• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Bencana dan Kelangsungan Usaha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Manajemen Bencana dan Kelangsungan Usaha"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

Manajemen Bencana dan Kelangsungan

Usaha

Soehatman Ramli

WSO – PROSAFE INSTITUTE

Making safety a way of life…..worldwide

(2)

Soehatman Ramli

Pengajar PengalamanKerja

Organisasi CSP

• 2015 Anggota Tim Investigator KNKT (2015)

• 2014 Ketua Tim Teknis Penyusunan Kompetensi Ahli K3 Nasional

• 2017-1018 Ketua Tim Independen Pengendalian Keselamatan Migas

• 2014-present Representative WSO National Office Indonesia

2020 Anggota DK3N (Dewan K3 Nasional Depnaker)

Pendidikan K3 antara lain

Safety Inspector Course Pertamina

Oil Spill and Pollution Singapore

EHS Training British Petroleum UK

Environmental Mgt , Oxford University

Dipl.Safety Management British Safety Council UK

Loss Control Management, ILCI, Atlanta USA

Safety Audit ISRS-ILCI Atlanta USA

Oil Spill Control – Texas A&M University

Penghargaan

• Karya Patra Utama – Dirut Pertamina

• Satyalencana Wira Karya – Presiden RI

• James K William Award WSO

HS Advanced - Mobil Oil USA

Safety Engineering Texas A&M University

Process Safety Management – Beumont-Texas

Environmental Management, Berkeley University

Ergonomic , Purdue University

Lead Auditor OHSAS 18000

Lead Auditor ISO 14000

Audtor SMK3 BNSP

Ahli Utama K3 - BNSP

(3)

TOPIK BAHASAN

1. Pendahuluan

2. Manajemen Bencana

3. BCP

(4)

PENDAHULUAN

(5)

DISASTER PRONE COUNTRY

 Geographicly

 Geologicly

 Hydrometeorologicly

 Demographicly

 Environmental degradation

 Land use planning

Rawan bencana

(6)

6

• Kecelakaan Industri :

• Kilang Cilacap, kebakaran Tangki (1975)

• LNG Botang – Ledakan

• Petrowidada (2004) Ledakan

• Kilang Cilacap (1995) –Kebakaran Tangki

• Depot Plumpang (2008) – Ledakan Tangki

• Kilang Cilacap 2010-Ledakan tangki

• Kecelakaan Transportasi

• Udara : Lion Air, Air Asia, Adam Air dll

• Kereta Api

• Angkutan Umum

• KapalTampomas,

• Tsunami di Aceh, 26 Desember 2004 Korban lebih 200.000 orang .

• Gunung Tambora meletus, tahun 1815.

Korban 92.000 orang.

• Gunung Krakatau meletus, 26 Agustus 1883. Korban 36.417 orang.

• Gempa tektonik 6.2 SR di Yogyakarta, 27 Mei 2006. Korban 6.234 orang.

• Gunung Kelud, meletus 19 Mei 1919.

Korban 5.115 orang.

• Tsunami Ende, Flores-NTT, 12 Desember 1992. Korban 2100 orang.

• Gempa Sumbar 7,6 SR , 30 September 2009 korban tewas 1.115 orang.

• Gempa bumi 6,5 SR Sulawesi Tengah, 4 Mei 2000. Korban 386 orang.

• Tsunami pantai selatan Jawa 7 Juli 2006.

• Tsunami Banyuwangi-Jawa Timur pada 3 Juni 1994. Korban 208 orang.

• Tsunami Mentawai 2010, 415 meninggal

DAMPAK BENCANA

JIWA-EKONOMI-SOSIAL - SARANA- KELANGSUNGAN USAHA

DISASTER PRONE COUNTRY

TANGKI BALONGAN

(7)

1. Epidemic Cocoliztli, 1545-1548 – Meksiko 15 juta tewas 2. Wabah London, 1665-1666 – korban 100.000

3. Wabah besar Marseille, 1720 – 1723 – korban 100.000 4. Wabah Rusia, 1770 – 1772 korban lebih 100.000

5. Demam Kuning Philadelphia, 1793 – korban lebih 5000 6. Wabah Flu, 1889 – 1890 – korban 1 juta

7. Wabah Polio di Amerika, 1916= korban 27.000 8. Flu Spanyol, 1918 – 1920- korban 500 juta 9. Flu Asia, 1957 – 1958 – korban 1,1 juta 10.AIDS, 1981 – sekarang – korban 35 juta

11.H1N1, Flu Burung, 2008 – 2010 – korban 575.400 Livescience.com

Pandemi Covid-19 yang dimulai dari Wuhan menyebar dengan cepat dan masif ke seluruh dunia

• Mobilitas masyarakat tinggi

• Teknologi informasi dan komunikasi

• Kepadatan penduduk dan urbanisasi-cluster

• Interaksi masyarakat tinggi

• Budaya safety rendah Berbagai macam pandemi dalam peradaban manusia

Faktor yang mempengaruhi

Update Corona Global 27 Mei 2020

global lokal

Case 3/6/2020 6,464,480 Deaths: 382,727 Recovered: 3,077,625 Cases 148M Recovered 85.6M Deaths 3.12M

(8)

BENCANA (PP 21)

• Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan

mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga

mengakibatkan timbulnya korban jiwa

manusia, kerusakan lingkungan, kerugian

harta benda, dan dampak psikologis.

(9)

GLOBAL TREND IN SAFETY

9

Global trend membawa pengaruh terhadap

aspek safety di berbagai bidang

kehidupan

BENCANA MENJADI ISU GLOBAL

(10)

“Dan apapun musibah yang menimpa

kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah – memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)”

(Qur’an Surat Asy-Syura 42-30)

(11)

SIAP MENGHADAPI BENCANA

• Plan for the best , but prepared for the worst

• Rencanakan yang terbaik, tetapi bersiap menghadapi kondisi

terburuk.

JANGAN

Bagaimana nanti aja…….

tetapi

Nanti Bagaimana???

(12)

PERUNDANGAN BENCANA

• Undang-undang No 24 tahun 2007 tentang Manajemen Bencana.

Undang-undang ini mengatur berbagai hal mengenai penanganan bencana di Indonesia.

• Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2008, tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. PP ini memuat antara lain tentang criteria bencana, perencanaan manajemen bencana, identifikasi risiko bencana dan analisa risiko bencana

• Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2008, tentang Tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana

(

• Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2008, tentang Tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah Dalam

Penanggulangan Bencana

• Peraturan Presiden No 8 tahun 2008 Tentang BADAN NASIONAL

PENANGGULANGAN BENCANA

(13)

UU NO 24

Pasal 40

Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi yang menimbulkan bencana dilengkapi dengan analisis risiko bencana sebagai bagian dari usaha penanggulangan bencana sesuai dengan

kewenangannya.

Pasal 41

Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf e disusun dan ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Pemenuhan syarat analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dalam dokumen yang disahkan oleh pejabat pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana melakukan pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan analisis risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 11

1) Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf e, ditujukan untuk mengetahui dan menilai tingkat risiko darI suatu kondisi atau kegiatan yang dapat menimbulkan

bencana.

2) Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan ditetapkan oleh Kepala BNPB dengan melibatkan instansi/lembaga terkait.

3) Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan, penataan ruang serta pengambilan tindakan pencegahan dan mitigasi bencana.

Pasal 12

1) Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi

menimbulkan bencana, wajib dilengkapi dengan analisis risiko bencana.

2) Analisis risiko bencana disusun berdasarkan persyaratan analisis risiko bencana melalui penelitian dan pengkajian terhadap suatu kondisi atau kegiatan yang mempunyai risiko tinggi menimbulkan bencana.

3) Analisis risiko bencana dituangkan dalam bentuk dokumen yang disahkan oleh pejabat pemerintah sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

4) BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya melakukan

pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan analisis risik bencana.

PP NO 21/2008

(14)

MANAJEMEN BENCANA BAGIAN DARI SMK3

14

ISRS,

Persyaratan Business Continuity Plan

Rencana kelangsungan bisnis untuk kembali beroperasi setelah adanya gangguan

Dalam kasus kerugian yang besar, mencakup:

Kriteria untuk memulai rencana

Pengaturan komunikasi secara internal dan eksternal

Lokasi bisnis alternatif

Pengaturan untuk bekerja dari rumah

Komputer dan fasilitas manajemen data alternatif

Pengaturan tenaga kerja alternatif

Pemasok dan distributor alternatif

Sarana kesejahteraan

ISO 45000

8.2 Emergency preparedness and response

The organization shall establish, implement and maintain a process(es) needed to prepare for and respond to potential emergency situations, as identified in 6.1.2.1, including:

a) establishing a planned response to emergency situations, including the provision of first aid;

SMK3 Rencana dan Pemulihan Keadaan Darurat 6.9.1

Prosedur untuk pemulihan kondisi tenaga kerja maupun sarana dan peralatan produksi yang mengalami

kerusakan telah ditetapkan dan dapat diterapkan sesegera mungkin setelah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

RKU/BCP MENJADI BAGIAN DARI SISTEM

MANAJEMEN K3

(15)

15 BISNIS

USAHA

UU NO 11/2020 CIPTA KERJA

UU NO 24/2007 BENCANA

TANGGAP DARURAT

ERP

KELANG SUNGAN

BISNIS BCP

PASAL 7

Perizinan berusaha berbasis risiko sebagaimana dalam pasal 6 huruf a dilakukan berdasarkan penetapan tingkat risiko dan peringkat skala usaha kegiatan usaha

UU no 24 Pasal 40/2007

• Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi yang menimbulkan bencana dilengkapi dengan analisis risiko bencana sebagai bagian dari usaha penanggulangan bencana sesuai dengan kewenangannya.

PP no 21/2008

• Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan, penataan ruang serta pengambilan tindakan pencegahan dan mitigasi bencana.

(16)

16

HSE MS

1SO 14000

1SO 45000

SMK3 ISRS

ERP BCP

ISO 22.301

ISO 31.000 NFPA

1600

disaster

ISRS SMK3 : LINGKUP MANAJEMEN BENCANA DAN BCP

PRODUKSI FINANSIL

SOSIAL PASAR SDM EKONOMI

(17)

BUSINESS CONTINUITY

Contoh - Gedung perkantoran dengan banyak tenan terbakar Respon

Sistem tanggap darurat ERP bekerja menanggulangi kebakaran Impak (BCM)

Pekerja kehilangan pekerjaan

Perusahaan mengalami gangguan bisnis

Tenan tidak bisa berkantor, bisnis terganggu

Tenan juga memiliki rantai bisnis yang juga terganggu

1 7

Gedung

terbakar

(18)

INCIDENT

Incident

A physical occurrence that threatens life and/or the environment and/or property.

e.g. Fire, spill, trapped in confined space…

Incident Management

Managing the actual response at the scene where a physical occurrence that threatens life and/or the environment and/or property

•Mainly involves site supervision

(19)

EMERGENCY

Emergency

An incident or a potential incident that threatens the operation of a company, its personnel or its assets

e.g. Fire, spill or release that has or is likely to escalate and affect beyond the immediate vicinity of origin…

Emergency Management

Managing an incident or a potential

incident away from the scene of incident

•Mainly involves site leadership

(20)

CRISIS

Crisis

Emergency situations that have the potential to adversely affect the future and strategic direction of a country, community and / or company.

Crisis Management

Managing an actual or potential threat to an

Organisation’s long term ability to do business due to impact on its:

Image and Reputation

Legal Liabilities

Financial Liabilities

Ability to operate

Mainly involves corporate leadership

Danger Opportunity +

Crisis =

(21)

TACTICAL STRATEGIC

Crisis

Management Emergency Management

Incident

Management

If an event does happen, all teams will be in operational mode

STRATEGIC VS TACTICAL

(22)

Scene of Incident Incident Management

Regional/Site

Emergency Management

National/Corporate/Company Crisis Management

Konsep Bencana

ERP LEVEL

Tier “1”

Tier “3”

Tier “2”

(23)

Normal

operation Emergency

Emergency Response ERP

Recovery

Normal operation

FRAMEWORK DISASTER MANAGEMENT AND BCMS

ERP BCP

DISASTER MANAGEMENT

MITIGATION

BCMS

MITIGATION

insiden

Business Continuity Plan

(24)

DM CYCLE

REHABILITATION BCP

DISASTER

EMERGENCY RESPONSE ERP

RECONSTRUCTIO N

PREPAREDNESS

MITIGATION

PREVENTION

PRE DISASTER POST

DISASTER DURING

(25)

FRAMEWORK MANAJEMEN BENCANA

25

BISNIS HIRA

PIP ERP

BIA BCP

ANALISA

RISIKO LATIHAN

• Tentukan kontek bisnis

• Potensi nahaya

• Tentukan tingkat risiko

• Tentukan objektif

Susun Pre Incident Planning PIP untuk berbagai skenario

Susun Business Impact Analysis BIA

Susun ERP untuk

setiap skenario PIP

Susun BCP untuk

setiap skenario BIA

Lakukan simulasi berkala dan evaluasi hasilnya

1

3

4 2

2

1 3 4 5 6 7

5

6

7

(26)

TANGGAP DARURAT

(27)

1 Kebijakan

2 Identifikasi Keadaan Darurat 3 Perencanaan Awal

4 Prosedur Tanggap Darurat 5 Organisasi Tanggap Darurat 6 Sumberdaya dan Sarana

7 Pembinaan dan Pelatihan 8 Komunikasi

9 Inspeksi dan Audit

10 Investigasi dan Pelaporan

ELEMEN MANAJEMEN KEADAAN DARURAT

• Keadaan darurat dan disaster harus dikelola dengan baik melalui sistim Manajemen Keadaan Darurat.

• Manajamen Keadaan Darurat adalah suatu upaya terpadu dan terencana untuk

menanggulangi semua

keadaan darurat dengan cepat dan tepat sejak tahap pra

kejadian-saat kejadian dan setelah kejadian.

TANPA MANAJEMEN BENCANA TERJADI KEPANIKAN. KORBAN

DAN KERUGIAN BESAR

(28)

PERUBAHAN PARADIGMA

Kebakaran tangki 1995

• Tangki terbakar – 7 unit

• Waktu pemadaman 4 hari

• Penanganan lokal

• Personal terlibat +/-200

Kebakaran tangki 2011

• Tangki terbakar 3 unit

• Waktu pemadaman 5 hari

• Penanganan

nasional/international

• Personal terlibat +/- 1200

28

• Pengaruh media

• Tekanan publik/non teknis Perlu perubahan strategi tanggap

darurat

Cepat-Tepat-Aman

Manajemen Disaster

Teknologi

Kompetensi

Organisasi

Kerjasama

DISKUSI

BAGAIMANA PENANGANAN PANDEMI, KECELAKAAN

PESAWAT, KEBAKARAN TANGKI BALONGAN DLL

SIL-1 SIL-2

SIL-3 I

II III

(29)

1.

ERP POLICY

• Implementation of Emergency Management within the company based upon the company's

management policies coupled with high commitment.

• Emergency Management Policy is part of the OH&S Management System implemented in the company.

• Menyediakan informasi yang di butuhkan untuk dapat mengidentifikasi instalasi berbahaya/ berisiko

• Melakukan Risk assessment

• Melaporkan kepada pihak terkait hasil Risk assessment

• Menyusun Disaster Preparedness Plan

• Mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan keselamatan Instalasi

(30)

• Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu

tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa

terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.

Element 2 Disaster

Risk

Assessment

Pasal 40

Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi yang menimbulkan bencana dilengkapi dengan analisis risiko bencana sebagai bagian dari usaha penanggulangan bencana sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 41

Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf e disusun dan ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Pemenuhan syarat analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditunjukkan dalam dokumen yang disahkan oleh pejabat pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana melakukan pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan analisis risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(31)

ANALISA RISIKO BENCANA (ARISCANA)

• ARISCANA dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi dan data mengenai potensi bencana yang

mungkin dapat terjadi di lingkungan masing-masing serta potensi atau tingkat risiko atau keparahannya.

• Risiko adalah merupakan kombinasi antara kemungkinan dengan tingkat keparahan bencana yang mungkin terjadi.

Risiko Bencana = Kemungkinan x Keparahan

Element 2 Disaster

Risk

Assessment

•Risiko kecil, dengan nilai risiko antara 1 – 8

•Risko sedang, dengan nilai risiko antara 9 – 10

•Risiko besar , dengan nilai antara 11-16

(32)

SoehatmanRamli 2011

1240 METER RADIANT HEAT FLUX

EFFECT

Radius 1240 meter

(33)

BLAST EFFECT/

BLEVE OVER PRESSURE

Radius 30 meter Radius 42 meter Radius 124 meter

Jumlah populasi atau manusia yang kemungkinan terkena dampak bencana

Luasnya area bencana yang akan terjadi.Misalnya ledakan dari suatu tangki LPG dalam industri kimia dapat

menjangkau radius lebih dari 1 kilometer. Dampak dari suatu gempa bumi, dapat menjangkau radius ratusan kilometer tergantung dari intensitasnya.

Kondisi lingkungan dimana bencana terjadi, misalnya area pemukiman padat, perkotaan, pegunungan. Lembah

berbukit-bukit, pantai atau aliran sungai.

Tingkatan bencana atau intensitasnya, misalnya gempa dengan skala di atas 7 SR, bocoran nuklir dengan kekuatan 200 TNT atau kebakaran dengan luas tertentu.

(34)

Element 2 Disaster

Risk

Assessment

(35)

1. Tahap I : Identifikasi Potensi Bencana

Identfikasi potensi bencana yang dapat terjadi susun scenario bencana dengan pemodelan dampak bencana dengan

menggunakan software modeling 2. Tahap II: Pengembangan Sistem PIP

Berdasarkan hasil tersebut susun Pre Incident Planning 3. Tahap III: Pelatihan

Berikan pelatihan bagi petugas yang akan mengelola

kebencanaan di wilayah untuk bisa mengoperasikan aplikasi 4. Tahap IV ; Simulasi Berkala

Secara berkala akan dilakukan latihan yang bersifat table top simulation dengan menggunakan aplikasi PIP

35

3 PRE

INCIDENT

PLANNING

(36)

EMERGENCY PROCEDURES

• Based on the scenario planning prepared

Emergency Procedures (SOPs) as an operational basis.

• Emergency procedures specify the type of

emergency that will be addressed, the duties and responsibilities of the team, facilities required and communication systems

• Emergency procedures must get legitimacy of company management and bind all parties concerned.

Elemen 4 ERP

Procedures

(37)

Element 5 ERP

Organization and Duty

ORGANIZATION OF EMERGENCY

• Based on existing SOPs, emergency organizational structure set complete with name, telephone and duties and responsibilities of each individual.

• Emergency Organization must provide clear lines of command and accountability system (accountability and responsibility of each individual / function

 Sebuah organisasi penggulangan bencana perlu di bentuk untuk menjalankan fungsi disaster control.

 Disaster response organization melibatkan personel unit operasi dengan bantuan organisasi dari luar.

Peran personel unit operasi dan organisasi dari luar harus jelas dan disetujui oleh kedua pihak terkait.

(38)

• Must be prepared a list of facilities needs of emergency response needed, whether that is available within the company or may be used from sources outside the company.

• Must be organized system for maintaining and checking all emergency facilities to be always in good condition and ready for use any time.

Element 6 : Resources

and

Facilities

Alarm system

Emergency lighting and power

Means of escape

Safe refuges

Critical isolation valves, switches and cut outs

Fire fighting equipment

First aid equipment

Communication facilities

(39)

TRAINING AND EDUCATION

• All the elements involved in an emergency is involved with the prevention, control or

prevention must be fostered and trained.

• Periodically simulated emergencies in

accordance with the scenario that had been developed

Element 7 : Training

and

Education

• Tactical and strategic

• Technical skills

• Leadership skills

• Functional skills

• Class room and developmental

• Test engineering controls

– Fire water pumps – Sprinklers, alarms,

detectors …….

• Test administrative controls

– Procedures for evacuation

– Roles, responsibilities and authorities…….

(40)

Communication is a vital element in emergency response

management system before, during the incident and during the response

Communication is necessary for all stakeholders associated with the management of emergency response.

Communication between the team, internal communications, external communications

Must be procedures and good communication systems, including the community and environment.

Element 8 ERP

Communication

Field coordination

Telephones and handling of switchboard

Radio communications

Number of sets

Frequencies used

Location prior to and during emergency

Availability when evacuation is ordered

With external agencies on site

Command centre

Area of reach

(41)

Kejadian POSKO Darurat

Tim Keadaan

Darurat

Eksternal

Internal

Manajemen Pekerja Pihak III

Call-out And response

COMMUNICATIONS

(42)

• Periodic inspections should be conducted and the audit `to ensure that all equipment, resources and emergency response system has been running well.

• Audit emergencies as part of a safety audit.

Element 9 : Inspection

and Audit

• Evaluation of training results and reports from various aspects:

– Engineering – Administrative – Training

– Communication – Documentation

• Periodic Reports audit results

• Changes in applicable laws

(43)

• Each event of an emergency must be

followed up by conducting an investigation to find out:

• The cause of the incident

• Effectiveness of prevention

• The effectiveness of emergency systems that apply

Element 10 Investigation

and

Reporting

(44)

BCP

RENCANA KELANGSUNGAN USAHA

(45)

BUSINESS CONTINUITY

Contoh - Gedung perkantoran dengan banyak tenan terbakar Respon

Sistem tanggap darurat ERP bekerja menanggulangi kebakaran Impak (BCM)

Pekerja kehilangan pekerjaan

Perusahaan mengalami gangguan bisnis

Tenan tidak bisa berkantor, bisnis terganggu

Tenan juga memiliki rantai bisnis yang juga terganggu

4 5

Gedung

terbakar

(46)

46

Bangkrut, Puluhan

Perusahaan Raksasa AS Ajukan Pailit

CNN Indonesia | Senin, 14/09/2020 10:06 WIB

Jakarta, CNN Indonesia --

Puluhan perusahaan berskala besar di Amerika Serikat (AS) mulai mengajukan kebangkrutan atau pailit di tengah resesi ekonomi Negeri Paman Sam. Pengajuan pailit berasal dari

berbagai sektor usaha, mulai dari penerbangan, minyak dan gas, hingga hiburan.

Melansir CNN Business, berdasarkan data Bank Investasi Jefferies, tercatat jumlah perusahaan bangkrut di AS meningkat 244 persen pada Juli- Agustus 2020 dibanding Juli-Agustus 2019.

Bahkan, jumlahnya diperkirakan bakal bertambah lagi pada September ini.

(47)

PREPARED WITH BCP

47

Dunia bisnis penuh dengan ketidakpastian yang mengancam kelangsungan usaha (accident,gangguan teknis, pemasaran, moneter, politis, regulasi, partenrship bencana alam dsb)

Bersiap melalui Penerapan Business Continuity Plan (BCP)- Rencana Kelangsungan Usaha (RKU)

Melalui RKU/BCP perusahaan dapat menganalisa potensi ancaman bisnis yang ada di depan, tingkat kerawanannya serta langkah untuk mengatasi

BISNIS

USAHA NORMAL

Menghadapi ketidakpastian perlu

persiapan

Dengan menerapkan

RKU/BCP

(48)

BCP/RKU STANDAR GLOBAL DALAM BERUSAHA

48 2011 2014

ILO

• Tuntutan

kelangsungan bisnis semakin meningkat

• Telah dikembangkan berbagai pedoman BCP di berbagai sektor

• Berkembang sistem manajemen

kelangsungan usaha (BCMS-ISO 22301)

Penerapan di Indonesia masih rendah

(49)

PERKEMBANGAN RKU/BCP

49

• Peristiwa 11 September 2001 menimbulkan kesadaran global akan pentingnya menjaga kelangsungan usaha (RKU/BCP)

• Berkembang berbagai standar dan pedoman tentang RKU/BCP

• NFPA 1600

• ISRS “7” (DNV)

• ISO 22301 BCMS - 2012

• dll WTC

• Sektor

Perbankan

• Sektor IT

• Sektor Industri

• Sektor

Perhubungan

(50)

REFERENSI DAN STANDAR

IS0 45.000 – OHS Management System, Emergency Response

ISO 14.000 – Environmental Management

SMK3 PP 50 Tahun 2012

Prosedur untuk pemulihan kondisi tenaga kerja maupun sarana dan peralatan produksi yang mengalami kerusakan .

ISRS (International Safety Rating System)

Kelangsungan bisnis termasuk dalam Elemen Emergency Preparadness : Rencana Kelangsungan Bisnis

NFPA 1600-2019 Standard on Continuity, Emergency, and Crisis Management

ISO 22301-2019, Security and resilience – Business continuity management systems

50 Sejak tahun 2010 dipicu berbagai kasus bencana dan teror seperti WTC, bencana lingkungan dll

(51)

ISRS,

Persyaratan Business Continuity Plan

Rencana kelangsungan bisnis untuk kembali beroperasi setelah adanya gangguan

Dalam kasus kerugian yang besar, mencakup:

Kriteria untuk memulai rencana

Pengaturan komunikasi secara internal dan eksternal

Lokasi bisnis alternatif

Pengaturan untuk bekerja dari rumah

Komputer dan fasilitas manajemen data alternatif

Pengaturan tenaga kerja alternatif

Pemasok dan distributor alternatif

Sarana kesejahteraan

51 ISO 45000

8.2 Emergency preparedness and response The organization shall establish, implement and maintain a process(es) needed to prepare for and respond to potential emergency situations, as identified in 6.1.2.1, including:

a) establishing a planned response to emergency situations, including the provision of first aid;

SMK3 Rencana dan Pemulihan Keadaan Darurat 6.9.1

Prosedur untuk pemulihan kondisi tenaga kerja maupun sarana dan peralatan produksi yang mengalami kerusakan telah ditetapkan dan dapat diterapkan sesegera mungkin setelah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

BCP MENJADI BAGIAN DARI SISTEM MANAJEMEN K3

(52)

APA BCP?? BCP (Business Continuity Plan) yaitu persiapan dalam menghadapi

semua kondisi yang dapat mengganggu kelangsungan usaha atau

bisnis seperti kecelakaan, bencana alam, sosial, persaingan,

pandemi dll.

(53)

OBJECTIVES OF BCP

Why Have a Business Continuity Plan?

• Maintain continuity of operations, stay in business!

• Maintain customer service

• Relocate critical operations quickly

• Minimize financial losses

• Reduce disruptions to critical operations

• Achieve an orderly recovery

• Comply with legal, contractual, audits, and government regulations

Why Have a Business Continuity Plan?

• Reduce reliance on key personnel

• Protect assets

• Increase the safety of all personnel

• Minimize decision making during the recovery

• Reduce delays during the recovery process

• Provide a sense of security

• Limit potential exposure and reduce legal liability

• Provide organizational stability

(54)

MANFAAT DENGAN BCP

• Mencegah kerugian akibat

adanya gangguan atau bencana

• Melindungi aset perusahaan

• Mengurangi ketergantungan dengan pihak lain

• Melindungi kepentingan pihak terkait

• Meningkatkan kepercayaan konsumen dan partner usaha

• Meningkatkan kordinasi dalam penanganan bencana

54

(55)

BENEFIT OF BCM

55

Per[u waktu pemulihan lebih lama

collapse

(56)

56

(57)

Analisa

risiko BIA BCP SEHAT

• dIagnosa dokter,

• kondisi penyakit

• Pengobatan Dampak

• Ekonomi

• Kegiatan Kerja

• Usaha

• Pola Hidup

• Keluarga

Bagaimana menghadapinya

Perubahan pola hidup

Pola Kerja

Pola Makan

Usaha Alternatif

Dukungan Kelurga

CONTOH APLIKASI

(58)

58

RISIKO PANDEMI

COVID 19 KECELAKAAN

INSIDEN

BENCANA ALAM RISIKO

KORPORA SI

RISIKO OPERASIONA

L

BIA

BCP

(59)

FRAMEWORK BCMS

59

BISNIS HIRA

PIP ERP

BIA BCP

ANALISA

RISIKO LATIHAN

• Tentukan kontek bisnis

• Potensi nahaya

• Tentukan tingkat risiko

• Tentukan objektif

Susun Pre Incident Planning PIP untuk berbagai skenario

Susun Business Impact Analysis BIA

Susun ERP untuk

setiap skenario PIP

Susun BCP untuk

setiap skenario BIA

Lakukan simulasi berkala dan evaluasi hasilnya

1

3

4 2

2

1 3 4 5 6 7

5

6

7

(60)

1. Mengenal Prioritas Usaha 2. Identifikasi Risiko Pandemi

3. Perencanaan Mitigasi Risiko Pandemi 4. Identifikasi Respon dampak pandemi

1. Merancang dan Mengimplementasi Perencanaan Kelangsungn usaha

2. Komunikasi Perencanaan Kelangsungan Usaha (RKU)

3. Uji Perencanaan Kelangsungan Usaha

(61)

1. MENENTUKAN KONTEK ORGANISASI

• Setiap

perusahaan/organisasi memiliki kontek

berbeda sesuai dengan visi dan misinya

• Sebelum memulai BCP, tentukan dulu kontek organisasi, bisnis, ruang lingkup serta potensi risiko korporasi yang terait dengan bisnisnya

61

(62)

2. MENENTUKAN OBJEKTIF

Setiap perusahaan atau organisasi memiliki objektif masing-masing sesuai dengan kebijakan dan strategi bisnis

Tentukan

RPO (Recovery Point Objective)

RTO (Recovery Time Objectives)

MTPD (Maximum Tolerable Period of Disruption

MAO (Maximum Acceptable Outage time )

MBCO (Minimum Business Continuity Objective)

62

(63)

4. BUSINESS IMPACT ANALYSIS (BIA)

63 Business Impact Analysis (BIA)

Analisa untuk mengetahui dan mengidentifikasi potensi gangguan bisnis yang dapat terjadi yang mencakup 1. Organisaisi

2. Identifikasi Kegiatan 3. Dampak dari kejadian 4. Menentukan MAO (min 5. Kegiatan yang diperlukan 6. Sumberdaya untuk pemulihan

7. Ketergantungan dengan pihak lain

8. Maksmium kerugian aset • Susun BIA berdasarkan Identifikasi risko,PIP dan objektif

• Tetapkan organisasi dan sumberdaya

(64)

6.BUSINESS CONTINUITY PLAN BCP

Business continuity plan

A set of procedures and instructions to guide an organization during and after a disruption event, to speed up immediate response, recovery, and resumption of minimum operational conditions, and restoration of normal operations.

64

(65)

65 BCP

BCP

Bangkrut SURVIVE

TANPA BCP PLAN A

PLAN B

PLAN C

BENCANA

(66)

7. TRAINING & SIMULATION

• Rencana Kelangsungan Usaha (RKU) harus dilatih secara berkala untuk memastikan berjalan dengan baik

• Dilakukan dengan melibatkan semua unsur, tim terkait, pihak lain dan konsumen

• Hasil simulasi dievaluasi untuk meningkatkan kehandalan sistem RKU

66

(67)

ISO 22301

67

(68)

ISO 22301

68

8.5. Exercise Programme

8.6. Evaluation of BC Documentation and Capability 9. Performance evaluation

9.1. Monitoring, measurement, analysis and evaluation 9.2. Internal audit

9.3. Management review 10. Improvement

10.1. Nonconformity and corrective action 10.2.Continual improvement

1. Scope

2. Normative references 3. Terms and definitions

4. Context of the organization

4.1. Understanding of the organization and its context

4.2. Understanding the needs and expectations of interested parties

4.3. Determining the scope of the business continuity management system

4.4. Business continuity management system

5. Leadership

5.1. Leadership and commitment 5.2. Policy

5.4. Roles, responsibilities and authorities 6. Planning

6.1. Actions to address risks and opportunities 6.2. Business continuity objectives and plans to

achieve them

6.3. Planning changes to BCMS

7. Support 7.1. Resources 7.2. Competences 7.3. Awareness 7.4. Communication

7.5. Documented information 8. Operation

8.1. Operational planning and control

8.2. Business impact analysis and risk assessment 8.3. Business continuity strategy and solution 8.4. Business continuity Plan and procedures

(69)

BCP PROCESS

Creating and Re-Evaluating BCP Plans…Keep it Simple

Phase 1: The Risk Assessment Phase which establishes the risk framework. The Risk Assessment will identify the primary

threats to day- to-day operations identified through the identification of potential internal and external risks in each defined area.

Phase 2: Activities include the development of Alternative Recovery Strategies. The project team will identify the most likely recovery strategies in which to mitigate risk.

Phase 3: Activities includes documentation of the Business Continuity Plans, Plan Maintenance, Training and Testing

Exercises. In addition, a process will be developed as part of the maintenance to continually re- evaluate the risk to day- to-day operations.

(70)

BCM scope Expectations of

interested parties

SCOPE BCP

Coordinator

Internal Audit

70

Project initiation

BCM Context

Leadership

PLANNING

RESOURCES

OPERATION

Awareness Competences

OPERATION PLANNING &

CONTROL BIA & RISK BC

STRATEGY

BC PROCEDURE &

IMPLEMENTATION

PERFORMANCE EVALUATION

MONITORING AND MEASUREMENT

MANAGEMENT REVIEW

Simulation Exercises

IMPROVEMENT Non

conformance Corrective

action IMPROVEMENTCONTINUAL BCP Team

Organization and its context

1 2

3

4

5 6

7 8

SUPPORT

BCM Management

Leadership and

Commitment Management

Commitment Policy Roles &

Responsibility

Risk &

Opportunity OBJECTIVESBCM

Communicati

on Documntation

FRAME WORK BCM BERBASIS ISO 22301

(71)

contoh

Analisa

risiko BIA BCP SEHAT

• dIagnosa dokter,

• kondisi penyakit

• Pengobatan Dampak

• Ekonomi

• Kegiatan Kerja

• Usaha

• Pola Hidup

• Keluarga

Bagaimana menghadapinya

Perubahan pola hidup

Pola Kerja

Pola Makan

Usaha Alternatif

Dukungan Kelurga

(72)

contoh

Analisa

risiko BIA BCP

OPERASI AMAN EFISIEN

Risiko Finansial

LIngkungan

Kecelakaan

Kebakaran

Kerusakan Alat

Bencana Alam

Gangguan Sosial

dll

Dampak

Ekonomi

Bisnis/kontrak

Kegiatan Kerja

Usaha

Pekerja

Konsumen

Bagaimana menghadapinya

Pengaturan Manajemen

Sistem Tanggap Darurat

Finansial

Peralatan Cadangan

dll

(73)

PENUTUP

(74)

KESIMPULAN

• Menghadapi new era, dunia usaha menghadapi berbagai macam tantangan yang menganggu kelangsungan bisnis

• Perlu menerapkan BCM dalam setiap kegiatan mencakup Analisa Risiko, BIA dan BCP

• Perlu membangun paradigma baru berbasis budaya K3

7 4

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penanganan tindak pidana Fidusia tersebut di Sat Reskrim Polres Demak yang menangani adalah Unit II Tipidter Sat Reskrim Polres Demak.Dalam melakukan penelitian ini

Arrester membentuk jalan yang mudah untuk dilalui oleh arus kilat atau petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang nilainya tinggi pada peralatan.. Selain melindungi

Selain berkurangnya ketakutan akan hal yang tidak nyata, penulis juga berharap karakter tersebut dapat menjadi media hiburan dalam hal horor karena di Indonesia masih sangat

Skripsi yang berjudul ” Pengaruh Diet Rendah Magnesium Terhadap Jumlah Makrofag dan Kadar TNF-α Pada Tikus Wistar Jantan ” ini diajukan untuk memenuhi salah

daerah dalam rangka mengukur dan mengevaluasi variabel atau kriteria potensi daerah yang dipersyaratkan untuk mengetahui kemungkinan penataan wilayah di Provinsi

Rimo International Lestari (RIMO) melalui entitas anak perusahaan yang dimiliki 90% PT Matahari Pontianak Indah Mal telah melakukan akuisisi sebesar 90% saham dalam PT

• Multilateral Development Banks leverage public and private sector • Complementarity with partners. based on comparative advantage •

Itulah mengapa Pasal 12 B ayat (1) huruf a mengatur tentang pembalikan beban pembuktian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang diduga