• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN GABAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, DAN HARGA PRODUSEN GABAH"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

 NTP Sumatera Barat bulan September 2015 tercatat sebesar 97,08 atau naik sebesar 0,11 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 96,97 (Agustus 2015). Indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,22 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0.33 persen.

 Pada bulan September 2015 NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 94,02 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 95,92 untuk subsektor hortikultura (NTPH), 93,96 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR), 105,90 untuk subsektor peternakan (NTPT), dan 107,57 untuk subsektor perikanan (NTN). Subsektor perikanan terbagi menjadi dua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTP masing-masing sebesar 101,19 dan 109,18.

 Secara regional, di Sumatera Barat pada bulan September 2015 terjadi deflasi di daerah perdesaan sebesar 0,50 persen yang disebabkan terjadinya deflasi pada kelompok bahan makanan (1,65 persen), dan kelompok perumahan (0,12 persen). Sedangkan lima kelompok pengeluaran lain mengalami inflasi yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,78 persen), kelompok sandang (0,24 persen), kelompok kesehatan (0,55 persen), kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga (0,18 persen), dan kelompok transportasi dan komunikasi (0,06 persen).

No. 57/10/13/Th XVIII, 1 Oktober 2015

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

,

D

AN

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

NTP SUMATERA BARAT SEPTEMBER 2015 SEBESAR 97,08 ATAU NAIK 0,11 PERSEN

1. Nilai Tukar Petani (NTP)

Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of

trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di pedesaan di 11 kabupaten di Sumatera Barat pada bulan September 2015, NTP Sumatera Barat mengalami peningkatan sebesar 0,11 persen dibanding bulan Agustus 2015, yaitu dari 96,97 menjadi 97,08. Hal ini disebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,22 persen, lebih rendah dari penurunan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian sebesar 0,33 persen.

(2)

Agustus 2015 September 2015

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

a. NilaiTukar Petani (NTPP) 93,35 94,02 0,72

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 98,78 98,99 0,21

c. Indeks Diterima Petani 112,37 112,66 0,26

- Padi 113,04 113,11 0,06

- Palawija 110,05 111,10 0,95

d. Indeks Dibayar Petani 120,38 119,83 -0,46

- Indeks Konsumsi RumahTangga 122,67 121,91 -0,62

- Indeks BPPBM 113,76 113,81 0,05

2. Hortikultura

a. Nilai Tukar Petani (NTPH) 98,32 95,92 -2,44

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 107,18 104,12 -2,85

c. Indeks Diterima Petani 117,36 114,23 -2,67

- Sayur-sayuran 121,93 117,78 -3,41

- Buah-buahan 109,40 107,99 -1,28

- Tanaman Obat 104,47 105,75 1,22

d. Indeks Dibayar Petani 119,37 119,08 -0,24

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 121,51 121,12 -0,32

- Indeks BPPBM 109,50 109,71 0,19

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Nilai Tukar Petani (NTPR) 94,07 93,96 -0,12

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 102,96 102,02 -0,91

c. Indeks Diterima Petani 114,21 113,57 -0,56

- Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 114,21 113,57 -0,56

d. Indeks Dibayar Petani 121,41 120,87 -0,44

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 123,32 122,61 -0,58

- Indeks BPPBM 110,93 111,32 0,35

4. Peternakan

a. Nilai Tukar Petani (NTPT) 104,03 105,90 1,80

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 110,79 112,45 1,49

c. Indeks Diterima Petani 119,01 121,01 1,68

- Ternak Besar 115,97 118,46 2,14

- Ternak Kecil 111,46 113,58 1,91

- Unggas 128,97 128,75 -0,17

- Hasil Ternak 126,27 128,00 1,37

d. Indeks Dibayar Petani 114,40 114,27 -0,12

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 122,04 121,55 -0,40

- Indeks BPPBM 107,42 107,62 0,18

5. Perikanan

a. Nilai Tukar Petani (NTN) 107,09 107,57 0,44

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 115,39 115,29 -0,09

c. Indeks Diterima Petani 123,15 123,78 0,51

- Tangkap 121,53 120,41 -0,91

- Budidaya 123,55 124,60 0,85

d. Indeks Dibayar Petani 114,99 115,07 0,07

- Indeks Konsumsi RumahTangga 120,84 120,52 -0,27

- Indeks BPPBM 106,72 107,36 0,60

Tabel 1

Nilai Tukar Petani per Subsektor dan Perubahannya Agustus 2015 – September 2015

(2012=100)

Kelompok dan Sub kelompok

Bulan Persentase

Perubahan (%)

(3)

Agustus 2015 September 2015

(1) (2) (3) (4)

5.a. Perikanan Tangkap

a. Nilai Tukar Petani 102,18 101,19 -0,96

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 104,26 102,80 -1,41

c. Indeks Diterima Petani 121,53 120,41 -0,91

- Penangkapan Perairan Umum 119,76 120,62 0,72

- Penangkapan Laut 121,57 120,41 -0,96

d. Indeks Dibayar Petani 118,94 118,99 0,05

- Indeks Konsumsi RumahTangga 120,70 120,37 -0,28

- Indeks BPPBM 116,55 117,14 0,50

5.b. Perikanan Budidaya

a. Nilai Tukar Petani 108,34 109,18 0,78

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 118,40 118,67 0,22

c. Indeks Diterima Petani 123,55 124,60 0,85

- Budidaya Air Tawar 123,55 124,60 0,85

d. Indeks Dibayar Petani 114,04 114,12 0,07

- Indeks Konsumsi RumahTangga 120,88 120,56 -0,27

- Indeks BPPBM 104,34 104,99 0,62

Gabungan

a. Nilai Tukar Petani (NTP) 96,97 97,08 0,11

b. NilaiTukar Usaha Pertanian 104,42 103,97 -0,43

c. Indeks Diterima Petani 115,54 115,28 -0,22

d. Indeks Dibayar Petani 119,15 118,75 -0,33

- Indeks Konsumsi RumahTangga 122,46 121,85 -0,50

- Indeks BPPBM 110,65 110,88 0,21

Kelompok dan Sub kelompok Bulan

Persentase Perubahan

(%)

Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada bulan September 2015 NTP tiga subsektor mengalami peningkatan, yaitu subsektor tanaman pangan (0,72 persen), subsektor peternakan (1,80 persen), dan subsektor perikanan (0,44 persen). Sedangkan NTP subsektor hortikultura dan subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,44 persen dan 0,12 persen.

2.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Indeks harga yang diterima petani (It) dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada bulan September 2015 terjadi penurunan pada indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,22 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu dari 115,54 menjadi 115,28. Menurunnya nilai It diakibatkan oleh menurunnya nilai It pada dua subsektor, yaitu subsektor hortikultura (2,67 persen), dan subsektor tanaman perkebunan (0,56 persen). Sedangkan It pada tiga subsektor lainnya mengalami kenaikan masing-masing subsektor tanaman pangan sebesar (0,26 persen), subsektor peternakan (1,68 persen), dan subsektor perikanan sebesar (0,51 persen).

3.

Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada bulan September 2015 indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 119,15 menjadi 118,75. Menurunnya nilai Ib disebabkan oleh turunnya nilai Ib pada empat subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan (0,46 persen), subsektor hortikultura (0,24 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (0,44 persen), dan subsektor peternakan (0,12 persen). Sedangkan Ib pada subsektor perikanan mengalami kenaikan sebesar 0,07 persen.

(4)

Grafik 1

NTP Sumatera Barat Bulan September 2014 – September 2015 (2012=100) 100,50 100,17 100,70 99,93 99,15 98,54 98,66 98,97 97,71 96,83 97,54 97,36 96,97 97,08 90,00 93,00 96,00 99,00 102,00 105,00 108,00 N T P Bulan

4. NTP Subsektor

a.

Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)

NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) pada bulan September 2015 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,72 persen dari 93,35 menjadi 94,02. Hal ini dikarenakan indeks harga yang diterima petani meningkat sebesar 0,26 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami penurunan sebesar 0,46 persen.

Meningkatnya nilai indeks harga yang diterima petani (It) disebabkan oleh meningkatnya indeks subkelompok padi sebesar 0,06 persen, dan subkelompok palawija sebesar 0,95 persen. Sementara itu, perubahan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan sebesar 0,46 persen diakibatkan oleh turunnya indeks subkelompok konsumsi rumahtangga (IKRT) sebesar 0,62 persen. Sedangkan indeks harga subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen.

b. Subsektor Hortikultura (NTPH)

Nilai Tukar Petani untuk subsektor hortikultura (NTPH) pada bulan September 2015 mengalami penurunan sebesar 2,44 persen dari 98,32 menjadi 95,92. Hal ini dikarenakan penurunan indeks harga yang diterima petani 2,67 persen lebih besar dibandingkan dengan penurunan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,24 persen.

Menurunnya nilai It disebabkan adanya penurunan nilai indeks harga pada komoditas subkelompok sayur-sayuran sebesar 3,41 persen, dan subkelompok buah-buahan sebesar 1,28 persen. Sedangkan nilai indeks pada subkelompok tanaman obat mengalami peningkatan sebesar 1,22 persen. Penurunan Ib sebesar 0,24 persen disebabkan turunnya indeks harga subkelompok konsumsi rumah tangga (IKRT) sebesar 0,32 persen. Sedangkan indeks subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen.

(5)

c.

Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)

NTPR pada bulan September 2015 mengalami penurunan sebesar 0,12 persen, yaitu dari 94,07 menjadi 93,96. Menurunnya nilai NTPR ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,56 persen lebih besar dibandingkan penurunan indeks yang dibayar petani sebesar 0,44 persen.

Menurunnya nilai Ib sebesar 0,44 persen diakibatkan menurunnya indeks harga pada subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,58 persen. Sedangkan indeks harga pada subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,35 persen.

d.

Subsektor Peternakan (NTPT)

NTPT pada September 2015 mengalami peningkatan sebesar 1,80 persen, yaitu dari 104,03 menjadi 105,90. Kenaikan NTP ini terjadi diakibatkan oleh peningkatan pada indeks harga yang diterima petani sebesar 1,68 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami penurunan sebesar 0,12 persen.

Kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) terjadi karena kenaikan harga pada tiga subkelompok yaitu : subkelompok ternak besar (2,14 persen), subkelompok ternak kecil (1,19 persen), dan subsektor hasil ternak (1,37 persen). Sedangkan harga pada subkelompok unggas mengalami penurunan sebesar 0,17 persen. Penurunan indeks yang dibayar petani (Ib) diakibatkan oleh penurunan indeks harga pada subkelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,40, sedangkan subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,18 persen.

e.

Subsektor Perikanan (NTN)

Pada bulan September 2015, nilai tukar petani subsektor perikanan (NTN) mengalami kenaikan sebesar 0,44 persen, yaitu dari 107,09 menjadi 107,57. Kondisi ini diakibatkan kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,51 persen, lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,07 persen.

Peningkatan nilai It merupakan kontribusi dari peningkatan subsektor budidaya ikan sebesar 0,85 persen, walaupun indeks harga pada subsektor penangkapan ikan menurun sebesar 0,91 persen. Kenaikan indeks harga yang dibayar petani terjadi diakibatkan kenaikan indeks harga pada subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,60 persen, sedangkan indeks harga pada subkelompok konsumsi rumah tangga (IKRT) mengalami penurunan sebesar 0,27 persen.

4. Indeks Harga Konsumen Pedesaan

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Secara regional, Sumatera Barat pada bulan September 2015 terjadi deflasi di daerah perdesaan sebesar 0,50 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Terjadinya deflasi di daerah perdesaan merupakan kontribusi dari penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan (1,65 persen), dan kelompok perumahan (0,12)). Sedangkan indeks harga pada kelompok lain mengalami kenaikan masing-masing kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,78 persen), kelompok sandang (0,24 persen), kelompok kesehatan (0,55 persen), kelompok kelompok pendidikan rekreasi, olahraga (0,18 persen), dan kelompok transportasi dan komunikasi (0,06 persen).

(6)

Tabel 2

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Pedesaan Menurut Kelompok Pengeluaran Agustus 2015-September 2015

(2012=100)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Konsumsi Rumah Tangga 122,46 121,85 -0,50 0,41 5,20

Bahan Makanan 132,59 130,40 -1,65 -2,74 3,20

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan

Tembakau 115,45 116,35 0,78 6,29 7,96

Perumahan 116,10 115,97 -0,12 3,69 5,73

Sandang 113,01 113,28 0,24 5,17 6,81

Kesehatan 113,14 113,77 0,55 3,96 5,74

Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 110,72 110,91 0,18 2,71 2,90

Transportasi dan Komunikasi 119,85 119,92 0,06 -5,46 7,05

Rincian Pengeluaran IHK Perdesaan Agustus 2015 IHK Perdesaan September 2015 Inflasi Perdesaan September 2015 *) Laju Inflasi Pedesaan Tahun Kalender **) Inflasi Pedesaan Tahun ke Tahun ***)

*) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan September 2015 terhadap Bulan sebelumnya **) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan September 2015 terhadap Bulan Desember 2014 ***) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan September 2015 terhadap Bulan September 2014

Laju inflasi pedesaan tahun kalender bulan September 2015 sebesar 0,41 persen, sedangkan nilai inflasi pedesaan tahun ke tahun (year on year) sebesar 5,20 persen.

Grafik 2

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Agustus 2013 – September 2015 (2012=100) 0,04 0,76 0,38 -0,05 1,08 -0,170,09 -0,05 0,37 0,29 1,311,00 0,92 0,50 2,00 2,21 -0,97 -0,11 0,98 0,89 1,02 0,80 0,44 -0,50 -2,00 0,00 2,00 4,00 Se p-13 Okt-13 N op-13 D es -13 Jan -14 Feb -1 4 M ar -1 4 Ap r-14 M ei-14 Jun -14 Jul-14 Ag ust-14 Se p-14 Ok t-14 N op-14 D es -14 Jan -15 Feb -1 5 M ar -1 5 Ap r-15 M ei-15 Jun -1 5 Jul-15 Ag ust-15 Se p-15 Inf las i P er d es aa n Bulan

(7)

 Komposisi jumlah observasi dari 99 transaksi harga gabah di tujuh kabupaten di Sumatera Barat selama September 2015, didominasi didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 100 persen .  Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP varietas Anak Daro yaitu

sebesar Rp 7.200,- per kg yang terjadi di Kabupaten Solok. Sedangkan harga terendah berasal dari gabah kualitas GKP varietas Batang Piaman , yaitu senilai Rp 4.000,00- per kg, terjadi di Kabupaten Agam.

 Berbeda dengan bulan sebelumnya, pada bulan September 2015 rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani mengalami kenaikan sebesar 4,45 persen dari 4.363,77,- per kg ( Agst 2015) menjadi Rp 4.557,88,- per kg ( September 2015), dan di tingkat penggilingan naik 4,34 persen dari Rp 4.450,29,- per kg (Agst 2015) menjadi Rp 4.643,29,- per kg ( September 2015). Sementara itu, rata – rata harga gabah kualitas rendah dan gabah kualitas GKG tidak dapat dibandingkan.

PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH SEPTEMBER 2015

HARGA GABAH (GKP) DI PETANI NAIK 4,45 %

Survei harga produsen gabah berasal dari 99 observasi di tujuh kabupaten di Sumatera Barat, yaitu: Pesisir Selatan, Solok, Padang Pariaman, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Pasaman. Rata-rata harga gabah di tingkat petani bulan September dibanding bulan Agustus untuk kualitas GKP mengalami kenaikan sebesar 4,45 persen dari Rp 4.363,77 per kg (Agst 2015) menjadi Rp 4.557,88 per kg (September 2015). Sementara di tingkat penggilingan harga gabah GKP naik sebesar 4,34 persen dari Rp 4.450,29,- per kg (Agustus 2015) menjadi Rp 4.643,29,- per kg (September 2015).

Tabel 3

Jumlah Observasi Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) September 2015 Kelompok

Kualitas Observasi Jumlah

Harga di Tk Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga Tkt Penggilingan

(Rp/Kg)

HHarga Pembelian P Pemerintah ( (Rp/Kg)

Selisih harga kol (5&6) terhadap kol (7)

Terendah Tertinggi Rata-rata (Rp/kg) (%)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) GKG 0 (0,00%) -- -- -- -- 4.600,00,- -- -- GKP 99 (100%) 4000,00- 7.200,00,- 4.557,88- 4643,29,- 3.700,00,- (Petani) 857,88 23,19 3.750,00,- (Penggilingan) 893,29 23.82 KualitasRendah 0 (0 %) -- -- -- -- -- -- -- Total 103 (100,00) -- -- -- -- -- -- --

Harga gabah kualitas GKP terendah pada September 2015 di tingkat petani dijumpai di Kabupaten Agam, yaitu sebesar Rp 4.000,- per kg, sedangkan harga terendah di tingkat penggilingan juga terjadi di Kabupaten Agam, yaitu Rp 4.050,- per kg. Sementara harga tertinggi di tingkat petani terjadi di

(8)

Kabupaten Solok , yaitu sebesar Rp5.350,00,- per kg . Sedangkan harga tertinggi di tingkat penggilingan juga terjadi di Kabupaten Solok yaitu sebesar Rp 7.300,- per kg.

Tabel 4

Perbandingan Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Sumatera Barat Juli 2015 s/d September 2015

No. Kabupaten

Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Tingkat Petani (Rp/Kg)

Jul.’15 Agt.’15 Sept.’15 Bulan Sept. 2015 % Perubahan

thdp.Agst2015 Jul.’15 Agst.’15 Sept.’15

% Perubahan Bulan Sept. 2015 thdp.Agst. 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1 Pes, Selatan 4.354,97 4.377,56 4.376 ,77 -0,02 4.284,91 4.327,03 4.314,50 -0,29 2 Solok 4.816,33 4.833,20 5.751,67 19,00 4.271,55 4.702,40 5.661,33 20,39 3 Tanah Datar 4.482,17 4.594,08 4.520,74 -1,60 4.432,17 4.544,08 4.481,95 -1,37 4 Pdg, Prmn. 4.410,96 4.377,56 4.669,04 6,66 4.277,11 4.327,03 4.546,54 5,07 5 Agam 4.163,89 4.345,50 4.4613,86 2687 4.072,22 4.272,50 4.387,50 2,69 6 50 Kota 4.246,67 4.451,33 4.528,46 1,73 4.123,33 4.300,00 4.410,00 2,56 7 Pasaman 4.046,67 4.173,33 4.195,00 0,52 3.930,00 4.073,33 4.103,33 0,74 Sumbar 4.360,24 4.450,29 4.643,29 4,34 4.198,76 4.363,77 4.557,88 4,45 Grafik 3

Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Tingkat Penggilingan Dan HPP Sumatera Barat Sept 2013 – Sept 2015

4155.13 4266.0 4432.4 4593.5 4912.7 4698.9 4656.8 4649.5 4579.2 4609.1 4584.4 4681.0 4981.4 4966.1 5127.0 5795.85538.7 4994.9 4890.8 4631.1 4553.5 4413.4 4360.2 4450.3 4643.3 1800 2300 2800 3300 3800 4300 4800 5300 5800 Se p-13 O ct -1 3 Nov -1 3 De c-13 Ja n-14 Fe b-14 Ma r-1 4 Apr -1 4 M ay -1 4 Jun-1 4 Jul -1 4 Aug -1 4 Se p-14 ok t-1 4 Nov -1 4 De c-14 Ja n-15 Fe b-15 Ma r-1 5 Apr -1 5 M ay -1 5 Jun-1 5 Jul -1 5 Aug -1 5 Se p-15 Rat a-rat a Har ga ( Rp /K g) Bulan

Hrga Gabah di beras Penggilingan HPP

Berdasarkan Inpres No. 5 Tahun 2015 tentang Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah, telah ditetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang baru yang berlaku sejak tanggal 17 Maret 2015, yaitu untuk gabah kualitas GKP sebesar Rp 3.700,00,- per kg di tingkat petani dan Rp 3.750,00,- per kg di tingkat penggilingan, sedangkan HPP untuk gabah kualitas GKG sebesar Rp4.600,00,- per kg di tingkat penggilingan. Pada pemantauan bulan September 2015 tidak ditemukan kasus harga gabah yang berada di bawah HPP.

(9)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Azwir, S.Si

Kepala Bidang Statistik Distribusi

JlKhatibSulaiman No.48 Padang 25135

Telp. (0751)442158,442159 Homepage : http://sumbar.bps.go.id

Email : [email protected]

Badan Pusat Statistik

Provinsi Sumatera Barat

Referensi

Dokumen terkait

perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah.. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya : Saat ini keluarga Tn. A dan Ny B sebagai keluarga yang memiliki

Hal yang dilakukan dalam pembuatan konsep video company profile BPMTPK tidak jauh berbeda dengan proses produksi pada umumnya, yaitu terdiri dari proses pra

Our fathers taking us to our first baseball game, the perfectly manicured green grass and white on white of the baselines so precisely laid out before us as giants warmed up under

Setelah mencermati dan mempelajari Nota Keuangan dan Raperda Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Tahun Anggaran 2014 dan Rancangan Peraturan

Hanum dan Rangga membuat kisah perjalanan yang mempunyai ciri berbeda dari beberapa buku catatan perjalanan. Cerita ini mengandung unsur konflik yang menjadi pembangun

Karena dengan menggunakan layar sentuh maka mahasiswa dapat lebih mudah mengetahui segala informasi untuk sistem akademik dan pengumuman untuk setiap fakultas

Masyarakat Desa Meduri memilih pekerjaan sebagai pencari bonggol jati selain ada tawaran mereka juga pengrajin bonggol jati memiliki tingkat pendidikan yang

Berdasarkan hasil penelitian selanjutnya, peningkatan ukuran diameter pulau langerhans, yang terlihat pada mencit di kelompok perlakuan dengan dosis 0.47 mg/mL adalah yang