 (14.7)

dengan z dan z’ adalah nilai intensitas pixel dari dua buah citra, dan n adalah jumlah pixel di dalam citra.

(8)

Blok ranah Blok jelajah Gambar 14.7 Pemetaan dari blok ranah ke blok jelajah

Seperti yang sudah dijelaskan, blok ranah dan blok jelajah keduanya berbentuk bujursangkar, tetapi ukuran blok ranah diambil dua kali blok jelajah. Untuk blok jelajah berukuran 8×8 pixel dan blok ranah berukuran 16×16 pixel, citra 256×256 misalnya, dapat dibagi menjadi 1024 buah blok jelajah yang tidak saling beririsan dan (256 – 16 + 1)2 = 58.081 buah blok ranah berbeda (yang beririsan). Himpunan blok ranah yang digunakan dalam proses pencarian kemiripan dimasukkan ke dalam pul ranah (domain pool). Pul ranah yang besar menghasilkan kualitas pemampatan yang lebih baik, tetapi membutuhkan waktu pencocokan yang lebih lama.

Sebelum proses pencarian kemiripan dimulai, setiap blok ranah diskalakan sehingga ukurannya sama dengan ukuran blok jelajah. Penskalaan ini dimaksudkan agar jarak antara blok jelajah dan blok ranah mudah dihitung dengan persamaan 14.7. Penskalaan dilakukan dengan menjadikan 2×2 buah pixel menjadi satu buah

pixel. Nilai satu buah pixel tersebut adalah rata-rata nilai keempat pixel.

Transformasi affine wi untuk citra berskala-abu disusun oleh bagian spasial yang

memetakan posisi pixel di blok ranah Di ke posisi pixel di blok jelajah Ri, dan

bagian intensitas yang mengubah nilai intensitas pixel. Titik (x,y) dengan intensitas z yang termasuk di dalam blok ranah dipetakan oleh wi menjadi:

          ' ' ' z y x =

w

i           z y x =           i i i i i s d c b a 0 0 0 0           z y x +           i i i o f e (14.8)

Dengan pemetaan wi di atas, intensitas tiap pixel juga diskalakan dan digeser,

yaitu

(9)

Parameter si menyatakan faktor kontras pixel (seperti tombol kontras di TV). Bila si bernilai 0, maka pixel menjadi gelap, bila si sama dengan 1 kontrasnya tidak

berubah; antara 0 dan 1 pixel berkurang kontrasnya, di atas 1 kontrasnya bertambah. Parameter oi menyatakan ofset kecerahan (brightness) pixel (seperti

tombol kecerahan di TV. Nilai oi positif mencerahkan gambar dan nilai oi negatif

menjadikannya gelap. Kedua parameter tersebut dapat memetakan secara akurat blok jelajah berskala abu ke blok jelajah berskala abu.

Untuk menjamin efek kontraktif dalam arah spasial, maka blok ranah harus berukuran lebih besar daripada blok jelajah. Untuk alasan praktis, ukuran blok ranah diambil dua kali ukuran blok jelajah (perbandingannya 2:1). Jadi, jika ukuran blok jelajah adalah B×B pixel, maka ukuran blok ranah adalah 2B×2B

pixel. Perbandingan ini membuat transformasi affine menjadi lebih sederhana, yaitu

          ' ' ' z y x = wi           z y x =           i s 0 0 0 5 . 0 0 0 0 5 . 0           z y x +           i i i o f e (14.10)

Parameter ei dan fi mudah dihitung karena keduanya menyatakan pergeseran

sudut kiri blok ranah ke sudut kiri blok jelajah yang bersesuaian. Sedangkan si

dan oi dihitung dengan menggunakan rumus regresi berikut [FIS94]: Diberikan

dua buah blok citra yang mengandung n buah pixel dengan intensitas d1, d2, …, dn

(dari blok ranah Di) dan r1, r2, …, rn (dari Ri). Nilai s dan o diperoleh dengan

meminimumkan total kuadrat selisih antara intensitas pixel blok Di yang

diskalakan dengan s lalu digeser sejauh o dan intensitas pixel blok Ri:

E =

= = − + ⋅ = − n i i i i n i i r s d o r d 1 2 2 1 ) ( ) ' ( (14.11)

Nilai minimum E terjadi bila turunan parsialnya terhadap s dan o adalah nol, yang terjadi bila turunan pertama E sama dengan 0, atau

E ’ = 0

yang dipenuhi oleh

        =

∑ ∑

= = = = = n i n i i i n i n i n i i i i i d d n r d r d n s 1 1 2 2 1 1 1 ) ( (14.12) dan       − =

= = n i n i i i s d r n o 1 1 1 (14.13)

(10)

1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 14 13 15 16 2 3 T 1 2 3

Blok ranah Blok jelajah

w E Pul ranah 1 6 Jika ( ) 0 1 2 1 2

=

= = n i i n i di d n maka s = 0 dan

= = n i ri n o 1 1

. Dengan nilai s dan

o yang telah diperoleh, maka kuadrat galat antara blok jelajah dan blok ranah

adalah                 − +         + − + =

= = = = = n i i n i n i n i i i i i n i i s s d dr o d o no r r n E 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 1 (14.14)

Metriks rms, drms , tidak lain adalah

drms = E /n (14.15)

Selanjutnya, transformasi affine wi diuji terhadap blok ranah Di untuk

menghasilkan blok uji Ti = wi(Di) (Gambar 14.8). Jarak antara T dan Ri dihitung

dengan persamaan 14.15. Transformasi affine yang terbaik ialah transformasi w yang meminimumkan jarak antara Ri dan T.

Runtunan pencarian dilanjutkan untuk blok jelajah berikutnya sampai seluruh blok jelajah sudah dipasangkan dengan blok ranah. Hasil dari proses pemampatan adalah sejumlah IFS lokal yang disebut PIFS. Seluruh parameter PIFS di-pak dan disimpan di dalam berkas eksternal. Parameter PIFS yang perlu disimpan hanya

ei, fi, si, oi, dan jenis operasi simetri untuk setiap blok jelajah. Dalam praktek,

parameter ei dan fi diganti dengan posisi blok ranah yang dipetakan ke blok

jelajah. Parameter ai, bi, ci, dan di tidak perlu disimpan karena nilainya sudah

tetap, yaitu ½ untuk ai dan di, dan 0 untuk bi dan ci.

Algoritma pencocokan blok yang dijelaskan di atas adalah algoritma brute force, karena untuk setiap blok jelajah pencocokan dilakukan dengan seluruh blok ranah di dalam pul untuk memperoleh pencocokan terbaik.

Gambar 14.8. Blok jelajah 5 dibandingkan dengan blok ranah 3 di dalam pul ranah. Transformasi w

ditentukan, lalu blok ranah 3 ditransformasikan dengan w menghasilkan T. Jarak antara T dengan blok jelajah 5 diukur.

(11)

14.5 Rekonstruksi Citra

Rekonstruksi (decoding) citra dilakukan dengan melelarkan PIFS dari citra awal sembarang. Karena setiap IFS lokal kontraktif, baik kontraktif dalam matra intensitas maupun kontraktif dalam matra spasial maka lelarannya akan konvergen ke citra titik-tetap PIFS. Kontraktif intensitas penting untuk menjamin konvergensi ke citra semula, sedangkan kontaktif spasial berguna untuk membuat rincian pada citra untuk setiap skala. Jika PIFS yang ditemukan selama proses pemampatan bagus, yaitu gabungan dari transformasi seluruh blok ranah dekat dengan citra semula (diukur dengan persamaan 14.7), maka titik-tetap PIFS juga dekat dengan citra semula tersebut.

Selama proses pemulihan, setiap IFS lokal mentransformasikan sekumpulan blok ranah menjadi sekumpulan blok jelajah. Karena blok jelajah tidak saling beririsan dan mencakup keseluruhan pixel citra, maka gabungan seluruh blok jelajah menghasilkan citra titik -tetap yang menyerupai citra semula. Gambar 14.8 memperlihatkan hasil rekonstruksi citra Lena setelah 1, 2, dan 6 lelaran [MUN99]. Citra awal yang digunakan adalah citra adalah citra dengan nilai pixel yang dibangkitkan secara acak.

Konvergensi ke citra titik-tetap berlangsung cepat. Konvergensi umumnya dapat diperoleh dalam 8 sampai 10 kali lelaran [MUN99]. Karena transformasi affine kontraktif dalam arah spasial, maka semakin banyak rincian citra yang dibuat pada setiap lelaran

(12)

(c) Lelaran ke-2 (d) Lelaran ke-6

Gambar 14.8 Rekonstruksi citra Lena [MUN99].

Contoh-contoh hasil pemampatan citra fraktal [MUN99]:

Citra asli (256 × 256 pixel) Citra hasil pemampatan fraktal

(13)

Citra asli (256 × 256 pixel) Citra hasil pemampatan fraktal Collie.bmp (66 KB) Collie.fra (9 KB)

Citra asli (512 × 512 pixel)

(14)

Citra hasil pemampatan fraktal

(15)

Citra asli (316 × 404 pixel) Citra hasil pemampatan fraktal Potret.bmp (126 KB) Potret.fra (17 KB)

Tabel 14.1 Perbandingan ukuran berkas citra sebelum dan sesudah dimampatkan

No. Citra BMP (byte) Ukuran (byte) Citra FRA (byte) Ukuran Nisbah (%) 1 Kapal.bmp 263.222 KAPAL512.FRA 8.956 96,6 2 Lena.bmp 66.614 LENA256.FRA 8.137 87,6 3 Collie.bmp 66.614 COLLI256.FRA 9.150 86,3 4 Potret.bmp 128.782 POTRET.FRA 17.437 86,5

Tabel 14.2 Perbandingan ukuran citra berformat BMP, JPG, GIF, dan fraktal

(FRA)

Nama Citra Format BMP (byte) Format JPG (byte) Format GIF (byte) Format FRA (byte) Kapal.bmp 263.222 24.367 242.452 8.956 Lena.bmp 66.614 7.126 70.292 8.137 Collie.bmp 66.614 7.021 69.965 9.150 Potret.bmp 128.782 16.377 136.377 17.437

(16)

14.6 Pemampatan Citra Berwarna

Penelitian yang dilakukan tentang pemampatan citra fraktal kebanyakan ditujukan pada citra hitam-putih (greyscale). Karena citra berwarna terdiri atas 3 komponen (RGB), maka pemampatan fraktal dilakukan secara terpisah untuk masing-masing komponen. Tetapi, cara ini tidak dianjurkan karena membuat waktu pemampatan tiga kali lebih lama daripada cira skala-abunya, begitu pula ukuran berkas hasil pemampatannya tiga kali lebih besar. Teknik yang mangkus adalah dengan mentransformasi model RGB ke model YIQ, XYZ, atau IHS. Pemampatan fraktal cukup dilakukan terhadap komponen luminansinya (Y pada model YIQ, Y pada model XYZ, atau I pada model IHS) [FIS94]. Dua komponen sisanya dimampatkan dengan metode berbeda (misalnya dengan metode Huffman). Pada proses rekonstruksi citra, model YIQ, XYZ, atau IHS ditransformasikan kembali ke model RGB.

Gambar

Gambar 14.2  Multiple Reduction Copy Machine (MRCM)
Gambar 14.3  Apapun gambar awalnya, MRCM selalu menghasilkan segitiga Sierpienski .
Gambar 14.4.  Cetak biru MRCM untuk membentuk segitiga Sierpinski.
Gambar 14.6  Kemiripan lokal pada citra Lena
+5

Referensi

Dokumen terkait

antara bagian yang disalin dan ditempelkan, setiap fitur SVD menjadi kueri dalam pencocokan blok citra dengan

Citra 16.jpg memiliki komposisi warna yang pas, dalam hal komposisi warna wajah, komposisi warna latar belakang yang hanya terdapat sedikit bagian yang memiliki komposisi warna

Quad-tree segmentation adalah teknik yang membagi blok sebuah citra menjadi 4 bagian yang tidak tumpang tindih dan setiap 4 sub-blok dapat dibagi lagi hingga

Lima buah kamera CMOS (kamera web Logitech HD Webcam c270h) digunakan untuk menangkap citra objek, satu dari bagian atas objek dan empat dari sekeliling objek, seperti pada

Pada blok diagram bagian pembentukan basis data, proses diawali dengan proses preprosessing yang dilakukan pada citra dokumen aksara Bali yaitu Grayscaling,

1) Algoritma yang diusulkan sangat cocok dioperasikan pada blok untuk enkripsi citra. Hal ini dapat diperlihatkan dengan bentuk cipher-.. Hal ini menunjukkan bahwa

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,