BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Penelitian
Kabupaten Kendal terletak di utara pulau Jawa, dekat dengan pantai utara yang biasa dikenal dengan daerah pantura. Daerah Kabupaten Kendal berbatasan dengan Kota Semarang pada sebelah timur, Kabupaten Batang pada sebelah barat, Kabupaten Temanggung sebelah selatan, dan berbatasan langsung dengan pantai utara. Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah penderita HIV/AIDS terbesar di Jawa Tengah. Dengan jumlah penderita 338 orang hingga tahun 2013, dan telah dilaporkan meninggal dunia 100 orang sejak tahun 2010.
Tabel 4.1
Karakteristik Responden Penelitian
Gambaran Fisik dan Psikologis Ibu dengan HIV/AIDS Saat Hamil Di Kabupaten Kendal
No Inisial Usia Pendidikan Pekerjaan Paritas
1 Ny. N 38 SD Ibu rumah tangga 4
2 Ny. NB 31 SMA Ibu rumah tangga 3
3 Ny. R 26 SMA Ibu rumah tangga 1
4 Ny. H 32 SMA Ibu rumah tangga 1
Peneliti akan menjabarkan hasil wawancara dari tiap responden yang terdiri dari 2 responden ibu hamil dengan HIV dan 2 responden ibu post partum 2 bulan dengan HIV. Pada pembahasan peneliti tidak menyebutkan nama responden namun diurutkan berdasarkan nomor responden. Semua responden dalam penelitian ini melakukan pengobatan HIV secara rutin di sarana kesehatan yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal.
Responden pertama berinisial Ny. N dengan usia 35 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan berpendidikan terakhir SD. Responden merupakan ibu hamil yang menderita HIV dengan usia kehamilan 7 bulan dan merupakan kehamilan yang ke 4. Responden ini telah terdiagnosis HIV sejak 5 tahun yang lalu dan menjalankan pengobatan HIV di RSUD Kabupaten Kendal. Sebelum terdiagnosis HIV responden pernah menjadi
Tenaga Kerja Wanita ke luar negeri selama tiga tahun. Suami responden juga sudah terdiagnosis HIV dengan pekerjaan pembuat bata merah dengan usia 40 tahun. Responden bertempat tinggal di Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal.
Responden kedua berinisial Ny. NB dengan usia 31 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan berpendidikan terakhir SMA. Responden merupakan ibu hamil dengan usia kehamilan 6 bulan yang merupakan kehamilan yang ke 3. Responden ini terdiagnosis HIV sejak 1 tahun yang lalu dan menjalankan pengobatan HIV di RSI Muhammadyah Kendal. Suami responden juga terdiagnosis HIV dengan pekerjaan sebagai supir truk kontainer dan berusia 35 tahun. Responden bertempat tinggal di Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal.
Responden ketiga berinisial Ny. R dengan usia 26 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan berpendidikan terakhir SMA. Responden ini merupakan ibu post partum dengan usia anak 2 bulan, responden telah didiagnosis HIV sejak 1 tahun yang lalu sebelum hamil dan menjalankan pengobatan HIV di RSUP Karyadi. Sebelum terdiagnosis HIV responden pernah merantau ke batam selama 5 tahun. Suami responden juga terdiagnosis HIV, dengan pekerjaan petani dan berusia 30 tahun. Responden bertempat tinggal di kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal.
Responden keempat berinisial Ny. H dengan usia 32 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan berpendidikan terakhir SMA. Responden ini merupakan ibu post partum dengan usia anak 2 bulan, responden telah terdiagnosis HIV sejak 2 tahun yang lalu dan menjalankan pengobatan HIV di RSUP Karyadi. Suami responden juga terdiagnosis HIV dengan pekerjaan serabutan dan berusia 38 tahun. Responden bertempat tinggal di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.
B. Gambaran Fisik dan Psikolois Ibu dengan HIV/AIDS saat Hamil.
Data yang sudah terkumpul dari responden ditulis selengkap-lengkapnya sesuai dengan hasil wawancara mendalam dan hasil catatan
lapangan yang dikumpulkan. Data yang sudah terkumpul tersebut selanjutnya peneliti pahami dan cermati yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang sudah dikategorikan sesuai dengan kata kunci, tema, dan kategori.
1. Kesehatan fisik.
Tabel 4.2
Hasil Wawancara Kesehatan Fisik Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Sehat Mual dan muntah biasa
Sehat Gangguan kesehatan Batuk pilek
Herpes di kaki
Mual dan muntah berlebihan disertai panas
Berdasarkan hasil wawancara pada penelitian ini diperoleh bahwa responden memiliki kesehatan fisik yang berbeda selama masa kehamilan. Responden III merasa sehat selama masa kehamilan dan tidak mengalami sakit apapun. Sementara responden IV mengalami mual dan muntah yang wajar selama 4 bulan dan tidak disertai penyakit lain. Sedangkan Responden I dan II mengalami gangguan kesehatan selama kehamilan yaitu adanya penyakit penyerta. Responden I mengalami batuk pilek selama lebih dari 14 hari serta mual dan muntah yang wajar selama 3 bulan. Sedangkan responden II menderita herpes di kaki dan mengalami mual dan muntah yang berlebih selama 4 bulan disertai panas. Pada kategori ini ditemukan dua tema yaitu sehat dan gangguan kesehatan.
a. Sehat.
Tema ini didukung oleh hasil wawancara tentang kesehatan fisik selama masa kehamilan pada responden antara lain responden III mengatakan selama kehamilan merasa sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan apapun. Sedangkan responden IV mengatakan hanya mengalami mual dan muntah yang wajar sampai 4 bulan.
b. Gangguan kesehatan
Tema ini diambil berdasarkan hasil wawancara tentang kesehatan fisik selama masa kehamilan yaitu responden I mengatakan bahwa responden mengalami batuk dan pilek lebih dari 2 minggu dan belum sembuh walaupun sudah berobat responden I juga mengalami mual dan muntah yang wajar. responden II mengatakan bahwa responden menderita herpes sejak sebelum hamil dan sudah mulai sembuh setelah minum obat, responden juga mengalami mual dan muntah yang berlebihan selama 4 bulan dan disertai panas.
2. Perubahan kondisi fisik.
Tabel 4.3
Hasil Wawancara Perubahan Kondisi Fisik Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Kondisi fisik baik Biasa
Berat badan naik Nafsu makan baik Kondisi fisik menurun Berat badan menurun
Berat badan tetap Nafsu makan menurun
Berdasarkan hasil wawancara yang sudah diperoleh, setiap responden mengalami perubahan fisik yang berbeda selama masa kehamilan. Responden III dan IV mengalami peningkatan berat badan selama masa kehamilan pada tiap trimester kehamilan dan nafsu makan juga meningkat selama hamil. Sementara berat badan responden I tetap, dan Responden II mengalami penurunan kesehatan selama masa kehamilan dengan penurunan nafsu makan sepanjang trimester kehamilan. Pada kategori ini ditemukan dua tema yaitu kondisi fisik baik dan kondisi fisik menurun.
Tema ini diambil berdasarkan hasil wawancara tentang perubahan fisik yang dialami selama masa kehamilan yang diperoleh dari responden III yang mengatakan jarang sakit dan mengalami peningkatan berat badan sebanyak 4 kg selama kehamilan. Responden III juga mengatakan bahwa nafsu makannya meningkat selama hamil. Sementara responden IV mengatakan bahwa kondisi fisiknya biasa dan berat badannya naik 14 kg dan nafsu makannya juga meningkat selama hamil sepanjang masa kehamilan.
b. Kondisi fisik menurun
Tema ini ditentukan sesuai dengan hasil wawancara tentang perubahan fisik yang dialami selama masa kehamilan yaitu responden I mengatakan bahwa tidak mengalami perubahan namun berat badan responden tidak naik selama masa kehamilan 7 bulan ini. Responden I juga menyatakan nafsu makanya menurun selama masa kehamilan. Hanya makan camilan dan tidak makan nasi. Sementara responden II mengatakan bahwa perutnya membesar namun berat badannya menurun 2 kg selama 6 bulan kehamilan ini.
3. Aktifitas fisik.
Tabel 4.4
Hasil Wawancara Aktifitas Fisik Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Aktifitas fisik baik Dapat melakukan aktifitas fisik seperti biasa
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh semua responden merupakan ibu rumah tangga dan dapat melakukan aktifitas fisik seperti biasa tanpa ada gangguan. Sehingga hanya ditemukan satu tema yaitu aktifitas fisik baik.
a. Aktifitas fisik baik
Tema ini diambil sesuai dengan hasil wawancara tentang aktifitas fisik selama masa kehamilan yang diperoleh yaitu responden
II mengatakan bahwa aktifitas fisiknya biasa dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa tanpa ada gangguan, tetapi responden II mengalami kelelahan pada saat mengalami mual dan muntah pada masa awal kehamilan. Responden I, III, dan IV mengatakan bahwa responden tidak mengalami kelelahan fisik yang berlebih selama masa kehamilan, responden mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa.
4. Upaya dalam menjaga kesehatan.
Tabel 4.5
Hasil Wawancara Upaya dalam Menjaga Kesehatan Pada Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Upaya menjaga kesehatan baik Memeriksakan diri ke bidan Memeriksakan diri ke Puskesmas Memeriksakan diri di Rumah Sakit
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh semua responden memeriksakan diri secara rutin di bidan maupun rumah sakit. Responden I memeriksakan kehamilannya di bidan desa dan Puskesmas. Sementara responden II memeriksakan kehamilannya di bidan desa dan rumah sakit. Responden III memeriksakan kehamilannya di rumah sakit selama masa kehamilannya dan melahirkan secara sesar. Sedangkan responden IV memeriksakan kehamilanya di bidan desa sebanyak 6 kali selama masa kehamilannya dan melahirkan secara sesar di rumah sakit.
Semua responden pada penelitian ini memiliki upaya menjaga kesehatan yang baik. Semua responden mau mematuhi saran dari petugas kesehatan untuk memeriksakan kehamilan secara rutin dan meminum obat yang diberikan secara benar. Pada kategori ini hanya ditemukan satu tema yaitu upaya menjaga kesehatan baik.
a. Upaya menjaga kesehatan baik
Tema ini ditentukan berdasarkan hasil wawancara tentang upaya menjaga kesehatan selama masa kehamilan dimana responden I mengatakan bahwa responden memeriksakan kehamilannya di
bidan desa setempat sebanyak 3 kali dalam 7 bulan kehamilannya, responden juga memeriksakan diri ketika mengalami mual dan muntah serta ketika batuk dan pilek. Responden II mengatakan memeriksakan kehamilannya di bidan sebanyak 2 kali dan 1 kali di Puskesmas selama 6 bulan kehamilan serta berobat di RSI ketika mengalami muntah yang berlebih dan herpes. Responden III mengatakan memeriksakan kehamilannya lebih dari 9 kali di RS Karyadi selama masa kehamilannya dan melahirkan secara sesar di RS Karyadi. responden IV mengatakan bahwa responden memeriksakan kehamilannya di bidan sebanyak 6 kali dan melahirkan di RS Karyadi secara sesar.
5. Respon emosi terhadap kehamilan Tabel 46
Hasil Wawancara Respon Emosi Terhadap Kehamilan Pada Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Senang Senang
Sedih Sedih
Bingung
Berdasarkan data wawancara yang diperoleh tentang respon emosi terhadap kehamilan pada umumnya semua responden merasa senag ketika tahu sedang hamil. Responden I, II, dan IV mengatakan senang akan kehamilannya. Namun responden III merasakan sedih dan bingung pada awalnya kemudian responden pasrah dengan apa yang terjadi. Dari kategori ini dapat diambil dua tema yaitu senang dan sedih.
a. Senang
Tema ini diambil dari hasil wawancara tentang respon emosi terhadap kehamilan yaitu responden I mengatakan senang ketika mengetahui tentang kehamilannya. Responden II mengatakan bahwa responden senang akan kehamilannya dan berharap anak yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan. Sementara responden IV
mengatakan senang dengan kehamilannya karena merupakan anak pertama.
b. Sedih
Tema ini ditentukan berdasarkan hasil wawancara tentang respon emosi terhadap kehamilan pada responden III yang mengatakan bahwa responden merasa bingung dan sedih akan kehamilannya tersebut. Responden merasa sudah tidak berguna dan merasa terbatasi apabila mau bekerja. Selain itu perasaan sedih yang dialami responden berhubungan dengan kecemasan apabila janin tertular HIV. Tetapi, kemudian responden III mengatakan pasrah dengan apa yang akan terjadi.
6. Kekhawatiran terhadap kondisi janin Tabel 4.7
Hasil Wawancara Kekhawatiran Terhadap Janin Pada Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Tidak cemas Biasa
Cemas Bingung
Takut
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh bahwa setiap reponden mengalami kekhawatiran yang berbeda tentang kondisi janin. Responden I mengatakan tidak cemas dengan kondisi janinnya. Sementara responden II, III, dan responden IV merasa cemas pada janinnya jika tertular HIV. pada kategori ini ditemukan dua tema yaitu tidak cemas dan cemas.
a. Tidak cemas
Tema ini ditentukan berdasarkan hasil wawancara tentang kekhawatiran terhadap kondisi janin. Responden I mengatakan tidak ada perasaan khawatir ataupun cemas janin akan tertular.
b. Cemas
Tema ini diambil berdasarkan hasil wawancara tentang kekhawatiran terhadap kondisi janin. Responden II mengatakan ada perasaan takut jika janin tertular HIV dan berharap janin akan lahir sehat. Responden III dan IV hanya mengatakan takut jika bayi akan tertular HIV.
7. Respon emosi menghadapi proses persalinan Tabel 4.8
Hasil Wawancara Respon Emosi Menghadapi Proses Kelahiran Pada Ibu dengan HIV saat Hamil
Di Kabupaten Kendal
Kategori Kata Kunci
Tidak takut Tidak takut
Biasa
Takut Deg-degan
Takut
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh, responden memilki respon emosi yang berbeda dalam menghadapi proses persalinan. Responden IV tidak merasa takut ketika akan menghadapi proses persalinan, sementara responden I, II, dan III merasa takut ketika sudah dekat dengan masa persalinan. Pada kategori ini dapat diambil dua tema yaitu tidak takut dan takut.
a. Tidak takut
Tema ini diambil berdasarkan hasil wawancara tentang respon emosi dalam menghadapi proses persalinan yang diperoleh dari responden IV mengatakan biasa saja ketika akan menjalani operasi sesar.
b. Takut
Tema ini ditentukan berdasarkan hasil wawancara tentang respon emosi dalam menghadapi proses persalinan yaitu responden I mengatakan takut ketika mendekati proses persalinan. Responden II mengatakan takut mengahadpi peroses persalinan karena di sesar. Sementara responden III mengatakan tidak membayangkan operasi sesar itu seperti apa dan takut apabila terjadi sesuatu.
C. Pembahasan
Ibu hamil dengan HIV/AIDS pada umumnya akan mengalami penurunan kondisi baik secara fisik ataupun psikologis yang diakibatkan oleh proses penyakit. Gejala HIV/AIDS pada masa kehamilan akan meningkat lebih cepat daripada saat tidak hamil, walaupun tidak ada perbedaan dalam seberapa cepat wanita meninggal akibat AIDS (Reeder, et al., 2013). Gejala yang sering muncul antara lain munculnya ketidaknyamanan prenatal, adanya keletihan yang hebat, anoreksia dan penurunan berat badan. Beberapa ibu hamil dengan HIV akan mengalami beberapa penyakit penyerta ketika kehamilan (Bobak, Lowdermilk, dan Jensen , 2005).
Respon psikologis ibu dengan HIV/AIDS akan sangat bervariasi, walaupun pada umumnya sama. Ibu hamil dengan HIV/AIDS tentunya akan mengkhawatirkan kondisi janin dalam kandungannya misalnya rasa cemas apabila janin tertular HIV maupun adanya kecacatan fisik. Selain itu, ketika memasuki trimester ketiga ibu akan mulai mengalami kecemasan terhadap persalinan (Hidayati, 2009). Kecemasan itu muncul dengan adanya komplikasi yang mungkin terjadi saat persalinan akibat infeksi HIV, antara lain adanya ruptur membran prematur, kematian janin, dan berat bayi lahir rendah (BBLR) (Reeder, et al, 2013).
Respon emosi yang positif berupa kebahagian ketika mengetahui tentang kehamilan akan menimbulkan perbaikan dari segi fisik maupun psikologis. Namun, apabila respon yang timbul adalah respon yang negatif, akan menimbulkan penurunan kondisi fisik maupun psikologis dari ibu hamil dengan HIV/AIDS. Menurut Kotze dalam penelitiannya pada tahun 2012, kemampuan mekamisme koping secara aktif berhubungan dengan penurunan stigma dan depresi, meningkatkan harga diri, dan dukungan sosial yang positif, meningkatkan pengetahuan, dan meningkatkan kesehatan fisik wanita hamil dengan HIV.
1. Kesehatan fisik
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh, kesehatan fisik ibu hamil dengan HIV berbeda-beda. Dua responden mengalami beberapa
penyakit penyerta yaitu mual dan muntah yang disertai panas serta penyakit herpes. Sementara dua responden lainnya memiliki kesehatan fisik yang baik.
a. Sehat
Hasil wawancara yang diperoleh dari responden III dan responden IV menunjukkan bahwa kesehatan responden baik selama masa kehamilan. Responden merasa sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan dan mengalami peningkatan berat badan yang baik selama masa kehamilan. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara tentang kesehatan fisik responden selama masa kehamilan.
Pernyataan responden di atas hanya menyebutkan keluhan mual dan muntah selama trimester I kehamilan. Mual dan muntah yang dialami ibu hamil pada awal kehamilan adalah fisiologis pada ibu hamil. Mual dan muntah dapat terjadi karena penurunan peristaltik usus dan hipersekresi asam lambung pada sistem pencernaan akibat peningkatan estrogen dan progesteron (Indriyani, 2013). Sehingga dari hasil wawancara tersebut mual muntah yang dialami Responden IV adalah wajar. Responden tidak mengalami gangguan kesehatan selama masa kehamilan.
Hasil wawancara di atas bertentangan dengan penyataan Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2005), pada pemeriksaan prenatal dapat menunjukkan adanya infeksi gonorhea, c. Trachomatis, hepatitis B, micobacterium dan tuberculosis. Dapat juga terjadi pada
Kotak 1
Waktu hamil Enggak mual sama muntah, malah sehat rasanya pas itu. Saya itu jarang sakit selama hamil. (RIII, 26th)
Selama hamil gag ada keluhan. Mual muntah aja waktu awal bulan, sampe 4 bulan sudah enggak. Nggak sampai lemes, biasa, kalo pagi muntahnya. (RIV, 32th)
kulit antara lain herpes zoster, angular cheliis,papular pruritic eruption, dermatitis seboroik, dan jamur.
Responden III terdiagnosis HIV sejak 2 tahun yang lalu dan responden IV terdiagnosis sejak 1 tahun yang lalu sebelum hamil. Kedua responden ini termasuk dalam stadium 1. Sehingga tanda dan gejala HIV yang muncul biasanya masih seperti infeksi ringan. Stadium pertama HIV dikenal dengan aktivitas fisik skala I. Dimana gejala klinis masih belum tampak (asimtomatis) ditandai dengan aktivitas yang masih normal disertai pembesaran pada getah bening persisten, fase ini akan berlangsung 2 sampai 3 tahun setelah infeksi (WHO, 2005).
Semetara itu kedua responden ini juga melakukan pengobatan ARV dan kontrol secara setiap bulan secara rutin di RSUP Karyadi berama suaminya. Pengobatan ARV ini tentunya akan mencegah adanya infeksi opportunistik yang muncul pada penderita HIV. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Malang bahwa kualitas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengikuti terapi ARV dari segi fisik adalah baik dan tidak adanya infeksi opportunistik yang muncul (Rachmawati, 2013). Hal ini sejalan dengan pernyataan Sudoyo, et al. (2009), bahwa pemberian ARV pada ODHA dapat meningkatkan kondisi kesehatannya. Infeksi penyakit oportunistik yang berat dapat disembuhkan. Penyakit yang biasanya terjadi berulang tidak akan kambuh dan tidak perlu meminum obat profilaksis apabila ODHA minum obat ARV secara teratur.
Berdasarkan penelitian Kotze, et al. pada tahun 2012 menyatakan bahwa kemampuan koping secara aktif berhubungan dengan dukungan sosial dan meningkatkan kesehatan fisik wanita hamil dengan HIV. Sehingga banyak hal yang akan mempengaruhi status kesehatan ibu hamil dengan HIV. Green (2009) menyatakan bahwa kesehatan ibu dengan HIV selama kehamilan tergantung
individu masing-masing misalnya kondisi fisik, nutrisi dan psikologis.
b. Gangguan kesehatan
Hasil wawancara yang didapatkan dari Responden I dan responden II menunjukkan bahwa responden mengalami beberapa gangguan kesehataan. Gangguan kesehatan yang dialami responden antara lain herpes, mual dan muntah yang berlebihan, dan gangguan saluran pernafasan. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara tentang kesehatan fisik responden selama masa kehamilan.
Hasil wawancara yang diperoleh dari Respoden II yaitu responden mengalami mual dan muntah berlebihan yang disertai panas dan mengalami penurunan berat badan. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2005) yaitu gejala yang sering muncul pada saat kehamilan pada ibu dengan HIV yaitu munculnya ketidaknyamanan prenatal, adanya keletihan yang hebat, anoreksia dan penurunan berat badan.
Gangguan kesehatan yang dialami Responden I berupa adanya batuk dan pilek yang lama sembuh dan penyakit herpes di kaki yang dialami Responden II dapat diakibatkan karena gejala stadium II yang dialami oleh penderita HIV. WHO (2005) menyatakan gejala pada stadium kedua dapat ditandai terdapat infeksi saluran pernafasan yang berulang-ulang seperti bronchitis, faringitis, sinusitis atau otitis media. Dapat juga terjadi pada kulit antara lain
Kotak 2
Biasa saja, ini lagi batuk kok bu, sudah 2 minggu lebih. (RI, 36 th) Kalo mual dan muntah ya sampai lemes, kadang sampek panas badane. Tapi masih kuat kok.(RII, 31 th)
Enggak kering sih mbak. Gatel nya ya di sini ni, kaki, ada domponya, apa itu herpes katanya, tapi udh kering. (RII, 31 th)
herpes zoster, angular cheliis,papular pruritic eruption, dermatitis seboroik, dan jamur.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Haroen, Juniarti, dan Windari (2008) di Kabupaten Bandung barat menyebutkan wanita dengan HIV mengalami keluhan terhadap jamur, sariawan yang kambuhan, dan diare.
2. Kondisi fisik
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh, kondisi fisik ibu hamil dengan HIV berbeda. Dua responden mengalami peningkatan berat badan selam masa kehmilan dan tidak disertai penurunan kondisi tubuh akibat penyakit. Sementara satu responden yaitu responden I tidak mengalami peningkatan maupun penurunan berat badan. Dan satu responden lain yaitu responden II mengalami penutunan berat badan selama masa kehamilan.
a. Kondisi fisik baik
Hasil wawancara yang diperoleh dari Responden III dan Responden IV menunjukkan bahwa kondisi fisik responden selama masa kehamilan adalah baik. Responden juga mengalami peningkatan berat badan selama masa kehamilan dan menyatakan adanya peningkatan nafsu makan. Maka berdasarkan hasil wawancara pada responden III dan Responden IV tidak ada penurunan kondisi fisik selama masa kehamilan. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara tentang kondisi fisik ibu hamil dengan HIV.
Kotak 3
Berat badannya naik 4 kilo mbak. Cuma 4 kilo aja. (RIII, 26th) Enak aja mbak makannya. Malah banyak. (RIII, 26th)
Tambah naik. Tambah gendut gitu. (RIV, 32 th)
Berat badan terakhir sampe 55, kalau sebelum hamil 39 sampe 40. Naik 15 kilo lebih ya. (RIV, 32 th)
Makannya biasa, tambah banyak. Ya nasi, ya semua, semua mau pokoknya. (RIV, 32 th)
Hasil wawancara pada aspek kondisi fisik diatas hampir sama dengan aspek kesehatan fisik yang sudah dibahas sebelumnya. Tidak adanya penurunan kondisi fisik tersebut dapat dihubungkan dengan berbagai hal antara lain stadium HIV, konsumsi ARV, mekanisme koping, dan dukungan social yang diterima oleh responden selama kehamilan. Responden III dan IV terdiagnosis HIV < 2 tahun yang lalu, kedua responden ini termasuk dalam kategori stadium 1 HIV. Sehingga tanda dan gejala HIV yang muncul biasanya masih seperti infeksi ringan. Semetara itu kedua responden ini juga melakukan pengobatan ARV dan kontrol secara setiap bulan secara rutin di RSUP Karyadi berama suaminya. Pengobatan ARV ini tentunya akan mencegah adanya infeksi opportunistik yang muncul pada penderita HIV.
Hal tersebut tentunya bertentangan dengan pernyataan Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2005), gejala yang sering muncul selama kehamilan yaitu ketidaknyamanan prenatal, keletihan yang hebat, anoreksia dan penurunan berat badan. Namun sesuai dengan pernyataan WHO (2005) gejala penderita HIV pada stadium pertama masih belum tampak (asimtomatis) ditandai dengan aktivitas yang masih normal. Menurut penelitian Kotze, et al. pada tahun 2012 menyatakan bahwa kemampuan koping secara aktif berhubungan dengan dukungan sosial dan meningkatkan kesehatan fisik wanita hamil dengan HIV.
b. Kondisi fisik menurun
Hasil wawancara yang diperoleh tentang kondisi fisik pada Responden I ditemukan adanya penurunan kondisi fisik yaitu tidak adanya peningkatan berat badan selama hamil. Berat badan responden sebelum hamil adalah 55 sementara setelah hamil 7 bulan masih 55kg. Namun, responden tidak merasakan adanya penurunan
kondisi tersebut, responden menganggap hal tersebut adalah wajar. Responden I juga mengalami anoreksia selama kehamilan. Responden menyatakan tidak nafsu jika makan nasi, responden hanya makan camilan saja.
Responden II mengalami penurunan berat badan selama hamil. Berat badan responden sebelum hamil adalah 55 kg namun setelah hamil 6 bulan turun menjadi 53 kg. Responden II menyadari adanya penurunan berat badan tersebut akbiat mual dan muntah berlebihan saat awal kehamilan. Nafsu makan responden juga mengalami penurunan. Akan tetapi responden masih memiliki respon yang positif dengan tetap memiliki semangat dan mencari layanan kesehatan secara baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara yang diperoleh tentang kondisi fisik selama hamil.
Tidak adanya peningkatan dan penurunan berat badan yang dialami Responden I dan II tersebut sesuai dengan pernyataan Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2005), yaitu gejala yang sering muncul selama kehamilan yaitu ketidaknyamanan prenatal, keletihan yang hebat, anoreksia dan penurunan berat badan. Selain itu WHO (2005), juga menyatakan bahwa pada stadium kedua ini HIV akan ditandai dengan penurunan berat badan (BB) < 10% yang tidak dapat
Kotak 4
Sebelum hamil itu beratnya tinggi, 55kg bu. Kalau sekarang terakhir masih 55 kg. (RI, 38 th)
Makanya nasi susah, Itu makan cemilan aja, kadang nafsu, kadang enggak. (RI, 38 th)
Minggu kemarin terakhir periksa sih masih 53 mbak. Gag naik. Itu aja sempet turun pas muntah-muntah. Dulu sih 54 kilo mbak. Kadang 55 kilo malah. (RII, 31 th)
Ya itu turun 1 kilo. Belum naik lagi. Padahal saya udah banyak makan, tapi kayaknya masih kurang. (RII, 31 th)
dijelaskan. Penurunan berat badan tersebut dapat diakibatkan karena penurunan nafsu makan dan mual serta muntah yang dialami responden selama kehamilan.
3. Aktifitas fisik
Berdasarkan hasil wawancara yang didapatkan, semua responden menyatakan tidak mengalami gangguan pada aktifitas fisik. Semua responden merupaka ibu rumah tangga dan mampu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga tanpa ada gangguan yang berarti.
a. Aktifitas fisik baik
Hasil wawancara yang diperoleh tentang aktifitas fisik selama hamil ditemukan bahwa semua responden tidak mengalami gangguan aktifitas selama hamil. Responden tidak mengalami kelelahan fisik yang berarti. Responden mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa. Tetapi responden II menyatakan mengalami kelelahan di awal kehamilan yaitu ketika memgalami mual dan muntah. Namun, Responden II tidak menganggap itu adalah gangguan aktifitas yang berarti. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara tentang aktifitas fisik.
Pernyataan yang disampaikan oleh responden menggambarkan tidak adanya perubahan aktifitas fisik yang berarti selama hamil.
Kotak 5
Iya, aktifitas biasa, ndak lemes, biasa. (RI, 38 th)
biasa sih mbak. Biasa lah. Kalo capek ya istirahat, dulu itu aja pas masih muntah-muntah. Kalo sekarang sih udh enggak. Biasa gitu. (RII, 31 th)
Ya dirumah aja jadi ibu rumah tangga. Enggak sihh. Malah sehat rasanya pas itu. (RIII, 26 th)
Nggak mbak, tadinya kerja di pabrik, terus hamil ini jadi keluar. Kalau dirumah ya kegiatannya bersih-bersih, nyapu, ngepel. Nggak sih, biasa aja kok mbak. (RIV, 32 th)
Responden merasa aktifitasnya masih seperti biasa dan tidak mengalami gangguan yang berarti. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Bobak, Lowdermilk, dan Jensen (2005), bahwa ibu hamil dengan HIV akan mengalami ketidaknyamanan prenatal antara lain adanya keletihan yang hebat. Selain itu, hasil penelitian di Kabupaten Bandung Barat juga menunjukkan bahwa wanita dengan HIV mengalami perasaan cepat lelah (Haroen, Juniarti, dan Windari, 2008). Semua responden dalam penelitian ini menjalankan pengobatan ARV secara teratur, sehingga tidak adanya penurunan aktifitas ini dapat dipengaruhi dengan adanya pengobatan ARV. Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Malang bahwa kualitas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengikuti terapi ARV dari segi fisik adalah baik dan tidak adanya infeksi opportunistik yang muncul (Rachmawati, 2012). Hal ini sejalan dengan pernyataan Sudoyo, et al. (2009), bahwa pemberian ARV pada ODHA dapat meningkatkan kondisi kesehatannya. Pengobatan dan perawatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan usia harapan hidup pada ODHA (Widyanto dan Triwibowo, 2013).
4. Upaya menjaga kesehatan
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh semua responden memiliki upaya menjaga kesehatan yang baik. Semua responden memeriksakan kesehatan secara rutin di sarana kesehatan dan mau memenuhi saran dari petugas kesehatan.
a. Upaya menjaga kesehatan baik
Semua responden dalam penelitian ini memiliki upaya menjaga kesehatan yang baik. responden memeriksakan diri secara rutin di bidan maupun rumah sakit. Responden I memeriksakan kehamilan dibidan desa dan puskesmas setempat sebanyak 3 kali dalam 7 bulan kehamilannya. Responden juga memeriksakan diri ketika mengalami gangguan kesehatan, yaitu mual dan muntah serta batuk di bidan. Obat yang diberika juga diminumoleh responden secara teratur.
Responden II periksa kehamilan di bidan setempat sebanyak 2 kali selama 6 bulan kehamilannya. Ketika mengalami gangguan kesehatan yaitu mual dan muntah disertai panas serta herpes, responden memeriksakan diri secara rutin dan meminum obat yang diberikan sampai habis.
Responden III periksa kehamilan di rumah sakit secara teratur. Responden menyatakan memeriksakan di RS Karyadi dengan dokter obsgyn lebih dari 9 kali selama hamil. Proses melahirkan responden juga dilakukan di RS Karyadi secara sesar.
Responden IV periksa kehamilan sebanyak 6 kali di bidan desa setempat sebanyak 6 kali selama hamil. Responden juga memeriksakan diri ketika mengalami mual dan muntah di awal kehamilannya. Proses melahirkan responden dilakukan di RS Karyadi secara sesar sesuai dengan saran yang diberikan oleh petugas kesehatan. Hal diatas dapat dibuktikan dengan catatan hasil wawancara tentang upaya menjaga kesehatan.
Kotak 6
Periksanya kadang di puskesmas atau bidan. Sudah 3 kali bu. (RI, 38 th)
Waktu batuk pilek berobat di bidan. (RI, 38 th)
Ke bidan mbak. Itu deket dari sini. ini, klo ada apa2 kan langsung kesana. Kayak pas muntah dulu itu. Baru 2 kali sih mbak. Tapi saya juga periksa ke RSI kok mbak. (RII, 31 th)
Ke karyadi mbak. Ya tiap bulan sekali periksa. Periksannya ke dokter obsginya? (RIII, 26 th)
Lahirnya sesar di karyadi. (RIII, 26 th)
Di bidan sini, dekat. Periksa enam sampe tuju kali mbak. (RIV, 32 th)
Upaya menjaga kesehatan tersebut tentunya mempengaruhi status kesehatan dari responden. Pada umumnya semua responden memiliki kondisi fisik yang baik, ini dapat dihubungkan dengan upaya menjaga kesehatan yang baik. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haroen, Juniarti, dan Windari (2008) di Kabupaten Bandung Barat yang menyebutkan bahwa pelayanan perawatan dan pengobatan yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV.
Pengobatan ARV pada wanita hamil dengan HIV tidak berbeda dengan wanita yang tidak hamil karena ARV tidak mengganggu janin tapi justru melindungi janin dari HIV (Nursalam, 2009). Dengan pengobatan ARV, risiko janin tertular HIV setelah persalinan hampir tidak ada (Green, 2009).
Pemberian ARV pada ODHA dapat meningkatkan kondisi kesehatannya (Sudoyo, et al. 2009). Pengobatan dan perawatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan usia harapan hidup pada ODHA (Widyanto dan Triwibowo, 2013).
5. Respon emosi
Berdasarkan hasil wawancara, respon emosi yang dialami 3 responden terhadap kehamilan pada umumnya responden merasa senang terhadap kehamilannya. Sementara 1 responden menyatakan sedih dan bingung saat tahu tentang kehamilannya.
a. Senang
Hasil wawancara yang diperoleh Responden I, II dan IV menyatakan senang ketika mengetahui kehamilannya. Responden II mengharapkan kelahiran anak perempuan. Sedangkan responden IV menyatakan bahwa ini merupakan anak pertama. Hal ini dibuktikan dengan catatan hasil wawancara tentang respon emosi ketika mengetahui kehamilannya.
Respon emosi yang dirasakan oleh responden ini tidak dihubungkan dengan kekhawatiran tentang kondisi janin. Perasaan senang tersebut tentunya berhubungan dengan mekanisme koping dan dukungan sosial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kotze, et al.di Afrika Selatan pada tahun 2012 bahwa kemampuan mekanisme koping yang aktif dan dukungan sosial yang positif dapat meningkatkan harga diri dari wanita hamil dengan HIV/AIDS yang dapat menurunkan tingkat depresi dan memunculkan respon emosi dan fisik yang baik selama kehamilan.
b. Sedih
Hasil wawancara yang diperoleh Responden III menyatakan adanya perasaan bingung dan sedih ketika mengetahui tentang kehamilannya. Responden merasa sudah putus asa dan tidak ada harapan. Walaupun pada akhirnya responden menyatakan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Hal ini dibuktikan dalam catatan wawancara tentang respon emosi terhadap kehamilan.
Kotak 7
Saya ya seneng aja bu. (R I, 38 th)
ya seneng sih mbak, wong hamil kok, anak ke 3 ini, mudah-mudahan cewek. Soalnya yang 2 cowok semua. (R II, 31 th)
biasa aja mbak, senang, karena anak pertama. (R IV, 32)
Kotak 8
Kayak udah gag karu karuan mbak, sedih, bingung, sebelumnya kan saya tau itu penyakit mematikan. Tapi ya udah pasrah aja mbak, mau gimana lagi. (RIII, 26 th)
rasanya bingung, mau berkarya atau apa gitu udah kayak bingung gitu lah mbak. (RIII, 26 th)
Respon emosi ini dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dari responden dan kemampuan kognitif dari responden. Menurut responden HIV merupakan penyakit yang mematikan sementara responden masih muda dan memiliki cita-cita yang tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian Kotze, et al. pada tahun 2012, sebagian besar ibu hamil dengan HIV akan mengalami peningkatan depresi pada awal kehamilannya dan menurun seiring dengan mekanisme koping yang digunakan dari masing-masing individu. Mekanisme koping individu tersebut dapat dihubungkan dengan tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, dan dukungan sosial.
Kecemasan pada Wanita hamil dengan HIV dapat dihubungkan dengan peningkatan kebutuhan dari berbagai aspek, seperti aspek fisik, psikologis, ekonomi, dan sosial. Pada penelitian Susanti (2010), ditemukan bahwa dalam memenuhi tuntutan pemenuhan kebutuhan tersebut penderita HIV/AIDS terhalang dengan adanya norma dan adat yang ada pada masyarakat hal ini menyebabkan wanita hamil dengan HIV justru menutup dari masyarakat. Hal ini mengakibatkan peningkatan kecemasan pada ibu hamil dengan HIV.
6. Kekhawatiran terhadap janin
Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh, 3 responden menyatakan cemas terhadap kondisi janin. Sementara 1 responden mengatakan tidak cemas terhadap janinnya. Maka, pada kategori ini dapat ditentukan dua tema, yaitu cemas dan tidak cemas.
a. Tidak cemas
Hasil wawancara yang ditemukan pada Responden I menunjukkan tidak merasa cemas terhadap kondisi janinnya. Responden I menyatakan tidak khawatir apabila janin tertular HIV. Responden hanya berharap janin tidak tertular HIV. Hal ini dibuktikan dalam catatan wawancara tentang kekhawatiran terhadap janin.
Respon kecemasan ini dapat dipengaruhi oleh pengetahuan responden tentang HIV dan tingkat pendidikan dari responden. Responen I menyatakan HIV itu merupakan penyakit saja. Responden tidak mengetahui lebih dalam selain itu. Pendidikan terakhir responden adalah SD. Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Susanti (2010) yang menyatakan bahwa kecemasan ibu hamil dengan HIV akan meningkat berhubungan dengan kekhawatiran ibu apabila janin tertular, stigma masyarakat, dan peningkatan kebutuhan ibu hamil.
b. Cemas
Hasil wawancara yang ditemukan pada Responden II, III dan IV pada umumnya sama. Responden merasa cemas apabila janin tertular HIV. Responden II menyatakan harapan agar janin sehat. Hal ini dapat dibuktikan dalam catatan wawancara tentang kekhawatiran terhadap janin.
Hasil wawancara responden diatas sesuai dengan penelitian Haroen, Juniarti, dan Windari (2008) yang menyebutkan bahwa wanita dengan HIV mengalami perasaan cemas apabila menularkan kepada keluarga dan anaknya. selain itu adanya kecacatan pada bayi
Kotak 9
Mm.Nggak, nggak ada bu perasaan khawatir. (RI, 38 th) Nggak tau bu. Ya itu penyakit. (RI, 38 th)
Kotak 10
Kalau sedih sih enggak mbak. Cuma takut aja, ya itu takut kalau dedek ketularan. (R II, 31 th)
Ya takut juga kalau dedek ketularan. (R III, 26 th)
Nggak sih, nggak ada, doanya sih ya cuma mudah-mudahan anak saya nggak ketularan.(R IV, 32 th)
membuat ibu merasa khawatir dan cemas secara berlebihan (Dewi dan Sunarsih, 2011). Respon emosi ini tentunya dipengaruhi dengan pengetahuan responden tentang HIV.
7. Respon emosi menghadapi proses persalinan
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, setiap responden memiliki respon emosi yang berbeda ketika menghadapi proses persalinan. 3 responden menyatakan takut ketika, sedangkan 1 responden menyatakan tidak takut. Maka pada kategori ini dapat ditemukan dua tema yaitu tidak takut dan takut.
a. Tidak takut
Hasil wawancara yang ditemukan pada Responden IV menyatakan bahwa responden tidak merasa takut ketika mendekati proses persalinan. Responden melahirkan secara seacar di RS Karyadi. Hal ini dapat dibuktikan dalam catatan wawancara tentang respon emosi dalam menghadapi proses persalinan.
Respon emosi yang dialami oleh responen IV bertentangan dengan pernyataan Hidayati (2009), yaitu ketika memasuki trimester ketiga ibu akan mulai mengalami kecemasan akan persalinan, sehingga ibu akan banyak bertanya tentang tanda –tanda persalinan kepada orang lain. Selain itu komplikasi yang mungkin muncul pada ibu hamil dengan HIV akan meningkatkan kecemasan pada ibu hamil ketika mendekati proses persalinan.
b. Takut
Hasil wawancara yang ditemukan pada Responden I, II, dan III pada umumnya sama. Ketiga responden menyatakan takut ketika mendekati proses persalinan. Responden I menyatakan takut saat lahiran tanpa alasan yang jelas. Sedangkan Responden II dan III menyatakan takut yang berhubungan dengan proses operasi sesar itu
Kotak 11
seperti apa. Hal ini dapat di buktikan dari hasil wawancara tentang respon emosi menghadapi proses persalinan.
Perasaan takut yang muncul pada responden ini memiliki penyebab yang berbeda dengan pernyataan Reeder, et al. (2013) yang menyatakan bahwa infeksi HIV dapat menimbulkan adanya ruptur membran prematur, kematian janin, dan berat bayi lahir rendah (BBLR). Komplikasi pada proses persalinan itu menyebabkan adanya perasaan takut dan khawatir pada ibu hamil dengan HIV (Dewi dan Sunarsih, 2012). Pada penelitian ini satu responden memiliki perasaan takut yang tidak jelas penyebabnnya terhadap proses persalinan. Sementara dua responden menyatakan takut yang berhubungan dengan proses operasi sesar.
D. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh kurang satur dan memenuhi kriteria sampling karena keterbatasan responden di Kabupaten Kendal. Peneliti juga kurang tepat dalam mengkategorikan hasil yang diperoleh dari wawancara yaitu berdasarkan pertanyaan. Bahasa yang digunakan peneliti dalam wawancara juga berbeda-beda, hal ini mengakibatkan jawaban dari responden tidak sama. Selain itu, peneliti kurang melakukan pendekatan kepada responden. Responden dalam penelitian ini merupakan penderita HIV yang kurang terbuka terhadap orang baru, sehingga forum grup discusion juga tidak dapat dilakukan. Selain itu penelitian ini tidak melibatkan observasi dan wawancara dari anggota keluarga masing-
Kotak 12
Ya takut, Mudah mudahan saja di kasih kelancaran bu. (R I, 38 th) waduhh, takut sih mbak, soalnya kata dokter harus sesar. (R II, 31 th)
Ya deg degan gitu mbayangin sesar itu kayak apa, kan belum pernah, hehe. (R III, 26 th)
masing responden untuk mengetahui lebih mendetail tentang perubahan fisik, psikologis dan kegiatan sehari-hari dari responden agar data lebih akurat. Sehingga kemungkinan jawaban kurang objektif daru responden mungkin terjadi. Pada penelitian ini juga tidak meneliti secara mendalam bagaimanakah pengetahuan responden mengenai HIV/AIDS yang tentunya mempengaruhi respon fisik, psikologis, dan perilaku responden sehari-hari.