• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis evaluasi pembelajaran Fisika dan implementasi pendekatan saintifik dalam evaluasi pembelajaran Fisika kelas XI IPA SMA : studi kasus di SMA P Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis evaluasi pembelajaran Fisika dan implementasi pendekatan saintifik dalam evaluasi pembelajaran Fisika kelas XI IPA SMA : studi kasus di SMA P Yogyakarta"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ANALISIS EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA DAN IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA KELAS XI IPA SMA (STUDI KASUS DI SMA P YOGYAKARTA) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika. Oleh: Maria Hesti Dwi K NIM: 111424027. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2016 i.

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING. ii.

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PENGESAHAN. iii.

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4 : 13. Si pemalas dibunuh oleh keinginannya karena tangannya enggan bekerja. Amsal 21 : 25. Skripsi ini ku persembahkan untuk: Yesus Kristus dan Bunda Maria; Orang tua yang sangat kucintai: Heru Nugraha dan Woro Endang; FX. Heri Rahardiyanto dan BM Tri Nugrahaningsih; Kakak-kakak yang sangat kusayangi: Maz Rezza, Mbak Rini, Mbak Lintang, dan Mas Suryo; Pendidikan Fisika 2011. iv.

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. v.

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. LEMBAE PERNYATAAN PERSETUJUAN. vi.

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRAK Maria Hesti Dwi Kristiani. 2016. Analisis Evaluasi Pembelajaran Fisika dan Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Evaluasi Pembelajaran Fisika Kelas XI IPA SMA (Studi Kasus di SMA P Yogyakarta). Skripsi. Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui evaluasi yang dilakukan pada pembelajaran fisika yang menggunakan pendekatan saintifik, dan (2) untuk mengetahui sejauh mana evalusi tersebut dilakukan pada pembelajaran fisika dengan menggunakan pendekatan saintifik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2015 di SMA P Yogyakarta. Subjek pada penelitian ini adalah seorang guru mata pelajaran fisika yang mengajar di kelas XI IPA 1 yang berjumlah 26 orang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa rekaman wawancara, rekaman video pembelajaran, dan fieldnotes. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Guru melakukan evaluasi pada mata pelajaran fisika kelas XI IPA di SMA P dengan memperhatikan 3 aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi pada ketiga aspek tersebut dilakukan dengan cara yang terpisah. Penilaian kemampuan kognitif dilakukan dalam bentuk ulangan, kemampuan afektif dilakukan dengan melihat sikap siswa selama PBM berlangsung dan dicatat dalam sebuah jurnal, dan kemampuan psikomotorik dilakukan dengan mengadakan kegiatan praktikum; (2) Dalam pelaksanaan evaluasi, guru sudah melakukannya dengan cukup baik. Guru melakukannya sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh sekolah dan guru pun mengadakan remedial sampai siswanya mencapai nilai KKM. Namun, dalam perencanaan evaluasi, pengembangan instrumen evaluasi, pelaporan dan pemanfaatan hasil evaluasi, guru belum melakukannya dengan cukup baik. Kata Kunci: Evaluasi Pembelajaran, Pembelajaran Fisika, Pendekatan Saintifik. vii.

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRACT Maria Hesti Dwi Kristiani. 2016. “Analysis of The Evaluation on Physic Learning and The Implementation of Scientific Method in The Evaluation of Physic Learning in Class XI IPA SMA (A Case Study in SMA P Yogyakarta)”. Thesis. Physic Education Study Program. Department of Mathematics and Natural Science Education. Faculty of Teachers Training and Education. Sanata Dharma University, Yogyakarta. This research aims to (1) know the evaluation done in physic learning which uses scientific method, and (2) to evaluate the evaluation which has done in physic learning using scientific method. This research was done in April-May 2015 in SMA P Yogyakarta. The subject of this research was a physic teacher who taught XI IPA 1 in which the students were 26 students. This was a qualitative research. The instrument to gather the data used in this research was interview record, video of teaching and learning, and field notes. The result showed that (1) the teacher did the evaluation in 3 aspects: cognitive, affective, and psychomotoric. Those 3 aspects were done in different ways. The cognitive assessment was done in a test, the affective ability was done through observation in the teaching-learning process which was noted in a journal, and the psychomotor ability was done in a practicum; (2) in the performance evaluation, teacher already do quite well. Teacher do it according to the schedule set by school and ever hold a remedial for students to reach of standard point in the school. However, in the planning of the evaluations, the development of evaluation instruments, reporting, and utilization of evaluation results, teacher don’t do it quite well.. Key words: The evaluation of learning, Physic, Scientific method. viii.

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS. EVALUASI. PEMBELAJARAN. FISIKA. DAN. IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA KELAS XI IPA SMA (STUDI KASUS DI SMA P YOGYAKARTA)” ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Selama penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan, saran, dan dukungan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma dan dosen pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, membimbing, memberi masukan, dan saran yang bermanfaat dalam penyusunan skripsi. 2. Dr. Ignatius Edi Santosa, M.S., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika dan Dosen Pembimbing Akademik Pendidikan Fisika angkatan 2011 yang telah memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.. ix.

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 3. SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bapak Pur, Bruder, dan siswa-siswi kelas XI IPA 2 yang telah memberikan kesempatan dan membantu penulis dalam melakukan penelitian. 4. Segenap Dosen Universitas Sanata Dharma, khususnya Program Studi Pendidikan Fisika yang telah memberikan pengalama, pengetahuan, dan bimbingan selama penulis belajar di Universitas Sanata Dharma. 5. Segenap Staf Sekretariat JPMIPA yang telah membantu segala keperluan administratif selama penulis kuliah di Universitas Sanata Dharma. 6. Orang tua tercinta Bapak Heru Nugraha dan Mama Woro Endang, serta kakak ku Mas Rezza dan Mbak Rini yang selalu mendampingi, membimbing, dan memberikan semangat kepada penulis. 7. Elisabeth Anindita Arjanggi, Helen Puspitaningrum, dan Theresia Indah. P, yang sudah berjuang bersama-sama selama proses pembuatan skripsi. 8. Teman-teman yang selalu mendukung, membantu, dan mengingatkan penulis selama proses penulisan skripsi ini: Marjuki, Johan, Jejen, Heri, Yoana, Tika, Hudan, Gina, dan seluruh teman-teman Pendidikan Fisika 2011. 9. Serta semua pihak dan teman-teman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas dukungan dan semangat. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi pembaca khususnya dan dalam bidang ilmu pengetahuan pada umumnya. Yogyakarta, 26 Februari 2016. Penulis. x.

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................ v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................................................... vi ABSTRAK ............................................................................................................ vii ABSTRACT ........................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiii. BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah............................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 4 D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 4 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................. 5 A. Pembelajaran Fisika ..................................................................................... 5 B. Pendekatan Saintifik .................................................................................... 6 C. Evaluasi Pembelajaran ............................................................................... 10 xi.

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. D. Evaluasi Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Saintifik .......... 21 BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................... 26 A. Jenis Penelitian........................................................................................... 26 B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................... 27 C. Subyek Penelitian ....................................................................................... 27 D. Instrumen Penelitian .................................................................................. 27 BAB IV DATA, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN.......................................... 32 A. Data ............................................................................................................ 32 B. Analisis dan Pembahasan ........................................................................... 34 1.. Aspek Evaluasi ....................................................................................... 34. 2.. Teknik Evaluasi ...................................................................................... 44. 3.. Mekanisme dan Prosedur Evaluasi ........................................................ 55. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 62 A. Kesimpulan ................................................................................................ 62 B. Saran .......................................................................................................... 63 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 64 LAMPIRAN .......................................................................................................... 65. xii.

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Permohonan Izin ...................................................................... 66 Lampiran 2 Surat Keterangan Selesai Penelitian .................................................. 67 Lampiran 3 Analisis Soal ...................................................................................... 68 Lampiran 4 Laporan Praktikum ............................................................................ 74. xiii.

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pendidikan di Indonesia semakin berkembang dalam berbagai hal, baik dari materi, media, model pembelajaran, dan metode pembelajaran. Dulu kebanyakan guru hanya mengajar dengan metode ceramah yang sangat membosankan bagi siswa, namun sekarang banyak guru yang melakukan berbagai inovasi dalam proses pembelajaran agar siswa semakin bersemangat dalam belajar. Hal ini dilakukan untuk semakin meningkatakan mutu pendidikan di Indonesia. Pada hakekatnya, belajar adalah memahami sesuatu dengan percobaan berulang-ulang hingga seseorang dapat paham, mengerti, dan menguasai suatu hal dengan baik. Begitu pula dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Siswa akan lebih menguasi materi pelajaran jika siswa menemukan dan menggali sendiri pengetahuannya tersebut, sehingga hasilnya pemahaman siswa diharapkan lebih mendalam. Fisika. adalah. ilmu. yang. memahami. fenomena. alam.. Dalam. pembelajaran di sekolah, khususnya jenjang SMP dan SMA/SMK, siswa diharapkan dapat aktif membentuk pemikiran mereka sehingga dapat menjelaskan gejala fisis di kehidupan sekitarnya secara logis. Dalam hal ini siswa dituntut untuk dapat berpikir secara induktif. Menurut Suparno, dalam pembelajaran fisika yang terpenting adalah siswa yang aktif belajar (2007: 2). 1.

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2. Dengan siswa aktif, siswa dapat menemukan sesuatu sendiri, karena dengan menemukan sendiri siswa dapat lebih mengerti secara mendalam (Suparno, 2007: 72). Berdasarkan hal di atas, guru seharusnya menggunakan model pembelajaran yang mendukung kegiatan siswa untuk menemukan sendiri pengetahuannya tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah pendekatan saintifik. Pendekatan ini pertama kali dicetuskan oleh Galileo Galilei, seorang fisikawan yang memiliki banyak sumbangan pada zamannya dan digunakan sampai saat ini. Pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah sendiri sudah akrab dikenal pada pembelajaran fisika sebagai metode ilmiah. Pendekatan saintifik ini menerapkan metode ilmiah pada proses pembelajaran fisika. Pada metode ilmiah, siswa dituntut untuk lebih mengedepankan penalaran induktif. Penalaran induktif melihat fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Pendekatan saintifik ini bertujuan agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan secara mandiri pengetahuan yang didapatnya agar siswa tersebut dapat lebih memahami materi yang dipelajarinya, tidak hanya sekedar tahu saja. Dalam suatu pembelajaran perlu diadakan evaluasi yang bertujuan untuk mengukur sampai di mana tingkat kemampuan siswa selama proses pembelajaran yang telah berlangsung dan mengetahui tingkat keberhasilan.

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 3. program pengajaran. Karena pendekatan saintifik lebih menitikberatkan pada proses penemuan pengetahuan oleh siswa, maka diperlukan evaluasi yang tidak hanya menilai pada hasil belajar siswa saja, tapi juga menilai dalam proses belajar-mengajar. Teknik evaluasi yang dipakai pun harus disesuaikan dengan pendekatan saintifik itu sendiri yang sesuai dengan metode ilmiah. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti akan melakukan penelitian. dengan. judul. “ANALISIS. EVALUASI. PADA. PEMBELAJARAN FISIKA DAN IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA KELAS XI IPA SMA (STUDI KASUS DI SMA P YOGYAKARTA)”.. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut, dapat dirumuskan bahwa: 1. Bagaimana evaluasi yang dilakukan pada pembelajaran fisika yang menggunakan pendekatan saintifik? 2. Sejauh mana evaluasi dilakukan pada pembelajaran fisika dengan meggunakan pendekatan saintifik?.

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4. C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui evaluasi yang dilakukan pada pembelajaran fisika yang menggunakan pendekatan saintifik. 2. Mengetahui sejauh mana evaluasi dilakukan pada pembelajaran fisika dengan menggunakan pendekatan saintifik.. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak, antara lain: 1. Bagi Guru Memberikan masukan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran mata pelajaran fisika yang menggunakan pendekatan saintifik. 2. Bagi Sekolah a. Meningkatkan mutu pendidikan khususnya pada mata pelajaran fisika. b. Memberikan masukan untuk melihat betapa pentingnya evaluasi pembelajaran pada mata pelajaran fisika. 3. Bagi Peneliti Dapat mengetahui bagaimana melakukan evaluasi pembelajaran fisika yang menggunakan model pembelajaran pendekatan saintifik dan seberapa penting evaluasi tersebut dilakukan..

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI. A. Pembelajaran Fisika Menurut Suparno, yang terpenting dalam pembelajaran fisika adalah siswa yang aktif belajar fisika. Maka semua usaha guru harus diarahkan untuk membantu dan mendorong agar siswa mau mempelajari fisika sendiri. Guru membimbing siswa untuk menemukan sendiri kebenaran atau pengetahuan barunya dengan menghubungkan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya dengan teori yang ia miliki sejak awal. Siswa dibimbing untuk menghubungkan hal tersebut dengan menggunakan penalaran induktif, sehingga siswa dapat menemukan kesimpulan yang baik. Dengan siswa menemukan sendiri pengetahuannya, siswa akan mengerti lebih dalam dan tidak cepat lupa akan pengetahuan yang baru didapatkannya tersebut. Adapun tujuan umum pembelajaran fisika seperti (Suparno, 2007: 3): 1. Mengerti dan menggunakan metode ilmiah 2. Menguasai pengetahuan fisika (konsep) 3. Menggunakan sikap ilmiah 4. Memenuhi kebutuhan pribadi dan masyarakat 5. Kesadaran akan karir masa depan. 5.

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 6. B. Pendekatan Saintifik Menurut Daryanto (2014: 55), pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah adalah proses pembelajaran yang dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Pada proses ilmiah, para ilmuwan menggunakan penalaran induktif, di mana penalaran ini memandang suatu fenomena dengan kajian spesifik dan detail untuk menarik kesimpulannya secara umum. Metode ilmiah sendiri terdiri dari serangkaian kegiatan pengumpulan data melalui observasi atau eksperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. melibatkan. keterampilan. proses. seperti. mengamati,. mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan (Daryanto, 2014: 51). Keterampilan proses sains sebagai keterampilan dasar harus dimiliki oleh setiap siswa sebelum mereka menggunakan metode ilmiah. Oleh karena itu, proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada pengembangan keterampilan proses. Dalam pembelajaran IPA dengan mengembangkan keterampilan proses, siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori-teori, dan sikap ilmiah yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap proses maupun produk pendidikan (Trianto, 2012: 143). Adapun prinsip-prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan belajar (Daryanto, 2014: 58): 1. Pembelajaran berpusat pada siswa 2. Pembelajaran membetuk students selfconcept.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 7. 3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme 4. Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip 5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa 6. Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru Berikut adalah tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik menurut Daryanto (2014: 54): 1. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa 2. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik 3. Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahawa belajar itu merupakan suatu kebutuhan 4. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi 5. Untuk melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah 6. Untuk mengembangkan karakter siswa Pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 dibahas. bahwa. untuk. memperkuat. pendekatan. saintifik. diterapkan. pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning)..

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 8. Adapun langkah-langkah pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran sebagai berikut: 1. Mengamati (observasi) Pada kegiatan ini siswa diharapkan mampu menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru. Dengan mengamati sendiri siswa diharapkan lebih dapat memahami konsep-konsep fisika yang diajarkan. Pada kegiatan ini guru memfasilitasi dan membimbing siswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. 2. Menanya Setelah mengamati suatu obyek, siswa diberi kesempatan dan dibimbing untuk dapat mengajukan pertanyaan terkait dengan obyek tersebut. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan tersebut menjadi dasar siswa untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal amapai sumber yang beragam. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. 3. Mengumpulkan Informasi Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Aktivitas mengumpulkan informasi itu sendiri dapat dilakukan dengan berbagai.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 9. cara, seperti melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas wawancara dengan narasumber dan sebagainya. 4. Mengasosiasikan/Mengolah Informasi/Menalar Dalam. Permendikbud. Nomor. 81a. Tahun. 2013,. kegiatan. mengasosiasi/mengolah informasi/menalar dalam kegiatan pembelajaran adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik dari hasil kegiatan. mengumpulkan/eksperimen. maupun. hasil. dari. kegiatan. mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan pola dari keterkaitan informasi-informasi yang telah dikumpulkan. 5. Menarik Kesimpulan Setelah menemukan keterkaitan antara informasi-informasi yang telah dikumpulkan dan menemukan berbagai pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam kelompok atau secara individu membuat kesimpulan. Dalam pembuatan kesimpulan ini siswa dapat dibimbing untuk menyimpulkannya secara induktif agar dapat memperoleh kesimpulan secara umum keseluruhan. 6. Mengkomunikasikan Pada kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang telah mereka dapatkan dari hasil pengamatan dan kesimpulan berdasarkan hasil analisis mereka..

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 10. C. Evaluasi Pembelajaran Menurut Mehrens dan Lehman (1978, dalam Purwanto, 2012: 3), evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sedangkan menurut Norman E. Gronlund (1976, dalam Purwanto, 2012: 3) dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran, evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa. Berdasarkan dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan suatu proses yang direncanakan secara sistematis untuk memperoleh informasi pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran oleh siswa. Prinsip-prinsip umum yang perlu diperhatikan untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik (Arifin, 2010: 31), yaitu: 1. Kontinuitas Pembelajaran merupakan suatu proses yang kontinu. Oleh sebab itu, evaluasi pun harus dilakukan secara kontinu. Kegiatan evaluasi harus dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung, dan pada akhir program setelah program itu dianggap selesai, sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan berarti tentang perkembangan peserta didik. 2. Komprehensif Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek, guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi. Guru tidak hanya menilai yang.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 11. menyangkut kognitif siswa saja, tapi juga harus menyangkut afektif dan psikomotorik siswa. 3. Adil dan Objektif Dalam melaksanakan evaluasi, guru harus bersikap adil tanpa pilih kasih. Semua siswa harus diberlakukan sama tanpa pandang bulu. Guru juga hendaknya bertindak secara objektif, apa adanya sesuai dengan kemampuan siswa. Oleh sebab itu, evaluasi harus didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasil manipulasi atau rekayasa. 4. Kooperatif Dalam kegiatan evaluasi guru hendaknya bekerja sama dengan semua pihak, baik orang tua siswa, sesama guru, kepala sekolah, maupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar semua pihak merasa puas dan dihargai dengan hasil evaluasi. 5. Praktis Dalam menyusun alat evaluasi, sebaiknya guru menyusunnya dengan memperhatikan bahasa dan petunjuk mengerjakan soal, agar alat evaluasi tersebut mudah digunakan baik oleh guru tersebut maupun orang lain yang akan menggunakannya. Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran, kegiatan evaluasi harus mencakup (Asep dan Abdul, 2012: 64): 1. Proses belajar, yaitu seluruh pengalaman belajar yang dilakukan siswa..

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 12. 2. Hasil belajar, yaitu ketercapaian setiap kemampuan dasar, baik kognitif, afektif, maupun pskimotorik, yang diperoleh siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Menurut Sudjana (2010: 22), dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, klasifikasi belajar menggunakan teori Benyamin Bloom dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu: 1. Kognitif Aspek kognitif meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan intelektual. Menurut taksonomi Bloom, aspek kognitif terdiri dari 6 (enam) tingkatan, yaitu: a. Pengetahuan (C1) Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk tingkat kognitif yang paling rendah. Kemampuan untuk mengetahui adalah kemampuan untuk mengenal atau mengingat kembali suatu objek, ide, prosedur, prinsip atau teori yang pernah ditemukan dalam pengalaman. b. Pemahaman (C2) Pemahaman. adalah. kemampuan. untuk. memahami. segala. pengetahuan yang diajarkan seperti kemampuan mengungkapkan dengan struktur kalimat lain, membandingkan, menafsirkan, dan sebagainya. Pemahaman dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu: 1) Pemahaman terjemahan, yaitu kemampuan untuk mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna..

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 13. 2) Pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok. 3) Pemahaman. ekstrapolasi,. dengan. ekstrapolasi. diharapkan. seseorang mampu melihat di balik yang tertulis. c. Aplikasi (C3) Aplikasi adalah penggunaan konsep pada situasi kongkret atau situasi khusus. Konsep tersebut dapat berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan konsep ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-ngulang menerapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau keterampilan. Seseorang menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan,. memanfaatkan,. menyelesaikan,. dan. mengidentifikasi. d. Analisis (C4) Analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsurunsur atau bagian-bagian sehingga jelas susunannya. Secara rinci Bloom. mengemukakan. tiga jenis. kemampuan analisis,. yaitu. menganalisis unsur, menganalisis hubungan, dan menganalisis prinsipprinsip organisasi..

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 14. e. Sintesis (C5) Sintesis adalah penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk menyeluruh. Berpikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif. Berpikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dicapai dalam pendidikan. f. Evaluasi (C6) Evaluasi adalah pemberian keputusan/penilaian tentang sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materil, dan lain-lain. 2. Afektif Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai yang terdiri atas aspek penerimaan,. tanggapan,. penilaian,. pengelolaan,. dan. penghayatan. (karakterisasi). Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman kelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. 3. Psikomotorik Hasil belajar psikomorik tampak dalam bentuk keterampilan fisik (skill) dan kemampuan bertindak individu. Tipe hasil belajar ranah psikomotorik berkenaan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak setelah menerima pengalaman belajar tertentu..

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 15. Menurut Arifin (2010: 88) pengembangan evaluasi pembelajaran terdiri atas: 1. Perencanaan evaluasi Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perencanaan penilaian hasil belajar, yaitu: a. Menentukan tujuan penilaian Tujuan penilaian ini harus dirumuskan secara jelas dan tegas, karena menjadi dasar untuk menentukan arah, ruang lingkup materi, dan karakter. alat. penilaian.. Rumusan. tujuan. penilaian. harus. memperhatikan aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik siswa. Dalam penilaian hasil belajar, terdapat empat jenis tujuan penilaian, yaitu untuk memperbaiki kinerja atau proses pembelajaran (formatif), untuk menentukan keberhasilan peserta didik (sumatif), untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostik), dan untuk menempatkan posisi peserta didik sesuai dengan kemampuannya (seleksi). b. Mengidentifikasi kompetensi dan hasil belajar Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Peserta didik. dianggap. kompeten. apabila. ia. memiliki. pengetahuan,. keterampilan, sikap, dan nilai-nilai untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan hasil belajar, dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik..

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 16. c. Menyusun kisi-kisi Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu. Penyusunan kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-betul representatif dan relevan dengan materi pelajaran yang sudah diberikan oleh guru kepada siswa. Kisi-kisi soal yang baik harus memenuhi persyaratan tertentu, antara lain: 1) representatif, yaitu harus mewakili isi kurikulum sebagai sampel perilaku yang akan dinilai 2) komponen-komponennya harus terurai/terperinci, jelas, dan mudah dipahami 3) soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan d. Mengembangkan draft instrumen Instrumen penilaian dapat disusun dalam bentuk tes maupun nontes. Dalam bentuk tes, berarti guru harus membuat soal. Penulisan soal adalah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan terfokus serta menggunakan bahasa yang efektif, baik bentuk pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Dalam bentuk nontes, guru dapat membuat angket, pedoman observasi, pedoman wawancara, studi dokumentasi, skala sikap, penialaian bakat, minat, dan sebagainya..

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 17. e. Uji coba dan analisis instrumen Jika semua soal sudah disusun dengan baik, maka perlu diujicobakan. Tujuannya untuk mengetahui soal-soal mana yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami beberapa kali uji coba dan revisi. f. Merakit instrumen baru Setelah soal diuji coba dan dianalisis, ada soal yang masih dapat diperbaiki dari segi bahasa, ada juga soal yang harus direvisi total, baik yang menyangkut pokok soal maupun alternatif jawaban. Berdasarkan hasil revisi soal ini, barulah dilakukan perakitan soal menjadi suatu instrument yang terpadu. 2. Pelaksanaan evaluasi Pelaksanaan evaluasi bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan tes (tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan) maupun non tes (angket, observasi, wawancara, studi dokumentasi, skala sikap, dan sebagainya). Dalam pelaksanaan tes maupun nontes berbeda sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Pelaksanaan nontes dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi belajar, dan sebagainya. Selain itu guru juga dapat menilai hasil kerja peserta didik dengan cara memberikan tugas atau.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 18. proyek dan menganalisis semua hasil kerja dalam bentuk portofolio. Dalam penilaian, guru tidak hanya menilai kognitif siswa saja, tapi juga perlu diperhatikan non-kognitif siswa, seperti pengembangan pribadi, kreativitas, dan keterampilan interpersonal sehingga mendapat gambaran yang komprehensif dan utuh. 3. Pengolahan data dan analisis Mengolah data berarti mengubah wujud data yang sudah dikumpulkan menjadi sebuah sajian data yang menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi, ada yang berbentuk kualitatif, ada juga yang berbentuk kuantitatif. Dalam penilaian hasil belajar, data yang diperoleh adalah tentang prestasi belajar. Dengan demikian, pengolahan data tersebut akan memberikan nilai kepada siswa berdasarkan kualitas hasil pekerjaannya. 4. Pelaporan hasil evaluasi Hasil evaluasi yang telah dilakukan harus dilaporkan ke berbagai pihak yang terkait, seperti orang tua/wali, kepala sekolah, pengawas, pemerintah, mitra sekolah, dan siswa itu sendiri agar proses pembelajaran termasuk proses dan dan hasil belajar yang dicapai siswa serta perkembangannya dapat diketahui oleh berbagai pihak. Laporan kemajuan belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi anatar sekolah, siswa, dan orang tua dalam upaya mengembangkan dan menjaga hubungan kerja sama yang harmonis. Isi laporan hendaknya memuat hal-hal seperti profil belajar siswa di sekolah, peran serta siswa dalam kegiatan di sekolah, kemajuan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 19. hasil belajar siswa dalam kurun waktu belajar tertentu, dan imbauan terhadap orang tua. 5. Pemanfaatan hasil evaluasi Tahap akhir dari prosedur evaluasi adalah penggunaan atau pemanfaatan hasil evaluasi. Salah satu penggunaan hasil evaluasi adalah laporan. Laporan dimaksudkan untuk memberikan feedback kepasa semua pihak yang terkait dalam pembelajaran, seperti siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, penilik, dan pemakai lulusan. Tes hasil belajar digunakan untuk menilai kompetensi peserta didik yang mencakup pengetahuan dan keterampilan tertentu sebagai hasil belajar mengajar fisika. Tes dapat dikelompokkan ke dalam tes objektif dan tes non objektif. Bentuk soal tes objektif yang dapat digunakan adalah: pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan, dan uraian objektif. Sedangkan bentuk soal tes non objektif yang dapat digunakan adalah: uraian bebas, unjuk kerja atau observasi, dan portofolio atau proyek. Bentuk soal tes pilihan ganda dapat mencakup banyak materi pelajaran penyekoran objektif. Tes pilihan ganda dapat mengukur tingkat kemampuan berpikir yang tinggi dan hal ini tentunya tergantung pada kompetensi pembuat soal. Berikut kaidah-kaidah penulisan soal tes pilihan ganda: 1. Soal harus sesuai dengan indikator. 2. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. 3. Bahasa yang digunakan harus komunikatif..

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 20. 4. Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes. 5. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pertanyaan yang diperlukan saja. 6. Letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak. 7. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar. 8. Pokok soal jangan menggunakan pernyataan-pernyataan yang bersifat negative ganda. 9. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. 10. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. 11. Pilihan jawaban berbentuk angka harus disusun berdasarkan besarkecilnya. 12. Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. 13. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar. 14. Butir soal jangan tergantung pada jawaban soal sebelumnya. Menurut Mundilarto, tes uraian objektif adalah tes yang bentuknya soal uraian tetapi jawabannya sudah tertentu. Butir soal tes uraian objektif bermanfaat dalam mengembangkan kompetensi berpikir tingkat tinggi, khususnya aspek analisis sintesis dan evaluasi. Bentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan untuk bidang matematika dan sains, karena kunci jawabannya hanya satu. Berikut kaidah-kaidah penulisan soal tes uraian objektif:.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 21. 1. Soal harus mengacu pada indikator. 2. Menggunakan bahasa yang baku dan komunikatif. 3. Apabila terdapat gambar, grafik, tabel harus disajikan secara benar, jelas, dan komunikatif. 4. Hanya mengadung variable-variabel, informasi-informasi, dan besaranbesaran fisis yang relevan saja. 5. Pertanyaan harus dirumuskan secara jelas agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran di antara peserta didik. 6. Untuk setiap soal hanya mengandung satu pertanyaan saja. 7. Siapkan jawaban secara lengkap. 8. Tetapkan pedoman penyekoran. Berdasarkan pada Permendiknas No. 20 Tahun 2007, perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan silabus yang penjabarannya merupakan bagian dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sehingga segala bentuk evaluasi hasil belajar peserta didik tercantum di dalam RPP berikut pedoman penyekorannya.. D. Evaluasi Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Saintifik Seperti yang telah dikatakan di atas, pendekatan saintifik erat kaitannya dengan metode ilmiah. Di mana metode ilmiah itu sendiri terdiri dari serangkaian kegiatan pengumpulan data melalui observasi atau eksperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi dan.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 22. menguji hipotesis. Serangkaian kegiatan tersebut menggunakan penalaran induktif, di mana penalaran ini memandang suatu fenomena secara spesifik untuk menarik kesimpulannya secara umum. Untuk menilai seluruh kemampuan siswa dalam mencapai kompetensi tersebut, maka dibutuhkan suatu penilaian yang dapat menilai seluruh kinerja siswa di dalam proses belajar mengajar menggunakan pendekatan saintifik tersebut. Penilaian yang dilakukan harus mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa, baik dalam mengobservasi, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan. Salah satu penilaian yang cocok dengan pendekatan saintifik adalah penilaian autentik. Hal ini pun tercantum dalam Permendikbud No. 66 Tahun 2013, bahwa penilaian proses pembelajaran menggunakan penilaian autentik (authentic assessment) yang menilai kesiapan siswa, proses, dan hasil belajar secara utuh. Menurut Mundilarto (2012: 24), penilaian adalah proses interpretasi dan membuat judgment terhadap informasi hasil pengukurannya. Suatu penilaian dikatakan autentik jika melibatkan peserta didik dalam tugas-tugas yang bermanfaat, signifikan, dan berarti. Penilaian autentik adalah penilaian kinerja yang orientasi utamanya pada proses dan hasil pembelajaran yang melibatkan peserta didik. Penilaian autentik dilakukan secara komprehensif untuk menilai masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran. Menurut Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian, cakupan penilaian. merujuk. pada. ruang. lingkup. materi,. kompetensi. mata. pelajaran/kompetensi muatan/kompetensi program, dan proses. Penilaian.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 23. semacam ini dapat menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam mengobservasi, menalar, mencoba, mengkomunikasikan, dan lainlain. Penilaian autentik memungkinkan siswa untuk menunjukkan kompetensi mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian, yaitu pengukuran langsung keterampilan siswa, penilaian atas tugas-tugas, dan analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon siswa atas perolehan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Berikut teknik-teknik yang digunakan menurut Permendikbud No. 66 Tahun 2013: 1. Penilaian kompetensi sikap Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik, dan jurnal. Instrumen yang dilakukan dapat berupa daftar cek atau skala penilaian yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik. 2. Penilaian kompetensi pengetahuan Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui: a. Tes tulis Instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. b. Tes lisan Instrumen yang digunakan dapat berupa daftar pertanyaan. c. Penugasan.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 24. Instrumen yang digunakan dapat berupa pekerjaan rumah dan/atau proyek yang dikerjakan secara individu atau kelompok. 3. Penilaian kompetensi keterampilan Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, proyek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan dapat berupa daftar cek atau skala penilaian yang dilengkapi rubrik. Berikut hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam mekanisme dan prosedur penilaian berdasarkan Permendikbud No. 66 Tahun 2013: 1. Penilaian hasil belajar dilakukan dalam bentuk: a. Penilaian autentik dilakukan oleh guru secara berkelanjutan. b. Penilaian diri dilakukan oleh peserta didik untuk tiap kali sebelum ulangan harian. c. Penilaian proyek dilakukan oleh pendidik untuk tiap akhir bab atau tema pelajaran. d. Ulangan harian dilakukan oleh pendidik terintegrasi dengan proses pembelajaran dalam bentuk ulangan atau penugasan. e. Ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan. 2. Perencanaan ulangan harian dan pemberian proyek oleh pendidik sesuai dengan silabus dan dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)..

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 25. 3. Kegiatan ujian sekolah/madrasah dilakukan dengan langkah-langkah: a. Menyusun kisi-kisi ujian b. Mengembangkan (menulis, menelaah, dan merevisi) instrumen c. Melaksanakan ujian d. Mengolah (menyekor dan menilai) dan menentukan kelulusan peserta didik e. Melaporkan dan memanfaatkan hasil penilaian 4. Hasil ulangan harian diinformasikan kepada peserta didik sebelum diadakan ulangan harian berikutnya. Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedial..

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif dengan tujuan memperoleh gambaran bagaimana cara mengevaluasi pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran pendekatan saintifik dan keefektifan evaluasi tersebut. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, keadaan daripada bilangan termasuk juga data transkrip interview, fieldnotes, foto, videotapes, dokumen pribadi dan ofisial, memo, dan record lain. Penelitian kualitatif lebih tertarik pada proses daripada hasil akhir (Suparno, 2010: 154). Bentuk penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonparticipant observation. Dalam penelitian ini, peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang diteliti, tetapi lebih melihat dari luar (Suparno, 2010: 154). Penelitian ini menggunakan sampel yang sedikit, dengan meneliti kasus tertentu saja (Suparno, 2010: 8).. 26.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 27. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1) Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA SMA P Yogyakarta 2) Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2015.. C. Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada seorang guru fisika kelas XI IPA SMA P Yogyakarta dan 2 siswa kelas XI IPA 2 SMA P Yogyakarta.. D. Instrumen Penelitian Instrumentasi adalah seluruh proses untuk mengumpulkan data. Termasuk di dalamnya bagaimana memilih atau mendesain instrument dan menentukan keadaan agar instrument itu dapat digunakan/dipraktikkan. Pengertian intrumen sendiri adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Bentuknya dapat berupa: tes tertulis, angket, wawancara, dokumentasi, dan observasi (Suparno, 2010: 56). Penelitian. ini. menggunakan. 4. (empat). buah. instrumen,. yaitu. wawancara/interview, observasi/pengamatan, dokumentasi, dan fieldnotes. 1. Wawancara/interview Interview adalah semacam kuesioner lisan, suatu dialog yang dilakukan oleh peneliti untuk memperleh informasi yang diperlukan (Suparno, 2010: 62). Penelitian ini menggunakan interview bebas.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 28. terpimpin dimana interview ini merupakan kombinasi antara interview bebas yang dapat mengajukan pertanyaan secara bebas sesuai yang diperlukan dan interview terpimpin yang mengajukan pertanyaan sesuai dengan daftar pertanyaan lengkap yang telah disusun. Interview/wawancara dilakukan pada guru mata pelajaran fisika dan 2 (dua) siswa kelas XI IPA yang masing-masing dilakukan sebanyak 2 (dua) kali. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti sudah membuat daftar pertanyaan yang akan ditanyakan pada narasumber guna menarik sebanyak-banyak informasi yang terkait dengan penelitian ini. Berikut daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada guru dan siswa: Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan untuk Instrumen Wawancara Penelitian tentang Implementasi Pendekatan Saintifk dalam Evaluasi pada Mata Pelajaran Fisika Kelas XI IPA SMA NARASUMBER 1) GURU. DAFTAR PERTANYAAN 1) Teknik penilaian apa saja yang dilakukan dalam penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa? 2) Bagaimana caranya Anda menyusun soal? Aspek apa saja yang harus diperhatikan? 3) Dalam bentuk apa Anda memberikan tugas kepada siswa? 4) Seberapa sering Anda memberikan tugas kepada siswa? Bagaimana respon siswa dalam mengerjakan tugas tersebut? 5) Bagaimana caranya Anda menilai proses belajar siswa?.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. NARASUMBER. DAFTAR PERTANYAAN 6) Bagaimana caranya Anda menilai aspek sikap, pengetahuan, keterampilan, dan spiritual siswa? 7) Menurut Anda, bagaiman hasil belajar siswa selama ini? 8) Menurut Anda, bagaimana proses belajar siswa selama ini? 9) Kesulitan apa saja yang Anda temui dalam melakukan penilaian pada siswa?. 2) SISWA. 1) Menurut Anda, bagaimana cara gurumu mengajar di dalam kelas? Apakah Anda senang dengan cara mengajar gurumu tersebut? 2) Apakah kamu dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik? 3) Apa yang kamu lakukan jika diberi tugas oleh gurumu? 4) Dalam mengerjakan tugas, apakah kamu mengerjakannya secara individu atau berkelmpok? 5) Seberapa sering gurumu memberikan tugas? Dalam bentuk apa saja tugas yang diberikan? 6) Menurut Anda, apakah tugas-tugas tersebut dapat membantu Anda dalam memahami materi? 7) Menurut Anda, soal-soal yang diberikan oleh guru Anda susah atau tidak? 8) Apakah soal-soal tersebut sudah sesuai dengan materi pelajaran yang diberikan oleh guru Anda?. 29.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. NARASUMBER. 30. DAFTAR PERTANYAAN 9) Menurut Anda, bagaimana hasil belajar Anda selama ini?. 2. Observasi/pengamatan Menurut Suparno, pengamatan meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera (penciuman, pendengaran, peraba, pengecap, rekaman gambar, rekaman suara, dll). Pada penelitian ini menggunakan observasi sistematis, dimana observasi yang dilakukan menggunakan pedoman (daftar kegiatan dalam pengamatan).. Observasi/pengamatan. dilakukan. pada. saat. proses. pembelajaran di kelas berlangsung dan dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali. Fokus pengamatan diarahkan pada bagaimana guru mengajar di dalam kelas dan ativitas siswa di dalam kelas ketika proses belajar mengajar menggunakan pendekatan saintifik berlangsung. 3. Catatan Lapangan/Fieldnotes Menurut Bogdan dan Biklen di dalam buku Moeloeng, catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif (2009: 209). Pada proses pengamatan di dalam kelas, peneliti akan mencatat secara singkat hal-hal yang dianggap penting pada proses pengamatan tersebut. Catatan itu nantinya akan diubah ke dalam catatan yang lengkap dan dinamakan.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 31. catatan lapangan. Proses ini dilakukan setiap selesai melakukan pengamatan dan wawancara agar tidak tercampur dengan informasi lain dan ingatan sesorang itu sifatnya terbatas. 4. Dokumentasi Dokumentasi merupakan pengumpulan data-data lewat pengumpulan benda-benda tertulis seperti buku, majalah, dokumen, notulen catatan harian, daftar nilai, foto-foto, dll (Suparno, 2010: 64). Pada penelitian ini dokumen yang dikumpulkan berupa perangkat pembelajaran berupa soalsoal latihan dan soal-soal ulangan yang digunakan oleh guru untuk mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa..

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB IV DATA, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN. A. Data 1. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah menengah atas di Yogyakarta yaitu SMA P. Pembelajaran di sekolah ini menggunakan kurikulum KTSP. Peneliti mengambil data pada kelas XI IPA 1 yang berjumlah 27 siswa, dengan materi Fluida dan Termodinamika. Pada penelitian ini, subjeknya adalah guru fisika sedangkan objeknya adalah evaluasi pembelajaran fisika pada pendekatan saintifik dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran fisika. Penelitian ini dilakukan pada satu sekolah dan satu guru agar penelitian ini fokus dalam mengetahui evaluasi pembelajaran fisika pada pendekatan saintifik dalam pelaksanaan pembelajaran fisika. Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan observasi di sekolah sebanyak 2 kali. Hal ini dilakukan untuk melihat situasi siswa dan kelas. pada. saat. proses. pembelajaran. berlangsung,. serta. untuk. membiasakan siswa dengan keberadaan peneliti di dalam kelas. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam 2 bentuk, yaitu observasi di dalam kelas dan wawancara dengan guru dan siswa. Pelaksanaan observasi di dalam kelas dilakukan pada tanggal 4, 8, dan 11 Mei 2015.. 32.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 33. Pada pelaksanaan penelitian hari pertama, dilakukan di Ruang Laboratorium IPA disebabkan pada waktu tersebut siswa melakukan eksperimen terkait dengan materi tegangan permukaan. Pada pelaksaan observasi hari kedua dan ketiga, penelitian dilakukan di dalam kelas. Peneliti melakukan observasi dengan merekam proses pembelajarann dengan. menggunakan. Handycam.. Wawancara. guru. dilaksanakan. sebanyak 2 (dua) kali, yaitu sebelum pelaksanaan penelitian di dalam kelas (24 April 2015) dan sesudah pelaksanaan penelitian di dalam kelas (23 Mei 2015). Wawancara ini dilakukan di ruang tamu sekolah pada jam kosong guru agar guru merasa nyaman ketika diberi pertanyaan oleh peneliti. Sedangkan wawancara siswa dilakukan terhadap 2 (dua) siswi kelas XI IPA 1 pada tanggal 19 Mei 2015 di asrama kedua siswi itu tingga. Berikut rincian pelaksanaan penelitian: Tabel 4.1 Pelaksanaan Penelitian Kegiatan Observasi Pertemuan I Senin, 4 Mei 2015 pukul 12.00Praktikum Tegangan Permukaan 13.30 Membahas materi tentang Teori Pertemuan II Jumat, 8 Mei 2015 pukul Kinetik Gas Pertemuan III Latihan soal untuk mempersiapkan Senin, 11 Mei 2015 pukul 12.00ulangan harian 13.30 Kegiatan Wawancara Wawancara Guru Jumat, 24 April 2015 pukul Sesi I Sabtu, 23 Mei 2015 pukul Sesi II Selasa, 19 Mei 2015 pukul Wawancara Siswa.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 34. Setelah proses perekaman data di dalam kelas dan wawancara selesai, peneliti kemudian mendeskripsikan dan mengananalisis evaluasi pemebelajaran yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran, kemudian mentranskripnya. 2. Data Penelitian Data penelitian yang didapat dari rekaman wawancara dan rekaman video disalin dalam bentuk tulisan. Pembuatan transkripsi dilakukan peneliti dengan mengamati rekaman video pembelajaran dan rekaman wawancara terhadap guru dan siswi. Peneliti mengamati aktifitas guru dalam mengevaluasi pembelajaran. Transkrip wawancara terhadap guru dan siswa, serta transkirp rekaman video dapat dilihat pada lampiran 3, 4, dan 5.. B. Analisis dan Pembahasan 1. Aspek Evaluasi Sebagaimana disebutkan dalam Bab 2, implementasi pendekatan saintifik dalam evaluasi pembelajaran fisika dilakukan dalam 3 (tiga) aspek, yaitu kompetensi sikap (afektif), kompetensi pengetahuan (kognitif), dan kompetensi keterampilan (psikomotorik). Di dalam penelitian ini, guru memahami tentang hal tersebut. Hal ini dapat terlihat dari pernyataan guru sebagai berikut: “Kan penilaian fisika psikomotorik. Ada 3.”. itu. ada. koginitif,. sikap,. dan.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 35. Berikut uraian pemahaman guru tentang aspek-aspek yang dinilai pada siswa: a. Kompetensi pengetahuan (kognitif) Guru menilai kompetensi kognitif siswa dari ulangan, baik ulangan harian, ulangan tengah semester, maupun ulangan akhir semester. Berikut kutipan pernyataan guru: “Kalau kognitifkan ulangan to nak.“ Ulangan harian sendiri dilakukan setiap satu KD (Kompetensi Dasar) selesai dipelajari. Berikut kutipan pernyataan guru yang menyatakan hal tersebut: “Tetapi ketika ulangan, sudah banyak rumus. Karena satu KD harus ulangan.” Menurut guru, mata pelajaran fisika adalah yang paling sering mengadakan ulangan harian. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara guru untuk memaksa siswanya belajar ditengah keaktifan siswa yang semakin tahun semakin menurun. Berikut merupakan hasil analisis soal-soal yang diberikan oleh guru kepada siswa menurut taksonomi Bloom: Tabel 4.2 Rekap Analisis Soal berdasarkan Taksonomi Bloom NO 1 2 3 4 5 6. TINGKATAN Mengingat (C1) Memahami (C2) Menerapkan (C3) Menganalisis (C4) Mengevaluasi (C5) Mencipta (C6). BANYAKNYA SOAL 3 19 8 0 0 0.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 36. Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dalam pembuatan soal, guru hanya membuat kemampuan pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi siswa. Di mana menurut taksonomi Bloom, ketiga kemampuan tersebut berada dalam tingkatan yang lebih rendah. Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa dalam melakukan evaluasi, guru tidak melakukan evaluasi secara mendalam pada kemampuan kognitif siswa. Hal ini terlihat dari penilaian yang hanya dilakukan dalam bentuk ulangan dan soal-soal yang dibuat oleh guru pun memiliki tingkatan yang rendah. Hal ini mengakibatkan, guru tidak mampu menilai kemampuan siswa secara mendalam dan siswa pun tidak bisa mengetahui dan mengasah kemampuannya dalam mata pelajaran fisika. Padahal bisa saja siswa memiliki tingkat kemampuan yang lebih tinggi, di atas tingkatan kemampuan menerapkan (C3). b. Kompetensi sikap (afektif) Guru menilai kompetensi sikap siswa pada saat praktikum dengan mengacu pada 3 (tiga) hal, yaitu A bila sikap siswa sangat baik, B bila sikap siswa baik, dan C bila sikap siswa cukup. Pada saat praktikum, guru menilai sikap kedisiplinan pada siswa. Siswa yang melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang telah disepakati, masuk dalam kriteria sikap siswa yang sangat baik. Sedangkan siswa yang melakukan praktikum tidak sesuai dengan prosedur yang telah disepakati maka masuk dalam kriteria sikap siswa yang cukup. Berikut kutipan wawancara terkait dengan hal tersebut:.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 37. P :…….. Penilaian afektifnya itu seperti apa? G : penilaian sikap itu kan kita hanya mengacu pada A itu sangat baik B baik C cukup. Hanya itu nilainya. P : yang termasuk kriteria baik, kurang baik itu seperti apa dalam mata pelajaran fisika? G : kriteria anak dikatakan, maaf ya nak, ketika anak praktek dikatakan baik atau sangat baik atau cukup, kriterianya, , ketika anak mengerjakan sesuai prosedur. Loh, ya baik. Di kelas 2 pertama kali masuk sudah diterangkan kalau praktikum, ruangannya dalam keadaan bersih, jika nanti meninggalkan juga dalam keadaan bersih. Alat ditata rapi, itukan sudah perjanjian di awal. Nanti ditinggalkan ya rapi. Tidak boleh dikumpulkan, diletakkan di meja masingmasing. Itu kan sudah perjanjian di awal ya nak. Pak Guru kan nanti, anak meninggalkan ruangan Pak Guru kan masih di sana, kan bisa melihat, oh ini …. Itu mengenai sikap. Selain sikap kedisiplinan siswa, guru juga memperhatikan motivasi siswa dalam belajar. Dalam hal ini, guru menilai bahwa motivasi siswa dalam belajar saat ini sangat kurang. Hal ini terlihat ketika siswa diberi soal yang agak sulit, maka siswa akan menyerah begitu saja. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara dengan guru sebagai berikut: “Maka saya mengamati ketika anak-anak tidak mau mencoba, hanya sebatas yang diberikan guru, itu ya sangat amat kurang. Padahal yang diberikan guru itu hanya seberapa ya, P? Sedikit. Maka, belajar paling banyak itu dari anak mencoba, kekurangannya, yang tidak tahu baru ditanyakan, tapi sebaliknya. Belum pernah mencoba, bahkan – maaf ya – diberi soal sedikit berbeda, soal mudah anak mau mengerjaakan, tetapi ketika sulit sedikit anak tidak mau mencoba. Nah, kelemahannya di situ. Tidak mau mencoba. Kalau yang dulu-dulu itu, kalau ada yang sulit itu adalah tantangan. Ngotak-atik ngotak-atik. Sekarang enggak. Di tinggal, rame. Begitu pula dengan soal ulangan, padahal untuk mencari nilai. Ketika mudah dikerjakan, tetapi ketika sulit ya tidak dikerjakan.”.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 38. Selain motivasi belajar siswa, guru pun sangat memperhatikan keaktifan siswa pada saat PBM. Menurut guru, ketika siswa sudah memiliki sifat apatis, maka untuk meningkatkan keaktifan siswa pun sulit. Salah satu cara yang digunakan oleh guru adalah dengan memaksa siswa belajar dengan mengadakan ulangan. Ketika akan menghadapi ulangan, maka mau tidak mau siswa menyiapkan ulangan tersebut dengan belajar. Berikut kutipan hasil wawancara dengan guru terkait dengan hal tersebut: P : Kira-kira kegiatan bapak, untuk mengaktifkan siswa bagaimana caranya bapak ? G : Cara mengaktifkan siswa itu ya ketika anak tidak apatis sulit betul tetapi ketika anak memang punya keinginan untuk maju itu lebih enak. P : Lalu bagaimana cara bapak untuk mengaktifkan siswa? G : loh kita liat bagaimana mengaktifkan kan situasional menurut saya lo ya, tidak bisa misalkan harus menjadi sama semua caranya. ……. Tetapi menjadi ketika anak sudah mulai apatis sudah mulai jenuh atau anak nah,,,, ya,,, diberi semangat. Mengaktifkan itu menurut saya gini ya liat kondisi kemudian kalo anak biarkan anak mau belajar fisika ya harus di paksa jujur, harus dipaksa. Anak kalau tidak dipaksa untuk belajar maaf ya nanti gak mau belajar saya itu sampe jelek. Fisika tu ulangan paling sering harapannya ya satu memaksa anak untuk mau belajar. Selain sikap kedisiplinan, motivasi belajar, dan keaktifan siswa, dalam menilai kompetensi afektif siswa, guru pun memperhatikan perhatian siswa ketika belajar di kelas. Guru menilai sikap perhatian siswa ketika belajar dengan memberikan penghargaan kepada siswa yang benar-benar memperhatikan pada saat pelajaran dan mau mengerjakan tugas di depan kelas. Namun, lama kelamaan cara seperti.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 39. itu tidak efektif dalam menilai sikap siswa karena yang maju ke depan kelas hanya beberapa siswa saja dan siswa yang itu-itu saja. Berikut kutipan wawancara dengan guru terkait dengan hal tersebut: “ Kalo saya lebih baik ulangan atau yang kedua, Pak Guru juga menghormati tugas anak, artinya ada tugas ya kita hormati. Ketika tugas tidak pernah dihormati atau tidak pernah dinilai yakin, tidak bakal dikerjakan anak. Kadang malah menjadi, ketika mengerjakan apapun ya harus dihormati, bahkan harus dinilai. Anak yang maju pun saya beri nilai, tetapi lama kelamaan gak praktis. Karena yang mau maju itu ya anak-anak yang pintar, ya hanya itu-itu saja. Dulu pernah saya lakukan model itu anak yang maju saya nilai, tapi itu saya beri kesepakatan awal, anak yang maju saya hormati saya beri nilai benar saya beri nilai 100.” Guru pun memperhatikan sikap kejujuran siswa ketika anak mengerjakan ulangan. Ketika siswa ketahuan menyontek, maka siswa tersebut mendapat nilai afektif yang jelek. Sedangkan siswa yang mengerjakan dengan jujur, maka siswa tersebut mendapat nilai afektif yang bagus pula. Dalam penilaian, guru memperhatikan aspek kemampuan afektif siswa sebagai salah satu upaya dalam pembentukan karakter siswa. Namun, tuntutan dari orang tua untuk mendapat nilai yang baik (dalam bentuk angka) menjadikan siswa melakukan kegiatan menyontek untuk mendapatkan nilai yang selalu bagus, sehingga siswa pun tidak memperdulikan penilaian afektif. Berikut kutipan hasil wawancara dengan guru terkait dengan hal tersebut:.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 40. “Anak ulangan jujur, ya afektifnya bagus. Ulangan nyontek, afektifnya sudah jelek kok. Tapi kadang anak kan tidak senang kalau nilai kognitif jelek. Yang dipampangkan nilai kognitifnya, 80, 90, 100. Lupa kalau afektif itu kan sangat penting sekali untuk pembentukan karakter. Ulangan tidak diamati, semua jujur. Ya lebih bagus begitu, dibandingkan nilainya 10-10 tapi sikapnya jelek. Makanya begitu nak. Afektifnya pentingya di situ. Tapi ya orang tua dan anak, oh lebih penting nilainya 100.” Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa menilai aspek kemampuan afektif siswa, guru memperhatikan sikap kedisiplinan siswa, motivasi. belajar siswa, keaktifan. siswa ketika PBM. berlangsung, perhatian siswa ketika belajar, dan sikap kejujuran siswa. c. Kompetensi keterampilan (psikomotorik) Guru menilai kompetensi psikomotorik siswa dari kegiatan praktikum. Praktikum diadakan agar guru tidak hanya menilai siswa dari aspek kognitif saja, namun juga dari aspek psikomotorik siswa. Karena berdasarkan analisis guru, terdapat beberapa siswa yang rendah nilainya pada penilaian kompetensi kogintif, namun ketika mengikuti kegiatan praktikum, siswa tersebut dapat melakukan kegiatan praktikum dan mengikuti PBM dengan baik. Melihat hal ini guru pun sangat menghargai usaha siswa yang bersungguh-sungguh pada saat praktikum. Berikut kutipan wawancara terkait dengan hal tersebut: G : kalau dalam pembuatan nilai itu kan kalau praktikum itu ranahnya masuk ketrampilan. P : hmm…masuknya psikomotorik? G : he’e psikomotorik. Maka psikomotorik itu diambil dari yang praktek. Kemudian kalau nilai pengetahuan, kognitif itu kan ulangan harian itu. nah,… Karena ada begini, bisa anak itu nanti yang pandai tetapi ga suka.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 41. praktek. Ada anak IPA sini tu kalau fisika harian itu jelek, tapi kalau praktikum sungguh-sungguh. Loh maka yang terjadi adalah bahwa nilai kognitifnya rendah, psikomotoriknya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang pandai. Pak Guru akan menghormati itu. loh betul noh, pada saat praktek sungguh-sungguh, loh bagus betul kok. Guru berharap bahwa dengan adanya kegiatan praktikum dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan sikap kritis di dalam diri siswa, sehingga siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri. Dari rasa ingin tahu itu diharapkan muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa penasaran. Dalam hal ini, guru membantu siswa menjawab pertanyan tersebut dengan membimbing siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan umpan agar siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan sendirinya. Hal ini membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Dengan menjawab pertanyaan yang muncul dari rasi ingin tahu, siswa dapat lebih mengingat materi yang dipelajarinya tersebut. Selain membangun rasa ingin tahu pada siswa, guru juga berharap bahwa dapat tumbuh sikap kritis pada siswa atas peristiwa yang terjadi pada saat melakukan kegiatan praktikum. Namun pada kenyataannya sikap kritis itu tidak muncul pada siswa saat kegiatan praktikum berlangsung. Peneliti melihat, siswa hanya melakukan kegiatan praktikum sesuai dengan langkah kerja yang tertulis pada LKS (Lembar Kerja Siswa) dan menuliskannya dalam laporan. Dalam menjawab pertanyaan, kebanyakan siswa hanya mencari jawabannya.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 42. lewat buku lalu menyalinnya. Berikut kutipan wawancara dengan guru terkait dengan harapannya dalam kegiatan praktikum: “Sebenernya yang saya inginkan ke anak itu adalah mengapa kok tidak tenggelam padahal logikanya massa jenis jarum lebih besar. Saya membaca beberapa anak ternyata adalah sebelum belajar ke tegangan permukaan massa jenis jarum tu lebih kecil daripada massa jenis air. Konsep itu masih melekat pada diri anak-anak ketika bicara benda mengapung, melayang dan tenggelam. Nah kadang-kadang itu mengecoh betul konsep yang sudah diterima mengapung, melayang dan tenggelam ternyata apa kadang-kadang pada diri anak bisa terkecoh pada tegangan permukaan. Beberapa anak sebenarnya pak guru ingin menggali kekritisan anak. Apakah betul teori mengapung itu, saya juga beralasan kalo seperti itu teori mengapung, melayang itu patah dalam praktik anak-anak. Tetapi kan anak kadang-kadang susah penasaran. Sebenernya Pak P hanya ingin mengajarkan dengan percobaan sederhana itu anak berpikir kritis tidak ada faktor menerima.” Dari observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada saat kegiatan praktikum berlangsung, guru mendampingi siswa dengan mendatangi setiap kelompok. Dalam masing-masing kelompok, guru mengkonfirmasi. dan. membimbing. siswa. dalam. membentuk. pengetahuannya. Seperti, guru menanyakan mengapa peristiwa jarum mengapung bisa terjadi. Ketika siswa menjawabnya dengan salah, guru mengarahkan siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang. mengarah. pada. jawaban. yang. sebenarnya.. Guru. pun. menyarankan siswa untuk mencari jawabannya dengan mencari bahan referensi lain lewat internet. Dengan cara tersebut, peneliti melihat siswa pun dapat memberikan alasan yang tepat atas peristiwa yang terjadi pada saat praktikum. Namun, ada beberapa siswa pula yang.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 43. hanya mencari jawabannya di buku lalu menyalinnya. Peneliti pun melihat dari hasil laporan praktikum yang telah dibuat siswa, terdapat satu kelompok yang masih salah konsep dalam menjawan pertanyaan. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa siswa belum memiliki sikap kritis ketika menemukan suatu gejala fisika. Dalam kegiatan praktikum, siswa hanya melakukan kegiatan sesuai dengan langkah kerja yang tertulis pada LKS, menuliskan apa yang terjadi pada saat kegiatan praktikum, dan menjawab pertanyaan dengan hanya mencari jawabannya dari buku cetak. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa guru menilai kemampuan psikomotorik siswa lewat kegiatan praktikum. Dalam kegiatan tersebut, guru melihat bagaimana siswa memiliki rasa ingin tahu yang lebih atas gejala fisika yang terjadi pada saat kegiatan praktikum berlangsung dan bagaimana siswa mencari jawaban yang tepat atas rasa ingin tahunya tersebut. Selain itu, guru pun melihat dan mencoba membangun sikap kritis pada siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing. Dengan cara tersebut diharapkan. siswa. dapat. membangun. pengetahuannya. sendiri.. Walaupun pada kenyataanya, peneliti tidak melihat tumbuh sikap seperti itu pada siswa, hanya beberapa siswa saja yang memiliki rasa ingin tahu dan sikap kritis namun belum begitu dalam..

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 44. 2. Teknik Evaluasi Di dalam Permendikbud No. 66 Tahun 2013 sudah diatur teknik-teknik yang harus diperhatikan pada penilaian seperti yang sudah dijelaskan pada Bab 2. Berikut teknik-teknik penilaian yang dilakukan guru SMA P di dalam proses belajar mengajar fisika di kelas: a. Penilaian kompetensi pengetahuan (kognitif) Guru melakukan penilaian kompetensi kognitif siswa hanya dalam bentuk penilain, yaitu ulangan. Ulangan yang diberikan pun dalam bentuk pilihan ganda dan uraian. Dalam hal ini guru kurang dapat mengeksplorasi. kemampuan. siswa.. Padahal. dalam. penilaian. kompetensi kognitif siswa, guru bisa melakukannya dalam bentuk lain selain tes tertulis. Selain guru dapat melihat kemampuan kognitif siswa secara keseluruhan, hal tersebut juga dapat mendorong siswa untuk meingkatkan kemampuannya. Berikut kutipan wawancara yang terkait dengan hal tersebut: P : kalo suruh mecahin masalah gitu, suruh buat proyek apa kira-kira kayak seumpama eee suruh buat essay tentang pemanasan global atau apa gitu? S 1 : gak pernah. P : buat makalah gitu? S 2 : enggak. S 1 : Cuma laporan doang. S 2 : laporan abis praktek. P : PR PR gitu? S 2 : PR di pak X jarang kok ngasih PR mbak. P : berarti tugas-tugas tuh jarang ya? S 2 : tugas tuh palin g satu nomor dia bacain, abis itu suruh kerjain, nah udah gitu, paling langsung ulangan ulangan harian dia sistemnya..

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 45. Selain itu, guru pun jarang memberikan tugas baik secara individu maupun. kelompok.. Menurut. pengakuan. siswi. yang. telah. diwawancarai, guru pernah mengadakan diskusi ketika semester 1, pada saat itu sedang diberlakukan Kurikulum 2013 yang menuntut sistem pembelajarannya seperti itu. Setelah semester 2 dan kurikulum yang digunakan kembali ke KTSP, guru tidak pernah lagi mengadakan diskusi kelompok. Padahal dengan dengan adanya diskusi kelompok, siswa mengaku lebih dapat mengikuti PBM dengan baik dan lebih memahami materi dengan baik. Berikut hasil wawancara dengan siswa terkait hal tersebut: P : Suka ada belajar kelompok kah? S2 : Dulu ya? S1 : Dulu sih sempet berapa kali belajar kelompok ya. Pas itu, pas sistem kurikulum 2013. Nah itu belajar S1 : Ya semester 1. P : Itu belajar kelompok? S1 : Karena memang sistemnya kan belajar kelompok mbak. P : Nah pas itu malah kalian lebih ngerti? S1 : Iya. Lebih paham. Maksudnya, oh kaya gini. Dari hasil observasi yang telah dilakukan, guru terkadang memberikan beberapa soal latihan ketika PBM berlangsung. Soal latihan tersebut langsung dikerjakan dan dibahas pada saat itu juga. Ketika ada siswa yang bisa mengerjakan, maka siswa itu ditunjuk untuk mengerjakannya di papan tulis tanpa membahasnya lagi bersama-sama dengan siswa yang lain. Namun tidak jarang siswa sama sekali tidak ada yang bisa mengerjakannya. Akhirnya guru pun langsung mengerjakan soal latihan tersebut di depan kelas sambil.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 46. menjelaskannya kepada para siswa. Berikut hasil wawancara dengan siswa terkait hal tersebut: P : kemaren kan dikasih soal latihan, trus itu misalkan itu ehh, yang ngerjaain itu, misalnya itu suka dibahas gak? S2 : dibahas... S1 : Dibahas. Jadi misalnya anak ini maju, misal saya maju, yaudah gitu. Ya itu jawabannya. P : temen-temen kalian yang ngerjain di depan? Atau bapaknya yang malah ngerjain sendiri. S1 : Kadang kalau ada yang tau ya? S2 : He.eh… S1 : Paling si R yang maju. Kalau enggak… S2 : Misalkan kami nanya. “Pak, ini bagaimana pak?” “Jadi gini, nak” Akhirnya dia yang ngerjain di depan. Sebelum memberikan ulangan harian, biasanya guru memberikan beberapa soal latihan dulu kepada siswa. Soal latihan tersebut dikerjakan oleh siswa baik secara individu maupun kelompok, setelah itu dibahas bersama-sama di kelas. Soal-soal ulangan harian yang digunakan diambil beberapa dari soal latihan yang telah dikerjakan siswa sebelumnya. Hal ini tidak hanya berlaku pada saat ulangan harian saja, pada saat ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester pun berlaku hal yang sama. Dengan sistem seperti ini, siswa sangat dimudahkan untuk memperoleh nilai yang bagus ketika ulangan. Tapi mereka juga merasa tetap tidak mengerti dengan materi yang dipelajarinya karena ketika mengerjakan ulangan hanya mengandalkan hafalan saja atas apa yang sudah dikerjakan di soal latihan sebelumnya tanpa mengerti konsep yang sesungguhnya. Berikut hasil wawancara dengan siswa terkait dengan hal tersebut:.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 47. P. : Terus, Bapak kan sebelum ngasih ulangan selalu ngasih latihan soal. S1 & S2 : Kadang. S1 : Kadang kalau lagi rajin dia mungkin ngasih 20 nomor. Kadang ngerjain ini, nak. Nanti saya kasih 8 soal di ulangan. P : Tapi 8 soal itu pasti keluar dari situ? S1 : Iya keluar. Pak X itu enaknya, sistemnya dia ulangan, UKK, UTS, kaya ulangan-ulangan harian dia ngasih soal, pasti keluar dari situ. Paling beda angka. S2 : He.eh iya. Kadang dia ngasih latihan, terus keluar. S1 : Kalau UKK itu dia cuma jiplak dari tahun lalu, terus kita disuruh ngerjain. P : Enak ya kalau gitu? S2 : Ya enak mbak. Tapi tetep aja gak ngerti. Hafalan kan jadinya. Oh ini, jawaban tadi malam ini. Yaudah kertas buramnya bersih. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menilai kemampuan kognitif siswa, guru hanya menggunakan 1 teknik penilaian saja, yaitu tes tertulis. Tes tertulis tersebut digunakan dalam ulangan harian, UTS, dan UAS. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada variasi atau pengembangan dalam penggunaan instrumen penilaian yang dilakukan oleh guru dalam menilai kemampuan kognitif siswa. Penilaian kemampuan kognitif siswa, bisa dilakukan dalam bentuk lain, seperti tes lisan dan penugasan. Dengan melakukan variasi pada instrumen penilaian, guru dapat lebih menilai kemampuan siswa secara mendalam dan siswa pun dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitifnya..

Gambar

Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan untuk Instrumen Wawancara Penelitian  tentang Implementasi Pendekatan Saintifk dalam Evaluasi pada Mata
Tabel 4.1 Pelaksanaan Penelitian  Kegiatan Observasi
Tabel 4.2 Rekap Analisis Soal berdasarkan Taksonomi Bloom
Tabel 4.3 Daftar Nilai Laporan Praktikum
+2

Referensi

Dokumen terkait

psikologis para penyintas bencana Gunung Sinabung yang dikenai status relokasi.. Spiritualitas adalah salah satu bagian dari kekuatan karakter individu,

adalah suatu stimulasi non-personal terhadap permintaan suatu produk, jasa atau unit dagang dengan berita-berita komersial yang penting mengenai kebutuhan akan

Peternak tidak memberikan konsentrat, karena sulit diperoleh di daerah setempat, padahal berdasarkan Duldjaman (2004) penambahan konsentrat, seperti am- pas tahu, di dalam

Jumlah Calon Penyedia Jasa Konsultansi yang LULUS daftar pendek berdasarkan Pembuktian Kualifikasi sebanyak 5 (lima) perusahaan, antara lain :. Jumlah Calon Penyedia Jasa

Untuk memberi motivasi kepada siswa, guru menyampaikan manfaat mempelajari menerapkan operasi hitung bilangan bulat dengan memanfaatkan berbagai operasi

NAMA PERUSAHAAN ALAMAT NPWP Nilai Teknis1. ARCHI VI L ENGI

PADA SATUAN KERJA PENGADILAN NEGERI SINTANG TAHUN ANGGARAN 2016 ULP DI EMPAT LINGKUNGAN PERADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK.. INDONESIA KOORDINATOR WILAYAH KALIMANTAN BARAT

gelar Sarjana Sains ini penulis beri judul “ Evaluasi Keselamatan Reaktor Ditinjau dari Nilai Shutdown Margins dan Potensi Produksi Molybdenum -99 ( pada Sistem Subcritical