1
I BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Information and Communication Technology (ICT) atau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah semakin berkembang serta memberikan pengaruh secara signifikan terhadap berbagai bidang. Seiring berkembangnya teknologi yang semakin pesat, peran teknologi menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia bahkan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, saat ini kehadiran dan manfaat teknologi khususnya broadband technology atau lebih dikenal dengan layanan internet belum dapat dirasakan secara merata oleh semua lapisan masyarakat. Hanya sebagian kecil masyarakat yang telah merasakan manfaatnya terutama masyarakat perkotaan. Kondisi ini disebut dengan kesenjangan digital (Digital Divide), yaitu kesenjangan yang terjadi diantara individu, rumah tangga, bisnis dan area geografis yang dapat mengakses dengan yang tidak dapat mengakses TIK serta memanfaatkannya untuk beragam aktivitas kehidupan (OECD, 2001)
Menurut Internet World Stats (2012), Indonesia memiliki tingkat penetrasi internet yang rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, yang dapat dilihat pada Gambar I.1.
Gambar I.1 Grafik Penetrasi Internet di ASEAN (Sumber : Internet World Stats, 2012)
78.0% 75.0%
60.7%
33.9% 32.4% 30.0%
22.1%
9.0% 4.4% 1.0%
penetrasi internet
2
Tingkat penetrasi internet di Indonesia yang rendah tersebut menyebabkan adanya kesenjangan yang cukup lebar antara masyarakat yang dapat mengakses TIK dengan yang belum dapat mengakses. Hal tersebut diakibatkan karena pembangunan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tidak merata (Karimuddin, 2011).
Dalam hal ini pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk menutupi kesenjangan digital dengan mengadakan program Universal Service Obligation (USO) atau Kewajiban Pelayanan Universal (KPU). USO/KPU adalah bentuk kewajiban dengan menjamin ketersediaan pelayanan publik bagi setiap warga negara khususnya pelayanan telekomunikasi dan informatika yang diselenggarakan oleh Balai Penyedia dan Pengelola Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI). USO/KPU memiliki sub-program antara lain seperti desa dering, desa pintar, pusat layanan internet kecamatan (PLIK), mobil pelayanan internet kecamatan (M-PLIK), penyiaran radio komunitas di daerah perbatasan dan terpencil, penyediaan sarana dan prasana TIK di wilayah blank spot, transmigrasi, pesisi pantai, dan lain-lain, sistem informasi manajemen dan monitoring layanan internet kecamatan, dan akses intenet (Marwanto, 2012).
Program USO/KPU yang diadakan di kabupaten Bandung dinilai tidak efektif, karena terbukti pada akhirnya program tersebut tidak berjalan dan tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk masyarakat setempat. Tidak efektifnya program tersebut didasari pada pendekatan yang digunakan dalam membuat keputusan lokasi yang akan diberi bantuan dan bentuk bantuannya.
Selama ini penentuan lokasi dan pemberian bantuan tidak pernah dikomunikasikan secara langsung kepada obyek yang akan diberi bantuan. Jadi sepenuhnya adalah kewenangan pemerintah pusat yang disebut dengan metode Top Down dalam pemeberian bantuan.
Pada penerapan pendekatan tersebut terbukti tidak sukses, oleh karena itu dicarikan alternatif pendekatan yang baru dimana berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan Asset Based Community Development
3
(ABCD). Dengan menggunakan pendekatan ABCD dalam pemberian bantuan harus mengenali terlebih dahulu lokasi yang akan diberikan bantuan seperti harus mengenali terlebih dahulu mengenai aset komunitas yang dimiliki atau disebut dengan metode Bottom Up. Aset komunitas tersebut akan lebih mudah dipahami dengan melakukan pemetaan aset menggunakan. Pemetaan aset komunitas dibantu menggunakan software berbasis peta digital dengan cara memetakan satu persatu aset komunitas yang dimiliki suatu daerah dengan diwakili simbol pada pemetaannya di aplikasi. Dengan bantuan software ini berbagai aset komunitas yang dimiliki suatu daerah dapat dilihat dengan lebih mudah karena sudah bisa ditampilkan dalam sebuah aplikasi. Dengan SIG aset komunitas akan menjadi lebih informatif dan komunikatif.
Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dr. Yati Rohayati, dkk mengenai pemetaan aset komunitas kabupaten bandung untuk pemberdayaan TIK menghasilkan kecamatan Pangalengan sebagai prioritas utama yang akan diberikan bantuan atau sebagai wilayah layanan yang dilihat dari aset komunitas yang dimiliki. Pada tabel I.1 merupakan daftar ranking dari kecamatan-kecamatan di kabupaten Bandung.
Tabel I.1 Ranking Kecamatan
Nama Kecamatan Indeks Kecamatan Ranking
Pangalengan 1204 1
Ciparay 1279 2
Rancaekek 1321 3
Baleendah 1353 4
Paseh 1392 5
Majalaya 1411 6
Soreang 1546 7
Banjaran 1576 8
Cicalengka 1656 9
Anjasari 1693 10
4
Tabel I.1 Ranking Kecamatan (Lanjutan)
Nama Kecamatan Indeks Kecamatan Ranking
Margaasih 1696 11
Ibun 1737 12
Cimenyan 1754 13
Cimaung 1761 14
Cileunyi 1767 15
Pacet 1768 16
Pasirjambu 1795 17
Katapang 1812 18
Kutawaringi 1880 19
Ciwidey 1986 20
Bojongsoang 1993 21
Margahayu 2037 22
Cikancung 2054 23
Dayeuhkolot 2075 24
Cangkuang 2184 25
Kertasari 2248 26
Solokan Jeruk 2267 27
Nagreg 2302 28
Cilengkrang 2434 29
Pameungpeuk 2436 30
Rancabali 2537 31
Kecamatan Pengalengan menjadi prioritas utama penerima bantuan TIK dikarenakan memiliki lima aset komunitas yang lebih baik dibandingkan dengan kecamatan yang lain. Lima aset komunitasnya yaitu aset individu, aset asosiasi, aset institusi, aset ekonomi/bisnis local dan aset fasilitas fisik. Kecamatan Pengalengan memiliki luas wilayah 27.294,77 ha dengan jumlah penduduk sekitar 130 ribu jiwa (id.wikipedia.org) dan terdapat 13 desa yaitu desa Banjarsari, Lamajang, Margaluyu, Margamekar, Margamukti, Margamulya, Pengalengan,
5
Pulosari, Sukaluyu, Sukamanah, Tribaktimulya, Wanasuka dan Warnasari.
Dengan metode pemberian bantuan didahulukan yang memiliki aset komunitas terbaik kemudian yang lemah, sehingga kecamatan yang diberikan bantuan semakin kuat dan mampu memberi motivasi bahkan membantu kecamatan lainnya. Atas dasar itu maka kecamatan Pengalengan harus dikenali lebih dalam lagi aset komunitasnya yaitu pada tingkat desa. Bantuan yang diberikan akan jauh lebih efektif apabila diberikan lebih spesifik lokasinya. Oleh karena itu penelitian perlu dilakukan untuk mengenali aset komunitas pada desa-desa di kecamatan Pengalengan.
I.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui bahwa program bantuan yang diberikan oleh pemerintah kurang efektif dan tidak tepat sasaran. Hal ini terjadi dikarenakan pemerintah tidak melakukan kajian terlebih dahulu. Oleh karena itu, pemerintah memerlukan pendekatan lain dalam memberikan program bantuan yaitu dengan pendekatan pemetaan aset komunitas. Hasil pemetaan tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam penentuan wilayah layanan.
Oleh karena itu, adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Data penyusun aset komunitas apa saja yang dimiliki oleh desa-desa pada kecamatan Pengalengan?
2. Desa mana saja kah yang menjadi prioritas penerima bantuan TIK pada kecamatan Pangalengan dengan metode ABCD?
3. Bagaimana pemetaan aset komunitas yang ada pada desa-desa di wilayah kecamatan Pangalengan dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG)?
I.3 Tujuan Tugas Akhir
Berdasarkan rumusan masalah, maka dapat ditentukan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi data penyusun aset komunitas yang dimiliki oleh kecamatan Pengalengan.
2. Menentukan desa prioritas penerima bantuan TIK pada kecamatan Pangalengan dengan metode ABCD.
6
3. Memetakan aset komunitas desa pada wilayah kecamatan Pangalengan dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG).
I.4 Batasan Masalah
Untuk memperoleh hasil penelitian yang tidak menyimpang dari topik yang dibahas maka dibutuhkan batasan sebagai berikut :
1. Pemetaan aset komunitas yang ditampilkan hanya meliputi 5 komponen aset komunitas yaitu aset individu, institusi, asosiasi, ekonomi lokal, serta fasilitas fisik sesuai dengan teori Kretzmann & McKnight (1993).
2. Sistem informasi ini hanya untuk menampilkan informasi pemetaan aset komunitas bukan sebagai aplikasi pengelolaan data aset komunitas pada kecamatan Pangalengan.
I.5 Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan akan memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Membantu pemerintah mengidentifikasi berbagai aset komunitas yang ada di kecamatan Pengalengan.
2. Membantu pemerintah kabupaten Bandung memberikan informasi tentang daerah yang perlu mendapatkan bantuan TIK.
3. Diperolehnya informasi tentang kekuatan dan potensi yang dimiliki komunitas, dalam lingkup Kecamatan Pengalengan yang tergambarkan dalam peta aset komunitas.
I.6 Sistematika Penulisan
Penelitian ini diuraikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi uraian mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penilitian,dan sistematikan penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan memuat berbagai dasar teori yang mendukung dan mendasari penulisan tugas akhir ini.
7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini akan menjelaskan metodologi penelitian dan kerangka serta langkah-langkah penyelesaian masalah dalam penelitian.
BAB IV PENGUMPULAN DATA DAN PENENTUAN DESA PRIORITAS PENERIMA BANTUAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai proses pengumpulan data dan perhitungan dalam menentukan desa layanan penerima bantuan TIK.
BAB V PENGEMBANGAN APLIKASI PEMETAAN ASET KOMUNITAS
Pada bab ini akan membahas tahapan dalam merancang aplikasi pemetaan aset komunitas. Meliputi rancangan sistem informasi dan desain aplikasi pemetaan aset komunitas.
BAB VI IMPLEMENTASI APLIKASI DAN ANALISIS DESA PRIORITAS PENERIMA BANTUAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai implementasi aplikasi pemetaan aset komunitas dan analisis desa penerima bantuan TIK.
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Saran yang diberikan kepada pihak terkait dan saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya.