9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kutu Rambut (Pediculus humanus)
2.1.1. Klasifikasi
Klasifikasi kutu rambut (Pediculus humanus) menurut Myers et al, (2018) adalah seperti berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Subfilum : Hexapoda Kelas : Insekta Ordo : Phthiraptera Famili : Pediculidae Genus : Pediculus
Species : Pediculus humanus
2.1.2. Morfologi
Kutu rambut (Pediculuss humanus) memiliki tubuh berwarna abu-abu putih dengan ukuran 2-3 mm (Fitriyani, 2013). Pediculus humanus memiliki tubuh berbentuk pipih dorsoventral, mulut memiliki tipe tusuk hisap untuk menghisap darah manusia, badannya bersegmen, memiliki 3 pasang kaki dan berwarna kuning kecoklatan atau putih ke abu-abuan. Morfologi kutu rambut dapat dilihat pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Morfologi kutu dewasa
Kutu rambut tidak dapat berpindah tempat dengan cara terbang karena kutu rambut tidak memiliki sayap. Hal ini sesuai dengan pernyataan Madkey & Khopkar (2012) kutu rambut tidak memiliki sayap dan tidak memiliki kaki yang kuat untuk melompat, sehingga kutu berpindah dari satu rambut ke rambut lain dengan bantuan cakar di kaki mereka. Kutu rambut dewasa berukuran sebesar biji wijen yaitu 2- 4 mm, memiliki 3 pasang kaki (masing-masing bercakar), berwarna cokelat keabu-abuan sedangkan pada orang dengan rambut gelap, kutu dewasa akan tampak lebih gelap (Madkey & Khopkar, 2012).
2.1.3. Transmisi Kutu Rambut (Pediculus humanus)
Kutu rambut menurut Saraswati & Putriana (2017) merupakan salah satu ektoparasit yang hidup pada kulit kepala manusia. Masalah kutu rambut merupakan masalah klasik yang sulit dihindari terutama di kalangan anak-anak usia sekolah dasar, namun tidak hanya hanya anak-anak, bahkan orang juga dapat terkena masalah kutu rambut. Beberapa faktor yang menyebabkan resiko penyebaran kutu rambut menurut Ayustawati (2015) adalah sebagai berikut: a). Kontak langsung dengan penderita baik melalui baju, sisir, selimut dan lain sebagainya. b). Hidup di rumah yang sesak atau jumlah orang yang tinggal didalamnya terlalu banyak dan tidak sesuai dengan luas rumah. c). Kurangnya menjaga kebersihan diri. d). Cuaca, seperti udara yang panas akan memperburuk resiko terkena kutu rambut. e) Hidup dalam institusi, seperti asrama, pondok pesanteren dan lainnya.
2.1.4. Siklus Hidup Kutu Rambut (Pediculus humanus)
Siklus hidup kutu rambut menurut Yuniaswan et al (2020) ialah kutu rambut memiliki siklus hidup hemimetabolus atau siklus hidup tidak sempurna yang terdiri dari fase telur, fase nimfa dan fase dewasa. Kutu betina yang sudah dibuahi akan meletakkan telur-telurnya di batang rambut dengan perekat khusus yang tidak dapat larut dalam air atau sabun. Kutu rambut betina yang sudah dibuahi akan meletakkan telurnya sebanyak 7–10 telur (nits) setiap hari setelah 24 jam perkawinan kemudian telur kutu akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10 hari setelah itu nimfa akan mejadi kutu rambut dewasa dalam waktu 7-12 hari (Weems & Fasulo, 2015). Kutu rambut dapat hidup 30 hari dengan mengisap
darah manusia namun kutu rambut jarang bertahan hidup lebih dari 36 jam dari inangnya tanpa menghisap darah manusia (Madkey & Khopkar, 2012). Siklus hidup kutu rambut dapat dilihat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 Siklus Hidup Kutu Rambut
(Madkey & Khopkar, 2012)
Berdasarkan hasil penelitian Speare (2005) mengatakan bahwa jumlah darah yang diserap oleh 30 kutu rambut kutu (10 betina, 10 jantan dan 10 nimfa) selama tiga kali makan ialah 0,008 ml darah/hari. Penelitian Speare (2005) juga mengatakan bahwa anak yang terinfeksi kutu rambut paling parah dengan kutu yang berhasil diamati sebanyak 2.657 kutu, anak tersebut diperkirakan kehilangan darah 0,7 ml/hari atau 20 ml/bulan jika kutu tersebut makan hanya 3 kali setiap harinya, namun jika kutu rambut makan lebih dari 3 kali sehari dan terkena Pediculosis parah maka akan berpotensi kekurangan zat besi.
2.2 Tanaman sirsak (Annona muricata)
2.2.1 Klasifikasi Tanaman Sirsak (Annona muricata)
Klasifikasi tanaman sirsak menurut Setiawati, Murtiningsih, Gunaeni & Rubiati (2008) ialah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Polycarpiceae
Famili : Annonaceae
Genus : Annona
Spesies : Annona muricata Linn
2.2.2 Morfologi Tanaman Sirsak (Annona muricata)
Gambar 2.3 Morfologi tanaman sirsak
(a). Pohon Sirsak (b). Daun Sirsak (c). bunga Sirsak (d). Buah sirsak
(Moghadamtousi et al., 2015)
Tanaman sirsak memiliki batang berkayu, berbunga tunggal dan berkas 1-2 berhadapan/disamping daun mahkota, daun mahkota segitiga Setiawati, Murtiningsih, Gunaeni & Rubiati (2008). Morfologi tanaman sirsak bisa dilihat pada gambar 2.3. Buah dari tanaman ini berbentuk majemuk agregat dan daging buahnya bertekstur empuk, berwarna putih dan memiliki biji berwarna hitam dan mengkilap yang jumlahnya banyak dalam setiap satu buah. Kulitnya meiliki duri pendek. Tanaman ini memiliki akar berjenis tunggang dan dapat tumbuh disembarang tempat dan tempat yang paling sesuai adalah tanah yang mengandung cukup air. Tanaman sirsak di Indonesia tumbuh dengan baik di ketinggian kurang dari 1000 meter diatas permukaan air laut (Setiawati, Murtiningsih, Gunaeni & Rubiati, 2008).
2.2.3 Manfaat dan Kandungan Fitokimia Tanaman Sirsak (Annona muricata)
Tanaman sirsak memiliki banyak manfaat salah satunya untuk pembuatan insektisida nabati. Daun sirsak banyak mengandung senyawa acetogenin (asimisin, bulatacin dan squamosin), senyawa ini memiliki keistimewaan sebagai antifeedant pada konsentrasi tinggi sedangnan pada konsentrasi rendah memiliki sifat racun perut (Mardiana, L & Ratnasari, J. 2011). Penelitian Ernawati (2019) mengatakan bahwa daun sirsak banyak mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, annocatalin, annohexocin, annonacin, anomurine, anono, caclourine, gentisic acid, gigantetronin, linoleic acid, muricapentocin. Tanaman yang mengandung senyawa flavonoid dan alkaloid memiliki kemampuan dapat menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik sedangkan Tanin dapat menghambat pertumbuhan bakteri (Rahman, Haniastuti & Utami, 2017). Zat flavonoid dan saponin merupakan bahan utama pembuatan insektisida karena bahan ini efektif dalam membunuh serangga, flavonoid dapat mempengaruhi sistem pernafasan serangga sedangkan saponin dapat menghambat kerja enzim (Wiryadiputra, Rusda & Asyiah, 2014).
2.3 Tanaman Pepaya (Carica papaya)
2.3.1 Klasifikasi Tanaman Pepaya (Carica papaya)
Klasifikasi tanaman pepaya (Carica papaya) menurut Yogiraj, Goyal, Chauhan, Goyal, & Vyas, (2014) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Super Divisi : Spermatophyta
Ordo : Brassicales
Famili : Caricaceae
Genus : Carica
2.3.2 Morfologi Tanaman Pepaya(Carica papaya)
Gambar 2.4 Morfologi Tanaman Pepaya (Yogiraj et al., 2014)
Tanaman pepaya (Carica papaya Linn) tergolong dalam famili Caricaceae yang umumnya di kenal sebagai papaya dalam bahasa Inggris, Papita dalam bahasa Hindi dan Erandakarkati dalam bahasa Sanskerta (Yogiraj et al., 2014). Morfologi tanaman pepaya dapat dilihat pada gambar 2.4. Pepaya merupakan tanaman herba tahunan yang memiliki tunggal dan memiliki tinggi 20–30 kaki, daunnya berukuran 2½ kaki, bentuknya melengkung seperti telapak tangan dengan seluruh tepi dan tangkai daun sepanjang 1-3 kaki, batangnya berongga, berwarna hijau muda kecoklatan dengan diameter 8 inchi dan memiliki bekas daun yang menonjol (Aravind & Bhowmik, 2013).
2.3.3 Manfaat dan Kandungan Fitokimia Tanaman Pepaya (Carica papaya)
Tanaman pepaya memiliki banyak manfaat, salah satu manfaatnya berada pada daun tanaman papaya yang digunakan sebagai insektisida nabati untuk membasmi kutu rambut. Daun muda tanaman pepaya kaya akan flavonoid (kaempferol dan myricetin), alkaloid (karpain, pseudocarpaine, dehydrocarpaine I dan II), senyawa fenol (asam ferulic, asam caffeic, asam klorogenat), senyawa sinogenetik (benzylglucosinolate) (Yogiraj, Goyal, Chauhan, Goyal, & Vyas, 2014). Milind (2011) juga mengatakan bahwa daun pepaya mengandung zat aktif seperti Papain, Alkaloid Karpain, Flavonoid, Tanin, Karposid dan Saponin. Kotaro Konno et al., (2004) juga melaporkan bahwa getah pada tanaman pepaya (Carica papaya L.)
mengandung kelompok enzim protease seperti papain dan kimopapain serta menghasilkan senyawa-senyawa golongan alkaloid, terpenoid, flavonoid dan asam amino yang sangat beracun bagi beberapa serangga.
2.4 Insektisida Nabati
Insektisida nabati merupakan insektisida alami yang menggunakan tanaman sebagai bahan untuk mematikan serangga yang merugikan (Djojosumarto, 2008). Penggunaan insektisida nabati dapat meminimalisir resiko bagi kesehatan dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Untung (2006) bahwa membasmi serangga parasit yang memiliki resiko kecil bagi kesehatan dan lingkungan ialah menggunakan bahan alami yaitu insektida nabati. Syakir (2011) mengatakan tanaman yang akan dijadikan insektisida nabati harus memenuhi syarat, yaitu 1) tanaman mudah dibudayakan sehingga tidak bergantung pada alam, 2) teknik pengolahan mudah dan murah sehingga petani dapat menyediakan sendiri. Umumnya insektisida nabati memiliki sifat mudah terurai di alam (Biodegradable), relatif aman bagi organisme yang bukan sasaran yang termasuk musuh alami hama (Selectivity), dapat dipadukan dengan komponen pengendalian hama lain (Compability), dapat memperlambat laju resistensi serta dapat menjamin ketahan dan kelanjutan usaha tani (Sustainability) (Prijono, 2008).
Berdasarkan cara masuknya kedalam tubuh serangga, insektisida nabati dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu 1) racun pencernaan yang dapat membunuh serangga sasaran ketika insektisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan, 2) racun kontak yaitu dapat membunuh serangga ketika insektisida masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit dan 3) racun pernafasan yaitu membunuh serangga ketika serangga tersebut menghirup insektisida dalam jumlah yang cukup (Djojosumarto, 2008).
2.5 Kombinasi Insektisida Nabati
Insektisida nabati dapat digunakan secara tunggal maupun kombinasi. Dadang & Prijono (2008) mengatakan bahwa pemanfaatan insektisida nabati dengan 2 atau 3 jenis tanaman dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis tanaman sebagai bahan baku serta mampu mengatasi keterbatasan bahan baku di tingkat petani.
Kombinasi insektisida nabati digunakan dengan harapan mampu memberikan efek yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman tunggalnya. Terdapat berbagai macam interaksi yang mungkin akan terjadi dalam proses kombinasi ekstrak seperti efek sinergis, efek tidak sinergis dan efek aditif (Heo, Cha, Lee & Jeon, 2006). Efek sinergis terjadi apabila masing-masing komponen memiliki efek tertentu dan kombinasi antara dua komponen tersebut dapat memberikan efek lebih tinggi dari pada komponen tunggalnya, Efek tidak sinergis terjadi apabila efek yang diberikan lebih rendah dibandingkan dengan komponen tunggalnya serta efek aditif ialah apabila efek yang diberikan merupakan penjumlahan dari masing-masing komponen tunggalnya (Heo, Cha, Lee & Jeon, 2006).
Kombinasi filtrat daun sirsak dan daun pepaya dimungkinkan akan terjadi efek sinergis, hal ini karena kandungan senyawa metabolit sekunder antara keduanya hampir sama. Metabolit sekunder yang ada di kedua bahan tersebut ialah golongan Acetogenin, Flavonoid, Alkaloid, Tanin, Terpenoid dan Saponin. Golongan acetogenin dalam kondisi rendah berfungsi sebagai racun perut (Mardiana, L & Ratnasari, J. 2011). Golongan Saponin dapat menghambat kerja enzim proteolitik sehingga dapat menyebabkan penurunan aktivitas enzim pencernaan dan penggunaan protein (Suparjo, 2008). Golongan Tanin dapat menurunkan kemampuan mencerna makanan pada serangga dengan cara menurunkan aktivitas enzim pencernaan, golongan Flavonoid dan Alkaloid berfungsi sebagai stomach poisoning (racun perut) (Prabowo, 2010). Berdasarkan hal inilah kombinasi insektida nabati antara daun tanaman sirsak dan daun tanaman pepaya dimungkinkan akan terjadi efek sinergisme antara keduanya sehingga akan mempengaruhi prosentase mortalitas kutu rambut.
2.6 Sumber Belajar Biologi
Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat dijadikan referensi yang akan menjadi pengalaman belajar bagi peserta didik (Satrianawati, 2018). Sumber belajar dapat juga dirumuskan sebagai sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan dalam proses belajar mengajar. Sumber belajar ini dapat berupa data, orang maupun wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa untuk belajar
sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pentingnya sumber belajar tidak dapat dipungkiri lagi, akan tetapi sumber-sumber belajar yag ada di sekolah umumnya belum dikelola dan dimanfaatkan dengan maksimal. Berdasarkan hal inilah perlu adanya pengembangan sumber belajar. Pengembangan sumber belajar bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa sesuai gaya belajarnya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih sumber belajar yang sesuai dengan karakteristiknya dan mendorong penggunaan pendekatan pembelajaran yang baru, kreatif serta inovatif (Prastowo, A., 2018). Sumber belajar menurut Najmulmunir (2010), dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Sumber belajar yang sengaja dirancang untuk pembelajaran (learning resources by design). Sumber belajar ini merupakan sumber belajar yang secara khusus dirancang maupun dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal, contoh buku, poster, jurnal, video pembelajaran dan sebagainya.
2. Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utilization), sumber belajar yang dimanfaatkan merupakan sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Sumber belajar harus memenuhi beberapa syarat agar proses pembelajaran berjalan efektif, menurut Eurika & Hapsari (2017) syarat sumber belajar adalah sebagai berikut:
a). Kejelasan potensi
Kejelasan potensi meliputi suatu objek dan gejalanya untuk dapat diangkat sebagai sumber belajar terhadap permasalahan biologi berdasarkan konsep kurikulum. Objek dalam penelitian ini ialah kutu rambut (Pediculus humanus). Kutu rambut merupakan golongan serangga parasit yang dapat menginfeksi manusia sehingga merugikan bagi manusia. Berdasarkan permasalahan yang ditimbulkan oleh kutu rambut maka peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar seperti apa yang efek yang timbulkan oleh kutu rambut dan bagaimna cara menyelesaikan
permasalahan kutu rambut. Berdasarkan hal inilah objek penelitian berupa kutu rambut dapat digolongkan sebagai sumber belajar.
b). Kesesuaian dengan tujuan
Tujuan belajar selain untuk mencapai kompetensi dasar ialah untuk meningkatkan cara berfikir kritis, tanggung jawab, disiplin dan sebagainya, tujuan tersebut dapat dikatakan sebagai tujuan pengiring dalam proses belajar. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan cara berfikir kritis peserta didik, seperti cara menyelesaikan sebuah permasalahan infeksi kutu rambut yaitu dengan cara menggunakan bahan alami sehingga dapat meminimalisir efek samping yang akan ditimbulkan. Proses penelitian juga diperlukan tanggung jawab dan kedisiplinan dalam melaksakanakan prosedur penelitian.
c). Kejelasan sasaran
Sasaran penelitian ini adalah objek dan subjek penelitian. Sasaran objek penelitian adalah mortalitas kutu rambut (Pediculus humanus) setelah pemberian kombinasi filtrat daun sirsak dan daun papaya dengan berbagai perbandingan konsentrasi.
d). Kejelasan informasi yang diungkap
Informasi yang diungkap dari hasil penelitian ini dikembangkan menjadi konsep, prinsip dan hukum berupa fakta. Informasi tersebut yaitu seputar pengaruh pemberian kombinasi filtrat daun sirsak dan daun pepaya terhadap mortalitas kutu rambut. Konsep tersebut dapat digunakan untuk membuat bahasan hasil penelitian.
e) Kejelasan pedoman eksplorasi
Pengamatan tentang pengaruh pemberian kombinasi filtrat daun sirsak dan daun pepaya terhadap mortalitas kutu rambut dapat dilakukan oleh siswa SMP maupun SMA dengan diberikan pedoman seperti petunjuk kerja. Perhitungan mortalitas kutu rambut dapat dilihat dari jumlah kutu rambut yang mati dalam waktu yang telah ditentukan.
f). Kejelasan perolehan yang diharapkan.
Hasil penelitian mengenai pengaruh pemberian kombinasi filtrat daun sirsak dan daun pepaya terhadap mortalitas kutu rambut dapat digunakan sebagai sumber belajar yaitu pengembangan keterampilan melalui proses pengamatan, ketepatan dan kelengkapan data yang dikumpulkan berdasarkan hasil pengamatan, konseptualisasi data, pemberian arti terhadap berbagai kejadian pada saat pengamatan kemudian kesimpulan hasil penelitian.
Berdasarkan syarat-syarat diatas maka penelitian mengenai pengaruh pemberian kombinasi filtrat daun sirsak dan daun papaya terhadap mortalitas kutu rambut dapat digunakan sebagai sumber belajar.
2.7 Kerangka Konsep
Gambar 2.5 Kerangka konsep penelitian
Kutu rambut (Pediculus
humanus)
Insektisida nabati Insektisida Sintetis
Kombinasi Filtrat Daun Tanaman Sirsak dan Pepaya
Perbandingan konsentrasi 1:2, 1:1, 2:1 Keterangan: : Diteliti : Tidak diteliti Dukendalikan oleh Perlakuan yang digunakan Kandungan fitokimia
Dilakukan dengan berbagai
Digunakan untuk
Cara kerja insektisida
Mengakibatkan Digunakan sebagai Daun Pepaya Papain, kimopapain, Alkaloid Karpain, Flavonoid, Tanin, Karposid dan Saponin
Racun
Aplikasi Pediculus humanus
Mortalitas Pediculus humanus
Sumber Belajar Biologi
Daun Sirsak
Senyawa acetogenin, alkaloid, tanin, flavonoid, saponin
2.8 Hipotesis
Dirumuskan hipoteseis sebagai berikut:
1. Ada pengaruh pemberian kombinasi jenis insektisida nabati berbagai perbandingan konsentrasi terhadap mortalitas kutu rambut (Pediculus humanus). 2. Ada perbedaan pengaruh pemberian kombinasi jenis insektisida nabati berbagai perbandingan konsentrasi terhadap mortalitas kutu rambut yang bersifat signifikan.