• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

4

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1 Drainase Perkotaan

Para ahli teknik drainase perkotaan mulai merasa perlu untuk menyesuaikan konsep penanganan drainase perkotaan, terlebih setelah kesadaran akan perlunya konservasi air di daerah perkotaan yang merupakan sumber daya semakin langka dan berharga. Menahan/mengendalikan air permukaan merupakan salah satu cara / konsep baru yang dipergunakan untuk mengkonservasi air hujan yang jatuh di daerah perkotaan, sehingga limpasan air permukaan sebelum dan sesudah ada pembangunan tidak banyak berbeda, bahkan bila bisa mendekati nol (Prinsip Zero Delta Q).

Secara yuridis formal, istilah zero delta Q policy muncul dalam Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang diterbitkan tanggal 10 Maret 2008. Dalam Ayat 1 Pasal 106 dari PP itu disebutkan:

“Peraturan zonasi untuk kawasan imbuhan air tanah disusun dengan memperhatikan:

a. Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

b. Penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada.

c. Penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya.”

Dalam penjelasan PP itu, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan

“kebijakan prinsip zero delta Q” adalah keharusan agar tiap bangunan tidak boleh mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai.

Beberapa cara untuk memperkecil limpasan air hujan terutama di daerah perkotaan adalah sebagai berikut :

(2)

a. Pembuatan Kolam Penampungan.

Kolam penampungan dapat memperbesar retensi aliran permukaan dengan cara memberikan waktu yang cukup untuk air agar dapat meresap ke dalam tanah. Kolam penampungan juga menahan aliran permukaan agar tidak langsung mengalir ke saluran drainase. Dalam hal ini pemerintah harus menetapkan kebijakan bahwa untuk mengubah fungsi suatu kawasan, misalnya kawasan hijau akan di ubah menjadi Komplek Perumahan, maka diwajibkan kepada pengembang untuk membuat suatu kolam tampungan minimal sebesar debit curah hujan yang kehilangan tempat resapannya dikarenakan berubahnya kawasan tersebut.

b. Menyediakan Ruang Terbuka Hijau.

Akan sangat bijak sekali jika setiap bangunan yang ada menyediakan ruang terbuka hijau dengan luas ± 30% dari seluruh luas tanah yang dimilikinya. Permasalahannya, pada daerah permukiman, terutama di komplek – komplek perumahan, lahan yang dimiliki oleh setiap rumah sangatlah terbatas. Biasanya, semua lahan tersebut dijadikan bangunan oleh pemiliknya karena memang lahannya yang sedikit tersebut. Untuk itu, sebaiknya ruang terbuka hijau di sediakan oleh pengembang berupa taman – taman di sekitar kompleks baik berupa pepohonan dengan lapangan rumput atau yang lainnya. Bahkan, menurut penelitian, tanah yang ditanami rumput, ternyata dapat meretensi 3 – 6 kali lipat dibandingkan dengan tanah tanpa rumput. Selain itu, taman – taman yang digunakan untuk daerah resapan air dan penghijauan, juga dapat digunakan oleh penduduk di kompleks tersebut sebagai tempat bersantai dan bermain anak – anak.

c. Membuat Sumur Resapan.

Fungsi sumur resapan pada dasarnya mirip dengan kolam tampungan.

Sumur resapan berfungsi untuk mengurangi aliran permukaan dari kawasan yang masuk ke saluran air, sehingga beban saluran menjadi berkurang. Sumur resapan tidak perlu di buat besar, cukuplah kira – kira sebuah lubang dengan diameter 1 m dan kedalaman 1,5 m dengan dinding dari cerucuk bambu atau pasangan bata yang dibuat berlubang – lubang

(3)

6

Universitas Kristen Petra

dindingnya dan di tutup dengan aman. Lubang sebesar itu dapat menampung air sebesar 1.2 m3 ditambah dengan air yang meresap selama terjadinya hujan. Jika diasumsikan 1 sumur resapan dapat meresapkan air sebanyak 3 m3, maka jika suatu kawasan terdapat 100 rumah dengan 100 sumur resapan, maka air yang diretensi sebesar 300 m3 atau setara dengan 300.000 liter atau sama dengan 60 mobil tangki dengan kapasitas 5000 liter. Selain itu, sumur resapan juga dapat membantu mengisi kembali air tanah yang hilang akibat konsumsi air oleh konsumen (oleh sumur pompa).

d. Pembuatan Master Plan Drainase.

Persoalan banjir tidaklah mudah tetapi bukan persoalan yang tidak dapat di selesaikan. Oleh karena itu untuk mempermudah mengatasi banjir di tiap- tiap daerah perlu dibuatnya Master Plan Drainase. Master Plan juga harus terus diperbaharui agar dapat mengetahui hasil dan perkembangan tiap- tiap daerah yang terjadi banjir. Diperlukan kesungguhan dan keseriusan yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat agar daerah-daerah tersebut bebas dari banjir. Namun sekali lagi, hal itu bukanlah mustahil meski dapat dikatakan tidak mudah. Surabaya sudah mempunyai Master Plan yang berjudul Surabaya Drainage Master Plan. Master Plan tersebur berlaku dari tahun 2008 sampai 2015.

Gambar 2.1 Contoh Meretensi Air Hujan Sebelum dialirkan ke saluran.

Sumber: Banjir dan cara pandang kita tentang drainase (2008).

(4)

Kegunaan kolam retensi untuk menampung kelebihan air sementara pada saat :

• Muka air di hulu lebih rendah dari muka air di hilir

• Saluran yang akan di tuju tidak dapat menampung seluruh debit yang di bawa pada saluran sebelumnya

2.2 Data Hidrologi

Curah hujan adalah data hidrologi yang paling penting untuk dikumpulkan sebelum dimulai perencanaan drainase perkotaan. Data klimatologi lain seperti kecepatan angin, penyinaran (radiasi) matahari dan kelembaban udara relatif tidak diperlukan dalam perencanaan drainase, karena pada periode perencanaan hujan lebat, faktor penguapan / evapotranspirasi dapat diabaikan.

Secara garis besar Kota Surabaya di bagi atas 5 rayon, yaitu rayon Jambangan, Gubeng, Genteng, Tandes dan Wiyung, ini dapat di lihat pada Gambar 2.2. Berdasarkan data dari SDMP 2018 curah hujan rata-rata bulanan di Kota Surabaya, maka didapatkan bulan basah dengan curah hujan > 100 mm dan bulan kering dengan curah hujan < 60 mm. Rata-rata curah hujan berdasarkan data tahun 2001–2004, adalah 152 mm/tahun dengan jumlah hari hujan/tahun rata-rata adalah 12 hari. Jumlah bulan basah pada kurun waktu tersebut adalah 6 bulan yaitu bulan Nopember sampai dengan bulan April, sedangkan bulan kering terjadi selama 4 bulan yaitu pada bulan Juni sampai bulan September. Sedangkan jumlah hari hujan selama 1 bulan yang > 60% adalah sebanyak 3 bulan yang berlangsung dari bulan Januari sampai bulan Maret, dan untuk jumlah hari hujan

< 20% adalah 4 bulan yaitu dari bulan Juni sampai dengan September.

Lokasi pos stasiun hujan yang terdapat di rayon Jambangan yaitu:

1. Kebon Agung 2. Wonokromo 3. Wonorejo

(5)

8

Universitas Kristen Petra

Lokasi pos stasiun hujan yang terdapat di rayon Gubeng yaitu:

1. Gubeng 2. Keputih 3. Larangan

Lokasi pos stasiun hujan yang terdapat di rayon Genteng yaitu:

1. Gunungsari 2. Simo

3. Perak

Data curah hujan ada beberapa macam, yaitu curah hujan harian, bulanan, tahunan dan data curah hujan durasi pendek, misalnya 5, 10, 15, 30, 45, 60 ,120 dan 180 menit. Data curah hujan periode pendek ini yang diperlukan untuk perencanaan drainase perkotaan, sedangkan data curah hujan harian dan bulanan tidak dapat digunakan untuk perencanaan. Kecuali apabila tidak diperoleh data curah hujan periode pendek, maka data curah hujan harian dapat digunakan dengan mengasumsikan nilai distribusinya terhadap hujan durasi pendek yang diinginkan.

(6)

Komplek Perumahan Galaxi Bumi Permai

Komplek Perumahan Galaxi Bumi Permai

Komplek Perumahan Puri Mas Komplek Perumahan

Bukit Darmo Golf

Komplek Perumahan Graha Family Komplek Perumahan

Pakuwon Indah

Komplek Perumahan Dian Istana Komplek Perumahan

Pakuwon Indah

Komplek Perumahan Citraland Surya

Komplek Perumahan Darmo Sentosa

Komplek Perumahan Villa Bukit Mas

Komplek Perumahan Darmo Hill

Komplek Perumahan Taman Pondok Indah

Komplek Perumahan Laguna Indah

Komplek Perumahan Citraland Surya

Komplek Perumahan Babatan Permai Komplek Perumahan Griyo Babatan Indah

Komplek Perumahan Babatan Mukti Komplek Perumahan Pinus Asri Komplek Perumahan Pien Tress Garden

Komplek Perumahan Lembah Harapan

Komplek Perumahan Pondok Rosan Komplek Perumahan

Lidah Kulon

Komplek Perumahan Asrama Polri Bangkingan

Komplek Perumahan Menggala

Komplek Perumahan Babatan Pratama

Komplek Perumahan Babatan Pratama II

Komplek Perumahan Gunungsari Indah

Komplek Perumahan Kebraon Utama

Komplek Perumahan Griyo Kebraon

Komplek Perumahan Kebraon Manis

Kebraon Taman

Komplek Perumahan Ketintang Permai Komplek Perumahan Karah Indah Komplek Perumahan

Citraland Surya

Komplek Perumahan Brimob Komplek Perumahan

Graha Citra Komplek Perumahan Benowo Indah

Komplek Industri Pakuwon Jati

Komplek Perumahan Tengger

Komplek Perumahan Sambi Kerep

Komplek Perumahan Manukan

Komplek Perumahan Puncak Permai Utara

Komplek Perumahan Puncak Permai

Komplek Perumahan Darmo Permai

Komplek Perumahan Prada Permai

Komplek Perumahan Darmo Satelit

Komplek Perumahan Simo Mulyo Komplek Pergudangan

Margomulyo

Komplek Pergudangan Margomulyo

Komplek Perumahan Chris Kencana Komplek Perumahan Bintang Diponggo

Komplek Perumahan Bendul Merisi

Komplek Perumahan Margorejo Indah

Komplek Perumahan Jemur Andayani

Komplek Perumahan Dept. Perhubungan

Komplek Perumahan Kutisari Indah

Komplek Perindustrian Rungkut

Komplek Perumahan Delta Permai

Komplek Perumahan Taman Panjang Jiwo

Komplek Perumahan Prapen Indah

Komplek Perumahan Tenggilis Mejoyo

Komplek Perumahan Nirwana Ekskutif

Komplek Perumahan Rungkut Jaya

Komplek Perumahan Wonorejo Permai Komplek Perumahan

Pondok Nirwana

Komplek Perumahan Kedung Asem

Komplek Perumahan Adi Puri

Komplek Perumahan Rungkut Harapan

Komplek Perumahan Griyo Mapan Sentosa

Komplek Perumahan Rungkut Barata

Komplek Perumahan Tulus Harapan Komplek Perumahan YKP Rungkut Kidul

Komplek Perumahan Rungkut Menanggal

Komplek Perumahan Wisma Gunung Anyar Komplek Perumahan Bumi Marina Mas

Komplek Perumahan Medokan Semampir Komplek Perumahan Suko Semolo Tangah

Komplek Perumahan Angkatan Laut Komplek Perumahan

Suko Semolo Komplek Perumahan Semolo Waru

Komplek Perumahan Taman Intan Nginden Komplek Perumahan Tompotika

Komplek Perumahan Manyar Indah

Komplek Perumahan Mulyosari

Komplek Perumahan BPD Komplek Perumahan Pantai Mentari

Komplek Perumahan Puri Asri Komplek Perumahan Sutorejo Prima Indah

Komplek Perumahan Wisma Permai

Komplek Perumahan Sinar Galaxy

Komplek Perumahan Kali Judan Indah

Komplek Perumahan Babatan Indah

Komplek Perumahan YKP - Wonorejo

Rayon Tandes

Rayon Wiyung

Rayon Gubeng

RayonJambangan Rayon Genteng

(7)

10

Universitas Kristen Petra

2.3 Perhitungan Hujan Rencana dengan IDF

Berdasarkan nilai curah hujan rencana diperoleh dari rujukan (SDMP 2018) , Transformasi hujan rencana menjadi hujan rencana harian dengan durasi waktu tempuh diperkirakan berdasarkan Rumus IDF yang diturunkan sesuai Persamaan Talbot yang dirujuk dari Diktat Kuliah Drainase Perkotaan, Jurusan Teknik Sipil, Insitut Teknologi Nasional, Bandung sebagai berikut:

Dengan rumus Talbot:

It = b c

t a

) ( 

dimana : It = Intensitas curah hujan dengan durasi t. [mm/jam].

t = lamanya / durasi hujan.

a,b dan c = konstanta daerah setempat yang tergantung pada lamanya curah hujan.

Berdasarkan rumus di atas untuk mengetahui konstanta a,b dan c SDMP memberikan:

(8)

Intensitas yang diperkirakan Kurva yang disesuaikan I = a/(t+b)c

Gambar 2.3 Gambar Kurva menunjukkan nilai a,b dan c dalam rumus talbot.

Sumber: Surabaya, Badan Perencanaan Pembangunan (2008)

(9)

12

Universitas Kristen Petra

2.4. Perhitungan Debit Rencana dengan Metoda Rasional

Metoda Rasional merupakan rumus empiris yang menghubungkan curah hujan dan limpasan menggunakan parameter analitis.

Pada Metoda Rasional ini, hidrograph dihitung dengan memperkirakan adanya hubungan antara debit dan waktu konsentrasi terhadap karakteristik daerah pengaliran berdasarkan konsep yang menghubungkan aliran Debit Puncak dan Volume Limpasan, sbb. :

 Rumus Rasional yang dipergunakan untuk kasus perencanaan sistem drainase, umumnya menggunakan asumsi Kasus 1 ( Tabel 2.1) :

Q = 0.278 C.I.A

 Penentuan Waktu Konsentrasi (tc) : tc = to + td

dimana : to = waktu yang dibutuhkan aliran permukaan dari titik terjauh sampai titik tinjau yang didekati dengan rumus-rumus fungsi dari :

- Debit yang mengalir = Q [m3/s]

- Intensitas hujan yang sesuai waktu konsentrasi = I [mm/jam]

- Panjang jalur air permukaan = D [m]

- Kemiringan permukaan = S [%]

- Koefisien limpasan = C

Aplikasi dari rumus rasional membutuhkan penyesuaian terhadap pemakaian daripada koefisien limpasan yang tepat. Nilai koefisien limpasan dapat di lihat pada tabel 2.2.

td = waktu pengaliran di saluran

Rumus empiris FAA untuk mengestimasikan to :

t

o C x D

S

3 64 1 11 12 3

, ,

[menit]

td = L

V = waktu pengaliran di saluran

2.5 Perhitungan Kapasitas Saluran

Kapasitas saluran dapat diketahui dengan menghitung debit saluran, rumus umum yang dipergunakan adalah :

A V Q .

(10)

1 23 1 2

n.R .S V =

Di mana :

V = Kecepatan aliran [m/s]

A = Luas penampang saluran [m2] R = Radius Hidrolik [m]

S = Kemiringan saluran [%]

n = Koefisien kekasaran Manning

dengan nilai n adalah nilai koefisien kekasaran Manning akibat kondisi saluran, diambil berdasarkan Tabel 2.3

Tabel 2.1 Asumsi Metoda Rasional

Kasus 1 Kasus 2 Kasus 3 Kasus 4

Bentuk

Intensitas Hujan

Hidrograph Limpasan

Rumus Volume.

Hujan Eff. = V1

Volume.

Hidrograph Limpasan = V2

Asumsi

Rumus Akhir

C.I.D.A

Qp.tc

tc = D

Qp = C.I.A

C.I.D.A

1,34 Qp.tc

tc = D

Qp = 0,75 C.I.A

C.I.D.A

Qp.D

D > tc

Qp = C.I.A

C.I.D.A

0,5 Qp(tp+1,67tp)

 tp = 0,5 D + L D < tc

Qp=

0 75 0 5 , . . . .

, C I A D

D L

Keterangan. :

Sumber: Bandung, Widjaya (1997, p.4-11)

Qp

Qp Qp

Qp

D D

D D

tc tc

tc 1,67tc

D/ L 2

tc D-tc tc tp 1,67tp

Hujan Eff.

Kehilangan Air / Infiltrasi

(11)

14

Universitas Kristen Petra

Tabel 2.2 Nilai Koefisien Limpasan Rata-Rata (C) Pada Daerah Perkotaan Berdasarkan tata guna lahan Koefisien Limpasan

Bisnis

Pusat kota 0.70 - 0.95

Daerah perumahan 0.50 - 0.70

Pemukiman

Wilayah rumah tunggal 0.30 - 0.50

Wilayah rumah padat, terpisah 0.40 - 0.60 Wilayah rumah padat, berdempetan 0.60 - 0.75 Pemukiman didaerah pinggiran kota 0.25 - 0.40

Apartemen 0.50 - 0.70

Perindustrian

Industri ringan 0.50 - 0.80

Industri berat 0.60 - 0.90

Taman, makam 0.10 - 0.25

Lapangan 0.10 - 0.25

Sekitar rel kereta api 0.20 - 0.40

Daerah belum berkembang 0.10 - 0.30

Berdasarkan Jenis Permukaan Tanah Koefisien Limpasan Perkerasan

Aspal 0.70 - 0.95

Beton 0.80 - 0.95

Bata 0.70 - 0.85

Tempat parkir dan trotoar 0.70 - 0.85

Atap 0.75 - 0.95

Tanah pasir

Datar ( 2 % ) 0.05 - 0.10

Rata-rata ( 2 - 7 % ) 0.10 - 0.15

Curam atau lebih ( 7 % ) 0.15 - 0.20

Tanah keras

Datar ( 2 % ) 0.13 - 0.17

Rata-rata ( 2 - 7 % ) 0.18 - 0.22

Curam atau lebih ( 7 % ) 0.25 - 0.35

Sumber : Engineering Hydrology, Principles and Practices (1989)

(12)

Tabel 2.3 Nilai Koefisien Kekasaran Manning

No. Jenis Saluran Koefisien Manning (n)

1 Saluran galian :

 Saluran tanah

 Saluran pada batuan, digali merata

0,020 0,035

2 Saluran dengan lapisan perkerasan :

 Lapisan beton seluruhnya

 Lapisan beton pada kedua sisi saluan

 Lapisan blok beton pracetak

 Pasangan batu, diplester

 Pasangan batu diplester pada kedua sisi saluran

 Pasangan batu, disiar

 Pasangan batu kosong

0,015 0,020 0,017 0,020 0,022 0,025 0,030 3 Saluran alam :

 Berumput

 Semak-semak

 Tidak beratuan, banyak semak dan pohon, batang pohon banyak jatuh ke saluran

0,027 0,050 0,150 Sumber: Bandung, Widjaya (1997, p.5-19)

2.6 Konsep Dasar Penelusuran Aliran Berdasarkan Pendekatan Hidrologi Limpasan aliran permukaan dari suatu daerah tangkapan mengalir, menuju ke jaringan saluran kecil. Untuk suatu hujan badai tertentu, daerah tangkapan akan mengkontribusikan limpasan aliran permukaan menuju saluran, variable baik secara spasial di seluruh daerah tangkapan dan dari satu hujan badai ke hujan badai lainnya. Ciri-ciri karakteristik dari aliran permukaan harus dipertimbangkan. Ciri-ciri karakteristik dari jaringan saluran juga merupakan pertimbangan berikutnya dalam menganalisis respons / tanggapan daerah tangkapan secara total.

Sistem saluran bertindak sebagai suatu reservoir panjang dan tipis, yang menerima aliran masuk dari permukaan dan bawah permukaan, menyimpan air dalam simpanan saluran secara sementara dan kemudian dialirkan keluar pada titik outlet. Sistem saluran mempunyai kemiringan yang berbeda-beda dengan ciri-ciri penampang melintang berbeda-beda pula, menerima pasokan air bahkan tidak jarang dari berbagai bagian dari daerah tangkapan. Sebagai hasilnya, aliran sungai dan simpanan di saluran berubah-ubah di satu segmen sistem saluran ke segmen lainnya.

(13)

16

Universitas Kristen Petra

Ketika suatu badai terjadi maka debit limpasan di sungai meningkat, dari satu titik ke titik lainnya, dan muka air di sungai meningkat pula. Bila muka air meningkat melampaui kondisi palung penuh dari penampang sungai tertentu, maka aliran sungai akan tersebar keluar memenuhi dataran banjirnya. Pada kasus ini volume simpanan di saluran menjadi besar dibanding dengan simpanan dalam tanggul (in-bank), karena kemiringan dataran banjir umumnya lebih datar dibanding tanggul saluran (channel banks). Kondisi ini membantu mengurangi dan memperlambat puncak banjir meninggalkan segmen tersebut. Hal ini diperlihatkan dalam persamaan kontinuitas seperti tertuang pada Persamaan Keseimbangan Aliran berikut:

Persamaan Keseimbangan Aliran : I = 0 + ds/dt di mana : I = Aliran masuk [m3/det]

O = Aliran keluar [m3/det]

s = Simpanan di saluran dan di dataran banjir.

t = Waktu.

Permasalahan timbul ketika pada kenyataannya informasi tentang penampang melintang dari segmen-segmen saluran yang sangat banyak itu tidak tersedia, karena tidak dimungkinkan untuk mengukur setiap titik di saluran di mana informasi tentang aliran dibutuhkan, sehingga dibutuhkan teknik untuk mengekstrapolasi data-data yang tersedia ke lokasi-lokasi tertentu yang memungkinkan.

Teknik penelusuran aliran banjir yang menggunakan konsep dasar di atas digunakan untuk memperkirakan variasi banjir pada titik-titik tinjau di segmen- segmen saluran, dengan mengumpulkan dan memperkirakan informasi sebagai berikut .

Untuk setiap segmen saluran, dimensi penampang melintang, kemiringan, luas daerah layanan dan volume simpanan dataran banjir, dapat diperhitungkan berdasarkan peta, pemotretan, dan survai.

Karakteristik kekasaran segmen saluran diestimasi berdasarkan publikasi / standar yang berkaitan dengan masalah tersebut.

(14)

Dengan mempertimbangkan bahwa jaringan saluran dibagi menjadi beberapa seri segmen dengan gambaran karakeristiknya yang berbeda-beda, hal ini memungkinkan didefinisikannya :

 Hubungan antara kedalaman aliran air, luas penampang aliran dan radius hidraulik

 Hubungan antara volume / simpanan - kemiringan dataran banjir - kekasaran dan kedalaman saluran.

2.7 Penelusuran Simpanan Air

Jika kejadian banjir terjadi, penambahan air akan mengalir menuju alur sungai dan pada satu bagian / segmen yang kecil dari sungai akan ada perubahan jumlah air (lebih banyak dari keadaan normal) sebagai simpanan sementara :

Gambar 2.4 Perubahan Debit Aliran pada satu segmen saluran.

Sumber: Bandung, Widjaya (1997, p.4-34)

Prinsip Kontinuitas :

V = Volume Banjir =  I dt =  O dt Pada saat di antara 0 -T1 ,  Tx

Jumlah air yang masuk =  I dt Jumlah air yang keluar =  O dt

--- Selisih air yang disimpan = Sx =  (I - O) dt

atau s/dt = I - O

Persamaan ini (Persamaan Kontinuitas) merupakan persamaan dasar dari berbagai metoda penelusuran simpanan / volume air.

(15)

18

Universitas Kristen Petra

Masalah yang akan diselesaikan dalam perhitungan penelusuran banjir adalah :

Mencari O (Aliran Keluar) fungsi waktu, jika I (Aliran Masuk) fungsi waktu dan informasi / atau asumsi tentang simpanan (S) diketahui.

Hasil yang didapat :

1. Hidrograph Limpasan di lokasi yang dibutuhkan sesuai perencanan, berdasarkan perhitungan ekstrapolasi terhadap Limpasan di hulunya.

2. Debit Banjir hasil peramalan di sebelah hilir, bila debit di hulunya diketahui.

Gambar 2.5 Perbandingan Hidrograph di sebelah Hulu terhadap Hidrograph di sebelah hilirnya.

Sumber: Bandung, Widjaya (1997, p.4-35)

3. Penalaran secara matematis Hubungan antara Limpasan Aliran Keluar, Limpasan Aliran Masuk dan adanya pengaruh simpanan di sepanjang sungai / waduk.

2.8 Cara Menentukan Simpanan (S)

Simpanan / volume air dari sebuah reservoir dinyatakan sebagai fungsi dari elevasi permukaan air. Untuk itu dilakukan pengukuran penampang-penampang dari daerah yang dibatasi oleh kontur-kontur muka tanah dengan bantuan peta topografi.

Simpanan / volume air dari suatu bagian sungai dihitung dengan menggunakan rumus-rumus Mass Curve untuk beberapa penampang tegak.

(16)

Untuk Penurunan Metoda Mass Curve yang dipakai dalam perhitungan:

I – O = dt ds

I – O = t s

 . t h

 . A

I t In n

 2 .

1 - On On t

 2 .

1 = Sn + 1 - Sn

Dengan : I = Aliran masuk (inflow).

O = Aliran keluar (outflow).

s = Simpanan di saluran dan di dataran banjir (storage).

t = Waktu (time).

Gambar

Gambar 2.1 Contoh Meretensi Air Hujan Sebelum dialirkan ke saluran.
Gambar 2.3 Gambar Kurva menunjukkan nilai a,b dan c dalam rumus talbot.
Tabel 2.1 Asumsi Metoda Rasional
Tabel 2.2  Nilai Koefisien Limpasan Rata-Rata (C) Pada Daerah Perkotaan  Berdasarkan tata guna lahan  Koefisien Limpasan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan tingkat hiperaktivitas pada anak ADHD setelah diberikan intervensi berupa terapi gerakan

Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi hidung dan sinus paranasal yang ditandai dengan adanya dua atau lebih gejala, salah satunya harus termasuk

Dapatan kajian yang diperolehi menunjukkan min bagi persoalan kajian tentang ciri-ciri pengurusan projek dalam pembelajaran berasaskan amali terhadap pembentukan kerjaya

Adanya sengketa tanah pusako tinggi yang terjadi di kenagarian Talang Maur payakumbuh, penulis ingin melaksanakan penelitian pada Kerapatan Adat Nagari (KAN)

 Prediksi Curah Hujan Bulan Agustus 2016, didominasi Curah hujan menengah (100 – 300mm) kecuali di Nusa Tenggara dan sebagian kecil selatan Papua (0 – 100mm),

Sasmira itu ada juga di Pasar Baru, saya dengar oplah penjualan Sasmira memang berhasil naik terus berkat ikon-nya, kalo punya ikon yang terutama dari artis, memang bisa

pendapatan daerah melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi, penyusunan rencana pendapatan asli daerah, bagi hasil dan lain-lain pendapatan daerah yang sah,

Permasalahan yang didapatkan peneliti sebelum melakukan penelitian lebih lanjut dalam pendidikan agama Islam di sekolah SMP Dharma Praja yaitu guru yang kurang dalam menguasai