PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI MELALUI DISKUSI
KELOMPOK KECIL TERHADAP HASIL BELAJAR SAINS SISWA
KELAS V SD GUGUS 6 BATUBULAN
I Made Peri Andika
1, I Nengah Suadnyana
2, Siti Zulaikha
31,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekalah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail : [email protected]
1, [email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional siswa kelas V SD N Gugus 6 Batubulan, Gianyar. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (quasy eksperiment) dengan menggunakan rancangan penelitian Non Equivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas V SD N Gugus 6 Batubulan, Gianyar tahun pelajaran 2013/2014. Sampel diambil dengan teknik random sampling untuk mendapatkan dua sampel, satu sebagai kelas eksperimen dan satu lagi sebagai kelas kontrol. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar sains berbentuk tes objektif pilihan ganda. Data dianalisis dengan uji-t. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata postest hasil belajar sains kelompok eksperimen lebih besar dari nilai rata-rata postest kelompok kontrol, yaitu 83,92 > 78,16. Setelah dianalisis dengan uji-t diperoleh thitung = 5,307 > ttabel = 2,000 dengan taraf signifikansi 5% dengan db = 77. Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar sains siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat disimpulkan, model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil berpengaruh positif terhadap hasil belajar sains siswa kelas V SD N Gugus 6 Batubulan.
Kata kunci : Sains, inkuiri, hasil belajar
Abstract
This research aims to find the significant difference of the science learning result between the students who follow the inquiry learning through a small group discussion with the students who follow the conventional learning in grade V of SD N Gugus 6 Batubulan, Gianyar. This research includes quasy experiment by using the research’s plan of Non Equivalent Control Group Design. The population of this research is all grade V students of SD N Gugus 6 Batubulan, Gianyar in the school year 2013/2014. The sample was taken by random sampling technic to get two samples, one sample as experiment class and the other as control class. The data was collected by using the test instrument of science learning result in the form of multiple-choice test. The data was analyzed by t-test. The analysis showed that the average grade of post test of control class was 83.92 > 78.16. Having analyzed by t-test, obtained tvalue = 5.307 > ttable = 2.000 with the significant scale 5% with db = 77. It means there is the significant differences of learning science result of the students with inquiry learning model through small group discussion with students who taught by conventional learning. Thus, it can be concluded inquiry learning model through small group discussion has positive influence to the science learning result of grade V SD N Gugus 6 Batubulan, Gianyar.
PENDAHULUAN
Sains (IPA) adalah salah satu mata pelajaran yang dipelajari siswa di Sekolah Dasar. Sains didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) bahwa “Sains berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”. Selain itu sains juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan pembelajaran sains tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Hal ini menunjukkan bahwa, sains sebagai proses diperlukan untuk menciptakan pembelajaran sains yang empirik dan faktual. Sains sebagai proses diwujudkan dengan melaksanakan pembelajaran yang melatih ketrampilan proses bagaimana cara produk sains ditemukan.
Menurut Kurnia Septa (2008:2) menyatakan bahwa ketrampilan proses yang perlu dilatih dalam pembelajaran sains meliputi ketrampilan proses dasar misalnya mengamati, mengukur, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengenal hubungan ruang dan waktu. Serta ketrampilan proses terintegrasi misalnya merancang dan melakukan eksperimen yang meliputi menyusun hipotesis, menentukan variabel, menyusun definisi operasional, menafsirkan data, menganalisis dan mensintesis data. Kurnia Septa (2008:3) juga menyebutkan bahwa ketrampilan dasar dalam proses adalah observasi, menghitung, mengukur, mengklasifikasi, dan membuat hipotesis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketrampilan proses dalam pembelajaran sains di SD meliputi ketrampilan dasar dan ketrampilan terintegrasi.
Kedua ketrampilan ini dapat melatih
siswa untuk menemukan dan
menyelesaikan masalah secara ilmiah untuk menghasilkan produk-produk sains yaitu fakta, konsep, generalisasi, hukum dan teori-teori baru. Sehingga perlu diciptakan kondisi pembelajaran sains di SD yang dapat mendorong siswa untuk
aktif dan ingin tahu. Dengan demikian, pembelajaran merupakan kegiatan investigasi terhadap permasalahan alam di sekitarnya. Setelah melakukan investigasi akan terungkap fakta atau diperoleh data. Data yang diperoleh dari kegiatan investigasi tersebut perlu digeneralisir agar siswa memiliki pemahaman konsep yang baik.
Sains (IPA) dapat dipandang sebagai produk dan sebagai proses. Secara definisi, sains sebagai produk adalah hasil temuan-temuan para ahli saintis, berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori-teori. Sains sebagai proses adalah strategi atau cara yang dilakukan para ahli saintis dalam menemukan berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya temuan-temuan tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa alam. Sains sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakekatnya sains sebagai proses. Jadi karakteristik pembelajaran sains yaitu berupa produk ( hasil temuan ) dan proses ( strategi atau cara yang dilakukan dalam penelitian ).
Pembelajaran sains yang
dilaksanakan di Sekolah Dasar hendaknya dapat menumbuhkan sikap logis, kritis, dan kreatif siswa terhadap gejala alam yang terjadi di lingkungannya. Hal ini bertujuan agar siswa mampu melakukan analisis terhadap apa yang di pelajari, cermat dan teliti dalam mengambil keputusan, serta
mampu menalar hubungan suatu
peristiwa/gejala alam yang satu dengan yang lainnya sehingga mampu menciptakan pola pikir ilmiah yang kritis sejak dini.
Menurut Suastra (2009: 1-4) bahwa sains (IPA) adalah bagian kehidupan manusia dari sejak manusia itu mengenal diri dan alam sekitarnya. Manusia dan lingkungan merupakan sumber, objek dan subjek sains. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semakin banyak individu yang menyatakan kesamaan pandang dan kesimpulan tentang sesuatu yang sama tadi, semakin kita yakin bahwa yang kita pikirkan itu benar, untuk digunakan dalam penetapan temuan ilmiah yang lebih lekat ke diri kita sebagai konsep-konsep atau prinsip-prinsip sains.
Sikap dan cara pandang ilmiah ini terjadi apabila siswa terlibat secara penuh dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Pembelajaran sains yang menarik bukan hanya pengetahuan berupa fakta, konsep, dan teori yang dijejalkan begitu saja kepada siswa, namun lebih dari itu pembelajaran tersebut haruslah bermakna, menantang, dan merangsang keingintahuan siswa dengan menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif. Siswa diharapkan mampu menunjukkan sikap logis, kritis, dan kreatif di bawah bimbingan guru dengan cara memecahkan masalah sederhana yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan berpikir logis, kritis, dan kreatif siswa akan mampu merubah cara pikirnya menjadi lebih cinta terhadap lingkungannya sendiri dan penciptanya. Pembelajaran sains di SD bertujuan agar siswa mampu :1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa bedasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 2)
Mengembangkan pengetahuan dan
pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. 4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam (PerMen No.21 Tahun 2006:484).
Untuk mencapai tujuan
pembelajaran tersebut dibutuhkan kreativitas guru dalam membelajarkan siswanya. Seperti kecerdasan guru dalam menelaah kurikulum, menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menggunakan strategi, metode, dan media yang tepat, serta mengelola kelas yang menyenangkan. Sebagaimana dijelaskan Sudjana (2005:101) bahwa, “proses pembelajaran yang efektif memerlukan strategi dan metode/teknologi pendidikan yang tepat. Guru sebaiknya memperhatikan
dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar dilaksanakan”.
Kemampuan guru dalam merancang strategi, metode, dan media mutlak dibutuhkan. Tidak semua metode cocok untuk sebuah pembelajaran. Ada metode yang sesuai untuk pembelajaran tertentu, dan ada pula yang kurang sesuai. Sebagaimana dipertegas oleh Wina (dalam Sudjana, 2005:102), “keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran”. Dengan demikian pembelajaran sains dengan menyertakan strategi, metode, dan media yang tepat akan menumbuhkan rasa ketertarikan siswa terhadap pembelajaran sains yang dilaksanakan.
Dari hasil observasi di lapangan, khususnya di kelas V SD Gugus 6 Batubulan menunjukkan hal yang berbeda. Siswa kurang memperlihatkan rasa ketertarikan terhadap materi pelajaran sains karena tidak melihat secara nyata konsep-konsep yang diajarkan. Siswa kurang melihat hubungan antara materi sains dengan kehidupannya sehari-hari, sehingga kurang tertarik mempelajarinya. Akhirnya berdampak pada nilai-nilai ulangan harian dan ulangan akhir semester siswa menunjukkan pencapaian hasil yang belum optimal.
Kurang optimalnya hasil belajar tersebut setelah ditelusuri antara lain disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor dari guru yaitu penggunaan metode kurang bervariasi karena minimnya peralatan, sehingga cenderung menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja. Sedangkan faktor dari siswa yaitu kurang melakukan
eksperimen yang memadai untuk
menguasai kompetensi dasar yang membutuhkan penalaran dan pembuktian konsep/teori akibat dari kurang tersedianya peralatan eksperimen di sekolah. Hal ini
menyebabkan guru melaksanakan
pembelajaran lebih banyak dengan menggunakan pendekatan konvensional, yang cenderung menjejali siswa dengan konsep-konsep tanpa praktikum. Hal ini menjadikan siswa kesulitan menguasai materi sains karena pembelajaran yang dilakukan belum menyajikan secara optimal kebutuhan tersebut.
Pada umumnya materi
pembelajaran sains membutuhkan
pembuktian dan pengalaman nyata bagi siswa dalam mempelajarinya. Pembuktian dan pengalaman nyata dalam belajar tersebut kurang efektif bila dilakukan dengan model pembelajaran konvensional seperti yang selama ini sering dilakukan guru. Untuk itu dibutuhkan model
pembelajaran yang tepat dalam
memperoleh pengalaman nyata tersebut. Salah satu model yang dapat digunakan untuk pemerolehan pengalaman belajar yang nyata bagi siswa adalah model pembelajaran inkuiri melalui diskusi
kelompok kecil. Karena model
pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil mampu memberikan peluang kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Melalui model pembelajaran inkuiri dengan diskusi kelompok kecil ini perhatian siswa akan terpusat pada materi, karena siswa mengalami atau terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Siswa dapat mengutarakan gagasan, serta berpendapat selama proses diskusi dalam pembelajaran. Di samping itu, model pembelajaran inkuiri dengan diskusi kelompok kecil dapat membantu siswa dalam membentuk atau membangun pengetahuannya sendiri. Proses pembelajaran seperti ini akan mampu meningkatkan aktivitas siswa lebih-lebih dalam pembelajaran sains yang sangat menuntut keterlibatan siswa dalam pembelajaran, dan berujung pada optimalnya hasil belajar, karena proses belajar akan sangat berpengaruh besar terhadap hasil belajar.
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Menurut Sumantri dan Permana (2001: 142) berpendapat bahwa, metode inkuiri bisa disebut juga dengan metode penemuan yang relatif baru yang memperkenalkan kepada guru-guru bersamaan dengan meluasnya CBSA. Menurut Gulo (2002:28) mengatakan “model inkuiri adalah suatu pola untuk membantu para siswa belajar merumuskan dan menguji pendapatnya sendiri”. Dan Sadirman (2004: 224) mengemukakan
bahwa “Inkuiri adalah salah satu pembelajaran kontekstual yang dalam proses belajarnya adalah proses menemukan.
Menurut Hanafiah dan Suhana (2009: 77) mengatakan bahwa “Discovery dan Inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan ketrampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku”. Sedangkan menurut Hamalik (2005: 220), menyatakan bahwa “Pembelajaran inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok siswa Inquiry diarahkan ke dalam suatu permasalahan untuk mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktural dalam kelompok.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri adalah suatu pembelajaran bagi siswa yang selalu diajak untuk bertanya, memeriksa, atau menyelidiki sesuatu yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskannya sendiri.
Ada 3 macam pembelajaran inkuiri, yaitu: (1) Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach). Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu model inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan
permasalahan dan tahap-tahap
pemecahannya. Model inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan model inkuiri. Dengan model ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran; (2) Inkuiri Bebas (free inquiry approach). Dengan pendekatan ini siswa diberi kebebasan untuk memilih sendiri masalah yang akan dipelajari maupun cara untuk memecahkan masalah tersebut. Umumnya berbentuk “investigasi” atau penelitian di mana siswa dilatih membuat hipotesis, menguji
hipotesis serta diberi kesempatan untuk mengaplikasikan hasil temuannya. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang telah memiliki kemampuan untuk berfikir formal. Namun menurut Piaget, ternyata tidak banyak anak usia SD yang sudah mencapai tingkat pemikiran semacam itu; (3) Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan (
modified free inquiry approach).
Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Untuk penelitian ini menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing.
Dalam pembelajaran inkuiri kegiatan diskusi sering terjadi antara dua atau lebih siswa untuk saling tukar pengalaman maupun informasi. Diskusi lebih aktif jika
dilaksanakan dengan membentuk
kelompok-kelompok kecil. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Roestiyah (2001:5) yaitu ”metode diskusi adalah satu teknik pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja”.
Suryobroto (2002:179) menyatakan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok) siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat
kesimpulan atau penyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.
Menurut Sudjana (2005:76) menyatakan bahwa teknik pembentukan kelompok kecil bertujuan untuk membina keakraban dan keterbukaan dalam memilih teman-teman berkelompok. Teknik ini dilakukan untuk membentuk kelompok-kelompok kecil yang jumlah anggotanya terbatas antara 4-5 orang secara heterogen.
Pendapat lain menyatakan bahwa diskusi kelompok ialah pembicaraan melalui
tatap muka yang direncanakan diantara dua peserta didik atau lebih tentang pokok atau topik bahasan tertentu, dan dipimpin oleh seorang pemimpin diskusi. Pembicaraan itu mengungkap pikiran, gagasan atau pendapat tentang topik yang dibahas. Topik itu dapat berupa bahan yang berhubungan dengan tugas, rumusan atau konsep tentang sesuatu gagasan, atau pemecahan suatu masalah (Sudjana, 2005:99).
Menurut Suryobroto (2002:181) langkah-langkah penggunaan metode diskusi kelompok kecil yaitu: (1) Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan
seperlunya mengenai cara-cara
pemecahannya; (2) Dengan pimpinan guru para siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi, memilih pimpinan diskusi (Ketua, Sekretaris (pencatat), pelapor(kalau perlu), mengatur tempat duduk, ruangan, sarana dan sebagainya); (3) Para siswa berdiskusi di dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok satu ke kelompok yang lain (kalau ada lebih dari satu kelompok) menjaga ketertiban serta memberikan dorongan dan bantuan sepenuhnya agar setiap anggota kelompok aktif dan diskusi berjalan lancar; (4) Kemudian tiap kelompok melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasilnya yang dilaporkan itu ditanggapi oleh semua siswa (terutama kelompok lain); (5) Akhirnya para siswa mencatat hasil (hasil-hasil) diskusi, dan guru mengumpulkan laporan hasil diskusi dari tiap-tiap kelompok sesudah para siswa mencatatnya untuk “file” kelas.
Kelebihan dari pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil adalah sebagai berikut : (1) Strategi (model atau siasat) pembelajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa menjadi pembelajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa yang aktif mencari dan mengolah informasi sendiri; (2) Pembelajaran berubah dari teacher centered menjadi student centered. Guru tidak lagi mendominasi sepenuhnya kegiatan belajar siswa, tetapi lebih banyak bersifat membimbing dan memberikan kebebasan belajar kepada siswa; (3) Mendorong siswa untuk berpikir dan
bekerja atas inisiatifnya sendiri; (4) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri; (5) Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik; (6)Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil sama dengan langkah pembelajaran inkuiri pada umumnya, yaitu : (1) Perumusan masalah. Langkah awal adalah menentukan masalah yang ingin dipecahkan dengan model inkuiri.; (2) Menyusun Hipotesis. Langkah berikutnya adalah siswa diminta untuk mengajukan jawaban sementara tentang masalah itu; (3) Mengumpulkan Data. Langkah selanjutnya adalah siswa mencari dan mengumpulkan
data sebanyak-banyaknya untuk
membuktikan apakah hipotesis mereka benar atau tidak; (4) Menganalisis Data. Data yang sudah dikumpulkan harus dianalisis untuk dapat membuktikan hipotesis apakah benar atau tidak; (5) Menyimpulkan. Dari data yang telah dianalisis, kemudian diambil kesimpulan dengan generalisasi. Setelah diambil kesimpulan, kemudian dicocokkan dengan hipotesis asal, apakah hipotesa diterima atau tidak.
Dari pendapat dari para ahli tersebut
dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil merupakan suatu model
yang digunakan dalam proses
pembelajaran untuk penyelidikan dan penemuan. Proses pembelajaran tersebut dilakukan melalui diskusi siswa dalam suatu kelompok kecil, yang jumlah anggotanya terbatas antara 4-5 orang secara heterogen tentang permasalahan yang didapatkan ataupun yang diberikan guru. Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan sama dengan langkah-langkah pembelajaran inkuiri pada umumnya, sehingga dapat
membentuk atau membangun
pengetahuan siswa itu sendiri. Model inkuiri melalui diskusi kelompok kecil ini sangat cocok diterapkan pada pembelajaran sains untuk mengoptimalkan hasil belajar sains.
Hasil belajar sains merupakan hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar pada pembelajaran sains. Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Suryobroto 2000)
belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Menurut Roestiyah (2001:133), belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Hamalik (2001:159), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang. Sedangkan pengertian belajar menurut Suryobroto (2002) adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.
Menurut Gagne (dalam Suastra, 2009:21), mengatakan bahwa ada lima kemampuan hasil belajar yaitu: (1) ketrampilan-ketrampilan intelektual, karena keterampilan-keterampilan itu merupakan penampilan-penampilan yang ditunjukkan oleh siswa tentang operasi-operasi yang ditunjukkan oleh siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat dilakukannya, (2) penggunaan strategi-strategi kognitif, karena siswa perlu menunjukkan penampilan yang baru, (3) berhubungan dengan sikap-sikap yang dapat ditunjukkan oleh prilaku yang mencerminkan pilihan tindakan terhadap kegiatan-kegiatan sains, (4) dari hasil belajar adalah informasi verbal, (5) keterampilan-keterampilan motorik.
Menurut Dimyanti dan Moedjiono (1994:110) hasil belajar mencakup: “(1) kemampuan untuk mengingat kembali informasi bahan ajar, (2) kemampuan untuk
mengungkap kembali hal yang dimengerti, (3) kemampuan untuk menerapkan informasi, (4) kemampuan untuk menilai informasi”.
Dimyati dan Moedjiono (1994) membagi ciri-ciri belajar ada tiga yaitu: “(1) hasil belajar memiliki kapasitas berupa pengetahuan, kebiasaan, ketrampilan, sikap dan cita-cita, (2) adanya perubahan mental dan perubahan jasmani, (3) memiliki
dampak pengajaran dan dampak
pengiring”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar sains melibatkan perolehan kemampuan-kemampuan yang bukan merupakan yang dibawa sejak lahir. Belajar tergantung pada pengalaman, sebagian dari pengalaman itu merupakan umpan balik dari lingkungan. Belajar berlangsung karena usaha dengan sengaja untuk memperoleh kecakapan baru dan membawa perbaikan para ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut terdiri atas: faktor fisiologi psikologis. Sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor lingkungan (fisik dan sosial) dan faktor instrumental (kurikulum, sarana- prasarana, guru, metode dan media serta manajemen).
Sedangkan pembelajaran
konvensional yang sering digunakan dalam proses pembelajaran guru memberikan materi dengan ceramah. Ini sejalan dengan pendapat Nugraheni (2007:10) yaitu “proses pembelajaran konvensional adalah proses pembelajaran menempatkan guru sebagai sumber belajar yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada siswa”. Pembelajaran konvensional mengacu pada psikologi behavioristik, di mana guru berperan sebagai pusat informasi (teacher centered). Siswa dipandang sebagai komponen pasif dalam pembelajaran, memerlukan motivasi luar dan dipengaruhi oleh reinforcement. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang sudah lazim diterapkan sehari-hari. Sehingga kurang tepat untuk membelajarkan sains yang mengutamakan proses, produk, dan sikap ilmiah.
Untuk mengoptimalkan
pembelajaran khususnya pada pelajaran sains dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil yang memungkinkan memberikan peluang kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Melalui model pembelajaran inkuiri dengan diskusi kelompok kecil ini perhatian siswa akan terpusat pada materi, karena siswa mengalami atau terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dengan demikian dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil terhadap hasil belajar sains siswa kelas V SD, gugus 6 Batubulan, Gianyar.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil terhadap hasil belajar siswa pelajaran sains ini menggunakan eksperimen semu (quasy eksperiment). Desain eksperimen semu yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non Equivalent Control Group Design.
Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus 6 Batubulan Gianyar tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 374 orang siswa. Atas dasar informasi dari ketua gugus 6 Batubulan, siswa kelas V dari seluruh SD yang ada di gugus tersebut secara akademik dikelompokkan setara. Untuk pengambilan sampel menggunakan
teknik Random Sampling, dengan
mengundi seluruh kelas V SD yang ada di gugus 6 Batubulan. Hasil random mendapatkan dua kelas yaitu kelas V SDN 3 Batubulan dengan kelas V SDN 7 Batubulan, kedua SD tersebut diuji terlebih dahulu kesetaraannya. Dari dua SD tersebut diundi kembali untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Didapatkan kelas V SDN 3 Batubulan yang berjumlah 41 orang siswa sebagai kelompok eksperimen dan kelas V SDN 7 Batubulan yang berjumlah 38 orang siswa sebagai kelompok kontrol.
Untuk pengumpulan data digunakan metode tes. Tes yang digunakan untuk menilai hasil belajar sains dalam ranah
kognitif siswa adalah tes objektif pilihan ganda yang telah divalidasi melalui ekspert dan uji validitas butir.
Data nilai hasil belajar Sains merupakan nilai kognitif (post test). Untuk uji prasyarat analisis menggunakan uji normalitas sebaran data dengan uji
Chi-Square, uji homogenitas varians
menggunakan uji-F, dan uji hipotesis menggunakan uji-t polled varians. Dalam proses analisis data menggunakan bantuan Microsoft Office Excel 2007.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil setelah perhitungan diperoleh rata-rata nilai akhir hasil belajar Sains yaitu nilai kognitif (post test) untuk kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil adalah 83,92 dengan varian 28,16 dan standar deviasi 5,30. Sedangkan rata-rata nilai hasil belajar sains untuk kelompok kontrol yang
dibelajarkan dengan menerapkan
pembelajaran konvensional adalah 78,16 dengan varian sebesar 18,02, dan standar deviasi 4,24. Dan data tersebut menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil memiliki rata-rata nilai hasil belajar lebih tinggi daripada kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians.
Uji normalitas data dilakukan pada dua kelompok data, meliputi data kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecill dan data kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran data skor akhir hasil belajar sains yang dianalisis dalam pengujian hipotesis. Uji normalitas sebaran data dilakukan dengan menggunakan Chi-Square (X2) pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan db = k-1. Untuk Iangkah-Iangkah uji Chi- Square (X2) kelompok eksperimen yang
dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil diuraikan seperti berikut ini: terlihat bahwa untuk x2 dengan taraf signifikansi 5% diperoleh (α = 0,95) dan derajat kebebasan (db) = 5 diperoleh x2tabel
= x2 (0,95,5) = 11,07, karena x2tabel > x2hitung
berarti sebaran data nilai akhir hasil belajar sains kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil berdistribusi normal. Untuk kelas yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional terlihat bahwa untuk x2 dengan taraf signifikansi 5% diperoleh (α = 0,95) dan derajat kebebasan (db) = 5 diperoleh x2tabel= x2 (0,95,5) =
11,07, karena x2tabel > x2 hitung berarti
sebaran data nilai akhir hasil belajar Sains kelompok yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional berdistribusi normal
Uji homogenitas varian ini dilakukan berdasarkan data nilai akhir hasil belajar sains yang meliputi data kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dan data kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Jumlah kelompok analisis kelompok eksperimen adalah 41 dan jumlah analisis kelompok kontrol adalah 38. Uji homogenitas varian menggunakan uji-F. Kriteria pengujian jika Fhitung < Ftabel maka
sampel homogen. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1 – 1
(38-1=37 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2 – 1 (41-1=40).
Hasil uji homogenitas varians menunjukkan hasil bahwa Fhitung < Ftabel. lni
berarti bahwa varians antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah homogen. Hipotesis penelitian yang diuji adalah Ha: Ada perbedaan yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang dibelajarkan dengan menerapakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang
dibelajarkan dengan menerapkan
pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Batubulan Gianyar. Ho: Tidak ada
perbedaan yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Batubulan Gianyar. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji beda mean (uji-t) polled varian , dengan
kriteria pengujian adalah dengan kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika thit t(1),
di mana t(1) di dapat dari tabel distribusi t pada taraf signifikan (
) 5% dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2 - 2) danHa ditolak jika thit t(1). Hasil uji t
disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tabel hasil uji – t
Kelas Varians N Db thitung ttabel Kesimpulan
Kelas Eksperimen
28,16 41 74 7 5,307 2,000 Ha diterima
Kelas Kontrol 18,02 38
Berdasarkan Tabel 1, terlihat t-hitung
lebih besar daripada ttabel yaitu 5,307 >
2,000. D e n g a n h a s i l t e r s e b u t m a k a d a p a t disimpulkan Ho yang berbunyi
"tidak ada perbedaan yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang dibelajarkan dengan m e n e r a p k a n m o d e l p e m b e l a j a r a n inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang d i b e l a j a r k a n d e n g a n m e n e r a p k a n pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Batubulan, Gianyar", ditolak dan Ha yang
menyatakan "ada perbedaan yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang
dibelajarkan dengan menerapkan
pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri G u g u s 6 B a t ub u la n, G ia n yar ", diterima.
Pembahasan hasil-hasil penelitian dan pengujian hipotesis terkait dengan nilai akhir hasil belajar sains siswa kelas V semester 1 Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Batubulan Gianyar 2013/2014 khususnya pada materi organ pernapasan manusia dan organ pernapasan hewan yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil maupun yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran
konvensional. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil pada pelajaran sains siswa kelas V Sekolah Dasar, dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen dengan nilai rata-rata kelompok kontrol. Karena nilai rata-rata hasil belajar sains siswa kelompok eksperimen (83,92) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar sains siswa kelompok kontrol (78,16) , maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuri melalui
diskusi kelompok kecil dapat
mengoptimalkan hasil belajar Sains. Hasil Uji-t terhadap hipotesis penelitian yang diajukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar sains siswa antara kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran in dengan kelompok yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional. Hal tersebut terlihat berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, pengaruh model pembelajaran terhadap hasil belajar sains siswa mempunyai nilai statistik thit = 5,307.
Secara statistik hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dan model pembelajaran konvensional berbeda secara signifikan dalam pencapaian hasil beajar siswa pada taraf signifikansi (
) 0,05.Hasil penelitian ini telah telah membuktikan hipotesis yang diajukan, yaitu terdapat perbedaan hasil belajar Sains siswa antara kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan kelompok yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional.
Perbedaan yang signifikan hasil belajar antara model Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional dapat disebabkan adanya perbedaan sintak, sumber belajar dan metode ajar dari kedua pembelajaran. Sintak pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil sangat jelas dan konsisten yaiu; (1) perumusan masalah, (2) menyusun hipotesis, (3) mengumpulkan data, (4) menganalisis data, (5) menyimpulkan. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang lebih banyak mengarah pada aktivitas belajar siswa dalam memenuhi kepentingan pencapaian proses dan hasil belajar. Sedangkan pembelajaran konvensional tidak menggunakan sintak yang pasti sesuai yang hanya menyesuaikan dengan keinginan guru pada saat membelajarkan siswa, sehingga siswa cenderung hanya sebagai pelaku belajar yang pasif.
Secara teoritis menurut Hamalik (2005: 220) “model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil merupakan salah satu model yang sangat dianjurkan
untuk diterapkan dalam proses
pembelajaran”. Model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil meningkatkan potensi intelektual siswa. Hal ini dikarenakan siswa diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan dengan pengamatan dan pengalaman sendiri. Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat penyelidikan karena terlibat langsung dalam proses penemuan. Belajar menggunakan model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil memberikan daya tahan ingatan lebih lama. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran sendiri akan lebih mudah diingat. Pembelajaran menjadi terpusat pada siswa, salah satu prinsip psikologi belajar menyatakan bahwa semakin besar
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, maka semakin besar pula kemampuan belajar siswa tersebut. Siswa tidak hanya ditujukan untuk belajar konsep-konsep dan prinsip-prinsip saja tetapi juga belajar pengarahan diri sendiri, tanggung jawab, komunikasi dan sebagainya dengan guru sebagai mediator dan fasilitator.
Kekuatan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil
adalah menunjang munculnya
pembelajaran aktif, kreatif, afektif dan menyenangkan, melatih siswa untuk bekerja secara kelompok, melatih keharmonisan, dalam hidup bersama atas dasar saling menghargai. Kelebihan model pembelajaran rekosntruksi sosial terletak
pada proses pencarian dan
pengkonstruksian pengetahuan sehingga guru berperan sebagai evaluator, fasilitator, dan mediator. Guru tidak perlu mentransfer semua pengetahuan kepada siswa tetapi mengajak siswa untuk berpikir dan mencari jawaban sendiri atas permasalahan yang diberikan oleh guru maupun siswa itu sendiri melalui diskusi kelompok berdasarkan pengalaman mereka yang telah diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dapat mengaktifkan belajar siswa sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar sains. Hal ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti (2007) yang menemukan bahwa metode demontrasi,
menggunakan alat peraga dapat
meningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas VI tentang Sistem peredaran darah manusia.
Sesuai dengan hasil penelitian Pt Wirawan (2011) mengemukakan bahwa model pembelajaran discovery terbimbing,
menggunakan bantuan LCD mampu
meningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPA kelas IV tentang energi panas dan energi bunyi. Hal ini juga dikemukakan dari hasil penelitian P Sekarwiyati (2007) bahwa metode
pembelajaran discovery dapat
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar IPA kelas V tentang perubahan bentuk benda.
Dengan demikian penerapan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi
kelompok kecil dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar sains siswa kelas V SD, gugus 6 Batubulan, Gianyar.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat ditarik simpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran Konvensional terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Sains dengan materi pernapasan manusia dan organ pernapasan hewan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Hasil penelitian yang menunjukkan thitung lebih besar dari
pada ttabel yaitu 5,307 > 2,000 dan didukung
oleh perbedaan skor rata – rata antara siswa yang mendapat treatment model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil yaitu 83,92 dan siswa dengan pembelajaran konvensional yaitu 78,16 yang diuji dengan menggunakan uji-t. Oleh karena itu hipotesis alternatif diterima yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan hasil belajar sains antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Gugus 6 Batubulan, Gianyar.
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan simpulan, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil terhadap hasil belajar siswa. Untuk itu, para guru
hendaknya menggunakan model
pembelajaran inkuiri melalui diskusi kelompok kecil sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama mata pelajaran sains.
Materi pembelajaran yang
digunakan dalam penelitian ini terbatas hanya pada pokok bahasan organ
pernapasan manusia dan organ
pernapasan hewan saja sehingga dapat
dikatakan bahwa hasil-hasil penelitian terbatas hanya pada materi tersebut. Untuk mengetahui kemungkinan hasil yang berbeda pada pokok bahasan lainnya, peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian yang sejenis pada pokok bahasan yang lain.
Guru hendaknya dalam
membelajarkan siswa di kelas maupun di luar kelas hendaknya dapat memfasilitasi siswa dengan sumber belajar yang beragam disertai model pembelajaran yang inovatif seperti model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil sehingga aktivitas siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan dapat terjadi interaksi multi arah dalam pembelajaran.
Pemerintah agar dapat memberikan pembekalan dan penyuluhan pada guru, agar dapat lebih memahami model-model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa baik dari apektif maupun kognitif, seperti model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil yang berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran sains.
Sekolah agar dapat menyediakan fasilitas pembelajaran yang lengkap agar guru yang membelajarkan siswa dengan model-model pembelajaran inovatif seperti model pembelajaran Inkuiri melalui diskusi kelompok kecil, tidak mengalami kendala dalam membealajarkan siswa, sehingga kualitas sekolah akan sejajar atau dapat lebih baik dari sekolah-sekolah yang lain.
DAFTAR RUJUKAN
Admin.2010.”Pengertian Belajar Menurut Para Ahli”. Terdapat pada
http://carapedia.com/pengertian_def inisi_pembelajaran_menurut_para_
ahli_info507. html (19 Desember
2012).
Adnanhero.2012.”Fungsi Mata Pelajaran
IPA”. Terdapat pada
http://laporanipa.wordpress.com/tag
/fungsi-mata-pelajaran-ipa/ (19
Desember 2012).
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdiknas
Dimyati dan Moedjiono. (2006). Belajar dan Pembejaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grafindo.
Hamalik. 2005. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Bumi
Aksara.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara. Hanafiah, Nanang. 2009. Konsep Strategi
Pembelajaran. Bandung: Refika
Aditama.
Hanafiah dan Suhana. 2009. Konsep
Strategi Pembelajaran. Jakarta.
Bandung: PT Refika Aditama. Nugraheni, E. 2007. Student centered
learning dan implikasinya terhadap
proses pembelajaran. Jurnal
Pendidikan. 8(2). 1-10.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Septa,Kurnia.2008.”Hakekat Pembelajaran
IPA”. Tersedia pada
http://www.sekolahdasar.net/2011/0 5/hakekat-pembelajaran-ipa-di-sekolah.html (19 Desember 2012) Suastra, I.W. 2009. Pembelajaran Sains
Terkini. Singaraja: Universitas
Pendidikan Ganesha.
Sudjana, H.D. 2005. Metoda & Teknik Pembelajaran Pertisipatif. Bandung: Falah Production.
Sumantri, M dan Permana, J. 2001.
Strategi Belajar Mengajar.
Bandung : CV Maulana.
Suryobroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.