1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Posisi pariwisata sebagai pilar penting perekonomian terus ditingkatkan di seluruh dunia dengan pertumbuhannya saat ini mencapai angka 5% atau dua- tiga kali lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekonomi dunia. Sementara itu, pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia mencapai 11%. Saat ini ketika banyak ketidakpastian menghantam perekonomian dunia, sektor pariwisata sudah diakui menjadi salah satu pilar penting perekonomian. Dari sedikitnya 1 miliar atau 1/7 dari total penduduk dunia telah melakukan perjalanan (Bisnis.com, 2012).
Penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa dan meningkatnya penduduk diperkotaan mendorong majunya sektor pariwisata nusantara selama kurun waktu 2012. Hal ini diiringi dengan naiknya pendapatan perkapita penduduk sebagai akibat langsung dari pembangunan ekonomi, sekaligus munculnya 6,5 juta masyarakat kelas menegah baru. Pada tahun 2012 angka sementara BPS menunjukkan terjadi 245 juta perjalanan wisata dengan total pengeluaran mencapai Rp171,5 triliun (Antara News, 2012).
Pada tahun 2013 ini pemerintah menargetkan sembilan juta turis asing
datang ke Indonesia dengan estimasi pemasukan sekitar 10 milyar dollar AS, atau
sekitar Rp97 triliun (Pos Kota News.com, 2012). Saat ini wisatawan asing yang
banyak mengunjungi Indonesia masih didominasi oleh wisatawan ASEAN dan
Australia. Dan yang paling besar dikunjungi adalah Bali, Jakarta, Riau, Batam,
Lombok dan Raja Ampat.
2
Badan Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) memperkirakan industri pariwisata global akan tumbuh antara 3-4 persen pada 2013. Hal ini didorong pertumbuhan pengunjung yang lebih tinggi sebesar 6 persen di pasar negara berkembang (Sindonews.com, 2013).
Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di Tahun 2012 mencatatkan angka 6.23% sepanjang tahun 2012. Angka ini masih di bawah target APBN-P 2012, namun, pencapaian ini masih dalam target yang realistis yakni pada kisaran 6.3 – 6.5%. Badan Pusat Statistik menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh pengeluaran rumah tangga (5.28%), pengeluaran konsumsi pemerintah (1.25%), pembentukan modal tetap bruto (PMTB) (9.81%, ekspor (2.01%), dan impor 6.65%. Sektor–sektor ekonomi yang membukukan pertumbuhan tertinggi yakni sektor pengangkutan dan komunikasi 9.98%, sector perdangangan, hotel dan reestoran 8.11% serta sektor konstruksi 7.50%. Namun kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia adalah sektor Industri Pengolahan yakni sebesar 23.94% dan Sektor Perdangan,hotel dan restoran 13.90% (The President Post Indonesia, 2013).
Terkait dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh
selama tahun 2012, hal ini didorong oleh jumlah wisatawan mancanegara selama
periode Januari – Desember 2012 yang mencapai 8.044.462 orang atau
meningkat sebesar 5.61% dibandingkan tahun 2011. Kenaikan jumlah wisman
ini terjadi di sebagian besar pintu masuk utama, dengan persentase kenaikan
tertinggi tercatat di pintu masuk Bandara Husein Sastranegara, Bandung, sebesar
27,28 persen, diikuti Bandara Adisutjipto, Yogyakarta 22,35 persen, dan Bandara
Sepinggan, Balikpapan 7,82 persen.
3
Pertumbuhan wisatawan nusantara juga meningkat seiring dengan peningkatan kelas menengah, pertumbuhan hotel, perbaikan infrastruktur serta pertumbuhan rute penerbangan menuju pusat pariwisata utama di Indonesia.
Selain menjadi tujuan wisata, perkembangan bisnis MICE (Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition) di Indonesia yang terus tumbuh, tidak kurang dari 466.000 perusahaan beroperasi di Indonesia dapat menjadi peluang besar untuk menggelar event minimal 1 tahun sekali pada pusat bisnis dan pariwisata di Indonesia.
Didukung dengan keadaaan pariwisata yang kondusif, dan memanfaatkan kondisi makro ekonomi Indonesia yang baik, PT Bukit Uluwatu Villa memanfaatkan peluang ini dengan usaha perhotelannya. Perlu diketahui, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk didirikan pada tahun 2000 dan memiliki kegiatan usaha utama dalam bidang penyediaan jasa akomodasi dan perhotelan. Kepemilikan atas perusahaan terdiri dari PT Asia Leisure Network (40,29%), Archipelago Resort and Hotels Ltd (16,19%) dan publik (43,52%). Perusahaan berdomisili di Badung, Bali. Perusahaan telah mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada bulan Juli tahun 2010.
Ditengah ketatnya persaingan bisnis perhotelan, perusahaan ini telah
melakukan sejumlah aksi korporasi di berbagai daerah yang menjanjikan prospek
cerah bagi perusahaan dan pemegang sahamnya. Dengan kondisi fundamental
dan makro ekonomi yang baik seperti telah dijelaskan maka PT Bukit Uluwatu
Tbk terus berekspansi dengan akuisisi berbagai properti di tujuan wisata yang
ternama.
4
Kondisi fundamental menjadi peran utama dalam menentukan pembentukan harga saham. Kondisi baik buruknya emiten akan menentukan baik buruknya kinerja sahamnya. Investor harus dapat menilai apakah sekuritas yang menjadi pilihan investasi di pasar modal mampu memberikan keuntungan secara optimal. Salah satu cara untuk melakukan analisis adalah dengan menggunakan alat analisis fundamental. Analisis ini mencoba memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dengan menggunakan hubungan variael-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Analisis fundamental atau juga dikenal dengan analisis nilai intrinsik melibatkan data keuangan dan data fundamental dari perusahaan untuk menduga nilai saham dan memprediksi pergerakan harga saham pada waktu yang akan datang. Dalam membuat peramalan harga saham tersebut langkah yang penting adalah mengidentifikasikan faktor-faktor fundamental seperti penjualan, pertumbuhan penjualan, biaya, kebijakan deviden dan hal lainnya.
Analisis fundamental dilakukan dengan cara menghitung nilai saham dengan menggunakan data keuangan perusahaan tersebut seperti tingkat omset dan biaya biaya serta resiko yang dihadapi perusahaan.
Analisis fundamental menyatakan bahwa nilai intrinsik dari aktiva
keuangan sama dengan nilai sekarang dari semua aliran tunai yang diharapkan
diterima oleh pemilik asset. Sesuai dengan hal itu maka analisis fundamental
berupaya meramalkan saat dan besarnya aliran tunai dan kemudian
dikonversikan menjadi nilai sekarang dengan menggunakan tingka diskon yang
5
tepat. Sebagian informasi fundamental berhubungan dengan keadaan ekonomi, industri dan kondisi perusahaan.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penilaian harga saham terdapat dua cara dalam menghitungnya yaitu menggunakan strategi aktif yang terdiri dari analisis fundamental dan analisis teknikal. Dalam proposal tesis kali ini akan digunakan analisis fundamental dalam menentukan harga saham PT Bukit Uluwatu Villa. PT Bukit Uluwatu Villa adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa akomodasi dan perhotelan.
Berdasarkan data dari World Tourism Organization disebutkan bahwa bisnis perjalanan dan pariwisata menyumbang angka yang cukup besar dalam GDP dunia yaitu sebesar 6 triliun dollar AS pada tahun 2011. Hal ini berarti bahwa sebesar 9% GDP dunia adalah berada di sektor perjalanan dan pariwisata.
Sementara itu data dari BPS Indonesia menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan ke Indonesia dalam 5 tahun terakhir selalu mengalami peningkatan.
Hal ini disajikan dalam tabel di bawah ini.
6
Tabel 1.1 Jumlah Kedatangan Wisatawan Menurut Negara Asal Tempat
Tinggal Tahun 2007-2011
Sumber: BPS diolah
Dari kedua informasi di atas dapat dijadikan indikator bahwa kondisi pariwisata global dan Indonesia dalam keadaan yang baik. Artinya terdapat permintaan akan jasa pariwisata ini yang megalami pertumbuhan.
Penelitian terhadap perusahaan ini menarik untuk dilakukan karena masih sedikit penelitian berupa analisis fundamental atas emiten disektor jasa akomodasi dan perhotelan di Bursa Efek Jakarta. Hanya terdapat 9 perusahaan yang bergerak dibidang jasa akomodasi dan perhotelan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Dan dari kesembilan emiten tersebut hanya beberapa saham yang aktif diperdagangkan termasuk PT Bukit Uluwatu Villa sementara beberapa saham pada industri perhotelan ini termasuk dalam kategori saham yang tidur.
Data dari kontan.co.id menyebutkan bahwa pada perdagangan perdana,
harga saham BUVA, sebutan untuk saham PT Bukit Uluwatu Villa, langsung
naik Rp 100 per saham menjadi Rp 360 per saham. Harga perdana initial public
offering (IPO) BUVA adalah Rp 260 per saham. Pada perdagangan pembukaan,
BUVA sempat menyentuh level tertinggi, yakni Rp 380 per saham. Sementara,
harga terendah saham ini berada pada level Rp 350 per saham.
7
Pada hari-hari berikutnya pada perdagangan di bursa, saham BUVA selalu aktif diperdagangkan dengan junlah trading day selalu di atas 15 hari sesuai dengan data ICMD 2011 dan 2012. Hal ini menarik untuk diteliti pada kisaran berapakah harga wajar saham PT Bukit Uluwatu, Tbk ini berada.
Gambar 1.1 Grafik Harga Saham BUVA Periode Juli 2010-April 2013
.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan “Berapa harga saham PT Bukit Uluwatu Villa yang wajar berdasarkan analisis fundamental?”.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian karya akhir ini yakni
bertujuan untuk melakukan analisis fundamental yakni analisis yang
komprehensif atas kondisi perusahaan secara menyeluruh dengan top down
approach untuk mendapatkan informasi secara menyeluruh mengenai keadaan
8
perusahaan secara signifikan. Analisis ini dimulai dengan melakukan analisis ekonomi makro yang dilanjutkan dengan analisis industri dimana perusahaan beroperasi. Selanjutnya dilakukan analisis yang lebih dalam terhadap perusahaan dengan melakukan proyeksi keuangan untuk dapat menentukan nilai intrinsik saham perusahaan tersebut. Selanjutnya melakukan perhitungan nilai intrinsik saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk dengan menggunakan metode valuation yakni free cash flow to the firm. Dari hasil valuation ini kemudian baru dapat diketahui apakah saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk berada dalam posisi undervalued atau overvalued.
1.5 Manfaat Penelitian
Sehingga hasil dari penelitian ini nantinya dapat memberikan gambaran kepada investor di dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi agar dapat menghasilkan keputusan yang tepat bagi calon investor, maupun investor yang telah memiliki saham di PT Bukit Uluwatu Villa Tbk, sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham tersebut.
1.6 Batasan Penelitian
Penyusunan karya akhir ini dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan melalui analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Dalam pendekatan analisis kualitatif ini dilakukan analisis fundamental secara ”top-down” untuk menilai prospek dan kondisi perusahaan.
Analisis dilakukan pertama kali terhadapfaktor-faktor makro ekonomi
yang mempengaruhi kinerja seluruh perusahaan, kemudian dilanjutkan dengan
9
analisis industri, dan pada akhirnya dilakukan analisis terhadap perusahaan dalam hal ini PT Bukit Uluwatu Villa Tbk yang mengeluarkan saham. Dan pada akhirnya dilakukan valuation atau penilaian apakah saham yang dikeluarkan menguntungkan atau merugikan bagi investor.
Penelitian terhadap laporan keuangan terbatas setelah PT Bukit Uluwatu Villa, Tbk melaksanakan pendaftaran sahamnya di Bursa Efek Indonesia yaitu tahun 2010 ditambah dengan prospektus perusahaan sebelum dilaksanakannya pendaftaran saham yaitu tahun 2009. Estimasi nilai perusahaan menggunakan horoson waktu lima tahun yaitu prediksi dari tahun 2013 sampai dengan 2017.
1.7 Sistematika Penulisan
Penulisan Karya Akhir ini, diuraikan secara sistematis dengan susunan sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan mengenai latar belakang penulisan, perumusan masalah yang akan dibahas, tujuan dari penelitian, metodologi penelitian serta sistematika pembahasaan dari karya akhir ini.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menggambarkan landasan teori yang dijadikan pedoman didalam melakukan analisis secara fundamental meliputi valuation terhadap harga saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk dengan menggunakan metode Free Cash Flow to The Firm.
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
10