• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. Pinjam Berdasarkan Peraturan Nomor: 06/Per/Dep.6/Iv/2016 (Studi Pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. Pinjam Berdasarkan Peraturan Nomor: 06/Per/Dep.6/Iv/2016 (Studi Pada"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Hasil Peneliti Terdahulu

Berikut beberapa penelitian yang sudah dilakukan peneliti sebelumnya berkaitan dengan analisis kesehatan keuangan. Peneliti pertama yaitu Eindrias dan Azizah (2017) memiliki judul Analisa Tingkat Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam Berdasarkan Peraturan Nomor: 06/Per/Dep.6/Iv/2016 (Studi Pada Koperasi Simpan Pinjam Bahagia Kota Kediri) mempunyai variabel aspek permodalan, aspek kualitas aktiva produktif, aspek manajemen, aspek efisiensi, aspek likuiditas, aspek kemandirian dan pertumbuhan, serta aspek jatidiri koperasi dilihat dari hasil skor setiap aspek dapat dikategorikan cukup baik untuk beberapa aspek, namun ada beberapa aspek dengan skor masih cukup rendah. Tingkat kesehatan koperasi simpan pinjam bahagia dilihat dari hasil skor keseluruhan dapat dikategorikan dalam keadaan cukup sehat dengan hasil skor 70,75.

Peneliti kedua yaitu Hoodsay dan Yolanda (2019) memiliki judul Analisis Penilaian Kesehatan Keuangan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sejahtera SMK Muhammadiyah 2 Palembang dengan hasil penilaian terhadap tingkat kesehatan memperoleh rerata skor sebesar 64,41 yang berarti masuk kategori dalam pengawasan.

Peneliti ketiga yaitu Rudiwantoro (2019) memiliki judul Mengukur Tingkat Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam Berdasarkan Peraturan Nomor:

06/PER/DEP.6/IV/2016 (Studi Kasus Pada Koperasi Abdi Sesama-Palembang)

dengan hasil Koperasi Abdi Sesama untuk tahun 2017 dengan perolehan total skor

(2)

81,65 masuk kategori sehat. Peneliti keempat yaitu Kunriawan dan Ariyanti (2018) memiliki judul Analisis Kinerja Keuangan Pada Koperasi Simpan Pinjam Wira Karya Lahat Kabupaten Lahat berada pada kategori dalam pengawasan.

Keempat peneliti diatas memiliki perbedaan penelitian yaitu pada objek yang dievaluasi. Pada peneliti pertama objek yang dievaluasi yaitu Koperasi Simpan Pinjam Bahagia Kota Kediri, peneliti kedua yaitu Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera SMK Muhammadiyah 2 Palembang, peneliti ketiga yaitu Koperasi Koperasi Abdi Sesama-Palembang, dan peneliti keempat yaitu Koperasi Simpan Pinjam Wira Karya Lahat Persamaan dari keempat peneliti tersebut yaitu sama-sama menilai kinerja koperasi simpan pinjam berdasarkan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM.

B. Tinjauan Teori 1. Koperasi

Koperasi menurut Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk berjuang meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan sebuah badan usaha yang dikelola secara demokratis (Rudianto, 2010:3).

2. Tujuan Koperasi

(3)

Tujuan utama pendirian suatu koperasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi para anggotanya namun dengan demikian, dikarenakan dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi angotanya itu koperasi berpegang pada asas dan prinsip-prinsip tertentu, maka kegiatan koperasi biasanya juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Koperasi memiliki tujuan yaitu memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Sumarsono, 2003:6).

Tujuan koperasi tersebut masih bersifat umum oleh karena itu, setiap koperasi perlu menjabarkannya ke dalam bentuk tujuan yang lebih operasional bagi koperasi sebagai badan usaha. Tujuan yang jelas dan dapat dioperasikan akan memudahkan pihak manajemen dalam mengelola koperasi. Kasus anggota juga bertindak sebagai pemilik, pelanggan, dan pemodal akan dapat lebih mudah melakukan pengawasan terhadap proses pencapaian tujuan koperasi, sehingga penyimpangan dari tujuan tersebut akan dapat lebih cepat diketahui (Sitio dan Tamba, 2001: 19).

3. Jenis Koperasi

Menurut Rudianto (2010:5) Koperasi mencerminkan jenis produk

yang dijual kepada masyarakat dan para anggotanya. Koperasi dapat

dikelompokkan ke dalam empat jenis dengan dilihat dari bidang usaha dan

(4)

jenis anggotanya, menurut PSAK No. 27 tahun 2007, koperasi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis koperasi, yaitu:

a. Koperasi simpan pinjam

Koperasi kredit atau koperasi simpan pinjam adalah koperasi yang bergerak dalam bidang pemupukan simpanan dana dari para anggotanya untuk kemudian dipinjamkan kembali kepada para anggota yang memerlukan bantuan dana. Kegiatan utama koperasi simpan pinjam adalah menyediakan jasa penyimpanan dan peminjaman dana kepada anggota koperasi.

b. Koperasi konsumen

Koperasi konsumen merupakan koperasi yang anggotanya terdiri dari para konsumen akhir atau pemakai barang atau jasa. Kegiatan utama koperasi konsumen adalah melakukan pembelian bersama. Jenis barang atau jasa yang dilayani suatu koperasi konsumen sangat tergantung pada latar belakang kebutuhan anggota yang akan dipenuhi.

c. Koperasi pemasaran

Koperasi pemasaran adalah koperasi yang anggotanya terdiri dari para produsen atau pemilik barang atau penyedia jasa. Koperasi pemasaran dibentuk terutama untuk membantu para anggotanya memasarkan barang-barangnya yang mereka hasilkan. Masing-masing anggota koperasi menghasilkan barang secara individual, sementara pemasaran barang-barang tersebut dilakukan oleh koperasi.

d. Koperasi produsen

(5)

Koperasi produsen merupakan koperasi yang para anggotanya tidak memiliki badan usaha sendiri tetapi bekerja sama dalam wadah koperasi untuk menghasilkan dan memasarkan barang atau jasa. Kegiatan utama koperasi produsen adalah menyediakan, mengoperasikan, dan mengelola sarana produksi bersama.

4. Laporan Keuangan Koperasi

Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan dapat menentukan langkah yang dilakukan koperasi sekarang dan ke depan dengan melihat berbagai persoalan yang ada, baik kelemahan maupun kekuatan yang dimilikinya. Laporan keuangan merupakan sumber penting dalam sebuah badan usaha ataupun koperasi karena sebagai media informasi yang mencatat ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan selama tahun buku yang bersangkutan dimana melalui laporan keuangan, para anggota koperasi dapat mengetahui kondisi kinerja pengurus koperasi pada periode tertentu (Kasmir, 2010:66).

5. Tujuan pelaporan keuangan koperasi

Menurut Trisnawani (2009:23) informasi-informasi yang diberikan dalam laporan keuangan koperasi sedapat mungkin memisahkan antara aktivitas yang dilakukan anggota dan bukan anggota, tujuan bagi pemakai utama dan pemakai lainnya untuk:

a. Mengetahui manfaat yang diperoleh dengan menjadi anggota koperasi.

(6)

b. Mengetahui prestasi keuangan koperasi selama satu periode dengan sisa hasil usaha dan manfaat keanggotaan koperasi sebagai ukuran.

c. Mengetahui sumber daya ekonomis yang dimiliki koperasi, kewajiban dan kekayaan bersih dalam suatu periode, dengan pemisahan antara yang berkaitan dengan anggota dan bukan anggota.

d. Mengetahui transaksi, kejadian, dan keadaan yang mengubah sumber daya periode, dengan pemisahan antara yang berkaitan dengan anggota dan bukan anggota.

e. Mengetahui informasi penting lainnya yang mungkin memengaruhi likuiditas dan solvabilitas koperasi.

6. Penilaian Kesehatan Unit Simpan Pinjam Koperasi

Sasaran penilaian kesehatan koperasi adalah terwujudnya koperasi yang sehat, menjamin pengelolaan aset, terwujudnya pelayanan yang prima, meningkatkan citra dan kredibilitas koperasi, meningkatnya transparansi dan akuntabilitas, serta meningkatkan manfaat bagi anggota koperasi. Penilaian kesehatan koperasi melalui Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah No.06/Per/Dep.6/IV/2016, kesehatan Koperasi adalah kondisi atau keadaan koperasi yang dinyatakan sehat, cukup sehat, dalam pengawasan dan dalam pengawasan khusus. Ruang lingkup Penilaian Kesehatan koperasi dilakukan terhadap beberapa aspek, antara lain sebagai berikut:

a. Permodalan

(7)

Permodalan memberikan peranan yang sangat penting dalam menjalankan usaha koperasi, karena pada dasarnya modal adalah hal utama dalam menjalankan usaha. Permodalan pada koperasi jika semakin baik, tentunya akan mempermudah koperasi dalam mengembangkan setiap usaha yang dijalankannya. Berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1992 pasal 41 ayat 1, modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman.

Modal sendiri dapat berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan, dan hibah, sedangkan modal pinjaman dapat berasal dari anggota, koperasi lain dan/atau anggotannya, bank dan lembaga keuangan lainnya. Koperasi dapat pula melakukan pemupukan modal yang berasal dari modal penyertaan.

Penilaian aspek permodalan untuk mengetahui informasi mengenai kecukupan modal koperasi dalam mendukung kegiatan operasionalnya.

Penilaian aspek ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan koperasi dalam menyerap kerugian akibat investasi dan penuruan nilai aktiva. Penilaian terhadap aspek permodalan Koperasi didasarkan pada tiga rasio yaitu:

1) Rasio Modal Sendiri terhadap Total Aset

Penilaian rasio modal sendiri terhadap total aset untuk

mengukur kemampuan modal sendiri koperasi dalam mendukung

pendanaan terhadap total aset yang dimilikinya. Pengukuran tersebut

dilakukan dengan cara membandingkan antara modal sendiri dengan

total aset. Modal sendiri adalah modal yang menanggung risiko yang

(8)

berasal dari jumlah simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan lain, hibah, dana cadangan dan dapat ditambahkan dengan maksimal 50%

dari modal penyertaan. Penilaian rasio modal sendiri terhadap total aset dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

2) Rasio Modal Sendiri terhadap Pinjaman Diberikan yang berisiko Penilaian rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang berikan berisiko untuk mengukur kemampuan modal sendiri koperasi dalam menutup risiko atas pemberian pinjaman yang tidak didukung dengan jaminan yang memadai. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara modal sendiri dengan pinjaman diberikan yang berisiko. Modal sendiri adalah modal yang menanggung risiko yang berasal dari jumlah simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan lain, hibah, dana cadangan dan dapat ditambahkan dengan maksimal 50% dari modal penyertaan. Pinjaman diberikan yang berisiko yaitu dengan mengurangkan pinjaman diberikan dengan nilai agunan.

Penilaian rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang berisiko dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

3) Rasio Kecukupan Modal Sendiri

(9)

Penilaian rasio kecukupan modal sendiri untuk mengukur kemampuan modal sendiri tertimbang koperasi dalam menyerap kerugian akibat penurunan aset yang dimilikinya. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara modal tertimbang dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Modal tertimbang adalah jumlah dari hasil kali setiap komponen modal koperasi yang terdapat pada neraca dengan bobot pengakuan risiko. Aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) adalah jumlah dari hasil kali setiap komponen aktiva koperasi yang terdapat pada neraca dengan bobot pengakuan risiko. Penilaian rasio kecukupan modal sendiri dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

o l n m n

b. Kualitas Aktiva Produktif

Penilaian aspek kualitas aktiva produktif untuk mengukur kekayaan koperasi dalam mendatangkan penghasilan bagi koperasi tersebut. Penilaian terhadap aspek kualitas aktiva produktif koperasi didasarkan pada empat rasio yaitu sebagai berikut:

1) Rasio Volume Pinjaman Pada Anggota terhadap Volume Pinjaman yang Diberikan

Penilaian rasio volume pinjaman pada anggota terhadap volume

pinjaman yang diberikan untuk mengukur kemampuan koperasi dalam

memenuhi seluruh pinjaman anggota. Pengukuran tersebut dilakukan

dengan cara membandingkan anatara volume pinjaman pada anggota

(10)

dengan volume pinjaman yang diberikan. Volume pinjaman pada anggota adalah jumlah pinjaman yang diberikan pada anggota koperasi yang bersangkutan. Volume pinjaman yang diberikan adalah semua pinjaman yang diberikan baik kepada anggota, calon anggota, maupun koperasi lain atau anggotanya. Penilaian rasio volume pinjaman pada anggota terhadap volume pinjaman yang diberikan dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

2) Rasio Risiko Pinjaman Bermasalah terhadap Pinjaman yang Diberikan Penilaian rasio risiko pinajaman bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan untuk mengukur besarnya risiko pinjaman bermasalah dari seluruh pinjaman yang diberikan. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara pinjaman bermasalah dengan pinjaman yang diberikan. Pinjaman bermasalah adalah pinjaman yang terdiri dari pinjaman kurang lancar, pinjaman diragukan, dan pinjaman macet. Volume pinjaman yang diberikan adalah semua pinjaman yang diberikan baik kepada anggota, calon anggota, maupun koperasi lain atau anggotanya. Penilaian rasio risiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

3) Rasio Cadangan Risiko terhadap Pinjaman Bermasalah

(11)

Penilaian rasio cadangan risiko terhadap pinjaman bermasalah untuk mengukur kualitas cadangan risiko dalam menutup risiko kerugian akibat pinjaman macet atau tidak dapat ditagih. Pengukuran tersebur dilakukan dengan cara membandingkan antara cadangan risiko dengan pinjaman bermasalah. Cadangan tujuan risiko adalah cadangan yang dimaksudkan untuk menutup risiko apabila terjadi pinjaman macet atau tidak tertagih. Pinjaman bermasalah adalah pinjaman yang terdiri dari pinjaman kurang lancar, pinjaman diragukan, dan pinjaman macet. Penilaian rasio cadangan risiko terhadap pinjaman bermasalah dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

4) Rasio Pinjaman yang Berisiko terhadap Pinjaman yang Diberikan Penilaian rasio pinjaman yang berisiko terhadap pinjaman yang diberikan untuk mengukur besarnya pinjaman yang tidak didukung dengan jaminan yang memadai dari seluruh pinjaman yang diberikan.

Pinjaman diberikan yang berisiko yaitu dengan mengurangkan

pinjaman diberikan dengan nilai agunan. Volume pinjaman yang

diberikan adalah semua pinjaman yang diberikan baik kepada anggota,

calon anggota, maupun koperasi lain atau anggotanya. Pengukuran

tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara pinjaman yang

berisiko dengan pinjaman yang diberikan. Penilaian rasio pinjaman

(12)

yang berisiko terhadap pinjaman yang diberikan dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

c. Penilaian Manajemen

Penilaian manajemen untuk mengetahui peranan manajemen koperasi dalam pengelolaan koperasi, sehingga kegiatan koperasi berjalan dengan lancar. Penilaian aspek manajemen koperasi meliputi lima komponen yaitu:

1) Manajemen Umum

Penilaian manajamen umum untuk mengukur kemampuan koperasi dalam mengelola kegiatan unit simpan pinjam. Penilaian komponen manajemen umum menggunakan sistem penyekoran n n c m l h h s l w w nc p s p j w n “Y ” dimana dari 38 pertanyaan yang sudah ditentukan oleh Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor 06/Per/Dep.6/IV/2016, terdapat 12 daftar pertanyaan yang masuk l m kompon n m n j m n umum. p j w n “Y ” 2 pertanyaan tersebut diberi nilai 0,25.

2) Manajemen Kelembagaan

Penilaian manajemen kelembagaan untuk mengukur kemampuan

koperasi dalam mengelola SDM dan sistem kerja koperasi yang

bersangkutan. Penilaian komponen manajemen kelembagaan

menggunakan sistem penyekoran dengan cara melihat hasil wawancara

(13)

p s p j w n “Y ” m n 38 p ny n y n su h ditentukan oleh Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor 06/Per/Dep.6/IV/2016, terdapat 6 daftar pertanyaan yang masuk dalam komponen manajemen kelembagaan.

p j w n “Y ” 6 p ny n s u n l ,5.

3) Manajemen Permodalan

Penilaian manajemen permodalan untuk mengukur kemampuan koperasi dalam mengelola modal sendiri koperasi yang bersangkutan.

Penilaian komponen manajemen kelembagaan menggunakan sistem penyekoran dengan cara melihat hasil wawancara pada setiap jawaban

“Y ” m n 38 p ny n y n su h n uk n ol h Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor 06/Per/Dep.6/IV/2016, terdapat 5 daftar pertanyaan yang masuk dalam kompon n m n j m n p mo l n. p j w n “Y ” 5 pertanyaan tersebut diberi nilai 0,6.

4) Manajemen Aktiva

Penilaian manajemen aktiva untuk mengukur kemampuan koperasi dalam mengelola pinjaman atau pengkreditan dari aset yang dimiliki. Penilaian komponen manajemen aktiva menggunakan sistem penyekoran dengan cara melihat hasil wawancara pada setiap jawaban

“Y ” m n 38 p ny n y n su h n uk n ol h Peraturan

Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor

06/Per/Dep.6/IV/2016, terdapat 10 daftar pertanyaan yang masuk

(14)

l m kompon n m n j m n p mo l n. p j w n “Y ” 10 pertanyaan tersebut diberi nilai 0,3.

5) Manajemen Likuiditas

Penilaian manajemen likuiditas untuk mengukur kemampuan koperasi dalam mengelola asetnya untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Penilaian komponen manajemen likuiditas menggunakan sistem penyekoran dengan cara melihat hasil wawancara pada setiap j w n “Y ” m n 38 p ny n y n su h n uk n ol h Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor 06/Per/Dep.6/IV/2016, terdapat 5 daftar pertanyaan yang m suk l m kompon n m n j m n p mo l n. p j w n “Y ” dari 5 pertanyaan tersebut diberi nilai 0,6.

d. Penilaian Efisiensi

Penilaian aspek efisiensi untuk mengukur kemampuan koperasi dalam mengendalikan pengeluran biaya operasional, sehingga semakin kecil pengeluran biaya operasionalnya berarti semakin baik efisiensi koperasi tersebut. Penilaian terhadap aspek efisiensi koperasi didasarkan pada tiga rasio yaitu:

1) Rasio Beban Operasi Anggota Terhadap Partisipasi Bruto

Penilaian rasio beban operasi anggota terhadap partisipasi bruto

untuk mengetahui besarnya beban operasi anggota yang dikeluarkan

koperasi dalam memperoleh partisipasi bruto. Penilaian dilakukan

(15)

dengan cara membandingkan antara beban operasi anggota dengan partisipasi bruto. Beban operasi anggota adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam melakukan kegiatan usaha koperasi yang terdiri dari beban pokok, beban usaha dan beban perkoperasian. Partisipasi bruto adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dari partisipasi anggota terhadap usaha jasa keuangan koperasi dalam periode waktu tertentu sebelum dikurangi beban pokok. Penilaian rasio beban operasi anggota terhadap partisipasi bruto dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

2) Rasio Beban Usaha terhadap SHU kotor

Penilaian rasio beban usaha terhadap SHU kotor untuk mengetahui besarnya beban usaha yang dikeluarkan koperasi dalam memperoleh SHU kotor. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan antara beban usaha dengan SHU kotor. Beban usaha merupakan biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan bagi koperasi. SHU Kotor adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam tahun buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya belum termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan atau dengan kata lain SHU Kotor yaitu Sisa Hasil Usaha (SHU) sebelum pajak. Penilaian rasio beban usaha terhadap SHU kotor dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

(16)

3) Rasio Efisiensi Pelayanan

Penilaian rasio efisiensi pelayanan untuk mengetahui besarnya biaya karyawan yang dikeluarkan koperasi dalam menjalankan kegiatan simpan pinjam. Penilaian tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara biaya karyawan dan volume pinjaman. Biaya karyawan adalah biaya yang dikeluarkan koperasi untuk membayar karyawan sebagai upah atau honor. Volume pinjaman adalah jumlah keseluruhan pinjaman yang diberikan koperasi kepada anggota, calon anggota, dan koperasi lain atau anggotanya. Penilaian rasio efisiensi pelayanan dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

e. Likuiditas

Penilaian aspek likuiditas untuk mengukur kemampuan koperasi dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Penilaian terhadap aspek likuiditas koperasi dilakukan terhadap dua rasio yaitu:

1) Rasio Kas dan Bank terhadap Kewajiban Lancar

Penilaian rasio kas dan bank terhadap kewajiban lancar untuk mengukur kemampuan koperasi dalam membayar hutang jangka pendeknya dengan menggunakan kas dan bank yang dimiliki koperasi.

Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara

(17)

kas dan bank terhadap kewajiban lancar. Penilaian rasio kas dan bank terhadap kewajiban lancar dapat digunakan rumus berikut ini:

2) Rasio Pinjaman yang Diberikan terhadap Dana yang Diterima

Penilaian rasio pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima untuk mengukur kemampuan koperasi dalam memberikan pinjaman kepada anggota maupun calon anggota dengan menggunakan dana yang diterima. Pengukuran tersebut dilakukan dengan membandingkan antara pinjaman yang diberikan dengan dana yang diterima. Pinjaman yang diberikan adalah semua pinjaman yang diberikan baik kepada anggota, calon anggota, maupun koperasi lain atau anggotanya. Dana yang diterima adalah total pasiva selain hutang dan SHU yang belum dibagi. Penilaian rasio pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

f. Kemandirian dan Pertumbuhan Koperasi

Penilaian kemandirian dan pertumbuhan koperasi untuk mengukur seberapa besar kemandirian dan pertumbuhan koperasi apabila dilihat dari kemampuannya memperoleh laba dan operasional pelayanannya. Penilaian terhadap aspek kemandirian dan pertumbuhan koperasi didasarkan pada tiga rasio yaitu:

1) Rasio Rentabilitas Aset

(18)

Penilaian rasio rentabilitas aset untuk mengukur kemampuan koperasi dalam memperoleh SHU dengan memanfaatkan total aset yang dimilikinya. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara SHU sebelum pajak dengan total aset. SHU sebelum pajak adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam tahun buku dikurangi biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya belum termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan. Penilaian rasio rentabilitas aset dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

2) Rasio Rentabilitas Modal Sendiri

Penilaian rasio rentabilitas modal sendiri untuk mengukur kemampuan koperasi dalam memberikan balas jasa kepada anggota yang telah berkontribusi dalam menanamkan modalnya berupa simpanan-simpanan. Pengukuran tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara SHU bagian anggota dengan total modal sendiri. SHU bagian anggota adalah SHU yang diperoleh anggota atas partisipasi dalam pemanfaatan pelayanan koperasi atau 60% dari SHU setelah pajak. Total modal sendiri adalah jumlah simpanan pokok jumlah simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan lain yang memiliki karakteristik sama dengan simpanan wajib, hibah, cadangan yang disisihkan dari SHU dan dapat ditambah dengan maksimal 50%

modal penyertaan. Penilaian rasio rentabilitas modal sendiri dapat

dihitung dengan rumus berikut ini:

(19)

3) Rasio Kemandirian Operasional Pelayanan

Penilaian rasio kemandirian operasional pelayanan untuk mengukur kemampuan koperasi dalam membiayai beban usaha dan beban perkoperasian. Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan antara partisipasi netto dengan beban usaha ditambah beban perkoperasian. Partisipasi netto adalah partisipasi bruto dikurangi beban pokok. Beban pokok adalah biaya yang dikeluarkan terkait secara langsung dalam rangka menjual produk koperasi kepada anggota yaitu misalnya honor karyawan, pengurus dan pengawas, alat tulis kantor dan tunjangan uang makan. Beban usaha adalah biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan bagi koperasi dan beban perkoperasian adalah beban yang dikeluarkan koperasi terkait dengan gerakan perkoperasian dan tidak berhubungan dengan kegiatan usahanya. Penilaian rasio kemandirian operasional pelayanan bruto dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

g. Jatidiri Koperasi

Penilaian jatidiri koperasi untuk mengukur kemampuan koperasi dalam mencapai tujuannya yaitu mempromosikan ekonomi anggota.

Penilaian terhadap aspek jatidiri koperasi didasarkan pada dua rasio yaitu:

1) Rasio Partisipasi Bruto

(20)

Penilaian rasio partisipasi bruto untuk mengukur kemampuan koperasi dalam melayani anggota, semakin tinggi presentasenya maka akan semakin baik. Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan antara partisipasi bruto terhadap partisipasi bruto ditambah pendapatan. Partisipasi bruto adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dari partisipasi anggota terhadap usaha jasa keuangan koperasi dalam periode waktu tertentu sebelum dikurangi beban pokok. Penilaian rasio partisipasi bruto dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

2) Rasio Promosi Ekonomi Anggota

Penilaian rasio promosi ekonomi anggota untuk mengukur kemampuan koperasi dalam memberikan manfaat efisiensi partisipasi dan manfaat efisiensi biaya koperasi. Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan antara promosi ekonomi anggota terhadap simpanan pokok ditambah simpanan wajib. Penilaian rasio promosi ekonomi anggota dapat dihitung dengan rumus berikut ini:

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir dalam menganalisis kinerja keuangan pada Koperasi

Kredit Kosayu menggunakan Penilaian Kesehatan Koperasi yang berpedoman

pada Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil

(21)

dan Menengah Republik Indonesia Nomor: 06/Per/Dep.6/IV/2016 dengan mengukur tujuh aspek yaitu permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, efisiensi, likuiditas, kemandirian dan pertumbuhan, serta jatidiri koperasi. Tujuh aspek yang telah dihitung dan dinilai kemudian akan dijadikan sebagai tolak ukur penilaian tingkat kesehatan Koperasi Kredit Kosayu.

Predikat tingkat kesehatan koperasi terdiri atas empat predikat diantaranya adalah sehat, cukup sehat, dalam pengawasan dan dalam pengawasan khusus.

Gambaran dari kerangka piker penelitian ini adalah sebagai berikut:

(22)

D. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan teori dan kerangka pemikiran diatas maka dapat dirumuskan dan disusun hipotesis penelitian ini sebagai berikut:

Kinerja keuangan koperasi Kredit Kosayu pada tingkat kategori sehat.

Koperasi Kredit Kosayu

Analisis Tingkat Kesehatan Koperasi (Perdep KUKM No 06/Per/Dep.6/IV/2016)

Permodalan Kualitas Aktiva Produktif

Manajeme n

Efisiensi Likuiditas Kemandirian dan pertumbuhan

Jatidiri

Kondisi Kinerja

Sehat 8 , ≤ X ≤

100

Cukup Sehat 66, ≤ X <

80,00

Dalam Pengawasan 5 , ≤ X <

66,00

Dalam Pengawasan

Khusus X < 51,00

Gambar 2.1: Kerangka Pikir Penelitian

Cross Section

Time Series

R it ≥ R it−1

Gambar

Gambar 2.1: Kerangka Pikir  Penelitian Cross Section  Time  Series R it  ≥   R  it−1

Referensi

Dokumen terkait

Jika bentukan kata dengan imbuhan peng- … -an itu dianggap kurang “pas” atau kurang tepat, kita dapat memanfaatkan kosakata bahasa Indonesia yang lain untuk

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok siswa prestasi tinggi mampu menguasai empat indikator kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yaitu berpikir lancar (fluent

Implementasi pendidikan humanis pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP N 1 Tulung Kabupaten Klatenguru PAI menerapkan melalui beberapa kegiatanya itu

Sedangkan faktor yang menghambat Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil pada Badan Kesbangpolmas Kabupaten Kutai Kartanegara adalah

Cara Pengukuran evaluasi (penilaian) Kepala Seko lah: Pengukuran pendapat guru tentang penilaian yang di lakukan Kepala Sekolah dengan menjumlahkan sekor penda. pat guru, senang

Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya (LSIH - UB) sesuai dengan Visi dan Misi yang diemban, terus gigih berjuang dengan berbagai upaya

Subjek tetap melaksanakan tugas sebagai walikat, ikut mensolatkan jenazah dan mandi bersih dalam Islam sebelum kembali ke rumah, untuk menghilangkan hal buruk

Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kesadaran etis yang dimiliki oleh auditor maka perilaku auditor eksternal akan semakin baik, hal ini menunjukkan bahwa auditor