• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK STOMATA DAUN PADA BERBAGAI JENIS POHON DI KAMPUS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU), PADANG BULAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARAKTERISTIK STOMATA DAUN PADA BERBAGAI JENIS POHON DI KAMPUS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU), PADANG BULAN SKRIPSI"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

i

KARAKTERISTIK STOMATA DAUN PADA BERBAGAI JENIS POHON DI KAMPUS UNIVERSITAS SUMATERA

UTARA (USU), PADANG BULAN

SKRIPSI

NARA SISILIA BR KABAN 161201101

DEPARTEMEN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

(2)

ii

KARAKTERISTIK STOMATA DAUN PADA BERBAGAI JENIS POHON DI KAMPUS UNIVERSITAS SUMATERA

UTARA (USU), PADANG BULAN

SKRIPSI

NARA SISILIA BR KABAN 161201101

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

(3)

i

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul : Karakteristik Stomata Daun pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Padang Bulan Nama : Nara Sisilia Br Kaban

NIM : 161201101

Departemen : Budidaya Hutan

Fakultas : Kehutanan

Disetujui oleh:

Pembimbing

Dr. Arida Susilowati S.Hut.,M.Si Ketua

Mengetahui

Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut, M.Si., Ph.D Ketua Departemen Budidaya Hutan

Tanggal Lulus:

(4)

ii

PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nara Sisilia Br Kaban NIM : 161201101

Judul Skripsi : Karakteristik Stomata Daun pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Padang Bulan

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Medan, September 2021

Nara Sisilia Br Kaban NIM 161201101

(5)

iii

ABSTRACT

NARA SISILIA BR KABAN: Leaf Stomata Characteristic of Tree species at the University of Sumatera Utara (USU) Campus, Padang Bulan, supervised by Dr.

ARIDA SUSILOWATI S.Hut.,M.Si.

The University of Sumatera Utara (USU) campus is one of the campuses in Medan city which has known as a Green Campus. The USU campus plays an important role as a Green Open Space (GOS) in the city of Medan. As part of GOS, USU has important functions both ecologically, economic and social. The purpose of this study was to analyze the distribution, characteristic, density patterns, size and distribution of stomata of 83 tree species on USU campus Padang-Bulan. The methods used in this research were the replica and nail polish methods. The results showed that four types of stomata were found from 83 species thoses were, parasitic, anomocytic, anisocytic and diacytic. Parasitic stomata type has the highest percentage (91.56%) of all observed trees. Based on stomata number, kesambi (Schleichera oleosa) had the highest number of stomata and tampui (Baccaurea macrocarpa) had the least number. The widest stomata size was found in the mangosteen (Garcinia mangostana) and the narrowest in the bangkirai (Shorea laevis). All of observed species have random stomata distribution.

Keywords: The University of Sumatera Utara (USU), Tree species, Stomata

characteristic, Stomata disribution

(6)

iv

ABSTRAK

NARA SISILIA BR KABAN: Karakteristik Stomata Daun pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Padang Bulan, dibimbing oleh Dr. ARIDA SUSILOWATI S.Hut., M.Si.

Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) merupakan salah satu kampus di kota Medan yang menyandang predikat sebagai Green Campus. Kampus USU juga berperan penting sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kota Medan. Sebagai bagian dari ruang terbuka hijau, kampus USU memiliki fungsi penting baik secara ekologis, ekonomi dan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah guna menganalisis sebaran, karakter, pola kepadatan, ukuran dan distribusi stomata dari 83 jenis pohon di kampus USU. Penelitian ini menggunakan metode replika dan metode kutek. Hasil dari penelitian menemukan empat tipe stomata dari 83 jenis pepohonan yaitu parasitik, anomositik, anisositik dan diasitik. Tipe stomata parasitik memiliki persentase tertinggi (91,56%). Berdasarkan jumlahnya, kesambi (Schleichera oleosa) memiliki jumlah stomata terbanyak sedangkan tampui (Baccaurea macrocarpa) memiliki jumlah stomata paling sedikit. Ukuran stomata terlebar dijumpai pada manggis (Garcinia mangostana) dan tersempit pada jenis bangkirai (Shorea laevis) dengan distribusi stomata seluruhnya tersebar.

Kata Kunci: Kampus USU, Jenis Pohon, Karakteristik Stomata, Distribusi Stomata

(7)

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bengkulu pada tanggal 9 September 1997. Penulis merupakan anak ke 4 dari 4 bersaudara oleh pasangan S Kaban dan mendiang N Br. Sebayang/ S Br. Sebayang. Penulis memulai pendidikan di SD Negeri 040457 Berastagi pada Tahun 2001-2007, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Berastagi pada Tahun 2008-2010, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Berastagi pada Tahun 2010-2016. Pada tahun 2016, penulis lulus di Fakultas Kehutanan USU melalui jalur SBMPTN. Penulis memilih minat Departemen Budidaya Hutan.

Semasa kuliah penulis merupakan anggota organisasi Korps Mahasiswa Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup Universitas Sumatera Utara (KOMPAS-USU). Penulis telah mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan di Kawasan Hutan Mangrove desa Lubuk Kertang, Kec. Brandan Barat, Kab.

Langkat, Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2018. Pada tahun 2019 juga telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapang (PKL) di KPH Cibinong Bogor. Pada awal tahun 2021 penulis melaksanakan penelitian dengan judul โ€œKarakteristik Stomata Daun pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Padang Bulanโ€ dibawah bimbingan ibu Dr. Arida Susilowati S.Hut., M.Si.

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian ini. Usulan penelitian ini berjudul โ€œKarakteristik Stomata Daun pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Padang Bulanโ€. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Kehutanan di Program Studi Kehutanan. Selain itu, tujuan dari pembuatan skripsi ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai sebaran jenis stomata, karakter pola kepadatan, ukuran dan distribusinya pada jenis pohon di Kampus Universitas Sumatera Utara.

Selama berlangsungnya penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan dukungan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, S Kaban dan mendiang N Br. Sebayang / S Br. Sebayang yang selalu memberikan dukungan, doa dan nasehat dalam pembimbingan selama ini dan juga kepada:

1. Ibu Dr. Arida Susilowati S.Hut.,M.Si selaku pembimbing saya yang telah membimbing dan mengarahkan penulis serta memberikan berbagai masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

2. Bapak Dr. Muhdi, S.Hut., M.Si, Bapak Dr. Ir. Tito Sucipto, S.Hut., M.Si., IPU dan ibu Mariah Ulfa, S.Hut., Msc selaku penguji saya yang telah memberikan masukan kepada penulis dalam skripsi ini.

3. Seluruh staff pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara yang telah membagikan ilmunya selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara.

4. Saudara โ€“ saudara kandung saya Nara Leo Viga Kaban, Nara Kristanti A Br.

Kaban dan Nara Pelita Sari Br. Kaban selaku abang dan kakak yang selalu mendukung penulis.

5. Seluruh keluarga Kaban dan keluarga Sebayang mergana yang selalu

mendukung penulis dalam segala hal.

(9)

vii

6. Keluarga besar KOMPAS-USU yang selama ini telah mendukung penulis baik sarana dan prasarana penulis baik sebelum dan dalam mengerjakan skripsi ini.

7. Keluarga besar Kehutanan Universitas Sumatera Utara selaku teman-teman penulis.

8. Teman-teman penulis yaitu Gerika, Lusi, Nela, Yuni dan Yujin yang selalu mendukung penulis baik dalam memberikan nasehat dan dukungan.

9. Teman-teman penulis diluar kampus yang mendukung penulis yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis berharap semoga informasi yang terdapat dalam usulan penelitian ini dapat memberikan berbagai manfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, September 2021

Nara Sisilia Br Kaban

(10)

viii

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

ABSTRACT ... iii

ABSTRAK ... iv

RIWAYAT HIDUP ...v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR TABEL ...x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

PENDAHULUAN Latar Belakang ...1

Tujuan Penelitian ...2

Manfaat Penelitian ...2

TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Lokasi ...3

Peran Stomata dalam Fotosintesis ...4

Jenis-jenis Stomata ...5

Kepadatan Stomata ...5

Ukuran Stomata ...6

Peran Stomata dalam Identifikasi Jenis Pohon ...7

Peran Stomata sebagai Penghasil Oksigen ...7

Peran Stomata sebagai Penyerap Polutan ...7

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu ...9

Bahan dan Alat ...9

Prosedur Penelitian ...9

(11)

ix

Metode Replika ...9

Metode Kutek ...10

HASIL DAN PEMBAHASAN Sebaran Jenis Stomata pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus USU ...14

Ukuran Stomata pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus USU ...20

Distribusi Stomata pada Berbagai Jenis Pohon di Kampus USU ...22

Jumlah dan Kepadatan Stomata ...25

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ...28

Saran ...28

DAFTAR PUSTAKA ...29

LAMPIRAN ...32

(12)

x

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

1 Tipe Stomata dan Ukuran Stomata pada 83 Jenis Pohon di Kampus USU ..14

2 Tipe Stomata Berdasarkan Suku di Kampus USU ...18

3 Kepadatan dan Distribusi Stomata pada 83 Jenis Pohon di USU ...22

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1 Denah Kampus Universitas Sumatera Utara ...5

2 Pengukuran Panjang dan Lebar Stomata ...13

3 Hasil Pengamatan Tipe Stomata Daun ...17

4 Hasil Pengamatan Ukuran Panjang dan Lebar Sel Stomata ...21

5 Overlay Jumlah dan Tingkat Kepadatan Stomata ...27

(14)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

No. Teks Halaman

1 Tipe Stomata Berdasarkan Suku di Kampus USU ...38

(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) merupakan salah satu kampus dengan predikat Green Campus. Green campus adalah kampus yang berwawasan lingkungan dimana mengintegrasikan ilmu pengetahuan lingkungan kedalam bentuk kebijakan, manajemen dan kegiatan tridharma perguruan tinggi hal ini menurut Hunaidi dalam Puspadi (2016). Green Campus merupakan program dari Universitas Indonesia dibidang kampus hijau yang pertama kali diadakan pada tahun 2010. Programnya sendiri bernama UI GreenMatric yang telah membawa UI kedalam kancah internasional pada tahun 2017. Program UI GreenMatric sendiri terdiri atas kegiatan penanganan energi, sampah, air, transportasi ramah lingkungan dan penanganan pendidikan dan riset serta kegiatan yang berhubungan dengan keberlanjutan (UI, 2018).

Persyaratan untuk predikat green campus sendiri belum ada standar khusus yang membahas peran serta manajemen. Hanya adanya panduan seperti Green Guide for Universities yang mana dikeluarkan oleh International Aliance of Reseaserch University (IARU) pada tahun 2007. Greening University Toolkit juga yang dikeluarkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) yang berisikan mengenai panduan untuk kampus dalam merealisasikan visi dan komitmen ke dalam sebuah program, kebijakan, ataupun tindakan. Menurut Buana dkk (2018), adanya rekomendasi indikator untuk pengembangan UI GreenMetric kriteria Manajemen, yaitu (i) Sustainability planning; (ii) Student and staff development; (iii) Sustainability assessment; (iv) Community partnership.

Universitas Sumatera Utara terletak di kota Medan, Sumatera Utara dan keberadaannya berperan sangat penting sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Sebagai Ruang Terbuka Hijau Kampus USU memiliki fungsi penting secara

ekologis, ekonomi dan sosial. Terkait hal tersebut, pepohonan di kawasan Ruang

Terbuka Hijau (RTH) berperan penting dalam suplai hasil fotosintesis berupa

oksigen dan mendukung fungsi ruang terbuka hijau lainnya. Pohon juga dapat

memperbaiki kualitas lingkungan, khususnya dalam menyerap gas pencemar.

(16)

2

Penelitian yang dilakukan oleh Patra dkk (2004) menunjukkan bahwa umumnya pohon yang ditanam pada RTH memiliki kemampuan sedang sampai tinggi dalam menyerap polutan seperti nitrogen dioksida (NO

2

), nitrogen monoksida (NO), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO

2

), sulfur dioksida (SO

4

) dan lainnya yang mana dihasilkan dari penghasil polutan seperti kendaraan bermotor, hasil pembakaran pabrik dan pembakaran bahan bakar fosil sehingga pohon-pohon tersebut berpotensi sebagai tanaman tepi jalan.

Di samping memiliki nilai fungsional, tanaman juga memiliki nilai estetis misalnya bentuk, tekstur dan warna daun. Ketiga hal ini dapat menimbulkan efek visual dan psikologis. Warna cerah akan memberikan memberikan kesan rasa senang, gembira dan hangat. Sedangkan warna lembut dapat memberikan rasa tenang dan sejuk. Bentuk dan tekstur tanaman atau daun dapat mempengaruhi psikis dan fisik yang memandangnya.

Peranan pohon dalam mendukung fotosintesis, penyerap polutan dan proses fisiologi pada pepohonan berkaitan erat dengan keberadaan stomata. Proses fotosintesis dapat terjadi karena adanya karbondioksida yang masuk melalui stomata sebuah tumbuhan. Stomata sangat penting bagi tumbuhan dikarenakan stomata berperan penting dalam proses fotosintesis. Stomata merupakan lubang atau celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan yang berwarna hijau yang dibatasi oleh sel khusus yang disebut sel penutup (Sihotang, 2017).

Sel penutup ini dikelilingi oleh sel-sel yang berbentuk sama ataupun berbeda dengan sel epidermis lainnya yang disebut sebagai sel tetangga. Sel penutup yang berbentuk seperti ginjal ini berfungsi sebagai katup yang dapat terbuka dan tertutup sebagai jalan masuknya gas. Sedangkan sel tetangga berfungsi sebagai pengatur buka lebar celah penutup stomata yang geraknya dipengaruhi oleh perubahan osmotik. Intensitas cahaya, lama penyinaran dan penguapan air dapat merangsang gerakan sel penutup. Stomata berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran udara/ transpirasi. Menurut Haryadi (2017) dalam proses fotosintesis, juga berpengaruh intensitas cahaya, lama penyinaran dan kualitas cahaya (panjang gelombang) yang diterima oleh tanaman.

Terkait dengan penyerap polutan, studi yang dilakukan Nasrullah dkk

(2017) menemukan bahwa pohon dengan kerapatan stomata tinggi, memiliki

(17)

3

kemampuan menyerap polutan lebih tinggi dibandingkan pohon dengan kerapatan rendah. Jumlah stomata yang banyak berpengaruh terhadap peningkatan kerapatan stomata pada daun. Kerapatan stomata tidak saja bervariasi antar jenis tetapi juga antar daun dari tumbuhan yang sama. Kerapatan dan jumlah stomata yang banyak juga merupakan respon tumbuhan terhadap kondisi lingkungannya.

Kampus USU memiliki beraneka ragam jenis pohon yang mencakup areal seluas 120 Hektar (Susilowati dkk, 2017). Terdapat 121 pohon yang terdapat di kampus USU yang tergolong dalam 37 suku (Susilowati, 2017). Jenis-jenis tersebut memiliki fungsi sebagai penghasil pangan, serat, obat-obatan, energi dan penyerap polutan. Informasi terkait dengan fungsi pohon khususnya dalam kemampuan menyerap polutan dan penghasil oksigen di kampus USU saat ini belum diperoleh. Oleh karenanya diperlukannya data mengenai tipe stomata, ukuran, distribusi stomata dan kepadatan stomata pada berbagai jenis pepohonannya. Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi yang digunakan untuk melakukan penanaman jenis pepohonan di wilayah kampus Universitas Sumatera Utara sebagai penyerap polutan dan penghasil udara yang baik bagi lingkungan kampus.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis tipe stomata daun pada berbagai jenis pepohonan di kampus Universitas Sumatera Utara, Padang Bulan

2. Menganalisis ukuran, distribusi dan kepadatan stomata pada berbagai jenis pepohonan di kampus Universitas Sumatera Utara, Padang Bulan

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi

pengelola kampus Universitas Sumatera Utara dalam pemilihan jenis pohon untuk

kegiatan penanaman di areal kampus. Informasi terkait tipe stomata, distribusi,

dan kepadatan stomata juga penting dalam menentukan jenis pohon dengan

kemampuan menyerap polutan terbaik.

(18)

4

TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi Umum Lokasi

Universitas Sumatera Utara (USU) merupakan sebuah universitas negeri yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara yang berdiri pada 20 November 1957.

Universitas Sumatera Utara sendiri merupakan salah satu universitas terbaik yang terletak di pulau Sumatra. Kampus Universitas Sumatera Utara, Padang Bulan, Medan, memiliki luas 1.188.331 m2. Universitas Sumatera Utara digunakan sebagai tempat kegiatan akademik, administrasi, olahraga, seni, perumahan dosen, dan kegiatan mahasiswa lain. Di kampus ini telah dibangun Rumah Sakit Pendidikan USU seluas 38.242 m2. Universitas Sumatera Utara sekarang ini memiliki lahan guna pengembangan kampus seluas 300 Ha di Kwala Bekala Kabupaten Deli Serdang. Sampai kini lahan kampus tersebut belum dikembangkan untuk menjadi bagian kampus yang operasional. Universitas Sumatera Utara juga mempunyai laboratorium lapangan di Kebun Tambunan A Kabupaten Langkat seluas ยฑ 680 Ha, kebun percobaan mahasiswa, laboratorium pariwisata, dan laboratorium hutan pendidikan di Kabupaten Karo seluas 1.000 Ha.

Guna mengantisipasi bertambahnya jumlah mahasiswa sesuai dengan kecenderungan meningkatnya animo masyarakat dan guna pengembangan program studi dan keilmuan, USU perlu segera mengembangkan dan membangun kampus baru untuk tujuan pendidikan dan untuk tujuan income generating pada semua lahan kampus dan kebun. Berdasarkan klasifikasi iklim Kรถppen, Universitas Sumatera Utara yang terletak di Medan memiliki iklim hutan hujan tropis dengan musim kemarau yang tidak jelas. Medan sendiri memiliki bulan- bulan yang lebih basah dan kering, dengan bulan terkering pada bulan Februari rata-rata juga presipitasi sekitar sepertiga dari bulan terbasah pada bulan Oktober.

Suhu rata-rata di kota ini sekitar 27 derajat Celsius sepanjang tahun. Presipitasi tahunan di Medan sekitar 2200 mm (Renstra USU, 2020).

Berikut denah lokasi penelitian kampus Universitas Sumatera Utara

terlampir pada Gambar 1.

(19)

5

Gambar 1. Denah Kampus Universitas Sumatera Utara (sumber: Google Maps)

Peran Stomata dalam Fotosintesis

Menurut Sumardi (2010), stomata memiliki artian lubang atau celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan berwarna hijau dan dibatasi oleh sel khusus yang disebut sel penutup. Sel penutup itu sendiri dikelilingi sel-sel yang bentuknya baik sama ataupun berbeda dengan sel-sel epidermis lainnya dan biasa disebut sel tetangga. Sel tetangga berguna dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup dimana berguna mengatur lebar celah.

Menurut Izza (2015), stomata terdapat pada semua bagian tumbuhan di atas tanah, tetapi paling banyak ditemukan pada daun tumbuhan itu sendiri.

Stomata berkaitan erat dengan aktivitas transpirasi. Transpirasi adalah proses hilangnya air dari jaringan tumbuhan melalui kutikula, stomata maupun lentisel.

Transpirasi sebagian besar terjadi melalui stomata, walaupun dapat pula melalui

kutikuler. Stoma yang lebih membuka akan meningkatkan konduktivitasnya,

sehingga transpirasinya lebih cepat.

(20)

6

Jenis-jenis Stomata

Woelaningsih dalam Metcalfe dan Chalk (1957) menyebutkan beberapa tipe stomata yang terdapat pada tumbuhan dikotil yaitu tipe anomositik, diasitik, parasitik, anisositik, aktinositik dan siklositik. Tipe anomositik dicirikan dengan sel penutup berbentuk ginjal, dikelilingi oleh sel-sel tetangga dalam jumlah yang tidak tertentu dan bentuk sel tetangga sama dengan sel epidermis. Tipe diasitik dicirikan dengan sel penutup berbentuk ginjal, dikelilingi oleh dua sel tetangga dengan dinding pemisah yang tegak lurus dengan poros panjang stoma. Tipe parasitik dicirikan dengan sel penutup ginjal, dikelilingi oleh dua buah sel tetangga dengan dinding pemisah yang searah dengan poros panjang stomata. Tipe anisositik dicirikan dengan sel penutup berbentuk ginjal, pada umumnya dikelilingi oleh tiga buah sel tetangga, salah satu sel tetangga lebih kecil atau lebih besar dari dua sel tetangga lainnya. Tipe aktinositik memiliki sel penutup berbentuk ginjal, dikelilingi oleh empat sel tetangga, atau lebih yang tersusun radial. Tipe siklositik dicirikan dengan sel penutup berbentuk ginjal, dikelilingi oleh empat buah sel tetangga atau lebih yang tersusun teratur membentuk lingkaran kecil yang mengelilingi stoma.

Kepadatan Stomata

Kepadatan stomata merupakan jumlah stomata dibagi dengan satuan luas

bidang pandang. Kepadatan stomata berguna untuk mengetahui kegiatan

transpirasi pada tanaman yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan

sekitar seperti suhu. Kepadatan stomata berpengaruh pada cepat atau lambatnya

sebuah proses transpirasi pada tumbuhan. Kepadatan stomata juga dapat

digunakan sebagai salah satu hal yang bisa memberikan informasi mengenai

cekaman kekeringan yang terjadi pada suatu tumbuhan dan informasi ini dapat

digunakan sebagai salah satu antisipasi dalam menjaga daya hidup suatu

tumbuhan hal ini dikemukakan oleh Lestari (2006). Jumlah stomata pada

tumbuhan yang dipengaruhi oleh lingkungan dan menyebabkan terjadinya proses

penutupan dan pembukaan stomata. Penutupan stomata biasanya terjadi pada

tumbuhan untuk mencegah kehilangan air pada waktu dimana terjadi kekeringan

atau minim air dan saat membatasi pemngambilan karbondioksida yang biasa

(21)

7

digunakan untuk proses fotosintesis. Pembukaan stomata biasanya terjadi pada siang hari untuk mengambil karbondioksida yang digunakan untuk proses fotosintesis biasanya pada waktu siang hari. Kerapatan stomata biasanya dikategorikan kerapatan rendah, sedang dan tinggi. Kerapatan rendah (< 300/๐‘š๐‘š

2

), kerapatan sedang (300 โˆ’ 500/๐‘š๐‘š

2

) dan kerapatan tinggi (> 500/๐‘š๐‘š

2

) hal ini diungkapkan oleh Agusta (2017).

Ukuran Stomata

Stomata merupakan lubang yang terdapat pada permukaan adaksial/abaksial daun dimana dikelilingi oleh dua sel penutup. Ukuran stomata pada tumbuhan yang terletak pada daun juga berbeda-beda. Ukuran stomata yang terletak pada daun biasanya juga dipengaruhi oleh banyaknya daun pada tumbuhan. Apabila ukuran stomata pada daun kecil maka jumlah stomata pada daun banyak dan apabila ukuran stomata pada daun besar maka jumlah stomata pada daun sedikit (Utami, 2018)

Menurut Mashud (2007), ukuran dan jumlah stomata pada setiap spesies itu berbeda hal ini dipengaruhi juga oleh lingkungan dan fungsi stomata pada tumbuhan itu sendiri. Jumlah dan ukuran pada stomata ini dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan tempat tumbuhnya. Sel-sel penutup yang terdapat disekeliling stomata berguna mengendalikan buka dan tutupnya stomata.

Menutupnya stomata berguna untuk pencegahan kehilangan air pada saat persediaan air dilingkungan terbatas dan juga membatasi diambilnya CO

2

untuk fotosintesis. Stomata pada tanaman terbuka pada saat siang hari dan menutup saat malam hari.

Proses terbuka dan tertutupnya stomata terpengaruh oleh tekanan turgor pada sel penutup stomata. Membesar dan mengecilnya ukuran bukaan sel penjaga diakibatkan oleh berubah-ubahnya tekanan turgor di sel penjaga. Keragaman jumlah pada stomata dan epidermis dapat dilihat melalui indeks stomata pada tanaman. Indeks stomata sendiri yaitu perbandingan jumlah stomata dengan jumlah total epidermis lalu ditambah stomata, yang dimana tiap satu stoma dihitung sebagai satu sel. Indeks stomata menyatakan tingkat kerapatan stomata.

Tingkat kerapatan stomata sendiri dipengaruhi faktor lingkungan seperti:

(22)

8

ketersediaan air pada lingkungan, intensitas cahaya yang diterima, kondisi temperatur, dan konsentrasi CO

2

.

Peran Stomata dalam Identifikasi Jenis Pohon

Menurut Fahn (1991) dalam Mustika (2018) melalui tipe stomata yang terdapat dari berbagai macam jenis pohon dapat membantu dalam pengelompokkan antar satu tumbuhan dengan yang lainnya yang digunakan dalam penentuan taksonomi tumbuhan secara ilmiah. Bahkan menurut Hidayat dalam Mustika (2018) pola yang terbentuk dari sel penjaga dan sel tetangga pada tanaman sendiri sudah dapat dipakai dalam klasifikasi taksonomi.

Peran Stomata Sebagai Penghasil Oksigen

Stomata pada tumbuhan berperan untuk mengatur pertukaran gas pada tumbuhan. Pembukaan dan penutupan celah stomata sendiri dipengaruhi oleh tekanan turgor sel penjaga disekitarnya dimana fungsi utamanya untuk mempertahakan air dan keseimbangan karbon dioksida pada tumbuhan (Suyitno, 2004). Dalam proses fotosintesis sendiri dimana kerapatan stomata sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya seperti intensitas cahaya, suhu dan kadar CO

2

maka stomata yang berfungsi sebagai tempat pertukaran udara ini juga mengalami perubahan seperti ukuran yang berubah atau pun tingkat kerapatan stomatanya yang berubah. Hal ini berpengaruh pada hasil oksigen yang dihasilkan oleh suatu tumbuhan. Jika kerapatan stomata tinggi biasanya ukuran stomata pada tumbuhan tersebut kecil maka oksigen yang keluar melalui stomata juga terpengaruh (Mulyani dalam Khoiroh, 2014).

Peran Stomata sebagai Penyerap Polutan

Tumbuhan juga berperan penting dalam menyerap polutan yang ada

diudara. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sangat penting perannya bagi sistem

perkotaan. Menurut Nazrullah (1997), kondisi stomata pada tumbuhan berperan

penting dalam menyerap polutan. Dimana kondisi stomata sendiri sangat

dipengaruhi oleh lingkungannya seperti intensitas cahaya dan suhu disekitar

tempat tumbuh tumbuhan tersebut. Menurut Mutaqin dkk (2006) polutan yang

(23)

9

terdapat disekitar tumbuhan dapat masuk ke dalam tumbuhan melalui stomata itu

sendiri dan akan terakumulasi. Namun jika polutan yang masuk dalam jumlah

yang besar maka dapat merusak sel stomata pada tumbuhan itu sendiri. Sel

stomata tersebut akan merangsang produksi stomata untuk jumlah yang lebih

banyak lagi agar proses fotosintesis pada tumbuhan berjalan dengan normal hal ini

merupakan adaptasi dari tumbuhan itu sendiri.

(24)

10

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Kampus Universitas Sumatera Utara Medan pada bulan Januari sampai Mei 2021. Adapun pohon yang diambil sebagai bahan penelitian terletak di dalam kampus USU, Padang Bulan. Kegiatan karakterisasi stomata dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop binokuler, gunting, kaca objek, kaca penutup, cawan petri, kamera digital, selotip, kutek bening dan kertas label. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, KOH 20%, alkohol 70%, gliserin, safranin 1%, dan air ledeng/aqua dan daun vegetasi pepohonan yang terdapat pada kawasan kampus Universitas Sumatera Utara, adaptor Optilab, aplikasi Image Raster Optilab.

Prosedur Penelitian

Sampel yang digunakan adalah pepohonan yang terdapat di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara. Sebanyak 83 sampel daun dari 121 jenis pohon yang berbeda digunakan untuk penelitian ini. Pemakaian 83 sampel dari 121 sampel yang ada dikarenakan kondisi sampel yang sulit untuk didapatkan/

pohon terlalu tinggi dan dikarenakan adanya beberapa daun yang terlalu berbulu sehingga tidak mencapai hasil pengamatan. Jumlah daun yang diambil pada setiap pohon sebanyak 3-5 lembar. Kriteria daun yang digunakan sebagai sampel merupakan daun dengan kondisi baik, tidak berpenyakit atau pun bolong dan daun mulus dari pohon. Untuk mendapatkan karakter stomata digunakan 2 metode yaitu metode replika dan metode kutek.

a) Metode Replika

Pada metode replika, sampel yang telah diambil dari pohon selanjutnya

dibersihkan menggunakan tisu kering, dipotong daun sebesar 1 cm x 1 cm dan

(25)

11

dimasukkan cairan alkohol 70% kedalam botol sampel dan direndam daun kurang lebih 24 jam. Selanjutnya sampel tersebut kembali diberi cairan KOH 20%

kedalam botol sampel selama kurang lebih 2x 24 jam. Setelah kegiatan tersebut, sampel selanjutnya dicuci dengan menggunakan air ledeng kemudian dilanjutkan dengan pencucian menggunakan cairan gliserin. Setelah proses tersebut, sampel kemudian ditetesi dengan menggunakan larutan safranin dan dicuci kembali menggunakan air ledeng. Setelah selesai, sampel selanjutnya diamati dibawah kaca objek dan dicatat hasilnya.

Untuk pengamatan pada mikroskop, sampel daun yang telah disiapkan terlebih dahulu ditempelkan pada pada kaca preparat, lalu diratakan dan diberi label dengan keterangan dari jenis tanaman. Untuk pengamatan jumlah stomata perbidang pandang dilakukan dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 10X sedangkan untuk pengamatan karakteristik stomata menggunakan pembesaran 40X.

Penghitungan untuk stomata dilakukan dengan pembagian bidang pandang. Untuk Jumlah yang diperoleh merupakan angka ยฑ. Data yang telah diperoleh lalu dikelompokkan/klasifikasikan dalam kategori : sedikit (1 - 50), cukup banyak (51-100), banyak (101-200), sangat banyak (201- >300), dan tak terhingga (301->700). Data distribusi stomata dapat dilihat dengan distribusi sejajar dan distribusi tersebar. (Haryanti, 2010).

b) Metode Kutek

Metode kutek dilakukan dengan membersihkan permukaan bawah daun

dengan ditiup atau dengan menggunakan tisu untuk menghilangkan debu dan

kotoran. Selanjutnya daun yang telah dibersihkan, dipotong dengan ukuran

1x1cm. Daun selanjutnya diolesi dengan kutek dan dibiarkan selama 10 menit,

sampai kering. Olesan yang sudah kering selanjutnya direkatkan pada perekat dan

kemudian diratakan. Daun tersebut kemudian dikerik hingga terlihat

epidermisnya. Potongan daun yang telah terlihat epidermisnya selanjutnya

dilatakkan pada kaca preparat diratakan dan diberi label dengan keterangan jenis

tanaman. Pengamatan jumlah stomata perbidang pandang menggunakan

mikroskop pada pembesaran 40X (Fauziah, 2019).

(26)

12

Analisis Data

Untuk mendapatkan karakter stomata 83 jenis pohon di Kampus USU.

Pengamatan tipe stomata, serta perhitungan kepadatan, panjang dan lebar stomata.

Tipe stomata

Dalam melakukan pengamatan Tipe Stomata dapat dilakukan dengan hasil gambar yang sudah didapatkan menggunakan aplikasi Images Raster Optilab.

Untuk menentukan Tipe Stomata pada tumbuhan menurut Fahn (1999) dalam Haryanti (2010) dapat diamati berdasarkan susunan sel epidermis tumbuhan tersebut yang berdekatan dengan sel tetangganya. Tipe stomata pada tumbuhan dibedakan menjadi 5 (lima) yaitu, anomositik jika sel penutup pada tumbuhan dikelilingi oleh beberapa sel tertentu yang tidak berbeda dengan epidermis yang lainnya baik dalam bentuk dan ukuran; anisositik jika ketika sel penutup pada tumbuhan dikelilingi oleh 3 sel tetangga dimana ukurannya tidak sama.

Tipe parasitik yaitu jika sel penjaga pada tumbuhan bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga dimananya sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel tetangga dan aperture, diasitik jika sel penutup dikelilingi oleh dua sel tetangga dengan dinding sel yang membentuk sudut siku-siku terhadap sumbu membujur stoma sedangkan aktinositik yaitu jika sel penutup dikelilingi oleh sel tetangga yang menyebar dalam radius.

Kepadatan Stomata

Kepadatan stomata dihitung sebagai hasil bagi jumlah stomata terhadap satuan luas pandangan mata di bawah mikroskop. Kepadatan stomata ini sendiri dapat dihitung berdasarkan oleh rumus (Lestari, 2006) yaitu:

๐พ๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž๐‘› ๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘š๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž = ๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘š๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž

๐ฟ๐‘ข๐‘Ž๐‘  ๐ต๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ƒ๐‘Ž๐‘›๐‘‘๐‘Ž๐‘›๐‘”

Pengukuran Panjang Stomata dan lebar stomata

Metode pengukuran panjang stomata menggunakan Image Raster Optilab.

Dengan cara pengukuran manual pada gambar stomata yang telah didapatkan.

(27)

13

Ukuran panjang stomata diklasifikasikan berdasarkan pada penelitian Juairiah (2014) yaitu: Ukuran kurang panjang (<20 ยตm), panjang (20-25 ยตm), dan sangat panjang (> 25 ยตm).

Pengukuran lebar stomata sendiri juga menggunakan Image Raster Optilab dengan cara pengukuran manual pada gambar stomata yang telah didapatkan. lalu dibagi menjadi kategori ukuran kurang lebar (<19,42 ยตm), ukuran lebar (19,42 โ€“ 38,84 ยตm), ukuran sangat lebar (>38,84 ยตm) Metchalfe dan Chalk dalam Fahn (1991). Pengamatan ukuran digunakan perbesaran mikroskop 10X sedangkan untuk pengamatan tipe stomata digunakan perbesaran 40X. Setelah diperoleh data tipe stomata, data diklasifikasikan dan kemudian data dimasukkan ke dalam tabel hasil pengamatan.

Cara Pengukuran Panjang dan Lebar Sel Stomata

Untuk melakukan pengukuran panjang dan lebar stomata, dilakukan pengukuran pada bagian panjang sel stomata dan bagian lebar sel stomata. Pada Gambar 2, a merupakan panjang sel stomata dan b merupakan lebar sel stomata.

Gambar 2. Pengukuran Panjang dan Lebar Stomata (Berita Biologi, 2017)

(28)

14

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebaran Jenis Stomata pada Berbagai Jenis Pepohonan di Kawasan Kampus Universitas Sumatera Utara

Menurut Woelaningsih dalam Metcalfe dan Chalk (1957), terdapat 6 jenis stomata yang ditemukan pada tumbuhan yaitu tipe parasitik, aktinositik, anomositik, anisositik, diasitik dan siklositik dengan ciri khas yang berbeda.

Namun demikian, hasil identifikasi terhadap 83 jenis pohon di kampus USU hanya menemukan 4 (empat) tipe stomata yaitu parasitik, anomositik, anisositik dan diasitik (Tabel 1).

Tabel 1. Tipe Stomata dan Ukuran Stomata pada 83 Jenis Pohon di Kampus USU

Nama Latin Tipe

Stomata

Panjang Stomata Lebar Stomata (๐œ‡๐‘š) Kategori (๐œ‡๐‘š) Kategori Acacia mangium Parasitik 14,42 Kurang Panjang 9,53 Kurang Lebar Ficus ampelas 18,71 Kurang Panjang 12,14 Kurang Lebar Pterocarpus indicus 27,35 Sangat Panjang 9,05 Kurang Lebar Elaeocarpus grandifloras 24,73 Panjang 15,06 Kurang Lebar Garcinia atroviridis 21,28 Panjang 10,87 Kurang Lebar Dialium indum 14,83 Kurang Panjang 7,74 Kurang Lebar Garcinia dulcis 19,88 Kurang Panjang 26,70 Lebar Shorea laevis 5,43 Kurang Panjang 3,72 Kurang Lebar

Cerbera manghas 20,56 Panjang 8,50 Kurang Lebar

Alocasia macrorrhiza 26,58 Sangat Panjang 14,01 Kurang Lebar

Premna corymbosa 17,25 Kurang Panjang 12,10 Kurang Lebar

Antidesma bunius 32,04 Sangat Panjang 17,42 Kurang Lebar

Stelechocarpus burahol 7,68 Kurang Panjang 5,89 Kurang Lebar

Magnolia alba 16,21 Kurang Panjang 11,46 Kurang Lebar

Artocarpus integer 17,06 Kurang Panjang 14,07 Kurang Lebar

Theobroma cacao 12,74 Kurang Panjang 9,70 Kurang Lebar

Erythrina cristagalli 20,15 Panjang 12,22 Kurang Lebar

Agathis dammara 28,35 Sangat Panjang 16,50 Kurang Lebar

Lansium domesticum 16,37 Kurang Panjang 8,54 Kurang Lebar

Ficus racemose 14,92 Kurang Panjang 13,14 Kurang Lebar

Delonix regia 19,37 Kurang Panjang 8,16 Kurang Lebar

(29)

15

Nama Latin Tipe

Stomata

Panjang Stomata Lebar Stomata (๐œ‡๐‘š) Kategori (๐œ‡๐‘š) Kategori Peltophorum pterocarpum 17,28 Kurang Panjang 7,95 Kurang Lebar Bouea macrophylla 14,78 Kurang Panjang 14,94 Kurang Lebar Polyalthia longifolia 14,34 Kurang Panjang 6,20 Kurang Lebar Syzygium cumini 17,74 Kurang Panjang 9,90 Kurang Lebar Syzygium aqueum 15,72 Kurang Panjang 8,70 Kurang Lebar Psidium guajava 14,32 Kurang Panjang 5,76 Kurang Lebar Psidium guajava Red. Malaysia 15,94 Kurang Panjang 7,66 Kurang Lebar Syzygium malaccense 14,41 Kurang Panjang 6,78 Kurang Lebar Plumeria alba 25,15 Sangat Panjang 16,03 Kurang Lebar Hevea brasiliensis 12,34 Kurang Panjang 5,52 Kurang Lebar Ficus elastica 19,34 Kurang Panjang 12,35 Kurang Lebar

Cinnamomum verum 22,12 Panjang 11,61 Kurang Lebar

Spathodea campanulata 19,64 Kurang Panjang 12,31 Kurang Lebar Aleurites moluccana 16,28 Kurang Panjang 9,54 Kurang Lebar Cinnamomum burmannii 17,43 Kurang Panjang 11,11 Kurang Lebar Sterculia foetida 18,05 Kurang Panjang 8,48 Kurang Lebar

Ficus lyrata 13,43 Kurang Panjang 9,72 Kurang Lebar

Filicium decipiens 10,92 Kurang Panjang 4,98 Kurang Lebar Mangifera odorata 7,32 Kurang Panjang 6,46 Kurang Lebar

Ficus hispida 12,96 Kurang Panjang 6,12 Kurang Lebar

Mangifera foetida 6,21 Kurang Panjang 4,15 Kurang Lebar Swietenia macrophylla 11,54 Kurang Panjang 7,81 Kurang Lebar Swietenia microphylla 7,88 Kurang Panjang 5,41 Kurang Lebar Mangifera indica 7,01 Kurang Panjang 4,09 Kurang Lebar Garcinia mangostana 28,32 Sangat Panjang 37,62 Lebar

Morinda citrifolia 26,77 Sangat Panjang 10,47 Kurang Lebar

Instia bijuga 12,36 Kurang Panjang 8,66 Kurang Lebar

Melia azedarach 17,20 Kurang Panjang 6,18 Kurang Lebar Cynometra cauliflora 14,45 Kurang Panjang 8,16 Kurang Lebar Artocarpus heterophyllus 18,65 Kurang Panjang 11,87 Kurang Lebar

Calophyllum inophyllum 24,11 Panjang 32,67 Lebar

Ficus variegata 18,21 Kurang Panjang 15,79 Kurang Lebar

Leucaena leucocephala 18,01 Kurang Panjang 9,92 Kurang Lebar

(30)

16

Nama Latin Tipe

Stomata

Panjang Stomata Lebar Stomata (๐œ‡๐‘š) Kategori (๐œ‡๐‘š) Kategori Syzygium paniculatum 8,36 Kurang Panjang 4,68 Kurang Lebar Hura crepitans 17,63 Kurang Panjang 8,57 Kurang Lebar Flacourtia rukam 8,79 Kurang Panjang 4,22 Kurang Lebar Adenanthera pavonina 18,88 Kurang Panjang 10,94 Kurang Lebar Syzygium polyanthum 19,68 Kurang Panjang 13,72 Kurang Lebar

Salix babylonica 32,02 Sangat Panjang 37,59 Lebar

Manilkara zapota 9,78 Kurang Panjang 4,19 Kurang Lebar Shorea macrophylla 14,49 Kurang Panjang 6,59 Kurang Lebar

Annona muricata 23,41 Panjang 10,73 Kurang Lebar

Annona montana 28,01 Sangat Panjang 16,95 Kurang Lebar Handroanthus chrysotrichus 19,27 Kurang Panjang 14,71 Kurang Lebar Tamarindus indica 18,48 Kurang Panjang 12,59 Kurang Lebar

Baccaurea macrocarpa 20,71 Panjang 9,72 Kurang Lebar

Eucalyptus globulus 16,76 Kurang Panjang 10,22 Kurang Lebar Persea Americana 17,42 Kurang Panjang 13,67 Kurang Lebar Anacardium occidentale 10,92 Kurang Panjang 6,85 Kurang Lebar Ficus microcarpa 27,41 Sangat Panjang 22,72 Lebar

Terminalia mantaly 23,76 Panjang 11,77 Kurang Lebar

Ficus benjamina 20,02 Panjang 12,97 Kurang Lebar

Mimusops elengi 23,59 Panjang 11,03 Kurang Lebar

Terminalia cattapa 16,47 Kurang Panjang 5,27 Kurang Lebar Lagerstroemia speciose Anomositik 13,16 Kurang Panjang 9,39 Kurang Lebar Aquilaria malaccensis 18,27 Kurang Panjang 13,38 Kurang Lebar

Ceiba petandra 20,48 Panjang 8,55 Kurang Lebar

Moringa oleifera 21,22 Panjang 6,35 Kurang Lebar

Artocarpus altilis 19,01 Kurang Panjang 7,35 Kurang Lebar Schleichera oleosa Anisotitik 15,04 Kurang Panjang 4,30 Kurang Lebar Gnetum gnemon Diasitik 16,51 Kurang Panjang 10,77 Kurang Lebar

Keterangan: Kurang panjang (<20 ยตm); Panjang (20-25 ยตm); dan Sangat panjang (> 25 ยตm);

Kurang lebar (<19,42 ยตm); Lebar (19,42-38,84 ยตm); dan Sangat Lebar (>39 ยตm)

Berdasarkan Tabel 1, jenis stomata parasitik ditemukan pada 76 jenis

pohon seperti akasia, alpukat, anyang-anyang dan asam gelugur. Jenis stomata

diasitik hanya ditemukan pada pohon melinjo sedangkan jenis stomata

(31)

17

anomositik ditemukan pada pohon gaharu, kapuk, sukun dan kelor. Jenis stomata anisositik ditemukan pada pohon kesambi (Gambar 3).

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 3. Hasil Pengamatan Tipe Stomata Daun : (a). roda-roda (Hura crepitans) Stomata Parasitik, (b). cempedak (Artocarpus integer) Stomata Anomositik, (c). kesambi (Schleichera oleosa) Stomata Anisositik, (d). melinjo (Gnetum gnemon) Stomata Diasitik.

Dari 83 jenis pohon yang telah diamati, jenis stomata Parasitik merupakan

jenis stomata terbanyak yang dijumpai. Tipe parasitik dicirikan dengan sel

penutup yang dikelilingi oleh sebuah sel tetangga atau lebih dan dengan sumbu

panjang sel tetangga sejajar dengan sumbu sel penutup serta celah. Tipe parasitik

memiliki sel penjaga yang bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga serta

sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel penjaga Woelaningsih dalam

Metcalfe dan Chalk (1957). Banyaknya jenis pohon yang memiliki tipe stomata

parasitik sejalan dengan hasil penelitian Utami (2017) di arboretum Universitas

Tanjungpura. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ekeke dan Agbagwa (2015)

bahwa tipe teramati paling dominan dapat ditemui pada spesies tanaman

Terminalia catappa adalah tipe parasitik. Didukung juga oleh Sundari dan

Atmadja (2011) yang menyatakan tipe parasitik lebih dominan dan ditemukan

pada lima genotip kedelai dibandingkan dengan tipe anomositik. Lalu berdasarkan

penelitian Tripathi dan Mondal (2012) menyatakan tipe parasitik merupakan tipe

(32)

18

yang paling umum ditemukan, dimana dari tiga famili dan 45 spesies tanaman ditemukan sekitar 64,1% tipe parasitik.

Variasi tipe stomata daun tumbuhan itu disebabkan oleh faktor internal (sifat-sifat genetik) dan eksternal (habitat atau lingkungannya). Menurut Fahn (2006) dan Haryanti (2010) variasi-variasi yang ditemukan pada tipe stomata tumbuhan dikarenakan sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap lingkungan tempat tumbuh dari tumbuhan tersebut yang mana dapat terjadi pada setiap spesies dan famili dari suatu tumbuhan. Seperti yang dinyatakan oleh Tambaru (2015) dimana respon tumbuhan terhadap lingkungannya dapat dilihat dari morfologi tumbuhan tersebut seperti jika ukuran stomata pada tumbuhan berbanding terbalik dengan jumlahnya. Berdasarkan sukunya, distribusi tipe stomata dapat disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Tipe stomata berdasarkan suku di Kampus USU

Tipe stomata Suku Jumlah jenis Persentase

Parasitik Fabaceae 12 15,66%

Moraceae 9 10,84%

Lauraceae 3 3,61%

Tiliaceae 1 1,20%

Cluciaceae 3 3,61%

Dipterocarpaceae 2 2,40%

Apocynaceae 2 2,40%

Araceae 1 1,20%

Verbenaceae 1 1,20%

Phyllantaceae 2 2,40%

Annonaceae 4 4,81%

Magnoliaceae 1 1,20%

Sterculiaceae 1 1,20%

Papilionaceae 1 1,20%

Araucariaceae 1 1,20%

Meliaceae 4 4,81%

Myrtaceae 8 9,63%

Anacardiaceae 4 4,81%

Euphorbiaceae 3 3,61%

Salicaceae 2 2,40%

(33)

19

Tipe stomata Suku Jumlah jenis Persentase

Bignoniaceae 2 2,40%

Malvaceae 1 1,20%

Combretaceae 1 1,20%

Sapindaceae 1 1,20%

Guttiferae 1 1,20%

Rubiaceae 1 1,20%

Sapotaceae 2 2,40%

Anomositik Malvaceae 1 1,20%

Lythraceae 1 1,20%

Thymelaeaceae 1 1,20%

Moringaceae 1 1,20%

Moraceae 1 1,20%

Anisositik Sapindaceae 1 1,20%

Diasitik Gnetaceae 1 1,20%

Berdasarkan Tabel 2, tipe stomata parasitik memiliki persentase tertinggi (91,56%) dari seluruh pohon yang diamati. Tipe ini dapat dijumpai pada suku Fabaceae, Moraceae, Lauraceae, Tiliaceae, Cluciaceae, Dipterocarpaceae, Apocynaceae, Araceae, Verbenaceae, Phyllantaceae, Annonaceae, Magnoliaceae, Sterculiaceae, Papilionaceae, Araucariaceae, Meliaceae, Myrtaceae, Anacardiaceae, Euphorbiaceae, Salicaceae, Bignoniaceae, Malvaceae, Combretaceae, Sapindaceae, Guttiferae, Rubiaceae, Sapotaceae. Pada tipe anomositik, anisositik dan diasitik memiliki persentase yang sama (1,20%) pada setiap sukunya. Untuk tipe anomositik sendiri dapat dijumpai pada suku Lythraceae, Thymelaeaceae, Malvaceae, Moringaceae, Moraceae. Tipe anisositik dapat dijumpai pada suku Sapindaceae sedangkan untuk tipe diasitik dapat ditemukan pada suku Gnetaceae. Berdasarkan Tabel 2, jenis-jenis pohon dengan suku yang sama memiliki kecenderungan tipe stomata yang sama, kecuali sukun.

Sukun (Artocarpus altilis) memiliki tipe anomisitik, yang berbeda dengan jenis

pada suku Moraceae lain yang dijumpai pada penelitian ini. Hubungan tipe

stomata dengan identifikasi jenis dikemukan oleh Gole (2013) dan Wulansari

(34)

20

(2020) yang menyatakan bahwa tipe stomata yang terdapat pada tumbuhan dapat dipergunakan sebagai ciri untuk pembatasan dalam taksonomi.

Ukuran Stomata dari Berbagai Jenis Pepohonan di Kawasan Kampus USU Ukuran stomata ditentukan berdasarkan perhitungan panjang dan lebarnya.

Hasil pengamatan ukuran panjang sel stomata dan ukuran lebar sel stomata dari 83 jenis pepohonan di kawasan kampus Universitas Sumatera Utara yang disajikan pada Tabel 1.

Stomata terpanjang dimiliki oleh pohon buni (32,04 ยตm) diikuti oleh manggis (28,32 ยตm) dan agathis (28,35 ยตm), sedangkan stomata terpendek ditemukan pada bangkirai (5,43 ยตm). Stomata yang lebih panjang menandakan bahwa kemampuan daun dalam menyerap CO

2

lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan Sukmawati dkk (2011) yang menyatakan kondisi stomata berpengaruh terhadap daya serap karbondioksida. Seperti diketahui bahwa stomata sendiri sebagai alat pernapasan tumbuhan dan berguna sebagai jalan masuknya CO

2

dari udara pada proses fotosintesis serta jalan yang digunakan pada proses penguapan (transpirasi) (Lidahshiro, 2009). Pori stomata berguna sebagai tempat terjadinya pertukaran gas dan air antara atmosfer dengan sistem ruang antar sel pada jaringan mesofil di bawah epidermis (Mulyani, 2006).

Berdasarkan Tabel 1 stomata terlebar ditemukan pada manggis (37,62 ยตm) nyamplung (32,67 ยตm) diikuti oleh dan asam mundu (26,70 ยตm). Stomata paling sempit dijumpai pada bangkirai yaitu 3,72 ยตm. Jika kondisi bukaan pori stomata membuka lebar dan bukaan yang besar maka dapat menghasilkan produksi oksigen yang tinggi. Stomata adalah pintu utama yang berguna untuk masuknya CO ke dalam daun, yang nantinya akan mempengaruhi kapasitas fotosintesis pada tanaman. Pada proses difusi CO

2

ke dalam jaringan daun, stomata yang mengalami pembukaan lebih kecil difusi CO

2

lebih rendah dibanding pada daun yang stomatanya mengalami pembukaan lebih besar.

Berdasarkan Tabel 1, buni dan manggis merupakan jenis pohon dengan

stomata terpanjang dan terlebar, sedangkan bangkirai memiliki stomata terpendek

dan tersempit. Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan tidak ditemukannya

ukuran sel stomata pada kategori sangat lebar. Adanya perbedaan ukuran sel

(35)

21

stomata tumbuhan biasanya dikarenakan kondisi lingkungan sekitar tempat tumbuh tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Juairiah (2014) yang menyatakan bahwa ukuran sel stomata pada tumbuhan dipengaruhi oleh faktor genetik tanaman (internal) dan faktor eksternal yaitu lingkungan tempattumbuhan tersebut tumbuh. Ukuran stomata pada tumbuhan juga berkaitan dengan ketahanan tumbuhan dalam cekaman kekeringan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Salisbury (1995) dalam Kamaluddin (2020) yang menyatakan bahwa ukuran pada stomata berkaitan dengan ketahanan terhadap cekaman kekeringan pada lingkungan dan dipengaruhi juga oleh penebalan sel penjaga pada stomata terhadap respon cahaya, air dan CO

2

.

(a) (b)

(c) (d)

(e)

Gambar 4. Hasil Pengamatan Ukuran Panjang Sel Stomata dan Lebar Sel Stomata dari

Berbagai Jenis Pepohonan Dikawasan Kampus Universitas Sumatera Utara. (a) akasia

mangium (Acacia mangium) Kurang Panjang, (b) anyang-anyang (Elaeocarpus

(36)

22

grandiflorus) Panjang, (c) angsana (Pterocarpus indicus) Sangat Panjang, (d) alpukat (Persea americana) Kurang Lebar, (e) asam mundu (Garcinia dulcis) Lebar.

Ukuran stomata juga mempengaruhi transpirasi yang terjadi pada tumbuhan.

Dengan transpirasi yang baik, laju unsur hara dan air pada tumbuhan tidak terganggu maka turgor berlebih pada tumbuhan dapat dicegah. Air sendiri memiliki peran besar dalam fotosintesis yaitu meningkatkan fiksasi CO

2

pada daun sehingga proses pertumbuhan pada tumbuhan dapat meningkat dengan baik.

Distribusi Stomata dari Berbagai Jenis Pepohonan di Kawasan Kampus Universitas Sumatera Utara

Stomata terdapat pada sisi atas dan bawah daun, atau bahkan terletak hanya pada permukaan bawah. Daun yang memiliki pertulangan menyirip seperti pada tumbuhan dikotil, stomatanya tersebar, sedangkan pada daun tumbuhan monokotil dengan pertulangan sejajar, seperti pada Graminae, stomatanya tersusun berderet sejajar (Mulyani, 2006). Distribusi stomata sendiri sangat berhubungan dengan kecepatan dan intensitas transpirasi pada daun, misalnya letak stomata antara satu sama lain dengan jarak tertentu. Dalam batas tertentu, jika makin banyak porinya makin cepat penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan, maka penguapan dari lubang yang satu dapat menghambat penguapan lubang yang berada didekatnya Dwijoseputro (1978) dalam Haryanti, (2010). Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, distribusi stomata daun untuk 83 jenis pohon dikampus Universitas Sumatera Utara adalah tersebar (Tabel 3).

Tabel 3. Kepadatan dan Distribusi Stomata pada 83 Jenis Pohon di Kampus USU

Nama Latin Jumlah

Stomata Luas Bidang (๐œ‡๐‘š)

Kepadatan Stomata (๐œ‡๐‘š)

Kategori Kerapatan

Distribusi

Stomata

Schleichera oleosa 2229 0,519 4294,79 Tinggi Tersebar

Psidium guajava Red. Malaysia 976 0,519 1880,53 Tinggi Tersebar

Syzygium malaccense 786 0,519 1514,45 Tinggi Tersebar

Swietenia microphylla 705 0,519 1358,38 Tinggi Tersebar

Psidium guajava 621 0,519 1196,53 Tinggi Tersebar

Swietenia macrophylla 504 0,519 971,09 Tinggi Tersebar

Syzygium paniculatum 484 0,519 932,56 Tinggi Tersebar

Theobroma cacao 483 0,519 930,63 Tinggi Tersebar

Syzygium polyanthum 455 0,519 876,68 Tinggi Tersebar

(37)

23

Nama Latin Jumlah

Stomata Luas Bidang (๐œ‡๐‘š)

Kepadatan Stomata (๐œ‡๐‘š)

Kategori Kerapatan

Distribusi Stomata Mangifera odorata 454 0,519 874,75 Tinggi Tersebar Cinnamomum verum 417 0,519 803,46 Tinggi Tersebar Mangifera foetida 396 0,519 763,005 Tinggi Tersebar Shorea macrophylla 394 0,519 759,15 Tinggi Tersebar Filicium decipiens 390 0,519 751,44 Tinggi Tersebar Shorea laevis 384 0,519 739,88 Tinggi Tersebar Ficus ampelas 382 0,519 736,03 Tinggi Tersebar Delonix regia 373 0,519 718,68 Tinggi Tersebar Manilkara zapota 337 0,519 649,32 Tinggi Tersebar Anacardium occidentale 333 0,519 641,61 Tinggi Tersebar Syzygium cumini 331 0,519 637,76 Tinggi Tersebar Polyalthia longifolia 323 0,519 622,35 Tinggi Tersebar Ficus racemose 322 0,519 620,42 Tinggi Tersebar

Ficus lyrata 312 0,519 601,15 Tinggi Tersebar

Flacourtia rukam 309 0,519 595,37 Tinggi Tersebar

Bouea macrophylla 305 0,519 587,66 Tinggi Tersebar

Spathodea campanulata 295 0,519 568,40 Tinggi Tersebar

Dialium indum 293 0,519 564,54 Tinggi Tersebar

Morinda citrifolia 292 0,519 562,62 Tinggi Tersebar

Premna corymbosa 281 0,519 541,42 Tinggi Tersebar

Cinnamomum burmannii 281 0,519 541,42 Tinggi Tersebar

Syzygium aqueum 274 0,519 527,93 Tinggi Tersebar

Mangifera indica 274 0,519 527,93 Tinggi Tersebar

Eucalyptus globulus 270 0,519 520,23 Tinggi Tersebar

Acacia mangium 264 0,519 508,67 Sedang Tersebar

Tamarindus indica 258 0,519 497,10 Sedang Tersebar

Magnolia alba 257 0,519 495,18 Sedang Tersebar

Hevea brasiliensis 251 0,519 483,62 Sedang Tersebar

Persea Americana 248 0,519 477,84 Sedang Tersebar

Hura crepitans 239 0,519 460,50 Sedang Tersebar

Artocarpus heterophyllus 221 0,519 425,81 Sedang Tersebar

Plumeria alba 219 0,519 421,96 Sedang Tersebar

Ficus variegate 207 0,519 398,84 Sedang Tersebar

Artocarpus integer 192 0,519 369,94 Sedang Tersebar

Cerbera manghas 188 0,519 362,23 Sedang Tersebar

Instia bijuga 188 0,519 362,23 Sedang Tersebar

Lagerstroemia speciose 186 0,519 358,38 Sedang Tersebar

Annona montana 172 0,519 331,40 Sedang Tersebar

Cynometra cauliflora 171 0,519 329,47 Sedang Tersebar

Artocarpus altilis 170 0,519 327,55 Sedang Tersebar

Delonix regia 170 0,519 327,55 Sedang Tersebar

Aquilaria malaccensis 162 0,519 312,13 Sedang Tersebar

Garcinia dulcis 162 0,519 312,13 Sedang Tersebar

Elaeocarpus grandifloras 158 0,519 304,43 Sedang Tersebar

Ficus hispida 157 0,519 302,50 Sedang Tersebar

Ficus benjamina 153 0,519 294,79 Rendah Tersebar

Ceiba petandra 146 0,519 281,31 Rendah Tersebar

Gnetum gnemon 146 0,519 281,31 Rendah Tersebar

Alocasia macrorrhiza 144 0,519 277,45 Rendah Tersebar

(38)

24

Nama Latin Jumlah

Stomata Luas Bidang (๐œ‡๐‘š)

Kepadatan Stomata (๐œ‡๐‘š)

Kategori Kerapatan

Distribusi Stomata Moringa oleifera 137 0,519 263,96 Rendah Tersebar Stelechocarpus burahol 134 0,519 258,18 Rendah Tersebar Aleurites moluccana 132 0,519 254,33 Rendah Tersebar Terminalia cattapa 132 0,519 254,33 Rendah Tersebar Adenanthera pavonina 130 0,519 250,48 Rendah Tersebar Salix babylonica 128 0,519 246,62 Rendah Tersebar Ficus elastic 117 0,519 225,43 Rendah Tersebar Ficus microcarpa 115 0,519 221,58 Rendah Tersebar Sterculia foetida 106 0,519 204,23 Rendah Tersebar Annona muricata 104 0,519 200,38 Rendah Tersebar Handroanthus chrysotrichus 104 0,519 200,38 Rendah Tersebar Erythrina cristagalli 94 0,519 181,11 Rendah Tersebar Lansium domesticum 90 0,519 173,41 Rendah Tersebar Melia azedarach 76 0,519 146,43 Rendah Tersebar Mimusops elengi 72 0,519 138,72 Rendah Tersebar Garcinia atroviridis 68 0,519 131,02 Rendah Tersebar

Plumeria alba 68 0,519 131,02 Rendah Tersebar

Calophyllum inophyllum 66 0,519 127,16 Rendah Tersebar Terminalia mantaly 66 0,519 127,16 Rendah Tersebar Garcinia mangostana 57 0,519 109,82 Rendah Tersebar Agathis dammara 54 0,519 104,04 Rendah Tersebar Leucaena leucocephala 49 0,519 94,41 Rendah Tersebar Antidesma bunius 29 0,519 55,87 Rendah Tersebar Baccaurea macrocarpa 6 0,519 11,56 Rendah Tersebar

Transpirasi pada tumbuhan merupakan kondisi dimana tumbuhan kehilangan air dari dalam jaringan tumbuhan melalui kutikula, stomata maupun lentisel. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata, walaupun dapat pula melalui kutikuler. Stoma pada tumbuhan yang lebih membuka akan meningkatkan konduktivitasnya, sehingga terjadinya transpirasi lebih cepat. Menurut Dardjat Sasmitamihardja dan Arbayah Siregar (1994), bila stomata membuka maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dan atmosfer. Pada saat tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel, maka uap air dari rongga tersebut akan keluar. Namun ada faktor-faktor lain yang juga berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap laju transpirasi, seperti intensitas cahaya, kelembapan, suhu udara, kecepatan angin, dan kadar air tanah.

Distribusi stomata sendiri berhubungan dengan kecepatan dan intensitas transpirasi pada daun, yaitu misalnya letak satu sama lain dengan jarak tertentu.

Dalam batas tertentu, maka makin banyak porinya makin cepat penguapan. Jika

lubang-lubang itu terlalu berdekatan, maka penguapan dari lubang yang satu akan

(39)

25

menghambat penguapan lubang dekatnya. Hal ini karena jalan yang ditempuh molekul-molekul air yang lewat lubang itu tidak lurus melainkan membelok akibat pengaruh sudut sudut sel-sel penutup. Bentuk stomata yang oval lebih memudahkan mengeluarkan air daripada bentuk bundar. Selain faktor luar yang mempengaruhi laju transpirasi, faktor dalam misalnya ketebalan daun, jumlah stomata/mm2, adanya kutikula, banyak sedikitnya trikoma atau bulu daun, dan bentuk serta lokasi stomata di permukaannya juga mempengaruhi laju transpirasi.

Jumlah dan Kepadatan Stomata

Jumlah stomata terbanyak yang ditemukan terdapat pada jenis pohon kesambi (Schleichera oleosa) sebanyak 2229 stomata dan jenis pohon dengan jumlah stomata paling sedikit pada pohon tampui (Baccaurea macrocarpa) sebanyak 6 stomata. Adapun berdasarkan kerapatannya stomata jenis pohon di kampus USU memiliki kategori tinggi, sedang dan rendah (Tabel 3).

Menurut Dwidjoseputro (1994) dalam Putriani (2019) jumlah stomata dalam daun dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tebal dan tipisnya daun yang diamati, juga banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun. Bahkan untuk melakukan pengamatan daun itu sendiri, tebal daun, getah dan bulu pada permukaan daun mempengaruhi untuk mendapatkan gambar stomata yang ingin didapat. Untuk mendapatkan hasil yang baik, sering kali harus mengulang-ulang untuk mendapatkan gambar yang jelas. Marpaung dkk (2013) menjelaskan bahwa jumlah stomata pada tumbuhan sendiri dipengaruhi oleh tempat tumbuhan tersebut tumbuh seperti intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tersebut.

Biasanya tumbuhan yang tumbuh ditempat dengan intensitas cahaya yang tinggi akan memiliki jumlah stomata yang lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan yang tumbuh ditempat dengan intensitas cahaya yang minim.

Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 3, jumlah stomata dengan

tingkat kerapatan stomata nilainya berbanding lurus. Untuk hasil pengamatan

pada kerapatan stomata sendiri untuk tumbuhan jenis kesambi (Schleichera

oleosa) juga memiliki nilai kerapatan paling tinggi sedangkan tampui (Baccaurea

macrocarpa) memiliki nilai kerapatan stomata terendah. Menurut Qosim dkk

(2007) dalam Mokodompit (2014) kerapatan stomata pada tumbuhan berkaitan

(40)

26

dengan ukuran stomata. Jika stomata berukuran besar biasanya kerapatan stomata nya akan rendah begitu juga sebaliknya. Menurut Mokodompit (2014) kerapatan stomata pada tumbuhan mempengaruhi proses transpirasi dan fotosintesis pada tumbuhan.

Salah satu bentuk bahwa tempat tumbuh/ lingkungan dari tumbuhan mempengaruhi ukuran dari stomata tumbuhan tersebut ialah polusi udara yang diterima oleh tumbuhan. Hal ini diungkapkan oleh Rai (2016) yang mengungkapkan bahwa polusi dari udara yang terima oleh tumbuhan dapat menyebabkan perubahan yang cukup besar pada ukuran stomata bahkan dapat merubah kondisi morfologi pada daun. Dengan mengetahui jenis stomata pada daun, ukuran stomata dan kerapatan stomata pada tumbuhan kita dapat mengetahui hal-hal yang mendukung dan menghambat transpirasi dan fotosintesis pada tumbuhan tersebut.

Kerapatan dan jumlah stomata sangat dipengaruhi dari intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman hal ini diungkapkan oleh Widiastuti dkk (2004) dalam Khoiroh (2014) yang juga mengungkapkan bahwa dikarenakan oleh hal inilah maka sangat berpengaruh dalam proses fotosintesis tumbuhan dan keefektivitasan nya dalam fotosintesis. Lupitasari (2020) mengungkapkan jika intensitas cahaya yang diterima oleh tumbuhan sedikit, maka proses fotosintesis pada tumbuhan pun akan terhambat. Hal ini menyebabkan hasil produk dari fotosintesis yaitu O

2

maka akan sedikit pula.

(a) (b)

(41)

27

(c) (d)

(e) (f)

Gambar 5. Overlay Hasil Pengamatan Jumlah dan tingkat Kepadatan Stomata Dari Berbagai Jenis Pepohonan Dikawasan Kampus Universitas Sumatera Utara. (a) angsana (Pterocarpus indicus) dan (b) asam gelugur (Garcinia atroviridis) Kerapatan Rendah , (c) akasia mangium (Acacia mangium) dan (d) anyang-anyang (Elaeocarpus grandiflorus) Kerapatan Sedang, (e) asam keranji putih (Dialium indum) dan (f) bangkirai (Shorea laevis) Kerapatan Tinggi.

Jumlah stomata pada tumbuhan juga berpengaruh terhadap kemampuan tumbuhan dalam menyerap karbon dioksida yang mana merupakan produk awal yang dibutuhkan tumbuhan untuk berfotosintesis hal ini diungkap oleh Steven (2006) yang mengungkapkan bahwa jumlah stomata yang terdapat pada tumbuhan berpengaruh terhadap penyerapan karbon dioksida. Tumbuhan yang pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitar dapat menagalami perubahan-perubahan seperti perubahan ukuran stomata dan kerapatan stomata.

Seperti hal yang diungkapkan oleh Munir (2019) yang menyatakan kerapatan

stomata pada tumbuhan juga dipengaruhi oleh paparan polusi yang diterima oleh

tumbuhan. Pernyataannya didukung oleh Mutaqin dkk (2016) yang

mengungkapkan bahwa polutan yang masuk kedalam stomata dapat merusak sel

stomata pada tumbuhan jika jumlah polutan yang diterima oleh tumbuhan dalam

jumlah yang cukup banyak.

(42)

28

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah:

1. Terdapat 4 (empat) tipe stomata yang dijumpai pada 83 jenis pohon di kampus USU yaitu tipe parasitik, anomositik, anisositik dan diasitik. Tipe parasitik merupakan tipe terbanyak (91,56%) sedangkan tipe anisositik merupakan tipe dengan jumlah terendah (1,2%).

2. Berdasarkan jumlahnya kesambi (Schleichera oleosa) merupakan jenis dengan jumlah stomata terbanyak (2229 buah) sedangkan tampui (Baccaurea macocarpa) merupakan jenis dengan stomata paling sedikit (6 buah). Ukuran stomata terlebar dijumpai manggis (Garcinia mangostana) yaitu 37,62 ยตm dan ukuran tersempit dijumpai pada bangkirai (Shorea laevis) 3,72 ยตm. distribusi stomata pada seluruh pohon yang diamati menunjukkan pola tersebar.

Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik

stomata jenis pepohonan pada kampus Universitas Sumatera Utara dengan

perbandingan karakteristik jenis pepohonan yang berada di tempat yang lebih

banyak terkena polusi udara seperti jenis pepohonan dipinggir jalan sebagai

pembanding karakteristik stomatanya.

Gambar

Gambar 1. Denah Kampus Universitas Sumatera Utara (sumber: Google Maps)
Gambar 2. Pengukuran Panjang dan Lebar Stomata (Berita Biologi, 2017)
Tabel 1. Tipe Stomata dan Ukuran Stomata pada 83 Jenis Pohon di Kampus USU
Gambar  3.  Hasil  Pengamatan  Tipe  Stomata  Daun  :  (a).  roda-roda  (Hura  crepitans)  Stomata Parasitik, (b)
+5

Referensi

Dokumen terkait