• Tidak ada hasil yang ditemukan

REKONVENSI YANG DIAJUKAN SECARA LISAN DALAM PERSIDANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REKONVENSI YANG DIAJUKAN SECARA LISAN DALAM PERSIDANGAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

REKONVENSI YANG DIAJUKAN SECARA LISAN DALAM PERSIDANGAN

MAKALAH PEMBANDING I

Disampaikan oleh Pengadilan Agama Bukittinggi dalam kegiatan IKAHI PTA Padang tentang diskusi hukum yang diikuti oleh

Kordinator wilayah II

(PA. Batusangkar, PA. Padang Panjang, PA. Bukittinggi, PA. Payakumbuh dan PA. Tanjung Pati)

Yang diadakan Di Batusangkar

21 Muharram 1436 H/14 November 2014.

(2)

REKONVENSI YANG DIAJUKAN SECARA LISAN DALAM PERSIDANGAN

(MAKALAH PEMBANDING)

I. Pendahuluan

Gugatan rekonvensi diatur dalam Pasal 132 a dan Pasal 231 b HIR yang disisipkan dalam HIR dengan Stb. 1927-300 yang diambil alih dari pasal 244-247 B.Rv.

Sedangkan dalam R.Bg, rekonvensi diatur dalam Pasal 157 dan Pasal 158. Dalam Hukum Acara Perdata, gugatan rekonvensi dikenal dengan “gugat balik,” berhubung Tergugat juga melakukan wanprestasi kepada Penggugat. Tergugat baru dapat melakukan gugatan rekonvensi, apabila secara kebetulan berkaitan dengan kebendaan yang sedang diperiksa dalam sidang pengadilan, gugat rekonvensi tidak boleh dilaksanakan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hukum perorangan atau yang menyangkut dengan status orang.Jika tidak semua gugatan Penggugat dibalas dengan gugatan rekonvensi1.

II. Pengertian dan Tujuan Gugatan Rekonvensi A. Pengertian Gugatan Rekonvensi

Dalam ketentuan Pasal 157 ayat 1 / Pasal 132 a ayat (1) HIR, hanya memberikan pengertian singkat yaitu menurut Pasal tersebut maknanya adalah:

Rekonvensi adalah gugatan yang diajukan Tergugat sebagai Gugatan balasan terhadap gugatan yang diajukan Penggugat kepadanya, dan gugatan rekonvensi diajukan Tergugat kepada pengadilan pada saat berlansungnya proses pemeriksaan gugatan yang diajukan Penggugat kepada Tergugat.

Makna gugatan rekonvensi yang terkandung dalam Pasal 244 B.Rv hampir sama dengan yang dirumuskan dalam ketentuan Pasal 157 R.Bg / Pasal 132 a ayat (1) HIR, yang mengatakan bahwa gugatan rekonvensi adalah gugatan balik yang diajukan Tergugat terhadap Penggugat dalam suatu proses perkara yang sedang berjalan2, namun oleh karena HIR dipakai oleh Jawa dan Madura, maka penulis mencukupkan

1Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Dilingkungan Peradilan Agama,Jakarata: Kencana, 2008, hlm. 54.

2M. Yahya Harahap, Perlawanan terhadap Grose Akta serta Putusan Pengadilan dan Arbitrase dalam hukum eksekusi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm 198.

(3)

memakai R.Bg, karena peradilannya berada diluar Jawa dan Madura, akan tetapi untuk mendapatkan perbandingan untuk istilah dari rekonvensi perlu dimasukan Pasal 244 B.Rv tersebut.

Contoh: kasus perceraian, suami mengajukan gugatan cerai terhadap istri ke Pengadilan Agama. Atas gugatan tersebut istri/Tergugat mengajukan gugatan rekonvensi terhadap gugatan Penggugat tersebut yaitu mengenai pembagian harta bersama, nafkah anak, hadhanah, dll.Apabila gugatan cerai tidak dapat diterima, maka otomatis gugatan rekonvensi mengenai harta bersama dan seterusnya itu harus dinyatakan tidak dapat diterima, karena antara kedua gugatan tersebut terdapat koneksitas yang erat, sebagaimana digariskan dalam putusan MA No. 50 K/PDT/19833. Menurut putusan tersebut demi asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan, dapat dikomulasikan gugatan cerai dengan pembagian harta bersama, penguasaan anak (Hadhanah), nafkah anak, nafkah istri, dll sesuai dengan Pasal 86 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989.

Memang hukum membolehkan proses pemeriksaan dilakukan secara terpisah, sehingga masing-masing dituangkan dalam putusan yang berbeda, namun pada prinsipnya yang harus ditegakkan adalah sedapat mungkin perkara diperiksa dan diputus secara bersamaan dalam putusan supaya tidak menimbulkan putusan yang berbeda.

Istilah untuk rekonvensi banyak ragamnya dari para ahli hukum seperti Soepomo, yang menggunakan istilah tuntutan kembali, Abdul Kadir Muhammad menggunakan istilah dengan gugatan balasan samadengan Soebekti dan Wiryono memakai istilah gugat-ginugat. Untuk membuat keseragaman dalam istilah, berdasarkan kenyataan praktek peradilan dan praktisi hukum telah menerima istilah rekonvensi sebagai hal yang baku, untuk mempergunakan istilah tersebut dalam pembahasan selanjutnya dalam tulisan ini, penulis sudah mencukupkanalas an seperti yang tersebut di atas.

3 Tanggal 7 Juli 1984, jo PT.Jakarta No. 790, 21 Agustus 1982, jo PN Jakarta Barat No.276/1980, 21 Agustus 1980.

(4)

B. Tujuan Gugatan Rekonvensi

Tujuan gugatan rekonvensi adalah untuk mengimbangi gugatan Penggugat, agar sama-sama dapat diperiksa sekaligus, menggabungkan dua tuntutan yang berhubungan untuk diperiksa dalam persidangan sekaligus, mempermudah prosedur pemeriksaan, menghindarkan putusan yang saling bertentangan satu sama lain, menetralisir tuntutan konvensi, memudahkan acara pembuktian dan menghemat biaya4, dan berbagai tujuan positif yang terkandung dalam system rekonvensi tersebut.

Manfaat yang diperoleh dalam menggabungkan dua gugatan sekaligus, bukan hanya sekedar memenuhi kepentingan pihak Tergugat saja, melainkan meliputi kepentingan Penggugat maupun penegakan kepastian hukum dalam arti luas.Yang terpenting diantara tujuan itu adalah5:

1. Menegakkan Asas Peradilan Sederhana

Sesuai dengan ketentuan Pasal 158 ayat 3 R.Bg / Pasal 132 b ayat (3) HIR, gugatan konvensi dan rekonvensi diperiksa dan diputus secara serentak dan bersamaan dalam satu proses, dan dituangkan dalam suatu putusan. System yang menggabungkan / menyatukan dua tuntutan gugatan pemeriksaan dan putusan dalam satu proses, sangat menyederhanakan penyelesaian perkara.

Penyelesaian perkara yang semestinya harus dilakukan dalam dua proses yang terpisah dan berdiri sendiri, dibenarkan hukum untuk menyelesaikan secara bersama. Dengan demikian penggabunga konvensi dan rekonvensi, sesuai dengan asas peradialn sederhan dan biaya ringan yang digariskan dalam Pasal 4 ayat (2) UU No. 14 Tahun 1970, sebagaimana diubah dengan UU No.35 Tahun 1999, dan sekarang berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004.Seperti yang dikatakan Supomo, salah satu tujuan Rekonvensi adalah “Untuk Mempermudah Prosedur”6.Dengan arti kata gugatan rekonvensi bertujuan untuk menyederhanakan proses penyelesaian perkara.

4Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Dilingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Kencana, 2008, hlm. 54.

5M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm. 472-474.

6 Soepomo, Hukum Acara Perdata, Pradya Paramita, Jakarta, 1993, hlm. 37.

(5)

2. Menghemat Biaya dan Waktu a. Menghemat Biaya

Apabila pemeriksa gugatan rekonvensi dilakukan secara terpisah dengan konvensi, biaya yang mesti dikeluarkan menjadi dua kali lipat.Sebaliknya, apabila pemeriksaan dilakukan melalui system rekonvensi, biaya dapat dihemat lebih kurang 50%, karena biaya rekonvensi menjadi nol (Zero cost), diabsorbsi oleh biaya perkara konvensi.

b. Menghemat Waktu

Apabila proses pemeriksaan gugatan rekonvensi berdiri sendiri, maka sudah harus memerlukan waktu yang berbeda dan terpisah untuk masing-masing gugatan. Gugatan konvensi memerlukan jatah waktu tersendiri dan begitu pula sebaliknya dengan gugatan rekonvensi, akan tetapi sesuai dengan ketentuan Pasal 158 ayat 3 / Pasal 132 b ayat (3) HIR, yang memerintahkan pemeriksaan antara keduanya dalam satu proses dan dalam satu putusan, menyelesaikan kedua perkara menjadi lebih singkat, jangka waktu yang dipergunakan dapat dihemat setengah dari semestinya. Memperhatikan efektifitas dan efisiensi biaya dan waktu yang dihasilkannya, Pelembagaan Sistem Rekonvensi sangat menopang asas yang terkandung dalam Pasal 4 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004 yaitu asas Peradilan “SEDERHANA,CEPAT dan BIAYA RINGAN”.

c. Menghindari Putusan Yang Saling Bertentangan

Hal lain yang dapat diperoleh dari system rekonvensi adalah untuk menghindari terjadinya putusan yang saling bertentangan7, terutama akan muncul dalam kasus gugatan rekonvensi yang benar-benar saling berkaitan atau berhubungan (innerlijke semen hangen) dengan gugatan konvensi. Jika pemeriksaan antara keduanya terpisah dan berdiri sendiri, besar kemungkinan putusan yang dijatuhkan saling bertentangan antara putusan gugatan konvensi dengan putusan gugatan rekonvensi maka terjadi innerlijke, apalagi perkara tersebut diperiksa oleh Majelis yang berbeda.

7 Ibid.

(6)

III. Permasalahan:

Dari judul makalah yang tertulis di atas, maka penulis menemukan beberapa masaalah yaitu seperti berikut:

1. Apakah gugatan rekonvensi dibolehkan untuk diajukan dalam sidang secara lisan?

2. Apakah gugatan rekonvensi dapat diajukan secara tersendiri?

3. Apakah ada batas pengajuan gugatan rekonvensi tersebut?

IV. Pembahasan:

Di bawah ini penulis akan mencoba untuk menguraikan masaalah tersebut satu persatu dalam pembahasannya yaitu:

1. Apakah gugatan rekonvensi dibolehkan untuk diajukan dalam sidang secara lisan?

Gugatan rekonvensi harus jelas keberadaannya, meski diformulasi atau diterangkan oleh Tergugat dalam jawaban, dengan demikian penegasan putusan MA No. 330 K/Pdt/1986, tanggal 14 Mei 1987 dapat dipedomani dalam menyelesaikan gugatan rekonvensi tersebut, meskipun R.Bg/HIR tidak secara tegas menentukan dan mengatur syarat gugatan rekonvensi, namun agar gugatan itu dianggap ada dan sah, maka gugatan itu harus dirumuskan secara jelas dalam jawaban Tergugat tersebut.

Tujuannya agar pihak lawan dapat mengetahui dan mengerti tentang adanya gugatan rekonvensi yang diajukan oleh Tergugat kepadanya dan majelis dapat mempertimbangkan gugatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Bentuk pengajuan, gugatan rekonvensi boleh secara lisan, sebagai mana ketentuan Pasal 157 R.Bg/Pasal 132 a ayat (1) HIR, akan tetapi lebih baik diajukan secara tertulis. Bentuk-bentuk yang mana saja boleh dipilih Tergugat ?Apapun bentuknya, yang penting diperhatikan, adalah gugatan rekonvensi harus memenuhi syarat formil gugatan yaitu ada 3 macam:

a. Menyebut dengan tegas subjektif yang ditarik sebagai Tergugat rekonvensi.

(7)

b. Merumuskan dengan jelas posita atau dalil gugatan rekonvensiberupa penegasan dasar hukum (rechtsgrond) dan dasar peristiwa (fijtelijkegrond) yang melandasi gugatan tersebut.

c. Menyebut dan merumuskan dengan rinci petitum gugatan rekonvensi tersebut.

Apabila unsur-unsur di atas tidak terpenuhi, gugatan rekonvensi tersebut dianggap tidak memenuhi syarat, baik syarat formil maupun syarat materil, maka gugatan rekonvensi tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima. Menurut putusan MA No. 1154 k/Sip/1973, tanggal 1 April 1975, gugatan rekonvensi yang tidak memenuhi unsur syarat formil dan meteril, maka dianggap bukan merupakan gugatan rekonvensi, yang konstruksinya seolah-olah ada gugatan rekonvensi padahal gugatan tersebut tidak tegas dinyatakan dalam jawaban Tergugat atau apabila unsur yang disyaratkan tidak terpenuhi maka tidak dapat dibenarkan. Misal Tergugat menegaskan dalam jawaban mengajukan gugatan rekonvensi, tetapi tidak dibarengi dengan petitum gugatannya. Dalam kasus ini, meskipun gugatan rekonvensi merumuskan dalildan alasan, namun gugatan rekonvensi dianggap tidak sah, apabila dalil itu tidak dibarengi dengan petitum gugatannya, oleh karenanya pada gugatan lisan rekonvensi tersebut majelis dapat membuat bahasa / kata-kata yang tepat mengenai tuntutan yang telah disampaikan Penggugat rekonvensi secara lisan dipersidangan, karena pada umumnya pihak pencari keadilan yang mengajukan rekonvensi secara lisan, biasanya pihak pencari keadilan yang tidak mengetahui tentang hukum.

2. Apakah gugatan rekonvensi dapat diajukan secara tersendiri?

Dalam ketentuan Pasal 157 R.Bg / Pasal 132 a ayat (1) HIR selain syarat formil yang berbunyi: “ Tergugat wajib mengajukan gugatan melawan, bersama-sama dengan jawabannya baik dengan cara tertulis maupun dengan cara lisan”. Jadi dengan arti kata, bahwa gugatan rekonvensi harus juga memenuhi syarat materil.Makna

“jawaban” dalam kalimat wajib mengajukan bersama-sama dengan jawaban di atas adalah: jawaban pertama denganberdasarkan alasan sebagai berikut:

a. Membolehkan atau memberikan kebebasan bagi Tergugat untuk mengajukan gugatan rekonvensi di luar jawaban Pertama atau dapat diajukan dalam jawaban pertama apabila tidak diajukan pada waktu tersebut, maka rekonvensi tidak

(8)

memenuhi syarat formil, sehingga gugatan rekonvensi tidak dapat diterima dan dapat menimbulkan kerugian bagi Penggugat dalam membela hak dan kepentingannya.

b. Atau memperbolehkan Tergugat untuk mengajukan gugatan rekonvensi melampaui jawaban pertama, hal ini dapat menimbulkan ketidaklancaran pemerikasaan dan penyelesaian perkara oleh majelis.

c. Rasio yang terkandung dalam pembatasan pengajuan mesti pada jawaban pertama, adalah agar Tergugat tidak sewenang-wenang dalam mempergunakan haknya dalam mengajukan gugatan rekonvensi tersebut.

3. Apakah ada batas pengajuan gugatan rekonvensi tersebut?

Alasan-alasan yang tersebut diatas tentang makna jawaban dalam Pasal 157 R.Bg / Pasal 132 a ayat (1) HIR, mendasari pendapat Prof. Soebekti, adalah bahwa gugatan rekonvensi dapat diajukan sewaktu-waktu sampai tahap pemeriksaan saksi belum dimulai, hal ini hanya dapat dibenarkan dalam proses secara lisan, dan tidak dalam proses secara tertulis. Dalam praktek, terdapat juga putusan MA yang mendukung pendapat yang sempit ini. Tanpa mengurangi kemungkinan putusan ini sebagai contoh dan dapat dikemukakan salah satu diantaranya, yaitu Putusan MA No.

346K/Sip/1975, tanggal 26 April 19798, yang dikatakan gugatan rekonvensi baru diajukan Tergugat pada jawaban kedua (dalam jawaban/ tanggapan secara duplik Tergugat terhadap replik Penggugat), oleh karena itu gugatan rekonvensi tersebut terlambat diajukan karena telah melampaui batas pengajuan. Hal ini merupakan penafsiran secara sempit, sepertinya kurang bernuansa untuk mencapai penegakan hukum berdasarkan moral justice tetapi lebih mengedepankan penegakan legal justice.

Menurut pendapat yang lebih toleran, atau pendapat yang menafsirkan secara luas / elastic, yaitu memberikan batasan pengajuan gugatan rekonvensi sampai tahap sebelum proses pemeriksaan pembuktian dilaksakan. Pengajuan gugatan rekonvensi tidak mesti bersama-sama dengan “jawaban pertama”, tetapi gugatan rekonvensi tersebut dapat di benarkan sampai proses pemeriksaan sebelum memasuki tahap pembuktian.

8Rangkuman Yurisprodensi, hlm. 302

(9)

Dengan demikian gugatan rekonvensi tidak mutlak diajukan pada jawaban pertama, tetapi dimungkinkan juga pada pengajuan tanggapan secara duplik.Pendapat tersebut merujuk pada ketentuan Pasal 158 R.Bg / Pasal 132 b ayat (1) HIR itu sendiri.

Dalam Pasal tersebut tidak dijumpai kata atau kalimat secara tegas, bahwa yang dimaksud dengan jawaban adalah “jawaban pertama”, melainkan kalimatnya hanya menyebutkan bersama-sama dengan jawaban. Dengan demikian, ditinjau dari tata tertib beracara dan teknis yudisial, gugatan rekonvensi tetap terbuka kemungkinan kepada pencari keadilan untuk diajukan selama proses pemeriksaan dalam tahap jawab menjawab. Yang menjadi syarat formil adalah gugatan rekonvensi diajukan secara bersama-sama dengan jawaban / tanggapan secara duplik terhadap replik Penggugat dan kepada Penggugat diberikan kesempatan sekali lagi untuk mengajukan replik (re-replik) atas gugatan rekonvensi yang diajukan Tergugat pada tahap jawaban / tanggapan secara duplik.Pendapat tersebut merujuk kepada Pasal 158 R.Bg / Pasal 132 b ayat (1) HIR itu sendiri9.

Apabila tahap tersebut dilampaui atau dibiarkan oleh Tergugat, maka pengajuan gugatan rekonvensi tidak sah karena tidak memenuhi syarat formil dan materil, maka gugatan rekonvensi tersebut sudah seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima.Pengajuan yang demikian itu dianggap sewenang-wenang dari Tergugat, oleh karena itu dapat di setujui pendapat dari putusan MA No.642K/Sip/1972, tanggal 18 September 197310, yang mengatakan bahwa gugatan rekonvensi yang diajukan Tergugat pada sidang ke 8 (delapan) yaitu pada proses pemeriksaan alat bukti yang telah sampai pada tahap mendengarkan keterangan saksi-saksi dan begitu juga dengan pengajuan rekonvensi pada tahap perkara banding, maka harus dinyatakan tidak dapat diterima, karena telah melampaui batas pengajuan gugatan rekonvensi tersebut. Putusan Pengadilan lebih cenderung menerapkan pendapat yang luas atau penafsiran secara elastis sesuai dengan putusan MA No. 239K/Sip/196811.

V. Kesimpulan

Dari uraian yang telah penulis paparkan di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

9M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, hlm.483.

10Ibid, rangkuman yurisprodensi, hlm.203

11 Ibid.

(10)

1. Bahwa gugatan rekonvensi dapat diajukan secara lisan dalam persidangan, namun alangkah lebih baik bila diajukan secara tertulis supaya apa yang dimaksud oleh Tergugat terangkum secara lengkap / keseluruhan.

2. Bahwa memang hukum membolehkan pemeriksaan dilakukan secara terpisah, sehingga masing-masing dituangkan dalam putusan yang berbeda, namun menurut ketentuan Pasal 157, Pasal 158 R.Bg / Pasal 132 a ayat (1) dan Pasal 132 b ayat (3) HIR, gugatan rekonvensi tidak dapat diajukan secara tersendiri, melainkan harus mempunyai pertautan dengan perkara konvensi, sehingga pengajuannya secara bersama-sama dan diperiksa secara bersama-sama pula untuk menghindari pertentangan isi putusan dan menghemat biaya perkara serta sederhana ( tercapai asas peradilan).

3. Bahwa batas pengajuan gugatan rekonvensi, penafsiran secara sempit, batas pengajuan gugatan rekonvensi adalah pada jawaban pertama dari gugatan Penggugat dan penafsiran secara elastis / luas gugatan rekonvensi dapat diajukan dalam tahap jawab-menjawab, baik pada jawaban pertama maupun pada tahap jawaban / tanggapan atas replik Penggugat secara duplik oleh Tergugat dan Penggugat dan Tergugat diberi kesempatan untuk mengajukan re-replik atas duplik dan re-duplik atas replik atau masih dalam batas acara jawab-menjawab sebelum masuk kepada acara pembuktian.

Makalah ini dibuat sebagai persyaratan dalam pelaksanaan diskusi hukum pada kegiatan IKAHI, dari Pengadilan Tinggi Agama Padang, tanggal 14 November 2014 di Batusangkar yang di ikuti oleh Pengadilan Agama Korwil II yaitu Pengadilan Agama Batusangkar sebagaikoordinator, Pengadilan Agama Padang Panjang (penyedia makalah), Pengadilan Agama Bukittinggi (penyedia makalah pembanding ), Pengadilan Agama Payakumbuh, dan Pengadilan Agama Tanjung Pati (Penyedia makalah pembanding) dan para Hakim Tinggi Agama Padang.

Penulis mengakui bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan disana sini, karena keterbatasan ilmu yang penulis peroleh, untuk itu penulis berharap pada diskusi hukum dalam kegiatan yang dilakukan oleh IKAHI Pengadilan Tinggi Agama Padang ini kiranya para peserta yang hadir dapat memberikan sumbangsih dan kritikan yang sehat, sehingga dapat menciptakan suatu makalah yang sempurna untuk

(11)

dapat menunjang dan diterapkan dalam tugas kita sehari-hari guna membantu pencari keadilan dalam menyelesaikan perkara, sehingga ilmu tersebut dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi pencari keadilan serta buat kita para hakim semoga demikian juga. Amiiin…..

Bukittinggi, 7November 2014 Masehi 14 Muharram 1436 Hijriyah Penulis,

Hakim Pengadilan Agama Bukittinggi

Referensi

Dokumen terkait

Analisis regresi berganda untuk mengetahui arah hubungan variabel independen dengan variabel dependen, apakah berhubungan positif atau negatif dan memprediksi nilai variabel

Hasil analisis ini menunjukkan faktor risiko dominan yang berpengaruh terhadap penyakit jantung koroner adalah dari yang terbesar sampai terkecil kekuatan hubungannya

Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan mengembangkan variabel-varabel yang akan

Gedung Rawat Inap Kelas 1 RSUD Sidoarjo yang semula 3 lantai akan direncanakan ulang menjadi 12 lantai dan dimodifikasi dari struktur awal berupa struktur

Layanan dasar bagi PDM terlantar sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dilakukan melalui rehabilitasi sosial dasar dalam panti terdiri dari permakanan; sandang;

Migrasi data mahasiswa dan sinkronisasi Laporan Akademik dari sistem online ‘Layar Biru (Blue Screen)’ Kemendikbud –Dikti ke Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) ‘Feeder

Independensi jurnalisme reporter di Klaten mengalami gangguan akibat adanya patronase (kerja sama) yang dijalin oleh media dengan pihak luar, baik dari kerja sama iklan

Masyarakat adat di Kasepuhan Ciptagelar dapat memiliki lahan yang digunakan sebagai tempat tinggal atau lahan pertanian, kepemilikan lahan ini diberikan oleh pemimpin adat