BAB IV DATA, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN
B. Analisis dan Pembahasan
1. Aspek Evaluasi
Sebagaimana disebutkan dalam Bab 2, implementasi pendekatan
saintifik dalam evaluasi pembelajaran fisika dilakukan dalam 3 (tiga)
aspek, yaitu kompetensi sikap (afektif), kompetensi pengetahuan
(kognitif), dan kompetensi keterampilan (psikomotorik). Di dalam
penelitian ini, guru memahami tentang hal tersebut. Hal ini dapat terlihat
dari pernyataan guru sebagai berikut:
“Kan penilaian fisika itu ada koginitif, sikap, dan psikomotorik. Ada 3.”
Berikut uraian pemahaman guru tentang aspek-aspek yang dinilai pada
siswa:
a. Kompetensi pengetahuan (kognitif)
Guru menilai kompetensi kognitif siswa dari ulangan, baik ulangan
harian, ulangan tengah semester, maupun ulangan akhir semester.
Berikut kutipan pernyataan guru:
“Kalau kognitifkan ulangan to nak.“
Ulangan harian sendiri dilakukan setiap satu KD (Kompetensi Dasar)
selesai dipelajari. Berikut kutipan pernyataan guru yang menyatakan
hal tersebut:
“Tetapi ketika ulangan, sudah banyak rumus. Karena satu KD harus ulangan.”
Menurut guru, mata pelajaran fisika adalah yang paling sering
mengadakan ulangan harian. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara
guru untuk memaksa siswanya belajar ditengah keaktifan siswa yang
semakin tahun semakin menurun.
Berikut merupakan hasil analisis soal-soal yang diberikan oleh
guru kepada siswa menurut taksonomi Bloom:
Tabel 4.2 Rekap Analisis Soal berdasarkan Taksonomi Bloom
NO TINGKATAN BANYAKNYA SOAL 1 Mengingat (C1) 3 2 Memahami (C2) 19 3 Menerapkan (C3) 8 4 Menganalisis (C4) 0 5 Mengevaluasi (C5) 0 6 Mencipta (C6) 0
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dalam pembuatan soal, guru
hanya membuat kemampuan pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi
siswa. Di mana menurut taksonomi Bloom, ketiga kemampuan
tersebut berada dalam tingkatan yang lebih rendah.
Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa dalam melakukan
evaluasi, guru tidak melakukan evaluasi secara mendalam pada
kemampuan kognitif siswa. Hal ini terlihat dari penilaian yang hanya
dilakukan dalam bentuk ulangan dan soal-soal yang dibuat oleh guru
pun memiliki tingkatan yang rendah. Hal ini mengakibatkan, guru
tidak mampu menilai kemampuan siswa secara mendalam dan siswa
pun tidak bisa mengetahui dan mengasah kemampuannya dalam mata
pelajaran fisika. Padahal bisa saja siswa memiliki tingkat kemampuan
yang lebih tinggi, di atas tingkatan kemampuan menerapkan (C3).
b. Kompetensi sikap (afektif)
Guru menilai kompetensi sikap siswa pada saat praktikum dengan
mengacu pada 3 (tiga) hal, yaitu A bila sikap siswa sangat baik, B bila
sikap siswa baik, dan C bila sikap siswa cukup. Pada saat praktikum,
guru menilai sikap kedisiplinan pada siswa. Siswa yang melakukan
praktikum sesuai dengan prosedur yang telah disepakati, masuk dalam
kriteria sikap siswa yang sangat baik. Sedangkan siswa yang
melakukan praktikum tidak sesuai dengan prosedur yang telah
disepakati maka masuk dalam kriteria sikap siswa yang cukup. Berikut
P :…….. Penilaian afektifnya itu seperti apa?
G : penilaian sikap itu kan kita hanya mengacu pada A itu sangat baik B baik C cukup. Hanya itu nilainya. P : yang termasuk kriteria baik, kurang baik itu seperti
apa dalam mata pelajaran fisika?
G : kriteria anak dikatakan, maaf ya nak, ketika anak praktek dikatakan baik atau sangat baik atau cukup, kriterianya, , ketika anak mengerjakan sesuai prosedur. Loh, ya baik. Di kelas 2 pertama kali masuk sudah diterangkan kalau praktikum, ruangannya dalam keadaan bersih, jika nanti meninggalkan juga dalam keadaan bersih. Alat ditata rapi, itukan sudah perjanjian di awal. Nanti ditinggalkan ya rapi. Tidak boleh dikumpulkan, diletakkan di meja masing-masing. Itu kan sudah perjanjian di awal ya nak. Pak Guru kan nanti, anak meninggalkan ruangan Pak
Guru kan masih di sana, kan bisa melihat, oh ini ….
Itu mengenai sikap.
Selain sikap kedisiplinan siswa, guru juga memperhatikan motivasi
siswa dalam belajar. Dalam hal ini, guru menilai bahwa motivasi siswa
dalam belajar saat ini sangat kurang. Hal ini terlihat ketika siswa diberi
soal yang agak sulit, maka siswa akan menyerah begitu saja. Hal ini
dapat dilihat dari kutipan wawancara dengan guru sebagai berikut:
“Maka saya mengamati ketika anak-anak tidak mau mencoba, hanya sebatas yang diberikan guru, itu ya sangat amat kurang. Padahal yang diberikan guru itu hanya seberapa ya, P? Sedikit. Maka, belajar paling banyak itu dari anak mencoba, kekurangannya, yang tidak tahu baru ditanyakan, tapi sebaliknya. Belum pernah mencoba, bahkan – maaf ya – diberi soal sedikit berbeda, soal mudah anak mau mengerjaakan, tetapi ketika sulit sedikit anak tidak mau mencoba. Nah, kelemahannya di situ. Tidak mau mencoba. Kalau yang dulu-dulu itu, kalau ada yang sulit itu adalah tantangan. Ngotak-atik ngotak-atik. Sekarang enggak. Di tinggal, rame. Begitu pula dengan soal ulangan, padahal untuk mencari nilai. Ketika mudah dikerjakan, tetapi ketika
Selain motivasi belajar siswa, guru pun sangat memperhatikan
keaktifan siswa pada saat PBM. Menurut guru, ketika siswa sudah
memiliki sifat apatis, maka untuk meningkatkan keaktifan siswa pun
sulit. Salah satu cara yang digunakan oleh guru adalah dengan
memaksa siswa belajar dengan mengadakan ulangan. Ketika akan
menghadapi ulangan, maka mau tidak mau siswa menyiapkan ulangan
tersebut dengan belajar. Berikut kutipan hasil wawancara dengan guru
terkait dengan hal tersebut:
P : Kira-kira kegiatan bapak, untuk mengaktifkan siswa bagaimana caranya bapak ?
G : Cara mengaktifkan siswa itu ya ketika anak tidak apatis sulit betul tetapi ketika anak memang punya keinginan untuk maju itu lebih enak.
P : Lalu bagaimana cara bapak untuk mengaktifkan siswa?
G : loh kita liat bagaimana mengaktifkan kan situasional menurut saya lo ya, tidak bisa misalkan harus menjadi
sama semua caranya. ……. Tetapi menjadi ketika
anak sudah mulai apatis sudah mulai jenuh atau anak nah,,,, ya,,, diberi semangat. Mengaktifkan itu menurut saya gini ya liat kondisi kemudian kalo anak biarkan anak mau belajar fisika ya harus di paksa jujur, harus dipaksa. Anak kalau tidak dipaksa untuk belajar maaf ya nanti gak mau belajar saya itu sampe jelek. Fisika tu ulangan paling sering harapannya ya satu memaksa anak untuk mau belajar.
Selain sikap kedisiplinan, motivasi belajar, dan keaktifan siswa,
dalam menilai kompetensi afektif siswa, guru pun memperhatikan
perhatian siswa ketika belajar di kelas. Guru menilai sikap perhatian
siswa ketika belajar dengan memberikan penghargaan kepada siswa
yang benar-benar memperhatikan pada saat pelajaran dan mau
itu tidak efektif dalam menilai sikap siswa karena yang maju ke depan
kelas hanya beberapa siswa saja dan siswa yang itu-itu saja. Berikut
kutipan wawancara dengan guru terkait dengan hal tersebut:
“ Kalo saya lebih baik ulangan atau yang kedua, Pak Guru juga menghormati tugas anak, artinya ada tugas ya kita hormati. Ketika tugas tidak pernah dihormati atau tidak pernah dinilai yakin, tidak bakal dikerjakan anak. Kadang malah menjadi, ketika mengerjakan apapun ya harus dihormati, bahkan harus dinilai. Anak yang maju pun saya beri nilai, tetapi lama kelamaan gak praktis. Karena yang mau maju itu ya anak-anak yang pintar, ya hanya itu-itu saja. Dulu pernah saya lakukan model itu anak yang maju saya nilai, tapi itu saya beri kesepakatan awal, anak yang maju saya hormati saya beri nilai benar
saya beri nilai 100.”
Guru pun memperhatikan sikap kejujuran siswa ketika anak
mengerjakan ulangan. Ketika siswa ketahuan menyontek, maka siswa
tersebut mendapat nilai afektif yang jelek. Sedangkan siswa yang
mengerjakan dengan jujur, maka siswa tersebut mendapat nilai afektif
yang bagus pula. Dalam penilaian, guru memperhatikan aspek
kemampuan afektif siswa sebagai salah satu upaya dalam pembentukan
karakter siswa. Namun, tuntutan dari orang tua untuk mendapat nilai
yang baik (dalam bentuk angka) menjadikan siswa melakukan kegiatan
menyontek untuk mendapatkan nilai yang selalu bagus, sehingga siswa
pun tidak memperdulikan penilaian afektif. Berikut kutipan hasil
“Anak ulangan jujur, ya afektifnya bagus. Ulangan nyontek, afektifnya sudah jelek kok. Tapi kadang anak kan tidak senang kalau nilai kognitif jelek. Yang dipampangkan nilai kognitifnya, 80, 90, 100. Lupa kalau afektif itu kan sangat penting sekali untuk pembentukan karakter. Ulangan tidak diamati, semua jujur. Ya lebih bagus begitu, dibandingkan nilainya 10-10 tapi sikapnya jelek. Makanya begitu nak. Afektifnya pentingya di situ. Tapi ya orang tua dan anak, oh lebih penting nilainya
100.”
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa menilai aspek
kemampuan afektif siswa, guru memperhatikan sikap kedisiplinan
siswa, motivasi belajar siswa, keaktifan siswa ketika PBM
berlangsung, perhatian siswa ketika belajar, dan sikap kejujuran siswa.
c. Kompetensi keterampilan (psikomotorik)
Guru menilai kompetensi psikomotorik siswa dari kegiatan
praktikum. Praktikum diadakan agar guru tidak hanya menilai siswa
dari aspek kognitif saja, namun juga dari aspek psikomotorik siswa.
Karena berdasarkan analisis guru, terdapat beberapa siswa yang rendah
nilainya pada penilaian kompetensi kogintif, namun ketika mengikuti
kegiatan praktikum, siswa tersebut dapat melakukan kegiatan
praktikum dan mengikuti PBM dengan baik. Melihat hal ini guru pun
sangat menghargai usaha siswa yang bersungguh-sungguh pada saat
praktikum. Berikut kutipan wawancara terkait dengan hal tersebut:
G : kalau dalam pembuatan nilai itu kan kalau praktikum itu ranahnya masuk ketrampilan.
P : hmm…masuknya psikomotorik?
G : he’e psikomotorik. Maka psikomotorik itu diambil dari yang praktek. Kemudian kalau nilai pengetahuan,
kognitif itu kan ulangan harian itu. nah,… Karena ada
praktek. Ada anak IPA sini tu kalau fisika harian itu jelek, tapi kalau praktikum sungguh-sungguh. Loh maka yang terjadi adalah bahwa nilai kognitifnya rendah, psikomotoriknya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang pandai. Pak Guru akan menghormati itu. loh betul noh, pada saat praktek sungguh-sungguh, loh bagus betul kok.
Guru berharap bahwa dengan adanya kegiatan praktikum dapat
menumbuhkan rasa ingin tahu dan sikap kritis di dalam diri siswa,
sehingga siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri. Dari rasa
ingin tahu itu diharapkan muncul pertanyaan-pertanyaan yang
membuat siswa penasaran. Dalam hal ini, guru membantu siswa
menjawab pertanyan tersebut dengan membimbing siswa dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan umpan agar siswa dapat menjawab
pertanyaan tersebut dengan sendirinya. Hal ini membantu siswa dalam
membangun pengetahuannya sendiri. Dengan menjawab pertanyaan
yang muncul dari rasi ingin tahu, siswa dapat lebih mengingat materi
yang dipelajarinya tersebut.
Selain membangun rasa ingin tahu pada siswa, guru juga berharap
bahwa dapat tumbuh sikap kritis pada siswa atas peristiwa yang terjadi
pada saat melakukan kegiatan praktikum. Namun pada kenyataannya
sikap kritis itu tidak muncul pada siswa saat kegiatan praktikum
berlangsung. Peneliti melihat, siswa hanya melakukan kegiatan
praktikum sesuai dengan langkah kerja yang tertulis pada LKS
(Lembar Kerja Siswa) dan menuliskannya dalam laporan. Dalam
lewat buku lalu menyalinnya. Berikut kutipan wawancara dengan guru
terkait dengan harapannya dalam kegiatan praktikum:
“Sebenernya yang saya inginkan ke anak itu adalah
mengapa kok tidak tenggelam padahal logikanya massa jenis jarum lebih besar. Saya membaca beberapa anak ternyata adalah sebelum belajar ke tegangan permukaan massa jenis jarum tu lebih kecil daripada massa jenis air. Konsep itu masih melekat pada diri anak-anak ketika bicara benda mengapung, melayang dan tenggelam. Nah kadang-kadang itu mengecoh betul konsep yang sudah diterima mengapung, melayang dan tenggelam ternyata apa kadang-kadang pada diri anak bisa terkecoh pada tegangan permukaan. Beberapa anak sebenarnya pak guru ingin menggali kekritisan anak. Apakah betul teori mengapung itu, saya juga beralasan kalo seperti itu teori mengapung, melayang itu patah dalam praktik anak-anak. Tetapi kan anak kadang-kadang susah penasaran. Sebenernya Pak P hanya ingin mengajarkan dengan percobaan sederhana itu anak berpikir kritis tidak ada
faktor menerima.”
Dari observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada saat
kegiatan praktikum berlangsung, guru mendampingi siswa dengan
mendatangi setiap kelompok. Dalam masing-masing kelompok, guru
mengkonfirmasi dan membimbing siswa dalam membentuk
pengetahuannya. Seperti, guru menanyakan mengapa peristiwa jarum
mengapung bisa terjadi. Ketika siswa menjawabnya dengan salah,
guru mengarahkan siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang mengarah pada jawaban yang sebenarnya. Guru pun
menyarankan siswa untuk mencari jawabannya dengan mencari bahan
referensi lain lewat internet. Dengan cara tersebut, peneliti melihat
siswa pun dapat memberikan alasan yang tepat atas peristiwa yang
hanya mencari jawabannya di buku lalu menyalinnya. Peneliti pun
melihat dari hasil laporan praktikum yang telah dibuat siswa, terdapat
satu kelompok yang masih salah konsep dalam menjawan pertanyaan.
Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa siswa belum memiliki sikap kritis
ketika menemukan suatu gejala fisika. Dalam kegiatan praktikum,
siswa hanya melakukan kegiatan sesuai dengan langkah kerja yang
tertulis pada LKS, menuliskan apa yang terjadi pada saat kegiatan
praktikum, dan menjawab pertanyaan dengan hanya mencari
jawabannya dari buku cetak.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa guru menilai
kemampuan psikomotorik siswa lewat kegiatan praktikum. Dalam
kegiatan tersebut, guru melihat bagaimana siswa memiliki rasa ingin
tahu yang lebih atas gejala fisika yang terjadi pada saat kegiatan
praktikum berlangsung dan bagaimana siswa mencari jawaban yang
tepat atas rasa ingin tahunya tersebut. Selain itu, guru pun melihat dan
mencoba membangun sikap kritis pada siswa dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang memancing. Dengan cara tersebut
diharapkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri.
Walaupun pada kenyataanya, peneliti tidak melihat tumbuh sikap
seperti itu pada siswa, hanya beberapa siswa saja yang memiliki rasa