Adopsi Dalam Hukum Islam
Oleh: Zakia Nur R. 155010100111151 (11) Selly P. 155010101111052 (14) Nadia Yulia K. 155010101111066 (16) Krisna Murti 155010101111177 (18) Ika Fitria A. 155010112111002 (30) 1Sejarah
Zaman Jahiliyah sebelum agama Islam datang Adopsi disebut “at-tabanni”. Anak angkat
mendapat hak waris seperti anak kandung dan nasab kepada orang tua kandung terputus Nabi Muhammad sebelum menerima ke-Rasulannya pernah mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak angkatnya, serta
namanya diganti menjadi Zaid bin Muhammad
2
Dihadapan kaum Quraisy, Nabi Muhammad pernah mengatakan “Saksikanlah oleh kamu, bahwa Zaid
kuangkat menjadi anak angkatku dan mewarisiku dan aku mewarisinya”.
Setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul turun Surah Al-Ahzab ayat 4-5 serta wahyu yang menetapkan tentang peraturan waris mewaris
Sejak diturunkannya ayat tersebut, nama Zaid bin Muhammad diganti berdasarkan nama ayah kandungnya Zaid bin Haritsah.
Lalu istilah “at-tabanni” diganti dengan “al-laqith” (pengasuhan/pemungutan/pemeliharaan anak terlantar)
3
Surah Al-Ahzab Ayat 4 dan 5
“…..dan, Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmusebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar.
Panggilan mereka (anak angkat) itu dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang paling adil di hadapan Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai)
saudaramu seagama dan maula-maulamu . Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Garis besar dari ayat tersebut :
1. Allah tidak menjadikan dua hati dalam dada manusia
2. Anak angkatmu bukanlah anak kandungmu 3. Panggilah anak angkatmu menurut nama
bapaknya
Inti Islam memperbolehkan pemeliharaan/ pengasuhan anak sepanjang tidak memberikan status yang sama dengan anak kandung sendiri
5
Pengertian
Adopsi mengambil anak orang lain dengan memberi perlakuan sebagai anak dalam segi kecintaan, pemberian nafkah, pendidikan dan pelayanan segala kebutuhannya.
Prinsip pengangkatan anak menurut hukum Islam adalah bersifat pengasuhan/penyantunan terhadap anak tersebut
6
Tujuan
Mencegah agar seorang anak tidak sampai terlantar dalam hidupnya, dan bersifat pengarahan yang dapat disertai dengan pemberian bantuan milik kesejahteraan anak
Tujuan utama pengangkatan anak menurut hukum Islam : untuk kepentingan kesejahteraan anak
7
Akibat Hukum
Pengangkatan anak tidak memutuskan nasab (hubungan hukum keluarga/ kekerabatan) antara anak angkat dengan orang tua kandung .
Pengangkatan anak tidak memiliki akibat hukum apapun dalam hubungan hukum (keluarga) antara orang tua angkat dan anak angkat
Peralihan tanggung jawab dari orangtua
kandung kepada orangtua angkat hanya sebatas dalam hal pemeliharaan dan pendidikan. (Pasal 171 huruf (h) KHI)
Pengangkatan anak tidak merubah hubungan mahram anak angkat dalam keluarga angkatnya masih tetap sebagai “orang asing”.
Ayah angkat/ saudara angkat laki-laki tidak boleh menjadi wali nikah dari anak angkat
perempuan 9
Dalam bidang hukum kewarisan anak angkat tidak waris-mewarisi dengan keluarga angkatnya. Anak angkat tetap sebagai ahli waris orang tua kandungnya, demikian juga sebaliknya.
Pemberian bantuan/ jaminan penghidupan oleh orang tua angkat kepada anak angkatnya, diperkenankan berupa :
a. pemberian hibah
b. pemberian wasiat Pasal 209 ayat (2) KHI
washiah wajibah, sebanyak-banyak sepertiga
dari harta warisan
10
Kewajiban/ tanggung jawab orangtua angkat terhadap anak angkatnya :
- Orang tua angkat wajib memelihara dan mendidik anak angkat sesuai dengan syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW - Dalam pengasuhan dan pemeliharaannya,
orang tua angkat wajib memperlakukan anak angkatnya secara adil dan layak dalam rangka berkasih sayang sebagai sesama mahluk Allah SWT
- Tidak melakukan kekerasan terhadap anak tersebut.
11
Tanggung jawab anak angkat terhadap orang tua angkatnya :
Terkait tanggung jawab terhadap orangtua angkat, kita akan membahas hal mengenai tanggung jawab/kewajiban anak terhadap orangtua kandung terlebih dahulu :
1. Islam mengharamkan seseorang untuk menisbahkan dirinya kepada selain orang tuanya.
“Siapa saja yang mengaku anak orang lain (bukan bapaknnya) dan dia tahu (itu bukan orang tuanya) maka dia telah kafir.” (HR. Al Bukhari – Muslim)
Maka jika seseorang diharamkan menisbahkan diri kepada selain bapaknya, demikian juga diharamkan untuk menisbahkan diri kepada selain ibunya.
2. Islam mewajibkan agar seseorang berbakti kepada orang tuanya. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keburukan bagi orang yang tidak bisa berbakti kepada orang tuanya.
Meskipun si anak tersebut telah diasuh oleh orang lain, namun ia tetap memiliki kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua kandungnya. Hal itu disebabkan karena nasab si anak tersebut terhadap orang tua kandungnya tidak terputus. 12
Anak angkat tidak boleh menganggap orang tua yang telah mengasuhnya menjadi tidak berarti. Orang tua angkat memiliki jasa besar kepada anak angkatnya dalam hal mengasuh, mendidik,
dan membesarkan. Anak angkat wajib
menghormati kedua orang tua angkatnya
sebatas jasa-jasa yang telah diberikannya. Hal yang penting untuk diingat bahwa HARAM hukumnya menganggap bahwa mereka adalah
orang tua kandung si anak angkat tersebut.
13
Syarat Materiil
Pengangkatan anak hanya dapat dibenarkan jika memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) Pemungutan/ pengangkatan anak dengan tujuan pemeliharaan, pemberian bantuan, dll yang sifatnya untuk kepentingan si anak 2) Tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat
dengan orang tua kandung dan keluarganya
3) Pengangkatan anak tidak mengakibatkan hak kekeluargaan yang dapat dicapai dengan nasab keturunan (hak waris, hak wal-I mewakili, dll)
4) Antara anak yang diangkat dengan orang tua angkat sama-sama beragama Islam agar tetap terpelihara/terjamin ke-Islamannya 5) Anak angkat tidak dibolehkan menggunakan nama orang tua
angkatnya secara langsung,kecuali sekedar sebagai tanda pengenal/alamat.
14
Syarat Bagi Calon Orangtua Angkat :
• Berakal sehat • Dewasa
• Mempunyai kemampuan dan keahlian • Amanah dan berbudi luhur
• Beragama Islam
• Merdeka/bukan budak
15
Syarat Formil
Mengajukan Surat Permohonan Pengangkatan Anak kepada Kepala Pengadilan Agama, dengan disertai:
1. Foto copy KTP kedua Orang tua anak dan Pemohon (calon orang tua angkat)
2. Foto copy Surat Nikah Orang tua anak dan Pemohon 3. Foto copy Kartu Keluarga (KK) Orang tua anak dan
Pemohon
4. Foto Copy Surat Keterangan Kelahiran/ Akta Kelahiran anak
5. SK. pekerjaan dan penghasilan Pemohon
6. Surat pernyataan penyerahan anak dari Orang tua kepada Pemohon
7. Surat rekomendasi dari Dinas Sosial
Lembaga Yang Mengesahkan
Penjelasan Pasal 49 huruf a angka 20 UU RI Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atasUndang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan, salah satunya adalah penetapan asal-usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam.
17
Calon Orang Tua Angkat memiliki Surat Keputusan MENSOS yang isinya menyetujui mengenai
pengangkatan anak
Mengajukan Permohonan Penetapan kepada Pengadilan Agama di mana dilakukan pengangkatan
anak tersebut
Setelah Penetapan Pengadilan dikeluarkan, salinan penetapannya disampaikan lagi kepada Kementrian Sosial untuk dilakukan pencatatan oleh Kementrian
Sosial.
Pengangkatan anak menjadi sah secara hukum 18
Daftar Pustaka
1) Al-Quran , Surat Al-Ahzab
2) UU RI Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama
3) Kompilasi Hukum Islam
4) R.Soeroso. 2014. Perbandingan hukum perdata . Jakarta : Sinar Grafika. 5) Zaini, Muderis. 2002. Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum. Jakarta :
Sinar Grafika.
6) Djatikumoro, Lulik. 2011. Hukum Pengangkatan Anak di Indonesia. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.
7) Faradz, Haedah. 2009. Pengangkatan Anak Menurut Hukm Islam. Jurnal Dinamika Hukum Vol. 9 No. 2 edisi Mei.
19
8) Zakia. 2011. Proses Pengangkatan Anak (Adopsi) dalam Prespektif
Hukum Islam. Jakarta : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
9) http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt516b6321d8ef7/pengangk atan-anak-menurut-hukum-islam 10) http://pengacarasemarang.blogspot.co.id/2013/02/pengangkatan-anak-pada-pengadilan-agama.html 11) https://www.suduthukum.com/2017/07/syarat-pengangkatan-anak.html 12) http://dinamikahukum.fh.unsoed.ac.id/index.php/JDH/article/viewFile/2 23/188 13) http://www.pa-kotamadiun.go.id/index.php/transparansi-perkara/tahap-tingkat-pertama/syarat-pengangkatan-anak 20
Hasil Diskusi
1. Bagaimana apabila seorang wanita menyusui anak angkat laki-lakinya, apakah wanita dan anak laki-laki tersebut menjadi mahram disebabkan adanya persusuan pada saat bayi?
Jawaban
Dengan disusukannya seorang anak (laki-laki) kepada wanita lain terjalinlah hubungan mahram antara wanita tersebut selaku ibu susu dan anak yang disusuinya (anak susu) beserta segenap keturunan dan kerabat ibu susu, sehingga haram bagi anak susu menikahi mereka.
(QS. An-Nisa: 23, HR. al-Bukhari no. 5099 dan Muslim no. 1444)
21
2. Apabila seorang janda/duda ingin mengadopsi anak, bagaimana ketentuan dan syaratnya?
Jawaban
Pada dasarnya tidak terdapat pengaturan secara rinci mengenai pengangkatan anak oleh janda/duda (posthumus adoption)dalam KHI. Setiap orang boleh mengasuh/ memelihara anak orang lain sepanjang memenuhi syarat dan tidak ada larangan dalam hukum Islam. Salah satunya dengan tidak memutus nasab si anak angkat dengan orang tua kandungnya, serta terhadap anak tersebut tidak diberikan status dan hak yang sama seperti anak kandung.
(lihat slide syarat adopsi)
22
3. Apabila seseorang yang belum menikah ingin mengadopsi anak, bagaimana ketentuan dan syaratnya?
Jawaban
Dalam hukum Islam, tidak ada aturan terperinci mengenai adopsi yang dilakukan calon orang tua angkat berstatus belum/tidak kawin (single parent adoption). Adopsi hukumnya
mubah/diperbolehkan sepanjang tidak ada larangan dalam hukum Islam, dan sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
(lihat slide syarat-syarat adopsi).
23
4. Apakah seorang anak angkat dapat menikahi anak kandung dari orang tua angkatnya?
Jawaban
Dapat. Antara anak angkat dengan orang tua angkat dan keluarga angkatnya nya adalah bukan mahram sehingga seorang anak angkat diperbolehkan untuk menikahi saudara
angkatnya. Pernikahan tersebut diperbolehkan sepanjang mereka bukan saudara sepersusuan (anak angkat dan anak kandung orang tua angkat tersebut tidak menyusu kepada perempuan yang sama).
5. Bagaimana status adopsi apabila anak angkat melakukan suatu tindak pidana terhadap orang tua angkatnya? (terputus/tidak)
Jawaban
Apabila anak angkat melakukan tindak pidana terhadap orang tua angkatnya, maka perbuatan tsb dapat diajukan ke pengadilan dengan permohonan, baik oleh kerabat yang bersangkutan atau pihak yang terkait di dalamnya (delik aduan).
Namun harus diperhatikan usia si anak, apakah dianggap telah cakap hukum / tidak untuk melakukan perbuatan tsb. Hal itu juga dapat menjadi dasar bagi pengadilan untuk memutuskan apakah dapat dilakukan pemutusan hubungan anak angkat-orang tua angkat atau tidak.