BAB IV DATA, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN
B. Analisis dan Pembahasan
2. Teknik Evaluasi
Di dalam Permendikbud No. 66 Tahun 2013 sudah diatur teknik-teknik
yang harus diperhatikan pada penilaian seperti yang sudah dijelaskan pada
Bab 2. Berikut teknik-teknik penilaian yang dilakukan guru SMA P di
dalam proses belajar mengajar fisika di kelas:
a. Penilaian kompetensi pengetahuan (kognitif)
Guru melakukan penilaian kompetensi kognitif siswa hanya dalam
bentuk penilain, yaitu ulangan. Ulangan yang diberikan pun dalam
bentuk pilihan ganda dan uraian. Dalam hal ini guru kurang dapat
mengeksplorasi kemampuan siswa. Padahal dalam penilaian
kompetensi kognitif siswa, guru bisa melakukannya dalam bentuk lain
selain tes tertulis. Selain guru dapat melihat kemampuan kognitif siswa
secara keseluruhan, hal tersebut juga dapat mendorong siswa untuk
meingkatkan kemampuannya. Berikut kutipan wawancara yang terkait
dengan hal tersebut:
P : kalo suruh mecahin masalah gitu, suruh buat proyek apa kira-kira kayak seumpama eee suruh buat essay tentang pemanasan global atau apa gitu?
S 1 : gak pernah.
P : buat makalah gitu? S 2 : enggak.
S 1 : Cuma laporan doang. S 2 : laporan abis praktek. P : PR PR gitu?
S 2 : PR di pak X jarang kok ngasih PR mbak. P : berarti tugas-tugas tuh jarang ya?
S 2 : tugas tuh palin g satu nomor dia bacain, abis itu suruh kerjain, nah udah gitu, paling langsung ulangan ulangan harian dia sistemnya.
Selain itu, guru pun jarang memberikan tugas baik secara individu
maupun kelompok. Menurut pengakuan siswi yang telah
diwawancarai, guru pernah mengadakan diskusi ketika semester 1,
pada saat itu sedang diberlakukan Kurikulum 2013 yang menuntut
sistem pembelajarannya seperti itu. Setelah semester 2 dan kurikulum
yang digunakan kembali ke KTSP, guru tidak pernah lagi mengadakan
diskusi kelompok. Padahal dengan dengan adanya diskusi kelompok,
siswa mengaku lebih dapat mengikuti PBM dengan baik dan lebih
memahami materi dengan baik. Berikut hasil wawancara dengan siswa
terkait hal tersebut:
P : Suka ada belajar kelompok kah? S2 : Dulu ya?
S1 : Dulu sih sempet berapa kali belajar kelompok ya. Pas itu, pas sistem kurikulum 2013. Nah itu belajar S1 : Ya semester 1.
P : Itu belajar kelompok?
S1 : Karena memang sistemnya kan belajar kelompok mbak.
P : Nah pas itu malah kalian lebih ngerti?
S1 : Iya. Lebih paham. Maksudnya, oh kaya gini.
Dari hasil observasi yang telah dilakukan, guru terkadang
memberikan beberapa soal latihan ketika PBM berlangsung. Soal
latihan tersebut langsung dikerjakan dan dibahas pada saat itu juga.
Ketika ada siswa yang bisa mengerjakan, maka siswa itu ditunjuk
untuk mengerjakannya di papan tulis tanpa membahasnya lagi
bersama-sama dengan siswa yang lain. Namun tidak jarang siswa
sama sekali tidak ada yang bisa mengerjakannya. Akhirnya guru pun
menjelaskannya kepada para siswa. Berikut hasil wawancara dengan
siswa terkait hal tersebut:
P : kemaren kan dikasih soal latihan, trus itu misalkan itu ehh, yang ngerjaain itu, misalnya itu suka dibahas gak?
S2 : dibahas...
S1 : Dibahas. Jadi misalnya anak ini maju, misal saya maju, yaudah gitu. Ya itu jawabannya.
P : temen-temen kalian yang ngerjain di depan? Atau bapaknya yang malah ngerjain sendiri.
S1 : Kadang kalau ada yang tau ya? S2 : He.eh…
S1 : Paling si R yang maju. Kalau enggak…
S2 : Misalkan kami nanya. “Pak, ini bagaimana pak?” “Jadi gini, nak” Akhirnya dia yang ngerjain di depan.
Sebelum memberikan ulangan harian, biasanya guru memberikan
beberapa soal latihan dulu kepada siswa. Soal latihan tersebut
dikerjakan oleh siswa baik secara individu maupun kelompok, setelah
itu dibahas bersama-sama di kelas. Soal-soal ulangan harian yang
digunakan diambil beberapa dari soal latihan yang telah dikerjakan
siswa sebelumnya. Hal ini tidak hanya berlaku pada saat ulangan
harian saja, pada saat ulangan tengah semester dan ulangan akhir
semester pun berlaku hal yang sama. Dengan sistem seperti ini, siswa
sangat dimudahkan untuk memperoleh nilai yang bagus ketika
ulangan. Tapi mereka juga merasa tetap tidak mengerti dengan materi
yang dipelajarinya karena ketika mengerjakan ulangan hanya
mengandalkan hafalan saja atas apa yang sudah dikerjakan di soal
latihan sebelumnya tanpa mengerti konsep yang sesungguhnya.
P : Terus, Bapak kan sebelum ngasih ulangan selalu ngasih latihan soal.
S1 & S2 : Kadang.
S1 : Kadang kalau lagi rajin dia mungkin ngasih 20 nomor. Kadang ngerjain ini, nak. Nanti saya kasih 8 soal di ulangan.
P : Tapi 8 soal itu pasti keluar dari situ?
S1 : Iya keluar. Pak X itu enaknya, sistemnya dia ulangan, UKK, UTS, kaya ulangan-ulangan harian dia ngasih soal, pasti keluar dari situ. Paling beda angka.
S2 : He.eh iya. Kadang dia ngasih latihan, terus keluar.
S1 : Kalau UKK itu dia cuma jiplak dari tahun lalu, terus kita disuruh ngerjain.
P : Enak ya kalau gitu?
S2 : Ya enak mbak. Tapi tetep aja gak ngerti. Hafalan kan jadinya. Oh ini, jawaban tadi malam ini. Yaudah kertas buramnya bersih.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menilai
kemampuan kognitif siswa, guru hanya menggunakan 1 teknik
penilaian saja, yaitu tes tertulis. Tes tertulis tersebut digunakan dalam
ulangan harian, UTS, dan UAS. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada
variasi atau pengembangan dalam penggunaan instrumen penilaian
yang dilakukan oleh guru dalam menilai kemampuan kognitif siswa.
Penilaian kemampuan kognitif siswa, bisa dilakukan dalam bentuk
lain, seperti tes lisan dan penugasan. Dengan melakukan variasi pada
instrumen penilaian, guru dapat lebih menilai kemampuan siswa secara
mendalam dan siswa pun dapat lebih meningkatkan kemampuan
b. Penilaian kompetensi sikap (afektif)
Guru menilai kemampuan afektif siswa dengan melihat sikap siswa
yang paling ekstrem (yang tertinggi dan terendah) selama proses
belajar mengajar (PBM) berlangsung. Dengan kriteria, siswa yang
paling serius/aktif akan diberi nilai A dan siswa yang paling usil akan
diberi nilai C. Sedangkan siswa yang biasa-biasa saja (tidak terlalu
menonjol pada saat PBM berlangsung) maka akan diberi nilai B.
Berikut hasil wawancara dengan guru terkait tentang bagaimana guru
menilai kompetensi sikap (afektif) siswa ketika proses belajar
mengajar berlangsung:
G : Penilaian sikap seperti itu. Sikap itu ya tidak semua dinilai, hanya yang usil dan yang paling serius. P : dicari yang paling ekstremnya ya Pak.
G : betul.
Selain itu, guru pun menilai kompetensi afektif siswa dengan
menggunakan jurnal dengan mencatat sikap-sikap siswa ketika PBM
berlangsung. Di dalam jurnal tersebut diisi dengan berbagai catatan
tentang sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
Namun tidak semua sikap siswa dan keaktifan siswa ketika proses
belajar mengajar pun dicatat di dalam jurnal tersebut, hanya yang “luar biasa” saja menurut guru. Baik buruknya sikap siswa dicatat di dalam
buku tersebut. Hal ini dilakukan agar guru mempunyai alat bukti dalam
menilai kompetensi afektif siswa dan ketika proses memasukan nilai
dilakukan juga untuk menghindari penilaian yang bersifat subjektif.
Jika guru mencatat semua sikap siswa di dalam jurnal tersebut dan
memakainya menjadi patokan dalam menilai kompetensi sikap siswa,
maka diharapakan penilaian guru menjadi lebih objektif. Berikut
kutipan wawancara dengan guru terkait dengan hal tersebut:
G : Dan penilaian afektif itu yang dinilai yang aneh-aneh kok nak. Jadi guru itu punya alat bukti ketika guru itu memutuskan anak itu mendapat nilai A. Bukan masalah suka dan tidak suka. Tetapi ada alat buktinya sungguh.
P : Alat buktinya itu apa pak?
G : Nah itu tadi, alat buktinya itu berarti catatan. Tidak sembarang, karena kalau begitu jatuhnya berdasarkan suka atau tidak suka. Hafalan. Jadi masa sekarang kalau rapotan Pak Guru harus eling-eling. Ya lucu. Jadi buka aja buku catatan. Jika banyak plusnya, sering maju. Maka tadi dikatakan, keaktifan tadi misalkan.
P : Jadi di sini guru itu semacam punya catatannya siswa ya pak?
G : Iya punya. Tapi yang dicatat itu itu tidak semuanya anak dicatat. Hanya yang luar biasa.
P : hahahah… Yang luar biasa baik dan luar biasa jelek
ya pak?
G : Nah ya itu. Tidak semuanya dicatat. Saya yakin pasti semua guru punya catatan yang luar biasa itu nak. Baik dan minusnya itu mesti dicatat. Agar nilainya nanti tidak hanya mengira-ngira. Lah masa nilai dikira-kira? Ya kan lucu.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa dalam menilai
kompetensi afeksi siswa, guru menggunakan 2 (dua) macam teknik
penilaian, yaitu observasi selama PBM berlangsung dan jurnal.
Observasi dilakukan dengan melihat sikap siswa yang ekstrem (terbaik
dan terendah). Jurnal diisi dengan berbagai macam catatan tentang
negatif. Namun yang dicatat hanya sikap siswa yang menurut guru
“luar biasa” saja. Jadi guru hanya mengambil sikap siswa yang paling
baik dan paling buruk.
c. Penilaian kompetensi keterampilan (psikomotorik)
Guru menilai kemampuan psikomotorik siswa lewat kegiatan
praktikum. Hal ini dilakukan karena menurut guru kemampuan setiap
siswa berbeda-beda. Ada beberapa siswa yang pandai ketika belajar di
dalam kelas namun tidak pandai ketika melakukan kegiatan praktikum
dan ada pula siswa yang tidak terlalu pandai belajar di dalam kelas
namun pandai dalam melakukan kegiatan praktikum. Hal ini lah yang
mendasari guru melakukan kegiatan praktikum dan mengambil nilai
praktikum tersebut sebagai nilai kemampuan psikomotorik siswa.
Karena dalam kegiatan praktikum, siswa tidak hanya dituntut dapat
mencapai tujuan praktikum dengan hasil yang bagus, namun juga
sangat diperhatikan dalam proses praktikumnya (pada saat
pengambilan data). Berikut hasil wawancara dengan guru terkait hal
tersebut:
P : Nah, itu bagaimana cara bapak menilainya?
G : he’em. Ya kalau anak praktikum kemudian saya
nilai, nilai praktek masuk nilai psikomotorikkan nak?
……… …..
P : kalau misalkan dari LKS pas praktikumnya itu ga dinilai juga, dari laporannya?
G : kalau dalam pembuatan nilai itu kan kalau praktikum itu ranahnya masuk ketrampilan.
G : he’e psikomotorik. Maka psikomotorik itu diambil
dari yang praktek. Kemudian kalau nilai pengetahuan, kognitif itu kan ulangan harian itu. nah, …karena ada
begini, bisa anak itu nanti yang pandai tetapi ga suka praktek. Ada anak IPA sini tu kalau fisika harian itu jelek, tapi kalau praktikum sungguh-sungguh. Loh maka yang terjadi adalah bahwa nilai kognitifnya rendah, psikomotoriknya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang pandai. Pak Guru akan menghormati itu. loh betul no, pada saat praktek sungguh-sungguh, loh bagus betul kok.
Ketika kegiatan praktikum berlangsung, guru pun berkeliling
kelas untuk memperhatikan cara kerja siswa dalam melakukan
praktikum. Menurut guru, terdapat beberapa hal yang sederhana yang
seharusnya diperhatikan oleh siswa pada saat kegiatan praktikum.
Namun menurut guru, banyak siswa yang tidak memperhatikan hal
tersebut karena siswa hanya mengikuti langkah kerja yang tertulis di
dalam LKS tanpa berpikir kritis, seperti yang telah dibahas
sebelumnya.
Dalam kegiatan praktikum tersebut, siswa diminta oleh guru
untuk membuat laporan praktikum seperti pada lampiran 8.
Berdasarkan analisis peneliti, guru menilai laporan praktikum siswa
dengan melihat bagaimana siswa menganalisis hasil dari kegiatan
praktikum yang telah dilakukan pada bagian pembahasan. Berikut
Tabel 4.3 Daftar Nilai Laporan Praktikum
NO. KELOMPOK NILAI
1. A 79 2. B 80 3. C 85 4. D 85 5. E 82 6. F 80 7. G 82
Berdasarkan tabel 4.3, bisa dilihat bahwa yang mendapatkan nilai
terkecil adalah Kelompok A. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh
peneliti, Kelompok A mendapat nilai terkecil karena pada laporan
praktikum, pembahasan yang ditulis tidak begitu lengkap. Kelompok
A hanya menjelaskan apa yang terjadi tanpa mengaitkannya dengan
teori yang dipelajari. Berbeda dengan Kelompok C dan D yang
mendapatkan nilai tertinggi. Berdasarkan analisis peneliti, pada bagian
pembahasan, Kelompok C dan D tidak hanya menjelaskan apa yang
terjadi pada saat melakukan praktikum, tapi juga mengaitkannya
dengan teori yang dipelajari. Hal lain terjadi pada Kelompok F yang
mendapatkan nilai 80. Di dalam pembahasan, Kelompok F
menganalisis apa yang terjadi pada saat praktikum dengan mengaitkan
teori yang salah. Dapat disimpulkan, bahwa dalam menilai laporan
praktikum, guru melihat tingkat pemahaman siswa atas apa yang telah
dilakukannya pada kegiatan praktikum dan bagaimana siswa
Seperti yang telah dijelaskan pada Bab 2, dalam melakukan
penilaian harus dilakukan secara kontinu agar mendapat gambaran
yang jelas tentang perkembangan kemampuan siswa. Dalam hal ini,
berarti dalam melakukan penilaian kemampuan psikmotorik dalam
bentuk kegiatan praktikum, guru seharusnya melakukan kegiatan
praktikum berkali-kali. Namun pada kenyataannya, guru hanya
melakukan kegiatan praktikum dalam 1 semester hanya beberapa kali
(1-2 kali). Guru jarang mengadakan kegiatan praktikum karena
keterbatasan ketersediaan alat di sekolah. Namun hal itu sudah dapat
diatasi dengan adanya bantuan alat-alat praktikum dari pemerintah
pada saat Kurikulum 2013 diadakan. Selain itu, alasan sikap
kedisiplinan siswa pada saat kegiatan praktikum berlangsung menjadi
bahan pertimbangan guru dalam mengadakan kegiatan praktikum.
Guru khawatir kalau-kalau siswa malah bermain-main ketika
melakukan kegiatan praktikum dan mengakibatkan kondisi kelas yang
kotor dan berantakan. Jika sudah seperti itu, waktu yang terbatas pun
malah akan terbuang sia-sia. Padahal guru sangat menginginkan
kegiatan praktikum tersebut sering diadakan, agar menjadi bahan
dalam menghadapi Ujian Nasional (UN), di mana soal-soal dalam
kegiatan praktikum tersebut sering keluar pada saat UN, namun tidak
pernah dilakukan sendiri oleh siswa. Sehingga, siswa pun hanya dapat
membayangkan seadanya saja sesuai dengan imajinasi mereka
P : tapi itu Pak, kalu misalkan ada beberapa siswa yang kayak gitu. Terus berarti intensitas pemberian praktikumnya itu lebih diseringinkah atau misalkan tiap 1 materi pasti ada praktikumnya, atau bagaimana?
G : oo, tidak. Kalau kita jujur saja yang ada alatnya apa, ya kita gunakan. Tapi sekarang ada bantuan banyak dari pemerintah pada saat kurikulum 2013
…berarti itu bisa dipergunakan ke depan. Di kelas 11
semester ini untuk materi fluida ya hanya ada itu. satunya viskositas saya juga ingin, alatnya ga ada. Sederhana sebenarnya. Saya juga ingin, apa, mencari pralon yang dilubang bawah atas dan atasnya lagi, mancurnya yang paling jauh. Tapi logika anak-anak mungkin membuat rejek di kelas. ………
Pralon ada kan yang dilubangi, nanti pakai jarum
kecil, ukur letak jarum…nanti mancurnya yang paling jauh …loh dalam hitungan nyata, sering keluar dalam UN, tapi kita ga pernah praktek. Saya sebenarnya ingin itu. tapi resikonya nanti kelas bisa jadi sangat kotor.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menilai
kemampuan psikomotorik siswa, guru menggunakan teknik penilaian
kerja lewat kegiatan praktikum dan laporan praktikum. Hal ini sudah
baik dilakukan, karena dalam kegiatan praktikum guru benar-benar
memperhatikan bagaimana kinerja siswa dalam melakukan kegiatan
praktikum tersebut. Namun, kegiatan praktikum hanya dilakukan 2-3
kali saja selama satu tahun pembelajaran. Hal ini tidak sesuai dengan
prinsip penilaian yang seharusnya dilakukan secara kontinu. Jika guru
menilai kemampuan psikomotorik siswa lewat kegiatan praktikum
saja, lalu menjadi tidak jelas ketika guru tidak mengadakan kegiatan