• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoritis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoritis"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB II KAJIAN TEORI

A. Kerangka Teoritis 1. Musikalisasi Puisi

Musik dan puisi adalah genre seni yang berbeda dan tidak memiliki kaitan satu sama lain. Musik merupakan sebuah karya seni yang terdiri dari susunan bunyi dan suara yang mengandung unsur nada, irama, tempo, melodi, dan harmoni. Sedangkan puisi merupakan karya seni yang bahasanya terikat oleh irama dan rima, terdiri dari susunan kata-kata yang membentuk baris dan bait dan biasanya kalimatnya bersifat indah dan bermakna.

Di Indonesia, perpaduan antara kedua seni ini mengundang banyak istilah yang muncul, baik itu menurut definisi dari seorang penyair, musisi, pengamat seni, maupun seniman lainnya bahkan orang awam sekalipun.

Menurut teori sastra, transformasi karya puisi ke dalam seni pertunjukan dikenal dengan sebutan; poetry reading (pembacaan puisi), poetry staging (pemanggungan puisi), dan poetry singing (pelantunan puisi). Dalam percakapan bahasa Indonesia, kata poetry singing dapat diterjemahkan atau digunakan untuk mewakili proses pembuatan lagu, nyanyian, komposisi musik yang didasarkan pada sebuah puisi yang biasanya disebut dengan musikalisasi puisi (Salad 2015, 50).

Istilah musikalisasi puisi di Indonesia baru dikenal sekitar tahun 1980-an, pada saat puisi karya Sapardi Djoko Damono direkam dalam album berjudul “Hujan Bulan Juni” yang diproduksi oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana pada tahun 1990 yang sangat populer di masyarakat Indonesia, terutama pada puisi yang berjudul “Aku Ingin Mencintaimu”. Keduanya juga melahirkan album “Gadis Kecil” pada tahun 2005 yang berisi 11 komposisi musik dari puisi karya Sapardi Djoko Damono (Salad 2015, 57- 58). Bentuk ekspresi musikalisasi puisi sering dilihat dan dikaitkan dengan

(2)

6

aliran serta instrumen musik yang digunakan. Sehingga memungkinkan munculnya istilah baru yang berdekatan maknanya, seperti keroncongisasi puisi, jazzy puisi, dan sebagainya (Salad 2015, 111). Menurut Hamdy Salad, unsur utama musikalisasi puisi adalah rangkaian bunyi yang ditata sesuai dengan konveksi musik, yang diolah dari makna puisi tanpa menghilangkan teks puisi itu sendiri. Bertolak dari pengertian di atas, musikalisasi puisi merupakan bentuk seni perpaduan antara musik dan puisi. Jika diyakini bahwa esensi puisi adalah kata-kata dan esensi musik adalah bunyi, maka keduanya menjadi dasar ekspresi musikalisasi puisi.

Sehingga sampai saat ini, istilah musikalisasi puisi masih sangat terbuka untuk ditafsir atau didefinisikan ulang sesuai dengan perkembangan budaya, teknologi media serta perubahan-perubahan konsepsi pada seni sastra, seni musik, dan seni pertunjukan yang menjadi elemen pokok dari unsur ekspresinya.

Pada kebudayaan bangsa Barat, sebenarnya kegiatan perpaduan antara musik dan puisi dalam menghasilkan satu karya ini sudah ada semenjak abad ke-15, yaitu pada masa berlangsungnya periode Renaissance seperti dicontohkan komponis asal Prancis, Claudin De Sermisy pada karyanya yang berjudul Languir Me Fais di mana teksnya berasal dari seorang sastrawan asal Prancis bernama Clement Marot. Karya Languir Me Fais berjenis musik vokal Chanson yang di publikasikan pada tahun 1528. Ada juga seorang komponis pada zaman Impresionisme asal Prancis, yaitu Claude Debussy dengan karyanya yang berjudul Clair De Lune di mana teksnya berasal dari syair puisi yang ditulis oleh sastrawan asal Prancis bernama Paul Verlaine pada tahun 1869 (Press 2012).

Perkembangan perpaduan kedua seni tersebut selanjutnya terdapat pada karya seorang komponis pada zaman akhir Klasik dan Romantik awal, yaitu Franz Schubert. Schubert menyusun karya vokal yang syairnya diambil dari beberapa penyair seperti Goethe, dari Goethe sendiri ia mengambil lima puluh sembilan puisi yang digubah menjadi karya vokal.

Schubert mengarang lebih dari 600 nyanyian vokal, di antaranya terdapat

(3)

7

kumpulan/siklus nyanyian berdasarkan koleksi syair dari puisi karya Wilhelm Müller yaituDie schöne Müllerin (1823) dan Winterreise (1827);

7 Rell-Stab-Lieder (1828) dan 6 Heine Lieder (1828) (Prier 1993, 162).

Winterreise terdiri dari dua puluh empat puisi karya Müller yang mengekspresikan nostalgia kembali di musim dingin dan romansa dari musim panas yang gagal. Di dalam Der Lindenbaum dikatakan pula bahwa penyair berkutat pada ingatan tentang di bawah pohon Linden, sebuah tempat di mana dia menggunakan mimpi dari kebohongan cintanya dan sekarang ketika dia melewati tempat itu, angin dingin menggetarkan ranting-ranting pohon seolah mendesaknya untuk kembali kesana sekali lagi. Musiknya berbentuk strofik dengan menggunakan modifikasi pada setiap baitnya (Hanning 1998, 408).

2. Art Song

Art song merupakan istilah lain untuk lagu klasik dalam sebuah komposisi musik, hasil dari seorang komponis yang memilih puisi atau bagian dari prosa dan kemudian dituangkan ke dalam musik; biasanya untuk vokal dan piano. Art song adalah tanggapan dari komponis musik terhadap kata-kata, artinya atau makna tersirat secara bebas dan ekspresif.

Sesuai dengan negara asalnya, biasanya di sebut dengan istilah art song, lieder, melodie, romanza, dan romanser. Art song berbeda dengan lagu populer. Kata-kata dalam lagu populer atau lagu teater musikal di sebut

“lirik” dan merupakan hasil dari proses kolaborasi antara pencipta lirik dan pencipta lagu yang bekerjasama sebagai satu tim. Lagu biasanya dibuat dengan subjek yang spesifik, cerita atau pengalaman yang menjadi dasar dari kata dan musiknya (Kimball 2013, 16). Art song merupakan jenis komposisi solo vokal klasik yang diiringi instrumen piano dengan perpaduan unik antara puisi dan musik, terbentuk dari dua seni yang sejak awal dianggap sebagai “seni saudara” yaitu seni sastra dan musik. Puisi dan musik memiliki karakteristik suara yang hampir sama seperti pola ritme, aksentuasi, tempo bervariasi, pengucapan, dan frase melodi. Dalam art

(4)

8

song komponis berkreasi atau transformasi menyatukan puisi dan musik sedemikian rupa sehingga tidak mungkin memikirkannya secara terpisah.

Art song berkembang pada abad ke-19 di Jerman dan Prancis. Pada abad ini penyair dan karya puisinya telah mencapai tingkat ekspresi artistik dengan kualitas yang lebih tinggi dan sedang dalam proses perkembangan.

Kematangan dan kemajuan puisi mula-mula terjadi di Jerman, kemudian di Prancis. Puisi memungkinkan bentuk yang lebih bebas, deklamasi vokal yang lebih liris, dan peningkatan iringan yang lebih ekspresif. Faktor-faktor ini menyatu dengan puisi berkualitas tinggi sehingga menyebabkan art song berkembang pesat (Kimball 2013, 15). Pada akhir abad ke-19, art song menjadi bentuk musik yang mapan. Saat kita mendengarkan art song, kita mengalaminya sebagai satu kesatuan yang utuh dan kita mendapatkan kesan yang menyeluruh. Kesan ini diciptakan oleh komponis dengan pengaturan kata, melodi, harmoni, dan ritme (Kimball 2013, 16).

Menyanyikan art song menuntut kita untuk fokus pada beberapa puisi yang terkenal dan indah di dunia, membentangkan dan mengembangkan imajinasi kita sebagai musisi, menggunakan keahlian musik dan kecerdasan secara total, dan menuntut kita untuk fokus pada vokal dan musik secara detail dalam prosesnya.

Beberapa komponis asal Jerman pada paruh pertama abad ke-19 yaitu Franz Schubert dengan karya Erlkönig dan Heidenröslein (syair dari Goethe) Die schöne Müllerin dan Winterreise (syair dari Wilhelm Müller) dan Robert Schumann dengan karya Liederkreis op. 24 (syair dari Heine), Liederkreis op. 39 (syair dari Eichendorff), Mythen (op. 25), Frauenliebe und Frauenleben (op. 42, syair dari Chamisso), dan Dichterliebe (op. 48, syair dari Heine) (Prier 1993, 163). Komponis selanjutnya asal Prancis seperti Claudin De Sermisy dengan karya Languir Me Fais (syair dari Clement Marot) dan Claude Debussy dengan karya Clair De Lune (syair dari Paul Verlaine).

Negara-negara di Eropa merupakan kiblat musik klasik dunia, salah satunya Indonesia yang mendapat pengaruh besar dari Barat seperti halnya

(5)

9

dengan nyanyian seni. Di Indonesia, art song disebut dengan istilah musikalisasi puisi atau tembang puitik. Tembang puitik banyak terdapat pada musik seriosa Indonesia yang digubah oleh komponis seriosa Indonesia seperti pada lagu-lagu Citra gubahan C. Simandjuntak dari puisi Usmar Ismail, Lagu Biasa gubahan RAJ. Soedjasmin dari puisi Chairil Anwar, Puisi Rumah Bambu gubahan F.X. Soetopo dari puisi Kirdjomuljo, Hidup dan Cita-cita gubahan Mochtar Embut dari siklus kumpulan sajak Usmar Ismail “Puntung Berasap”, Sembilan Sajak W.S. Rendra gubahan Mochtar Embut dari siklus sajak W.S. Rendra “Bumi Hijau”, dan kumpulan tembang puitik gubahan Trisutji Kamal dan Ananda Sukarlan.

Kendati dunia musik klasik Indonesia telah mengenal istilah musik seriosa sejak periode 1950-an dan pada masa keemasan Kompetisi Bintang Radio dan Televisi. Musik seriosa merupakan bentuk nyanyian tunggal dengan iringan piano yang dapat dinyanyikan dengan terlebih dahulu menguasai teknik dalam memproduksi suaranya, seperti pernafasan, sumber bunyi, gema suara, dan artikulasi. Pada awalnya, lagu-lagu seriosa selalu diiringi dengan piano, namun seiring perkembangannya lagu-lagu seriosa diringi dalam bentuk ensemble atau orkestra. Lagu-lagu seriosa mengandung nuansa musik nusantara dan idiom musik Indonesia. Sarat dengan muatan budaya, historis, dan nilai nasionalisme Indonesia. Karenanya menjadi lagu khas Indonesia dan sebuah genre musik klasik di Indonesia.

Beberapa penyanyi seriosa Indonesia yang juga telah memberikan kontribusi di dalam perkembangan musik seriosa Indonesia pada masanya masing-masing, seperti Pranawengrum Katamsi, Aning Katamsi, Pranadjaya, Rose Pandanwangi, dan Christopher Abimanyu (Ratna Arumasari Ansyari 2013).

(6)

10 3. Musik Piano

Gambar 2. 1 Piano(piano image n.d.)

Pada zaman Klasik musik instrumental sangat berkembang, justru menjadi lebih penting daripada musik vokal. Alat musik yang diutamakan adalah piano. Sejak tahun 1800 cembalo diganti dengan piano modern yang disebut Hammerklavier/Forte Piano. Piano masih mengalami sejumlah perkembangan/perbaikan sampai abad ke-20, namun alat musik ini menjadi alat musik pokok karena ekspresi dan virtuositas yang keduanya menjadi sangat penting pada zaman Klasik (Prier 1993, 112). Pada abad ke-19 piano sangat disenangi oleh masyarakat. Termasuk pendidikan golongan tengah ke atas bahwa anak-anaknya belajar main piano secara privat; maka piano di rumah merupakan tanda status. Piano sangat cocok sebagai instrumen solo/tunggal, untuk mengungkapkan perasaan seseorang sebagaimana di cita-citakan oleh zaman Romantik (Prier 1993, 166).

Piano merupakan instrumen favorit bagi komponis zaman Romantik karena dapat menghasilkan suara yang tebal dan hangat. Beberapa komponis dan pianis handal pada zaman Romantik, antara lain Franz Schubert dengan pola iringannya menggambarkan dan menambahkan kesan yang lebih dalam tentang teksnya, sedangkan Felix Mendelssohn dan Robert Schumann membuat melodinya ekspresif dan hangat (Hanning 1998, 392-397).

Fungsi iringan piano dalam mengiringi vokal adalah memberi harmoni pada melodi yang dinyanyikan dan terkadang memainkan potongan melodi sebagai pendukung vokal, mengisi pungtuasi (jeda) antar

(7)

11

stanza atau bait dalam puisi dengan interlude, dan memberikan tekanan pada suasana dan teks lagu lewat harmoni, ritme, dan counter melody.

Rangkaian pola iringan piano dapat membantu menciptakan imajinasi agar pesan dari lagu bisa tersampaikan kepada pendengar. Seperti pada lagu Die Forelle, Gretchen am Spinnrade, dan Erlkonig karya dari Franz Schubert terdapat pola iringan yang menggambarkan suatu atmosfer dan suasana musikal (Kimball 2013, 119).

Dalam menggubah lagu, komponis mencantumkan preludes, interlude, dan postludes. Interludes tidak lazim dipakai dalam sebuah karya lagu, akan tetapi preludes dan postludes seringkali ditemukan dalam lagu- lagu yang komponisnya merupakan pianis yang handal. Biasanya postludes menyampaikan ulasan mengenai puisi yang akan dinyanyikan, seperti contohnya lagu “The Astronomers” milik Richard Hundley yang menggambarkan tentang malam berbintang dilihat dari taman pemakaman yang sunyi (Kimball 2013, 120).

4. Cello

Gambar 2. 2 Cello (cello image n.d.)

Violoncello atau yang lebih dikenal dengan sebutan cello merupakan alat musik gesek yang ukurannya lebih besar dari biola dan biola alto tetapi lebih kecil dari contra bass. Cello harus diletakkan dengan posisi vertikal di atas permukaan lantai, dimainkan dengan posisi duduk tegak, dan disandarkan ke bahu kiri pemain. Terdapat end pin di bagian bawah cello

(8)

12

yang berfungsi untuk mengatur panjang dan pendeknya tongkat penyangga agar pemain dapat nyaman ketika memainkannya dalam posisi duduk maupun berdiri. Cello memiliki empat senar yang register suaranya satu oktaf lebih rendah dari biola alto, yaitu terdiri dari nada C, G, D, dan A.

Wilayah nada dari cello yang terendah yaitu C2 dan yang tertinggi adalah G5. Penulisan notasi cello menggunakan bass clef, treble clef, dan alto clef serta bunyi nada sesuai dengan penulisannya.

Cello memiliki reputasi yang menghasilkan suara yang lembut dan hangat. Senar C dan G memiliki karakter suara yang kaya dan bulat, khususnya pada senar C. Bagian yang dimainkan pada kedua senar tersebut terdengar suram dan reflektif. Senar D memiliki karakter suara yang lebih terang dengan kualitas yang hangat dan memikat, sedangkan senar A memiliki karakter suara nyanyian yang hidup dengan kualitas yang lebih intens dan pedih. Alasan penulis menggunakan cello dalam komposisi ini adalah untuk memunculkan suasana hangat, mendalam, menyayat, dan ekspresif berdasarkan karakter suara yang dimiliki cello (Kennan 1997, 24).

5. Biografi Joko Pinurbo

Joko Pinurbo alias Jokpin lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 11 Mei 1962; tinggal di Yogyakarta. Pada tahun 1897, ia menyelesaikan Pendidikan terakhirnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma Yogyakarta. Kemudian mengajar di almamaternya sambil membantu majalah Kebudayaan Basis. Pada tahun 1992, Jokpin bergabung dengan kelompok Gramedia. Pernah bekerja dalam dunia pendidikan dan penerbitan dan sekarang berkhidmat di Forum Permenungan Tunggal. Selain menulis dan menyunting naskah, mengajar dan berceramah, beliau juga ikut mengelola majalah Matabaca dan jurnal puisi.

(9)

13

Gambar 2. 3 Joko Pinurbo (Dok. pribadi)

Kegemaran mengarang puisi ditekuninya sejak di bangku Sekolah Menengah Atas. Kepenyairannya mulai dikenal setelah beliau menerbitkan kumpulan puisi Celana (1999). Sejak saat itu buku-buku karya puisinya sudah mulai bermunculan, antara lain Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), Tahilalat (2012), Baju Bulan (2013), Bulu Matamu: Padang Ilalang (2014), Surat Kopi (2014), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), Buku Latihan Tidur (2017), Perjamuan Khong Guan (2021), Sepotong Hati di Angkringan (2021), dan Salah Piknik (2021).

Joko Pinurbo sering diundang untuk membaca puisi di berbagai tempat termasuk di forum antarbangsa. Sejumlah puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan Jerman.

Penghargaan yang telah diterimanya, antara lain Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Sih Award (2001), Tokoh Sasta Pilihan Tempo (2001 dan 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud (2002 dan 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005 dan 2015), South East Asian (SEA) Write Award (2014), Anugerah Kebudayaan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (2019), dan masuk dalam nominasi Khatulistiwa Literary award 2001, 2002, dan 2003 (Pinurbo 2018, 68).

B. Kerangka Kompositoris

Penyusunan “Komposisi Musikalisasi Puisi Karya Joko Pinurbo untuk Vokal, Piano, dan Cello” dibagi menjadi lima komposisi dan tidak memiliki

(10)

14

bentuk yang baku atau disebut sebagai free form. Masing-masing komposisi disusun berdasarkan puisi: “Rumah Cinta” dan “Kekasihku” dari kumpulan puisi Kekasihku; puisi “Dan Malam Pun Tiba”, “Bulu Matamu: Padang Ilalang”, dan “Desember” dari kumpulan puisi Bulu Matamu: Padang Ilalang karya Joko Pinurbo. Instrumen iringan yang digunakan adalah piano, piano dan cello.

Komposisi pertama berjudul “Rumah Cinta” dibuat dalam format solo sopran dengan iringan piano dan cello, bersukat 4/4, menggunakan tonalitas Es mayor, modulasi ke As mayor, dan kembali ke tonalitas awal. Puisi “Rumah Cinta” memiliki suasana kehangatan dan kedamaian cinta kasih dalam keluarga, tetapi juga ada suasana yang menggambarkan semangat berani berkorban dan berjuang serta tekad yang kuat dalam menumbuhkan cinta di tengah tantangan hidup sehari-hari.

Komposisi kedua berjudul “Dan Malam Pun Tiba” dibuat dalam format solo mezzo sopran dengan iringan piano dan cello, bersukat 3/4, menggunakan tonalitas D mayor, modulasi ke B minor, dan kembali ke tonalitas awal. Puisi Dan Malam Pun Tiba menggambarkan tentang bahasa hati dan bahasa kata.

Komposisi ketiga berjudul “Bulu Matamu: Padang Ilalang” dibuat dalam format solo baritone dengan iringan piano, bersukat 4/4, menggunakan tonalitas G mayor, dan modulasi ke D mayor. Puisi Bulu Matamu: Padang Ilalang sebenarnya bermakna sederhana mengenai iman kepercayaan, yakni melukiskan orang yang ragu-ragu atau tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

Komposisi keempat berjudul “Kekasihku” dibuat dalam format solo mezzo sopran dengan iringan piano dan cello, bersukat 3/4, menggunakan tonalitas B minor. Puisi Kekasihku menceritakan tentang hubungan cinta antara seorang anak perempuan dengan ibunya.

Komposisi terakhir berjudul “Desember” dibuat dalam format duet sopran-baritone dengan iringan piano, bersukat 4/4, menggunakan tonalitas F mayor, modulasi ke D minor, dan kembali ke tonalitas awal. Suasana yang digambarkan adalah tetap hangat dan menyenangkan meskipun muncul perasaan ngelangut/sunyi saat momentum akhir tahun.

Gambar

Gambar 2. 1 Piano (piano image n.d.)
Gambar 2. 2 Cello (cello image n.d.)
Gambar 2. 3 Joko Pinurbo (Dok. pribadi)

Referensi

Dokumen terkait

Tugas guru sebagai pengajar memberikan bantuan kepada siswa dalam proses pembelajaran agar mendapatkan hasil yang maksimal dan tujuan yang diinginkan, sehingga siswa

Metode dalam proses belajar mengajar merupakan sebagai alat untuk mencapai tujuan, perumusan tujuan dengan sejelas-jelasnya merupakan syarat terpenting sebelum seseorang menentukan

makna dan tujuan fungsi sosial tertentu didalam lagu dolanan tersebut. Melalui lagu dolanan ini anak akan dengan mudah terstimulus dan menerima pesan yang

Berdasarkan penjelasan mengenai penggunaan istilah ahlu kitab kepada kaum Yahudi selalu bernada ancaman. Sedangkan ancaman terhadap kaum Yahudi diperlukan karena

Bagian kedua komposisi menggunakan birama 4/4 dengan tempo sedang diawali dengan keyboard kemudian disusul dengan vokal dan semua instrumen di bait kedua lagu.

Perbedaan antara rondo bentuk pertama dengan lagu tiga bagian adalah pada rondo bentuk pertama setidak- tidaknya terdapat sebuah song form dalam salah satu kalimat,

Hubungan tiap bagian dalam karya musik ini menyesuaikan pada karakteristik bentuk lagu musik klasik yang terdiri dari eksposisi, development dan rekapitulasi.. Penggarap memilih bentuk

2.4.6 Efek Terapi Musik Klasik Pada Tekanan Darah Musik klasik memiliki tempo rhytm yang lambat atau largo 60 ketukan per menit adalah jenis musik yang sesuai dengan irama jantung,