Daftar Isi
Daftar Isi 1 Kata Pengantar 2
Penyatuan Bahasa dan Proses Konsultasi 3 Alur Penyusunan Renstra 5
Misi & Motto Depdiknas 6 Analisis Situasi 7
Visi Depdiknas 2025 9
Cetak Biru Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif 2025 10 Tata Nilai Depdiknas 11
Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional 12 Rencana Pembangunan Jangka Panjang 15 Gambaran Kebutuhan dan Rencana Strategis 30 Sasaran Jumlah Peserta Didik 31
Pemerataan dan Perluasan Akses 32
Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing 34
Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik 38 Komposisi Pembiayaan Program Diknas 42
Strategi Pembiayaan 43
Sistem Pemantauan dan Evaluasi 44
Landasan Hukum & Prinsip Pelaksanaan 44 Sistematika 45
Mekanisme 46
Kata Pengantar
Dunia sedang mengalami berbagai pergeseran dan perubahan, mulai dari yang sifatnya kebijakan, kesepakatan, maupun strategi-strategi untuk bertahan dari masing-masing negara. Gelombang perubahan yang terjadi di Indonesia baik yang bersifat politik, ekonomi, sosial dan budaya membawa dampak yang begitu besar bagi semua komponen bangsa ini, tidak terkecuali Departemen Pendidikan Nasional. Tentu saja perubahan ini mendatangkan konsekuensi, terutama dalam bentuk pengujian terhadap kemampuan departemen ini memenuhi harapan-harapan dari seluruh stakeholders-nya.
Ketika membangun manusia melalui pendidikan, sistem yang kita bangun dituntut tidak hanya untuk membangun kemampuan intelektual peserta didik. Sistem harus mampu pula membangun kemampuan untuk mengekspresikan dan mengatualisasikan dirinya melalui buah pikiran dan perasaannya dengan tetap
memperhatikan moral, etika, dan kaidah-kaidah agama. Tidak hanya itu, sistem harus memerhitungkan arena persaingan talenta yang harus dihadapi oleh para lulusan pendidikan nasional di kemudian hari.
Dengan menyadari penuh kenyataan itulah, maka Departemen Pendidikan melahirkan visi pembangunan, yaitu Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif 2025.
Sebelum rencana strategis 2005-09 ini dikeluarkan dan dijadikan pedoman, Departemen Pendidikan Nasional terlebih dahulu mengadakan pertemuan dengan pemerhati pendidikan Indonesia pada tanggal 29 Desember 2005. Dalam acara curah pendapat tersebut, diundang berbagai kalangan, mulai dari DPR, BAPPENAS, Departemen Keuangan, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, budayawan, dan industrialis.
Setelah memperhatikan masukan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan nasional, jajaran Departemen Pendidikan difasilitasi oleh Konsultan Perencanaan ulung AndrewTani & Co. Telah menyusun sebuah Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional 2005–09 bertemakan Peningkatan Kapasitas dan Modernisasi. Dalam metoda Orbex yang diterapkan, rencana strategis tersebut menjadi batu loncatan (stepping stone) untuk
periode-periode pembangunan sistem pendidikan nasional ke depan sampai dengan tahun 2025. Periode pembangunan 2010-2015 bertemakan Penguatan Pelayanan, 2015-2020: Daya Saing Regional, dan 2020-2025: Daya Saing Internasional.
Selama kurun waktu pembangunan tersebut, seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan dalam rangka mengemban misi yang pada hakikatnya adalah mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia cerdas dan kompetitif, yang berkeadilan, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal dan global. Misi itulah yang menyemangati motto kami ke depan, yaitu Pendidikan Bermutu Untuk Semua.
Tentu pendidikan nasional tidak semata-mata merupakan tugas sendiri Depdiknas, Dinas Pendidikan yang ada di Propinsi/Kabupaten/Kota, serta 250,000 lebih satuan pendidikan yang dinaunginya. Sebutlah legislatif, eksekutif, judisial, para orangtua, para pemimpin agama, para pelaku media massa, para pemerhati pendidikan, kalangan industri dan UKM. Tidak satupun komponen bangsa yang luput dari upaya pencerdasan yang kita hadapi ini.
Dokumen ini akan menjadi acuan dasar perencanaan, implementasi, dan pemantauan gerak langkah pendidikan nasional. Harapan kami adalah Renstra ini menjadi pemersatu hati dan gerak laju ke depan, serta menjadi alat koordinasi bagi seluruh instansi dan satuan terkait.
Jakarta, Januari 2006
Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo
Penyatuan Bahasa dan Proses Konsultasi
RPJM merupakan penjabaran visi, misi, dan program kerja Presiden terpilih untuk lima tahun mendatang dan akan menjadi pedoman bagi kementerian negara dalam menyusun Renstra Kementerian/Lembaga, termasuk Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan Renstra melibatkan berbagai pihak yang terkait. Dalam perjalanannya, Departemen Pendidikan Nasional juga meminta masukan dan saran dari para pemerhati pendidikan Indonesia yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari perwakilan DPR, BAPPENAS, Departemen Keuangan, perwakilan dunia pendidikan, budayawan, dan industrialis.
Terdapat dua hal yang menjadi dasar penyusunan Renstra ini. Pertama adalah keadaan yang diinginkan di masa depan (das sollen) yang disesuaikan dengan rencana dan program Presiden terpilih. Kedua adalah kondisi saat sekarang (das sein).
Untuk mencapai kondisi das sollen, juga diperhitungkan tantangan dan hambatan yang akan dihadapi dalam perjalanan tersebut. Diantaranya adalah kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pertimbangan lain yang juga sangat mempengaruhi penyusunan Renstra ini adalah adanya kebijakan otonomi daerah. Keputusan terhadap otonomi daerah ini berdampak pada pengelolaan terhadap sistem dan sumber daya yang ada, termasuk mekanisme dan sistem kerja. Otonomi ini juga mempengaruhi masalah pendanaan, karena itu harus ada kesepakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga program-program yang sudah dirancang dapat dijalankan.
Untuk memastikan bahwa Renstra telah disusun dengan baik, Depdiknas menjalin kerjasama dengan konsultan manajemen. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan Depdiknas untuk dapat bertransformasi diri secara terus menerus seiring perubahan-
Paradigma Dinamis
Paradigma Pengelolaan Organisasi Orbex
perubahan yang terjadi yang terjadi di lingkungan. Paradigma yang digunakan dalam proses tersebut adalah Organizing for Business Excellence (Orbex).
Orbex menampilkan eksistensi organisasi sebagai suatu entitas konseptual yang terdiri atas tujuh elemen yang mengisi tiga ruang waktu yaitu masa lampau, masa kini dan masa depan.
Empat diantara tujuh elemen tersebut mewakili dua sisi organisasi yang harus dikelola dengan cara yang berbeda.
Ada sisi teknis yang pengelolaannya menuntut ilmu manajemen dan ada sisi sosial atau manusia yang menuntut seni kepemimpinan.
Penyatuan Bahasa dan Proses Konsultasi (lanjutan)
Dengan kerangka Orbex, peran pemimpin dibedakan menjadi dua,peran yang bersifat operasional dan peran yang bersifat strategis.
Peran tandem tersebut berbagi upaya melakukan artikulasi, eksekusi, dan orkestrasi yang tepat atas ke tujuh elemen untuk menghasilkan kinerja operasi yang sangat baik (operating excellence yang
merupakan tanggung jawab operasional) sekaligus menghasilkan keunggulan strategis (strategic excellence yang merupakan tanggung jawab strategis). Dengan demikian organisasi dapat meraih sukses dalam rentang waktu yang panjang. Untuk itu mereka mengandalkan jaringan tim yang dipimpin oleh para manajer-pemimpin yang terlatih dalam membangun dan membina kohesi, kejelasan, koherensi, kompetensi, dan koordisasi yang berhulu pada pengurus-pengurus tertinggi organisasi.
Penyusunan Renstra memerhatikan beberapa masukan dari temuan dalam telaah sektor pendidikan (Education Sector Review, 2004) terutama mengenai penetapan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional, yaitu 1) Pemerataan dan Perluasan Akses; 2) Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing; serta 3) Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik. Renstra Depdiknas merancang strategi dan program pembangunan berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas dan Peraturan-Peraturan Pemerintah yang memuat sejumlah pokok-pokok pembaharuan mendasar dalam sistem pendidikan
nasional ke depan. Selain itu penyusunan juga memperhatikan tugas pokok dan fungsi setiap tingkat pemerintahan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
Dalam kaitan dengan pelaksanaan kebijakan desentralisasi pemerintahan, Renstra merupakan pedoman penyusunan rencana strategis dan
operasional bagi Gubernur, Bupati/Walikota termasuk Kepala Dinas Pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan operasional daerah.
secara efektif berdasarkan urusan wajib, urusan pilihan, dan sumberdaya pendukung yang tersedia. Implikasinya, pengelolaan pelayanan pendidikan perlu memperkuat mekanisme partisipasi dan akuntabilitas publik di setiap tingkatan manajemen pendidikan.
Renstra Depdiknas 2005-2009 yang konsisten dengan prinsip desentralisasi dan otonomi akan menciptakan rasa kepemilikan (ownership) dan pemahaman yang optimal atas peran masing-masing stakeholders dalam pelayanan pendidikan yang efektif bagi masyarakat.
Depdiknas perlu memperjelas dan memperkuat fungsi-fungsi barunya dalam pelayanan pendidikan, seperti dalam penetapan kebijakan nasonal, standardisasi nasional pendidikan, pengendalian dan penjaminan mutu berdasarkan penilaian kinerja, serta harmonisasi dan koordinasi sesuai dengan delegasi fungsi, urusan, dan tanggungjawab dari masing-masing tingkat pemerintahan, satuan pendidikan, dan masyarakat.
Proses penyelarasan Renstra yang telah disusun oleh Depdiknas telah mencakup kegiatan-kegiatan pokok, antara lain: (a) pembentukan kelompok kerja Renstra oleh Mendiknas pada bulan Februari 2005, (b) analisis komprehensif dan pembahasan oleh para pengambil keputusan di Depdiknas termasuk hasil temuan penelitian operasional, (c) konsultasi regional yang melibatkan unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan
Alur Penyusunan Renstra
Terdapat 8 langkah dalam melakukan penyusunan perencanaan strategis organisasi seperti yang ditunjukan pada alur di bawah ini :
4. Kaji kondisi organisasi; Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita bila dibandingkan dengan negara lain? Apa saja faktor kunci keberhasilan dalam menjalankan organisasi ini?
Apa yang menjadi tantangan dan hambatan yang dapat kita hadapi dalam mencapai tujuan yang kita inginkan? Apa saja ukuran kunci kinerja untuk mengukur keberhasilan kita dalam mengelola organsiasi ini?
5. Renungkan visi; Kondisi apa saja yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang? Bila diukur, ukuran kinerja kunci yang sudah di-tetapkan pada tahap sebelumnya menunjukkan nilai berapa saja? Secara bertahap, repelita demi repelita, tonggak-tonggak apa yang dapat mengukur kemajuan upaya organisasi mendekatkan ke kondisi yang diinginkan tersebut?
6. Lengkapi rencana pembangunan jangka panjang; Dalam rangka mendekatkan kondisi usaha ke arah yang telah ditetapkan sebelumnya, perubahan apa saja yang perlu diterapkan dalam repelita yang pertama? Perubahan apa yang akan diusahakan?
7. Rumuskan rencana pembangunan jangka menengah; Langkah-langkah besar apa saja yang dituntut dalam situasi yang sedang ditelaah, repelita demi repelita, program, kegiatan, organisasi, dan manusia? Teknologi apa yang akan diusahakan?
8. Rumuskan kegiatan dan program tahunan; Secara rinci, langkah-langkah apa saja yang dituntut untuk dilaksanakan dari tahun ke tahun, di program, kegiatan, organisasi, dan manusia? Khusus untuk tahun pertama, langkah tindakan apa saja yang dibutuhkan?
Prioritasnya? Nilai investasinya? Keuntungan apa saja yang dapat membenarkan investasi tersebut? Kapan dapat memastikan bahwa pelaksanaannya berjalan sesuai harapan?
FORMULASI MISI
KAJI KINERJA MASA LALU
KAJI KONDISI LINGKUNGAN
KAJI KONDISI ORGANISASI
FORMULASI VOYAGE PLAN
FORMULASI RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG
FORMULASI RENCANA
PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH
FORMULASI RENCANA TAHUNAN
1. Renungkan misi; Apa saja yang menjadi tujuan dasar yang melatar-belakangi pendirian organisasi? Misi menguraikan maksud keberadaan usaha. Demi kepentingan siapa, kehadiran organisasi di lapangan.
2. Lengkapi data position audit; Apa yang sudah kita lakukan di masa lalu? Berada di mana organisasi ini sekarang? Cara-cara apa saja yang digunakan untuk mencapai tujuan?
3. Kaji kondisi Lingkungan; Peluang seperti apa yang ada? Ancaman seperti apa yang sedang dihadapi? Bagaimana dengan peluang dan ancaman di masa yang akan datang?
Misi & Motto Depdiknas C. Hasil-hasil
MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG MAMPU MEMBANGUN INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF, YANG BERKEADILAN, BERMUTU, DAN RELEVAN DENGAN
KEBUTUHAN MASYARAKAT LOKAL DAN GLOBAL.
Misi ini dilaksanakan dengan prinsip-prinsip:
Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa;
Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multi makna;
Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat;
Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran;
Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat;
Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
(
UU Pendidikan Nasional No. 20 Pasal 4 Tahun 2003)
MISI
MOTTO
Visi pada halaman sebelumnya diturunkan ke dalam Misi Departemen Pendidikan Nasional untuk dijadikan pedoman kerja kongkrit dalam mencapai sasaran sistem pendidikan nasional.
Motto dibuat sedemikian rupa sebagai sumber spirit bagi Departemen Pendidikan Nasional dalam mencapai visi dan misi yang telah dicanangkan.
Analisis Situasi C. Hasil-hasil
Tema Pokok Variabel Penjelasan Keterangan
Akses Pendidikan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Cenderung mengalami penurunan sejak tahun 1995, sedikit membaik pada tahun 2004 – 2005, dengan naik satu peringkat (peringkat 111 ke 110).
Faktor penyebab utama adalah penurunan kinerja perekonomian Indonesia (krisis 1997)
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hanya 25.3% anak usia 0-6 tahun memperoleh layanan PAUD, 32.36% anak usia 5-6 tahun memperoleh layanan pendidikan TK
Jumlah ini pada umumnya berasal dari keluarga mampu di daerah perkotaan
Angka Partisipasi Sekolah (APS) Prosentase partisipasi sekolah yang paling besar ada pada tingkatan usaia 7-12 tahun (96.8%) dan usia 13-15 tahun (83.5%) dan cenderung menurun hingga tingkat perguruan tinggi (14.6%)
Alasan utama adalah faktor ekonomi yang diantaranya menyebabkan kekurangan biaya sekolah dan timbulnya pemikiran praktis untuk segera bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup
Kesenjangan Angka Partisipasi Pendidikan Antara Golongan Ekonomi, Wilayah, dan Jenis Kelamin
• Angka kesenjangan partisipasi pendidikan terkecil (dari sudut golongan ekonomi) adalah pada usia 7-12 tahun (98.7% untuk golongan ekonomi mampu, 94% untuk golongan ekonomi tidak mampu), dan yang terbesar adalah pada usia 16-18 tahun (76.1% untuk golongan ekonomi mampu, 32.7% untuk golongan ekonomi tidak mampu). Kesenjangan ini semakin besar untuk partisipasi pendidikan di tingkat menengah dan perguruan tinggi sejak tahun 2002.
• Kesenjangan berdasarkan jenis kelamin relatif tidak signifikan dibandingkan kondisi 20 tahun yang lalu
• Kesenjangan pendidikan antar perkotaan dan pedesaan adalah sebesar 15-20% (2004)
• Faktor utama adalah kurangnya biaya sekolah dan pemikiran praktis untuk segera bekerja
• Meningkatnya kesadaran keseteraan gender yang berakibat pada kesetaraan hak (pendidikan) antar laki-laki dan perempuan
• Akses pendidikan dan ketersediaan sarana prasarana pendidikan yang tidak seimbang antar kedua wilayah
Melek Aksara Angka terbesar ada pada tingkatan usia 15-24 tahun (98.7%) Upaya wajib belajar 9 tahun membantu peningkatan angka melek aksara
Mutu Pendidikan
Kesiapan siswa Siswa yang mengalami kekurangan gizi mempengaruhi kesiapannya dalam menerima proses pendidikan yang berkualitas (Depkes tahun 2003: 28% balita mengalami kekurangan gizi dan 50% mengalami cacingan)
Ketersediaan Tenaga Pengajar
Kuantitas: Tahun 2004 secara keseluruhan rasio ideal ada di tingkat pendidikan dasar sampai menengah, hanya jumlah yang lebih besar masih terkonsentrasi di daerah perkotaan.
Kualitas: ketidak sesuaian keahlian tenaga pengajar dengan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya, yang mencapai angka rata-rata 40% (untuk tingkat SD, SMP, SMA, SMK). Kualifikasi tenaga pengajar di tingkat perguruan tinggi yang memiliki pendidikan S2/S3 secara keseluruhan hanya berkisar rata-rata 44.5%
Upah guru yang lebih rendah dari negara tenaga tetangga serta perlindungan terhadap hak-hak guru yang belum optimal turut menghambat proses peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga pengajar di tingkat SD hingga SMA
Tabel berikut memuat rangkuman dari gambaran situasi pendidikan di Indonesia yang dibagi ke dalam 3 tema pokok: Akses Pendidikan; Mutu Pendidikan; Tata kelola Departemen Pendidikan nasioal.
Hasil analisa terhadap kondisi pendidikan di Indonesia menjadi salah satu dasar yang digunakan dalam merancang rencana strategis. Data diperoleh dari berbagai sumber yang berlaku pada periode 2002 – 2005.
Analisis Situasi (lanjutan) C. Hasil-hasil
Tema Pokok Variabel Penjelasan Keterangan
Mutu Pendidikan (lanjutan)
Anggaran Pendidikan Alokasi anggaran untuk pendidikan masih hanya mencapai 6.6% dari APBN dan sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga lain (1.3% dari PDB)
Prasarana dan Sarana Pendidikan
Ketersediaan sarana penunjang yang minim dan penyebarannya yang tidak merata. Beberapa contoh kasus adalah ketidaklayakan kondisi ruang belajar yang terbesar ada di tingkat SD sebesar 57.9%., rasio ketersediaan buku dan siswa yang tidak mencapai 1:1 untuk tingkat SD hingga SMA, ketertinggalah penggunaan ICT dibanding negara tetangga
Hal ini terutama mempengaruhi kenyamanan proses belajar mengajar
Metoda pembelajaran
Proses belajar mengajar cenderung kurang menarik dan tidak menciptakan kreativitas pada siswa Berorientasi pada teori dan hafalan
Penekanan lebih pada otak kiri
Hal berlaku hampir untuk semua jenjang pendidikan SD – SMA
Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan Lapangan Kerja
Pemeringkatan Internasional yang menaruh Indonesia pada peringkat 12 dari 12 menunjukkan sistem pendidikan Indonesia yang kurang relevan dengan kebutuhan pembangunan. Meski kontribusi sektor primer masih memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi (43%) namun sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB justru memiliki daya serap tenaga kerja yang terkecil (14%), sementara sektor pertanian yang memberikan kontribusi terkecil terhadap PDB memiliki daya serap tertinggi
Penguatan sektor industri tidak diikuti oleh penguatan di sektor pendidikan dan kultur masyarakat yang msih cenderung agraris
Kemampuan Wirausaha Lulusan PT lebih banyak menjadi pekerja, sementara lulusan SD dan SMP menunjukkan angka tinggi untuk melakukan wirausaha
Tata Kelola Departemen Pendidikan Nasional
Model Pengelolaan Pendidikan Pengembangan model desentralisasi pengelolaan pendidikan oleh pemerintah untuk lebih menguatkan inisiatif masing-masing lembaga pendidikan guna meningkatkan kualitas layanan pendidikannya terhadap masyarakat
Sistem informasi manajemen yang belum terbangun dengan baik menyebabkan proses ini belum berjalan secara optimal dan menyulitkan kendali pemerintah atas kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pendidikan tersebut
VISI 2025
Sesuai UU Pendidikan Nasional No. 20 Pasal 3 Tahun 2003, maka pendidikan nasional harus mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pada tahun 2025, Sistem Pendidikan Nasional berhasrat menghasilkan:
INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF (Insan Kamil / Insan Paripurna)
Visi Depdiknas 2025 C. Hasil-hasil
Makna Insan Indonesia Kompetitif
• Berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan
• Bersemangat juang tinggi
• Mandiri
• Pantang menyerah
• Pembangun & pembina jejaring
• Bersahabat dengan perubahan
• Inovatif dan menjadi agen perubahan
• Produktif
• Sadar mutu
• Berorientasi global
• Pembelajar sepanjang hayat Kompetitif
• Gandrung akan olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdaya- tahan, sigap, terampil, dan trengginas
• Aktualisasi insan adiraga
Cerdas kinestetik
• Gandrung akan olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan & teknologi
• Aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif dan imajinatif
Cerdas intelektual
• Gandrung akan olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas terhadap kehalusan dan keindahan, serta meningkatkan kemampuan ekspresi estetis
• Aktualisasi insan sosial yang mampu membina hubungan timbal balik, empatik dan simpatik, ceria dan percaya diri, menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara, serta berwawasan kebangsaan yang sadar akan hak dan kewajiban warga negara
Cerdas emosional & sosial
• Gandrung akan olah hati/kalbu untuk menumbuhkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia
Cerdas spiritual
Makna Insan Indonesia Cerdas
Visi 2025
Diagram berikut menunjukkan penjabaran tema sistem pendidikan nasional pada tahun 2025 (Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif) yang tertuang di dalam visi departemen pendidikan nasional tahun 2025.
Makna dari tema tersebut kemudian dijelaskan secara rinci (Insan Indonesia Cerdas dan Insan Indonesia Kompetitif) pada bagian bawah dari diagram.
Cetak Biru Insan Indonesia Cerdas & Kompetitif 2025
Rencana strategis jangka panjang pemerintah dalam mencapai optimalitas pendidikan di Indonesia tertuang dalam cetak biru yang disebut dengan Cetak Biru Indonesia Cerdas & Kompetitif 2025.
Cetak biru tersebut memuat sasaran akhir yang akan dicapai serta bagaimana peran setiap lembaga yang terkait dalam melakukan perencanaan dan
menurunkannya ke dalam bentuk implementasi baik dalam kerangka jangka panjang maupun jangka pendek.
INDONESIA YANG MAJU DAN M ANDIRI, ADIL DAN DEMOKRATIS SERTA AM AN DAN BERSATU DALAM WADAH NEGARA
KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
DESIRED END-STATE
PLANNING FRAMEWORK
SUPPLY
Sarana
Prasarana
Tenaga pendidik
DEMAND
Peserta didik
DasMen
Dikt i
Non Formal
SUPPLY
………….. t eknik
…………. akunt an
…………. dokt er
…………..perawat
…………..lain-lain
DEMAND
Dalam Negeri
Local hires
Onshoring
Luar Negeri
TKI
= =
SISTEM PENDIDIKAN TALENT MARKET
INSAN INDONESIA CERDAS & KOMPETITIF 2025
RKP &
APBN RKAKL & DIPA
RKAKL & DIPA Depart em en
Program dan Anggaran Tahunan
20 t ahun
5 t ahun
Tahunan
Sumber: Visi 2025 - Bappenas
SATUAN PENDIDIKAN
RPJM 2009
Renst ra Unit Ut ama
Renst ra 2009 Depdiknas
Renst ra Unit Ut ama
Renst ra 2009 Depdiknas
Renst ra 2009 Depart emen Terkait &
Dinas Pendidikan
Renst ra 2009 Sat uan Pendidikan RPJP 2025
RPJP Unit Ut ama
RPJP 2025 Depdiknas
RPJP Unit Ut ama
RPJP 2025 Depdiknas
RPJP 2025 Depart emen Terkait &
Dinas Pendidikan
RPJP 2025 Sat uan Pendidikan DEPARTEMEN TERKAIT &
DINAS PENDIDIKAN DAERAH DEPDIKNAS
PEMERINTAH PUSAT CAKRAWALA
PERENCANAAN
• INPUT VALUES yang tepat dapat mencegah kegagalan dan kekeliruan dalam proses rekrutmen pegawai Depdiknas
• PROCESS VALUES yang dapat dipahami dan tertanam dengan baik akan meningkatkan mutu interaksi antar manusia dan kinerja
• OUTPUT VALUES yang dipikirkan dengan baik akan memfokuskan organisasi kepada hal-hal yang diharapkan agar dapat mempertahankan hasil pelayanan yang berkualitas
I P O Values Framework
Tata Nilai Depdiknas
Tim Perumus:
Agus Dharma Supeno Sutrisno Diah Sujarwo Surya Dharma Muhaswat Dwiyanto
Dalam menjalankan kerjanya mencapai sasaran Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif, Departemen Pendidikan Nasional perlu memiliki tatanan nilai-nilai yang menjadi dasar dari setiap aktivitas implementasi.
Nilai-nilai tersebut dikategorikan menjadi 3 bagian besar yaitu input, process, dan ouput values dan memiliki indikator nilai yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dari setiap kategori nilai tersebut,
• Visioner dan Berwawasan
• Menjadi Teladan
• Memotivasi (Motivating)
• Mengilhami (Inspiring)
• Memberdayakan (Empowering)
• Membudayakan (Culture-forming)
• Taat Azas
• Koordinatif dan Bersinergi dalam Kerangka Kerja Tim
• Akuntabel
• Amanah / Trustworthiness
• Profesional dan Percaya Diri
• Antusias dan Bermotivasi Tinggi
• Bertanggung Jawab
• Kreatif
• Disiplin
• Peduli
KEPEMIMPINAN & MANAJEMEN YG PRIMA
PROCESS VALUES
Nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam bekerja di Depdiknas, dalam rangka mencapai dan mempertahankan
kondisi keunggulan
PEGAWAI DEPDIKNAS
INPUT VALUES
Nilai-nilai yang dapat ditemukan dalam diri setiap pegawai Depdiknas
PEMERATAAN & PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN YANG BERMUTU
OUTPUT VALUES
Nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh mereka yang berkepentingan terhadap Depdiknas
• Produktif (Efektif dan Efisien)
• Gandrung Mutu Tinggi/Service Excellence
• Dapat Dipercaya (Andal)
• Responsif dan Aspiratif
• Antisipatif dan Inovatif
• Demokratis, berkeadilan, dan Inklusif
• Pembelajar Sepanjang Hayat
Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional
Pemerataan dan perluasan akses pendidikan diarahkan pada upaya memperluas daya tampung satuan pendidikan sesuai dengan prioritas nasional, serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik dari berbagai golongan masyarakat yang berbeda baik secara sosial ekonomi, gender, lokasi tempat tinggal dan tingkat kemampuan intelektual serta kondisi fisik. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas penduduk Indonesia untuk dapat belajar sepanjang hayat dalam rangka peningkatan daya saing bangsa di era global, serta meningkatkan peringkat IPM hingga mencapai posisi sama dengan atau lebih baik dari peringkat IPM sebelum krisis. Untuk itu, sampai dengan tahun 2009 dilakukan upaya-upaya sistematis dalam pemerataan dan perluasan pendidikan, dengan mempertahankan APM-SD pada tingkat 94%, memperluas SMP/MTs hingga mencapai APK 97,4% atau APM 75,5% serta menurunkan angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas hingga 5%.
PEMERATAAN &
PERLUASAN AKSES PENDIDIKAN
Penyediaan Sarana &
Prasarana Pendidikan Wajar
1.2
Penyediaan Sarana &
Prasarana Pendidikan Wajar
1.2
Pendanaan Biaya Operasi Wajar
1.1
Pendanaan Biaya Operasi Wajar
1.1
Rekrutmen Pendidik dan Tenaga Kependidikan
1.3
Rekrutmen Pendidik dan Tenaga Kependidikan
1.3
Perluasan Akses Pendidikan Wajar pada Jalur Non-
Formal
1.4
Perluasan Akses Pendidikan Keaksaraan bagi Penduduk
usia > 15 tahun
1.5
Perluasan Akses SLB dan Sekolah Inklusif
1.6
Pengembangan Sekolah Wajar Layanan Khusus bagi
Daerah Terpencil/
Kepulauan yang Berpenduduk Jarang dan
Terpencar
1.7
Perluasan Akses PAUD
1.8
Pendidikan Kecakapan Hidup
1.9
Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam
Perluasan Akses SMA/SMK/SM Terpadu, SLB,
dan Perguruan Tinggi
1.13
Pemanfaatan ICT sebagai Media Pembelajaran
Jarak Jauh
1.12
Perluasan Akses Perguruan Tinggi
1.11
Perluasan Akses SMA/SMK dan SM Terpadu
1.10
Kebijakan dalam Pemerataan dan Perluasan Akses Pendidikan
Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional
Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing di masa depan diharapkan dapat memberikan dampak bagi perwujudan eksistensi manusia dan interaksinya sehingga dapat hidup bersama dalam keragaman sosial dan budaya.
Selain itu, upaya peningkatan mutu dan relevansi dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat serta daya saing bangsa. Mutu pendidikan juga dilihat dari meningkatnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai humanisme yang meliputi keteguhan iman dan takwa serta berahlak mulia, etika, wawasan kebangsaan, kepribadian tangguh, ekspresi estetika, dan kualitas jasmani. Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan diukur dari pencapaian kecakapan akademik dan non-akademik yang lebih tinggi yang memungkinkan lulusan dapat proaktif terhadap perubahan masyarakat dalam berbagai bidang baik ditingkat lokal, nasional maupun global.
Kebijakan dalam Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing PENINGKATAN
MUTU, RELEVANSI
& DAYA SAING
Penjaminan Mutu Secara Terprogram dengan
Mengacu pada SNP
2.2
Penjaminan Mutu Secara Terprogram dengan
Mengacu pada SNP
2.2
Implementasi dan Penyempurnaan SNP &
BSNP
2.1
Implementasi dan Penyempurnaan SNP &
BSNP
2.1
Perluasan dan Peningkatan Mutu Akreditasi
2.3
Perluasan dan Peningkatan Mutu Akreditasi
2.3
Pengembangan Guru sebagai Profesi
2.4
Pengembangan Kompetensi Pendidik dan Tenaga
Kependidikan
2.5
Perbaikan Sarana dan Prasarana
2.6
Pengembangan Sekolah Berbasis Keunggulan Lokal
di setiap Kabupaten/Kota
2.8
Perluasan Pendidikan Kecapakan Hidup
2.7
Penerapan Telematika dalam Pendidikan Pembangunan Sekolah Bertaraf Internasional di setiap Provinsi dan/atau
Kabupaten/Kota
2.13
Peningkatan Jumlah dan Mutu Publikasi Ilmiah dan
HAKI
2.12
Akselarasi Jumlah Prodi, Kejuruan, Vokasi & Profesi
2.11
Mendorong Jumlah Jurusan di PT Masuk dalam 100
Besar Asia
2.10 2.9
Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional
Kebijakan dalam Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik
Tujuan jangka panjang Depdiknas adalah mendorong kebijakan sektor agar mampu memberikan arah reformasi pendidikan secara efektif, efisien dan akuntabel. Kebijakan ini diarahkan pada pembenahan perencanaan jangka menengah dengan menetapkan kebijakan strategis serta program-program yang didasarkan pada urutan prioritas. Di samping itu, disusun pula pola-pola pendanaan bagi keseluruhan sektor berdasarkan prioritas, baik dari sumber Pemerintah, orangtua maupun stakeholder lain di setiap tingkat pemerintahan.
Pengelolaan pendidikan nasional menggunakan pendekatan secara menyeluruh dari sektor pendidikan (sector-wide approach) yang bercirikan: (a) program kerja disusun secara kolaboratif dan sinergis untuk menguatkan implementasi kebijakan pada semua tingkatan, (b) reformasi institusi dilaksanakan secara berkelanjutan yang didukung program pengembangan kapasitas, dan (c) perbaikan program dilakukan secara berkelanjutan dan didasarkan pada evaluasi kinerja tahunan yang dilaksanakan secara sistematis dan memfungsikan peran-peran stakeholder yang lebih luas.
PENGUATAN TATA KELOLA, AKUNTABILITAS &
PENCITRAAN PUBLIK
Penataan Regulasi Pengeloaan Pendidikan
3.2
Peningkatan SPI Berkoordinasi dengan BPKP & BPK
3.1
Peningkatan Kapasitas &
Kompetensi Aparat dalam Perencanaan dan Penganggaran
3.3
Peningkatan Kapasitas &
Kompetensi Manajerial Aparat
3.4
Peningkatan Ketaan Aparat pada Peraturan Perundang-undangan
3.5
Peningkatan Kapasitasn &
Kompetensi Pengelola Pendidikan
3.6
Peningkatan Pencitraan Piublik
3.7
Peningkatan Kapasitas &
Kompetensi Pemeriksaan Aparat Itjen
3.8
Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pemeriksaan oleh Itjen,
BPKP & BPK
3.11
Intensifikasi Tindakan-tindakan Preventif oleh Itjen
3.10
Pelaksanaan Inpres no. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan
Pemberantasan KKN
3.9
Penyelesaian Tindak Lanjut Temuan-temuan Pemeriksaan
Itjen, BPKP & BPK
3.12
Pengembangan Aplikasi SIM secara terintegrasi (Keuangan,
Asset, Kepegawaian, dan Data lainnya)
3.13
Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Sekretariat Jenderal
Visi dan Misi Departemen Pendidikan Nasional dijabarkan lebih lanjut dalam diagram Rencana Pembangunan Jangka Panjang di bawah ini. Rencana pembangunan ini dibagi dalam 4 tahapan pembangunan.
Setiap tahapan memiliki sasaran, program, dan ukuran pencapaiannya masing-masing yang terintegrasi menuju sasaran akhir tahun 2025.
PERIODE
PEMBANGUNAN 2005 – 2009 2010 - 2015 2015 - 2020 2020 - 2025
TEMA
PEMBANGUNAN Peningkatan Kapasitas & Modernisasi Penguatan Pelayanan Daya Saing Regional Daya Saing Internasional
VISI
PEMBANGUNAN INSAN INDONESIA CERDAS & KOMPETITIF
SASARAN PEMBANGUNAN
• UU & PP Guru & Dosen, BHP, Perbukuan, Bahasa
• Sosialisasi Cetak Biru Insan Indonesia Cerdas & Kompetitif 2005
• Sisdur Keuangan & SIM Aset dan Keuangan
• Pelaksanaan aturan PNBP
• Tata nilai kerja dan gaya kepemimpinan khas Depdiknas
• Renstra Diknas, Depag, dan Pemda selaras dgn visi Depdiknas 2025
• Sistem perencanaan, implementasi dan evaluasi strategi
• Kompetensi sebagai dasar dalam penempatan pegawai
• Laporan keuangan Depdiknas wajar tanpa syarat
• % serapan anggaran
• ISO di bidang manajemen
• Perbaikan citra dan peningkatan image Depdiknas dimata publik
• Kemitraan internasional
• Penurunan kerugian anggaran negara
• Depdiknas menjadi benchmark technocracy (Departemen terbaik)
• Sistem & prosedur perencanaan, pengelolaan keuangan, pegawai, & asset tlh dpt dioperasikan
• Citra Depdiknas makin kredibel
• Sistem kelembagaan dan organisasi Depdiknas berfungsi optimal
• Kerjasama internasional di bidang pendidikan semakin berkembang
• Akuntabilitas publik di bidang pendidikan terpelihara
• Sistem layanan Depdiknas sudah memenuhi standar regional/ ASEAN
• Citra Depdiknas di mata ASEAN makin kredibel
• Kerjasama internasional di bidang pendidikan
• Akunntabilitas publik di bidang pendidikan sudah mapan
• Sistem layanan Depdiknas sudah memenuhi standar internasional
• Citra Depdiknas di mata internasional makin kredibel
• Kerjasama internasional di bidang pendidikan
• Akunntabilitas publik di bidang pendidikan sudah mapan
KEGIATAN POKOK PEMBANGUNAN
• Pembentukan nilai-nilai serta budaya kerja yang konstruktif
• Pengembangan sisdur perencanaan, pengelolaan keuangan, pegawai, dan asset
• Peningkatan akuntabilitas publik dalam pelayanan pendidikan
• Pengembangan/revitalisasi kelembagaan, termasuk tupoksinya
• Peningkatan sosialisasi dan publikasi kebijakan dan program Depdiknas
• Intensifikasi penyelesaian RPP dan RUU
• Peningkatan standar kompetensi teknis dan manajerial SDM
• Pengembangan public trust & image
• Peningkatan kerjasama Depdiknas dengan mitra internasional, baik bilateral maupun multilateral
• Memperkuat sistem pengelolaan kelembagaan berbasis kinerja
• Penguatan Sistem dan prosedur perencanaan, pengelolaan keuangan, pegawai, dan asset
• Penguatan citra Depdiknas
• Pemantapan fungsi kelembagaan
• Penguatan dan perluasan kerjasama internasional di bidang pendidikan
• Penguatan akuntabilitas publik
• Peningkatan/pengembangan layanan pendidikan
• Pemeliharaan dan peningkatkan citra Depdiknas
• Pemantapan kerjasama internasional di bidang pendidikan
• Pemantapan akuntabilitas publik di bidang pendidikan
• Pemantapan layanan pendidikan
• Pemeliharaan dan peningkatkan citra Depdiknas
• Pemantapan dan peningkatan kerjasama internasional di bidang pendidikan
• Pemantapan akuntabilitas publik di bidang pendidikan
UKURAN KINERJA KUNCI
Penguatan Tata Kelola (Governance), Akuntabilitas dan Pencitraan Publik
• Disahkannya UU Guru & Dosen, BHP, Perbukuan, Bahasa
• Dikeluarkannya Peraturan Pemerintah tentang Sistem Pendidikan Nasional, Guru & Dosen, BHP, Perbukuan dan Bahasa
• Terlaksananya sosialisasi Cetak Biru Insan Indonesia Cerdas &
Kompetitif 2005
• Sisdur Keuangan & SIM Aset dan Keuangan mulai diaplikasikan
• Depdiknas menjadi rujukan dalam pengelolaan kelembagaan
• Tertatanya sistem dan prosedur perencanaan , pengelolaan keuangan, pegawai, dan asset:
• Laporan keuangan Depdiknas dinilai wajar tanpa syarat oleh BPK (2009)
• RKAKL tersusun tepat waktu dan akurat
• Seluruh asset Depdiknas tercatat dan terdokumentasikan dengan lengkap
• Sistem layanan pendidikan sudah sejajar dengan negara-negara maju di ASEAN
• Citra positif Depdiknas sudah mapan
• Kerjasama internasional di bidang pendidikan makin mantap
• Sistem dan prosedur kerja sudah berjalan sesuai standar sistem dan prosedur kerja
• Sistem layanan pendidikan sudah memenuhi standar pelayanan internasional
• Citra positif Depdiknas makin mapan
• Kerjasama internasional di bidang pendidikan makin mantap
• Sistem dan prosedur kerja sudah berjalan sesuai standar sistem dan prosedur kerja
Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Sekretariat Jenderal (lanjutan)
Visi dan Misi Departemen Pendidikan Nasional dijabarkan lebih lanjut dalam diagram Rencana Pembangunan Jangka Panjang di bawah ini. Rencana pembangunan ini dibagi dalam 4 tahapan pembangunan.
Setiap tahapan memiliki sasaran, program, dan ukuran pencapaiannya masing-masing yang terintegrasi menuju sasaran akhir tahun 2025.
PERIODE
PEMBANGUNAN 2005 – 2009 2010 - 2015 2015 - 2020 2020 - 2025
TEMA
PEMBANGUNAN Peningkatan Kapasitas & Modernisasi Penguatan Pelayanan Daya Saing Regional Daya Saing Internasional
VISI
PEMBANGUNAN INSAN INDONESIA CERDAS & KOMPETITIF
UKURAN KINERJA KUNCI
• Sisdur Keuangan & SIM Aset dan Keuangan mulai diaplikasikan
• Terlaksananya aturan PNBP yang meningkatkan citra baik Depdiknas
• Disepakati dan diterapkannya tata nilai dan gaya kepemimpinan khas Depdiknas
• Selarasnya renstra Diknas, Depag, dan Pemda dengan visi Depdiknas 2025
• Diterapkannya sistem perencanaan, implementasi dan evaluasi strategi
• Digunakannya kompetensi sebagai dasar dlm penempatan pegawai
• Tercapainya status wajar tanpa syarat terhadap laporan keuangan Depdiknas dinilai oleh BPK
• Tercapainya 95% serapan anggaran
• Memperoleh ISO di bidang manajemen
• Membaiknya citra dan image Depdiknas dimata publik
• Meningkatkan jumlah program kemitraan internasional
• Menurunnya % kerugian anggaran negara
• Sistem pengelolaan kepegawaian berlangsung secara efisien dan efektif
• Depdiknas memperoleh ISO di bidang manajemen
• Daya serap anggaran Depdiknas sesuai dengan target dan waktu
• Anggaran Depdiknas meningkat secara signifikan (di atas 20%)
• Rating pelayanan Depdiknas terbaik
• Suplai dan demand pendidikan selaras
• Makin meningkat dan mantapnya program kemitraan internasional
• Meningkatnya transparansi dan kepercayaan masyarakat terhadap Depdiknas
Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Inspektorat Jenderal
Visi dan Misi Departemen Pendidikan Nasional dijabarkan lebih lanjut dalam diagram Rencana Pembangunan Jangka Panjang di bawah ini. Rencana pembangunan ini dibagi dalam 4 tahapan pembangunan.
Setiap tahapan memiliki sasaran, program, dan ukuran pencapaiannya masing-masing yang terintegrasi menuju sasaran akhir tahun 2025.
PERIODE
PEMBANGUNAN 2005 - 2009 2010 - 2015 2015 - 2020 2020 - 2025
TEMA PEMBANGUNAN
Peningkatan Kapasitas &
Modernisasi Penguatan Pelayanan Daya Saing Regional Daya Saing Internasional
VISI
PEMBANGUNAN INSAN INDONESIA CERDAS & KOMPETITIF
SASARAN PEMBANGUNAN
• Pengembangan sistem pengendalian internal (SPI)
• Peningkatan kompetensi dan kapasitas aparat Itjen
• Peningkatan ketaatan pengelola pendidikan terhadap peraturan perundang-undangan
• Penataan organisasi dan tata kerja pengawasan pendidikan
• Intensifikasi tindakan preventif pengawasan Itjen
• Intensifikasi dan ekstensifikasi pengawasan
• Peningkatan penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pengawasan (aparat pengawasan fungsional, legislatif, dan masyarakat).
• Perluasan sistem pengendalian internal pada instansi vertikal di daerah dan Dinas Pendidikan
• Pengukuhan kompetensi dan penyeimbangan kapasitas aparat Itjen
• Terwujudnya efisiensi, efektifitas, dan sinergi pengawasan pendidikan
• Intensifikasi tindakan preventif pengawasan Itjen sampai dengan instansi vertikal di daerah dan Dinas Pendidikan
• Peningkatan penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pengawas
• Sistem pengendalian internal pendidikan sampai pada tingkat satuan pendidikan.
• Pengakuan atas kompetensi auditor pendidikan di kalangan auditor di luar Itjen Depdiknas
• Pengakuan atas pengelolaan organisasi dan tata kerja pengawasan sesuai dengan standarisasi regional
• Pengakuan atas mutu tindakan preventif pengawasan Itjen oleh pihak pengguna
• Pengakuan mutu pengawasan Itjen oleh pihak pengguna
• Para auditan sadar akan pentingnya penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pengawasan
• Sistem pengendalian internal sesuai dengan standar internasional
• Pengakuan atas kompetensi auditor pendidikan di dunia Internasional.
• Dpengakuan pengelolaan organisasi dan tata kerja pengawasan sesuai dengan standar Internasional (ISO atau sertifikat sejenis)
• Terciptanya citra positif pengawasan pendidikan di mata publik.
• Terciptanya good governance dan clean goverment di lingkungan pendidikan
• Terwujudnya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan pendidikan
KEGIATAN POKOK PEMBANGUNAN
Penguatan Tata Kelola (Governance), Akuntabilitas
dan Pencitraan Publik
• Pengembangan sistem pengendalian internal (SPI)
• Peningkatan ketaatan pengelola pendidikan terhadap peraturan perundang-undangan
• Penataan organisasi dan tata kerja pengawasan pendidikan
• Intensifikasi, ekstensifikasi, dan tindakan preventif pengawasan Itjen
• Peningkatan penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pengawasan (aparat pengawasan fungsional, legislatif, dan masyarakat).
• Peningkatan kompetensi dan kapasitas aparat Itjen
• Sertifikasi kompetensi auditor pendidikan
• Perbaikan perlindungan auditor dan biaya pelaksanaan pemeriksaan
Penguatan Tata Kelola (Governance), Akuntabilitas
dan Pencitraan Publik
• Fasilitasi pembangunan sistem pengendalian internal pada instansi vertikal di daerah dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota
• Sosialisasi ketaatan pada peraturan perundang- undangan dan pencapaian kinerja
• Penerapan ICT dalam pengawasan dini
• Pengembangan pengawasan kinerja melalui peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan aparat pengawas internal dan eksternal
• Penerapan penghargaan dan hukuman dalam tindak lanjut hasil pengawasan
• Pengembangan kualitas dan etika profesi auditor
Penguatan Tata Kelola (Governance), Akuntabilitas
dan Pencitraan Publik
• Penerapan sistem pengendalian internal secara menyeluruh di tingkat nasional
• Pemantapan penerapan ICT dalam pengawasan dini
• Pemantapan pengawasan kinerja, Modernisasi secara menyeluruh penerapan ICT dalam pengawasan, Pemantapan peningkatan kerjasama dan koordinasi dengan aparat pengawas internal dan eksternal
• Penerapan lanjutan penghargaan dan hukuman dalam tindak lanjut hasil pengawasan
• Sosialisasi standar kompetensi dan etika profesi auditor pendidikan melalui media teknologi informasi dan komunikasi (ICT)
Penguatan Tata Kelola (Governance), Akuntabilitas
dan Pencitraan Publik
• Penerapan sistem pengendalian internal sesuai dengan standar internasional
• Evaluasi standar kompetensi auditor pendidikan oleh lembaga internasional untuk memperoleh pengakuan internasional
• Pengakuan organisasi dan tata kerja pengawasan kepada lembaga internasional
• Publikasi keberhasilan pengawasan pendidikan
• Penerapan bebas dari korupsi di lingkungan Depdiknas.
• Pemberian peringkat bagi unit kerja yang akuntabel dan transparan.
UKURAN KINERJA KUNCI
• Terjaminnya keselamatan kerja bagi para auditor
• Pembiayaan pemeriksaan berdasarkan biaya aktual
• Terbentuk dan terlaksananya sistem pengendalian internal di seluruh unit utama Depdiknas
• Lebih dari 90 % auditor Itjen memiliki sertifikat profesi auditor pendidikan dan mendapat penghargaan yang berkaitan dengan etika profesi
• Penyimpangan pengelolaan keuangan < 30%
• Terbentuk dan terlaksananya sistem pengendalian internal di seluruh instansi vertikal di daerah dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota
• Rasio auditor dan auditan adalah 1 : 10 (satu tahun seorang auditor melakukan lima kali pemeriksaan terhadap sepuluh sasaran)
• Penyimpangan pengelolaan keuangan < 15%
anggaran belanja Depdiknas.
• Terlaksananya pembaharuan SPOP audit kinerja
• Terbentuk dan terlaksananya sistem pengendalian internal secara menyeluruh di tingkat nasional,
• Adanya auditor di luar Depdiknas yang mengikuti program sertifikasi kompetensi auditor pendidikan
• Berkurangnya keluhan/pengaduan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan.
• Meningkatnya citra institusi pengawasan pendidikan
• Adanya permintaan pengawasan dini dari auditan,
• Sistem pengendalian internal telah memperoleh ISO atau sertifikat sejenis.
• Uji kompetensi auditor pendidikan telah memperoleh sertifikasi internasional
• Adanya auditor yang mendapatpenghargaan etika dan indenpendensi pada tingkat Internasional
• Tidak ada keluhan atau pengaduan atas pegelolaan pendidikan
• Keberhasilan pengawasan pendidikan telah
Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Inspektorat Jenderal (lanjutan)
Visi dan Misi Departemen Pendidikan Nasional dijabarkan lebih lanjut dalam diagram Rencana Pembangunan Jangka Panjang di bawah ini. Rencana pembangunan ini dibagi dalam 4 tahapan pembangunan.
Setiap tahapan memiliki sasaran, program, dan ukuran pencapaiannya masing-masing yang terintegrasi menuju sasaran akhir tahun 2025.
PERIODE
PEMBANGUNAN 2005 - 2009 2010 - 2015 2015 - 2020 2020 - 2025
TEMA PEMBANGUNAN
Peningkatan Kapasitas &
Modernisasi Penguatan Pelayanan Daya Saing Regional Daya Saing Internasional
VISI
PEMBANGUNAN INSAN INDONESIA CERDAS & KOMPETITIF
UKURAN KINERJA KUNCI
• Terselenggaranya administrasi dan pengawasan dengan menggunakan ICT
• Terselenggaranya kerjasama pengawasan dengan aparat pengawasan internal, eksternal, dan penegak hukum
• Terwujudnya sinkronisasi jadual pelaksanaan pengawasan dalam bentuk program kerja pemeriksaan tahunan (PKPT)
• Temuan sebelum tahun 2005, selesai ditindaklanjuti
• Minimal 50% kasus penyimpangan dapat diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun anggaran berjalan
• Terlaksananya pembaharuan SPOP audit kinerja dan audit keuangan untuk semua jenjang pendidikan.
• Penerapan secara intensif pengawasan dini dengan memanfaatkan ICT
• Adanya kesepahaman dan kesepakatan antar aparat pengawasan internal, eksternal, dan aparat penegak hukum
• 50 % auditan melaksanakan penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan dalam waktu kurang dari 60 hari
• Adanya permintaan dari lembaga donor untuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan pendidikan yang dibiayai dengan loan/grant
• 70 % auditan melaksanakan penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan dalam waktu kurang dari 60 hari
• Seluruh unit kerja di lingkungan Depdiknas telah bebas dari korupsi. Tidak ditemukan penyimpangan dalam pengelolaan pendidikan
Visi dan Misi Departemen Pendidikan Nasional dijabarkan lebih lanjut dalam diagram Rencana Pembangunan Jangka Panjang di bawah ini. Rencana pembangunan ini dibagi dalam 4 tahapan pembangunan.
Setiap tahapan memiliki sasaran, program, dan ukuran pencapaiannya masing-masing yang terintegrasi menuju sasaran akhir tahun 2025.
PERIODE
PEMBANGUNAN 2005 - 2009 2010 - 2015 2015 - 2020 2020 - 2025
TEMA PEMBANGUNAN
Peningkatan Kapasitas &
Modernisasi Penguatan Pelayanan Daya Saing Regional Daya Saing Internasional
VISI PEMBANGUNAN INSAN INDONESIA CERDAS & KOMPETITIF
SASARAN PEMBANGUNAN
• Tercapainya target partisipasi pendidikan tinggi
• Kurikulum PT yang relevan dg kebutuhan pasar
• Setiap PT unggulan memiliki perpustakaan yang memenuhi standar internasional
• Peningkatan jumlah PT unggulan
• Peningkatan jumlah dosen PT yg berkualitas
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar Asia
• Peningkatan publikasi pada jurnal akademis International
• Tercapainya target jumlah PTN sebagai badan hukum
• Peningkatan jumlah buku teks yg ditulils oleh dosen
• Peningkatan jumlah dan kapasitas PT
• Peningkatan jumlah paten
• Tercapainya target partisipasi pendidikan tinggi
• Kurikulum PT yang relevan dgn kebutuhan pasar
• PT unggulan meperoleh akreditasi internasional
• Peningkatan jumlah PT unggulan
• Peningkatan jumlah dosen PT yg berkualitas
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar Asia
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar dunia
• Peningkatan publikasi pada jurnal akademis International
• Tercapainya target jumlah PTN sbg badan hukum
• Peningkatan jumlah buku teks yg ditulils oleh dosen
• Peningkatan jumlah dan kapasitas PTS
• Peningkatan jumlah paten
• Tercapainya target partisipasi pendidikan tinggi
• Kurikulum PT yang relevan dgn kebutuhan pasar
• PT unggulan meperoleh akreditasi internasional
• Peningkatan jumlah PT unggulan
• Peningkatan jumlah dosen-dosen PT yang berkualitas
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar Asia
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar dunia
• Peningkatan publikasi pada jurnal akademis International
• Peningkatan jumlah buku teks yg ditulils oleh dosen
• Peningkatan jumlah dan kapasitas PTS
• Peningkatan jumlah paten
• PT unggulan meperoleh akreditasi internasional
• Peningkatan jumlah PT unggulan
• Peningkatan jumlah dosen-dosen PT yang berkualitas
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar Asia
• Peningkatan Jumlah jurusan perguruan tinggi yang masuk 100 besar dunia
• Peningkatan publikasi pada jurnal akademis International
• Peningkatan jumlah buku teks yg ditulils oleh dosen
• Peningkatan jumlah dan kapasitas PTS
• Peningkatan jumlah paten dunia
PROGRAM PEMBANGUNAN
• Program perluasan akses PT & Peningkatan peran serta masyarakat
• Program pengembangan kurikulum PT
• Program pendirian Polytechnic
• Program bantuan pengadaan koleksi buku, pelangganaan jurnal ilmiah dan pemenuhan biaya operasional perpustakaan
• Program datasering, magang & beasiswa bg dosen
• Program peningkatan jumlah penelitian
• Program jurusan unggulan perguruan tinggi
• Program pengembangan budaya penelitian di kampus-kampus (mentalist & behaviorist approaches)
• Program perubahan status PTN menjadi badan hukum
• Pemberian insentif riset yang berpotensi paten
• Program perluasan akses PT & Peningkatan peran serta masyarakat
• Program pengembangan kurikulum PT
• Program pendirian Polytechnic
• Program bantuan pengadaan koleksi buku, pelangganaan jurnal ilmiah dan pemenuhan biaya operasional perpustakaan
• Program datasering, magang & beasiswa bg dosen
• Program peningkatan jumlah & kualitas penelitian
• Program jurusan unggulan perguruan tinggi
• Program pengembangan budaya penelitian di kampus-kampus (mentalist & behaviorist approaches)
• Program percepatan perubahan status PTN menjadi badan hukum
• Pemberian insentif riset yang berpotensi paten
• Program perluasan akses PT & Peningkatan peran serta masyarakat
• Program pengembangan kurikulum PT
• Program pendirian Polytechnic
• Program bantuan pengadaan koleksi buku, pelangganaan jurnal ilmiah dan pemenuhan biaya operasional perpustakaan
• Program peningkatan kualitas penelitian
• Program datasering, magang & beasiswa bg dosen
• Program jurusan unggulan perguruan tinggi
• Program pengembangan budaya penelitian di kampus-kampus (mentalist & behaviorist approaches)
• Program percepatan perubahan status PTN menjadi badan hukum
• Pemberian insentif riset yang berpotensi paten
• Program pendirian Polytechnic
• Program bantuan pengadaan koleks iperpustakaan dan pemenuhan biaya operasional perpustakaan
• Program peningkatan kualitas penelitian
• Program detasering, magang, dan beasiswa bagi dosen
• Program jurusan unggulan perguruan tinggi
• Program pengembangan budaya penelitian di kampus-kampus (mentalist & behaviorist approaches)
• Pemberian insentif riset yang berpotensi paten dunia
UKURAN KINERJA KUNCI
• Angka partisipasi kasar PT 18%
• Jumlah pengangguran berpendidikan tinggi turun 50%
• Jumlah Polytechnic meningkat 50% (120 to 180)
• Persentase PT unggulan yg memiliki perpustakaan berstandar internasional mjd 100% (dari 60%)
• Persentase dosen berpendidikan S2/S3 mjd 70%
• Angka partisipasi kasar PT 25%
• Jumlah pengangguran berpendidikan tinggi turun 25%
• Jumlah Polytechnic meningkat 50% (180 mjd 270)
• Jumlah PT yang mendapat akreditasi Internasional (10 jurusan)
• Persentase dosen berpendidikan S2/S3 mjd 100%
• Angka partisipasi kasar PT 30%
• Jumlah pengangguran berpendidikan tinggi turun 25%
• Jumlah Polytechnic meningkat 25% (270 mjd 330)
• Jumlah PT yang mendapat akreditasi Internasional (20 jurusan)
• Prosentase dosen berpendidikan S3 mjd 70%
• Angka partisipasi kasar PT 35%
• Jumlah pengangguran berpendidikan tinggi turun 25%
• Jumlah Polytechnic meningkat 20% (330 mjd 396)
• Jumlah PT yang mendapat akreditasi Internasional (30 jurusan)
• Prosentase dosen berpendidikan S3 mjd 100%