Pemikiran Ketuhanan al-Kindi
This page was generated automatically upon download from the Globethics.net Library. More information on Globethics.net see https://www.globethics.net.
Data and content policy of Globethics.net Library repository see https://
repository.globethics.net/pages/policy
Item Type Preprint
Authors Afandi
Rights With permission of the license/copyright holder Download date 24/01/2022 16:29:53
Link to Item http://hdl.handle.net/20.500.12424/183430
PEMIKIRAN KETUIIANAN AL.KINDI Oleh: Drs. Afaqdi
I. PENDAHTJLUAN
Al-Kindi, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya'cub bin Ishaq Ash- shabbah bin 'Imron bin Ismail bin Al-Asy'ats bin Qaya Al-Kindi. Oltatrir- kan di Kufah pada tahun 185 H (801 M). Ayahnya bernamd Ishaq Ash- shabbah, Gubernur Kufah pada masa pemerintah Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas. Al-Kindi hidup pada zaman kejayaan Khali- fah Harun Al-Rasyid, wafat252 H (861M). Nama Al-Kindi dikenal di ke- mudian hari melalui kitab-kitabnya yang berjumlah tidak kufang dai 241.
buah dalam bidang filsafat, logica, arithmatika, kedokteran, ilmu jiwa, po- litik, music, matematika dan lain-lain. Pada masa hidup Al-Kindi penterje- mahan buku-buku Yunani sangat pesat dah ia turut aktif dalam kegiatan itu. Ia mencoba mempertemukan atau memadukan agama dan filsafat.
Menurut Al-Kindi filsafat adalah pengetahuan yang benar. Sedang agama menerangkan tentang apa yang benar. Jelas ada perbedaan antara filsafat dan agama. Keduanya bertujuan untuk menerangkan apa yang benar dan yang baik. Agama di samping mempergunakan wahyu juga memperguna- kan akal, dan filsafat mempergunakan akal. Wahyu tidak bertentangan de- ngan filsafat. Hanya argumentasi yang dikemukakan wahyu lebih meya- kinkan daripada argumentasi filsafatlr
Tuhan menurut Al-Kindi adalah pencipta alam, bukan penggerak per- tama, Tuhan itu Esa, Azali, Unik. Ia tidak tersusun dari materi dan ben- tuk, tidak bertubuh dan bergerak. Ia hanyalah keesaan belaka. Selain Tuhan semuanya mengandung arti banyak.
II. METAFISIKA DAN PENGERTIAN TUHAN MEI{URUT AL.KINDI
Sebagai diketahui, Al-Kindi banyak mempelajari filsafat Yunani, maka dalam pemikirannya banyak kelihatan unsur-unsur filsafat yunani itu. Un- sur-unsur yang terdapat dalam pemikiran filsafat Al-Kindi ialah:
1. Aliran Pitagoras tentang matematika sebagai' jalan ke arah filsafat.
2. Pikiran-pikiran Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meski- pun Al-Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
3. Pikiran-pikiran Plato dalam soal kejiwaan.
4. Pikiran-pikiran Plato dan Aristo bersama-sama dalam soal etika.
5. Wahyu dan iman (ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhu- bungan dengan Tuhan dan Sifat-sifatNya.
6. Pikiran-pikiran aliran Mu'tazilah dalam penghargaan kekuatan akal dan dalam mena'wilkan ayat-ayat Qur'an.2
Oleh karena pemikiran Al-Kindi banyak mendapat pengaruh filsafat Yu-
56
srri, maka sebagian penulis berpend4c I cfuruh filsafat Yunani. Tetapi bila pem.Li oe, tampak bahwa pada mulanya AlKind -fat Yunani, tetapi akhirnya mempmyli
Dari beberapa pemikiran kefilsafutan y berkesimpulan bahwa filsafat ketuhanan&
kedudukan yang paling tinggi dari yang hn en mengenai Tuhan adalah sebagai b%fun dukannya. Selain itu, banyak p€ngamet D lgaruhi pemikiran Al-Kindi bukaa hanya I Aliran Mu'tazilah yang sangat berpegang Lekuatan akal, terutama di dalam mentcr hubungan dengan masalih Ketuhanan.l Metalisika Al-Kindi
Bagi Al-Kindi metafisika adalah "ilrnu tidak bergerak", atau ilmu pengetahu2n te nya ia melukiskan metafisika sebagai yang la macam filsafat, sebab penyelidikannla r termulia dari semua wujud".a
Al_Kindi membahas masalah gstafidh kutan dalam masalah Filsafat Pertama- Kr benda-benda alam.s
George N. Atiyah mengatakan, bahsa da kelas-kelas wujud, Tuhan dan alam-N;
Nya, dan hubungannya dengan alam cipn Dalam Filsafat Pertama Al-Kindi berti wujud akali. Pada wujud yang pertama r obah dan tidak tetap dalam posisi, kuatrti yang kedua (Tuhan tidak dimasukten). ti dan tak mempunyai eksistensi material. C diketahui akal ialah: Genera dan Spacicr- punyai eksistensi, oleh karena itu tidat dq Jalan yang ditempuh oleh Al-Kindi, dit jukkan' perbedaan antara pelbagai vujud perasaan dan akal, sensual dan rational-
Bahwa manusia itu mempunyai dua r ngan sifat makhluk, sebab benda-benda itr sus, universal dan particular, yang dapat d rusan, conceps dan precepts. Yang rrimekr adalah pelbagai jenis, dan keharusan (prer secara benda dan yang dapat dicapai oleh I hamkan sebagai genera dan species, meH dapat dicapai oleh perasaan. Oleh karene i akan tetapi secara akal ia ada cita, tidek d
n Ishaq Ash- indi. Dilahir- r Ishaq Ash- i dan Harun avaan Khali- ll;enal di ke- zng dan 24I mu jiwa, po- odi penterje- hm kegiatan
dan filsafat.
:dang agama ntara filsafat tg benar dan lemperguna- :ntangan de-
lebih meya- rggerak per- eri dan ben- laka. Selain
unani, maka rani itu. Un- lah:
h flsafat.
sria. meski- g qadimnya
i etika.
ians berhu- an akal dan
nisafat Yu-
nani, maka sebagian penulis berpendapat bahwa Al-Kindi mengambil alih seluruh filsafat Yunani. Tetapi bila pemikirannya dipelajari dengan seksa- ma, tampak bahwa pada mulanya Al-Kindi mendapat pengaruh pikiran fil- safat Yunani, tetapi akhirnya mempunyai kepribadiannya sendiri.
Dari beberapa pemikiran kefilsafatan yang ditekuni, akhirnya Al-Kindi berkesimpulan bahwa filsafat ketuhananlah yang mendapat derajat atau kedudukin yang paling tinggi dari yang lainnya. Ia memandang pembahas- an mengenai Tuhan adalah sebagai bagian filsafat yang paling tinggi kedu- dukannya. Selain itu, banyak pengamat mengatakan, bahwa yang mempe- ngaruhi pemikiran Al-Kindi bukan hanya filsafat Yunani, akan tetapi juga .{liran Mu'tazilah yang sangat berpegang teguh terhadap Al-Qur'an dan kekuatan akal, terutama di dalam mengemukakan pendapatfYa tang ber- hubungan dengan masalah Ketuhanan.'
Metafisika Al-Kindi
Bagi Al-Kindi metafisika adalah "ilmu pengetahuan tentang apa yang tidak bergerak", atau ilmu pengetahuan tentang hal-hal llahiyah' Selanjut- nya ia melukiskan metafisika sebagai yang termulia dan tertinggi dari sega- la macam filsafat, sebab penyelidikannya adalah pada "yang tertinggi dan termulia dari semua wujud".a
Al-Kindi membahas masalah metafisika dalam bukunya yang bersang- kutan dalam masalah Filsafat Pertania, Ke Esaan Tuhan dan berakhir:nya benda-benda alam.s
George N. Atiyah mengatakan, bahwa metafuika Al-Kindi terbatas pa- da kelas-kelas wujud, Tuhan dan alam-Nya, perpuatan-perbuatan kreatif- Nya, dan hubungannya dengan alam ciptaan-Nya.o
Dalam Filsafat Pertama Al-Kindi berbicara tentang wujud indrawi dan wujud akali. Pada wujud yang pertama wujudnya tidak abadi, berobah- obah dan tidak tetap dalam posisi, kuantitas dan kualitas. Sedang wujud 1'ang kedua (Tuhan tidak dimasukkan), tidak dapat diketahui oleh indra dan tak mempunyai eksistensi material. Contoh wujud yang hanya dapat diketahui akal ialah: Genera dan Species.,Genera dan species tidak mem- punyai eksistensi, oleh karena itu tidak dapat ditangkap oleh panca indra'7 Jalan yang ditempuh oleh Al-Kindi' ditariknya suatu garis yang menun- jukkan perbedaan antara pelbagai wujudnya benda yang sesuai dengan perasaan dan akal, sensual dan rational.
Bahwa manusia itu mempunyai dua wujud yang berlainan, sesuai de- ngan sifat makhluk, sebab benda-benda itu adalah bersifat umum dan khu- sus, universal dan particular, yang dapat disebutkan sebagai cita dan keha- rusan, conceps dan precepts. Yang dimaksud dengan cita (concepts) di sini adalah pelbagai jenis, dan keharusan (presepts) di sini adalah perorangan' secara benda dan yang dapat dicapai oleh perasaan. Jenis, yang biasa dipa- hamkan sebagai genera dan species, makhluk dalam artian umum, tidak dapat dicapai oleh perasaan. Oleh karena itu secara perasaan ia tidak ada, akan tetapi secara akal ia ada cita, tidak ditunjukkan dalam jiwa, akan te-
tapi kebenarannya bergantung kepada suatu kaedah akal. Sebagai contoh, cita yang berada di luar alam, tidak dapat disebut padat (ptemui) atau ko- song (void) dan tidak dapat dicapai ol-h rasa, kecuali Oinsan akal murni.
Pelajaran ini menjadi bagian dari ilmu metaphisica.s *
Dari kutipan ini, tampaklah fikiran Al-Kindi bahwa tiap-tiap benda mempunyai dua sifat, yaitu sifat umum dan sifat khusus. sifaf umum dise- but j'ga sebagai cita berupa berbagai jenis atau species, cita tidak dapat diketahui melalui perasaan, maka dari itu ditinjau dari sudut perasaan Cita itu tidak ada. Sebaliknya precepts dan keharusan merupakaniujud kong- krit, sesuatu yang dapat diketahui melalui perasaan. Sifat umum dan sifat khusus benda itu menjadi bagian dari meiafisika Al-Kindi. Dari itu Al- Kindi dapat dikatakan menganut gambaran dualisme wujud.g Di satu pi- hak ada Tuhan, yang wujudnya berada di luar kemampuan untuk dilukis- kannya
lan yang untukNya tidak berlaku definisi substansi sebagai ber- ada sendiri. Di lain pihak,
l0frinoi mengaiut tiga jenis wujud yun-g ai"ip- takan, yaitu wujud jasmaniah, wujud spiritual dan benda-Lenoa iitatri.^
Pengertian Tuhan menurut N-Kindi
Pengertian Tuhan dalam filsafat Al-Kindi dapat terlihat dari risalahnya yang dihadiahkan kepada Ahrhad bin Al Mu'tashim Billah tentang filsafat p. grj1Tu._ l"da kesimpulan risalah tersebut Al-Kindi menyatakari bahwa:
'Dialah
Yang Pertama, Pencipta yangmenguasai segala
"iitu"n+*ya, ..:...
Tuhan adalah pencipta langit dan bumi".lO "sesuaiu y"ng r"p"r hari ke- kuasaan-Nya adalah durhaka dan pasti binasa".ll rutatr it'u SLtu Tunggal awal dan akhir, sesuai dengan ajaran Islam mengenai rauhid wahdaniyah dan Tauhid Rububiyyah, artinya Tuhan dalam k-onsep Al-Kindi
"oaun ru- tu-satunya wujud yang memiliki keabadian mutlak.
Tuhan adalah sebab- pertama (first cause), di mana wujud-Nya bukan karena sebab lain. Ia adalah zatyangmencipirksl, mencipt'akan segala se- suatu dari tiada. Ia adalah zat yangmenyempumakan tetapi bukaridisem- . purnakan.12
Pengertian tersebut me_ngandung ursur-unsur: Sebab Utama, Wujud, Mencipta dan Sempurna. Jadi ruhan bagi Al-Kindi adalah zat yang sem- purna' ?at ini.menciptakan segara sesuatu yang ada. Zat sempurna itu ada dengan bendirinya. Karena zat itu ada dengan sendirinya dan menciptakan segala sesuatu, maka zatitu tidak mempunyai aial -a,tpnn akhir, Larena itu pula Tuhan disebut sebagai Sebab yang pertama.
-Dengan demikian, segala sesuatu yang diciptakan Tuhan tidak bisa tak terbatas atau tak terhingga, semua wujud selain Tuhan adalah baru, dan akan binasa, karena semua yang ada dan diciptakan tentu masuk dalam keterhinggaan gerak, waktu dan ruang. Sedang gerak, waktu dan ruang dapat musnah sesuai dengan kehendal Tuhan.
Al-Kindi. mengajukan argumen rbsional yang berhubungan dengan penciptaan, karena untuk berbicara tentang elisistlnsi ruhan "<lan Sifat-si- fatNya, ia tidak melepaskan atau mendasarkan konsepsinya tentang pen-
58
ciraan terlebih dahulu. Dan sebagaimzrr erhh penciptaan adalah merupakan sml 'gemaan. Di dalam Islam hal ini mempem rena hubungannya dengan doktrin Ketsaa rl-renungan yang paling dalam bagi pilil Al-Kindi berpendapat bahwa "Tuhan I rpapun (cretio ex Nihilo) yang memelihrrr dkiptakannya dari tiada suatu apapun--H
Dan untuk membuktikan bahwa p€nol gerak, bahwa gerak tidaklah abadi, ada I sendirinya, dan oleh karena itu, al*m seu pembuktian ini Al-Kindi memakai dua pr 1. Yang terbatas tidak bisa menjadi akn
yang tak terbatas;
2. Badan, waktu dan gerak adalah seiring secara serentak.
Adapun pernyataan-pernyataan Al-Kir annya dengan prinsip-prinsip Aristoteles I 1. Semua badan yang homogen, yang tir
timbang yang lain, adalah sama.
2. Jarak antara ujung-ujung dari badan-h besarnya dalam aktualitas dan potemi 3. Badan-badan yang berhingga tirlek tis 4. Jika salah satu dari dua badan yang s
tambah dengan badan homogen leinny sama besar. (Badan yang ditambah ab keduanya dan lebih besar dari apa Jru 5. Jika sebuah badan dikurangi, maka !s
besar badan semula.
6. Jika suatu bagian diambil dari sebuah I bali padanya, maka hasilnya adalah bl sebelumnya.
7. Tiada dari dua badan homogen yang b kecil ketimbang yang lain.
8. Dari dua buah badan yang homogen.;
lam hubungan dengan yang lebih besa bungan dengan suatu bagian dari yang 9. Jika badan-badan yang homogen, yaDg bersama, maka jumlahnya juga akan t Untuk menjelaskan pendapat bahsa pencipta yang menguasai segala ciptaan-It memiliki keabadian mutlak, Al-Kindi m anggap bahwa alam semesta tidak E€mp yakni tak terbatas, maka harus diumpaml tak terbatas. Dan ini merupakan kontradil gian dari badan yang tak terbatas. maka si
ebaeai contoh, mun) atau ko- rn akal murni.
iapdap benda et umum dise- ta ddak dapat f p€rasaan cita r *ujud kong- num dan sifat . Dari itu Al- Li Di satu pi- unruk dilukis- i sebagai ber- rd vang dicip- rnda illahi.
rri risalahnya ntang filsafat atan bahwa:
e n - \ r ' a . . . : . . . :F< dari ke- Iaru Tunggal
T'ahdaniyah di adalah sa- l.Sya bukan en segala se- ulan disem-.
ma. Wujud, [ !'ang sem- nrna itu ada nenciptakan khir. karena lak bisa tak h baru, dan asuk dalam
dan ruang pn dengan lan Sifat-si- nrang pen-
ciptaan terlebih dahulu. Dan sebagaimana diketahui bahwa berbicara ma- ralah penciptaan adalah merupakan soal rawan dalam semua filsafat ke- rg:rmaan' Di dalam Islam hal ini memperoleh perhatian yang istimewa ka- rena hubungannya dengan doktrin Keesaan Tuhan, salah satu dari renung- ln-renungan yang paling dalam bagi pikiran islami.13
Al-Kindi berpendapat bahwa "Tuhan adalah pencipta dari tiada suatu apapun (cretio ex Nihilo) yang memelihara dalam eksistensi apa yang telah diciptakannya dari tiada suatu apapun".14
Dan untuk membuktikan bahwa penciptaan alam semesta adalah suatu eerak, bahwa gerak tidaklah abadi, ada keterhinggaan, tidak ada dengan sendirinya, dan oleh karena itu, alam semesta sendiri tidak abadi. Dalam pembuktian ini Al-Kindi memakai dua prinsip Aristoteles yaitu:
l. Yang terbatas tidak bisa menjadi aktual, yaitu tidak bisa ada badan yang tak terbatas;
1. Badan, waktu dan gerak adalah seiring bersama, ketiga-tiganya adalah secara serentak.
Adapun pernyataan-pernyataan Al-Kindi yang dipakai dalam hubung- annya dengan prinsip-prinsip Aristoteles tersebut adalah:
l. Semua badan yang homogen, yang tiada daripadanya lebih besar ke- timbang yang lain, adalah sama.
L Jarak antara ujung-ujung dari badan-badan yang sama besar juga sama besarnya dalam aktualitas dan potensialitas.
-1. Badan-badan yang berhingga tidak bisa tak terhingga.
*. Jika salah satu dari dua badan yang sama besarnya dan homogen di- tambah dengan badan homogen lainnya, maka keduanya menjadi tidak sama besar. (Badan yang ditambah akan menjadi lebih besar daripada keduanya dan lebih besar dari apa yang sebelumnya).
-i. Jika sebuah badan dikurangi, maka besar sisanya lebih kecil daripada besar badan semula.
6. Jika suatu bagian diambil dari sebuah badan dan lalu dipulihkan kem- bali padanya, maka hasilnya adalah badan yang sama yang kita punyai sebelumnya.
7. Tiada dari dua badan homogen yang besarnya tak terhingga bisa lebih kecil ketimbang yang lain.
8. Dari dua buah badan yang homogen, yang kecil adalah lebih kecil da- lam hubungan dengan yang lebih besar dari keduanya, atau dalam hu- bungan dengan suatu bagian dari yang lebih besar.
9. Jika badan-badan yang homogen, yang semuanya terbatas ditambahkan bersama, maka jumlahnya juga akan terbatas.15
Untuk menjelaskan pendapat bahwa Dialah (Tuhan) yang pertama, pencipta yang menguasai segala ciptaan-Nya dan satu-satunya ujud yang memiliki keabadian mutlak, Al-Kindi memaparkan argumentasi; jika di- anggap bahwa alam semesta tidak mempunyai permulaan dalam waktu, 'akni tak terbatas, maka harus diumpamakan suatu badan alam semesta tak terbatas. Dan ini merupakan kontradiksi, dalam arti jika diambil seba- eian dari badan vang tak terbatas, maka sisanya adalah terbatas keseluruh-
annya tak terbatas (sebagaimana disebutkan pada nomor sembilan di atas) atau sisanya tak terbatas atau keseluruhannya tak terbatas. Jika keseluruh- annya tak terbatas dan lalu ditambahkannya dengan bagian yang diambil itu, maka hasilnya adalah badan yang sama seperti sebelumnya (sebagai- mana disebutkan pada nomor enam di atas), yaitu suatu badin yangiak 'terbatas. Ini akan mengisyaratkan bahwa yang menyeluruh adalah sama
dengan yang bagian, yang berarti kontradiktif.
oleh karena itu sebuah badan yang ada dalam Lktualitas pasti perlu terbatas. Badan alam semesta secara aktual ada, oleh karena itl terbatas.
yang berarti bahwa badan alam semesta itu diciptakan.
Setelah Al-Kindi membuktikan bahwa alam semesta itu terbatas dan diciptakan, dilanjutkan pembicaraan mengenai hubungan badan, waktu dan gerak, kemudian dibuktikan penciptaan waktu dan gerak. Jika ',waktu lalu" tanpa suatu permulaan adalah mungkip, maka Waktu itu tidak dapat sampai pada "waktu sekarang", karena ini akan menyiratkan bahwa yang tak terbatas memasuki aktualitas. Tetapi yang tak terbatas tidak mungkin memapuki aktualitas, karena yang tak terbatas tidak bisa dilintasi, dan un- tuk mengatakan "waktu sekarang" telah melewati sejumlah syarat-syarat yang tak terbatas akan menyiratkan bahwa yang tak terbatas telah dilin- tasi. Penalaran yang sama berlaku untuk gerak.
Al-Kindi kemudian menghubungkan kesimpulannya mengenai pencip- taan waktu dan gerak dengan badan.,Menurutnya waktu adalah lamanya badan itu; gerak adalah ukuran lamanya badan itu. Sekarang, jika badan alam semesta adalah terbatas dan gerak adalah perlu seiring bersama bad- an itu, sebagai ukuran lamanya, maka kesimpulannya adalah bahwa di ma- na ada badan di situ ada gerak. Tetapi ia telah menunjukkan bahwa di ma- na ada gerak di situ ada penciptaan dalam waktu.
Dengan demikian, ketiga-tiganya badan, waktu dan gerak adalah cipta- an-Nya. Pada argumen selanjutnya At-Kindi mengatakan bahwa:
Jika badan alam itu diciptakan, maka proses kelakuannya dari suatu tiada apapun adalah suatu gerak. Maka jika penciptaan suatu gerak, se- dangkan gerak adalah tidak abadi tetapi diciptakan, maka badan alam se- mesta telah diciptakan dalam waktu dan dari tiada suatu apapun. Dan se- baliknya jika badan alam semesta itu abadi dan kemudian beigerak, maka gerakan adalah suatu perubahan. Ini berarti bahwa apa yang abadi telah melewati suatu keadaan diam ke suatu keadaan gerakan, yang berarti ti- dak masuk akal karena apa yang abadi tidak berubah. oleh karena itu ma- ka alam serhesta diciptakan dalam waktu.16
Demikianlah pendapat Al-Kindi, sebagai peneguh bahwa Tuhan adalah abadi, karena Tuhan tidak terkena perubahan, sebab Ia adalah pencipta alam semesta dan satu-satunya wujud yang abadi. Dia itulah pengada, ie- dangkan yang lain diadakan. Dan karena Dialah yang Langgenglsedang- kan yang lain tidak langgeng, sebab yang mengalami perubahan adalah berarti berubah berbagai keadaannya, dan yang berubah itu tidak lang- g e n g . "
60
III. HAKEKA'T I Sebelum membicarakan bagaimane I ngemukakan pendapatnya tentang hatekal tiap-tiap benda mempunyai dua hakekat, y iuga hakekat aniah, dan hakekat kulli atet an mempunyai kedua hakekat tersebut-
Tuhan dalam pemikiran Al-Kindi tidat aniah atau mahiah. Tidak aniah karena Td benda yang ada dalam alam, bahkan Ia a&
tidak mempunyai hakekat dalam bentuk m rupakan genus atau species.ls
Tuhan tidak mempunyai hakekxf *nirl dak adanya kedua hakekat tersebut pada 1 ada, sebab Tuhan bersifat azali. Tuhan bcr sekali tidak bisa dikatakan tidak ada. arar lainkan zat yang ada dalam wujudnya tidd bergantung pada sebab.le
Jadi berbeda dengan jisim, zaman maq dahannya, tiap tempat dan zaman ada ker itu tidak abadi dan azali; yang azali butrn nar, yang tidak ada kesudahannya, yaitu'
Demikianlah pemikiran Al-Kindi tentr tidak banyak mengemukakan pemikiran m kat Tuhan itu sudah cukup jelas dan letih kiran, karenanya pembahasannya pun tidal pemikiran yang berbelit-belit.
Bukti-bukti Adanya Tuhan Menurut Al- Dalam membahas bukti adanya Jnh:
bukti, empat buah di antaranya adalah van yang didasarkan atas ide novitate munde I sung atas argumen dari hubungan sebab d bersifat teleologis.2l
Bukti yang pertama didasarkan pen.l-F kan dalam waktu. Al-Kindi menarik garb ngan yang tidak baru, di mana menunrt A nyai awal permulaan. Alam ini termasut r ini ialah bahwa alam ada batasnya dari sc1 waktu selalu bertalian erat. Karena itu alz dan waktu. Sesuatu yang ada batasnl'a ai bahwa alam ini baru dan diciptakan. tidat r tanpa pencipta. Segala sesuatu yang baru p hanlah yang mengadakan, dan dengan deu ditinjau dari hukum sebab akibat.
II
rl
rnbilan di atas) Jika keseluruh- n r ang diambil mnta (sebagai- rajan vang tak h adalah sama tJ.s Dasti perlu r: ;iu terbatas, u lerbatas dan
t'adan, waktu k Jika "waktu ru tidak dapat n bahwa yang rrdak mungkin iniasi. dan un- r !\aral-syarat a : : e l a h d i l i n - rt::.i pencip- l a , . : l a m a n y a u ' : x r b a d a n tr:s'ma bad- b.::.*a di ma- t".i:*a di ma-
l " :.ari suatu t - g e r a k , s e - d..i alam se- p u r . D a n s e - 'serak, maka r 3 b a d i te l a h o_: berarti ti- r : : a i t u m a - 'uhan
adalah lar Pencipta Pengada, se- :n_e. sedang- anan adalah
tidak lang-
III. HAKEKAT TUHAN
Sebelum membicarakan bagaimana hakekat Tuhan, Al-Kindi me- ngemukakan pendapatnya tentang hakekat itu sendiri. Dikatakan, bahwa tiap-tiap benda mempunyai dua hakekat, yakni hakekat juz'i yang disebut juga hakekat aniah, dan hakekat kulli atau hakekat mahiah. Apakah Tuh- an mempunyai kedua hakekat tersebut.
Tuhan dalam pemikiran Al-Kindi tidak mempunyai hakekat dalam arti aniah atau mahiah. Tidak aniah karena Tuhan tak termasuk dalam benda- benda yang ada dalam alam, bahkan Ia adalah pencipta alam, juga Tuhan tidak mempunyai hakekat dalam bentuk mahiah, karena Tuhan tidak me- rupakan genus atau species.l8
Tuhan tidak mempunyai hakekat aniah maupun hakekat mahiah. Ti- dak adanya kedua hakekat tersebut pada Tuhan tidak berarti Tuhan tidak ada, sebab Tuhan bersifat azali. Tuhan bersifat azali, yaitu zat yang sama sekali tidak bisa dikatakan tidak ada, atau pada permulaannya ada, me- lainkan zat yang ada dalam wujudnya tidak tergantung pada lainnya atau bergantung pada sebab.le
Jadi berbeda dengan jisim, zaman maupun gerak. Tiap jisim ada kesu- dahannya, tiap tempat dan zaman ada kesudahannya, semua anasir jenis itu tidak abadi dan azali; yang azali bukan jenis, yang azali satu yang be- nar, yang tidak ada kesudahannya, yaitu Tuhan.20
Demikianlah pemikiran Al-Kindi tentang hakekat Tuhan. Ia memang tidak banyak mengemukakan pemikiran mengenai hakekat Tuhan. Hake- kat Tuhan itu sudah cukup jelas dan lebih mudah digambarkan dalam pi- kiran, karenanya pembahasannya pun tidak memerlukan alasan-alasan dan pemikiran yang berbelit-belit.
Bukti-bukti Adanya Tuhan Menurut Al-Kindi
Dalam membahas bukti adanya Tuhan, Al-Kindi mengajukan lima bukti, empat buah di antaranya adalah variasi-variasi argumen kosmologis vang didasarkan atas ide novitate munde (dalil al-huduts) dan tidak lang- sung atas argumen-_dari hubungan sebab dan akibat. Bukti yang terakhir bersifat teleologis.2l
Bukti yang pertama didasarkan pendapat bahwa alam semesta dicipta- kan dalam waktu. Al-Kindi menarik garis pemisah antara yang baru de- ngan yang tidak baru, di mana menurut Al-Kindi tiap yang baru mempu- nvai awal permulaan. Alam ini termasuk yang baru. Bukti barunya alam ini ialah bahwa alam ada batasnya dari segi bendanya. Benda, gerak dan uaktu selalu bertalian erat. Karena itu alam ini ada batasnya pada gerak dan waktu. Sesuatu yang ada batasnya adalah baru.zz Dengan demikian bahwa alam ini baru dan diciptakan, tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa pencipta. Segala sesuatu yang baru pasti ada yang mengadakan. Tu- hanlah yang mengadakan, dan dengan demikian Dia ada. Begitulah kalau ditiniau dari hukum sebab akibat.
Bukti mengenai adanya Tuhan ini sering cigunakan oleh para theolog yang dengan menerima penciptaan dalam waktu sebagai disar fikiran]
mencoba untuk membuktikan perlunya eksistensi pencipla dengan bantu- an "prinsip penentuan".
Prinsip ini mernpunyai arti bahwa sebelum eksistensi alam semesta ma- . ka adalah sama-sama mungkin bagi alam semesta itu untuk ada atau tidak ada' Maka prinsip penentuan diperlukan, dan mereka menunjukkan bah- wa "prinsip penentuan" ipi adalah Tuhan.z
Bukti kedua dan Al-Kindi didasarkan atas ide Islam tentang keesaan TY!"} yang dirangkaikan dengan asumsi bahwa semua wujui duniawi adalah majemuk dan berganda, atau keanekaragaman dalam wujud. Ka- lau diperhatikan keadaan alam ini, ternyata adi keseragaman dan kera- gaman di dalamnya. Keseragaman dan keragaman itu tidik mungkin terja- di lanpa 4llyf penyebab yang menyebabhannya, penyebab itu adalah Tuhan. Al-Kindi memberikan alasan, bah*a teigabungnya keseragaman dan keragaman bersama-sama, bukanlah karena teuetuian, tapi karena se- suatu sebab. Dan sebab itu bukanlah alam sendiri. Kalau ilam sendiri yang jadi sebabnya, halnya tidak terhinlga, tak habis-habisnya. sedangkan sesuatu yang tidak berakhir tidak mungkin terjadi.2a
Lebih lanjut untuk membuktikan adanya Tuhan Al-Kindi mengguna- kan pembuktian ke-satu-an, yaitu.kesatuan yang menunjuk pada bilingan dan ke-satu-an yang menu.njuk kepad4 ketunggilan. Ia membedakan bah- wa "satu" pada bilangan itu bisa diterapkan kepada Tuhan dan obyek- obyek tunggal kedua-duanya. Sedang p-enunjukin kepada ketunggalan, hanya-dapat diterapkan pada Tuhan. Semua wujud tunggal adalali-maje- muk d_alam
{lnyu, yaitu-dapat terbagi ke dalam bagian_bagian kompo_
nen. Hanya Tuhan tidak dapat terbagi; Dia adalah saiu dalair esensi dan juga dalam jumlah.
Pendek kata, keanekarag.man adalah merupakan suatu susunan ke- lompok dari beberapa yang tunggal atau yang .satu, dengan demikian di mana ada kesatuan di situ ada keanekaragamin dan sebiliknya.
Bukti ketiga ini didasarkan atas prinsip bahwa sesuatu tidak dapat men- jadi se,bab dari dirinya, karena agar menjadi sedemikian, sesuatu itu h"ru, ada sebelum dirinya. Sesuatu di sini dimaksudkan oleh Al-Kindi adalah se- mua mijud ciptaan Tuhan. Dalam pembuktian.yang ketiga ini Al-Kindi mengangkat empat macam persoalan kemungkiiian yung -"t,rpakan ke- mustahilan qntuk terjadi bagi kemungkinan itu sendiri,laitu: '
1. Sesuatu yang menjadi sebab dari dirinya itu mungkin non eksisten dan esensinya juga non eksisten.
2. Sesuatu mungkin non eksisten dan esensinya eksisten.
3. Sesuatu itu mungkin eksisten dan esensinya non eksisten.
4. Sesuatu itu mungkin eksisten dan esensinya juga eksisten.26
Demikian hukum kontradiksi Al-Kindi, tiada dalil yang bisa benar dan salah kedua-duanya. Menurut Al-Kindi sesuatu yang telali ada tidak akan menjadi sebab dari dirinya atau dengan kata lairr bahwa sesuatu tidak
62
rngkin ada sebelum dirinya.
Bukti keempat analogi di antara matrol hktian ini dicobanya untuk melihat terted Lalipun sampai hal yang sangat besar yang I beil yang dapat diindera maupun yang ti&
nana mestinya. Berjalannya fungsi ini r yeng tidak kelihatan, Seperti berfungsinp uulus yang menunjukkan ke arah adanp 1 kelihatan, yaitu jiwa, demikian pula jalaml rclaras menunjukkan ke arah adanya perqgr kelihatan, yakni Tuhan.
Dalam pada itu dinyatakan, bahwa apC daripada alam ini dengan pengetah'an y1 bahagian yang telah diketahui itu akan mc leksikan seluruh alam itu.^-Dengan dem mengenai seluruh alam itu."
Ringkasnya semua wujud dari yangpeh cil, baik yang tampak maupun yang tidal.
nya, menertibkannya atau mengaturnyra. I Bukti kelima, didasarkan atas kera;ian i Al-Kindi untuk membuktikan adanya Tuht kerapian alam ini. Menurut Al-Kindi alam tidak rapi seperti sekarang ini, kerapian il nya, kerapian alam diciptakan oleh zubstar itu adalah Tuhan.
Al-Kindi menyatakan, bahwa: Alam ld atur kecuali karena adanya zatyang tidrk n tersebut hanya dapat diketahui dengan mct pian yang terdapat pada alam ini.a
Demikian pula adanya gejala alam png dak mungkin.tanpa maksud tertentu atau ti betulan, akan tetapi ia menunjukkan ad mengatur revolusi alam itu sendiri, yaitu 1
Susunan yang mengagumkan daripade r raksi selaras antara bagian-bagiannya, cara ! berapa bagian,tunduk kepada pengarahil aturan yang begitu sempurna sehingga yq yang terburuk selalu terbinasakan, semua i baik tentang adanya suatu pengaturan Ftr!
mikian berarti pula adanya pengatur y'nt Jadi jelaslah bahwa eksistensi keteratur dalam alam sehingga menunjukkan tatan r lah kebijaksanaan pengatur yang Maha Sc
Setelah mengikuti fikiran-fikiran ALKiE Tuhan, tampaklah bahwa: Pembuktian yal
l
)ara theolog rsar fikiran, ngan bantu- Emesta ma- e atau tidak rukkan bah- ng keesaan ud duniawi rujud. Ka- l dan kera- 4hn terja-
itu adalah
!5eragaman karena se- em sendiri Sedangkan nengguna- h bilangan hlan bah- hn obyek- trtnggalan, ilah maje- n kompo- xensi dan crnan ke- mikran di rPat men-
iru harus dalah se- Al-Kindi akan ke- bten dan
enar dan lak akan
tu tidak setelah -rnengikuti fikiran-fikiran Al-Kindi dalam membuktikan Tuhan, tampaklah bahwa: pembuktian yang peftama, yang kedua,
:
adanya ketiga mungkin ada sebelum dirinya.
Bukti keempat analogi di antara makrokosmos dan mikrokosmos. pem- buktian ini dicobanya untuk melihat terhadap hal-hal yang sangat kecil se- kalipun sampai hal yang sangat besar yang berada dan'mel-ingkipi manusia baik yang dapat diindera maupun yang tidak, semuanya berfungsi sebagai- mana mestinya. Berjalannya fungsi ini menunjukkan adanyi pengatur vang tidak kelihatan. Seperti berfungsinya tubuh manusia yang tirtib dan 11f-us Vane menunjukkan ke arah adanya pengatur yang cirdai dan tidak kelihatan, yaitu jiwa, demikian pula jalannya aiam se^"rta yang tertib dan selaras menunjukkan ke arah adanya pengatur yang serba cirais dan tidak kelihatan, yakni Tuhan.
Dalam pada itu dinyatakan, bahwa apabila dapat mengetahui sebagian daripada alam ini dengan pengetahuan yang cukup ."-i,rrnu niscayilah bahagian yang telah diketahui itu akan menfadi ceimin yang akan meref- leksikan seluruh alam itu.^-Dengan demikian tercapailah pengetahuan mengenai seluruh alam itu.27
Ringkasnya semua wujud dari yang.paling besar sampai yang paling ke- cil, baik yang tampak maupun yang tidak, tEntu ada y"irg ."""y"raraskan- nya, rnenertibkannya atau mengaturnya, Dia itulah iuhin.
Bukti kelima, didasarkan atas kerapian alam. Jalan lain yang ditempuh Al-Kindi untuk membuktika'. adanya Tuhan ialah dengan mem"pertratitan kerapian alam ini. Menurut Ar-Kindi alam ini pada awilnya diciptakannya tidak-rapi seperti sekarang ini, kerapian itu tidak terjadidengan sendiri- nya, kerapian alam diciptakan oleh substansi yang uana ruasi, substansi itu adalah Tuhan.
Al-Kindi menyatakan, bahwa: Alam lahir tidak mungkin rapi dan ter- atur kecuali karena adanya zat yang tidak nampak. zat ying tidak nampak tersebut hanya dapat diketahui dengan melalui bekas-bekaslNya dan kera- pian yang terdapat pada alam ini.28
. . Demikian pula adanya gejala alam yang tertib dan menakjubkan itu ti- dak mungkin.tanpa maksud tertentu atau tidak mungkin terjaai secara ke- betulan, akan tetapi ia.menunjukkan adanya yarig Maha Kuasa yang mengatur revolusi alam itu sendiri, yaitu Tuhan.
. Susunan yang mengagu_mkan daripada alam ini, keteraturannya, inte_
raksi selaras antara bagian-bagiannya, cara yang inenakjubkan di mana be- berapa bagian tunduk kepada pengarahan Uigian_Uagian lainnya, peng_
aturan yang'begitu sempuina r"iringgu yang ter:baik sJtalu terpelitra.a aan yang terburuk selalu terbinasakan, semua ini adalah petunjuk yang paling baik tentang adanya suatu pengaturan yang paling cerdas, dan oerigin ae- mikian berarti pula adanya pengatur yang palinf cerdas.2e
Jadi jelaslah bahwa eksistensi keteraturan, ketertiban dan keselarasan 911"-.-4ry sehingga menunjukkan tatanan alam yang sempurna itu ada_
lah kebijaksanaan pengatur yang Maha Sempurna j,rga.
dan keempat dipergunakan teori kosmologis. Sedang pembuktian yang ke- lima dipergunakan teori teleologis, yang menunjukkan pembuktian kepada kerapian Alam.
. ry. SIFAT.SIFAT TUHAN MENURUT AL-KINDI
Al-Kindi berpendapat bahwa Tuhan mempunyai Sifat Utama di sam- ping sifat-sifat lainnya, sifat utama yang dimaksud ialah Keesaan. Keesaan Tuhan berarti, esa dalam arti satu, tidak bersekutu, esa dalam Zat-Nya, esa dalam pengertian teori maupun dalam arti peraktek.
Keesaan Tuhan adalah merupakap suatu sifat yang paling khas bagi- Nya. Tuhan itu satu zat-Nya dan satu dalam hitungin, laieit"ltu pula ma- ka sifat Tuhan ialah Yang Maha Tahu, Y4ng Maha Berkuasa, Vang Hi- dup, Yang Qadim, dan seterusnya..::..., Tuhan itu bukan wujudikan tetapi zat yang menciptakan wujud.3o
Kemudian dalam masalah keesaan ini, Al-Kindi juga menggunakan da- lil naqli dan aqli sebagaimana halnya para mutakallimin, baik Mu'tazilah maupun Asy'ariyah. Dalil naqli yang dipergunakan, yaitu Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Ikhlas ayat 1-5; "Katakanlah Tuhan itu Satu, Allah tempat bergantung, (Iu) tidak beranak dan tidak diperanakkan, tiada sesuatupun yang menyerupaiNya". Sedang dalil aqlinya tardapat per- bedaan dari kedua golongan tersebut, namun pada intinya tujuannya sa- ma, yaitu mensucikan Tuhan. Demikian kata Al-Kindi yang lebih condong p-ada konsep Mu'tazilah.
Al-Qur'an menyatakan Tuhan sebagai hanya satu, tiada Tuhan kecuali Allah. Dia adalah Yang Luhur, Swa Sembada, Sang pencipta, karena tiada suatupun ada kecuali Dia dan segala yang lain diciptakan-Nya.
Lebih lanjut Al-Kindi menyatakan tentang keesaan Tuhan, bahwa:
Ia bukan benda (hayula, maddah); bukan form (Surah); tidak mempu- nyai quwantitas; tidak berhubungan dengan ying lain (idlofah), misalnya sebagai ayah atau anak; tidak bisa disifati dengan apa yang ada dalam pi- kiran; bukan genus, bukan diferentia (fasl); bukan proprium (khassah) essident ('aradl); tidak bertubuh, tidak bergerak. Karenanya Tuhan adalah keesaan belaka, tidak ada lain kecuali ke Esaan itu sendiri.3r
Al-Kindi mengadakan pembedaan antara k6esaan mutlak dan keesaan metaforis atau "yang satu karena esensi" dan "yang satu sebagai bilang- an". Yang dimaksud keesaan mutlak ialah Tuhan, sedang keesaan metafo- ris adalah semua ciptaan-Nya yang memiliki atribut-atribut tertentu yang selalu menunjuk kepada kebergandaan. Kebergandaan selalu menunjuk kepada bilangan dan bilangan menunjuk kepada suatu konsep kuantitatif, sedang kuantitas-kuantitas itu mempunyai atribut-atribut yang melekat tak terpisahkan padanya, atribut-atribut yang dari kuantitas itu selalu dapat terbagi-bagi, dan Tuhan tidaklah demikian.
Dr. Fuad Al-Ahwani, menjelaskan arti "satu mutlak" dan "satu meta-
64
foris" ini dengan istilah 'batu yeng h*kiki- rekannya bahwa yang dimaksud dengan.sm rut substansinya ddn'tidak akan menjadi h juga, tidak akan terbagi-bagi dalam benurt oleh substansinya sendiri maupun oleh hal i dang yang dimaksud satu yang rdajazi ialah butkan kepada apa saja. Baik satu dalam J dalam kaitannya dengin il6s alnm, atau I alam wujud ini.32
Dalam membahas keesaan Tuhan ini Al si lebih lanjut:
Seandainya ada lebih dari satu Tuhatr, dan berganda. Mengapa? Katena, merelir )'ang umum: sebagai penyebab (agent) yanl membedakan mereka satu sama lain, sifat I masing-masing akan mempunyai lebih dari vang dipakai bersama dan atribut lainnva y iqi setara dengan mengatakan bahwa mcrr majemuk itu memerlukan pemadu, YmB E mempunyai suatu penyebab. Yang tersebr mak. Jika satu itu adalah penyebab pertan nyebab dari jamak itu adalah berganda. ol punyai suatu garis mundur pemadu-pemad tidak mungkin. Oleh karenanya Penyebab I muk tetapi satu dan tidak seperti Ciptaan Pendek kata Pencipta itu tidaklah banyr terbilang. Maha Suci Dia dan Maha Ttnggi selain itu. Dia tidak menyerupai alam cipu secara nyata pada setiap ciptaan (d-Khah) ada pada-Nya.
Dalam menekankan bahwa keesaan Tu ngan ciptaan-Nya, Al-Kindi menyatakan:
Yang esa sejati bukanya yang d.pat dil kan suatu genus, bukan suatu species, bul rentia, bukan suatu Sifat, bukan suatu kejl kan, bukan jiwa, bukan pikiran, bukan s bagian, bukan suatu jumlah, bukau suatu hubungannya dengan yang lain, tetad Ya ngaruh oleh kebergandaan. Ia tidaklah n yang dapat dimasukkan ke dalam konsep pula yang namanya dapat dianggap beran atas manapun... oleh karena itu. Ya tak berbentuk, tak berukuran dan tak ada digambarkan dengan sesuatu uraian 1'ane yang dapat dipahami. Dia tanpa lenus. au atau sifat, atau kejadian umum. atau geral
rn I'ang ke- ian kepada
)I
ma di sam- n Keesaan n Zat-Nya,
khas bagi- u pula ma- , \-ang Hi- rurud akan
rnakan da- IIu'tazilah man AIIah r t r u S a t u , :r.lakkan, Calat per- rannya sa- h condong an kecuali a. karena r-Nya.
bahwa:
L mempu- misalnya dalam pi- (khassah) al adalah l keesaan ai bilang- n metafo- :ntu yang nenunjuk rantitatif, :lekat tak rlu dapat
foris' ini dengan istilah '"satu yang hakiki,' dan "satu yangmajazi,'. Dika- tatannya bahwa yang dimaksud dengan satu yang hakiki ialah-satu menu- rut substansinya ddn.tidak akan menjadi banyak disebabkan oleh apapun juga, tidak akan terbagi-bagi dalam bentuk apapun juga, tidak disebabkan oleh substansinya sendiri maupun oleh hal ikhwal di luar substansinya, se- dang yang dimaksud satu yang rflajazi ialah satu dalam arti yang bisa d.ise- butkan kepada apa saja. Baik satu dalam kaitannya dengan matematika, dalam kaitannya^dengln ilmu alam, atau dengan segala hal yang ada di alam wujud ini.32
Dalam membahas keesaan Tuhan ini Al-Kindi memberikan arsumenta- si lebih lanjut:
Seandainya ada lebih dari satu Tuhan, maka mereka pasti majemuk dan berganda. Mengapa? Kafena, mereka pasti mempunyai satu unsur )'ang umum: sebagai penyebab (agent) yang pertama dan satu unsur untuk membedakan mereka satu sama lain, sifat mereka. Ini menyiratkan bahwa masing-masing akan mempunyai lebih dari satu atribut, yaitu satu atribut yang dipakai bersama dan atribut lainnya yang membedakan mereka. Hal ini.setara dengan mengatakan bahwa mereka majcmuk. Sekarang, yang majemuk itu memerlukan pemadu, yang menyiratkan bahwa penyebab itu mempunyai suatu penyebab. Yang tersebut kemudian bisa satu atau ja- mak. Jika satu itu adalah.penyebab pertama satu-satunya; jika jamak, pe- nyebab dari jamak itu adalah"berganda, oleh karena itu, kita akan mem- punyai suatu garis mundur pemadu-pemadu yang tak terbatas, dan yang tidak mungkin. Oleh karenanya Penyebab Pertama itu adalah bukan maje- muk tetapi satu dan tidak seperti Ciptaan-Nya.33
Pendek kata Pencipta itu tidaklah banyak, melainkan Maha Esa, tidak terbilang. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi sejauh-jauhnya dari gambaran selain itu. Dia tidak menyerupai alam ciptaan, karena sifat banyak itu ada secara nyata pada setiap ciptaan (al-Khalq), dan sifat itu sama sekali tiada ada pada-Nya.
Dalam menekankan bahwa keesaan Tuh"an tidak dapat disamakan de- ngan ciptaan-Nya, Al-Kindi menyatakan:
Yang esa sejati bukanya yang dapat dipahami, bukan suatu unsur, bu- kan suatu genus, bukan suatu species, bukan persona, bukan suatu diffe- rentia, bukan suatu Sifat, bukan suatu kejadian umum, bukan suatu gera- kan, bukan jiwa, bukan pikiran, bukan suatu keseluruhan, bukan suatu bagian, bukan suatu jumlah, bukan suatu partikular, bukan suatu dalam hubungannya dengan yang lain, tetapi Yang Esa Mutlak, yang tak terpe- ngaruh oleh kebergandaan. Ia tidaklah majemuk, tidaklah jamak, bukan yang dapat dimasukkan ke dalam konsep-konsep tersebut di atas, bukan pula yang namanya dapat dianggap berasal dari atribut-atribut tersebut di atas manapun... oleh karena itu, Yang Esa sejati itu adalah niskala tak berbentuk, tak berukuran dan tak ada hubungannya. Dia tidak dapat digambarkan dengan sesuatu ura.ian yang dapat diterapkan terhadap apa yang dapat.dipahami. Dia tanpa lenus, atau differentia, atau kepribadian, atau sifat, atau kejadian umum, atau gerakan; Dia tidak dapat dilukiskan
oleh sesuatu sifat kecuali keesaan. Dia adalah murni dan keesaan mutlak.
Saya tidak mengartikan apapun kecuali keesaan, dan setiap keesaan lain- nya yang hanya dalam kata-kata, kecuali keesaan_Nya, adalah ja_
-3k':...'.' Yang Esa adalah satu esensi, tidak pernah u"tguniu, tiiak per- nah dapat terbagi dengan cara apapun mengenai dirinya] atau mengenai yang lain. Dia bukannya waktu atau tempit, Dia juga'brrkarrnya suat., badan atau sua-tu predikat, atau suatu keselur.rhan atarisrrutu uujiun, utuu suatu substansi, atau suatu kejadian.3a
- Dari kategori-kategori yang dipaparkan oreh Al-Kindi ini menampak- kan kesamaannya dengan konsep aliran Mu'tazilah, bahwa sifat-sifat Tu- han sama dengan Esensi-Nya. Mereka menolak sifat-sifat positf apapun atas dasar bahwa hal itu akan meniadakan ke Esaan Tuhan.
. Di sini lampak bahwa Tuhan adarah transendental, di atas dan di luar jangkauan kemampuan akal manusia
. Manusia hanya dapat mencoba untuk mengetahui apa yang bukan Dia itu, tetapi tidak pernah tahu apa Dia itu. seuiu runan bukarimerupatan pernyataan-pernyataan dari kategori tersebut dan tidak dapat digambar- kan dengan segala sesuatu yang dapat iiitangkap oleh pun"uindru Ean akal pikiran. Dan juga dari pemaparan konsep tirs"uut minampakkan adanya pertentangan dengan konsep Islam sendiri yang disebutkan bahwa Tuhan Maha Pemelihara. Sementara Al-Kindi menyebutkan bahwa Tuhan aclalah keesaan belaka, Tuhan terpisah dari semua wujud yang aiciptatan.
Namun demikian Al-Kindi juga bany:ak menyebutkan adanya perhatian tuhan terdapat dunia, yang menunjuki<an Sifai_sifat Tuhan yanf iain, Si_
fat-sifat-yang lain itu adalah sebagai ,'yang Maha Tahu,'yig Maha Kuasa, Yang Hidup dan seterusnya;'.
Yang Maha Tahu artinya yang Maha Mengetahui, Tuhan sebagai pen- cipta segala sesuatu, maka Tuhan pasti pura m-ngetahui segala sesriatu itu.
Tulan mengetahui manfaat dan tujuan segala sesuatu iang aiciptatan oleh-Nya. Karena Tuhan disebutkan sebagaiMaha Tahu,'rnuT.u d;-pat di- pahami bahwa Tuhan mengetahui baik maialah-masarah kecil maupun nra- salah-masalah besar.
Yang Maha Berkuasa dan Maha Hidup. Berkuasa dalam arti Tuhan dapat merobatr atau meniadakan segala seiuatu sesuai clengan kemauan- Nya.
-D-'engan mempunyai Sifat Maha Berkuasa,.tentu Trhan itu wajib hi- dup, Hidup bagi Tuhan dalam arti Dia tidak terkena mati.
. A_l-Kindi juga menyebut Tuhan sebagai "yang pengasih,,, yang pemu_
rah,.Yang Penyayang". Tuhan adalah pengasih yang p-enutr U"tas tan iUa.
Atribut-atribut esensialnya tidak bertentangan o"ngun atribut-atribut ke- sempurnaan-Nya. Semuanya itu terpadu dalam sualu keesaan yang sela- ras, keesaan yang berbeda, tak dapat diketahui dan yang pada hakelatnya tunggal' Tuhan nampak meresap ke seluruh alam'semesta serta meno- pangnya seperti halnya jiwa menopang raga, meliputi segala sesuatu de_
ngan tangan selalu terbuka sebagai Bapak nan penyayang, meskipun kita tidak dapae berharap mengetahui esensiNya.
66
Dari pemikiran Ketuhanan Al-Kindi ct tampak bahwa Tuhan tidaklah frorrsfut luar jangkauan manusia, tetapi Tuhan jnr'e
V. PERANAI\ DAI\ FUI'IGSI FILSAFAT KETT]HAN' Dalam mengemukakan pendapatnye A an akal, tetapi akal itu harus diuji kebcn Agamalah sebagai dasar terakhir untut c pikir Al-Kindi yang berdasarkan agana i dari setiap ajarannya.
Sebagai pengikut rasionalis, Al-Kindi ti kan akal, pertanyaan apakah setiap tantsr nya atau kebenarannya? Al-Kindi menjawi lukan suatu alat berpikir yang menjamin q keliruan yakni: Mwa'atul - Zihnil KIta'
Mgngenai nisbat akdl terhadap wahy*- ' ngan Mu'tazilah yang mengatakan, bahwo kebenarannya dari kebenaran Filsafaf -r
Oleh karena itu, Al-Kindi di dalam m fat-Nya, ia tidak meninggalkan ajaran pri agama Islam, yaitu ke-Esaan-Nya yeng mil dalam As-Shamdaniyah bahwasanya AIld (Hai Muhammad) Dialah Allah-Yang Mah bergantung kepada-Nya segala sezuatu. D dak pula diperanakkan, dan tidak ada a Walaupun di dalam Qur'an terdapat sifat-r perti ayat-ayat yang menyebut istiwa (ber mun Allah menegaskan dalam firman-Ntra rupai-Nya (laisa kamitslihi syai-un) d"n A lebih luhur dan lebih tinggi dari selunrh r
Dari titik tolak ini, Al-Kindi berusahe r dari filosof lain, mengambil bagian-bagiam tim filsafat sendiri. lUnsur-unsur yang berr dengan logikp dan disesuaikan dengan aja kebenaranNya menurut logika dan segrei, anggap benar. Sebaliknya jika bertent"ngr bertentangan dengan ajaran ag:rma, makr t menempuh jalan ini nampak Al-Kindi bcfl an filsafat dengan ajaran agama. Dengan j tuk sistim filsafat sendiri.
Sebagaimana konsep Aristoteles tentfl[
wa Tuhan sebagai "Penggerak Yang Tid-r
i
|n mutlak.
:saan lain- dalah ja-
tidak per- mengenai Dra suatu gian, atau enampak- psir'at Tu- if apapun n di luar ukan Dia erupakan Igambar-
dan akal n adanya ra Tuhan n :;!alah
a - - -
rrhatian l a i n . S i - rg \4aha g:i Pen- u : t u i t u . n p t a k a n la;.at di- . pun nla- i Tuhan imauan-
; a j i b h i -
; Pemu- lan iba.
but ke- rg sela- lkatnya
meno- atu de- un kita
Dari pemikiran Ketuhanan Al-Kindi sebagaimana tersebut di atas ini, gmpak bahwa Tuhan tidaklah transedental semata yang jauh berada di luar jangkauan manusia, tetapi ruhan juga immanent; beiada dalam aram.
V. PERANAI\ DAI\[ FT]NGSI AGAMA DALAM FILSAFAT KETUHANAN AL.KINDI
Dalam mengemukakan pendapatnya Al-Kindi menekankan pengguna- an akal, tetapi akal itrr harus diuji kebenarannya dengan ajarin agama.
{93-1lu!_pbagai dasar terakhir untuk mencapai kebenaran. frinsif Uer_
pikir Al-Kindi yang berdasarkan agama ini dapat terlihat atau dijumpai dari setiap ajarannya.
- Sebagai pengikut rasionalis, Al-Kindi tidak semata-mata memperguna- kan akal,,pertanyaan apakah setiap tanggapan pikiran terjamin tipaitian- nya atau kebenarannya? Al-Kindi menjawab: "Tidak! jusiru di situ diper- lukan suatu alat berpikir yang menjamin untuk tidak teijerumus dalam ke- keliruan yakni: Mura'atul - Zihnil Khata,'.ft
Mengenai nisbqt akdl terhadap wahyu:',... At-Kindi sependapat de- ngan Mu'tazilah yang mengatakan, bahw_a Al-eur'an lebih dapat diyakini kebenarannya dari kebenaran Filsafat',.37
oleh karena itu, Al-Kindi di dalam membahas soal ruhan dan sifat:.si- fat-Nya, ia tidak meninggalkan ajaran prinsip yang telah ditetapkan oleh agama Islam, yaitu ke-Esaan-Nya yang mutlak. sebagaimana termaktub di dalam As-shamdaniyah bahwasanya Allah telah berfirman: Katakanlah (Hai Muhammad) Dialah Allah.yang Maha psa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia (enan; tidak beranak dan ti- {ak pula diperanakkan, dan tidak ada apapun yang setara dengan-Nya.
Walaupun di dalam Qur'an terdapat sif_at-sifat taibili (menyerupa'tcan) se_
perti ayat-ayat yang menyebut istiwa (bertakhta) dan yad (tangan).'Na- mun Allah menegaskan dalam firman-Nya: Tak'ada apapun yan-g merrye- 1u.p{-Nya (laisa kamitslihi syai-un) dan Aflah adalah N4iha finggi, yaicni lebih luhur dan lebih tinggi dari seluruh alam.
Dari titik tolak ini, Al-Kindi berusaha mengkorporasikan bahan-bahan dari filosof lain, mengambil bagian-bagiannya untuli membangun suabu sis- tim filsafat sendiri. unsur-unsui yang berasal dari luar diuji klbenarannya dengan logika dan disesuaikan dengan ajaran Agama, Jiki sudah diyakini kebenaranNya menurut logika dan sesuai dengan ajaran agama, maka di- 3n88ap benar. Sebaliknya jika bertentangan dengan kebeniran logika dan bertentangan
{engan ajaran agama, maka unsur-unsur itu ditolak.bengan menempuh jalan ini nampak Al-Kindi berusaha untuk menyesuaikan ajar- an filsafat dengan ajaran agama. Dengan jalan ini pula Al-Kindi memben- tuk sistim filsafat sendiri.
Sebagaimana konsep Aristoteles tentang Tuhan yang mengatakan bah- wa Tuhan sebagai "Penggerak Yang Tidak Bergerak,', yakni Sebab perta-
rili bagi gerak bagi seluruh alam wujud. Tetapi gerakan ini adalah dari se- suatu "ada" yang lain, melalui gerakan atau plmbentukan ataupun emcrna- si. Dan gerakan itu hanya satu kali saja, oleh karena itu ala# ini qooim.
Bertolak dari pemikiran tersebut dengan bersandarkan ajaran ugu-u auo ukuran logika yang benar, Al-Kindi iidak sependapat dfngan iemitiran 'Aristoteles. Dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah penciita segala wu- jud, mencipta dari tiada sesuatu apapun, termasuk gerak itu send'iri. Dan gerakan ini tergantung kemauan-Nya beberapa kali ikan digerakkan, oleh karena itu alam ini tidak abadi, karena alam-itu diciptakani"n,"1iup
"ip_
taan pasti musnah, tidak abadi.38
- Dari ungkapan tersebut di atas Al-Kindi menampakkan peranan dan fungsi agama Islam terhadap pembahasan ketuhanan, karena teori Isram memisahkan Allah dari alam. Islam mengajarkan pengertian'd"r", b"h*u alam diciptakan dari ketiadaan. pada mulanya alarn titlak ada, temuaian menjadi ada atas kehendak dan perintah Atiah. Ini ditegaskan daram fir- manNya: "Bila Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya u-e*irman kepada- nya'Jadilah, maka terjadilah'. oleh karena itu semua para ahli ilmu ka- tam berpendapat bulat, bahwa Allah adalah Al-Khariq atau Maha pencip- ta.
. Juga di d{am pembahasan keesaan Tuhan, AI-Kindi tetap berrandas- kan kepada Tauhid Islam.
Demikianlah pemikiran ketuhanan Ar-Kindi yang bersandar pada ajar- 9.1 Isf3m mengenai keesaan Tuhan, mengenai i"nJiptuun dari'ketiadaan (ib-d1')' mengenai tiada abadinyu ,"muu-*ujud cipiaan. Diangkat pula bukti-bukti adanya Tuhan, Sifat-sifat Tuhan ying dilatakan bahila Tuhan bukan jenis, bukan ma-cam,.bukan yang memblwa, bukan yang dibawa dan bukan pula sifat-sifat lainnya yang ierba negatif. : "
Semuanya terlihat bahwa
ljqq agama (Istam) memegang peranan p:nt1".q di seluruh pemikiran Al-Kindi. Sebagaimani dikatak"an -otit
ot u- hiruddin Al-Baihaqi: "Bahwa Al-Kindi telai memadukan antara pokok- l:k"k, rX"u3' dengan pokok-pokok ratio dalam sebagian karangan_karang_
annya"." Dan darisegr ini pula Al-Kindi banyak -J*berikan sumbangan- nya terhadap pemikiran Islam.
VI. KESIMPT]LAN
1. Pemikiran Ke-Tuhanan Al-Kindi masih dalam batas-batas ajaran Isram, .
^ 1'alaupyn ada.pengaruh fikiran dan filsafat (yunani).
z' Pengertian Tuhan menurut Al-Kindi adalah: "sebab pertama" atau di mana. wujudNya bukan karena sebab lain. Tuhan uoutut zat yang Menciptakan, bukan diciptakan. rnenciptakan segala sesuatu o*i tiuou.
Ia Za-t yang menyempurnakan bukan disempu.nikan. Ia tidak mempu_
nyai hakekat dalam arti aniah maupun rnuiriuh. - ---- - i-' 3. Dalam membuktikan adanya Tuhan mempergunakan:
1) Dalit kosmologi yang meliputi: bahwa alair semesta diciptakan da- 68
lam waktu, keanekaragaman dqn k itu tidak dapat menjadi sebab vuir makrokosmos dan mikrokosmos.
2) Teleologis; hanya dapat dibutrikan 4. Dalam membuktikan Keesaan Tuhan,
Surat Ash-Shamdaniyyah sebagaimene Keesaan Tuhan tidak bisa disifati deng Tuhan adalah Keesaan belaka, Srkan nus, bukan species, tidak bertubuh, fi juga bahwa Tuhan adalah "Yang Mahr dup, Maha Pengasih, Penyayang". fX dalam pemikiran Al-Kindi, tetapi tida itu.
CATATAIi' X"Ir rHarun Nasution, Filsafah dan Mistisisnr L 1978), hal. 14.
Cf. Oemar Amin Husein, Filsafat Islam- (IJ 2A. Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (laLnt 3Ahmad Fuad Al-Ahwani, Fibafa ldon" "l (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), hal. 54.
Albid, hat. 4243.
sA. Hanafi, Op Cit, hal. 84.
6George N. Atiyah, Al-Kindi Tokoh Filonf I 1983), hal. 42.
1lbid, hat. 43.
8Oemar Amin Hoesein, Op.Cit, hat. 75.
eGeorge N. Atiyah, Op.Cit, hal. 6.
l0Ahmad Fuad Al Ahwani, Op.Cit, hal. 54-5 ttlbid. hal. toz.
12A. Hanafi, Op.Cit, hal. 86.
r3George N. Atiyah, Op.Cit, hal. 47.
t4lbid, hal. 49.
tslbid, hal. so-sl.
t6lbid, hal. sz.
17Nor Cholis Majid., Khazanah lruetctraul Id hal. 94.
l8Harun Nasution, Op.Cir, hal. 16.
leA. Hanafi, Op.Cit, hal- t#.
dalah dari se- wpun efttana- m rni qodim.
n agama dan rn pernikiran ta segala wu-
sendiri. Dan raktan, oleh rn :€tiap cip- peranaa dan r teori Islam dasar bahwa r. kemudia_n n dalam fir- lan kepada-
$Ii ilmu ka- laha Pencip- p berlandas- r pada ajar- n ketiadaan ngkat pula rh*a Tuhan en_e dibawa
!g Peranan I urleh Dha- era pokok- p-n-karang- umbangan-
ran Islam, a-- atau di
7-at Yang dari tiada.
k mempu-
rtakan da-
lam waktu, keanekaragaman dan keragaman daram wujud, sesuatu itu tidak dapat menjadi sebab wujudnya sendiri, analogi di antara makrokosmos dan mikrokosmos.
. 4 Teleologis; hanya dapat dibuktikan melalui kerapian alam.
1' Dalam membuktikan Keesaan Tuhan, didasarkan iepada Al-eur:an Surat Ash-Shamdaniyyah sebagaimana Mutakalrimin ltutu,tazitatr; oan Keesaan Tuhan tidak bisa disifati dengan apa yang ad'a dalam fikiran.
Tuhan adalah Keesaan belaka, bukan bendi, bukin forma, bukan ge- nus, bukan species, tidak bertubuh, tidak bergerak. Tetapi dinyatakln juga bahwa Tuhan adarah "yang Maha Tahu, Maha Kuasa, vtatra Hi- dup, Maha ?engasih,
_penyayang,,. Di sini nampak ada pertentu.rgun dalam pemikiran Al-Kindi, tetapi tidak didapati komentar dalam hal itu.
CATATAN KAKI rHarun
Nasution, Firsafah dan Mistisisme d.aram Isram, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hal. 14.
Cf. Oemar Amin Husein, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang , 1964), hal. 65.
2.A. Hanafi, Pengantar Filsdfat Istam, (Jakarta: Bulan Bintang , 1969), hal. Bl.
3Ahmad
Fuad Al-Ahwani ,_. Filsafat Islant, Terjemah: Sutarji Caulzoum Bakhri, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 19g5), hal. 54.
lbid, hat. 4z-+3.
5A. Hanafi, Op Cit, hal. g4.
6George N. Atiyah, At-Kindi rokoh Filosof Musrim, (Bandung: penerbit pustaka, 1983), hal. 42.
'Ibid, hal. 43.
sOemar Amin Hoesein, Op,Cit, hal. 75.
eGeorge
N. Atiyah, Op.Cit, hal. nt6.
roAhmad
Fuad At Ahwani, Op.Cit, hal. 54-55.
Ltlbid, hal, lo2.
12A.
Hanafi, Op.Cit, hal. g6.
l3Georgo
N. Atiyah, Op.Cit, hal. 47.
t4lbid, hal. 49.
lslbid, hal. so-sl.
t6lbid, hal. sz.
. l?Nor
cholis Majid, Khazanah Interektuar Isram, (Jakafia: Buran Bintang, l9g4), h a l . 9 4 ^
l8Harun
Nasution, Op.Cit, hal. 16.
leA. Hanafi, Op.Cit, hal. g6.
aAbu Bakar Ace\, Sejarah Filsafat Islam, (Sala: Ramadhani, 19gZ), hal. 42.
2rGeorge N. Atiyah, Op.Cit, hal. 55.
nA. Hanafr, Theologi Islatn, Yogyakarta: Sumbangsih, 1962), hal. 64.
23Georg-e N. Atiyah, Loc.Cit.
24sidi Gazalba, sistematika Filsafat, Buku III, (Jakarta: Bulan Bintang , 1973), hal.
307.
xGeorge N. Atiyah, Op.Cit, hal. 56.
xlbid, hal. 5i-58.
2fu.M. Syarif, History of Muslim philosophy, Terjemahan Dr. Fuad Fakhruddin.
(Bandung: CV Diponegoro, 190), hal. 101.
28A. Hanafi, Pengantar Filsafat Istam, Op,Cit, hal. g5.
2eceorge N. Atiyah, Loc.Cit.
rRoger Grudy, Promosses De L'Islam, Terjemahan H.M. Rosyidi, "Janji-janji Is- lam", (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hal. 150.
3rA. Hanafi, Op.Cit, hal. 86.
3zAhmad Fuad Al-Ahwani, Op.Cit, hal.'102.
33George N. Atiyah, Op.Cit, hal. 62.
34tbid, hal. 64.
3slbid, hal. 65.
36Joesoef
Sou'yb, Epistimologi dalam Filsafat At-Kindi, Majalah Harmoni, no. 174, Th. IX, 151-L979, Jakarta: 1979, hal. 14.
3?Hasbullah
Bakry, Di sekitar Fitsafat scholastik Islam, cet. IV, (Jakarta: Tinta- mas, 1973), hal.32.
3sGeorge N. Atiyah, Op.Cit, hal. 50.
3elvluhammad
Yusuf Musa, Bainaddin wa al Fabafah fi al Ra'yi lbn Rusyd wa Falsa- fati al Ashril Washith, Cet. II, (Mesir: Darul Fikri, 1968), hal. 49.
PEMBAHASAN KARYA TUZT EARLY MUSLIM ETSN
Oleh : Ihs. H.A_ l|
I Literatur Historiografi Islam di IA[{
sih langka, sehingga studi ifunu ini terbd yang tentu saja apa yang diperoleh d€ngr muaskan. Walaupun demiki'an bagi pare g nya dengan peneliti4n sendiri.
Di Fakultas Adab jurusan sejarah kcb toriografi Islam ini adalah sebagai berftn l. Franz Rosenthal, A History of Mrrh
kan bentuk-bentuk dasar historiografi aneka ragam bentuk-bentuk penulisen dalam penulisan sejarah, novel sejara\
mu sejarah yang ditulis oleh al-'Iji, at-X ping beberapa kutipan rirengenai ilmu r ditulis oleh penulis-penulis Muslim.
2. Bernard Lewis and P.M. Holt (ed.), I yang menyajikan 41 artikel mengenai L ris besarnya menguraikan tentang hisra sa Persia, Turki dan Arab, penulisan sj sarjana-sarjana Eropah serta penulfor zaman modern. Artikel-artikel ini pade r lah yang disampaikan di dalam simpadr versitas London antara tahun 1956 su 3. C.H. Philips, Historians of lndia, Ftti
kan 35 artikel mengenai historiografi lu taranya ada artikel mengenai historiryr a. Beberapa studi tentang historiografi I ' jaan Mughal.
b. Uraian sejarah yang dilakukan peil c. Karya-karya biografi pejabat-pejabo
oleh penulis Muslim.
d. Penulisan sejarah Islam modern di I e. Penulisan sejarah Islam modern rI I 4. Jurji Zaidan, Tarikh Adab at-'Anbiyr\
gai uraian mengenai kesusastraan Areb nya. Dalam bidang sejarah disajiken 6 5. Carl Brockelmann, Tarikh al-Adrb *'t
nulisan sejarah.
Inilah antara lain sebagai bahan potot kultas Adab IAIN Sunan Kalijaga yogn